Perbedaan Gangguan Tidur Pada Remaja Urban dan Suburban

PERBEDAAN GANGGUAN TIDUR PADA REMAJA
URBAN DAN SUBURBAN

TESIS

NUR’AINI
087103002/IKA

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIS - SPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERBEDAAN GANGGUAN TIDUR PADA REMAJA
URBAN DAN SUBURBAN

TESIS

Untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik di Bidang
Ilmu Kesehatan Anak / M. Ked (Ped) Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

NUR’AINI
087103002/IKA

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK – SPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: Perbedaan Gangguan Tidur Pada Remaja
Urban dan Suburban

Nama

: Nur’aini

Nomor Induk Mahasiswa : 087103002
Program Magister

: Magister Kedokteran Klinik

Konsentrasi

: Kesehatan Anak

Menyetujui,
Komisi Pembimbing
Ketua

Dr. Sri Sofyani, SpA(K)

Anggota

Dr. Supriatmo, SpA(K)

Ketua Program Studi

Ketua TKP PPDS

dr. Melda Deliana, SpA(K)

dr. H. Zainuddin Amir, SpP(K)

Tanggal lulus: 25 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PERBEDAAN GANGGUAN TIDUR PADA REMAJA
URBAN DAN SUBURBAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di
suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan
oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 25 Agustus 2011

Nur’aini

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 25 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: dr. Sri Sofyani, SpA(K)

……………

Anggota

: dr. Supriatmo, SpA(K)

……………

Elvi Andriani Yusuf, MSi (Psi)

..………......

dr. Tiangsa Sembiring, SpA(K)

.…………...

dr. Yazid Dimyati, SpA(K)

……………

Tanggal lulus: 25 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia dan kasihNya kepada penulis, hingga tesis ini dapat diselesaikan sesuai jadwal
yang telah direncanakan.
Tesis ini dibuat sebagai tugas akhir, sekaligus untuk memenuhi
persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan pada Magister Kedokteran
Klinik Konsentrasi Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara / RSUP H. Adam Malik Medan.
Penulis menyadari penelitian dan penulisan tesis ini masih jauh dari
kesempurnaan

sebagaimana

yang

diharapkan.

Kekurangan

dan

kelemahan menjadi pelajaran berharga bagi penulis, oleh karena itu
segala masukan, saran yang berharga serta kritik yang konstruktif dari
semua pihak akan diterima dengan lapang dada dan kerendahan hati,
demi perbaikan tesis ini ke arah yang lebih baik di masa yang akan
datang.
Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan
penghargaan yang setinggi-tingginya dan menghaturkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Pembimbing utama dr. Sri Sofyani, SpA(K), dan Pembimbing II dr.
Supriatmo, SpA(K), yang telah bersusah payah di sela-sela
kesibukan waktunya memberikan bimbingan, arahan,

saran dan

Universitas Sumatera Utara

kritik berharga mulai dari tahap awal penelitian hingga penyelesaian
penulisan tesis ini.
2. Team penguji Ibu Elvi Andriani Yusuf, Msi(Psi), dr. Tiangsa Sembiring,
SpA(K) dan dr. Yazid Dimyati SpA(K), yang juga telah banyak
memberi masukan, arahan, saran dan kritik berharga dan konstruktif
selama proses penelitian dan penulisan tesis ini berlangsung.
3.

Prof. dr. H. Munar Lubis, SpA(K), selaku Ketua Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
dan dr. Siska Mayasari Lubis, M.Ked (Ped) SpA, selaku Sekretaris
Departeman Ilmu Kesehatan Anak yang telah banyak membantu
dalam penyelesaian tesis ini.

4. Prof. dr. H. Chairuddin P Lubis, DTM&H, Sp.A(K), yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program
Pendidikan

Dokter

Spesialis

Anak

di

Fakultas

Kedokteran

Universitas Sumatera Utara.
5. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
DTM&H, MSc(CTM), SpA(K), dan Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara Prof. dr. Gontar A. Siregar, SpPD,
KGEH, yang juga telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak di
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
6. dr. Melda Deliana, SpA(K), selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Universitas Sumatera Utara

Utara dan dr. Beby Sofyani M.Ked (Ped), SpA yang telah
memberikan banyak bantuan dan pengarahan selama masa
penelitian hingga penyelesaian penulisan tesis ini.
7. Seluruh Staf Pengajar di Departemen Ilmu kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP H. Adam Malik
Medan, yang telah mendidik penulis dalam perkuliahan dan juga
telah memberikan sumbangan pemikiran selama masa penelitian
dan penyelesaian penulisan tesis ini berlangsung.
8. Para kepala sekolah dan guru-guru Sekolah Menengah Pertama
(SMP), meliputi SMP yang di suburban yaitu SMP 31 Lau Chi
kecamatan Medan Tuntungan dan SMP di urban yaitu SMP GPKI
dan SMP Syafiyyatul Amaliyah di kecamatan Medan Baru yang telah
memberikan izin dan fasilitas pada penelitian ini sehingga dapat
terlaksana dengan baik.
9. Teman-teman PPDS periode 2008 yang tidak mungkin dapat saya
lupakan yang telah membantu saya dalam pendidikan, penelitian dan
penyelesaian tesis ini, Linawati, Arida Muriani Lubis, Winra Pratita,
Masitha Sri Wahyuni, Hafaz Z.A, Marlisye Marpaung, Merina Daulay,
Hendri Wijaya, Mars Nasrah Abdullah, Sriyanti Harahap , Ifo Fauziah
Sihite, Windya Sari Nasution, dan Ade Amelia yang selama dua
setengah tahun bersama-sama dalam suka dan duka serta teman
sejawat PPDS DIKA dan semua pihak yang telah memberikan
bantuan dalam terlaksananya penelitian serta penulisan tesis ini.

Universitas Sumatera Utara

10. Pemerintah Aceh Tamiang dan segenap jajarannya, yang telah
memberikan bantuan dalam penelitian dan penyelesaian tesis ini.
11.

Kepada Yayasan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nanggro
Aceh Darussallam, yang telah memberikan bantuan dalam penelitian
dan penyelesaian tesis ini.

12. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang
telah memberikan bantuan dalam terlaksananya penelitian serta
penulisan tesis ini.
Teristimewa untuk suami tercinta Erie Widyanto, ST, terima kasih
atas doa, pengertian, dukungan dan pengorbanan tanpa kenal lelah yang
telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan. Mudah-mudahan
Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, rezeki, dan karunia Nya
buat kita semua.
Kepada yang tercinta orangtua Alm Usman Simangunsong dan Upik
Panjaitan serta kakak dan adik – adik Dra Nur’aisyah, Nurhafni SE, Sri
Ramadhani Amd, Ivana US Amd dan M. Ridwan Syahputra serta mertua
tercinta Drs Huddy Sumantri dan Rury Siti Siswati dan adik- adik yang
selalu mendoakan, memberikan dorongan, bantuan moril dan materil
selama penulis mengikuti pendidikan ini. Terima kasih atas doa,
pengertian, dan dukungan selama penulis menyelesaikan pendidikan ini.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kasih sayang dan
karuniaNya kepada

kita semua dan segala

budi

baik yang telah

Universitas Sumatera Utara

diberikan mendapat

balasan yang setimpal dari Allah Yang Maha

Kuasa.
Akhirnya penulis menyadari bahwa

penulisan tesis ini masih

sangat banyak kelemahan dan kekurangan, izinkanlah penulis mohon
maaf

yang setulus-tulusnya atas kesalahan dan kekurangan, semoga

segala bantuan, dorongan, bimbingan yang diberikan kiranya mendapat
balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, dan penulis berharap
semoga penelitian dan tulisan ini dapat membawa manfaat bagi kita
semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Medan, 25 Agustus 2011
Penulis

Nur’aini

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Lembaran Persetujuan
Lembaran Pernyataan
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Singkatan
Daftar Lambang
Abstrak

Halaman
iii
iv
vi
xi
xiii
xiv
xv
xvi
xvii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Hipotesis
1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Manfaat Penelitian

1
4
4
4
4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pola Tidur Normal Pada Remaja
2.2. Remaja
2.3. Gangguan Tidur
2.3.1. Defenisi Gangguan Tidur
2.3.2. Epidemiologi Gangguan Tidur
2.3.3. Klasifikasi Gangguan Tidur
2.3.4. Etiologi dan Faktor Risiko
2.3.5. Dampak Gangguan Tidur pada Remaja
2.3.6. Diagnosis
2.3.7. Tatalaksana
2.4. Pengertian Urban dan Suburban
2.5. Kerangka Konsep

BAB 3. METODOLOGI
3.1. Desain Penelitian
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
3.3. Populasi dan Sampel
3.4. Besar Sampel
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.5.1. Kriteria Inklusi
3.5.2. Kriteria Eksklusi
3.6. Persetujuan / Informed Consent
3.7. Etika Penelitian
3.8. Alat ukur

6
7
8
8
9
10
12
13
16
17
19

20
20
20
21
22
22
22
22
22

Universitas Sumatera Utara

3.9.

Cara Kerja dan Alur Penelitian
3.9.1. Cara Kerja
3.9.2. Alur Penelitian
3.10. Identifikasi Variabel
3.11. Definisi Operasional
3.12. Pengolahan dan Analisis Data

23
24
24
25
32

BAB 4. HASIL
4.1. Hasil Penelitian

33

BAB 5. PEMBAHASAN
5.1. Pembahasan

39

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan Penelitian
6.2. Saran

43
43

RINGKASAN

44

SUMMARY

45

DAFTAR PUSTAKA

46

LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Komite Etik Fakultas Kedokteran
Jadwal Penelitian
Personil Penelitian
Perkiraan Biaya
Lembar Penjelasan
Persetujuan Setelah Penjelasan
Lembaran Kuisioner Skala Gangguan Tidur
Riwayat Hidup

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Karakteristik sampel penelitian

35

Tabel 4.2. Kategori klinis tidur urban dan suburban

35

Tabel 4.3. Jenis gangguan tidur pada urban dan suburban

36

Tabel 4.4. Faktor yang mempengaruhi gangguan tidur urban dan

37

suburban

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka konseptual

19

Gambar 4.1. Profil penelitian

34

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

SDSC
FK-USU
PPDGJ III

: Sleep Disturbance Scale for Children
: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
Edisi ke-3
GPKI
: Gereja Kristen Protestan Indonesia
REM
: Rapid Eye Movement
NREM
: Non-rapid Eye Movement
WHO
: Word Health Organization
SMU
: Sekolah Menengah Umum
SMP
: Sekolah Menengah Pertama
SPSS
: Statistical Package for Social Sciense
DSM IV-TR : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
Fourth Edition, Text Revision

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMBANG


n1
n2
P
P1
P2
Q
Q1
Q2
Z
Z
P
>
<



:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Kesalahan tipe I
Kesalahan tipe II
Jumlah subjek / sampel urban (kelompok I)
Jumlah subjek/ sampel suburban (kelompok II)
Proporsi
Proporsi gangguan tidur kelompok I
Proporsi gangguan tidur kelompok II
1–P
1 – P1
1 – P2
Deviat baku normal untuk 
Deviat baku normal untuk 
Tingkat kemaknaan
Lebih besar dari
Lebih kecil dari
Lebih besar atau sama dengan dari
Lebih kecil atau sama dengan dari

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan masalah yang banyak
dialami oleh remaja yang dipengaruhi berbagai faktor baik medis maupun
non-medis. Perbedaan tingkat sosial ekonomi keluarga, gaya hidup, dan
lingkungan urban dan suburban dapat mempengaruhi pola tidur pada
remaja. Proses modrenisasi di urban dimana media tehnologi informasi
semakin berkembang, dan kurangnya pemantaun orangtua terhadap
remaja mengakibatkan terjadinya perubahan pola tidur pada remaja,
sehingga terjadi gangguan tidur. Gangguan tidur dapat mengganggu
pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan perkembangan sosial. Masih
terbatasnya penelitian mengenai gangguan tidur pada remaja.
Tujuan: Mengetahui perbedaan gangguan tidur pada remaja urban dan
suburban serta faktor yang paling mempengaruhinya.
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Mei
sampai Juni 2010 di SMP Syaffiyatul Amaliyah dan GPKI (Gereja
Protestan Kristen Indonesia) Kecamatan Medan Baru sebagai daerah
urban dan SMPN 31 Lau chih Kecamatan Tuntungan sebagai daerah
suburban di Medan, Propinsi Sumatera Utara. Sampel dipilih secara
consecutive sampling yaitu remaja SMP usia 12 sampai 15 tahun yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian.
Gangguan tidur pada remaja dinilai dengan menggunakan SDSC (Sleep
Disturbances Scale for Children) dan kuesioner faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya gangguan tidur. Analisis yang digunakan
adalah uji t independen dan uji kai-kuadrat.
Hasil: Sebanyak masing - masing 350 remaja urban dan suburban yang
mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun. Pada
penelitian ini didapati remaja yang mengalami gangguan tidur di urban
133(38%), borderline 182 (52%), normal atau tidak mengalami gangguan
tidur 35 (10%) dan suburban 132 (37,7%), borderline 180 (51.4%), normal
38 (10.9%) dengan (P 0.195) Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya
gangguan tidur di urban dan suburban adalah suara bising yang berasal
dari lingkungan (P 0.001) dan minum minuman yang mengandung kafein
(P 0.001). Berdasarkan kuesioner SDSC adanya perbedaan dari jenis
gangguan tidur antara urban dan suburban.
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan gangguan tidur antara remaja urban
dan suburban tetapi berdasarkan SDSC didapati perbedaan jenis
gangguan tidur antara urban dan suburban. Faktor yang paling
mempengaruhi terjadinya gangguan tidur urban dan suburban adalah
suara bising dan kafein.
Kata kunci: Remaja, urban, suburban, gangguan tidur, kuesioner
gangguan tidur.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Background: Sleep disturbances commonly occur in adolescents.
Disparities of family’s socioeconomic levels, life style, and urban-suburban
environment have an influence on the sleep pattern of adolescents. The
modernization process in urban environment is marked by the
development of information technology media and lack of parental
monitoring in adolescents resulted in the incident of sleep disturbances
among them. Sleep disturbances can affect physical growth, emotional,
cognitive, and social development. This study was conducted considering
limited studies on sleep disturbances in adolescents.
Objective: To determine the differences on sleep disturbances in urban
and suburban adolescents and to find out the most influencing factors in
the incident of sleep disturbance.
Methods: A cross-sectional study was conducted on the 12 to 15 years
junior high school students in urban (n=350) and suburban (n=350)
environments in the city of Medan, Sumatera Utara, who met the inclusion
and exclusion criteria. The screening test for sleep disturbances screening
using SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children) was done from May
to June 2010. SDSC was a set questionaire filled out by the parents based
on what they remember about their children’s sleep pattern for the last 6
months. The data obtained were analyzed through the independent t-test
and chi square tests.
Results: Urban adolescents experienced sleep disturbances were 133
(38%), borderline 182 (52%) and normal 35 (10%), while for the suburban adolescents 132 (37,7%), 180 (51,4%), 38 (10,9%) respectively (P
0.192). The most influencing factor of sleep disturbances in urban and
suburban were noisy that come from the near environment (P 0.001) and
drink that contain caffeine (P 0.001). Based on questionaires SDSC
differences of types of sleep disordesr among urban and suburban.
Conclusion: There were no differences in sleep disturbances between
the urban and sub-urban adolescents but based on the SDSC were found
diffrentences of types of sleep disorders among urban and suburban. The
most influencing factor in the incident of sleep disturbances for the urban
and sub-urban was noisy and caffeine.
Keywords:adolescents,urban,sub-urban,Sleep Disorders Questionnaire

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan masalah yang banyak
dialami oleh remaja yang dipengaruhi berbagai faktor baik medis maupun
non-medis. Perbedaan tingkat sosial ekonomi keluarga, gaya hidup, dan
lingkungan urban dan suburban dapat mempengaruhi pola tidur pada
remaja. Proses modrenisasi di urban dimana media tehnologi informasi
semakin berkembang, dan kurangnya pemantaun orangtua terhadap
remaja mengakibatkan terjadinya perubahan pola tidur pada remaja,
sehingga terjadi gangguan tidur. Gangguan tidur dapat mengganggu
pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan perkembangan sosial. Masih
terbatasnya penelitian mengenai gangguan tidur pada remaja.
Tujuan: Mengetahui perbedaan gangguan tidur pada remaja urban dan
suburban serta faktor yang paling mempengaruhinya.
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Mei
sampai Juni 2010 di SMP Syaffiyatul Amaliyah dan GPKI (Gereja
Protestan Kristen Indonesia) Kecamatan Medan Baru sebagai daerah
urban dan SMPN 31 Lau chih Kecamatan Tuntungan sebagai daerah
suburban di Medan, Propinsi Sumatera Utara. Sampel dipilih secara
consecutive sampling yaitu remaja SMP usia 12 sampai 15 tahun yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian.
Gangguan tidur pada remaja dinilai dengan menggunakan SDSC (Sleep
Disturbances Scale for Children) dan kuesioner faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya gangguan tidur. Analisis yang digunakan
adalah uji t independen dan uji kai-kuadrat.
Hasil: Sebanyak masing - masing 350 remaja urban dan suburban yang
mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun. Pada
penelitian ini didapati remaja yang mengalami gangguan tidur di urban
133(38%), borderline 182 (52%), normal atau tidak mengalami gangguan
tidur 35 (10%) dan suburban 132 (37,7%), borderline 180 (51.4%), normal
38 (10.9%) dengan (P 0.195) Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya
gangguan tidur di urban dan suburban adalah suara bising yang berasal
dari lingkungan (P 0.001) dan minum minuman yang mengandung kafein
(P 0.001). Berdasarkan kuesioner SDSC adanya perbedaan dari jenis
gangguan tidur antara urban dan suburban.
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan gangguan tidur antara remaja urban
dan suburban tetapi berdasarkan SDSC didapati perbedaan jenis
gangguan tidur antara urban dan suburban. Faktor yang paling
mempengaruhi terjadinya gangguan tidur urban dan suburban adalah
suara bising dan kafein.
Kata kunci: Remaja, urban, suburban, gangguan tidur, kuesioner
gangguan tidur.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Background: Sleep disturbances commonly occur in adolescents.
Disparities of family’s socioeconomic levels, life style, and urban-suburban
environment have an influence on the sleep pattern of adolescents. The
modernization process in urban environment is marked by the
development of information technology media and lack of parental
monitoring in adolescents resulted in the incident of sleep disturbances
among them. Sleep disturbances can affect physical growth, emotional,
cognitive, and social development. This study was conducted considering
limited studies on sleep disturbances in adolescents.
Objective: To determine the differences on sleep disturbances in urban
and suburban adolescents and to find out the most influencing factors in
the incident of sleep disturbance.
Methods: A cross-sectional study was conducted on the 12 to 15 years
junior high school students in urban (n=350) and suburban (n=350)
environments in the city of Medan, Sumatera Utara, who met the inclusion
and exclusion criteria. The screening test for sleep disturbances screening
using SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children) was done from May
to June 2010. SDSC was a set questionaire filled out by the parents based
on what they remember about their children’s sleep pattern for the last 6
months. The data obtained were analyzed through the independent t-test
and chi square tests.
Results: Urban adolescents experienced sleep disturbances were 133
(38%), borderline 182 (52%) and normal 35 (10%), while for the suburban adolescents 132 (37,7%), 180 (51,4%), 38 (10,9%) respectively (P
0.192). The most influencing factor of sleep disturbances in urban and
suburban were noisy that come from the near environment (P 0.001) and
drink that contain caffeine (P 0.001). Based on questionaires SDSC
differences of types of sleep disordesr among urban and suburban.
Conclusion: There were no differences in sleep disturbances between
the urban and sub-urban adolescents but based on the SDSC were found
diffrentences of types of sleep disorders among urban and suburban. The
most influencing factor in the incident of sleep disturbances for the urban
and sub-urban was noisy and caffeine.
Keywords:adolescents,urban,sub-urban,Sleep Disorders Questionnaire

Universitas Sumatera Utara

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Remaja adalah suatu fase tumbuh kembang yang memiliki karakteristik
adanya perubahan penting dalam fungsi kognitif, perilaku, sosial, dan
emosional sesuai perkembangan biologis, serta adanya fungsi dan
tuntutan baru dalam lingkungan keluarga maupun sosial. Pada remaja
terdapat perubahan dramatis dalam pola tidur-siaga selama remaja,
termasuk berkurangnya durasi tidur, tertundanya waktu tidur, dan
bertambahnya perbedaan pola tidur pada hari kerja dan akhir pekan.
Kualitas tidur pada remaja juga cenderung berkurang.1
National Institute of Health menyimpulkan bahwa remaja adalah
kelompok

beresiko

tinggi

mengalami

gangguan

tidur.2 Prevalensi

gangguan tidur pada remaja dari berbagai penelitian menunjukan hasil
yang bervariasi. Liu dkk mendapatkan 21,2% anak usia 2 sampai 12 tahun
di Beijing mengalami gangguan tidur.3 Penelitian Ohida dkk terhadap
siswa SMP dan SMU menunjukkkan prevalensi gangguan tidur bervariasi
mulai 15,3% hingga 39,2% bergantung pada jenis gangguan tidur yang
dialami.4 Di Indonesia belum terdapat penelitian epidemiologi mengenai
gangguan tidur pada remaja.
Gangguan tidur merupakan suatu kumpulan kondisi yang dicirikan
dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas atau waktu tidur pada
seorang individu.5 Gangguan tidur dapat mengganggu pertumbuhan fisik,
emosional,

kognitif,

dan

sosial

seorang

remaja.

Fakta

tersebut

Universitas Sumatera Utara

menunjukkan besarnya kemungkinan masalah akademis, emosional,
kesehatan, dan perilaku pada remaja dapat dicegah atau diperbaiki
secara signifikan melalui intervensi yang memperbaiki kualitas dan
kuantitas tidur.1
Gangguan tidur pada remaja dipengaruhi berbagai faktor medis
maupun non-medis. Faktor-faktor non-medis yang mempengaruhi antara
lain jenis kelamin, pubertas, kebiasaan tidur, sosioekonomi, keluarga,
gaya hidup, dan lingkungan. Sedangkan faktor medis yang mempengaruhi
antara lain berbagai gangguan neuropsikiatri dan penyakit kronis seperti
asma dan dermatitis atopi.4,6,7
Diagnosis gangguan tidur pada remaja sulit ditegakkan, karena
keluhan gangguan tidur seringkali tidak disampaikan oleh remaja, selain
itu di usia remaja pola tidur tidak lagi menjadi pusat perhatian orang tua.
Hal tersebut menyebabkan gangguan tidur pada remaja seringkali tidak
terdeteksi, dan pada akhirnya tidak ditangani dengan baik. Uji tapis
gangguan tidur dapat dilakukan dengan bantuan berbagai metode, salah
satunya dengan Sleep Disturbances Scale for Children (SDSC). SDSC
merupakan kuesioner yang diisi oleh orangtua pasien dengan mengingat
pola tidur anak mereka dalam keadaan sehat selama 6 bulan terakhir.
Metode SDSC dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan tidur
dan juga jenis gangguan tidur yang dialami oleh anak usia 6 hingga 15
tahun. Metode ini dipakai karena prinsip analisis komponen yang kuat,

Universitas Sumatera Utara

normalitas yang distandarisasi, dan usia yang dipakai sesuai dengan usia
subjek yang diteliti.8,9
Berdasarkan pola jam sekolah, gaya hidup, dan pola aktivitas
remaja di luar jam sekolah, diperkirakan gangguan tidur merupakan
masalah yang banyak dialami oleh remaja. Oleh karena itu dilakukan
penelitian untuk mengetahui bagaimana gangguan tidur pada remaja dan
melihat apakah ada perbedaan gangguan tidur pada remaja di daerah
urban dan suburban. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pola
tidur dan jenis-jenis gangguan tidur yang dialami oleh remaja tersebut,
serta faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan tidur.
Perbedaan tingkat sosial ekonomi keluarga, gaya hidup dan
lingkungan urban dan suburban dapat mempengaruhi pola tidur pada
remaja. Proses modernisasi di urban dimana media tehnologi informasi
semakin berkembang dan kurangnya pemantauan orang tua terhadap
remaja mengakibatkan terjadinya perubahan pola tidur pada remaja yang
sehingga terjadi gangguan tidur.
Diharapkan dengan mengetahui besarnya masalah gangguan tidur
remaja di masyarakat beserta faktor-faktor yang berhubungan, dapat
dilakukan deteksi serta tatalaksana dini oleh petugas kesehatan terkait,
dan pada akhirnya kualitas hidup remaja dapat diperbaiki.

Universitas Sumatera Utara

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan
pertanyaan penelitian sebagai berikut:
-

Bagaimana prevalensi gangguan tidur pada remaja di urban?

-

Bagaimana prevalensi gangguan tidur pada remaja di suburban?

-

Apakah terdapat perbedaan gangguan tidur pada remaja di urban dan
suburban?

1.3. Hipotesis
Ada perbedaan gangguan tidur pada remaja di urban dan suburban

1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1.

Tujuan Umum : mengetahui perbedaan gangguan tidur pada
remaja urban dan suburban

1.4.2.

Tujuan Khusus :
-

mengetahui prevalensi gangguan tidur

-

mengetahui faktor yang paling mempengaruhi gangguan
tidur

1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Dibidang akademik/ilmiah : mengetahui prevalensi gangguan tidur
pada remaja di Medan.

Universitas Sumatera Utara

1.5.2. Dibidang

pelayanan

masyarakat

:

meningkatkan

pelayanan

kesehatan pada remaja yang mengalami ganguan tidur.
1.5.3. Dibidang pengembangan penelitian : dapat menjadi sumber
referensi mengenai gangguan tidur di kota Medan untuk penelitian
lainnya seperti dampak gangguan tidur terhadap prestasi belajar

Universitas Sumatera Utara

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pola Tidur Normal pada Remaja
Tidur merupakan suatu fenomena yang umum, terjadi kehilangan
kesadaran yang bersifat sementara dan merupakan suatu keadaan
fisiologik aktif yang ditandai dengan adanya fluktuasi yang dinamik pada
parameter susunan syaraf pusat, hemodinamik, ventilasi dan metabolik.10
Fase tidur terbagi menjadi dua macam yaitu rapid eye movement
(REM) dan non-rapid eye movement (NREM). Berdasarkan studi pola
gelombang otak NREM terbagi menjadi beberapa tingkat dimulai dari
keadaan mengantuk sampai tidur nyenyak. Tingkat awal (tingkat I dan II)
adalah mudah terbangun dan bahkan tidak menyadari bila sedang tertidur.
Tingkat lanjutan (tingkat III dan IV) ialah sangat sulit dibangunkan, dan
apabila dibangunkan akan disorientasi dan bingung.11
Kegunaan

tidur

belum

sepenuhnya

diketahui,

tetapi

tidur

merupakan proses penting dalam konsolidasi ingatan serta proses
penyembuhan. Lamanya kebutuhan tidur bervariasi antara tiap orang dan
sangat sulit untuk menilai berapa lama tidur yang dibutuhkan oleh
seseorang untuk dapat berfungsi optimal. 10
Pola tidur remaja perlu perhatian lebih karena berhubungan
pada performa sekolah. Pada 20 tahun terakhir ini, para peneliti
mengenai tidur menyadari perbedaan perubahan pola tidur pada
remaja. Perubahan tersebut ialah jam biologis remaja atau disebut
irama sirkadian. Pada permulaan masa pubertas, fase tidurnya menjadi

Universitas Sumatera Utara

telat. Untuk terjatuh tidur menjadi lebih malam dan bangun tidur lebih
telat pada pagi hari. Dan remaja tersebut lebih waspada pada malam
hari dan menjadi lebih susah tidur.12
Menurut penelitian remaja membutuhkan waktu 9 sampai 9.25 jam
untuk tidur dalam sehari. Namun nyatanya sekitar 8 jam sehari karena
pengaruh waktu sekolah. Waktu tidur dan bangun berdasarkan waktu
sekolah dan kehidupan sosial akan mengkontribusi pengurangan waktu
tidur pada remaja.13 Penelitian yang dilakukan oleh Iglowstein dkk13
terhadap anak di Swiss mendapatkan hasil bahwa anak usia 12 sampai
15 tahun memiliki rata-rata jumlah waktu tidur sebanyak 8,4 sampai 9,3
jam per hari. 14

2.2 Remaja
WHO mendefinisikan remaja (adolescent) sebagai individu berusia
10 sampai 19 tahun dan dewasa muda (youth) 15 sampai 24 tahun. Dua
kelompok umur yang tumpang-tindih ini digolongkan sebagai pemuda
(young people) yang mencakup usia 10 sampai 24 tahun.12 Secara garis
besar, fase remaja dibagi menjadi tiga periode penting, yaitu fase awal,
pertengahan, dan lanjut; yang masing-masing memiliki karakteristik dalam
hal biologis, psikologis, dan isu sosial.15 Berdasarkan Nelson dkk,
penggolongan fase remaja dibagi menjadi fase remaja awal, yaitu usia 10
sampai 13 tahun; fase remaja pertengahan, yaitu usia 14 sampai 16

Universitas Sumatera Utara

tahun; dan fase remaja lanjut, yaitu usia 17 samapi 20 tahun hingga
seterusnya. 15

2.3 Gangguan tidur
2.3.1 Defenisi Gangguan Tidur
Gangguan tidur merupakan suatu kumpulan kondisi yang dicirikan
dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada
seorang individu.5 Pada kelompok remaja, kurangnya durasi tidur juga
dapat terjadi akibat adanya perubahan gaya hidup. Kualitas tidur
inadekuat adalah fragmentasi dan terputusnya tidur akibat periode singkat
terjaga di malam hari yang sering dan berulang.16

2.3.2 Epidemiologi Gangguan Tidur
Studi yang dilaksanakan oleh Liu X dkk di SMU di provinsi
Shandong, Cina. Hasil studi menyatakan rata-rata lama tidur di malam
hari adalah 7,64 jam dan menurun dengan meningkatnya usia.17
Penelitian yang dilakukan oleh Johnson EO dkk pada remaja 13
hingga 16 tahun mengenai epidemiologi insomnia sesuai DSM-IV pada
remaja menunjukkan bahwa prevalensi insomnia adalah 10,7% dengan
usia median timbulnya insomnia adalah 11 tahun.18 Penelitian Halbower
dan Marcus yang menyatakan gangguan tidur yang paling banyak
ditemukan pada remaja adalah insomnia. 19

Universitas Sumatera Utara

2.3.3 Klasifikasi Gangguan Tidur
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia III WHO (PPDGJ III), gangguan tidur secara garis besar dibagi
dua, yaitu dissomnia dan parasomnia.20 Dissomnia merupakan suatu
kondisi psikogenik primer dengan ciri gangguan utama pada jumlah,
kualitas, atau waktu tidur yang terkait faktor emosional. Termasuk dalam
golongan ini antara lain adalah insomnia, hipersomnia, dan gangguan
jadwal tidur. Parasomnia merupakan peristiwa episodik abnormal yang
terjadi selama masa tidur. Termasuk dalam golongan ini adalah
somnabulisme, teror tidur, dan mimpi buruk. Penggolongan gangguan
tidur lain berdasarkan PPDGJ III adalah gangguan tidur organik,
gangguan nonpsikogenik termasuk narkolepsi dan katapleksi, apne waktu
tidur, gangguan pergerakan episodik termasuk mioklonus nokturnal, dan
enuresis.
Menurut

DSM

IV-TR

(American

Psychiatric

Association)20

gangguan tidur dibagi menjadi insomnia primer, hipersomnia primer,
narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernapasan,
gangguan tidur irama sirkadian, gangguan mimpi buruk, gangguan teror
tidur, gangguan tidur berjalan, gangguan tidur terkait kondisi medis, dan
gangguan tidur yang diinduksi zat.21 Sedangkan, Nelson dkk membuat
klasifikasi gangguan tidur spesifik pada anak dan remaja, karena pola
gangguan tidur pada anak berbeda dengan pola gangguan tidur pada
dewasa. Pola tidur mengalami perubahan yang progresif seiring

Universitas Sumatera Utara

bertambahnya usia; dari masa bayi, anak, hingga remaja; kearah pola
tidur dewasa, yaitu durasi tidur yang berkurang, siklus tidur yang lebih
panjang, dan berkurangnya waktu tidur siang.15

2.3.4 Etiologi dan Faktor Risiko
Gangguan tidur pada remaja dipengaruhi berbagai faktor baik
medis maupun nonmedis. Penelitian di Jepang oleh Ohida T dkk pada
tahun 2004 menunjukkan beberapa faktor risiko terjadinya gangguan tidur,
yaitu jenis kelamin perempuan, siswa tingkat SMU, dan gaya hidup yang
tidak sehat (stres psikologis, merokok dan minum alkohol).4 Penelitian di
Cina oleh Liu X pada tahun 2000 juga menunjukkan hal yang serupa.17
Pubertas sebagai salah satu ciri yang dialami oleh remaja juga
memberikan pengaruh terhadap timbulnya gangguan tidur. Hipersomnia
adalah lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa muda sedangkan
insomnia lebih umum terjadi pada orang dewasa.7 Pada analisis
eksploratif insomnia dan perkembangan pubertas oleh Johnson EO dkk18,
didapatkan hasil bahwa menstruasi meningkatkan risiko insomnia.
Anak perempuan mengalami gangguan tidur dan kelelahan di siang
hari lebih tinggi dari laki-laki. Hal ini diperkirakan karena perempuan
memiliki risiko lebih tinggi dalam mengalami kelelahan terkait pubertas,
prevalensi gangguan mental yang lebih tinggi serta lebih sensitif terhadap
masalah keluarga, dan tingginya tuntutan dalam kehidupan keluarga dan
pergaulan.22

Universitas Sumatera Utara

Patten

dkk

melakukan

penelitian

berbasis

populasi

secara

longitudinal dengan Teenage Attitudes and Practices Survey pada remaja
berusia 12 hingga 18 tahun untuk mengevaluasi faktor yang berkaitan
dengan perkembangan dan persistensi gangguan tidur pada remaja.23
Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin perempuan dan gejala depresi
yang jelas berhubungan dengan perkembangan, persistensi serta
frekuensi dari gangguan tidur. Merokok menunjukkan hubungan yang
bergantung dosis dalam perkembangan dan frekuensi gangguan tidur.
Kualitas tidur juga dapat dipengaruhi berbagai hal di lingkungan
sekitar. Rangsangan sensorik dari lingkungan seperti bunyi, cahaya,
pergerakan, dan bau dapat mempengaruhi inisiasi dan kualitas tidur.
Lokasi tidur juga mempengaruhi kualitas tidur seperti dikamar atau pada
transportasi umum. Hal lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah
keadaan sosial ekonomi dan lingkungan sekitar seperti kelembaban, suhu
dingin, kumuh, kepadatan dan bising.24
Johnson dkk25 melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan
antara menonton televisi dengan gangguan tidur pada remaja dan dewasa
muda dengan metode penelitian prostektif longitudinal dengan cara
wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menonton
televisi lebih atau sama dengan 3 jam per hari memiliki peningkatan risiko
gangguan tidur yang bermakna pada saat dewasa, sedangkan remaja
yang membatasi menonton televisi hingga 1 jam atau kurang mengalami
penurunan risiko gangguan tidur saat dewasa yang bermakna.

Universitas Sumatera Utara

Berbagai keadaan medis juga dapat menyebabkan timbulnya
gangguan tidur. Sebanyak 35-50% individu dengan kelainan neuropsikiatri
mengalami gangguan tidur. 7

2.3.5 Dampak Gangguan Tidur pada Remaja
Tidur berhubungan dengan kualitas dan kuantitas morbiditas dan
mortalitas. Menurut data epidemiologi tidur yang kurang dari 6 jam atau
tidur yang lebih dari 9 jam perhari, erat hubungannya dengan peningkatan
mortalitas.26
Kualitas dan kuantitas tidur yang kurang pada anak dapat
mengakibatkan terjadinya rasa kantuk yang berlebihan di siang hari dan
penurunan tingkat atensi di siang hari.2 Gangguan pola tidur berupa pola
tidur yang berlebihan dapat menimbulkan efek negatif pada performa di
sekolah, fungsi kognitif, dan mood sehingga dapat menimbulkan
konsekuensi

serius

lainnya

seperti

peningkatan

angka

kejadian

kecelakaan mobil dan motor.27
Dari hasil penelitian disebutkan bahwa berkurangnya waktu tidur
dan jadwal tidur yang tidak teratur terkait erat dengan performa sekolah
yang buruk pada remaja. Selain itu, pada penelitian sebelumnya terhadap
siswa SMU didapatkan bahwa siswa yang mendapat peringkat akademik
yang baik memiliki jadwal tidur yang lebih teratur dan waktu tidur yang
lebih panjang dengan waktu tidur lebih awal dibandingkan dengan siswa
dengan peringkat akademik yang lebih rendah. 27

Universitas Sumatera Utara

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat keterkaitan antara
pola tidur atau bangun dan kemampuan persepsi mereka di sekolah dan
mempengaruhi hasil peringkat akademik dan nilai ujian mereka. 27

2.3.6 Diagnosis
Gangguan tidur secara umum terdiagnosis oleh dokter spesialis
anak atau sleep specialist. Jika orang tua menyadari akan hal tersebut
maka mereka akan berdiskusi dengan dokter. Tetapi tidak semua dokter
spesialis anak mengetahui variasi gangguan tidur pada anak dan remaja,
jika orang tua tidak puas akan hasil diskusi dengan dokter tersebut maka
biasanya orang tua akan membawa anaknya pada sleep specialist atau
sleep clinic.28
Di sekolah misalnya orang tua akan berkonsultasi dengan psikologi
untuk mendiskusikan gangguan tidur tersebut. Ternyata masalah perilaku
dan atensi anak mempengaruhi tidur anak karena akan berdampak pada
gangguan tidur atau waktu tidur berkurang termasuk sulit berkonsentrasi,
mudah marah, hiperaktifitas, dan tidak dapat mengontrol masalah.28 Untuk
mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap pola tidur penderita,
pemakaian obat-obatan, alkohol atau obat terlarang, tingkatan stres psikis,
riwayat medis dan aktivitas fisik.8
Salah satu metode untuk diagnosis gangguan tidur adalah dengan
SDSC (Sleep Disturbancess Scale for Children), berupa suatu kuesioner
yang ditanyakan kepada ibu dengan anak yang diduga mengalami

Universitas Sumatera Utara

gangguan tidur. Kuesioner SDSC dibuat dalam rangka standardisasi
penilaian terhadap gangguan tidur anak-anak dan remaja dengan
memberikan

kemudahan

kepada

ilmuwan

dan

peneliti

untuk

menggunakan sistem skoring tidur, membuat basis data dari populasi
besar untuk mendapatkan standar nilai normal, mendefinisikan tiap-tiap
bagian yang dapat digunakan dalam mengidentifikasikan batasan spesifik
gangguan tidur dan mengidentifikasikan anak-anak yang mengalami
gangguan tidur.8
Metode SDSC digunakan karena prinsip analisis komponennya
yang kuat, normalitas yang distandardisasi, dan usia yang dipakai sesuai
dengan yang diteliti. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan
gangguan tidur pada anak dengan usia 6,5-15,3 tahun. Kuesioner SDSC
terdiri dari 26 pertanyaan, dinilai dalam 5 poin skala intensitas atau
frekuensi.9
Orang tua diinstruksikan untuk mengingat pola tidur anak mereka
pada waktu keadaan sehat selama enam bulan terakhir. Untuk memeriksa
anak dengan gangguan tidur, lebih baik menggunakan metode konsultasi
dibandingkan dengan kuesioner.8 Penilaian SDSC ini dilakukan dengan
menggunakan angka mulai dari 1 sampai dengan 5. Angka 1 untuk tidak
pernah, 2 untuk jarang (1 atau 2 kali per bulan atau kurang), 3 untuk
kadang-kadang (1 atau 2 kali seminggu), 4 untuk sering (3 sampai 5 kali
seminggu) dan 5 untuk selalu (setiap hari). Setelah itu nilai akan

Universitas Sumatera Utara

dijumlahkan dan didapatkan penilaian akan adanya gangguan tidur pada
anak.9
Total angka gangguan tidur didapatkan dengan menjumlahkan
seluruh angka faktor tidur. Standardisasi digunakan untuk mengkalkulasi
angka T (mean = 50, SD = 10), dengan angka T lebih besar dari 70 maka
dinyatakan terdapat gangguan tidur. Gangguan tidur anak dibagi menjadi
tiga kategori klinis berdasarkan total angka T: (1) normal (angka T70,
yaitu >95th sentil). Dalam penelitian ini total angka faktor gangguan tidur
dibagi menjadi dua variabel: angka T normal (T≤70) dan angka T dalam
batas klinis (T>70). Dua variabel ini dikategorikan sebagai variabel terikat
dan usia serta jenis kelamin dikategorikan sebagai variabel bebas.9
Sleep Disturbancess Scale for Children (SDSC) mengemukakan
enam kategori gangguan tidur yaitu (1) gangguan memulai dan
mempertahankan tidur ( mulai tidur yang lama, bangun malam hari, dan
lain-lain); (2) gangguan pernapasan waktu tidur (frekuensi mengorok,
apnea saat tidur, dan kesulitan bernapas); (3) gangguan kesadaran
(berjalan saat tidur, mimpi buruk, dan teror tidur), (4) gangguan transisi
tidur-bangun (gerakan involunter saat tidur, restless legs, gerakan
menganggukkan kepala, bicara saat tidur); (5) gangguan somnolen
berlebihan (mengantuk saat pagi dan tengah hari, dan lain-lain); (6)
hiperhidrosis saat tidur (berkeringat saat tidur).9

Universitas Sumatera Utara

2.3.7 Tata Laksana
Secara umum, langkah awal untuk mengatasi gangguan tidur
akibat kondisi medik atau psikiatrik adalah dengan mengoptimalkan terapi
terhadap

penyakit

nonfarmakologik

yang

mendasarinya.

diperlukan

untuk

terapi

Cara

farmakologik

gangguan

tidur,

dan

namun

penatalaksanaan utama umumnya mencakup aspek nonfarmakologik.
Pada beberapa gangguan tidur tertentu, dibutuhkan penangananpenanganan khusus.11,29
Tatalaksana non farmakologik gangguan tidur antara lain adalah
melalui pengaturan higiene tidur, terapi pengontrolan stimulus, sleep
restriction therapy, terapi relaksasi dan biofeedback.29
Higiene tidur bertujuan untuk memberikan lingkungan dan kondisi
yang

kondusif

untuk

tidur,

dan

merupakan

aspek

yang

mutlak

dimanipulasi pada tatalaksana gangguan tidur.29
Terapi pengontrolan stimulus bertujuan untuk memutus siklus
masalah yang sering dikaitkan dengan kesulitan memulai atau jatuh
tidur.29
Sleep Restriction Therapy merupakan pembatasan waktu di tempat
tidur yang dapat membantu mengkonsolidasikan tidur. Terapi ini
bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa
tertidur. 29
Terapi relaksasi dan biofeedback merupakan terapi hipnosis diri,
relaksasi progresif, dan latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan

Universitas Sumatera Utara

relaks cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Pasien membutuhkan latihan
yang cukup dan serius.29
Beberapa gangguan tidur memerlukan perhatian khusus dalam
penatalaksanaanya. Pada psychophysiologic insomnia, terapi atau
penanganannya antara lain adalah melakukan edukasi kepada individu
tentang prinsip higiene tidur, menginstruksikan kepada mereka untuk
menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan keluar dari tempat tidur
jika belum dapat tertidur (stimulus), dan diajarkan bagaimana teknik
relaksasi untuk mengurangi ansietasnya. Medikasi hipnosis jarang
dibutuhkan.15
Terapi parasomnia meliputi edukasi kepada orang tua dan
memberikan dukungan, menghindari faktor yang dapat mempengaruhi.
Farmakoterapi dan atau psikoterapi jarang dibutuhkan.15
Restless

Legs

Syndrome/Periodic

Limb

Movement

Disorder

merupakan gangguan tidur neuromotor dengan karakteristik rasa
kesemutan dan rasa tidak enak pada ekstrimitas bawah. Pengobatan
dengan agen dopaminergik seperti carbidopa, levodopa, dan agonis
dopaminergik, pramipexole, ropinirole, dan pergolide.15
Narkolepsi merupakan gangguan primer dari rasa kantuk yang
berlebihan pada siang hari. Penanganannya yaitu dengan memberikan
kombinasi medikasi untuk siang dan malam hari.15

Universitas Sumatera Utara

2.4 Pengertian urban & suburban
Urban artinya kota, dimana pemahaman arti kota meliputi dua aspek
besar yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Kedua aspek tersebut
yang pertama adalah aspek fisik sebagai wujud ruang dengan elemen elemennya

dan

kedua

adalah

aspek

manusia

sebagai

subjek

pembangunan dan pengguna ruang kota. Dalam bahasa Inggris terdapat
dua kata yang menunjukkan kedua arti tersebut yaitu City dan Citizen,
yang pertama menyangkut wujud suatu tempat yang tebentuk oleh
prasarana dan sarana dan yang kedua menyangkut penghuninya. Kedua
aspek tersebut tidak dapat lepas satu dengan lainnya. Kota adalaah
tempat bermukimnya manusia dengan segala kehidupannya. Yang
mencirikan suatu kota yaitu kehidupan yang individualisme, aktivitas
ekonomi yang non agraris dan kepadatan penduduk. Pemukiman
pedesaan yang padat tidak dapat disamakan dengan pemukiman kota,
karena masyarakatnya relatif homogen, dengan aspek sosial ekonomi,
politik dan budaya, itulah yang membedakan kota dan desa.30
Suburban merupakan suatu proses substitusi daerah pinggiran ke
pusat kota. Daerah suburban terbentuk sebagai daerah yang tergantung
kepada kota induk. Sektor pendidikan menjadi kunci pada proses
pengembangan wilayah yang didukung oleh masyarakat lokal. Sektor
pendidikan pada kenyataanya tidak pernah dibangun melaui dasar
kekuatan sumber daya lokal yang dapat dikembangkan oleh masyarakat

Universitas Sumatera Utara

lokal. Pendidikan selalu berorientasi ke jenjang sekolah yang membawa
arus migrasi ke kota.30

2.5. Kerangka Konsep
Faktor Individu
Usia
Pubertas
Stress
Posisi tidur
Aktivitas fisik
Penggunaan obatobatan
- Kondisi medis /
penyakit kronik lain
-

-

Lingkungan Urban
Pergerakan
& suburban
Bau
Kelembaban
Suhu dingin
Kumuh
Kepadatan

- Bising
- Cahaya
- Lokasi tidur
- Televisi di kamar tidur

- Jenis kelamin
- Kebiasaan tidur
- Gaya hidup:
1. Minuman berkafein
2. Rokok
3. Alkohol

Gangguan Tidur pada
Remaja Urban &
Suburban

Sosial Budaya
- Co-sleeping
Diteliti
Tidak diteliti

Universitas Sumatera Utara

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Desain
Desain penelitian cross sectional digunakan untuk melihat perbedaan
antara gangguan tidur pada remaja urban dan suburban.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di SMP Syaffiyatul Amaliyah dan SMP GPKI di
Kecamatan Medan Baru sebagai daerah urban dan SMPN 31 di
Kecamatan Tuntungan sebagai daerah suburban di Medan dengan waktu
penelitian bulan Mei – Juni 2010.

3.3. Populasi dan Sampel
Populasi target adalah remaja pelajar SMP urban dan suburban di Medan
Populasi terjangkau adalah remaja pelajar SMP disalah satu

daerah

urban dan suburban di Medan
Sampel penelitian adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi.

3.4. Besar Sampel
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus uji hipotesis terhadap
dua proporsi independen, yaitu :30

Universitas Sumatera Utara

n 1 = n 2 = (Z √2PQ + Z √P 1 Q 1 + P 2 Q 2 )2
(P 1 – P 2 )2
n1 = jumlah subyek dalam kelompok urban (kelompok A)
n2 = jumlah subyek yang masuk dalam kelompok suburban (kelompok B)
 = kesalahan tipe I = 0,05 (Tingkat kepercayaan 95%)  Z = 1,96
 = kesalahan tipe II = 0,2 (kekuatan penelitian 80%)  Z = 0,842
P 1 = proporsi gangguan tidur kelompok A = 0.3
Q 1 = 1 – P 1 = 0.7
P 2 = proporsi gangguan tidur kelompok B = 0.1
Q2

= 1 – P 2 = 0,9

P

= P 1+ P 2 = 0,2
2

Q

= 1 – P = 0.8

Dengan menggunakan rumus di atas didapat besar sampel untuk masingmasing kelompok sebanyak

62 orang. Koreksi besar sampel untuk

antisipasi drop out yaitu n = n / (1-f) → 70 orang.
f= perkiraan proporsi drop out = 10% (0.1)
3.5. Kriteria Inklusi dan eksklusi
3.5.1. Kriteria inklusi
1. Remaja pelajar SMP usia 11 – 15 tahun ( kelas 1, 2 dan 3)
2. Remaja pelajar SMP yang bersedia mengisi kuesioner

3.5.2 Kriteria Eksklusi
1. Remaja yang mengalami gangguan neuropsikiatri

Universitas Sumatera Utara

2. Remaja dengan kelainan hormonal yang terlihat secara klinis

3.6. Persetujuan/Informed Consent
Semua subyek penelitian akan diminta persetujuannya baik orang tua dan
anaknya

setelah

dilakukan

penjelasan

terlebih

dahulu.

Formulir

penjelasan terlampir dalam usulan penelitian.

3.7. Etika Penelitian
Penelitian ini disetujui oleh Komite Etis Kesehatan dari Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara

3.8. Alat Ukur
Pada penelitian ini digunakan alat ukur :
1. SDSC (Sleep Disturbancess Scale for Children )
2. Kuesioner faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan tidur

3.9. Cara Kerja dan Alur Penelitian
3.9.1. Cara Kerja
1.

Peneliti meminta izin kepada pihak SMP di urban dan suburban

2. Pemilihan subjek penelitian dipusatkan di salah satu SMP yang ada di
daerah urban Kecamatan Medan Baru yaitu SMP Syaffiyatul Amaliyah
dan GPKI dan daerah suburban Kecamatan Medan Tuntungan yaitu
SMP 31 Lau Cih

Universitas Sumatera Utara

3.

Pengambilan subjek penelitian dilakukan tiap hari sampai jumlah
sampel terpenuhi.

4. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam
penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi
5. Data diperoleh dari wawancara dan kuesioner.
6.

Semua subjek baik yang di urban dan suburban diberi kuesioner dan
dijelaskan bagaimana cara mengisi kuesioner tersebut.

7.

Subjek

yang

memenuhi

kriteria

inklusi

dan

mendapat

persetujuan
orangtua dimasukkan dalam penelitian dan kueioner diisi oleh subjek
dirumah bersama orangtua dan akan dikembalikan setelah selesai
diisi atau maksimal 1 minggu.
8.

Kuesioner dikumpulkan kembali setelah diisi

9.

Pengolahan dan analisis data.

Universitas Sumatera Utara

3.9.2. Alur Penelitian
Orang tua & remaja SMP
yang memenuhi kriteria
inklusi di urban

Orang tua & remaja SMP
yang memenuhi kriteria
inklusi di suburban

Kuesioner, wawancara

Gangguan
tidur (+)

Kuesioner, wawancara

Gangguan
tidur (-)

Faktor yang mempengaruhi :
- Jenis kelamin
- Gaya Hidup
- Bising
- Teman tidur
- Televisi di kamar tidur

Gangguan
tidur (+)

Gangguan
tidur (-)

Faktor yang mempengaruhi :
- Jenis kelamin
- Gaya Hidup
- Bising
- Teman Tidur
- Televisi di kamar tidur

Perbedaan Gangguan Tidur
Urban
&
Suburban

3.10. Identifikasi variabel
Variabel bebas subjek penelitian :

skala



Jenis kelamin

nominal



Kebiasaan tidur

kategorikal



Kebiasaan minum minuman berkafein

kategorikal



Kebiasaan merokok

kategorikal

Universitas Sumatera Utara



Kebiasaan minum minuman beralkohol

kategorikal



Jumlah teman tidur ( co-sleeping )

kategorikal



Bising

kategorikal



Cahaya

kategorikal



Lokasi tidur

kategorikal



Ketersedian televisi di ruang tidur

kategorikal

Variabel terikat subjek penelitian :


skala

Gangguan tidur pada remaja SMP

numerik

3.11. Definisi Operasional dan Identifikasi Variabel


Subjek penelitian adalah remaja pelajar SMP kelas 1,2,3 yang
bersekolah di SMP daerah urban dan suburban.





Urban adalah daerah perkotaan.
Suburban adalah daerah pinggiran kota
Usia adalah usia subjek yang dihitung sejak tanggal lahir subjek
sampai pengisian kuesioner.



Jenis kelamin adalah jenis kelamin subjek, dibedakan menjadi lakilaki dan perempuan.



Gangguan tidur adalah kumpulan kondisi yang dicirikan dengan
adanya gangguan dalam jumlah, kualitas atau waktu tidur pada
seorang individu. Gangguan tidur diidentifikasi menggunakan Sleep
Disturbances Scale for Children (SDSC) yang dimodifikasi

Universitas Sumate