EVALUASI SISTEM PEMBAYARAN BERBASIS ELEK

LOMBA KARYA TULIS BANK INDONESIA –
CAMPUS KNOWLEDGE COMPETITION 2015

EVALUASI SISTEM PEMBAYARAN BERBASIS ELEKTRONIK DALAM
MENDUKUNG GERAKAN NASIONAL NON TUNAI

Diusulkan Oleh:
Faisal, SMI., MFM., CFP® [97011401/0320016603]
Faisal, S.Kom., M.Kom. [140605/0306027201]

UNIVERSITAS TRILOGI
JAKARTA
2015

i

LOMBA KARYA TULIS BANK INDONESIA –
CAMPUS KNOWLEDGE COMPETITION 2015

EVALUASI SISTEM PEMBAYARAN BERBASIS ELEKTRONIK DALAM
MENDUKUNG GERAKAN NASIONAL NON TUNAI

Diusulkan Oleh:
Faisal, SMI., MFM., CFP® [97011401/0320016603]
Faisal, S.Kom., M.Kom. [140605/0306027201]

UNIVERSITAS TRILOGI
JAKARTA
2015

i

FORM PENILAIAN KARYA TULIS
Lomba Karya Ilmiah Antar Perguruan Tinggi
Bank Indonesia – CKC (Campus Knowledge Competition)
Tahun 2015

Nomor: …………………….

Nama Peserta :
1. Faisal, SMI., MFM., CFP®
2. Faisal, S.Kom., M.Kom.
3. –
Universitas : Universitas Trilogi Jakarta

Jakarta, ……….. Juli 2015

(……………JURI…………..)

i

LEMBAR PENGESAHAN
Evaluasi Sistem Pembayaran Berbasis Elektronik
dalam Mendukung Gerakan Nasional Non Tunai
: Universitas Trilogi

1. Judul Karya Tulis

:

2. Universitas
3. Penulis / Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap
b. NIP/NIDN
c. Jurusan
d. Alamat Rumah dan
No Tel./HP
e. Alamat email
4. Anggota Kelompok
a. Nama Lengkap
b. NIP/NIDN
c. Jurusan
5. Anggota Kelompok
a. Nama Lengkap
b. NIP
c. Jurusan

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Faisal, SMI., MFM., CFP®
97011401/0320016603
Manajemen Keuangan
Jl. TMP Kalibata Jakarta Selatan 12760
0815 825 9630
m.faisal@universitas-trilogi.ac.id
Faisal, S.Kom., M.Kom.
140605/0306027201
Sistem Informasi

ii

Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah
S.W.T. yang telah memberikan curahan rahmat, taufiq dan hidayah kepada
penulis untuk dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini untuk mengikuti
kegiatan: “Lomba Karya Tulis Bank Indonesia – Campus Knowledge
Competition 2015”, dengan judul penelitian: “Evaluasi Sistem Pembayaran
Berbasis Elektronik dalam Mendukung Gerakan Nasional Non Tunai”. Shalawat
serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad
S.A.W. yang telah membawa kita dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang
benderang.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para pihak yang telah
banyak membantu dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini, secara khusus kami
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Trilogi Jakarta.
2. Ketua LPPM Universitas Trilogi Jakarta.
3. Seluruh sivitas akademik Universitas Trilogi Jakarta yang telah medukung
kami untuk melakukan karya tulis ilmiah ini.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu Universitas Trilogi Jakarta
memperkaya karya ilmiah dan dapat bermanfaat bagi Universitas Trilogi Jakarta
dalam meningkatkan jumlah penelitian yang dilakukan oleh dosen.
Jakarta, 25 Juni 2015

(Faisal, SMI., MFM., CFP®)
NIP: 97011401/0320016603

iii

Abstrak
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi atau TIK di perbankan
nasional relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Saat ini sebagian besar
layanan e-banking terkait langsung dengan rekening bank. Jenis e-banking yang
tidak terkait rekening biasanya berbentuk nilai moneter yang tersimpan dalam
basis data atau dalam sebuah kartu (chip dalam smartcard). Karya ilmiah ini
bertujuan untuk memberi masukan dan pertimbangan teknis kepada Anggota
Dewan Gubernur dalam pengambilan langkah dan kebijakan strategis untuk
menyikapi dinamika situasi terkini, yaitu untuk mengarahkan industri agar mampu
bergerak efisien; mendorong iklim yang kondusif bagi sistem pembayaran dan
penyelesaian transaksi keuangan; serta memperkuat perlindungan konsumen,
dengan tetap berprinsip kepada kepentingan nasional.
Karya tulis ilmiah ini merupakan suatu literature study (hasil telaah
pustaka) yang mengacu pada bukti-bukti empiris (laporan penelitian sebelumnya),
buku serta informasi dan fakta aktual hasil dari suatu action research. Action
Research merupakan suatu upaya untuk mempelajari masalah-masalah yang
muncul yang bertujuan untuk mengarahkan, mengkoreksi, dan mengevaluasi
keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan organisasi tersebut. Peningkatan
kualitas pendidikan menjadi salah satu strategi kunci dalam meningkatkan
penetrasi layanan. Implementasinya perlu mempertimbangkan persepsi
masyarakat tentang Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), terutama mengenai
faktor-faktor yang masih menjadi penghambat dalam penetrasi GNNT. Tantangan
terberat adalah bagaimana meningkatkan penetrasi TIK di masyarakat
berpenghasilan rendah yang masih merupakan mayoritas di Indonesia.
Kata kunci: Electronic Banking, Electronic commerce, real time gross settlement
(RTGS), Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), Less Cash Society

iv

Daftar Isi
Halaman Judul ............................................................................................... i
Lembar Pengesahan ...................................................................................... ii
Kata Pengantar............................................................................................. iii
Abstrak ........................................................................................................ iv
Daftar Isi....................................................................................................... v
Daftar Gambar ............................................................................................ vii
Daftar Tabel................................................................................................ vii
Daftar Lampiran ......................................................................................... vii
BAB I

PENDAHULUAN ...................................................................... 1

1.1

Latar Belakang ............................................................................... 1

1.2

Perumusan Masalah ........................................................................ 2

1.3

Tujuan Penulisan ............................................................................ 3

1.4

Manfaat Penulisan .......................................................................... 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 5

2.1

Digital Economy ............................................................................. 5

2.2

Definisi Keuangan Inklusif ............................................................. 6

2.3

Kerangka Nasional Keuangan Inklusif ............................................ 6

2.4

Layanan Digitalisasi sebagai alat Transformasi Inklusi Keuangan
....................................................................................................... 9

2.5

Peranan Bank Indonesia................................................................ 10

2.6

Mandat Bank Indonesia ................................................................ 11

2.7

Elektronifikasi .............................................................................. 12

2.8

Strategi Re-engineering Manajemen Perubahan ............................ 13

2.9

Agen Perubahan (Change Agent) .................................................. 15

BAB III

METODE PENULISAN ............................................................ 17

3.1

Metode Penulisan ......................................................................... 17

3.2

Kerangka Berpikir ........................................................................ 19

v

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 21

4.1

Peluang sistem pembayaran non tunai di Indonesia ....................... 21

4.2

Tantangan dan Upaya Menuju Less Cash Society.......................... 23

4.3

Kebijakan Bank Indonesia Mendorong Less Cash Society............. 25

4.4

Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif
(Laku Pandai) ............................................................................... 26

4.5

Reputasi Seorang Agen ................................................................ 27

4.6

Proses Perubahan .......................................................................... 29

4.7

Manfaat Pembayaran non-tunai .................................................... 30

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 38

5.1

Kesimpulan .................................................................................. 38

5.2

Saran ............................................................................................ 38

5.2.1

Memimpin Perubahan Fundamental....................................... 39

5.2.2

Memimpin Perubahan berbasis Budaya…...…………….........42

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 45

vi

Daftar Gambar
Gambar 1.1 Enam Pilar Strategi Keuangan Inklusif ............................................. 7
Gambar 3.1 Kerangka Berpikir .......................................................................... 19
Gambar 4.1 Nilai Transaksi Non Tunai Per Hari ................................................ 21
Gambar 4.2 Fase Less Cash Society Global ....................................................... 22
Gambar 4.3 Perkembangan Layanan Keuangan Digital di Indonesia …..… 23

Daftar Tabel
Tabel 2.1 Contoh Program dan Kelompok Sasaran .............................................. 9

Daftar Lampiran
Lampiran 1. Biodata Ketua Tim Pengusul .......................................................... 47
Lampiran 2. Biodata Anggota Tim Pengusul……………………………………50

vii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan teknologi tak di pungkiri ikut mengubah kebiasaan
masyarakat, termasuk dalam aktivitas keuangan. Dengan teknologi,
masyarakat bisa memilih beragam layanan keuangan yang mudah dan
cepat. Bahkan cukup memakai alat telekomunikasi masyarakat tidak perlu
beranjak. Salah satu inovasi teknologi terbaru adalah layanan P to P
transfer (person to person transfer) antar lintas operator telepon seluler.
Diluncurkan pada 15 Mei 2013 oleh tiga operator seluler terbesar di
Indonesia yakni : Indosat, Telkomsel dan XL. Layanan ini menjadi yang
pertama ada di dunia.
P to P transfer bertujuan mengembangkan dan memperluas
jaringan uang elektronik di Indonesia. Efisiensi dan efektivitas ketiga
operator dalam mengembangkan layanan transfer dana melalui uang
elektronik akan bertambah pula. Teknologi informasi khususnya di bidang
telekomunikasi, memang menjadi pilihan awal untuk mendorong
peredaran uang elektronik. Termasuk dalam pengembangan branchless
banking sebagai upaya perluasan jangkauan layanan pembayaran dan
perbankan di masyarakat.
P to P transfer menambah kemudahan masyarakat bertransaksi,
setelah sebelumnya ada layanan internet banking maupun mobile banking.
Dengan layanan ini, transfer uang cukup dilakukan dengan mengirim
SMS, dan lintas operator telepon genggam. Tak hanya mengirim, nasabah
juga bisa menarik uang dari transfer melalui SMS ini, tanpa perlu pula ke
bank, cukup ke gerai tempat penguangan tunai (TPT) terdekat. Bisa saja
gerai ini adalah toko kelontong di samping rumah, atau kantor pos
terdekat. Untuk keamanan, fasilitas ini mensyaratkan pelanggan telepon
seluler terdaftar, dengan bukti identitas diri sebagai bagian dari prinsip
know your customer (KYC) ala perbankan.
Transaksi yang bisa dilayani P to P transfer adalah pengiriman
uang minimal Rp 10 ribu dan maksimal Rp 5 juta per hari. Setiap transaksi
pengiriman dana butuh dua kali SMS, dengan biaya Rp 150 per SMS. Bila
transaksi berhasil, dikenakan biaya Rp 2.000, dipotong dari saldo uang
elektronik si pengirim dana.
Sumber:http://www.bi.go.id/id/publikasi/geraiinfo/Documents/cf3d872a5b
ab4fda86ada4428bf51162FINALGIJUNI2014.pdf
Menurut Hermana (2007 : 4 - 16)
Luasnya spektrum dan tingkat teknologi e-banking memang memerlukan
nilai investasi yang tidak sedikit. Selain itu, implementasi e-banking
tersebut memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dalam

2

mengembangkan, menjalankan, dan memeliharanya. Tetapi yang menarik
adalah investasi tinggi, kerumitan teknologi dan kehandalan SDM tersebut
hanyalah berlaku di wilayah back-end sebuah bank dan menjadi tanggung
jawab pada ahli-ahli TIK dan pengelola bank. Sedangkan dari sisi
masyarakat pengguna layanan e-banking, faktor yang lebih dominan
adalah apakah layanan teknologi tersebut dianggap mudah, cepat, akurat,
aman, dan rahasia.
Pada Kamis, 14 Agustus 2014 Gubernur Bank Indonesia Agus D.W.
Martowardojo, secara resmi mencanangkan “Gerakan Nasional Non Tunai
(GNNT)”. GNNT ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,
pelaku bisnis dan juga lembaga-lembaga pemerintah terhadap penggunaan
instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas
atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai (Less Cash
Society) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya.
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran(Sumber:
pers/Pages/sp_165814.aspx).
Namun demikian, dalam beberapa hal pengembangan less cash society ini
masih menghadapi kendala, antara lain: masyarakat Indonesia masih
merupakan cash society, dan memegang uang merupakan bagian dari
suatu kebiasaan apabila tidak ingin dikatakan sebagai budaya, dimana
tendensi bertransaksi dengan uang tunai masih tinggi. Disamping itu
masalah infrastruktur pengamanan, teknologi, dan kesiapan perangkat
hukum, masih membutuhkan pembenahan lebih lanjut. (Sumber:
http://www.bi.go.id/id/publikasi/sistempembayaran/riset/Documents/45fb3
801f4e8442eb48bc9a7211e69adLaporanSeminarLCS.pdf)
1.2

Perumusan masalah
Perubahan selalu terjadi dan tidak dapat dihindari atau dihilangkan, namun

perubahan bukanlah merupakan proses sederhana. Perubahan merupakan
pergeseran dari keadaan sekarang menuju pada keadaan yang diinginkan (lebih
baik) dimasa datang. Apalagi dalam era globalisasi yang ditandai dengan
perubahan-perubahan yang sangat cepat dimana masyarakat menjadi semakin
kritis dan kompetisi yang semakin ketat juga terjadi.
Management of change dengan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)
merupakan topik penting untuk dipelajari karena Real goals – sasaran-sasaran
yang ingin dicapai dalam hal di atas hendaknya bukan atau tidak hanya
merupakan stated goals saja. Yang hanya merupakan official statements yang

3

dipublikasikan ke berbagai pihak internal maupun eksternal untuk mempercayai
dan meyakini adanya tujuan atau sasaran-sasaran melakukan perubahan tersebut.
Yang cenderung meragukan dan lebih menggambarkan atau merupakan
simbolisasi dari management’s public relations skills.
Dalam penulisan karya ilmiah ini, dirasakan bahwa taktik organisasi yang
telah didisain tidak/belum sesuai untuk mencapai real goals-nya. Lebih jauh lagi,
bahwasanya kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang ada sekarang harus
selalu diperbaiki agar tidak mempengaruhi motivasi, kepuasan dan komitmen
kerja serta kepercayaan stakeholders. Pada kesempatan ini, penulis akan mengulas
gambaran peluang, upaya dan tantangan sistem pembayaran di era e-commerce
dikaitkan dengan pembentukan less cash society di Indonesia.
1.3

Tujuan Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memberi masukan dan

pertimbangan teknis kepada Anggota Dewan Gubernur dalam pengambilan
langkah dan kebijakan strategis untuk menyikapi dinamika situasi terkini, yaitu
untuk mengarahkan industri agar mampu bergerak efisien; mendorong iklim yang
kondusif bagi sistem pembayaran dan penyelesaian transaksi keuangan; serta
memperkuat perlindungan konsumen, dengan tetap berprinsip kepada kepentingan
nasional.
1.4

Manfaat Penulisan
Sedangkan manfaat penulisan karya ilmiah ini diharapkan (a) dapat

meningkatkan awareness, minat penelitian, meningkatkan jumlah penelitian dan
juga meningkatkan

kualitas penelitian para

dosen/peneliti dilingkungan

Universitas Trilogi Jakarta dalam mendukung Gerakan Nasional Non Tunai
(GNNT) untuk memperkuat daya saing dan jati diri bangsa; (b) mengembangkan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat; (c) mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
serta memperkaya budaya kerja sama antar dosen/peneliti; (d) Membangun
kepercayaan (trust) dan pengakuan masyarakat terhadap hasil-hasil proses

4

penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam
mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Digital Economy
Menurut Hermana (2007 : 1)
OECD mendefinisikan Teknologi Informasi dan Komunikasi, selanjutnya
disebut TIK, sebagai rangkaian kegiatan yang difasilitasi peralatan
elektronik yang mencakup pengolahan, transmisi, dan penyajian informasi.
TIK merupakan konvergensi dari tiga wilayah yaitu teknologi informasi,
data dan informasi, serta masalah-masalah sosioekonominya.
Jadi
berbicara mengenai TIK tidak hanya sebatas teknologinya itu sendiri tetapi
juga harus mengkaji dan mempertimbangkan dampak dari teknologi
tersebut. Dengan kata lain, penguasaan dan penerapan TIK secara umum
seiring dengan berbagai dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya.
Menurut Kim (2004) dalam Hermana dikatakan bahwa
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang relatif
cepat dewasa ini telah mempengaruhi perkembangan perekonomian dunia.
Pada kurun waktu 1999 sampai 2000, negara-negara sedang berkembang
di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa difusi
teknologi informasi berkorelasi positif cukup kuat dengan tingkat
pendapatan perkapita salah satu ukuran kesejahteraan sebuah negara.
Selanjutnya Hermana mengatakan bahwa
kajian teknologi informasi dan komunikasi dari perspektif ekonomi makro
telah dilakukan oleh Papageorgiou (2000), yang menjelaskan model atau
teori pertumbuhan yang ditentukan oleh kombinasi modal sumber daya
manusia dan adopsi teknologi. Model terdiri dari 2 bagian yaitu model
untuk negara yang sudah maju teknologinya dan negara yang sedang
berkembang. Model memprediksi bahwa negara berkembang mempunyai
kesempatan untuk mencapai pertumbuhan tinggi melalui adopsi teknologi
jika kesenjangan teknologinya relatif dekat ke technology frontier.
Menurut Quibria dan Tschang (2001) dalam Hermana (2007: 4)
TIK memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung
mencakup (a) informasi mengenai pasar, peluang, dan lain-lain, (b)
kesempatan kerja, (c) ketrampilan dan pendidikan, (d) pemeliharaan
kesehatan, (e) pemberian layanan pemerintah, dan (f) pemberdayaan. TIK
juga bisa meningkatkan kesejahteraan secara tidak langsung melalui
pertumbuhan (ekonomi) yang cepat, yang memberikan trikledown effect
terhadap perbaikan pendapatan dan kesempatan kerja.

6

2.2. Definisi Keuangan Inklusif
Dalam Strategi Nasional Keuangan Inklusif Bank Indonesia
dikatakan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat financial
exclusion cukup tinggi. Hal ini terlihat dari beberapa hasil survei dan
penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga nasional maupun
internasional berikut : 1). Berdasarkan hasil survey LD-FEUI pada 5
propinsi, terdapat 35% responden yang mempunyai rekening di bank; 2).
Hasil survey World Bank 2011 ada sekitar 20% penduduk dewasa
Indonesia yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal; 3). Hasil
survey World Bank 2012 terhadap rumah tangga Indonesia, ada sekitar
32% penduduk dewasa Indonesia yang belum menabung dan 48%
penduduk dewasa Indonesia yang menabung di lembaga keuangan formal.
Selanjutnya dikatakan bahwa untuk meningkatkan keuangan
inklusif di Indonesia, dipilih cara komprehensif dengan menyusun suatu
strategi nasional yang disusun bersama antara Bank Indonesia, kantor
wakil
presiden
(Tim
Nasional
Percepatan
Penanggulangan
Kemiskinan/TNP2K) dan Kementerian Keuangan yang disebut dengan
Strategi Nasional Keuangan Inklusif. (Sumber:
http://www.bi.go.id/id/perbankan/keuanganinklusif/Indonesia/peran/Conte
nts/Default.aspx.
Keuangan Inklusif dalam Strategi Nasional Keuangan Inklusif
didefinisikan sebagai:
Hak setiap orang untuk memiliki akses dan layanan penuh dari lembaga
keuangan secara tepat waktu, nyaman, informatif, dan terjangkau
biayanya, dengan penghormatan penuh kepada harkat dan martabatnya.
Layanan keuangan tersedia bagi seluruh segmen masyarakat, dengan
perhatian khusus kepada orang miskin, orang miskin produktif, pekerja
migran, dan penduduk di daerah terpencil. (Sumber: Booklet Keuangan
Inklusif).
2.3. Kerangka Nasional Keuangan Inklusif
World Bank (2010) dalam Booklet Keuangan Inklusif mengungkapkan
terdapat empat jenis layanan jasa keuangan yang dianggap vital bagi
kehidupan masyarakat yakni layanan penyimpanan dana, layanan kredit,
layanan sistem pembayaran dan asuransi termasuk di dalamnya dana
pensiun.
Keempat aspek inilah yang menjadi persyaratan mendasar yang harus
dimiliki setiap masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Peningkatan akses masyarakat kepada lembaga keuangan tersebut
tentunya merupakan masalah kompleksitas yang memerlukan koordinasi
lintas sektoral yang melibatkan otoritas perbankan, jasa keuangan non
bank dan kementerian atau lembaga lain yang menaruh perhatian pada

7

upaya pengentasan kemiskinan, sehingga diperlukan kebijakan
komprehensif serta menyeluruh dalam suatu Strategi Nasional Keuangan
Inklusif.

Gambar 1.1 Enam Pilar Strategi Keuangan Inklusif
(Sumber: Booklet Keuangan I nklusif)

Kerangka kerja umum keuangan inklusif dibangun di atas enam pilar
sebagai berikut:
Pilar 1 Edukasi Keuangan. Bertujuan meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat luas tentang produk-produk dan jasa-jasa keuangan
yang ada dalam pasar keuangan formal, aspek perlindungan konsumen dan
pemahaman manajemen risiko. Ruang lingkup edukasi keuangan ini
meliputi: a) pengetahuan dan kesadaran tentang ragam produk dan jasa
keuangan, b) pengetahuan dan kesadaran tentang risiko terkait dengan
produk keuangan, c) perlindungan nasabah, d) ketrampilan mengelola
keuangan.
Pilar 2 Fasilitas Keuangan Publik. Strategi pada pilar ini mengacu pada
kemampuan dan peran pemerintah dalam penyediaan pembiayaan
keuangan publik baik secara langsung maupun bersyarat guna mendorong
pemberdayaan ekonomi masyarakat. Beberapa inisiatif dalam pilar ini
meliputi: a) subsidi dan bantuan sosial, b) pemberdayaan masyarakat, c)
pemberdayaan UMKM.
Pilar 3 Pemetaan Informasi Keuangan. Bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas masyarakat terutama yang sebenarnya dikategorikan tidak layak
untuk menjadi layak atau dari unbankable menjadi bankable oleh institusi
keuangan normal, terutama kaum miskin produktif serta usaha mikro
kecil. Inisiatif yang dilakukan di pilar ini meliputi: a) peningkatan
kapasitas (melalui penyediaan pelatihan dan bantuan teknis), b) sistem

8

jaminan alternatif (lebih sederhana namun tetap memperhatikan risiko
terkait), c) penyediaan layanan kredit yang lebih sederhana, d) identifikasi
nasabah potensial.
Pilar 4: Kebijakan/Peraturan yang mendukung. Pelaksanaan program
keuangan inklusif membutuhkan dukungan kebijakan baik oleh
pemerintah maupun Bank Indonesia guna meningkatkan akses akan
layanan jasa keuangan. Inisiatif untuk mendukung pilar ini antara lain
meliputi: a) Kebijakan mendorong sosialisasi produk jasa keuangan yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, b) menyusun skema produk yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, c) mendorong perubahan ketentuan
dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian secara proporsional, d)
menyusun peraturan mekanisme penyaluran dana bantuan melalui
perbankan, e) memperkuat landasan hukum untuk meningkatkan
perlindungan konsumen jasa keuangan, f) menyusun kajian yang berkaitan
dengan keuangan inklusif untuk menentukan arah kebijakan secara
berkelanjutan.
Pilar 5 Fasilitas Intermediasi dan Saluran Distribusi. Bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran lembaga keuangan akan keberadaan segmen
potensional di masyarakat dan memperluas jangkauan layanan jasa
keuangan dengan memanfaatkan metode distribusi alternatif. Beberapa
aspek pada pilar ini meliputi: a) fasilitasi forum intermediasi dengan
mempertemukan lembaga keuangan dengan kelompok masyarakat
produktif (layak dan unbanked) untuk mengatasi masalah informasi yang
asimetris, b) peningkatan kerjasama antar lembaga keuangan untuk
meningkatkan skala usaha, c) eksplorasi berbagai kemungkinan produk,
layanan, jasa dan saluran distribusi inovatif dengan tetap memberikan
perhatian pada prinsip kehati-hatian.
Pilar 6 Perlindungan Konsumen. Bertujuan agar masyarakat memiliki
jaminan rasa aman dalam berinteraksi dengan institusi keuangan dalam
memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang ditawarkan.
Komponen yang berada pada pilar ini meliputi: a) transparansi produk, b)
penanganan keluhan nasabah, c) mediasi, d) edukasi konsumen.
Keeenam pilar tersebut selanjutnya dijabarkan kedalam program-program
yang telah disesuaikan dengan kategori penduduk yang dilaksanakan oleh
Bank Indonesia dan Kementerian terkait.

9

Beberapa contoh program yang tengah dilakukan adalah seperti terlihat
pada tabel 2.1 berikut :
Tabel 2.1. Contoh Program dan Kelompok Sasaran

(Sumber: Booklet Keuangan Inklusif) ²Layanan Keuangan Digital sebelumnya disebut Branchless Banking

2.4. Layanan Digitalisasi sebagai alat Transformasi Inklusi Keuangan
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan proses transaksi keuangan
yang cepat, mudah, aman, dan efisien, teknologi informasi dan komunikasi
juga berkembang pesat. Perkembangan tren digitalisasi masyarakat
Indonesia dan dunia internasional ke depan diyakini akan semakin besar,
demikian halnya dengan potensi peningkatan elektronifikasi di Indonesia.
Demikian pula halnya dengan tren digitalisasi melalui penggunaan
perangkat telekomunikasi (hand phone) oleh masyarakat termasuk di
wilayah remote selalu menunjukkan kenaikan, dan menurut Data
Kemenkominfo 2014, telah mencapai 270 juta pengguna. Penetrasi
pengguna internet di Indonesia juga sangat tinggi menurut Mark Plus
Insight Netizen Survey, 2014, mencapai 74,6 juta di tahun 2014.
Kondisi tersebut mendorong munculnya inovasi yang menciptakan
sistem pembayaran berbasis teknologi. Sehingga bentuk dari sistem
pembayaran pun terus berevolusi dari sistem pembayaran tunai yang
kemudian berkembang menjadi sistem pembayaran non tunai. Statistik
menunjukkan bahwa transaksi non tunai mengalami pertumbuhan rata-rata
per tahun sebesar 22% (volume) dan 21% (nilai transaksi). Dari semua

10

instrumen non tunai, yang menunjukan perkembangan paling pesat adalah
uang elektronik yaitu sekitar 30% pada tahun 2014. Bank Indonesia
mencatat perkembangan insfrastruktur pembayaran juga menunjukkan
pertumbuhan signifikan tiap tahunnya, seperti jumlah Automated Teller
Machine (ATM), Electronic Data Capture (EDC) dan penggunaan
channel elektronik seperti mobile banking, internet banking dan phone
banking. Pertumbuhan infrastruktur pembayaran dalam dua tahun terakhir,
yakni ATM dan EDC, masing-masing mencapai 14% dan 50%.
Sebagai bentuk komitmen atas perluasan penggunaan instrumen
non tunai, Bank Indonesia akan menjadikan GNNT sebagai gerakan
tahunan yang didukung dengan berbagai kegiatan untuk mendorong
meningkatkan pemahaman masyarakat akan penggunaan instrumen non
tunai dalam melakukan transaksi pembayaran. Dibandingkan negaranegara ASEAN, penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik
yang dilakukan masyarakat Indonesia relatif masih rendah. Volume
penggunaan uang tunai untuk transaksi retail masih sangat dominan, yakni
99,4% dan termasuk tertinggi dibanding negara peer ASEAN, sementara
dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar berkisar
250 juta penduduk atau setengah dari total populasi seluruh ASEAN,
dengan tingkat pertumbuhan kelas menengah yang mencapai 150 juta jiwa
pada tahun 2014, masih terdapat potensi yang cukup besar yakni lebih dari
50% penduduk Indonesia berpotensi menjadi pengguna sistem
pembayaran untuk perluasan akses layanan sistem pembayaran di
Indonesia. (Sumber: http://www.bi.go.id/id/ruang-media/pidato-dewangubernur/Documents/Sambutan_RW_Visa_270215.pdf)
2.5. Peranan Bank Indonesia
Bank Indonesia mendukung pelaksanaan implementasi Strategi Nasional
Keuangan Inklusif melalui peranan sebagai berikut (Sumber: Booklet Keuangan
Inklusif) :

1. Mengkoordinasikan
kegiatan
keuangan
inklusif
dengan
kementerian/lembaga terkait. Melakukan koordinasi dengan
kementerian/lembaga terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan
program keuangan inklusif.
2. Melakukan pemetaan potensi daerah sebagai dasar penetapan program
dan prioritas kegiatan keuangan inklusif.
Pemetaan potensi daerah antara lain dilakukan terhadap sektor
ekonomi, pihak penerima program dan stakeholder terkait.
3. Menetapkan program dan prioritas kegiatan keuangan inklusif.
Menetapkan program dan prioritas kegiatan keuangan inklusif yang
akan dilakukan setelah berkoordinasi dengan kementerian/lembaga
terkait. Penetapan program dan prioritas kegiatan dilakukan sesuai
dengan hasil pemetaan potensi daerah yang dilakukan oleh Bank

11

Indonesia. Selanjutnya untuk mempermudah pelaksanaannya, dibuat
pedoman pelaksanaan program keuangan inklusif.
4. Sebagai focal point untuk kegiatan tertentu yang menjadi kewenangan
Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan Strategi Nasional Keuangan
Inklusif.
Bank Indonesia menjadi focal point dengan fokus pada edukasi,
perlindungan konsumen, pengaturan dan pengawasan di bidang sistem
pembayaran; edukasi perencanaan keuangan; pengaturan dan pemetaan
sistem informasi untuk keuangan inklusif; serta pengembangan akses
keuangan UMKM.
5. Mensosialisasikan program keuangan inklusif.
Mensosialisasikan program kegiatan keuangan inklusif, khususnya
kepada Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia serta pemangku
kepentingan terkait.
6. Membangun kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait di luar
Bank Indonesia.
Dalam rangka memperluas pengembangan keuangan inklusif
diperlukan kerjasama dengan berbagai lembaga baik di tingkat nasional,
regional maupun internasional.
7. Melaksanakan kegiatan keuangan Inklusif.
Melaksanakan kegiatan keuangan inklusif yang relevan dengan tugas
dan wewenang Bank Indonesia.
8. Mengevaluasi program kegiatan keuangan inklusif.
Bersama dengan kementerian/lembaga terkait melakukan evaluasi
perkembangan keuangan inklusif untuk bahan perbaikan dan
penyempurnaan kegiatan di masa datang.
Implementasi dari SNKI di Bank Indonesia mengarah kepada
fungsi-fungsi dimaksud dengan penekanan implementasi dilakukan
melalui aspek sistem pembayaran, yaitu mendidik masyarakat in the
bottom of the pyramid untuk belajar “keeping” uangnya dari cash-based,
yaitu menyimpan uang di dalam rumah menjadi account-based, yaitu
menyimpan uang dalam bentuk rekening uang elektronik. Hal ini dapat
membantu mengurangi tendensi konsumtif sekaligus titik awal financial
diary, mengelola keuangan sederhana yang diperkuat dengan program
edukasi keuangan. Dengan SNKI dimaksud, diharapkan dapat
meningkatkan kapabilitas dan kualitas hidup dari kelompok the bottom of
the pyramid. Hal ini dapat membantu pengurangan kemiskinan sekaligus
memperoleh dividend demografi karena tingginya usia produktif Indonesia
saat ini dan ke depan. (Sumber:
http://www.bi.go.id/id/perbankan/keuanganinklusif/indikator/indeks/contents/default.aspx).

2.6. Mandat Bank Indonesia
Sebagai otoritas sistem pembayaran, misi Bank Indonesia adalah
Mengelola dan memelihara Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang
yang aman, efisien, dan lancar, melalui perluasan akses dan

12

mempertimbangkan kepentingan nasional. Capaian misi tersebut akan
Bank Indonesia tempuh melalui dua aspek penting, yaitu yang pertama:
melakukan Penguatan Sistem Pembayaran, dan kedua: proaktif dalam
memelopori kerjasama dan kolaborasi.
Penguatan Sistem Pembayaran dituangkan kepada empat pilar,
yaitu pertama: Sistem Pengelolaan Uang yang Efektif dan Efisien, kedua:
Perluasan Elektronifikasi Pembayaran, ketiga: Infrastruktur Pembayaran
yang handal dan aman, dan pilar keempat adalah Pengawasan dan
Oversight yang Kuat dan Tajam (Rigorous). Bank Indonesia akan lebih
banyak eksplorasi pilar kedua, yaitu Perluasan Elektronifikasi
Pembayaran.
Terkait Perluasan Elektronifikasi Pembayaran tersebut, salah satu
visi Bank Indonesia di bidang non tunai adalah mewujudkan masyarakat
yang memiliki preferensi tinggi dalam menggunakan instrumen dan sarana
pembayaran non-tunai dalam melakukan transaksi keuangan, atau yang
dikenal dengan Less Cash Society.
Perwujudan Less Cash Society ini penting untuk mendorong
perekonomian yang lebih efisien, disamping mendorong governance yang
lebih baik dalam pengelolaan keuangan oleh masyarakat, pelaku bisnis
maupun lembaga-lembaga pemerintah. (Sumber:
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/pidato-dewangubernur/Documents/Sambutan_RW_Visa_270215.pdf ).
2.7. Elektronifikasi
Elektronifikasi adalah suatu upaya yang terpadu dan terintegrasi
untuk mengubah pembayaran dari tunai menjadi non tunai. Perluasan
penggunaan elektronifikasi diartikan sebagai upaya untuk mengubah
sebagian besar mekanisme pembayaran dari fisik menjadi digital, atau dari
manual menjadi elektronik, dan meningkatkan akses keuangan yang
terbatas menjadi luas (inklusif).
Strategi perluasan elektronifikasi pembayaran dilakukan melalui
upaya kampanye terintegrasi yang melibatkan seluruh pemangku
kepentingan. Bank Indonesia akan mengupayakan fasilitasi dengan
Pemerintah maupun institusi terkait yang memiliki potensi sebagai
katalisator penggunaan elektronifikasi sistem pembayaran.
Perluasan elektronifikasi pembayaran juga merupakan bagian
integral dari kebijakan keuangan inklusif dalam rangka meningkatkan
akses masyarakat unbanked terhadap lembaga keuangan. Melalui
pemanfaatan teknologi informasi, Bank Indonesia berharap program
elektronifikasi yang diluncurkan dapat menjadi motor dalam menjawab
tantangan ini dengan memberikan layanan kepada mereka secara aman
dan efisien. (Sumber: http://www.bi.go.id/id/ruang-media/pidato-dewangubernur/Documents/Sambutan_RW_Visa_270215.pdf).

13

2.8. Strategi Re-engineering Manajemen Perubahan
Menurut George M Hill
keberhasilan re-engineering harus mengkaitkan seluruh orang-orang,
proses, strategi-strategi, dan teknologi suatu organisasi (pelaku bisnis dan
juga lembaga-lembaga pemerintah) dengan keseluruhan tujuan bisnisnya.
Jika satu kaitan dalam rantai tersebut hilang (diabaikan), proses
transformasi bisnis akan gagal. Strategi tersebut harus didasarkan pada visi
yang mendorong utilitas saat ini, ke arah yang diinginkan di masa datang.
Hal ini berarti bahwa Bank Indonesia harus menawarkan visi operasional
spesifik yang seluruh organisasi dapat mengaplikasikannya dalam
aktivitas-aktivitas sehari-hari. Hal ini merupakan proses dua arah untuk
memastikan bahwa keputusan strategis mengarah pada perubahan
operasional dan bahwa perubahan operasional mempengaruhi keputusan
strategis. Terdapat hubungan timbal balik antara perubahan strategis dan
operasional. Untuk itu, keduanya perlu dikelola secara sinergis.
Hill mengemukakan beberapa pointers yang menjadikan keberhasilan dan
kegagalan re-engineering (Hill, 1993: 8-9).
A. Keberhasilan re-engineering
1. Suatu kinerja tinggi organisasi, didorong (termotivasi) oleh core
processes (proses inti) yang unggul dalam quality service, customer
satisfaction, dan cost effectiveness. Fokus hanya pada satu kunci di
atas kemudian memperbaiki fungsi menjadi proses transformasi,
mengintegrasikan revisi proses ke dalam visi strategik agar para
organisasi memahami dan termotivasi untuk bergerak menuju arah
baru.
2. Re-engineering harus fokus pada cross functional untuk membentuk
teams yang terdiri dari representatif dari tiap organisasi terlibat
dalam proses. Pimpin teams tersebut dengan change agents yang
antusias, open minded, dan konsentrasi pada memberi motivasi
proses.
3. Re-engineering harus didorong oleh apa keinginan customers dan
bukan oleh perspektif-perspektif internal. Oleh karena itu, salah satu
kunci bagi keberhasilan re-engineering adalah untuk fokus pada
proses-proses yang memiliki dampak tertinggi pada customer
service.
Salah satu aspek yang berkembang adalah dengan adanya gerakan
menciptakan organisasi yang berpusat pada pelanggan dengan
struktur yang memberi cerminan sehingga tanggap terhadap pasar
yang berbeda daripada perbedaan fungsi. Tanggapan pelanggan
menempatkan tekanan lebih besar pada proses horisontal yang
efektif dan mewujudkan konsep bahwa setiap orang adalah
pelanggan.

14

Contoh kasus untuk hal ini adalah Carolina Power & Light Co
(CP&L) organisasi yang berhasil mengaplikasikan konsep ini dalam
upaya re-engineering organisasinya. CP&L memulai proyek reengineering nya dengan mengidentifikasi aktivitas-aktivitas kunci,
yang kemudian diuraikan atau dijabarkan ke dalam proses-proses
yang didasari oleh keseluruhan tujuan strategik organisasi. Hasilnya,
banyak proses dirasionalisasikan (streamlined), diperbaiki, atau
bahkan dieliminasi. Dan karena customer satisfaction kadangkala
terpengaruh oleh representatif atau agen pelayanan organisasi,
CP&L juga mendesain ulang sistem customer service-nya dengan
memberi informasi seperlunya untuk menjawab berbagai pertanyaan
customer dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan customer secara
lebih baik. Hasil akhirnya, para karyawan CP&L saat ini dapat
berkonsentrasi atau fokus pada pemberian solusi-solusi yang kreatif
kepada customers ketimbang pada pelaksanaan tugas-tugas spesifik.
4. Membangun kredibilitas secara internal dan eksternal dengan
mendemonstrasikan respon atau tanggapan awal yang substansial.
Sebagai contoh, pada CP&L aktivitas-aktivitas pertama di
identifikasi dan dirancang ulang dalam proses penyampaian
pelayanan informasi sebelum mengaplikasikan pendekatan yang
sama pada core business processes organisasi, misalnya customer
service.
5. Mengembangkan teknologi untuk mempermudah. Teknologi baru
seharusnya tidak digunakan hanya untuk mekanisasi dan
mempercepat cara-cara lama melakukan bisnis. Keberhasilan reengineering mempengaruhi teknologi inovatif sebenarnya untuk
memformulasikan kembali proses bisnis. Misalnya, client/server
processing didistribusikan kepada customer contact dapat
mempunyai dampak signifikan karena memberdayakan agen
pelayanan menjadi lebih menentukan (dapat mengambil keputusan),
sangat responsif, dan lebih informatisf dalam berhubungan dengan
customers. Melalui unit-unit kerja yang powerful, mereka dapat
menawarkan/memberikan keseluruhan layanan yang lebih baik
(tingkatan yang lebih fleksibel dan melayani berdasarkan kebutuhan
spesifik customers).
6. Pertahankan re-engineering. Visi re-engineering harus datang dari
pimpinan (dalam hal ini Bank Indonesia) – namun dukungan harus
dibangun atau dikembangkan dari bawah. Komitmen pimpinan
adalah penting. Namun pekerjaan pimpinan bukan untuk mendikte.
Pekerjaan atau tugasnya adalah untuk menciptakan lingkungan yang
bebas dari ketakutan dan mendorong atau memotivasi partisipasi.
Banyak upaya-upaya re-engineering gagal karena kurangnya
dukungan dari bawahan ketimbang dari faktor-faktor lainnya. Untuk
mengatasi tantangan ini, perubahan harus dipromosikan pada
seluruh level organisasi sejak dini. Komunikasi harus jelas, kredibel,
dan kontinu selama proses re-engineering. Organisasi harus

15

mengambil tindakan berarti, seperti memfokuskan teams sekitar
proses, bukan sekitar tugas-tugas, dan memberi mereka tanggung
jawab untuk memperbaiki kinerja. Ketimbang melihat akuntabilitas
tersebut sebagai beban yang tidak fair, karyawan merasa hal
tersebut memperkaya tugas atau pekerjaan mereka.
7. Re-engineering yang berhasil mensyaratkan pembebasan diri dari
aturan-aturan dan operasi-operasi tradisional. Satu-satunya cara
untuk membuat lompatan jauh (quantum leaps) dalam kinerja
adalah untuk menolak asumsi-asumsi lama dan menerima/menganut
perubahan radikal. Tujuannya adalah untuk menciptakan bisnis
yang tanggap secara cepat dan efektif terhadap perubahanperubahan pasar.
B. Kegagalan re-engineering
Re-engineering suatu organisasi mempunyai arti seluruh komponen
bisnis harus terintegrasi dengan visi baru masa depan. Jika sistem dan
proses dirubah tanpa membantu para karyawan menyesuaikan dirinya, reengineering akan cepat gagal. Jika teknolgi masa lalu dibeli untuk
mendukung strategi saat ini, akan menimbulkan kegagalan lainnya.
Setiap bagian dari utilitas organisasi disinkronisasikan dengan misi
organisasi tersebut untuk memberi kepuasan kepada stakeholders-nya.
Inilah lingkungan dimana true re-engineering berhasil dan berjaya (Hill,
1993: 8-9).
Seperti dikatakan Victor Tan, bahwa banyak organisasi yang tidak
berhasil oleh karena salah dalam advokasinya. Kesalahan ini disebabkan
oleh karena menggunakannya sebagai alat yang terisolasi untuk mencapai
keunggulan bisnis (Victor Tan, 2002 : 81).
Kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Business Process Re-engineering tidak dapat memberikan kontribusi
pada keunggulan bisnis jika orang dalam organisasi tidak kompeten
atau jika karyawan tidak memiliki komitmen.
b. Business Process Re-engineering tidak dapat memperbaiki masalah
jika organisasi menghasilkan dan memasarkan produk yang salah.
c. Business Process Re-engineering dapat menjadi alat yang sangat
efektif untuk menurunkan biaya dan meningkatkan daya saing
organisasi apabila digunakan dengan benar sebagai pelengkap dari alat
lainnya untuk mencapai keunggulan bisnis.
2.9. Agen Perubahan (Change Agent)
Pengertian menurut Griffin dan Pareek, dalam Wibowo (2006 : 114 - 115)
tentang agen perubahan adalah orang profesional yang tugasnya
membantu masyarakat atau kelompok merencanakan pembangunan atau
membentuk kembali sasaran, memfokus pada masalah, mencari
pemecahan yang mungkin, mengatur bantuan, merencanakan tindakan

16

yang dimaksudkan untuk memperbaiki situasi, mengatasi kesulitan, dan
mengevaluasi hasil dari usaha terencana.
Tugas seorang agen perubahan sungguh sangat luas dan berat. Oleh
karena itu, harus memiliki kualifikasi pribadi, pengetahuan dan
pemahaman tertentu dan sudah tentu keterampilan. Akan tetapi, yang lebih
penting, ia harus memahami bahwa tanggung jawabnya membantu orang
lain untuk dapat belajar menolong dirinya sendiri. Agen perubahan
berperan penting untuk mengelola perubahan secara bijaksana.
Dorongan untuk perubahan sangat kuat dan terjadinya perubahan
tidak bisa dihindari. Namun, kesalahan yang mungkin terjadi dalam
melakukan perubahan perlu dihindari dan perubahan harus dilakukan
secara bertahap. Agen perubahan berperan penting untuk mengelola
perubahan secara bijaksana.
Selanjutnya Wibowo mengatakan, jika perubahan diperlukan untuk
meningkatkan kinerja organisasi, perubahan dilakukan oleh agen
perubahan adalah perubahan sumber daya manusia, terutama yang
menduduki jabatan kunci. Pemimpin pada berbagai jenjang organisasi
harus mampu menjadi katalis dalam proses perubahan tersebut. Namun,
perubahan memerlukan dukungan dan kerjasama segenap sumber daya
manusia. Oleh karena itu, diperlukan pemberdayaan sumber daya manusia
sehingga setiap orang merasa dirinya sebagai bagian dan turut serta dalam
proses perubahan.

BAB III
METODE PENULISAN
3.1. Metode Penulisan
Karya tulis ilmiah ini merupakan suatu literature study (hasil telaah
pustaka) yang mengacu pada bukti-bukti empiris (laporan penelitian sebelumnya),
buku serta informasi dan fakta aktual hasil dari suatu action research.
Action Research merupakan suatu upaya untuk mempelajari masalahmasalah yang muncul yang bertujuan untuk mengarahkan, mengkoreksi, dan
mengevaluasi keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan organisasi tersebut.
Beberapa fitur suatu Action research ini adalah: 1). Merupakan usulan (usulan
solusi terhadap masalah-masalah) yang valid dan actionable, serta applicable; 2).
Konsep dapat diaplikasikan dalam situasi aktual (real time, everyday-life
conditions), tidak atau bukan dalam research atau laboratory setting; 3).
Implementasi yang efektif akan mengarah pada hasil yang konsisten dengan apa
yang diinginkan; 4). Efektivitas diatas adalah testable dengan metode-metode
standard.
Penulisan ini dilakukan dengan melakukan lima tahapan proses action
research terhadap masalah yang timbul dan dihadapi:
1. Mengidentifikasi dan menjelaskan masalah
Pada tahap ini penulis mengidentifikasi masalah dengan melihat efek langsung
dan kumulatif dari proses perubahan.
2. Mengumpulkan atau mengkoleksi data
Dalam proses pengumpulan data dan informasi tersebut penulis menggunakan
suatu portfolio (proses filing segala sesuatu yang terlihat relevan terhadap
masalah yang nantinya dapat di analisis kemudian). Bukti tertulis berkaitan
dengan laporan hasil seminar, artikel-artikel, dan lain-lainnya, digunakan
untuk membentuk baseline tentang apa yang terjadi di masa lalu dan dapat
digunakan untuk membandingkan pendekatan baru terhadap pendekatan
sebelumnya.

18

3. Mengorganisasi data
Dalam mengorganisasi data di atas penulis menyajikan contoh-contoh dan
kejadian-kejadian yang diperoleh dari pengumpulan dan pengkoleksian data di
atas. Selanjutnya dilakukan penyajian data dalam bentuk sederhana dan
mudah dimengerti serta menyusun data sesuai prioritas dan urgensinya.
4. Analisis dan interpretasi data
Mengolah data menjadi informasi maksimum merupakan langkah berikutnya
dari bab sebelumnya, setelah itu dilakukan analisis data untuk menentukan
bidang prioritas untuk bertindak.
Langkah berikutnya adalah mempelajari literatur maupun jurnal-jurnal dan
mengidentifikasi topik-topik dalam literatur maupun jurnal-jurnal tersebut.
Kemudian dilakukan proses pengumpulan laporan riset dan artikel-artikel
tersebut serta menganalisis dan menginterpretasikan informasi dalam materimateri tersebut sebagai alat untuk memahami dan untuk bertindak. Langkah
selanjutnya adalah menentukan tindakan yang paling sesuai.
5. Membuat strategi-strategi tindakan dan membuat usulan penerapannya dalam
organisasi.
Pada tahap ini dilakukan pengkombinasian informasi dari analisis data dengan
literatur di atas. Kemudian memilih strategi-strategi terbaik untuk bertindak
dan membuat action plans jangka pendek dan jangka panjang (jika Anggota
Dewan

Gubernur

setuju

dan

mau

menerapkannya).

Selanjutnya

mengimplementasikan beberapa tindakan secepatnya (jika Anggota Dewan
Gubernur setuju dan mau menerapkannya) dan menilai implementasi tersebut
diatas.
Tahap berikutnya adalah mengulang kembali proses 1 sampai dengan 5
di atas serta melakukan action research kembali untuk menilai dampak
penerapan usulan di atas (jika manajemen menyetujui dilakukan action
research lanjutan, baik oleh penulis sendiri maupun penulis lain dalam bidang
lainnya).

19

3.2. Kerangka Berpikir
Pola pikir karya ilmiah ini dapat dijelaskan melalui bagan kerangka
berpikir di bawah ini. Program GNNT direncanakan sebagai gerakan bersama
seluruh otoritas, industri, dan lapisan masyarakat secara nasional untuk
mewujudkan less cash society.

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir
GNNT dilakukan melalui strategi perluasan elektronifikasi pembayaran
dilakukan melalui upaya kampanye terintegrasi yang melibatkan seluruh
pemangku kepentingan. Bank Indonesia akan mengupayakan fasilitasi dengan
Pemerintah maupun institusi terkait yang memiliki potensi sebagai katalisator
penggunaan elektronifikasi

sistem

pembayaran.

Perluasan

elektronifikasi

pembayaran juga merupakan bagian integral dari kebijakan keuangan inklusif
dalam rangka meningkatkan akses masyarakat unbanked terhadap lembaga
keuangan. Elektronifikasi ini juga didukung dengan lingkungan strategis yaitu
lingkungan tingkat regional (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan nasional.
Selanjutnya, peluang ini mewujudkan masyarakat yang memiliki
preferensi tinggi dalam menggunakan instrumen dan sarana pembayaran nontunai dalam melakukan transaksi keuangan, atau yang dikenal dengan less cash
society. Peluang ini juga diharapkan dapat menjangkau masyarakat di remote area
untuk menerima layanan perbankan kepada mereka secara aman dan efisien.

20

Adapun tantangan untuk hal ini adalah terdapat faktor penghambat akses
masyarakat terhadap layanan jasa keuangan tersebut antara lain tingkat
pengetahuan keuangan (financial literacy) yang rendah; dan psikologi dan budaya
yang belum terbiasa menggunakan layanan perbankan.
Secara umum bahwa dampak dari kebijakan tersebut adalah peningkatan
performance, profitabilitas, efisiensi dan Stabilitas Sistem Keuangan yang saat ini
telah terjaga dengan baik, yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Peluang sistem pembayaran non tunai di Indonesia
(Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2014/11/18/menuju-gaya-hidup-di-era-less-cash-society-687296.html)

Sistem pembayaran terus berevolusi mengikuti perkembangan
peradaban seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian suatu
masyarakat. Perkembangan transaksi secara non tunai secara card based
dan electronic based di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup
baik seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini (berdasarkan data
dari Bank Indonesia):

Gambar 4.1 Nilai Transaksi Non Tunai Per Hari, Sumber: Bank Indonesia
Dari segi nilai transaksi per hari, transaksi dengan menggunakan
kartu debit mendominasi dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,5
triliun/hari pada tahun 2010. Nilai ini meningkat menjadi Rp 8,9
triliun/hari per September 2014. Sementara untuk uang elektronik nilai
rata-rata transaksi per hari pada periode yang sama yakni dari Rp 1,9
miliar/hari pada tahun 2010 menjadi Rp 6,9 miliar/hari per September
2014. Dari segi pertumbuhan, nilai transaksi per hari dengan uang
elektronik tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi yakni hingga 4 kali
lipat dari tahun 2010 hingga tahun 2013. Sementara itu, pertumbuhan
transaksi per hari dengan menggunakan kartu mencapai 2 kali lipat pada
periode yang sama.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh MasterCard yang
berjudul “The Global Journey From Cash To Cashless” tahun 2013, besar
pembayaran non tunai Indonesia mencakup 31% dari total pembayaran
yang dilakukan konsumen. Angka tersebut setara dengan Rusia dan hanya
berada di atas Kenya dengan pembayaran non tunai mencakup 27%.
Angka tersebut memberikan pro

Dokumen yang terkait

Dokumen baru