Profil Penderita Tumor Ganas Sinonasal Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009

PROFIL PENDERITA TUMOR GANAS SINONASAL
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009
 
 
 

TESIS

 

Oleh:
Dr. AGUSSALIM

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER KEDOKTERAN BEDAH
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PROFIL PENDERITA TUMOR GANAS SINONASAL
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009
 
 

 

Tesis
Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Mencapai
Gelar Magister dalam Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala Leher

Oleh:
dr. Agussalim

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER KEDOKTERAN BEDAH
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Medan, 17 Maret 2011

Tesis dengan judul
PROFIL PENDERITA TUMOR GANAS SINONASAL
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009
 

Telah disetujui dan diterima baik oleh Komisi Pembimbing
Ketua

dr. Hafni, Sp.THT-KL(K)
NIP: 19560911 198403 2 001 
Anggota

dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT-KL(K)

dr. T. Sofia Hanum, Sp.THT-KL(K)

NIP: 19610716 198803 2 001

NIP: 19510428 197802 2 001

Diketahui oleh
Ketua Program Studi

dr. T. Siti Hajar Haryuna, Sp.THT-KL
NIP: 19790620 200212 2 003

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Bismillahirahmanirrahim, saya sampaikan rasa syukur kehadirat
Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya saya dapat menyelesaikan tesis ini
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh Magister
dalam bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher di
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Saya menyadari penulisan
tesis ini masih jauh dari sempurna, baik isi maupun bahasannya. Walaupun demikian,
mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah perbendaharaan penelitian tentang Profil
Penderita Tumor Ganas Sinonasal

di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun

2005-2009
Dengan telah selesainya tulisan ini, pada kesempatan ini dengan tulus hati saya
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi-tingginya
kepada yang terhormat :
dr. Hafni, Sp.THT-KL(K) atas kesediaannya sebagai ketua pembimbing penelitian ini,
begitu juga kepada dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT-KL(K) dan dr. T. Sofia Hanum,
Sp.THT-KL(K) sebagai anggota pembimbing serta dr. Bisara L. Tobing, MPH sebagai
konsultan ahli. Ditengah kesibukan beliau , dengan penuh perhatian dan kesabaran,
telah banyak memberi bantuan, bimbingan, saran dan pengarahan yang sangat
bermanfaat kepada saya dalam menyelesaikan tulisan ini.
Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah Penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :

Universitas Sumatera Utara

Yang terhormat Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Syahril
Pasaribu, dr. SpA(K) DTM&H dan mantan Rektor Universitas Sumatera Utara,
Prof. Chairuddin Panusunan Lubis, dr. SpA(K) DTM&H yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik
di Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Prof. Gontar Alamsyah Siregar, dr. Sp.PD(KGEH) atas kesempatan dan fasilitas yang
diberikan kepada Penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pendidikan
program Magister Kedokteran Klinik di Fakultas Kedokteran USU.
Yang terhormat Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
dan Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran USU Prof. Abdul Rachman Saragih, dr.
Sp.THT-KL(K) dan Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas
Kedokteran USU, dr. T. Siti Hajar Haryuna, Sp.THT-KL serta mantan Ketua Program
Studi Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran USU, Prof. Askaroellah Aboet,
Sp.THT-KL(K) yang telah memberikan izin, kesempatan dan ilmu kepada saya dalam
mengikuti pendidikan magister sampai selesai.
Yang terhormat supervisor di jajaran Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran
USU/RSUP. H.Adam Malik Medan, dr. Asroel Aboet, Sp.THT-KL, Prof. Ramsi Lutan,
dr. Sp.THT-KL(K), dr. Yuritna Haryono, Sp.THT-KL (K), Prof. Askaroellah Aboet, dr.
Sp.THT-KL(K),

Prof. Abdul Rachman Saragih, dr. Sp.THT-KL(K), dr. Muzakkir

Zamzam, SpTHT-KL(K), dr. Mangain Hasibuan, SpTHT-KL, dr. T. Sofia Hanum,
Sp.THT-KL (K), Dr. Dr. Delfitri Munir, SpTHT-KL(K), dr. Linda I Adenin,Sp.THTKL, dr. Hafni, Sp.THT-KL (K), dr. Ida Sjailandrawati Hrp, SpTHT-KL, dr.Adlin

Universitas Sumatera Utara

Adnan, Sp.THT-KL, dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT-KL(K), (Almh) dr. Ainul Mardhiah,
Sp.THT-KL, dr. Siti Nursiah, Sp.THT-KL, dr. Andrina Y.M. Rambe, Sp.THT-KL, dr.
Harry Agustaf Asroel, Sp.THT-KL, dr. Farhat, Sp.THT-KL, dr. T. Siti Hajar Haryuna,
Sp.THT-KL, dr. Aliandri, Sp.THT-KL, dr. Asri Yudhistira, Sp.THT-KL, dr. Devira
Zahara, SpTHT-KL, dr. H.R. Yusa Herwanto, SpTHT-KL, dr. M. Pahala Hanafi
Harahap, SpTHT-KL dan dr. Ferryan Sofyan, Sp.THT-KL. Terima kasih atas segala
ilmu, keterampilan dan bimbingannya selama ini.
Yang tercinta teman-teman sejawat PPDS Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas
Kedokteran USU, atas bantuan, nasehat, saran maupun kerjasamanya selama masa
pendidikan.
Yang terhormat perawat/paramedis dan seluruh karyawan/karyawati RSUP H.
Adam Malik Medan , khususnya Departemen/SMF THT-KL yang selalu membantu dan
bekerjasama dengan baik dalam menjalani tugas pendidikan dan pelayanan kesehatan
selama ini.
Yang mulia dan tercinta Ayahanda H. Anwar dan Hj. Masyitah Br Sitepu,
ananda sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga serta penghargaan
yang setinggi-tingginya atas kasih sayang yang telah diberikan dan dilimpahkan kepada
ananda sejak dalam kandungan, dilahirkan, dibesarkan dan diberi pendidikan yang baik
serta diberikan suri tauladan yang baik hingga menjadi landasan yang kokoh dalam
menghadapi kehidupan ini, dengan memanjatkan doa kehadirat Allah SWT, Ya Allah
ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, serta kasihilah mereka sebagaimana
mereka mengasihi kami sejak kecil.

Universitas Sumatera Utara

Yang tercinta Bapak mertua Prof. H. M. Nadjib Dahlan Lubis, dr. Sp.PA(K) dan
Ibu mertua Hj. Sainah Lubis yang selama ini telah memberikan dorongan dan restu
untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Kepada istriku tercinta dr. Humairah Medina Liza Lubis, M. Ked (PA), Sp.PA,
serta buah hati kami tersayang Qatrunnada Medina Salim, Mhd. Fathurridha Arabia
Salim, Mhd. Fathir Aththariq Salim dan Mhd. Fardhan Al Zaidi Salim, tiada kata yang
lebih indah yang dapat saya ucapkan selain ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya
atas pengorbanan tiada tara, kesabaran, ketabahan dan dorongan semangat yang tiada
henti-hentinya kepada ayahanda sehingga dengan ridho Allah SWT akhirnya kita
sampai pada saat yang berbahagia ini.
Kepada Kakak dan Abang ipar seta Adik-adik dan Adik-adik ipar, penulis
mengucapkan terima kasih atas limpahan kasih sayang dan tak henti-hentinya
memberikan dorongan serta doa kepada penulis.
Kepada seluruh kerabat dan handai taulan yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu, yang telah memberikan bantuan kami ucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya.
Akhirnya izinkanlah saya mohon maaf yang setulus-tulusnya atas segala
kesalahan dan kekurangan kami selama mengikuti pendidikan ini, semoga segala
bantuan, dorongan, petunjuk yang diberikan kepada kami selama mengikuti pendidikan
kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Yang Maha Pemurah,
Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin.

Universitas Sumatera Utara

Medan, Maret 2011
Penulis

Agussalim

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

PROFIL PENDERITA TUMOR GANAS SINONASAL
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009

Abstrak
Latar Belakang. Tumor nasal dan sinus paranasal atau disebut juga tumor sinonasal
pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Kebanyakan
tumor ganas ini berkembang dari sinus maksilaris. Di Indonesia dan luar negeri
didapatkan hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh dan 3% dari keganasan di
kepala dan leher. Paparan terhadap substansi-substansi seperti serbuk kayu, debu tekstil
dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil, formaldehid dan lain sebagainya, terlibat sebagai
faktor predisposisi keganasan sinonasal ini. Gejala klinis bergantung pada letak dan
luasnya tumor. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral, rinorea, sekret
bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tanda dan gejala ini sering diabaikan oleh
penderita dan sering sulit dibedakan dari lesi benigna dan inflammatory disorder. serta
hanya diterapi dengan antibiotika biasa sehingga tumor ganas sinonasal ini selalu
terdiagnosis dalam stadium lanjut. Pemeriksaan penunjang seperti CT scan, MRI,
Positron emission tomography (PET) dan angiography sangat menolong dalam
diagnosis banding, sedangkan pemeriksaan histopatologi merupakan diagnosis pasti.
Tumor ganas sinonasal merupakan penyebab kesakitan dan kematian di bidang
otorinolaringologi di seluruh dunia. Untuk itu diperlukan suatu profil penderita tumor
ganas sinonasal sehingga dapat dilakukan tindakan deteksi dini dan
pengobatanpsesegerapmungkin.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang profil penderita tumor
ganas sinonasal di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005-2009.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan memaparkan data
penderita yang diperoleh dari rekam medik penderita yang telah dilakukan pemeriksaan
CT scan dan histopatologi pada bulan Januari 2005 sampai Desember 2009 di RSUP H.
Adam Malik Medan.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan penderita tumor ganas sinonasal paling banyak
ditemukan pada laki-laki (58,8%), kelompok umur 41-50 tahun (35,2%), suku Batak
(49,0%), keluhan utama berupa hidung tersumbat (56,9%), lokasi pada kavum nasi dan
sinus paranasal (60,8%), tipe histologi non keratinizing squamous cell carcinoma
(56,9%) dan penderita dengan stadium klinis IV (56,9%).
Kata kunci : profil, karsinoma sinonasal, lokasi, subtipe histologi, stadium klinis

Universitas Sumatera Utara

Abstract
Background. Nasal and paranasal sinus tumors also called sinonasal tumors are rare,
whether benign or malignant. Most of this malignancies are growing from the maxillary
sinus. In Indonesia and worldwide get only about 1% of malignancies throughout the
body and 3% of malignancies in the head and neck. Exposure to substances such as
wood dust, textile or leather dusts, nickel, isopropyl oils, among others, has been
implicated as a predisposing factor to sinonasal malignancies. The symptoms depend on
the site and extent of tumor involvement.  Nasal symptoms of unilateral nasal
obstruction, rinorea, mixed with blood or secretions occurred epistaxis. Signs and
symptoms are often ignored by patients and often difficult to distinguish from benign
lesions and inflammatory disorder, and only treated with common antibiotics, that tend
to diagnosed at advanced stage. Ancillary examinations such as CT scans, MRI,
positron emission tomography (PET) and angiography are helpful in differential
diagnosis, whereas histopathologic examination is the definitive diagnosis.  Sinonasal
malignancy is a cause of otorhinolaryngologic morbidity and mortality in worldwide.
With
an
accurate
profile
sinonasal
malignancy,
we
can
make
anpearlypdetectionpandptreatment.
The purpose of this research is to get data about patient’s profile of sinonasal
malignancy at H. Adam Malik General Hospital Medan on 2005-2009.
Methods. This research was designed a descriptive research, explaining data was
getting from patient of sinonasal malignancy’s medical record was done CT scan and
histopathological examination on Januari 2005 until December 2009 from H. Adam
Malik in Medan.
Results. The result of this research shows that patient of sinonasal malignancy mostly
found on male (58,8%), age group is 41-50 (35,2%), the main complain is nasal
obstruction (56,9%), tumor location is nasal cavuty and paranasal sinus (60,8%)
histological type is non keratinizing squamous cell carcinoma (56,9%) and on patient
with clinical stage is IV (56,9%).
Keywords : profile, sinonasal malignancy, location, histological subtype, clinical stage.

 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………

i

KATA PENGANTAR……………………………………………………………

ii

vii
ABSTRAK…………………………………………………………………………..…
viii
ABSTRACT……………………………………………………………………………
ix
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..
xiv
DAFTAR TABEL………………………………………………………………..……..
xv
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………..……..
.

BAB 1. PENDAHULUAN………………………………………….…….………

1

1.1. Latar Belakang Penelitian…………………………………..……………… 1
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………………..……. 4
1.3. Tujuan Penelitian............................................................................................. 4
1.3.1. Tujuan Umum..................................................................................... 4
1.3.2. Tujuan Khusus..................................................................................... 4
1.4. Manfaat Penelitian.............................................................................................4

Universitas Sumatera Utara

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................

5

2.1. Tumor Ganas Sinanasal...................................................................................... 5
2.2. Anatomi............................................................................................................. 5
2.2.1. Septum Nasi............................................................................................. 5
2.2.2. Perdarahan...................................................................................................6
2.2.3. Sinus Paranasal........................................................................................ 7
2.3. Epidemiologi...................................................................................................... 9
2.4. Etiologi.................................................................................................................11
2.5. Gambaran Klinis...................................................................................................11
13
2.6. Diagnosis...............................................................................................................
2.6.1. Pemeriksaan Fisik.......................................................................................13
2.6.2. Radiologic Imaging....................................................................................13
15
2.7. Tumor Ganas Regio Nasal dan Sinonasal……………………………………….
2.7.1. Karsinoma Sel Skuamosa…………………………………………..….. 16
2.7.1.1. Mikroskopik Keratinizing Squamous Cell Carcinoma…..….. 17
2.7.1.2. Mikroskopik Non-Keratinizing (Cylindrical Cell,
Transitional) Carcinoma………………………………..……… 17

Universitas Sumatera Utara

2.7.2. Undifferentiated Carcinoma……………………………………....…….… 18
2.7.3. Limfoma Maligna………………………………………………………... 19
2.7.4. Adenokarsinoma………………………………………………………….20
2.7.5. Melanoma Maligna……………………………………………………. 20
2.8. Klasifikasi TNM dan Sistem Staging……………………………………………21
2.9. Penatalaksanaan…………………………………………………………………30
2.9.1. Pembedahan……………………………………………………………. 30
2.9.1.1. Drainage/Debridement……………………………………….…..30
2.9.1.2. Resection………………………………………………….………30
2.9.2. Rehabilitasi……………………………………………………………..…31
2.9.3. Terapi Radiasi………………………………………………………..….. 31
2.9.4. Kemoterapi……………………………………………………………..…31
2.10. Prognosis……………………………………………………………………….32
2.11. Kerangka Konsepsional……………………………………………………..….33

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN.........................................................................34
3.1. Rancangan Penelitian............................................................................................34
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian...............................................................................34

Universitas Sumatera Utara

3.2.1. Tempat Penelitian........................................................................................34
3.2.2. Waktu Penelitian..........................................................................................34
3.3. Kerangka Kerja..................................................................................................... 35
3.4. Populasi, Sampel dan Besar Sampel Penelitian………………………………… 35
3.4.1. Populasi....................................................................................................... 35
3.4.2. Sampel.........................................................................................................35
3.4.3. Besar Sampel...............................................................................................35
3.5. Definisi Operasional…………………………………………………………….36
3.6. Analisis Data..........................................................................................................36
3.6.1. Analisis Univariat........................................................................................37
3.6.2. Analisis Bivariat..........................................................................................37
3.7. Cara Kerja..............................................................................................................37

BAB 4. ANALISIS HASIL PENELITIAN..................................................................... 38

Universitas Sumatera Utara

BAB 5. PEMBAHASAN.................................................................................................

44

5.1. Analisis Univariat................................................................................................... 44
5.2. Analisis Bivariat..................................................................................................... 48

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................ 49
6.1. Kesimpulan............................................................................................................ 49
6.2. Saran...................................................................................................................... 50

DAFTAR RUJUKAN........................................................................................................ 51

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

5.1.

Frekuensi proporsi penderita menurut Jenis Kelamin………………..

38

5.2.

Frekuensi proporsi penderita menurut Suku Bangsa…………………

39

5.3.

Frekuensi proporsi penderita menurut Kelompok Usia……………….

39

5.4.

Frekuensi proporsi penderita menurut Keluhan Utama……………….

40

5.5.

Frekuensi proporsi penderita menurut Lama Menderita……………… 40

5.6.

Frekuensi proporsi penderita menurut Lokasi Tumor………………...

5.7.

Frekuensi proporsi menurut Stadium…………………………………. 41

5.8.

Frekuensi proporsi menurut Hasil Pemeriksaan Histopatologi……….

42

5.9.

Hasil Uji Bivariat antara variable……………………………………..

42

41

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1.

Halaman
Klasifikasi histologi WHO tumor rongga hidung
dan sinus paranasal…………………..……………………………..
16

2.2.

Karsinoma sel skuamosa, non-keratinizing………..…………………
18

2.3.

Nasal NK/T cell lymphoma……………………………………....19

2.4.

T1 sinus maksilaris……………………………………………..…
22

2.5.

T2 sinus maksilaris……………………………………………….22

2.6.

T3 sinus maksilaris………………………………………………23

2.7.

T4a sinus maksilaris………………………………………………
23

2.8.

T4b sinus maksilaris………………………………………………
24

2.9.

T1 rongga hidung dan sinus ethmoid……………………………25

2.10.

T2 rongga hidung dan sinus ethmoid………………………….…26

2.11.

T3 rongga hidung dan sinus ethmoid..............................................
26

2.12.

T4a rongga hidung dan sinus ethmoid…………………………..27

2.13.

T4b rongga hidung dan sinus ethmoid……………………………
27

2.14.

Klasifikasi regional lymph node………………………….………28

2.15.

Skema Kerangka Konsepsional………………………………………….
33

3.1.

Skema Kerangka Kerja………………………………………… 35
 

Universitas Sumatera Utara

PROFIL PENDERITA TUMOR GANAS SINONASAL
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009

Abstrak
Latar Belakang. Tumor nasal dan sinus paranasal atau disebut juga tumor sinonasal
pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Kebanyakan
tumor ganas ini berkembang dari sinus maksilaris. Di Indonesia dan luar negeri
didapatkan hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh dan 3% dari keganasan di
kepala dan leher. Paparan terhadap substansi-substansi seperti serbuk kayu, debu tekstil
dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil, formaldehid dan lain sebagainya, terlibat sebagai
faktor predisposisi keganasan sinonasal ini. Gejala klinis bergantung pada letak dan
luasnya tumor. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral, rinorea, sekret
bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tanda dan gejala ini sering diabaikan oleh
penderita dan sering sulit dibedakan dari lesi benigna dan inflammatory disorder. serta
hanya diterapi dengan antibiotika biasa sehingga tumor ganas sinonasal ini selalu
terdiagnosis dalam stadium lanjut. Pemeriksaan penunjang seperti CT scan, MRI,
Positron emission tomography (PET) dan angiography sangat menolong dalam
diagnosis banding, sedangkan pemeriksaan histopatologi merupakan diagnosis pasti.
Tumor ganas sinonasal merupakan penyebab kesakitan dan kematian di bidang
otorinolaringologi di seluruh dunia. Untuk itu diperlukan suatu profil penderita tumor
ganas sinonasal sehingga dapat dilakukan tindakan deteksi dini dan
pengobatanpsesegerapmungkin.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang profil penderita tumor
ganas sinonasal di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005-2009.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan memaparkan data
penderita yang diperoleh dari rekam medik penderita yang telah dilakukan pemeriksaan
CT scan dan histopatologi pada bulan Januari 2005 sampai Desember 2009 di RSUP H.
Adam Malik Medan.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan penderita tumor ganas sinonasal paling banyak
ditemukan pada laki-laki (58,8%), kelompok umur 41-50 tahun (35,2%), suku Batak
(49,0%), keluhan utama berupa hidung tersumbat (56,9%), lokasi pada kavum nasi dan
sinus paranasal (60,8%), tipe histologi non keratinizing squamous cell carcinoma
(56,9%) dan penderita dengan stadium klinis IV (56,9%).
Kata kunci : profil, karsinoma sinonasal, lokasi, subtipe histologi, stadium klinis

Universitas Sumatera Utara

Abstract
Background. Nasal and paranasal sinus tumors also called sinonasal tumors are rare,
whether benign or malignant. Most of this malignancies are growing from the maxillary
sinus. In Indonesia and worldwide get only about 1% of malignancies throughout the
body and 3% of malignancies in the head and neck. Exposure to substances such as
wood dust, textile or leather dusts, nickel, isopropyl oils, among others, has been
implicated as a predisposing factor to sinonasal malignancies. The symptoms depend on
the site and extent of tumor involvement.  Nasal symptoms of unilateral nasal
obstruction, rinorea, mixed with blood or secretions occurred epistaxis. Signs and
symptoms are often ignored by patients and often difficult to distinguish from benign
lesions and inflammatory disorder, and only treated with common antibiotics, that tend
to diagnosed at advanced stage. Ancillary examinations such as CT scans, MRI,
positron emission tomography (PET) and angiography are helpful in differential
diagnosis, whereas histopathologic examination is the definitive diagnosis.  Sinonasal
malignancy is a cause of otorhinolaryngologic morbidity and mortality in worldwide.
With
an
accurate
profile
sinonasal
malignancy,
we
can
make
anpearlypdetectionpandptreatment.
The purpose of this research is to get data about patient’s profile of sinonasal
malignancy at H. Adam Malik General Hospital Medan on 2005-2009.
Methods. This research was designed a descriptive research, explaining data was
getting from patient of sinonasal malignancy’s medical record was done CT scan and
histopathological examination on Januari 2005 until December 2009 from H. Adam
Malik in Medan.
Results. The result of this research shows that patient of sinonasal malignancy mostly
found on male (58,8%), age group is 41-50 (35,2%), the main complain is nasal
obstruction (56,9%), tumor location is nasal cavuty and paranasal sinus (60,8%)
histological type is non keratinizing squamous cell carcinoma (56,9%) and on patient
with clinical stage is IV (56,9%).
Keywords : profile, sinonasal malignancy, location, histological subtype, clinical stage.

 
 
 
 
 

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian
Tumor nasal dan sinus paranasal atau disebut juga tumor sinonasal jinak
maupun ganas pada umumnya jarang ditemukan. Di Indonesia dan luar negeri
didapatkan sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh dan 3% dari keganasan
di kepala dan leher (Roezin, 2007; Bailey, 2006).
Sinonasal merupakan rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang wajah yang
merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit
diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulit ditentukan, apakah dari nasal
atau sinus karena biasanya penderita datang berobat dalam keadaan penyakit telah
lanjut dan tumor telah memenuhi kavum nasi dan seluruh sinus (Roezin, 2007).
Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus paranasal ditemukan di Jepang
yaitu 2-3,6 per 100.000 penduduk per tahun. Di bagian THT FK UI RS Cipto
Mangunkusumo, keganasan ini ditemukan pada 10-15% dari seluruh tumor ganas
THT (Roezin, 2007). Rifqi mengemukakan data yang dikumpulkannya dari rumah
sakit umum di sepuluh kota besar di Indonesia bahwa frekuensi tumor hidung dan
sinus paranasal adalah 9,3-25,3% dari keganasan THT dan berada pada peringkat
kedua setelah tumor ganas nasofaring (dalam Tjahyadewi dan Wiratno, 1999).
Di RSUP H. Adam Malik Medan selama Januari 2002 sampai dengan Desember
2008 pasien yang dirawat dengan diagnosis karsinoma hidung dan sinus paranasal
adalah sebanyak 52 kasus.

Universitas Sumatera Utara

Gejala klinis bergantung pada letak dan luasnya tumor. Gejala nasal berupa
obstruksi nasal unilateral, rinorea, sekret bercampur darah atau terjadi epistaksis.
Epistaksis merupakan gejala yang sering dijumpai yang membawa penderita datang
berobat. Karakteristik tumor ganas berupa sekret berbau karena mengandung
jaringan nekrotik. Gejala-gejala orofasial, oftalmik dan serebral merupakan gejala
yang telah lanjut (Roezin, 2007; Fasunla dan Lasisi, 2007). Tanda dan gejala ini
sering diabaikan oleh penderita dan sering sulit dibedakan dari lesi benigna dan
inflammatory disorder, serta hanya diterapi dengan antibiotika biasa. Hal ini terjadi
oleh karena kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung sehingga tumor
ganas sinonasal tidak pernah ditemukan pada stadium dini.
Diagnosis tumor kavum nasi dan sinus-sinus paranasal adalah berdasarkan
pemeriksaan histologi. Klasifikasi histologi menurut WHO dibagi atas:
(1). epithelial tumours, (2). soft tissue tumours, (3). haematolymphoid tumours,
(4). neuroectodermal, (5). germ cell tumours, dan (6). secondary tumours (Barnes,
Eveson, Reichart, Sidransky, 2005).
Keganasan tumor sinonasal dapat menyebabkan kematian dalam jumlah yang
signifikan pada bidang otolaringologi. Kebanyakan tumor ini berasal dari sinus
maksilaris dan predominan adalah jenis karsinoma sel skuamosa yang dijumpai
pada 80% kasus. Secara umum, karsinoma sel skuamosa berdiferensiasi baik timbul
di dalam sel-sel etmoid posterior dan kavum nasi posterior. Karsinoma ini
menyebar dengan cara perluasan lokal, metastasis berupa nodul jarang ditemukan
meskipun pada penyakit yang telah lanjut. Paparan terhadap substansi-substansi
seperti serbuk kayu, debu tekstil dan kulit binatang, nikel, isopropyl oil,

Universitas Sumatera Utara

formaldehid dan lain sebagainya, terlibat sebagai faktor predisposisi keganasan
sinonasal ini (Fasunla dan Lasisi, 2007; Myers, 1989).
Teschke et al dalam satu studi yang bertujuan untuk menentukan sumber
paparan yang didapatkan akibat pekerjaan terhadap karsinogen-karsinogen nasal
di British Columbia, Kanada menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok pekerja
dengan resiko tinggi terjadi tumor ganas sinonasal adalah pekerja pabrik tekstil,
kertas dan bubur kertas (Teschke et al, 1997). Sedangkan penelitian yang dilakukan
oleh Luce et al mendapatkan bahwa resiko tinggi dari adenokarsinoma
berhubungan dengan paparan formaldehid dan pekerja perempuan dengan paparan
debu tekstil. Level yang tinggi dari paparan asbestos berhubungan dengan resiko
terjadinya karsinoma sel skuamosa (Luce et al, 2002). Alkohol, makanan yang
diasin atau diasap di diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan,
sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadinya
keganasan (Roezin, 2007).
Indonesia umumnya dan Sumatera Utara khususnya memiliki begitu banyak
pekerja industri yang tentunya setiap hari terpapar oleh karsinogen-karsinogen yang
mengancam terjadinya keganasan pada sinonasal. Berdasarkan penelitian-penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya dan melihat relatif seringnya penderita tumor
sinonasal yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik dalam stadium lanjut,
peneliti tertarik untuk mencari data statistik mengenai profil penderita tumor ganas
sinonasal ini yang telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan biopsi jaringan untuk
menentukan tipe histologinya. Diharapkan setelah penelitian ini akan ada
penelitian-penelitian

lanjutan

untuk

mencari

faktor-faktor

resiko

yang

mempengaruhi kejadian tumor ganas sinonasal pada masyarakat Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka yang menjadi
permasalahan adalah belum diketahuinya profil pasien penderita tumor ganas
sinonasal dan hubungan antara karakteriktik penderita (jenis kelamin, usia, suku
bangsa, lama menderita, keluhan utama) dengan karakteristik tumor ganas
sinonasal (lokasi, stadium, histopatologi).

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui profil penderita dan hubungan karakteristik penderita dengan
karakteristik tumor ganas sinonasal di RSUP H. Adam Malik Medan periode
2005 – 2009.
1.3.2. Tujuan Khusus
Untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan peningkatan pelayanan
kesehatan bagi penderita tumor ganas sinonasal.
1.4. Manfaat Penelitian
Untuk memperoleh data tentang tumor ganas sinonasal di RSUP H. Adam Malik
Medan.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tumor Ganas Sinonasal
Tumor ganas sinonasal merupakan penyebab kesakitan dan kematian di bidang
otorinolaringologi di seluruh dunia. Kebanyakan tumor ini berkembang dari sinus
maksilaris dan tipe histologi yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel
skuamosa (Fasunla dan Lasisi, 2007; Luce et al, 2002).

2.2. Anatomi
Kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh
septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri (Corbridge,
1998).
2.2.1. Septum Nasi
Septum nasi dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Dilapisi oleh perikondrium
pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya
dilapisi juga dengan mukosa nasal (Corbridge, 1998).
Bagian tulang terdiri dari :
• Lamina perpendikularis os etmoid
Lamina perpendikularis os etmoid terletak pada bagian supero-posterior dari
septum nasi dan berlanjut ke atas membentuk lamina kribriformis dan krista gali.
• Os vomer
Os vomer terletak pada bagian postero-inferior. Tepi belakang os vomer
merupakan ujung bebas dari septum nasi.

Universitas Sumatera Utara

• Krista nasalis os maksila
Tepi bawah os vomer melekat pada krista nasalis os maksila dan os palatina.
• Krista nasalis palatina (Corbridge, 1998; Lund, 1997).
Bagian tulang rawan terdiri dari :
• Kartilago septum (kartilago kuadrangularis)
Kartilago septum melekat dengan erat pada os nasal, lamina perpendikularis
os etmoid, os vomer dan krista nasalis os maksila oleh serat kolagen.
• Kolumela
Kedua lubang berbentuk elips disebut nares, dipisahkan satu sama lain oleh
sekat tulang rawan dan kulit yang disebut kolumela (Corbridge, 1998; Lund,
1997).
2.2.2. Perdarahan
Bagian postero-inferior septum nasi diperdarahi oleh arteri sfenopalatina yang
merupakan cabang dari arteri maksilaris (dari a,karotis eksterna). Septum nasi
bagian antero-inferior diperdarahi oleh arteri palatina mayor (juga cabang dari
a.maksilaris) yang masuk melalui kanalis insisivus. Arteri labialis superior (cabang
dari a.fasialis) memperdarahi septum bagian anterior mengadakan anastomose
membentuk fleksus Kiesselbach yang terletak lebih superfisial pada bagian anterior
septum. Daerah ini disebut juga Little’s area yang merupakan sumber perdarahan
pada epistaksis.
Arteri karotis interna memperdarahi septum nasi bagian superior melalui arteri
etmoidalis anterior dan superior.
Vena sfenopalatina mengalirkan darah balik dari bagian posterior septum
ke fleksus pterigoideus dan dari bagian anterior septum ke vena fasialis. Pada

Universitas Sumatera Utara

bagian superior vena etmoidalis mengalirkan darah melalui vena oftalmika yang
berhubungan dengan sinus sagitalis superior (Lund, 1997).
2.2.3. Sinus Paranasal
Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang terletak di
sekitar nasal dan mempunyai hubungan dengan kavum nasi melalui ostiumnya
(Mangunkusumo, 1999). Terdapat empat pasang sinus paranasal, yaitu sinus
frontalis, sfenoidalis, etmoidalis, dan maksilaris. Sinus maksilaris dan etmoidalis
mulai berkembang selama dalam masa kehamilan. Sinus maksilaris berkembang
secara cepat hingga usia tiga tahun dan kemudian mulai lagi saat usia tujuh tahun
hingga 18 tahun dan saat itu juga air-cell ethmoid tumbuh dari tiga atau empat sel
menjadi 10-15 sel per sisi hingga mencapai usia 12 tahun (Jhosephson dan Roy,
1999).
Sinus maksilaris adalah sinus paranasal pertama yang mulai berkembang dalam
janin manusia. Sinus ini mulai berkembang pada dinding lateral nasal sekitar hari
65 kehamilan. Sinus ini perlahan membesar tetapi tidak tampak pada foto polos
sampai bayi berusia 4-5 bulan. Pertumbuhan dari sinus ini bifasik dengan periode
pertama di mulai pada usia tiga tahun dan tahap kedua di mulai lagi pada usia tujuh
hingga 12 tahun. Selama tahap kedua ini, pneumatisasi meluas secara menyamping
hingga dinding lateral mata dan bagian inferior ke prosesus alveolaris bersamaan
dengan pertumbuhan gigi permanen. Perluasan lambat dari sinus maksilaris ini
berlanjut hingga umur 18 tahun dengan kapasitasnya pada orang dewasa rata-rata
14,75 ml. Sinus maksilaris mengalirkan sekret ke dalam meatus media (Jhosephson
dan Roy, 1999; Russel, 2000)

Universitas Sumatera Utara

Sel etmoid mulai berkembang dalam bulan ketiga pada proses perkembangan
janin. Sinus etmoidalis anterior merupakan evaginasi dari dinding lateral nasal dan
bercabang ke samping dengan membentuk sinus etmoidalis posterior dan terbentuk
pada bulan keempat kehamilan. Saat dilahirkan sel ini diisi oleh cairan sehingga
sukar untuk dilihat dengan rontgen. Saat usia satu tahun sinus etmoidalis baru bisa
dideteksi melalui foto polos dan setelah itu membesar dengan cepat hingga usia
12 tahun. Sinus etmoidalis anterior dan posterior ini dibatasi oleh lamina basalis.
Jumlah sel berkisar 4-17 sel pada sisi masing-masing dengan total volume rata-rata
14-15 ml. Sinus etmoidalis anterior mengalirkan sekret ke dalam meatus media,
sedangkan sinus etmoidalis posterior mengalirkan sekretnya ke dalam meatus
superior. Menurut Kennedy, diseksi sel-sel etmoid anterior dan posterior harus
dilakukan dengan hati-hati karena terdapat dua daerah rawan. Daerah pertama
adalah daerah arteri etmoid anterior yang merupakan cabang arteri oftalmika,
terdapat di atap sinus etmoidalis dan membentuk batas posterior resesus frontal.
Arteri ini berada pada dinding koronal yang sama dengan dinding anterior bula
etmoid. Daerah yang kedua adalah variasi anatomi yang disebut dengan sel onodi.
Sel onodi adalah sel udara etmoid posterior yang berpneumatisasi ke postero-lateral
atau postero-superior terhadap dinding depan sinus sfenoidalis dan melingkari
nervus optikus dan dapat dikira sebagai sinus sfenoidalis (Jhosephson dan Roy,
1999; Russel, 2000).
Sinus frontalis mulai berkembang sepanjang bulan keempat kehamilan,
merupakan satu perluasan ke arah atas dari sel etmoidal anterosuperior. Sinus
frontalis jarang tampak pada pemeriksaan foto polos sebelum umur lima atau enam
tahun setelah itu perlahan tumbuh, total volume 6-7 ml. Pneumatisasi sinus frontalis

Universitas Sumatera Utara

mengalami kegagalan pengembangan pada salah satu sisi sekitar 4-15% populasi.
Sinus frontalis mengalirkan sekretnya ke dalam resesus frontalis (Jhosephson dan
Roy, 1999; Russel, 2000).
Sinus sfenoidalis mulai tumbuh sepanjang bulan keempat masa kehamilan
yang merupakan evaginasi mukosa dari bagian superoposterior kavum nasi. Sinus
ini berupa suara takikan kecil di dalam os sfenoid sampai umur tiga tahun ketika
mulai pneumatisasi lebih lanjut, Pertumbuhan cepat untuk mencapai tingkat sella
tursika pada umur tujuh tahun dan menjadi ukuran orang dewasa setelah umur
18 tahun, total volume 7,5 ml. Sinus sfenoidalis mengalirkan sekretnya ke dalam
meatus superior bersama dengan etmoid posterior (Jhosephson dan Roy, 1999).
Mukosa sinus terdiri dari ciliated pseudostratified, columnar epithelial cell, sel
Goblet, dan kelenjar submukosa menghasilkan suatu selaput lendir bersifat
melindungi. Selaput lendir mukosa ini akan menjerat bakteri dan bahan berbahaya
yang dibawa oleh silia, kemudian mengeluarkannya melalui ostium dan ke dalam
nasal untuk dibuang (Jhosephson dan Roy, 1999).

2.3. Epidemiologi
Tumor ganas rongga nasal dan sinus paranasal diperkirakan sebesar 1% dari
seluruh neoplasma ganas manusia dan 3% dari jumlah ini ditemukan pada kepala
dan leher. Secara tipikal ditemukan pada dekade ke lima dan ke tujuh kehidupan
dan rasio perbandingan antara pria dan wanita adalah sebesar 2:1 (Bailey, 2006;
Barnes, Eveson, Reichart, Sidransky, 2005).
Insiden tumor ganas rongga nasal dan sinus paranasal (tumor ganas sinonasal)
rendah pada kebanyakan populasi (

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

109 3449 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 879 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 788 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 515 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 664 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1157 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

59 1055 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 656 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 935 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1144 23