UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 SINAR SEMENDO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat
kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu
bersaing di era global. Upaya yang tepat untuk meyiapkan SDM yang berkualitas dan
satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogyanya berfungsi sebagai alat ukur
untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.

Sudah banyak usaha yang dilakukan oleh Indonesia untuk meningkatkan kualitas
pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan Matematika di sekolah yang merupakan
salah satu mata pelajaran yang banyak menimbulkan kesulitan bagi siswa, namun belum
menampakan hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari proses pembelajarannya maupun
dari hasil prestasi belajar siswanya.

Matematika adalah sarana berfikir dalam menentukan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan teknologi, bahkan matematika merupakan metode berfikir logis, sistematis
dan konsisten. Oleh karenanya semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan
secara cermat dan teliti selalu harus merujuk pada matematika. Melalui pengajaran
matematika diharapkan akan menambahkan kemampuan, mengembangkan keterampilan
dan aplikasinya.

Namun dibalik semua itu, yang terjadi selama ini adalah masih banyak siswa yang
menganggap bahwa matematika tidaklah lebih dari sekedar berhitung dan bermain
dengan rumus dan angka-angka. Saat ini banyak siswa yang hanya menerima begitu saja

pengajaran matematika di sekolah, tanpa mempertanyakan mengapa dan untuk apa
matematika harus diajarkan. Tidak jarang muncul keluhan bahwa matematika cuma
membuat pusing siswa dan dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan.

Sementara itu, kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan
kemampuan berfikir siswa, atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna,
metode yang digunakan kurang bervariasi, dan akibatnya sebagai motifasi belajar siswa
menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis.

Ditambah lagi dengan penggunaan pendekatan pembelajaran yang cenderung membuat
siswa pasif dalam proses belajar-mengajar, yang membuat siswa menjadi bosan sehingga
tidak tertarik lagi untuk mengikuti pelajaran tersebut, terlebih lagi pelajaran matematika
yang berkaitan dengan konsep–konsep abstrak, sehingga pemahamannya membutuhkan
daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan ketentuan, keuletan, perhatian, dan
motivasi yang tinggi untuk memahami materi pelajaran matematika.

Hasil belajar kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo tahun pelajaran 2011/2012 pada pada
pokok bahasan bangun datar simetri lipat setelah dianalisis hasil yang diperoleh belum
mencapai KKM yang ditentukan sekolah sebesar 60. Hasil belajar yang diperoleh masih
belum optimal, dengan nilai rata-rata kelas hanya 44,5 dan ketuntasan belajar dibawah
75% (Data Sekolah: 2010). Kegagalan ini diduga karena siswa terjebak dalam rutinitas,
media pembelajaran yang kurang, penilaian terfokus pada aspek kognitif (mengingat dan
menyebutkan) dan umumnya siswa tidak tahu makna atau fungsi dari hal yang
dipelajarinya.

Pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual pada pokok bahasan bangun
datar simetri lipat melibatkan siswa untuk aktif, kreatif, kritis dalam menentukan sumbu
semetri dari semetri lipat.

Kegiatan ini menjadikan siswa dapat mengalami sendiri dan dapat mengkaitkan meteri
yang ada dengan kehidupan nyata. Sehingga dengan diadakannya pembelajaran
matematika dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar
Semendo pada pokok bahasan bangun datar semetri lipat maka hasil belajar matematika
siswa dapat ditingkatkan.

B. Identifikasi Masalah
Dari hasil observasi yang telah dilakukan dalam rangka mengetahui beberapa
permasalahan, yang berhubungan dengan peningkatan pembelajaran Matematika
khususnya pada pokok bahasan simetri lipat di SD Negeri 2 Sinar Semendo, beberapa
identifikasi masalah adalah sebagai berikut.
1. Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika masih tergolong rendah.
2. Guru kurang memotivasi siswa dalam belajar.
3. Guru belum menerapkan secara efektif model pembelajaran yang digunakan.
4. Nilai siswa belum mencapai ketuntasan belajar atau KKM yang ditentukan sekolah
yakni 60 dan diharapkan mencapai 75% siswa aktif dalam pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, tentu saja banyak cakupan pokok bahasan yang
semakin meluas. Sehubungan dengan itu maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada
peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar
Semendo pada pokok bahasan bangun datar semetri lipat.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian
tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peningkatan aktivitas siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo
dengan menerapkan model pembelajaran Kontekstual ?
2. Bagaimanakah

peningkatan

hasil

belajar

siswa

dengan

menerapkan

model

pembelajaran Kontekstual pada pembelajaran Matematika di kelas IV SD Negeri 2
Sinar Semendo ?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran Matematika kelas IV SD
Negeri 2 Sinar Semendo dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri 2
Sinar Semendo dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a. Siswa semakin aktif dalam pembelajaran pada pokok bahasan simetri lipat dengan
pendekatan kontekstual.
b. Siswa dapat melakukan komunikasi dengan siswa yang lain secara lebih baik dan
percaya diri dalam menyelesaikan permasalahan pada pokok bahasan simetri lipat
dengan pendekatan kontekstual.

c. Siswa mempunyai hasil belajar yang lebih baik jika pembelajaran matematika
pada pokok bahasan simetri lipat menggunakan pendekatan kontekstual.

2. Bagi Guru
a. Bagi guru, penelitian ini di harapkan dapat meningkatkan kemampuan
professional dan pembelajaran inkuri menjadi alternatif pembelajaran untuk
meningkatkan prestasi siswa.
b. Meningkatkan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran yang di sesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan
kondisi pembelajaran.
c. Guru mempunyai kemampuan dalam merencanakan model pembelajaran yang
merupakan hal baru bagi guru dan menerapkan dalam pembelajaran.
d. Kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memutuskan pembelajaran pada
pengembangan potensi diri siswa juga meningkatkan, sehingga pembelajaran
lebih menarik, bermakna, dan mempunyai daya tarik.
e. Memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan
kualitas pembelajaran dengan refleks diri atas kinerjanya melalui PTK.

3. Bagi Sekolah
a. Penelitian ini dapat di jadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya
meningkatkan proses pembelajaran.
b. Menongkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar
guru dan kepala sekolah.

4. Bagi Peneliti
Penelitian tindakan kelas ini menambah pengalaman yang sangat berharga dalam
upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pendekatan Kontekstual (CTL)
Pembelajaran kontekstual yang sering disingkat dengan CTL merupakan salah satu model
pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan
menyukseskan implementasi kurikulum disekolah.
1. Hakekat Pembelajaran Kontesktual (CTL)
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan
situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002: 4). Dengan konsep itu, hasil
pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah
dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari
guru ke siswa.

Dalam pendekatan kontekstual ini menekankan pada pemikiran bahwa akan belajar
lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak
“mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahui” nya. Pembelajarn yang
berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat
jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam
jangka panjang.

2. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas
Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa
saja dan kelas yang bagaimanapun. Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah,

sebagaimana dijabarkan oleh Depdiknas (2002: 10) yang secara garis besar langkahlangkahnya adalah sebagai berikut ini:
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksikan sendiri.
b. Pengetahuan dan keterampilan barunya.
c. Laksanakan sejauh mungkin inquiry untuk semua topik.
d. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
e. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
f.

Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

g. Lakukan refleksi diakhir pertemuan.

3. Langkah-langkah Penggunaan Pendekatan Kontekstual
Langkah-langkah atau alur penerapan pembelajaran metode kontekstual sebagai
berikut:
Tahap I Persiapan
a. Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b. Menentukan kompetensi atau garis besar materi yang akan disampaiakan

Tahap II Pelaksanaan
a. Memulai penjelasan
b. Mengadakan apersepsi
c. Menjelaskan tujuan pembelajaran dan garis besar materi
d. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok (masyarakat belajar)
e. Membagi tugas kepada masing-masing kelompok
f.

Siswa mengobservasi didalam maupun diluar kelas sesuai dengan tugas yang
diberikan (kontruktivisme, inkuiri, dan permodelan).

Tahap III Penutup
a. Guru mengadakan klarifikasi/penguatan
b. Siswa mengadakan refleksi
c. Melakukan penilaian akhir (assessment)
(Depdiknas, 2002: 11-12)

4. Tujuh Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual
Sebuah kelas dikatakan mengunakan metode kontekstual jika menerapkan tujuh
komponen utama dalam penerapan pembelajaran CTL dikelas, ketujuh komponen
tersebut adalah:
a. Kontruktivisme (Constructivism)
Konstruktifisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual,
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya
diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima
pengetahuan. Siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan
aktif dalam proses belajar mengajar.
1. Dalam pandangan kontruktivis “strategi memperoleh” lebih diutamakan
dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan menjadikan
pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
(Nurhadi 2004: 33-34).

b. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL, dengan
bertanya guru dapat mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir
siswa. Disini dapat mengkonfrmasi informasi, mengecek pemahaman siswa,
mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa dll, sebagai penting dari
pembelajaran berbasis inquiri.

Menurut Nurhadi (2004: 35) dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya
berguna untuk:
1. menggali informasi, baik administrasi maupun akademis;
2. mengecek pemahaman siswa;
3. membangkitkan respon kepada siswa mengetahui sejauh mana keingintahuan
siswa;
4. mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa;
5. memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6. lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7. menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Aktivitas bertanya dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam
kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dan sebagainya.

c. Menemukan (Inquiry)
Merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Melalui observasi,
bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan, siswa
diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan bukan hasil
semata.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

mengingat

Masyarakat belajar bisa terjadi bila ada proses komunikasi dua arah. Kedua
kelompok komunikasi saling belajar, sehingga hasil belajar diperoleh dari sharing
antar teman, antar kelompok, dn antara yang tahu dengan yang belum tahu.
Masyarakat belajar (Learning Community) mengadung arti sebagai berikut:
1. adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagai gagasan dan
pengalaman;
2. ada kerja sama memecahkan masalah;
3. ada tanggung jawab kelompok, semua anggota dlam kelompok mempunyai
tanggung jawab yang sama;
4. ada komunikasi multi arah;
5. ada kesediaan menghargai pendapat orang lain.

e. Pemodelan (modeling)
Komponen selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya adalah dalam pembelajaran
ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang di tiru. Model itu bisa cara
mengoperasiakan sesuatu,cara melempar bola dalam olah raga. Atau guru member
contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu guru member contoh tentang
“bagaiman cara belajar”.
Dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru. Guru memberikan
model tentang bagaimana cara belajar. Dalam pendekatan kontekstual guru bukan
satu-satunya model belajar.

f.

Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir
kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Refleksi merupakan
respon terhadap kejadia. Aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima, misalnya

siswa merenung ketika pelajaran berakhir. Ini untuk merasakan ide-ide baru yang
diperoleh dan sisw mencatat hasil tersebut. Tugas guru adalah menghubungkan
antara pengetahuan siswa sebelumnya dengan pengetahuan yang baru.

g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa. Ini perlu diketahui guru bisa memastikan
bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Penilaian yang benar
bukan semata untuk mencari informasi tentang belajar siswa, akan tetapi ditekankan
kepada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari. Namun demikian,
menurut Nurhadi dan Senduk (2003:120) berpendapat “Tes tetap dilaksanakan,
sebagai salah satu sumber data untuk melihat kemajuan belajar siswa, termasuk
US/UN“. Karkteristik Authentic Assesment:
1. dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung;
2. bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif;
3. yang diukur keterampilan dan performa bukan mengingat fakta;
4. berkesinambungan;
5. dapat digunakan sebagai feed back.

5. Kelebihan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual mempunyai kelebihan antara lain: siswa secara aktif terlibat
dalam proses pembelajaran, tidak pasif, siswa belajar dari teman melalui kerja
kelompok, diskusi, saling mmengkoreksi, bukan individual, pembelajaran dikaitkan
dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, tidak abstrak dan
teoritis, perilaku dibangun atas kesadaran diri,ketrampilan dikembangkan atas dasar
pemahaman, bukan kebiasaan, hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri bukan

nilai rapor, seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan
merugikan, bukan takut hukuman, bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif,
yakni diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata, bukan structural dengan drill.

Dengan melihat keunggulan-keunggulan dari pendekatan pembelajaran kontekstual,
dalam penerapannya di kelas diharapkan siswa dapat mempelajari materi pelajaran
yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka, mereka dapat menemukan arti
didalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran lebih berarti dan menyenangkan
bagi siswa. Siswa akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran,
menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya sebagai dasar untuk
membangun pengetahuan baru.

B. Belajar dan Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam
berbagai bentuk, seperti terjadi perubahan pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,
ketrampilan, kebiasaan, serta perubahan aspek–aspek yang ada pada diri individu
yang sedang belajar. Menurut Moely (Depdiknas, 2005: 6) belajar pada hakekatnya
adalah proses perubahan pada tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman.
Selaras dengan pendapat tersebut, Sudjana mengutip pendapat Kimble yang
menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan
terjadi sebagai hasil pengalaman.

Menurut Sumadi Suryabrata (1971: 11) istilah belajar mengandung pengertian proses
perubahan yang relatif dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman.
Definisi tersebut memusatkan perhatian kepada tiga hal, yaitu:

1. Bahwa belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku individu.
2. Bahwa perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman.
3. Bahwa perubahan itu terjadi pada perilaku individu yang mungkin.

Belajar pada dasarnya merupakan peristiwa yang bersifat individu yakni terjadinya
perubahan tingkah laku sebagai dampak dari pengalaman individu. Menurut Herman
Hudoyo (1981: 2) belajar adalah suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan atau
pengalaman sehingga mampu mengubah tingkah laku manusia dan tingkah laku ini
sukar diubah dengan modifikasi yang sama.

Menurut Nasution (1992: 39 ) belajar adalah perubahan tingkah laku akibat
pengalaman sendiri. Dengan belajar maka seseorang akan mengalami perubahan
tingkah laku, sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan, sikap, ketrampilan,
maupun kecakapan. Dengan kata lain ada perbedaan tingkah laku antara sebelum dan
sesudah belajar

Dengan mengadopsi beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar
pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
yaitu terjalinnya interaksi antara individu dengan lingkungan.

Perubahan yang

dimaksud meliputi perubahan pemahaman, pengetahuan, sikap, keterampilan,
kebiasaan,dan apresiasi.

2. Pengertian Hasil Belajar
Kata hasil belajar dapat diidentifikasikan dengan kata prestasi belajar, yakni hasil
yang diperoleh setelah belajar. Sebagai gambaran, berikut ini adalah pendapat tentang
prestasi belajar.

Sunaryo berpendapat bahwa prestasi belajar adalah kemampuan seseorang dalam
menguasai sejumlah program, setelah program itu selesai. Hasil prestasi ini
dilambangkan dalam bentuk angka (nilai) sehingga mencerminkan keberhasilan
belajar atau prestasi siswa dalam periode tertentu (Djaka, 2002: 18). Hasil belajar
pada hakikatnya adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajar, mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor
(Sudjana, 2000: 18).

Dimyati (2000) berpendapat hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk
angka-angka atau skor melalui tes hasil belajar diakhir pembelajaran. Menurut Travel
(dalam Sudjana, 2000: 19) mengemukakan belajar adalah suatu proses yang
menghasilkan penyesuaian tingkah laku. Beliau membedakan belajar menjadi dua
macam yaitu pertama, belajar sebagai proses dan belajar dan kedua belajar adalah
hasil. Dalam hubungan ini belajar sebagai hasil merupakan akibat wajar dari belajar
sebagai proses. Dengan kata lain, proses belajar menyebabkan hasil belajar. Belajar
merupakan suatu cara yang di gunakan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman
baru. Keberhasilan dalam belajar dapat dilihat dari hasil belajar siswa, dan hasil yang
di capai terus meningkat atas dasar bahan pelajaran yang di pahami.

Gagne (dalam Sudjudi: 2005) mengelompokkan hasil belajar menjadi lima bagian
dalam bentuk kapabilitas yakni ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi
verbal, ketrampilan motorik, dan sikap.

Bloom (dalam Gufron: 2005) membagi hasil belajar menjadi tiga bagian yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor. Bagian kognitif berkenaan dengan ingatan atau
pengetahuan dan kemampuan intelektual serta ketrampilan-ketrampilan. Bagian
afektif menggambarkan sikap-sikap, minat dan nilai serta pengembangan pengertian

atau pengetahuan dan penyesuaian diri yang memadai. Bagian psikomotorik adalah
kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan yang dimiliki siswa yang diperoleh melalui pengalaman belajar dalam
bentuk angka dan skor melalui hasil belajar setelah pembelajaran.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik
factor yang terdapat dari dalam diri individu maupun factor yang berada diluar diri
individu.
1. Faktor Internal yaitu factor yang berasal dari dalam diri sendiri, meliputi hal-hal
berikut: kondisi fisiologis, kondisi psikologis, kecerdasan, bakat, minat dan perhatian,
motivasi, emosi, dan kemampuan kognitif.
2. Faktor Eksternal yaitu factor yang berasal dari luar diri sendiri baik yang terdapat di
lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, ataupun di masyarakat.
a. Faktor lingkungan keluarga seperti keadaan ekonomi keluarga, keharmonisan
keluarga, tingkat pendidikan keluarga dan sebagainya.
b. Faktor lingkungan sekolah seperti guru, sarana belajar, kurikulum, teman sekelas,
peraturan sekolah, situasi sosial di sekolah dan sebagainya. Unsur lingkungan
sekolah yang disebutkan diatas pada hakekatnya berfungsi sebagai linkungan
belajar siswa, yakni lingkungan tempat siswa berinteraksi, sehingga menumbuhkan
kegiatan belajar pada dirinya.
c. Lingkungan masyarakat seperti pergaulan, situasi

masyarakat, pengaruh

kebudayaan seperti film, sinetron, bacaan-bacaan dan sebagainya.

D. Matematika Sekolah

Menurut Sodjadi (2000: 37) matematika yang diajarkan dijenjang persekolahan yaitu SD,
SMP, dan SMA disebut matematika sekolah. Sering juga dikatakan Matematika Sekolah
adalah unsur-unsur atau bagian-bagian dari matematika yang di pilih berdasarkan atau
berorientasi kepada kepentingan kependidikan dan perkembangan IPTEK.

Belajar matematika merupakan proses psikologis, yaitu berupa kegiatan akttif dalam
upaya menguasai dan pemahaman konsep matematika. Kegiatan aktif di maksudkan
adalah pengalaman belajar yang di peroleh oleh siswa melalui interaksi dengan
matematikadalam konteks belajar mengajar di lembaga pendiddikan formal.

Menurut Liebek dalam Abdurrahman (1999: 253) ada dua macam hasil belajar
matematika yang harus di kuasai oleh siswa yakni perhitungan matematis (mathematics
calculation) dan penalaran matematis (mathematics reasoning). Berdasarkan hasil belajar
hasil belajar semacam itu maka Lemer mengemukakan dalam Abdurrahman (1999:253)
bahwa kurikulum bidang studi matematika hendaknya mencangkup tiga elemen yaitu
konsep (pemahaman dasar), ketrampilan dan pemecahan masalah (Aplikasi dari konsep
keterampilan).

E. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar matematika dalam penelitian

ini adalah kemampuan matematika yang

dimiliki atau dicapai siswa dalam angka atau skor dari hasil tes setelah mengikuti proses
pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kontesktual.

Sudjana (1995: 22) mengemukakan bahwa hasil belajar matematika adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya. Dalam
belajar matematika terjadi proses berfikir dan terjadi kegiatan mental dalam kegiatan
menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang diperoleh sebagai

pengertian. karena itu orang menguasai hubungan-hubungan tersebut. Dengan demikian,
ia dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan yang dipelajari tersebut.
F. Materi Penelitian
Materi pokok adalah kompetensi minimal dalam mata pelajaran yang harus ditampilkan
atau dapat dilakukan oleh siswa dari standar kompetensi suatu mata pelajaran.

Standar kompotensi pada penelitian ini adalah memahami sifat bangun ruang sederhana
dan hubungan antar bangun datar, dengan kompetensi dasar mengidentifikasi bendabenda dan bangun datar simetris.

Gambar di atas merupakan salah satu contoh bangun datar. Dalam penelitian ini beberapa
contoh bangun datar dikelompokkan menjadi bangun datar yang simetris dan tidak
simetris.

G. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) telah
banyak dilakukan, diantaranya oleh Edi Subagiyo dengan judul Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Wates pada Pokok Bahasan Bangun Datar Sebagai
Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), Fuad Hasyim
dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Hitung Campuran
Kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Menggunakan Alat Peraga Kartu Mainan dan
Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Tahun Ajaran 2005/2006”, dan

Kurni Astuti dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan
Ekosistem Melalui Pendekatan Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning)
pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri I Doro Kabupaten Pekalongan TP.
2004/2005”.
Dari ketiga hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Melalui Pendekatan
Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning) dapat meningkatkan aktivitas
dan hasil belajar siswa.

H. Kerangka Berfikir
Proses

belajar

mengajar

pada

pelaksanaannya

menggunakan

berbagai

metode

pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Namun dalam pencapaian tujuan
itu guru hendaknya mengaktifkan pengetahuan siswa yang sudah ada. Pengetahuan awal
itu sebagai dasar untuk mempelajari informasi baru.

Pengetahuan diperoleh dengan mempelajari sesuatu secara keseluruhan dulu, kemudian
memperhatikan detailnya. Dalam memahami pengetahuan siswa perlu menyelidiki dan
menguji semua hal yang memungkinkan dari pengetahuan baru itu. Dari pengetahuan baru
itu diharapkan siswa dapat memecahkan masalah, dan merefleksikan pengetahuannya.

Peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru datang dari menemukan
sendiri bukan dari apa kata guru.

Pendekatan kontekstual menekankan cara siswa mengkonstruksi pengetahuannya dalam
pembelajaran, kemudian merefleksikan pengetahuan tersebut untuk memecahkan masalah

yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan pendekatan kontekstual di
kelas, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

I. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Apabila dalam pembelajaran Matematika
menggunakan model pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan langkah-langkah
secara tepat, akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD
Negeri 2 Sinar Semendo”.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan
kelas merupakan salah satu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan,
yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang
dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-prektek pembelajaran tersebut
harus meningkat setelah dilaksanakan penelitian. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan
tersebut, PTK ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri
dari empat tahap.

Gambar 1. Diagram Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Modifikasi dari Arikunto, S (2006: 16)
Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup analisis, sintesis dan penilaian
terhadap hasil pengamatan proses serta hasil tindakan tadi, biasanya muncul
permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga pada

gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang,
serta diikuti pula dengan refleksi ulang.

Demikian-tahap-tahap ini dilakukan. terus

berulang, sampai sesuatu permasalahan dianggap teratasi (Arikunto, 2010: 132).

B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar
Semendo, Tanggamus dengan jumlah siswa 24 terdiri atas 10 laki-laki dan 14 perempuan.

C. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Sinar Semendo Jalan Darussalam, Gang
Familiy Pekon Sinar Semendo, Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Tanggamus.

D. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni tahun pelajaran
2011/2012.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas sesuai dengan jadwal pelajaran

Matematika di kelas IV, dan penelitian akan berlangsung sampai indikator yang telah
ditentukan dapat tercapai.

E. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini difokuskan pada proses dan hasil
pembelajaran. Dari segi proses diharapkan mencapai 75% siswa aktif dalam pembelajaran
dan dari segi hasil siswa mencapai KKM 60.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini direncakanan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas dua
kali pertemuan, tiap-tiap pertemuan terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

1. Tahap Perencanaan
Perencanaan pada siklus meliputi dua hal, yaitu perencanaan umum dan perencanaan
khusus. Yang dimaksud dengan perencanaan umum adalah perencanaan yang
meliputi keseluruhan aspek yang berhubungan dengan penelitian tindakan kelas.
Perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus per siklus.
Perencanaan khusus terdiri dari perencanaan ulang atau disebut revisi perencanaan.
Perencanaan ini berkaitan dengan pendekatan pembelajaran, teknik pembelajaran,
media dan materi pembelajaran, dan sebagainya. Dalam hal ini, teknik pembelajaran
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pemebelajaran kontekstual.
Adapun kegiatan dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah:
1. Membuat pemetaan, silabus dan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
pembelajaran Matematika pada materi simetri lipat dengan menggunakan model
pembelajaran kontekstual.
2. Menyiapkan alat peraga berupa contoh-contoh bangun datar sederhana.
3. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana proses belajar mengajar di
kelas berlangsung.

2. Tahap Pelaksanaan
Tindakan berlangsung di dalam kelas pada jam pelajaran bahasa Indonesia. Siswa
yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV selama 2 (dua) kali
pertemuan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Siklus 1

Pertemuan Pertama
A. Kegiatan Awal
1. Guru memberi salam, menanyakan tentang keadaan siswa pada hari ini.
2. Setelah itu guru mengecek kehadiran siswa dengan mengadakan presensi.
3. Setelah melakukan presensi, guru mengadakan apersepsi, tujuannya untuk
memotivasi siswa agar semangat mengikuti kegiatan pembelajaran.
4. Guru menginformasikan kompetensi dasar (KD), indikator dan tujuan
pembelajaran.

B. Kegiatan Inti
1. Siswa dapat mengenal bangun datar yang tidak memiliki simetri
2. Mengidentifikasi dan menggunakan garis simetri pada bangun datar
sederhana.
3. Mengelompokkan dan memberi contoh bangundatar yang simetris dan tidak
simetris.
4. Mengidentifikasi ciri bangun datar yang simetris
5. Membuat bangun-bangun datar yang simetris.
6. Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
7. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman,
memberikan penguatan dan penyimpulan.

C. Kegiatan Akhir
1. Memberikan latihan soal

2. Memberikan soal Pekerjaan Rumah
3. Menutup pelajaran

Pertemuan Kedua
A. Kegiatan Awal
1. Apersepsi
2. Demonstrasi
3. Mengingat kembali konsep benda-benda dan bangun datar simetris.

B. Kegiatan Inti
1. Guru menjelaskan kembali secara singkat tentang materi.
2. Guru menunjukkan beberapa contoh bangun datar dengan bantuan alat
peraga contoh bangun datar.
3. Menunjukkan dan menggambar bangun datar (benda-benda) yang simetris.
4. Menentukan sumbu simetri suatu bangun datar.
5. Siswa bertanya jawab tentang materi.

C. Kegiatan Akhir
1. Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
2. Siswa melakukan evaluasi.
3. Siswa menerima tugas rumah membuat sebuah tulisan yang berisi laporan
kunjungan.
4. Guru mengucapkan salam penutup.

3. Tahap Observasi/Pengamatan

Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh penulis dan satu orang
guru sebagai teman sejawat atau kolaborator.

Pada tahap observasi ini kegiatan yang dilaksanakan yaitu mengobservasi terhadap
pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan
yaitu lembar kegiatan aktivitas siswa dan lembar kegiatan aktivitas guru.

4. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis, mencermati, dan mengkaji secara
mendalam dan menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah
dikumpulkan. Kemudian dilakukan evaluasi oleh guru untuk menyempurnakan
tindakan berikutnya.

Setelah siklus I dilaksanakan, peneliti mengevaluasi kelebihan dan kekurangan yang
ditemukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Dari kekurangan yang

didapatkan pada siklus I, peneliti merencanakan untuk melakukan perbaikan kembali
dengan menentukan rencana perbaikan untuk siklus II.

G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.

Tes Tertulis
Tes dilakukan pada setiap akhir pembelajaran. Tes yang dilakukan adalah tes tertulis,
karena yang akan diukur adalah kemampuan siswa dalam memahami sifat bangun
ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar dalam mengidentifikasi bendabenda dan bangun datar simetris.

2.

Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang sangat ampuh dalam penelitian

kualitatif. Keuntungan yang diperoleh melalui observasi adalah pengalaman yang
diperoleh secara mendalam, dimana peneliti berhubungan secara langsung dengan
subjek peneliti. Melalui hubungan langsung tersebut peneliti dapat melihat apa yang
terjadi sebenarnya di lapangan. Tujuan utama dari observasi adalah untuk memantau
proses, hasil, dan dampak perbaikan pembelajaran yang direncanakan.

Observasi atau pengamatan ini diisi selama pembelajaran berlangsung dengan cara
memberi tanda ceklis () pada setiap aspek yang diamati dengan kategori kurang,
cukup, baik atau baik sekali.

3.

Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan hasil lembar kerja siswa. Metode
dokumentasi digunakan untuk mencari data-data yang mendukung permasalahan yang
akan diteliti.

4.

Tolok Ukur Penilaian
Untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran
Matematika selama penelitian tindakan kelas ini berlangsung, maka pada setiap akhir
pembelajaran pada setiap siklus, akan selalu diadakan post test. Untuk menentukan
tingkat keberhasilan siswa dengan tolok ukur penilaian di bawah ini.
Tabel 3.1 Tolok Ukur Penilaian
No
Rentang Skor
1
85 - 100
2
75 - 84
3
60 - 74
4
40 - 59
5
0 - 39
(Nurgiantoro, 2001:399).

Tingkat Kemampuan
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

H. Validitas Data
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benarbenar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan
proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi,
yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar
data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut
Patton (dalam Sulistiany : 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan
untuk mencapai keabsahan, yaitu :
1) Triangulasi Data
Menggunakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil
observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap
memeiliki sudut pandang yang berbeda.
2) Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam
penelitian ini, teman sejawat PTK yang bertindak sebagai pengamat (expert judgement)
yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.
3) Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang
dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah
dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut.
4) Triangulasi Metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan
metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode observasi pada saat
penelitian dilakukan.

I. Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang
diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk
memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama
proses pembelajaran. Analisis ini dihitung dengân menggunakan statistik sederhana,
yaitu:
1. Menilai Tes Tertulis
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi
dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes tertulis
dapat dirumuskan sebagai berikut.
X

X

Dengan :

N

X

= Nilai rata-rata

X

= Jumlah semua nilai siswa

N

= Jumlah siswa

Diadopsi dari Muncarno (2004: 15)
2. Ketuntasan Belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai nilai 60 dan kelas disebut tuntas
belajar bila di kelas tersebut mencapai daya serap lebih dan atau sama dengan 75%.
Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar klasikal digunakan rumus sebagai
berikut.

P=

∑Siswa yang tuntas belajar
× 100%
∑Siswa

Diadopsi dari Mulyasa (2003: 102)
3. Persentase Aktivitas Belajar Setiap Siswa

NP 

R
100
SM

Keterangan:
NP

: Nilai persen yang dicari atau diharapkan

R

: Skor mentah yang diperoleh siswa

SM

: Skor maksimum dari tes yang ditentukan

100

: bilangan tetap

Diadopsi dari Ngalim Purwanto (2009: 102)

J. Indikator Keberhasilan
Tolok ukur keberhasilan dalam penelitian ini apabila hasil belajar siswa pada pokok
bahasan bangun datar simetri lipat, yaitu nilai rata-rata yang dihasilkan 60 atau lebih dan
siswa yang mendapat nilai 60 atau lebih sejumlah minimal 75% dari jumlah siswa
(Mulyasa, 2003: 102).

1

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat penulis simpulkan
antara lain sebagai berikut.
1.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan
aktivitas siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo dalam mengikuti
keiatan pembelajaran.

Hal ini terbukti dari persentase aktivitas yang

diperoleh, dimana dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan.
Siklus I persentase aktivitas mencapai 50% dan siklus II meningkat
menjadi 80%.
2. Peningkatan aktivitas siswa selama pembelajaran siklus I dan siklus II
dengan pendekatan kontekstual (CTL) berimbas positif terhadap hasil
belajar siswa, dimana nilai rata-rata kelas pada siklus I hanya 59,55 dan
siklus II meningkat menjadi 71,8.

Demikian juga dengan persentase

ketuntasan belajar siswa, pada siklus I persentase ketuntasan klasikal
hanya 45% dan siklus II meningkat menjadi 85%.

1.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan hasil kesimpulan, ada beberapa saran yang
penulis sampaikan, diantaranya sebagai berikut.
1.

Bagi Siswa

2

Untuk menambah motivasi dan keaktifan belajar siswa melalui strategi
pembelajaran yang sesuai, sehingga dapat meningkatkan keterampilan
proses siswa dan proses KBM menjadi lebih bervariasi dan tidak monoton.

2.

Bagi Guru
a. Guru senantiasa menciptakan suasana belajar yang lebih konkrit dengan
cara pemberian tugas atau latihan-latihan sehingga potensi dan
kemampuan siswa dapat tergali dan tersalurkan dengan baik.
b. Guru hendaknya dapat menerapkan metode kontekstual dalam
pembelajaran matematika secara efektif sehingga diharapkan dapat
memotivasi siswa dalam belajar dan menumbuhkan keinginan siswa
untuk berprestasi lebih baik.

3. Bagi Sekolah
Bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas peserta didik perlu dibuat
media atau sumber belajar yang cukup, misal LKS, alat peraga, atau buku
panduan siswa untuk belajar sehingga bisa memberikan bantuan lebih
kepada siswa yang mempunyai permasalahan dalam belajar, terutama
pelajaran Matematika.

4. Bagi Peneliti
Peneliti perlu pemahaman konsep yang lebih mendalam mengenai
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sehingga perlu adanya
penelitian selanjutnya.

ABSTRAK
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV
SD NEGERI 2 SINAR SEMENDO
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh
AMINAH

Berdasarkan hasil observasi di kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo
menunjukkan masih rendahnya aktivitas dan pemahaman matematika siswa
selama proses pembelajaran. Siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(60) berdasarkan hasil ulangan harian baru mencapai 35%. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran belum maksimal, maka diperlukan
upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa di kelas IV.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar belajar
siswa pada pembelajaran matematika kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo
dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
tahun pelajaran 2011/2012.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua
siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo
yang berjumlah 20 siswa. Setiap siklus menggunakan teknik pengumpulan data
berupa evaluasi tertulis dan observasi. Instrumen tes tertulis digunakan untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa, sedangkan instrumen observasi
digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru dalam pembelajaran.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan hasil
belajar siswa. Persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus I dan II berturutturut sebesar 50% (kurang aktif) dan 80% (aktif). Dan persentase tingkat
ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan II berturut-turut sebesar 45% dan
85%.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa kelas IV SD Negeri 2 Sinar Semendo pada pembelajaran Matematika.
Kata kunci : Contextual Teaching and Learning, aktivitas siswa, hasil belajar.

i

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV
SD NEGERI 2 SINAR SEMENDO
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

(Penelitian Tindakan Kelas)

Oleh

AMINAH
NPM 1013127005

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

DAFTAR DIAGRAM

Diagram

Halaman

1. Peningkatan Aktivitas Siswa Siklus I dan II .........................................
2. Peningkatan Persentase Kinerja Guru Siklus I dan Siklus I ................
3. Peningkatan hasil belajar siswa siklus I dan siklus II dengan pendekatan
kontekstual ............................................................................................

xiv

63
65
68

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
xiii
DAFTAR DIAGRAM ....................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
xv
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................
A.
B.
C.
D.
E.
F.

1

Latar Belakang Masalah .....................................................................
Identifikasi Masalah ...........................................................................
Pembatasan Masalah ..........................................................................
Rumusan Masalah ..............................................................................
Tujuan Penelitian ...............................................................................
Manfaat Penelitian .............................................................................

1
3
4
4
4
5

BAB II. KAJIAN PUSTAKA .......................................................................

7

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.

Pendekatan Kontekstual .....................................................................
Belajar dan Hasil Belajar ....................................................................
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ........................................
Matematika Sekolah ...........................................................................
Hasil Belajar Matematika ...................................................................
Materi Penelitian ................................................................................
Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................
Kerangka Berpikir ..............................................................................
Hipotesis Tindakan .............................................................................

7
14
17
18
19
20
20
21
22

BAB III. METODE PENELITIAN ..............................................................

23

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Desain Penelitian ................................................................................
Subjek Penelitian................................................................................
Tempat Penelitian...............................................................................
Waktu Penelitian ................................................................................
Indikator Kinerja ................................................................................
Prosedur Penelitian.............................................................................
Teknik Pengumpulan Data .................................................................
Validitas Data .....................................................................................
Teknik Analisis Data ..........................................................................
Indikator Keberhasilan .......................................................................

xi

23
24
24
24
25
25
29
31
32
33

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................
A. Gambaran Umum SDN 2 Sinar Semendo ..........................................
B. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran ..................................................
C. Hasil Penelitian ..................................................................................
1. Siklus I .........................................................................................
a. Tahap Perencanaan.................................................................
b. Tahap Pelaksanaan ................................................................
c. Tahap Pengamatan (Observasi)..............................................
d. Tahap Refleksi .......................................................................
2. Siklus II ........................................................................................
a. Tahap Perencanaan.................................................................
b. Tahap Pelaksanaan .................................................................
c. Tahap Pengamatan (Observasi)..............................................
d. Tahap Refleksi .......................................................................
D. Pembahasan ........................................................................................

34
34
35
36
36
37
37
40
49
50
50
51
53
60
61

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................
A. Kesimpulan ........................................................................................
B. Saran ...................................................................................................

69
69
69

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

71

LAMPIRAN ...................................................................................................

73

xii

71

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Jakarta: Rinaka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Haling, Abdul 2004. Belajar Pembelajaran (suatu Ringkasan). Makasar: Jurusan
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNM
Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP
Malang.
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muncarno. 2012. Statistik Pendidikan. Metro. PGSD.
Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK itu Mudah (Classroom Action
Reserch) Pedoman Praktis Bagi Guru Profesional. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurhadi. 2004. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang
Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: FPBS IKIP.
Siswono, Tatag Yuli Eko. 2006. Pembelajaran Matematika Yang Pengembangan
Penalaran, Kreatifitas dan Kepribadian Siswa. Disajikan pada Workshop
Pembelajaran Matematika MI Nurur Rohmah Sidoarjo, Surabaya: FMIPA
Umesa.
Soedjadi, R. 1999/2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

72

Supinah, dan Agus D.W. 2009. Modul Matematika SD Program Bermutu.
Yokyakarta: Depdiknas.
Trianto. 2008. Mendesain Pem

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KELAS IV SD NEGERI 02 ASTOMULYO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 7 52

PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn KELAS V C SDN 2 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 10 55

PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn KELAS V C SDN 2 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 7 53

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA KELAS III SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 26 61

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 SINAR SEMENDO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 8 48

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS V SD NEGERI 3 BOJONG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 4 55

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS EKONOMI MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VIII 5 SEMESTER GANJIL SMP NEGERI 2 PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2009/2010

0 4 18

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS V SD NEGERI GUNUNG MULYO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 46

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 13 44

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD 2 SINGOCANDI TAHUN AJARAN 20132014

0 0 21

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3879 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 776 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1089 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1321 23