Pemanfaatan Zeolit dan Karbon aktif dalam Transportasi Tertutup Benih Ikan Nila BEST Oreochromis sp. dengan Kepadatan Tinggi

ABSTRACT

ASTRI HANDAYANI. Utilization of Zeolite and Active Carbon in a Closed
Transportation of Tilapia Seed Strain BEST Oreochromis sp. with a High
Density. Supervised by EDDY SUPRIYONO and HARTON ARFAH.

A common method of moving the seeds is a short-distance transport with a
limited density of fish. Therefore, it is necessary to have a transport system that
can move the seeds to a raising area in a relatively long time, with high density
and high survival rate. This study used a combination of zeolite (20 g/ℓ) and
active carbon (10 g/ℓ) on tilapia seeds strain BEST with a size of ± 0.22 g/ℓ fish
with a high density. Addition of supplement materials such as zeolit and active
carbon were aimed to raise and maintain water quality during the transportation
process, so the highest density could be attained. This study aimed to determine
and find out the effectiveness of zeolite and active carbon in maintaining the
quality of water in a closed transportation so as to know the optimal density of
tilapia seeds strain BEST transported for 16 hours and to minimize the posttransport of mortality rate. This study consisted of two stages. The preliminary
stage was to measure the level of oxygen consumption, ammonia excretion rate,
fish fasting ability, and to determine the optimum density of tilapia BEST in a
closed transportation. Transport time was 16 hours and the post-transport raising
was 14 days for treatments with a density of 300, 500 and 700 fish/ℓ. The study
result showed that density of 300 fish/ℓ is more effective compare to other
treatment with a survival rate of 96%, highest Specific Growth Rate, namely
5,96%, and survival rate after transportation was 85%. However, when viewed
from the profit, the optimum treatment density of 700 fish/ℓ had a profit of Rp
86.280, with a survival rate of 79% for 16 hours.
Keywords: Survival rate (SR), fish transportation, zeolites and active carbon.

ABSTRAK

ASTRI HANDAYANI. Pemanfaatan zeolit dan karbon aktif dalam transportasi
tertutup benih ikan nila BEST Oreochromis sp. dengan kepadatan tinggi.
Dibimbing oleh EDDY SUPRIYONO dan HARTON ARFAH.
Dalam penyelenggaraan usaha pembesaran ikan, seringkali benih-benih
yang memenuhi syarat diperoleh dari tempat pembenihan yang letaknya berjauhan
dari tempat pembesaran. Sistem pengangkutan yang umum yaitu sistem
transportasi tertutup dengan jarak pendek dan kepadatan ikan terbatas. Maka
diperlukan suatu sistem pengangkutan yang dapat memindahkan benih ke tempat
pembesaran jarak jauh, dengan kepadatan tinggi dan tingkat kelangsungan hidup
yang tinggi. Penelitian ini menggunakan kombinasi zeolit 20 g/ℓ dan karbon aktif
10 g/ℓ pada benih ikan nila BEST ukuran rata-rata 0,22 g/ekor dengan kepadatan
tinggi. Penambahan material zeolit dan karbon aktif ini diharapkan dapat
mempertahankan kualitas air selama pengangkutan, sehingga kepadatan tinggi
dapat dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektifitas zeolit dan
karbon aktif dalam mempertahankan kualitas air pada pengangkutan tertutup
sehingga dapat mengetahui kepadatan optimal benih ikan nila BEST yang
diangkut selama 16 jam dan meminimalisir tingkat kematian pasca pengangkutan.
Tahapan penelitian dimulai dari mengukur tingkat konsumsi oksigen, laju eksresi
amoniak, kemampuan puasa ikan, penentuan kepadatan optimum benih ikan nila
BEST pada transportasi tertutup. Transportasi dilakukan selama 16 jam dan
pemeliharaan pasca transportasi selama 14 hari untuk perlakuan dengan kepadatan
300, 500 dan 700 ekor/ℓ. Hasil penelitian menunjukan perlakuan 300 ekor/ℓ lebih
efektif dibandingkan perlakuan lainnya dengan tingkat kelangsungan hidup
selama pengangkutan sebesar 96%, LPH paling tinggi 5,96% dan tingkat
kelangsungan hidup pascatransportasi sebesar 85%. Namun demikian dilihat dari
keuntungan perlakuan 700 ekor/ℓ lebih baik mencapai Rp 86.280 dengan tingkat
kelangsungan hidup sebesar 79% selama pengangkutan 16 jam.
Kata kunci : Tingkat Kelangsungan Hidup (SR), transportasi ikan, zeolit dan
karbon aktif.

I. PENDAHULUAN

Salah satu produk akuakultur yang potensial untuk terus diproduksi adalah
ikan nila. Ikan nila merupakan ikan ekonomis penting di dunia karena cara
budidaya yang mudah, rasa yang digemari dan memiliki toleransi yang luas
terhadap lingkungan. Permintaan ikan nila relatif besar yang ditunjukkan dengan
hasil panen yang hampir semuanya terserap oleh pasar, baik untuk memenuhi
pasar domestik maupun pasar ekspor. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2005,
tingkat konsumsi ikan untuk masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan
sebesar 4,51 %, yakni dari 23,95 kg/kapita/tahun menjadi 25,03 kg/kapita/tahun
pada tahun 2006. Selain itu, KKP menargetkan produksi ikan nila tahun 2011
sebanyak 639.300 ton jumlah ini naik sekitar 36,26% dari tahun 2010 yang
sebanyak 469.173 ton (KKP, 2009). Salah satu ikan nila unggul adalah ikan nila
dengan strain BEST. Ikan nila strain BEST memiliki keunggulan dalam kecepatan
pertumbuhan, ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk, dan tingkat
kelangsungan hidup mencapai 90% (Arifin, 2010).
Dalam penyelenggaraan usaha pembesaran ikan, seringkali benih-benih
yang memenuhi syarat diperoleh dari tempat pembenihan yang letaknya berjauhan
dari tempat pembesaran. Pengangkutan ikan hidup jarak jauh umumnya
menggunakan sistem tertutup. Faktor yang menyebabkan kematian ikan pada
pengangkutan sistem tertutup, antara lain berkurangnya persediaan oksigen
terlarut akibat respirasi, temperatur yang tinggi, dan terakumulasinya metabolit
beracun seperti amoniak. Swann (1993) menyatakan bahwa amoniak berbahaya
pada ikan pada konsentrasi 0,2 mg/ℓ, dan konsentrasi diatas 1,4 mg/ℓ
menyebabkan kematian ikan selama transportasi. Akumulasi amoniak dalam
wadah dapat menyebabkan kematian ikan selama transportasi, maka diperlukan
cara untuk mengontrol akumulasi amoniak di dalam wadah transportasi ikan.
Penelitian ini menggunakan kombinasi zeolit 20 g/ℓ dan karbon aktif 10
g/ℓ pada benih ikan nila BEST ukuran rata-rata 0,22 g/ekor dengan kepadatan
tinggi. Menurut hasil penelitian Ghozali (2007) menambahkan zeolit 20 g/ℓ ke
dalam media pengangkutan ikan maanvis ukuran 2 g/ekor dengan kepadatan 20
ekor/ℓ, menghasilkan SR 100% dengan lama pengangkutan 120 jam. Kemudian

Ghozali (2010) juga meneliti kembali tentang penambahan zeolit 20 g/ℓ, karbon
aktif 10 g/ℓ, dan garam 4 g/ ke dalam media pengangkutan ikan maanvis ukuran
2 g/ekor dengan kepadatan 20 ekor/ℓ, yang menghasilkan SR 89% dengan lama
pengangkutan 120 jam. Penambahan kombinasi zeolit dan karbon aktif
diharapkan dapat memperbaiki dan mempertahankan kualitas air selama proses
transporatsi sehingga kepadatan tinggi dapat dicapai dan dapat meningkatkan
kelangsungan hidup ikan selama pengangkutan. Zeolit mempunyai kapasitas
tinggi sebagai penyerap amoniak, karena zeolit dapat memisahkan molekulmolekul berdasarkan ukuran dan konfigurasi molekul (Anwar et al., 1985).
Sedangkan karbon aktif berfungsi sebagai pengikat total dissolved solid (TDS)
dan total suspended solid (TSS) serta penyerap gas seperti amoniak (NH3).
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektifitas zeolit dan karbon
aktif dalam mempertahankan kualitas air pada pengangkutan tertutup sehingga
dapat mengetahui kepadatan optimal benih ikan nila BEST yang diangkut selama
16 jam dan meminimalisir tingkat kematian pasca transportasi.

2

II. BAHAN DAN METODE
2.1 Tahap Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pendahuluan dan utama.
Metodologi penelitian sesuai dengan Supriyono, et al. (2010) yaitu tahap
pendahuluan meliputi penentuan kemampuan puasa ikan, tingkat konsumsi
oksigen, laju eksresi amoniak, penentuan kapasitas zeolit dan karbon aktif dalam
penyerapan Total Amoniak Nitrogen (TAN). Tahap penelitian utama yaitu
pengangkutan dengan penentuan kepadatan optimum benih ikan nila BEST pada
transportasi tertutup, kualitas air, kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan
harian ikan selama pemeliharaan.

2.2. Prosedur Kerja
2.2.1 Tahap Penelitian Pendahuluan
2.2.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan
Penentuan puasa ikan dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat
kelangsungan hidup benih ikan nila BEST tanpa diberi pakan. Hal ini berguna
pada saat pengangkutan dilakukan, apabila terjadi kematian bukan karena
kelaparan. Penentuan puasa ikan dilakukan dengan cara menyiapkan 3 buah
akuarium berukuran 50x30x30 cm3 yang telah dibersihkan dan dikeringkan
selama 1 hari kemudian diisi air dengan tinggi air 25 cm yang diaerasi selama 2
hari, lalu dimasukkan ikan uji sebanyak 30 ekor/akuarium. Parameter yang
diamati yaitu tingkah laku ikan uji yang dilakukan setiap hari selama tujuh hari
dan kualitas air yaitu nilai pH, suhu dan oksigen terlarut.

2.2.1.2 Tingkat Konsumsi Oksigen
Pengukuran tingkat konsumsi oksigen (TKO) dilakukan untuk mengetahui
konsumsi oksigen ikan sehingga dapat diketahui jumlah oksigen yang dibutuhkan
ikan selama pengangkutan. Pengukuran tingkat konsumsi oksigen dilakukan
dalam wadah yang berukuran 3ℓ yang telah dibersihkan dan dikeringkan,
kemudian diisi air dan diaerasi selama 3 hari agar kandungan oksigen di dalam air
jenuh. Selanjutnya, 6 ekor ikan uji dimasukkan ke dalam wadah, kemudian

ditutup rapat dengan plastik hingga tidak terdapat gelembung udara dan dilakukan
pengukuran DO setiap 1 jam selama 6 jam dengan menggunakan DO-meter.

2.2.1.3 Laju Eksresi Amoniak
Penentuan laju eksresi amonia ikan bertujuan untuk menghitung jumlah
amoniak yang dieksresikan ikan tiap satuan waktu, sehingga dapat diketahui
jumlah akumulasi amoniak pada waktu tertentu. Percobaan ini dilakukan dengan
menyiapkan 3 toples bervolume 3ℓ yang telah dibersihkan dan dikeringkan selama
satu hari, kemudian diisi air hingga penuh. Ikan uji dimasukkan ke dalam wadah
masing-masing 10 ekor/toples. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 30
mℓ setiap 24 jam selama 48 jam untuk mengukur suhu, pH, dan konsentrasi total
amonia nitrogen (TAN).

2.2.1.4 Kapasitas Serap Zeolit Dan Karbon Aktif Terhadap Amoniak
Pengukuran kemampuan serap zeolit dan karbon aktif pada NH3 dapat
dilakukan dengan mengukur tingkat serap bahan aktif tersebut dalam larutan
TAN. Tahapan pada proses ini diawali dengan penyiapan tiga botol plastik yang
salah satu bagian tutup botol dilubangi dengan jarum. Selanjutnya, botol tersebut
diisi dengan zeolit sebanyak 20 gram dan karbon aktif sebanyak 10 gram. Selanjutnya air
yang mengandung TAN 1 mg/ℓ dengan volume 1 ℓ dialirkan pada masing-masing botol,
di bawah botol diletakkan gelas piala untuk menampung aliran air yang mengalir pada
botol. Langkah ini dilakukan setiap 1 menit selama 7 menit. Air sampel yang ditampung
tersebut kemudian diukur kadar TAN, pH dan suhu.

2.2.2 Penelitian Utama
2.2.2.1 Penentuan Kepadatan Optimum Benih Ikan Nila BEST Pada
Pengangkutan Tertutup
Prosedur ini dilakukan dengan pemuasaan ikan uji selama 2 hari,
kemudian disiapkan 12 lembar kantong plastik dan karet pengikat, salah satu
ujung plastik dipasang stop keran (regulator) untuk mengambil sampel air dan
ujung yang lain dipasang kemasan zeolit dan karbon aktif. Selanjutnya kantong
plastik diisi dengan air masing-masing 1,3

dan ikan uji dimasukkan kantong

plastik dengan kepadatan 300, 500 dan 700 ekor/liter. Masing-masing perlakukan


terdiri dari 2 ulangan. Setiap kantong diisi oksigen dengan perbandingan 1:3 dan
diikat dengan karet gelang dan dimasukkan ke dalam kotak Styrofoam.
Selanjutnya dimasukkan es batu kedalam kotak Styrofoam agar suhu stabil,
kemudian ditutup rapat.
Pengamatan keadaan ikan dilakukan setiap 4 jam dan pengambilan sampel
air sebanyak 100 m per kantong setiap 4 jam. Pengamatan dan pengambilan
sampel dihentikan hingga 12 jam. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
membuka keran yang sudah dipasang di ujung plastik sehingga air yang ada di
dalam plastik dapat keluar tanpa mengalami difusi udara dari luar packing. Proses
transportasi dilakukan secara simulasi di laboratorium, yaitu disimpan di boks
Styrofoam yang diguncangkan.

2.2.2.2 Tingkat Kelangsungan Hidup
Derajat kelangsungan hidup (SR) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup
sampai akhir pemeliharaan dengan jumlah ikan awal pemeliharaan. Perhitungan SR
digunakan rumus dari Goddart (1996):

Keterangan :

%

%

SR = Kelangsungan Hidup
Nt = Jumlah ikan akhir (ekor)
No = Jumlah ikan awal (ekor)
2.2.2.3 Total Amoniak Nitrogen (TAN) dan Amoniak (NH3)
Nilai TAN didapatkan dari perbandingan nilai absorban sampel dan standar
kemudian dilakukan konsentrasi larutan standar yang digunakan

NH3 = nilai TAN dikalikan dengan persentase amoniak yang tidak terionisasi berdasarkan
nilai pH dan suhu. Berikut merupakan persentase amoniak tak terionisasi pada suhu dan
pH yang berbeda (Tabel 1):



Tabel 1. Persentase amoniak tidak terionisasi (NH3) pada pH dan suhu yang
berbeda (Boyd, 1990)
Suhu (0C)
18
20
22
24
26

6,5
0,1
0,1
0,1
0,2
0,2

pH
7,5
0,9
1,1
1,2
1,4
1,7

7
0,3
0,3
0,4
0,5
0,5

8
2,9
3,3
3,8
4,4
5

8,5
8,5
9,8
11,2
12,7
14,4

2.2.2.4 Pemeliharaan Ikan Nila BEST Pasca Pengangkutan
Pemeliharaan ikan dilakukan selama 14 hari setelah packing dibongkar.
Ikan dipelihara di dalam akuarium dengan dimensi 100x50x50 cm yang telah
dicuci dan dikeringkan selama 3 hari. Sumber air yang digunakan berasal dari air
tandon laboratorium lingkungan dan diberi perlakuan dengan menggunakan filter
fisik melalui sistem pengendapan. Akuarium diisi air dengan ketinggian 30 cm
dan diaerasi selama 3 hari.
Ikan dipelihara dengan pemberian pakan berupa pellet secara at satiation.
Penyiponan dilakukan setiap pagi dan sore dengan pergantian air sebanyak 20%
setiap hari. Pengukuran laju pertumbuhan harian dilakukan dengan mengukur
bobot ikan awal dan bobot ikan akhir sedangkan pengamatan kelangsungan hidup
ikan selama pemeliharaan dilakukan setiap hari dengan mengamati kondisi ikan.
2.2.2.5 Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Laju pertumbuhan bobot harian (α) ditentukan berdasarkan selisih bobot rata-rata
akhir (Wt) dengan bobot rata-rata awal (Wo) pemeliharaan kemudian dibandingkan
dengan waktu pemeliharaan (t) dengan rumus dari Huisman (1987):
 

%

Keterangan:
Wt = Bobot ikan akhir (ekor)
Wo = Bobot ikan awal (ekor)
t

= Waktu percobaan



2.2.2.6 Oksigen Terlarut (DO), Karbon Dioksida (CO2), Kesadahan, Derajat

Keasaman, dan Suhu
Parameter kualitas air yang meliputi oksigen terlarut, karbon dioksida, derajat
keasaman dan suhu diukur setiap 4 jam selama 12 jam.

2.2.2.7 Rancangan Percobaan
Rancangan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) dengan 3 perlakuan yaitu:
A = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif + kepadatan 300 ekor/ℓ
B = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif + kepadatan 500 ekor/ℓ
C = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif +

kepadatan 700 ekor/ℓ

Masing-masing perlakuan terdiri dari 2 ulangan. Model rancangan yang digunakan
yaitu: yij = µ + τi + έij (Steel dan Torrie, 1982)
Keterangan:
yij
= data pada perlakuan kepadatan ke-i dan ulangan ke-j
µ

= nilai tengah data

τi

= pengaruh perlakuan ke-i

έij

= kesalahan percobaan pada perlakuan kepadatan ke-j dan ulangan ke-i

2.2.2.8 Pengumpulan Data
Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tingkat kematian
ikan, data kualitas air (oksigen terlarut, nilai pH, suhu dan total amoniak nitrogen), bobot
ikan. Data tersebut akan digunakan untuk menghitung parameter yang diamati meliputi
NH3, derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan bobot harian.

2.2.2.9 Analisis Data
Analisis data menggunakan analisis ragam (Anova) dengan uji F pada selang
kepercayaan 95% menggunakan program Ms.Exel 2007 dan SPSS 16.0. Apabila
berpengaruh nyata, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan diuji dengan
menggunakan uji Tukey. Adapun parameter yang dianalisis adalah tingkat kelangsungan
hidup dan nilai kualitas air selama pengangkutan yang meliputi total amoniak nitrogen
(TAN), oksigen terlarut (DO), karbon dioksida (CO2), derajat keasaman (pH) dan suhu.
Selain itu, laju pertumbuhan harian dan tingkat kelangsungan hidup selama pemeliharaan
pasca transportasi.



III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1. Penelitian Pendahuluan

3.1.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan
Kemampuan puasa benih nila BEST sebanyak 30 ekor dapat bertahan
hidup dalam keadaan puasa selama 7 hari dengan SR 100%. Hasil uji dari
kemampuan puasa ikan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan nila BEST Selama Pemuasaan
Hari
Ke1
2
3
4
5
6
7

∑ ikan
hidup
30
30
30
30
30
30
30

∑ ikan
mati
0
0
0
0
0
0
0

SR (%)

pH

DO

Suhu

100
100
100
100
100
100
100

7,77
7,92
8,00
7,59
8,11
7,82
8,09

4,76
4,75
5,31
5,03
5,45
5,09
5,49

29,6
29,4
29,3
29,3
29,3
29,1
29,2

Tingkah Laku
Ikan
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif

Keterangan: dilakukan pergantian air pemeliharaan sebanyak 30-50% untuk menjaga kualitas air.

3.1.1.2 Tingkat Konsumsi Oksigen
Hasil uji TKO diperoleh benih ikan nila BEST
-1

sebesar 0,03±0.077 mgO2g

memiliki nilai TKO

-1

jam . Selama waktu pengangkutan yakni 16 jam

oksigen yang diperlukan tiap perlakuan adalah masing-masing 288, 480 dan 672
mgO2 (Lampiran 1).

3.1.1.3 Laju Eksresi Total Amoniak Nitrogen (TAN)
Hasil uji laju eksresi TAN yang didapat dari pengujian setiap 12 jam
selama 48 jam menunjukan bahwa benih ikan nila BEST mempunyai laju eksresi
TAN sebesar 0,050 mgTAN.g-1.jam-1 (lampiran 2). Berdasarkan hasil pengujian
laju eksresi TAN maka prediksi TAN ikan nila BEST tiap perlakuan 300 ekor/ℓ,
500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ selama 16 jam masing-masing 48, 80 dan 112 mg/ℓ. 


 

3.1.1.4 Kapasitas Daya Serap Zeolit dan Karbon Aktif terhadap Amoniak

Pada uji kapasitas serap zeolit terhadap TAN terdapat hasil bahwa air yang
mengandung TAN 1 mg/ℓ dapat diturunkan hingga mencapai konsentrasi 0 mg/ℓ
dalam waktu 420 detik atau sekitar 7 menit (Lampiran 3). Pada uji karbon aktif
didapat hasil bahwa air yang mengandung TAN 1 mg/ℓ dapat diturunkan hingga
mencapai konsentrasi 0,114 mg/ℓ dalam waktu 7 menit (Lampiran 4).
3.1.2 Penelitian Utama
3.1.2.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Nila BEST Selama Pengangkutan
Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila BEST pada media
pengangkutan dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil analisis statistik menunjukan
bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antara perlakuan pada jam ke-0 sampai jam
ke-4, namun terdapat perbedaan nyata pada jam ke-8 sampai jam ke-16.
Ikan pada jam ke-0 sampai jam ke-4 untuk perlakuan 300 ekor/ℓ masih
mencapai 100%, hanya saja untuk perlakuan 500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ 
mengalami kematian sehingga mengakibatkan SR turun masing-masing menjadi
96±5,23% dan 91±1,8%. Nilai SR 100% pada perlakuan 300 ekor/ℓ

hanya

bertahan sampai jam ke-4, sedangkan untuk perlakuan 500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ
hanya bertahan sampai jam ke-0.
Tabel 3. Tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama pengangkutan
jam ke0
4
8
16

SR (%)
300 ekor

500 ekor

700 ekor

100±0,00
100±0,00a
98±0,40a
96±1,41a

100±0,00
96±5,23a
93±3,54a
88±1.98b

100±0,00
91±1,8a
87±1,2a
79±0,7c

Keterangan: huruf superscrip di belakang nilai standar deviasi adalah berbeda pada setiap baris menunjukan pengaruh
perlakuan yang berbeda nyata (P

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pemanfaatan Zeolit dan Karbon aktif dalam Transportasi Tertutup Benih Ikan Nila BEST Oreochromis sp. dengan Kepadatan Tinggi