UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA KELAS III SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

ABSTRAK
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN
TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND
LEARNING (CTL) PADAKELAS III
SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR
KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2012/2013
Oleh
WARSINI
Dalam pembelajaran tematik di SD Negeri 2 Pringsewu Timur selama ini proses
pembelajarannya guru masih mendominasi kelas, siswa masih mengalami kesulitan dalam
menghubungkan tema dengan beberapa mata pelajaran dan siswa kurang dilibatkan secara
aktif dalam proses pembelajaran sehingga menjadi pasif. Kecenderungan pembelajaran yang
demikian berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa, dimana banyak siswa kelas III
yang nilainya masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Salah satu model
pembelajaran yang cocok digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas rendah
yaitu contextual teaching and learning dimana model pembelajaran ini membantu siswa
memahami materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui pendekatan tematik dengan model
pembelajaran contextual teaching and learning pada kelas III SD Negeri 2 Pringsewu Timur
Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang
dilaksanakan dengan dua siklus.Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Desain penelitian ini
menerapkan model penelitian tindakan kelas menurut Kurt Lewin yang terdiri dari empat
komponen, yaitu (1) perencanaan,
(2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4)
refleksi.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan di kelas III melalui
pendekatan tematik dengan model pembelajaran contextual teaching and learning efektif dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil
belajar siswa pada siklus I dan siklus II.
Kata Kunci : Hasil Belajar, Pendekatan Tematik, dan Model Pembelajaran Contextual Teaching
and Learning.

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum
operasional yang berbasis kompetensi sebagai hasil refleksi, pemikiran dan
pengkajian yang mendalam dari kurikulum yang telah berlaku beserta
pelaksanaanya.

Kompetensi-kompetensi

yang

dikembangkan

dalam

kurikulum ini diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian
bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan,
persaingan, ketidakpastian dan kerumitan-kerumitan dalam kehidupan. Untuk
memberikan keterampilan dan keahlian tersebut dibutuhkan pendidikan.
Pendidikan perlu diberikan pada anak usia dini agar mereka dapat
menghadapi tantangan-tantangan di masa yang akan datang. Terutama anak
yang berada pada usia awal sekolah dasar, yaitu siswa kelas rendah akan
mengalami perkembangan yang luar biasa dalam kemampuan mereka
memahami tentang segala hal yang ada di lingkungannya. Pada usia tersebut
mereka masih berpikir segala sesuatu dihadapannya sebagai sesuatu yang
utuh (holistic). Oleh karena itu, proses pembelajaran yang dilaksanakan pada
kelas rendah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata sebagai pengalaman
yang pernah mereka alami secara langsung. Pada tingkat sekolah dasar kelas

2
rendah khususnya Kelas III, kurikulum inidilaksanakan dengan

menggunakan pendekatan

tematik. Pendekatan tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema
untuk menggabungkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman
bermakna kepada siswa. Penggabungan beberapa mata pelajaran dengan menggunakan
tema dapat membantu guru dan siswa memahami materi pelajaran. Dengan pembelajaran ini
diharapkan siswa untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalamannya
secara langsung.
Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru Kelas III pada SD Negeri 2 Pringsewu
Timur, bahwa pembelajaran tematik yang dilaksanakan belum berhasil dengan baik. Hal ini
dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang masih rendah pada beberapa mata pelajaran.
Tabel 1 : Nilai Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Tematik Kelas III Semester II SD
Negeri 2 Pringsewu Timur Tahun Pelajaran 2011/2012.
No.

Mata Pelajaran

1
Pkn
2
Bahasa Indonesia
3
Matematika
4
IPA
5
IPS
Jumlah

KKM
62
63
60
62
62

Tuntas
19 siswa (70,37%)
13 siswa (48,15%)
9 siswa (33,33%)
11 siswa (40,74%)
12 siswa (44,44%)
47,41%

Tidak Tuntas
8 siswa (29,63%)
14 siswa (51,85%)
18 siswa (66,67%)
16 siswa (59,26%)
15 siswa (55,56%)
52,59%

Sumber : Data guru Kelas III Semester II SD Negeri 2 Pringsewu Timur tahun pelajaran
2011/2012
Dari tabel diatas terlihat bahwa pada mata pelajaran matematika sebesar 33,33% atau 9
siswa dengan KKM 60 dapat dikategorikan tuntas, pada mata pelajaran IPA sebesar 40,74%
atau 11 siswa dengan KKM 62 dapat dikategorikan tuntas dan pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia sebesar 48,15% atau 13 siswa dengan KKM 62 dapat dikategorikan tuntas. Hal
ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik yaitu mata pelajaran
matematika, IPA dan Bahasa Indonesia di Kelas III SD Negeri 2 Pringsewu Timur masih

3
rendah. Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan karena guru dalam proses
pembelajarannya masih mendominasi kelas, siswa masih mengalami kesulitan dalam
menghubungkan tema dengan beberapa mata pelajaran dan siswa kurang dilibatkan secara
aktif dalam proses pembelajaran sehingga menjadi pasif. Oleh karena itu, peneliti
mengadakan suatu tindakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada
pembelajaran tematik terutama pada pelajaran matematika, IPA dan Bahasa Indonesia.
Upaya yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL), dimana siswa dapat menghubungkan materi pelajaran dengan
situasi kehidupan nyata. Dengan model pembelajaran ini, diharapkan dapat membantu siswa
memberikan motivasi dalam belajar.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penyebab rendahnya hasil belajar siswa kelas III SD
Negeri 2 Pringsewu Timur adalah :
1. Guru dalam proses pembelajarannya masih menjadi pusat pembelajaran sedangkan
siswanya pasif.
2. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat.
3. Siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga menjadi pasif.
4. Metode yang digunakan guru masih bersifat konvensional.
5. Siswa

masih

mengalami

kesulitan

dalam

memahami

materi

pelajaran

yang

menghubungkan tema dengan beberapa mata pelajaran.
6. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, IPA dan Bahasa
Indonesia.

4
1.3 Rumusan Masalah dan Permasalahan
Adapun masalah yang dirumuskan rendahnya hasil belajar siswa karena menggunakan
pendekatan tematik. Dengan demikian permasalahannya adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui pendekatan tematik dengan model
pembelajaran contextual teaching and learningpada kelas III SD Negeri 2 Pringsewu
Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui pendekatan tematik dengan model
pembelajaran contextual teaching and learningpada kelas III SD Negeri 2 Pringsewu
Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui pendekatan tematik dengan model
pembelajaran contextual teaching and learningpada kelas III SD Negeri 2 Pringsewu
Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui pendekatan tematik dengan model
pembelajaran contextual teaching and learning pada kelas III SD Negeri 2 Pringsewu
Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Siswa
a.

Dapat membantu siswa memahami materi pelajaran.

5
b.

Siswa menjadi aktif dalam pembelajaran dengan model pembelajaran contextual
teaching and learning.

c.

Siswa dapat melakukan komunikasi dengan siswa yang lain secara lebih baik dan
percaya

diri

dalam

menyelesaikan

permasalahan

dengan

model

pembelajarancontextual teaching and learning.
d.

Siswa mempunyai hasil belajar yang lebih baik jika pendekatan tematik
menggunakan model pembelajarancontextual teaching and learning dengan
menerapkan 7 komponencontextual teaching and learning.

2. Bagi Guru
a.

Guru dapat mengembangkan kreativitas dalam menyajikan materi pelajaran sebagai
implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis model
pembelajaran contextual teaching and learning .

b.

Memberikan informasi dalam memilih model dan pendekatan pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa

c.

Guru menjadi lebih professional dan dapat memperbaiki segala kesalahan dalam
menyelenggarakan pendidikan.

3. Bagi Sekolah
a.

Memberikan referensi bagi sekolah dalam menggunakan model dan pendekatan
pembelajaran yang bervariasi agar siswa dapat memahami materi pelajaran dengan
baik

b.

Sekolah dapat mengembangkan kurikulum sendiri dari bawah dan dapat menjadi
sekolah yang mandiri.

6

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Belajar
Secara psikologis, “Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya”, sebagaimana dikemukakan oleh
Slameto (2003 : 2) menurut definisinya “ Belajar ialah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya”. Menurut Wina Sanjaya (2010 : 112)
“Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga
menyebabkan munculnya perubahan perilaku”. Aktivitas mental itu terjadi
karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya yang disadari.
Selanjutnya Trianto (2010 : 16) secara umum mengemukakan bahwa “Belajar
diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman
dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau
karakteristik seseorang sejak lahir”. Djamarah dan Zain (2010 : 10)
mengemukakan bahwa “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat
pengalaman dan latihan”. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah
laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap,

bahkan meliputi segenap aspekorganisme atau pribadi. Syaiful Sagala (2010 :
13)mengemukakan bahwa “Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks,
sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri”. Sedangkan Cronbach (dalam
Riyanto, 2010 : 5) menyatakan bahwa ”Belajar itu merupakan perubahan perilaku sebagai
hasil dari pengalaman”. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa belajar dapat terjadi karena adanya proses perubahan perilaku yang terjadi pada diri
seseorang sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2.2 Pengertian Hasil Belajar
Dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar.
Sebagaimana dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2009 : 3) “Hasil belajar merupakan
hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Di sisi guru, tindak mengajar
diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya penggal dan puncak proses belajar”. Menurut Oemar Hamalik (2010 : 31)
“Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi, abilitas dan keterampilan. Dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa
memperoleh suatu hasil belajar”. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa melalui tes setelah selesai
proses pembelajaran.

2.3 Aktivitas Belajar
Didalam belajar diperlukan adanya aktivitas, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat
(learning by doing), berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak

ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Oleh karena itu, aktivitas merupakan prinsip/asas yang
sangat penting didalam interaksi pembelajaran. Beberapa pandangan tentang aktivitas
belajar menurut para ahli antara lain adalah Mustofa Abi Hamid (http:// mustofaabihamid
.blogspot. com /2010/06/model-pembelajaran.html) mengatakan bahwa “Aktivitas dalam
belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan siswa yang mengikuti pelajaran, bertanya
hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala sesuatu yang
menunjang prestasi belajarr”, sedangkan Sardiman (2008 : 100) mengatakan “Perlu
ditambah bahwa yang dimaksud aktivitas belajar adalah aktivitas yang berupa fisik maupun
mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus saling terkait”.
2.4 Pendekatan Tematik
2.4.1 Pengertian Pendekatan Tematik
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu
(integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang
memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan
menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuwan secara holistik, bermakna, dan
autentik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rusman (2011 : 254) bahwa
pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan
pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan
pengalaman

bermakna

kepada

siswa.

Dikatakan

bermakna

karena

dalam

pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari
melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang
telah dipahaminya. Menurut Trianto (2009 : 70) “Pembelajaran tematik adalah
pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata

pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Tema
yang diberikan merupakan pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi topik
pembelajaran. Selanjutnya Sriudin (dalamTrianto, 2009 : 79) “Pembelajaran Tematik
merupakan pembelajaran bermakna bagi siswa. Pembelajaran tematik lebih
menekankan pada

penerapan konsep belajar

sambil melakukan

sesuatu”.

Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan tematik
adalah pembelajaran terpadu yang menghubungkan tema dengan beberapa mata
pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
2.4.2 Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Tematik
Menurut Kunandar (2007) pendekatan tematik memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan pendekatan tematik, yaitu :
1.

Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan
peserta didik.

2.

Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan
tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

3.

Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.

4.

Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang
dihadapi.

5.

Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.

6.

Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

7.

Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi
dalam lingkungan peserta didik.

Selain

memiliki

kelebihan

pendekatan

tematik

juga

memilki kelemahan.

Adapun kelemahan pendekatan tematik terjadi jika dilakukan oleh guru tunggal,
misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran
tema sehingga pembelajaran tematik

akan merasa sulit untuk mengaitkan tema

dengan materi pokok setiap mata pelajaran.
2.5 Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
2.5.1 Pengertian ModelPembelajaran Contextual Teaching and
Learning
Kontekstual adalah kata sifat, adjektif, untuk kata benda”Konteks”. Konteks artinya
kondisi lingkungan yaitu keadaan atau kejadian yang membentuk lingkungan dari
sebuah hal. Ringkasnya konteks adalah lingkungan, sebagaimana yang dikemukakan
oleh Kesuma, dkk (2009 : 57) “contextual teaching and learning dapat diartikan
sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu” serta
“Contextual teaching and learning adalah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”.
Menurut Nurhadi (dalam Rusman, 2011 : 189) “Pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat. Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa

contextual teaching and learning adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
2.5.2 Tujuh Komponen Pembelajaran Contextual Teaching and
Learning
Ada tujuh komponen dalam pembelajaran contextual teaching and learning, yaitu
sebagai berikut :
1. Konstruktivisme (constructivism)
Constructivism

merupakan

landasan

berpikir

pendekatan

pembelajaran

contextual teaching and learning, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit,yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
2. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan kegiatan inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
contextual teaching and learning. Pengetahuan dari keterampilan yang diperoleh
siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi dari hasil
menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada
kegiatan menemukan apapun yang diajarkannya.
3. Bertanya (Questioning)
Bertanya dalam kegiatan pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa
bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang

berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah
diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh
dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara
teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.
5. Pemodelan (Modeling)
Dalam pendekatan pembelajaran contextual teaching and learning, guru bukan
satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang
siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke
belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa.
2.5.3 Perbedaan

Model

Pembelajaran

Kontekstual

dengan

Model

Pembelajaran Tradisional
Menurut Yatim Riyanto (2010 : 165) terdapat perbedaan pembelajaran pada model
pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran tradisional. Perbedaan
tersebut, yaitu :
No.

Model Pembelajaran
Contextual Teaching and

Model Pembelajaran Tradisional

1

Learning
Siswa secara aktif terlibat
dalam proses pembelajaran.

Siswa adalah penerima
informasi secara pasif.

2

Siswa belajar dari teman
melalui kerja kelompok,
diskusi, saling mengoreksi.

Siswa belajar secara individual.

3

Pembelajaran dikaitkan
dengan kehidupan nyata dan
masalah yang disimulasikan.
Perilaku dibangun atas
kesadaran sendiri.

Pembelajaran sangat abstrak dan
teoritis.

5

Keterampilan dikembangkan
atas dasar pemahaman.

Keterampilan dikembangkan
atas dasar latihan.

6

Hadiah untuk perilaku baik
adalah kepuasan diri.

Hadiah untuk perilaku baik
adalah tujuan atau nilai (angka)
rapor.

7

Seseorang tidak melakukan
yang jelek karena dia sadar
hal itu keliru dan merugikan.

Seseorang tidak melakukan yang
jelek karena dia takut hukuman.

8

Bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif,
yakni siswa diajak
menggunakan bahasa dalam
konteks nyata.

Bahasa diajarkan dengan
pendekatan struktural, rumus
diterangkan sampai paham
kemudian dilatihkan (driil).

9

Pemahaman rumus
dikembangkan atas dasar
skema yang sudah ada dalam
diri siswa.

Rumus itu ada di luar diri siswa,
yang harus diterangkan,
diterima, dihafalkan,dan
dilatihkan.

10

Pemahana rumus itu berbeda
antara siswa yang satu
dengan siswa yang lainnya
(on going process of
development).

Rumus adalah kebenaran
absolute (sama untuk semua
orang). Hanya ada dua
kemungkinan yaitu pemahaman
rumus yang salah atau
pemahaman rumus yang benar.

11

Siswa menggunakan
kemampuan berpikir kritis,
terlibat penuh dalam

Siswa secara pasif menerima
rumus atau kaidah (membaca,
mendengar, mencatat,

4

Perilaku dibangun atas dasar
kebiasaan.

mengupayakan terjadinya
proses pembelajaran yang
efektif, ikut bertanggung
jawab atas terjadinya proses
pembelajaran yang efektif
dan membawa semata
masing-masing kedalam
proses pembelajaran.

menghafal), tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses
pembelajaran.

12

Pengetahuan yang dimiliki
manusia dikembangkan oleh
manusia itu sendiri. Manusia
menciptakan atau
membangun pengetahuan
dengan cara memberi arti dan
memahami pengalamannya.

Pengetahuan adalah
penangkapan terhadap
serangkaian fakta, konsep ,atau
hukum yang berada diluar diri
manusia.

13

Karena pengetahuan itu
dikembangkan (dikonstruksi)
oleh manusia itu sendiri,
sementara manusia selalu
mengalami peristiwa baru,
maka pengetahuan itu tidak
pernah stabil, selalu
berkembang (tentative
incomplete).

Kebenaran bersifat absolut dan
pengetahuan bersifat final.

14

Siswa diminta bertanggung
Guru adalah penentu jalannya
jawab memonitor dan
proses pemelajaran.
mengembangkan
pembelajaran mereka masingmasing.

15

Penghargaan terhadap
pengalaman siswa sangat
diutamakan.

Pembelajaran tidak
memerhatikan pengalaman
siswa.

16

Hasil belajar diukur dengan
berbagai cara proses bekerja
hasil karya, penampilan,
rekaman tes, dan lain-lain.

Hasil belajar diukur hanya
dengan tes.

17

Pembelajaran terjadi
diberbagai tempat, konteks,
dan setting.

Pembelajaran hanya terjadi
dalam kelas.

18

Penyesalan adalah hukuman
dari perilaku jelek.

Sangksi adalah hukuman dari
perilaku jelek.

19

Perilaku baik berdasarkan
motivasi instrinsik.
Seseorang berperilaku baik
karena dia yakin itulah yang
terbaik dan bermanfaat.

Perilaku baik berdasar dari
motivasi ekstrinsik.
Seseorang berperilaku baik
karena dia terbiasa melakukan
begitu,. Kebiasaan ini dibangun
dengan menyenangkan.

20

2.5.4 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Menurut Yatim Riyanto (2010 : 168) terdapat langkah-langkah model pembelajaran
contextual teaching and learning, yaitu sebagai berikut :
1. Kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan barunya.
2. Laksanakanlah sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.
2.6 Penelitian yang Relevan
Sebelum dilakukan penelitian, dilakukan pengumpulan literatur mengenai penelitian yang
relevan dengan judul yang akan dteliti. Hasil penelitian Edi Subagiyo (2010) model
pembelajaran contextual teaching and learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas V SD Negeri Wates pada materi pokok bangun datar. Hal tersebut dapat dilihat dari

hasil tes belajar siswa pada siklus I memiliki rata-rata 6,27 meningkat menjadi 7,2 pada
siklus II. Demikian pula dengan persentase siswa yang mencapai KKM. Pada siklus I
persentasenya yaitu 50% meningkat menjadi 78,5% pada siklus II.
Selain itu, ada juga penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran
dengan model contextual teaching and learning. Hasil penelitian Rindang Wijayanti (2011)
menunjukkan bahwa model pembelajaran contextual teaching and learning berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil tes belajar siswa yang
menggunakan model contextual teaching and learning memiliki rata-rata 15,92, sedangkan
kelas yang tidak menggunakan pembelajaran contextual teaching and learning memiliki
rata-rata 12,11. Hasil penelitian itu menjunjukkan bahwa model pembelajaran contextual
teaching and learning nberpengaruh meningkatkan hasil belajar siswa.
2.7 Materi Pelajaran pada Pembelajaran Tematik
2.7.1 Tema Pendidikan
2.7.1.1 Bahasa Indonesia Tentang Menceritakan Suatu Peristiwa Berupa
Pengalaman
Pengalaman dapat

berupa pengalaman yang

menyenangkan

dan

pengalaman yang menyedihkan. Menceritakan pengalaman pribadi sangat
menyenangkan.

2.7.1.2 Matematika tentang Persegi
Menghitung luas persegi

Luas persegi disamping adalah 9 satuan persegi.
Diperoleh dari = 3 satuan x 3 satuan
= 9 satuan

1 2 3
4 5 6
7 8 9

Luas persegi = sisi x sisi
=sxs

3 satuan

3 satuan

2.7.1.3 IPA Tentang Cuaca
Cuaca adalah keadaan udara disuatu tempat pada waktu tertentu. Cuaca
sangat berpengaruh dalam kehidupan setiap makhluk hidup di bumi. Cuaca
yang sering dialami, diantaranya : cerah, panas, dingin, dan hujan. Keadaan
cuaca dapat ditunjukkan dari keadaan langit. Jika langit diliputi awan, tampak
sinar matahri ke bumi terhalang oleh awan. Oleh karenanya udara tidak terlalu
panas. Pada siang hari, cuaca serah dan langit tidak berawan. Pada saat
tertentu, awan tampak berwarna abu-abu dan menutupi langit. Itu pertanda
akan turun hujan. Hujan turun berupa titik-titik air dari langit. Pada saat hujan,
biasanya cuaca terasa dingin. Hujan terjadi karena ada pemanasan air di
permukaan bumi. Awan adalah gumpalan kabut. Awan memiliki bentuk yang
berubah-ubah sesuai dengan keadaan cuaca. Bentuk-bentuk awan antara lain
awan sirus, awan cumulus, dan awan stratus.
2.7.2 Tema Peristiwa Alam
2.7.2.1 Bahasa Indonesia Tentang Menceritakan Suatu Peristiwa

Peristiwa adalah kejadian atau hal yang benar-benar terjadi. Sebuah peristiwa
dapat kamu alami, kamu lihat ataupun kamu dengar. Adapun langkah-langkah
dalam menceritakan peristiwa, yaitu sebagai berikut :
a. Peristiwa apa yang kamu alami, lihat dan kamu dengar
b. Waktu peristiwa itu terjadi
c. Tempat peristiwa itu terjadi
d. Sebab peristiwa itu terjadi
e. Urutan kejadian peristiwa itu terjadi
2.7.2.2 Matematika Tentang Pecahan
Membaca, membilang, dan menulis lambang pecahan.
Contoh :
Daerah yang diberi warna adalah 1 bagian dari 3.
Oleh karena itu, daerah tersebut menunjukkan
pecahan

. Pecahan

dibaca satu pertiga atau

sepertiga.
2.7.2.3 IPA Tentang Energi
Ada 2 macam gerak benda, yaitu :
a. Gerak benda dipengaruhi oleh ukuran benda
b. Gerak benda dipengaruhi oleh bentuk benda
Energi tidak dapat dilihat, hanya dapat dirasakan. Macam-macam energi, yaitu
: energi gerak, energi

panasdan energi bunyi. Energi dihasilkan dengan

mengubah energi lain. Oleh karena itu, kita harus selalu menghemat energi.

2.8 Kerangka Pikir
Tahap perkembangan anak usia dini pada kelas awal sekolah dasar pada masa ini perlu
didorong seluruh potensinya agar dapat berkembang secara optimal.
Contextual teaching and learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Pendekatan tematik digunakan pada anak usia dini yang berada di kelas
rendah, yaitu kelas 1-3 karena pada siswa mengalami perkembangan yang luar biasa dalam
kemampuan mereka memahami segala hal yang ada di lingkungannya sebagai pengalaman
yang pernah mereka alami secara langsung. Pada usia tersebut, siswa masih berpikir segala
sesuatu

dihadapannya

sebagai

sesuatu

yang

utuh.

Penggunaan

model

pembelajarancontextual teaching and learning dalam penelitian ini dapat menjadi alternatif
guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan model pembelajarancontextual
teaching and learning, siswa dapat mengalaminya sendiri untuk menemukan materi
pelajaran dan membantu siswa menghubungkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan
nyata. Model pembelajarancontextual teaching and learning ini cocok digunakan pada
pendekatan tematik.

Pendekatan
tematik

Modelpembelajaran
contextual teaching and
learning (CTL)
Gambar.1 Kerangka Pikir Penelitian

Hasil belajar
dapat meningkat

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom
Action Research).Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan
oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan
merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan
memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa
meningkat.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua siklus. Setiap siklus terdiri
dari dua pertemuan dengan alokasi waktu 3 x 35 menit. Analisis data yang
digunakan adalah datakuantitatif dan data kualitatif. Desain penelitian ini
menerapkan model penelitian tindakan kelas menurut Kurt Lewin (dalam
Kusumah dan Dwitagama, 2008 : 20) dengan konsep pokok action research
yang terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan
tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. Adapun
siklus PTK menurut Kurt Lewin dapat dilihat pada gambar.2 di bawah ini :

Perancanangan
(Planning)

Refleksi
Siklus
I
(Reflecting)

Tindakan
(Acting)

Pengamatan
(Observing)

Perancanangan
(Planning)

PERUBAHAN

Refleksi
(Reflecting)

Siklus II

Tindakan
(Acting)

Pengamatan
(Observing)

Gambar 2. Siklus PTK menurut Kurt Lewin dengan dua siklus

3.2 Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 28 Mei – 13 Juni 2012 di SD Negeri 2 Pringsewu
Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013. Dalam
pelaksanaanya menggunakan model penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research)menurut Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen. Hubungan komponen
tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Pelaksanaan
Tindakan
(Acting)

Pengamatan
(Observasing)

Perencanaan
(Planning)

Refleksi
(Refecting)

Gambar3. Model PTK Menurut Kurt Lewin
Berdasarkan gambar3 di atas, hal pertama yang harus dilakukan adalah merencanakan
sesuatu sebelum melaksanakan proses pembelajaran, melaksanakan tindakan dalam proses
pembelajaran, melakukan pengamatan terhadap tindakan yang telah dilakukan dalam proses
pembelajaran, dan merefleksi hasil pembelajaran sehingga dapat melakukan perencanaan
yang lebih matang. Keempat tahapan ini terus berulang setiap siklus.

1.

Subjek Penelitian
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menjadi subjek penelitian ini adalah
siswa kelas III SD Negeri 2 Pringsewu Timur dengan jumlah siswa sebanyak 27 siswa
yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 17 siswi perempuan.

2. Faktor-Faktor yang Diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar siswa selama
proses pembelajaran melalui pendekatan tematik dengan model pembelajaran contextual
teaching and learning.
3.3 Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi tes, observasi dan
diskusi.
1. Tes

: Menggunakan butir soal/instrument soal untuk
mengukur hasil belajar siswa.

2. Observasi

: Menggunakan lembar observasi untuk mengukur
tingkat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran melalui pendekatan
tematik dengan model pembelajaran contextual teaching and learning.

3. Diskusi

: Menggunakan lembar hasil observasi

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam PTK ini, meliputi tes, observasi, dan diskusi antara guru,
teman sejawat, dan kolabolator.
1. Tes

: Dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil
belajar siswa.

2. Observasi

: Dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang
aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dan implementasi
pembelajaran melalui pendekatan tematik dengan model pembelajaran
contextual

teaching

and

learningdengan

menggunakan

lembar

observasi aktivitas siswa. Adapun lembar observasi aktivitas siswa
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
No.

Aspek

Indikator

1
2
3
4
5

Kriteria
Penilaian

Aspek dan indikator penilaian :
a. Interaksi siswa dengan guru selama proses pembelajaran
b. Kegiatan siswa dalam kelompok
c. Interaksi antar sesama siswa selama proses pembelajaran
d. Partisipasi siswa sebagai kelompok lain
e. Motivasi dan kegairahan siswa dalam belajar
3. Diskusi antara guru, teman sejawat atau kolaborator untuk merefleksi hasil siklus PTK.
3.5 Teknik Analisis Data
3.5.1 Skor Pilihan Ganda
Dalam menentukan skor pilihan ganda digunakan cara tanpa
hukuman, yaitu apabila banyaknya angka dihitung dari banyaknya jawan yang cocok
dengan kunci jawaban.

Rumus : S = R
Keterangan :
S = skor
R = jawaban yang benar
1 = jawaban benar
0 = jawaban salah
(Suharsimi Arikunto, 2003 : 172)
3.5.2 Ketuntasan Hasil Belajar
Ketuntasan hasil belajar siswa setelah mengerjakan tes pada setiap siklus
pembelajaran disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini :
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
No.
1
2

Nilai Siswa
< 60

Jumlah Siswa

Persentasi

Jumlah

Keterangan
Belum tuntas
Tuntas

3.5.3 Nilai rata-rata Hasil Belajar Siswa

3.5.4 Nilai Rata-rata Kelas
Untuk menentukan nilai rata-rata kelas digunakan rumus :

Keterangan :
= Nilai rata-rata kelas

= Jumlah nilai hasil belajar seluruh siswa
= Jumlah siswa
3.5.5 Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Menentukan persentase ketuntasan klasikal belajar siswa menggunakan rumus :

Keterangan :
K = ketuntasan klasikal
Pengamatan terhadap kegiatan belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Setiap Siklus
No.

Aspek

1

Interaksi siswa
dengan guru selama
proses pembelajaran

2

3

4

5

Indikator

a. Melaksanakan
instruksi/perintah guru
b. Mendengarkan
penjelasan guru dengan
seksama
a. Berdiskusi
memecahkan masalah
Kegiatan siswa
dalam kelompok
dalam kelompok
b. Bekerjasama dalam
mengerjakan lembar
kerja siswa
a. Mensharing informasi
Interaksi antar
ke kelompok lain
sesama siswa selama b. Mensharing hasil
proses pembelajaran
kerjanya ke kelompok
lain
a. Mengajukan
Partisipasi siswa
pertanyaan
sebagai kelompok
b. Mengemukakan
lain
pendapat atau
menjawab pertanyaan
Motivasi dan
a. Antusias/semangat
kegairahan siswa
menyampaikan hasil
dalam belajar
yang mereka temukan

Kriteria Penilaian

Nilai 20, jika dua
indikator msingmasing aspek
terpenuhi
NIlai 10, jika satu
indikator masingmasing aspek
terpenuhi
Nilai 0, jika tidak
ada masing-masing
aspek yang
terpenuhi

dari kelompok lain
b. Bersegera terhadap
instruksi yang diberikan

3.6 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan adalah suatu kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat
keberhasilan dari kegiatan PTK dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu PBM di kelas.
Indikator keberhasilan harus realistik dan dapat diukur.
Indikator keberhasilan diharapkan dapat diperoleh pada setiap tahapan siklus yang
diterapkan kepada siswa selama penelitian berlangsung. Indikator dalam penelitian tindakan
kelas ini dikatakan berhasil apabila siswa secara individual telah mencapai nilai Kritera
Ketuntasan Minimal (KKM) sama dengan 60 atau lebih dan secara klasikal dikatakan tuntas
dalam kegiatan belajarnya jika terdapat lebih dari 80% dari keseluruhan siswa yang
mendapat nilai atau sama dengan nilai KKM 60.
3.7 Langkah-Langkah Penelitian
Dalam pelaksanaannya penulis menggunakan dua siklus sebagai dasar penelitian tindakan
kelas. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dengan alokasi waktu 3 x 35 menit. Penelitian
ini menggunakan model penelitian tindakan kelas menurut Kurt Lewin yang terdiri dari
empat komponen, yaitu :
1. Tahap Perencanaan (Planning)
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan (Action)
3. Tahap Pengamatan (Observation)
4. Tahap Refleksi (Reflection)
Tahapan tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan prapenelitian
dan pelaksaanaan penelitian.

3.7.1 Tahap Prapenelitian Siklus I
Sebelum melaksanakan penelitian, diadakan kegiatan prapenelitian yang langkahlangkahnya sebagai berikut :
1.

Membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing
kelompok terdiri dari 5-6 orang.

2.

Menjelaskan tentang proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, tugas
dan kewajiban, serta tanggung jawab siswa selama proses pembelajaran.

3.

Melaksanakan tes kepada siswaterutama untuk mengukur kemampuan
awal siswa.

3.7.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian Siklus I
Pada tahap pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua siklus. Setiap
siklusterdiri dari dua pertemuan.
Adapun prosedur pelaksanaannya sebagai berikut :
1. Perencanaan adalah persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan penelitian
tindakan kelas, antara lain :
a.

Menganalisis silabus/Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

b.

Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

c.

Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses
pembelajaran di kelas.

d.

Membuat lembar analisis pencapaian observasi aktivitas dan hasil belajar
siswa untuk mengetahui sejauhmana pencapaian aktivitas dan hasil belajar
serta ketuntasan belajar pada setiap indikator.

e.

Membuat lembar observasi aktivitas siswa.

f.

Membuat soal tes untuk melihat hasil yang telah dilakukan dalam proses
pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan

tindakan

dilaksanakan

sesuai

dengan

rencana

pelaksanaan

pembelajaran yang telah dibuat dengan menggunakan model pembelajaran
contextual teaching and learning. Secara garis besar prosedur yang dilakukan
adalah pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
a.

Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan diawali dengan memotivasi siswa dan
membangun suasana belajar yang penuh semangat, melakukan apersepsi
dengan cara mengingatkan kembali materi pelajaran yang telah diberikan
melalui tanya jawab, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan mengajak
siswa bernyanyi.

b.

Kegiatan Inti
1)

Penyajian Materi
Penyajian materi dilakukan secara klasikal dalam waktu lebih kurang
15 menit s.d. 20 menit dari waktu yang tersedia. Penyajian materi
meliputi pokok-pokok materi secara garis besar.

2)

Belajar dalam Kelompok
Setelah materi diberikan, siswa dikelompokkan dalam kelompokkelompok kecil yang telah ditentukan. Masing-masing kelompok
diberi waktu untuk mencari bahan bacaan dan diberikan lembar

oservasi serta membahasnya dengan cara bekerjasama serta saling
berdiskusi dengan kelompok mereka.
3)

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Selama proses pembelajaran, masing-masing kelompok diminta untuk
mencari bahan bacaan dan membacanya serta menceritakan kembali
dengan kata-kata sendiri. Kemudian masing-masing kelompok diminta
untuk mengamati kondisi cuaca yang terjadi pada hari ini dan
mendiskusikannya dengan mengisi tabel pengamatan.

4)

Pembahasan lembar observasi
Masing-masing kelompok lalu membahas hasil diskusinya dengan
bimbingan dari guru.

c.

Penutup
Setelah kegiatan inti selesai, guru melakukan refleksi dengan
menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dalam kegiatan
ini guru juga memberikan pujian kepada masing-masing kelompok yang
dapat menceritakan kembali hasil temuannya.

3. Pengamatan
a.

Pada

tahap

ini

peneliti

melakukan

pengamatan

terhadap

proses

pembelajaran yang dilaksanakan. Kemudian mengamati kegiatan siswa
dengan menggunakan lembar pengamatan (observasi) siswa yang telah
dipersiapkan. Pengamatan ditujukan pada kegiatan belajar siswa dan hasil
belajar siswa yang masing-masing dicatat melalui lembar pengamatan yang
telah disediakan.

b.

Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

c.

Selain itu dilakukan pemotretan untuk mendokumentasikan kejadiankejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.

4.

Refleksi
a.

Menganalisis data pada waktu melakukan pengamatan, analisis dilakukan
dengan cara membandingkan hasil yang telah dicapai dengan indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya.

b.

Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model
pembelajaran contextual teaching and learning.

c.

Hasil analisis data dijadikan sebagai bahan untuk membuat perencanaan
tindakan baru jika pembelajaran belum berhasil pada tahap berikutnya.

\
3.7.3 Tahap Prapenelitian Siklus II
Sebelum melaksanakan penelitian, diadakan kegiatan prapenelitian yang langkahlangkahnya sebagai berikut :
1.

Membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengn masing-masing
kelompok terdiri dari 5-6 orang.

2.

Menjelaskan tentang proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, tugas
dan kewajiban, serta tanggung jawab siswa selama proses pembelajaran.

3.

Melaksanakan tes kepada siswaterutama untuk mengukur kemampuan
awal siswa.

3.7.4 Tahap Pelaksanaan Penelitian Siklus II

Pada tahap pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua siklus. Setiap siklus
terdiri dari dua pertemuan.
Adapun prosedur pelaksanaannya sebagai berikut :
1. Perencanaan adalah persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan penelitian
tindakan kelas, antara lain :
a.

Menganalisis silabus/Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

b.

Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

c.

Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses
pembelajaran di kelas.

d.

Mempersiapkan alat peraga berupa gambar untuk membantu siswa
memahami materi pelajaran.

e.

Membuat lembar analisis pencapaian observasi aktivitas siswa dan hasil
belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana pencapaian aktivitas dan hasil
belajar serta ketuntasan belajar pada setiap indikator.

2. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah dibuat dengan menggunakan model pembelajaran
contextual teaching and learning. Secara garis besar prosedur yang dilakukan
adalah pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
a.

Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan diawali dengan memotivasi siswa
dan membangun suasana belajar yang penuh semangat, melakukan apersepsi
dengan cara mengingatkan kembali materi pelajaran yang telah diberikan

melalui tanya jawab, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan mengajak
siswa bernyanyi.
b.

Kegiatan Inti
1)

Penyajian Materi
Penyajian materi dilakukan secara klasikal dalam waktu lebih kurang
15 menit s.d. 20 menit dari waktu yang tersedia. Penyajian materi
meliputi pokok-pokok materi secara garis besar.

2)

Belajar dalam Kelompok
Setelah materi diberikan, siswa dikelompokkan dalam kelompokkelompok kecil yang telah ditentukan. Masing-masing kelompok
diberi waktu untuk mencari bahan bacaan dan membahasnya dengan
cara bekerjasama serta saling berdiskusi dengan kelompok mereka.

3)

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Selama proses pembelajaran, masing-masing kelompok diminta untuk
mencari bahan bacaan dan membacanya serta menceritakan kembali
dengan kata-kata sendiri. Kemudian masing-masing kelompok diminta
untuk menjumlahkan korban peristiwa alam tersebut kedalam bentuk
pecahan.

c.

Penutup
Setelah kegiatan inti selesai, guru melakukan refleksi dengan menyimpulkan
hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dalam kegiatan ini guru juga
memberikan

pujian

kepada

masing-masing

menceritakan kembali hasil temuannya.

kelompok

yang

dapat

3. Pengamatan
a.

Pada

tahap

ini

peneliti

melakukan

pengamatan

terhadap

proses

pembelajaran yang dilaksanakan. Kemudian mengamati kegiatan siswa
dengan menggunakan lembar observasi siswa yang telah dipersiapkan.
Pengamatan ditujukan pada aktivitas siswa dan hasil belajar siswa yang
masing-masing dicatat melalui lembar observasi (pengamatan) yang telah
disediakan.
b.

Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

c.

Selain itu dilakukan pemotretan untuk mendokumentasikan kejadiankejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.

4. Tahap refleksi
a.

Menganalisis data pada waktu melakukan pengamatan, analisis dilakukan
dengan cara membandingkan hasil yang telah dicapai dengan indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya.

b.

Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model
pembelajaran contextual teaching and learning.

c.

Hasil analisis data dijadikan sebagai bahan untuk membuat perencanaan
tindakan baru jika pembelajaran belum berhasil pada tahap berikutnya.

3.8 Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes
Instrumen

yang

digunakan dalam penelitian ini adalah testpilihan ganda yang

dilaksanakan pada setiap akhir siklus I dan siklus II dalam proses pembelajaran.

2. Lembar observasi : untuk mengamati aktivitas belajar siswa.
3. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar kerja siswa digunakan untuk membantu guru dalam proses pembelajaran dan
membantu siswa dalam memahami materi pelajaran.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang dilakukan pada kelas III SD Negeri
2 Pringsewu Timur, maka dapat diperoleh kesimpulan antara lain :
1. Penggunaan model pembelajaran contextual teaching and learning dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran tematik kelas III
SD Negeri 2 Pringsewu Timur tahun pelajaran 2012/2013.
2. Penggunaan model pembelajaran contextual teaching and learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik kelas III SD
Negeri 2 Pringsewu Timur tahun pelajaran 2012/2013.
3. Hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik terus mengalami
peningkatan yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar
siswa yang dilaksanakan pada siklus I dengan tema “Pendidikan” untuk
pertemuan ke-1 mencapai rata-rata 64,81 dan siklus I pertemuan ke-2
mencapai rata-rata sebesar 65,56. Sedangkan pada siklus II pertemuan
ke-1 dengan tema “peristiwa Alam” mencapai rata-rata 71,48 dan siklus
II pertemuan ke-2 mencapai rata-rata sebesar 80,74.

5.2 Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan, yaitu sebagai berikut :
1. Para guru yang mengajar dikelas rendah seperti kelas I, II dan III dapat lebih
meningkatkan

proses

pembelajarannya dengan

memberikan penguatanuntuk

memotivasi siswa dalam belajar dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
2. Untuk membantu siswa dalam memahami materi pelajaran, sebaiknya guru menggunakan
model pembelajaran contextual teaching and learning. Karena model pembelajaran
contextual teaching and learning dapat membantu siswa untuk menemukan materi yang
dipelajari dan berhubungan dengan situasi kehidupan nyata.
3. Guru meningkatkan proses pembelajarannya dengan menggunakan model pembelajaran
aktif agar hasil belajarnya dapat meningkat.

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN
TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND
LEARNING (CTL) PADAKELAS III
SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN
PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
(SKRIPSI)

Oleh
WARSINI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN
TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND
LEARNING (CTL) PADAKELAS III
SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR
KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2012/2013

Oleh
WARSINI
Skripsi
Sebagai Salah SatuSyaratuntukMencapaiGelar
Sarjana Pendidikan
Pada
Program Studi PGSD Strata 1 Dalam Jabatan
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

1.

KerangkaPikirPenelitian .........................................................................

22

2.

Siklus PTK Menurut Kurt LewindenganDuaSiklus ..............................

24

3.

Model PTK Menurut Kurt Lewin .........................................................

25

4.

Grafik Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II .............................................

63

5.

Simbol Berbagai Keadaan Cuaca ........................................................

82

6.

PeristiwatentangCuaca............................................................................

93

7.

PeristiwaAlam.........................................................................................

108

Halaman
HALAMAN JUDUL

................................................................................

ABSTRAK .................................................................................................

i
ii

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................

iv

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................

v

HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................

vi

HALAMAN RIWAYAT HIDUP................................................................

vii

HALAMAN MOTTO ................................................................................

viii

HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................

ix

KATA PENGANTAR ................................................................................

x

DAFTAR ISI................................................................................................

xi

DAFTAR TABEL........................................................................................

xiv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

xvi

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah ..............................................................1

1.2

Identifikasi Masalah .................................................

Dokumen yang terkait

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SEMESTER GENAP SD NEGERI 3 REJOSARI KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2012

0 5 65

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SCRAMBLE DENGAN PENDEKATAN TEMATIK KELAS I SEMESTER GENAP SD NEGERI 3 REJOSARI KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2012

0 5 116

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN TEMATIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA KELAS III SD NEGERI 2 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 25 61

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 SINAR SEMENDO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 8 48

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS V SD NEGERI 3 BOJONG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 4 55

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS EKONOMI MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VIII 5 SEMESTER GANJIL SMP NEGERI 2 PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2009/2010

0 4 18

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS V SD NEGERI GUNUNG MULYO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 46

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMATIK MELALUI PENERAPAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA KELAS III A SD NEGERI 1 PRINGSEWU BARAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 6 53

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KELAS IV SD NEGERI 2 PAJARAGUNG KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 46

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 PRINGSEWU BARAT KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 47

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3873 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1029 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1319 23