TINJAUAN PUSTAKA STUDI PENGARUH TATA RUANG TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DI MALIOBORO MALL, GALERIA MALL, DAN AMBARRUKMO PLAZA, YOGYAKARTA.

(1)

9 BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tata Ruang

Tat a m erupakan seperangkat unsur yang berint eraksi, at au berhubungan, at au membent uk sat u kesat u an bersam a; sist em . Sedangkan ruang (t rim at ra) m erupakan rongga yang dibat asi perm ukaan bangunan. Tat a/ m enat a/ m engat ur ruang m eliput i t iga suku pokok yait u unsur (kegiat an), kualit as (kekhasan/ ciri sesuat u/ sifat ), penolok (st andar yang dipakai sebagai dasar unt uk menent ukan penilaian; krit eria). Unsur, kualit as, dan penolok dalam merancang bangunan dapat dikelompokkan dalam lima t at a atur yaitu fungsi, ruang, geomet ri, t aut an, dan pelingkup. (Whit e, 1986)

II.1.1 Fungsi

Fungsi adalah tingkat desain yang paling pokok. Fungsi desain yang benar berhubungan langsung dengan tujuan yang m enem pat i dan m enggunakan, dan dengan dim ensi sert a kem am puan fisiknya. (Ching, 2011)

II.1.1.1 Kegiatan, Kualitas Kegiatan, Hubungan Ruang

Keberhasilan fungsi bangunan bergant ung pada bagaimana kegiat an itu diat ur, yang pada gilirannya dit ent ukan oleh kualit as kegiat an yang dipakai sebagai dasar unt uk mengat ur. Kegiat an m em punyai kualit as yang dapat digunakan untuk m engat ur kegiat an t ersebut berdasarkan pert alian yang sat u dengan yang lain. Krit eria ut ama unt uk menilai kesuksesan desain yait u apabila desain t ersebut berfungsi. (Whit e, 1986)

Unt uk m em bant u memahami dan pada akhirnya memenuhi fungsi, m aka kegiat an diat ur berdasarkan persyarat an yang menem pat i at au m enggunakan, persyarat an akt ivit as yang berlangsung dan persyarat an furnishing. Hal ini karena, ruang dirancang sebagai t empat unt uk gerak, akt ivit as, dan ist irahat m anusia maka harus ada kesesuaian baik st at is (diam) at au dinamis (gerak) ant ara bent uk dan dimensi ruang dan dim ensi t ubuh m anusia.


(2)

10 Dim ensi t ubuh manusia baik st rukt ural at au fungsional akan bervariasi sesuai dengan sifat akt ivit as yang dilakukan dan sit uasi sosialnya, namun dimensi t ubuh manusia yang digunakan bersifat um um at au bersifat rat a-rat a unt uk m em enuhi kebutuhan spesifik yang m enggunakannya karena perub ahan fisik t ert ent u. Sifat umum yait u kondisi norm al dengan variasi jenis kelamin, usia, kelom pok ras, bahkan dari sat u individu dengan individu yang lain.

M elalui dimensi-dimensi ini, kegiat an diat ur pert aliannya dengan kegiat an lain. Kegiat an t ert ent u mungkin perlu berhubungan sangat dekat at au berbat asan satu sama lain, sement ara yang lainnya perlu agak jauh at au t erisolasi karena privasi. Kegiat an t ert ent u mem erlu kan persyarat an ruang yang spesifik, sedangkan yang lain lebih fleksib el at au dapat m enggunakan ruang yang sam a. (Ching, 1996)

II.1.1.2 Teori Proksimitas

Hall (1969) berpendapat , set iap hari manusia selalu mengalami pengalam an m eruang. Perasaan m eruang adalah sebuah perpaduan penggunaan panca indera yakni penglihat an, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Tidak hanya kelim a indera t ersebut , namun sebuah pengalam an m eruang t erbent uk dan t erpola dari sebuah budaya. Karena itu, orang yang berbeda budaya, ket ika m enafsirkan perilaku m asing-masing, dapat salah menafsirkan hubungan, aktivitas, dan emosi. Hal ini m enyebabkan ket erasin gan dalam pert emuan at au komunikasi—berint eraksi m enjadi m enyimpang.

St udi budaya dalam t eori proksimit as m em pelajari t ent ang seseorang dalam keadaan emosional yang berbeda selam a kegiat an yang berbeda, dalam hubungan yang berbeda, dan pada w akt u yang berbeda sert a kont eks yang berbeda pula unt uk m enget ahui persoalan kompleks, dan persoalan mult idimensi.

Tidak peduli bet apa sulitnya manusia mencoba, t idak mungkin baginya unt uk melepaskan diri dari budaya sendiri, karena t elah merambah ke akar sist em saraf d an menent ukan bagaimana ia m elihat dunia. Sebagian


(3)

11 besar budaya t ersem bunyi dan berada di luar kont rol, yang m em bent uk eksist ensi m anusia. Bahkan ket ika fragm en kecil dari budaya yang diangkat dalam kesadaran, manusia sulit unt uk berubah, bukan hanya karena orang begit u pribadi berpengalam an t et api karena orang t idak bisa bert indak at au berin t eraksi sama sekali dengan cara yang berart i kecuali melalui m edium budaya.

M anusia dan ekst ensinya m erupakan sist em yang saling t erkait . It u adalah kesalah an t erbesar unt uk bert indak seolah -olah manusia adalah sat u hal dan rumahnya at au kot anya, t eknologinya at au bahasa it u adalah sesuat u yang lain. Karena adanya ket erkait an ant ara manusia dan ekst ensi, hal it u m endorong perhatian lebih pada jenis ekst ensi yang d icipt akannya, tidak hanya untuk diri sendiri t et api unt uk orang lain. Hubungan manusia untuk ekst ensi it u hanyalah m erupakan kelanjut an dan bentuk khusus dari hubungan organism e secara um um untuk lingkungan manusia.

Ket erkait an manusia dan eksist ensin ya membut uhkan suat u w adah yang dapat m empersat ukan keduanya dengan m anusia lain. Oleh karena it u, w adah t ersebut harus m endukung hubungan m anusia yang sat u dengan m anusia yang lain, sehingga suasana yang t erjadi adalah suasana yang positif, t idak menim bulkan problem , namun menimbulkan ket ert arikan yang berbeda-beda dalam suat u w adah t ersebut .

M enurut Hall (1969), Infrakultur adalah ist ilah yang t elah dit erapkan unt uk perilaku pada t ingkat organisasi yang leb ih rendah yang m endasari budaya. It u adalah bagian dari sist em klasifikasi proksimit as dan menyirat kan sat u set khusus t ingkat hubungan dengan bagian lain dari sist em. Proksimit as adalah ist ilah yang digunakan unt uk mendefinisikan pengamat an saling t erkait dan t eori-t eori m anusia dalam penggunaan ruang. Indera, m erupakan dasar fisiologis sem ua m anusia, unt uk memberikan st rukt ur dan m akna. Dasar inilah yang dipakai unt uk membandingkan pola proksimit as. Sat u, infrakultural, adalah perilaku dan berakar di m asa lalu yang berhubungan dengan biologis m anusia. Yang kedua, prekultural, adalah fisiologis dan ada di masa sekarang. Ket iga, t ingkat mikrokult ural, adalah salah sat u yang paling


(4)

12 proksimit as. Proksimit as sebagai m anifest asi dari mikrokult ur m emiliki t iga aspek: fixed feat ure, semifixed-feat ure, dan informal space.

1. Fixed-feat ure Space

M erupakan salah sat u cara dasar pengorganisasian kegiat an individu dan kelompok. It u t ermasuk manifest asi mat erial, desain t ersembunyi diint ernalisasi unt uk mengat ur perilaku m anusia bergerak di bumi ini. Bangunan adalah salah sat u ekspresi pola fixed-feat ure, t api bangunan juga dikelom pokkan bersama dalam hal karakt erist ik sert a sebagai int ernal yang dibagi sesuai dengan desain kult ural yang dit ent ukan. M isalnya, t at a let ak desa dan kot a t idak sembarangan t et api m engikut i rencana yang berubah dengan w aktu dan budaya. Pengam at an pada hubungan fasad bahw a orang-orang hadir untuk dunia dan diri mereka bersembunyi di balik itu. Penggunaan ist ilah fasad itu sendiri m engungkapkan. Itu menandakan pengakuan t ingkat untuk dit embus dan pet unjuk pada fungsi yang dilakukan oleh fit ur-fit u r arsit ekt ur yang m em berikan layar belakang unt uk hari esok dari wakt u ke w akt u.

Arsit ekt ur dapat dan t idak m engambil alih beban bagi orang, juga dapat memberikan perlindungan di mana individu bisa menjadi dirinya sendiri. Hubungan ruang fixed-feat ure unt uk kepribadian sert a budaya adalah t empat lebih jelas.

2. Semifixed-feat ure Space

Rumah sakit adalah salah satu yang pert ama di m ana hubungan ant ara ruang semifixed-feat ure dan perilaku jelas dit unjukkan. Beberapa ruang sepert i ruang tunggu keret a api, cenderung m em buat orang t erpisah. Ini disebut ruang sosiofugal. Lain halnya sepert i st and di toko obat kuno at au m eja di cafe pinggir jalan, cenderung unt uk m em baw a orang bersama-sam a. Ini disebut ruang sosiopet al. Kesimpulannya yait u, ruang kondukt if hanya unt uk: (a). percakapan jenis t ert ent u ant ara (b). orang-orang dalam hubungan t ert ent u dan (c). di set t ing budaya yang sangat t erbat as.


(5)

13 Ruang sosio fugal t idak selalu buruk, dan ruang sosio pet al t idak selalu yang baik. Apa yang diinginkan adalah fleksibilit as dan keselarasan ant ara desain dan fungsi sehin gga ada berbagai ruang, dan orang-orang dapat t erlibat at au t idak, sebagai kesempat an dan permint aan minat. Penat aan semifixed-fit ur dapat memiliki efek yang mendalam t erhadap perilaku dan bahw a efek ini dapat diukur. Jika perlu dicat at, bahw a apa yang ada di ruang fixed-feat ure di suatu budaya bisa semifixed di t empat lain, begit u pula sebaliknya.

3. Informal Space

Kat egori pengalaman spasial, yang mungkin paling signifikan bagi individu karena m encakup jarak t erjadi dalam pert em uan dengan o rang lain. Jarak ini adalah di luar kesadaran. Disebut ruang inform al karena t idak t ert ulis, bukan karena t idak memiliki bentuk at au t idak penting, namun pola spasial inform al memiliki bat asan yang berbeda, dan bermakna dalam, tidak d apat diungkapkan, bahw a ruang informal m erupakan bagian yang penting dari budaya.

M enurut Hall (1969), burung dan mamalia t idak hanya memiliki w ilayah yang dit empat i dan membela t erhadap jenisnya sendiri t et api m em iliki serangkaian jarak seragam yang dipert ahankan sat u sam a lain. Hediger t elah m engklasifikasikannya sebagai jarak penerbangan, jarak krit is, jarak pribadi, dan jarak sosial. M anusia juga memiliki cara penanganan yang seragam jarak dari sesam anya. Dengan sedikit pengecualian, jarak t erbang dan jarak krit is t elah dielim inasi dari reaksi m anusia. Jarak pribadi dan jarak sosial, jelas m asih ada. Salah sat u sum ber umum informasi t ent ang jarak yang memisahkan dua orang adalah kenyarin gan dari suara.

Jarak diklasifikasikan menjadi 4, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik (masing-m asing erat hubungannya). Jarak t idak hanya m enunjukkan kontinuit as antara infrakultur dan budaya t etapi juga oleh keinginan untuk m emberikan pet unjuk m engenai jenis kegiat an dan hubungan yang t erkait dengan set iap jarak, sehingga


(6)

14 m enghubungkan pikiran masyarakat dari hubungan dan kegiat an. Pada t itik ini orang merasa t erhadap sat u sam a lain dan pada saat itu m erupakan fakt or penentu dalam jarak yang digunakan.

1. Jarak Int im (0-0,45 m)

Jarak int im akan kehadiran orang lain adalah jelas karena apa yang dit angkap sangat melangkah-naik ke sist em sensorik. Penglihat an (sering t erd ist orsi), pencium an, panas dari t ubuh orang lain, suara, bau, dan m erasakan nafas, sem ua t ergabung untuk m enangkap sinyal dari orang lain.

a. Jarak Int im -fase dekat (0-15 cm): perlindungan dan kasih sayang, pandangan t idak t ajam, suara tidak perlu.

b. Jarak Int im -fase jauh (15-45 cm): jarak sent u h, t idak layak dimuka umum, pandangan t erdist orsi, bau t ercium, suara rendah berbisik.

Gbr. II.1. Ilustrasi Grafik dari Zona Jarak Int im Sumber: Panero, 2003

2. Jarak Pribadi (0,45-1,2 m )

Jarak pribadi adalah ist ilah yang aw alnya digunakan untuk m enunjuk jarak konsist en yang memisahkan diri dengan orang lain. It u mungkin dianggap sebagai pelindung kelom pok untuk menjaga ant ara dirinya dan orang lain.

a. Jarak Pribadi-f ase dekat (0,45-0,75 m): mem pengaruhi perasaan, pandangan t erganggu, fokus lelah, t ekst ur jelas. b. Jarak Pribadi-f ase jauh (0,75-1,2 m): pembicaraan soal pribadi,


(7)

15 Gbr. II.2. Ilust rasi Grafik dari Zona Jarak Pribadi/ Personal

Sumber: Panero, 2003

3. Jarak Sosial (1,2-3,6 m )

Garis bat as ant ara fase jauh—jarak pribadi dan fase dekat t anda jarak sosial, dalam kat a-kat a sat u subjek, " bat as dominasi" det ail visual int im di w ajah t idak dirasakan, d an menyent uh orang at au berharap unt uk m enyent uh orang kecuali ada beberapa upaya khusus. Ini adalah t ingkat suara normal unt uk orang Am erika. Ada sedikit perubahan ant ara fase jauh dan dekat , dan percakapan dapat didengar pada jarak hingga 6 m .

a. Jarak Sosial-fase dekat (1,2-2,1 m)

Pada jarak 1,2 m , pergeseran pandangannya bolak-balik dari mat a ke mat a at au dari mat a ke mulut , det ail t ekst ur kulit dan rambut jelas dirasakan. Pada sudut pandang 60 derajat , kepala, bahu, dan bagian at as t erlihat pada jarak 1,2 m.

Bisnis im personal t erjadi pada jarak ini, dan dalam fase dekat ada ket erlibat an lebih dari pada fase jauh. orang yang bekerja bersama-sama cenderun g menggunakan jarak sosial dekat . it u juga jarak yang sangat umum unt uk orang-orang yang menghadiri sebuah pert emuan sosial biasa. Unt uk b erdiri dan melihat ke baw ah pada orang pada jarak ini memiliki efek dominan, sepert i ket ika seorang pria berbicara dengan sekret aris at au resepsionis.


(8)

16 Gbr. II.3. Ilustrasi Grafik dari Zona Jarak Sosial Fase Dekat

Sumber: Panero, 2003

b. Jarak Sosial- f ase jauh (2,1-3,6 m)

Ini adalah jarak di mana orang bergerak saat seseorang m engat akan, " berdiri jauh sehingga saya dapat melihat Anda" . Bisnis dan w acana sosial yang dilakukan di ujung jarak sosial memiliki karakt er yang lebih formal dibandingkan jika t erjadi di dalam fase d ekat . Pada t ahap jarak sosial-jauh, det ail t erbaik dari w ajah, menyedot sebagai kapiler di mat a, hilang. Sebaliknya, t ekst ur kulit , rambut, kondisi gigi, dan kondisi pakaian semuanya m udah t erlihat . Tidak ada panas at au bau dari t ubuh orang lain yang t erdet eksi pada jarak ini. Sosok penuh dengan banyak ruang di sekit arnya-t ercakup pada pandangan 60 derajat. M at a dan mulut orang lain t erlihat di daerah penglihatan paling t ajam, sehingga t idak perlu m engalihkan m at a untuk m engamat i seluruh wajah. Selam a percakapan adalah lebih pent ing unt uk menjaga kon t ak visual pada jarak jauh daripada pada jarak dekat .

Di fase ini, t ingkat suara t erasa lebih keras darip ada unt uk fase d ekat , dan biasanya dapat didengar dengan mudah di ruang sebelah jika pin t u t erbuka. M eninggikan suara at au bert eriak dapat m em iliki efek at au m engurangi jarak sosial unt uk jarak pribadi.

Jarak sosial (fase jauh) adalah bahw a hal itu dapat digunakan unt uk m enyekat orang sat u sama lain, jarak ini m em ungkin kan bagi mereka unt uk t erus bekerja di hadapan


(9)

17 orang lain t anpa muncul untuk menjadi kasar. Pengat uran perabot m erupakan solusi t epat unt uk ruang m inimum karena ada kemungkinan unt uk dua orang untuk t et ap t idak t erlibat jika itu keinginan kedua belah pihak.

Gbr. II.4. Ilustrasi Grafik dari Zona Jarak Sosial Fase Jauh Sumber: Panero, 2003

4. Jarak Publik ( > 3,6 m )

Beberapa perubahan sensorik pent ing t erjadi dalam t ransisi dari jarak pribadi dan sosial untuk m enjauhkan diri di luar lingkaran ket erlibatan.

a. Jarak Publik—fase dekat (3,6-7,5 m)

Pada jarak ini, seseorang dapat m engambil tindakan m engelak at au defensif jika t erancam. Ahli bahasa t elah mengamat i bahw a pilihan kat a-kat a dan kalimat kalimat sert a sebagai pergeseran gramat ikal at au sint aksis t erjadi pada jarak ini.

Gbr. II.5. Ilustrasi Grafik dari Zona Jarak Publik Fase Dekat Sumber: Panero, 2003


(10)

18 b. Jarak Publik—fase jauh ( > 7,5 m )

Jarak ini adalah jarak yang secara ot om at is dit et apkan tokoh masyarakat pent ing. Jarak masyarakat biasa t idak t erbat as pada t okoh masyarakat t api dapat digunakan oleh siapa saja pada kesempat an publik. Ada penyesuaian t ert ent u yang harus dilakukan, namun pada jarak ini adalah det ail dari ekspresi w ajah dan gerakan. Bukan hanya suara t et api segala sesuat u harus dibesar-besarkan at au diperkuat . Selain it u, t empo turun suara, kat a-kat a yang diucapkan lebih jelas, dan ada perubahan gaya.

Gbr. II.6. Ilustr asi Grafik dari Zona Jar ak Publik Fase Jauh Sumber: Panero, 2003

II.1.2 Ruang dan Geometri

Ruang (t rimat ra) m erupakan rongga yang dibat asi perm ukaan bangunan. Unsur-unsur geomet ri sep ert i t it ik, garis, bidang, dan volume dapat dirangkai unt uk m enegaskan dan m embent uk ruang. Dalam skala arsit ekt ur, unsur-unsur ini m enjadi kolom dan balok yang linier, sert a dinding, lant ai dan at ap yang berupa bidang-bidang dat ar. Dalam desain arsit ekt u r, unsur-unsur t ersebut dirangkai sehingga suat u bangunan m emperoleh bentuknya, m em bedakan ant ara bagian dalam dan luar, dan m em bent uk bat as-bat as ruang int eriornya. Rangkaian rupa dan bentuk dalam bangunan t ersebut harus m em enuhi krit eria fungsi dan est et ikannya. Kualit as dari krit eria est et ika yait u karakt erist ik visual perbendaharaan desain yang meliput i bent uk, w arna, t ekst ur, ukuran/ skala/ proporsi. (Ching, 1996; 2011)


(11)

19 II.1.2.1 Bentuk

Pengolahan bent uk dapat m empengaruhi kesan pada ruang. Bentuk dasar dari suat u objek dapat bersifat st at is at au bergerak, berat uran at au t idak berat uran, form al at au informal, geom et ris, m asif, berat , dan kuat t ransparan. Dari penampilannya, bentuk dapat dibagi m enjadi 3, yait u:

1. Bent uk yang t erat ur, sepert i bent uk geomet ris: kot ak, kubus, kerucut , pyramid, dan sebagainya.

Gbr . II.7. Rupa Bent uk Geomet ris Sum ber: Chi ng, 1996

2. Bentuk yang lengkung, umumnya bent uk-bentuk alam .

Gbr. II.8. Rupa Bent uk Alami Sum ber: Chi ng, 1996

3. Bent uk yang t idak t erat ur.

Pada bent uk t ersebut didapat sifat at au karakt er yang memberikan kesan dan kualit as t ersendiri, yait u:

a.

Bentuk persegi dan kubus, dapat digam barkan sebagai suat u bentuk yang sederhana, st atis st abil dan bersifat kuat karena profil sudutnya. Bentuk ini b aik dua dimensi m aupun t iga dimensi memberikan kesan st at is, st abil, form al, mengarah ke m onoton dan masif (solid).

b.

Bentuk segit iga dan piramida, bersifat st abil bila dit empat kan pada dasarnya, sedangkan bila dibalik maka sifat nya menjadi labil. Kedua bent uk ini bersifat kuat karena profil sudutnya.


(12)

20 Bent uk ini m em berikan kesan akt if, energik t ajam sert a m engarah.

c.

Bent uk lingkaran dan bola, bersifat st at is at aupun bergerak. Bila bentuk ini berdekat an dengan bentuk-bent uk m enyudut , m aka sif at nya akan t erlihat licin dan condong bergerak melingkar, t et api dilihat sendiri dari segala arah, bentuk ini akan bersifat memusat dan st abil.

Suat u komposisi dapat m erupakan gabungan dari ket iga bentu k diat as:

Gbr. II.9. Gabungan dari Ket iga Bent uk Dasar

Sum ber: htt p:/ / elearning.gunadar ma.ac.id/ docmodul/ t ata_r uang_luar_1/ bab3-elem en_ruang_l uar.pdf

II.1.2.2 Jenis Bahan

Yang dim aksud dengan jenis bahan yait u mat erial yang digunakan unt uk elem en pem bent uk ruang sepert i finishing dinding, langit -langit dan lant ai dan elemen pengisi ruang sepert i bahan furnit ure.

1. Dinding m erupakan elemen yang pent ing unt uk set iap bangunan karena berfungsi sebagai st ru kt u r pemikul lant ai di at as perm ukaan t anah. Dinding t erbuat dari beberapa lapisan mat erial, sedangkan finishing dinding menjadi bagian yang t ak t erpisahkan dari st rukt ur mat erial dinding itu sendiri. M at erial finishing dinding dapat berupa kayu, plywood, plest er finishing cat, papan gypsum, at au keramik. 2. Lant ai m elalui w arna, pola, dan t ekst ur dapat m em ainkan peranan

yang akt if dalam m enent ukan karakt er suat u ruang. Lant ai yang berw arna t erang akan meningkat kan kekuat an cahaya dalam suat u


(13)

21 ruang, sedangkan lant ai yang berw arna gelap akan menyerap sebagian besar cahaya yang jat uh di at as permukaannya. Tidak sepert i dinding dan langit -langit sebuah ruang, lant ai menyalurkan kualit as fisiknya t erhadap keamanan saat berjalan. M at erial lant ai dapat berup a kayu, keram ik, bat u, at au karpet .

3. Langit -langit dibentuk oleh bagian baw ah st rukt ur lant ai dan at ap. Pola langit -langit akan menarik perhat ian dan tampak lebih rendah dari sebenarnya sebagai akibat bobot visualnya. Pada bangunan komersial, sistem langit -langit gantung dengan modul digunakan unt uk mengint egrasikan dan menyediakan fleksibilit as dalam t at a let ak peralat an lampu dan lubang dist ribusi udara. M at erial langit -langit dapat berupa papan gypsum, kayu, logam, at au modular. (Ching, 1996)

II.1.2.3 W arna

Di dalam arsit ekt ur, w arna digunakan unt uk m enekankan at au m em perjelas karakt er suat u objek, member aksen pada bent uk dan bahannya. Dalam t eori warna dikenal adanya dua macam sist em yang umumnya digunakan dalam menyusun w arna, yait u:

1. Prang Colour Syst em 2. M unsell Colour Syst em

Teori Prang, secara psikologis w arna dapat dibedakan menjadi 3 (dimensi), yait u:

1. Hue : t em peram en m engenai panas/ dinginnya warna. 2. Value : m engenai gelap t erangnya w arna

3. Int ensit y : m engenai cerah redupnya w arna Prang juga m embagi adanya kelas w arna, yaitu:

1. Primary : m erupakan w arna ut ama/ pokok, yait u: merah, kuning, biru.

2. Binary (secondary) : w arna kedua yang t erjadi akibat perpaduan dua w arna primary. Warna t ersebut adalah:


(14)

22 b. M erah + kuning = orange

c. Kuning + biru = hijau

3. Warna antara (int ermediary), yaitu w arna campuran dari w arna primary dan binary, misal m erah dicampur hijau m enjadi m erah hijau.

4. Tert iary (w arna ket iga), merupakan w arna-warna campuran dari dua w arna binary. M isal violet / ungu dicampur dengan hijau, dan sebagainya.

5. Quant ernary, ialah w arna campuran dari dua w arna t ert iary. M isal hijau violet dicampur dengan orange hijau; orange violet dicampur dengan orange hijau; hijau orange dicam pur dengan violet orange. Sedangkan m enurut M unsell, satu w arna dit ent ukan 3 komponen, yaitu:

1. Hue : menyat akan kualit as w arna at au int ensit as panjang gelombang.

2. Value : kesan kem udahan w arna

3. Chroma : p enyimpangan t erhadap w arna putih at au kejenuhan w arna.

Selain itu, dikenal adanya percam puran ant ara w arna m urni dengan w arna kut ub, yang disebut dengan:

1. Tint : w arna m urni dicampur dengan w arna put ih sehingga t erjadi w arna muda.

2. Shade : w arna murni dicampur dengan w arna hit am sehingga t erjadi w arna t ua.

3. Tone : w arna murni dicampur dengan abu-abu

(percam puran w arna put ih dan w arna hit am) sehingga t erjadi w arna t anggung.

Warna t int, shade dan t one disebut w arna past el.

Komposisi w arna at au susunan w arna dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang umum dikenal adalah yang b erpokok p ada 3 w arna pokok, yaitu m erah, kuning, dan biru, t et api ada juga yang berdasarkan 4 w arna pokok, yaitu m erah, kuning, biru dan hijau. Selain itu, berdasarkan


(15)

23 pokok-pokok w arna t ersebut komponen w arna juga dapat bersifat sebagai berikut :

1. Keselarasan yang berhubungan, art inya w arna-warna harmonis yang diambil dari w arna-w arna yang berhubungan, yaitu:

a. M onochromat ic (sat u w arna), yait u bilam ana digunakan hanya sat u w arna sebagai pokok kom posisi yang m enghasilkan nada-nada w arna, bayangan, dan variasi dari w arna-w arna t ersebut . b. Analogus (berurut ), bilamana dua w arna yang let aknya di dalam

lingkaran w arna yang berurut dan sama sifat nya (m isalnya sam a-sama bersifat hangat ).

2. Keselarasan yang t idak berhubungan, art inya w arna-w arna t idak selaras/ harm on is, dan w arna-w arna t ersebut adalah yang sederajat , ant ara lain:

a. Komplement er, yait u jika digunakan sebagai w arna pokok adalah dua w arna yang berhadapan posisisnya dengan w arna primary yang sifat nya berlaw anan. Bilam ana kedua warna t ersebut berhadapan langsung disebut Direct Complement ary, sedangkan bila let aknya m em bent uk sudut, maka disebut Split Complement ary.

Gbr. II.10. Warna Kontempor er

Sum ber: htt p:/ / elearning.gunadar ma.ac.id/ docmodul/ t ata_r uang_luar_1/ bab3-elem en_ruang_l uar.pdf

3. Polychromatic, yait u komposisi yang m enggunakan lebih banyak w arna sehingga m engandung kesan ramai.

Selain memperhat ikan sifat dari komposisi/ susnan w arna yang harus diperhat ikan, yait u:


(16)

24 a. Harm on i : suat u keselarasan w arna yang monochromat ic yang

dicipt akan di sekit ar hue.

b. Kont ras : mempunyai susunan w arna dari variasi value dan int ensit y t ert ent u.

c. Aksen : w arna akan merupakan variasi sususnan warna yang ada.

Warna dalam kait anya dengan desain adalah salah sat u elem en yan g dapat mengekspresikan suat u objek disamping bahan, bentuk, t ekst ur dan garis. Warna dapat menimbulkan kesan yang diinginkan oleh si pencipt a dan m em pu nyai efek psikologis.

II.1.2.4 Tekstur

Hubungan ant ara jarak dan t ekst ur adalah hal yang pent ing diperhat ikan. Tekst ur dapat menent ukan t ampak suat u m at erial dan bangunan bila dilihat dari jarak t ert ent u sebagai penent u kualit as desain.

Tekst ur m erupakan t it ik-t it ik kasar yang t idak t erat ur dari suat u perm ukaan. Titik-t it ik ini berbeda dalam ukuran, w arna, bentuk at au sifat, dan karakt ernya, misalnya ukuran besar kecil, w arna t erang gelap, bent u k bulat , persegi, atu t idak berat uran sama sekali, dan lain-lain.

Tekst ur m enurut bent uknya dapat dibedakan m enjadi:

1. Tekst ur halus, permukaannya dibedakan oleh elem en-elem en yang halus at au oleh w arna.

2. Tekst ur Kasar, permukaannya t erdiri dari elemen-elem en yan g berbeda, baik corak, bentuk, m aupun warna.

Gbr. II.11. Tekstur M empunyai Karakt eristik yang Dapat Dirasakan Sum ber: Chi ng, 1996


(17)

25 Tekst ur sangat erat hubungannya dengan penglihat an at au jarak pand ang. Pada jarak t ert ent u, t ekst ur dari bahan it u sendiri t idak berperan lagi, sehingga bahan t ersebut akan t erlihat polos. Oleh sebab it u, unt uk bidang yang luas dapat dibedakan:

1. Tekst ur prim er, yait u t ekst ur yang t erdapat pada bahan yang dapat dilihat dari jarak dekat .

2. Tekst ur sekunder, yait u t ekst ur yang dibuat dalam skala t ert ent u unt uk m em berikan kesan visu al yang proporsional dari jarak jauh.

Gbr. II.12. Jarak Pandang Tekst ur Sum ber: Chi ng, 1996

II.1.2.5 Ukuran/ Skala/ Proporsi

Skala dalam arsit ekt ur menunjukkan perbandingan ant ara elem en bangunan atau ruang dengan suatu elem en t ert entu dengan ukurannya bagi m anusia.

Skala dalam arsit ekt ur adalah kualit as yang m enghubungkan bangunan at au ruang dengan kem am puan m anusia dalam m em aham i bangunan at au ruang t ersebut . Ada dua macam skala, yaitu:

1. Skala M anusia

Perbandingan ukuran elemen bangunan at au ruang dengan dim ensi t ubuh m anusia.

2. Skala Genet ik

Perbandingan ukuran elem en bangunan at au ruang t erhadap elemen lain yang berhubungan dengannya at au di sekitarnya.


(18)

26 Gbr. II.13. Skala pada Elem en Ruang Luar

Sum ber: htt p:/ / elearning.gunadar ma.ac.id/ docmodul/ t ata_r uang_luar_1/ bab3-elem en_ruang_l uar.pdf

Pada ruang-ruang yang masih t erjangkau oleh manusia, skala dapat dikait kan langsung dengan ukuran m anusia, t etapi pada ruang-ruang yang m elebihi jangkauan m anusia penentuan skala harus didasarkan pengam at an visual dengan m em bandingkannya dengan elem en-elem en yang berhubungan dengan m anusia.

II.1.3 Tautan (Context)

Taut an merupakan seluruh sit uasi lat ar belakang at au lingkungan yang relevan dengan suatu kejadian at au hasil kerja. Taut an berpengaruh langsung pada bentuk bangunan yaitu mengait kan pengat uran unsur bangunan pada keadaan di t empat bangunan akan didirikan. (Whit e, 1986) Arsit ekt ur harus t anggap t erhadap kont eks fisik dari t apaknya dan perm asalahan ruang di sekit arnya. Sebuah bangunan dapat dikait kan dengan tapaknya dalam beberapa cara yait u bangunan dapat m enyat u dengan rona lingkungan sekit ar at au berusaha m endominasi lingkungan sekit ar. (Ching, 1996)

II.1.4 Pelingkup

Pelingkup berkenaan dengan pencipt aan pelindung sekeliling ruang bangunan. Ket ika sebuah elemen dit empat kan ke dalam bidangnya, hubungan visual mulai muncul. Ket ika elem en lain diperkenalkan ke dalam bidang itu, hubungan m ulai t erbent uk ant ara ruang dan elem en, dan ant ara berbagai elem en it u sendiri. Elem en pem bent uk ruang m erupakan elem en-elem en arsit ekt u r yang


(19)

27 m endefinisikan pembat as ruang fisik. Elem en pem bentuk ruang ini akan berguna jika m am pu m em baca hubungan benda dengan alasnya, ant ara bentuk elem en yang m endefinisikan ruang dan yang didefinisikan oleh ruang. Hubungan benda dan alasnya yang t erjadi ini yaitu sebagai elemen pengisi ruang. (Ching, 2011) Sebagai suat u kesat uan fungsi, elem en pem bent uk dan pengisi ruang akan m encipt akan kualit as kegiat an apabila elem en pelengkap ruang sepert i sist em elekt rikal dan m ekanikal t urut diperhat ikan.

II.1.4.1 Elemen Pembentuk Ruang

M enurut Ching (1996), ruang selalu t erbentuk oleh 3 elem en pem bentuk ruang, yaitu:

Gbr . II.14. Elemen Pem bent uk Ruang Sum ber: Chi ng, 1996

1. Bidang alas at au lant ai (t he base plane)

Sebagai bidang alas, besar pengaruhnya t erhadap pem bentukan ruang, karena bidang ini erat hubungannya dengan fungsi ruangnya. Sebidang lant ai yang mempunyai sifat bahan yang berbeda dari perm ukaan lant ai sekit arnya akan membent uk kesan ruang t ersendiri. Pengaruh perbedaan bahan t ersebut dipergunakan unt uk m em bedakan fungsi-fungsi yang berlainan.

Selain perbedaan bahan lant ai, perbedaan t inggi pada suat u bidang lantai akan mem bent uk kesan dan fungsi ruang yang baru


(20)

28 t anpa m engganggu hubungan visual ant ara ruang-ruang itu. Pada ruang yang luas, perbedaan tinggi lant ai pada sebagian bidangnya dapat m engurangi rasa m onot on dan mencipt akan kesan ruang yang lebih manusiawi.

2. Bidang pem batas atau dinding (the vert ical space divider)

Sebagai elem en pembat as ruang, dinding dapat dibedakan m enjadi 3 m acam, yaitu:

a. Dinding m asif, dapat berupa permukaan t anah yang miring at au vert ikal (dinding alami), at au dapat pula berupa pasangan bat u bat a, bet on, dan sebagainya. Sifat dinding ini kurang kuat dalam pem bentukan ruang.

b. Dinding t ransparan, t erdiri dari bidang t ransparan, sepert i pagar bamboo, logam, kayu yang dit at a tidak rapat , pohon-pohon, dan sem ak-sem ak yang renggang. Sifat dinding ini kurang kuat dalam pem bentukan ruang.

c. Dinding sem u, m erupakan dinding yang dibentuk oleh perasaan pengam at set elah mengam at i suat u objek at au keadaan. Dinding ini dapat t erbent uk oleh garis-garis bat as, misalnya garis bat as air sungai, air laut , dan cakraw ala.

3. Bidang langit -langit at au at ap (t he overhead plane)

Langit -langit memainkan peran visual pent ing dalam pembentukan ruang dan dimensi vert ikalnya. Langit -langit adalah elem en yang menjadi naungan dan m enyediakan perlindungan fisik maupun psikologis untuk semua yang ada di bawahnya. Langit -langit yang t inggi cenderun g m enjadikan ruang t erasa t erbuka, segar, dan luas. Langit -langit yang rendah m em pert egas kualit as naungannya dan cenderung m encipt akan suasana int im dan ramah.


(21)

29 Gbr. II.15. Ket inggian dan Skala Langit -langit

Sum ber: Chi ng, 1996

II.1.4.2 Elemen Pengisi Ruang

M enurut Ching (1996), elemen pengisi ruang m enjadi perant ara ant ara arsit ekt ur dan manusianya. M enaw arkan t ransisi bent uk dan skala ant ara ruang dan m asing-masing individu. Bentuk, garis, w arna, t ekst ur dan skala m asing-masing benda m aupun pengat uran spat ialn ya, memainkan peranan pent ing dalam m em bangun sifat ekspresi dari suatu ruang. Perabot yang m enjadi elemen pengisi ruang, berdasarkan kualit as desainnya, dapat m enam bah at au m em bat asi kenyamanan fisik secara nyat a.

Cara perabot dit at a akan mempengaruhi bagaimana ruang t ersebut digunakan dan difahami. Terkadang, keefekt ifan suat u elem en pengisi ruang dapat t ergant ung dari penggunaan yang benar, karena kenyamanan adalah sesuat u yang tidak t entu, yang dibat asi oleh sifat t ugas dan aktivit as yang sedang dilaksanakan, lamanya kegiat an berlangsung, dan fakt or lain yang m em pengaruhi sepert i kualitas pencahayaan dan kondisi pikiran penghuni saat itu.

II.1.4.3 Elemen Pelengkap Ruang

Dalam perencanaan, elem en-elem en pelengkap ruang memerlukan pendekat an secara opt imal. (ht tp:/ / eprint s.undip.ac.id/ 18474/ ) Elem en pelengkap ruang ini yait u ut ilit as bangunan, merupakan perlengkapan dalam


(22)

30 bangunan gedung yang digunakan unt uk menunjang t ercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehat an, keselamat an, komunikasi dan m obilit as dalam bangunan t ersebut. Ut ilit as bangunan meliput i Inst alasi List rik dan Penangkal Pet ir, Inst alasi Tat a Udara (AC dan vent ilasi), Instalasi Plumbing, Inst alasi Lift dan Escalat or sebagai penghubung ruang/ penghubung berbagai lant ai di dalam bangunan, Inst alasi Kom unikasi, dan Inst alsi Prot eksi Kebakaran, sert a elem en pelengkap lainnya. (Keput usan M ent eri Pekerjaan Umum No.02/ KPTS/ 1985)

II.2 Pedoman Perancangan dan Perancangan Pusat Belanja (Shopping Center)

Sebelum m enent ukan pedom an perancangan dan perancangan pusat belanja, esensi pusat belanja itu harus dipahami. Pusat belanja saat ini identik dengan gedung bert ingkat dengan “ cap” mall at au plaza at au square sebagai t empat yang m enawarkan gaya hidup m odern dan bukan sekedar t em pat berbelanja bahan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan). Ist ilah mall, plaza, at au square seb enarnya t idak sesuai unt uk sebuah bangunan pusat belanja yang t ert utup karena ist ilah t ersebut merupakan t erminologi untuk jenis ruang publik. Plaza (It alia) dan Square (Inggris) yait u ruang t erbuka yang bent uk fisiknya adalah lapangan, dan untuk square just ru dilengkapi dengan t aman-t am an dan t um buhan hidup. Sedangkan M all berasal dari t ipologi ruang pedest rian di sepanjang jalan yang diisi oleh akt ivit as jual beli w arga kot a dengan bent uk fisik jalan yang m em anjang. Jadi, mall at au plaza at au square saat ini m enaw arkan konsep baru ruang publik yang m engubah kodrat ruang publik dari luar ruang (outdoor) m enjadi ruang dalam (indoor). (Halim, 2008)

Pusat belanja yang t ert utup ini kemudian m em iliki kebutuhan desain yang lebih kompleks dengan memadukan t oko dan fasilit as t erkait (ret ailing mix) yang direncanakan sebagai kesat uan unt uk kualit as belanja yang m aksim al bagi konsumen. Ret ail dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (Gerald, 1991 dalam Japarianto, 2011)

a. The General St ore

General St ore biasanya t erlet ak pada daerah urban dan sub urban. Produk-produk barang yang dit awarkan pada General St ore sangat bervariasi.


(23)

31 b. The Specialt y St ore

Specialit y St ore m erupakan st ore yang m em iliki sebuah ket erbat asan dalam variasi produ k yang ditawarkan. Biasanya produk barang yang dit aw arkan adalah produk barang dalam sat u jenis yang sam a.

c. The Flea M arket St ore

M erupakan sebuah t em pat perorangan dalam m enjalankan bisnis ret ail. Unt uk keperluan set iap det ail t oko dit entukan sendiri oleh pemilik, sehingga pem ilik m emiliki kebebasan unt uk mendesain t empat at au t okonya.

d. Bout iques

But ik merupakan t empat yang lebih banyak perem puan menghabiskan w akt unya untuk membeli segala kep erluan dalam hal fashion.

e. Depart ment St ore

M erupakan ret ailer yang m enawarkan variasi barang dalam jumlah besar, baik it u hard goods maupun soft goods. Ret ailer ini biasanya menitikberat kan pada tingkat pelayanan konsumen, volume dari penjualan, pekerja dalam jumlah yang besar.

f. Chain St ore

Chain St ore berpusat pada pem ilik dan di dalam pengat uran organisasinya memilki dua at au lebih unit yang sama, yang set iap unitnya memiliki klasifikasi barang yang sama. Kat egori barang meliput i obat -obat an, sepat u, perlengkapan rumah t angga, rest o ran, jewelery, bahan makanan, dan lainnya.

g. Supermarket

M erupakan self service st ore, yang t iap konsum ennya m em ilih dan mem beli sesuat u dengan m engandalkan diri sendiri. Barang-barang yang dit aw arkan beragam, m ulai dari obat, buku, keperluan rumah t angga, bahan m akanan, m ainan anak, dan lain sebagainya.

h. The Direct M arket ing Ret ailer

M erupakan sebuah st ore yang cara penaw aran barangnya m enggunakan m ediat or kat alog. Cara t ransaksi pada direct market ing ret ailer adalah melalui t elepon, surat , dan media yang lain.


(24)

32 Term inologi perencanaan ruang digunakan unt uk m erujuk pada t ugas spesifi k perencanaan dan perancangan ruang-ruang untuk fasilit as kom ersial. Art inya, perencana ruang m embuat program kebut uhan klien, m em pelajari akt ivit as pem akai, dan menganalisis kebut uhan spasialn ya. (Ching, 1996)


(25)

33 Tabel II.1. Pemrograman Tata Ruang

Persyaratan yang menempati atau menggunakan

Persyaratan Aktivitas Persyaratan Furnishing Analisis Ruang Persyaratan Dimensi Ciri yang diinginkan Hubungan yang diinginkan

a. Ident ifikasi pengguna (individu, kelompok pengguna, karakt erist ik pengguna, kelompok usia)

a. Ident ifikasi aktivitas primer dan sekunder (nama dan fungsi akt ivit as primer, nama dan fungsi akt ivit as sekunder at au akt ivit as lain yang berhubungan)

a. Tent ukan persyarat an furnishing dan perlengkapan unt uk masing-masing akt ivit as (jumlah, t ipe dan gaya; t empat duduk, meja, permukaan t empat kerja, unit

penyimpanan dan display, aksesoris)

a. Dokument asikan ruang yang sudah ada at au yang diajukan (ukur dan gambar denah, pot ongan, dan t ampak int erior, fot o ruang yang ada)

Tent ukan dimensi ruang dan pengelompokan furnit ur e yang diperlukan (masing-masing pengelompokn furnit ur e berdasarkan fungsinya, akses ke dan gerakan di dalam dan ant ara area akt ifit as, jumlah orang yang dilayani, jarak social dan int eraksi yang memadai)

Tent ukan ciri yang sesuai dengan kont eks keruangan dan keinginan at au kebut uhan klien at au pengguna (perasaan, mood, at au at mosfer; cit ra dan gaya; t ingkat penut up ker uangan; kenyamanan dan keamanan; kualit as cahaya; fokus dan orient asi ruang; warna dan rona; t ekst ur; lingkungan akust ik; lingkungan panas; fleksibilit as dan prakiraan lama penggunaan)

a. Hubungan yang diinginkan ant ara area-area akt ivit as yang berhubungan, area akt ivit as dan ruang unt uk pergerakan, missal kamar dan ruang yang ber bat asan, kamar dan bagian luar.

b. Ident ifikasi kebut uhan (spesifikasikan kebut uhan dan kemampuan individu, kebut uhan dan

kemampuan kelompok)

b. Analisis dat a akt ivit as (akt if at au pasif, gaduh at au t enang, publik/ kelompok kecil/ pribadi, sesuaikan akt ivit as jika ruang digunakan unt uk lebih dari sat u akt ivit as, seberapa sering ruang digunakan, wakt u akt ivit as berlangsung)

b. Ident ifikasi

perlengkapan khusus lainnya yang diperlukan (pencahayaan,

kelist rikan, mekanik, pemipaan, dat a dan komunikasi)

b. Analisis ruang (orient asi dan kondisi t apak (sit e) ruang; bent uk, skala, dan proporsi ruang; lokasi pint u, t it ik akses, dan jalur sirkulasi yang diberikan; jendela dan cahaya, pemandangan, dan vent ilasi yang disediakan; material dinding, lant ai dan langit -langit ; det ail arsit ekt ur yang

b. Pengat uran zone akt ivit as yang

diinginkan (pengat uran berbagai akt ivit as ke dalam sejumlah kelompok at au perangkat menurut kesesuaian dan kegunaan)


(26)

34 signifikan; lokasi

pemipaan, kelist rikan, dan sambungan sert a jalur mekanik; modifikasi arsit ekt ur yang memungkinkan; elemen yang

mem ungkinkan digunakan kembali, t ermasuk cat penut up dan furnishing) c. Tet apkan persyarat an

t erit ori (ruang pribadi, privasi, int eraksi, akses, keamanan)

c. Tent ukan persyarat an unt uk privasi dan perlingkupan, akses, pedoman aksesibilitas American wit h Disabilit ies Act (ADA), fleksibilit as, cahaya, kualit as akust ik, keamanan,

pemeliharaan dan daya t ahan.

c. Tet apkan persyarat an kualit as furnishing (kenyamanan, keamanan, variasi, fleksibilit as, gaya, daya t ahan, pemeliharaan)

d. Tent ukan pref erensi (objek yang disenangi, warna favorit, t empat special, minat khusus)

d. Kembangkan pengat uran yang mungkin (pengelompokan fungsional, pengat uran spesifik, pengat uran fleksibel)

e. Telit i pert imbangan lingkungan


(27)

35 Set elah pem rograman, perencana ruang merancang elemen pem bent u k ruang, elem en pengisi ruang, dan elem en pelengkap ruang sesuai kebut uhan yang menempat i atau menggunakan. Pusat belanja sendiri memiliki masing-masing elem en t ersebut sesuai st andar perencanaan dan perancangan bangunan kom ersial/ publik.

Tabel II.2. Kebut uhan Desai n berupa Fakt or Fisik Tat a Ruang di Pusat Belanja

Elemen Ruang No. Faktor Fisik

Tata Ruang

Keterangan

Elemen Pembentuk 1. Sirkulasi M er upakan akses/ pencapaian yang

mengarah langsung ke suat u t em pat masuk melalui sebuah jalan. Sirkulasi mem bent uk wilayah-w ilayah tertent u di luar atau di dalam bangunan.

2. Parkir basement

(parkir dalam)

Tem pat ber hentinya kendaraan pengunjung yang dapat dit inggalkan sem entara, sem bari pengunjung menikmati fasilit as yang ada di pusat belanja yang dikunjungi. Tempat parkir harus mement ingkan keselamat an dan keamanan, selain it u t em pat parkir har us menyediakan papan penanda arah, serta peralat an t erkait . (Childs, 1999)

3. Koridor/ ruang jalan Ber pengaruh pada st rukt ur lingkungan di

dalam bangunan, sebagai r uang jalan unt uk m encapai suat u titik tujuan di dalam bangunan, at au sebagai t em pat int eraksi.

4. Layout Toko M er upakan tatanan/ pengelompokan t em pat dalam hal ini toko pada sebuah bangunan pusat belanja.

5. Atrium M er upakan ruang dalam skala t ert ent u dan m emiliki var iasi fungsi yang t er hubung ke koridor/ ruang jalan. (Bednar, 1986)

6. Toilet Fasilit as untuk ruang publik yang digunakan unt uk cuci kakus/ buang air.


(28)

36

8. Fasilitas food court Fasilit as t empat makan/ minum yang

disediakan untuk m engakomodasi r asa lapar set elah belanja at au dapat juga karena keinginan (kesengajaan) pengunjung.

9. Fasilitas ATM center Fasilit as perbankan yang disediakan pada

r uang publik seperti pusat belanja, unt uk mendukung kelancaran t ransaksi.

Elemen Pengisi 10. Furniture di koridor/

street furniture.

Display, perletakan to ng sampah, t em pat duduk, tanaman plast ik di dalam pot, dsb. (lebih dit ekankan pada kondisi fisik)

11. Area duduk di koridor/

sitting space.

Ruang duduk pada koridor yang berfungsi unt uk singgah sem entara/ mengurangi kelelahan ketika berjalan di pusat belanja. Area duduk ini m erupakan penent u kualitas pada sebuah ruang publik.

Elemen pelengkap 12. Ramp M em berikan t ransisi yang halus ant ar

t ingkat lant ai bangunan. Ramp biasanya digunakan unt uk m engakomodasi perubahan tingkat sepanjang r ut e yang dapat diakses bagi pengunj ung yang memiliki ket erbat asan fisik. M isal: pengunjung yang menggunakan kursi r oda. (Ching, 2011)

13. Lift Transport asi vertikal pada bangunan t inggi dengan kapasit as 6-8 orang atau lebi h per kabin. Pada kabin t erdapat pint u otomatis yang dilengkapi sensor. Lift dapat diakses bagi pengunj ung yang memiliki ket erbat asan fisik. (Ching, 2011) 14. Escalator Transport asi vert ikal yang dikendalikan

oleh list rik unt uk menghubungkan tiap-t iap lantiap-tai (um um nya pada bangunan maksimal 6 lant ai). Escalat or berger ak dengan kecepat an konst an sehingga t idak ada w akt u t unggu. (Ching, 2011)


(29)

37

15. Tangga darurat Tangga keselamat an yang digunakan

ketika t erjadi kebakaran.

16. Papan penanda ruang/

signage.

Penanda langsung/ t ak langsung yang bersif at inf ormatif, biasanya sebagai pengarah bagi pengunjung.

II.3 Kepuasan Konsumen (Customer Sa tisfaction)

St udi M cDougall dan Levesque (2000) menyat akan bahw a kepuasan m erupakan kunci keberhasilan karena kepuasan m erupakan t ahap akhir m encapai lo yalit as kon sumen. Penyedia pusat belanja harus m emperhat ikan keseluruhan fakt or fisik t at a ruang yang dit aw arkan dari sudut pandang konsum en. Kepuasan konsumen yang d ibent uk dari sudut pandang konsumen it u sendiri mampu m em berikan nilai lebih t erhadap kualit as yang dit aw arkan. Lebih lanjut , Robledo (2001) m enegaskan, aspek yang paling pent ing dalam manajemen st rat egik pem asaran yait u pengukuran kepuasan konsumen. Art inya, yang t idak dapat m em berikan kepuasan yang diharapkan oleh konsumen akan segera dit inggalkan. (Donovan et al., 2004)

II.3.1 Kualitas Tata Ruang

Tat a ruang di pusat belanja dapat dinilai apabila memiliki kualit as. M enurut Bent ley (1985), pendekat an untuk mencapai kualit as t at a ruang yaitu:

1. Permeability: alt ernat if akses m enuju ke suat u t em pat .

2. Variet y: jenis kegiat an, bent uk dan jenis ruang di dalam bangunan. 3. Legibilit y: kejelasan t empat dan alt ernatif pilihan yang dit aw arkan. 4. Robust ness: ruang yang dapat mewadahi berbagai jenis kegiat an.

5. Visual appropriat eness: penanda langsung/ t ak langsung yang dapat memperjelas fungsi ruang.

6. Richness: pengalaman sensori indera m anusia.


(30)

38 II.3.2 Nilai Konsumen (Customer Value)

Nilai konsumen m erupakan sebuah rasio dari m anfaat yang didapat oleh konsumen dengan pengorbanan. Ket ika nilai yang dirasakan dari rasio yang dipersepsikan oleh konsumen at as pengorbanan t idak sesuai dengan harapan konsumen, maka akan m uncul sikap t idak puas. Sebaliknya apabila sam a at au m elebihi harapan konsumen, m aka konsumen akan m erasa puas/ sangat puas. (Budiman, 2003; Yang dan Pet erson, 2004)

Pada suatu studi, Wang et .al., (2004) mem bagi dimensi nilai konsum en menjadi nilai fungsional, nilai ekonomi, nilai emosional dan nilai pengorbanan. Apabila keempat komponen t ersebut dapat berjalan secara t erint egrasi dengan baik, m aka semakin t inggi nilai kon sumen akan berdampak t erhadap peningkat an kepuasan. Lebih lanjut kepuasan konsum en mencipt akan fungsi yang t erin t ergrasi dan memberi sesuat u yang baik melalui nilai konsumen. Fungsi t ersebut berdasarkan pada karangka kerja yang dibangun berlandaskan hubungan dan int eraksi yang t ercipt a dari nilai konsumen, yaitu pemahaman at as apa yang menjadi keinginan dan harapan konsumen sehingga t ercapai st rat egi yang dapat diandalkan unt uk dapat m em enangkan persaingan.


(1)

STUDI PENGARUH TATA RUANG TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN

DI MALIOBORO MALL, GALERIA MALL DAN AMBARRUKMO PLAZA, YOGYAKARTA 20 14

33

Tabel II.1. Pemrograman Tata Ruang

Persyaratan yang menempati atau menggunakan

Persyaratan Aktivitas Persyaratan Furnishing Analisis Ruang Persyaratan Dimensi Ciri yang diinginkan Hubungan yang diinginkan

a. Ident ifikasi pengguna (individu, kelompok pengguna, karakt erist ik pengguna, kelompok usia)

a. Ident ifikasi aktivitas primer dan sekunder (nama dan fungsi akt ivit as primer, nama dan fungsi akt ivit as sekunder at au akt ivit as lain yang berhubungan)

a. Tent ukan persyarat an furnishing dan perlengkapan unt uk masing-masing akt ivit as (jumlah, t ipe dan gaya; t empat duduk, meja, permukaan t empat kerja, unit

penyimpanan dan display, aksesoris)

a. Dokument asikan ruang yang sudah ada at au yang diajukan (ukur dan gambar denah, pot ongan, dan t ampak int erior, fot o ruang yang ada)

Tent ukan dimensi ruang dan pengelompokan furnit ur e yang diperlukan (masing-masing pengelompokn furnit ur e berdasarkan fungsinya, akses ke dan gerakan di dalam dan ant ara area akt ifit as, jumlah orang yang dilayani, jarak social dan int eraksi yang memadai)

Tent ukan ciri yang sesuai dengan kont eks keruangan dan keinginan at au kebut uhan klien at au pengguna (perasaan, mood, at au at mosfer; cit ra dan gaya; t ingkat penut up ker uangan; kenyamanan dan keamanan; kualit as cahaya; fokus dan orient asi ruang; warna dan rona; t ekst ur; lingkungan akust ik; lingkungan panas; fleksibilit as dan prakiraan lama penggunaan)

a. Hubungan yang diinginkan ant ara area-area akt ivit as yang berhubungan, area akt ivit as dan ruang unt uk pergerakan, missal kamar dan ruang yang ber bat asan, kamar dan bagian luar.

b. Ident ifikasi kebut uhan (spesifikasikan kebut uhan dan kemampuan individu, kebut uhan dan

kemampuan kelompok)

b. Analisis dat a akt ivit as (akt if at au pasif, gaduh at au t enang, publik/ kelompok kecil/ pribadi, sesuaikan akt ivit as jika ruang digunakan unt uk lebih dari sat u akt ivit as, seberapa sering ruang digunakan, wakt u akt ivit as berlangsung)

b. Ident ifikasi

perlengkapan khusus lainnya yang diperlukan (pencahayaan,

kelist rikan, mekanik, pemipaan, dat a dan komunikasi)

b. Analisis ruang (orient asi dan kondisi t apak (sit e) ruang; bent uk, skala, dan proporsi ruang; lokasi pint u, t it ik akses, dan jalur sirkulasi yang diberikan; jendela dan cahaya, pemandangan, dan vent ilasi yang disediakan; material dinding, lant ai dan langit -langit ; det ail arsit ekt ur yang

b. Pengat uran zone akt ivit as yang

diinginkan (pengat uran berbagai akt ivit as ke dalam sejumlah kelompok at au perangkat menurut kesesuaian dan kegunaan)


(2)

34

signifikan; lokasi

pemipaan, kelist rikan, dan sambungan sert a jalur mekanik; modifikasi arsit ekt ur yang memungkinkan; elemen yang

mem ungkinkan digunakan kembali, t ermasuk cat penut up dan furnishing) c. Tet apkan persyarat an

t erit ori (ruang pribadi, privasi, int eraksi, akses, keamanan)

c. Tent ukan persyarat an unt uk privasi dan perlingkupan, akses, pedoman aksesibilitas American wit h Disabilit ies Act (ADA), fleksibilit as, cahaya, kualit as akust ik, keamanan,

pemeliharaan dan daya t ahan.

c. Tet apkan persyarat an kualit as furnishing (kenyamanan, keamanan, variasi, fleksibilit as, gaya, daya t ahan, pemeliharaan)

d. Tent ukan pref erensi (objek yang disenangi, warna favorit, t empat special, minat khusus)

d. Kembangkan pengat uran yang mungkin (pengelompokan fungsional, pengat uran spesifik, pengat uran fleksibel)

e. Telit i pert imbangan lingkungan


(3)

STUDI PENGARUH TA TA RUA NG TERHA DA P TING KA T KEPUA SAN KONSUMEN

DI MA LIOBORO MA LL, GA LERIA MALL DAN A MBARRUKMO PLAZA, YOGYAKARTA 20 14

35

Set elah pem rograman, perencana ruang merancang elemen pem bent u k

ruang, elem en pengisi ruang, dan elem en pelengkap ruang sesuai kebut uhan yang

menempat i atau menggunakan. Pusat belanja sendiri memiliki masing-masing

elem en t ersebut sesuai st andar perencanaan dan perancangan bangunan kom ersial/

publik.

Tabel II.2. Kebut uhan Desai n berupa Fakt or Fisik Tat a Ruang di Pusat Belanja Elemen Ruang No. Faktor Fisik

Tata Ruang

Keterangan

Elemen Pembentuk 1. Sirkulasi M er upakan akses/ pencapaian yang mengarah langsung ke suat u t em pat masuk melalui sebuah jalan. Sirkulasi mem bent uk wilayah-w ilayah tertent u di luar atau di dalam bangunan.

2. Parkir basement (parkir dalam)

Tem pat ber hentinya kendaraan pengunjung yang dapat dit inggalkan sem entara, sem bari pengunjung menikmati fasilit as yang ada di pusat belanja yang dikunjungi. Tempat parkir harus mement ingkan keselamat an dan keamanan, selain it u t em pat parkir har us menyediakan papan penanda arah, serta peralat an t erkait . (Childs, 1999)

3. Koridor/ ruang jalan Ber pengaruh pada st rukt ur lingkungan di dalam bangunan, sebagai r uang jalan unt uk m encapai suat u titik tujuan di dalam bangunan, at au sebagai t em pat int eraksi.

4. Layout Toko M er upakan tatanan/ pengelompokan t em pat dalam hal ini toko pada sebuah bangunan pusat belanja.

5. Atrium M er upakan ruang dalam skala t ert ent u dan m emiliki var iasi fungsi yang t er hubung ke koridor/ ruang jalan. (Bednar, 1986)

6. Toilet Fasilit as untuk ruang publik yang digunakan unt uk cuci kakus/ buang air. 7. M ushola Fasilit as tempat ibadah


(4)

36 8. Fasilitas food court Fasilit as t empat makan/ minum yang disediakan untuk m engakomodasi r asa lapar set elah belanja at au dapat juga karena keinginan (kesengajaan) pengunjung.

9. Fasilitas ATM center Fasilit as perbankan yang disediakan pada r uang publik seperti pusat belanja, unt uk mendukung kelancaran t ransaksi. Elemen Pengisi 10. Furniture di koridor/

street furniture.

Display, perletakan to ng sampah, t em pat duduk, tanaman plast ik di dalam pot, dsb. (lebih dit ekankan pada kondisi fisik) 11. Area duduk di koridor/

sitting space.

Ruang duduk pada koridor yang berfungsi unt uk singgah sem entara/ mengurangi kelelahan ketika berjalan di pusat belanja. Area duduk ini m erupakan penent u kualitas pada sebuah ruang publik.

Elemen pelengkap 12. Ramp M em berikan t ransisi yang halus ant ar t ingkat lant ai bangunan. Ramp biasanya digunakan unt uk m engakomodasi perubahan tingkat sepanjang r ut e yang dapat diakses bagi pengunj ung yang memiliki ket erbat asan fisik. M isal: pengunjung yang menggunakan kursi r oda. (Ching, 2011)

13. Lift Transport asi vertikal pada bangunan t inggi dengan kapasit as 6-8 orang atau lebi h per kabin. Pada kabin t erdapat pint u otomatis yang dilengkapi sensor. Lift dapat diakses bagi pengunj ung yang memiliki ket erbat asan fisik. (Ching, 2011) 14. Escalator Transport asi vert ikal yang dikendalikan

oleh list rik unt uk menghubungkan tiap-t iap lantiap-tai (um um nya pada bangunan maksimal 6 lant ai). Escalat or berger ak dengan kecepat an konst an sehingga t idak ada w akt u t unggu. (Ching, 2011)


(5)

STUDI PENGARUH TA TA RUA NG TERHA DA P TING KA T KEPUA SAN KONSUMEN

DI MA LIOBORO MA LL, GA LERIA MALL DAN A MBARRUKMO PLAZA, YOGYAKARTA 20 14

37 15. Tangga darurat Tangga keselamat an yang digunakan

ketika t erjadi kebakaran. 16. Papan penanda ruang/

signage.

Penanda langsung/ t ak langsung yang bersif at inf ormatif, biasanya sebagai pengarah bagi pengunjung.

II.3

Kepuasan

Konsumen

(

Customer Sa tisfaction

)

St udi M cDougall dan Levesque (2000) menyat akan bahw a kepuasan

m erupakan kunci keberhasilan karena kepuasan m erupakan t ahap akhir m encapai

lo yalit as kon sumen. Penyedia pusat belanja harus m emperhat ikan keseluruhan

fakt or fisik t at a ruang yang dit aw arkan dari sudut pandang konsum en. Kepuasan

konsumen yang d ibent uk dari sudut pandang konsumen it u sendiri mampu

m em berikan nilai lebih t erhadap kualit as yang dit aw arkan. Lebih lanjut , Robledo

(2001) m enegaskan, aspek yang paling pent ing dalam manajemen st rat egik

pem asaran yait u pengukuran kepuasan konsumen. Art inya, yang t idak dapat

m em berikan kepuasan yang diharapkan oleh konsumen akan segera dit inggalkan.

(Donovan et al., 2004)

II.3.1 Kualitas Tata Ruang

Tat a ruang di pusat belanja dapat dinilai apabila memiliki kualit as. M enurut

Bent ley (1985), pendekat an untuk mencapai kualit as t at a ruang yaitu:

1.

Permeability

: alt ernat if akses m enuju ke suat u t em pat .

2.

Variet y

: jenis kegiat an, bent uk dan jenis ruang di dalam bangunan.

3.

Legibilit y

: kejelasan t empat dan alt ernatif pilihan yang dit aw arkan.

4.

Robust ness

: ruang yang dapat mewadahi berbagai jenis kegiat an.

5.

Visual appropriat eness

: penanda langsung/ t ak langsung yang dapat

memperjelas fungsi ruang.

6.

Richness

: pengalaman sensori indera m anusia.


(6)

38

II.3.2 Nilai Konsumen (

Customer Value

)

Nilai konsumen m erupakan sebuah rasio dari m anfaat yang didapat oleh

konsumen dengan pengorbanan. Ket ika nilai yang dirasakan dari rasio yang

dipersepsikan oleh konsumen at as pengorbanan t idak sesuai dengan harapan

konsumen, maka akan m uncul sikap t idak puas. Sebaliknya apabila sam a at au

m elebihi harapan konsumen, m aka konsumen akan m erasa puas/ sangat puas.

(Budiman, 2003; Yang dan Pet erson, 2004)

Pada suatu studi, Wang et .al., (2004) mem bagi dimensi nilai konsum en

menjadi nilai fungsional, nilai ekonomi, nilai emosional dan nilai pengorbanan.

Apabila keempat komponen t ersebut dapat berjalan secara t erint egrasi dengan baik,

m aka semakin t inggi nilai kon sumen akan berdampak t erhadap peningkat an

kepuasan. Lebih lanjut kepuasan konsum en mencipt akan fungsi yang t erin t ergrasi

dan memberi sesuat u yang baik melalui nilai konsumen. Fungsi t ersebut berdasarkan

pada karangka kerja yang dibangun berlandaskan hubungan dan int eraksi yang

t ercipt a dari nilai konsumen, yaitu pemahaman at as apa yang menjadi keinginan dan

harapan konsumen sehingga t ercapai st rat egi yang dapat diandalkan unt uk dapat

m em enangkan persaingan.