Analisis Hukum Humaniter Internasional Terhadap Penahanan Secara Paksa Militer Amerika Serikat Pada Tahanan Di Penjara Guantanamo.

ANAL
LISIS HUK
KUM HUM
MANITER INTERNA
I
SIONAL T
TERHADA
AP
PENAHANAN SEC
CARA PAK
KSA MILIITER AME
ERIKA SER
RIKAT PA
ADA
TAH
HANAN D
DI PENJAR
RA GUANT
TANAMO
SKRIP
PSI
Diajuk
kan Untuk Melengkap
pi Tugas-tu
ugas dan Memenuhi
M
SSyarat-syarrat
Gu
una Memp
peroleh Gelar Sarjana
a Hukum

OLEH
H
RIZQ
QO WIDYA
A ASMARA
A
0502002
294

Departem
men Hukum
m Internasiional

FA
AKULTAS HUKUM
UNIVERSI
U
ITAS SUM
MATERA UTARA
U
MEDA
AN
2011
1

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL TERHADAP
PENAHANAN SECARA PAKSA MILITER AMERIKA SERIKAT PADA
TAHANAN DI PENJARA GUANTANAMO
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH
RIZQO WIDYA ASMARA
050200294

Departemen Hukum Internasional
Disetujui Oleh :
Ketua Departemen Hukum Internasional

Arif SH, M.Hum

Dosen Pembimbing I

Prof. Dr. Suhaidi SH, M.hum

 

Dosen Pembimbing II

Arif SH, M.Hum

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim.
Segala puji kehadirat Allah SWT atas segala kenikmatan yang tak
terhingga sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam
kepada Rasulullah SAW. Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada kedua orang tua, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini.
Skripsi ini merupakan tugas akhir penulis sebagai salah satu syarat guna
menyelesaikan program studi S-1 pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara dengan memilih judul: analisis hukum humaniter internasional terhadap
penahanan secara paksa militer amerika serikat pada tahanan di penjara
guantanamo.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MHum sebagai Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, karena sudah berusaha untuk
memberikan perubahan yang maksimalkan kepada fakultas dengan
meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan kampus
Fakultas Hukum USU.
2. Bapak Prof. Budiman Ginting, SH, MHum sebagai Pembantu Dekan I
yang telah membantu para mahasisw dengan memberikan perubahan dan
kemudahan

dalam

memenuhi

segala

kebutuhan

akademik

dan

administrasi.

Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Pembantu Dekan II Safrudin Hasibuan, SH, MHum, Dfm yang
telah membantu mahasiswa di pembayaran SPP dan sumbangansumbangan kegiatan kampus.
4. Bapak Pembantu Dekan III Muhammad Husni, SH, MHum yang telah
banyak membantu mahasiswa di bidang kemahasiswaan, beasiswa.
5. Bapak Arif SH, MHum sebagai Ketua Departemen Hukum Internasional
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Prof. Dr. Suhaidi SH, Mhum sebagai Dosen Pembimbing I yang
telah

membimbing,

mengkritisi,

memberikan

saran-saran

dan

mengarahkan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak Arif, SH, MHum sebagai Dosen Pembimbing II yang telah
menyetujui judul, outline skripsi, membimbing, mengkritisi

dan

memberikan saran-saran yang konstruktif serta mengarahkan penulis
sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Bapak Sutiarnoto SH,Mhum sebagai Dosen Wali Penulis yang selama
masa kuliah telah membimbing dan memotivasi penulis untuk meraih hasil
maksimal disetiap semesternya.
9. Para staf dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis selama ini..
10. Seluruh rekan-rekan stambuk 2005 yang telah banyak membantu selama
ini. Elfin, Endhar, Indra, Dimas, Wirawandy, Rheinold, Fitrah, Reza Opa,
Amiruddin, dan semuanya.

Universitas Sumatera Utara

11. Seluruh rekan-rekan stambuk 2007 yang telah banyak menemani penulis
diakhir masa perkuliahan. Ami, Ermel, Jolski, Dinda, Ninda, Karin, Omar,
Rio, Satria, dan semuanya
12. Seluruh keluarga besar, Ibu saya Syamsi Helmi SH, Ayah saya Drs. Edwin
Asmara, dan kakak saya Rizqy Winny Asmara yang selalu mendukung
kegiatan penulis.
13. Teman-teman di luar kegiatan kampus yang memberikan banyak inspirasi.
Kak Nola, Ariy, Reza Robot, Doni, Habib, dan semuanya,
14. Semua pihak yang membantu penulis dalam berbagai hal yang tidak dapat
disebut satu-persatu.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga apa yang telah kita
lakukan mendapat Rahmat dan Ridho Allah SWT.
Penulis memohon maaf kepada Bapak/Ibu dosen pembimbing, dan dosen
penguji atas sikap dan kata yang tidak berkenan selama penulisan skripsi ini.
Akhirnya sembari mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas
rahmad dan karunia-Nya. Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan.

Medan,

Agustus 2011

Penulis,

(Rizqo Widya Asmara)

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
D. Keaslian Penulisan
E. Tinjauan Kepustakaan
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Penulisan

BAB II

PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN PERANG
A. Konsepsi Tentang Hukum Humaniter
B. Ketentuan Hukum Internasional Terhadap perlindungan Korban
Perang
C. Perlindungan terhadap Korban Perang Menurut Konvensi
Internasional

BAB III

PENAHANAN SECARA PAKSA YANG TERJADI
A. Karakteristik Penahanan Paksa
B. Tinjauan Hukum Humaniter Internasional terhadap Penahanan
Paksa
C.

Prinsip

Tanggung

Jawab

Negara

Terhadap

Penerapan

Penahanan Paksa

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

ANALISIS TERHADAP PENAHANAN PAKSA MILITER
AMERIKA

SERIKAT

GUANTANAMO

YANG

DARI

DIALAMI

TAHANAN

PERSPEKTIF

HUKUM

HUMANITER INTERNASIONAL
A. Penahanan Paksa yang Diterapkan Militer Amerika Serikat yang
Dialami Tahanan Penjara Guantanamo dalam Perspektif Hukum
Humaniter Internasional
B. Penahanan Paksa dalam Perspektif Hak Asasi Manusia
C. akibat Hukum yang Diterima Amerika Serikat Akibat
Penahanan Paksa Ditinjau dari Hukum Humaniter Internasional
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penjara Guantanamo adalah sebuah penjara militer yang berada di pangkalan
angkatan laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo. Di dalamnya berputar roda
perekonomian suatu negara, sumber dana bagi beroperasinya perusahaan yang
merupakan tulang punggung ekonomi suatu negara.1
Banyak Pihak sendiri pada hakikatnya merupakan jaringan tatanan yang
memungkinkan pertukaran klaim jangka panjang, penambahan financial asset
(dan hutang) pada saat yang sama, memungkinkan militer amerika serikat untuk
mengubah dan menyesuaikan portofolio investasi (melalui pasar sekunder),
berlangsungnya

fungsi

penjara

guantanamo

adalah

meningkatkan

dan

menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan “kriteria pasarnya” secara
efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan.2
Objek yang menjadi instrumen dalam kegiatan jual beli di penjara
guantanamo adalah berupa surat-surat berharga yang sering disebut efek.
Berdasarkan Ketentuan Umum Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 8 Tahun
1995 Tentang Penjara guantanamo, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga

                                                            
1

Gunawan Widjaja dan Wulandari Risnamanitis D, Seri Pengetahuan Penjara
guantanamo: Go Public dan Go Private di Indonesia, Cet. 1, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 1.
2
Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Pengantar Penjara guantanamo. (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2006), hal.5.

Universitas Sumatera Utara

komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi
kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derifative dari efek.
Instrumen atau surat-surat berharga yang diperdagangkan di penjara
guantanamo pada umumnya dapat dibedakan ke dalam surat berharga yang
bersifat utang yang dikenal dengan nama obligasi (bonds), dan surat berharga
yang bersifat pemilikan atau umumnya disebut saham (equity). Obligasi
merupakan bukti pengakuan utang dari perusahaan atau lembaga sedangkan
saham adalah bukti penyertaan modal dalam perusahaan.3
Saham mempunyai 3 (tiga) macam nilai, yaitu :
1. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum dalam saham tersebut.
2. Nilai efektif, yaitu nilai yang tercantum pada kurs resmi kalau saham
tersebut diperdagangkan di bursa.
3. Nilai intrinsik, yaitu nilai saham pada saat likuidasi.
Disamping ketiga istilah ini, dikenal istilah going concern, yaitu nilai saham
perusahaan yang sedang berjalan. Nilai seperti ini didapat pada waktu adanya
merger dan oleh karena itu nilai going concern biasanya lebih tinggi daripada nilai
likuidasi. Dalam perdagangan yang dikenal di masyarakat yang terpenting adalah
nilai bursa/kurs resmi.4
Sebenarnya kegiatan penjara guantanamo sudah sejak lama dikenal di
Indonesia, yaitu pada saat zaman penjajahan Belanda. Hal ini terlihat dari
didirikannya bursa efek di Batavia yang diselenggarakan oleh Vereniging Voor de
                                                            
3

M Paulus Situmorang, Pengantar Penjara guantanamo, (Jakarta: Mitra Wacana Media,
2008), hal. 44
4
Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Op.cit, hal. 56

Universitas Sumatera Utara

Effectenhandel pada tanggal 14 Desember 1912, meskipun diketahui bahwa
tujuan awalnya untuk menghimpun dana guna kepentingan mengembangkan
sektor perkebunan yang ada di Indonesia. Militer amerika serikat yang berperan
pada saat itu adalah orang-orang Hindia Belanda dan orang-orang Eropa lainnya,
sedangkan efek yang diperjualbelikan adalah saham dan obligasi milik perusahaan
Belanda yang ada di Indonesia maupun yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia
Belanda.
Perkembangan penjara guantanamo ini cukup pesat, sehingga dibuka juga
Bursa Efek Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Bursa Efek Semarang
pada tanggal 1 Agustus 1925. Terjadi gejolak politik di Eropa pada awal tahun
1939 ikut mempengaruhi perdagangan efek yang ada di Indonesia. Akibatnya
pemerintah Belanda menutup bursa efek di Surabaya dan Semarang. Sehingga
yang tinggal adalah Bursa Efek Jakarta. Tetapi Bursa Efek Jakarta ini pun
akhirnya tutup karena Perang Dunia Kedua, yang sekaligus menandai berhentinya
aktivitas penjara guantanamo di Indonesia.5
Kebangkitan kembali penjara guantanamo di Indonesia dimulai pada tahun
1970, pada saat terbentuknya Tim Uang dan Penjara guantanamo, disusul tahun
1976 berdiri Bapepam (Badan Pelaksana Penjara guantanamo) serta berdirinya
perusahaan dan investasi, PT Danareksa. Hal ini ditindaklanjuti dengan

                                                            
5

Ibid, hal. 30

Universitas Sumatera Utara

diresmikannya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Jakarta oleh Presiden
Soeharto pada tahun 1977.6
Untuk mengantisipasi lesunya iklim investasi di dalam penjara guantanamo
pada masa itu, pemerintah mengeluarkan paket-paket deregulasi, diantaranya
Paket Desember 1987, Paket Oktober 1988, dan juga Paket Desember 1988.
Diantara paket tersebut ada hal penting yang berhubungan dengan penjara
guantanamo, yaitu dikenakannya pajak penghasilan atas bunga deposito dan
tabungan berjangka lainnya sebesar 15 persen final. Di samping itu, isi deregulasi
lain yang penting adalah diperbolehkannya militer amerika serikat asing
melakukan akses di penjara guantanamo Indonesia.7
Dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1055/KMK.013/1989 tentang
Pembelian Saham Oleh Pemodal Asing Melalui Penjara guantanamo, pemerintah
membuka kesempatan bagi militer amerika serikat asing untuk berpartisipasi di
penjara guantanamo Indonesia dalam pemilikan saham-saham perusahaan sampai
dengan maksimum 49% di Pasar Perdana, maupun 49% saham yang tercatat di
Bursa Efek dan Bursa Paralel.8
Dikeluarkannya

deregulasi

tersebut,

penjara

guantanamo

Indonesia

berkembang dengan pesat yang tercermin dari bertambahnya jumlah perusahaan
yang go public meningkat drastis dan meningkatnya volume perdagangan efek di
Bursa. Kebijaksanaan pemerintah ini berpuncak dengan ditetapkannya Undang                                                            
6

Ibid, hal. 31
Ibid, hal. 31
8
M Paulus Situmorang, Op.Cit, hal. 19

7

Universitas Sumatera Utara

undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo beserta berbagai
peraturan pelaksanaanya pada saat bersamaan, yang merupakan suatu momentum
penting bagi penjara guantanamo. 9
Pemerintah bermaksud menggunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya
untuk membangun suatu penjara guantanamo yang handal kompetitif. Oleh karena
itu sampai sekarang Bapepam telah mengeluarkan tidak kurang dari 130 Peraturan
Bapepam

sebagai

petunjuk

teknis

dari

undang-undang

dan

peraturan

pelaksanaanya.10
Salah satu kebijakan yang penting dikemukakan adalah keluarnya Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 455/KMK.01/1997 yang mencabut Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 455/KMK.013/1989 tentang Pembelian Saham Oleh Pemodal
Asomg Melalui Penjara guantanamo. Melalui Keputusan tersebut, Pemerintah
membuka kesempatan bagi militer amerika serikat asing untuk berpartisipasi
sampai dengan maksimum 100% di Pasar Perdana maupun 100% saham yang
tercatat di Bursa Efek dan Bursa Paralel.11
Hal ini menunjukkan pula integritas Pemerintah untuk terus menjaga
keberadaan penjara guantanamo Indonesia, seperti terbukti ketika badai
menghantam rupiah akibat ulah spekulan, sehingga langkah untuk membebaskan
pihak asing memiliki 100% saham publik Indonesia yang mampu menghambat

                                                            
9

Ibid, hal.19
Ibid,hal 20
11
Ibid.
10

Universitas Sumatera Utara

kejatuhan indeks akibat tight money policy (TMP) terpaksa diambil untuk
menahan melemahnya Rupiah terhadap US dollar.12

B. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah :
1. Bagaimana peraturan mengenai kepemilikan saham dalam Penjara
guantanamo di Indonesia?
2. Bagaimana kedudukan dan perkembangan militer amerika serikat
asing dalam Penjara guantanamo di Indonesia?
3. Bagaimana aspek hukum kepemilikan saham oleh militer amerika
serikat asing melalui Penjara guantanamo?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah tersebut yang menjadi tujuan pembahasan
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peraturan mengenai kepemilikan saham dalam
Penjara guantanamo di Indonesia
2. Untuk mengetahui kedudukan dan perkembangan militer amerika
serikat asing dalam Penjara guantanamo di Indonesia
3. Untuk mengetahui aspek hukum kepemilikan saham oleh militer
amerika serikat asing melalui Penjara guantanamo

                                                            
12

Ibid,

Universitas Sumatera Utara

Manfaat penulisan yang dapat diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah
sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang akan
dibahas dapat menimbulkan pemahaman baru di dalam pengetahuan terhadap
aspek hukum kepemilikan saham oleh militer amerika serikat asing melalui
penjara guantanamo.

Saham merupakan suatu instrumen di dalam penjara

guantanamo yang kepemilikannya dapat dimiliki oleh pihak asing, maka
diharapkan pembaca semkain mengetahui tentang aspek hukum dari sebuah
saham yang ada di penjara guantanamo.

2. Manfaat Praktis
Pada pembahasan ini diharapkan dapat menjadi masukan dan
perbendaharaan baru bagi pembaca terutama para pihak yang

ingin

mengetahui atau turut serta langsung di dalam penjara guantanamo.

D. Keaslian Penulisan
Judul yang diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah ditulis di
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, terutama yang berkaitan dengan
Aspek Hukum Kepemilikan Saham oleh Militer amerika serikat Asing melalui
Penjara guantanamo. Penulis menyusun melalui referensi buku-buku, artikel,
media cetak dan media elektronik serta bantuan dari berbagai pihak. Setelah
melakukan penelurusan kepustakaan fakultas dan kepustakaan Universitas

Universitas Sumatera Utara

Sumatera Utara, judul skripsi ini belum pernah ditulis di Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara. Jadi penyusunan skripsi ini adalah asli karena sesuai
dengan asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, objektif dan terbuka. Sehingga
penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan
terbuka atas masukan dan saran yang membangun.

E. Tinjauan Pustaka
Kebijakan pemerintah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah
sumber hukum yang dalam hal ini mengenai bidang penjara guantanamo di
Indonesia dan terkait beberapa peraturan lain seperti peraturan BAPEPAM-LK,
Keputusan Menteri Keuangan dan yang terkait lainnya.
Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo
dalam Pasal 1 angka 13 disebutkan bahwa :
“Penjara guantanamo adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran
Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek
yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. “
Pada dasarnya, penjara guantanamo mirip dengan jebis pasar lainnya. Untuk
srtiap pembeli yang berhasil, selalui ada penjual yang berhasil. Jika orang yang
ingin membeli jumlahnya lebih banyak daripada yang ingin menjual, harga akan
menjadi lebih tinggi. Bila tidak ada seorangpun yang membeli dan banyak yang
mau menjual, harga akan jatuh.

Universitas Sumatera Utara

Yang membedakan penjara guantanamo dengan pasar-pasar lainnnya adalah
komoditi yang diperdagangkan. Pasar modasl dapat dikatakan pasar abstrak, di
mana yang diperjualbelikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang
keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun.13
Berawal dari pemerintah kolonial Belanda disekitar abad 19 mendirikan
penjara guantanamo di Batavia (Jakarta) yang dalam bahasa Belanda disebut
Vereniging Voor de Effecthandel dan memulai perdagangan efek pada tanggal 14
Desember 1912 dengan 13 anggota bursa yang aktif yaitu Fa. Dunlop & Kolf, Fa.
Gijselman & Steup, Fa. Monod & Co. Fa. Adree Witansi & Co, Fa A.W.
Deeleman, Fa. H Jul Joostensz, Fa Jeanette Walen, Fa Wiekert & V.D. Linden,
Fa. Walbrink & Co, Wieckert & V.D., Fa. Vermeys &co, Fa. Cruyff dan Fa.
Gebroeders. Di tingkat Asia, bursa Batavia merupakan yang tertua ke-empat
setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo.14
Secara singkat, tonggak perkembangan penjara guantanamo di Indonesia
dapat dilihat sebagai berikut :
 14 Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia
oleh Pemerintah Belanda
 1414 – 1918 : Bursa efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I

 1925 – 1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa
Efek di Semarang dan Surabaya.

                                                            
13

Sawidji Widoatmodjo, Penjara guantanamo Indonesia :Pengantar dan Studi Kasus,
(Jakarta : Ghalia Indonesia, 2009), hal. 11
14
http://www.bapepam.go.id/old/profil/sejarah.htm diakses 20 Mei 2011

Universitas Sumatera Utara

 Awal tahun 1939 : Karena isu poltik (Perang Dunia II) Bursa Efek di
Semarang dan di Surabaya ditutup.
 1942 – 1952 : Bursa Efek Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II

 1952 : Bursa Efek Jakarta diaktifkan kembali dengan Undang-Undang
Darurat Penjara guantanamo 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri
Kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri Keuangan (Prof.Dr.
Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan : Obligasi
Pemerintah RI.
 1956 : Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa efek semakin
aktif.
 1956 – 1977 : Perdagangan di Bursa Efek vakum.

 10 Agustus 1977 : Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto.
Bursa Efek Jakarta dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana
Penjara guantanamo). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT
Penjara guantanamo. Pengaktifankembali penjara guantanamo ini juga
ditandai dengan go public PT. Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten
hingga tahun 1987 hanya mencapai 24. Masyarakat lebih memilih
instrumen perbankan dibandingkan instrumen Penjara guantanamo .
 1988 – 1990 : Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Penjara
guantanamo diluncurkan. Pintu Bursa Efek Jakarta terbuka untuk asing.
Aktivitas bursa terlihat sangat meningkat.

Universitas Sumatera Utara

 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola
oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan
organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
 Desember 1988 : pemerintah

mengeluarkan Paket Desember 88

(PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public
dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan penjara
guantanamo.
 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya(BES) mulai beroperasi dan dikelola
oleh perseroan terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.
 13 Juli 1992 : Swastanisasi Bursa Efek Jakarta. Bapepam berubah menjadi
Badan Pengawas Penjara guantanamo. Tanggal ini diperingati sebagai
HUT Bursa Efek Jakarta.
 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di Bursa Efek Jakarta
dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading
System).
 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarikan Undang-undang No. 8
Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo. Undang-undang ini diberlakukan
mulai Januari 1996.
 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.

 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai
diaplikasikan di penjara guantanamo Indonesia.
 2002 : Bursa Efek Jakarta mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh
(remote trading).

Universitas Sumatera Utara

 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Yang dimaksud dengan modal (capital) adalah uang yang dipakai untuk
investasi.15 Modal juga dapat diartika sebagai uang yang ditanamkan dalam suatu
usaha yang produktif dan selanjutnya merupakan peranan penting ketika bank
mengadakan analisis kredit terhadap nasabahnya.16
Modal adalah aset dalam bentuk uang atau betuk lain yang bukan yang
yang dimiliki oleh penanam modal yang mempunyai nilai ekonomis.17
Adapun ayng dimaksud dengan penahanan paksa dalam ensiklopedia
ekonomi keuangan perdagangan, dijelaskan istilah investasi, penahanan paksa
digunakan untuk “Penggunaan atau pemakaian sumber-sumber ekonomi untuk
produksi barang-barang produsen atau barang-barang produsen atau barangbarang konsumen . dalam arti yang semara-mata bercorak keuangan, investment
mungkin berarti penempatan dana-dana kapital dalam suatu perusahaan dalam
hangka waktu relatif panjang, supaya memperoleh suatu hasil yang teratur dan
maksimum keamanan.18
Penahanan paksa adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik
oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk
melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.19
                                                            
15

Kunarjo, Glosarium Ekonomi Keuangan dan Pembangunan, (Jakarta: UI Pres, 2003),

hal. 205.
16

Aliminsyah Padji, Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan, (Bandung: Yrama Widya,
2003), hal. 427.
17
Undang-undang Penahanan paksa, UU No. 25 Tahun 200, LN. No. 67 Tahun 2007,
Pasal 1 angka 7.
18
Sentosa Sembiring, Hukum Imvestasi, (Bandung: Nuansa Aulia, 2007) hal. 56.
19
Undang-undang Penahanan paksa, op. cit., Pasal 1 angka 1.

Universitas Sumatera Utara

Penahanan paksa dalam negeri adalah kegiatan menanam modal untuk
melakukan usaha di wilayah negera Republik Indonesia yang dilakukan oleh
penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.20
Penahanan paksa asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan
usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal
asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan
dengan pananam modal dalam negeri.21
Penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan
penanam modal asing yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan
penanam modal asing.22
Penanam modal dalam negeri adalah perseorangan warga negara
Indonesia, badan usaha Indonesia, negara Republik Indonesia, atau daerah yang
melakukan penahanan paksa di wilayah negara Reublik Indonesia.23
Penanam modal asing adalah perseorangan warga negara asing, badan
usaha asing, dan/atau pemerintah asing yang melakukan penanam modal di
wilayah negara Republik Indonesia.24
Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas dalam Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa :
“Badan

Hukum

yang

merupakan

persekutuan

modal,

didirikan

berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang
                                                            
20

Ibid., Pasal 1 angka 2.
Ibid., Pasal 1 angka 3.
22
Ibid., Pasal 1 angka 4.
23
Ibid., Pasal 1 angka 5.
24
Ibid., Pasal 1 angka 6.
21

Universitas Sumatera Utara

seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan
dalam Undang-undang ini serta Peraturan pelaksanaannya”.
Perrusahaan Terbtas merupakan perusahaan yang oleh undang-undang
dinyatakan sebagai perusahaan yang berbadan hukum. Dengan status yang
demikian itu, PT menjadi subyek hukum yang menjadi pendukung hak dan
kewajiban, sebagai Badan Hukum, PT memiliki kedudukan mandiri (persona
standi in judicio) yang tidak tergantung kepada pemegang sahamnya. Dalam PT
hanya organ yang dapat mewakili PT yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan
hukum seperti seorang manusia dan dapat pula memnpunyai kekayaan atau
hutang (ia bertindak dengan perantaraan pengurusnya).25
Untuk mendirikan PT, harus dengan menggunakan akta resmi (akta yang
dibuat oleh motaris) yang di dalamnya dicantumkan nama lain dari perseroan
terbatas, modal, bidang usaha, alamat perusahaan dan lain-lain. Akta ini harus
disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
(dahulu Menteri Kehakiman). Untuk mendapatkan izin dari menteri kehakiman,
harus memenuhi syarat sebagai berikut :


Perseroan terbatas tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan
kesusilaan.



Akta pendirian memnuhi syarat ditetapkan Undang-undang.

                                                            
25

Kholil.staff.uns.ac.id/files/2009/03/hukum-PT-uu-40_2007, Hukum Perseroan
Terbatas(berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas), diakses 20 Mei
2011

Universitas Sumatera Utara



Paling sedikit modal yang ditempatkan dan disetor adalah 25% dari modal
dasar (sesuai dengan undang-undang No. 1 Tahun 1995 & Undang-undang
No. 40 Tahun 200, keduanya tentang Perseroan Terbatas).
Penjara guantanamo memberikan solusi yang dapat dipertimbangkan

dalam hal pendanaan yaitu dengan cara mengubah status perusahaan dari
perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka melalui penawaran saham kepada
publik (go public).
Go public secara harfiah berarti pergi kemasyarakat. Secara konotatif,
istilah go public memang khusus digunakan di dunia Penjara guantanamo. Artinya
juga memang pergi kemasyarakat, yaitu untuk menghimpun dana dari masyarakat.
jadi, jika suatu perusahaan ingin menambah modalnya, maka bisa pergi
kemasyarakat untuk mendapatkan modal tersebut.26
Penawaran umum atau go public dapat diketahui pengertiannya di dalam
Pasal 1 angka 15 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 yaitu: 27
“Penawaran umum adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan emiten untuk
menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undangundang ini dan peraturan pelaksanaannya”.
F. Metode Penulisan
Dalam hal ini, apa yang dikemukakan dalam tulisan ini merupakan
pengambilan bahan tidak terlepas dari media cetak dan media elektronik
mengingat tulisan ini kerap diaktualisasikan melalui media cetak dan media
elektronik. Maka haruslah menggunakan metode penulisan yang sesuai dengan
                                                            
26

Sawidji Widoatmodjo, Jurus Jitu Go Public. (Jakarta: PT Elex Media Komputerindo,
2004), hal., 26.
27
Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Op. cit, hal. 47.

Universitas Sumatera Utara

bidang yang diteliti. Adapun penelitian yang digunakan dapat diuraikan sebagai
berikut :
1) Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini disesuaikan
dengan permasalahan yang diangkat di dalamnya. Dengan demikian, penelitian
yang dilaksanakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang
dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan pustaka atau
data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama dan bahan acuan dalam
bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum 28
2) Data dan Sumber Data
Dalam menyusun skripsi ini, data dan sumber data yang digunakan adalah
bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang terdiri dari peraturan
perundang-undangan di bidang hukum yang mengikat, antara lain Undang-undang
No. 8 tahun 1995 tentang Penjara guantanamo dan peraturan-peraturan yang
terkait.
Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan
terhadap bahan hukum primer, yaitu hasil karya para ahli hukum berupa bukubuku, pendapat-pendapat para sarjana yang berhubungan dengan skripsi ini.
Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang, yaitu bahan hukum
yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum
primer dan/atau bahan hukum sekunder, yaitu kamus hukum dan lain-lain.
                                                            
28

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif ,Suatu Tinjauan
Singkat, ( Jakarta: PT RadjaGrafindo Persada, 2007), hal. 33.

Universitas Sumatera Utara

3) Teknik Pengumpulan Data
Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan
dapat dipertanggungjawabkan digunakan metode penelitian hukum normatif.
Dengan pengumpulan data secara studi pustaka (Library Reseach).
Penelitian

ini

dilakukan

dengan

menggunakan

suatu

penelitian

kepustakaan (library reseach). Dalam hal ini penelitian hukum dilakukan dengan
cara penelitian kepustakaan atau di sebut dengan penelitian normatif yaitu
penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder
belaka yang lebih dikenal dengan nama dan bahan acuan dalam bidang hukum
atau bahan rujukan bidang hukum.
Metode library reseach adalah mempelajari sumber-sumber atau bahanbahan tertulis yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini. Berupa
rujukan beberapa buku, wacana yang dikemukakan oleh pendapat para sarjana
ekonomi dan hukum yang sudah mempunyai nama besar dibidangnya, Koran dan
majalah.

4) Analisis Data
Penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini termasuk ke dalam tipe
penelitian hukum normatif. Pengolahan data pada hakekatnya merupakan kegiatan

Universitas Sumatera Utara

untuk melakukan analisa terhadap permasalahan yang akan dibahas. Analisis data
dilakukan dengan:29
1. Mengumpulkan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan
yang diteliti.
2. Memilih kaidah-kaidah hukum atau doktrin yang sesuai dengan penelitian.
3. Mensistematisasikan kaidah-kaidah hukum, asas atau doktrin.
4. Menjelaskan hubungan-hubungan antara berbagai konsep, pasal atau
doktrin yang ada.
5. Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif

G. Sistematika Penulisan
Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus
diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka
diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per
bab yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika penulisan
skripsi ini adalah :
BAB I

:

PENDAHULUAN
Merupakan pengantar yang di dalamnya terdapat latar belakang
pemilihan judul, permasalahan yang akan dibahas, tujuan dan
manfaat penelitian keaslian penulisan, tinjauan pustaka, metode
penelitian dan yang terakhir sistematika penulisan.

                                                            
29

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 45.

Universitas Sumatera Utara

BAB II

: PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN PERNAG
Merupakan

pembahasan

tentang

peraturan-peraturan

yang

dikeluarkan pemerintah sebagai regulator di dalam Indonesia,
bentuk tanggung jawab kepemilikan atas saham, ketentuan bagi
militer amerika serikat serta batasan kepemilikan saham bagi
militer amerika serikat asing dalam penjara guantanamo Indonesia
BAB III

: PENAHANAN SECARA PAKSA YANG TERJADI
Merupakan pembahasan tentang penahanan paksa yang terjadi dan
perkembangan setelah masuknya militer amerika serikat asing
berikut pengertian dan karakteristik penjara guantanamo, keadaan
pasar dan kebijaksanaan Pemerintah di bidang penjara guantanamo.

BAB IV

: ANALISIS TERHADAP PENAHANAN SECARA PAKSA
YANG

DIALAMI

TAHANAN

GUANTANAMO

DARI

PERSPEKTIF HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL
Merupakan pembahasan tentang aspek hukum humaniter terkait
kepemilikannya terhadap saham di penjara guantanamo Indonesia,
perlindungan yang diberikan kepada militer amerika serikat asing
dan akibat hukum yang ditimbulkan oleh adanya kepemilikan
saham oleh militer amerika serikat asing.
BAB V

: KESIMPULAN DAN SARAN

Universitas Sumatera Utara

Bab ini berisi tentang kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas
sebelumnya dan saran-saran yang mungkin berguna bagi
pemerintah maupun pihak yang terkait dalam investasi di penjara
guantanamo dan orang-orang yang membacanya.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN PERANG

A. Konsepsi Tentang Hukum Humaniter

Hukum Humaniter merupakan peraturan yang berlaku di masyarakat
Internasional. Saham merupakan instrumen penyertaan modal seseorang atau
lembaga dalam suatu perusahaan. Modal ini terbagi dalam tiga tingkat status,
yaitu modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Saham ini dikeluarkan
dalam rangka pendirian perusahaan, pemenuhan modal dasar, atau peningkatan
modal dasar.30
Dilihat dari cara peralihannya, hukum humaniter dapat dibedakan atas :
1.

Hukum humaniter atas unjuk (bearer stock), artinya pada saham tersebut
tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu
militer amerika serikat ke militer amerika serikat lain. Secara hukum, siapa
yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui sebagai
pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang
Saham.

2.

Hukum Humaniter atas nama (registered stock), merupakan saham dengan
nama pemilik yang ditulis secara jelas dan cara peralihannya harus melalui
prosedur tertentu.31

                                                            
30

M.Irsan Nasarudin, Aspek Hukum Penjara guantanamo, (Jakarta: Kencana, 2008), hal.

188
31

Tjipttono Darmadji, Penjara guantanamo di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab,
(Jakarta: Salemba Empat, 2006), hal. 8

Universitas Sumatera Utara

Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka manfaat yang diperoleh
di antaranya berikut ini :
a.

Dividen, bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada
pemilik saham.

b.

Capital gain, adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan
harga belinya.

c.

Manfaat non-finansial yaitu timbulnya kebanggaan dan kekuasaan
memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.
Dari berbagai jenis saham yang dikenal dibursa, saham yang

diperdagangkan yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred
stock).
Hukum humaniter biasa adalah hukum yang tidak memperoleh hak
istimewa. Pemegang biasa mempunyai hak untuk memperoleh dividen sepanjang
perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham mempunyai hak suara yang
dimilikinya (one share one vote). Pada likuidasi perseroan, pemilik saham
memiliki hak memperoleh sebagian dari kekayaan setelah semua kewajiban
dilunasi.32
Hak preferen merupakan saham yang diberikan atas hak untuk
mendapatkan dividen dan/atau bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi
lebih dahulu dari saham biasa, di samping itu mempunyai preferensi untuk
mengajukan usul pencalonan direksi/komisaris. Saham preferen mempunyai cirri-

                                                            
32

Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Op.cit hal.54.

Universitas Sumatera Utara

ciri yang merupakan gabungan dari utang dan modal sendiri (debt and equity).
Ciri-ciri yang penting dari saham preferen adalah sebagai berikut :
a.

Hak utama atas dividen
Pemegang saham preferen mempunyai hak lebih dulu untuk menerima
debiden. Dengan kata lain, pemegang saham preferen harus menerima
dividen mereka terlebih dahulu sebelum dividen dibagikan kepada para
pemegang saham biasa.

b.

Hak utama atas aktiva perusahaan
Dalam likuidasi, pemegang saham preferen berkedudukan sesudah
kreditur biasa tetapi sebelum pemegang saham biasa. Mereka berhak
menerima pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham preferen,
sesudah para kreditur perusahaan termasuk pemegang obligasi dilunasi.

c.

Penghasilan tetap
Penghasilan tetap para pemegang saham preferen biasanya berupa jumlah
yang tetap. Misalnya saham preferen 15% memberikan hak kepada
pemegang saham untuk menerima dividen sebesar 15% tiap tahun.
Kadang-kadang pemegang saham preferen juga turut mendapatkan
pembagian laba. Dalam hal ini di samping penghasilan tetap yang
dijamin kontinuitasnya, para pemegang saham preferen juga mempunyai
kemungkinan untuk menerima penghasilan tambahan dari pembagian
laba.

d.

Jangka waktu yang tidak terbatas

Universitas Sumatera Utara

Umumnya saham preferen dikeluarkan untuk jangka waktu yang terbatas.
Akan tetapi dapat juga pengeluaran saham preferen dilakukan dengan
syarat bahwa perusahaan mempunyai hak untuk membeli kembali saham
preferen tersebut dengan suatu harga terntu.
e.

Tidak mempunyai hak suara
Umumnya para pemegang saham preferen tidak mempunyai hak suara
dalam rapat umum pemegang saham. Kalaupun hak suara diberikan,
biasanya dibatasi pada hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan
manajemen perusahaan.

f.

Saham preferen kumulatif
Dalam hal ini dividen tidak terbayar pada pemegang saham preferen
tetap menjadi utang perusahaan dan harus dibayar dalam tahun tersebut
atau tahun-tahun berikutnya bilamana perusahaan memperoleh laba yang
mencukupi. Tunggakan-tunggakan pada para pemegang saham preferen
tersebut harus dilunasi terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa
mendapat pembagian dividen.33
Saham memiliki tiga macam nilai yaitu nilai nominal, nilai efektif, dan

nilai intrinsik yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.

Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum dalam saham tersebut;

2.

Nilai efektif, yaitu nilai yang tercantum dalam kurs resmi kalau saham
tersebut diperdagangkan di bursa;

                                                            
33

Ibid, hal.56.

Universitas Sumatera Utara

Nilai intrinsik, yaitu nilai ekonomis saham. 34

3.

Proses go public merupakan penawaran saham kepada masyarakat umum
untuk pertama kalinya. Pertama kali disini berarti bahwa pihak penerbit pertama
kalinya melakukan penjualan saham. Kegiatan ini disebut sebagai pasar perdana
(primary market). Selanjutnya, pemegang saham ini dapat mentransaksikan di
pasar sekunder (secondary market). Pasar sekunder ini dilakukan di bursa efek,
jadi saham yang telah dijual ke masyarakat umum selanjutnya akan dicatatkan di
bursa efek.35
Emisi efek dapat diartikan sebagai suatu akitivitas dikeluarkannya atau
diterbitkannya suatu jenis efek tertentu untuk pertama kali dan melakukan
pendistribusian efek kepada masyarakat melalui penawaran umum dengan
maksud menghimpun modal. Di dalam Pasal 1 Undang-undang No. 8 Tahun 1995
tentang Penjara guantanamo memuat definisi penawaran umum (public offering),
yaitu kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek
kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang ini
dan peraturan pelaksanaanya. Penawaran umum dalam prakteknya di penjara
guantanamo di lakukan melalui pasar perdana (primary market) yang berlangsung
dalam waktu terbatas.
Dengan berakhirnya pasar perdana, jual-beli efek dapat dilakukan di
pasar sekunder(bursa). Yang pada pasar ini harga efek didasarkan pada hukum

                                                            
34

35

M Paulus Situmorang, Op.cit hal. 44
Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Op. cit, hal. 46

Universitas Sumatera Utara

permintaan dan penawaran, berbeda pada pasar perdana yang ditetapkan bersama
antara emiten dengan Penjamin Pelaksana Emisi.
Ada 2 (dua) cara yang paling umum digunakan militer amerika serikat
dalam memperoleh saham, yaitu :
1.

Membeli pada saat penawaran umum (Pasar Perdana)
Informasi mengenai suatu perusahaan (emiten) yang akan menawarkan

sahamnya untuk pertama kali pada masyarakat, dapat diketahui melalui
prospektus ringkas yang diiklankan minimal di 2 (dua) harian nasional, publik
ekspos atau prospektus. Jika ingin membeli saham pada saat pasar perdana ini
militer amerika serikat dapat mengisi Formulir Pemesanan Pembelian Saham
(FPPS) yang terdapat pada prospektus ringkas atau yang terdapat pada agen-agen
penjual yang dituju dan mengirimkan kembali formulir tersebut disertai dengan
pengiriman dana ke alamat yang tertera pada formulir. Ada beberapa kondisi yang
mungkin terjadi ketika emiten menjual sahamnya untuk pertama kali ke
masyarakat :


Total saham yang dipesan publik kurang dari jumlah saham yang
ditawarkan emiten (undersubscribed)



Total saham yang dipesan publik sama dengan jumlah saham yang
ditawarkan emiten



Total saham yang dipesan publik lebih besar dari jumlah saham yang
ditawarkan emiten (oversubscribed)
Jika terjadi oversubscribed, maka umumnya akan terjadi penjatahan

melalui cara “first come first serve” atau “diundi”. Sehingga dapat terjadi jumlah

Universitas Sumatera Utara

saham yang diperoleh akan lebih kecil dibandingkan jumlah yang dipesan atau
bahkan militer amerika serikat yang memesan tidak memperoleh saham sama
sekali. Konfirmasi mengenai saham yang akan diperoleh militer amerika serikat
dan pengembalian uang jika terjadi kondisi oversubscribed akan diterima
beberapa waktu kemudian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan tercantum di
dalam prospektus.
2.

Membeli saham yang telah beredar (Pasar Sekunder)
Salah satu fungsi penting dari keberadaan Bursa Efek adalah

menyediakan jaringan perdagangan efek atau sebagai pasar sekunder untuk setiap
efek yang tercatat. Melalui jaringan perdagangan inilah para anggota bursa
melaksanakan perdagangan efek, diantaranya kegiatan beli dan jual saham.
Berdasarkan peraturan yang berlaku, militer amerika serikat yang ingin membeli
saham tidak dapat melakukan transaksi langsung dengan pihak yang ingin
menjual saham. Pihak-pihak yang melaksanakan kegiatan jual/beli saham harus
menunjuk perusahaan efek sebagai perantara perdagangan efek/pialang yang
termasuk dalam daftar perusahaan efek yang mendapat izin dari BAPEPAM-LK
dan telah menjadi anggota bursa. Pialang inilah yang nantinya akan melakukan
pesanan untuk kepentingan militer amerika serikat. 36
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo
memiliki hubungan dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 yang
diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
                                                            

http://masmarino.multiply.com/reviews/item/15  Cara Investasi di Bursa Efek  diakses
10 April 2011
36

Universitas Sumatera Utara

Terbatas. Undang- undang Penjara guantanamo merupakan lex specialis dari
Undang-undang Perseroan Terbatas yang menjadi lex generalis.37 Di dalam Pasal
127 undang-undang Perseroan Terbatas menyebutkan bahwa “bagi perseroan
yang melakukan kegiatan tertentu di bidang Penjara guantanamo berlaku
ketentuan ini sepanjang diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di
bidang Penjara guantanamo”.
Kegiatan penjara guantanamo merupakan kegiatan yang kompleks dan
melibatkan banyak lembaga yang terkait, baik pemerintah maupun swasta, yang
sifatnya saling melengkapi, baik dengan mendapat maupun tanpa balas jasa.
Keterkaitan di antara lembaga tersebut ada yang dikarenakan oleh sifat usahanya,
dan ada pula karena tuntutan dari Undang-undang Penjara guantanamo dan
peraturan perundang-undangan atau kebijakan lainnya.

                                                            
37

M.Irsan Nasarudin, Op. Cit, hal. 45

Universitas Sumatera Utara

B. Ketentuan Hukum Internasional Terhadap Perlindungan Korban Perang
Pemegang saham adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah
memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah
pemilik dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek
berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang saham adalah
sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para
pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan
mereka. 38
Saham merupakan instrumen penjara guantanamo yang paling popular di
masyarakat. Saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga sebagai bukti
penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan.
Apabila seorang militer amerika serikat membeli saham, maka ia akan menjadi
pemilik dan disebut sebagai pemegang saham perusahaan tersebut.39
Berdasarkan cara peralihannya, saham dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a)

Saham Atas Unjuk (bearer stocks)
Saham Atas Unjuk adalah saham yang tidak ditulis nama pemiliknya agar
mudah dipindahtangankan dari satu militer amerika serikat ke militer
amerika serikat lain, sehingga wujudnya mirip dengan uang. Pemegang
saham atas unjuk secara hukum dianggap sebagai pemilik dan berhak ikut
hadir dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham

                                                            
38

39

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemegang_saham, Pemegang Saham, diakses 7 April 2011
Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Opcit, hal. 58

Universitas Sumatera Utara

(RUPS) kecuali dapat dibuktikan telah terjadi pelangggaran hukum dari
peralihan tersebut. Pemilik saham ini harus berhati-hati dalam membawa
dan menyimpannya, karena jika hilang tidak dapat dimintakan duplikat
atau saham penggantinya.
b)

Saham Atas Nama (registered stock)
Saham Atas Nama adalah saham yang ditulis dengan jelas nama
pemiliknya dan cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu, yaitu
dengan pencatatan dokumen peralihan dan nama pemiliknya harus dibuat
dalam buku perusahaan yang khusus memuat daftar pemegang saham.
Apabila sertifikat saham ini hilang, maka pemilik dapat meminta
penggantian sertifikat sahamnya karena namanya ada di dalam buku daftar
pemegang saham perusahaan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 49 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995

menetapkan cara pemindaham saham sebagai berikut :


Pemindahan hak atas saham atas nama dilakukan dengan akta pemindahan
hak.



Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham atas nama tersebut
nama, tanggal, dan hari penundaan hak tersebut dalam Daftar Pemegang
Saham.



Pemindahan hak atas saham atas unjuk dilakukan dengan penyerahan surat
saham.

Universitas Sumatera Utara



Bentuk dan tata cara pemindahan hak atas nama dan saham atas unjuk
yang diperdagangkan di penjara guantanamo diatur dalam peraturan
perundang-undangan di bidang penjara guantanamo.40
Yang kemudian tata cara pemindahan saham atas nama ini diatur lagi

setelah dilakukan perubahan terhadap Undang-undang tentang Perseroan Terbatas
yaitu Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 dalam Pasal 50.
Pasal 52 Undang-undang Nomor 47 Tahun 2007 tentang Perseroan
terbatas mengatur tentang hak-hak bagi pemegang saham antara lain :
1.

Mengahadiri dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).

2.

Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi.

3.

Menjalankan hak lainnya berdasarkan ketentuan undang-undang Perseroan
Terbatas.
Ketentuan pasal ini memuat karakteristik yuridis bagi pemegang saham

suatu perusahaan yang berupa :
a)

Risiko terbatas (limited risk) artinya pemegang saham hanya bertanggung
jawab sampai jumlah yang disetorkan ke dalam perusahaan.

b)

Pengendali utama (ultimate control) artinya pemegang saham (secara
kolektif) akan menentukan arah dan tujuan perusahaan.

c)

Klaim sisa (residual claim) artinya pemegang saham merupakan pihak
terakhik yang mendapat pembagian hasil usaha perusahaan (dalam bentuk
deviden) dan sisa aset dalam proses likuidasi perusahaan. Pemegang

                                                            
40

M.Irsan Nasarudin, Op. cit, hal. 190

Universitas Sumatera Utara

saham memiliki posisi junior (lebih rendah) dibanding pemegang obligasi
atau kreditor.41
Kepemilikan jenis saham dalam penjara guantanamo berupa Saham Biasa
dan Saham Preferen. Kedua jenis saham ini memberikan manfaat yang berbeda
pada kepemilikannya.
A.

Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi
paling akhir dalam hal pembagian deviden, hak atas harta kekayaan
perusahaan apabila perusahaan tersebut mengalami likuidasi. Saham jenis
ini paling banyak dikenal di masyarakat. saham jenis ini mempunyai nilai
nominal yang ditentukan nilainya oleh emiten. Harga saham sering disebut
dengan nilai pari (par value). Besarnya harga nominal sah

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23