Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and share siswa kelas IV MI Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga- Tangerang

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI
PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL
THINK, PAIR AND SHARE SISWA KELAS IV MI.
JAM’IYATUL MUTA’ALLIMIN TELUKNAGA TANGERANG
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd.I)

Oleh

MAEMUNAH ED
NIM : 1811018300034

PROGRAM STUDI PGMI DUAL MODE SISTEM (DMS)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI
PENDEKATAN PEMBELAJARAN l{OOPERATIlf MODEL tHINK,

PAIR AND SHARE SISWA KELAS IV MI. JAM'IYATUL



MUTA' ALLIMIN TELUKNAGA TANGERANG

(V\_JI ^セo
MセZe m

NIM: 1811018300034

Dosen Pembimbing

Drs. H. NURROCHIM, MM
NIP: 195907151984031003

PROGRAM STUDI PGMI
FAKtJLTAS ILMU TARBIYAH nAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

2014

ABSTRAK

Maemunah ED( NIM: 1811018300034): Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
IPS Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Think, Pair and
Share Siswa Kelas IV MI. Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga-Tangerang.
Berdasarkan masalah mengenai rendahnya hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS, maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang
bagaimana upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS, materi “Perkembangaan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan
Transportasi”. Penulis melakukan penelitian di MI.Jam’iyatul Muta’allimin
Teluknaga-Tangerang untuk mengetahui hasil belajar siswa, khususnya siswa
kelas IV. Dalam penelitian ini penulis sekaligus bertindak sebagai peneliti
melakukan pelaksanan pembelajaran dikelas melalui tiga tahapan, yaitu tahapan
perencanaan, tahapan proses pelaksanaan, dan tahapan evaluasi/penilaian.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui
pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and share mata pelajaran
IPS. Subyek penelitian berjumlah 17 orang siswa kelas IV. Instrument yang
digunakan adalah soal tes tertulis dan lembar observasi siswa. Pencapaian hasil
belajar siswa dihitung dengan rumus N-Gain. Hasil Penelitian menunjukkan
bahwa penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and
share dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan pencapaian keseluruhan
nilai N-Gain 53, dan tingkat keberhasilan belajar siswa mencapai 100%. Hasil
observasi menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dapat terlaksana dengan
baik (86,50%). Siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran
kooperatif model think, pair and share. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and
share dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV MI.Jam’iyatul
Muta’allimin Teluknaga-Tangerang.

v

ABSTRACT
Maemunah ED (NIM: 1811018300034): The Effort of Increasing Learning
Social Science Achievement Through Cooperative Learning Approach
Think, Pair and Share of Fourth Grade Students MI Jam’iyatul
Muta’allimin Teluknaga – Tangerang .
Based on students’ low achievement on social science lesson, it
encourages the writer to do a research on how teachers’ effort in increasing
students’ achievement in social science lesson. The writer does the research in MI
Jam’iyatul Muta’allimin Teluk naga – Tangerang to know the students’
achievement, especially fourth grade students. In this research the writer also acts
as the researcher who does the learning process in the class through three steps.
They are planning step, research process step, and evaluation step.
The purpose of this research is to increase the students’ learning
achievement through Cooperative Learning Approach Think, Pair and Share in
social science lesson. The subjects of the research are 17 students of fourth grade.
The instruments used are written test, elaboration work sheet, and students’
observation sheet. The students’ achievement is counted with N-Gain formula.
The result of the research shows that the application of Cooperative Learning
Approach Think, Pair and Share can increase students’ learning achievement with
N-Gain total achievement 53, and students’ learning success is up to 100%. The
observation result shows that the learning activity can be well done (86.50%). The
students give positive response to Cooperative Learning Approach Think, Pair
and Share. So, it can be concluded that Cooperative Learning Approach Think,
Pair and Share can increase the learning achievement of fourth grade students of
MI Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga- Tangerang.

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT., yang telah memberikan taufik,
hidayah, serta inayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah saw.,
keluarga, para sahabat serta para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Amiin yaa robbal „alamiin.
Skripsi yang berjudul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui
Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Think, Pair and Share Siswa
IV

Kelas

MI.

Jam’iyatul

Muta’allimin

Teluknaga

Tangerang

ini

kemungkinan besar tidak dapat penulis selesaikan tanpa bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis ingin penyampaikan ucapan terima kasih, terutama
kepada :
1. Dra. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D Dekan Fakultas FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan motivasi dalam penyelesaian
studi dan skripsi penulis.
2. Dr. Fauzan, MA Kepala Jurusan Program Dual Mode Sistem FITK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mengarahkan, mendidik serta
memberikan motivasi kepada penulis.
3. Asep Ediana Latip, M. Pd, Sekretaris Jurusan Program Dual Mode Sistem
FITK UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta yang telah mengarahkan dan

membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Dindin Ridwanudin, M. Pd Sekretaris Program Dual Mode Sistem FITK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan motivasi dalam
penyelesaian studi dan skripsi penulis.
5. Drs. H. Nurrochim, MM Pembimbing yang telah memberikan bimbingan
dan saran-saran kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh civitas akademik UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, terutama yang telah mengajar dan mendidik penulis
selama kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
vii

7. Kedua orang tua, suami, dan anak-anak penulis yang telah memberikan
support selama menjalani masa kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Kepala Madrasah dan seluruh guru MI Jam’iyatul Muta’allimin
Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang yang telah memberikan
penulis inspirasi.
9. Sahabat dan rekan-rekan yang telah memberikan motivasi selama
penyusunan skripsi ini.
Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik dari segi isi maupun metodologi penulisannya. Untuk
itu, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan
selanjutnya.
Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Jakarta,

Penulis,

viii

2014

Motto:
“Sedikit tertangkap lebih baik, daripada banyak terlepas.”

Kupersembahkan kepada:
Ayahanda Musa dan Ibunda Mini (Alm) serta Ibunda Maryam, suami tercinta
Yadi Subagus, anak-anakku tercinta ananda Gita Safitri, Muhamad Malikal
Mulki, dan Nikita Trihandini, serta keluarga besarku.

ix

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan Pembimbing ......................................................................... i
Surat Pernyataan Keaslian Skripsi ....................................................................... ii
Lembar Pengesahan Pembimbing ....................................................................... iii
Lembar Pengesahan Panitia Ujian ...................................................................... iv
Abstrak ................................................................................................................. v
Kata Pengantar ................................................................................................... vii
Motto ...................................................................................................................ix
Daftar Isi............................................................................................................... x
Daftar Tabel ....................................................................................................... xii
Daftar Diagram.................................................................................................. xiii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah .............................................................................. 6
D. Rumusan Masalah .................................................................................. 6
E. Tujuan Penelitian ................................................................................... 6
F. Kegunaan Penelitian .............................................................................. 7
BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ......................... 8
A. Deskripsi Teoritik .................................................................................. 8
B. Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................. 29
C. Kerangka Berpikir ................................................................................ 30
D. Hipotesis Penelitian ............................................................................. 31

x

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 33
A. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 33
B. Model dan Rancangan Siklus Penelitian.............................................. 33
C. Subyek Penelitian................................................................................. 35
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian .......................................... 36
E. Tahapan Intervensi Tindakan ............................................................... 36
F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan........................................ 36
G. Data dan Sumber Data ......................................................................... 36
H. Instrument Pengumpulan Data ............................................................. 37
I. Analisis Data dan Interpretasi Data ..................................................... 37
J. Pengembangan Perencanaan Tindakan ................................................ 38
BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ............... 39
A. Deskripsi dan Analisis Data ................................................................. 39
B. Pembahasan.......................................................................................... 54
BAB V KESIMPULAN ................................................................................... 58
A. Kesimpulan .......................................................................................... 58
B. Saran .................................................................................................... 58
Daftar Pustaka .................................................................................................. 60
Lampiran- lampiran ............................................................................................ 63

xi

DAFTAR TABEL

1. Tes Hasil Belajar Siswa(N-Gain)................................................................40
2. Data Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus I……………………….…....41
3. Hasil Evaluasi……………………………………………………………...43
4. Data Rekapitulasi Hasil Penelitian Siklus I………………….....................44
5. Persentase Peningkatan N-Gain…………………………………………...48
6.Data Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus II…………….........................49
7.Hasil Evaluasi………………………………………………........................50
8. Perbandingan post test siklus I dan post test siklus II………………….....51
9.Data Rekapitulasi Hasil Penelitian Siklus II……………….........................53

xii

DAFTAR DIAGRAM

1.

Data Rata-rata Pre test dan Post test......................................................... 54

2.

Persentase Peningkatan Nilai N-gain ........................................................ 55

3.

Persentase Ketercapaian KKM ................................................................. 55

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran peserta didik memiliki tugas utama yaitu

belajar, sedangkan guru sebagai fasilitator untuk mendampingi peserta didik atau
siswa dalam belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hasil yang tinggi dalam
belajar peserta didik atau siswa tidak hanya tergantung kepada guru, mereka harus
menyadari bahwa tugas mereka adalah belajar, sehingga apabila mereka ingin
berhasil dalam belajarnya, mereka harus berusaha untuk mencapainya.
Untuk mencapai hasil yang tinggi dalam belajar siswa tidak hanya
tergantung kepada guru, mereka harus menyadari bahwa tugas mereka adalah
belajar, sehingga apabila mereka ingin berhasil dalam belajarnya, mereka harus
berusaha untuk itu.Semua hasil belajar yang diperoleh merupakan hasil usaha
yang nyata dilakukan mereka dalam belajar. Makin tinggi usaha yang dilakukan
siswa makin tinggi pula prestasi belajar yang diperoleh, yang menunjukkan makin
tinggi pula kualitas diri mereka sehingga akan mudah untuk melanjutkan ke
tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Salah satu tantangan mendasar dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
dewasa ini adalah mencari strategi proses pembelajaran inovatif dan kreatif yang
memungkinkan bagi peningkatan mutu pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal
ini dirasakan mendesak seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut membuka kemungkinan siswa tidak hanya
belajar di dalam kelas yang dibimbing oleh guru, akan tetapi siswa dapat belajar
dari luar kelas, seperti dari lingkungan masyarakat dan media cetak ataupun media
elektronik serta sarana-sarana lain yang tersedia.1

1

Arnie Fajar, Portofolio Dalam Pembelajaran IPS, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2009),

h. v

1

2

Guru yang profesional dalam melaksanakan tugas pembelajaran dituntut
menguasai kompetensi atau kemampuan dasar pembelajaran dan aspek keilmuan.
Salah satu kemampuan yang harus dikuasai guru adalah keterampilan
mengembangkan model pembelajaran. Keterampilan mengembangkan model
pembelajaran yaitu keterampilan yang berhubungan dengan upaya untuk
mengembangkan model pembelajaran di kelas yang dapat memotivasi dan
menggairahkan belajar siswa.
Kualitas pendidikan sangat erat kaitannnya dengan hasil belajar. Hasil
belajar siswa merupakan gambaran upaya yang dilakukan oleh siswa dalam
menyelenggarakan

program

belajarnya.

Hasil

belajar

seseorang

akan

menunjukkan seberapa besar daya serap dan peran aktif yang dicapai oleh siswa
dalam belajarnya. Daya serap yang tinggi dan peran aktif akan digambarkan pada
hasil belajar yang tinggi. Keadaan ini juga menggambarkan kualitas siswa,
kualitas siswa dikatakan tinggi jika hasil belajar tinggi.
Kenyataan yang dialami oleh sebagian besar siswa MI. Jam’iyatul
Muta’allimin Kampung Besar Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang,
khususnya siswa

kelas IV adalah menganggap bahwa mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial sebagai pelajaran yang sulit dimengerti, membosankan dan
tidak menarik. Anggapan siswa tersebut dapat menimbulkan rendahnya hasil
belajar siswa yang diakibatkan oleh kurangnya minat dan motivasi dalam
mengikuti pembelajaran. Siswa merasa malas belajar karena sejak awal sudah
beranggapan bahwa pelajaran tersebut membosankan dan sulit dimengerti.
Dari kenyataan di atas, masalah yang dihadapi oleh siswa kelas IV MI.
Jam’iyatul Muta’allimin Kampung Besar Kecamatan Teluknaga Kabupaten
Tangerang adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial. Rendahnya hasil belajar siswa tersebut bisa disebabkan oleh
guru yang dalam proses pembelajarannya kurang bervariasi atau dalam
penyampaian materi yang hanya menggunakan metode yang monoton/ metode
yang itu-itu saja. Akhirnya, dalam proses pembelajaran tersebut kurang optimal,
pada siswa akan timbul rasa jenuh atau bosan yang berakibat mereka sulit

3

memahami materi yang disampaikan oleh guru. Siswa merasa malas belajar dan
jenuh karena sejak awal sudah beranggapan bahwa pelajaran tersebut sulit
dimengerti, dan akhirnya berlanjut kepada hasil tes yang rendah, yang rata-rata
hanya mencapai 40% sampai 50% saja. Untuk itu perlu kiranya dilakukan upayaupaya dalam rangka meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa.
Salah satu upaya yang harus dilakukan guru adalah mengkondisikan proses
pembelajaran agar berjalan secara optimal dan menyenangkan, sedangkan upaya
yang harus dilakukan siswa adalah upaya belajar yang terus-menerus. Upaya
belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang
telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam
aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka dalam penelitian ini
penulis mengambil judul: ”UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
ILMU

PENGETAHUAN

SOSIAL

MELALUI

PENDEKATAN

PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL THINK, PAIR AND SHARE
SISWA KELAS IV MI. JAM’IYATUL MUTA’ALLIMIN TELUKNAGA
TANGERANG.”
Dengan mengambil judul tersebut, diharapkan dapat mengoptimalkan
proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran merupakan kerja aktif, bukan hanya
menerima pengajaran dari guru secara pasif saja, namun siswa tetap merupakan
kunci keberhasilan pembelajaran.Pembelajaran dikondisikan agar mampu
mendorong kreativitas anak secara keseluruhan, membuat siswa aktif, mencapai
tujuan pembelajaran secara efektif dan berlangsung dalam kondisi yang
menyenangkan. Dalam proses pembelajaran siswa memiliki tugas utama yaitu
belajar, sedangkan guru sebagai fasilitator untuk mendampingi siswa dalam
belajar.
Akhir dari rangkaian proses pembelajaran adalah tes akhir suatu mata
pelajaran yang dilakukan melalui tes formatif, baik lisan maupun tulisan, tes
tengah semester, dan tes akhir semester atau tes ujian kenaikan kelas. Di dalam
menghadapi tes suatu mata pelajaran bagi siswa sekolah dasar perlu adanya

4

refreshing terhadap materi ajar yang telah diterima oleh siswa selama mengikuti
proses pembelajaran.
Siswa bukanlah sebuah wadah kosong yang bisa diisi dengan muatanmuatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses
belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling
mengajar dengan sesama siswa yang lainnya. Bahkan, banyak penelitian
menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih
efektif daripada pengajaran oleh guru.Sistem pengajaran yang memberi
kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam
tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem kerja kelompok atau
cooperative learning.Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator.
Salah satu model pembelajaran yang bisa membuat siswa dapat bekerja
sama dan berbagi dengan sesama siswa lainnya adalah melalui pembelajaran
kooperatif model Think Pair and Share atau Berfikir, Berpasangan dan Berbagi.
Think, Pair and Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan
untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru
sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga
terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan
kelompok, sehingga antar peserta didik dapat saling membelajarkan melalui tukar
pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.
Model kerja kelompok sering dianggap kurang efektif.Berbagai sikap dan
kesan negative memang bermunculan dalam pelaksanaan model kerja kelompok.
Jika kerja kelompok tidak berhasil, siswa cenderung saling menyalahkan.
Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan tidak adil.Siswa yang pandai/rajin
merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka.
Akibatnya, kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia, yakni menanamkan
rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama, justru bisa berakhir dengan
ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa
pesimis mengenai penggunaan model kerja kelompok, bahkan kadang-kadang

5

orang tua pun merasa was-was jika anak mereka dimasukkan dalam satu
kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang seimbang.
Berbagai dampak negatif dalam menggunakan model kerja kelompok
tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak
waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun model kerja
kelompok.Yang diperkenalkan dalam model pembelajaran cooperative learning
bukan sekedar kerja kelompok, melainkan pada penstrukturannya.
Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
pendidikan, perlu diupayakan adanya pembenahan terhadap berbagai hal yang
berkaitan dengan optimalisasi hasil belajar siswa. Secara global, faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi tiga macam, yakni: faktor internal,
faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar.2 Dari ketiga faktor tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor di dalam diri siswa yang meliputi faktor fisik
misalnya kesehatan dan faktor psikologis misalnya motivasi, kemampuan
awal, kesiapan, bakat, minat dan lain-lain.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang ada di luar diri siswa, misalnya
keluarga, masyarakat, sekolah dan lain-lain.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning)
Faktor pendekatan belajar yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi
strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
mempelajari materi-materi pelajaran.
Faktor lain penentu keberhasilan pendidikan adalah guru. Dalam proses
pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa
yang di ajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of
learning). Dengan demikian, efektivitas proses pembelajaran terletak di pundak

2

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya,2010)h.129

6

guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat di tentukan
oleh kualitas atau kemampuan guru.

B.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi

permasalahan penelitian yaitu:
1. Dalam proses pembelajaran, guru kurang bervariasi dalam penyampaian
materi yang hanya menggunakan model pembelajaran yang monoton.
2. Siswa terlihat jenuh ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
3. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pada materi “
Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi”.

C.

Pembatasan Masalah
Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah meningkatkan hasil

belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa kelas IV MI. Jam’iyatul Muta’allimin
Teluknaga dengan menerapkan

Pendekatan PembelajaranKooperatif Model

Think, Pair and Share pada materi “ Perkembangan Teknologi Produksi,
Komunikasi, dan Transportasi”.

D.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan dibahas

adalah apakah dengan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair
and Share dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa kelas
IV MI. Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga ?

E.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat hasil belajar Ilmu

Pengetahuan Sosial melalui pendekatan pembelajaran kooperatif model Think,
Pair and Share di MI. Jami’yatul Muta’allimin Teluknaga Tangerang.

7

F.

Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :
1) Penulis
(a) Meningkatkan profesionalisme sebagai guru;
(b) Meningkatkan kompetensi profesionalisme dalam penguasaan
materi pembelajaran;
(c) Meningkatkan

kompetensi

pedagogic

dalam

penguasaan

metodologi pembelajaran.
(d) Mengetahui

kemampuan

siswa

belajar

IPS

menggunakan

Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Think, Pair and
Share.
2) MI. Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga
Dengan

hasil

penelitian

ini

diharapkan

MI.

Jam’iyatul

Muta’allimin dapat meningkatkan mutu pendidikannya.
3) Guru
(a) Sebagai bahan acuan dalam meningkatkan mutu pendidikan di
kelasnya;
(b) Mendapat pengalaman nyata untuk memperbaiki pembelajaran.
(c) Meningkatkan hasil belajar siswa.
4) Siswa
Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Think, Pair
and Share diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah kata yang sudah akrab dengan semua lapisan
masyarakat. Bagi para siswa kata belajar sudah tidak asing lagi., bahkan
merupakan sudah menjadi bagian

yang tidak terpisahkan dari semua

kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di sekolah.
Terdapat beberapa pengertian tentang belajar, yaitu:
Belajar menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, artinya berusaha
(berlatih dan sebagainya) supaya mendapat sesuatu kepandaian. Dari
definisi tersebut dapat di artikan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan dalam diri seseorang yang di tampakkan dalam bentuk
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan
pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap, kebiasaan dan lain-lain.3
Menurut Slameto :“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Hakikat dari aktivitas belajar adalah
suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu”.

4

Sedangkan

menurut Hintzman:“Learning is a change in organism due to
experience which can

affect

3

the

organism`s

behavior.Artinya,

Arnie Fajar, Op.Cit, h.10
Slameto , Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta:PT. Rineka
Cipta,2003),h.2
4

8

9

belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme
(manusia atau hewan) yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat
memengaruhi tingkah laku organism tersebut.5
Dari beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan ,belajar berarti
berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu.
Belajar adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaktif
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pemahaman,
keterampilan

dan

sikap-sikap.

Melalui

belajar

seseorang

dapat

meningkatkan kualitas dan kuantitas kemampuannya. Apabila di dalam
suatu proses belajar seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan
kualitas dan kuantitas kemampuan, maka dapat dikatakan bahwa orang
tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar atau mengalami
kegagalan.
b. Pengertian Hasil Belajar
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku. Oleh karena itu,
keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya
perubahan yingkah laku pada individu yang belajar.
Menurut Abdurrahman dalam Asep Jihad dan Abdul Haris,”hasil
belajar adalah kemampuan yang diperoleh banak melalui kegiatan belajar.
Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuantujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.”6
Menurut Kunandar, hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam
memenuhi

suatu

tahapan

pencapaian

pengalaman

belajar

dalam

kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk
tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan
dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar
5

Muhibbin Syah, Op. Cit. , h.88
Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran,(Yogyakarta: Multi Pressindo,
2008), cet. 1, h.14
6

10

dan materi standaryang dikaji. Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan,
keterampilan maupun sikap.7
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah hasil atau taraf kemampuan yang dicapai siswa setelah mengikuti
proses belajar dan pembelajaran dalam waktu tertentu baik berupa
pemahaman , tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan yang kemudian
akan diukur serta dinilai lalu diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
c. Prinsip-prinsip Belajar
Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa hal yang dianggap
penting dan merupakan suatu pedoman dalam proses pembelajaran.
Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia
dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang
belajar.
Diantara beberapa prinsip belajar yaitu:
1. Belajar senantiasa bertujuan dengan pengembangan perilaku siswa.
2. Belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan faktor dari
luar individu.
3. Belajar bersifat keseluruhan yang menitikberatkan pemahaman ,
berfikir kritis, dan reorganisasi pengalaman.
4. Belajar membutuhkan bimbingan, baik secara langsung oleh guru
maupun secara tak langsung melalui bantuan pengalaman pengganti.
5. Belajar melalui praktik atau mengalami secara langsung akan lebih
efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan
lain-lain, bila dibandingkan dengan hapalan saja.8
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip
belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan di dalam proses belajr
mengajar. Seorang gurur akan dapat dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan
prinsip-prinsip belajar.

7

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(
KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007),
h.302
8
Ibid, h. 307

11

d. Teori - Teori Belajar
Teori belajar merupakan penjelasan bagaimana terjadinya belajar
yang diproses di dalam pikiran peserta didik.Berdasarkan teori belajar
diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Ada beberapa teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli,
yaitu:

1) Teori Belajar Behaviorisme
Behaviorime merupakan aliran psikologi yang memandang
individu lebih kepada sisi fenomina jasmaniah dan mengabaikan aspekaspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu
dalam kegiatan belajar. Menurut para ahli behaviorisme belajar adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Belajar merupakan
akibat adanya interaksi stimulus dengan respon. Dalam belajar yang
penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa
respon. Menurut Thorndike dan Watson (behaviorisme murni) belajar
adalah “Proses interaksi antara stimulus atau rangsangan yang berupa
serangkain kegiatan yang bertujuan agar mendapatkan respon belajar dari
objek penelitian”.9
Tokoh teori belajar Behaviorisme diantaranya adalah B.F Skinner.
Teori belajar Behaviorisme didasarkan pada asumsi bahwa :
a)

Hasil belajar adalah berupa perubahan tingkah laku yang dapat
diobservasi.

b)

Tingkah laku dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar
dimodifikasi oleh kondisi-kondisi lingkungan,

c)

Komponen teori behavioral ini adalah stimulus, respon, dan
konsekuensi,

d)

Faktor penentu yang penting sebagai kondisi lingkungan dalam
belajar adalah reinforcement.

9

Suyono Hariyanto,Belajar dan Pembelajaran (Bandung:PT.Rosdakarya,2012) h.58

12

Perubahan tersebut ada yang berasal dari diri sendiri dan ada pula
yang berasal dari luar diri. Biasanya dorongan tersebut terjadi karena
adanya suatu kebutuhan yang berasal dari dirinya.Ia akan merasa puas jika
ia melakukan hal tersebut. Untuk itu ia berusaha supaya kepuasan tersebut
dapat tercapai dan akan merasa puas jika ia melakukan hal tersebut. Untuk
itu ia berusaha supaya kepuasan tersebut dapat tercapai. Sedangkan
perubahan yang terjadi dari luar diri adalah perubahan yang disebabkan
karena adanya pengaruh dari faktor luar, yaitu orang tua, guru, dan
masyarakat.
2) Teori Belajar Kognitivisme
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada
hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan
oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan
dengan tujuan belajarnya.Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk
teori belajar yang sering disebut sebagai model perceptual.Belajar
merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat
terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori ini berpandangan bahwa
belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi,
pengolahan informasi, emosi, dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar
merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat
komplek.10
Tokoh teori belajar kognitif adalah Jerome Brunner dan Jean
Piaget, teorinya didasarkan pada :
a) Individu mempunyai kemampuan memproses informasi,
b) Kemampuan informasi

tergantung pada faktor kognitif

yang

perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan
usianya,

10

Ibid ,h.. 75

13

c) Belajar adalah proses internal yang kompleks berupa pemprosesan
informasi,
d) Hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif.
e) Cara belajar pada anak-anak dan orang dewasa berbeda sesuai tahap
perkembangannya.
Dari beberapa teori di atas dapat di simpulkan, bahwa siswa
belajar dan mampu memproses informasi yang diterimanya, di mana para
siswa tersebut dapat berpartisipasi secara aktif dan langsung dalam proses
pembelajaran. Hasil dari pembelajaran tersebut adalah berupa perubahan
kognitif yang tidak selalu tampak.
3) Teori Belajar Konstruktivisme
Konstruktivisme melandasi pemikirannya bahwa pengetahuan
bukanlah sesuatu yang given dari alam karena hasil kontak manusia
dengan alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan)
aktif manusia itu sendiri.Pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari
kenyataan (realitas).Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan
yang ada.Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi
kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.Ia membentuk skema,
kategori, konsep dan struktur pengetahuan.
Berdasarkan konstruktivisme, pengetahuan tidak pernah dapat di
observasi secara independen. Pengetahuan harus diperoleh secara personal
dalam perasaan, tidak dapat ditransfer dari seseorang ke orang lain.
Salah satu tokoh teori belajar konstruktivisme adalah Vygotsky.
Teori Vygotsky menekankan pada beberapa hal, diantaranya: a)
Lingkungan sekitar siswa, meliputi orang-orang, kebudayaan, dan
pengalaman; b) Hubungan antara individu dan lingkungan sosial; c)
Pengaruh budaya.Vigotsky berpendapat:” bahwa proses belajar akan
terjadi secaraefisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif

14

dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung
dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang
dewasa”.11
Proses belajar dapat dikatakatan efisien apabila hasil belajar yang
diinginkan dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan, tanpa
mengeluarkan biaya, tenaga,dan waktu yang banyak.

e. Jenis-jenis belajar
Ada beberapa jenis belajar, diantaranya adalah: belajar abstrak,
belajar sosial, belajar pemecahan masalah, dan belajar keterampilan. 12
Jenis-jenis belajar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Belajar Abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berfikir
abstrak.Tujuannya adalah untuk memproleh pemahaman dan
pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
b) Belajar sosial
Belajar sosial adalah belajar memahami masalah-masalah dan tehniktehnik untuk memecahkan masalah tersebut.Tujuannya untuk
menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalahmasalah sosial, seperti masalah keluarga, masalah persahabatan,
masalah kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat
kemasyarakatan.
c) Belajar Pemecahan Masalah
Proses pemecahan masalah dapat berlangsung bila seseorang
dihadapkan pada suatu persoalanyang di dalamnya terdapat sejumlah
kemungkinan jawaban. Upaya menemukan jalan pemecahan masalah
bisa lewat diskusi, atau suatu penemuan melalui pengumpulan data
dari lapangan dan percobaan (eksperimen).
d) Belajar Keterampilan
Bentuk belajar yang menekankan pada kemampuan menampilkan
bentuk-bentuk gerakan motorik jasmaniah dalam melakukan suatu
kegiatan, sebagai respon dari rangsangan yang datang kepada dirinya.

11

Hindun ,Pembelajaran Bahasa Indonesia Berkarakter di MI/SD,(Depok:Nufa Citra
Mandiri,2012), h.33
12
Muhibbin Syah, Op. Cit. ,h.122

15

Dari beberapa pengertian jenis-jenis belajar diatas, dapat disimpulkan
bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

f. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Belajar atau tidaknya seseorang disebabkan beberapa faktor yang
mempengaruhi hasil belajar, yaitu yang berasal dari dalam diri siswa (internal)
dan ada pula dari luar diri siswa (eksternal). Faktor internal (yang berasal dari
dalam dirinya), yaitu :Cara belajar,

Minat dan Motivasi, Intelegensi dan

Bakat, serta Kesehatan.
Cara belajar para peserta didik sangat menentukan keberhasilannya
dalam proses pembelajaran. Seorang anak yang memiliki cara belajar yang
baik cenderung akan lebih berhasil dalam proses balajarnya, begitu juga
sebaliknya anak yang memiliki gaya belajar yang buruk akan memiliki tingkat
keberhasilan yang rendah.
Minat dan motivasi juga sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
menurut Abu Ahmadi,”Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari
sesuatu, ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam
mempelajari hal tersebut. Sebaliknya, kalau seseorang mempelajari sesuatu
dengan minat, maka hasil yang diharapkan akan lebih baik.”13
Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap
kemampuan dan prestasi belajar siswa. Siswa yang mempunyai intelegensi
tinggi akan lebih berhasil daripada siswa yang cenderung mempunyai tingkat
intelegensi rendah. Menurut Oemar Hamalik,”murid yang cerdas akan lebih

13

Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia,2005), h.107

16

berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia akan lebih mudah menangkap dan
memahami pelajaran dan lebih mudah mengingatnya.”14
Faktor yang terakhir adalah kesehatan, menurut Slameto,”Sehat berarti
dalam keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya atau bebas dari
panyakit.”15Apabila kesehatan anak terganggu maka hal ini dapat membuat
anak tidak bergairah untuk belajar.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut di
atas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran agar dapat
lebih meningkatkan prestasi belajar siswa untuk mencapai tujuan belajar yang
diharapkan.
Menurut UNESCO, ada empat pilar belajar yaitu:
1. Belajar untuk mengetahui ( Learnig to Know).
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan, dan
pemanfaatan informasi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk
memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan
dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: mempeluas wawasan,
meningkatkan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut.
2. Belajar berkarya ( Learning to Do).
Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab
pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah belajar atau
berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja.
3. Belajar hidup bersama (Learning to Live Together).
Belajar untuk hidup bersama, mengisyaratkan keniscayaan interaksi
berbagai kelompok dan golongandalam kehidupan global yang dirasakan
semakin menyempit akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
4. Belajar untuk menjadi manusia yang utuh ( Learning to Be).
Manusia yang utuh adalah manusia yang seluruh aspek kepribadiaanya
berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek ketakwaan terhadap
Tuhan, intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral.16
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang baik
14

Oemar Hamalik,Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), h. 33
Slameto, Op. Cit, h. 54
16
Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran ( PT. Rosdakarya: Bandung, 2012),
15

h. 29

17

berupa perubahan perilaku dan proses belajar tersebut terjadi berdasarkan
latihan atau pengalaman yang terjadi dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.

2. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
a. PengertianIlmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Nama Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies) dalam istilah
Bahasa Indonesia adalah hasil kesepakatan para ahli/pakar Indonesia.
prodi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah social studies dalam
kurikulum persekolahan di Negara lain. Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial
memiliki kesamaan dengan social studies, yaitu ilmu-ilmu sosial yang di
sederhanakan untuk tujuan pendidikan. Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial adalah seleksi atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan
disajikan secarta ilmiah dan pedagogis atau psikologis untuk tujuan
pendidikan .
James A. Banks

dalam bukunya Teaching Strategies For the

Social Studies memberikan definisi social studies sebagai bagian dari
kurikulum sekolah dasar dan menengah yang mempunyai tanggung jawab
pokok membantu para siswa untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan nilai yang diperlukan dalam hidup bernegara di
lingkungan masyarakatnya.Welton & Mallan memandang studi sosial
sebagai mata pelajaran gabungan terutama dari disiplin ilmu-ilmu sosial,
temuan-temuan yang berasal dari disiplin ilmu-ilmu sosial, proses-proses
yang dilakukan oleh ilmuwan sosial dalam menghasilkan temuan dan
pengetahuan itu.17
Adapun menurut beberapa sumber pengertian Ilmu Pengetahuan
17

Sapriya, Susilawati dan Sadjarudin Nurdin, Konsep Dasar IPS,(Bandung: UPI, 2006),

h. 4

18

Sosial adalah sebagai berikut :
Menurut Nursid Sumaatmaja, “Studi sosial bukan merupakan
bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu
bidang pengkajian tentang gejala atau masalah sosial.”18
Menurut Nu’man Soemantri, “Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
adalah penyederhanaan , adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan manusia, yang diorganisir dan disajikan secara
ilmiah dan pedagogis untuk tujuan pendidikan.”19
Menurut Tim IKIP Surabaya, “Ilmu Pengetahuan Sosialmerupakan
bidang studiyang menghormati, mempelajari, mengolah, dan
membahas hal-hal yangberhubungan dengan masalah-masalah
human relationship hingga benar-benar dapat dipahami dan
diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk
yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian
disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah.”20
Ilmu Pengetahuan Sosialyang kita kenal di Indonesia bukan ilmu
sosial.

Oleh

karena

itu,

pembelajaran

Ilmu

Pengetahua

Sosial

yangdilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan
tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek
praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial
masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang
pendidikan masing-masing. Kajian tentang masyarakat dalam Ilmu
Pengetahuan Sosial dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu
lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan siswi dalam lingkungan yang
luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang
maupun di masa lampau. Dengan demikian siswa dan siswi yang

18

Ibid, h. 5
Abdul Azis Wahab,dkk,Konsep Dasar IPS, (Jakarta: Universitas Terbuka,2012),h.2.23
20
Lalabudiati.blogspot.com/2011/12/kajian-ips-pada-tingkat-sekolah-dasar.html,diakses
pada tanggal 10-04-2014
19

19

mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial dapat menghayati masa sekarang
dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia21.
Dengan bertolak dari uraian di atas, kegiatan belajar mengajar Ilmu
Pengetahuan Sosial membahas manusia dengan lingkungannya dari
berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa
mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang
jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru Ilmu Pengetahuan Sosial
harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi Ilmu
Pengetahuan Sosial itu.
b. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS)
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah membantu generasi
muda dalam mengembangkan kemampuan membuat keputusan yang
informatif dan rasional bagi kebaikan masyarakat sebagai warga Negara
dari sebuah dunia yang berbudaya, majemuk, bermasyarakat demokratis
yang memiliki ketergantungan satu sama lain .
Suwarma mengemukakan” tujuan pendidikan iIlmu Pengetahuan
Sosial adalah untuk mengembangkan kemampuan baik intelektual maupun
emosional siswa agar dapat memahami dan memecahkan masalah sosial
dalam rangka memperkuat partisipasi sebagai warga Negara dalam
kehidupan masyarakat.”22
Menurut Syafrudin Nurdin,”Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan nilai
peserta didik sebagai individu maupun sebagai sosial budaya.”23
Menurut Etin Solihatin dan Raharjo, ”tujuan dari pendidikan Ilmu
21

Wahab, dkk, op. cit., h. 3.5
Ibid,h.12.3
23
Syafrudin Nurdin, Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu
Siswa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,(Ciputat: Quantum Teaching,2005),h.15
22

20

Pengetahuan Sosial adalah untuk mendidik dan memberi bekal
kemampuan

diri

sesuai

dangan

bakat,

minat,

kemampuan

dan

lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.”24
Dari beberapa tujuan di atas dapat di simpulkan bahwa tujuan dari
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah agar peserta didik dapat
bersosialisasi terhadap lingkungan sehari-hari. Maka dari itu proses
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah harus terorganisir
dengan baik.
c. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan
manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS
bukanlah mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi terdiri dari beberapa
disiplin ilmu, yaitu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan
tata Negara.
Ruang lingkup mata pelajaran IPS (terpadu) meliputi beberapa
aspek sebagai berikut;
1) Geografi, meliputi manusia, tempat dan lingkungan;
2) Sejarah, meliputi waktu, keberlanjutan dan perubahan;
3) Sosiologi, meliputi sisten sosial dan budaya;
4) Ekonomi, meliputi perilaku ekonomi dan kesejahteraan.25
Pada penelitian ini materi yang dibahas adalah tentang:
”Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi.”
Materi tersebut masuk ke dalam aspek ruang lingkup ekonomi.
Pokok bahasan yang terdapat dalam mata pelajaran IPS tidak
24

Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning(Analisis Model Pembelajaran
IPS,(Jakarta Bumi Aksara, 2008), h.15
25
Sardjiyo, Pendidikan IPS di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka,2011), h.25

21

semata-mata didasarkan atas kepentingan ilmu-ilmu sosial seperti
geografi, sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan sejarah secara
terpisah-pisah, akan tetapi IPS merupakan integrasi dari beberapa macam
ilmu sosial di atas.
d. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Untuk

meningkatkan

hasil

belajar

IPS,

dalam

proses

pembelajarannya harus menarik sehingga peserta didik termotivasi untuk
belajar. Untuk itu diperlukan model pembelajaran yang menarik dan
interaktif, dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada peserta
didik sebagai subyek belajar. Guru harus merancang proses belajar
mengajar yang melibatkan para peserta didik baik pada aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar yang sesuai
dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang sudah ditentukan.
Agar hasil belajar IPS meningkat diperlukan cara dan model
pembelajaran yang tepat untuk melibatkan peserta didik secara aktif dalam
proses pembelajaran. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan
peserta didik secara total adalah pembelajaran dengan model Think, Pair
and Share. Model Think, Pair and Share merupakan model yang mampu
meningkatkan keaktifan siswa

dalam proses pembelajaran dan siswa

dilatih untuk bekerja sama serta berinteraksi dengan teman-temannya.

3. Hakikat Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang
didorong

untuk

mengembangkan

kemampuan

berfikir.

Proses

pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan pada kemampuan anak
untuk menghapal dan memahami berbagai informasi saja, tanpa di tuntut

22

untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya
mereka hanya pintar teori saja tanpa bisa mengaplikasikannya dengan
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan
dan pemahaman serta keterampilan mendesain strategi pembelajaran yang
sesuai dengan materi yang akan di sampaikan kepada siswa. Salah satu
strategi

pembelajaran

yang

mendukung

siswa

mengembangkan

kemampuan berfikir adalah strategi pembelajaran kooperatif.Dengan
strategi pembelajaran kooperatif siswa terlibat secara proaktif antara
kelompok.
Pembelajaran kooperatif (kelompok) merupakan kumpulan dua
orang individu atau lebih yang berinteraksi secara tatap muka, dan
setiap individu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari
kelompoknya, sehinga mereka merasa memiliki, dan merasa saling
ketergantungan secara positif yang digunakan untuk mencapai
tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran dengan menggunakan system pengelompokan a