Pengaruh Model Pembelajaran Rasul Paulus

ABSTRAK

Agus Marulitua Marpaung, “Pengaruh Model Pembelajaran Rasul Paulus Terhadap Pertumbuhan Jemaat Gereja Alkitab Anugerah Makassar”.

(Dibimbing oleh : Pdt.Made Astika,Ph.D dan Pdt.Dr. Ivan Weismann,M.Hum.)

Model pengajaran dalam Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dalam suatu pelayanan. Alkitab mencatat beberapa metode pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa tokoh dalam Alkitab, dengan berbagai macam latar belakang situasi, budaya dan daerah. Masing-masing mempunyai metode dalam menjalankan pengajarannya.

Dalam tesis ini penulis mengambil salah satu dari tokoh tersebut yaitu rasul Paulus. Rasul Paulus memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan pelayanannya dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain khususnya kedua belas rasul yang hidup sezaman dengannya. Meskipun mereka hidup namun mereka memiliki panggilan yang berbeda. Dalam Matius 10:5- 6 tertulis,” Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. ” dan dalam Kisah Para Rasul 9 :15, Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. ”

Perbedaan panggilan ini mempengaruhi model pengajaran mereka, dimana kedua belas rasul diutus hanya untuk bangsa Israel dan jangan pergi ke bangsa lain sedangkan rasul Paulus diutus untuk bangsa-bangsa lain. Jadi ruang lingkup pelayanan Paulus lebih luas sehingga memerlukan metode pengajaran yang lebih efektif untuk menjalankan pelayanannya tersebut. Dalam 2 Timotius 2:15 dalam Alkitab King James Versi on tertulis, “Study to shew thyself approved unto God, a workman that needeth not to be ashamed, rightly dividing the word of truth” dalam ayat ini rasul Paulus menulis bahwa untuk menjadi pekerja yang layak dihadapan Allah dan tidak usah malu adalah dengan mengembangkan diri melalui belajar dan dengan membagi dengan benar Firman kebenaran.

Hal inilah yang akan dibahas dalam tesis ini dengan judul ”Pengaruh Model Pembelajaran Rasul Paulus terhadap Pertumbuhan jemaat Gereja Alkitab Anugerah di

Makassar”. Dalam tesis ini penulis akan memakai metode penelitian riset lapangan dengan mempertimbangkan sumber-sumber data yang ada dalam buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan, pendapat para ahli teologi dan pendidikan, media massa, internet dan lain sebagainya. Gereja Alkitab Anugerah di Makassar sebagai tempat penelitian.

(Kata Kunci : Model Pembelajaran: membagi program Allah, membagi sasaran pelayanan, membagi tugas; Pertumbuhan jemaat: Pengetahuan. Kesaksian, komitmen.)

KATA PENGANTAR

“Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku ” (I Timotius 1:12)

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus Juruselamat kita yang telah memberikan kekuatan kepada penulis, yaitu hidup kekal yang adalah anugerah Allah kepada setiap orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan anugerah itu pula menempatkan penulis ke dalam pelayanan Tuhan dan menjalani pendidikan pada saat ini. Tuhan Yesus telah memberkati penulis mulai dari awal penelitian sampai pada tahap penyelesaian tesis ini. Penulis juga menyadari bahwa dalam penyelesaian tesis ini ada banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak Pdt.Made Astika,Ph.D sebagai dosen pembimbing I dan Pdt.Dr.Ivan Weismann,M.Hum sebagai dosen pembimbing II yang telah membantu saya dalam memberikan saran-saran, motivasi, koreksi dan juga doa sehingga penelitian dalam tesis ini dapat bisa diselesaikan dengan baik. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh dosen dan staff STT Jaffray Makassar yang selama ini telah turut membantu dan bekerjasama dalam proses perkuliahan dan hal-hal yang berkaitan dengan dengan penyelesaian tesis ini.

Untuk istri saya yang terkasih Yokhebet Paulina Tampubolon,SH, yang selalu setia mendampingi saya dalam pelayanan, selalu berdoa dan mendorong penulis dalam proses perkuliahan dan membantu memberikan masukannya dalam penelitian ini, juga untuk ibu saya yang terkasih Romianna Situmorang di Pematang Siantar dan juga ibu Untuk istri saya yang terkasih Yokhebet Paulina Tampubolon,SH, yang selalu setia mendampingi saya dalam pelayanan, selalu berdoa dan mendorong penulis dalam proses perkuliahan dan membantu memberikan masukannya dalam penelitian ini, juga untuk ibu saya yang terkasih Romianna Situmorang di Pematang Siantar dan juga ibu

Untuk bapak Pnt.Medy T Pasau,ST dan donatur yang selama ini telah banyak terbeban dalam memenuhi kebutuhan dana perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan rekan pelayanan yang mau terlibat dalam pelayanan terlebih untuk dunia pendidikan bagi hamba Tuhan.

Untuk majelis dan jemaat Gereja Alkitab Anugerah di Makassar baik di Kampung Rama dan Sudiang dan GAA di Mamasa juga Pemuda KOMPAK, Terima kasih atas partisipasinya dalam pengisian angket sebagai bagian dari penyelesaian tesis ini dan juga doanya untuk saya.

Dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, atas seluruh bantuannya saya mengucapkan banyak terima kasih. Doa saya kiranya Tuhan Yesus Kristus selalu memberkati semuanya baik dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan yang telah dipercayakan kepada kita masing-masing.

Hormat saya

Agus Marulitua Marpaung

Pengetahuan yang Benar

Tabel 4.16 Pembelajaran memberikan pengetahuan yang benar ................................... 83 Tabel 4.17 Dapat memberi jawab atas iman yang telah diyakini ................................. 84 Tabel 4.18 Pelatihan dan pendelegasian menambah keyakinan .................................... 85

Kesaksian yang Benar

Tabel 4.19 KAM dan PA memberikan pengetahuan ..................................................... 86 Tabel 4.20 Keberagaman dalam jemaat mendorong untuk saling menghargai ............. 87 Tabel 4.21 Keterlibatan dalam pelayanan ..................................................................... 87

Komitmen

Tabel 4.22 Pembelajaran meyakinkan orang percaya dipakai Tuhan ............................ 88 Tabel 4.23 Keberagaman dalam jemaat meningkatkan saling ketergantungan ............ 89 Tabel 4.24 Pelatihan dan pendelegasian menjadi bekal dalam melayani Tuhan ........... 90 Tabel 4.25 Tabel rata-rata variabel Y ........................................................................... 91

Pembahasan ....................................................................................................... 92

V PENUTUP Kesimpulan ....................................................................................................... 94 Saran-saran ....................................................................................................... 95

VI. DAFTAR PUSTAKA

VII. LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Secara umum gereja merupakan wadah bagi orang percaya untuk bertumbuh secara rohani. Di dalam gereja, orang percaya dapat menikmati persekutuan bersama dengan sesama orang percaya dan menikmati berkat-berkat rohani melalui pujian, kesaksian dan renungan Firman Tuhan. Oleh sebab itu gereja harus membuat dan melaksanakan program pelayanan yang dapat mendukung pertumbuhan rohani jemaat.

Namun pada kenyataannya banyak pelayanan gereja masa kini ternyata hanya menjalankan pelayanan rutinitas pada urusan organisasi, ibadah, pelayanan, diakonia, dan lain sebagainya, atau berfokus hanya pada satu bidang tertentu saja seperti: karunia- karunia mujizat, berkat-berkat jasmani yang diterima, misi, hal-hal kemanusiaan seperti bhakti sosial, bantuan bencana alam dan lain sebagainya. Jadi banyak jemaat kelihatannya tekun dalam menjalankan kegiatan-kegiatan kerohanian tetapi sebenarnya tanpa memiliki dasar pengetahuan yang kuat tentang kekristenan, hal ini dapat ditemukan dalam kehidupan orang Kristen pada saat ini, dimana saat ini sudah tidak menjadi suatu yang mengejutkan lagi bahwa banyak orang Kristen yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak ada bedanya dengan orang lain di luar Kristen, dan bahkan banyak yang telah meninggalkan keyakinannya hanya karena pekerjaan, jodoh, dan lain sebagainya, ditambah lagi publikasi melalui media massa seperti televisi, majalah, radio dan internet yang terlalu berlebihan sehingga membangun pemikiran bahwa hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah tersebut adalah sesuatu yang biasa- biasa saja

. Hal ini menjadi suatu masalah besar dalam gereja, ibarat duri dalam daging masalah ini kelihatannya kecil namun memberikan pengaruh yang besar. Apabila hal ini dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja oleh gereja, maka akan menjadi ancaman besar bagi perkembangan gereja pada masa yang akan datang, dimana nilai-nilai kekristenan akan terkikis dan bahkan bisa sampai hilang bagi generasi-generasi selanjutnya pada masa yang akan datang.

Gereja yang seharusnya bertanggungjawab atas hal ini sepertinya sudah tidak peka lagi terhadap permasalahan yang terjadi di dalam lingkungan jemaat. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu : Pertama, karena rasa puas atas segala fasilitas yang ada dalam gereja, dimana pada saat ini banyak gereja-gereja yang sudah memiliki fasilitas yang sangat memadai. Pada awalnya motivasi pengadaan fasilitas tersebut adalah untuk pengembangan pelayanan namun yang terjadi justru sebaliknya karena segala fasilitas tersebut membuat para pengerja gereja merasa puas dan nyaman atas apa yang sedang dinikmati. Kedua, jumlah kuantitas jemaat yang tinggi sehingga tidak ada lagi kerinduan untuk mengembangkan jemaat. Para pengerja gereja tinggal disibukkan dengan jadwal ibadah, mengurusi permasalahan organisasi dan masalah-masalah dalam jemaat. Ketiga, keberadaan gereja yang hidup dalam budaya masyarakat. Keberadaan ini membuat gereja terkadang mengambil posisi netral untuk mengurangi konflik antara gereja dan budaya, namun tindakan ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa gereja tidak memberikan pengaruh kepada budaya tetapi justru gereja yang terpengaruh oleh budaya.

Oleh sebab itu gereja perlu mengevaluasi pelayanan yang sedang dilakukan saat ini. Ada suatu hal yang terlupakan dalam pelayanan gereja pada Oleh sebab itu gereja perlu mengevaluasi pelayanan yang sedang dilakukan saat ini. Ada suatu hal yang terlupakan dalam pelayanan gereja pada

jemaat, mereka sudah tidak antusias untuk belajar di dalam gereja karena mungkin menurut mereka itu bukan tugas mereka karena menurut mereka gereja hanya tempat mereka mencari penghiburan rohani, tempat pengaduan masalah, berkumpul dengan teman dan lain sebagainya.

Hal ini menjadi latar belakang yang mendorong penulis dalam penelitian tesis ini. Dalam tesis ini penulis akan membahas pentingnya pembelajaran dalam gereja sebagai salah satu sarana untuk menopang pertumbuhan rohani jemaat. Tuhan Yesus dalam pelayananNya dimulai dari mengajar dari kota ke kota dan bahkan di bait Allah. Rasul Paulus juga dalam pelayanan misinya menerapkan pembelajaran sebagai sarana untuk mengembangkan pelayanannya. Panggilan rasul Paulus sebagai rasul bagi bangsa lain dan bangsa Israel seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 9:15, ”Tetapi firman Tuhan kepadanya: Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.” Panggilan ini menuntutnya untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk

menggunakan strategi, pendekatan untuk mencapai tujuan pelayanannya, karena ruang lingkup pelayanan rasul Paulus lebih luas bila dibandingkan dengan kedua belas rasul. Pelayanan rasul Paulus bersifat multi etnis, keyakinan dan daerah, sehingga pelayanan

Kenneth O Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen (Malang: Gandum Mas, 1998), 20 Kenneth O Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen (Malang: Gandum Mas, 1998), 20

Melalui model pembelajaran yang diterapkan oleh rasul Paulus, ia dapat menyelesaikan tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Di akhir pelayanannya ia berkata dalam 2 Timotius 4:7, ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” dapat mengakhiri pelayanannya dengan baik dan dapat meregenerasikan pelayanannya kepada generasai selanjutnya. Jadi program pembelajaran dalam gereja sangat membutuhkan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam gereja. Model pembelajaran akan mempermudah para pekerja gereja untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan baik. Begitu pula warga jemaat sebagai peserta didik akan dengan mudah menerima pembelajaran yang disampaikan sehingga dapat menopang pertumbuhan jemaat dan juga pertumbuhan gereja secara keseluruhan.

Hal inilah yang akan dibahas dan diteliti dalam tesis yang berjudul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RASUL PAULUS TERHADAP

PERTUMBUHAN JEMAAT GEREJA ALKITAB ANUGERAH MAKASSAR ,” diharapkan melalui tesis ini dapat menunjukkan dan membuktikan bahwa model pembelajaran dapat mempengaruhi pertumbuhan gereja pada masa kini.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan di atas maka rumusan masalah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam tesis ini yang dirumuskan dalam kalimat tanya adalah sejauh mana model pembelajaran rasul Paulus Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan di atas maka rumusan masalah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam tesis ini yang dirumuskan dalam kalimat tanya adalah sejauh mana model pembelajaran rasul Paulus

Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan pengaruh model pembelajaran Rasul Paulus bagi pertumbuhan jemaat Gereja Alkitab Anugerah Makassar.

Mamfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa kegunaan yaitu bagi pekerja gereja baik Pendeta, Penginjil maupun Penatua agar dapat mengenal dan memahami model-model pembelajaran Rasul Paulus dalam Pelayanan sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajar dalam jemaat, dan juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dalam jemaat. Bagi jemaat dapat dengan mudah memahami kebenaran yang ada dalam Alkitab sehingga membantu pertumbuhan rohani jemaat dan bagi penulis, dan juga diharapkan penelituan ini dapat menjadi referensi untuk menerapkan pembelajaran dalam pelayanan gereja. Dan bagi penulis, tesis ini adalah salah satu syarat untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Magister Pendidikan Kristen (M.PdK).

Ruang Lingkup Penelitian

Dalam pembahasan materi dalam tesis ini, penulis membatasi pembahasannya yang berfokus pada pembahasan model-model pembelajaran secara umum dan model pembelajaran rasul Paulus, yang dapat dilihat dari surat-surat kiriman rasul Paulus dan kitab-kitab lain sebagai pembanding, pembahasan ini didukung dengan buku-buku yang Dalam pembahasan materi dalam tesis ini, penulis membatasi pembahasannya yang berfokus pada pembahasan model-model pembelajaran secara umum dan model pembelajaran rasul Paulus, yang dapat dilihat dari surat-surat kiriman rasul Paulus dan kitab-kitab lain sebagai pembanding, pembahasan ini didukung dengan buku-buku yang

Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui gambaran umum dalam penelitian ini, berikut ini adalah sistematika penulisan tesis ini: Bab I dimulai dengan pendahuluan, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, mamfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II, membahas tentang tinjauan pustaka, dimulai dari tinjauan umum tentang model pembelajaran yaitu defenisi model pembelajaran dan macam-macam model pembelajaran, kemudian tinjauan alkitabiah tentang model pembelajaran yaitu sumber pembelajaran, tujuan pembelajaran, dasar alkitabiah model pembelajaran rasul Paulus yang berisikan tentang latar belakang rasul Paulus, pengajaran rasul Paulus dan model pembelajaran rasul Paulus yang terdiri dari 3 ( tiga ) bagian yaitu model pembelajaran dalam membagi program Allah dengan tepat, model pembelajaran membagi sasaran pelayanan dengan tepat dan model pembelajaran membagi tugas dengan tepat. Kemudian membahas tentang pertumbuhan jemaat dan hubungan model pembelajaran rasul Paulus dengan pertumbuhan jemaat dan terakhir kerangka berpikir penelitian dan hipotesa penelitian.

Bab III, menguraikan tentang hal-hal yang berhubungan dalam metode penelitian seperti tempat dan waktu penelitian yang terdiri dari letak geografis Gereja Alkitab Anuegrah serta gambaran umum tentang Gereja Alkitab Anugerah Makassar, proses menentukan populasi dan sampel Bab III, menguraikan tentang hal-hal yang berhubungan dalam metode penelitian seperti tempat dan waktu penelitian yang terdiri dari letak geografis Gereja Alkitab Anuegrah serta gambaran umum tentang Gereja Alkitab Anugerah Makassar, proses menentukan populasi dan sampel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Pustaka Tentang Model Pembelajaran

Pada bagian ini dibahas mengenai defenisi model pembelajaran secara umum baik dari pengertian kamus dan pendapat dari beberapa ahli pendidikan, dan macam- macam model pembelajaran serta hal-hal lain yang berhubungan dengan model pembelajaran dalam ilmu pendidikan.

Definisi Model Pembelajaran

Secara etimologi menurut kamus besar bahasa Indonesia kata “model” memiliki arti: 1.pola (contoh, acuan, ragam, dsb); 2.orang yang dipakai sebagai contoh untuk dilukis (difoto); 3.orang yang (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yang akan dipasarkan; 4.barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) tepat benar

seperti yang ditiru. 2 Sedangkan kata “pembelajaran” artinya proses, cara, perbuatan mengajar. 3 Jadi model pembelajaran dapat diartikan sebagai “pola atau acuan dalam proses mengajar.” Dalam ilmu pendidikan Muhammad Surya mendefinisikan

pembelajaran sebagai berikut: pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan,

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta :Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008 ), 964. 3 Ibid., 24.

sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 4 Dan Kardi Soeparman dan Muhammad Nur mendefinisikan

model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang m elukiskan prosedur sistematika mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. 5 B.S.Sidjabat menambahkan dalam kegiatan pembelajaran melibatkan

sejumlah aspek yaitu :

Aspek manusiawi, yaitu guru dan murid, aspek material yaitu kurikulum, silabus, rencana pembelajaran, bahan pelajaran dan sumber pelajaran. Aspek fasilitas yaitu ruangan kelas, alat tulis , media belajar. Dan Aspek prosedur yaitu jadwal kegiatan, strategi dan metode, teknik penyampaian informasi dan

interaksi. 6 Jadi berdasarkan data di atas maka penulis mendefinisikan model pembelajaran dalam

pelayanan gereja adalah “suatu pola atau acuan dalam menyusun prosedur proses belajar-mengajar di dalam jemaat untuk memperoleh pertumbuhan pengetahuan dalam kebenaran Firman Allah. ” Model pembelajaran menjadi bagian dalam program pelayanan gereja, ini sangat diperlukan oleh pekerja gereja dan jemaat sebagai jembatan untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu pendidikan di dalam jemaat, Yusri Panggabean dkk menyampaikan tujuan pendidikan ada dua , yaitu:

Pertama, untuk membentuk manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, bukan hanya mengulang apa yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Kedua, membentuk pikiran (mind) yang dapat berpikir kritis. Ketiga, suka membuktikan sesuatu (verify), tidak menerima saja apa yang ditawarkan

kepadanya. 7

Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran (Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2004), 7.

5 Kardi Soeparman dan Muhammad Nur, Pengantar pada Pembelajaran dan Pengelolaan Kelas ( Surabaya: Uni Press,2009), 9.

6 B.S.Sidjabat, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Kalam Hidup, 1993), 266. 7 Yusri Panggabean at al, Strategi, Model dan Evaluasi Pembelajaran ( Bandung: Bina

Media Informasi, 2008), 70.

Istilah model pembelajaran sering disamakan dengan istilah lain seperti pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, tehnik pembelajaran dan metode pembelajaran. Wina Sandjaya dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan memberikan penjelasan tentang hubungan antara beberapa istilah ini, yaitu :

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan dan untuk mengaplikasikannya menggunakan metode pembelajaran sebagai cara yang digunakan untuk mengaplikasikan rencana pembelajaran yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan yang nyata dan praktis sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya metode pembelajaran diterjemahkan dalam tehnik pembelajaran. Dan rangkaian dari pendekatan, strategi, metode, dan tehnik menghasilkan model pembelajaran. 8

Jadi pada dasarnya model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru, dengan kata lain bahwa model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran, meskipun memakai istilah yang berbeda namun semuanya masih dalam lingkup topik tentang model pembelajaran.

Pembahasan tentang model pembelajaran tidak terlepas dari peranan guru, dalam hal ini adalah pengajar di dalam jemaat yaitu pendeta dan para penatua. Kemampuan pengajar dalam menggunakan model pembelajaran memberikan pengaruh bagi keberhasilan pembelajaran dalam jemaat. Oleh sebab itu pengajar dalam jemaat perlu mempelajari berbagai ragam model pembelajaran, sehingga dapat menyampaikan

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2008), 128 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2008), 128

Guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar- mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan

pembelajaran yang kondusif. 9 Colin Marsh menambahkan dengan menyatakan bahwa “Guru harus memiliki

kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi.

Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar. 10 ” Berikut ini beberapa mamfaat yang didapatkan melalui penguasaan beragam model

pembelajaran, yaitu:

Pertama , pengajar dapat merancang proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diinginkan sesuai dengan memamfaatkan dan meningkatkan kekuatan serta kelebihan masing-masing model pembelajaran sambil menghindari atau menekan faktor kelemahan dan kekurangannya. Kedua, mengurangi faktor kejenuhan siswa yang biasanya menguat dalam pembelajaran yang cenderung berlangsung begitu-begitu saja dari masa ke masa. Ketiga, membantu menyesuaikan pada tempat dan keadaan tertentu. Sehingga dapat menjangkau lebih banyak dan beragam. 11

Berdasarkan defenisi model pembelajaran di atas, maka penulis berpendapat bahwa model pembelajaran bukan suatu tujuan tapi hanya sebagai alat dimana masing-masing model memiliki kekuatan dan kelemahan, namun meskipun demikian model pembelajaran sangat memberikan pengaruh bagi keberhasilan pembelajaran.

Sardiman, A. M., Interaksi dan motivasi belajar-mengajar (Jakarta: Rajawali.,2004), 165. 10 Colin Marsh., Handbook for Beginning teachers (Sydney : A.W Longman Australia Pry

Limited,1996), 10. 11 Yusri Panggabean et al, Strategi, Model dan Evaluasi Pembelajaran ( Bandung: Bina Media

Informasi, 2008), 71.

Untuk lebih memahami tentang model pembelajaran berikut ini akan dibahas macam-macam model pembelajaran secara umum.

Macam-Macam Model Pembelajaran

Bagian ini akan membahas beberapa model pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan bahwa tidak ada satupun model yang bisa dikatakan yang terbaik namun semuanya bisa membuat sesuatu menjadi terbaik bila dipergunakan dengan baik sesuai dengan situasi dan kondisi proses belajar-mengajar.

Berikut ini adalah beberapa model pembelajaran yang ditinjau dari beberapa dasar pengelompokan dalam ilmu pendidikan.

Model Pembelajaran Langsung

Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang sudah umum ditemukan dalam praktek belajar mengajar. Selain sederhana namun mudah untuk dilaksanakan. Menurut Richard Arends dalam bukunya “Learning To Teach”, definisi pembelajaran langsung (Direct Instructions) yaitu “suatu model pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini

sering disebut model pengajaran langsung. 12 ” Pendekatan dalam model pembelajaran ini berpusat pada guru yang dalam hal ini adalah para pengajar di dalam jemaat baik itu

pendeta, penginjil dan penatua di mana mereka menyampaikan Firman Tuhan dalam format yang sangat terstruktur, mengarahkan jemaat dalam pembelajaran sampai pada pemahaman dan penerimaan mereka terhadap Firman Tuhan yang disampaikan.

Richard Arends, Learning to Teach ( Boston : Mac Graw Hiil, 2001), 264.

Adapun ciri-ciri dari model pembelajaran langsung ini, antara lain : Pertama, proses pembelajaran terpusat pada guru sebagai pemberi informasi. Roy Killen memberikan istilah Teacher-Centered approach yaitu suatu pendekatan yang berorientasi pada guru. Kedua, suasana kelas ditentukan oleh guru sebagai perancang kondisi. Ketiga, lebih mengutamakan keluasan materi ajar daripada proses terjadinya pembelajaran. Keempat, materi ajar bersumber dari guru. Model pembelajaran langsung bertujuan untuk memaksimalkan proses pembelajaran agar sesuai dengan waktu yang diberikan dalam suatu periode tertentu. Dengan model ini cakupan materi ajar yang disampaikan lebih luas dibandingkan dengan model-model pembelajaran yang lain. Pengajar sebagai penyampai informasi dapat menggunakan berbagai media seperti film, gambar, peragaan, ilustrasi dan lain sebagainya.

Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Model pembelajaran berdasarkan masalah atau problem based learning (PBL) yang selanjutnya dalam seluruh tulisan tesis ditulis model pembelajaran PBM. Model pembelajaran PBM ini sering juga disebut dengan istilah lain seperti: project-based instruction (pembelajaran berdasarkan proyek), experienced-based instruction (pembelajaran berdasarkan pengalaman), euthentic learning (pembelajaran bermakna) dan anchored instruction (pembelajaran bermakna). Menurut Richard Arends yang dikutif oleh Ibrahim dan M. Nur definisi Model pembelajaran berdasarkan masalah :

Pembelajaran berdasarkan masalah adalah merupakan suatu pendekatan sekaligus model pembelajaran di mana siswa diajarkan pembelajaran yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,

mengembangkan kemandirian dan percaya diri. 13

Ibrahim, M, et al , Pembelajaran Kooperatif ( Surabaya : University Press., 2000), 10.

Model ini awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Howard Barrows pada tahun 1988 yang kemudian menjadi pelopor model pembelajaran PBM. Model pembelajaran PBM ini merupakan model pembelajaran yang berusaha menggabungkan antara kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulum dirancang masalah yang menuntut siswa mendapat pengetahuan yang penting sehingga mahir dalam memecahkan masalah serta dapat bekerjasama dengan tim, sedangkan

proses pembelajaran menggunakan pendekatan sistemik dalam memecahkan masalah. 14

Model pembelajaran PBM ini merupakan pendekatan yang efektif untuk pembelajaran tingklat tinggi. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. 15 Di sisi lain model pembelajaran PBM bukan

hanya sebagai metode pembelajaran tetapi juga metode berpikir, dimana peserta didik dirangsang untuk berpikir kritis dengan setiap permasalahan yang ada di sekitar terutama dalam proses pembelajarannya. Dengan demikian model PBM ini melatih peserta didik dalam memecahkan masalah-masalah melalui kemampuan dan pengetahuannya sendiri.

Model pembelajaran PBM ini dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang menyatakan bahwa belajar suatu proses yang dalam, dimana pelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran. Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu pertama, belajar adalah suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process), kedua, belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi sosial dan sifat kontekstual dari pelajaran.

Muhammad Taufik M, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning (Jakarta : Kencana, 2009), 21.

15 Ratumanan, T. G, Model Pembelajaran Interaktif dengan Setting Kooperatif ( S urabaya: PPS Universitas Surabaya ,2002), 123.

Richard Arends mengemukakan ciri-ciri model pembelajaran (PBM) antara lain: pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin,

penyelidikan autentik, menghasilkan produk dan memamerkannya dan kerjasama. 16 Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran PBM terdiri dari lima tahapan, yaitu

orientasi siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. 17

Model Pembelajaran Diskusi

Model pembelajaran diskusi atau disebut juga discussion instruction. Ada beberapa tokoh pendidikan yang memberikan pendapatnya tentang pengertian model pembelajaran diskusi. Menurut Roy Killen yang dikutip oleh Martimis Yamin, “model pembelajaran diskusi adalah suatu proses tatap muka interaktif dimana siswa menukar ide tentang persoalan dalam rangka pemecahan masalah, menjawab suatu pertanyaan,

meningkatkan pengetahuan dan pemahaman, atau membuat keputusan. 18 ” Surya Dharma menambahkan bahwa “diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu

argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama- 19 sama.” Jadi model pembelajaran diskusi ini menitikberatkan

pada pengetahuan dan kemampuan peserta didik sedangkan guru bertindak sebagai pengarah proses pembelajaran, maka Roy Killen memberikan istilah model

Richard Arends, Learning to Teach, ( Boston : Mac Graw Hiil, 2001), 349. 17 Ibrahim, M, et al , Pembelajaran Kooperatif ( Surabaya : University Press.,

2000),113. 18 Martimis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa ( Jakarta: Gaung Persada Press, 2009), 69. 19 Surya Dharma, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya ( Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 18.

pembelajaran diskusi ini memiliki ciri yang disebut student-Centered approach, yaitu suatu pendekatan yang berorientasi pada peserta didik.

Selain membantu mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, model pembelajaran diskusi juga merupakan ciri kehidupan yang demokratis dimana kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan model pembelajaran diskusi adalah: Pertama, meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran dengan berkesempatan untuk bebas menyampaikan pendapatnya. Kedua, merangsang peserta didik untuk berpikir secara kritis terhadap suatu pokok pembelajaran, dan Ketiga, membantu peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi.

Dalam pelaksanaannya model pembelajaran diskusi memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui. Surya Dharma memberikan langkah-langkah melaksanakan diskusi adalah :

Langkah persiapan, yaitu merumuskan tujuan, menentukan jenis diskusi, menetapkan masalah yang akan dibahas serta mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi. Pelaksanaan diskusi, yaitu memeriksa segala persiapan, memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, melaksanakan diskusi, memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya serta mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas. Menutup diskusi, membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi. Dan me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan

selanjutnya. 20 Dari kumpulan beberapa tokoh pendidikan berikut ini adalah beberapa jenis model

pembelajaran diskusi yaitu (1) Diskusi Kelompok Besar (Whole Group Discussion) merupakan suatu bentuk diskusi yang memandang kelas sebagai satu kelompok

20

Surya Dharma, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya ( Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 21-22.

sedangkan guru berperan sebagai pemimpin diskusi yang memprakarsai terjadinya diskusi, (2) Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion) merupakan suatu bentuk diskusi dimana kelas atau kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang. Bentuk diskusi ini dilakukan untuk memperdalam atau memperjelas pemahaman tentang suatu masalah atau bahan yang sedang dipelajari, (3)Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis di hadapan pendengar yang tidak terlibat langsung dalam diskusi melainkan hanya sebagai peninjau, (4) Brain Storming Group berlangsung melalui suatu kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera. Setiap anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya. (5) Simposium. adalah suatu bentuk diskusi dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Bentuk diskusi informal debate adalah suatu bentuk diskusi yang bertujuan untuk mencari penyelesaian yang terbaik dimana peserta Diskusi dibagi menjadi dua tim yang pro dan kontra terhadap suatu bahan diskusi bersifat problematis bukan yang bersifat factual, (6) Colloqium adalah bentuk diskusi dimana seorang atau lebih narasumber menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta diskusi. Model diskusi ini bertujuan untuk memperjelas pelajaran yang sudah diterima.

Model Pembelajaran Kontekstual

Model pembelajaran kontekstual atau sering disebut Contextual Teaching and Learning biasa disingkat dengan CTL merupakan suatu model pembelajaran yang lebih memfokuskan pada pendekatan pada hal-hal yang mempengaruhi para peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Faktor budaya, kebiasaan, pendidikan dan agama merupakan pengaruh yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran. Elaine B. Johnson dalam bukunya yang berjudul Contextual Teaching And Learning memberikan definisi tentang model pembelajaran kontekstual dengan mengatakan

“Pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang bertujuan untuk membantu peserta didik melihat makna dalam materi akademik dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa

yaitu dengan konteks kehidupan sosial dan budaya.” 21 Menurut Nurhadi :

Model pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pelajaran dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang mereka miliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka, sebagai

anggota keluarga, masyarakat. 22 Model pembelajaran CTL menjadi penghubung antara pengetahuan dengan kehidupan

nyata. Kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam lingkungannya merupakan suatu tolak ukur keberhasilan pendidikan. Model pembelajaran CTL dapat lebih dimengerti melalui beberapa istilah di bawah ini :

Model Contextual Teaching Learning (CTL) ini disebut juga belajar REACT, yaitu relating ( belajar dalam kehidupan nyata ), experiencing (belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan), applying (belajar dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya), cooperating (belajar dalam konteks interaksi kelompok), dan transferring (belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks baru/konteks lain). 23

Dalam penerapannya model pembelajaran kontekstual memiliki tujuh komponen utama yakni: Pertama, konstruktivisme (constructivism) yaitu proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. 24

Bagian ini merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang didasari oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya. Kedua, menemukan (inquiry) yaitu proses pembelajaran didasarkan pada

Elaine B.Johnson, Contextual Teaching and Learning (California:Corwin Press Inc, 2002) , 25. 22 Nurhadi, Pendekatan Kontekstual.( Jakarta: Depdiknas,2002), 1. 23 Yusri Panggabean at al, Strategi, Model dan Evaluasi Pembelajaran ( Bandung: Bina Media

Informasi, 2008), 92. 24 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:

Kencana, 2008), 118.

pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. 25 Ketiga, pemodelan (modelling) , yaitu proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh

yang dapat ditiru oleh setiap siswa. 26 Melalui pemodelan peserta didik mampu mewujud nyatakan pengetahuan dalam kehidupan yang kongkrit, sehingga peserta didik terhindar

dari pembelajaran yang teroritis, Keempat, masyarakat belajar (learning community), yaitu suatu wadah tempat saling bekerja sama dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, dengan demikian peserta didik terbiasa dalam saling memberi dan menerima pengetahuan sehingga terjalin pula hubungan saling ketergantungan secara positif di dalam lingkungan belajar. Kelima, bertanya (questioning), bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. 27 . Keenam, refleksi

(reflection) adalah adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. 28 Melalui refleksi

peserta didik memberikan respon terhadap pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran guru dapat melakukan refleksi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang baru dipelajari dengan mengajukan pertanyaan atau tantangan untuk berkomitmen dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan

nyata. Ketujuh, penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) adalah proses untuk menentukan dan mendapatkan informasi tentang kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Ibid., 119. 26 Ibid., 121.

27 Nurhadi, Pendekatan Kontekstual ( Jakarta: Depdiknas,2002),14. 28 Ibid.,18.

Macam-macam model pembelajaran yang telah disampaikan menunjukkan keberagaman dalam penyampaian bahan pembelajaran, Setiap model pembelajaran memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Model-model pembelajaran ini menjadi acuan dalam pembahasan model pembelajaran Rasul Paulus.

Dasar Alkitabiah Tentang Model Pembelajaran

Sumber Pembelajaran

16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran .” Dalam perikop ayat ini rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius sebagai orang yang akan melanjutkan pelayanannya untuk tetap kuat dan waspada karena pada zaman akhir akan muncul berbagai macam ajaran dan keadaan yang membuat iman orang percaya akan goyah. Pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan melalui Alkitab akan memperkuat orang percaya. Rasul Paulus juga menulis di Roma 15:4, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci .” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa salah satu mamfaat dari kitab suci diberikan Allah adalah untuk “mengajar” dan kitab suci diberikan adalah untuk menjadi “pelajaran bagi kita”. Kitab suci menjadi sumber utama pembelajaran di dalam gereja. Karena kitab suci (Alkitab) adalah Firman Tuhan yang memberikan kekuatan dan tuntunan bagi orang percaya. Alkitab menjadi dasar penyusunan kurikulum dalam proses pembelajaran dalam jemaat. Dengan demikian syarat utama bagi pengajar dalam jemaat adalah memiliki keyakinan yang kuat bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan.

Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Timotius 3:

Tujuan Pembelajaran

Selanjutnya dalam tulisan Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16, terdapat tujuan pembelajaran, dalam ayat tersebut dikatakan, “ ... untuk menyatakan kesalahan, untuk

memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran . ” Menurut rasul Paulus pengenalan akan kebenaran Firman Tuhan akan menjadi teguran terhadap dosa yang dilakukan oleh orang percaya sehingga mereka dapat memperbaiki kelakuan menuju pada pembaharuan yang diinginkan oleh Allah. Disisi lain Paulus Lilik Kristianto dalam bukunya yang berjudul Prinsip dan Praktik PAK, ia memaparkan dasar pembelajaran dalam Alkitab yaitu:

Tugas Pembelajaran yaitu Amanat agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-

20, Proses Pembelajaran yaitu memuridkan, Rasul Paulus berkata kepada Timotius dalam 2 Timotius 2:2, ”Apa yang telah engkau dengar daripadaku di

depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain”. dan Tujuan Pembelajaran yaitu mendewasakan. Rasul Paulus menulis dalam Efesus 4:11- 13, ” Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi

orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai

dengan kepenuhan Kristus” 29 James E. Pleuddemann dalam pendahuluan buku Education That is Christian yang

ditulis oleh Lois E. Lebar mengatakan bahwa “Pendidikan Kristen merupakan akar- rumput di tengah keluarga, gereja dan sekolah. 30 ” Hal ini dapat dilihat melalui

pendapat Marthin Luther tentang tujuan pendidikan agama Kristen, yaitu:

Tujuan pendidikan agama Kristen adalah untuk melibatkan semua warga jemaat, khususnya yang muda, dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Tuhan Yesus Kristus yang memerdekakan mereka di samping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa , Firman tertulis, alkitab dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya

Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik PAK (Yogyakarta: Yayasan Andi,2010), 6 30 Lois E.Lebar, Education That is Christian ( Malang: Gandum Mas, 2006), 8.

termasuk masyarakat dan negara serta mengambil bagian secara bertanggungjawab dalam persekutuan Kristen, yaitu Gereja. 31

Dan menurut Calvin bahwa: Tujuan pendidikan agama Kristen adalah mendidik semua putra-putri Ibu

(gereja) agar mereka dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kusus, - diajarkan mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan gereja, - diperlengkapi memilih cara-cara mengejewantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka

yang dipilih dalam Yesus Kristus. 32 Berdasarkan pendapat dari kedua bapak gereja ini bisa dilihat bahwa pendidikan agama

Kristen menjadi suatu tanggungjawab yang harus dijalankan oleh gereja dengan melibatkan semua warga jemaat dalam segala keberadaan mereka untuk mencapai tujuan yaitu hidup yang senantiasa bersyukur atas kemerdekaan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan serta bertumbuh dalam pengetahuan dan kebenaran seperti yang disampaikan rasul Paulus dalam I Timotius 2:3- 4,” Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. ” Untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen di atas maka diperlukan metode untuk membantu proses pembelajaran. Meskipun beberapa orang berpendapat bahwa metode kurang penting namun Homrighausen mengatakan keduanya memiliki hubungan yang rapat antara apa yang diajar dan bagaimana kita mengajarkan pokok itu. 33 Namun Homrighausen juga mengingatkan bahwa:

Metode senantiasa hanya jalan dan alat saja, bukan tujuan. Kita harus selalu menuju pada maksud Firman Tuhan; Tak boleh kita mempergunakan metode kita supaya mendapat hasil dan sukses secara duniawi. Dengan rendah hati dan setia patutlah kita melayani melulu Firman Tuhan saja dengan cara-cara yang

Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen Jilid 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 342

32 Ibid., 415. 33 E.G.Homrighausen dan I.H.Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung

Mulia,1985), 88.

kita pakai dalam pekerjaan kita, serta mengharapkan bahwa metode-metode itu akan menghasilkan iman, pengetahuan dan penuturan yang sejati dalam hidup

murid-murid kita 34 . Alkitab sebagai sumber pembelajaran memiliki banyak model dalam menyatakan

kehendak Allah bagi manusia. Namun setiap model memiliki kekuatan dan kelemahan. Rick Warren berkata 35 , “Never Criticise any method that God is blessing” artinya jangan