Peningkatan hasil belajar PKn melalui pendekatan Think-Pair-Share

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn
MELALUI PENDEKATAN THINK-PAIR-SHARE
(Penelitian Tindakan Pada Kelas IV MI Cibeureum Legok
Kabupaten Sukabumi)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat mencapai Gelar Sarjana (S. Pd)

Oleh
UNUY NURHASANAH
NIM: 809018300701

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
DUAL MODE SYSTEM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013

ABSTRAK

Nurhasanah Unuy, 2014. Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui
Pendekatan Think-Pair-Share. Skripsi, Program Studi Kependidikan Islam,
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Dual Mode System,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini dilaksanakan di MI Cibeureuem Legok Kabupaten Sukabumi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PKn melalui
pendekatan Think-Pair-Share. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV Tahun
Pelajaran 2012-2013 dengan jumlah 36 siswa.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yang terdiri atas empat
pertemuan dengan tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Berdasarkan data yang diperoleh, analisis data yang diperoleh, bahwa pada
siklus I peningkatan yang diraih siswa pada perolehan nilai pretes dan postes
untuk kategori rendah yaitu 72.22% sedangkan untuk kategori sedang meningkat
mencapai 27.78%. Sedangkan pada siklus II peningkatan yang diraih siswa untuk
kategori sedang yaitu sebesar 50% dan untuk kategori tinggi meningkat menjadi
50%.

Kata kunci: Hasil belajar, PKn, Think-pair-share

i

ABSTRACT

Nurhasanah Unuy, 2014. Improving Learning Result of Civics Education by
Approach Think-Pair-Share. The Thesis, Educational Studies Program,
Department of Teacher Education Elementary School Dual Mode System,
Faculty of Tarbiyah and Teaching, State Islamic University Syarif Hidayatullah
Jakarta.

The research was conducted in MI Cibeureuem Legok Sukabumi. This study
aims to determine the effect of efforts to Learning Result of Civics Education by
Approach Think-Pair-Share. The subjects of this study were fourth grade students
in academic year 2012-2013 with 36 students.
The method used in this research is a classroom action research (CAR),
which consisted of two cycles of four meetings with the stages of planning, action,
observation and reflection.
Based on the data obtained, analysis of the data obtained, that in the first
cycle of the rise coming students in grades pre-test and post-test for the low
category is 72.22% while for the category being increased to 27.78%. While in
the second cycle of the rise coming students for middle category that is equal to
50% and for the high category increased to 50%.

Keywords: Learning Result, Civics Educaion, Think-pair-share

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur hanya bagi Allah Tuhan sekalian alam
yang menguasai semua makhluk dengan segala kebesaran-Nya yang senantiasa
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah serta karunia-Nya kepada kita semua,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: “Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar PKn Melalui Pendekatan Think-Pair-Share”.
Sholawat serta salam semoga Allah selalu melimpahkan kepada beliau
Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang telah
membawa petunjuk kebenaran kepada umat manusia dan cahaya kebenaran yaitu
agama Islam.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi dari keseluruhan
kegiatan perkuliahan yang telah dicanangkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta sebagai bentuk pertanggung jawaban penulis menjadi
mahasiswa serta untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah disini.
Skripsi ini disusun dengan bekal ilmu pengetahuan yang terbatas dan jauh
dari kesempurnaan, sehingga tanpa bantuan pembimbing, dorongan dan petunjuk
dari berbagai pihak, maka sulit untuk menyelesaikanya. Oleh karena itu dengan
segala kerendahan hati dan penuh rasa syukur penulis ingin menyampaikan rasa
hormat serta ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1.

Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D, Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

2.

Bapak Moch. Noviadi Nugroho, M. Pd, selaku dosen pembimbing yang
telah meluangkan waktu dan mencurahkan pikirannya untuk memberikan
bimbingan, nasehat, motivasi, dan arahan kepada penulis sehingga skripsi
ini dapat diselesaikan.

3.

Bapak/Ibu Dosen dan Staff di UIN Syarif Hidayatullah khususnya di
Jurusan PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah) yang telah
memberikan bantuan dan dukunganya.

iii

4.

Bapak Jaya, S. Pd. I selaku Kepala Sekolah MI Cibeureuem Legok
Kabupaten Sukabumi.

5.

Keluarga besar MI Cibeureuem Legok yang telah banyak membantu.

6.

Kepada suami tercinta yang telah memberikan seluruh kepercayaan penuh
dalam proses penyusunan skripsi ini. Bantuan materil dan moril yang
selalu diberikan dengan ikhlas semoga menjadikannya Imam yang
senantiasa selalu membimbing keluarga penulis.

7.

Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Tiada kata yang patut penulis ucapkan selain ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya dan do’a yang tulus semoga apapun yang telah disumbangkan
kepada penulis, sekecil apapun wujudnya tercatat sebagai amal yang diterima oleh
Allah SWT.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penulisan
skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala saran dan kritik yang
membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi perbaikan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan
bagi pembaca pada umumnya.

Sukabumi, Januari 2014
Penulis,

Unuy Nurhasanah

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK …………...…………………………………………………….. i
KATA PENGANTAR ………………………..…………………………....

iii

DAFTAR ISI .………………………………………………………...……

v

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………

1

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………….

1

B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian ………………………………... 5
C. Pembatasan Fokus Penelitian ………………………………………….

5

D. Perumusan Masalah Penelitian ………………………………………...

6

E. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian ………………………………..

6

BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN ………………………………………………

8

A. Hasil Belajar Siswa ……………………………………………………. 8
1. Pengertian Hasil Belajar …………………………………………... 8
2. Ranah Hasil Belajar ……………………………………………….. 9
3. Faktor-faktor Yang Mempengauhi Hasil Belajar …………………. 15
B. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ………………………………….. 17
1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ………………….
2. Tujuan

dan

Ruang

Lingkup

Pembelajaran

17

Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) …………………………………………..

17

C. Pembelajaran Kooperatif ………………………………………………

19

1. Pengertian Pembalajaran Kooperatif ……………………………… 19
2. Macam-macam Pembelajaran Kooperatif ………………………… 20
3. Fungsi Metode Pembelajaran Kooperatif …………………………

30

4. Pengertian Metode Think-Pair-Share ……………………………..

30

5. Langkah-langkah Metode Think-Pair-Share ……………………...

31

6. Kelebihan dan Kekuranga Metode Think-Pair-Share …………….. 32
D. Hasil Penelitian Yang Relevan …………………………..…………….

35

E. Kerangka Berfikir ……………………………………………………..

37

v

F. Hipotesis Tindakan …………………………………………………….

39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………………………………..

40

A. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………………. 40
B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian ………………….

40

C. Subjek Penelitian ………………………………………………………

43

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ……………………………. 44
E. Tahapan Intervensi Tindakan…………………………………………..

44

F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan …………………………..

47

G. Data dan Sumber Data …………………………………………………

47

H. Instrumen Pengumpulan Data …...…………………………………….

48

I.

Teknik Pengumpulan Data …………………………………………….

48

J.

Teknik Pemeriksaan Kepercayaan …………………………………….. 49

K. Analisis Data dan Interpretasi Data ……………………………………

52

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan ………………………………..

53

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ……..

54

A. Deskripsi Data …………………………………………………………

54

1. MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi ……………………...

54

a. Sejarah Singkat .………………………………………………... 54
b. Keadaan Siswa MI Cibeureum Legok …………………………. 54
c. Jumlah Rombongan Belajar di MI Cibeureum Legok …………

54

d. Data Pendidik Dan Tenaga Kependidikan ……………………..

55

2. Deskripsi Data Penelitian …………………………………………. 55
a. Siklus I …………………………………………………………. 55
b. Siklus II ………………………………………………………...

61

B. Analisis Data …………………………………………………………... 67
1. Siklus I …………………………………………………………….

67

2. Siklus II ……………………………………………………………

75

C. Pembahasan ……………………………………………………………

84

vi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….

88

A. Kesimpulan …………………………………………………………….

88

B. Saran …………………………………………………………………...

88

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………

90

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………

92

vii

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Pembelajaran Think-Pair-Share …………………………. 32

Tabel 4.1

Data Siswa Kelas I-VI MI Cibeureum Legok …………… 54

Tabel 4.2

Jumlah Rombel Tiga Tahun Terakhir ……………………

54

Tabel 4.3

Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan ……………….

55

Tabel 4.4

Lembar Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan I …………...

67

Tabel 4.5

Lembar Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan I ……………. 68

Tabel 4.6

Nilai Pretes Siklus I Pertemuan I ………………………...

Tabel 4.7

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Think-

69

pair-share Siklus I Pertemuan I ………………………….

71

Tabel 4.8

Lembar Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan II …………..

71

Tabel 4.9

Lembar Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan II …………...

72

Tabel 4.10

Nilai Postes Siklus I Pertemuan II ……………………….

74

Tabel 4.11

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Thinkpair-share Siklus I Pertemuan II ………………………… 75

Tabel 4.12

Lembar Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan I …………..

76

Tabel 4.13

Lembar Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan I …………...

77

Tabel 4.14

Nilai Pretes Siklus I Pertemuan II ……………………….. 78

Tabel 4.15

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Thinkpair-share Siklus II Pertemuan I ………………………… 79

Tabel 4.16

Lembar Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan II …………. 80

Tabel 4.17

Lembar Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan II …………..

81

Tabel 4.18

Nilai Postes Siklus II Pertemuan II ………………………

82

Tabel 4.19

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Thinkpair-share Siklus II Pertemuan II ……………………….

82

Tabel 4.20

Penghitungan Nilai Pretest dan Postest Siklus I …………

84

Tabel 4.21

Penghitungan Nilai Pretest dan Postest Siklus II ………..

86

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1

Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ………………...

ix

41

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) …………….

Lampiran 2

Soal Tes ………………………………………………… 104

Lampiran 3

Kunci Jawaban …………………………………………. 107

Lampiran 4

Lembar Aktivitas Siswa ………………………………..

108

Lampiran 5

Lembar Aktivitas Guru …………………………………

109

Lampiran 6

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif ……………

110

Lampiran 7

Pembelajaran Think-Pair-Share ………………………..

111

Lampiran 8

Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ……………….

112

Lampiran 9

Teknik Penskoran Tiga Aspek Ranah Belajar ………….

112

Lampiran 10

Uji Validitas dan Reliabilitas …………………………..

113

Lampiran 11

Rumus Normal Gain (N-Gain) …………………………

116

Lampiran 12

Data Siswa Kelas I-VI MI Cibeureum Legok ………….

116

Lampiran 13

Jumlah Rombel 3 Tahun Terkahir ……………………...

116

Lampiran 14

Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan ……………… 117

Lampiran 15

Lembar Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan I …………

117

Lampiran 16

Lembar Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan I …………..

118

Lampiran 17

Nilai Pretes Siklus I Pertemuan I ………………………. 119

Lampiran 18

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Think- 120

92

pair-share Siklus I Pertemuan I ………………………..
Lampiran 19

Lembar Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan II ………… 120

Lampiran 20

Lembar Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan II ………….

121

Lampiran 21

Nilai Postes Siklus I Pertemuan II ……………………...

123

Lampiran 22

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Think- 124
pair-share Siklus I Pertemuan II ……………………….

Lampiran 23

Lembar Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan I ………… 124

Lampiran 24

Lembar Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan I ………….

Lampiran 25

Nilai Pretes Siklus I Pertemuan II ……………………… 126

Lampiran 26

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Think- 127
pair-share Siklus II Pertemuan I ………………………
x

125

Lampiran 27

Lembar Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan II ………..

Lampiran 28

Lembar Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan II ………… 128

Lampiran 29

Nilai Postes Siklus II Pertemuan II …………………….

Lampiran 30

Frekuensi Perolehan Nilai Pretes Siswa Metode Think- 131

128

130

pair-share Siklus II Pertemuan II ………………………
Lampiran 31

Penghitungan Nilai Pretest dan Postest Siklus I ………..

Lampiran 32

Penghitungan Nilai Pretest dan Postest Siklus II ………. 133

Lampiran 33

Media Pembelajaran ……………………………………

135

Lampiran 34

Foto-foto Kegiatan ……………………………………..

136

xi

131

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Laju transformasi dunia karena revolusi teknologi, telekomunikasi dan
komputer menjadi agenda utama perubahan dunia saat ini. Dunia tidak lagi dapat
dipandang sebagai benua-benua yang terpisah atau kumpulan negara yang
terpisah, melainkan dunia menjadi sarat global telekomunikasi dan komputer.
Kepesatan perkembangan teknologi telekomunikasi dan komputer telah
mengantarkan masyarakat memasuki era global.
Globalisasi ditandai oleh kompleksitas keragaman kehidupan masyarakat.
Aktivitas hidup lebih banyak bermula dan berlangsung pada interaksi-interaksi
antar individu yang diprakarsai individu itu sendiri. Setiap individu di era global
dituntut

mengembangkan

kapasitasnya

secara

optimal,

kreatif

dan

mengadaptasikan diri kedalam situasi global yang amat bervariasi dan cepat
berubah. Setiap individu dituntut melakukan daya nalar kreatif dan kepribadian
yang tidak sederhana, melainkan kompleks. Untuk itu ketrampilan yang harus
dimiliki individu adalah keterampilan intelektual, sosial, dan personal.
Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era global
harus dapat memberi dan memfasilitasi bagi tumbuh kembangnya keterampilan
intelektual, sosial dan personal. Keterampilan-keterampilan tersebut dibangun
tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi,
kreativitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual.
Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu
mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan era global.
Karena Proses pembelajaran yang baik akan dapat menciptakan prestasi yang
berkualitas. Oleh karena itu guru sebagai salah satu komponen penting
keberhasilan pembelajaran, harus mampu menempatkan dirinya sebagai sosok
yang mampu membangkitkan hasrat siswa untuk terus belajar.
1

2

MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi adalah salah satu lembaga
pendidikan yang sangat menjunjung keberhasilan pembelajaran, sehingga siswa
yang dihasilkan mampu berperan dalam persaingan global. Usaha ke arah tersebut
sudah banyak dilakukan oleh pihak sekolah terkait, seperti pemenuhan sarana
prasarana, media pembelajaran, guru yang profesional serta komponen lain yang
mampu meningkatkan kualitas pendidikan yang dijalankan, dengan harapan akan
mampu menciptakan manajemen pembelajaran dengan baik, yang pada ujungnya
akan menjadikan sekolah yang berkualitas.
Namun ternyata saat ini masih banyak permasalahan-permasalahan yang
muncul di sekolah ini, di antaranya yaitu salah satu metode yang digunakan dalam
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah ceramah, tanya jawab, dan
diskusi. Metode ceramah masih menjadi pilihan dalam penyampaian materi,
sehingga siswa cenderung bosan, dan kurang bersemangat untuk belajar. Hal ini
akan membuat kualitas pembelajaran menjadi rendah, dan memungkinkan
penguasaan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa akan menurun.
Metode tanya jawab kurang efektif karena hanya siswa yang pintar dan
aktif yang mau menjawab pertanyaan yang diberikan, sehingga terjadi
kesenjangan antara siswa yang pintar dan siswa yang kurang pintar. Sedangkan
dalam metode diskusi tidak semua topik dapat disajikan dengan metode diskusi.
Hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.
Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu, sulit untuk
menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi. Biasanya tidak semua
siswa berani menyatakan pendapat, sehingga waktu akan terbuang karena
menunggu siswa mengemukakan pendapat. Pembicaraan dalam diskusi mungkin
didominasi oleh siswa yang berani dan telah terbiasa berbicara. Siswa pemalu dan
pendiam

tidak

akan

menggunakan

kesempatan

untuk

berbicara,

dan

memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antar kelompok atau menganggap
kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu dari pada kelompok lain atau

3

menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh, atau lebih
bodoh.
MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi belum pernah menerapkan
metode kooperatif Think-Pair-Share; dimana penerapan metode kooperatif ThinkPair-Share ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas
melalui diskusi. Baik dengan pasangannya maupun dengan seluruh kelas. Siswa
akan terbiasa menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, memahami
konsep serta terlatih untuk bisa belajar secara mandiri, secara berpasangan,
maupun berbagi dengan teman sekelas.
Dari permasalahan yang dijelaskan di atas, maka dibutuhkan tindakan
yang mampu menjadi jalan keluarnya. Salah satu solusinya adalah penggunaan
metode yang tepat, yaitu metode yang mampu membuat seluruh siswa terlibat
dalam suasana pembelajaran. Metode mengajar merupakan salah satu cara yang
dipergunakan guru dalam membelajarkan siswa. Oleh karena itu, peranan metode
mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar.1
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna
menjawab dari permasalahan-permasalan pembelajaran tersebut serta untuk lebih
mengaktifkan pembelajaran di kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran
kooperatif dengan metode Think–Pair–Share. Pembelajaran kooperatif dengan
metode Think-Pair-Share terdiri dari tiga tahap kegiatan siswa yang menekankan
pada apa yang dikerjakan siswa pada setiap tahapannya. Tahap yang pertama
adalah berfikir (Think). Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan yang terkait
dengan pelajaran dan siswa berfikir sendiri mengenai jawaban tersebut. Waktu
berfikir ditentukan oleh guru. Pada tahap selanjutnya siswa berpasangan (pair)
dengan temannya dan mendiskusikan mengenai jawaban masing-masing.
Sedangkan pada tahap terakhir, siswa berbagi (share) yaitu guru meminta
pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara
keseluruhan untuk mengungkapkan mengenai apa yang telah mereka diskusikan.
1

Suryasubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah (Jakarta: Rineka Cipta,1997), hal: 43

4

Dengan berdiskusi dan berfikir sendiri dengan teman, diharapkan siswa lebih bisa
memahami konsep, menambah pengetahuannya serta dapat menemukan
kemungkinan solusi dari permasalahan.2
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran
yang memfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan
mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara
Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila
dan Undang-undang Dasar 1945.3
Dari

pengertian

di

atas,

maka

Mata

Pelajaran

Pendidikan

Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1) Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu.
2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta antikorupsi.
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain.
4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknilogi informasi
dan komunikasi.4
Upaya untuk mewujudkan sosok manusia seperti yang tertuang dalam
definisi dan tujuan pendidikan diatas tidaklah terwujud secara tiba-tiba. Upaya itu
harus melalui proses pendidikan dan kehidupan, khususnya pendidikan bernegara
dan kehidupan bernegara. Proses itu berlangsung seumur hidup, di lingkungan
keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.
2

Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar 2009), hal: 58
3
Tim Penyusun KTSP MI Cibeureum Legok, KTSP MI CIbeureum Legok Kabupaten
Sukabumi Tahun Pelajaran 2012-2013. (Sukabumi: 2012). Hal. 78
4
Ibid. hal. 78-79.

5

Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan kewarganegaraan
saat ini, adalah bagaimana cara penyampaian materi pelajaran pada mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan tersebut kepada peserta didik sehingga memperoleh
hasil semaksimal mungkin.
Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka perlu kiranya diadakan
suatu tindakan melalui penelitian pendidikan. Dalam hal ini, penulis mengangkat
satu topik yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini, yaitu: “Peningkatan
Hasil Belajar PKn Melalui Pendekatan Think-Pair-Share”
B. Identifikasi Masalah
Berdasar pada latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
peneliti dapat mengidentifikasi masalah penelitian, sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode
konvensional berupa ceramah, tanya jawab, diskusi.
2. Di MI Ciberureum Legok belum pernah menggunakan metode Think-PairShare dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa.
3. Metode konvensional yang selalu digunakan oleh guru tidak mampu untuk
meningkatkan hasil belajar PKn siswa di kelas IV MI Cibeureum Legok
Kapbupaten Sukabumi.
4. Apa yang telah dipelajari siswa tidak diaplikasikan ke dalam
kehidupannya sehari-hari, baik itu di sekolah, rumah, keluarga, maupun
lingkungan masyarakat tempat ia tinggal.
5. Nilai rata-rata hasil belajar PKn siswa kelas IV belum memenuhi nilai
KKM yang telah ditentukan sekolah.

C. Pembatasan Masalah
Berdasar pada identifikasi masalah yang telah disampaikan di atas, maka
kali ini peneliti dapat membatasi fokus penelitian, sebagai berikut:
1. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan Think-Pair-Share.

6

2. Pokok bahasan yang akan disampaikan pada penelitian ini adalah Materi
Pengaruh Globalisasi pada mata pelajaran PKn Kelas IV semester II.
3. Penelitian akan dilaksanakan di MI Cibeureum Legok Kabupaten
Sukabumi.
4. Hasil belajar siswa dibatasi pada hasil belajar kognitif C1 (hapalan), C2
(pemahaman) dan C3 (penerapan).

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada pembatasan masalah yang telah disampaikan diatas,
maka diperoleh rumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif melalui pendekatan TPS
(Think-Pair-Share) dalam meningkatkan hasil belajar PKn kelas IV MI
Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi?
2. Seberapa efektifkah pembelajaran kooperatif melalui pendekatan TPS
(Think-Pair-Share) dalam meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV
MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif melalui
pendekatan TPS (Think-Pair-Share) dalam meningkatkan hasil belajar
PKn kelas IV MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi.
b. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif melalui
pendekatan TPS (Think-Pair-Share) dalam meningkatkan hasil belajar
PKN kelas IV MI Cibeureum Legok Kabupaten Sukabumi.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
1) Bagi Peneliti
Memberikan
melaksanakan

tambahan

pengetahuan

pembelajaran

di

dan

sekolah.

keilmuan
Selain

itu

dalam
dapat

7

memberikan informasi terhadap penggunaan metode pembelajaran
yang digunakan dalam penelitian.
2) Bagi Pembaca
Menambah wawasan dan keilmuan dalam proses pembelajaran
yang akan dilaksanakannya.
3) Bagi Siswa
Dapat meningkatkan keaktifan belajar pada Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Guru
a) Memberi wawasan bagi guru pentingnya penerapan metode
TPS

(Think-Pair-Share)

Pendidikan

dalam

Kewarganegaraan

proses

khususnya

pembelajaran
pada

Materi

Pengaruh Globalisasi.
b) Dapat menemukan solusi untuk meningkatkan hasil belajar
PKn siswa kelas IV.
2) Bagi Sekolah
Menemukan solusi untuk meningkatkan penguasaan mata pelajaran
Pendidikan

Kewarganegaraan

dengan

menerapkan

metode

pembelajaran TPS (Think-Pair-Share).
3) Bagi UIN Syarif Hidayatullah
a) Dapat menjalin kerjasama yang baik dengan beberapa lembaga
yang dapat menunjang dalam kemajuan pendidikan.
b) Untuk memenuhi program kurikulum yang telah ditentukan.

8

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar Siswa
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah satu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan
masyarakat lingkungan akademik seperti di lingkungann sekolah, pelajar, siswa
dan siswi serta mahasiswa yang mempunyai tugas untuk belajar. Karena kegiatan
belajar merupakan kegiatan yang tak mungkin dapat dipisahkan dari mereka.
Beberapa para ahli telah mengungkapkan arti dari belajar itu sendiri,
salah satunya adalah seperti yang diungkapkan oleh Gagne bahwa belajar adalah
suatu proses di mana satu organism berubah perilakunya sebagai akibat
pengalaman.1
Sedangkan hasil dapat dikatakan kemampuan yang dimiliki soswa
setelah menerima pelajaran. Menurut Oemar Hamalik, bahwa hasil belajar tampak
sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan
diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan.2
Belajar merupakan suatu proses yang benar-benar bersifat internal.
Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu
terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Menurut Good dan
Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang
terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh
hubungan-hubungan baru.3
Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa: antara perangsangperangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi. Faktor-faktor
penting yang sangat erat hubungannya dengan proses belajar ialah: kematangan,
penyesuaian diri/adaptasi, menghafal/mengingat, pengertian, berpikir dan latihan.

1

Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: 2009), h. 3.
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), h. 155.
3
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2000), h. 85.
2

8

9

Para ahli mencoba membuat kategori jenis-jenis belajar yang dikenal
dengan taksonomi belajar salah satu yang terkenal adalah taksonomi yang disusun
oleh Benyamin S. Bloom.4 Tujuan pendidikan dapat dirumuskan pada tiga
tingkatan, pertama, tujuan umum pendidikan yang menentukan perlu tidaknya
suatu program diadakan. Kedua, tujuan yang di dasarkan atas tingkah laku, yang
dimaksud berhasilnya pendidikan dalam bentuk tingkah laku yang dimaksud
dengan taksonomi. Ketiga, tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan secara
operasional. Kaum behavioris berpendapat bahwa taksonomi yang dikemukakan
oleh Bloom dan kawan-kawan adalah bersifat mental.5 Taksonomi ini merupakan
kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasikan mutu tujuannya.
Salah satu manfaat taksonomi adalah bahwa guru didorong untuk bertanya adakah
dia menekankan segi tertentu atau tidak.
2. Ranah Hasil Belajar
Taksonomi Bloom terdiri dari tiga kategori yaitu yang dikenal sebagai
domain atau ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Yang dimaksud
dengan ranah-ranah ini oleh Bloom adalah perilaku-perilaku yang memang
diniatkan untuk ditunjukkan oleh peserta didik atau pelajar dalam cara-cara
tertentu, misalnya bagaimana mereka berpikir (kognitif), bagaimana mereka
bersikap dan mereka merasakan sesuatu (afektif), dan bagaimana mereka berbuat
(psikomotorik).6 Dalam mengukur kemampuan seorang siswa maka para guru
harus memperhatikan ketiga ranah tersebut.
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif memiliki enam taraf mulai pengetahuan sampai
evaluasi.
1) Menghapal mencakup ingatan dan pengenalan,
2) Pemahaman mencakup interpretasi, pemberian contoh, klasifikasi,
meringkas, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan,

4

A. Suhaenah Suparno. Membangun Kompetensi Belajar, (Jakarta: Dirjen
PendidikanTinggi Depdiknas, 2001), h. 6.
5
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Yogyakarta: Bumi Aksara,
2002), h. 115.
6
A. Suhaenah Suparno. loc. cit.

10

3) Aplikasi mencakup melakukan, implementasi,
4) Analisis

mencakup

membedakan,

mengorganisasikan

dan

memberikan atribut,
5) Mengevaluasi mencakup pengecekan, memberi kritik,
6) Mencipta mencakup membangkitkan, merencanakan, memproduksi.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif dibagi menjadi lima taraf, yaitu:
1) Memperhatikan, taraf ini mengenai kepekaan siswa terhadap
fenomena-fenomena dan perangsang-perangsang tertentu, yaitu
menyangkut kesediaan siswa untuk memperhatikannya.
2) Merespon, Pada taraf ini siswa memiliki motivasi yang cukup untuk
merespon.
3) Menghayati nilai, siswa sudah menghayati nilai tertentu.
4) Mengorganisasikan, siswa menghadapi situasi yang mengandung
lebih dari satu nilai.
5) Memperhatikan nilai atau seperangkat nilai, siswa sudah dapat
digolongkan sebagai orang yang memegang nilai atau seperangkat
nilai tertentu.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah Psikomotorik, meliputi hal-hal:
1) Persepsi, langkahnya melakukan kegiatan yang bersifat motoris ialah
menyadari objek, sifat atau hubungan-hubungan melalui indera,
2) Persiapan, kesiapan untuk melakukan suatu tindakan atau bereaksi
terhadap suatu kejadian menurut
3) Respon terbimbing, pada tahap ini penekanan pada kemampuankemampuan yang merupakan bagian dari keterampilan yang lebih
kompleks.
4) Respons mekanis, siswa sudah yakin akan kemampuannya dan
sedikit banyak terampil melakukan suatu perbuatan,

11

5) Respons kompleks, taraf ini individu dapat melakukan perbuatan
motoris yang dianggap kompleks, karena pola gerakan yang dituntut
sudah kompleks.
Dalam kehidupan sehari-hari tak ada seseorang berbuat tanpa
melibatkan pikiran dan perasaan walaupun kecil porsinya. Setiap orang
merespon dalam berbagai bentuk aktivitas sebagai makhluk yang utuh.
Kategori jenis belajar ini disusun untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan pembelajaran yang mereka lakukan.
Indikator hasil belajar merupakan target pencapaian kompetensi
secara operasional dari kompetensi dasar dan standar kompetensi. Ada
tiga aspek kompetensi yang harus dinilai untuk mengetahui seberapa
besar capaian kompetensi tersebut, yaitu penilaian terhadap:7
a. Hasil Belajar Penguasaan Materi Akademik (Kognitif)
Domain kognitif meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep
atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan-kemampuan
intelektual, seperti mengaplikasikan prinsip atau konsep, menganalisis,
mensintesis,

dan

mengevaluasi.

Sebagian

besar

tujuan-tujuan

instruksional berada dalam domain kognitif. Pada ranah kognitif terdapat
enam jenjang proses berfikir, mulai dari yang tingkatan rendah sampai
tinggi,

yakni:

Pengetahuan/ingatan

(knowledge),

Pemahaman

(comprehension), Penerapan (aplication), Analisis (analysis), Sintesis
(synthesis) dan Evaluasi (evaluation).
Kemampuan-kemampuan yang termasuk domain kognitif oleh
Bloom dkk. Dikategorikan lebih rinci ke dalam enam jenjang
kemampuan, yaitu:
1) Hafalan (C1)
Jenjang hafalan meliputi kemampuan menyatakan kembali fakta,
konsep, prinsip dan prosedur yang telah dipelajarinya.
2) Pemahaman (C2)
7

Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA
BerbasisKompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h.13-24.

12

Jenjang pemahaman meliputi kemampuan menangkap arti dari
informasi yang diterima, misalnya dapat menafsirkan bagan, diagram
atau grafik.
3) Penerapan (C3)
Yang termasuk jenjang penerapan adalah kemampuan menggunakan
prinsip, aturan, metode yang dipelajarinya pada situasi baru atau situasi
konkrit.
4) Analisis (C4)
Jenjang analisis meliputi kemampuan menguraikan suatu informasi
yang dihadapi menjadi komponen-komponennya sehingga struktur
informasi serta hubungan antar komponen informasi tersebut menjadi
jelas.
5) Sintesis (C5)
Yang

termasuk

jenjang

sintesis

ialah

kemampuan

untuk

mengintegrasikan bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu
keseluruhan

yang terpadu. Termasuk di

merencanakan

eksperimen,

menyusun

dalamnya kemampuan
cara

baru

untuk

mengklasifikasikan obyek-obyek, peristiwa dan informasi lainnya.
6) Evaluasi (C6)
Kemampuan pada jenjang evaluasi ialah kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai suatu pernyataan, uraian, pekerjan, berdasarkan
kriteria tertentu yang ditetapkan.
b. Hasil Belajar Yang Bersifat Proses Normatif (Afektif)
Domain afektif mencakup pemilikan minat, sikap, dan nilai yang
ditanamkan melalui proses belajar mengajar. Hasil belajar proses
berkaitan dengan sikap dan nilai, berorientasi pada penguasaan dan
pemilikan kecakapan proses atau metode. Ciri-ciri hasil belajar ini akan
tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti: perhatian
terhadap pelajaran, kedisiplinan, motivasi belajar, rasa hormat kepada
guru dan sebagainya. Ranah afektif dirinci menjadi lima jenjang, yakni:
Perhatian, Tanggapan, Penilaian, Pengorganisasian, dan Karakterisasi

13

terhadap suatu atau beberapa nilai. Untuk menilai hasil belajar dapat
digunakan instrumen evaluasi yang bersifat non tes, misalnya kuesioner
dan observasi.
c. Hasil Belajar Aplikatif (Psikomotor)
Hasil belajar ini merupakan ranah yang berkatian dengan
keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang
menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor
merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif, akan tampak
setelah siswa menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai
dengan makna yang terkandung pada kedua ranah tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Ranah ini diklasifikasikan kedalam tujuh kategori
yakni: Persepsi (perception), Kesiapan (set), Gerakan terbimbing (guided
response), Gerakan terbiasa (mechanism), Gerakan kompleks (complex
overt

response),

Penyesuaian

pola

gerakan

(adaptation),

Kreatifitas/keaslian (Creativity/origination).
Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada
diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan
pengetahuan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan
terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan
dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang
sopan menjadi sopan, dan sebagainya.8
Menurut Sudjana perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa
disebabkan oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa terutama
kemampuan yang dimilikinya dan faktor yang datang dari luar diri siswa
atau faktor lingkungan. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki
siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat, dan perhatian,
sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial PKn, faktor fisik dan
psikis.9
8

Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem,
(Jakarta:Bumi Aksara, 2001), h. 155
9
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo,2002), Cet. Ke-VI. h. 39.

14

Sedangkan menurut Oemar Hamalik hasil belajar dikalangan siswa
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor kematangan akibat
dari kemajuan umur kronologis, latar belakang pribadi masing-masing,
sikap, dan bakat terhadap suatu bidang pelajaran yang diberikan.10
Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar
peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah
dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
a. Sasaran Penilaian
Sasaran atau objek evaluasi hasil belajar adalah perubahan tingkah
laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor secara
seimbang. Masing-masing bidang terdiri dari sejumlah aspek. Aspekaspek tersebut sebaiknya dapat diungkapkan melalui penilaian tersebut.
Dengan demikian dapat diketahui tingkah laku mana yang sudah
dikuasainya oleh peserta didik dan mana yang belum sebagai bahan bagi
perbaikan dan penyempurnaan program pengajaran selanjutnya.
b. Alat Penilaian
Penggunaan alat penilaian hendaknya komprehensif meliputi tes dan
bukan tes sehingga diperoleh gambaran hasil belajar yang objektif.
Penilaian hasil belajar sebaiknya dilakukan secara berkesinambungan
agar diperoleh hasil yang menggambarkan kemampuan peserta didik
yang sebenarnya.
c. Prosedur Pelaksanaan Tes
Penilaian hasil belajar dilaksanakan dalam bentuk formatif dan
sumatif.

Penilaian

formatif

dilakukan

pada

setiap

pengajaran

berlangsung, yakni pada akhir pengajaran. Hasilnya dicatat untuk bahan
penilaian dan untuk menentukan derajat keberhasilan peserta didik
seperti untuk kenaikan tingkat. Penilaian sumatif biasanya dilakukan
pada akhir suatu program atau pertengahan program. Hasilnya digunakan

10

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 183.

15

untuk mengetahui program mana yang belum dikuasai oleh peserta
didik.11
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perolehan dari proses belajar peserta didik sesuai
dengan tujuan pengajaran (ends are being attained).12
Hasil belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya dipengaruhi oleh
berbagai faktor tersebut. Adapun faktor-faktor yang dimaksud meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, meliputi:
1) Faktor Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar seseorang. Menurut Noehi, kondisi pancaindra
(mata, hidung, pengecap, telinga, dan tubuh) sangat penting, terutama
mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar.13 Karena
sebagian besar peserta didik belajar dengan membaca, melihat contoh
atau model, melakukan observasi, dan mendengarkan keterangan guru.
2) Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologi yang utama mempengaruhi proses dan hasil
belajar peserta didik adalah sebagai berikut:
(a) Kecerdasan Peserta Didik
M. Dalyono secara tegas mengatakan bahwa seseorang yang
memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar
dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang
intelegensinya rendah cenderung mengalami kesukaran dalam
belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi belajarnya pun rendah.
Karenanya Walter B. Kolesnik dalam buku Syaiful Bahri Djamarah
mengatakan bahwa: “In most cases there is a fairy high correlation
11

Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), Cet. Ke-

II. h.179.
12
13

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 45.
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), h. 189.

16

between one’s IQ, and his scholastics success. Usually, the higher a
person’s IQ, the higher the grades he receives”.14
(b) Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang
turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Bahkan menurut Slameto,
sering kali anak didik yang tergolong cerdas tampak bodoh karena
tidak memiliki motivasi untuk mencapai prestasi sebaik mungkin.15
(c) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.16 Peserta didik yang mempunyai
keinginan yang kuat di dalam usaha belajarnya akan lebih baik
dibanding dengan peserta didik yang tidak punya atau kurang minat
dalam belajar.
(d) Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif yaitu persepsi, mengingat, dan berpikir.
Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau
informasi ke dalam otak manusia. Guru harus menanamkan
pengertian sejelas-jelasnya, sehingga tidak terjadi kesalahan persepsi
pada peserta didik. Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif,
dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa
lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh di masa
lampau.17 Sedangkan berpikir adalah kelangsungan tanggapantanggapan yang disertai dengan sikap pasif dari subjek yang berpikir.
(e) Bakat
Setiap peserta didik memiliki bakat yang berbeda, menurut
Sunarto dan Hartono bakat memungkinkan seseorang untuk
mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan
14

Ibid, h. 194.
Ibid, h. 200.
16
Ibid, h. 191.
17
Ibid, h. 202-203.
15

17

latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar
bakat itu dapat terwujud.18

B. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran
yang memfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan mapu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia
yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945.19
Selain itu istilah PKn yang menggunakan dengan “N” atau huruf kapital
merupakan

singkatan

dari

singkatan

dari

pendidikan

kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan (PKn ) merupakan pendidikan yang menyangkut
status formal warganegara yang di atur dalam UU NO 2 tahun 1949, UU NO 62
Tahun 1958, UU NO 12 tahun 2006 tentang status kewarganegara yang telah
berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2006.20
2. Tujuan dan Ruang Lingkup Pembelajaran PKn
a.

Tujuan Pembelajaran PKn
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta

didik memiliki kemampuan sebagai berikut:21
1) Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu.
2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta
anti-korupsi.
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain.

18
19

Ibid, h. 197.
KTSP MI Cibeureum Legok, hal: 78.

20

Paket 1 hakekat pembelajaran Pkn MI

21

Ibid, hal: 78-79.

18

4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknilogi informasi
dan komunikasi.
b. Ruang Lingkup PKn
Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi
aspek-aspek sebagai berikut:
1) Persatuan dan Kesatuan Bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan,
cinta lingkungan, Kebanganggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah
Pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan republik Indonesia, Partisipasi
dalam pembelaan Negara, Sikap Positif terhadap Negara Kesatuan
Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
2) Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan
keluarga, Tata tertib Sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat,
Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara, Sistem Hukum dan peradilan Nasional, Hukum dan
peradilan Internasional.
3) Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan
Kewajiban anggota Masyarakat, Instrumen nasional dan internasional
HAM, Pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
4) Kebutuhan Warga Negara meluputi: Hidup Gotong Royong, Harga Diri
sebagai warga masyarakat, Kebebasan Berorganisasi, Kemerdekaan
mrngeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri,
Persamaan kedudukan warga Negara.
5) Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi dan konstitusi yang pertama,
Konstitusi-konstitusi yang pernah dugunakan di Indonesia, Hubungan
dasar Negara dengan Konstitusi.
6) Kekuasaan dan Politik, meliputi: Pemerintahan Desa dan Kecamatan,
Pemerintah daerah dan Otonomi, Pemerintah Pusat, Demokrasi dan
system politik, Budaya Politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat
Madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat Demokrasi.

19

7) Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara dan
ideology Negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar Negara,
Pengamalan Nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila
sebagai ideology terbuka.
8) Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri
Indonesia

di

Internasional

era
dan

globalisasi,
Organisasi

Dampak

Glabalisasi,

Internasional,

dan

Hubungan

Mengevaluasi

Globalisasi.

C. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) “merupakan strataegi
pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.”22
Istilah cooperative learning dalam pengertian bahasa Indonesia dikenal
dengan nama pembelajaran kooperatif. Menurut Johnson pembelajaran kooperatif
adalah “pemanfaatan kelompok kecil (2-5 orang) dalam pembelajaran yang
memungkinkan siswa bekerjasama untuk memaksimalkan belajar mereka dan
belajar anggota lainnya dalam kelompok”.23
Selain itu pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai “system
kerja/belajar kelompok yang terstruktur.”24
Dari uraian-uraian di atas dapat diketahui tentang pengertian pembelajaran
kooperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran yang mengutamakan
adanya kelompok-kelompok kecil atau tim yang di dalamnya terdiri dari 2-5
orang. Dalam proses pembelajaran kooperatif siswa dituntut untuk bekerjasama
dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru,
dengan memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.

22

Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi, (Bandung: PT
Refika Aditama, 2011), Cet. II, h. 62.
23
Ibid.
24
Masitoh, op.cit, h. 232.

20

Dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori yang ada mengacu pada
kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Sebagai
realisasi maka dalam pembelajaran siswa haruslah bersifat aktif. Pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang aktif dan partisipatif.
2. Macam-macam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif sungguh banyak macam dan ragamnya. Beberapa
ahli

pendidikan

terdahulu

telah

memberikan

sumbangsihnya

dalam

menyampaikan macam-macam metode pembelajaran tersebut, yaitu sebagai
berikut:
a. TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini sebenarnya adalah
penggabungan dari pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran
individual.25 Pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI, siswa
mengikuti tingkatan yang bersifat individual berdasarkan tes penempatan,
dan kemudian dapat maju ke tahapan selanjutnya berdasarkan tingkat
kecepatannya belajar. Jadi, setiap anggota kelompok sebenarnya belajar
unit-unit materi pelajaran yang berbeda. Rekan sekelompok akan
memeriksa hasil pekerjaan rekan sekelompok lainnya dan memberikan
bantuan jika diperlukan. Tes kemudian diberikan diakhir unit tanpa
bantuan teman sekelompoknya dan diberikan skor. Lalu setiap minggu
guru akan menjumlahkan total unit materi yang diselesaikan suatu
kelompok dan memberikan sertifikat atau penghargaan bila mereka
berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan, dan beberapa poin
tambahan untuk kelompok yang anggotanya mendapat nilai sempurna.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah karena siswa
bertanggungjawab untuk memeriksa pekerjaan rekannya yang lain, maka
guru mempunyai waktu yang lebih banyak

Dokumen yang terkait

Pengaruh model cooperative learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep sistem peredaran darah : kuasi eksperimen di smp pgri 2 ciputat

0 11 202

Perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif teknik think pair share dan teknik think pair squre

0 4 174

Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and share siswa kelas IV MI Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga- Tangerang

1 8 113

Perbandingan hasil belajar biologi dengan menggunakan metode pembelajaran cooperative learning tipe group investigation (GI) dan think pair share (TPS)

1 5 152

Perbedaan hasil belajar biologi siswa menggunakan model Rotating Trio Exchange (RTE) dengan Think Pair Share (TPS) pada konsep virus

1 7 181

Peningkatan Hasil Belajar Ips Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Thinks Pair Share Pada Siswa Kelas V Mi Manba’ul Falah Kabupaten Bogor

0 8 129

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PERKALIAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE Peningkatan Hasil Belajar Perkalian Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share Pada Pelajaran Matematika Siswa Kelas 3 SDN Gemampir Kecamatan Karan

0 1 14

PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE

0 0 5

THINK PAIR SHARE: ALTERNATIF PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA

0 1 7

Peningkatan Hasil Belajar PAI Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share

0 0 12

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1088 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23