Pengaruh Popularitas Model Iklan Terhadap Minat Mengkonsumsi Mie Instan Pada Masyarakat (Studi Di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang)

(1)

PENGARUH POPULARITAS MODEL IKLAN TERHADAP MINAT MENGKONSUMSI MIE INSTAN PADA MASYARAKAT

(Studi di Diperumahan Bukit Cemara Tidar)

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana ilmu komunikasi (S.Ikom) strata-1

Jurusan Ilmu Komunikasi PEMBIMBING:

1. Nasrullah M.Si 2. Drs. Farid Rusman M.Si

Oleh:

Netty Tigas Rosie Intria NIM:05220178

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


(2)

Nama : Netty Tigas Rosie Intria NIM : 05220178

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Politik dan Ilmu Sosial

Judul Skripsi : PENGARUH POPULARITAS MODEL IKLAN TERHADAP MINAT MENGKONSUMSI MIE INSTAN PADA MASYARAKAT (Study di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang)

Telah dipertahankan di hadapan dewan Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang

Dan dinyatakan LULUS Pada Hari : Selasa Tanggal : 01 Februari 2011

Tempat : Ruang 611 Mengesahkan Dekan FISIP UMM

Dr. Wahyudi, M.Si

Dewan Penguji

1. Frida Kusumastuti, Dra. M.Si

2. Sulismadi, Drs. M.Si

3. Nasrullah, M.Si


(3)

Assalmu’alaikum Wr. Wb.

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis mampu menyeleseikan skripsi yang berjudul : ‘’ PENGARUH POPULARITAS MODEL IKLAN TERHADAP MINAT MENGKONSUMSI MIE INSTAN PADA MASYARAKAT (Studi di Perumahan Bukit Cemara Tidar, Kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun Kabupaten Malang)’’.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan guna memenuhi salaah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana SI sesuai Jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu dalam penulisan ini terutama kepada :

1. Nasrulla, M.Si selaku pembimbing I yang telah memberikan ilmu, pengarahan kepada penulis dan membantu untuk penyeleseian skripsi ini dengan baik.

2. Drs. Farid Rusman, M.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan begitu banyak bimbingan, memberikan pemahaman dan ilmu yang bermanfaat untuk penulis dalam menyeleseikan skripsi ini dengan baik. 3. Dra. Frida Kusumastuti, M.Si selaku penguji I yang telah memberikan

ilmu serta bantuanya untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

4. Drs. Sulismadi, M.Si selaku penguji II yang telah memberikan ilmu serta bantuanya untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik 5. Masyarakat perumahan bukit cemara tidar , dan seluruh jajaranya,

terimakasih atas keluanganya mengizinkan penulis mengadakan penelitian di perumahan bukit cemara tidar.

6. Dosen- dosen ilmu komunikasi universitas muhammadiyah malang yang memberikan banyak ilmu kepada penulis.

7. Staff jurusan ilmu komunikasi yang telah memberikn bantuan hingga terseleseikannya skripsi ini dengan baik.


(4)

9. Orang tuaku, kedua kakakku serta keluarga besarku yang selalu memberi suport pada penulis untuk tidak pantang menyerah sehinggapenulis mampu menyeleseikan skripsi ini dengan baik.

Penulis menyadari bahwa hasil karya sederhana ini, kiranya masih jauh dari sempurna sebagai karya ilmiah, oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari pembaca semua.

Pada akhirya,penulis berharap skripsi ini nantinya bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca semua pada umumnya, sebagai referensi yang berkaitan dengan topik penelitian ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Malang, 14 februari 2011 Penulis


(5)

I. Pengantar

Sehubungan dengan dilakukannya penelitian tentang pengaruh popularitas model iklan mie instan terhadap minat mengkonsumsi produk (studi di Perumahan Bukit Cemara Tidar Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang), maka diharapkan kesedian masyarakat Perumahan Bukit Cemara Tidar untuk mengisi kuisioner ini. Jawaban anda akan sangat bermanfaat bagi peneliti, untuk itu kerjasamanya saya ucapkan banyak trima kasih.

II. Petunjuk

1. Isilah identitas anda terlebih dahulu

2. Sebelum mengisi, bacalah dahulu pertanyaan-pertanyaan yang ada dengan teliti 3. Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang anda pilih

III. Identitas Iklan Televisi

1. Pernahkah anda menonton iklan Sarimi Soto Koya versi ST 12 di televisi?

a. Pernah b. tidak pernah

2. Pernahkah anda menonton iklan Supermi versi Project Pop di televisi?

a. Pernah b. tidak pernah

3. Pernahkah anda menonton iklan Indomie versi Judika di televisi?

a. Pernah b. tidak pernah

IV. Pertanyaan

A. Popularitas Model Iklan(Variabel X) 1. Tahukah anda tentang group band ST 12?

a. Sangat tahu c. kurang tahu e. sangat tdk tahu b. Tahu d. tidak tahu

2. Tahukah anda tentang group band Project Pop?

a. sangat tahu c. kurang tahu e. sangat tidak tahu b. tahu d. tidak tahu

3. Tahukah anda tentang sosok Judika?

a. sangat tahu c. kurang tahu e. sangat tidak tahu b. tahu d. tidak tahu

4. Apakah anda perhatian pada group band ST 12?

a. sangat perhatian c. biasa e. sangat tidak perhatian b. perhatian d. tidak perhatian

5. Apakah anda perhatian pada group band Project Pop?

a. sangat perhatian c. biasa e. sangat tidak perhatian b. perhatian d. tidak perhatian

6. Apakah anda perhatian pada Judika?

a. sangat perhatian c. biasa e. sangat tidak perhatian b. perhatian d. tidak perhatian

7. Menurut anda, seberapa menarik group band ST 12?

a. sangat menarik c. biasa e. sangat tidak menarik b. menarik d. tidak menarik


(6)

a. sangat menarik c. biasa e. sangat tidak menarik b. menarik d. tidak menarik

10.Apakah anda suka pada group band ST 12?

a. sangat suka c. biasa e. sangat tidak suka b. suka d. tidak suka

11.Apakah anda suka pada group band Project Pop?

a. sangat suka c. biasa e. sangat tidak suka b. suka d. tidak suka

12. Apakah anda suka pada Judika?

a. sangat suka c. biasa e. sangat tidak suka b. suka d. tidak suka

13.Apakah anda mengidolakan group band ST 12?

a. sangat mengidolakan c. biasa e. sangat tdk mengidolakan b. mengidolakan d. tidak mengidolakan

14.Apakah anda mengidolakan group band Project Pop?

a. sangat mengidolakan c. biasa e. sangat tidak mengidolakan b. mengidolakan d. tidak mengidolakan

15.Apakah anda mengidolakan sosok seorang Judika?

a. sangat mengidolakan c. biasa e. sangat tidak mengidolakan b. mengidolakan d. tidak mengidolakan

16.Apakah anda senang pada prestasi group band ST 12?

a. sangat senang c. biasa e. sangat tidak senang b. senang d. tidak senang

17.Apakah anda senang pada prestasi group band Project Pop?

a. sangat senang c. biasa e. sangat tidak senang b. senang d. tidak senang

18.Apakah anda senang pada prestasi Judika?

a. sangat senang c. biasa e. sangat tidak senang b. senang d. tidak senang

19.Menurut anda, seberapa terkenal group band ST 12?

a. sangat terkenal c. biasa e. sangat tidak terkenal b. terkenal d. tidak terkenal

20.Menurut anda, seberapa terkenal group band Project Pop?

a. sangat terkenal c. biasa e. sangat tidak terkenal b. terkenal d. tidak terkenal

21.Menurut anda, seberapa terkenal sosok seorang Judika?

a. sangat terkenal c. biasa e. sangat tidak terkenal b. terkenal d. tidak terkenal

B. Minat Mengkonsumsi (Variabel Y)

22. Menurut anda, seberapa tertarik anda terhadap mie instan merk Sarimi Soto Koya tersebut?

a. sangat tertarik c. biasa e. sangat tidak tertarik b. tertarik d. tidak tertarik


(7)

a. sangat tertarik c. biasa e. sangat tidak tertarik b. tertarik d. tidak tertarik

25. Menurut anda, seberapa keinginan anda untuk mengkonsumsi mie instan merk Sarimi soto Koya tersebut?

a. sangat ingin c. biasa e. sangat tidak ingin b. ingin d. tidak ingin

26. Menurut anda, seberapa keinginan anda untuk mengkonsumsi mie instan merk Supermi tersebut?

a. sangat ingin c. biasa e. sangat tidak ingin b. ingin d. tidak ingin

27. Menurut anda, seberapa keinginan anda untuk mengkonsumsi mie instan merk Indomie tersebut?

a. sangat ingin c. biasa e. sangat tidak ingin b. ingin d. tidak ingin

28. Menurut anda, apakah anda yakin ingin mengkonsumsi karena mie instan merk Sarimi Soto Koya pasti lezat dan berkualitas tinggi?

a. sangat yakin c. biasa e. sangat tidak yakin b. yakin d. tidak yakin

29. Menurut anda, apakah anda yakin ingin mengkonsumsi karena mie instan merk Supermi pasti lezat dan berkualitas tinggi ?

a. sangat yakin c. biasa e. sangat tidak yakin b. yakin d. tidak yakin

30. Menurut anda, apakah anda yakin ingin mengkonsumsi karena mie instan merk Indomie lezat dan berkualitas tinggi ?

a. sangat yakin c. biasa e. sangat tidak yakin b. yakin d. tidak yakin


(8)

As’ad, M. 1997.

Psikologi Industri

, Liberty, Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2006.

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik

. Edisi Revisi

VI.

PT. Cetakan Ketigabelas. Rineka Cipta. Jakarta.

Bandura. A. 1997.

Social Learning Theory

, Ohio Columbus, Prentica-Hall.

Burhan Bungin, 2001.

Metodologi Penelitian Sosial, Format-Format Kuantitatif dan

Kualitatif

. Surabaya : Airlangga University Press.

Cangara, Hafied. 2000.

Pengantar Ilmu Komunikasi

. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Effendy, Onong Uchjana. 2003.

Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek.

PT. Remaja

Rosdakarya. Bandung.

Kartini. Kartono, 1999.

Psikologi Anak; Psikologi Perkembangan

, Mandar Maju.

Khasali, Rhenald, 2000.

Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia

.

Cetakan Kedua. PT. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.

Kotler, Philip, Gary Armstrong, 2006.,

Manajemen Pemasaran

. Cetakan Kesebelas. Jilid

2. PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.

Kriyantono, Rachmat. 2006.

Teknik Praktis Riset Komunikasi

, Predana Media Group.

Jakarta.

Lester D. Crow and Alice Crow, 1999. Psikologi Pendidikan, Buku I (Terjemahan Z.

Kasijan) SBY, Bina Ilmu.

Lwin, May and Jim Aithison, 2005. Clueless in Marketing Communications. Alih

Bahasa Paul A. Rajoe. PT. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta.

Kuswandi, Wawan. 1996.

Komunikasi Massa sebuah Analisis Isi Media Televisi

. PT.

Rineka Cipta. Jakarta.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000.

Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial

.

Cetakan Pertama. Penerbit Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.


(9)

Sumartono. 2002.

Terperangkap Dalam Iklan

. Alfabeta. Bandung.

Sunarto, 2004.

Prinsip-Prinsip Pemasaran

. UST Press & AMUS. Yogykarta.

Sutisna, 2002.

Perilaku konsumen dan Komunikasi Pemasaran

. PT. Remaja Rosdakarya.

Bandung.

Swastha, Basu, 2005.

Manajemen Pemasaran Modern

. Cetakan Keduabelas. Liberty.

Yogyakarta.


(10)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pemasaran produk baik berupa barang maupun jasa dewasa ini sangat berkembang pesat. Produsen dari berbagai produk berusaha dengan keras merebut simpati dan menciptakan minat calon konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan yang salah satunya melalui periklanan. Usaha yang dilakukan para produsen tersebut sangatlah wajar, karena era pemasaran modern sekarang ini konsumen tidak hanya berperan sebagai obyek saja, melainkan telah menjadi subyek yang dapat menentukan pilihannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Usaha yang dilakukan produsen tersebut disebabkan karena semakin kompetitifnya persaingan dengan produsen produk sejenis lainnya. Persaingan antar produsen terjadi di hampir setiap lini bisnis termasuk pada bisnis makanan yaitu produk mie instan.

Dalam lingkungan persaingan tersebut setiap perusahaan berusaha melakukan kegiatan komunikasi pemasaran (Marketing Communication) yang ditujukan kepada konsumen. Komunikasi pemasaran (Marketing Communication) adalah istilah yang menggambarkan bagaimana organisasi perusahaan atau pemerintahan mengkomunikasikan pesan-pesan kepada khalayak sasaran yaitu konsumen pontensial yang menerima pesan-pesan pemasaran (Lwin dan Aithison, 2005:5). Komunikasi pemasaran yang dilakukan perusahaan kepada konsumen adalah promosi (promotion).


(11)

Beberapa alat komunikasi yang sering digunakan dalam proses komunikasi pemasaran yaitu periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan pribadi (personal selling), pemasaran langsung (direct marketing) dan hubungan masyarakat (public relation). Tujuan dari kegiatan promosi ini tidak lain adalah menarik konsumen, memenangkan persaingan yang ada, memperluas pangsa pasar dan memiliki positive growth of market share (pertumbuhan yang baik dalam pasar).

Salah satu cara perusahaan untuk mempromosikan produknya adalah melalui iklan. Periklanan merupakan salah satu alat yang paling umum digunakan perusahaan untuk mengarahkan komunikasi persuasive pada masyarakat. Fungsi dari periklanan (advertising) itu sendiri adalah memberikan informasi kepada khalayak tentang seluk-beluk suatu produk untuk menbujuk dan untuk mengingatkan dari informasi yang telah diterima masyarakat. Tanpa iklan para produsen dan distributor akan kesulitan dalam menjual produknya.

Di sisi lain, bagi konsumen periklanan merupakan sarana untuk memperoleh informasi yang memadai mengenai produk-produk barang dan jasa yang tersedia di pasar. Di samping hal tersebut, iklan juga memiliki arti pertempuran untuk memperebutkan persepsi di dalam benak calon konsumen. Jadi, periklanan dipandang sebagai media yang efektif digunakan suatu perusahaan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap konsumen dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk dan


(12)

merek. Tujuan ini pada akhirnya bermuara pada upaya mempengaruhi calon konsumen untuk membeli.

Iklan disampaikan melalui beberapa media. Media tersebut antara lain media cetak, media elektronik (radio dan televisi), serta media luar ruang. Dari media-media tersebut, media yang dianggap perusahaan yang paling efektif dalam menyampaikan suatu pesan komunikasi pemasaran adalah media televisi. Hal tersebut dikarenakan televisi memiliki kelebihan yaitu mampu menarik pemirsa dengan melibatkan indera penglihatan dan pendengaran, mampu menjangkau khalayak sasaran yang sangat luas yang tidak dapat dijangkau media lainnya, dan memiliki pengaruh yang kuat untuk mempengaruhi persepsi khalayak sasaran (Khasali, 2000:121).

Televisi sebagai alat komunikasi massa kreatif selalu ditempatkan sebagai alat untuk memberikan informasi menumbuhkan motivasi kepada masyarakat luas. Pemanfaatan iklan televisi secara efektif dan efisien sebagai sarana informasi perusahaan tidak terbatas dan berhenti hanya pada sebatas perluasan jangkauan khalayak sasaran yang ingin dituju dan dicapainya. Akan tetapi, bagaimana iklan televisi dimanfaatkan untuk memenuhi misi kehendak perusahaan yang menggunakannya, serta selaras dengan kondisi dan kebutuhan khalayak sasaranya.

Meskipun berlangsung selama 15-30 detik, kehadiran iklan televisi telah menjadi komoditas masyarakat bahkan telah menjadi kekuatan baru yang mampu mempengaruhi khalayak untuk suka rela melakukan apa yang diinginkan perusahaan. Selain memberikan informasi akan sebuah produk,


(13)

iklan televisi juga mempertunjukkan model peraga (public figure) yang mempunyai popularitas (ketenaran) dalam mendemostrasikan produk perusahaan. Hal ini bertujuan untuk merangsang atau menjadi stimulus bagi pemirsanya, sehingga mempengaruhi persepsi dan kecenderungan khalayak untuk menirukan tingkah laku model peraga tersebut dalam menggunakan suatu produk.

Fokus penelitian ini adalah meneliti tentang popularitas model iklan terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang. Alasan pemilihan focus penelitian ini dikarenakan produk mie instan tidak asing lagi di mata masyarakat, bahkan sudah menjadi makanan pengganti sehari-hari yang dikonsumsi jika tidak ada nasi atau makanan pokok lainnya khususnya pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang. Selain itu, sisi lain yang menarik dan perlu diteliti dalam hal ini adalah keterlibatan tokoh atau sumber iklan mie instan tersebut yang notebene oleh sebagian besar masyarakat memiliki kredibilitas yang kuat yaitu dengan menampilkan sosok yang sangat familier yang dapat memberikan daya tarik tersendiri di mata konsumen, sehingga diindikasikan berpengaruh terhadap minat masyarakat dalam mengkonsumsi mie instan. Adapun sumber iklan dalam penelitian ini antara lain: group band ST 12 yang membintangi iklan Sarimi Soto Koya, iklan Supermi (Gobang, Goso, Gokar) dibintangi group band Project Pop dan pada iklan Indomie yang dibintangi mantan juwara Idola Indonesia/Judika. Untuk lokasi penelitian dipilih di


(14)

Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang karena segmentasi masyarakatnya yang heterogen.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian: “Pengaruh Popularitas Model Iklan terhadap Minat Mengkonsumsi Mie Instan Pada Masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahannya dalam penelitian ini yaitu:

1. Adakah pengaruh popularitas model iklan di televisi terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang?

2. Jika ada, maka seberapa besarkah pengaruh popularitas model iklan di televisi terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang?

C. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui adakah pengaruh popularitas model iklan di televisi terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang?


(15)

2. Untuk mengetahui seberapa besarnya pengaruh popularitas model iklan di televisi terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang?

D. Signifikasi Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang komunikasi periklanan, terutama bidang audio visual yaitu peran media televisi sebagai salah satu sarana kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi.

b. Sebagai bahan kajian terhadap teori-teori komunikasi periklanan terkait dengan pengaruh popularitas model iklan terhadap minat atau ketertarikan khalayak dalam menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk yang dibintangi oleh model iklan.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai kontribusi dan referensi bagi para pengiklan di media massa khususnya media televisi untuk melihat seberapa besar pengaruh popularitas model iklan terhadap minat khalayak pada suatu produk yang dibintangi oleh model iklan.

b. Dapat memberikan gambaran tentang pengaruh popularitas model iklan terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang.


(16)

E. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan konsep-konsep yang mendasari penelitian, dimana konsep-konsep atau teori-teori tersebut terkait dengan permasalahan penalitian. Adapun konsep-konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: E.1. Konsep Komunikasi Massa (Mass Communication)

Komunikasi massa yaitu sejenis komunikasi yang tersebar, heterogen dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima serentak dan sesaat (Rakhmat, 2005:177). Sedangkan menurut Severin dan James (dalam Effendy, 2003:20), pengertian komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni, dan sebagian ilmu. Komunikasi massa adalah keterampilan dalam pengertian bahwa komunikasi massa meliputi teknik-teknik fundamental tertentu yang dapat dipelajari seperti memfokuskan kamera televisi, mengoperasikan tape recorder, atau mencatat ketika berwawancara.

Menurut Devito (dalam Effendy, 2003:19), pengertian komunikasi massa, Pertama; komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa atau kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini bukan berarti khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca media cetak ataupun semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Selain itu, Devito (dalam Effendy, 2003:21) juga mengungkapkan bahwa pengertian komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar audio dan visual.


(17)

Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya: televisi, radio, majalah, film, buku, dan pita.

Sedangkan menurut Wiryanto (2000:1), komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi.

Dari pengertian komunikasi massa diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi massa adalah proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui sebuah media, baik itu media cetak maupn media elektronik.

E.2. Ciri-Ciri Komunikasi Massa

Menurut Effendy (2003:20), ciri-ciri komunikasi massa antara lain: a. Komunikasi massa berlangsung satu arah

Tidak terdapatnya arus balik dari komunikan kepada komunikator. Dengan kata lain, copy writer sebagai komunikator tidak mengetahui tanggapan para audiens terhadap pesan atau berita yang disiarkannya itu. Respon yang diterima tidak bisa langsung diamati tapi memerlukan waktu, sehingga komunikator tidak bisa langsung mengindentifikasi apakah pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh komunikan. Dalam komunikasi satu arah ini memungkinkan terjadinya salah pengertian (misunderstanding).


(18)

b. Komunikator pada komunikasi massa melembaga

Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni institusi atau organisasi. Oleh karena itu, komunikatornya melembaga. Hal ini, berbeda dengan komunikator lainnya. Komunikator pada komunikasi massa, misalnya copy writer dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga/perusahaan, sejalan dengan kebijaksanaan kedua belah pihak, ia tidak punya kebebasan individual. Konsekuensi yang diterima oleh komunikator massa, peranannya dalam proses komunikasi ditunjang oleh orang lain. Kemunculannya dalam media komunikasi tidak sendirian, tetapi bersama orang lain. Berdasarkan kenyataan diatas, komunikator pada komunikasi massa dinamakan komunikator kolektif karena tersebarnya pesan komunikasi massa merupakan kerja sama sejumlah kerabat kerja. Karena sifatnya kolektif, maka komunikator yang terdiri atas sejumlah kerabat kerja itu mutlak mempunyai ketrampilan yang tinggi dalam bidangnya masing-masing. Dengan.demikian, komunikasi sekunder sebagai kelanjutan dari komunikasi primer itu akan berjalan sempurna.

c. Pesan disampaikan bersifat umum

Pesan yang disampaikan melalui media massa bersifat umum (public), karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi, tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok orang tertentu.


(19)

d. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan

Ciri lain media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Ini merupakan ciri paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.

e. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen

Komunikan atau khalayak yang merupakan kumpulan anggota masyarakat.

E.3. Fungsi Komunikasi Massa

Menurut Cangara (2000:63), fungsi komunikasi massa adalah sebagai penyebar luas informasi, meratakan pendidikan, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan kegembiraan dalam hidup seseorang.

Secara spesifik, menurut Bride (dalam Cangara, 2000:63), mengemukakan bahwa komunikasi tidak bisa diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi juga sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai pertukaran data, fakta dan ide. Karena itu, komunikasi massa dapat berfungsi sebagai berikut:

a. Informasi, yakni kegiatan untuk mengumpulkan, menyimpan data, fakta, pesan, opini, dan komentar sehingga orang bisa mengetahui keadaan yang terjadi diluar dirinya, apakah itu dalam lingkungan daerah, nasional atau internasional.


(20)

b. Sosialisasi, yakni menyediakan dan mengajarkan ilmu pengetahuan bagaimana orang bersikap sesuai nilai-nilai yang ada, serta bertindak sebagai anggota masyarakat secara efektif.

c. Motivasi, yakni mendorong orang untuk mengikuti kemajuan orang lain melalui apa yang mereka baca, lihat, dan dengar lewat media massa.

d. Bahan diskusi, yakni membuka kesempatan untuk mencapai persetujuan dalam hal perbedaan pendapat mengenai hal-hal yang menyangkut orang banyak.

e. Pendidikan, yakni membuka kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, baik untuk pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan non formal di luar sekolah. Juga meningkatkan kualitas penyajian materi yang baik, menarik dan mengesankan. f. Memajukan kebudayaan, media massa menyebarluaskan hasil-hasil

kebudayaan melalui pertukaran program siaran radio dan televisi, ataukah bahan tercetak seperti buku dan penerbitan-penerbitan lainnya. Pertukaran ini akan memungkinkan peningkatan daya kreatifitas guna memajukan kebudayaan nasional masing-masing negara serta mempertinggi kerja sama hubungan antar negara.

g. Hiburan, media massa telah menyita banyak waktu luang untuk semua golongan usia dengan difungsikannya sebagai alat hiburan dalam rumah tangga. Sifat estetika yang dituangkan dalam bentuk lagu,lirik,


(21)

dan bunyi maupun gambar serta bahasa, membawa orang pada situasi menikmati hiburan seperti halnya kebutuhan pokok lainnya.

h. Integrasi, banyak bangsa di dunia dewasa ini diguncang oleh kepentingan-kepentingan tertentu karena perbedaan etnis dan ras.

Komunikasi seperti satelit dapat dimanfaatkan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan itu dalam memupuk dan memperkokoh persatuan bangsa.

Menurut Wright (dalam Wiryanto, 2000:11) berpendapat bahwa fungsi komunikasi massa adalah sebagai berikut:

a. Surveillance

Merujuk pada fungsi pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar maupun di dalam masyarakat. Fungsi ini berhubungan dengan apa yang disebut Handling of news.

b. Correlation

Meliputi fungsi interpretasi pesan yang menyangkut lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian. Untuk sebagian, fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi editorial atau propaganda.

c. Transmission

Menunjuk pada fungsi mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya dari satu generasi ke generasi lainnya atau


(22)

dari anggota-anggota suatu masyarakat kepada pendatang baru. Fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi pendidikan.

d. Entertainment

Merujuk pada kegiatan-kegiatan komunikasi yang dimaksudkan untuk menberikan hiburan tanpa mengharapkanefek-efek tertentu.

E.4. Pengaruh Komunikasi Massa

Efek komunikasi massa bisa dibagi menjadi beberapa bagian. Secara sederhana Keith R. Stamm dan John E. Bowes membagi menjadi dua bagian dasar. Pertama; efek primer meliputi terpaan, perhatian, dan pemahaman. Kedua; efek sekunder yang meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap), serta perubahan perilaku (menerima dan memilih). Efek dari komunikasi massa sangatlah nyata dan jelas, karena pada saat ini hidup kita sehari-hari tidak bisa lepas dari media massa, berarti efek yang ditimbulkan begitu nyata terjadi. Bisa dikatakan secara sederhana bahwa efek primer terjadi jika ada orang yang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang dilihatnya (Nurudin, 2007:206-207). Pada efek sekunder, menurut John R. Bittner, focus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada dirinya. Factor interaksi yang terjadi antar individu akan ikut mempengaruhi pesan yang diterima.


(23)

E.5. Televisi Sebagai Bagian Komunikasi Massa

Televisi merupakan salah satu bagian dari media elektronik yang bersifat audio visual dengan karakteristiknya yang tersendiri. Melalui televisi, pesan atau informasi dan komunikasi disampaikan kepada komunikan lewat program tayangannya, dalam hal ini iklan menyampaikan informasi produknya kepada audiens disela-sela program tayangan televisi yang dianggap memiliki ranting tinggi.

Menurut Kuswandi (1996:16), komunikasi massa melalui media televisi bersifat audio visual, yaitu menggunakan alat-alat yang “Audible” (dapat di dengar) dan “Visible” (dapat dilihat). Alat-alat audio visual ini gunanya untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif.

Menurut Effendy (2000:31), media televisi merupakan salah satu bentuk komunikasi, yang mempunyai peranan yang sangat penting untuk: a. Menyampaikan informasi (to inform)

Merupakan pengumpulan, penyimpanan, pemprosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta dan pesan, opini serta komentar yang dibutuhkan agar orang dapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi internasional, lingkungan, dan orang lain, serta agar dapat mengambil keputusan yang tepat.

b. Mendidik (to educate)

Pengalihan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak dan pendidikan keterampilan serta kemahiran yang diperlukan pada semua bidang kebutuhan.


(24)

c. Menghibur (to entertain)

Penyebarluasan sinyal, symbol, suara dan citra (image) dari drama, tari, kesenian, kesusastraan, music, komedi, olahraga, permainan, dan sebagainya untuk rekreasi dan kesenangan kelompok dan individu. d. Mempengaruhi (to influence)

Suatu pesan yang disampaikan oleh media massa tersebut digunakan untuk menbujuk atau mempengaruhi komunikannya supaya mengikuti kehendak dari komunikator.

Di samping mempunyai peranan yang sangat penting, informasi yang disampaikan melalui media massa juga mempunyai tujuan, yaitu: a. Perubahan sikap (antitude change)

b. Perubahan pendapat (opinion change) c. Perubahan perilaku (behavior change) d. Perubahan sosial (social change)

Media televisi memiliki kelebihan dan kelemahan, sebagai berikut: Kelebihan media televisi:

a. Menguasai jarak dan ruang, karena teknologi televisi telah menggunakan gelombang elektromagnetik yaitu kabel dan fiber yang dipancarkan (transmisi) melalui satelit.

b. Sasaran yang dicapai untuk menjangkau massa cukup besar.

c. Nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitahuan sangat cepat.


(25)

d. Daya rangsang seseorang terhadap media televisi cukup tinggi. Hal ini, disebabkan oleh kekuatan suara dan gambar yang bergerak (ekspresif). e. Informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan

sistematis.

Sedangkan kelemahan media televise menurut Kuswandi (1996:23), sebagai berikut:

a. Isi pesan tidak dapat diingat atau dimemori oleh pemirsa. Karena otak manusia mempunyai keterbatasan dalam mengingat semua yang diterima oleh pancaindera

b. Terikat oleh waktu tayangan, sedangkan media cetak dapat dibaca kapan dan dimana saja.

c. Tidak bisa melakukan kritik sosial dan pengawasan secara langsung dan vulgar. Hal ini, terjadi factor penyebaran siaran televisi yang begitu luas kepada massa yang heterogen juga karena kepentingan politik dan stabilitas keamanan negara.

Televisi sebagai media komunikasi massa yang bersifat audio visual memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Kuswadi (1996:16), ada 4 karakteristik audience:

a. Heterogen: massa audience merupakan suatu masyarakat sosial yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat.

b. Anonym: tidak dikenal satu sama lain, baik antara komunikator maupun audience.


(26)

c. Unbound Each Other: tidak terkait satu sama lain baik antara individu dalam audience maupun antara komunikator dengan audience sehingga sulit digerakkan untuk suatu tujuan tertentu seperti kerumunan.

d. Isolated for one another: tertutup satu sama lain sehingga mereka seperti atom-atom yang terpisah namun tetap merupakan kesatuan, yaitu sama-sama menggunakan media massa.

E.6. Iklan

Menurut Kotler dan Armstrong (2006:658), mendefinisikan periklanan sebagai berikut : “Segala bentuk penyajian non personal dan promosi ide, barang, jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran”. Menurut Kasali (2000:181), “advertising atau periklanan adalah semua bentuk penyajian non personal, promosi dan ide tentang barang atau jasa yang dibayarkan oleh sponsor”. Sedangkan Setiadi (2003:253), definisi standar periklanan biasanya mengandung enam elemen, yaitu:

a. Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar. b. Dalam iklan terjadi proses identifikasi sponsor. c. Upaya membujuk dan mempengaruhi komsumen.

d. Periklanan memerlukan elemen media massa merupakan sarana untuk menyampaikan pesan pada audience sasaran.

e. Bersifat non personal.


(27)

Iklan dapat didefinisikan sebagai penyampaian sebuah pesan melalui ruangan yang dibayar oleh pemasang iklan. Iklan dapat menjadi pendorong yang cukup persuasive bagi calon pembeli untuk langsung membeli produk-produk yang ditawarkan tanpa melihat atau mencobanya terlebih dahulu (Brannan, 1998:62).

Menurut Sunarto (2004:283), tujuan iklan dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Iklan informative

Digunakan habis-habisan pada saat suatu kategori produk yang baru mulai diperkenalkan dengan tujuan membangun permintaan awal. b. Iklan persuasive

Iklan pada saat ini akan menjadi sangat penting, seiring bertambah kerasnya kompetisi dengan tujuan membangun permintaan selektif. c. Iklan pengingat

Pada tujuan yang ketiga ini iklan menjadi sangat penting untuk produk-produk yang sudah matang agar konsumen tetap mengingat produk tersebut.

Menurut Kotler dan Armstrong (2006:278), tujuan iklan dapat digolongkan menurut apakah sasarannya untuk menginformasikan, membujuk, mengingat, atau memperkuat. Tujuan-tujuan tersebut dimaksudkan untuk tahap-tahap yang berbeda dalam hierarki yang terdiri dari:


(28)

a. Iklan informative, ditujukan untuk menciptkan kesadaran dan pengetahuan tentang produk baru atau ciri produk baru yang sudah ada.

b. Iklan persuasive, dimaksudkan untuk menciptakan kesukaan, prefensi, keyakinan dan pembelian suatu produk barang atau jasa.

c. Iklan pengingat, dimaksudkan untuk merangsang pembelian produk dan pemakaian jasa kembali.

d. Iklan penguatan, dimaksudkan untuk menyakinkan pembeli sekaranng bahwa mereka melakukan pilihan yang tepat.

E.7. Iklan Televisi

Periklanan melalui media televisi merupakan sarana komunikasi antara produsen dan konsumen. Tujuan akhir tersebut adalah untuk menciptakan respon perilaku pasar, berupa pembelian terhadap produk atau jasa yang ditawarkan oleh produsen. Meskipun jangka panjang dari iklan adalah untuk menggerakkan tindakan pembelian dan membentuk brand image dalam ingatan khalayak, tetapi tujuan utama ini tidak mungkin tercapai tanpa tujuan jangka pendek, yaitu agar iklan ditonton dan dibaca. Terdapat 2 syarat penting bagi keberhasilan suatu pesan periklanan: Pertama, khalayak harus diterpa dan dituntut perhatiannya kepada iklan tersebut. Kedua, mereka seyogyanya menafsirkan iklan tersebut sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh pemasangnya. Seperti diketahui, penggalian pesan dapat berlangsung melalui beberapa saluran peinderaan 80% adalah secara kasat mata. Mengenai aspek kasatmata


(29)

sebagai social communication, dikemukakan oleh Gyorgy Kepes bahwa untuk mencerna suatu peristiwa kasatmata dituntut keterlibatannya pemirsa ke dalam suatu proses perorganisasian bentuk-bentuk kemampuan membaca “bahasa kasatmata”, dengan demikian suatu dasar disiplin pembentukan berpikir dalam pengertin struktur, sekaligus sebagai tindakan kreati dalam menyatakan dirinya dengan pengetahuannya, maupun dalam upaya pembentukan kembali dirinya sebagai manusia seutuhnya (Baskoro, 2002:3).

Iklan televisi secara gradual menjadi referensi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Kehadirannya mampu membuka mata konsumen bahwa kebutuhannya tersedia bebas dan begitu gampang memperolehnya. Eksitesinya telah menjadi kekuatan baru yang setiap saat menganggu emosi konsumen. Atraksi-atraksi adegan dan plot cerita yang disampaikan begitu menggiurkan sehingga mampu merangsang pemirsa untuk mau mencoba atau membeli produk yang diiklankan.

Iklan televisi saat ini dibilang menduduki peringkat pertama dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya, hal ini dapat dilihat dalam persentase perebutan “kue” iklan oleh televisi pada tahun 2001 dan total belanja iklan 9,7 triliun (Sumartono, 2002:5).

Sebenarnya penyebab televisi mampu menjadi primadona dalam menayangkan iklan atau menjadi pilihan banyak perusahaan dalam mengkomunikasikan produknya, dikarenakan televisi memiliki 3 kekuatan:


(30)

a. Efisiensi Biaya

Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan menjangkau khalayak sasaran yang sangat luas. Jutaan orang menonton televisi secara teratur. Televisi selain mampu menjangkau khalayak, sasaran yang dapat dicapai oleh media televisi juga dapat menjangkau khalayak yang tidak dapat dijangkau media cetak. Jangkauan massal ini menimbulkan efisiensi biaya.

b. Dampak yang Kuat

Keunggulan lainnya adalah kemampuan menimbulkan dampak yang kuat terhadap konsumen, dengan tekanan pada sekaligus 2 indera, yakni: penglihatan dan pendengaran. Televisi juga mampu menciptakan kelenturan bagi pekerjaan-pekerjaan kreatif dengan mengkombinasikan gerakan, kelentikan, suara, warna, drama, dan humor.

c. Pengaruh yang Kuat

Televisi mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi khalayak sasaran. Kebanyakan masyarakat meluangkan waktunya di depan televisi baik sebagai sumber berita, hiburan dan sarana pendidikan. Kebanyakkan calon pembeli lebih “percaya” pada perusahaan yang mengiklankan produknya di televisi daripada yang


(31)

tidak sama sekali. Ini adalah cerminan bonatifiditas pengiklan (Kasali Rhenald, 2000:121-122).

E.8. Iklan Televisi dan Budaya Konsumtif Masyarakat

Terlepas dari banyaknya manfaat iklan televisi bagi khalayak, ternyata iklan juga dapat menimbulkan kesan-kesan yang negative. Iklan secara kondisional dapat membuat orang membeli sesuatu yang sebetulnya tidak diinginkan atau dibutuhkan. Bila dilihat dalam kejadian sehari-hari sepulang berbelanja, berapa banyak barang tidak berguna yang dibeli hanya karena iklan (Sumartono, 2002:116). Hal tersebut berarti kehadiran iklan dalam alam masyarakat mampu mengiring seseorang untuk bertindak konsumtif. Pengaruh iklan tidak mungkin dihilangkan, yang dapat dilakukan adalah memikirkan kembali prioritas-prioritas tersebut secara rasional. Artinya, prioritas kebutuhan tersebut harus mempertimbangkan betul-betul kebutuhan akan barang atau jasa yang diiklankan atau hanya sekedar menginginkannya. Sebab sering terjadi keinginan untuk memperoleh sesuatu barang atau jasa bukan didasarkan oleh kebutuhan tetapi sekedar symbol status agar kelihatan keren di mata orang lain (Sumartono, 2002:117). Lubis berpendapat bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang memberikan batasan dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan (Sumartono, 2002:117).


(32)

Bicara budaya konsumtif amatlah variatif, tetapi pada intinya bermuara dari perilaku konsumtif. Pengertian perilaku konsumtif adalah tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Pada kenyataannya, secara operasional indicator perilaku konsumtif adalah sebagai berikut:

a. Membeli produk karena iming-iming hadiah. b. Membeli produk karena kemasannya menarik. c. Membeli produk demi menjaga penampilan diri.

d. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaan).

e. Membeli produk hanya sekedar menjaga status sosial.

f. Memakai sebuah produk karena unsure tertarik terhadap model yang mengiklankan produk.

g. Munculnya penilain bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi

h. Mencoba lebih dari 2 produk sejenis namun merk lain (Sumartono, 2002:119)

E.9. Popularitas Artis Iklan Televisi

Popularitas sama dengan populer, terkenal, ngetop yang berarti bahwa objek banyak diketahui oleh segala lapisan masyarakat baik itu dari keseringan muncul pada media atapun sebuah prestasi dan kesuseksesan yang diraih oleh objek yang memang dikagumi dan dapat menyita perhatian masyarakat banyak.


(33)

Popularitas dalam profesi artis (seniman), tidak bisa dipisahkan dari persoalan kreatifitas. Kreatiatifitas dalam berkesenian adalah “pembenaran” yang dibuat, direkayasa secara teknis kreatif hingga hal-hal yang biasa, sederhana menjadi sangat luar biasa. Dengan kata lain, memberikan intensitas kehidupan. Hal itupun yang membuat artis (seniman) memiliki nilai lebih dibandingkan dengan insane biasa. Tahap demi tahap akan dilalui seiring perkembangan apa yang telah dilakukan menuju penyempurnaan, penyelarasan, peningkatan, pelengkapan, sampai pada nilai korektif, baik yang didapat dari internal (pengalaman pribadi dan secara batin), maupun eksternal (pengakuan di luar artis tersebut). Dari akumulasi proses kreatif tersebut, maka seseorang artis (seniman) mendapatkan nilai sukses dan sebutan populer.

Artis (seniman) yang memiliki popularitas dalam upaya suksesnya suatu proses komunikasi persuasive merupakan factor terpenting yang tidak boleh diabaikan. Dalam teori “jarum hipordemik” dikatakan bahwa pesan yang dilakukan dengan menggunakan media massa, pesan seakan mampu menghipnotis setiap individu. Dalam terjadinya proses ada tahap-tahap yang harus dilalui: Pertama, individu melihat siapa yang menyampaikan iklan dan tahap berikutnya, menerima pesan hingga pada tahap selanjutnya.

Pada proses awal merupakan proses yang sangat sulit dan penting, bagaimana cara menarik perhatian individu, oleh karena itu sebagai pengiklan lebih suka menggunakan artis terkenal (memiliki popularitas)


(34)

sebagai metode awal pelaksanaan proses komunikasi, dimana dengan menggunakan artis terkenal, individu akan merasa tertarik dan lebih bersifat persuasive.

Menurut Liliweri (1992) dalam bukunya Sumartono (2002:54), iklan harus ditata sedemikian rupa sehingga isinya dapat membangkitkan dan menggugah kesadaran khalayak bahwa suatu produk yang diperlukan selama ini ternyata disediakan oleh orang lain. Penggunaan model iklan (public figure) dalam mendemostrasikan suatu produk di televisi, dikatakan sebagai cara yang efektif dalam mempengaruhi audiens (konsumen). Keberadaan model iklan dianggap mampu merangsang atau menjadi stimulus bagi pemirsa, sehingga hal tersebut menimbulkan kecenderungan untuk meniru tingkah laku model (ketika model mendemotrasikan suatu produk) yakni munculnya keinginan untuk menggunakan produk seperti yang dipakai model iklan (public figure) tersebut.

Sedangkan Sudjono menyatakan salah satu iklan perusahaan yang paling berhasil adalah iklan yang menyatakan bila seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model beraksi secara tertentu tehadap rangsang maka dalam khayalan (imagination) orang tersebut terjadi serangkaian symbol-simbol yang menggambarkan rangsang dari tingkah laku batas tersebut. Rangkaian symbol-simbol ini merupakan pengganti daripada hubungan rangsangan batas yang nyata dan melalui asosiasi pemirsa


(35)

meniru tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model (Sumartono, 2002;56)

Dengan demikian proses meniru tingkah laku model tersebut sejalan dengan teori hasil belajar. Menurut Bandura (1997:23), bahwa respon belajar sosial meliputi:

a. Proses Perhatian

Proses perhatian ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran model dan karakteristik-karakteristik yang dimiliki. Model yang sering tampil dan memiliki karakteristik yang menarik dimata individu pengamat atau memiliki pengaruh, lebih mudah mengundang perhatian individu dibandingkan dengan model yangg jarang tampil, tidak menarik atau tidak memiliki pengaruh.

b. Proses Retensi

Yaitu proses dimana individu menyimpan tingkah laku model yang lebih diamatinya dalam ingatannya, baik melalui kode verbal maupun imaginal atau pembayangan gerak. Kedua penyimpanan itu memainkan peranan penting dalam proses selanjutnya.

c. Proses Reproduksi Motoris

Suatu proses dimana individu mencoba mengungkapkan ulang tingkah laku model yang telah diamatinya. Penggunaan ulang atau reproduksi tingkah laku model ini pada mulanya bersifat kaku dan kasar, tetapi dengan pengulangan yang intensif lambat laun individu bisa


(36)

mengungkapkan tingah laku itu dengan sempurna atau setidaknya mendekati tingkah laku model.

d. Proses Motivasional

Tingkah laku yang telah diamati tidak akan diungkapkan oleh individu apabila individu tersebut kurang termotivasi. Motivasi yang diharapkan dari pihak pengiklan adalah motivasi positif dari produk yang ditawarkan (Sumartono, 2002;57-58)

Dalam konteks yang lain, Bandura (1997;24) mengatakan sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui pengamatan pada model dan melalui hasil pengamatannya tersebut, seseorang dapat memperoleh suatu ide, informasi dan petunjuk mengenai bagaimana berperilaku (Sumartono, 2002;49). Sedangkan Onong Uchjana Effendy (1993;361) menjelaskan untuk mempelajari perilaku manusia setidaknya dihadapkan pada 3 asumsi yaitu:

a. Perilaku manusia dianggap sebagai suatu mesin yang berdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain sehingga stimulus dari satu bagian akan menimbulkan respon pada bagian lainnya.

b. Manusia pada dasarnya bersifat hedonistic, berupaya mencari kesenangan dan menghindari kesulitan sehingga manusia selalu berusaha untuk memperbanyak pendapatannya dan mengurangi kekurangannya.


(37)

c. Perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa prilaku itu dapat dipelajari dan dapat dihasilkan, maka ia dapat dikendalikan (Sumartono, 2002;49).

E.10. Minat Mengkonsumsi/Beli Masyarakat a. Pengertian Minat

Menurut Kartini Kartono (1999), minat merupakan momen dan kecenderungan yang terarah secara intensif kepada objek yang dianggap penting. Minat berkaitan erat dengan kepribadian dan selalu mengandung unsure-unsur efektif (perasaan), kognitif dan kemauan. Minat selalu dikaitkan dengan bantuan motivasi-motivasi dan emosi-emosi tertentu. Minat juga bergantung pada totalitas kepribadian sehingga apabila kepribadian berubah atau bagian dari pribadi itu berubah.

Sedangkan menurut Lester D.Crow dan Alice Crow (1964;351), minat dapat menunjukkan kemampuan untuk memberi stimulus yang mendorong kita untuk memperhatikan seseorang atau suatu barang, kegiatan atau sesuatu yang dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat menjadi sebab suatu kegiatan dan hasil dari turut sertanya dalam kegiatan tersebut.

Menurut As’ad (1997:6), minat adalah sikap yang membuat orang senang akan objek situasi atau ide-ide tertentu. Hal ini diikuti


(38)

oleh perasaan dan kecenderungan untuk mencari objek yang disenanginya.

b. Faktor-faktor Pembentuk Minat

Menurut Lester D.Crow dan Alice Crow (1999;159) mengemukakan ada 3 faktor utama yang membentuk minat, yaitu: 1) “Faktor dorongan dari luar”, artinya mengarah pada

kebutuhan-kebutuhan yang muncul dari dalam diri individu, misalnya: dorongan untuk makan yang menimbulkan minat untuk mencari makanan.

2) “Faktor motif sosial”, artinya mengarah pada penyesuaian diri dengan lingkungan agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungan. Misalnya; motif untuk mendapatkan status yang baik di lingkungannya.

3) “Faktor emosional”, artinya minat erat hubungannya dengan perasaan atau emosi, keberhasilan dalam beraktivitas yang didorong oleh minat tertentu akan membawa rasa senang dan memperkuat minat tersebut, sebaliknya kegagalan akan mengurangi minat individu.

c. Pengertian Minat Mengkonsumsi/Beli

Menurut Kotler (2006;21), minat mengkonsumsi adalah tahap kecenderungan seseorang untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.


(39)

Menurut Sutisna (2002:102), mengatakan tingkah laku konsumen (minat membeli) dalam mengambil keputusan bahwa secara sadar atau tidak sadar disebabkan ada dorongan yang menyebabkan seorang konsumen mengambil keputusan dalam membelanjakan uangnya. Selain itu, untuk dapat menimbulkan keinginan untuk membeli harus mengetahui motif-motif seseorang untuk membeli, baik dengan kata, gambar, nyanyian, tulisan dan sebagainya dapat menimbulkan keinginan konsumen untuk membeli. Motif orang untuk membeli ada 2, yaitu: Pertama, motif rasional adalah orang membeli berdasarkan pertimbangan untung rugi, kegunaan, harga dan sebagainya. Kedua, motif emosional merupakan pembelian berdasakan emosi tertentu. Misalnya: tidak mau kalah dengan tetanggga, prestise dan sebagainya.

Menurut Swastha (2005;79) berpendapat bahwa setelah perhatian calon pembeli berhasil direbut, perhatian harus ditingkatkan dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu lebih terperinci, dirangsang agar mau membaca iklan dan mengikuti pesan iklan yang disampaikan, sehingga menimbulkan minat calon pembeli. Dalam penelitian ini minat membeli yang dimaksudkan adalah minat mengkonsumsi produk mie instan.

Pada iklan mie instan Sarimi Soto Koya versi ST 12, Supermi versi Project Pop, Indomie versi judika, keinginan untuk mengkonsumsi muncul akibat adanya ketertarikan yang cukup


(40)

mendalam dari sebuah iklan. Dari fungsi iklan yang bersifat membujuk itulah yang kemudian memunculkan kesan yang positif terhadap iklan yang ditontonya, setelah itu berlanjut pada keinginan untuk mengkonsumsi. Ada beberapa factor yang mempengaruhi minat mengkonsumsi pada audiens, yakni sebagai berikut:

a. Umur: semakin meningkat usia seseorang maka semakin meningkat pula kebutuhannya.

b. Jenis Kelamin: dalam hal ini audiens terbagi atas laki-laki dan perempuan. Namun pada kenyataan perilaku konsumtif lebih banyak mengarah pada perempuan. Seperti yang dinyataan oleh Herbert N. Casson bahwa hampir seluruh barang yang ada di toko di beli kaum perempuan.

c. Jabatan Pekerjaan: pekerjaan juga dapat mempengaruhi perilaku membeli karena tingkat penghasilan yang berbeda-beda dari masing-masing orang.

d. Suku dan Kebangsaan: perbedaan suku juga dapat mempengaruhi tingkat keinginan yang berbeda dari masing-masing kelompok. Karena pola ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan nenek moyang mereka.

e. Agama: masing-masing agama mempunyai kebiasaan yang berbeda pula sehingga menumbuhkan perilaku yang berbeda pada masing-masing individu.


(41)

f. Jumlah Pendapatan: jumlah pendapatan yang dipengaruhi oleh jenis pekerjaan akan membawa pengaruh pada tingkat keinginan untuk mengkonsumsi. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi pola konsumtifnya.

g. Tingkat pendidikan: pada kelompok ini kebiasaan mengkonsumsi dan seleranya berbeda dengan kelompok yang tidak berpendidikan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh majalah LIFE tahun 1958 menyatakan bahwa ada perbedaan tingkat pengeluaran diantara keluarga dengan tingkat pendidikanya. Karena semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pengeluarannya.

E.11. Teori Jarum Hipodermik

Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) sangat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi. Disebut model jarum hipodermik karena dalam model ini dikesankan seakan-akan komunikasi “disuntikan” langsung ke dalam jiwa komunikan. Sebagaimana obat disimpan dan disebarkan dalam tubuh sehingga terjadi perubahan dalam sistem fisik, begitu pula pesan-pesan persuasif mengubah sistem psikologis. Model ini sering juga disebut “bullet theory” (teori peluru) karena komunikan dianggap secara pasif menerima berbagai macam pesan komunikasi. Bila kita menggunakan komunikator yang tepat, pesan yang baik, atau media yang benar, komunikan dapat diarahkan sekehendak kita. Pada umumnya,


(42)

model ini bersifat linier atau satu arah. Dari model tersebut diatas dapat dilukiskan sebagai berikut:

Model Jarum Hipodermik

Hal tersebut relevan dengan penelitian untuk mengetahui pengaruh popularitas model iklan mie instan terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat. Asumsi tersebut dilihat dari adanya variabel komunikasi yaitu artis (public figure) sebagai komunikator yang mempunyai daya tarik tersendiri di mata masyarakat menyampaikan pesan periklanan dengan gaya khasnya tersendiri melalui media televisi. Sedangkan variabel antaranya adalah ketertarikan sebagai akibat dari perhatian masyarakat terhadap artis (public figure) tersebut serta dilanjutkan pada variabel efek yang berupa perubahan tingkah laku (behaviour) masyarakat.

E.12. Teori AIDCDA dalam Iklan Televisi

Pada dasarnya iklan merupakan proses komunikasi persuasive yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau berhasil memperoleh persetujuan dari komunikan tarhadap apa yang dimaksud oleh komunikator akan keberadaan suatu produk (Susanto, Astrid. S,


(43)

1989;121). Menurut Lucas dan Britt dalam bukunya Sumartono (2002;64), bahwa persuasi komunikasi (iklan) yang dilakukan komunikator terhadap komunikan sebaiknya sesuai rumus AIDCDA, dalam rumus AIDCDA dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. A-Attention(Perhatian)

Merupakan suatu proses mental ketika stimulasi atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimulus lainnya melemah (jallaludin Rahmat, 1996;52). Jika dikaitkan dengan penalitian ini, perhatian (attention) berupaya menyajikan iklan mie instan dengan model iklannya, seperti group band Project Pop yang membintangi iklan Supermi, iklan Sarimi Soto Koya dibintangi group band ST 12 serta pada iklan Indomie yang dibintangi mentan juwara Idol/Judika. Sajian iklan dan frekuensi kehadiran model dengan karakteristik yang dimilikinya lebih mudah menggugah perhatian dibandingkan dengan iklan dari model yang jarang tampil, tidak menarik atau tidak memiliki pengaruh.

b. I-Interest (ketertarikan)

Secara umum ketertarikan dapat digambarkan sebagai suatu kehendak yang tumbuh, baik dari diri manusia maupun yang muncul secara spontanitas di luar diri manusia terhadap suatu objek. Ketertarikan adalah sikap yang membuat orang senang akan objek, situasi dan ide-ide tertentu (Wirawan, 1996). Jadi dalam, penelitian ini, ketertarikan masyarakat terhadap iklan mie instan dalam iklan TV


(44)

yaitu group band ST 12 (Sarimi Soto Koya), group band Project Pop (Supermi) dan Judika (Indomie).

c. D-Desire(Hasrat/Keinginan)

Hasrat merupakan keadaan rasional yang dipengaruhi oleh perasaan yang timbul karena dorongan untuk masuk secara lebih mendalam pada permasalahan yang membutuhkan suatu pemecahan. Hasrat lebih berkaitan dengan psikis seseorang, karena disini melibatkan seseorang untuk mengikuti (masuk) pada suatu hal. Sedangkan dalam penelitian ini adalah timbulnya minat untuk mengkonsumsi salah satu produk mie instan (Sarimi Soto Koya, Supermi, dan Indomie) yang disebabkan menonton tayangan iklan tersebut yang melibatkan perasaan dan emosional.

d. C-conviction (keyakinan)

Keyakinan merupakan kelanjutan setelah timbul hasrat atau keinginan. Hubungannya dengan penelitian ini, proses yang terjadi merupakan situasional yang yakin akan kebenaran tentang kebenaran dalam iklan mie instan (Sarimi Soto Koya, supermi, Indomie) dan karenanya mengarahkannya untuk berusaha mengkonsumsi produk yg ditawarkan tersebut.

e. D-Decision (Keputusan)

Pengambilan keputusan artinya memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang lebih dari satu. Hubungannya dengan penelitian ini, proses yang terjadi merupakan pengadopsian atau suatu informasi yang


(45)

telah disebarkan, sehingga menjadi pertimbangan keputusan seseorang untuk menerima atau menolak informasi tersebut.

f. A-Action (Tindakan)

Tindakan merupakan realisasi dari pengambilan keputusan. Tindakan seseorang merupakan hasil akhir dari pilihan sejumlah alternative, apa yang menjadi tindakan adalah alternative terbaik dengan berbagai pertimbangan dan resikonya. Tindakan bisa juga diambil ketika seseorang menentukan suatu kejadian atau peristiwa dilingkungan dimana seseorang itu berada.

Teori AIDCDA sangat releven dalam penelitian periklanan ini karena langsung menjurus pada pengaruh popularitas model iklan terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat. Dalam penelitian ini hanya melewati 4 tahap dalam rumus AIDCDA yaitu; 1. Attention, adanya perhatian dari masyarakat pada artis (public figure) yang menjadi model iklan; 2. Interest, setelah memperhatikan artis (public figure) maka timbullah ketertarikan masyarakat terhadap tingkah laku artis (public figure) tersebut; 3. Desire, selanjutnya ada suatu hasrat dalam diri masyarakat untuk menirukan tingkah laku artis (public figure) tersebut, 4. Conviction, adanya keyakinan terhadap suatu produk yang diiklankan oleh artis (public figure) tersebut. Pada tahap Attention dan Interest terjadi suatu perhatian dan ketertarikan masyarakat terhadap tingkah laku artis (public figure) yang menjadi model iklan di televisi. Sedangkan pada tahap Desire merupakan suatu


(46)

keinginan responden untuk mengkonsumsi mie instan karena terpengaruh oleh model iklan (public figure) yang menjadi peraga iklan tersebut. Terakhir pada tahap Conviction merupakan suatu keyakinan responden pada produk mie instan karena beranggapan bahwa produk yang diiklankan oleh artis (public figure) pasti berkualitas tinggi.

E.13. Hipotesis

Menurut Kriyantono (2006:27), Hipotesis adalah adalah teori, preposisi yang belum terbukti diterima untuk menjelaskan fakta-fata atau menyediakan dasar untuk melakukan investigasi dan menyatakan argumen. Dalam penelitian ini digunakan hipotesis asosiatif yaitu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan dua variabel atau lebih dimana hubungannya bersifat kausalitas (Kriyantono, 2006:36). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Hipotesis asosiatif dikemukakan sebagai berikut :

a. Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara popularitas model iklan terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang. b. Hi : Ada pengaruh yang signifikan antara popularitas model

iklan terhadap minat mengkonsumsi mie instan pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang.


(47)

F. Definisi Konsep dan Definisi Operasional F.1. Definisi Konsep

F.1.1 Popularistas Model Iklan di Televisi (Variabel X)

a) Popularitas Model (populer, terkenal, ngetop) dalam penelitian ini adalah kreativitas seseorang dalam profesinya sebagai artis (seniman), sehingga mengakibatkan artis (seniman) banyak diketahui oleh segala lapisan masyarakat dan memiliki nilai lebih dengan penghargaan yang diterimanya berupa materi dan spirit. Secara materi tentu saja dalam kehidupan sehari-hari artis (seniman) tidak kekurangan untuk menyediakan sesuatu karena imbalan yang didapat dari kreativitas tersebut. Secara spirit, artis (seniman) memiliki style atau gaya hidup atau ciri khas yang melekat pada dirinya (Sumartono, 2002 ;2)

b) Iklan

Menurut Kotler dan Armstrong (2006:658) mendefinisikan periklanan sebagai berikut : “Segala bentuk penyajian non personal dan promosi ide, barang, jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran”.

c) Media Televisi

Menurut Efendy, (2003:31) media televisi merupakan salah satu bentuk komunikasi, yang mempunyai peranan yang sangat penting untuk menyampaikan informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi.


(48)

F.1.2 Minat masyarakat mengkonsumsi/membeli (Variabel Y)

Kotler (2006;21) menyatakan minat mengkonsumsi adalah tahap kecenderungan seseorang untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Menurut Sutisna (2002,102) mengatakan tingkah laku konsumen (minat membeli) dalam mengambil keputusan bahwa secara sadar atau tidak sadar disebabkan ada dorongan yang menyebabkan seorang konsumen mengambil keputusan dalam membelanjakan uangnya. Selain itu, untuk dapat menimbulkan keinginan untuk membeli harus mengetahui motif-motif seseorang untuk membeli, baik dengan kata, gambar, nyanyian, tulisan dan sebagainya dapat menimbulkan keinginan konsumen utk membeli. F.2. Definisi Operasional

F.2.1 Popularistas Model Iklan di Televisi (Variabel X)

Popularistas model iklan di televisi dalam penelitian ini merupakan ketenaran model iklan dalam iklan mie instan yang ditayangkan di televisi dalam penelitian ini adalah iklan Sarimi Soto dibintangi group band ST 12, group band Project Pop yang membintangi iklan Supermi, dan pada iklan Indomie yang dibintangi mantan jawara Idol Judika. Indikator atau tolok ukur dari variabel popularistas model iklan di televisi adalah seberapa tahu (kenal) responden terhadap model iklan-iklan mie instan yang ditayangkan di televisi (group band ST 12 yang membintangi iklan Sarimi Soto, group


(49)

band Project Pop yang membintangi iklan Supermi, dan Judika Idol yang membintangi iklan Indomie).

F.2.2 Minat Mengkonsumsi (Variabel Y)

Minat mengkonsumsi dalam penelitian merupakan kecenderungan atau keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi mie instan setelah menonton tayangan iklan mie instan di televisi yang melibatkan artis atau model iklan yang populer atau terkenal di mata masyarakat. Indikator variabel minat mengkonsumsi dalam penelitian diukur dari :

a) Tingkat perhatian (Attention) terhadap iklan-iklan mie instan yang ditayangkan di televisi.

b) Tingkat ketertarikan (Interest) responden terhadap produk mie instan yang ditayangkan di televisi.

c) Tingkat keinginan (Desire) responden untuk mengkonsumsi produk mie instan (Sarimi Soto Koya, Supermi dan Indomie) d) Tingkat keyakinan (Conviction) responden pada produk (Sarimi

Soto Koya, Supermi dan Indomie) G. Metode Penelitian

G.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan tipe penelitian eksplanatif survey. Format eksplanasi dimaksud untuk menggambarkan suatu generalisasi atau menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel yang lain (Burhan Bungin, 2001:51).


(50)

G.2 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini adalah Perumahan Bukit Cemara Tidar Kelurahan karangbesuki Kecamatan Sukun Kabupaten Malang. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena karakteristik penduduk yang heterogen baik dilihat dari segi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain. Dengan alasan itulah peneliti memilih masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Kelurahan KarangBesuki Kecamatan Sukun Kabupaten Malang sangat menarik untuk diteliti.

G.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel a. Populasi

Menurut Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di Perumahan Bukit Cemara Tidar Malang meliputi RT 01 – RT 07 yang berusia 15-54 tahun serta pernah menonton iklan mie instan (Sarimi Soto Koya versi ST 12, Supermi versi Project Pop, Indomie versi Judika) di televisi sebanyak 777 orang .

b. Sampel dan Pengambilan Sampel

Menurut Arikunto (2006:130) sample merupakan bagian atau anggota dari populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling yang dilakukan dengan cara pengambilan sempel dari semua anggota populasi yang berumur 15-54 tahun serta pernah melihat iklan mie instan(Sarimi Soto Koya versi ST 12, Supermi versi Project Pop dan Indomie versi


(51)

Judika) dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi tersebut. Karena jumlah populasi yang diteliti cukup besar dan dengan keterbatasan waktu, pikiran dan tenaga untuk memudahkan peneliti dalam pengambilan sampel, maka peneliti menggunakan rumus Taro Yamane. Dari rumus Taro Yamane tersebut dapat dilakukan perhitungan untuk mencari sampel yaitu :

n =

1 2+ Nd

N

keterangan :

n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi

d = Nilai presisi (tingkat kesalahan) 1 = angkat konstan

Dengan demikian perhitungannya :

n =

1 (10%) 777 777 2+ = 1 (0,01) 777 777 + = 1 77 , 7 777 + = 1 77 , 8 777 +


(52)

G.4 Instrument Pengumpulan Data

Adapun instrument pengumpulan data yang digunakan adalah skala yang mana skala ini berisi sekumpulan daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk dijawab (Kinear,1997;285). Menurut Kinear (1997;286) bahwa pengukuran yang dilakukan adalah upaya pendayagunaan bilangan terhadap karakteristik objek atau peristiwa yang sesuia dengan kaidah. Pengukuran menekankan bahwa yang diukur adalah karakteristik objek atau peristiwa. Adapun dalam peristiwa ini yang diukur adalah sikap responden terhadap variable-variable kompensasi. Pengukuran sikap berdasarkan komponen efektif yaitu mengacu pada preferensi dan kesenangan responden terhadap objek atau fenomena.

Komponen efektif, seperti halnya kognitif merupakan aspek penting dan kebutuhan informasi untuk berbagai situasi. Untuk mengukur skala yang digunakan adalah skala interval yaitu skala yang bertujuan untuk membedakan antara kategori-kategori dalam satu variable dengan asumsi bahwa ada urutan atau tingkatan skala. Hal ini melibatkan karakteristik sistim bilangan dari urutan angka.

Skala interval mengukur apakah sebuah objek atau peristiwa mempunyai karakteristik yang lebih banyak atau lebih kecil dari objek atau peristiwa lain. Pengukuran skala interval ini dapat dilakukan dengan skala Likert yang terdiri dari 5 titik atau poin dari:

a. Jawaban (a) diberi skor 5 b. Jawaban (b) diberi skor 4


(53)

c. Jawaban (c) diberi skor 3 d. Jawaban (d) diberi skor 2 e. Jawaban (e) diberi skor 1 H.5 Uji Instrumen Penelitian

Uji instrumen penelitian dilakuka n sebelum teknik analisis data dilakukan. Adapun uji instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

a. Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2001:96) validitas merupakan hasil penelitian dimana terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Pengujian validitas dalam penelitian ini mempergunakan analisis korelasi product moment, dengan mengkorelasikan skor setiap item dengan skor total sebagai jumlah skor item. Rumus korelasi product moment (Sugiyono, 2001:148) sebagai berikut:

rxy = (n X -( X) ) (n Y -( Y) ) Y

X -XY n

2 2

2

2 Σ Σ Σ

Σ

Σ Σ Σ

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi X = Skor butir pertanyaan Y = Total skor


(54)

n = Jumlah subyek b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menguji keajegan hasil pengukuran suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen tersebut apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan hasil yang sama (Sugiono, 2001: 97). Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan formula Alpha Cornbach (Nurgiyantoro, 2000:310) dengan rumus sebagai berikut :

r = k-1 k

Σ

2 2

-1

σ

σ

Keterangan :

r = Koefisien reliabilitas k = Jumah butir pertanyaan

σi2 = varian butir pertanyaan

σ2 = varian skor tes

Instrumen dikatakan reliabilitas bilamana koefisien reliabilitasnya mencapai 0,60 (Nurgiyantoro, 2000:312). Adapun perhitungan untuk pengujian reliabilitas dilaksanakan dengan bantuan program SPSS.


(55)

G.6 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dengan memberikan kuesioner kepada responden yang sudah disusun oleh peneliti, sehingga diperoleh jawaban responden terkait dengan tujuan penelitian.

G.7 Analisis Data a. Uji hipotesis

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan Uji t. Adapun formulasi uji t dalam penelitian ini menggunakan rumus (Algifari, 2000:9) sebagai berikut:

Sb b t=

dimana :

t = nilai thitung b = koefisien regresi

Se = standard error koefisien regresi Rumusan hipotesis dinyatakan dengan :

Ho : b = 0 : Apabila thitung < ttabel atau atau -thitung > -ttabel pada taraf α = 0,05 atau probabilitas ≥ 0,05 maka Ho diterima (Hi ditolak) artinya variabel popularitas model iklan mie instan di televisi tidak berpengaruh signifikan terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang pada tingkat kepercayaan 95%.


(56)

Hi : b ≠ 0 : Apabila thitung > ttabel atau -thitung < -ttabel pada taraf α = 0,05 atau probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak (Hi diterima) artinya variabel popularitas model iklan mie instan di televisi berpengaruh signifikan terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang pada tingkat kepercayaan 95%.

b. Regresi Linier Sederhana

Teknik analisis regresi linier sederhana ini dalam penelitian ini dipergunakan untuk mengetahui pengaruh popularitas model iklan mie instan di televisi terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang. Adapun model yang digunakan adalah :

Y = a + bX dimana :

Y = Minat mengkonsumsi a = Konstanta

b = Koefisien regresi variabel popularitas model iklan X = Variabel popularitas model iklan


(1)

Judika) dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi tersebut. Karena jumlah populasi yang diteliti cukup besar dan dengan keterbatasan waktu, pikiran dan tenaga untuk memudahkan peneliti dalam pengambilan sampel, maka peneliti menggunakan rumus Taro Yamane. Dari rumus Taro Yamane tersebut dapat dilakukan perhitungan untuk mencari sampel yaitu :

n =

1

2+

Nd N

keterangan :

n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi

d = Nilai presisi (tingkat kesalahan) 1 = angkat konstan

Dengan demikian perhitungannya :

n =

1 (10%) 777

777

2+

=

1 (0,01) 777

777 + =

1 77 , 7

777 + =

1 77 , 8

777 + = 88,597 = 89


(2)

G.4 Instrument Pengumpulan Data

Adapun instrument pengumpulan data yang digunakan adalah skala yang mana skala ini berisi sekumpulan daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk dijawab (Kinear,1997;285). Menurut Kinear (1997;286) bahwa pengukuran yang dilakukan adalah upaya pendayagunaan bilangan terhadap karakteristik objek atau peristiwa yang sesuia dengan kaidah. Pengukuran menekankan bahwa yang diukur adalah karakteristik objek atau peristiwa. Adapun dalam peristiwa ini yang diukur adalah sikap responden terhadap variable-variable kompensasi. Pengukuran sikap berdasarkan komponen efektif yaitu mengacu pada preferensi dan kesenangan responden terhadap objek atau fenomena.

Komponen efektif, seperti halnya kognitif merupakan aspek penting dan kebutuhan informasi untuk berbagai situasi. Untuk mengukur skala yang digunakan adalah skala interval yaitu skala yang bertujuan untuk membedakan antara kategori-kategori dalam satu variable dengan asumsi bahwa ada urutan atau tingkatan skala. Hal ini melibatkan karakteristik sistim bilangan dari urutan angka.

Skala interval mengukur apakah sebuah objek atau peristiwa mempunyai karakteristik yang lebih banyak atau lebih kecil dari objek atau peristiwa lain. Pengukuran skala interval ini dapat dilakukan dengan skala Likert yang terdiri dari 5 titik atau poin dari:

a. Jawaban (a) diberi skor 5 b. Jawaban (b) diberi skor 4


(3)

c. Jawaban (c) diberi skor 3 d. Jawaban (d) diberi skor 2 e. Jawaban (e) diberi skor 1 H.5 Uji Instrumen Penelitian

Uji instrumen penelitian dilakuka n sebelum teknik analisis data dilakukan. Adapun uji instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

a. Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2001:96) validitas merupakan hasil penelitian dimana terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Pengujian validitas dalam penelitian ini mempergunakan analisis korelasi product moment, dengan mengkorelasikan skor setiap item dengan skor total sebagai jumlah skor item. Rumus korelasi product moment (Sugiyono, 2001:148) sebagai berikut:

rxy = (n X -( X) ) (n Y -( Y) )

Y X -XY n

2 2

2

2 Σ Σ Σ

Σ

Σ Σ Σ

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi

X = Skor butir pertanyaan Y = Total skor


(4)

n = Jumlah subyek b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menguji keajegan hasil pengukuran suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen tersebut apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan hasil yang sama (Sugiono, 2001: 97). Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan formula Alpha Cornbach (Nurgiyantoro, 2000:310) dengan rumus sebagai berikut :

r = k-1 k

Σ

2 2

-1

σ

σ

Keterangan :

r = Koefisien reliabilitas k = Jumah butir pertanyaan σi2 = varian butir pertanyaan σ2 = varian skor tes

Instrumen dikatakan reliabilitas bilamana koefisien reliabilitasnya mencapai 0,60 (Nurgiyantoro, 2000:312). Adapun perhitungan untuk pengujian reliabilitas dilaksanakan dengan bantuan program SPSS.


(5)

G.6 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dengan memberikan kuesioner kepada responden yang sudah disusun oleh peneliti, sehingga diperoleh jawaban responden terkait dengan tujuan penelitian.

G.7 Analisis Data a. Uji hipotesis

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan Uji t. Adapun formulasi uji t dalam penelitian ini menggunakan rumus (Algifari, 2000:9) sebagai berikut:

Sb b t=

dimana :

t = nilai thitung

b = koefisien regresi

Se = standard error koefisien regresi Rumusan hipotesis dinyatakan dengan :

Ho : b= 0 : Apabila thitung < ttabel atau atau -thitung > -ttabel pada taraf α =

0,05 atau probabilitas ≥ 0,05 maka Ho diterima (Hi ditolak) artinya variabel popularitas model iklan mie instan di televisi tidak berpengaruh signifikan terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang pada tingkat kepercayaan 95%.


(6)

Hi : b ≠ 0 : Apabila thitung > ttabel atau -thitung < -ttabel pada taraf α =

0,05 atau probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak (Hi diterima) artinya variabel popularitas model iklan mie instan di televisi berpengaruh signifikan terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang pada tingkat kepercayaan 95%.

b. Regresi Linier Sederhana

Teknik analisis regresi linier sederhana ini dalam penelitian ini dipergunakan untuk mengetahui pengaruh popularitas model iklan mie instan di televisi terhadap minat mengkonsumsi pada masyarakat di perumahan Bukit Cemara Tidar Malang. Adapun model yang digunakan adalah :

Y = a + bX dimana :

Y = Minat mengkonsumsi a = Konstanta

b = Koefisien regresi variabel popularitas model iklan X = Variabel popularitas model iklan


Dokumen yang terkait

Perencanaan Jumlah Produksi Mie Instan Dengan Penegasan (Defuzzifikasi) Centroid Fuzzy Mamdani (Studi Kasus : Jumlah Produksi Indomie di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Tanjung Morawa)

9 87 62

Penetapan Bilangan Asam (Acid Value) Dalam Mie Instan Di PT. Indofood CBP Sukses Makmur tbk. Medan

44 184 26

Iklan Rokok Flava Dan Keputusan Membeli Masyarakat (Studi Korelasional Pengaruh Tayangan Iklan Rokok Flava di RCTI Terhadap Keputusan Membeli Masyarakat Perumahan Cemara Hijau Medan)

2 61 125

PENGARUH TERPAAN IKLAN WRP DI TELEVISI TERHADAP KEINGINAN MENGONSUMSI PRODUK WRP UNTUK MEMBENTUK TUBUH YANG IDEAL (Studi Pada Mahasiswi Di Perumahan Bukit Cemara Tujuh Tahap II RT. 01/RW. 07 Malang)

2 50 3

PENGARUH BELANJA IDENTITAS TERHADAP STATUS SOSIAL MAHASISWI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG (Studi di Kawasan Perumahan Bukit Cemara Tujuh Kota Malang)

1 20 35

PENGARUH SOSIALISASI SAFETY RIDING TERHADAP PERILAKU BERKENDARAAN (Studi Pada Masyarakat Perumahan Bukit Cemara Tujuh)

0 4 1

MOTIF DAN KEPUASAN AUDIENCE PADA PROGRAM BERITA TELEVISI (Studi pada Pirsawan Program Berita Trans TV di Perumahan Bukit Cemara Tidar)

0 13 99

EVALUASI PERENCANAAN PROYEK PADA PERUMAHAN BUKIT CEMARA TIDAR RAYA TYPE 36/88 OLEH PT. MENTARI WASESA GUMILANG

0 4 1

Pengaruh Iklan, Brand Trust, dan Brand Image terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus: Mie Instan Merek Indomie).

1 7 28

Pengaruh citra merek terhadap minat beli produk mie instan "Pop Mie" studi kasus: konsumen produk mie instan "Pop Mie" di Kampus II Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta.

3 10 94