Strategi Bertahan Hidup Dalam Perkembangan Kota Medan.

STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETERNAK BABI DALAM
PERKEMBANGAN KOTA MEDAN
(Studi Deskriptif Perumnas Mandala Kelurahan Tegalsari Mandala II,
Kecamatan Medan Denai)
SKRIPSI
PURNAWAN ZARON HAREFA
050901023

DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap
orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang
dilakukannya. Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk
memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai
mahluk sosial yang hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku
sesuai tuntutan lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal, dan tuntutan itupun
tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Masalah ekonomi merupakan masalah yang
sangat penting bagi setiap manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan
problema yang menyangkut pada kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup
orang banyak. Berbagai cara/strategi bertahan hidup dilakukan untuk dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Kota Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Perkembangan kota
Medan menimbulkan tingginya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang
semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup lebih dari sekedar kebutuhan sandang, pangan, dan papan seperti
pendidikan. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal di kota Medan adalah
peternak babi. Salah satu lokasi peternak babi di kota Medan adalah di daerah
Perumnas Mandala. Pekerjaan sebagai seorang peternak babi merupakan suatu hal
yang krusial sekaligus bisa mengandung unsur kontroversi jika digeluti. Dengan
situasi ekonomi yang demikian sulit menuntut suatu kebijakan untuk dapat
beradaptasi/bertahan sebagai komunitas peternak babi. Pemenuhan kebutuhan hidup
dengan pendapatan mereka yang bermata pencaharian pokok sebagai peternak babi
yang cukup minim. Karena keluarga peternak babi merupakan kelompok masyarakat
yang termasuk keluarga miskin, dibanding dengan kelompok masyarakat lain.
Keluarga-keluarga yang bertempat tinggal di Perumnas Mandala tersebut bermata
pencaharian tetap sebagai peternak babi.
Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untuk mengangkat topik
permasalahan mengenai bagaimana strategi bertahan hidup peternak babi dalam
perkembangan kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi deskriptif. Teknik pengumpulan
data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi langsung,
studi dokumentasi, wawancara mendalam serta studi kepustakaan. Interpretasi data
penelitian dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil lapangan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk 10 informan, dapat disimpulkan
bahwa mereka memiliki strategi agar dapat bertahan hidup sebagai peternak babi.
Strategi yang dilakukan mereka adalah Pertama mengoptimalkan segala potensi
keluarga untuk melakukan aktivitas sendiri, memanfaatkan sumber atau tanaman liar
di lingkungan sekitar dan sebagainya). Kedua menekan biaya kehidupan mereka,
misalnya biaya pendidikan, kebutuhan sandang, pangan, dan sebagainya, Ketiga
Pemanfaatan jaringan. Ini terlihat jelas dalam mengatasi masalah ekonomi dengan
pinjam uang kepada tetangga, mengutang ke warung terdekat, memanfaatkan
program anti kemiskinan, bahkan ada yang pinjam uang ke rentenir atau bank dan
sebagainya.

i

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan karya ilmiah sebagai salah
satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu
Sosial

Dan

Ilmu

Politik,

Universitas

Sumatera

Utara,

dengan

judul:

STRATEGI BERTAHAN HIDUP DALAM PERKEMBANGAN KOTA
MEDAN. Skripsi ini penulis persembahkan khusus buat kedua orang tua tercinta
penulis, Bapak (Y. Harefa) dan Ib u (L. Marbun), terima kasih atas semua kasih
sayang, doa, pengertian, pengorbanan yang tulus, dukungan dan semangatnya yang
telah diberikan kepada penulis. Semoga Tuhan memberikan limpahan RahmatNya dan
berkatNya kepada orang tua penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya tanpa ada campur tangan dari semua pihak,
penulis tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. DR. Badaruddin,M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik serta selaku Ketua Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, MSi, selaku Ketua Departemen Sosiologi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Drs Henry Sitorus MSi, selaku dosen pembimbing penulis, yang
membimbing penulis dengan penuh kesabaran sampai pada penyelesaian

ii

Universitas Sumatera Utara

skripsi ini. Dimana dengan begitu banyaknya kesibukan, beliau masih
bersedia meluangkan waktu kepada penulis untuk memberikan masukan
berupa saran bagi penulisan skripsi ini.
4. Kepada seluruh dosen Sosiologi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik yang telah memberikan berbagai materi selama penulis menjalani
perkuliahan di FISIP USU.
5. Seluruh staf administrasi FISIP USU khususnya Departemen Sosiologi,
Kak betty, kak Feny.
6. Buat Abang dan Kakakku tercinta, Brill Harefa, Lyla Harefa dan Thomy
Harefa. Terimahkasih atas bantuan dan doanya yang diberikan selama ini.
7. Buat sahabat-sahabatku, teman seperjuangan dari awal kuliah hingga saat
ini dan untuk selamanya, Franklin Sitohang, Benny, Twince, Gorenty,
Leokrispat, Bang Ferdinand, dan teman-teman mahasiswa lainnya mulai
dari stambuk 2005, 2004, 2003 dan adek-adek kami stambuk 2007, 2008,
2009 dan 2010 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terimahkasih

buat dukungan, semangat dan kebersamaan yang kalian berikan. Semoga
sukses dan selamat berjuang.

8. Buat Sir Agus yang juga sudah banyak membantu dalam proses
pengerjaan skripsi ini sampai selesai.
9. Buat Bang Frans, Kak Neni, Bang Valen dan Bang Leo, terimakasih atas
perhatian, dukungan serta bantuannya yang sangat berarti selama ini.

iii

Universitas Sumatera Utara

10. Kepada semua informan dan semua pihak yang turut membantu namun
tidak bisa disebutkan satu persatu selama penelitian skripsi, terimakasih
atas kerjasama, kepercayaan dan dukungannya.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penulisan skripsi ini, akan
tetapi penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan untuk menambah kesempurnaan skripsi
ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Agustus 2011

Penulis
Purnawan Zaron Harefa

iv

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK…………………………………………………………….

i

KATA PENGANTAR………………………………………….....

ii

DAFTAR ISI………… ……………………………………...........

v

DAFTAR TABLE ……………………………………………….

vii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………

1

1.1. Latar Belakang Masalah ...............................................

1

1.2. Perumusan Masalah..........................................................

9

1.3. Tujuan Penelitian...............................................................

9

1.4. Manfaat Penelitian..............................................................

9

1.5. Defenisi Konsep ..................................................................

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………….

12

2.1 Sistem Pengembangan Peternakan ………………………..

12

2.2 Konsep Manajemen Strategi Bertahan ………………



13

3.1. Jenis Penelitian.....................................................................

21

3.2. Lokasi Penelitian…………………………………………

21

3.3. Unit Analsis dan Informan …..………....………………....

21

3.4 Teknik Pengumpulan Data………..…..………..………......

22

3.5 Teknik Sampling ………………………..…………….……

24

3.6.Interpretasi data ………………….………………………...

24

3.7 Keterbatasan Penelitian ……………………………………

25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA
PENELITIAN ............................................................................ 26
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ………………………………

26

v

Universitas Sumatera Utara

4.1.1 Gambaran umum peternakan babi ………………

26

4.1.2 Sampel Penelitian ………………………………

27

4.1.3 Profil Informan …………………………………

27

4.2 Interpretasi Data Penelitian ……………………………….

28

4.2.1 Kehidupan Ekonomi dan Pembagian Penghasilan Perekonomian
Peternak Babi …………………………………

28

4.2.2 Upaya Yang Dilakukan Peternak Babi Dalam Mengatasi
Masalah Ekonomi ………………………………

35

BAB V PENUTUP ……………………………………………………

45

5.1 Kesimpulan ………………………………………………..

45

5.2 Saran ……………………………………………………….

49

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABLE

Table 1.1 Populasi Ternak (000) 2000-2008 …………………………

1

Table 1.2 Tabel 1.2 Konsumsi Daging di Indonesia 2005-2007 …………

2

Tabel 1.3 Konsumsi Ternak Tahun 2002-2005 (kg/kapita/tahun) ……….

5

Tabel 4.1 Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Lama Tinggal

27

vii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap
orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang
dilakukannya. Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk
memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai
mahluk sosial yang hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku
sesuai tuntutan lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal, dan tuntutan itupun
tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Masalah ekonomi merupakan masalah yang
sangat penting bagi setiap manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan
problema yang menyangkut pada kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup
orang banyak. Berbagai cara/strategi bertahan hidup dilakukan untuk dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Kota Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Perkembangan kota
Medan menimbulkan tingginya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang
semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup lebih dari sekedar kebutuhan sandang, pangan, dan papan seperti
pendidikan. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal di kota Medan adalah
peternak babi. Salah satu lokasi peternak babi di kota Medan adalah di daerah
Perumnas Mandala. Pekerjaan sebagai seorang peternak babi merupakan suatu hal
yang krusial sekaligus bisa mengandung unsur kontroversi jika digeluti. Dengan
situasi ekonomi yang demikian sulit menuntut suatu kebijakan untuk dapat
beradaptasi/bertahan sebagai komunitas peternak babi. Pemenuhan kebutuhan hidup
dengan pendapatan mereka yang bermata pencaharian pokok sebagai peternak babi
yang cukup minim. Karena keluarga peternak babi merupakan kelompok masyarakat
yang termasuk keluarga miskin, dibanding dengan kelompok masyarakat lain.
Keluarga-keluarga yang bertempat tinggal di Perumnas Mandala tersebut bermata
pencaharian tetap sebagai peternak babi.
Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untuk mengangkat topik
permasalahan mengenai bagaimana strategi bertahan hidup peternak babi dalam
perkembangan kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi deskriptif. Teknik pengumpulan
data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi langsung,
studi dokumentasi, wawancara mendalam serta studi kepustakaan. Interpretasi data
penelitian dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil lapangan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk 10 informan, dapat disimpulkan
bahwa mereka memiliki strategi agar dapat bertahan hidup sebagai peternak babi.
Strategi yang dilakukan mereka adalah Pertama mengoptimalkan segala potensi
keluarga untuk melakukan aktivitas sendiri, memanfaatkan sumber atau tanaman liar
di lingkungan sekitar dan sebagainya). Kedua menekan biaya kehidupan mereka,
misalnya biaya pendidikan, kebutuhan sandang, pangan, dan sebagainya, Ketiga
Pemanfaatan jaringan. Ini terlihat jelas dalam mengatasi masalah ekonomi dengan
pinjam uang kepada tetangga, mengutang ke warung terdekat, memanfaatkan
program anti kemiskinan, bahkan ada yang pinjam uang ke rentenir atau bank dan
sebagainya.

i

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Peternakan merupakan sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk
dikembangkan sebagai usaha di masa depan. Kebutuhan masyarakat akan produk –
produk peternakan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Peternakan sebagai
penyedia protein, energi, vitamin, dan mineral semakin meningkat seiring
meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi guna meningkatkan
kualitas hidup.

Tabel 1.1 Populasi ternak (000 ekor) 2000-2008
TERNAK

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sapi Potong

11,008

11,137

11,298

10,504

10,533

10,569

10,875

11,515

11,869

354

347

374

364

361

369

374

408

2,405

2,333

2,403

2,459

2,403

2,128

2,167

2,086

2,192

412

422

419

413

397

387

398

401

411

12,566

12,464

12,549

12,722

12,781

13,409

13,790

14,470

15,806

Domba

7,427

7,401

7,641

7,811

8,075

8,327

8,980

9,514

10,392

Babi

5,357

5,369

5,927

6,151

5,980

6,801

6,218

6,711

7,376

259,257

268,039

275,292

277,357

276,989

278,954

291,085

272,251

290,803

Ayam Ras Petelur

69,366

70,254

78,039

79,206

93,416

84,790

100,202

111,489

116,474

Itik

29,035

32,068

46,001

33,863

32,573

32,405

32,481

35,867

36,931

sapi perah
Kerbau
Kuda
Kambing

Ayam Buras

358

Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2010)

1

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan tabel diatas dalam waktu antara tahun 2007 – 2008 terjadi
peningkatan populasi hewan ternak terjadi di Indonesia. Peningkatan paling
signifikan terjadi pada hewan jenis ayam ras pedaging. Hal ini berarti masyarakat
juga menyadari bahwa usaha peternakan juga dapat menjanjikan dan memiliki
peluang yang sangat besar untuk dikembangkan. Karena salah satu produk yang
dihasilkan adalah daging. Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging secara
umum setiap tahun cenderung meningkat. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini
Tabel 1.2 Konsumsi Daging di Indonesia 2005-2007
Konsumsi (kg/kapita/tahun)
JENIS

Tahun 2005
2005
Tahun

Tahun 2006

Tahun 2007

R (%)
2005-2007

Sapi

1.08

1.13

1.20

10

Hewan lain

2.07

2.28

2.30

10

Ayam Ras

1.90`

2.10

2.20

20

Unggas Lain

0.74`

0.84

0.90

20

Sumber : Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Dirjen Peternakan (2008)
Berdasarkan tabel diatas dalam waktu dua tahun terakhir terjadi peningkatan
konsumsi daging antara sepuluh persen hingga 20 persen. Peningkatan secara
signifikan terjadi pada konsumsi hewan unggas yaitu dua kali lipat dibandingkan
dengan hewan yang bukan unggas. Peningkatan jumlah konsumsi daging masih akan
terus meningkat mengingat jumlah penduduk akan terus meningkat.

2

Universitas Sumatera Utara

Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi ini, maka usaha untuk
meningkatkan produksi daging menjadi hal yang perlu diperhatikan bagi semua pihak
khususnya pemerintah, disamping hal ini juga menjadi peluang tersendiri bagi
masyarakat yang ingin mengembangkan sektor peternakan.
Pembangunan peternakan merupakan bagian pembangunan nasional yang
sangat penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternakan adalah peningkatan
kualitas sumberdaya manusia yang unggul. Selain itu, tujuan pembangunan
peternakan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, pelesatarian
lingkungan hidup serta peningkatan devisa negara.
Kondisi peternakan di Indonesia telah mengalami pasang surut. Sejak
terjadinya krisis ekonomi dan moneter tahun 1997, telah membawa dampak
terpuruknya perekonomian nasional, yang diikuti penurunan beberapa usaha
peternakan. Dampak krisis secara bertahap telah pulih kembali dan mulai tahun 19981999 pembangunan peternakan telah menunjukkan peningkatan. Kontribusi
peternakan terhadap PDB pertanian terus meningkat sebesar 6,35% pada tahun 1999.
Bahkan tahun 2002 meningkat mencapai 9,4% tertinggi diantara sub sektor pertanian.
Peran
kemiskinan.

strategis
Pemerintah

peternakan
telah

juga

berkaitan

menetapkan

tiga

dengan
sasaran

penanggulangan
utama

program

penanggulangan kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di
bawah garis kemiskinan menjadi, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan
terjangkau, dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu.
Pembangunan peternakan tidak terlepas dari berbagai masalah dan tantangan.
Globalisasi ekonomi merupakan salah satu ancaman dan sekaligus peluang bagi

3

Universitas Sumatera Utara

sektor peternakan. Menjadi ancaman jika Indonesia tetap menjadi importir input dan
teknologi peternakan untuk menggerakkan proses produksi dalam negeri dan untuk
memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dalam negeri. Ketergantungan pada
impor jika tidak ditunjang oleh usaha-usaha kemandirian yang produktif, akan
mendorong ketergantungan semakin sulit dipecahkan. Indonesia mempunyai peluang
untuk mengisi pangsa pasar dunia karena Indonesia dianggap sebagai negara
produsen yang aman karena produk ternak yang masih murni dan bebas dari penyakit
mulut dan kuku. Berdasarkan Statistik Peternakan 2005 ekspor Indonesia mengalami
pertumbuhan sebesar 17% per tahun
Dalam sisi dalam negeri yang menjadi penghambat tumbuhnya sektor
peternakan, antara lain:
1. Struktur industri peternakan sebagian besar tetap bertahan dalam bentuk
usaha rakyat. Yang dicirikan oleh tingkat pendidikan peternak rendah,
pendapatan rendah, penerapan manajemen dan teknologi konvesional,
lokasi ternak menyebar luas, ukuran usaha relatif kecil, serta pengadaan
input utama yakni HMT (Hijauan Makanan Ternak) yang masih tergantung
pada musim, ketersediaan tenaga keluarga, serta penguasaan lahan HMT
yang terbatas.
2. Ketersedian bibit bermutu. Penelitian tentang pembibitan telah banyak
dilakukan namun belum tersosialisasikan dalam skala besar. Terjadi
kegagalan komunikasi baik Badan Litbang maupun Perguruan Tinggi.
Selain itu, peternak tidak mempunyai insentif dalam mengadopsi teknologi
baru yang disertai peningkatan biaya.

4

Universitas Sumatera Utara

3. Masalah agroindustri peternakan yang belum mampu menggerakkan sektor
peternakan.

Misalnya,

industri

pengolahan

susu,

sebgaian

besar

menggunakan input dari negara asal. Industri perhotelan membutuhkan
daging dari impor.
4. Derasnya impor illegal produk-produk peternakan
5. Bencana penyakit (mewabahnya virus flu burung dan antraks)
6. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku pakan
Peluang sektor peternakan di masa yang akan datang sangat besar karena
permintaan hasil ternak yang terus bertambah akibat pertambahan jumlah penduduk.
Berikut ini data konsumsi ternak nasional tahun 2002-2005
Tabel 1.3 Konsumsi Ternak Tahun 2002-2005 (kg/kapita/tahun)
No

Uraian

2002

2003

2004

2005

1

Daging

5.75

5.96

6.17

7.11

2

Telur

4.04

4.11

4.38

4.71

3

Susu

7.05

6.69

6.78

6.80

Sumber: dinas peternakan kota Medan (2009)
Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa permintaan akan konsumsi
ternak terus meningkat. Konsumsi daging meningkat dari 5,75 kg/kapita/tahun pada
tahun 2002 menjadi 7,11 kg/kapita/tahun pada tahun 2005.
FAO sejak tahun 1999 juga sudah memprediksi akan terjadinya perubahan
signifikan pada sektor peternakan dunia. Ketika konsumsi daging dunia meningkat
2,9%, maka di negara-negara berkembang sudah melaju sampai 5,4%, bahkan di Asia

5

Universitas Sumatera Utara

Tenggara mencapai 5,6%. Sementara di negara-negara maju hanya meningkat 1%.
Sampai tahun 2020 diperkirakan pertumbuhan konsumsi daging negara-negara
berkembang rata-rata 2,8% per tahun, sementara di negara-negara maju hanya 0,6%
per tahun2.
Dengan segala keterbatasan peternak, perlu dikembangkan sebuah sistem
peternakan yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan. Yaitu
dengan mengembangkan peternakan industri dan peternakan rakyat yang dapat
mewujudkan ketahanan pangan dan mengantaskan kemiskinan. Selain itu para
peternak juga harus memperhatikan 3 aspek agar usaha peternakan mereka dapat
berjalan dengan baik yaitu:
1. Aspek Manajemen Pemeliharaan yaitu tidak memperhitungkan
kualitas dan kuantitas pakan, tidak ada sumber air untuk minum, tidak
ada control dan pengobatan penyakit, tidak ada sarana perkandangan
yang memadai (kapasitas tampung dan peralatan kandang), tidak ada
eksplorasi daya dukung lahan penghasil limbah pertanian,
2. Aspek Pengetahuan yaitu tidak ada penyuluhan berkala di kelompok
oleh dinas terkait, tidak ada program pemberdayaan peternak baik dari
kelompok maupun dari luar kelompok
3. Aspek Genetis yaitu kenyataan dari generasi ke generasi performa
ternak terjadi penurunan, tidak ada kartu recording untuk data
kelahiran, sapih maupun produksi, tidak ada pengaturan perkawinan,
tidak ada seleksi untuk memilih bibit yang baik

6

Universitas Sumatera Utara

Masalah ekonomi merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap
manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan problema yang menyangkut pada
kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Berbagai cara/strategi
bertahan hidup dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Kondisi bangsa Indonesia yang sedang berat dalam mengatasi krisis di setiap
elemen, bangsa Indonesia dihadapkan tidak hanya pada satu masalah saja melainkan
berbagai masalah seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Dimana
masalah tersebut sudah rumit, sehingga mengharuskan orang untuk benar-benar siap
dan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk dapat menyelesaikannya. Untuk
mengatasi salah satu permasalahan tersebut terutama masalah ekonomi yang
menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, dibutuhkan pekerjaan yang cukup untuk
membiayai/mencukupi kebutuhan hidup yang semakin banyak.
Kota Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Perkembangan kota
Medan menimbulkan tingginya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang
semakin meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pekerjaan yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup lebih dari sekedar kebutuhan sandang, pangan, dan papan seperti
pendidikan.
Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal di kota Medan adalah peternak
babi. Salah satu lokasi peternak babi di kota Medan adalah di daerah Perumnas
Mandala. Pekerjaan sebagai seorang peternak babi merupakan suatu hal yang krusial
sekaligus bisa mengandung unsur kontroversi jika digeluti. Dengan situasi ekonomi
yang demikian sulit menuntut suatu kebijakan untuk dapat beradaptasi/bertahan
sebagai komunitas peternak babi.

7

Universitas Sumatera Utara

Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat
dasar agar dapat melangsungkan hidupnya. Manusia sebagai mahluk sosial yang
hidup dengan makhluk sosial lainnya harus bertingkah laku sesuai tuntutan
lingkungan tempat dimana manusia itu tinggal, dan tuntutan itupun tidak hanya
berasal dari dirinya sendiri.
Sama halnya dengan komunitas masyarakat lainnya, komunitas masyarkat
peternak babi juga memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam
masyarakatnya terutama dalam keluaganya, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup
keluarga. Selain memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pangan,
mereka juga harus memikirkan bagaimana pemnuhan kebutuhan lain yang juga
penting, yaitu: kebutuhan sandang, pendidikan anak, tempat tinggal, air minum, biaya
sosial, dan lain-lain.
Pemenuhan kebutuhan hidup dengan pendapatan mereka yang bermata
pencaharian pokok sebagai peternak babi yang cukup minim. Karena keluarga
peternak babi merupakan kelompok masyarakat yang termasuk keluarga miskin,
dibanding dengan kelompok masyarakat lain. Keluarga-keluarga yang bertempat
tinggal di Perumnas Mandala tersebut bermata pencaharian tetap sebagai peternak
babi. Meskipun memiliki pekerjaan sampingan seperti pencari botot, dan sebagai
pemulung.
Pekerjaan sebagai peternak babi ini sudah mengundang kontroversi dari
masyarakat sekitar khususnya yang beragama Islam yang tentu saja mereka akan
keberatan dengan keberdaan mereka. Sebagai salah satu contoh: ada salah satu rumah
warga yang langsung bertetangga dengan peternak babi tersebut. Ada juga yang

8

Universitas Sumatera Utara

berdekatan dengan tempat ibadah mereka. Dari sini muncul masalah bagaimana
yakni, pihak yang menyatakan keberatan tersebut telah menyatakan keberatan mereka
kepada PEMKO Medan dan mengusulkan supaya mereka direlokasi ke tempat lain
supaya tidak mengganggu mereka. Karena jika dilakukan relokasi ke tempat yang
sudah diputuskan yakni di Deli Serdang atau ke luar kota Medan pada lokasi baru,
PEMKO Medan harus siap membantu memfasilitasi. Bahkan jika peternak mau
menutup usaha ternak itu khususnya peternak babi, PEMKO akan membantu ganti
rugi sewajarnya.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana
kondisi perekonomian keluarga peternak babi dan strategi bertahan yang dilakukan
oleh peternak tersebut dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
deskriptif terhadap masalah tersebut. Adapun yang menjadi perumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana strategi bertahan yang dilakukan peternak babi dalam memenuhi
kebutuhan dasar/pokok keluarga?

1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui strategi bertahan yang dilakukan peternak babi dalam
memenuhi kebutuhan/pokok keluarga

9

Universitas Sumatera Utara

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
A. Manfaat Teroritis
-

meningkatkan kemampuan dan pengetahuan serta wawasan peneliti
mengenai strategi bertahan yang dilakukan peternak babi dalam
memenuhi kebutuhan dasar/pokok keluarga

B. Manfaat Praktis
-

penelitian ini diharapkan dapat menambah hasil penelitian yang juga
dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Defenisi Konsep
Konsep adalah unsur penting dalam suatu penelitian. Konsep merupakan
defenisi yang dipakai oleh para peneliti dalam menggambarkan secara abstrak suatu
fenomena sosial atau fenomena alami. Menurut Robert K. Merton konsep adalah
defenisi dari apa yang perlu diamati. Konsep merupakan variable-variabel mana kita
menentukan adanya hubungan empiris. Dalam penelitian ilmiah, defenisi konsep
sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah
generalisasi dari kelompon fenomena tertentu yang akan diteliti (Singarimbun 1998)
Adapun konsep-konsep yang akan diteliti adalah:


strategi bertahan
strategi, cara, atau metode yang dilakukan oleh masyarakat untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam lingkungan baik

10

Universitas Sumatera Utara

social maupun ekonomi, terutama dalam memenuhi syarat dasar untuk
melangsungkan hidup.


peternak
individu atau kelompok yang pekerjaan nya adalah melakukan usaha
ternak.



perkembangan kota
kemajuan sebuah kota menuju kota yang lebih maju

11

Universitas Sumatera Utara

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sistem Pengembangan Peternakan
Pengembangan peternakan merupakan sebuah sistem pengelolaan terpadu dan
menyeluruh yang meliputi semua kegiatan mulai dari pembuatan (manufacture), dan
penyaluran (distribution) sarana produksi ternak atau sapronak, kegiatan usaha
produksi (budidaya), penyimpanan dan pengolahan, serta penyaluran dan pemasaran
produk peternakan yang didukung oleh lembaga penunjang seperti perbankan dan
kebijakan pemerintah (Rahardi dan Hartono dalam Muttaqien, 2007).
Secara garis besar mata rantai agribisnis peternakan terdiri dari empat
rangkaian kegiatan ekonomi yaitu:
1. Sub sistem agribisnis praproduksi merupakan kegiatan yang
menghasilkan sapronak (bibit, peralatan dan perlengkapan, pakan,
obat-obatan)
2. Sub sistem on farm (budidaya) merupakan kegiatan pengelolaan
peternakan itu sendiri seperti penggemukan untuk menghasilkan
daging, pemerahan susu untuk menghasilkan susu, pemeliharan ayam
untuk menghasilkan telur atau dagingnya.
3. Sub sistem pasca produksi atau pengolahan yaitu kegiatan pengolahan
terhadap hasil atau manfaat yang telah diambil dari ternak seperti
pengolahan daging menjadi kornet, sosis, pengemasan susu maupun
telur sehingga meningkatkan nilai jualnya.

12

Universitas Sumatera Utara

4. Sub sistem penunjang yaitu lembaga penunjang yang menyediakan
jasa dalam mengelola peternakan seperti perbankan, balai penelitian,
maupun dinas peternakan

2.2 Konsep Manajemen Strategi Bertahan
Manajemen strategi merupakan suatu hal yang mutlak untuk mengembangkan
usaha peternakan yang dijalankan oleh keluarga. Dengan menerapkan manajemen
strategi usaha di sektor informal berupa peternakan ini akan mampu mengendalikan
serta menentukan sendiri nasib keberlangsungan usahanya. Manfaat lain utama dari
manajemen strategi yaitu membantu usaha sector informal ini dalam merumuskan
strategi-strategi yang lebih baik melalui pendekatan yang lebih sistematis, logis, dan
rasional untuk menentukan pilihan-pilihan strategis. Oleh karena itu dibutuhkan suatu
strategi manajemen untuk dapat mengintegrasikan fungsi-fungsi manajemen dalam
perkembangan usaha (Meisafitri, 2008). Pearce dan Robinson (1997) menyebutkan
manajemen strategis didefinisikan sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang
menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana yang
dirancang untuk mencapai sasaran. Menurut Dirgantoro (2004) manajemen strategis
didefinisikan sebagai suatu proses berkesinambungan yang membuat organisasi
secara keseluruhan sesuai dengan lingkungannya.
Manajemen strategi merupakan seni dan ilmu untuk memformulasi,
mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan
organisasi dapat mencapai tujuannya. Tujuan dari manajemen strategis adalah untuk
mengeksploitasi dan menciptakan peluang baru yang berbeda untuk masa mendatang.

13

Universitas Sumatera Utara

Manajemen strategis terdiri dari tiga tahap yaitu (David, 2006):
(1) formulasi strategi
(2) implementasi strategi dan
(3) tahap evaluasi strategi.
Dalam rangka meformulasikan strategi, langkah-langkah yang harus
dilakukan berupa:
(1) Mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal perusahaan,
(2) Menentukan kekuatan dan kelemahan internal,
(3) Menetapkan tujuan jangka panjang,
(4) Merumuskan strategi alternatif serta
(5) Memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan
Secara umum pertumbuhan ekonomi selalu dijelaskan lebih karena factor
eksternal seperti struktur system ekonomi. Tetapi, bagi McClelland lebih pada faktor
internal yakni pada nilai-nilai motivasi yang mendorong untuk memanfaatkan
peluang untuk meraih kesempatan.
McCleland menyimpulkan bahwa keinginan ada kaitannya dengan dorongan
dan perilaku dalam kehidupan mereka yang dikenal dengan “Need For Achievment”
yakni hasrat untuk bekerja dengan baik, tidak demi pengakuan dan gengsi yang
didapat dari lingkungan sosialnya, melainkan dorongan kerja untuk memuaskan
batin. Bagi mereka yang memiliki dorongan “Need For Achievment” tinggi akan
bekerja lebih keras, belajar lebih cepat dalam menyelesaikan masalah dan sebagainya.
Permasalahan pada negara berkembang selalu dihadirkan pada situasi dan
kondisi yang menyebabkan tingginya tingkat resiko dalam menghasilkan pendapatan

14

Universitas Sumatera Utara

yang bervariasi. Rumahtangga yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang
berisiko ini, harus memikirkan resiko manajemen dan resiko strategi bertahan.
Termasuk didalamnya jaminan social untuk dirinya melalui menabung dan jaminan
yang baik untuk menghadapi situasi yang diluar dugaan.
Dalam perjalan hidupnya, manusia hidup dengan alam secara timbal balik
yakni bagaimana manusia beradaptasi dengan alam agar dapat Survive (bertahan
hidup) dengan cara mengalihkan energi alam kepada dirinya. Sanderson (1995)
mendefenisikan adaptasi sebagai sifat sosial akibat adanya kebutuhan tujuan, dan
hasrat yang ada pada individu. Hal ini menggerakkan manusia untuk menciptakan
inovasi baru dan cara-cara yang digunakan untuk menyerap sumber daya alam yang
dibutuhkannya (Leo dan Ika:2002)
Suparlan (1999) mengatakan adaptasi pada hakikatnya adalah suatu proses
untuk memenuhi syarat-syarat dasar untuk dapat melangsungkan hidup. Syarat-syarat
dasar tersebut mencakup:
o Syarat dasar alamiah, biologis (manusia harus makan dan minum
untuk kestabilan temperature tubuhnya untuk tetap berfungsi dalam
hubungan harmonis secara menyeluruh dengann organ-organ tubuh
lainnya)
o Syarat dasar kejiwaan, manusia membutuhkan perasaan tenang yang
jauh dari perasaan-perasaan takut , keterpencilan, gelisah dan lain-lain.
o Syarat dasar sosial, manusia membutuhkan hubungan untuk dapat
melangsungkan keturunan untuk tidak merasa dikucilkan, dapat
belajar mengenai kebudayaannya.

15

Universitas Sumatera Utara

Konsep mata pencaharian sangat penting dalam memahami strategi bertahan
hidup, karena merupakan bagian dari strategi mata pencaharian. Strategi bertahan
dalam mengatasi permasalahan khusunya tekanan ekonomi dapat dikelompokkan
menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Strategi aktif, yaitu strategi yang mengoptimalkan segala potensi
keluarga untuk melakukan aktivitas sendiri, memperpanjang jam kerja,
dan sebagainya
2. Strategi Pasif, yaitu mengurangi pengeluaran keluarga
3. Strategi Jaring Pengaman, misalnya menjalin relasi, baik secara
informal maupun formal dengan lingkungan sosialnya, dan lingkungan
kelembagaan.
Model pembangunan yang bertumpu pada industri padat modal dan
terkonsentrasi di perkotaan, menjadikan perpindahan penduduk tanpa keterampilan
dan pendidikan yang memadai dari desa hijrah ke kota merupakan konsekuensi awal
yang harus ditanggung. Konsekuensi selanjutnya adalah muncul berbagai macam
profesi yang digeluti oleh penduduk yang bertujuan untuk dapat bertahan hidup.
Kota Medan yang sebagai ibukota propinsi Sumatera Utara adalah kota
terbesar ketiga di Indonesia. Oleh karena itu juaga merupakan sebagai salah satu
merupakan

bagian

penting

dari

pembangunan

negara

Indonesia.

Dalam

perkembangan kota Medan, yang sudah menuju ke arah kota metropolitan,
masyarakat dituntut untuk memiliki kemampuan/skill yang bisa diperolh dari
pendidikan. Keterbatasan pendidikan dan keterampilan yang dimiliki oleh
parapendatang menyebabkan mereka lebih memilih pada jenis kegiatan usaha yang

16

Universitas Sumatera Utara

tidak terlalu menuntut pendidikan dan keterampilan yang tinggi. Kata strategi sama
maknanya dengan siasat, kiat atau taktik. Dalam arti umum menurut Gibbs “strategi
adalah rencana untuk pencapaian tujuan yang telahditetapkan dengan biaya sekecil
mungkin”. Sedangkan menurut Ivor K. Davies "strategi berarti rencana pokok
mengenai pencapaian, beberapa tujuan yang lebih umum" (PEPAK, 24 Juli 2003)
Resistensi berarti perlawanan. Merupakan gerakan atau perlawanan yang
terjadi karena adanya ketidakpuasan terhadap sesuatu hal. Menurut Pearce J. A
Robinson (1997) definisi resistensi adalah setiap (semua) tindakan para anggota kelas
masyarakat yang rendah dengan maksud untuk melunakkan atau menolak tuntutantuntutan(misalnya sewa, pajak, penghormatan) yang dikenakan pada kelas itu oleh
kelas-kelas yang lebih atas (misalnya tuan tanah, negara, pemilik mesin,
pemberipinjaman uang) atau untuk mengajukan tuntutan-tuntutannya sendiri
(misalnyapekerjaan, lahan, kemurahan hati, penghargaan) terhadap kelas-kelas atasan
ini.
Keberanian sektor ini untuk melakukan resistensi adalah sebuah proses
akumulasi dari berbagai fenomena yang melatarbelakangi, antara lain: Pertama,
adanya model penataan sektor informal yang selalu menggunakan pendekatan
represif, bukan persuasif. Kedua, adanya sikap ketidakpedulian pemerintah
kotaterhadap keberadaan sektor informal sehingga selalu dimarjinalkan. Ketiga,
terbungkamnya

suara

sektor

informal.

Budaya

top

down

dalam

setiap

pembuatankebijakan yang mengatur sektor informal juga menyebabkan terjadinya
resistensisektor informal terhadap Pemerintah Kota. Keempat, adanya stigma negatif
yangselama ini sengaja ditempelkan oleh Pemerintah Kota terhadap keberadaan

17

Universitas Sumatera Utara

sector informal. Kelima, berhembusnya era reformasi. Era reformasi merupakan
variabel penting yang bisa memicu terjadinya resistensi sektor informal, karena era
itu mampu memberikan suasana atau ruang bagi terwujudnya resistensi
sektorinformal dalam bentuk yang riil
Kalau dilihat dari beberapa alasan yang melatar belakangi peternak babi untuk
tetap bertahan di daearah Mandala ini, fenomena ini sejalan dengan teori pilihan
rasional yang memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dalam hal ini dipandang
sebagai manusia yang mempunyai tujuan dan maksud. Artinya aktor mempunyai
tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Aktor
dipandang mempunyai pilihan atau nilai, dan keperluan sehingga tindakan yang
dilakukanbertujuan untuk memaksimalkan keinginan dan kebutuhannya (Ritzer,
2005).
Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah untuk menata keberadaan peternak
babi adalah dengan melakukan “relokasi”. Relokasi dalam kehidupan peternak babi
merupakan pemindahan lokasi peternakan dari satu tempat ke tempat yang lain dan
ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah untuk menertibkan para peternak.
Relokasi akan dilakukan ke daerah Deli Serdang. Relokasi tersebut ternyata tidak
sepenuhnya mendapat tanggapan yang positif dari para warga yang bekerja sebagai
peternak babi karena tidak semua warga yang berprofesi tersebut yang bersedia untuk
menempati area relokasi tersebut. Alasan penolakan karena tidak jarang relokasi
yang dilakukan cenderung kurang menguntungkan bagi mereka karena harus
memakan biaya lagi jika ingin merewat ternak mereka. Disamping itu relokasi bukan
untuk memecahkan masalah, tetapi cenderung memunculkan masalah baru bagi

18

Universitas Sumatera Utara

peternak tersebut karena sebagai pihak yang lemah dan terkesan selalu tertelikung
oleh kebijakan-kebijakan yang ada. Relokasi yang nota bene bertujuan untuk
menertibkan tetapi justru malah bisa membenani dengan permasalahan modal dan
mahalnya harga sewa tanah.
Para

peternak

tersebut

menolak

relokasi

dan

alasan-alasan

yang

melatarbelakangi tersebut berkaitan erat dengan pilihan secara rasional. Fenomena ini
didukung teori rasionalitas yang dikemukakan oleh Weber. Rasionalitas ekonomi
seringkali menjadi pilihan utama karena rasional tersebut mampu menggerakkan
banyak perubahan sosial dan perilaku kehidupan orang-orang (Salim, 2002).
Bekerja sebagai peternak babi merupakan salah satu bentuk usaha yang
mempunyai jiwa kewirausahaan yang tinggi dan mampu bersaing di tengah
persaingan perekonomian kota. Bertahannya peternak babi di kawasan Mandala
semata-mata dilakukan untuk menentang kebijakan pemerintah (PERDA) tetapi lebih
disebabkan karena faktor pilihan rasional yang harus diambil sehingga mereka bisa
tetap bertahan hidup. Peternak babi bukanlah sektor yang membebani pemerintah
sehingga mereka seharusnya tidak dimarginalkan oleh peraturan-peraturan yang
berlaku. Peternak babi adalah salah satu bentuk kewirausahaan yang mandiri
sehingga diperlukan ruang untuk para peternak tersebut agar bisa melangsungkan
kehidupannya. Ruang yang diberikan hendaknya mampu menunjang kegiatan yang
dilakukan bukan malah sebaliknyayang menjauhkan peternak babi dari aset hidupnya
yaitu para pembeli. Kebijakan yang diberlakukan pun hendaknya bisa memberi
payung bagi kegiatan mereka bukan hanya membatasi ruang gerak.

19

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian adalah

suatu usaha untuk mengumpulkan, mencari, dan

menganalisis fakta-fakta mengenai suatu masalah. Jenis penelitian yang digunakan
peneliti adalah penelitian studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia,
suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suat kelas peristiwa
pada masa sekarang.
Penelitan kualitatif dapat diartikan sebagai pendekatan yang menghasilkan
data, tulisan, dan tingkah laku yang di dapat dari apa yang diamati. Pendekatan
kulaitatif juga dapat di maksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian secara utuh misalnya tentang perilaku, tindakan, mitivasi dll.

3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Perumnas Mandala di Medan

3.3 Unit Analisa dan Informan
1. Unit Analisis
Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah keluarga
peternak babi yang bermukim di Mandala. Peternak babi yang berada di lokasi
penelitian berjumlah 610 keluarga (BPS 2010).

20

Universitas Sumatera Utara

2. Informan
Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah warga yang memiliki
peternak babi dan juga sebagai pemulung yang tinggal di daerah Mandala.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini, teknik
pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi
atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan
dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–
depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian
dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan
atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide)
wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang
relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai
responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak
mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua
jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek
atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden).
Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang
mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan

21

Universitas Sumatera Utara

menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban
untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2. Observasi
Tehnik observasi yang digunakan adalah tehnik observasi non-partisipan.
Observas non-partisipan adalah suatu bentuk pengamatan dimana peneliti menjadi
pengamat pasif. (K. YIN, 2002). Disini peneliti akan melakukan observasi
kelapangan tempat peternakan babi tersebut. Beberapa informasi yang diperoleh dari
hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian
atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan tehnik observasi ini
adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab
pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu
melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap
pengukuran tersebut.
3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk
dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan
harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak
terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk
mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan
dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau
catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server
dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

22

Universitas Sumatera Utara

3.5 Teknik Sampling
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk menarik sampel adalah
Purposive sampling. Purposive sampling yaitu menentukan sampel dengan
pertimbangan tertentu yang dipandang dapat memberikan data secara maksimal.
Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa
seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi
penelitiannya. Dan purposive sampling yaitu menentukan sampel dengan
pertimbangan tertentu yang dipandang dapat memberikan data secara maksimal

3.6. Interpretasi Data
Boglan dan Biklei menjelaskan bahwa analisis data adalah upaya yang
dilakukan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi
satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
mencari apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang
diceritakan orang lain ( Moleong, Lexi. 2005)
Data yang diperoleh dalam catatan hasil wawancara dengan bantuan catatan
lapangan, hasil observasi langsung, dan hasil kajian pustaka akan dibaca dan ditelaah
kembali. Kemudian selanjutnya, data-data yang sudah terkumpul akan dilakukan
analisa data. Data-data yang diperoleh tersebut akan dikelompokkan sesuai dengan
permasalahan yang telah ditetapkan, lalu dipisahkan secara kategorial dan dicari
hubungan yang muncul dari data, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu
analisis data yang baik yang dapat mengungkapkan permasalahan dari penelitian
yang dilakukan. Sedangkan hasil observasi akan diuraikan untuk memperkaya hasil

23

Universitas Sumatera Utara

wawancara sekaligus melengkapi data. Berdasarkan data yang diperoleh akan
diinterpretasikan untuk menggambarkan dengan jelas keadaan yang ada.

3.7 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini termasuk dalam izin masuk lokasi penelitian untuk
melakukan penelitian. Hal ini dikarenakan daerah tersebut jarang menerima
mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, sehingga hal ini menyebabkan kepala
daerah tersebut juga tidak tahu harus berbuat apa terhadap peneliti. Misalnya saja
dalam hal pembuatan surat izin bahwa peneliti telah melakukan penelitian di daerah
tersebut, sehingga menyebabkan lamanya waktu yang peneliti habiskan untuk
mengurus surat di daerah tempat peneliti melakukan penelitian yang terlalu berhatihati dalam memberikan izin penelitian.
Keterbatasan data sekunder atau tambahan berupa buku, dokumen, jurnal
maupun yang lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini menyebabkan peneliti
mengalami kesulitan di dalam melakukan penganalisisan data lapangan dan
memerlukan waktu cukup lama. Keterbatasan lainnya juga disebabkan oleh
kesibukan peternak tersebut mengurus ternak mereka sehingga mengakibatkan
sedikitnya waktu yang dimiliki oleh peneliti ketika mengadakan proses wawancara
terhadap buruh kontrak yang sedang bekerja di perusahaan itu. Namun penelitian ini
berjalan dengan lancar karena adanya kerjasama yang baik dan saling pengertian dari
pihak keluarga peternak.

24

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Peternakan Babi
Peternakan babi yang berada di Mandala ini sudah berdiri sejak tahun 1990
yang dikelola oleh penduduk setempat sendiri. Peternakan ini adalah usaha dari
penduduk lokal yang bertempat tinggal di daerah itu dan digunakan sebagai mata
pencaharian pokok. Lokasi peternakan babi yang dimiliki oleh penduduk setempat ini
berada langsung di belakang rumah penduduk, yakni di Perumnas Mandala
Kelurahan Tegalsaari, Kecamatan Medan Denai, Kabupaten Deli Serdang.
Lokasi tempat pemeliharaan atau kandang hewan yang berada langsung di
belakang rumah penduduk tersebut berukuran 10 m x 10 m. Sedangkan banyaknya
ternak yang dimiliki oleh penduduk tersebut sebanyak 3 - 4 ekor.
Usaha yang dilakukan oleh masyarakat mandala ini adalah serangkaian
kegiatan usaha memelihara ternak baik dalam bentuk kelompok atau perorangan
untuk menghasilkan produksi ternak yang dapat dipasarkan dan menguntungkan bagi
petani atau kelompok usaha. Teknik budidaya ternak babi merupakan salah satu
peluang bisnis bagi petani sesuai potensi dan sumberdaya yang tersedia, karena
komoditi babi dapat dipelihara oleh sebagian besar rumah tangga petani untuk dijual
sebagai sumber uang tunai
Sumber makanan untuk ternak babi ini masih tergantung dari sisa-sisa dari
dapur dan ubi-ubian,dikandangkan tetapi kadang-kadang dilepas dengan sistem
perkandangan tradisionial.

25

Universitas Sumatera Utara

4.1.2 Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi sampel penelitian adalah masyarakat yang
dianggap peneliti sudah sejak lama atau menjalankan usaha ternak babinya secara
turun-temurun dari keluarganya terdahulu. Hal ini dilakukan agar hasil wawancara
yang dilakukan oleh peneliti dapat lebih akurat.
4.1.3 Profil Informan
Tingkat pendidikan kepala keluarga peternak babi memiliki tingkat
pendidikan yang berbeda-beda, dari tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU),
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Tabel 4.1 Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
NO

Nama Informan

SMU

SMK

Lama Tinggal

1

Roy



20 tahun

2

Herman



23 tahun

3

Yudha



25 tahun

4

Putra



21 tahun

5

Roni

6

Jony

7

David

8

Valent



25 tahun

9

Frans



20 tahun

10

Leo



21 tahun






22 tahun
24 tahun

22 tahun

26

Universitas Sumatera Utara

4.2 PEMBAHASAN PENELITIAN
4.2.1 Kehidupan Ekonomi dan Pembagian Penghasilan Perekonomian Peternak
Babi
Berikut ini hasil wawancara terhadap para peternak babi yang berada di
Mandala

yang

menunjukkan

bagaimana

strategi

bertahan

mereka

yang

bermatapencaharian pokok sebagai peternak babi.
Melalui hasil wawancara yang dilakukan langsun