Pemanfaatan Zeolit dan Karbon aktif dalam Transportasi Tertutup Benih Ikan Nila BEST Oreochromis sp. dengan Kepadatan Tinggi

ABSTRACT

ASTRI HANDAYANI. Utilization of Zeolite and Active Carbon in a Closed
Transportation of Tilapia Seed Strain BEST Oreochromis sp. with a High
Density. Supervised by EDDY SUPRIYONO and HARTON ARFAH.

A common method of moving the seeds is a short-distance transport with a
limited density of fish. Therefore, it is necessary to have a transport system that
can move the seeds to a raising area in a relatively long time, with high density
and high survival rate. This study used a combination of zeolite (20 g/ℓ) and
active carbon (10 g/ℓ) on tilapia seeds strain BEST with a size of ± 0.22 g/ℓ fish
with a high density. Addition of supplement materials such as zeolit and active
carbon were aimed to raise and maintain water quality during the transportation
process, so the highest density could be attained. This study aimed to determine
and find out the effectiveness of zeolite and active carbon in maintaining the
quality of water in a closed transportation so as to know the optimal density of
tilapia seeds strain BEST transported for 16 hours and to minimize the posttransport of mortality rate. This study consisted of two stages. The preliminary
stage was to measure the level of oxygen consumption, ammonia excretion rate,
fish fasting ability, and to determine the optimum density of tilapia BEST in a
closed transportation. Transport time was 16 hours and the post-transport raising
was 14 days for treatments with a density of 300, 500 and 700 fish/ℓ. The study
result showed that density of 300 fish/ℓ is more effective compare to other
treatment with a survival rate of 96%, highest Specific Growth Rate, namely
5,96%, and survival rate after transportation was 85%. However, when viewed
from the profit, the optimum treatment density of 700 fish/ℓ had a profit of Rp
86.280, with a survival rate of 79% for 16 hours.
Keywords: Survival rate (SR), fish transportation, zeolites and active carbon.

ABSTRAK

ASTRI HANDAYANI. Pemanfaatan zeolit dan karbon aktif dalam transportasi
tertutup benih ikan nila BEST Oreochromis sp. dengan kepadatan tinggi.
Dibimbing oleh EDDY SUPRIYONO dan HARTON ARFAH.
Dalam penyelenggaraan usaha pembesaran ikan, seringkali benih-benih
yang memenuhi syarat diperoleh dari tempat pembenihan yang letaknya berjauhan
dari tempat pembesaran. Sistem pengangkutan yang umum yaitu sistem
transportasi tertutup dengan jarak pendek dan kepadatan ikan terbatas. Maka
diperlukan suatu sistem pengangkutan yang dapat memindahkan benih ke tempat
pembesaran jarak jauh, dengan kepadatan tinggi dan tingkat kelangsungan hidup
yang tinggi. Penelitian ini menggunakan kombinasi zeolit 20 g/ℓ dan karbon aktif
10 g/ℓ pada benih ikan nila BEST ukuran rata-rata 0,22 g/ekor dengan kepadatan
tinggi. Penambahan material zeolit dan karbon aktif ini diharapkan dapat
mempertahankan kualitas air selama pengangkutan, sehingga kepadatan tinggi
dapat dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektifitas zeolit dan
karbon aktif dalam mempertahankan kualitas air pada pengangkutan tertutup
sehingga dapat mengetahui kepadatan optimal benih ikan nila BEST yang
diangkut selama 16 jam dan meminimalisir tingkat kematian pasca pengangkutan.
Tahapan penelitian dimulai dari mengukur tingkat konsumsi oksigen, laju eksresi
amoniak, kemampuan puasa ikan, penentuan kepadatan optimum benih ikan nila
BEST pada transportasi tertutup. Transportasi dilakukan selama 16 jam dan
pemeliharaan pasca transportasi selama 14 hari untuk perlakuan dengan kepadatan
300, 500 dan 700 ekor/ℓ. Hasil penelitian menunjukan perlakuan 300 ekor/ℓ lebih
efektif dibandingkan perlakuan lainnya dengan tingkat kelangsungan hidup
selama pengangkutan sebesar 96%, LPH paling tinggi 5,96% dan tingkat
kelangsungan hidup pascatransportasi sebesar 85%. Namun demikian dilihat dari
keuntungan perlakuan 700 ekor/ℓ lebih baik mencapai Rp 86.280 dengan tingkat
kelangsungan hidup sebesar 79% selama pengangkutan 16 jam.
Kata kunci : Tingkat Kelangsungan Hidup (SR), transportasi ikan, zeolit dan
karbon aktif.

I. PENDAHULUAN

Salah satu produk akuakultur yang potensial untuk terus diproduksi adalah
ikan nila. Ikan nila merupakan ikan ekonomis penting di dunia karena cara
budidaya yang mudah, rasa yang digemari dan memiliki toleransi yang luas
terhadap lingkungan. Permintaan ikan nila relatif besar yang ditunjukkan dengan
hasil panen yang hampir semuanya terserap oleh pasar, baik untuk memenuhi
pasar domestik maupun pasar ekspor. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2005,
tingkat konsumsi ikan untuk masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan
sebesar 4,51 %, yakni dari 23,95 kg/kapita/tahun menjadi 25,03 kg/kapita/tahun
pada tahun 2006. Selain itu, KKP menargetkan produksi ikan nila tahun 2011
sebanyak 639.300 ton jumlah ini naik sekitar 36,26% dari tahun 2010 yang
sebanyak 469.173 ton (KKP, 2009). Salah satu ikan nila unggul adalah ikan nila
dengan strain BEST. Ikan nila strain BEST memiliki keunggulan dalam kecepatan
pertumbuhan, ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk, dan tingkat
kelangsungan hidup mencapai 90% (Arifin, 2010).
Dalam penyelenggaraan usaha pembesaran ikan, seringkali benih-benih
yang memenuhi syarat diperoleh dari tempat pembenihan yang letaknya berjauhan
dari tempat pembesaran. Pengangkutan ikan hidup jarak jauh umumnya
menggunakan sistem tertutup. Faktor yang menyebabkan kematian ikan pada
pengangkutan sistem tertutup, antara lain berkurangnya persediaan oksigen
terlarut akibat respirasi, temperatur yang tinggi, dan terakumulasinya metabolit
beracun seperti amoniak. Swann (1993) menyatakan bahwa amoniak berbahaya
pada ikan pada konsentrasi 0,2 mg/ℓ, dan konsentrasi diatas 1,4 mg/ℓ
menyebabkan kematian ikan selama transportasi. Akumulasi amoniak dalam
wadah dapat menyebabkan kematian ikan selama transportasi, maka diperlukan
cara untuk mengontrol akumulasi amoniak di dalam wadah transportasi ikan.
Penelitian ini menggunakan kombinasi zeolit 20 g/ℓ dan karbon aktif 10
g/ℓ pada benih ikan nila BEST ukuran rata-rata 0,22 g/ekor dengan kepadatan
tinggi. Menurut hasil penelitian Ghozali (2007) menambahkan zeolit 20 g/ℓ ke
dalam media pengangkutan ikan maanvis ukuran 2 g/ekor dengan kepadatan 20
ekor/ℓ, menghasilkan SR 100% dengan lama pengangkutan 120 jam. Kemudian

Ghozali (2010) juga meneliti kembali tentang penambahan zeolit 20 g/ℓ, karbon
aktif 10 g/ℓ, dan garam 4 g/ ke dalam media pengangkutan ikan maanvis ukuran
2 g/ekor dengan kepadatan 20 ekor/ℓ, yang menghasilkan SR 89% dengan lama
pengangkutan 120 jam. Penambahan kombinasi zeolit dan karbon aktif
diharapkan dapat memperbaiki dan mempertahankan kualitas air selama proses
transporatsi sehingga kepadatan tinggi dapat dicapai dan dapat meningkatkan
kelangsungan hidup ikan selama pengangkutan. Zeolit mempunyai kapasitas
tinggi sebagai penyerap amoniak, karena zeolit dapat memisahkan molekulmolekul berdasarkan ukuran dan konfigurasi molekul (Anwar et al., 1985).
Sedangkan karbon aktif berfungsi sebagai pengikat total dissolved solid (TDS)
dan total suspended solid (TSS) serta penyerap gas seperti amoniak (NH3).
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektifitas zeolit dan karbon
aktif dalam mempertahankan kualitas air pada pengangkutan tertutup sehingga
dapat mengetahui kepadatan optimal benih ikan nila BEST yang diangkut selama
16 jam dan meminimalisir tingkat kematian pasca transportasi.

2

II. BAHAN DAN METODE
2.1 Tahap Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pendahuluan dan utama.
Metodologi penelitian sesuai dengan Supriyono, et al. (2010) yaitu tahap
pendahuluan meliputi penentuan kemampuan puasa ikan, tingkat konsumsi
oksigen, laju eksresi amoniak, penentuan kapasitas zeolit dan karbon aktif dalam
penyerapan Total Amoniak Nitrogen (TAN). Tahap penelitian utama yaitu
pengangkutan dengan penentuan kepadatan optimum benih ikan nila BEST pada
transportasi tertutup, kualitas air, kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan
harian ikan selama pemeliharaan.

2.2. Prosedur Kerja
2.2.1 Tahap Penelitian Pendahuluan
2.2.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan
Penentuan puasa ikan dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat
kelangsungan hidup benih ikan nila BEST tanpa diberi pakan. Hal ini berguna
pada saat pengangkutan dilakukan, apabila terjadi kematian bukan karena
kelaparan. Penentuan puasa ikan dilakukan dengan cara menyiapkan 3 buah
akuarium berukuran 50x30x30 cm3 yang telah dibersihkan dan dikeringkan
selama 1 hari kemudian diisi air dengan tinggi air 25 cm yang diaerasi selama 2
hari, lalu dimasukkan ikan uji sebanyak 30 ekor/akuarium. Parameter yang
diamati yaitu tingkah laku ikan uji yang dilakukan setiap hari selama tujuh hari
dan kualitas air yaitu nilai pH, suhu dan oksigen terlarut.

2.2.1.2 Tingkat Konsumsi Oksigen
Pengukuran tingkat konsumsi oksigen (TKO) dilakukan untuk mengetahui
konsumsi oksigen ikan sehingga dapat diketahui jumlah oksigen yang dibutuhkan
ikan selama pengangkutan. Pengukuran tingkat konsumsi oksigen dilakukan
dalam wadah yang berukuran 3ℓ yang telah dibersihkan dan dikeringkan,
kemudian diisi air dan diaerasi selama 3 hari agar kandungan oksigen di dalam air
jenuh. Selanjutnya, 6 ekor ikan uji dimasukkan ke dalam wadah, kemudian

ditutup rapat dengan plastik hingga tidak terdapat gelembung udara dan dilakukan
pengukuran DO setiap 1 jam selama 6 jam dengan menggunakan DO-meter.

2.2.1.3 Laju Eksresi Amoniak
Penentuan laju eksresi amonia ikan bertujuan untuk menghitung jumlah
amoniak yang dieksresikan ikan tiap satuan waktu, sehingga dapat diketahui
jumlah akumulasi amoniak pada waktu tertentu. Percobaan ini dilakukan dengan
menyiapkan 3 toples bervolume 3ℓ yang telah dibersihkan dan dikeringkan selama
satu hari, kemudian diisi air hingga penuh. Ikan uji dimasukkan ke dalam wadah
masing-masing 10 ekor/toples. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 30
mℓ setiap 24 jam selama 48 jam untuk mengukur suhu, pH, dan konsentrasi total
amonia nitrogen (TAN).

2.2.1.4 Kapasitas Serap Zeolit Dan Karbon Aktif Terhadap Amoniak
Pengukuran kemampuan serap zeolit dan karbon aktif pada NH3 dapat
dilakukan dengan mengukur tingkat serap bahan aktif tersebut dalam larutan
TAN. Tahapan pada proses ini diawali dengan penyiapan tiga botol plastik yang
salah satu bagian tutup botol dilubangi dengan jarum. Selanjutnya, botol tersebut
diisi dengan zeolit sebanyak 20 gram dan karbon aktif sebanyak 10 gram. Selanjutnya air
yang mengandung TAN 1 mg/ℓ dengan volume 1 ℓ dialirkan pada masing-masing botol,
di bawah botol diletakkan gelas piala untuk menampung aliran air yang mengalir pada
botol. Langkah ini dilakukan setiap 1 menit selama 7 menit. Air sampel yang ditampung
tersebut kemudian diukur kadar TAN, pH dan suhu.

2.2.2 Penelitian Utama
2.2.2.1 Penentuan Kepadatan Optimum Benih Ikan Nila BEST Pada
Pengangkutan Tertutup
Prosedur ini dilakukan dengan pemuasaan ikan uji selama 2 hari,
kemudian disiapkan 12 lembar kantong plastik dan karet pengikat, salah satu
ujung plastik dipasang stop keran (regulator) untuk mengambil sampel air dan
ujung yang lain dipasang kemasan zeolit dan karbon aktif. Selanjutnya kantong
plastik diisi dengan air masing-masing 1,3

dan ikan uji dimasukkan kantong

plastik dengan kepadatan 300, 500 dan 700 ekor/liter. Masing-masing perlakukan


terdiri dari 2 ulangan. Setiap kantong diisi oksigen dengan perbandingan 1:3 dan
diikat dengan karet gelang dan dimasukkan ke dalam kotak Styrofoam.
Selanjutnya dimasukkan es batu kedalam kotak Styrofoam agar suhu stabil,
kemudian ditutup rapat.
Pengamatan keadaan ikan dilakukan setiap 4 jam dan pengambilan sampel
air sebanyak 100 m per kantong setiap 4 jam. Pengamatan dan pengambilan
sampel dihentikan hingga 12 jam. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
membuka keran yang sudah dipasang di ujung plastik sehingga air yang ada di
dalam plastik dapat keluar tanpa mengalami difusi udara dari luar packing. Proses
transportasi dilakukan secara simulasi di laboratorium, yaitu disimpan di boks
Styrofoam yang diguncangkan.

2.2.2.2 Tingkat Kelangsungan Hidup
Derajat kelangsungan hidup (SR) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup
sampai akhir pemeliharaan dengan jumlah ikan awal pemeliharaan. Perhitungan SR
digunakan rumus dari Goddart (1996):

Keterangan :

%

%

SR = Kelangsungan Hidup
Nt = Jumlah ikan akhir (ekor)
No = Jumlah ikan awal (ekor)
2.2.2.3 Total Amoniak Nitrogen (TAN) dan Amoniak (NH3)
Nilai TAN didapatkan dari perbandingan nilai absorban sampel dan standar
kemudian dilakukan konsentrasi larutan standar yang digunakan

NH3 = nilai TAN dikalikan dengan persentase amoniak yang tidak terionisasi berdasarkan
nilai pH dan suhu. Berikut merupakan persentase amoniak tak terionisasi pada suhu dan
pH yang berbeda (Tabel 1):



Tabel 1. Persentase amoniak tidak terionisasi (NH3) pada pH dan suhu yang
berbeda (Boyd, 1990)
Suhu (0C)
18
20
22
24
26

6,5
0,1
0,1
0,1
0,2
0,2

pH
7,5
0,9
1,1
1,2
1,4
1,7

7
0,3
0,3
0,4
0,5
0,5

8
2,9
3,3
3,8
4,4
5

8,5
8,5
9,8
11,2
12,7
14,4

2.2.2.4 Pemeliharaan Ikan Nila BEST Pasca Pengangkutan
Pemeliharaan ikan dilakukan selama 14 hari setelah packing dibongkar.
Ikan dipelihara di dalam akuarium dengan dimensi 100x50x50 cm yang telah
dicuci dan dikeringkan selama 3 hari. Sumber air yang digunakan berasal dari air
tandon laboratorium lingkungan dan diberi perlakuan dengan menggunakan filter
fisik melalui sistem pengendapan. Akuarium diisi air dengan ketinggian 30 cm
dan diaerasi selama 3 hari.
Ikan dipelihara dengan pemberian pakan berupa pellet secara at satiation.
Penyiponan dilakukan setiap pagi dan sore dengan pergantian air sebanyak 20%
setiap hari. Pengukuran laju pertumbuhan harian dilakukan dengan mengukur
bobot ikan awal dan bobot ikan akhir sedangkan pengamatan kelangsungan hidup
ikan selama pemeliharaan dilakukan setiap hari dengan mengamati kondisi ikan.
2.2.2.5 Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Laju pertumbuhan bobot harian (α) ditentukan berdasarkan selisih bobot rata-rata
akhir (Wt) dengan bobot rata-rata awal (Wo) pemeliharaan kemudian dibandingkan
dengan waktu pemeliharaan (t) dengan rumus dari Huisman (1987):
 

%

Keterangan:
Wt = Bobot ikan akhir (ekor)
Wo = Bobot ikan awal (ekor)
t

= Waktu percobaan



2.2.2.6 Oksigen Terlarut (DO), Karbon Dioksida (CO2), Kesadahan, Derajat

Keasaman, dan Suhu
Parameter kualitas air yang meliputi oksigen terlarut, karbon dioksida, derajat
keasaman dan suhu diukur setiap 4 jam selama 12 jam.

2.2.2.7 Rancangan Percobaan
Rancangan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) dengan 3 perlakuan yaitu:
A = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif + kepadatan 300 ekor/ℓ
B = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif + kepadatan 500 ekor/ℓ
C = 20 g zeolit + 10 g karbon aktif +

kepadatan 700 ekor/ℓ

Masing-masing perlakuan terdiri dari 2 ulangan. Model rancangan yang digunakan
yaitu: yij = µ + τi + έij (Steel dan Torrie, 1982)
Keterangan:
yij
= data pada perlakuan kepadatan ke-i dan ulangan ke-j
µ

= nilai tengah data

τi

= pengaruh perlakuan ke-i

έij

= kesalahan percobaan pada perlakuan kepadatan ke-j dan ulangan ke-i

2.2.2.8 Pengumpulan Data
Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tingkat kematian
ikan, data kualitas air (oksigen terlarut, nilai pH, suhu dan total amoniak nitrogen), bobot
ikan. Data tersebut akan digunakan untuk menghitung parameter yang diamati meliputi
NH3, derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan bobot harian.

2.2.2.9 Analisis Data
Analisis data menggunakan analisis ragam (Anova) dengan uji F pada selang
kepercayaan 95% menggunakan program Ms.Exel 2007 dan SPSS 16.0. Apabila
berpengaruh nyata, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan diuji dengan
menggunakan uji Tukey. Adapun parameter yang dianalisis adalah tingkat kelangsungan
hidup dan nilai kualitas air selama pengangkutan yang meliputi total amoniak nitrogen
(TAN), oksigen terlarut (DO), karbon dioksida (CO2), derajat keasaman (pH) dan suhu.
Selain itu, laju pertumbuhan harian dan tingkat kelangsungan hidup selama pemeliharaan
pasca transportasi.



III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1. Penelitian Pendahuluan

3.1.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan
Kemampuan puasa benih nila BEST sebanyak 30 ekor dapat bertahan
hidup dalam keadaan puasa selama 7 hari dengan SR 100%. Hasil uji dari
kemampuan puasa ikan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan nila BEST Selama Pemuasaan
Hari
Ke1
2
3
4
5
6
7

∑ ikan
hidup
30
30
30
30
30
30
30

∑ ikan
mati
0
0
0
0
0
0
0

SR (%)

pH

DO

Suhu

100
100
100
100
100
100
100

7,77
7,92
8,00
7,59
8,11
7,82
8,09

4,76
4,75
5,31
5,03
5,45
5,09
5,49

29,6
29,4
29,3
29,3
29,3
29,1
29,2

Tingkah Laku
Ikan
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif
Berenang Aktif

Keterangan: dilakukan pergantian air pemeliharaan sebanyak 30-50% untuk menjaga kualitas air.

3.1.1.2 Tingkat Konsumsi Oksigen
Hasil uji TKO diperoleh benih ikan nila BEST
-1

sebesar 0,03±0.077 mgO2g

memiliki nilai TKO

-1

jam . Selama waktu pengangkutan yakni 16 jam

oksigen yang diperlukan tiap perlakuan adalah masing-masing 288, 480 dan 672
mgO2 (Lampiran 1).

3.1.1.3 Laju Eksresi Total Amoniak Nitrogen (TAN)
Hasil uji laju eksresi TAN yang didapat dari pengujian setiap 12 jam
selama 48 jam menunjukan bahwa benih ikan nila BEST mempunyai laju eksresi
TAN sebesar 0,050 mgTAN.g-1.jam-1 (lampiran 2). Berdasarkan hasil pengujian
laju eksresi TAN maka prediksi TAN ikan nila BEST tiap perlakuan 300 ekor/ℓ,
500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ selama 16 jam masing-masing 48, 80 dan 112 mg/ℓ. 


 

3.1.1.4 Kapasitas Daya Serap Zeolit dan Karbon Aktif terhadap Amoniak

Pada uji kapasitas serap zeolit terhadap TAN terdapat hasil bahwa air yang
mengandung TAN 1 mg/ℓ dapat diturunkan hingga mencapai konsentrasi 0 mg/ℓ
dalam waktu 420 detik atau sekitar 7 menit (Lampiran 3). Pada uji karbon aktif
didapat hasil bahwa air yang mengandung TAN 1 mg/ℓ dapat diturunkan hingga
mencapai konsentrasi 0,114 mg/ℓ dalam waktu 7 menit (Lampiran 4).
3.1.2 Penelitian Utama
3.1.2.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Nila BEST Selama Pengangkutan
Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila BEST pada media
pengangkutan dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil analisis statistik menunjukan
bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antara perlakuan pada jam ke-0 sampai jam
ke-4, namun terdapat perbedaan nyata pada jam ke-8 sampai jam ke-16.
Ikan pada jam ke-0 sampai jam ke-4 untuk perlakuan 300 ekor/ℓ masih
mencapai 100%, hanya saja untuk perlakuan 500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ 
mengalami kematian sehingga mengakibatkan SR turun masing-masing menjadi
96±5,23% dan 91±1,8%. Nilai SR 100% pada perlakuan 300 ekor/ℓ

hanya

bertahan sampai jam ke-4, sedangkan untuk perlakuan 500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ
hanya bertahan sampai jam ke-0.
Tabel 3. Tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama pengangkutan
jam ke0
4
8
16

SR (%)
300 ekor

500 ekor

700 ekor

100±0,00
100±0,00a
98±0,40a
96±1,41a

100±0,00
96±5,23a
93±3,54a
88±1.98b

100±0,00
91±1,8a
87±1,2a
79±0,7c

Keterangan: huruf superscrip di belakang nilai standar deviasi adalah berbeda pada setiap baris menunjukan pengaruh
perlakuan yang berbeda nyata (P<0.05)

Gambar 1. Menunjukan tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila BEST
pada jam ke-16 untuk masing-masing perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup
tertinggi terdapat pada perlakuan dengan kepadatan 300 ekor/ℓ yang mencapai
96±0,47%. Tingkat kelangsunagn terendah adalah perlakuan 700 ekor/ℓ sebesar
79±0,7% selama masa pengangkutan 16 jam. Berdasarkan hasil perhitungan


statistik, peningkatan kepadatan ikan pada transportasi berberda nyata (P<0,05)
antara perlakuan satu dengan yang lainnya.

100

96±0,47%
88±1,98%
79±0,7%

SR (%)

80
60
40

a

b

c

20
0
300 ekor
300 ekor

500 ekor
Perlakuan
500 ekor

700 ekor
700 ekor

Gambar 1. Tingkat Kelangsungan hidup pada jam ke-16
3.1.5 Kualitas Air Media Pengangkutan
Tabel 4 menunjukan bahwa konsentrasi TAN rata-rata dari setiap perlakuan
pada jam ke-0, 4, 8 mengalami peningkatan konsentrasi TAN seiring
bertambahnya waktu, namun terjadi penurunan pada jam ke-12. Pada jam ke 12
konsentrasi nilai TAN terendah terjadi pada perlakuan pada perlakuan 300 ekor/ℓ
yang mencapai 0,502±0,049 mg/ℓ, kemudian meningkat pada masing-masing
perlakuan 500 ekor/ℓ dengan konsentrasi TAN sebesar 0,744±0,047 mg/ℓ dan
perlakuan 700 ekor/ℓ dengan konsentrasi TAN sebesar 0,792±,0,006 mg/ℓ.
Tabel 4. Konsentrasi TAN rata-rata pada media air pengangkutan ikan nila BEST
jam ke0
4
8
12

TAN (mg/L)
300 ekor

500 ekor

700 ekor

0,138±0,000
0,478±0,291a
0,814±0,039a
0,502±0,049a

0,138±0,000
0,717±0,265a
0,883±0,014ab
0,744±0,047b

0,138±0,000
0,773±0,009a
0,929±0,009c
0,792±,0,006b

Keterangan: huruf superscrip di belakang nilai standar deviasi adalah berbeda pada setiap baris menunjukan
pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (P<0,05).

Nilai amoniak tidak terionisasi (NH3) diperoleh dari data TAN dengan
memperhitungkan kondisi pH dan suhu pada setiap unit percobaan dengan
menggunakan tabel persentase amoniak tidak terionisasi (Tabel 1). Gambar 2
menunjukan konsentrasi NH3 pada media pengangkutan untuk setiap perlakuan
10 

dari jam ke-0 sampai jam ke 12 terlihat terjadi peningkatan konsentrasi dari waktu
ke waktu. Konsentasi NH3 mulai meningkat pada jam ke-4 dengan nilai terendah
pada perlakuan 500 ekor/ℓ sebesar 0,0082+0,016 mg/ℓ dan nilai tertinggi pada
perlakuan 700 ekor/ℓ sebesar 0,146±0,016 mg/ℓ. Nilai NH3 pada jam ke-12 untuk
semua perlakuan berkisar antara 0,0082+0,016-0,0415+0,003 mg/ℓ. Berdasarkan
uji statistik tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan pada jam ke 12.
0.050

Amoniak (mg/ℓ)

0.040
0.030
0.020
0.010
0.000
0

‐0.010

4

8

12

Waktu
300 ekor

500 ekor

700 ekor

Gambar 2. Nilai NH3 rata-rata pada media air
Gambar 3. menunjukan suhu selama pengangkutan relatif stabil, diketahui
bahwa suhu awal air dalam wadah penampungan yaitu 280C. Suhu kemudian
diturunkan dengan penambahan es batu ke dalam boks Styrofoam. Suhu
pengangkutan benih ikan nila pada penelitian ini berkisar antara 24-260C
27

Suhu 0C

26
25
24
0

8

12

Waktu
300 ekor

500 ekor

700 ekor

Gambar 3. Suhu media air pengangkutan
Gambar 4. dapat terlihat bahwa nilai oksigen awal sebelum pengangkutan
adalah 3,75 mg/ℓ. pada saat ikan ditransportasikan. DO media pada jam ke-4
mengalami kenaikan pada jam ke-4 karena adanya penambahan dan tekanan dari
oksigen murni. Pada jam ke-8 kandungan DO mulai menurun, pada jam ke-12
11 

nilai DO sebesar 3,56 mg/ℓ untuk kepadatan 300 ekor/ℓ, kemudian nilai DO
sebesar 2,97 mg/ℓ untuk kepadatan 500 ekor/ℓ, dan nilai DO sebesar 2,92 mg/ℓ
untuk kepadatan700 ekor/ℓ. Pengaruh secara nyata antar perlakuan terjadi pada
jam ke-4 sampai akhir pengambilan sampel.
5.00

DO (mg/l)

4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
0

4

8

12

500 ekor

700 ekor

Waktu
300 ekor

Gambar 4. DO media air pengangkutan
Gambar 5. menunjukkan kisaran derajat keasaman (pH) selama
pengangkutan masing-masing perlakuan selama pengangkutan, adapun kisaran
pH selama pengangkutan adalah berkisar antara 6,84-7,30. Kisaran ini merupakan
kisaran optimum pada pengangkutan benih ikan nila BEST. Nilai pH ini tidak

pH

terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan dari jam ke-0 sampai ke -12.
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
0

4
300 ekor

Waktu
500 ekor

8

12
700 ekor

Gambar 5. pH media air pengangkutan
Gambar 6. Menunjukan nilai CO2 selama pengangkutan mengalami
peningkatan seiring bertambahnya waktu. Nilai CO2 berkisar antara 15,98 sampai
71,91 mg/ℓ. Pada jam ke 12, nilai CO2 relatif berbanding lurus dengan kepadatan.
Nilai CO2 tertinggi terjadi pada padat tebar 700 ekor/ℓ dengan nilai konsentrasi
12 

71,914±5,65 mg/ℓ. Adapun pada perlakuan 300 ekor/ℓ dengan nilai CO2 dari
waktu ke waktu relatif stabil.
100.0

CO2 (mg/l)

80.0
60.0
40.0
20.0
0.0
0

4

8

12

Waktu
300 ekor

500 ekor

700 ekor

Gambar 6. Konsentrasi CO2 media air pengangkutan
3.1.6 Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila BEST pada Pemeliharaan
Pasca Pengangkutan
Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila BEST yang dipelihara pasca
pengangkutan memiliki nilai SR yang beragam. Pada awal pemeliharaan terjadi
kematian ikan pada hari ke-3 dan ke-4 pada perlakuan dengan kepadatan 300
ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ.  Tingkat kelangsungan (SR) tertinggi hingga akhir
pemeliharaan selama 14 hari terdapat pada perlakuan 300 ekor/  sebesar 85%.
Sedangkan tingkat kelangsungan terendah terdapat pada perlakuan 700 ekor/ℓ
yaitu sebesar 63%.
120

SR (%)

100
80
60
40
20
0
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10 11 12 13 14

Hari ke-

300 ekor

500 ekor

700 ekor

Gambar 7. Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila BEST pada pemeliharaan
pasca pengangkutan selama 14 hari
13 

3.1.7 Laju Pertumbuhan Harian pada Pemeliharaan Pasca Pengangkutan
Nilai laju pertumbuhan benih ikan nila BEST dapat dilihat pada Gambar 6.
Dari gambar tersebut dapat dilihat Laju pertumbuhan harian (LPH) tertinggi
terdapat pada perlakuan 300 ekor/

yaitu sebesar 5,96 %. Laju pertumbuhan

harian (LPH) terendah terdapat pada perlakuan 700 ekor/ yaitu sebesar 3,28%.
Hasil uji statistik tidak menunjukan adanya perbedaan yang nyata antara masingmasing kepadatan 300 ekor/ , 500 ekor/ dan 700 ekor/
7.00
5,96  0,007
6.00
4,69 0,035

SGR (%)

5.00
4.00
3.00

3,28 0,056

a
a

2.00
1.00

a

0.00
300 ekor

500 ekor

700 ekor

Perlakuan

Gambar 8. Laju Pertumbuhan Harian benih ikan nila BEST pasca pengangkutan
3.1.8 Histopatologi insang benih ikan nila BEST selama pengangkutan
Hasil pengamatan penelitian pada jam ke-16, menunjukan bahwa
perlakuan dengan kepadatan 300, 500 dan 700 ekor/ menyebabkan perubahan
mikroskopis pada organ insang. Pada perlakuan dengan kepadatan 300 ekor/
terdapat kerusakan mikroskopis berupa hiperemi. Perlakuan dengan kepadatan
500 ekor/ terdapat kerusakan insang berupa hiperplasia dan nekrosi. Sedangkan
perlakuan dengan kepadatan 700 ekor/ menunjukan adanya kerusakan insang
berupa kongesti dan nekrosi.

14 

  Hi
LP
LS 
100 µm



190 µm




Hp
N

N
100 µm



50 µm



Keterangan: Hp=hiperplasia, K=Kongesti, N=nekrosis, Hi=hiperemi
Gambar 9. Gambaran histolopatologi insang A (ikan kontrol dengan lamela
sekunder (LS) dan lamela primer (LP)). B (perlakuan kepadatan 300
ekor/ , C (perlakuan kepadatan 500 ekor/ ) dan D (perlakuan
kepadatan 700 ekor/ ).

15 

3.1.9 Analisa biaya pengangkutan
Tujuan transportasi pada penelitian ini diasumsikan ke Palembang,
Sumatra Barat. Pengangkutan dilakukan dengan jalur darat dengan jarak tempuh
selama 16 jam. Kantong yang ditransportasikan untuk masing-masing perlakuan
berjumlah dua kantong packing. Berikut ini analisa biaya pengangkutan benih
ikan nila BEST yang diangkut dengan kepadatan berbeda Tabel 5.
Tabel 5. Biaya pengangkutan benih ikan nila BEST dengan kepadatan berbeda

Oksigen murni perkantong

Rp/kantong

Harga
Satuan
(Rp)
1000

Plastik packing

Rp/lembar

500

Komponen

Satuan

Perlakuan
300 e/ℓ (Rp)
2.000

500 e/ℓ (Rp)
2.000

700 e/ℓ (Rp)
2.000

2.000

2.000

2.000

Karet

buah

10

40

40

40

Es batu

buah

1,000

2.000

2.000

2.000

Karbon Aktif

Rp/kantong

150

300

300

300

Zeolit

Rp/kantong

50

100

100

100

ekor

50

15.000

25.000

35.000

Rp

0

5.000

5.000

5.000

26.440

36.440

46.440

SR pengangkutan

96%

88%

79%

Jumlah ikan hidup pasca
pengangkutan (ekor)

576

880

1106

Harga beli benih nila BEST
Transportasi per packing
Total Biaya

Penerimaan (harga jual
Rp120/ekor)

Rp

69.120

105.600

132.720

Keuntungan

Rp

42.680

69.160

86.280

Rata-rata biaya yang
dikeluarkan/ekor pasca
transportasi

Rp

45,903

41,409

41,989

Berdasarkan

hasil

perhitungan

keuntungan

yang

didapat

pada

pengangkutan benih ikan nila BEST berbeda setiap perlakuan Keuntungan yang
paling tinggi terdapat pada pengangkutan benih ikan nila BEST perlakuan dengan
kepadatan 700 ekor/ℓ sebesar Rp 86.280. Perlakuan dengan kepadatan 500 ekor/ℓ
mempunyai keuntungan sebesar Rp. 69.160. Sedangkan keuntungan terendah
terdapat pada perlakuan 300 ekor/ℓ sebesar Rp. 42.680. Dari segi biaya yang
dikeluarkan setiap ekor benih ikan nila perlakuan 300 ekor/ℓ lebih ekonomis dari
semua perlakuan sebesar Rp 45,90 dibandingkan biaya pengangkutan dengan
kepadatan 700 ekor/ℓ yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp 86.280.
16 

3.2 Pembahasan
3.2.1 Penelitian Pendahuluan
Hasil penelitian pendahuluan yaitu kemampuan puasa ikan (Tabel 2),
menunjukan bahwa benih ikan nila BEST ukuran ±0.22 gram dapat bertahan
hidup tanpa diberi pakan selama 7 hari dengan SR 100%. Dari hasil tersebut dapat
dikatakan bahwa ikan yang mati pada saat dilakukan pengangkutan bukan
disebabkan karena faktor kelaparan. Jika hasil kemampuan puasa ikan ini
dibandingkan dengan kemampuan puasa ikan manvis penelitian Mahbub (2010),
hasil uji menunjukan bahwa ikan maanvis ukuran 2 g/ekor sebanyak 30 ekor dapat
bertahan hidup dalam keadaan puasa selama 8 hari dengan SR sebesar 100%.
Penelitian Maria (2010) menujukan hasil kemampuan puasa ikan gurame ukuran
± 1,7 gram sebanyak 30 ekor dapat bertahan hidup dengan selama 6 hari dengan
tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%.
Jumlah konsumsi oksigen ditentukan untuk penyesuaian jumlah gas
oksigen yang dimasukkan ke dalam kantong pengepakan. Hasil uji TKO
menunjukan oksigen yang dimasukkan ke kantong sebesar 0,300 mgO2g-1.jam-1,
dengan demikian selama waktu pengangkutan 16 jam oksigen yang diperlukan
tiap perlakuan masing-masing adalah 288, 480 dan 672 mgO2. Penentuan laju
eksresi TAN dilakukan untuk penggunaan zeolit dan karbon aktif sebagai
penyerap TAN. Hasil uji laju eksresi TAN benih ikan nila BEST mempunyai laju
eksresi TAN sebesar 0,050 mgTAN.g-1.jam-1. Dengan demikian selama waktu
pengangkutan 16 jam dapat diprediksi kandungan TAN pada tiap perlakuan
masing-masing 48, 80 dan 112 mg/ℓ. Dalam wadah pengangkutan eksresi TAN
penting

diketahui

karena

akumulasinya

akan

berakibat

fatal

terhadap

kelangsungan hidup oerganisme dalam media pengangkutan.
Hasil uji kapasitas serap zeolit terhadap TAN menunjukan air yang
mengandung TAN 1 mg/ℓ dapat diturunkan hingga mencapai konsentrasi 0 mg/ℓ
dalam waktu 420 detik atau sekitar 7 menit (Lampiran 3). Penurunan TAN terjadi
karena daya serap dari zeolit masih tinggi serta kandungan NH4+ masih banyak
terdapat di air. Sehingga zeolit dapat dengan mudah menukar ion-ion NH4+
dengan ion Ca+ atau ion Na+ yang terkandung dalam zeolit tersebut (Boyd 1990).
Hasil uji karbon aktif didapat hasil bahwa air yang mengandung TAN 1 mg/ℓ
17 

dapat diturunkan hingga mencapai konsentrasi 0,114 mg/ℓ dalam waktu 7 menit
(Lampiran 4). Kapasitas karbon aktif dalam menyerap TAN tidak sebagus zeolit
karena sifat absorpsi dan adsorpsi dari karbon aktif yang lebih lemah
dibandingkan dengan zeolit (Sembiring dan Sinaga, 2003).

3.2.2 Penelitian Utama
Penelitian utama saat pengepakan benih ikan nila BEST di dapat hasil
tingkat kelangsungan hidup terendah yaitu perlakuan 700 ekor/ℓ sebesar 79%.
Tingkat kelangsungan hidup yang rendah dikarenakan kepadatan ikan yang tinggi
Selama pengangkutan ikan melakukan berbagai aktivitas seperti respirasi dan
metabolisme seperti eksresi feses sehingga terdapat amonia yang dapat
membahayakan fisiologi tubuh ikan. Hal ini sesuai pernyataan Bose et al. (1991)
beberapa hal penyebab kematian ikan dalam pengangkutan yaitu menipisnya
persediaan oksigen terlarut di media pengangkutan, akumulasi dari gas toksik
seperti amonia, terjadi gesekan antar ikan yang mengakibatkan luka fisik yang
mengakibatkan ikan stres, gerakan ikan yang hiperaktif di awal pengangkutan,
fluktuasi suhu air mendadak dan penyakit. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi
terdapat pada perlakuan 300 ekor/ℓ sebesar 96%. Tingkat SR yang tinggi
dikarenakan kepadatan ikan yang rendah dan konsentrasi DO, amonia dan CO2
dalam media pengangkutan masih dalam kisaran optimum sehingga ikan masih
dapat mentolelir kondisi terebut. Kelangsungan hidup ikan selama pengangkutan
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ikan, ketersediaan oksigen terlarut
dalam media, suhu, kandungan zat-zat buangan yang dieksresikan ikan yang
bersifat toksik (amonia dan karbon dioksida) dan kepadatan ikan selama
pengangkutan (Sendjaja dan Riski, 2002).
Konsentrasi total amoniak nitrogen (TAN) rata-rata (Tabel 4) terjadi
fluktuasi dengan konsentrasi meningkat hingga jam ke-8, namun turun pada jam
ke-12. Konsentrasi TAN yang menurun dalam hal ini karena penggunaan zeolit
sebagai penyerap TAN pada media transportasi terbukti di akhir perlakuan. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Supendi (2006) salah satu cara mengurangi
konsentrasi amoniak adalah menggunakan zeolit dan karbon aktif, dimana zeolit
dan karbon aktif ini mampu mengadsorpsi sejumlah amoniak dalam waktu
18 

tertentu. Selain itu peningkatan kandungan TAN disebabkan peningkatan laju
eksresi ikan pada media pengangkutan. Hal ini sesuai pernyataan Frose (1985)
dalam wadah pengangkutan laju metabolisme ikan lebih cepat sampai tiga kali
dari metabolisme rutin, yang menyebabakan laju eksresi hasil metabolisme selama
proses pengangkutan meningkat pula.
Amoniak di dalam perairan terdapat dalam dua bentuk yaitu Amonium
(NH4+ ) dan Amoniak (NH3). NH3 adalah bentuk amoniak yang lebih beracun bagi
organisme perairan (Spotte, 1970). Konsentrasi NH3 tertinggi terdapat pada
perlakuan 700 ekor/ℓ yaitu sebesar 0,0415±0,0002 mg/ℓ sehingga kematian ikan
dapat dikatakan sebagian besar terjadi karena konsentrasi amonia pada media
pengangkutan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan McCarty dalam
Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar NH3 pada perairan tawar sebaiknya
tidak melebihi 0,02 mg/ℓ, karena kadar NH3 yang melebihi 0,02 mg/ℓ bersifat
toksik bagi beberapa jenis ikan. Konsentrasi NH3 yang melebihi 0,02 mg/ℓ dapat
menurunkan kapasitas darah untuk membawa oksigen yang dapat mengakibatkan
kematian pada ikan.
Peningkatan konsumsi oksigen disebabkan karena padatnya jumlah ikan
sehingga terjadi stres dan metabolisme meningkat serta penggunaan oksigen
semakin meningkat akan menghasilkan gas buangan berupa karbondioksida. Nilai
CO2 relatif berbanding lurus dengan kepadatan, Semakin padat ikan, nilai CO2
semakin tinggi. Nilai CO2 selama transportasi berkisar antara 15,98-71,91 mg/ℓ.
Konsentrasi CO2 selama transportasi ini masih berada pada kisaran optimal bagi
ikan. Dalam hal ini ikan nila termasuk ikan tropis. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Boyd (1992) bahwa CO2 tidak begitu toksik, hal ini disebabkan
kebanyakan ikan hidup beberapa hari pada air dengan kandungan CO2 lebih dari
60 mg/ℓ. Selanjutnya dikatakan konsentrasi CO2 lebih besar 50-100 mg/ℓ
membutuhkan waktu yang realtif lama untuk membunuh ikan. Berka (1986)
menambahkan bahwa nilai-nilai kritis untuk karbondioksida selama transportasi
tertutup tergantung pada spesies, namun bervariasi antara 40 mg/ℓ untuk spesies
ikan di daerah bermusim sampai dengan 140 mg/ℓ untuk ikan tropis. Penurunan
nilai CO2 disebabkan penggunaan zeolit pada media yang dapat penyerap
karbondioksida namun tidak sekuat terhadap penyerapan TAN. Hal ini sesuai
19 

dengan pernyataan Mumpton (1999) bahwa zeolit dapat menyerap molekul polar
dengan selektifitas yang tinggi dan CO2 merupakan salah satu molekul polar.
Parameter kualitas air lainnya yaitu suhu, pH, dan DO selama penelitian
masih dalam kisaran yang baik bagi kehidupan organisme. Suhu pengangkutan
benih ikan nila pada penelitian ini berfluktuasi, berkisar antara 24-260C. Fluktuasi
suhu yang terjadi tidak membahayakan bagi kelangsungan hidup ikan karean
menurut Sticney (1979) menyatakan secara umum fluktuasi suhu yang
membahayakan bagi ikan adalah 50C. dalam waktu 1 jam. Selain itu Frose (1998)
dalam Emu (2010) mengatakan bahwa ikan tropis dapat bertahan pada saat
pengiriman pada suhu yang sama dengan lingkungannya yaitu sekitar 22-300C. .
pengangkutan jarak jauh dan lama (lebih dari 24 jam) oksigen harus selalu
tersedia dan suhu tidak boleh melebihi 280C, adapun suhu yang ideal untuk
pengangkutan ikan tropis adalah 20-240C (Jhingran dan Pullin, 1985).
Nilai pH masih dalam kisaran optimum kehidupan untuk pengangkutan
yaitu berkisar antara 7 – 8 (Djarijah, 2001). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan
Pescod (1973) bahwa kriteria pH yang ideal adalah 6,5-8,5. Jadi dapat
disimpulkan bahwa fluktuasi nilai pH pada media pengepakan tidak berbahaya
bagi kelangsungan hidup benih ikan nila BEST. pH yang berfluktuasi selama
pengakutan dapat dikarenakan adanya perubahan ion H+ ketika pH naik pada
perlakuan 500 ekor/ℓ pada jam ke-8 terjadi perubahan kesetimbangan terhadap
reaksi amonia dalam air yaitu ion H+ akan terlepas sehingga NH4+ turun
sementara OH+ meningkat maka NH3 meningkat pula. Secara mekanisme
pertukaran ion yang dilakukan oleh zeolit mampu menyerap ion selektif yaitu
NH4+ terlepas.
Nilai DO pada saat pengangkutan berkisar antara 2,92-4,76 mg/ℓ.
Konsentrasi DO dalam media air pengepakan semakin menurun dengan
bertambahnya waktu dan padat penebaran. Semakin tinggi kepadatan ikan,
pemanfaatan oksigen juga tinggi, sehingga kepadatan yang paling tinggi tidak
akan lebih besar menyerap oksigennya daripada kepadatan lebih rendah. Dalam
media pengepakan seperti halnya yang dikemukan oleh Pescod (1973) kandungan
oksigen terlarut yang baik untuk pengangkutan ikan harus lebih dari 2 mg/ℓ.
Dengan demikian, kualitas air (suhu, pH, dan DO) dapat disimpulkan bahwa
20 

selama penelitian, kualitas air tersebut masih layak untuk kehidupan benih ikan
nila BEST. Kelayakan kualitas air tersebut digunakan untuk menjaga agar
kelangsungan hidup benih ikan nila BEST air tawar tetap tinggi dalam media
pengangkutan.
Laju pertumbuhan harian merupakan salah satu data kegiatan produksi
yang cukup penting diketahui, selain mengetahui tingkat kelangsungan hidup
selama pengangkutan maka diperlukan data untuk mengetahui kelayakan produksi
sebagai tahap setelah pengangkutan. Nilai LPH tertinggi adalah perlakuan dengan
kepadatan 300 ekor/ℓ yakni 5,96%. Sedangkan nilai LPH terendah adalah
perlakuan dengan kepadatan 700 ekor/ℓ yakni 3,28%. Rendahnya nilai LPH pada
kepadatan 700 ekor/ℓ disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sesuai
dengan batas toleransi ikan sehingga proses fsiologis menjadi terganggu akibat
padat tebar yang terlalu tinggi dan berpengaruh pada kematian. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Wedemeyer (1996) menyatakan bahwa pertumbuhan ikan
menurun diduga disebabkan oleh terganggunya proses fisiologis akibat kepadatan
yang melewati batas tertentu. Hal ini juga sesuai dengan Goddard (1996) bahwa
Pertumbuhan ikan bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis ikan, sifat genetis,
kemampuan memanfaatkan makanan, ketahanan terhadap penyakit serta di
dukung oleh faktor lingkungan seperti kualitas air, pakan, dan ruang gerak atau
padat penebaran. Berdasarkan data LPH dan SR setelah pengangkutan untuk
semua perlakuan tidak berbeda nyata yang artinya perlakuan 700 ekor/ℓ pun
mampu memberikan hasil produksi yang cukup bagus.
Tingkat kelangsungan hidup pasca pengangkutan tertinggi terdapat pada
perlakuan 300 ekor/ℓ yang mencapai 85%. Sedangkan nilai SR untuk perlakuan
500 ekor/ℓ dan 700 ekor/ℓ masing-masing 78% dan 63%. Nilai SR pasca
pengangkutan menurun dapat disebabkan ikan mengalami stres pada saat
pengangkutan yang diakibatkan guncangan maupun kepadatan yang terlalu tinggi.
Pada keadaan packing ikan sudah terbiasa dengan lingkungan amonia dan CO2
yang tinggi serta DO rendah, sedangkan selama masa pemeliharaan ikan dituntut
harus menyesuaikan pada lingkungan dengan kisaran DO, amonia dan CO2 yang
optimum untuk pemeliharaan ikan normal.

21 

Insang merupakan organ pertama yang bereaksi terhadap perubahan
lingkungan. Kualitas air yang tidak sesuai atau melebihi batas toleransi ikan akan
menyebabkan kerusakan mikroanatomi pada insang. Perubahan-perubahan yang
ditemukan pada insang tersebut merupakan mekanisme pertahanan insang
terhadap perubahan atau tekanan dari lingkungan. Pengamatan histologi pada
organ insang bertujuan untuk memperlihatkan kondisi insang setelah diberi
perlakuan terdapat kerusakan yang dapat menyebabkan terganggunya mekanisme
pernafasan pada ikan seperti fusi, hiperplasia, hemoragi, lapisan epitel terangkat,
hipertropi, dan neksrosis. Connel dan Miller (1995) dalam Aryanto (2011)
menyatakan bahwa kerusakan insang akan mempengaruhi metabolisme dan
pertumbuhan ikan budidaya. Perlakuan

pada benih ikan nila BEST dengan

kepadatan berbeda pada media pengangkutan (Gambar 9) terdapat kerusakan
mikronantomi ikan pada masing-masing perlakuan yang berbeda. Perlakuan
dengan kepadatan 300 ekor/ℓ terdapat kerusakan berupa hiperemi. Hiperemi
adalah kondisi menggenang dari aliran darah arteri. Pada perlakuan dengan
kepadatan 500 ekor/ℓ terdapat kerusakan jaringan berupa hiperplasia dan nekrosis.
Menurut Takashima dan Hibiya (1995) hiperplasia pada lamela sekunder maupun
primer pada umumnya disebabkan oleh adanya pengaruh dari parasit kronis,
bakteri, atau iritasi yang dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai.
Hiperplasi adalah pembentukan jaringan secara berlebihan karena bertambahnya
jumlah sel. Perlakuan dengan kepadatan 700 ekor/ℓ menunjukan adanya
kerusakan jaringan kongesti dan nekrosis. Menurut Ressang (1984), kongesti
adalah terjadinya pembendungan darah yang disebabkan adanya gangguan
sirkulasi yang dapat mengakibatkan kekurangan oksigen dan zat gizi. Neksrosis
adalah kematian yang terjadi secara cepat pada bagian yang terbatas pada suatu
jaringan dari individu tertentu saat masih hidup. Gambaran mikroskopis ditandai
oleh adanya perubahan warna jaringan (lebih pucat), perubahan konsistensi
jaringan (lebih lunak); adanya batas yang jelas antara jaringan nekrosis dan
jaringan yang normal serta adanya perubahan sel yang meliputi sitoplasma dan sel
secara keseluruhan. Terjadinya kerusakan mikroanantomi pada semua perlakuan
diakibatkan karena kondisi media yang melebihi batas toleransi ikan. Sehingga
menyebabkan insang mengalami perubahan mikroanatomi sebagai usaha
22 

pertahanan insang terhadap tekanan dari lingkungan. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Hardi (2003) reaksi sel, jaringan atau organ terhadap agen perusak
dapat berbentuk adaptasi, penyesuaian terhadap rangsangan fisiologik atau
patogenik tertentu seperti adanya reaksi berupa hipertropi, hiperplasia, hiperemi
dan atropi.
Dari data pada jam ke-16 dapat disimpulkan bahwa perlakuan dengan
kepadatan 300 ekor/ℓ lebih bagus dibandingkan dengan perlakuan lainnya baik
dilihat dari segi SR maupun kualitas airnya. Perlakuan dengan kepadatan 700/ℓ
menunjukan hasil yang paling jelek apabila dilihat dari segi SR maupun kualitas
airnya. Tetapi, perlakuan dengan kepadatan 700 ekor/ ℓ menunjukan hasil yang
lebih besar diantara semua perlakuan jika dilihat dari segi keuntungan.

Jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya,
mengenai pengangkutan tertutup dengan menggunakan zeolit dan karbon aktif
penelitian ini jauh lebih baik, sebagai contoh hasil penelitian Susilawati (1991),
pemberian zeolit sebanyak 25 g/ℓ pada pengangkutan udang galah berukuran 2
g/ekor dengan kepadatan 38 ekor/ℓ selama 12 jam hanya mampu menghasilkan
SR sebesar 83,34%. Penelitian Supendi (2006), pemberian zeolit sebanyak 20 g/ℓ
pada pengangkutan ikan corydoras berukuran 2 g/ekor dengan kepadatan 20
ekor/ℓ selama 120 jam menghasilkan SR sebesar 80%. Penelitian Maria (2010),
pemberian zeolit 20 g/ℓ, C-aktif 10 g/ℓ pada pengangkutan ikan gurame
berukuran ±1,7 g/ekor dengan kepadatan 20 ekor/ℓ selama 72 jam menghasilkan
SR sebesar 91,67%. Penelitian Ghozali (2010), pemberian zeolit 20 g/ℓ, C-aktif
10 g/ℓ dan garam 4 g/ℓ pada pengangkutan ikan maanvis berukuran 2 g/ℓ dengan
kepadatan 20 ekor/ℓ selama 120 jam menghasilkan SR sebesar 89%.

23 

 

IV. KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Kepadatan optimum benih ikan nila BEST ukuran rata-rata 0,22 g/ekor
dalam pengangkutan benih ikan nila BEST dengan menggunakan penambahan
zeolit 20 g/ℓ, karbon aktif 10 g/ℓ adalah perlakuan kepadatan 300 ekor/ℓ. Namun
demikian apabila dilihat dari keuntungan kepadatan optimum adalah  perlakuan
700 ekor/ℓ oleh karena memiliki keuntungan tertinggi mencapai Rp 86.280
dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 79% selama pengangkutan 16 jam.

4.2 Saran
Disarankan untuk pengepakan sistem tertutup agar menggunakan benih
ikan nila BEST ukuran ±0,22 g/ekor dengan kepadatan 700 ekor/ℓ dan
penambahan zeolit 20 g/ℓ dan karbon aktif 10 g/ℓ selama 16 jam. Selain itu juga
disarankan penelitian lebih lanjut tentang penambahan lama waktu pengangkutan,
serta penggunaan zeolit, karbon aktif yang berbeda dengan kepadatan yang lebih
tinggi dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

 

PEMANFAATAN ZEOLIT DAN KARBON AKTIF DALAM
TRANSPORTASI TERTUTUP BENIH IKAN NILA BEST
Oreochromis sp DENGAN KEPADATAN TINGGI

ASTRI HANDAYANI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

PEMANFAATAN
ZEOLIT
DAN
KARBON
AKTIF
DALAM
TRANSPORTASI TERTUTUP BENIH IKAN NILA BEST Oreochromis sp
DENGAN KEPADATAN TINGGI

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah di sebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2012

Astri Handayani
C14070042

PEMANFAATAN ZEOLIT DAN KARBON AKTIF DALAM
TRANSPORTASI TERTUTUP BENIH IKAN NILA BEST Oreochromis sp
DENGAN KEPADATAN TINGGI

ASTRI HANDAYANI

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada
Mayor Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi

: Pemanfaatan Zeolit dan Karbon aktif dalam Transportasi Tertutup
Benih Ikan Nila BEST Oreochromis sp. dengan Kepadatan Tinggi

Nama

: Astri Handayani

NRP

: C14070042

Disetujui
Pembimbing 1

Pembimbing II

Dr. Ir. Eddy Supriyono, M.Sc
NIP. 19630212 198903 1 003

Ir. Harton Arfah, M.Si
NIP. 19661111199103 1 003

Mengetahui,
Kepala Departemen Budidaya Perairan

Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc
NIP. 19591222 198601 1 001

Tanggal Lulus:
 

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil
diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan
Juli s.d Agustus 2011 di Laboratorium Lingkungan, Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor dengan
judul “Pemanfaatan zeolit dan karbon aktif dalam transportasi tertutup benih ikan
nila BEST Oreochromis sp. dengan kepadatan tinggi”. Sholawat dan salam
semoga selalu dilimpahkan kepada Rosululloh SAW, para sahabat dan semua
yang mengikutinya hingga hari akhir.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua yang sangat
berjasa dalam merawat, membesarkan, mendidik, memberikan motivasi, do’a, dan
kasih sayang serta membiayai kehidupan dan pendidikan selama ini. Bapak Dr. Ir.
Eddy Supriyono, M.Sc dan Ir. Harton Arfah, MSi. selaku dosen pembimbing atas
arahan dan masukan yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini. Bapak Ir.
Dadang Shafruddin, MSi selaku dosen penguji dalam ujian skripsi. Penulis juga
menyampaikan penghargaan kepada Saudara Zamzam Jamil Mahbub, Spi dan M.
Faisol Riza Ghozali M.Si, yang telah memberikan arahan selama penelitian ini
berlangsung. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada Mia Kristiadewi
dan Topan Chandra Negara yang telah motivasi, serta memberikan saran selama
penyusunan penelitian ini. Dalam kesempatan ini, penulis juga mengucapkan
terimakasih setulus-tulusnya kepada Saudari Mira S. Ginting yang telah bersamasama menyusun dan mengkonsep usulan penelitian ini. Sahabat saya Linda, Dwi,
Kartika, Muntamah, Azis, Yunika, Wildan, Yue, Tyas, ka Fariq, mas Dama, kang
Abe, mba Retno, Anggih dan Humairani, serta teman-teman Lab Lingkungan
(Rully, icha, Opick, Reky, Ima, Nie, Pheni, Vida dan Feby), mahasiswa BDP
angkatan 43, 44, dan 46. Ungkapan terimaksih juga di sampaikan kepada
mahasiswa program pasca sarjana IPB atas segala bantuan dan kerjasama selama
penelitian ini berlangsung.

Bogor, Maret 2012
Astri Handayani

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Sukabumi, pada tanggal 29 April 1989 dari
pasangan Bapak H. Toni dan Ibu Hj. Titi Kartika. Penulis merupakan anak ketiga
dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah SMA N 1 Cisaat dan lulus
pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk IPB melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Melalui program mayor-minor tahun
2007 penulis memilih mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya,
Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Selama masa perkuliahan, penulis aktif pada organisasi kemahasiswaan
yaitu Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) periode 2008/2009. Penulis
juga aktif menjadi Koordinator Asisten Praktikum pada mata kuliah yaitu fisika
kimia perairan (2010/2011) dan asisten mata kuliah manajemen kualitas air
(2011/2012), Asisten Dosen pada program Diploma untuk mata kuliah teknik
penanganan lingkungan organisme akuatik (2010/2011) dan kualitas air dan tanah
(2011/2012). Penulis juga pernah mendapatkan pendanaan DIKTI pada Program
Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M).
Untuk meningkatkan pengetahuan di bidang perikanan budidaya, penulis
mengikuti kegiatan magang liburan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air
Tawar (2008) dan Praktek Lapang Akuaku

Dokumen yang terkait

Dokumen baru