Influences of work values on environment at the airport: a case study in five airports in Indonesia

PENGARUH NILAI KERJA
TERHADAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN DI BANDARA:
Studi Kasus di Lima Bandara di Indonesia

ACHMAD RAMZY TADJOEDIN

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengaruh Nilai Kerja terhadap
Kepedulian Lingkungan di Bandara: Studi Kasus di Lima Bandara di Indonesia adalah
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
.

Bogor, Februari 2012

Achmad Ramzy Tadjoedin
NIM 995082

ABSTRACT
ACHMAD RAMZY TADJOEDIN. Influences of Work Values on Environment at the
Airport: A Case Study in Five Airports in Indonesia. Under the supervision of SJAFRI
MANGKUPRAWIRA, SUMARDJO, and ASEP SAEFUDDIN.
This study was conducted at five airports managed by PT Angkasa Pura I, as
follows: Juanda Airport, Surabaya; Hasanuddin Airport, Makassar; Pattimura airport,
Ambon; Ngurah Rai Airport, Denpasar; and Sepinggan Airport, Balikpapan. This study
aims to identify the value that affect the working conditions of the airport environment,
analyzing the influence of each work's value to the quality of the airport environment,
identify the needs of stakeholders in improving the performance of airports in the future
and formulate implementation strategy needs to be done to improve the environmental
performance of the airports. The results of the analysis of stakeholder needs against
environmental quality inside and outside the company show that the requirement is: (1)
improving the performance of efficient service, clear, precise, and easy airport service
users; (2) increase the professionalism of officers who work efficiently, workers spread
across several important points, and create familiarity between officers with airport
service users, as well as the atmosphere of a friendly waitress from officers; (3)
dissemination of clear and strict rules for employees and users services and for law
enforcement officers and service users; and (4) improvement of facilities. The results of
a prospective analysis found five key factors, namely leadership, cleanliness, care
customs, modesty, and tidiness. Based on these five key factors, then the
implementation strategy that can be done by PT Angkasa Pura I to improve the quality
of the firm is: (1) working with the leadership; (2) always pay attention to neatness,
both in appearance and in work; (3) always pay attention to cleanliness; (4) be simple,
reasonable, not excessive in employment; and (5) caring for customs or the culture
around an enterprise environment.
Keywords: airports, environment, PT Angkasa Pura I, work values.

RINGKASAN
ACHMAD RAMZY TADJOEDIN. Pengaruh Nilai Kerja terhadap Kepedulian
Lingkungan di Bandara: Studi Kasus di Lima Bandara di Indonesia. Dibimbing oleh
SJAFRI MANGKUPRAWIRA, SUMARDJO, dan ASEP SAEFUDDIN.
Bandara adalah suatu daerah yang unik dan pertumbuhannya sangat pesat
sejalan dengan semakin terbukanya perdagangan bebas. Bandara merupakan tempat
masuk dan keluarnya berbagai barang dan jasa; tempat bertemunya bermacam ras, suku,
bangsa, serta laki-laki dan perempuan sehingga terjadi interaksi budaya yang membantu
mendorong masyarakat untuk menjadi semakin terbuka dalam menerima segala macam
bentuk kontak budaya dengan dunia luar. Bandara juga menjadi daerah awal pertemuan
budaya (cultural meeting point), dan terasa semakin berkembang dengan meningkatnya
kegiatan pariwisata. Oleh karena itu maka setiap daerah berupaya untuk berbenah dan
mempercantik diri menjadi daerah yang menawan, nyaman, indah, bersih dan aman,
sehingga dapat menarik perhatian para wisatawan. Walau bandara mempunyai
kemampuan yang sangat terbatas, apalagi dalam masa pertumbuhannya, maka untuk
mencapai hal tersebut memerlukan nilai kerja yang mampu memberi pelayanan yang
baik dalam menyongsong lalu-lalangnya pesawat terbang, wisatawan dan bermacam
jenis barang sebagai akibat dari perkembangan perdagangan yang semakin ramai dan
pesat pula. Adapun yang dimaksud nilai kerja di sini adalah bagian dari budaya kerja
yang sedang berjalan di dalam organisasi tersebut.
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang dan permasalahan, maka
dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: (1) bagaimana tingkat
kepedulian responden terhadap lingkungan bandara, (2) faktor-faktor nilai kerja apa
yang mempengaruhi kepedulian lingkungan bandara, (3) bagaimana kebutuhan
stakeholders dalam upaya meningkatkan kepedulian dan kinerja lingkungan bandara,
dan (4) strategi apa yang perlu diterapkan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan
bandara yang menjadi kebutuhan stakeholders. Untuk menjawab berbagai permasalahan
tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis tingkat kepedulian
responden terhadap lingkungan bandara, (2) menganalisis faktor-faktor nilai kerja yang
mempengaruhi kepedulian lingkungan bandara, (3) menganalisis kebutuhan
stakeholders dalam upaya meningkatkan kepedulian dan kinerja lingkungan bandara,
dan (4) merumuskan strategi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kepedulian dan
kinerja lingkungan bandara.
Penelitian dilakukan di lima bandara yaitu di Bandara Juanda Surabaya; Bandara
Hasanuddin Makassar; Bandara Pattimura Ambon; Bandara Ngurah Rai Denpasar; dan
Bandara Sepinggan Balikpapan. Penelitian dilaksanakan dari Juli sampai dengan
Desember 2008. Penelitian ini diawali dengan metode survei dengan alat kuesioner dan
angket pada 550 responden karyawan Angkasa Pura I di lima bandara tersebut di atas.
Data ini selanjutnya dianalisis dengan analisis deskriptif, sehingga didapatkan tingkat
kepedulian responden terhadap lingkungan bandara. Selanjutnya dilakukan studi
literatur dan wawancara pra penelitian dengan pihak manajemen PT Angkasa Pura I dan
pihak pengelola bandara, dimana diperoleh 16 indikator nilai kerja (kepedulian
lingkungan di luar perusahaan, ksatria/sportif, kepedulian terhadap adat istiadat
setempat, kebersihan, solidaritas/rasa persatuan, penilaian diri secara teliti, keikhlasan,
rajin, loyalitas/kesetiaan, kekuasaan, keakraban, puas bekerja, berorientasi pelayanan,

mengambil risiko, ketekunan, dan kebersahajaan) yang diduga berpengaruh terhadap
lingkungan di dalam perusahaan dan 21 indikator nilai kerja (kepedulian lingkungan di
dalam perusahaan, bekerja dengan kepemimpinan, kerapihan, mencapai visi perusahaan,
rasa kebersamaan, sanksi/hukuman, kebersihan, menghasilkan laba, kepedulian
terhadap adat istiadat setempat, kerja keras, mempergunakan MS Access, menyediakan
keperluan orang lain, bekerja dengan mutu kerja yang tinggi, jiwa dagang, kepuasan
terhadap gaji, keberanian membela kebenaran, berorientasi pelayanan, kenyamanan,
kebersahajaan, inisiatif/manfaatkan kesempatan, dan penyesuaian diri) yang diduga
berpengaruh terhadap lingkungan di luar perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis
regresi linier berganda untuk menguji pengaruh faktor-faktor nilai kerja yang terhadap
kepedulian lingkungan bandara. Berdasarkan metode Focus Group Discussion (FGD)
didapatkan hasil analisis kebutuhan stakeholders untuk dibandingkan dengan hasil
analisis regresi linier berganda sebelum dilakukan analisis prospektif. Setelah
melakukan analisis prospektif, dihasilkan strategi peningkatan kinerja lingkungan
bandara.
Hasil analisis persepsi menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
tingkat kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan dalam bandara dan
lingkungan luar bandara. Hal ini sangat menggembirakan karena hasil tersebut sangat
diharapkan oleh semua pihak, khususnya pihak pengelola bandara dalam rangka
menjaga dan meningkatkan kualitas dan kinerja lingkungan bandara.
Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, ditemukan bahwa kepedulian
lingkungan dalam bandara secara signifikan dipengaruhi oleh 16 indikator nilai kerja,
yaitu kepedulian lingkungan di luar perusahaan, ksatria/sportif, kepedulian terhadap
adat istiadat setempat, kebersihan, solidaritas/rasa persatuan, penilaian diri secara teliti,
keikhlasan, rajin, loyalitas/kesetiaan, kekuasaan, keakraban, puas bekerja, berorientasi
pelayanan, mengambil risiko, ketekunan, dan kebersahajaan. Dengan melihat tanda
positif pada koefisien regresi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa 13 faktor nilai
kerja, yaitu ksatria/sportif, kepedulian terhadap adat istiadat setempat, kebersihan,
solidaritas/rasa persatuan, penilaian diri secara teliti, keikhlasan, rajin,
loyalitas/kesetiaan, keakraban, puas bekerja, berorientasi pelayanan, dan ketekunan,
merupakan faktor pendorong bagi terciptanya kepedulian lingkungan di dalam bandara,
sedangkan tanda negatif pada koefisien regresi tiga faktor nilai kerja, yaitu, kekuasaan, 
mengambil risiko,  dan kebersahajaan,  mengindikasikan bahwa kekuasaan,  mengambil
risiko,  dan kebersahajaan merupakan faktor penghambat bagi terciptanya kepedulian
lingkungan di dalam bandara.
Hasil analisis regresi berganda juga menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan
luar bandara secara signifikan dipengaruhi oleh 21 indikator nilai kerja, yaitu
kepedulian lingkungan di dalam perusahaan, bekerja dengan kepemimpinan, kerapihan,
mencapai visi perusahaan, rasa kebersamaan, sanksi/hukuman, kebersihan,
menghasilkan laba, kepedulian terhadap adat istiadat setempat, kerja keras,
mempergunakan MS Access, menyediakan keperluan orang lain, bekerja dengan mutu
kerja yang tinggi, jiwa dagang, kepuasan terhadap gaji, keberanian membela kebenaran,
berorientasi pelayanan, kenyamanan, kebersahajaan, inisiatif/manfaatkan kesempatan,
dan penyesuaian diri. Dengan melihat tanda positif pada koefisien regresi yang ada,
maka dapat dikatakan bahwa 16 faktor nilai kerja, yaitu kepedulian lingkungan di dalam
perusahaan, bekerja dengan kepemimpinan, kerapihan, mencapai visi perusahaan, rasa
kebersamaan, sanksi/hukuman, kebersihan, menghasilkan laba, kepedulian terhadap
adat istiadat setempat, kerja keras, menyediakan keperluan orang lain, kepuasan

terhadap gaji, berorientasi pelayanan, kenyamanan, kebersahajaan, dan
inisiatif/manfaatkan kesempatan, merupakan faktor pendukung bagi terciptanya
 
kepedulian lingkungan di luar bandara.
Berdasarkan hasil analisis prospektif, terdapat 14 faktor nilai kerja yang
berpengaruh signifikan terhadap kepedulian lingkungan bandara dan dikelompokkan ke
dalam 4 kategori, yaitu :
ƒ Kategori 1 (ketergantungan tinggi, pengaruh tinggi) : kerapihan dan kebersihan,
ƒ Kategori 2 (ketergantungan rendah, pengaruh tinggi) : kepemimpinan, kepedulian
adat istiadat, dan kebersahajaan.
ƒ Kategori 3 (ketergantungan rendah, pengaruh rendah) : orientasi pelayanan, adat
istiadat, jiwa dagang, dan membela kebenaran,
ƒ Kategori 4 (ketergantungan tinggi, pengaruh rendah) : kepuasan gaji, mutu kerja,
kerja keras, sarana ibadah, dan kenyamanan .
Dengan demikian, strategi peningkatan kepedulian terhadap lingkungan bandara
adalah sebagai berikut : (a) bekerja dengan kepemimpinan. Suatu perusahaan akan
berjalan dengan baik apabila dipimpin oleh orang-orang yang memiliki jiwa
kepemimpinan. Kepemimpinan harus bisa dilaksanakan dengan baik di lingkungan
dalam perusahaan maupun di lingkungan luar perusahaan. Kepemimpinan harus
dimiliki bukan hanya oleh pemimpin, tapi juga para karyawan; (b) PT Angkasa Pura I
harus selalu memperhatikan kerapihan, baik dari penampilan maupun dalam bekerja.
Dengan begitu pelayanan yang diberikan akan semakin baik. Semakin baik kerapihan
dalam bekerja, semakin tinggi pula kepedulian dan kualitas lingkungan perusahaan
secara keseluruhan; (c) Selain kerapihan, kebersihan juga harus selalu diperhatikan.
Kebersihan akan membuat pekerja maupun pelanggan nyaman berada di dalam
perusahaan PT Angkasa Pura I. Agar terciptanya kebersihan di dalam lingkungan
perusahaan diperlukan fasilitas yang mendukung, seperti tersedianya air bersih, toilet
bersih, tempat sampah yang memadai, dan lain-lain. Selain itu kebersihan juga harus
dijaga di luar perusahaan dengan cara tidak mengotori atau mencemari lingkungan di
sekitar seperti polusi air dan udara. Untuk itu, diperlukan perencanaan dampak
pengendalian lingkungan hidup yang baik oleh PT Angkasa Pura I agar dampak
lingkungan yang diakibatkan perusahaan tidak merugikan pihak lain; (d) Bersikap
sederhana, sewajarnya, tidak berlebih-lebihan dalam pekerjaan. Sebagai perusahaan
pelayanan publik, nilai kebersahajaan ini harus dimiliki bagi mereka yang bekerja di
dalam perusahaan agar tumbuh citra rendah hati, tidak overacting atau angkuh yang
dapat menimbulkan rasa antipati dari masyarakat di luar lingkungan perusahaan; (e)
Peduli terhadap adat istiadat atau budaya di sekitar lingkungan perusahaan atau peduli
terhadap kebudayaan masyarakat di sekitar bandara. Salah satu bentuk kepedulian
tersebut adalah dengan cara menghormati dan ikut berpartisipasi dalam acara-acara
besar yang diperingati oleh masyarakat.

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya teks ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan IPB.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

PENGARUH NILAI KERJA
TERHADAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN DI BANDARA:
Studi Kasus di Lima Bandara di Indonesia

ACHMAD RAMZY TADJOEDIN

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Ujian Tertutup
Penguji luar komisi

: Dr. Ir. Manuntun Parulian Hutagaol, MS
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
Dr. Ir. Etty Riani
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Pelaksanaan

Ujian Terbuka
Penguji luar komisi

: 28 Januari 2012

: Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB
Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala Hubeis
Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB

KATA PENGANTAR
Sungguh suatu kegembiraan sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT atas
rahmat yang diberikan sepanjang hayat dan dengan rahmat-Nya yang tiada akhir itu
penulis akhirnya dapat menyelesaikan penyusunan disertasi yang berjudul
“Pengaruh Nilai Kerja terhadap Kepedulian Lingkungan di Bandara: Studi
Kasus di Lima Bandara di Indonesia”, untuk meraih gelar Doktor pada Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Komisi
Pembimbing yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira (ketua), Prof. Dr. Ir.
Sumardjo, MS (anggota), dan Dr. Ir. Asep Saefuddin (anggota) yang bersedia
meluruskan, memberi petunjuk dan bimbingan yang sangat intensif dengan membaca
secara teliti disertasi ini. Tanpa bimbingan mereka ini tidak mungkin dicapai
kemajuan seperti yang dialami sekarang ini.
Kepada para promoter terdahulu, Prof. Dr. Ir Hadi S. Alikodra, Prof. Dr. Sri
Saeni dan Prof. Dr. Kooswardhono Mudigdjo sebagai Tim Promotor pertama serta
Tim Promotor kedua yaitu Prof. Dr. Ir. Syamsul Máarif, Prof. Dr. Ir. Suryono H.
Sutjahyo serta Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS, penulis juga mengucapkan banyak terima
kasih atas bimbingan mereka walaupun tidak sampai selesai, karena atas bimbingan
mereka penelitian ini dapat terus berlanjut. Tidak lupa ucapan terima kasih diberikan
kepada Dr. Ir. Manuntun Parulian Hutagaol, MS dan Dr. Ir. Etty Riani selaku penguji
luar komisi pada ujian tertutup, serta Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS dan Prof. Dr.
Ir. Aida Vitalaya Hubeis selaku penguji luar komisi pada ujian terbuka.
Penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. Bob
Waworuntu yang sejak lama sekolah bersama di SMA PSKD I sampai dengan
mengajar di perguruan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, Jakarta.
Beliau sebagai pimpinan penelitian Budaya Organisasi dari PT. Angkasa Pura I telah
membantu dengan berbagai aspek data yang berkaitan dengan Lingkungan

Organisasi. Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder dari penelitian utama.
Bantuan kemudahan ini memungkinkan penulis merekonstruksi pemikiran mengenai
Aspek Lingkungan di PT Angkasa Pura I tersebut secara koheren.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada
pimpinan PT. Angkasa Pura I yang mengizinkan menggunakan data yang diperlukan
lainnya seperti data kebisingan, berbagai maskapai penerbangan yang tercatat
memakai bandara yang berada dibawah kawasan kerjanya. Data dari berbagai macam
ini tidak dilampirkan karena akan menjadi terlalu tebal untuk disertasi yang wajar.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada istri,
anak-anak dan keluarga tercinta yang turut mendukung penulis dalam menyelesaikan
disertasi ini.
Harapan penulis bahwa disertasi ini semoga bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan perbaikan kebijakan.
Wabillahit taufik walhidayah.

Bogor, Februari 2012

Achmad Ramzy Tadjoedin

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pandeglang pada tanggal 3 Mei 1942 sebagai anak
pertama dari pasangan Mahmud Tadjudin dan Mariam Khalila. Pendidikan sarjana
ditempuh di Program Studi Ilmu Politik, California State University, lulus pada tahun
1972. Untuk Program Master pada tahun 1972, penulis diterima di Program Studi
Ilmu Politik pada California State University dan menamatkannya pada tahun 1974.
Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada program studi dan pada
perguruan tinggi IPB diperoleh pada tahun 1999 dengan sponsor beasiswa pendidikan
pascasarjana diperoleh dari BPPS-Dirjen Dikti.
Penulis adalah Pendiri Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam di
Pascasarjana Universitas Indonesia sejak tahun 1985 dan ditempatkan di Jakarta.
Matakuliah yang diampu adalah Geopolitik Kawasan Timur Tengah, Konflik &
Perdamaian di Timur Tengah, Diplomasi di Timur Tengah, Kepentingan Negara
Besar di Timur Tengah, dan Psikologi Agama.
Penulis pernah menjadi Asisten Kementerian Kependidikan dan Lingkungan
Hidup RI pada tahun 1985 – 2006, sebagai staf ahli Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan pada tahun 1982 – 1985, dan pernah menjadi Ketua Program Studi
Kajian Timur Tengah dan Islam Pascasarjana UI pada tahun 1985 – 2006.

iv

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian
1.5. Kebaruan Penelitian

1
1
2
6
7
7

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Bandara dan Lingkungan..............................................................
2.2. Teori Organisasi.........................................................................................
2.3. Konsep Motivasi sebagai Dasar Perilaku
2.4. Konsep Nilai Kerja
2.5. Teori Kepedulian Lingkungan
2.6. Kajian Penelitian Terdahulu……………………………………………...
2.7. Kerangka Konseptual Penelitian
2.8. Hipotesis Penelitian……………………………………………………....
2.9. Definisi Konseptual Penelitian…………………………………………...

9
9
13
16
29
37
41
47
50
51

III. METODOLOGI
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2. Desain, Sumber Data, dan Sampel Penelitian
3.3. Teknik Analisis Data
3.3.1 Analisis Persepsi dengan Teknik Rentang Kriteria
3.3.2 Analisis Regresi Linier Berganda…………………………………
3.3.3 Analisis Kebutuhan Stakeholders…………………………………..
3.3.4 Analisis Prospektif…………………………………………………

55
55
55
56
56
59
61
63

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1. PT. Angkasa Pura I
4.1.1 Kondisi PT. Angkasa Pura I
4.1.2 Sumber Daya Manusia
4.2. Keadaan Umum Bandara
4.2.1 Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali
4.2.2 Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya
4.2.3 Bandar Udara Internasional Hasanuddin, Makasar
4.2.4 Bandar Udara Internasional Sepinggan, Balikpapan
4.2.5 Bandar Udara Internasional Pattimura, Ambon

66
66
66
69
70
71
71
72
73
74

v
4.2.6 Sintesis Gambaran Umum Bandara……………………………….

75

V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Deskripsi Kepedulian Responden terhadap Kepedulian Lingkungan
Bandara
5.2. Pengaruh Faktor-Faktor Nilai Kerja terhadap Kepedulian Lingkungan
Bandara
5.2.1 Pengaruh Faktor-Faktor Nilai Kerja terhadap Kepedulian
Lingkungan Dalam Bandara………………………………………
5.2.2 Pengaruh Faktor-Faktor Nilai Kerja terhadap Kepedulian
Lingkungan Dalam Bandara………………………………………
5.3. Kebutuhan Stakeholders terhadap Kepedulian Lingkungan Bandara
5.4. Strategi Implementasi Peningkatan Kepedulian Lingkungan Bandara

78

94
105
106

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.2. Implikasi Kebijakan
6.3. Saran Penelitian Lebih Lanjut

110
110
111
112

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................

113

78
81
82

vi

DAFTAR TABEL
Halaman
1.

Ringkasan Penelitian Terdahulu tentang Nilai Kerja dan Kepedulian
Lingkungan

42

2.

Indikator Nilai Kerja dan Definisinya

54

3.

Jumlah Responden yang Diambil dari Masing-Masing Bandara

56

4.

Skala Likert Pendapat Responden…………………………………………

57

5.

Penilaian Persepsi Variabel Nilai Kerja…………………………………...

58

6.

Penilaian Persepsi Variabel Kepedulian Lingkungan……………………..

59

7.

Jumlah pegawai PT. Angkasa Pura I tahun 2000-2004

70

8.

Deskripsi Keadaan Bandara Ngurah Rai tahun 2004

71

9.

Deskripsi keadaan Bandara Juanda tahun 2004

72

10. Deskripsi keadaan Bandara Hasanuddin tahun 2004

73

11. Deskripsi keadaan Bandara Sepinggan tahun 2004

74

12. Deskripsi keadaan Bandara Pattimura tahun 2004

75

13. Deskripsi Tingkat Kepedulian Responden terhadap Lingkungan Bandara

78

14. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepedulian Lingkungan di dalam
Bandara

83

15. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepedulian Lingkungan di luar
Bandara ...................................................................................................

95

16. Kebutuhan stakeholder terhadap kepedulian lingkungan bandara ..............

105

vii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Alur Permasalahan Penelitian

6

2. Jenis Kebutuhan Menurut Maslow, Herzberg, dan McClelland...................

26

3. Motivasi kolektif dalam organisasi

28

4. Hubungan Kemampuan, Motivasi, dan Kesempatan.................................

29

5. Pengaruh nilai kerja terhadap lingkungan

34

6. Sistem sosial dan lingkungan

35

7. Gerak sistem sosial dan sistem organisasi

36

8. Kerangka Konseptual Penelitian

50

9. Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem

64

10. Tahapan penelitian

65

11. Nilai kerja yang terkait secara positif maupun negatif terhadap kepedulian
lingkungan di dalam perusahaan berdasarkan persepsi pakar dalam proses
FGD

84

12. Nilai kerja yang terkait secara positif maupun negatif terhadap kepedulian
lingkungan di luar perusahaan berdasarkan persepsi pakar dalam proses
FGD

98

13. Hasil analisis prospektif penentuan faktor kunci peningkatan kepedulian
lingkungan bandara

107

1

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bandara merupakan daerah yang unik pada saat ini. Pertumbuhannya yang
sangat pesat sejalan dengan semakin terbukanya perdagangan bebas. Sebagai
daerah perdagangan bebas, bandara mempunyai manfaat seperti masuk dan
keluarnya berbagai barang dan jasa; tempat bertemunya bermacam ras, suku,
bangsa serta laki-laki dan perempuan, sehingga terjadi interaksi budaya yang
membantu mendorong masyarakat untuk menjadi semakin terbuka dalam
menerima segala macam bentuk kontak budaya dengan dunia luar. Besar
kemungkinan budaya yang masuk berbeda dengan budaya yang dianut masyarakat
setempat. Hal ini menjadikan bandara menjadi suatu daerah awal pertemuan
budaya (cultural meeting point) yang semakin lama semakin padat dan rumit akan
pengunjung yang lalu-lalang dengan berbagai maksud dan tujuan kedatangan
maupun kepergiannya.
Pada daerah di luar kota besar, tumbuh pula bandara menengah dan kecil
karena adanya kepentingan yang sangat khusus bagi daerah masing-masing. Di
beberapa daerah di Indonesia, bandara pada awalnya didirikan dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan angkutan bagi para pimpinan dan staf yang bekerja di
daerah. Begitu juga untuk mereka yang mengurus perkebunan dan yang
melakukan perdagangan, adanya bandara dan pesawat udara sangat membantu
dalam melaksanakan kegiatannya.
Beberapa kota, seperti di Manado, Balikpapan, Makasar, dan Denpasar,
Bali, bandara diperluas sejalan dengan semakin ramainya kunjungan para
wisatawan yang lalu-lalang untuk melakukan berbagai macam kebutuhan.
Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah daerah setempat tidak ingin
ketinggalan dalam membuka lapangan terbang baru di daerah yang terbuka luas
dan yang tidak mengganggu penduduk di sekitarnya.
Sejalan dengan pertumbuhan bandara, maka perusahaan penerbangan
semakin bertambah banyak pula jumlahnya. Namun demikian, perusahaan
penerbangan bukan saja tumbuh di ibukota negara atau kota-kota besar saja,
bahkan di banyak provinsi juga tumbuh perusahaan penerbangan yang melanglang

2
buana ke daerah-daerah lainnya, baik di dalam maupun yang menuju ke luar
negeri. Selain hal tersebut, dengan berkembangnya sektor pariwisata, maka setiap
daerah perlu berbenah diri untuk menarik perhatian para wisatawan dengan cara
mempercantik dan membuat daerah kunjungan wisata masing-masing menjadi
daerah yang menawan, nyaman, indah, bersih dan aman untuk dikunjungi.
Semua pertumbuhan ini tentunya memerlukan suatu nilai kerja yang
mampu memberi pelayanan yang baik dalam menyongsong lalu-lalangnya
pesawat terbang, wisatawan dan bermacam jenis barang sebagai akibat dari
perkembangan perdagangan yang semakin ramai dan pesat pula. Kendati
demikian, bandara itu sendiri sangat terbatas kemampuannya apalagi dalam masa
pertumbuhannya. Informasi nilai kerja di bandara sangat dibutuhkan namun
informasi tersebut masih sangat minim. Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu
kajian yang komprehensif dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan
bandara sehingga diharapkan dapat memenuhi harapan para stakeholders. Untuk
keperluan tersebut diperlukan pendekatan partisipatif untuk memperoleh hasil
kajian yang operasional dan implementatif.
1.2 Rumusan Masalah
Akibat dari keberadaannya, bandara memiliki masalah tersendiri.
Beberapa masalah yang dihadapi oleh bandara antara lain adalah kebisingan yang
berasal dari mesin pesawat; polusi udara yang berasal dari pesawat terbang dan
kendaraan roda dua maupun roda empat; serta kemacetan lalu lintas yang
diakibatkan oleh banyaknya kendaraan yang masuk ataupun keluar bandara.
Masalah lain yang mungkin timbul di bandara atau lingkungan sekitarnya
adalah seringnya terjadi kecelakaan pesawat, seperti kecelakaan yang sering
terjadi di berbagai bandara nasional, diantaranya Bandara Adisucipto, Yogyakarta;
dan Bandara Hasanudin di Makasar. Banyaknya masalah yang dihadapi oleh
bandara saat ini membutuhkan perhatian khusus terhadap daerah ini. Selain
masalah-masalah di atas, kebersihan dan kenyamanan lingkungan di sekitar
bandara juga dirasakan perlu mendapat perhatian khusus.
Masalah lain yang juga perlu mendapat perhatian seperti halnya yang
terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten (bukan lingkup kerja

3
Angkasa Pura I) adalah terjadinya perambahan jumlah rumah penduduk dan
industri yang berkembang mendekati bandara.
Masalah lainnya yang terjadi di kawasan bandara adalah kebisingan
sehingga diperlukan berbagai bentuk kepedulian dalam menjaga agar tidak terjadi
kebisingan di sekitar wilayah bandara atau menjaga agar kebisingan tidak
melampaui ambang batas yang ditetapkan. Pesawat yang bising biasanya kurang
diminati pula oleh maskapai penerbangan yang menjadi para pembelinya. Selain
itu, pesawat terbang masa depan yang banyak dirancang saat ini adalah pesawat
yang hemat bahan bakar (fuel-efficient plane) dan jauh dari kebisingan (low-noise
polution plane).
Saat ini, Indonesia mencanangkan diri sebagai negara tujuan wisata.
Dengan ramainya kunjungan wisata ke berbagai daerah di Indonesia, maka
konsekuensinya bandara dibangun di berbagai daerah. Khusus untuk daerah yang
sudah memiliki bandara, pimpinan bandara umumnya juga merasa perlu
melakukan

pengembangan

dan

peningkatan

bandara

mengingat

dengan

bertambahnya jumlah penumpang, barang dan jasa serta jumlah penerbangan yang
semakin banyak, maka bandara membutuhkan para pekerja yang mempunyai nilai
kerja yang handal. Bandara membutuhkan kemampuan untuk memberikan
pelayanan yang terbaik dan terus meningkat menghadapi masa depan dari bandara
itu sendiri.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka muncul pertanyaan penelitian ini:
bagaimanakah nilai kesiapan dalam menghadapi berbagai tuntutan perkembangan
dalam melayani publik? Pada umumnya pertanyaan tersebut akan dijawab bahwa
mereka siap untuk melayani. Namun, nilai kerja yang manakah yang merupakan
nilai dari para staf dan karyawannya yang sesungguhnya melayani masyarakat di
dalam bandara itu yang menghasilkan pelayanan yang optimal atau prima pada
lingkungan internal bandara dan lingkungan luar (eksternal) bandara? Jawabannya
masih terlalu mengawang-ngawang dan belum implementatif.
Oleh karena itu, di bandara diperlukan kajian tersendiri untuk menjawab
pertanyaan tersebut di atas. Selain itu, pertanyaan dapat merujuk pada suatu
keinginan untuk mengetahui bagaimana nilai kerja di lingkungan dalam organisasi
PT Angkasa Pura I (internal organizational environment) atau lingkungan kerja

4
itu sendiri yang berkaitan dengan lingkungan dalam dan luar (external
organizational environment).
Pertanyaan ini juga timbul dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan
terhadap lingkungan sosial, lingkungan buatan dan lingkungan alaminya. Kualitas
pelayanan ini selanjutnya akan menjadi alat bantu untuk melakukan perubahan
kebijakan dari keadaan yang ada pada saat ini, sehingga hasilnya dapat membantu
merubah kebijakan menjadi lebih baik lagi.
Kurangnya kemampuan pelayanan di bandara juga dapat disebabkan oleh
peralatan, maupun fasilitas atau infrastruktur yang kurang mendukung. Namun,
peralatan dan fasilitas tersebut pun bergantung pada bagaimana nilai kerja yang
dianut oleh para karyawan yang bekerja sebagai pimpinan, staf dan karyawan di
lingkup kerja Angkasa Pura I ini. Pelayanan yang menyeluruh memerlukan
perhatian dari berbagai kaitan antara unsur utama sistem organisasi dari Angkasa
Pura I dengan bagian-bagiannya. Sentral dari unsur sistem organisasi adalah unsur
manusia dengan segala nilai kerja yang ada dan yang saling bertautan satu dengan
lainnya dalam menunjang pengaruhnya pada lingkungan luar organisasi dan
sebaliknya.
Berdasarkan hal tersebut, bentuk pelayanan yang baik seharusnya
dirasakan oleh mereka yang berada di lingkungan luarnya, yaitu lingkungan sosial
organisasinya seperti juga di lingkungan buatan dan lingkungan alaminya.
Perhatian dalam penelitian ini terfokus pada masalah pelayanan yang diberikan,
yang terasa masih jauh dari memuaskan bagi masyarakat pemakai bandara yang
dilayaninya, apalagi ingin mengejar ketertinggalan yang dialami terutama
dibandingkan dengan bandara di dunia internasional lainnya.
Cermin dari bentuk pelayanan yang dirasakan bermasalah adalah
kurangnya fasilitas yang menunjang, seperti kenyamanan, keamanan, kebersihan,
keindahan, kerapihan serta penghijauan adalah beberapa contoh akibat dari
masalah nilai kerja yang ada. Contoh lain adalah: kurang tersedianya toilet di
sekitar tempat parkir kendaraan, sehingga banyak dari mereka yang berhajat kecil
dilakukan di sekitar kendaraan dimana para pengemudi menunggu.
Kebersihan umumnya terkait erat dengan kebiasaan orang dari mana
mereka berasal. Di antara mereka yang berkunjung ke Indonesia ada yang datang

5
dari daerah yang sangat terbiasa dengan kebersihan seperti dari Jepang, Australia,
Eropa dan Amerika Utara. Pendidikan kebersihan bagi masyarakat asal
pengunjung ini sudah cukup memasyarakat, sedangkan bagi penduduk setempat
sendiri belum terlihat hasilnya secara nyata, bahkan sosialisasinya juga tidak
begitu terasa.
Hal yang dinilai kurang menyenangkan di berbagai bandara adalah apabila
ada beberapa pesawat yang sedang ditunggu maupun yang berangkat bersamaan,
persediaan tempat duduk di ruang tunggu keberangkatan, baik di luar bandara
maupun di dalam bandara tidak mencukupi. Padahal penumpang banyak yang
menunggu giliran untuk berangkat. Minimumnya fasilitas kursi dalam ruang
tunggu penumpang maupun di luar ruang tunggu masih terlihat dari banyaknya
penumpang yang duduk di lantai.
Informasi sebagai bahan petunjuk bagi wisatawan juga masih kurang
tersedia di bandara. Berbagai bahan informasi wisata di luar bandara, seperti
berbagai tempat makan (restoran), tempat rekreasi atau tempat wisata yang baik,
belum banyak tersedia apabila tidak hendak dikatakan tidak ada. Di beberapa
bandara juga masuk pedagang kaki lima ke daerah sekitar bandara. Saat ini
masalah tersebut dapat teratasi untuk sebagian bandara, namun masih terlihat di
sebagian bandara. Di Bandara Cengkareng, penyediaan makan para sopir dan
lainnya masih tetap membutuhkan keberadaan pedagang makanan.
Kondisi tersebut di atas terkait erat dengan pelayanan di bandara dan dari
bandara terhadap kenyamanan, keamanan, kebersihan, keindahan, dan sebagainya.
Begitu juga dengan kepemimpinan sebagai nilai yang sentral dalam semua hal
yang dibicarakan sebagai masalah yang dihadapi. Pimpinan yang hanya duduk di
dalam kantor biasanya tidak mengetahui apa yang terjadi di luar ruangan
kantornya sendiri.
Sebagian besar masalah yang dihadapi oleh bandara yang ada ini
dipengaruhi oleh pelayanan sebagai cermin dari nilai kerja dari mereka yang
bekerja di dalam perusahaan yang melayani masyarakat luas. Nilai kerja yang
baik diperkirakan dapat membawa kenyamanan bagi masyarakat luas sebagai
bentuk dari pelayanannya. Nilai kerja yang baik itu bisa juga diartikan sebagai
nilai kepedulian dari mereka yang berada di lingkungan dalam kantor kepada

6
mereka yang berada di luar kantor. Kepedulian inilah yang diperkirakan kurang
dari memuaskan. Alur berfikir singkat dari masalah yang dihadapi oleh
PT. Angkasa Pura I tersebut disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Alur Permasalahan Penelitian
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang dan permasalahan,
maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat kepedulian responden terhadap lingkungan bandara?
2. Faktor-faktor nilai kerja apa yang mempengaruhi kepedulian lingkungan
bandara?
3. Bagaimana kebutuhan stakeholders dalam upaya meningkatkan kepedulian dan
kinerja lingkungan bandara?
4. Strategi apa yang perlu diterapkan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan
bandara yang menjadi kebutuhan stakeholders?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis tingkat kepedulian responden terhadap lingkungan bandara.
2. Menganalisis faktor-faktor nilai kerja yang mempengaruhi kepedulian
lingkungan bandara.
3. Menganalisis kebutuhan stakeholders dalam upaya meningkatkan kepedulian
dan kinerja lingkungan bandara.

7
4. Merumuskan strategi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kepedulian
dan kinerja lingkungan bandara.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat

penelitian

ini

adalah

memberikan

pengembangan

ilmu

pengetahuan dan inovasi yang terkait dengan penerapan konsep nilai kerja yang
terkait erat dengan tingkat kepedulian lingkungan di bandara. Pengembangan ilmu
yang terkait melalui penelitian ini adalah ilmu manajemen, manajemen organisasi,
manajemen sumber daya manusia, dan teori-teori manajemen lingkungan.
Sedangkan inovasi yang terkait melalui penelitian ini adalah soft innovation, yaitu
inovasi rekayasa pengembangan organisasi dan manajemen lingkungan. Penelitian
ini juga bermanfaat bagi perusahaan pengelola bandara untuk memperbaiki nilai
kerja di lingkungan bandara dalam rangka meningkatkan kepedulian lingkungan
bandara.
1.5 Kebaruan Penelitian
Penelitian ini mempunyai aspek yang baru (novelty) karena pendekatan
aspek nilai (value) yang dilakukan dalam penelitian lingkungan masih langka,
khususnya terkait dengan budaya kerja walaupun dalam bentuk yang selain
penelitian ini sudah sering dilakukan. Penelitian ini juga mencerminkan adanya
sistem yang saling berkait atau ekologi; adanya aspek perilaku (behavior) serta
dampaknya.
Pendekatan yang dilakukan tidak menyentuh kerusakan secara langsung,
melainkan pendekatan tertuju pada bagaimana manusia melalui nilai kerja
mempengaruhi lingkungan yang ada dan pada saat yang sama agar kerusakan
tidak terjadi. Perbaikan terhadap lingkungan lebih dimungkinkan dengan cara
menerapkan nilai yang didapat melalui pengalaman dari penelitian ini.
Penelitian ini lebih bersikap positif dan memilih nilai yang dapat
membawa akibat yang positif pula. Hal ini dilakukan karena adanya aspek goal
directed research yang mencoba untuk membawa kebaikan dengan mendapatkan
nilai penentu yang membawa kebaikan pula. Oleh karena itu maka penelitian ini
bukanlah penelitian bebas nilai (value free research), bahkan merupakan

8
penelitian yang sarat dengan nilai (value laden research), mengingat yang diteliti
adalah nilai-nilai kerja yang membantu menentukan lingkungan kerja.

9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Bandara dan Lingkungan
Bandara atau bandar udara merupakan sebuah fasilitas tempat pesawat
terbang dapat lepas landas dan mendarat. Bandar udara yang paling sederhana
minimal memiliki sebuah landas pacu, namun bandar udara-bandar udara besar
biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan
penerbangan maupun bagi penggunanya (Rachman, 2007). Menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 1996 tentang kebandarudaraan, yang dimaksud dengan
bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas
landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan atau bongkar muat kargo dan atau
pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat
perpindahan antar moda transportasi. Definisi bandar udara menurut PT. (Persero)

Angkasa Pura adalah lapangan udara, termasuk segala bangunan dan peralatan
yang merupakan kelengkapan minimal untuk menjamin tersedianya fasilitas bagi
angkutan udara untuk masyarakat (Departemen Perhubungan, 2005)
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa bandar
udara merupakan prasarana penting dalam kegiatan transportasi udara pada setiap
negara, khususnya Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dimana
transportasi udara sangat berperan penting bagi kelancaran aktivitas penduduknya.
Bandar udara juga berperan dalam menunjang, menggerakkan dan mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah karena berfungsi sebagai pintu gerbang daerah.
Bandara juga merupakan suatu lingkungan tempat manusia beraktifitas, dimana
berbagai komponen lingkungan membentuk suatu sistem. Untuk itu, pembahasan
mengenai konsep bandara harus berkaitan dengan konsep lingkungan.
Raharjo (2007) menyatakan bahwa sejak didirikannya World Commission
on Environmental and Development (WCED) oleh Komisi Perserikatan BangsaBangsa (PBB), yang diketuai oleh Gro Harlem Brundtland, pada tahun 1983,
dengan anggota terdiri dari berberapa negara, termasuk Indonesia (Prof. Dr. Emil
Salim), pendekatan yang dilakukan dalam melakukan pembangunan yang
berkelanjutan harus memperhatikan permasalahan lingkungan. Hasil kerja dari
WCED yang tercatat sampai saat ini dan digunakan sebagai tonggak dalam
pengelolaan lingkungan adalah Our Common Future (Hari Depan Kita Bersama).

10
WCED mendekati masalah lingkungan dan pembangunan dengan sudut pandang
sebagai berikut (Raharjo, 2007):
1. Ketergantungan (Interdependency)
Masalah polusi, penggunaan bahan kimia, kerusakan sumber plasma nutfah,
pertumbuhan kota, dan konservasi sumberdaya alam, tidak mengenal batas
negara. Mengingat permasalahan saling ketergantungan, maka pendekatan
harus dilakukan lintas sektor antar negara.
2. Berkelanjutan (sustainability)
Sumberdaya alam sebagai sumber bahan baku kegiatan industri, perdagangan,
perikanan, dan energi, harus dipertimbangkan untuk generasi yang akan
datang.
3. Pemerataan (Equity)
Desakan kemiskinan bisa mengakibatkan eksploitasi sumberdaya alam secara
berlebihan, sehingga perlu dilakukan pengaturan untuk pemerataan.
4. Sekuriti dan Resiko Lingkungan
Perlombaan senjata dan pembangunan tanpa memperhitungkan dampak
negatif kepada lingkungan turut memperbesar resiko lingkungan. Segi ini
perlu ditanggapi dalam pembangunan berwawasan lingkungan.
5. Pendidikan dan Komunikasi
Pendidikan dan komunikasi berwawasan lingkungan dibutuhkan untuk
ditingkatkan di berbagai tingkat pendidikan dan lapisan masyarakat.
6. Kerjasama Internasional
Pola kerjasama internasional dipengaruhi oleh pendekatan pengembangan
sektoral. Pertimbangan lingkungan kurang diperhitungkan.
Beberapa poin yang dikemukakan oleh WCED di atas sangat penting
untuk diperhatikan oleh berbagai pihak yang terkait dengan kebijakan
pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan tidak saja
berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan
berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi,
pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan (selanjutnya disebut 3 Pilar
Pembangunan berkelanjutan) (Raharjo, 2007).

11
Menurut Sutrisno (2008), lingkungan adalah kombinasi dari semua kondisi
yang mempengaruhi sebuah organisme, termasuk kondisi fisik dan kimiawi
(misalnya; iklim, tanah, dan lain-lain), maupun pengaruh organisme hidup lain.
Lingkungan dapat juga didefinisikan sebagai segala sesuatu yang melingkupi
sebuah organisme, yakni kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan dan
pertumbuhannya. Lingkungan hidup mempunyai sumber daya yang terdiri atas
sumber daya manusia, sumber daya alam hayati, sumber daya alam non hayati dan
sumber daya buatan. Sumber daya alam merupakan unsur lingkungan yang terdiri
dari unsur hayati dan non hayati, yang memiliki sumber energi untuk
terbentuknya sistem. Sumber daya ekologi berupa energi terjadi karena adanya
interaksi dan interdependensi antara makluk hidup dengan lingkungan.
Agar lingkungan dapat bermanfaat bagi makhluk hidup disekitarnya,
diperlukan pengelolaan terhadap lingkungan atau dengan kata lain diperlukan
manajemen lingkungan. Menurut Sutrisno (2008), manajemen lingkungan adalah
kegiatan komprehensif, mencakup pelaksanaan kegiatan, pengamatan untuk
mencegah

pencemaran

air,

tanah,

udara

dan

konservasi

habitat

dan

keanekaragaman hayati. Manajemen lingkungan merupakan suatu konsep
pendekatan keseimbangan dengan melakukan manajemen sumber daya alam
untuk pemenuhan kepentingan politis, sosial ekonomi sesuai dengan ketersediaan
lingkungan alami dan menitik beratkan pada nilai, distribusi, hukum alam, dan
kesimbangan antar generasi (Sutrisno, 2008).
Pengelolaan banyak diartikan sebagai upaya sadar dan terpadu untuk
mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Dalam konteks lingkungan
bandara, pengelolaan lingkungan bandara dapat diartikan sebagai upaya terpadu
untuk

mengembangkan

menyelesaikan

strategi

penurunan

untuk

kualitas

menghadapi,

lingkungan

menghindari

bandara

dan

dan
untuk

mengorganisasikan program-program pelestarian lingkungan dan pembangunan
bandara yang berwawasan lingkungan.
Menurut Rachman (2007), bandar udara harus dirancang dengan baik
sehingga sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Perencanaan bandar udara harus
dilakukan didalam konteks rencana regional yang menyeluruh. Lokasi, ukuran, dan
konfigurasi harus disesuaikan dengan pola pengembangan pemukiman yang sudah

12
ada dan yang direncanakan dengan mempertimbangkan pengaruh terhadap
lingkungan. Pengoperasian bandar udara tidak hanya difokuskan pada pergerakan
penumpang dan barang, sistem kontrol kualitas lingkungan harus diberikan prioritas
tinggi, seperti pengelolaan limbah, manajemen pengelolaan buangan dan kegiatan
yang ramah lingkungan. Dampak pembangunan bandar udara dan fasilitas umum
terhadap lingkungan hanya mendapat sedikit perhatian. Keberatan mengenai isu
lingkungan sangat jarang, dan baru pada akhir-akhir ini masyarakat mulai peduli
dampak pengoperasian bandar udara terhadap lingkungan. Barangkali ini disebabkan
oleh makin memburuknya masalah-masalah lingkungan dan peningkatan kegiatan
penerbangan (Rachman, 2007).
Rachman (2007) menyatakan bahwa perencanaan dan pengembangan

pembangunan bandar udara ke depan harus memperhatikan lingkungan (ecoairport), sehingga bandar udara dapat berfungsi secara efektif dan efisien, tidak
hanya ditinjau dari aspek teknis saja tapi juga dari segi sosial kemasyarakatan,
ekonomi, dan lingkungan. Konsep eco-airport adalah rancangan dimana bandar
udara direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan
sarana dan prasarana perhubungan yang ramah lingkungan di dalam lingkungan
bandar udara sendiri dan di daerah sekelilingnya. Konsep eco-airport diterapkan
pertama kali oleh negara Jepang (Bandar Udara Narita), dimana bandar udara
telah menerapkan konsep bandar udara yang berwawasan lingkungan dan
memperkecil rasio pencemaran lingkungan sekitar bandar udara yang dapat
mempengaruhi kegiatan operasional bandar udara. Konsep baru tersebut
kemudian diikuti oleh negara–negara lain seperti Singapura (Changi Airport) dan
Malaysia (Kuala Lumpur International Airport).
Menurut Rachman (2007), konsep eco-airport bandar udara diharapkan
bisa melakukan prevention pollution mencegah terjadinya polusi. Komponen ecoairport terdiri dari noise (kebisingan), vibration (getaran), atmosfhere (udara),
water (air), soil (tanah), waste material (sampah), energy (energi), kawasan
keselamatan operasi penerbangan, dan kesehatan masyarakat (Community
Health). Pengelolaan lingkungan hidup di bandar udara pada suatu negara akan
mengikuti aturan-aturan pengelolaan lingkungan hidup di negara bersangkutan.
Aturan-aturan tersebut mengadopsi aturan lingkungan hidup yang berlaku di
dunia. Bandar udara sebagai suatu layanan penerbangan sipil dalam pengelolaan

13
lingkungannya juga harus mengikuti standar yang berlaku di dunia. Beberapa
produk hukum yang harus dipatuhi dalam pengelolaan bandar udara adalah
aturan-aturan ICAO (International Civil Aviation Organization) dan FAA
(Federal Aviation Administration), dan aturan-aturan lain yang berlaku di dunia.
Penerapan eco-airport di bandar udara dapat dilakukan dengan perubahan
dalam pola pikir, tingkah laku, penerapan pengetahuan, dan perbaikan teknologi
dibidang penerbangan sipil dan pengelola bandar udara yang berbasis lingkungan.
Konsep atau filosofi dasar dari eco-airport adalah sebagai berikut: (1) pengoperasian
bandar udara yang mengikuti perspektif lingkungan udara secara global; (2)
mengoperasikan bandar udara yang bisa eksis secara harmonis dengan lingkungan
global; dan (3) menyelenggarakan bandar udara yang kapabel yang dalam
perkembangannya dapat menyesuaikan dengan kebutuhan yang berkelanjutan.
Lingkungan sekitar bandar udara diharapkan dapat mencegah dan mengurangi polusi
kebisingan, memanfaatkan penggunaan luas lahan di sekitar bandar udara,
mengembangkan hubungan secara regional terhadap bandar udara yang lain, dan
mengembangkan keharmonisan bandar udara terhadap wilayahnya (Rachman, 2007).

2.2. Teori Organisasi
Secara sederhana, organisasi dapat diberi pengertian sebagai suatu sistem
yang saling berpengaruh antar orang dalam kelompok yang bekerjasama dalam
mencapai tujuan bersama. Organisasi adalah struktur, dimana individu-individu
secara sistematik bekerjasama untuk suatu hal (American Heritage Dictionary of
the English Language dalam McLean, 2006). Sementara itu, McLean (2006)
mendefinisikan organisasi sebagai dua pihak atau lebih yang terlibat dalam tujuan
bersama. Dari definisi tersebut, terdapat beberapa hal yang penting dalam
organisasi, yaitu struktur, individu, dan tujuan. Lengkapnya, organisasi dapat
dinyatakan sebagai suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling
berinteraksi menurut pola tertentu, sehingga setiap anggotanya memiliki fungsi
dan tugas masing-masing, utamanya lagi kesatuan tersebut mampunyai batasbatas yang jelas sehingga dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
Organisasi sebagai suatu sistem memiliki unsur manusia yang dianggap
sebagai suatu sistem dengan beberapa perangkat sub-sistem. Ciri dari organisasi
sebagai suatu sistem secara umum adalah adanya unsur-unsur (elemen) dasar yang

14
mendukung secara garis besar yang saling terkait karena ada faktor yang saling
berhubungan, saling bergantung dari elemen-elemen tersebut dan juga saling
beradaptasi satu dengan lainnya. Sebagai unsur dari sistem sosial maka manusia
adalah unsur-unsur yang umum berlaku. Unsur tersebut saling berkaitan seperti
adanya motivasi yang berada jauh di dalam lubuk hati setiap manusia dan hanya
diketahui oleh diri sendiri sampai tindakannya mulai terbaca oleh orang lain.
Itupun hanya bisa diduga oleh sesuatu yang menjadi niatan hati (Kolasa, 1970).
Selain motivasi, sistem sosial juga memiliki nilai yang merupakan pilihan dalam
mengambil tindakan yang ingin dilakukan. Di samping motivasi ada norma
(norms) yang menjadi pilihan yang dianggap baik dan benar dan keterkaitan
antara tindakan yang dilakukan terhadap lingkungan.
Menurut Zwell (2000), cara organisasi menempatkan individu-individu
pada posisi yang tepat akan menentukan efisiensi, kualitas, dan efektifitas dari
organisasi tersebut. Selanjutnya, dikatakan bahwa bagaimana individu-individu di
dalam organisasi merupakan elemen penting untuk mengoptimalkan struktur
organisasi. Menurut Gaynor dalam Gumbira-Said et al. (2001), individu atau
sumber daya manusia merupakan kegiatan administrasi yang merupakan salah
satu bagian dari kegiatan bisnis.
Keterlibatan individu ke dalam bagian dari organisasi perlu melakukan
identifikasi dirinya terhadap organisasi, atau komitmen terhadap organisasi. Kata
komitmen memiliki arti sebag

Dokumen yang terkait

Dokumen baru