2.2.3 Patofisiologi Sumber penularan TB adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk
atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak droplet nuclei. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak Depkes RI, 2007. Seseorang akan terinfeksi kuman TB jika
menghirup droplet yang mengandung kuman TB. Kuman tersebut akan mencapai alveoli paru, yang kemudian akan ditangkap oleh makrofag dan
selanjutnya dapat tersebar ke seluruh tubuh. Orang yang terinfeksi kuman TB dapat menjadi sakit TB bila kondisi daya tahan tubuhnya menurun. Sebagian
kuman TB akan dorman dan tetap hidup sampai bertahun-tahun dalam tubuh manusia. Seseorang yang baru terinfeksi biasanya asimptomatik tanpa gejala
Kemenkes RI, 2012.
Fase pertama adalah fase TB primer. Setelah masuk ke paru, basil
berkembang biak tanpa menimbulkan reaksi pertahanan tubuh. Sarang pertama ini disebut afek primer. Basil kemudian masuk ke kelenjar limfe di
hilus paru dan menyebabkan limfadenitis regionalis. Reaksi yang khas adalah terjadinya granuloma sel epiteloid dan nekrosis kaseosa di lesi primer dan di
kelenjar limfe hilus. Afek primer dan limfadenitis regionalis ini disebut kompleks primer yang bisa mengalami resolusi dan sembuh tanpa
meninggalkan cacat, atau membentuk fibrosis Karnadihardja, 2004. Kompleks primer dapat mengalami komplikasi berupa penyebaran
milier melalui pembuluh darah dan penyebaran melalui bronkus. Penyebaran milier menyebabkan TB di seluruh paru-paru, tulang, meningen, dan lain-
lain, sedangkan penyebaran bronkogen langsung ke bronkus dan bagian paru. Penyebaran hematogen bersamaan dengan perjalanan TB primer ke paru
merupakan fase kedua. Infeksi ini dapat berkembang terus, dapat juga terjadi pembentukan jaringan parut dan basil TB selanjutnya mengalami dorman.
Fase ini yang disebut fase laten, fase 3. Basil yang dorman bisa terdapat di tulang panjang, vertebra, tuba fallopii, otak, kelenjar limfe hilus dan leher,
serta di ginjal. Kuman ini bisa tetap dorman selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup infeksi laten, tetapi bisa mengalami reaktivasi bila terjadi
perubahan keseimbangan daya tahan tubuh, misalnya pada infeksi HIV. Fase keempat dapat terjadi di paru atau di luar paru. Dalam perjalanan selanjutnya,
proses ini dapat sembuh tanpa cacat, sembuh dengan meninggalkan fibrosis dan kalsifikasi, membentuk kavitas kaverne, bahkan dapat menyebabkan
bronkiektasis melalui erosi bronkus Karnadihardja, 2004.
2.2.4 Pengobatan TB