PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS)

Rika Yulita Sari

ABSTRAK
PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL
BELAJAR KOGNITIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN
THINK PAIR SHARE (TPS)

Oleh
Rika Yulita Sari

Pengelolaan proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik merupakan titik
awal keberhasilan pembelajaran yang muaranya akan meningkatkan prestasi belajar
siswa. Untuk meningkatkan kualitas berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa,
maka perlu untuk mengubah proses belajar mengajar dan merubah komponenkomponen yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar itu sendiri. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap hasil
belajar kognitif siswa melalui pembelajaran Think Pair Share. Penelitian ini
dilakukan di SMP Wiyatama Bandar Lampung dengan fokus bahasan materi
penelitian pada hukum newton. Penelitian ini menggunakan desain tipe One-Shot
Case Study. Sampel penelitian ini diambil secara purposive. Instrumen penelitian
yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal essay. Data hasil penelitian,
dianalisis dengan uji normalitas, linearitas dan uji regresi linear sederhana. Hasil
analisis data menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan

Rika Yulita Sari
antara kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif siswa SMP melalui
pembelajaran TPS. Besarnya persentase pengaruh berpikir kritis terhadap hasil
belajar kognitif adalah 87,4% .

Kata kunci : Kemampuan Berpikir Kritis, Hasil Belajar Fisika, Model Cooperative
Learning, Think Pair Share (TPS)

PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP HASIL
BELAJAR KOGNITIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN
THINK PAIR SHARE (TPS)

Oleh
RIKA YULITA SARI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

Judul Skripsi

: PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS TERHADAP HASIL BELAJAR
KOGNITIF SISWA MELALUI
PEMBELAJARAN THINK PAIR
SHARE(TPS)
Nama Mahasiswa

: Rika Yulita Sari

Nomor Pokok Mahasiswa

: 0913022104

Program Studi

: Pendidikan Fisika

Jurusan

: Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Dr. Undang Rosidin, M.Pd.
NIP. 19600301 198503 1 003

Viyanti, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19800330 200501 2 001

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita, M. Si.
NIP. 19671004 199303 1 004

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua

: Dr. Undang Rosidin, M.Pd.

Sekretaris

: Viyanti, S.Pd., M.Pd.

Penguji
Bukan Pembimbing

: Drs. I Putu Dewa Nyeneng, M.Sc.

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Bujang Rahman, M.Si.
NIP 19600315 198503 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi :

2013

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah:
Nama

: Rika Yulita Sari

NPM

: 0913022104

Fakultas/Jurusan

: FKIP/P. MIPA

Program Studi

: Pendidikan Fisika

Alamat

: Jl. P. Polim Gg Mawar Putih 3 No. 31 Bandar Lampung

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dalam acuan naskah
ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Bandar Lampung,

Rika Yulita Sari
NPM. 0913022104

2013

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gunung Raya, pada tanggal 04 Juli 1991 anak kesatu dari
tiga bersaudara dari pasangan Bapak Zulhadi Efendi S.Pd dan Ibu Rosdawati.

Penulis mengawali pendidikan formal Pada tahun1997 di SD Negeri 1 Gunung
Raya, diselesaikan tahun 2003. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di
SLTP Negeri 10 Bandar Lampung hingga tahun 2006, kemudian penulis
melanjutkan pendidikannya di SMA Perintis 1 Bandar Lampung, diselesaikan
pada tahun 2009. Pada tahun yang sama, penulis diterima dan terdaftar sebagai
mahasiswa program studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.

Pada tahun 2012, penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di
SMP PGRI 2 Merbau Mataram Desa Karang Raja Kecamatan Merbau Mataram
Kabupaten Lampung Selatan. Dan pada tahun 2013 penulis melaksanakan
penelitian di SMP Wiyatama Bandar Lampung.

MOTTO

“Allah tidak membebani suatu kaum melainkan dengan kesanggupannya . . .”
(Q.S. Al-Baqarah: 286)

Gagal melakukan hal-hal besar itu lebih terhormat dari pada berhasil melakukan
hal-hal kecil, karena orang yang gagal melakukan hal-hal yang besar
sudah pasti berhasil melakukan hal-hal kecil”
(Mario Teguh)

“Tuliskan rencana kita dengan sebuah pensil, tetapi berikan penghapusnya kepada
Allah. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikan
dengan rencana-Nya yang indah di dalam hidup kita, karena Allah selalu tahu apa
yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta, dan Allah tidak henti-hentinya
memenuhi kebutuhan seseorang, selama ia memenuhi kebutuhan saudaranya.”
(HR. Thabrani)
“Jangan cepat menyerah dengan keadaan, berusaha dan berjuanglah
semaksimal mungkin karena hidup adalah perjuangan dan kembalikan
semua hanya kepada-NYA.
(Rika Yulita Sari)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Penulis persembahkan karya
sederhana ini sebagai tanda cinta dan terima kasih penulis kepada:
1.

Ayah penulis Zulhadi Efendi S.Pd dan Ibu Rosdawati tercinta, yang selalu
memperjuangkan masa depan, yang telah lama menantikan keberhasilan
penulis, yang tak pernah lupa menyebut nama penulis dalam setiap doa, yang
tak pernah lelah memperhatikan, dan yang selalu mendukung penulis.
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada penulis untuk bisa selalu
membahagiakan kalian.

2.

Adik–adik penulis ‘‘Anhar Jaya Putra dan Ela Tri Ani.’’ yang selalu
memberikan motivasi, dukungan, dan doa bagi penulis.

3. Keluarga besar terima kasih untuk do’a, dukungan, dan kebersamaan yang
selalu dihadirkan.

4. Keluarga besar Pendidikan Fisika 2009 terima kasih untuk do’a, dukungan,
dan kebersamaan yang selalu dihadirkan.
5.

Almamater tercinta Universitas Lampung.

SANWACANA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena kasih sayang dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fisika di Universitas
Lampung.

Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Bapak Dr. Agus Suyatna, M. Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Fisika.
4. Bapak Dr. Undang Rosidin, M. Pd., selaku pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis.
5. Ibu Viyanti, S.Pd., M.Pd., selaku Pembimbing Akademik dan sekaligus
Pembimbing II atas keikhlasannya memberikan bimbingan, saran, dan
motivasi.
6. Bapak Drs. I Putu Dewa Nyeneng, M.Sc., selaku pembahas yang banyak
memberikan kritik serta masukan yang bersifat positif dan konstruktif.
7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Jurusan Pendidikan MIPA.
8. Ibu Hj. Kusmijati, S.Pd., selaku Kepala SMP Wiyatama Bandar Lampung
beserta jajaran yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

9. Ibu Susy, S.Pd., selaku Guru Mitra dan murid-murid kelas VIII c SMP
Wiyatama Bandar Lampung atas bantuan dan kerjasamanya.
10. Bapak dan ibu tercinta adalah inspirator terbesar dalam hidup penulis, terima
kasih untuk perhatian, doa dan kasih sayang yang tak terhingga selama ini..
11. Teman seperjuangan di P. Fisika’09
12. Seluruh keluarga P. Fisika bersatu semoga selalu menjadi keluarga besar.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua,
serta berkenan membalas semua budi yang diberikan kepada penulis dan semoga
skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandarlampung, Juni 2013
Penulis

Rika Yulita Sari

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................... ..

i

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... ..

ii

I.

II.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................. .

1

B. Rumusan Masalah ............................................................................ .

3

C. Tujuan Penelitian ............................................................................. .

4

D. Manfaat Penelitian ........................................................................... .

4

E. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... .

4

KERANGKA TEORITIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Berpikir Kritis ..............................................................................
2. Model Pembelajaran ....................................................................
3. Hasil Belajar ................................................................................
B. Kerangka Pikir ................................................................................

6
10
14
17

C. Hipotesis Tindakan ...........................................................................

20

III. METODE PENELITIAN
A. Populasi Penelitian ..........................................................................

21

B. SampelPenelitian .............................................................................

21

C. DesainPenelitian….......................................................................... .

21

D. Variabel Penelitian ......... .................................................................

22

E. Instrumen Penelitian .........................................................................

22

F. Analisis Instrumen ................................................................................ 23
1. Uji Validitas ...................................................................................... 23
2. Uji Reliabilitas .................................................................................. 24
G. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 25
H. Teknik Analisis Data Dan Pengujian Hipotesis .................................... 25
1. Uji Normalitas ................................................................................ 26
2. Uji linieritas……………………………………………………… 26

3. Uji regresi linear sederhana ............................................................. 27
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .................................................................................... 29
1. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ................................................ 29
1.1 Uji validitas ...................................................................................... 29
1.2 Uji Reliabilitas ................................................................................. 30
2. Uji Normalitas ……............................................................................... 31
3. Uji linieritas ........................................................................................... 32
4. Uji regresi linier sederhana…………………………………………… 32
B. Pembahasan ........................................................................................ 33
1. Kemampuan Berpikir Kritis................................................................... 33
2. Hasil Belajar Kognitif ............................................................................ 34
3. Pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis terhadap hasil kognitif melalui
pembelajaran TPS …………………………………………………… 36
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan .................................................................................................... 41
B. Saran ........................................................................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1.

Silabus…………………………………………………………………… 45

2.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ……………………………….…… 47

3.

Pemetaan SK dan KD............................................................................... 58

4.

Kisi-Kisi dan Kunci Jawaban Soal Posttest…………………………….. 59

5.

Lembar Posttest…………………………………………………………….. 63

6.

Lembar Kerja Kelompok Hukum Newton………………………………. 66

7.

Rubrik-Rubrik Penilaian........................................................................... 79

8.

Buku Siswa................................................................................................ 82

9.

Data hasil analisis Kemampuan berpikir kritis………………………….. 91

10. Data Analisis Hasil Belajar Kognitif..……………………………………92
11. Data Hasil Uji Instrumen Soal………………………………………… .. 93
12. Hasil Validitas Kemampuan Berpikir Kritis…………………………….. 94
13. Hasil Validitas Hasil Belajar Kognitif………………………………….. 95
14. Hasil Reliabilitas KemampuanBerpikir Kritis…………………………... 96

15. Hasil Reliabilitas Hasil Belajar Kognitif……………………………….. . 97
16. Hasil Uji Normalitas Kemampuan Berpikir Kritis………………………. 98
17. Hasil Uji Normalitas Hasil Belajar Kognitif…………………………….. 99
18. Hasil Uji linieritas ………………………………….…………..………….. 100
19. Hasil Uji regresi linear sederhana.……………………………………… 102
20. Surat Keterangan Penelitian Pendahuluan
21. Surat Keterangan Izin Penelitian
22. Balasan Surat Keterangan Izin Penelitian

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Aspek keterampilan berpikir kritis...............................................................

2.

Interpretasi ukuran kemantapan nilai alpha ................................................. 25

3.

Kategori berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa ………………….. 26

4.

Hasil uji validasi soal kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar
kognitif………………………………….…………………………………. 30

5.

Hasil uji reliabilitas soal kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar
kognitif………………………………………….…………………………. 30

6.

Hasil uji normalitas skor postest kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar
kognitif…………………………………………………………………..… 31

7.

Hasil uji linieritas data………………………………………………….…. 32

8.

Hasil uji regresi pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar
kognitif………………………………………………….…………………. 33

i

9

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Diagram kerangka pemikiran ......................................................................... 20
2. Desain penelitian One-shot case studyt .......................................................... 22
3. Grafik persentase posttest kemampuan berpikir kritis …………….............

34

4. Grafik persentase posttest hasil belajar kognitif siswa….…........................

35

5. Grafik pengaruh berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif………........... 37

ii

1

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Salah satu permasalahan pokok dalam proses pembelajaran saat ini yaitu kesulitan
siswa dalam menerima, merespon, serta mengembangkan materi yang diberikan
oleh guru. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik apabila di
dalamnya terdapat kesiapan antara guru dengan siswa. Guru sebagai fasilitator
dituntut untuk bisa membawa siswanya ke dalam pembelajaran yang aktif,
inovatif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat menikmati pembelajaran dan
dapat menjangkau semua sudut kelas. Bukan merupakan pembelajaran
konvensional yang selama ini berpusat pada guru, karena akan terkesan
merugikan siswa, terutama siswa yang berkemampuan rendah karena cenderung
jenuh dalam pembelajaran.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru bidang studi fisika di
SMP Wiyatama pembelajaran fisika yang dilakukan memang masih
menitikberatkan guru sebagai peran utama dalam pembelajaran. Guru lebih
banyak menjelaskan, memberikan contoh soal dan kemudian siswa mencatat serta
mendengarkan. Sesuai dengan hasil observasi tersebut, diketahui bahwa siswa
kurang aktif dalam berpikir kritis. Selain itu, siswa juga kurang paham dalam
menerapkan hasil pembelajaran sesuai dengan kemampuan kognitif siswa.

2

Hal ini dapat diketahui dari hasil belajar siswa pada ulangan harian pertama yang
rendah dan masih banyak siswa belum mencapai KKM yang ditetapkan disekolah.
Nilai rata-rata pada ulangan hari pertama yang diperoleh kelas VIIIc adalah 52.07.
Nilai tersebut belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata
pelajaran IPAyang ditetapkan sekolah yaitu 65. Siswa yang nilainya >60
sebanyak 25.00 % dan sebanyak 75.00 % lainnya belum mencapai KKM.

Faktor penyebab dari rendahnya hasil belajar siswa antara lain adalah kurangnya
keterlibatan siswa dalam proses belajar. Selain itu, model pembelajaran yang
kurang efektif dan efisien, menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik, misalnya kebisingan atau keributan sering mendominasi
situasi kelas yang membuat siswa menjadi kurang tertarik dan tidak terpusat pada
pelajaran saat pembelajaran berlangsung .
Menanggulangi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang tepat
untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan penyajian materi yang
menarik yang lebih dominan melibatkan siswa sehingga siswa dapat lebih aktif
dalam proses pembelajaran yang lebih mengedepankan berpikir kritis, dimana
siswa dituntut memperoleh pengalaman secara langsung dan menemukan sendiri
maupun dari kelompok ilmu pengetahuan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Dewasa ini berbagai model dan metode pembelajaran yang telah dikembangkan
dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.
Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam
pembelajaran di sekolah adalah model pembelajaran Think Pair Share (TPS).

3

Model pembelajaran ini terdiri dari 3 tahap yaitu berpikir (thinking), berpasangan
(Pairing) dan berbagi (sharing).
Model pembelajaran ini dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran,
membiarkan siswa menemukan gagasan/ide melalui diskusi kelompok,
meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi, meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa, membuat seorang siswa dapat belajar dari siswa
lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan
di depan kelas. Selain itu, model pembelajaran TPS juga dapat memperbaiki rasa
percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas
sehingga terbentuk pemahaman terhadap sebuah konsep, yang diharapkan
menimbulkan berpikir kritis sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Selain itu pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, peneliti telah melakukan
penelitian mengenai seberapa besar pengaruh berpikir kritis terhadap hasil belajar
kognitif siswa melalui pembelajaran TPS.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Adakah pengaruh yang positif dan
signifikan antara kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif siswa
melalui pembelajaran TPS?

4

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah: Mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis
terhadap hasil belajar kognitif siswa melalui pembelajaran TPS.
D.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:
1. Diharapkan dapat menjadi alternatif baru bagi guru dalam menyajikan materi
pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas untuk meningkatkan kemampuan
berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa.
2. Diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam
kegiatan belajar untuk meningkatkan hasil belajar.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:
1. Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan bernalar dan berpikir
reflektif yang difokuskan untuk memutuskan hal-hal yang diyakini dan
dilakukan. Pada penelitian ini indikator pencapaian keterampilan berpikir kritis
siswa SMP meliputi: memberikan penjelasan dasar, membangun keterampilan
dasar, dan menyimpulkan
2. Hasil belajar suatu gambaran kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar. Pada penelitian ini hasil belajar yang digunakan difokuskan
pada hasil belajar berupa kemampuan kognitif.

5

3. Pembelajaran TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif. Model
pembelajaran ini terdiri dari 3 tahap yaitu berpikir (Thinking), berpasangan
(Pairing) dan berbagi (Sharing). Pada penelitian ini yaitu: 1). Guru
mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian
siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri
untuk beberapa saat; 2). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain
untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama; 3).
Guru meminta kepada beberapa pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas
tentang apa yang telah didiskusikan.
4. Materi pokok dalam penelitian ini adalah Hukum I Newton, Hukum II Newton,
dan Hukum III Newton.

6

II. KERANGKA TEORETIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Berpikir Kritis
Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan
tertentu dapat dikatakan berpikir dimana dapat dikatakan berpikir kritis siswa
merumuskan dan mengevaluasi apa yang dipercaya dan diyakininya dalam
memecahkan masalah. Menurut Suryabrata (2001: 54) menyatakan bahwa:
Berpikir adalah meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan
seseorang. Bagian pengetahuan tersebut, yaitu sesuatu yang telah dimiliki,
yang berupa pengertian-pengertian dan dalam batas tertentu juga tanggapantanggapan.

Berpikir dapat diartikan pula dengan meletakkan hubungan antara bagian-bagian
pengetahuan. Pengetahuan ini berupa pengertian dalam tertentu. Pengertian akan
menghasilkan tanggapan-tanggapan yang berbeda pada setiap orang. Dalam arti
bergantung pada pengetahuannya. Pola pikir tinggi dibentuk berdasarkan cara
berpikir kritis dan kreatifitasnya. Sebagian dari orang tua dan pendidik sepakat
bahwa dalam masyarakat sekarang anak-anak sangat membutuhkan keahlian pola
pikir tinggi.

7

Berpikir kritis dapat terjadi bila mendapatkan rangsangan dari luar sehingga dapat
memberikan arahan dalam berpikir dan bekerja. Maksudnya tidak hanya
memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain
menggunakan bukti dan logika. Johnson (2009: 48) mendefinisikan berpikir kritis
sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri.
Spliter dalam Komalasari (2010: 267) mengemukakan bahwa keterampilan
berpikir kritis adalah keterampilan bernalar dan berpikir reflektif yang difokuskan
untuk memutuskan hal-hal yang diyakini dan dilakukan.

Suatu aktifitas kogitif yang berkaitan dengan penggunaan nalar maka dapat
dikatakan berpikir kritis dimana berpikir kritis salah satu jenis berpikir konvergen.
Menurut Setiono ( 2007: 30) yang menyatakan bahwa Berpikir kritis adalah salah
satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Kemampuan
berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan,
pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir
kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitan dengan penggunaan nalar.
Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan proses-proses mental, seperti
memperhatikan, mengkategorikan, menyeleksi, dan menilai/memutuskan.
Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir
dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang
lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis sangat
dibutuhkan dalam pembelajaran.
Berdasarkan dua kutipan di atas dapat dianalisis bahwa berpikir kritis adalah
siswa dapat merumuskan dan mengevaluasi apa yang dipercaya dan diyakininya

8

dalam memecahkan masalah dimana berpikir kritis itu salah satu jenis berpikir
yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik.
Ada beberapa indikator berpikir kritis. Ennis dalam Aryati (2009: 3),
mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima
besar aktivitas sebagai berikut:
1. Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: (a) memfokuskan pertanyaan;
(b) menganalisis pertanyaan dan bertanya; (c) menjawab pertanyaan tentang
suatu penjelasan atau pernyataan.
2. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas : (a) mempertimbangkan
apakah sumber dapat dipercaya atau tidak; (b) mengamati serta
mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.
3. Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan: (a) mendeduksi atau
mempertimbangkan hasil deduksi; (b) meninduksi atau mempertimbangkan
hasil induksi; (c) membuat serta menentukan nilai pertimbangan
4. Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas: (a) mengidentifikasi istilahistilah dan definisi pertimbangan serta dimensi; (b) mengidentifikasi asumsi
5. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas: (a) menentukan tindakan; (b)
berinteraksi dengan orang lain

Berdasarkan dua kutipan di atas dapat dianalisis bahwa berpikir kritis adalah
siswa dapat merumuskan dan mengevaluasi apa yang dipercaya dan diyakininya
dalam memecahkan masalah dimana berpikir kritis itu salah satu jenis berfikir
yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik.

9

Mengenai berpikir kritis dibagi dalam dua aspek besar dimana aspek tersebut
meliputi aspek pembentukan watak dan aspek keterampilan. Menurut Tresnawati
(2010: 19) mengembangkan berpikir kritis kedalam dua aspek besar yaitu:

Aspek pembentukan watak (disposition), yang terdiri dari komponen : a)
mencari sebuah pertanyaan yang benar dari pertanyaan, b) mencari alasan,
c) mencoba untuk memperoleh informasi yang baik, d) menggunakan
sumber yang dapat dipercaya dan menyebutkannya, e) memasukkan
informasi/ sumber ke dalam laporan, f) mencoba mempertahankan
pemikiran yang relevan, g) menjaga pikiran tetap dalam focus perhatian, h)
melihat beberapa alternatif, i) menjadi berpikir terbuka, j) menga sebuah
posisi ketika fakta dan alasan sesuai, k) mencari keakuratan subjek secara
benar, l) mengikuti sebuah kebiasaan yang teratur, m) menjadi lebih
respon dalam merasakan tingkatan pengetahuan dan pengalaman.
Selanjutnya adalah aspek keterampilan (ability): keterampilan berpikir
kritis yang ditinjau untuk siswa SMP meliputi 3 keterampilan, 4 sub
keterampilan, dan 6 indikator.

Keterampilan berpikir kritis seperti diuraikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Aspek Keterampilan Berpikir Kritis yang Diamati
Keterampilan Berpikir
Kritis

Sub Keterampilan Berpikir
Kritis

Indikator

1. Memberikan penjelasan
dasar

1. Menganalisis argument

1. Mencari persamaan
dan perbedaan

2. Membangun keterampilan
dasar

2. Mempertimbangkan
apakah sumber dapat
dipercaya atau tidak?

2. Kemampuan
memberikan alasan

3. Menyimpulkan

3. Menginduksi dan
mempertimbangkan hasil
induksi

3. Berhipotesis
4. Menggeneralisasi

4. Membuat dan mengkaji
nilai-nilai hasil
pertimbangan

5. Mengaplikasikan
konsep
6. Mempertimbangkan
alternative

10

Selain indikator berpikir kritis, siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis
memiliki ciri-ciri tersendiri. Ada pula ciri-ciri dari berpikir kritis yang
dikemukakan Kirschenbaum dalam Zuchdi (2008: 49-50) menyatakan:
Ciri-ciri orang yang berpikir kritis adalah: mencari kejelasan pernyataan
atau pertanyaan; mencari alasan; mencoba memperoleh informasi yang
benar; menggunakan sumber yang dapat dipercaya; mempertimbangkan
seluruh situasi; mencari alternatif; bersikap terbuka; mengubah pandangan
apabila ada bukti yang dapat dipercayai; mencari ketepatan suatu
permasalahan, sensitif terhadap perasaan, tingkat pengetahuan, dan tingkat
kecanggihan orang lain. Ciri tersebut hanya dapat dikembangkan lewat
latihan yang dilakukan secara terus-menerus, sehingga akhirnya menjadi
suatu kebiasaan. Berpikir kritis dapat mengarah pada pembentukan sifat
bijaksana.

Berdasarkan uraian di atas dapat dianalisis bahwa untuk mengukur kemampuan
berpikir kritis siswa meliputi: kemampuan mendefinisikan masalah, kemampuan
menyeleksi informasi untuk pemecahan masalah, kemampuan merumuskan
hipotesis, dan kemampuan menarik kesimpulan.

2. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)
Mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan dalam suatu pembelajaran, maka
guru harus bisa memilih dan menetapkan model atau strategi yang optimal.
Dengan itu, guru harus menetapkan model dan strategi yang tepat.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dikembangkan oleh Frank Lyman
diuniversitas Maryland tahun 1981, yang disampaikan kembali oleh Nurhadi
(2004: 23)
Think pair share (TPS) merupakan struktur pembelajaran yang dirancang
untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, agar tercipta suatu pembelajaran
kooperatif yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan ketrampilan
siswa.

11

Hal ini didukung dengan Lie (2002: 56) yang menyatakan:
TPS atau berpikir-berpasangan-berbagi merupakan jenis pembelajaran
kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa,
struktur yang dikembangkan ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap
struktur kelas tradisonal. Struktur ini menghendaki siswa bekerja sama
saling membantu dalam kelompok kecil (2-5 anggota) dan lebih dicirikan
oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individu.
Dalam pembelajaran TPS siswa menjadi aktif dan interaktif dikelas. Dasar tujuan
pembelajaran kooperatif model TPS adalah mengembangkan partisipasi siswa
dalam kelas melalui diskusi baik dengan pasangan maupun kelas. Melalui model
pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya agar dapat
menghasilkan ide- ide yang berkualitas.
Berdasarkan dua kutipan di atas maka dapat dianalisis bahwa dalam pembelajaran
TPS jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola
interaksi siswa sehingga siswa menjadi aktif dan interaktif.
Tahap dalam TPS terdiri dari tiga yaitu berpikir, berpasangan, dan berbagi.
Menurut Ibrahim (2000: 26), yaitu;
Thinking (berfikir), siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan yang
diberikan oleh guru, Pairing (berpasangan), siswa berpasangan dengan
siswa lain dan mendiskusikan apa yang telah dipikirkan secara individual.
Share (berbagi), pasangan diminta mempresentasikan atau berbagi dengan
seluruh kelas dari apa yang telah dibicarakan dalam kelompok.
Tahap pertama, guru mengajukan pertanyaan isu yang berhubungan dengan
pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau
isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Tahap kedua, guru meminta
siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang
dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi
jawaban atau berbagi ide. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk

12

berpasangan. Tahap ketiga, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan
seluruh kelas tentang apa yang mereka bicarakan. Ini dapat dilakukan dengan cara
bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai dengan sekitar
seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Lebih lanjut Lyman dalam Depdiknas (2003: 25) membagi langkah-langkah
dalam pembelajaran TPS sebagai berikut:
1.Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai; (2)
Siswa diminta untuk berfikir tentang materi yang disampaikan; (3) Siswa
diminta berpasangan dan berdiskusi; (4) Tiap pasangan mengemukakan
hasil diskusinya; Guru memimpin diskusi; (5) Guru menambah materi
yang belum diungkapkan siswa; (6) Guru memberi kesimpulan.

Berdasarkan dua kutipan di atas maka dapat dianalisis bahwa pembelajaran
dengan menggunakan model TPS memberikan peluang kepada para siswa untuk
dapat mendiskusikan ide-ide yang mereka miliki dalam rangka menyelesaikan
masalah yang disajikan guru dengan pasangannya.

TPS yaitu teknik yang dikembangkan oleh Frank Lyman Teknik ini memberi
siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
Keunggulan dan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi
kesempatan delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan
menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Isjoni, 2006).

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa pendekatan, salah satunya
ialah TPS. Strategi TPS tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif dan waktu
tunggu. Strategi ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskusi
didalam kelas. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resistasi dan diskusi

13

perlu dilakukan di dalam setting seluruh kelompok. TPS memiliki prosedur yang
ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk
berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Strategi TPS yang
digunakan oleh para guru menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

Tahap-1: Thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran
kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara
mandiri untuk beberapa saat.

Tahap-2: Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa
yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan
dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika
suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 4-5
menit untuk berpasangan.

Tahap-3: Share
Pada tahap ini, guru meminta kepada beberapa pasangan untuk berbagi dengan
seluruh kelas tentang apa yang telah didiskusikan. Ini efektif dilakukan dengan
cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai seperempat
pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan pekerjaannya.
(Ibrahim, 2006: 27).
Kegiatan “berpikir-berpasangan-berbagi” dalam model TPS memberikan
keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masingmasing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga
dapat meningkat. Menurut Ibrahim (2006), akuntabilitas berkembang karena
siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi

14

(berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus
berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong
setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak
pernah berbicara di depan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena
pasangannya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dianalisis TPS suatu strategi kooperatif dimana
TPS membantu struktur diskusi, meningkatkan partisipasi siswa,siswa dapat
mengembangkan kecakapan hidup sosial sesama siswa dan guru. TPS memiliki
tiga tahapan yaitu: (1) guru mengemukakan suatu pertanyaan; (2) siswa berpikir
secara individu kemudian siswa mendiskusikan dengan kelompok masing-masing;
(3) siswa berbagi jawaban dengan anggota kelompok yang lain.
3. Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar siswa berkaitan dengan cara siswa menangkap dan memahami isi
materi yang disampaikan oleh guru. Hasil belajar siswa dapat diketahui setelah
proses pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2010: 3-4):

Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi
hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal
dan puncak proses belajar.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa tingkat perkembangan
siswa tampak pada evaluasi hasil belajar siswa, hasil belajar diperoleh setelah
berakhirnya proses pembelajaran. Hasil belajar merupakan proses penilaian yang
dilihat dengan pengadaan postest untuk mengetahui sejauh mana materi yang

15

telah diterima siswa. Dari hasil penilaian tersebut guru dapat mengevaluasi sistem
mengajar yang telah ia lakukan untuk mengetahui berapa persen hasil dari metode
yang ia terapkan saat itu. Dari hasil belajar tersebut siswa juga dapat mengetahui
kesalahan serta kekurang pahaman meteri yang diajarkan untuk didiskusikan
bagian yang ia tidak mengerti berdasar kemampuan yang ia miliki.
Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung dari aktivitas belajar siswa itu
sendiri. Karena aktivitas yang tinggi dapat meningkatkan daya serap siswa
terhadap pelajaran yang diterimanya. Sehingga keberhasilan proses belajar
mengajar diukur dari hasil yang diperoleh siswa dalam pembelajaran.

Hal tersebut didukung oleh pendapat Djamarah dan Zain (2010: 121):

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar, dapat
dikatakan bahwa hasil belajar merupakan akhir atau puncak dari proses
belajar. Akhir dari kegiatan inilah yang menjadi tolak ukur tingkat
keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan akhir
atau puncak dari proses belajar. Akhir dari kegiatan inilah yang menjadi tolak
ukur tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui
keberhasilan dalam belajar diperlukan adanya suatu pengukuran hasil belajar yaitu
melalui suatu evaluasi atau tes dan dinyatakan dalam bentuk angka.
Setiap proses pembelajaran akan mencapai suatu puncak kegiatan dengan
melakukan pengukuran terhadap proses pembelajaran tersebut. Proses pengukuran
ini membantu untuk mengetahui hasil belajar setelah dilangsungkannya
pembelajaran. Sedangkan menurut Slameto (2008: 131) hasil belajar itu sendiri
meliputi 3 aspek, yaitu: a) Keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta

16

(kognitif); b) Kepribadian atau sikap (afektif); c) Keterampilan atau penampilan
(psikomotor). Sedangkan hasil belajar dalam kecakapan kognitif menurut Dimyati
dan Mudjiono (2010: 10) memiliki beberapa tingkatan, yaitu: a). Informasi non
verbal, b). Informasi fakta dan pengetahuan verbal, c). Konsep dan prinsip, d).
Pemecahan masalah dan kreatifitas.

Berdasarkan dua kutipan di atas bahwa hasil belajar diakhir dari suatu proses
pembelajaran, maka siswa akan memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar
tampak apabila terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati
dan diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Nilai aspek
kognitif diperoleh dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, dan sintesis
siswa yang dievaluasi di setiap akhir pembelajaran. Hasil evaluasi kemudian
dianalisis dan disajikan dalam bentuk hasil belajar siswa
Sasaran penilaian dalam evaluasi hasil belajar terbagi menjadi tiga ranah. Menurut
Daryanto (2010: 100) ada tiga ranah yang menjadi sasaran dalam evaluasi hasil
belajar yaitu “ ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor”. Namun dalam
penelitian ini hasil belajar siswa dibatasi pada ranah kognitif saja. Selanjutnya
adapun aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang diantaranya: pengetahuan
(knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (aplication), analisis
(analysis), sintsis (syntesis), dan evaluasi penilaian (evaluation).

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dianalisis bahwa keberhasilan proses
belajar yang dilakukan dapat diukur dengan tolak ukur hasil belajar yang
diperoleh oleh siswa. Selain itu, nilai aspek kognitif diperoleh dari pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, dan sintesis siswa yang dievaluasi di setiap akhir

17

pembelajaran. Hasil evaluasi kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk
hasil belajar siswa. Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa suatu pembelajaran
pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan seseorang yang mencakup
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dapat diukur dengan menggunakan tes
hasil belajar.
Hasil belajar dapat dilihat dari nilai yang diperoleh setelah tes dilakukan.
Dengan adanya tes maka siswa akan mengetahui tingkat pengetahuan yang
dimilikinya.

B. Kerangka Pikir

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan satu kelas.
Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh berpikir kritis
siswa SMP terhadap hasil kognitif menggunakan model pembelajaran TPS.

Pelajaran fisika dianggap sebagai pelajaran yang rumit karena memuat banyak
rumus dan fenomena-fenomena abstrak. Siswa mengalami kesulitan untuk
memahami konsep jika pembelajaran di kelas hanya berupa penyampaian materi
yang monoton. Menyoroti hal tersebut maka diperlukan inovasi dalam
pembelajaran untuk membantu siswa. Salah satu cara adalah mengembangkan
keterampilan berpikir kritis guna mempermudah siswa dalam memecahkan
persoalan-persoalan dalam pelajaran fisika.

Keterampilan berpikir kritis memerlukan model pembelajaran yang berpusat pada
siswa dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan gagasangagasan untuk menjawab permasalahan. Penggunaan model pembelajaran yang

18

tepat dapat menggali keterampilan berpikir kritis siswa secara efektif. Model
pembelajaran yang digunakan hendaknya senantiasa merangsang siswa untuk
berpikir kritis sehingga turut meningkatkan hasil belajar fisika siswa.

Keberhasilan belajar fisika sangat ditentukan oleh model pembelajaran yang
diterapkan oleh guru di dalam kelas. Model pembelajaran tersebut tentu saja harus
ada interaksi timbal balik antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa.
Interaksi yang baik juga menghendaki suasana pembelajaran yang tidak
membosankan dan memicu semangat siswa sehingga tercapai tujuan dari
pembelajaran tersebut. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat
mengembangkan keterampilan-keterampilan intelektual dengan model
pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe salah satunya
pembelajaran kooperatif TPS yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dan hasil kognitif siswa. Model pembelajaran TPS
akan menciptakan kondisi belajar siswa yang efektif. Dengan berfokus pada
keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, siswa dituntut berpikir
secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan
secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

Dimana dalam model pembelajaran ini siswa belajar sesuai dengan
kemampuannya sehingga masing-masing siswa mempunyai kesempatan yang
sama untuk sukses. Di dalam pelaksanaannya hal pertama yang dilakukan adalah
guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran, kemudian
siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri untuk

19

beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah
informasi yang dia dapat. Lalu guru meminta siswa duduk berpasangan dengan
siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama.
Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya.

Tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan
seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan
dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar
seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan hasil diskusi
mereka.

Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap teliti, kreatif, tekun/ulet,
objektif/jujur, dan juga menghormati pendapat orang lain. Keunggulan dari Model
pembelajaran TPS adalah optimalisasi partisipasi siswa dan memberikan
kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada
orang lain sehingga dapat meningkatkan kreativitas, berpikir krtitis dan
kemampuan kognitif pada siswa.
Penelitian ini menggunakan tiga bentuk variabel penelitian , yaitu variabel bebas,
variabel terikat, dan variabel moderator. Sebagai variabel bebas adalah berpikir
kritis (X), variabel terikatnya adalah hasil belajar kognitif siswa (Y), sedangkan
variabel moderator adalah Model pemebelajaran TPS. Untuk mendapatkan
gambaran yang jelas mengenai hubungan variabel bebas dan variabel terikatnya
serta variabel moderator maka dapat dijelaskan dalam Diagram kerangka
pemikiran sebagai berikut.

20

r
X

Y

Z

Gambar 1.Diagram Kerangka Pemikiran
Keterangan:
X
= berpikir kritis
Y
= hasil belajar kognitif siswa
Z
= Model pembelajaran TPS.
r
= pengaruh berpikir kritis terhadap hasil kognitif siswa

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis penelitian ini yang akan diuji adalah:
Ho : Tidak ada pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif
melalui pembelajaran TPS.
H1 : Ada pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif
melalui pembelajaran TPS.

III. METODE PENELITIAN

A. Populasi Penelitian
Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu
seluruh siswa kelas VIII SMP Wiyatama Bandar Lampung pada semester genap
Tahun Pelajaran 2013/2014.
B. Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Berdasarkan
populasi yang terdiri dari 4 kelas kemudian dipilih 1 kelas sebagai sampel dengan
anggapan siswa pada kelas tersebut dapat dilakukan pengukuran terhadap variabel
penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan dan dari hasil pengukuran
tersebut akan diperoleh data yang benar. Sampel yang diperoleh adalah siswa
kelas VIIIc SMP Wiyatama Bandar Lampung semester genap Tahun Pelajaran
2013/2014. Dengan jumlah siswa laki-laki 17 orang dan perempuan 17 orang.

C. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah studi eksperimen dengan menggunakan sebuah kelas yang
menjadi populasi sekaligus sampel dalam penelitian. Kelas tersebut diberikan
perlakuan berupa pembelajaran TPS. Penelitian ini menggunakan rancangan
desain one-shot case study yang menjelaskan bahwa terdapat suatu kelompok

22

yang diberi perlakuan dan selanjutnya diberikan soal ujian akhir (posttest) untuk
melihat hasil belajar. Secara prosedur rancangan desain penelitian pola seperti
ditunjukkan pada gambar 2.
X

O

Gambar 2. Desain Penelitian One-Shot case Study
Keterangan:
X = kemampuan berpikir kritis
O = Posttest hasil belajar kognitif

(Sugiyono, 2010: 110)
Kelas yang menjadi sampel yaitu VIIIc diberikan perlakuan yaitu penerapan
pembelajaran dengan model TPS. Kemudian pada akhir pembelajaran, siswa
diberikan postest ( tes akhir ) dalam bentuk soal essay.

D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ada tiga yaitu variabel bebas, variabel terikat, dan variabel
moderator. Variabel bebasnya adalah berpikir kritis, variabel terikatnya adalah
kemampuan hasil kognitif siswa, dan variabel moderator adalah pembelajaran
TPS.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Instrumen untuk
mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dan untuk mengukur hasil belajar
kognitif siswa adalah soal tes berbentuk essay. Tes ini digunakan pada saat postest
dengan jumlah sebanyak 5 butir soal.

23

F. Analisis Instrumen
Sebelum instrumen digunakan dalam sampel, instrumen harus diuji terlebih
dahulu dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.
1. Uji Validitas
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium,
dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium.
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data
(mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur (ketepatan).Untuk menguji validitas
instrumen digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh
Pearson dengan rumus:

















Keterangan:
= Koefisien korelasi yang menyatakan validitas
= Skor butir soal
= Skor total
= Jumlah sampel

(Arikunto, 2008: 72)
Diketahui dengan kriteria pengujian jika korelasi antar butir dengan skor total
lebih dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid, atau sebaliknya jika
korelasi antar butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka instrumen tersebut
dinyatakan tidak valid. Dan jika r hitung > r tabel dengan α = 0,05 maka koefisien
korelasi tersebut signifikan.

24

Item yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta
korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai
validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap
memenuhi syarat adalah kalau r = 0,3. (Sugiyono, 2010: 188)
Berdasarkan kutipan di atas jika korelasi antar butir dengan skor total lebih dari
0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid, atau sebaliknya jika korelasi antar
butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan tidak
valid. Dan jika r hitung > r tabel dengan α = 0,05 maka koefisien korelasi tersebut
signifikan. Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan program SPSS 17.0 dengan kriteria uji bila correlated item – total
correlation lebih besar dibandingkan dengan 0,3 maka data tersebut kuat (valid).
2. Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali
untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Perhitungan untuk mencari harga reliabilitas instrumen didasarkan pada pendapat
Arikunto (2008: 109) yang menyatakan bahwa untuk menghitung reliabilitas
dapat digunakan rumus alpha, yaitu:

Keterangan :
r11
= reliabilitas yang dicari
2
Σσi
= jumlah varians skor tiap-tiap item
σt 2
= varians total
(Arikunto, 2008: 109)
Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukuran
dapat dipercaya atau diandalkan. Reliabilitas instrumen diperlukan untuk
mendapatkan data sesuai dengan tujuan pengukuran. Untuk mencapai hal tersebut,

25

dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS 17.0 dengan metode Alpha
Cronbach’s yang diukur berdasarkan skala alpha cronbach’s 0 sampai 1.
Menurut Sayuti dalam Saputri (2010: 30), instrumen dinyatakan reliabel jika
mempunyai nilai koefisien alpha, maka digunakan ukuran kemanta-pan alpha
yang diinterprestasikan sebagai berikut:
Tabel 2. Interpretasi ukuran k

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

109 3463 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 883 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 792 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 521 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 668 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1165 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

59 1059 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 659 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 940 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1148 23