Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2008-2012

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR SINONASAL DI DEPARTEMEN THT-KL RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2008-2012 Oleh : PADMASURIA MUNIANDY 100100391
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR SINONASAL DI DEPARTEMEN THT-KL RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2008-2012 KARYA TULIS ILMIAH Oleh : PADMASURIA MUNIANDY 100100391
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2008-2012

Nama NIM

: PADMASURIA MUNIANDY : 100100391 Pembimbing

Penguji I

dr. Rizalina A.Asnir, Sp.THT-KL(K) Dr.dr. Imam Budi Putra, MHA,SpKK

NIP: 19610716 198803 2 001

NIP: 19650725 200501 1 001

Penguji II

dr. T. Siti Harilza Zubaidah, SpM NIP: 19760422 200501 2 002
Medan, 20 Desember 2013 Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH NIP: 19540220 198011 1 001
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan hasil penelitian ini. Sebagai salah satu area kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dokter umum, hasil penelitian ini disusun sebagai rangkaian tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis serta kepada dosen pembimbing penulisan karya tulis ilmiah ini, dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT-KL(K) yang dengan sepenuh hati telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mendukung, membimbing, dan mengarahkan penulisan mulai dari awal penyusunan proposal penelitian ini hingga memberikan rekomendasi yang sangat berguna saat pelaksanaan penelitian ini di lapangan nantinya.
Konsep cakupan belajar sepanjang hayat dan pengembangan pengetahuan baru telah memotivasi penulis untuk melaksanakan penelitian yang berjudul “Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2008-2012”. Semoga penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran membangaun demi perbaikan hasil penelitian ini.
Medan, Desember 2013 Padmasuria Muniandy
Universitas Sumatera Utara

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR SINONASAL DI DEPARTEMEN THT-KL RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
TAHUN 2008-2012
Abstrak
Latar Belakang. Tumor rongga hidung dan sinus paranasal disebut juga sebagai tumor sinonasal. Tumor sinonasal terbagi atas tumor jinak dan ganas. Kebanyakan tumor ini berkembang dari sinus maksilaris. Di Indonesia dan di luar negeri didapatkan hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh dan 3% dari keganasan di kepala dan leher. Paparan terhadap substansi-substansi seperti serbuk kayu, debu tekstil dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil, formaldehid dan sebagainya, terlibat sebagai faktor predisposisi keganasan sinonasal ini. Gejala klinis bergantung pada letak dan luasnya tumor. Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral, rinorea, sekret bercampur darah atau terjadi epistaksis. Pemeriksaan penunjang seperti Computerized Tomography Screening (CT scan) merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang manakala Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normal, sedangkan pemeriksaan histopatologi merupakan diagnosis pasti dan salah satu faktor yang menentukan pilihan terapi dan prognosis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita tumor sinonasal di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik, Medan Periode Januari 2008 – Desember 2012.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan memaparkan data penderita yang diperoleh dari rekam medis penderita yang telah dilakukan pemeriksaan CT scan dan hasil histopatologi pada bulan Januari 2008 sampai Desember 2012 di RSUP H. Adam Malik Medan.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan penderita tumor ganas sinonasal paling banyak ditemukan pada laki-laki (57,7%), kelompok usia >51 tahun (35,6%), pekerjaan petani (27,9%), keluhan utama berupa gejala pada nasal (83,7%), lokasi tumor pada sinus maksilaris (46,2%), dan gambaran histopatologi karsinoma sel skuamosa (22,1%).
Kata kunci : tumor sinonasal, sinus paranasal, karsinoma sinonasal
Universitas Sumatera Utara

Abstract
Background. Nasal cavity tumors and paranasal sinuses are commonly acknowledged as sinonasal tumors. Sinonasal tumors are prorated into benign and malignant tumors. A vast amount of such tumors are known to be initiated from maxillary sinus. Scientific research has determined that globally about 1 % of malignancies are endowed in the body and 3 % of malignancies are identified in the head and neck. Exposure to substances such as wood dust, textile dust and animal skins, nickel, isopropyl oil, formaldehyde have involved a predisposing factor leading to sinonasal malignancies. Clinical symptoms are depended on the location and extent of the tumor. Severities are based on the origin of the primary tumor as well as the direction and maturation of its kind. Nasal symptoms such as unilateral nasal obstruction, rhinorrhea, discharge mixed with blood or epistaxis are common indications. Computerized Tomography Screening (CT scan) is the best analysis tool due to its clarity in showing the tumor expansion and bone destruction. Furthermore an Magnetic Resonance Imaging (MRI) can distinguish tumor tissues from normal tissues thus determining the leading choice of therapy and prognosis. The purpose of this study was to regulate characteristics of patients with sinonasal tumors at the Department of Otolaryngology at H. ADAM MALIK MEDAN from Year 2008-2012.
The methodology used in this research is a descriptive study of patients who presented data obtained from medical records with the following prerequisites. CT scans and histopathological examinations conducted within the date range from January 2008 to December 2012 at H. ADAM MALIK MEDAN. Results. Results showed majority patients affected with sinonasal tumor are mostly found in male (57,7 %). Moreover (35,6%) are above the age group of 51 years old. In relation to the above mentioned, (27,9%) of affected patients are involved in agricultural activities. The main complaint usually initiates in the form of nasal symptoms (83,7%). The location of the tumor is mostly in the maxillary sinus (46,2%) and histological type is squamous cell carcinoma (22,1%). Keywords : sinonasal tumors, paranasal sinuses, sinonasal carcinoma
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... KATA PENGANTAR.................................................................................... ABSTRAK ...................................................................................................... ABSTRACT .................................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................... DAFTAR TABEL .......................................................................................... DAFTAR GAMBAR...................................................................................... DAFTAR SINGKATAN................................................................................

i ii iii iv v ix x xii

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1.2. Rumusan Masalah .................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian......................................................................
1.3.1. Tujuan Umum .............................................................. 1.3.2. Tujuan Khusus ............................................................. 1.4. Manfaat Penelitian....................................................................

1 3 4 4 4 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 5

2.1. Tumor Sinonasal....................................................................... 2.2. Anatomi Sinus Paranasal .......................................................... 2.3. Epidemiologi ............................................................................ 2.4. Etiologi ..................................................................................... 2.5. Gejala Klinis ............................................................................. 2.6. Diagnosis ..................................................................................
2.6.1. Anamnesis.................................................................. 2.6.2. Pemeriksaan Fisik......................................................

5 5 7 8 8 9 9 10

Universitas Sumatera Utara

2.6.3. Radiologic Imaging ................................................... 2.6.4. Biopsi ......................................................................... 2.7. Gambaran Histopatologi........................................................... 2.7.1. Tumor Jinak Sinonasal .............................................. 2.7.2. Tumor Ganas Sinonasal ............................................. 2.8. Klasifikasi TNM dan Sistem Staging ....................................... 2.9. Penatalaksanaan........................................................................ 2.9.1. Drainage/Debridement .............................................. 2.9.2. Resection.................................................................... 2.9.3. Rehabilitasi ................................................................ 2.9.4. Terapi Radiasi ............................................................ 2.9.5. Kemoterapi ................................................................ 2.10. Prognosis ................................................................................

10 11 11 12 15 18 25 25 25 25 26 26 26

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL.......... 27
3.1. Kerangka Konsep Penelitian .................................................... 27 3.2. Variabel dan Definisi Operasional ........................................... 27

BAB 4 METODE PENELITIAN.................................................................. 32

4.1. Rancangan Penelitian ............................................................... 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 4.3. Populasi dan Sampel................................................................
4.3.1. Populasi..................................................................... 4.3.2. Sampel ...................................................................... 4.4. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 4.5. Metode Analisa Data ................................................................ 4.5.1. Pengolahan Data ........................................................ 4.5.2. Analisa Data...............................................................

32 32 32 32 32 33 33 33 33

Universitas Sumatera Utara

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 34

5.1. Hasil penelitian ......................................................................... 5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ....................................... 5.1.2. Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal.................. 5.1.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur ....................... 5.1.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin.......... 5.1.5. Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan................. 5.1.6. Distribusi Sampel Berdasarkan Keluhan Utama ....... 5.1.7. Distribusi Sampel Berdasarkan Lokasi Tumor.......... 5.1.8. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Tumor............. 5.1.9. Distribusi Sampel Berdasarkan Gambaran Histopatologi .............................................................
5.2. Pembahasan .............................................................................. 5.2.1. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Kelompok Umur .................. 5.2.2. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Jenis Kelamin ...................... 5.2.3. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Pekerjaan ............................. 5.2.4. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Keluhan Utama .................... 5.2.5. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Lokasi Tumor ...................... 5.2.6. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Jenis Tumor ......................... 5.2.7. Gambaran Distribusi Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Berdasarkan Gambaran Histopatologi......

34 34 34 35 36 37 38 39 40
41 43
43
43
43
44
44
45
45

Universitas Sumatera Utara

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 46 6.1. Kesimpulan............................................................................... 46 6.2. Saran ......................................................................................... 47
DAFTAR RUJUKAN .................................................................................... 48 LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor 2.1. 5.1. 5.2. 5.3. 5.4. 5.5. 5.6. 5.7.

Judul

Halaman

Klasifikasi Jenis Tumor Sinonasal ........................................... 12

Distribusi Sampel Berdasarkan Umur ...................................... 35

Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin......................... 36

Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan................................ 37

Distribusi Sampel Berdasarkan Keluhan Utama ...................... 38

Distribusi Sampel Berdasarkan Lokasi Tumor......................... 39

Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Tumor............................ 40

Distribusi Sampel Berdasarkan Gambaran Histopatologi............. ............................................................... 41

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

Gambar 2.1. Lokasi sinus paranasal pada rongga hidung...........................

5

Gambar 2.2. Haemangioma ........................................................................ 13

Gambar 2.3. T1 terbatas pada mukosa sinus maksilaris ............................. 19

Gambar 2.4.

T2 menyebabkan erosi dan destruksi tulang hingga palatum dan atau meatus media tanpa melibatkan dinding posterior sinus maksilaris dan fossa pterigoid.......................................

19

Gambar 2.5.

Tumor menginvasi dinding posterior tulang sinus maksilaris, jaringan subkutaneus, dinding dasar dan medial orbita, fossa pterigoid, sinus etmoidalis .....................................................

20

Gambar 2.6.

A. T4a menunjukkan invasi tumor pada anterior orbita B. T4a menunjukkan invasi tumor pada sinus sfenoidalis dan fossa kribriformis ..........................................

20

Gambar 2.7.

Pandangan koronal T4b menunjukkan tumor Menginvasi apeks orbita dan atau dura, otak atau fossa kranial medial.........................................................................

21

Gambar 2.8.

Pada kavum nasi dan sinus etmoidalis, T1 didefinisikan sebagai tumor yang terbatas pada salah satu bagian, dengan atau tanpa invasi tulang.........................................................

22

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.9.

T2 didefinisikan sebagai tumor yang menginvasi dua bagian di dalam satu regio atau meluas hingga melibatkan regio yang berdekatan di dalam daerah nasoetmoidalis kompleks (kavum nasi dan etmoid) dengan atau tanpa invasi tulang .... 23

Gambar 2.10. Dua pandangan dari T3 menunjukkan tumor menginvasi sinus maksilaris dan palatum (kiri) dan meluas ke dasar orbita dan fossa kribriformis (kanan) ...................................................... 23

Gambar 2.11. T4a menginvasi salah satu dari bagian anterior orbita, kulit hidung atau pipi, meluas minimal ke fossa kranialis anterior, fossa pterigoid, sinus sfenoidalis atau frontal ........................

24

Gambar 2.12. Dua pandangan dari T4b. Pandangan koronal kiri menunjukkan invasi di dalam apeks orbita dan otak. Kanan, tumor menginvasi klivus ........................................................

24

Gambar 3.1. Kerangka konsep karateristik penderita tumor sinonasal....... 27

Universitas Sumatera Utara

CT IRT MRI RSUP HAM

DAFTAR SINGKATAN
Computerized Tomography (CT scan) Ibu Rumah Tangga Magnetic Resonance Imaging Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Universitas Sumatera Utara

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR SINONASAL DI DEPARTEMEN THT-KL RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
TAHUN 2008-2012
Abstrak
Latar Belakang. Tumor rongga hidung dan sinus paranasal disebut juga sebagai tumor sinonasal. Tumor sinonasal terbagi atas tumor jinak dan ganas. Kebanyakan tumor ini berkembang dari sinus maksilaris. Di Indonesia dan di luar negeri didapatkan hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh dan 3% dari keganasan di kepala dan leher. Paparan terhadap substansi-substansi seperti serbuk kayu, debu tekstil dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil, formaldehid dan sebagainya, terlibat sebagai faktor predisposisi keganasan sinonasal ini. Gejala klinis bergantung pada letak dan luasnya tumor. Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral, rinorea, sekret bercampur darah atau terjadi epistaksis. Pemeriksaan penunjang seperti Computerized Tomography Screening (CT scan) merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang manakala Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normal, sedangkan pemeriksaan histopatologi merupakan diagnosis pasti dan salah satu faktor yang menentukan pilihan terapi dan prognosis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita tumor sinonasal di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik, Medan Periode Januari 2008 – Desember 2012.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan memaparkan data penderita yang diperoleh dari rekam medis penderita yang telah dilakukan pemeriksaan CT scan dan hasil histopatologi pada bulan Januari 2008 sampai Desember 2012 di RSUP H. Adam Malik Medan.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan penderita tumor ganas sinonasal paling banyak ditemukan pada laki-laki (57,7%), kelompok usia >51 tahun (35,6%), pekerjaan petani (27,9%), keluhan utama berupa gejala pada nasal (83,7%), lokasi tumor pada sinus maksilaris (46,2%), dan gambaran histopatologi karsinoma sel skuamosa (22,1%).
Kata kunci : tumor sinonasal, sinus paranasal, karsinoma sinonasal
Universitas Sumatera Utara

Abstract
Background. Nasal cavity tumors and paranasal sinuses are commonly acknowledged as sinonasal tumors. Sinonasal tumors are prorated into benign and malignant tumors. A vast amount of such tumors are known to be initiated from maxillary sinus. Scientific research has determined that globally about 1 % of malignancies are endowed in the body and 3 % of malignancies are identified in the head and neck. Exposure to substances such as wood dust, textile dust and animal skins, nickel, isopropyl oil, formaldehyde have involved a predisposing factor leading to sinonasal malignancies. Clinical symptoms are depended on the location and extent of the tumor. Severities are based on the origin of the primary tumor as well as the direction and maturation of its kind. Nasal symptoms such as unilateral nasal obstruction, rhinorrhea, discharge mixed with blood or epistaxis are common indications. Computerized Tomography Screening (CT scan) is the best analysis tool due to its clarity in showing the tumor expansion and bone destruction. Furthermore an Magnetic Resonance Imaging (MRI) can distinguish tumor tissues from normal tissues thus determining the leading choice of therapy and prognosis. The purpose of this study was to regulate characteristics of patients with sinonasal tumors at the Department of Otolaryngology at H. ADAM MALIK MEDAN from Year 2008-2012.
The methodology used in this research is a descriptive study of patients who presented data obtained from medical records with the following prerequisites. CT scans and histopathological examinations conducted within the date range from January 2008 to December 2012 at H. ADAM MALIK MEDAN. Results. Results showed majority patients affected with sinonasal tumor are mostly found in male (57,7 %). Moreover (35,6%) are above the age group of 51 years old. In relation to the above mentioned, (27,9%) of affected patients are involved in agricultural activities. The main complaint usually initiates in the form of nasal symptoms (83,7%). The location of the tumor is mostly in the maxillary sinus (46,2%) and histological type is squamous cell carcinoma (22,1%). Keywords : sinonasal tumors, paranasal sinuses, sinonasal carcinoma
Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumor rongga hidung dan sinus paranasal disebut juga sebagai tumor sinonasal. Tumor ini berasal dari dalam rongga hidung atau sinus paranasal di sekitar hidung. Tumor sinonasal terbagi atas tumor jinak dan tumor ganas (Rangkuti, 2013).
Tumor jinak sinonasal adalah penyakit usia tua yang dikenal manusia sejak zaman Mesir kuno. Tumor ini cenderung tumbuh secara lambat dan dapat timbul dari salah satu daerah di dalam hidung atau sinus, termasuk lapisan pembuluh darah, saraf, tulang, dan tulang rawan (Yale, 2013).
Beberapa jenis tumor jinak ada yang mudah kambuh atau secara klinis bersifat ganas karena pertumbuhan tumor yang agresif dapat mendestruksi tulang, misalnya inverted papilloma, displasia fibrosa ataupun ameloblastoma. Pada jenis ini tindakan operasi yang dilakukan harus radikal. Secara umum tumor jinak tersering adalah sinonasal papilloma (schneiderian papilloma). Tumor ini berasal dari epitel mukosa saluran pernafasan bersilia yang merupakan derivat dari ektoderm yang melapisi rongga hidung dan sinus paranasal disebut dengan membran Schneiderian, menghasilkan tiga tipe morfologi papilloma yang berbeda, diantaranya inverted papilloma, oncocytic papilloma, dan exophytic papilloma atau secara keseluruhan disebut dengan Schneiderian papilloma. Schneiderian papilloma ini hanya mewakili 0,4-4,7% dari semua tumor sinonasal (Rangkuti, 2013).
Keganasan hidung dan sinus paranasal (sinonasal) merupakan tumor yang jarang ditemukan, hanya mencakup 1% dari seluruh tumor ganas pada tubuh dan 3 % dari keganasan di kepala dan leher. Pasien dengan tumor sinonasal biasanya datang dengan stadium yang sudah lanjut dan umumnya sudah meluas ke jaringan
Universitas Sumatera Utara

sekitarnya. Sinus paranasal merupakan rongga yang tersembunyi dalam tulang, yang tidak akan dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik rutin dan sering asimptomatik pada stadium dini (Roezin, 2007; Sukri, 2012).
Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 2 dari 10.000 penduduk per tahun. Di bagian THT FK UI-RSCM, keganasan ini ditemukan pada 10-15% dari seluruh tumor ganas THT. Rasio penderita laki-laki dibanding wanita sebesar 2:1 (Roezin, 2007).
Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui. Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara tingginya insiden keganasan sinus paranasal dengan paparan bahan-bahan kimia karsinogen dan serbuk kayu. Munculnya keganasan biasanya sekitar usia 40 tahun setelah kontak pertama. Peningkatan risiko keganasan ini juga didapatkan pada pekerja pabrik pigmen kromat dan pemurnian nikel. Terlebih lagi, dilaporkan bahwa kontak dengan formaldehid, diisoprofil sulfat, dikloroetil sulfide dan merokok juga meningkatkan risiko timbulnya keganasan ini (Goel, 2012; Sukri, 2012).
Hampir seluruh jenis histopatologi tumor jinak dan ganas dapat tumbuh di daerah sinonasal. Termasuk tumor jinak epitelial yaitu adenoma dan papiloma, dan yang non-epitelial yaitu fibroma, angiofibroma, hemangioma, neurilemomma, osteoma, displasia fibrosa dan lain-lain. Manakala yang termasuk tumor ganas epithelial adalah karsinoma sel skuamosa, kanker kelenjar liur, adenokarsinoma, karsinoma tanpa diferensiasi dan lain-lain (Roezin, 2007).
Tumor ganas sinonasal mempunyai prevalensi kurang dari 1 % dari seluruh neoplasma dan kurang dari 3 % dari seluruh tumor saluran nafas atas, namun lebih dari 10 % dari seluruh tumor sinonasal. Karsinoma sinonasal yang berasal dari sinus maksila sekitar 60 %, dari kavum nasi 22 %, dari sinus etmoid 15 %, dari sinus frontal dan sinus sfenoid 3 %. Secara histopatologi jenis squamous cell carcinoma adalah yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 55 %, diikuti dengan jenis non ephitelial neoplasm 20 %, tumor kelenjar 15 %, undifferentiated
Universitas Sumatera Utara

carcinoma 7 % dan jenis lain 3 %. Keganasan ini dengan angka yang tinggi ditemukan di Jepang, China, dan India (Budiman, 2012; Sukri, 2012).
Gejala tergantung dari asal tumor primer serta arah dan perluasannya. Tumor di sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor membesar, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang dan meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita, ataupun intrakranial. Lamanya gejala bervariasi dari beberapa minggu sampai lima bulan (Roezin, 2007; Goel, 2012).
Pemeriksaan nasoendoskopi dan sinuskopi dapat membantu menemukan tumor pada stadium dini. Pemeriksaan penunjang seperti CT scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang manakala MRI atau Magnetic Resonance Imaging dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normal (Roezin, 2007).
Menurut Sukri (2012) prognosis keganasan ini umumnya buruk. Histopatologi merupakan diagnosis pasti dan salah satu faktor yang menentukan pilihan terapi dan prognosis (Budiman, 2012).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dan belum adanya data mengenai “Karakteristik Penderita Tumor Sinonasal Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2008-2012”, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian ini.
1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah : “Bagaimanakah karakteristik penderita tumor sinonasal di Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik pada tahun 2008-2012?”
Universitas Sumatera Utara

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui karakteristik penderita tumor sinonasal di Departemen THTKL RSUP H. Adam Malik, Medan Periode Januari 2008 – Desember 2012. 1.3.2. Tujuan khusus Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui distribusi umur pada penderita tumor sinonasal. 2. Mengetahui distribusi jenis kelamin pada penderita tumor sinonasal. 3. Mengetahui distribusi pekerjaan pada penderita tumor sinonasal. 4. Mengetahui distribusi keluhan utama pada penderita tumor sinonasal. 5. Mengetahui distribusi lokasi tumor pada penderita tumor sinonasal. 6. Mengetahui distribusi jenis tumor pada penderita tumor sinonasal. 7. Mengetahui distribusi gambaran histopatologi pada penderita tumor
sinonasal.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Pengetahuan sebagai proses pembelajaran tahap awal penulisan karya ilmiah. 2. Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi kontribusi sebagai informasi dalam menerapkan pengalaman ilmiah yang diperoleh untuk peneliti di masa yang akan datang.
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tumor Sinonasal Pasien dengan tumor sinonasal biasanya datang dengan stadium tumor yang sudah lanjut dan umumnya sudah meluas ke jaringan sekitarnya. Sinus paranasal merupakan rongga yang tersembunyi dalam tulang, yang tidak akan dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik rutin dan sering asimptomatik pada stadium dini. Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya (Roezin, 2007; Sukri, 2012). 2.2. Anatomi Sinus Paranasal
Gambar 2.1. Lokasi sinus paranasal pada rongga hidung (Greene, 2006)
Universitas Sumatera Utara

Menurut Mangunkusumo (1989) sinus paranasal merupakan rongga-rongga yang terdapat di dalam tulang dan semua bermuara ke dalam hidung.
Sinus maksila adalah sinus yang terbesar, terletak didalam tulang maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung yang terbentuk dari tulang tipis dan muara sinus ini terdapat di bawah konka media. Dasar sinus ialah palatum durum dan berhubungan dengan akar-akar gigi rahang atas. Dinding posterolateral berhubungan dengan prosesus zigomatikus dan spasium pterigomaksila. Atap sinus berbatasan dengan orbita. Semua dinding ini dapat diinvasi dan dihancurkan oleh tumor (Mangunkusumo, 1989).
Sinus etmoid terdiri dari beberapa rongga udara yang terletak di antara dinding lateral rongga hidung dengan dinding medial orbita, berupa tulang yang sangat tipis dan disebut lamina papirasea. Dinding medialnya juga berupa tulang tipis yang membentuk konka superior dan konka media, dan dinding lateral sel-sel etmoid anterior adalah os lakrimalis, sehingga tumor etmoid akan terlihat sebagai massa subkutan di kantus medius. Sinus etmoid kanan dan kiri dipisahkan oleh tulang yang sangat tipis sehingga proses keganasan pada satu sisi sinus etmoid harus dianggap sebagai suatu proses bilateral (Mangunkusumo, 1989).
Sinus frontal berupa dua rongga yang tidak simetris dan biasanya dipisahkan oleh tulang tipis. Sinus ini mempunyai hubungan dengan rongga hidung melalui duktus nasofrontal. Dinding posteriornya berupa tulang yang agak tebal dan berbatasan dengan fossa kranii anterior, sedangkan di bagian bawah terpisah dengan sel-sel etmoid anterior oleh dinding tulang tipis (Mangunkusumo, 1989).
Sinus sfenoid terletak di dalam korpus os sfenoid, bagian kanan dan kiri dipisahkan oleh septum yang tipis dan kadang-kadang pemisahannya kurang sempurna. Di atasnya terdapat fossa kranii media dan kelenjar hipofisa, di lateralnya terdapat sinus kavernosa, di anterior terdapat rongga hidung dan sinus etmoid, di posterior terdapat fossa kranii posterior tempat pons serebri dan klivus serta di bagian inferior ialah atap nasofaring (Mangunkusumo, 1989).
Universitas Sumatera Utara

2.3. Epidemiologi Keganasan hidung dan sinus paranasal (sinonasal) merupakan tumor yang
jarang ditemukan, hanya merupakan 1% dari seluruh tumor ganas pada tubuh dan 3 % dari keganasan di kepala dan leher. Secara tipikal ditemukan pada usia mulai dekade ke lima dan ketujuh kehidupan dan rasio perbandingan antara pria dan wanita adalah sebesar 2:1. Keganasan ini sering terdiagnosis pada usia 50 sampai 70 tahun (Francis, 2004; Mangunkusumo, 1989; Roezin, 2007; Sukri, 2012).
Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 23,6 per 100.000 penduduk pertahun. Di bagian THT FKUI-RSCM, keganasan ini ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumor ganas THT dan berada di peringkat kedua sesudah tumor ganas nasofaring. Keganasan jenis ini tertinggi ditemukan di Jepang, China dan India. Kebanyakan pederita berasal dari golongan sosioekonomi rendah (Humayun, 2010; Mangunkusumo, 1989; Roezin, 2007; Sukri, 2012).
Rifki pada tahun 1985 mengumpulkan data dari 10 kota besar dari Indonesia dan mendapatkan frekuensi relatif tumor ganas sinonasal sebanyak 9,3-25,3% dari seluruh keganasan THT. Amat disayangkan hingga saat ini di Indonesia belum ada registrasi kanker yang terpadu (Nasional) untuk mendapatkan data mengenai insidens yang sebenarnya. Data dari beberapa kota besar yang dikumpulkan oleh bagian Patologi Anatomi didapatkan frekuensi tumor ganas sinonasal sebanyak 1,3-2,7% dari keseluruhan keganasan (Mangunkusumo, 1989).
Menurut Francis (2004) sinus maksilaris adalah lokasi yang paling sering terlibat (70%), dengan sinus etmoid sebagai kedua yang paling umum (20%). Sinus sfenoid (3%) dan sinus frontalis (1%) adalah yang paling umum untuk lokasi tumor primer.
Universitas Sumatera Utara

2.4. Etiologi
Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga beberapa zat kimia atau bahan industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropl dan lain-lain. Pekerja di bidang ini mengalami peningkatan risiko untuk terjadinya keganasan sinonasal. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasinkan atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan. Jenis histologis yang paling umum adalah karsinoma sel skuamosa, mewakili sekitar 70% kasus. Gejala klinis yang paling sering adalah obstruksi hidung dan epistaksis (Goel, 2012; Sukri, 2012; Roezin, 2007).
Selain akibat pekerjaan, ada yang menganggap bahwa sinusitis kronis dapat menyebabkan metaplasia yang kemudian menjadi karsinoma sel skuamosa pada sinonasal (Mangunkusumo, 1989).
2.5. Gejala klinis
Menurut Roezin (2007) gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor di dalam sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita atau intrakranial.
Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea. Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik (Roezin, 2007).
Pada gejala orbital ada perluasan tumor ke arah orbita menimbulkan gejala diplopia, proptosis (penonjolan bola mata), oftalmoplegia, gangguan visus, dan epifora (Roezin, 2007).
Universitas Sumatera Utara

Pada gejala oral dapat disertai perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum atau di prosesus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak tepat melekat atau gigi geligi goyang. Sering kali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut (Roezin, 2007).
Pada pasien dengan gejala fasial adanya perluasan tumor ke area wajah dimana akan menyebabkan penonjolan pipi. Gejala dapat disertai nyeri, hilang sensasi (anesthesia atau parastesia) jika mengenai nervus trigeminus (Roezin, 2007).
Sementara perluasan tumor ke intrakranial dapat menyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia, dan gangguan visus, yang dapat disertai likuorea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka saraf otak lainnya bisa terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris dan mandibularis (Roezin, 2007).
2.6. Diagnosis
Pemeriksaan
Menurut Mangunkusumo (1989) tujuan utama pemeriksaan adalah untuk mengetahui seberapa jauh perluasan tumor, sehingga dapat merencanakan pengobatan dan mengevaluasi prognosisnya.
2.6.1. Anamnesis
Sangat penting untuk melakukan anamnesis yang teliti. Perlu ditanyakan adalah hiperestesia atau anestesia di daerah pipi, adanya massa atau radang di daerah muka, rasa kebas atau keluhan gigi goyang, adakah gigi palsu yang tidak terfiksasi dengan baik lagi, penglihatan ganda, kesulitan membuka mulut, keluhan hidung tersumbat, sekret atau mengeluarkan darah, keluhan nyeri kepala,
Universitas Sumatera Utara

perubahan keperibadian, gangguan penciuman atau keluarnya air mata terusmenerus (Mangunkusumo, 1989).
2.6.2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara seksama, dengan penekanan pada regio sinonasal, orbita dan syaraf-syaraf kranial, dan juga harus dilakukan endoskopi nasal. Meskipun bukan patognomonik, mati rasa (kebas) atau hiperestesia syaraf infraorbital (V2) atau supraorbital (V3) secara kuat merupakan dugaan invasi keganasan. Temuan-temuan lain seperti proptosis, kemosis, kelemahan otot ekstraokular, dan adanya massa di pipi, gingival atau sulkus ginggivo-bukal juga sangkaan adanya tumor sinonasal (Bailey, 2006).
2.6.3. Radiologic Imaging
Menurut Bailey (2006), pencitraan radiologi penting untuk menentukan staging. Foto X-Ray (Plain film) dapat menunjukkan destruksi tulang. Meskipun demikian pada beberapa kasus dapat menunjukkan keadaan normal.
Computerized Tomography Screening (CT scan) lebih akurat daripada foto sinar-X untuk menilai struktur tulang sinus paranasal dan lebih murah daripada foto sinar-X. Pasien beresiko tinggi dengan riwayat terpapar karsinogen, nyeri persisten yang berat, neuropati kranial, eksoftalmus, kemosis, penyakit sinonasal dan dengan gejala persisten setelah pengobatan medis yang adekuat seharusnya dilakukan pemeriksaan dengan CT scan axial dan coronal dengan kontras atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). CT scan merupakan pemeriksaan superior untuk menilai batas tulang traktus sinonasal dan dasar tulang tengkorak. Penggunaan kontras dilakukan untuk menilai tumor, vaskularisasi, dan hubungannya dengan arteri karotid (Bailey, 2006).
MRI dipergunakan untuk membedakan tumor dengan jaringan lunak sekitarnya, membedakan sekresi di dalam nasal yang tersumbat dari space occupying lesion (SOL), menunjukkan penyebaran perineural, membuktikan keunggulan imaging pada sagital plane, dan tidak melibatkan paparan terhadap
Universitas Sumatera Utara

radiasi ionisasi. Coronal MRI image terdepan untuk mengevaluai foramen rotundum, vidian canal, foramen ovale dan kanal optik. Sagital image berguna untuk menunjukkan replacement signal berintensitas rendah yang normal dari Meckel cave signal berintensitas tinggi dari lemak di dalam fossa pterygopalatine oleh signal tumor yang mirip dengan otak (Bailey, 2006).
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Jika tumor tampak di kavum nasi atau rongga mulut, maka biopsy harus segera dilakukan melalui tindakan rinoskopi atau melalui operasi Caldwell-Luc yang insisinya melalui sulkus ginggivo-bukkal (Roezin, 2007).
2.6.4 Biopsi
Diagnosis suatu tumor berdasarkan hasil histopatologi biopsi tumor. Untuk mengambil biopsi dari tumor hidung tidaklah sulit. Jaringan langsung diambil sedikit dengan tang biopsi dan perdarahan yang timbul biasanya cukup diatasi dengan tampon anterior (Mangunkusumo, 1989).
Biopsi tumor sinus maksila biasanya dilakukan melalui pendekatan Caldwell-Luc, yang insisinya melalui sulkus ginggivo-bukal (Mangunkusumo, 1989).
Biopsi tumor sinus etmoid biasanya diambil dari perluasan tumor di rongga hidung atau di kantus medius. Biopsi tumor sinus sfenoid dilakukan melalui pendekatn transnasal, tetapi sering kali biopsy didapat dari perluasan tumor ke nasofaring atau rongga hidung. Biopsi tumor sinus frontal dilakukan dengan insisi supraorbital dan osteotomi (Mangunkusumo, 1989).
2.7. Gambaran Histopatologi
Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa diikuti oleh inverted papilloma dimana ini bersifat sangat invasif, dapat merusak jaringan di sekitarnya serta sangat cenderung untuk menetap dan dapat berubah menjadi ganas. Karsinoma sel skuamosa merupakan gambaran histopatologi yang paling sering pada keganasan sinonasal (70%), dimana sinus maksila adalah yang tersering
Universitas Sumatera Utara

terkena (65%-80%), disusul sinus etmoid (15%-25%), sedangkan sinus sfenoid dan frontal jarang terkena (Roezin, 2007; Sukri, 2012).
Tabel 2.1. Klasifikasi jenis tumor sinonasal (Dhingra, 2010)
2.7.1. Tumor Jinak Sinonasal 1. Papiloma Skuamosa Lesi verrucous mirip dengan kutil kulit yang berasal dari nasal vestibule
atau bagian bawah dari septum hidung, dapat tunggal atau multiple, pedunkulata atau sessile. Pengobatan eksisi lokal dengan kateterisasi dari dasar untuk mencegah rekurensi (kekambuhan). Tumor ini juga dapat diterapi dengan cryosurgery atau laser (Dhingra, 2010).
2. Inverted Papilloma Kebanyakan tumor terlihat pada usia antara 40-70 tahun dan lebih sering
pada laki-laki dibanding wanita (5:1). Tumor ini juga bersifat sangat invasif, dapat merusak jaringan di sekitarnya serta sangat cenderung untuk menetap dan dapat berubah menjadi ganas. Tumor ini berasal dari dinding lateral hidung dan seringnya pada unilateral. Ditandai dengan massa merah atau keabu-abuan, dapat menyebabkan edema, seperti polip nasal. Inverted papilloma memiliki kecenderungan untuk timbul lagi setelah operasi pengangkatan dan mungkin
Universitas Sumatera Utara

terkait dengan karsinoma sel skuamosa 10-15% dari kasus tumor ini. Terapinya dengan eksisi bedah luas rhinotomi lateral atau maksilektomi medial dan en bloc ethmoidectomy (Dhingra, 2010).
3. Pleomorphic adenoma Tumor yang biasa terjadi, biasanya timbul dari septum hidung.
Terapinya dengan bedah eksisi yang luas (Dhingra, 2010). 4. Schwannoma dan Meningioma Tumor ini sangat jarang ditemukan pada intranasal. Terapinya adalah
dengan eksisi bedah dengan rhinotomi lateral (Dhingra, 2010). 5. Haemangioma
Gambar 2.2. Haemangioma (Dhingra, 2010) Menurut Sukardja (2000) tumor jinak yang berasal dari pembuluh darah.
Tumor ini berwarna merah atau merah kebiru-biruan. A. haemangioma kapiler (Pendarahan polip pada septum). Ini adalah lembut, merah tua, tumor pedunkulata atau sessile berasal dari
bagian anterior septum hidung. Biasanya dapat menjadi ulserasi dan hadir dengan epistaksis berulang dan obtruksi pada hidung (Gambar 2.3.). Terapi dengan local excision dengan mengunakan cuff sekitarnya mucoperichondrium (Dhingra, 2010).
Universitas Sumatera Utara

B. haemangioma kavernosum.
Ini berasal dari perbatasan pada dinding lateral hidung. Terapinya adalah eksisi bedah dengan cryotherapy awal. Lesi yang luas mungkin memerlukan radioterapi dan eksisi bedah (Dhingra, 2010).
6. Kondroma
Tumor ini dapat timbul di sinus etmoid, rongga hidung atau septum hidung. Kondroma ini biasanya halus, tegas dan berlobul. Ada juga yang bercampur dengan tipe lain seperti fibro, osteo, atau angiokondromas. Tumor ini diterapi dengan eksisi bedah. Untuk tumor yang berulang atau besar, eksisi luas harus dilakukan karena kecenderungan untuk berubah menjadi ganas setelah kejadian tumor yang berulang (Dhingra, 2010).
7. Angiofibroma
Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai macam teori banyak diajukan. Salah satu di antaranya adalah teori jaringan asal, yaitu pendapat bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap rongga hidung. Tumor jinak angiofibroma nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang mengisi rongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus patanasal dan mendorong bola mata ke anterior (Roezin, 2007).
8. Glioma
Dari semua glioma, 30% adalah intranasal dan 10% terdiri dari intra dan extranasal. Biasanya terlihat pada bayi dan anak-anak. Glioma intranasal muncul sebagai polip yang tegas, kadang-kadang menonjol pada nares anterior (Dhingra, 2010).
9. Dermoid Nasal
Tumor ini tampak seperti perluasan septum pada atas bagian superior hidung dengan penyebaran pada tulang nasal dan hypertelorism. Sinus bisa
Universitas Sumatera Utara

terlihat di tengah dorsum nasal dengan rambut yang menonjol dari permukaannya (Dhingra, 2010).
2.7.2. Tumor Ganas Sinonasal
1. Karsinoma Sel Skuamosa
Menurut Barnes (2005) karsinoma sel skuamosa merupakan neoplasma epitelial maligna yang berasal dari epitelium mukosa kavum nasi atau sinus paranasal termasuk tipe keratinizing dan non keratinizing.
Karsinoma sel skuamosa sinonasal terutama ditemukan di dalam sinus maksilaris (sekitar 60-70%), diikuti oleh kavum nasi (sekitar 10-15%) dan sinus sfenoid dan frontal (sekitar 1%) (Barnes, 2005).
Secara makroskopik, karsinoma sel skuamosa kemungkinan berupa exophytic, fungating atau papiler. Biasanya rapuh, berdarah, terutama berupa nekrotik, atau indurated, demarcated atau infiltratif (Barnes, 2005).
A. Mikroskopik Keratinizing Squamous Cell Carcinoma
Secara histologi, tumor ini identik dengan karsinoma sel skuamosa dari lokasi mukosa lain pada daerah kepala dan leher. Ditemukan diferensiasi skuamosa, di dalam bentuk keratin ekstraseluler atau keratin intraseluler (sitoplasma merah muda, sel-sel diskeratotik) dan/atau intercellular bridges. Tumor tersusun di dalam sarang-sarang, massa atau sebagai kelompok kecil selsel atau sel-sel individual. Invasi ditemukan tidak beraturan. Sering terlihat reaksi stromal desmoplastik. Karsinoma ini terbagi atas diferensiansi baik, sedang atau buruk (Barnes, 2005).
B. Mikroskopik Non-Keratinizing (Cylindrical Cell, transitional) Carcinoma
Tumor ini merupakan tumor yang berbeda dari traktus sinonasal yang dikarakteristikkan dengan pola plexiform atau ribbon-like growth pattern. Tumor dapat menginvasi ke dalam jaringan dibawahnya dengan batas yang jelas. Tumor ini berdiferensiasi sedang ataupun buruk. Diferensiasi buruk sulit dikenal sebagai
Universitas Sumatera Utara

skuamosa dan harus dibedakan dari olfactory neuroblastoma atau karsinoma neuroendokrin (Barnes, 2005).
C. Undifferentiated Carcinoma
Undifferentiated carcinoma merupakan karsinoma yang jarang ditemukan, sangat agresif dan histogenesisnya tidak pasti. Undifferentiated carcinoma berupa massa yang cepat memperbesar sering melibatkan beberapa tempat (saluran sinonasal) dan melampaui batas-batas anatomi dari saluran sinonasal. Gambaran mikroskopik berupa proliferasi hiperselular dengan pola pertumbuhan yang bervariasi, termasuk trabekular, pola seperti lembaran, pita, lobular, dan organoid. Sel-sel tumor berukuran sedang hingga besar dan bentuk bulat hingga oval dan memiliki inti sel pleomorfik dan hiperkromatik, anak inti menonjol, sitoplasma eosinofilik, rasio inti dan sitoplasma tinggi, aktivitas mitosis meningkat dengan gambaran mitosis atipikal, nekrosis tumor dan apoptosis. Pemeriksaan tambahan seperti imunohistokimia, mikroskop elektron dan biologi molekuler seringkali diperlukan dalam diagnosis undifferentiated carcinoma dan dapat membedakan keganasan ini dari neoplasma ganas lainnya (Barnes, 2005).
2. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma mempunyai asosiasi epidemiologi pada tukang kayu, pembuat perabut dan tukang pengrajin kulit. Biasanya tampak pada bagian atas rongga hidung serta pada sinus etmoid. Adenokarsinoma lebih cenderung terhadap progresif lokal yang ganas dan diobati dengan en bloc recsection bila diperlukan (Cummings, 1998).
3. Melanoma Maligna
Biasanya ditemukan pada usia 50 tahun. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita. Secara makroskopik, massa polipoid berwarna keabu-abuan atau hitam kebiru-biruan ditemui pada 45% kasus. Di dalam kavum nasi, lokasi yang sering ditemukan melanoma maligna ini adalah daerah posterior septum nasal diikuti dengan turbinate medial dan inferior. Tumor menyebar
Universitas Sumatera Utara

melalui aliran darah atau limfatik. Metastasis nodul servikal dapat ditemukan pada pemeriksaan awal (Dhingra, 2010).
4. Olfaktori Melanoma Tumor ini dijumpai pada semua usia, tidak ada perbedaan insidens pada pria ataupun wanita. Tumor ini berwarna merah disertai massa polipoidal di superior rongga hidung, merupakan tumor vaskular dan tampak berdarah pada biopsi. Tumor ini mempunyai radiosensitif sedang dan dapat terapi dengan radiasi saja (Dhingra, 2010). 5. Haemangiopericytoma Tumor ini jarang dijumpai, berasal dari sel pericyte-a yang dikelilingi kapiler. Tumor ini bisa tampak pada lingkungan umur 60-70 tahun dan biasa disertai dengan epitaksis. Tumor ini juga bisa jinak ataupun ganas tetapi tidak dapat dibedakan secara histologis. Terapinya adalah eksisi bedah. Radioterapi digunakan untuk lesi yang bisa dioperasi atau kambuh (Dhingra, 2010). 6. Plasmacytoma Plasmacytoma ini biasanya mempengaruhi pria pada lingkungan usia lebih dari 40 tahun. Terapinya adalah dengan radioterapi dikuti operasi tiga bulan kemudian, jika penyembuhan total tidak terjadi. Follow-up jangka waktu panjang adalah penting untuk menghindari perkembangan myeloma multiple (Dhingra, 2010). 7. Sarcoma
Sarkoma osteogenik, chondrosarcoma, rhabdomyosarcoma, angiosarcoma, histiocytoma ganas adalah tumor yang jarang mempengaruhi rongga hidung (Dhingra, 2010).
Universitas Sumatera Utara

2.8. Klasifikasi TNM dan Sistem Staging Cara penentuan stadium tumor ganas hidung dan sinus paranasal yang
terbaru adalah menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) 2006 yaitu: Tumor Primer (T) Sinus maksilaris TX Tumor primer tidak dapat ditentukan T0 Tidak tampak tumor primer Tis Karsinoma in situ T1 Tumor terbatas pada mukosa sinus maksilaris tanpa erosi dan destruksi
tulang (Gambar 2.3.) T2 Tumor menyebabkan erosi dan destruksi tulang hingga palatum dan atau
meatus media tanpa melibatkan dinding posterior sinus maksilaris dan fossa pterigoid (Gambar 2.4.) T3 Tumor menginvasi dinding posterior tulang sinus maksilaris, jaringan subkutaneus, dinding dasar dan medial orbita, fossa pterigoid, sinus etmoidal (Gambar 2.5.) T4a Tumor menginvasi bagian anterior orbita, kulit pipi, fossa pterigoid, fossa infratemporal, fossa kribriformis, sinus sfenoidalis atau frontal (Gambar 2.6. A,B) T4b Tumor menginvasi salah satu dari apeks orbita, duramater, otak, fossa kranial medial, nervus kranialis selain dari divisi maksilaris nervus trigeminal V2, nasofaring atau klivus (Gambar 2.7.)
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.3. T1 terbatas pada mukosa sinus maksilaris (Greene, 2006).
Gambar 2.4. T2 menye

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3875 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23