Gerakan sosial baru (Studi Kasus Pola Jaringan Gerakan Sosial Cinta Lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indoensia Yogyakarta) Jurnal

(1)

commit to user

1

GERAKAN SOSIAL BARU

(Studi Kasus Pola Jaringan Gerakan Sosial Cinta Lingkungan WALHI Yogyakarta)

Aghniya Halim

halimaghniya@gmail.com

This research aims to know the network pattern of social movements done by WALHI Yogyakarta

Theory used in this research is the network theory put forward by Barry Wellman and Ronald Burt. The type of this study using the case study approach, with the types of intrinsic case studies. The data taken with the technique of in-depth interviews, observation and documentation. While the selection technique using purposive informants. To ensure the validity of data used triangulation source, while for analysis of the data used is the interactive model.

From the results of research can be concluded that the WALHI Yogyakarta has three main network pattern, first is internal network pattern consisting of members, Sha-Link and Warga Berdaya. This internal pattern ensures that there is a two-way relationship between the members directly to the community and from the community directly to WALHI Yogyakarta through Warga Berdaya, to occur the relationship. The second pattern is the pattern of the network By Case, on this network pattern each element as members and Warga Berdaya role as receiver of reports so that each type of cases can be directly detected by WALHI Yogyakarta. the role of each members based on the closeness of the issue and the region so that people can get the mentoring in accordance with their needs without time consuming. The last pattern is based on four strategic issues, issue is being drafted at PDLH(Regional Meeting Of Environment) every 4 years to see the development of environment conditions and determine what issues that are considered still relevant. The purpose of this network pattern is to continue to monitor and provide prevention to a case of the environment. By doing the research done by members based on their own issues. WALHI Yogyakarta continue to perform analysis in order to see the potential damage to the environment and prevent and provide readiness on the citizens to cope with the potential damage to the environment by providing education and mentoring. Each network pattern keeps running into the cycle that reinforces the social movement of love environment by WALHI Yogyakarta.


(2)

commit to user

2

A. Pendahuluan

Manusia dengan segala kemampuanya untuk beradaptasi telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan, tahap perkembangan manusia dari era prasejarah sampai sejarah, dari nomaden sampai menetap, juga dari berburu menjadi meramu, bertanam dan akhirnya manusia dengan akal dan pikiranya dapat membuat berbagai macam alat untuk mempermudah kehidupan manusia di bumi.

Dari berbagai perkembangan kehidupan manusia terdapat ciri yang jelas terlihat yaitu, memanfaatkan alam untuk dapat menyediakan setiap kebutuhan manusia, dan dengan kebutuhan alat yang telah diciptakan seperti mesin telah membuat manusia dapat mengelola setiap sumber daya alam, namun hasil dari eksploitasi ini adalah kerusakan berbagai kondisi lingkungan hidup, dari pencemaran udara akibat industri dan penggunaan kendaraan di setiap daerah, pencemaran tanah akibat sampah manusia, juga berkurangnya hutan dan lahan hijau untuk membuat perumahan, perkebunan yang sekali lagi dikatakan demi kemajuan dan kebutuhan manusi, masalah lingkungan ini terus berkembang merata di semua belahan dunia tanpa terkecuali.

Pada pertengahan abad dua puluh tingkat kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan menyebabkan munculnya berbagai macam perlawanan untuk menentang kerusakan lingkungan akibat industri dan modernisasi yang mulai terjadi hampir merata di seluruh dunia. Gerakan-gerakan ini secara tegas ingin merubah relasi antara manusia dengan lingkungan atau alam ini sendiri, keinginan untuk meletakan relasi lingkungan dengan manusia pada derajat yang sama agar bentuk-bentuk ekspolitasi dan pengrusakan alam tidak lagi terjadi, dan membuat manusia itu sendiri menerima kerugiannya. Gerakan ini sendiri diawali dengan peradigma deep ecology atau sering disebut dengan ekophilosofi. Paradigma deep ecology sendiri adalah gagasan dari Bill Devall yang ingin mengurai kembali posisi manusia yang mendominasi alam dan menggunakanya sesuka hati, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan. Adanya paradigma ini mendorong pergerakan masyarakat untuk


(3)

commit to user

3

merubah relasi manusia dengan lingkungan dengna meninjau ajaran agama, filosofi dan praktiknya. Devall meyakini bahwa dalam ajaran agama samawi ada kecendrungan dominasi manusia terhadap alam karena terdapat pemahaman bahwa manusia memiliki status lebih tinggi dibanding mahluk hidup lain dan akhirnya menyebabkan dominasi manusia terhadap alam(Situmorang, 2013:69).

Pada perkembanganya Gerakan Sosial ini mulai marak di Indonesia pada tahun 1980-an dengan dimulainya pertemuan dan forum NGO untuk menyebarkan donor, serta semangat perjuangan. Sehingga Mahasin (dalam Suharko, 2005:103) menyebutnya sebagai era advokasi kebijakan dan pengembangan jaringan. Advokasi ini dikhususkan pada isu lingkungan dan isu gender, dan semejak itu isu lingkungan menjadi isu wajib bagi NGO dan pergerakanya. Dalam ranah sosiologi pergerakan ini disebut dengan gerakan sosial baru (GSB) gerakan yang muncul pada pertengahans tahun 1960-an yang tujuanya bukan lagi ekonomis-material, tapi gerakan sosial baru (GSB) lebih memilih isu strategis, seperti isu kesetaraan gender, isu masyarakat-masyarakat marjinal, dan isu-isu yang dapat membuat masyarakat-masyarakat bergerak kearah yang lebih baik.

Dari sekian banyaknya gerakan sosal baru (GSB) yang lahir di Indonesia pada Oktober 1980 WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) terbentuk, dengan semangat untuk mengangkat isu-isu lingkungan dan memberikan advokasi kepada masyarakat yang lingkunganya mengalami kerusakan akibat dari eksploitasi dan modernisasi yang saat itu tengah marak terjadi. Semenjak saat itu WALHI menjadi salah satu LSM atau NGO garda depan yang menfokuskan diri pada isu-isu lingkungan. Perkembanganya mulai massif dengan munculnya WALHI di berbagai kota sebagai salah satu bentuk dari jaringan pergerakan WALHI guna mengakomodir semua permasalahan lingkungan di Indonesia.

WALHI Yogyakarta sendiri awalnya terbentuk, pada tanggal 19 September 1986 hasil dari dialog mengenai lingkungan hidup di Yogyakarta oleh para pegiat lingkungan. Saat dialog itu disadari bahwa ada kebutuhan bersama untuk membentuk sebuah forum gerakan lingkungan di Yogyakarta yang dapat menampung aspirasi


(4)

commit to user

4

perjuangan, mempermudah koordinasi dan berbagi informasi guna pelestarian lingkungan hidup. Usul ini pun diterima dengan baik oleh WALHI pusat di Jakarta dan akhirnya terbentuklah WALHI Yogyakarta.

WALHI Yogya pada saat ini adalah salah satu LSM dengan aktivitas advokasi dan pendampingan yang banyak, karena WALHI sendiri memfokuskan diri pada empat wilayah advokasi yaitu perkotaan, merapi, perbukitan menoreh, pesisir selatan dan juga kawasan karst. Dalam setiap kegiatanya WALHI Yogya selalu mendapatkan dukungan banyak dari pegiat lingkungan diluar WALHI juga masyarakat sekitar yang dengan sadar ikut dalam pergerakan guna mencapai cita-cita bersama akan relasi seimbang antara manusia dan lingkunganya.

B. Metode Penelitian

Kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pilihan pendekatan studi kasus, dengan jenis studi kasus intrinsik Keunikan dalam kasus yang akan diteliti oleh penulis ini adalah terletak pada pergerakan WALHI yang merata dan massif di bandingkan dengan LSM berbasis lingkungan lainya di Yogyakarta, juga bentuk dari pergerakanya yang melibatkan semua lapisan masyarakat Yogyakarta, yang pada akhirnya menimbulkan kesadaran juga partisipasi masyarakat Yogyakarta dalam kegiatan-kegiatan berbasis lingkungan. Stake (dalam Denzin. N. K dan Lincoln Y, 2009:301)

Penelitian ini dilakukan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang berlokasi di Yogyakarta, tepatnya di Kota Gede. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan informan purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah pengurus WALHI Yogyakarta yang terlibat aktif dalam gerakan sosial cinta lingkungan. Kriteria yang dipilih sendiri untuk dijadikan informan dari pengurus WALHI sendiri adalah berdasarkan jabatan di WALHi. Sedangkan informan dari masyarakat adalah berdasarkan keterlibatan dalam kegiatan advokasi WALHI Yogyakarta.


(5)

commit to user

5

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi atau pengamatan langsung, wawancara mendalam, perekaman, pemotretan, dengan informan yang telah ditetapkan dan diperoleh melalui wawancara mendalam. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara mendalam, pengamatan langsung di lapangan (observasi), dan studi literatur. Adapun validitas data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi data (sumber) yaitu pengumpulan data menggunakan beberapa sumber data untuk mengumpulkan data yang sama. Dengan mencari data yang sama untuk mencari kebenaran dari masalah dan mengecek kebenaran suatu informasi pada waktu dan alat yang berbeda. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisa model interaktif menurut Miles dan Huberman yaitu, reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.

C. Pembahasan

Pola Jarinngan WALHI Yogyakarta

Bentuk oraganisasi dari WALHI Yogyakarta adalah sebuah forum advokasi lingkungan, yang pada masa berdirinya adalah terdiri dari lemabaga-lembaga yang memiliki fokus di penanganan lingkungan, mulai dari pecinta alam dari universitas-universitas di Yogyakarta, lalu ada LBH Yogyakarta, dan banyak lagi. Keseluruhan anggota yang dimiliki WALHI Yogyakarta saat ini adalah berjumlah 29 anggota. Prinsip WALHI Yogyakarta dalam melakukan advokasi adalah dengan menggunakan jumlah anggotanya yang memiliki kedekatan isu dan wilayah, setiap anggota WALHI Yogyakarta adalah sebuah lembaga atau LSM yang memiliki program utama sendiri, namun masih memiliki tanggung jawab besar di WALHI Yogyakarta untuk melakukan advokasi berdasarkan laporan masyarakat atau isu strategis yang dimiliki oleh WALHI sendiri. Dengan memfokuskan kepada anggota yang memiliki kedekatan isu maupun lokasi WALHI Yogyakarta memiliki cakupan wilayah advokasi yang luas dan juga ragam isu lingkungan yang banyak, dengan begini masyarakat tidak perlu jauh datang ke kantor WALHI Yogyakarta untuk memberikan


(6)

(7)

commit to user

7

WALHI, Sha-Link adalah salah satu bentuk jaringan yang memiliki fungsi dan peran sebagai organ support yang tujuanya adalah sebagai penggalang dana, dukungan juga edukasi.

Disamping Sha-Link itu WALHI memiliki jaringan di dua bentuk yang berbeda yaitu anggota yang berjumlah 29, dengan kemampuan dan isu masing-masing dan memiliki profesionalitas dibidangnya. Bentuk jaringan selanjutnya adalah Warga Berdaya. Warga Berdaya adalah sebuah forum diskusi yang terdiri dari masyarakat-masyarakat diseluruh Yogyakarta, dimana kegiatan utamanya adalaah untuk melakukan diskusi dan pengenalan kasus dan isu yang tengah terjadi, ataupun potensi permasalahan yang akan terjadi berdasarkan fakta dilapangan yang diketahui oleh masyarkaat. Dengan bentuknya yang berupa forum diskusi maka Warga Berdaya ini memberikan efek jaringan berupa penyebaran isu dan juga edukasi yang dilakukan secara tidak langsung dan dilakukan mandiri oleh masyaraka sendiri, dengan fungsinya sebaga penyebar isu secara otomatis maka dukungan dan pengakuan dari pihak luar seperti masyarakat lain ataupun media akan semakin meningkat.

Pola Jaringan Eksternal WALHI Yogyakarta

Pola jaringan dalam konteks eksternal WALHI Yogyakarta berhubungan dengan gerakan sosial yang dilakukan WALHI Yogyakarta melalui advokasi dan pendampingan masyarakat, yang pada pelaksanaanya WALHI Yogyakarta memiliki dua metode pengadvokasian dan pendampingan. Pertama berdasarkan kasus atau laporan masyarakat (by case) kedua berdasarkan kepada empat isu strategis.


(8)

(9)

(10)

commit to user

10

Yogyakarta sebagai data simpanan jika suatu saat hasil riset dan analisa itu dapat digunakan. Tujuan dari pola ini adalah penyadaran kepada masyarakat ataupun Pemerintah Daerah agar lebih cepat tanggap dan sadar kondisi lingkungan di Yogyakarta. Setelah ditemukanya hasil dari riset, dan analisa yang dilakukan oleh WALHI Yogyakarta, jika ditemukan sebuah potensi masalah atau isu maka WALHI Yogyakarta bersama anggotanya akan merumuskan cara bagaimana untuk menanggulangi dan mencegah kerusakan itu terjadi. Saat rumusan telah dilakukan maka WALHI memilih anggota yang memiliki kedekatan isu dan wilayah dengan daerah yang dituju, dan juga Diretktur WALHI Yogyakarta akan memberi instruksi kepada Sha-Link untuk terjun bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat juga melakukan aksi penyebaran isu tersebut.

Hambatan Dalam Gerakan

Hambatan yang ditemui dalam gerakan mereka juga yang mempengaruhi pola jaringan dari sisi internal WALHI Yogyakarta adalah berupa komunikasi yang kurang luwes antar staff serta kurangnya staff eksekutif dalam kepengurusan WALHI Yogyakarta saat ini. Hambatan selanjutnya adalah hambatan dari luar WALHI Yogyakarta berupa keterbukaan informasi dari pemerintah Kabupaten maupun Propinsi. Ketidakterbukaan ini membuat riset-riset yang dilakukan WALHI Yogyakarta mengalami pelambatan, sehingga berakibat pada jaringan yang lambat untuk merespon jika terkait dengan Pemerintah Daerah.

D. Kesimpulan

Bentuk pola jaringan internal dalam WALHI Yogyakarta yang mendukung gerakan sosial mereka adalah berbentuk seperti lingkaran berlapis, WALHI Yogyakarta sebagai pusat dari jaringan dikelilingi oleh dua lapis jaringan, pertama adalah terdiri dari anggota WALHI Yogyakarta sendiri yang terdiri dari 29 anggota, yang masing-masingnya adalah lembaga yang juga memiliki anggota berupa individu- individu.


(11)

commit to user

11

Dalam internal WALHI Yogyakarta secara garis komando Direktur juga membawahi Sha-Link yang merupakan organ support, Sha-Link merupakan jaringan yang lebih luas secara bentuk dan komposisi, karena merupakan relawan-relawan dari berbagai macam kalangan serta daerah asal yang ingin berkontribusi dalam pelestarian lingkungan di Yogyakarta. Pola internal memastikan ada hubungan dari anggota langsung ke masyarakat, dan dari masyarakat langsung ke WALHI Yogyakarta melalui Warga Berdaya

1. Pola Jaringan Eksternal WALHI Yogyakarta

Dalam pola jaringan eksternal yang dimiliki WALHI Yogyakarta didasarkan kepada bentuk kerja WALHI Yogyakarta yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu kerja berdasarkan laporan warga, dan berdasarkan analisa dari empat isu strategis yang dimiliki WALHI Yogyakarta. Setiap bentuk kerja memiliki pola jaringan tersendiri untuk memastikan gerakan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan dan juga mendapat dukungan yang tepat baik dari segi data, jumlah massa, serta rencana gerakan.

a. Pola Jaringan By Case

Bentuk dari pola ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan bentuk pola jaringan sebelumnya, namun bentuk dasar polanya tetap berasal dari jaringan internal. Pemicu dari berlakunya pola ini adalah dari masuknya laporan ke WALHI Yogyakarta dari warga dengan permasalahan lingkungan. Dengan adanya jaringan yang tersebar dari anggota serta Warga Berdaya membuat masyarakat dapat langsung memberikan laporan kepada WALHI Yogyakarta melalui salah satu anggota, melalui Warga Berdaya saat melakukan pertemuan ataupun mendatangi langsung kantor WALHI Yogyakarta.

Setelah laporan masuk, maka selanjutnya anggota dan eksekutif daerah (WALHI) melihat dan menganalisa laporan apakah memang perlu di advokasi diihat dari siapa pelapor, siapa yang terdampak dari kasus yang dilaporkan. Contohnya adalah ketika warga Karangwuni memberikan laporan berupa surat kepada LBH Yogyakarta dan WALHI Yogyakarta, maka selanjutnya adalah


(12)

commit to user

12

koordinasi antara LBH Yogyakarta dengan WALHI Yogyakarta, karena LBH Yogyakarta merupakan salah satu anggota WALHI, maka selanjutnya adalah menentukan bentuk bantuan dan gerakan yang di lakukan.

b. Pola Jaringan Berdasarkan Empat Isu Strategis

Pola jaringan ditemukan dalam salah satu bentuk kerja WALHI Yogyakarta dengan tujuan preventif dan edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Bentuk kerja yang menggunakan jaringan ini adalah kerja riset yang dilakukan setiap saat oleh WALHI Yogyakarta. Berdasarkan empat isu strategis tersebut maka WALHI Yogyakarta melakukan riset dengan cara melakukan riset di lapangan, lalu analisa kebijakan, serta analisa media untuk melihat kemungkinan terjadinya permasalahan lingkungan. Dalam pola ini gerak jaringan berfokus di eksekutif daerah (WALHI) serta 29 anggotanya, riset dilakukan setiap anggota berdasarkan kedekatan isu yang dimiliki anggota, bila ditemukan krisis maka hasil riset tersebut akan dibicarakan kembali oleh WALHI Yogyakarta untuk melihat bentuk aksi apa yang sesuai dengan masalah tersebut, biasanya bentuk aksi yang dilakukan adalah berupa kampanye penyadaran ataupun edukasi langsung kepada pihak terkait dimana kemungkinan permasalahan lingkungan itu dilakukan. Aktor dalam jaringan yang telibat dalam aksi adalah seluruh anggota, namun untuk edukasi maka yang berperan adalah anggota yang memiliki kedekatan isu dan juga wilayah serta Sha-Link yang memang kerja utamanya adalah untuk edukasi serta penyebaran isu lewat aksi bersama.

E. DAFTAR PUSTAKA

Agusyanto. Ruddy. 2014. “Jaringan Sosial Dalam Organisasi” Jakarta : Rajawali

Press

Arikunto, S .2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktir” Jakarta : Rineka


(13)

commit to user

13

Denzin, N.K dan Lincoln, Y. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Diani, Mario. 2015. The Cement of Civil Society. New York : Cambridge University Press.

Faulks, Keith. 2012. Political Sociology: A Critical Introduction. Edinburgh : Ediburgh University Press.

Imam, Supardi. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestarianya. Bandung : PT Alumni.

Irwan, Djamal Zoer’aini. 2014. Prinsip-Prinsip Ekologi Ekosistem, Lingkungan, dan

Pelestarianya. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kerlinger, Fred N and Lee, Howard B. 2008. “Foundations of Behavioral Research” New York : Harcourt College Publisher

Larana, Enrique. 1994. New Social Movements : From Ideolgy to Identity. Philadelphia : Temple University Press

Lester, R. Brown (ed). 1992. The Worldwatch Reader, on Global Environtmental Issue. New York : Worldwatch Institute.

Miles, Matthew B. & Huberman, A. Michael 1992. “Analisis Data Kualitatif:Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru”. Jakarta : UI-Press

Moleong, Lexy J. 2005 Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. Mulyana, Deddy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu

Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainya. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Peet, Richard and Watts, Michael. 1996. “Liberation Ecologies : Environment,

Development, Social Movements” Ney York: TJ Press

Poerwandari, E.Kristi 1998 Pendekatan Kualitaif Dalam Penelitian Psikologi. Depok : LPS3P UI.

Ritzer, George and Douglas J Goodman. 2010 Teori Sosiologi Modern . Jakarta : Kencana.


(14)

commit to user

14

Sastrosupeno, Suprihadi.M. 1984. Manusia Alam dan Lingkungan. Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Situmorang, A.Wahid. 2013. Gerakan Sosial : Teori dan Praktik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Slamet, Y. 2006 Metode Penelitian Sosial. Surakarta : LPP UNS. UNS Press.

Subagyo, Joko 2004. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Suharko. 2005. Merajut Demokrasi, Hubungan NGO-Pemerintah dan Pengembangan Tata Pemerintahan Demokratis. Yogyakarta : Tiara Wacana. Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : Prenada.

Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Pers Jurnal

Jurnal Sospol UGM Volume 10, nomor 1. Juni 2006. ISSN : 1410-4946

Social Movement Theory and the Evolution of New Organizational Forms Vol 3.

Diakses pada 28 Maret 2016 melalui

http://webuser.bus.umich.edu/organizations/smo/protected/resources/swam iwade.pdf

Welp, Yanina. 2015. “The Mexican Movements #yosoy132” Social Protests and Democratic Responsiveness: Assessing Realities in Latin America and the Caribbean and the European Union” Diakses pada 13 April 2016 melalui https://eulacfoundation.org/en/system/files/Social_Protests_eng.pdf

Rai, Bina. 2015. “New Social Movements in India : An Ascpect of Environmental

Movements” In International Journal of Science and Research (IJSR) Vol.

4 Issue 9, September 2015. ISSN : 2319-7064

Penelitian

Demaria, Federico et all. 2013.What is Degrowth? From an Activist Slogan to a Social Movement. Diakses pada 21 Oktober 2015 melalui www.jnu.ac.in http://www.jnu.ac.in/sss/cssp/What%20is%20degrowth.pdf


(15)

commit to user

15

Suryani Amin 2008 “ Gerakan Sosial Petani: Studi Mobilisasi dan Perubahan Sosial

Kasus Paseduluran Petani Penggarap Perkebunan Tratak(P4T) Kabupaten Batang http://lib.uiac.id/file?file=digital/115665-T%2024

Internet

Suryani Amin, FISIP UI, 2008. Gerakan Sosial dan Perubahan Sosial

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/115665-T%2024000-Gerakan%20sosila-Tinjauan%20literatur.pdf

Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=91495&lokasi=lokal http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29937/3/Chapter%20II.pdf diakses pada 31 Oktober 2015 pukul 07.15

http://www.hpli.org/isu.php diakses pada 22 Oktobers 2015 pukul 16.47

Undang-Undang

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997


(1)

commit to user

10

Yogyakarta sebagai data simpanan jika suatu saat hasil riset dan analisa itu dapat digunakan. Tujuan dari pola ini adalah penyadaran kepada masyarakat ataupun Pemerintah Daerah agar lebih cepat tanggap dan sadar kondisi lingkungan di Yogyakarta. Setelah ditemukanya hasil dari riset, dan analisa yang dilakukan oleh WALHI Yogyakarta, jika ditemukan sebuah potensi masalah atau isu maka WALHI Yogyakarta bersama anggotanya akan merumuskan cara bagaimana untuk menanggulangi dan mencegah kerusakan itu terjadi. Saat rumusan telah dilakukan maka WALHI memilih anggota yang memiliki kedekatan isu dan wilayah dengan daerah yang dituju, dan juga Diretktur WALHI Yogyakarta akan memberi instruksi kepada Sha-Link untuk terjun bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat juga melakukan aksi penyebaran isu tersebut.

Hambatan Dalam Gerakan

Hambatan yang ditemui dalam gerakan mereka juga yang mempengaruhi pola jaringan dari sisi internal WALHI Yogyakarta adalah berupa komunikasi yang kurang luwes antar staff serta kurangnya staff eksekutif dalam kepengurusan WALHI Yogyakarta saat ini. Hambatan selanjutnya adalah hambatan dari luar WALHI Yogyakarta berupa keterbukaan informasi dari pemerintah Kabupaten maupun Propinsi. Ketidakterbukaan ini membuat riset-riset yang dilakukan WALHI Yogyakarta mengalami pelambatan, sehingga berakibat pada jaringan yang lambat untuk merespon jika terkait dengan Pemerintah Daerah.

D. Kesimpulan

Bentuk pola jaringan internal dalam WALHI Yogyakarta yang mendukung gerakan sosial mereka adalah berbentuk seperti lingkaran berlapis, WALHI Yogyakarta sebagai pusat dari jaringan dikelilingi oleh dua lapis jaringan, pertama adalah terdiri dari anggota WALHI Yogyakarta sendiri yang terdiri dari 29 anggota, yang masing-masingnya adalah lembaga yang juga memiliki anggota berupa individu- individu.


(2)

commit to user

11

Dalam internal WALHI Yogyakarta secara garis komando Direktur juga membawahi Sha-Link yang merupakan organ support, Sha-Link merupakan jaringan yang lebih luas secara bentuk dan komposisi, karena merupakan relawan-relawan dari berbagai macam kalangan serta daerah asal yang ingin berkontribusi dalam pelestarian lingkungan di Yogyakarta. Pola internal memastikan ada hubungan dari anggota langsung ke masyarakat, dan dari masyarakat langsung ke WALHI Yogyakarta melalui Warga Berdaya

1. Pola Jaringan Eksternal WALHI Yogyakarta

Dalam pola jaringan eksternal yang dimiliki WALHI Yogyakarta didasarkan kepada bentuk kerja WALHI Yogyakarta yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu kerja berdasarkan laporan warga, dan berdasarkan analisa dari empat isu strategis yang dimiliki WALHI Yogyakarta. Setiap bentuk kerja memiliki pola jaringan tersendiri untuk memastikan gerakan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan dan juga mendapat dukungan yang tepat baik dari segi data, jumlah massa, serta rencana gerakan.

a. Pola Jaringan By Case

Bentuk dari pola ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan bentuk pola jaringan sebelumnya, namun bentuk dasar polanya tetap berasal dari jaringan internal. Pemicu dari berlakunya pola ini adalah dari masuknya laporan ke WALHI Yogyakarta dari warga dengan permasalahan lingkungan. Dengan adanya jaringan yang tersebar dari anggota serta Warga Berdaya membuat masyarakat dapat langsung memberikan laporan kepada WALHI Yogyakarta melalui salah satu anggota, melalui Warga Berdaya saat melakukan pertemuan ataupun mendatangi langsung kantor WALHI Yogyakarta.

Setelah laporan masuk, maka selanjutnya anggota dan eksekutif daerah (WALHI) melihat dan menganalisa laporan apakah memang perlu di advokasi diihat dari siapa pelapor, siapa yang terdampak dari kasus yang dilaporkan. Contohnya adalah ketika warga Karangwuni memberikan laporan berupa surat kepada LBH Yogyakarta dan WALHI Yogyakarta, maka selanjutnya adalah


(3)

commit to user

12

koordinasi antara LBH Yogyakarta dengan WALHI Yogyakarta, karena LBH Yogyakarta merupakan salah satu anggota WALHI, maka selanjutnya adalah menentukan bentuk bantuan dan gerakan yang di lakukan.

b. Pola Jaringan Berdasarkan Empat Isu Strategis

Pola jaringan ditemukan dalam salah satu bentuk kerja WALHI Yogyakarta dengan tujuan preventif dan edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Bentuk kerja yang menggunakan jaringan ini adalah kerja riset yang dilakukan setiap saat oleh WALHI Yogyakarta. Berdasarkan empat isu strategis tersebut maka WALHI Yogyakarta melakukan riset dengan cara melakukan riset di lapangan, lalu analisa kebijakan, serta analisa media untuk melihat kemungkinan terjadinya permasalahan lingkungan. Dalam pola ini gerak jaringan berfokus di eksekutif daerah (WALHI) serta 29 anggotanya, riset dilakukan setiap anggota berdasarkan kedekatan isu yang dimiliki anggota, bila ditemukan krisis maka hasil riset tersebut akan dibicarakan kembali oleh WALHI Yogyakarta untuk melihat bentuk aksi apa yang sesuai dengan masalah tersebut, biasanya bentuk aksi yang dilakukan adalah berupa kampanye penyadaran ataupun edukasi langsung kepada pihak terkait dimana kemungkinan permasalahan lingkungan itu dilakukan. Aktor dalam jaringan yang telibat dalam aksi adalah seluruh anggota, namun untuk edukasi maka yang berperan adalah anggota yang memiliki kedekatan isu dan juga wilayah serta Sha-Link yang memang kerja utamanya adalah untuk edukasi serta penyebaran isu lewat aksi bersama.

E. DAFTAR PUSTAKA

Agusyanto. Ruddy. 2014. “Jaringan Sosial Dalam Organisasi” Jakarta : Rajawali Press

Arikunto, S .2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktir” Jakarta : Rineka Cipta.


(4)

commit to user

13

Denzin, N.K dan Lincoln, Y. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Diani, Mario. 2015. The Cement of Civil Society. New York : Cambridge University Press.

Faulks, Keith. 2012. Political Sociology: A Critical Introduction. Edinburgh : Ediburgh University Press.

Imam, Supardi. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestarianya. Bandung : PT Alumni. Irwan, Djamal Zoer’aini. 2014. Prinsip-Prinsip Ekologi Ekosistem, Lingkungan, dan

Pelestarianya. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kerlinger, Fred N and Lee, Howard B. 2008. “Foundations of Behavioral Research” New York : Harcourt College Publisher

Larana, Enrique. 1994. New Social Movements : From Ideolgy to Identity. Philadelphia : Temple University Press

Lester, R. Brown (ed). 1992. The Worldwatch Reader, on Global Environtmental

Issue. New York : Worldwatch Institute.

Miles, Matthew B. & Huberman, A. Michael 1992. “Analisis Data Kualitatif:Buku

Sumber Tentang Metode-Metode Baru”. Jakarta : UI-Press

Moleong, Lexy J. 2005 Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. Mulyana, Deddy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu

Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainya. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Peet, Richard and Watts, Michael. 1996. “Liberation Ecologies : Environment,

Development, Social Movements” Ney York: TJ Press

Poerwandari, E.Kristi 1998 Pendekatan Kualitaif Dalam Penelitian Psikologi. Depok : LPS3P UI.

Ritzer, George and Douglas J Goodman. 2010 Teori Sosiologi Modern . Jakarta : Kencana.


(5)

commit to user

14

Sastrosupeno, Suprihadi.M. 1984. Manusia Alam dan Lingkungan. Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Situmorang, A.Wahid. 2013. Gerakan Sosial : Teori dan Praktik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Slamet, Y. 2006 Metode Penelitian Sosial. Surakarta : LPP UNS. UNS Press.

Subagyo, Joko 2004. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Suharko. 2005. Merajut Demokrasi, Hubungan NGO-Pemerintah dan

Pengembangan Tata Pemerintahan Demokratis. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : Prenada.

Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Pers Jurnal

Jurnal Sospol UGM Volume 10, nomor 1. Juni 2006. ISSN : 1410-4946

Social Movement Theory and the Evolution of New Organizational Forms Vol 3.

Diakses pada 28 Maret 2016 melalui

http://webuser.bus.umich.edu/organizations/smo/protected/resources/swam iwade.pdf

Welp, Yanina. 2015. “The Mexican Movements #yosoy132” Social Protests and

Democratic Responsiveness: Assessing Realities in Latin America and the Caribbean and the European Union” Diakses pada 13 April 2016 melalui https://eulacfoundation.org/en/system/files/Social_Protests_eng.pdf

Rai, Bina. 2015. “New Social Movements in India : An Ascpect of Environmental

Movements” In International Journal of Science and Research (IJSR) Vol. 4 Issue 9, September 2015. ISSN : 2319-7064

Penelitian

Demaria, Federico et all. 2013.What is Degrowth? From an Activist Slogan to a Social

Movement. Diakses pada 21 Oktober 2015 melalui www.jnu.ac.in


(6)

commit to user

15

Suryani Amin 2008 “ Gerakan Sosial Petani: Studi Mobilisasi dan Perubahan Sosial Kasus Paseduluran Petani Penggarap Perkebunan Tratak(P4T) Kabupaten Batang http://lib.uiac.id/file?file=digital/115665-T%2024

Internet

Suryani Amin, FISIP UI, 2008. Gerakan Sosial dan Perubahan Sosial

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/115665-T%2024000-Gerakan%20sosila-Tinjauan%20literatur.pdf

Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=91495&lokasi=lokal

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29937/3/Chapter%20II.pdf diakses

pada 31 Oktober 2015 pukul 07.15

http://www.hpli.org/isu.php diakses pada 22 Oktobers 2015 pukul 16.47

Undang-Undang

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997