Penerapan model pembelajaran cooperative teknik think pair square (Tps) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VIII H di Mts pembangunan uin Jakarta

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TEKNIK
THINK PAIR SQUARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS VIII H DI
MTS PEMBANGUNAN UIN JAKARTA
Skirpsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:
Gilang Ogi Saputra (1111011000016)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015

ABSTRAK
Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Teknik Think Pair Square (Tps) dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqih kelas VIII H di MTs
Pembangunan Jakarta
Kata kunci : Model Pembelajaran Cooperative Teknik Think Pair Square (Tps), Hasil Belajar,
Fiqih
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Model Pembelajaran Cooperative
Teknik Think Pair Square (Tps) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
Fiqih kelas VIII H di MTs Pembangunan Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, tiap siklus meliputi perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus dihentikan ketika indikator keberhasilan, yakni
semua siswa telah mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran
fiqih kelas VIII yaitu 78. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar Fiqih
siswa pada setiap siklus. Peningkatan hasil belajar ditunjukan dengan rata-rata N-Gain pada
siklus I sebesar 41% dan terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 79%, siswa yang mencapai
ketuntasan belajar adalah 56% pada silus I dan pada siklus II semua siswa telah mencapai
ketuntaan belajar. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke II dikarenakan perbaikan dalam
penerapan TPS setelah mengevaluasi kegiatan proses belajar dan hasil belajar. Dari hasil
observasi pada proses pembelajaran, siswa meyukai pembelajaran Fiqih dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif teknik Think Pair Square. Siswa menjadi lebih aktif dan proses
pembelajaran menjadi menyenangkan. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran teknik Think Pair Square sangat efektif, sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar Fiqih.

i

ABSTRACT

The Implementation of Cooperative Learning Model Technique Think Pair Square
(Tps) to Improve the Student Learning Result on Fiqh Subject Class VIII H in
MTs Pembangunan Jakarta.
Keywords: The Cooperative Learning Model Technique Think Pair Square (Tps),
Learning Result, Fiqh.

This study aims to indicate the Cooperative Learning Model Technique Think
Pair Square, to improve the student learning result on fiqh subject class VIII H in Mts
Pembangunan Jakarta. This study method is Classroom Active Research which includes
from two cycle, each cycles encompass planning, implementation, observation, and
reflection. Cycle is stopped when the success indicator, it is all students who have
achieved mastery on learning which is assigned by the school for fiqh subject class VIII,
is 78. The study results indicate any improvement on the student learning result on fiqh
subject in every cycle. The improvement on student learning result indicated by the NGain average on cycle I is 41% and there is any improvement on cycle II become 79%,
the student who achieved the mastery on learning is 56% on cycle I and cycle II. All
students have achieved mastery on learning. From the observation result on the learning
process, students like the fiqh subject by using cooperative learning techniques Think
Pair Square. Students become more active and the learning process became enjoyable.
It can be conclude that learning by using model learning technique Think Pair Square is
very effective, so it can improve the learning result on fiqh subject.

KATA PENGANTAR
   
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam yang selalu memberikan
rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Teknik Think Pair Square (Tps) dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada

Mata Pelajaran

Fiqih kelas VIII H di MTs

Pembangunan Jakarta. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, para tabi’in, dan kepada seluruh umatnya. (Amin).
Semoga kita mendapatkan syafaatnya nanti di yaumul akhir.
Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan kami sangat
terbatas, sehingga banyak kekurangan dalam skripsi ini, dan masih jauh dari kesempurnaan.
Namun dengan adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya
skripsi terselesaikan. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
2. Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
3. Ibu Marhamah Saleh, Lc, MA. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam
4. Bapak Drs. H. Ghufron Ihsan, MA., selaku dosen pembimbing yang dengan tulus ikhlas dan
dengan segala kesabarannya telah memberikan bimbingan sehiingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
5. Bapak dan ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberikan sumbangan wawasan keilmuan dan membimbiing penulis selama
mengikuti perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6. Pimpinan pepustakaan, para staf dan para karyawan, baik perpustakaan utama UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta maupun perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah
memberikan kemudahan dalam penggunaan sarana perpustakaan.
7. Orang tua tercinta , ayahanda Kusnodo dan ibuda Khayati yang dengan penuh kasih sayang

dan perhatiannya yang tulus, serta dengan kesabaran selalu memberikan dorongan baik
i

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQOSAH
ABSTRAK ......................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL, GRAFIK DAN GAMBAR .............................................................. vi
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ........................................................................................ 4
D. Perumusan Masalah ......................................................................................... 5
E. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 5
F. Manfaat Penelitian ........................................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS ...... 6
A. Landasan Teori ............................................................................................... 6
1. Pembelajaran Kooperatif ........................................................................... 6
a. Hakikat dan Tujuan Pembelajaran Kooperatif .................................... 6
b. Macam-macam Pembelajaran Kooperatif ........................................... 11
2. Teknik Pembelajaran Think Pair Square .................................................. 14
a. Hakikat Teknik Pembelajaran Think Pair Square............................... 14
b. Keunggulan Teknik Pembelajaran Think Pair Square........................ 17
c. Langkah-langkah Teknik Pembelajaran Think Pair Square ............... 17
3. Hasil Belajar .............................................................................................. 19
a. Hakikat dan Urgensi Hasil Belajar ...................................................... 19
b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar .......................................... 20
4. Pembelajaran Fiqih di MTs ....................................................................... 21
a. Hakikat dan Urgensi Pembelajaran Fiqih di MTs ............................... 21
b. Ruang Lingkup Pembelajaran Fiqih di MTs kelas VIII ...................... 23
c. Metode Pembelajaran dalam Mengajarkan Fiqih di MTs ................... 23


B. Hasil Penelitian yang Relevan......................................................................... 25
C. Kerangka Berpikir ........................................................................................... 27
D. Hipotesis Tindakan.......................................................................................... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................... 28
A. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 28
B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian .................................. 28
C. Subjek Penelitian ......................................................................................... 30
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian .................................................. 31
E. Tahap Intervensi Tindakan .......................................................................... 31
F. Hasil Intervensi yang Diharapkan ............................................................... 34
G. Data dan Sumber Data ................................................................................. 34
H. Instrumen Pengumpulan Data ..................................................................... 34
I. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 35
J.

Teknik Pemeriksaan Kepercayaan ............................................................. 36

K. Teknik Analisis Data dan Interprestasi Data ............................................... 39
L. Pengembangan Perencanaan Tindakan ....................................................... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN ....................................................................................... 41
A. Kondisi Obyektif Sasaran Penelitian ............................................................. 41
B. Deskripsi Data Hasil pengamatan Efek/Hasil Intervensi Tindakan .............. 49
C. Analisis Data Hasil Belajar............................................................................ 53
D. Interprestasi Hasil Analisis ............................................................................ 60
E. Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................................... 73
BAB V PENUTUP............................................................................................................. 76
A. Kesimpulan...................................................................................................... 76
B. Saran ................................................................................................................ 76
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 78
LAMPIRAN....................................................................................................................... 80



DAFTAR TABEL, GRAFIK, DAN GAMBAR
Tabel : 4.1

Keadaan Guru dan Karyawan MTs Pembangunan UIN Jakarta ................ 45

Tabel : 4.2

Keadaan Siswa MTs Pembangunan UIN Jakarta ....................................... 48

Tabel : 4.3

Hasil Belajar Siswa Mapel Fiqih Siklus I................................................... 54

Tabel : 4.4

Hasil Belajar Siswa Mapel Fiqih Siklus II.................................................. 57

Tabel : 4.5

Skor Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II......................... 60

Tabel : 4.6

Aktivitas Siswa Siklus I............................................................................. 63

Tabel : 4.7

Aktivitas Guru Siklus I .............................................................................. 64

Tabel : 4.8

Aktivitas Siswa Siklus II ........................................................................... 70

Tabel : 4.9

Aktivitas Guru Siklus II............................................................................. 71

Grafik 4.1

Hasil Belajar Siklus I................................................................................. 56

Gambar 2.1

Langakah-langkah Pembelajaran Think Pair Square ................................ 18

Gambar 3.1

Siklus PTK................................................................................................. 29

Gambar 4.1

Struktur Organisasi MTs Pembangunan UIN Jakarta ............................... 45



DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Lembar Uji Referensi ............................................................................... 80

Lampiran 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Silus I................................... 83

Lampiran 3

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Siklus I ........................................ 95

Lampiran 4

Instrumen Tes Hasil Belajar Siklus I........................................................ 96

Lampiran 5

Hasil Belajar Siklus I................................................................................ 99

Lampiran 6

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Silus II ................................ 101

Lampiran.7

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Siklus II...................................... 113

Lampiran 8

Instrumen Tes Hasil Belajar Siklus II ..................................................... 114

Lampiran 9

Hasil Belajar Siklus II.............................................................................. 116

Lampiran 10

Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I ........................................... 118

Lampiran 11

Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I.............................................. 120

Lampiran 12

Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II........................................... 123

Lampiran 13

Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus II ............................................ 125

Lampiran 14

Catatan Lapangan Siklus I....................................................................... 127

Lampiran 15

Catatan Lapangan Siklus II...................................................................... 128

Lampiran 16

Hasil Wawancara Siswa .......................................................................... 129

Lampiran 17

Hasil Wawancara Guru............................................................................ 133

Lampiran 18

Materi Pembelajaran................................................................................ 134

Lampiran 19

Perhitungan Validitas, Reliabilitas, Tingkat Kesukaran, dan Daya Pembeda
Butir Soal .................................................................................................. 134

Lampiran 20

Dokumentasi Penelitian............................................................................ 134



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar
bagi pembangunan suatu negara. Dalam agamapun pendidikan merupakan
kewajiban yang harus ditempuh agar manusia memperoleh derajat yang tinggi
dihadapan Allah SWT. seperti dalam firman-Nya :

            ……
  
Artinya : “….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al- Mujadillah (58):
11)1
Ayat diatas menunjukkan bahwa orang berilmu akan diberikan derajat
yang tinggi dihadapan Allah, karena orang yang memiliki ilmu akan
memanfaatkan ilmunya bagi dirinya sendiri dan orang lain. orang yang
beriman dan memiliki ilmu pengetahuan luas akan dihormati oleh orang lain,
diberi kepercayaan untuk mengendalikan atau mengelola apa saja yang terjadi
dalam kehidupan ini. Ini artinya tingkatan orang yang beriman dan berilmu
lebih tinggi di banding orang yang tidak berilmu. Akan tetapi perlu diingat
bahwa orang yang beriman, tetapi tidak berilmu, dia akan lemah. Oleh karena
itu, keimanan seseorang yang tidak didasari atas ilmu pengetahuan tidak akan
kuat. Begitu juga sebaliknya, orang yang berilmu, tetapi tidak beriman, ia
akan tersesat. Karena ilmu yang dimiliki bisa jadi tidak untuk kebaikan
sesama.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan

kehidupan

bangsa.

1

Selain

itu

juga

bertujuan

untuk

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Jakarta : Proyek pengadaan
kitab Suci Al-Qur’an, 1984), h.109

1

2

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokrasi
serta bertanggung jawab.2
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru
sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya
interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks
penyelenggaraan

ini,

guru

dengan

sadar

merencanakan

kegiatan

pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkat aturan dan
rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Peningkatan kualitas pendidikan dicerminkan oleh hasil belajar siswa,
sedangkan keberhasilan atau hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kualitas
pendidikan yang bagus. Keberhasilan untuk meningkatkan mutu pendidikan
perlu adanya pengembangan dan pembaharuan bidang pendidikan anatara lain
adalah pembaharuan model pembelajaran. Model pembelajaran tersebut
hendaknya mendukung tercapainya pengajaran yaitu agar siswa dapat
berpikir aktif dan diberi kesempatan untuk mencoba dalam berbagai
kegiatan belajar.
Salah satu pelajaran yang dilaksanakan pada tingkat Madrasah
Tsanawiyah (MTs) adalah mata pelajaran fiqih. Mempelajari ilmu fiqih
berguna dalam memberi pemahaman tentang berbagai aturan secara
mendalam. Dengan itu orang akan tahu aturan-aturan secara rinci mengenai
kewajiban dan tanggung jawab terhadap tuhannya, hak dan kewajiban dalam
rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat; juga mengetahui tatacara
shalat, zakat, puasa haji dan ibadah laianya. Selain itu ilmu fiqih juga berguna
sebagai patokan untuk bersikap dalam menjalani hidup. Artinya, seseorang
akan mengetahui perbuatan yang wajib,sunah,mubah,makruh dan haram.3

2

Undang-undang RI. no. 20 tahun 2003. Tentang Pendidikan nasional, (Bandung:
Citra umbara), h, 5
3
H.A.Djazuli,Ilmu Fiqih Penggalian Perkembangan dan Penerapan Hukum Islam,
(Jakarta: Kencana, 2010), h. 31

3

Dalam realita, pembelajaran fiqih di madrasah masih didominasi
dengan cara

atau model pembelajaran tradisional yaitu ceramah. Model

tersebut dinilai membosankan bagi para siswa di madrasah, karena dalam
model pembelajaran fiqih masih banyak menekankan pada aspek penalaran
atau hapalan. Menghapal tentu ada gunanya, namun kalau kemudian menjadi
dominan dan seluruh materi harus dihafal, maka akan melahirkan anak-anak
didik yang kurang kreatif dan tidak berani mengungkapakan pendapatnya
sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian siswa menjadi
malas dan kurang bersemangat dalam pelajaran ini. Hal ini tentunya yang
menyebabkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih rendah. Selain itu
pelajaran fiqih juga kurang dianggap penting disbanding pelajaran yang lain,
seperti pelajaran yang diikut sertakan di ujian.
Sebagaimana dialami dalam satu kelas, terdiri dari siswa yang
berlainan satu dengan yang lainya. Mereka berbeda dalam hal bakat,
pengalaman, kecerdasan, dan motivasi belajar. Bagi siswa yang memiliki
kecerdasan rendah akan mengalami kesulitan ketika diberikan suatu masalah
untuk diselesaikan. Berbeda halnya dengan siswa yang pandai, dalam
mengerjakan permasalahan yang diberikan guru tidak akan terlalu kesulitan.
Untuk itu diperlukan model yang didalamnya terdapat kerjasama antar siswa,
agar yang pandai bisa memberi pengalaman belajarnya kepada yang kurang
pandai dan sebaliknya bagi siswa yang kurang pandai bisa bertanya kepada
siswa yang pandai.
Untuk itu diperlukan solusi pembelajaran yang tepat, agar siswa aktif
dan mampu mengembangkan pikiranya terhadap materi yang dipelajari, serta
solusi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih
baik bagi siswa, agar hasil belajar fiqih mengalami peningkatan, salah satunya
dengan menggunakan pembelajaran cooperative teknik think pair square.
Think pair square adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan dapat memberikan
pengalaman belajar yang lebih baik, dimana siswa saling bertukar pendapat,

4

saling berpikir kritis, dan saling membantu permasalah yang sedang dibahas
pada pelajaran fiqih. sehingga dapat meningkatkan hasil belajar fiqih.
Teknik think pair square adalah struktur kegiatan pembelajaran
gotong-royong dengan memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta
bekerja sama dengan siswa lain. Dalam pengelompokanya siswa-siswa
dipasangkan secara heterogen baik dari segi kemampuan akademik, maupun
kelamin.4
Dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis tertarik
untuk mengangkat dan melakukan penelitian terhadap masalah ini dengan
judul Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Teknik Think Pair
Square (Tps) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata
Pelajaran Fiqih kelas VIII H di Mts Pembangunan UIN Jakarta
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat
diidentifikasikan adanya beberapa masalah sebagai berikut;
1. Hasil belajar fiqih yang masih rendah
2. Metode yang digunakan guru masih menggunakan metode tradisional
3. Pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Center)
4. Kurangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran fiqih

C. Pembatasan Masalah
Untuk memudahkan penelitian dan tidak menimbulkan penafsiran
yang berbeda-beda, Penelitian ini memfokuskan pada masalah Penerapan
model pembelajaran cooperative teknik think pair square dalam meningkatkan
hasil belajar siswa kelas VIII H di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

4

Anita Lie, Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang
Kelas,(Jakarta: Grasindo, 2014), h. 57

5

D. Perumusan Masalah
Penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Apakah penerapan model pembelajaran cooperative teknik think pair
square dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII H di MTs
Pembangunan UIN Jakarta?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

penerapan

model

pembelajaran cooperative teknik think pair square dalam meningkatkan hasil
belajar siswa kelas VIII H di MTs Pembangunan UIN Jakarta.

F. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharap bermanfaat bagi ;
1. Bagi guru Fiqih dapat menjadikan model pembelajaran cooperative teknik
think pair square sebagai salah satu alternative untuk menciptakan
pembelajaran yang kreatif dan efektif.
2. Bagi siswa dapat memberikan motivasi, keaktifan dalam belajar dan
meningkatkan interaksi social dengan siswa lain dalam kegiatan
pembelajaran.
3. Bagi penulis agar dapat menambah pengetahuan tentang model kooperatif
thiks pair square dalam meningkatkan hasil belajar dan dapat menerapkan
dalam proses belajar mengajar dengan baik.

BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS

A. Landasan Teori
1. Pembelajaran Kooperatif
a. Hakikat dan Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Kooperatif mengandung pengertian bekerja dalam mencapai
tujuan bersama. Dalam pengertian kooperatif terjadi pencapaian tujuan
secara bersama-sama yang sifatnya merata dan menguntungkan setiap
anggota

kelompoknya.

pembelajaran

yang

“Pembelajaran

mengutamakan

kooperatif

kerjasama

adalah

model

mencapai

tujuan

pembelajaran. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan
bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, yang anggotanya terdiri
dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat
heterogen”1. Keberhasilan dari kelompok tergantung pada kemampuan
dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individu maupun secara
kelompok.
Selain itu, menurut Slavin (Pakar dan pengembang pembelajaran
kooperatif), sebagaimana dikutip oleh Tukiran,dkk.

mengatakan

Kooperatif Learning atau pembelajaran kooperatif yaitu “In cooperative
learning methods, student work together in four member team to master
material initially presented by the teacher.”2 Dari penjelasan tersebut
dapat dikemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model

1

Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013 )

h. 174
2

Tukiran Taniredja.dkk,Model-Model Pembelajaran Inovatif dan
Efektif,(Bandung: Alfabeta, 2013), h. 55

6

7

pembelajaran dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil, saling
bekerja sama, dimana anggotanya terdiri dari 4-6 orang.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran gotong royong,
yaitu system pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas terstrutur.
Dapat

dikatakan pembelajaran kooperatif dapat berjalan jika sudah

terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja
sama secara terarah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.3 Dalam
pembelajaran kooperatif ini siswa bukan saja mendapat pengetahuan dari
guru saja, akan tetapi siwa juga mendapat pengetahuan dari rekan siwa
lainya yang saling mengajar.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan belajar kelompok.
Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan
dengan

pembagian

kelompok

yang

dilakukan

secara

homogen.

Pembagian kelompok homogen cenderung siswa merasa tidak adil,
sehingga

menyebabkan

suasana

belajar

yang

kurang

kondusif.

Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan
memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran
kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu
pembelajaran yang berincikan : memudahkan siswa belajar sesuatu yang
bermanfaat seperti, fakta, keterampilan, nilai,konsep, dan bagaimana
hidup serasi dengan sesama, serta pengetahuan, nilai dan keterampilan
diakui oleh mereka yang berkompeten menilai. keaktifan siswa sangat
membantu untuk meningkatkan nilai akademis sosial.4
Pembentukan kelompok pada pembelajaran kooperatif adalah
heterogen untuk memaksimalkan keberagaman siswa dalam kelas.
3

Anita Lie, Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di
Ruang Kelas,(Jakarta: Grasindo, 2014), h. 12
4
Agus Suprijono, Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM,
(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2013), h. 58

8

Kelompok heterogen adalah cermin dari kelas, termasuk anak lakilaki maupun perempuan yang pintar, sedang dan lemah dengan
perbedaan etnisitas dan bahasa. Keberagaman tingkat pencapaian
memaksimallkan pengajaran sejawat dan berguna sebagai bantuan
untuk pengelolaan kelas.5
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif menurut Made
Wena adalah “ Saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka,
tanggung jawab individu untuk mencapai keberhasilan kelompok dan
keterampilan menjalin hubungan antar pribadi”6.
Johnson dan Sutton yang dikutip oleh Trianto mengemukakan
terdapat lima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :
Pertama, saling ketergantugan yang bersifat positif antar siswa.
Dalam belajar kooperatif setiap siswa merasa sedang berkerja bersama
dalam mencapai tujuan belajar. Setiap siswa tidak akan sukses jika semua
anggotanya tidak sukses. Siswa juga akan merasa menjadi anggota
kelompok jika ia ikut andil dalam suksesnya kelompok tersebut.
Kedua, interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar
kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, akan terjadi
dalam hal siswa akan membantu siswa lain dalam mengerjakan tugas
yang diberikan dan untuk sukses dalam kelompok. Saling membantu
dalam kelompok terjadi karena kegagalan yang dialami seseorang yang
akan memperngaruhi suksesnya kelompok. Interaksi dalam pembelajaran
kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang
sedang dipelajari bersama.
Ketiga, Tanggung jawab individual. tanggung jawab individual
terjadi ketika siswa membantu siswa lain dan juga pada pertanggung
jawaban siswa terhadap kelompok tersebut, siswa bukan hanya ikut
5

Shlomo sharan, The Handbook of Cooperative Learning: Inovsi Pengajaran dan
Pembelajaran untuk Mengacu Keberhasilan Siswa di Kelas, (Yogyakarta:Istana Media),
h. 171
6
Made Wena, Strategi pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi
askar, 2009), h. 191

9

sebagai anggota, akan tetapi harus berpartisipasi dalam kelompok
tersebut.
Keempat, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam
belajar kooperatif, selain siswa dituntut memahami dan mempelajari yang
sedang dibahas, siswa juga dituntut bagaimana berinteraksi dengan siswa
lain dan bagaimana caranya mengungkapkan ide dalam kelompok.
Kelima, Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan
berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok akan terjadi jika
saling anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan
mencapai tujuan kelompoknya.7
Jadi pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang di
dalamnya terdapat kerjasama antar anggota kelompok yang memiliki
karakteristik dan kemampuan berbeda-beda untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang sudah ditentukan. Dalam pembelajran kooperatif tidak
hanya belajar kelompok, tetapi ada tanggung jawab yang bersifat
kooperatif sehingga terjadi interaksi aktif antar anggota kelompok untuk
memahami mata pelajaran. Dalam pembeajaran kooperatif diskusi dan
komunikasi dikembangkan, hal ini bertujuan agar peserta didik saling
bertukar pikiran, berpikir kritis dan saling menyampaikan pendapat,
saling membantu masalah yang sedang dibahas dan saling menilai
kemampuan antar individu ataupun kelompok.
Menurut

Rusman

“Model

pemebelajaran

kooperatif

dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran
penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman
dan pengembangan keterampilan social.” 8

7

Trianto.S.Pd, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta:
Kencana), h. 60
8
Rusman, Model-Model Pembelajaran Pengembangan Profesionaisme Guru
,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 209

10

Pada pembelajaran kooperatif ini siswa dibagi menjadi kelompok
kecil dimana didalamnya siswa yang memiliki keberagaman yang tidak
sama dituntut bekerjasama, saling membantu dan saling memberi ide-ide
terhadap topik dan masalah yang sedang dibahas. Pembelajaran
kooperatif juga memudahkan siswa dalam mengatasi materi-materi yang
sulit.
Selain dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa,
pembelajaran kooperatif juga menuntut siswa agar menerima keragaman
yang berbeda yang dimiliki anggota kelompok. Dalam kelompok yang
telah dibagi secara heterogen akan mengelompokkan siswa secara acak,
sehingga dalam setiap kelompok tidak semuanya laki-laki dan tidak
semuanya perampuan, begitu juga dalam kelompok tidak semua
anggotanya memiliki kemampuan akademik yang baik. Disinilah para
siswa dituntut agar memahami siswa lain dalam kelompoknya agar
mencapai tujuan belajar bersama. Pemahaman ini bisa berupa penilaian
terhadap teman, menghargai pendapatnya, hingga menyampaikan ide
dalam materi yang dijelaskan. Dalam pembelajaran kooperatif juga
menguntungkan siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi dan
yang rendah. Siswa yang memiliki kemampuan baik akan menjadi tutor
siswa lain yang kemampuanya ada dibawahnya, sehingga siswa yang
dibawah akan terbantu oleh tamanya. Siswa yang akademiknya tinggi
akan memiliki tambahan pengalaman dan meningkatkan kemampuan
akademiknya. Karena dalam menjadi tutor membutuhkan pemikiran lebih
dalam tentang hubugan ide-ide yang terdapat dalam materi tertentu.
Keterampilan sosial juga dikembangkan dalam pembelajran
kooperatif. Dalam kelompok belajar yang heterogen pastinya terdiri dari
berbagai latar belakang yang berbeda sehingga dalam mencapai tujuan
memerlukan keterampilan sosial. Keterampilan tersebut diantaranya yaitu

11

melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat
dibangun dengan mengembangkan komonikasi antaranggota kelompok,
sedang peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antaranggota
kelompok selama kegiatan berlangsung.9
Pembelajaran

Kooperatif

mempunyai

beberapa

tujuan,

diantaranya :
1) Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Model
pembelajaran kooperatif ini memiliki keunggulan dalam membantu
siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.
2) Agar siswa dapat menerima teman-temanya yang mempunyai
berbagai perbedaan latar belakang.
3) Mengembangkan keterampilan social siswa; berbagai tugas, aktif
bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk
bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja dalam
kelompok.10

b. Macam-macam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai macam model
diantaranya yaitu :
1) Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot
Aronson dkk, di Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh
Slavin dkk di Universitas Jhon Hopkins. Pembelajaran kooperatif
jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang menitik
beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok
kecil.

9

Ibid, h,210
Abdul Majid, Op.cit, h.175

10

12

Dalam terapan tipe jigsaw, siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok dengan lima atau enam kelompok belajar heterogen.
Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap
anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu
dari bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain
mendapat tugas topik yang sama, yakni berkumpul dan berdiskusi
tentang topik tersbut.11
2) Student Team Achievement Division (STAD)
Student Team Achievement Division (STAD), merupakan
model pembelajaran yang pertama kali dikembangkan oleh Robert
Slavin dkk di Universitas John Hopkins.
Dalam

STAD,

siswa

dibagi

menjadi

kelompok

beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis
kelamin dan sukunya. Sang guru memberikan suatu pelajaran, dan
kemudian siswa-siswa di dalam kelompok itu memastikan bahwa
semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran itu.
Selanjutnya, semua siswa menjalani kuis perorangan tentang
materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak bisa saling
membantu

satu

sama

lain.

Nilai-nilai

hasil

kuis

siswa

diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri yang
sebelumnya, dan nilai-nilai diberi hadiah berdasarkan pada
seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa
tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa tinggi
nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Nilai-nilai itu
kemudian dijumlah untuk mendapatkan nilai kelompok, dan

11

Ibid, h.182

13

kelompok yang bisa mencapai kriteria tertentu bisa mendapatkan
sertifikasi atau hadiah-hadiah yang lainnya.12
3) Mencari Pasangan ( Make a Match)
Teknik belajar mengajar mencari pasangan (make a
match) dikembangkan oleh Lorna Curran. Salah satu keunggulan
teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran.
4) Kepala Bernomor (Number Heads)
Teknik belajar mengajar kepala bernomor (Number
Heads)

dikembangkan

oleh

Spencer

Kagan.

Teknik

ini

memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan
ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Tahapan pertama yaitu, siswa dibagi dalam kelompok,
setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor. Tahap kedua,
guru

memberikan

tugas

dan

masing-masing

kelompok

mengerjakanya. Tahap ketiga, kelompok memastikan jawaban
yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota
kelompok mengetahui jawabanya. Pada tahapan keempat guru
memanggil salah satu nomor.13
5) Snowball Thorwing (Melempar Bola Salju)
Teknik

Snowbal

Thorwing

merupaka

metode

pembelajaran kooperatif yang membuat siswa membuat dan
menjawab pertanyaan yang dipadukan melalui suatu permainan,

12
13

Shlomo sharan, op.cit, h.5
Anita Lie, op.cit, h, 55.

14

dengan permaian melempar kertas yang berisi soal yang telah
dibuat siswa.14
6) Berpikir Berpasang Berempat ( Think Pair Square)
Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sama
dengan

orang

lain.

Keunggulan

lain

teknik

ini

adalah

mongoptimalkan partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang
memungkinkan hanya satu siswa yang maju dan membagikan
hasilya untuk seluruh kelas, teknik berpikir berpasang berempat
ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak
kepada para setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan
partisipasi mereka pada orang lain.

2. Teknik Pembelajaran Think Pair Square
a. Hakikat Pembelajaran Think Pair Square
Model pembelajaran kooperatif tipe tink-pair-square merupakan
modifikasi dari model pembelajaran kooperatif tipe tink-pair-share yang
dikembangkan oleh Spencer Kangan pada tahun 1933. Think-PairSquare memberikan kesempatan kepada siswa mendiskusikan ide-ide dan
memberikan suatu pengertian bagi mereka untuk melihat cara lain dalam
menyelesaikan masalah. Jika sepasang siswa tidak dapat menyelesaikan
permasalahan tersebut, maka sepasang siswa yang lain dapat menjelaskan
cara menjawabnya. Selanjutnya, jika permasalahan yang diajukan
tidak

memiliki suatu jawaban benar, maka dua pasang dapat

mengkombinasikan hasil mereka dan membentuk suatu jawaban yang
lebih menyeluruh.15

14

Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Teori,
(Bandung: Refika Aditama), h. 67
15
Anita Lie, op.cit, h. 57

15

Dalam islam juga dijelaskan bahwa muslim dalam menyelesaikan
masalah dianjurkan dengan mermusyawarah seperti dalam firman Allah
di bawah ini:

       
   
Artinya : “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)
seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”
(Asy-Syuura 42: 38)16
Dalam ayat ini teranglah, bahwa urusan kaum Muslimin itu ialah
dengan bermusyawarat (bermufakat, bertukar pikiran) antara sesamanya.
Urusan negeri, perkumpulan, pendidikan, dan sebagainya, hendaklah
dengan bermusyawarah lebih dahulu, sebelum memutuskan suatu
keputusan. Denga jalan begini akan teraturlah urusan kaum Muslimin dan
hiduplah mereka dengan aman dan damai.17
Dalam Islam mengibaratkan persaudaraan dan pertalian sesama
muslim itu seperti satu bangunan, di mana struktur dan unsur bangunan
itu saling membutuhkan dan melengkapi, sehingga menjadi sebuah
bangunan yang kokoh, kuat dan bermanfaat lebih.
Rasulullah saw. bersabda:

:

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Jakarta : Proyek
pengadaan kitab Suci Al-Qur’an, 1984), h.109
17
Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim (Bahasa Indonesia),h. 719

16

16

:
(

)

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:
“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan,
sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi
Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi
Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan.
Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia,
maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat
lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” (H.R Imam Bukhari)18
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Square digunakan
untuk

meningkankan

kemampuan

berpikir,

berkomunikasi,

dan

mendorong siswa untuk berbagi informasi dengan siswa lain. Dalam
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Square membagi siswa ke
dalam kelompok secara heterogen yang terdiri dari empat orang.
Kelompok yang terdiri dari empat orang adalah yang ideal.
Kelompok ini memungkinkan untuk melakukan kerja berpasangan, yang
menggandakan partisipasi dan membuka kesempatan berkomunikasi dua
kali lebih banyak dibandingkan kelompok yang beranggotakan tiga orang.
Kelompok yang beranggotakan lebih dari empat akan menungkinkan
kurangnya partisipasi yang cukup dari anggotanya dan susah diatur.
Sedangkan

apabila

kelompok

beranggotakan

tiga

menimbulkan satu pasangan dan satu anggota tersaing. 19

18
19

Shahih Bukhori, Juz 18 no 5567
Shlomo sharan, op.cit, h. 176

orang

akan

17

b. Keunggulan Model Pembelajaran Kooperatif TipeThink-PairSquare
Model

Pembelajaran

Kooperatif

Tipe Think-Pair-

Square memiliki keunggulan diantaranya adalah:
1) Optimalisasi partisipisasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dan
memberi

kesempatan

kepada

siswa

untuk

dikenali

dan

menunjukkan partisipasi mereka kepada siswa lain.
2) Siswa dapat meningkatkan motivasi dan mendapatkan rancangan
untuk

berpikir,

sehingga

siswa

dapat

mengembangkan

kemampuannya dalam menguji ide dan pemahamannya sendiri.
3) Siswa akan lebih banyak berdiskusi, baik pada saat berpasangan,
dalam kelompok berempat, maupun dalam diskusi kelas, sehingga
akan lebih banyak ide yang dikeluarkan siswa dan akan lebih
mudah dalam merekonstruksi pengetahuannya.
4) Setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan
siswa yang lebih pintar ataupun dengan siswa yang lebih lemah.
5) Dalam kelompok berempat, guru lebih mudah membagi siswa
untuk berpasangan.
6) Dominasi guru dalam pembelajaran semakin berkurang. Guru
hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk
berusaha mengerjakan tugas dengan baik.20

c. Langkah-langkah Teknik Pembelajaran Think Pair Square
Menurut Lie langkah-langkah pembelajaran model kooperatif
tipe Think-Pair-Square adalah sebagai berikut.21

20
21

Anita Lie, op.cit, h. 57
ibid, h. 58

18

Gambar 2.1
Langakah-langkah Pembelajaran Think Pair Square

Keterangan :
S1,S2,S3,S4 – S16

= Siswa

G

= Guru
= Interakasi

Tahap I : Pendahuluan
Guru membagi siswa dalam kelompok yang beranggotakan empat
siswa.
Guru memberikan tugas atau masalah tentang materi yang dibahas
kepada setiap kelompok yang telah dibagi

19

Tahap II: Think (berpikir sendiri)
Setiap siswa memikirkan jawaban masing-masing dan mengerjakan
secara mandiri tugas atau masalah yang telah diberikan guru,
meskipun dalam kelompok ada empat siswa.
Tahap III : Pair (Berpasangan)
Guru meminta siswa agar berpasang-pasangan dengan seorang siswa
yang ada dalam kelompok berempat, agar saling mendiskusikan ideide yang telah didapat setelah memikirkan sendiri.
Tahap IV : Square (Berempat)
Kedua pasangan dalam kelompok berempat saling bertemu dan saling
berdiskusi. Setiap siswa berkesempatan mebagikan hasil kerja dan
pemikiranya baik hasil sendiri, maupun hasil setelah berdiskusi pada
tahap pair (berpasangan).
3. Hasil Belajar
a. Hakikat dan Urgensi Hasil belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Horward
Kingsley sebagaimana yang telah dikutip oleh Nana membagi tiga
macam hasil belajar, yaitu : (a) Keterampilan dan kebiasaan, (b)
pengetahuan dan keterampilan, (c) sikap dan cita-cita. 22
Hasil belajar adalah suatu kegiatan untuk mengukur perubahan
perilaku yang telah terjadi pada diri peserta didik. Hasil belajar akan
memberikan pengaruh dalam dua bentuk, yakni: Pertama peserta
didik

akan

mempunyai

perspektif

terhadap

kekuatan

dan

kelemahannya atas perilaku yang diinginkan. Kedua, mereka
mendapatkan perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik
22

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung :
Remaja Rosdakarya, 2009), h. 22

20

setahap atau dua tahap sehingga timbul lagi kesenjangan antara
penampilan perilaku yang sekarang dengan perilaku yang diinginkan.
Kesinambungan

tersebut

merupakan

dinamika

proses

belajar

sepanjang hayat dan pendidikan yang berkesinambungan. 23
Menurut Benyamin Bloom sebagaimana dikutip Nana, hasil
belajar dibagi menjadi tiga ranah yaitu :
1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis,sintesis,dan evauasi.
2) Ranah afektif berkenaan dengan sifat yang terdiri dari lima aspek
yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi.
3) Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan
dan kemampuan bertindak. Yakni gerakan reflek, keterampilan
gerakan

dasar,

kemampuan

perseptual,

keharmonisan

atau

ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif
dan interpretatif.24
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
hasil atau kemampuan yang diperoleh atau dicapai oleh siswa yang
diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajar.
Hasil belajar diperoleh dari kegiatan penilaian dan yang diharapkan
adanya perubahan tingkah laku.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berikut faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil
belajar, diantaranya yaitu :
1) Faktor Internal
23

E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2009), h. 208
24
Nana Sudjana,op.cit, h.22

21

a) Faktor Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang
prima, tidak dalam keadaan yang lemah dan capek, tidak dalam
keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan
sebagainya semua akan membantu dalam proses dan hasil belajar.
b) Faktor Psikologis
Setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki
kondisi yang berbeda-beda. Beberapa faktor psikologis diantaranya
meliputi intelegensi, perhatian, minat, dan bakat, motif. Motivasi,
kognitif dan daya nalar.
2) Faktor Eksternal
a) Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil
belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam
dan dapat pula berupa lingkungan sosial.
b) Faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan
dan penggunannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang
diharapkan. Seperti kurikulum, sarana, fasilitas dan guru.25

4. Pembelajaran Fiqih di MTs
a. Hakikat dan Urgensi Pembelajaran Fiqih
Mata pelajaran fiqih adalah salah satu bagian dari Pendidikan
Agama Islam yang mempelajari tentang Fiqih ibadah dan muamalah,
terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara
pelaksanaan rukun Islam mulai dari ketentuan dan tata cara pelaksanaan
taharah, shalat, puasa, zakat, sampai dengan pelaksanaan ibadah haji,
25

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta : PT.
Gaung Persada Press, 2008), h. 32

22

serta ketentuan tentang makanan dan minuman, khitan, kurban, dan cara
pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.
Adapun menurut bahasa fiqih berarti “faham yang mendalam,
mengetahui batinnya sampai kedalam. Secara istilah fiqih adalah ilmu
tentang hukum-hukum syar’I yang bersifat amaliyah, yang digali dan
dikemukan dari dalil-dalil yang tafshili.”26.
Adapun menurut istilah, kata fiqih adalah ilmu halal dan haram,
ilmu syariat dan hukum sebagaimana dikemukakan oleh Al-Kassani yang
dikutip oleh Sapiudin. 27
Dalam peristilahan syar’i, ilmu fiqih dimaksudkan sebagai ilmu
yang berbicara tentang hukum-hukum syar’i amali (praktis) yang
penetapannya diupayakan melalui pemahaman yang mendalam terhadap
dalil-dalilnya yang terperinci dalam nash (Alquran dan Hadist).
Hukum syar’i yang dimaksud dalam definisi diatas adalah segala
perbuatan yang diberi hukumnya itu sendiri dan diambil dari syariat yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Adapun kata ‘amali dalam definisi
ini dimaksudkan sebagai penjelasan bahwa yang menjadi obyek kajian
ilmu ini hanya berkaitan dengan perbuatan (‘amaliyah) mukallaf dan
tidak termasuk keyakinan atau iktikad (‘aqidah) dari mukallaf itu.
Sedangkan dalil-dalil terperinci (al-tafshili) maksudnya adalah dalil-dalil
yang terdapat dan terpapar dalam nash di mana satu persatunya menunjuk
28

pada satu hukum.

Dasar yang mendorong manusia untuk mempelajari ilmu fiqih
menurut Nazar Bakry diantaranya sebagai berikut :
1) Untuk mencari kefaham dan pengertian tentang ajaran Islam.
26

Zurinal.Z,&Aminudin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas
Islam negeri Syarif Hidayatullah,2008). H.5
27
Sapiudin Shidiq,Ushul Fiqh), (Jakarta: Kencana,2011), h,4
28
Alaidin Koto, Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada),
h. 2

23

2) Untuk mempelajari hukum-hukum Islam yang berhubungan
dengan kehidupan manusia.
3) Memperdalam pengetahuan dalam hukum-hukum agama dalam
bidang ibadat dan mu’amalat.29

b. Ruang Lingkup Pembelajaran Fiqih di MTs
Ruang lingkup fikih di Madrasah Tsanawiyah meliputi aturan dan
ketentuan tentang pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian,
keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah
SWT dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Adapun ruang
lingkup mata pelajaran Fik

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3897 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1036 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 931 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 624 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 779 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1326 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1226 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 811 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1096 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1326 23