Perbedaan hasil belajar biologi siswa menggunakan model Rotating Trio Exchange (RTE) dengan Think Pair Share (TPS) pada konsep virus

PERBEDAAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA
MENGGUNAKAN MODEL ROTATING TRIO EXCHANGE (RTE)
DENGAN THINK PAIR SHARE (TPS) PADA KONSEP VIRUS

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd)

OLEH
ENY RAHAYU
NIM: 1110016100052

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

ABSTRACT
Eny Rahayu, 1110016100052. The Difference of Student’s Biology Learning
Result Using Rotating Trio Exchange Model and Think Pair Share Model on The
Concept of Virus. BA Thesis of Biology Education Program, Department of
Natural Science Education, Faculty of Tarbiya and Teaching Science, Syarif
Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2015.
The aim of this research is to determine the difference of student’s biology
learning result using rotating trio exchange model and think pair share model on the
concept of virus. This research was conducted at SMAN 28 Tangerang academic year
of 2014/2015. The method that used in this study was quasi-experimental which used
two group pretest-posttest design. The sample of this research was choosen by
purposive sampling technique. They were 43 student of X MIA 1 class as the first
experimental class (the class that used rotating trio exchange model) and 43 student
of X MIA 2 class as second experimental class (the class that used think pair share
model). The data was analyzed by t-test and the result showed that tcount (1,744) >
ttable (1,6828) at significant level of α=0,05. This result indicated that there are
differences between students biology learning result using strategy rotating trio
exchange model and think pair share model on the concept of virus
Keywords : learning result, rotating trio exchange, think pair share

v

ABSTRAK

Eny Rahayu, 1110016100052. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Siswa
Menggunakan Model Rotating Trio Exchange (RTE) dengan Think Pair Share
(TPS) pada Konsep Virus. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa
yang menggunakan strategi pembelajaran model rotating trio exchange dan tipe think
pair share pada konsep virus. Penelitian ini dilakukan di SMAN 28 Kabupaten
Tangerang tahun ajaran 2014/2015 dengan metode kuasi eksperimen yang
menggunakan desain two group pretest-posttest design. Pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah
siswa kelas X MIA 1 yang berjulah 43 orang sebagai kelas eksperimen I (kelas yang
menggunakan model rotating trio exchange) dan siswa kelas X MIA 2 berjumlah 43
orang sebagai kelas eksperimen II (kelas yang menggunakan model think pair share).
Analisis data kedua kelompok menggunakan uji t, diperoleh hasil thitung 1,744 Dan
ttabel 0,16828 pada taraf siginifikan α = 0,05 maka thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model
rotating trio exchange dan think pair share pada konsep virus.

Kata kunci: Hasil belajar, rotating trio exchange, dan think pair share

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, shalawat dan salam senantiasa
tercurahkan kepada Rasulullah SAW tercinta beserta seluruh keluarga, sahabat
dan para pengikutnya sampai akhir zaman, sehingga penulis dapat menyusun
skripsi ini sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh penulis.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan
pendidikan Sarjana Program S-1 pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan IPA sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I, Ibu
Baiq Hana Susanti, M.Sc. yang telah membimbing, mengarahkan dan
membekali penulis dengan ilmu yang diberikannya dengan penuh keikhlasan.
3. Ibu Yanti Herlanti, M.Pd selaku Dosen Pembimbing II yang penuh kesabaran
dan keikhlasan membimbing penulis selama penyusunan skripsi ini.
4. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan IPA khususnya untuk Program Studi
Pendidikan Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan
ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti
perkuliahan, sempga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapat
keberkahan dari Allah SWT.
5. Kepala SMAN 28 Kabupaten Tangerang, Ibu Widayati Wardani, M.Pd dan
guru bidang studi Biologi SMAN 28 Kabupaten Tangerang, Ibu Bidari, S.Pd
yang telah membantu penulis melaksanakan penelitian di kelas X dalam
mengumpulkan data.
6. Teristimewa untuk kedua orangtua, Ibu Eti Nurhayati dan Bapak Ahmad Paid,
serta Adik Rahmat Firdaus yang selalu penulis banggakan, tak henti-hentinya
mendoakan, memberi dukungan, melimpahkan kasih sayang kepada penulis.

vii

7. Sahabat-sahabat penulis Ristha, Lianda, Arifa, Woro, Heni, Lulu dan Reni
yang selalu membantu dan memberikan semangat dan dukungan kepada
penulis
8. Sahabat-sahabat di pendidikan Biologi B 2010 yang tidak dapat disebutkan
satu persatu. Terimakasih atas kebersamaannya semoga persahabatan ini tetap
abadi selamanya.

Penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Jakarta, Januari 2015

Penulis

viii

DAFTAR ISI

ABSTRAK……………………………………………………………………...

v

KATA PENGANTAR………………………………………………………....

vii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………

ix

DAFTAR TABEL……………………………………………………………...

xi

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………...

xii

DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………...

xiii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………......

1

B. Identifikasi Masalah…………………………………………………......

7

C. Pembatasan Masalah…………………………………………………….

7

D. Perumusan Masalah……………………………………………………..

7

E. Tujuan Penelitian………………………………………………………..

7

F. Kegunaan Penelitian…………………………………………………….

8

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskrispsi Teoritik………………………………………………………

9

B. Hasil Penelitian yang Relevan…………………………………………..

28

C. Kerangka Berpikir……………………………………………………….

29

D. Hipotesis Penelitian……………………………………………………..

31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………...

32

B. Metode dan Desain Penelitian…………………………………………...

32

C. Populasi dan Sampel Penelitian…………………………………………

33

D. Teknik Pengumpulan Data………………………………………………

33

E. Instrumen Penelitian………………………………………………….....

34

F. Kalibrasi Instrumen……………………………………………………...

35

G. Teknik Analisis Data…………………………………………………….

39

H. Hipotesis Statistik…………………………………………………….....

42

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian..…………………………………………………….......

43

B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis……………….

45

C. Data Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran…………………………...

49

D. Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………………

51

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………….......

55

B. Saran…………………………………………………………………….. 55
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..

56

LAMPIRAN-LAMPIRAN…………………………………………………….

60

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Tahapan Pembelajaran dengan Model RTE………………………..

18

Tabel 2.2. Tahapan Pembelajaran Model TPS………………………………...

23

Tabel 3.1 Desain Penelitian……………………………………………………

33

Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen Konsep Virus…………………….....................

34

Tabel 3.3. Kriteria Nilai Validitas……………………………………………..

36

Tabel 3.4. Indeks Realibilitas…………………………………….....................

37

Tabel 3.5. Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran……………....................... 38
Tabel 3.6. Klasifikasi Interpretasi Daya Beda…………………………………

39

Tabel 3.7. Kriteria N-gain……………………………………………………... 41
Tabel 4.1. Data Hasil Pretest Kelompok Eksperimen I dan II………………...

43

Tabel 4.2. Nilai N-gain Kelas Eksperimen I dan II……………………………

44

Tabel 4.3. Nilai Indikator Soal Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen I dan
Eksperimen II……………………..................................................

45

Tabel 4.4.Data Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen I dan II……………

46

Tabel 4.5. Data Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen I dan II…………..

46

Tabel 4.6. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelas Eksperimen I dan II………...

47

Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Posttest Kelas Eksperimen I dan II……….. 48
Tabel 4.8. Hasil Uji t Data Pretest Kelas Eksperimen I dan II………………... 48
Tabel 4.9. Hasil uji t Data Posttest Kelas Eksperimen I dan II………………..

49

Tabel 4.10. Data Hasil Observasi Selama Pembelajaran (RTE)…....................

50

Tabel 4.11. Data Hasil Observasi Selama Pembelajaran (TPS)……………….

50

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pola Pasangan Trio Putaran Pertama dan Kedua ………………...17
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Pikir…………………………………………… 31

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kisi-kisi Instrumen Virus……………………………………..

60

Lampiran 2. Uji Coba Instrumen…………………………………………....

69

Lampiran 3.Instrumen Penelitian…………………………………………… 74
Lampiran 4. Kunci Jawaban Instrumen Penelitian………………………….

77

Lampiran 5. RPP Kelas Eksperimen I (RTE)……………………………….

78

Lampiran 6. LKS Kelas Eksperimen I (RTE)………………………………. 87
Lampiran 7. Kunci Jawaban LKS RTE……………………………………..

93

Lampiran 8. RPP Kelas Eksperimen II (TPS)………………………………

100

Lampiran 9. LKS Kelas Eksperimen II (TPS)……………………………..

109

Lampiran 10. Lembar Observasi……………………………………………. 117
Lampiran 11. Lembar Wawancara…………………………………………

123

Lampiran 12. Daftar Nilai Ulangan Harian Kehati………………………… 125
Lampiran 13. Daftar Nilai Ulangan Harian Materi Virus tahun 2013………

129

Lampiran 14.Perhitungan persentase pencapaian setiap indikator…………

133

Lampiran 15. Perhitungan Uji Validitas……………………………………

137

Lampiran 16. Perhitungan Uji Realibilitas…………………………………

138

Lampiran 17. Perhitungan Uji Kesukaran…………………………………..

140

Lampiran 18. Perhitungan Uji Daya Beda………………………………….

142

Lampiran 19. Perhitungan Nilai Pretest dan Posttest kelas X MIA 1……

144

Lampiran 20. Perhitungan Nilai Pretest dan Posttest kelas X MIA 2………

146

Lampiran 21. Perhitungan Nilai N-gain…………………………………….

148

Lampiran 22. Perhitungan Uji Normalitas………………………………….

150

Lampiran 23. Perhitungan Uji Homogenitas………………………………..

152

Lampiran 24. Perhitungan Uji t……………………………………………..

156

Lampiran 25. Lembar Uji Referensi………………………………………...

160

Lampiran 30. Surat-Surat…………………………………………………… 169

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal penting dalam proses pembentukan sumber daya
manusia.

Manusia

memperoleh

ilmu

pengetahuan,

pengalaman,

serta

pengembangan diri yang sesuai dengan potensinya melalui pendidikan. Hal ini
tertulis dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU RI
tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 No.20 tahun 2003.1
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Berdasarkan uraian di atas dunia pendidikan bertanggung jawab terhadap
kemajuan dan kecerdasan bangsa. Menurut Muhibbin Syah pendidikan sebagai
usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi atau kemampuan sumber daya
manusia (SDM) melalui kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar
tersebut diselenggarakan pada semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi
wajib belajar pendidikan 9 tahun (SD dan SMP), pendidikan menengah (SMA),
dan pendidikan tinggi (perguruan tinggi).2
Pendidikan dapat dilakukan baik secara formal maupun informal, hal ini
sesuai dengan RUU Sisdiknas sebagaimana diatur dalam pasal 55 ayat 13
“Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis
masyarakat pada pendidikan formal dan pendidikan nonformal sesuai
1

Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006) p. 3, tersedia di
www.hukumonline.com, diunduh pada 15 Agustus 2014 pukul 20.00 WIB).
2
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengn Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2002) h. 1
3
Anwar Arifin, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h.
29.

1

2

kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan
masyarakat”
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang sangat penting
untuk mencapai tujuan pendidikan. Keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah
salah satunya ditunjang oleh kurikulum yang diterapkan. Kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang merujuk pada
standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian.
Salah satu standar yang berkaitan langsung dalam kegiatan belajar mengajar
dengan peserta didik yaitu standar proses. Standar proses yaitu standar yang
berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan agar
standar kompetensi lulusan dapat terpenuhi.4 Standar proses inilah yang nantinya
memiliki pengaruh paling besar terhadap hasil belajar peserta didik.
Hasil belajar dari suatu proses belajar pendidikan yang maksimal tentunya
memerlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif, hal ini bisa ditunjang dengan
pembelajaran yang bersifat pendekatan student centered dimana pengetahuan
ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa dan siswa dapat membangun
pengetahuan secara aktif5.
Pendidikan tentunya

tidak hanya dipengaruhi oleh pendekatan

pembelajaran dan kurikulum saja melainkan proses pembelajaran itu sendiri.
Menurut Iru model pembelajaran yaitu acuan pembelajaran tertentu secara
sistematis.6 Pemilihan penggunaan model-model pembelajaran dilakukan sesuai
dengan langkah-langkah pembelajaran tertentu dan disesuaikan dengan materi,
kemampuan siswa dan sarana dan prasarana yang menunjang. Memilih model
4

Deddy Mulyasana, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), h. 148
5
Anita Lie, Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang
Kelas, (Jakarta: PT Grasindo, 2002), h. 5
6
Wahono, Apik Budi Santoso,dkk., Efeketivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Rotating
Trio Exchange terhadap Hasil Belajar Kompetensi Dasar Atmosfer dan Hidrosfer kelas VII SMP 9
Semarang,
Jurnal
Edu
Geography,
Vol.2,
No.1,
2013
(tersedia
di
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edugeo diakses pada tanggal 9 Januari 2015 pukul 15.00
WIB), h. 52.

3

pembelajaran merupakan tugas seorang guru sebagai pelaksana pengajaran. Model
pembelajaran perlu dipahami oleh guru agar dapat melaksanakan pembelajaran
secara efektif.
Menurut UNESCO pembelajaran yang efektif harus diorientasikan dalam
empat pilar pendidikan yaitu, learning to know (belajar untuk tahu), learning to do
(belajar untuk melakukan), learning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri), dan
learning to live together (belajar hidup bersama dengan orang lain) keempatnya
dapat diuraikan bahwa dalam proses pendidikan peserta didik diarahkan untuk
memperoleh pengetahuan tentang sesuatu serta menerapkan apa yang diketahui
untuk menjadikan peserta didik tersebut lebih baik dalam kehidupan sosial.7
Dalam pembelajaran penulis menganggap perlu menanamkan pada diri siswa
tentang jiwa kebersamaan, artinya siswa yang memiliki kemampuan akademik
yang tinggi dapat bekerjasama dengan siswa yang memiliki kemampuan
akademik rendah. Jiwa kebersamaan dapat ditumbuhkan dengan tugas seorang
guru dalam memilih model yang yang tepat sehingga mengurangi kecenderungan
siswa yang bersifat individualistis.
Salah satu jenis model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama
kelompok adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut
Etin Solihatin

model pembelajaran kooperatif yaitu suatu model yang

mengutamakan kerjasama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua
orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan
dari setiap anggota kelompok itu sendiri.8
Ada beberapa model pembelajaran kooperatif yang dapat diaplikasikan dalam
proses pembelajaran diantaranya Student Team Achievement Division (STAD),
Team Games Tournament (TGT), Jigsaw, Group Investigation (GI), Rotating Trio
Exchange (RTE), Think Pair Share (TPS), Numbered Heads Together (NHT).
Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi Biologi dan observasi
yang telah dilakukan, hasil belajar yang diperoleh untuk mata pelajaran Biologi
7

Tim KOMPAS, Kurikulum yang Mencerdaskan, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara,
2007), h. 24-26.
8
Etin Solihatin, Raharjo, Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS,
(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), h. 4.

4

pada materi sebelumnya mempunyai rata-rata 65,79 untuk kelas X MIA 1 dan
69,88 untuk kelas X MIA 2.9 Hasil belajar biologi yang masih belum optimal
dapat ditingkatkan dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat.
Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran kooperatif
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang diteliti oleh Nur
Azizah, dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw ada peningkatan hasil
belajar yang signifikan pada siswa dengan menggunakan pembelajaran
kooperatif.10 Penelitian yang diteliti oleh Endang Purwani menunjukkan adanya
peningkatan prestasi belajar siswa dengan penerapan model Teams Games
Tournament (TGT).11 Hasil penelitian yang dilteliti oleh Avif Andrianto, Raharjo
dan Nur Qomariyah menunjukkan bahwa model pembelajaran aktif rotating trio
exchange dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan menjadikan aktivitas siswa
selama kegiatan pembelajaran yang paling dominan pada setiap pertemuan,
disamping itu respon siswa terhadap pembelajaran sangat positif.12 Hasil
penelitian yang diteliti oleh Dwi Rusmaryanti menunjukkan bahwa pembelajaran
model think pair share dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa.13
Penelitian mengenai pembelajaran kooperatif hampir seluruhnya menunjukkan
bahwa dengan model pembelajaran ini hasil belajar siswa dapat meningkat, akan
tetapi dari sekian banyak penelitian mengenai pembelajaran kooperatif masih
jarang penelitian yang menunjukkan model pembelajaran kooperatif yang paling
tinggi efektifitasnya.
Model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang sesuai untuk
meningkatkan hasil belajar. Banyak macam model pembelajaran yang dapat
9

Lampiran 13, h.124-127
Nur Azizah, Pengaruh Metode Pembelajaran Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Mata
Pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan di SMK Wongsorejo Gombong, Jurnal Universitas Negeri
Yogyakarta, Januari, 2013.
11
Endang Purwani, Penerapan Model Pemvelajaran Kooperatif Teams Games
Tournament (TGT) dalam meningkatkan prestasi belajar SKI pada siswa kelas VII di MTs Ngawi.
Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Ngawi, Vol. XI, No. 1, Juni 2013.
12
Ariv Andrianto, dkk., Penerapan Active Learning dengan Strategi Rotating Trio
Exchange pada Materi Sistem Pernapasan, Jurnal Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya,
Vol. 1, Desember 2012
13
Dwi Rusmaryanti, Meningkatkan Hasil belajar Biologi dengan Model Pembelajaran
Kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) pada siswa kelas VIII A MTs Al Huda 2 Jenawi
Karanganyar tahun Pelajaran 2012/2013,Jurnal Pendidikan, Vol.22, No.3, November, 2013.
10

5

diaplikasikan

dalam

menyampaikan

materi

pelajaran

di

kelas.

Model

pembelajaran yang dapat mendukung siswa untuk melakukan pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student centered) salah satunya yaitu strategi pembelajaran
aktif. Pembelajaran aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua
potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga anak didik dapat mencapai hasil
belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang dimilikinya dan
untuk menjaga perhatian anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.14
Penulis memilih model rotating trio exchange yang didasarkan pada
pertimbangan model ini masih jarang diaplikasikan dalam proses pembelajaran di
sekolah. Untuk mengetahui efektifitas model pembelajaran ini penulis
membandingkan dengan model think pair share. Hal ini didasarkan pada miripnya
kedua model tersebut.
Model rotating trio exchange diharapkan dapat membantu siswa dalam
memahami materi yang diberikan guru secara keseluruhan karena dengan
penggunaan model ini proses berpikir setiap siswa dapat diketahui dan menuntut
kemandirian serta kebersamaan siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan.
Metode ini merupakan cara terperinci bagi siswa untuk mendiskusikan
permasalahan dengan hampir sebagian teman kelas mereka. Pertukaran pendapat
ini bisa dengan mudah diarahkan kepada materi yang akan diajarkan di kelas15
Model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan di kelas adalah teknik
think-pair-share (berpikir-berpasangan-berbagi). Penerapan model pembelajaran
kooperatif ini erat kaitannya dengan usaha untuk memotivasi siswa untuk berpikir,
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Teknik think pair share
merupakan pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa. Menurut Suyatno, teknik think pair share memiliki prosedur yang
ditetapkan secara eksplisit untuk memberikan waktu lebih banyak kepada siswa

14

Eveline Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: PT Ghalia
Indonesia), h. 106
15
Mel l Silberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung:
Nusamedia, 2011), h.103

6

untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau
dialami dengan proses berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.16
Pada dasarnya kedua model pembelajaran ini memiliki orientasi yang hampir
sama. Perbedaan diantara keduanya yaitu pada model rotating trio exchange
siswa berdiskusi secara rotasi sehingga memungkinkan siswa berdiskusi dan
bertukar pikiran dengan banyak siswa karena dilakukan secara berotasi,
sedangkan pada model think pair share siswa berdiskusi secara berpasangan dan
memungkinkan siswa dapat lebih fokus dalam berdiskusi karena tidak adanya
rotasi atau perpindahan ketika diskusi dilakukan. Kegiatan akhir pada tahap
evaluasi kedua model ini sama yaitu adanya dikusi secara bersama-sama di kelas.
Penulis memilih model rotating trio exchange dan think pair share untuk
mengetahui seberapa jauh perbedaan hasil belajar yang diperoleh karena adanya
perbedaan proses diskusi antara kedua model tersebut, dimana pada model
rotating trio exchange diskusi dilakukan secara rotasi, sedangkan pada model
think pair share diskusi tidak dilakukan secara rotasi
Model rotating trio exchange dan think pair share pada penelitian ini
diterapkan pada konsep virus yang memuat materi mengenai ciri-ciri virus, cara
virus bereplikasi, identifikasi virus yang merugikan dan menguntungkan serta cara
menghindari diri dari bahaya virus. Dalam konsep ini siswa dapat mengaitkan
dengan isu-isu yang beredar dimasyarakat dan mengetahui cara mencegah atau
menanggulangi bahaya dari virus. Agar kompetensi tersebut dapat tercapai dengan
baik, siswa diharapkan dapat memahami materi pelajaran dengan cara yang
menyenangkan, sehingga diharapkan hasil belajar siswa pada konsep Virus dapat
meningkat.17
Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba membedakan hasil belajar
penggunaan model rotating trio exchange (eksperimen I) dan model think pair
share (eksperimen II) dalam pembelajaran. Terkait permasalahan diatas, penulis
membahas mengenai judul: “Perbedaan Hasil Belajar Biologi Siswa
16

Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka,
2009), h. 54.
17
Irmanityas, Biologi untuk SMA/MA kelas X: Kelompok Peminatan Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 52.

7

Menggunakan Model Rotating Trio Exchange (RTE) dengan Think Pair
Share (TPS) pada Konsep Virus”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, beberapa masalah dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Hasil belajar biologi siswa yang belum optimal.
2. Pembelajaran model rotating trio exchange dan think pair share masih jarang
diterapkan guru selama pembelajaran di sekolah.
3. Belum ada penelitian yang membandingkan efektifitas antara pembelajaran
model rotating trio exchange dengan think pair share.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, penulis membatasi masalah pada:
1. Subyek Penelitian adalah siswa kelas X semester ganjil tahun ajaran
2014/2015 di SMAN 28 Kabupaten Tangerang.
2. Penggunaan strategi pembelajaran aktif tipe rotating trio exchange dan
pembelajaran kooperatif model think pair share pada konsep virus.
3. Hasil belajar biologi yang dicapai siswa ditinjau dari ranah kognitif (C1C4).
4. Konsep biologi pada penelitian ini adalah konsep virus.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah yang
dirumuskan dalam penelitian adalah:
1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang
menggunakan model rotating trio exchange dengan think pair share pada
konsep virus?
2. Apakah hasil belajar model rotating trio exchange lebih baik dari model think
pair share?

8

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil
belajar antara siswa yang menggunakan rotating trio exchange dengan think pair
share pada Konsep Virus di SMAN 28 Kabupaten Tangerang.

F. Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1. Guru
Khususnya bagi guru bidang studi biologi dapat menjadikan penggunaan
rotating trio exchange dan think pair share sebagai salah satu alternatif
dalam pembelajaran.
2. Siswa
Untuk membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep, menciptakan
pembelajaran bermakna dan mengembangkan kemampuan kognitif yang
dimiliki.
3. Pembaca
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk diadakan
penelitian lebih lanjut.
4. Peneliti
Penelitian ini dapat menyampaikan informasi tentang perbedaan hasil belajar
antara siswa yang menggunakan rotating trio exchange dengan think pair
share.

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskrispsi Teoritik
1. Strategi, Model dan Pendekatan Pembelajaran
a. Strategi Pembelajaran
Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang
didukung oleh kondisi pembelajaran yang dikendalikan oleh pengajar maupun
peserta didik1. Strategi pembelajaran berarti pola umum perbuatan guru dan
murid dalam perwujudan kegiatan pembelajaran2. Menurut Wina Sanjaya
strategi pembelajaran ialah penyusunan langkah-langkah dalam pembelajaran
dengan memanfaatkan fasilitas dan dan sumber belajar dalam mencapai tujuan
pembelajaran.3
Pembelajaran menurut Degeng dalam penelitian Heni adalah upaya untuk
membelajarkan siswa yang didalamnya mencakup kegiatan memilih,
menetapkan dan mengembangkan metode serta strategi yang optimal untuk
mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan.4
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang
termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya
atau kekuatan dalam pembelajaran yang digunakan oleh seorang pengajar
untuk menyampaikan materi pembelajaran dengan tujuan untuk memudahkan
peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran sehingga pada
akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar.
1

Tengku Zahara Djaafar, Kontribusi Strategi Pembelajaran terhadap Hasil Belajar,
(Jakarta: Universitas Negeri Padang, 2001), h. 86
2
Isjoni, Mohd. Arif Ismail, dkk. Pembelajaran Visioner Perpanduan IndonesiaMalaysia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 1
3
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 126.
4
Heni Mularsih, Strategi Pembelajaran, Tipe Kepribadian dan Hasil Belajar Bahasa
Indonesia pada Siswa Sekolah Menengah Pertama, Jurnal Makara Sosial Humaniora, Vol.14,
No.1, Juli 2010, h. 67.

9

10

b. Model Pembelajaran
Menurut Soekamto dalam Trianto model pembelajaran ialah suatu
kerangka

yang

berisi

prosedur

mengenai

tahapan-tahapan

dalam

melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu,
serta berfungsi sebagai pedoman bagi pengajar dalam merencanakan aktivitas
belajar mengajar.5 Model adalah rencana atau pola yang dapat dipakai untuk
merancang mekanisme suatu pengajaran meliputi sumber belajar, subyek
pembelajar, lingkungan belajar, kurikulum dan evaluasi. Model memiliki
tahapan-tahapan sebagai berikut :6
Pertama, Sintaks atau tahapan merupakan merupakan penjelasan
pengoperasian model. Kedua, Sistem sosial bagaimana penjelasan tentang
peranan guru dan pembelajar. Ketiga, Prinsip-prinsip reaksi menjelaskan
bagaimana sebaiknya guu bersikap dan berespon terhadap aktivitas siswa.
Keempat, Sistem pendukung menjelaskan hal-hal yang diperlukan sebagai
kelengkapan model diluar manusia.
Berdasarkan pengertian diatas maka model pembelajaran ialah suatu
rencana yang sudah sistematis dan memiliki tahapan khusus agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai.

c. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap
proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan
ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruksional tertentu.7
Proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain
saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi
pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi.8

5

Trianto, Mendesain pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta: Kencana Media Group,
2009, h. 22.
6
Zulfiani, Tonih Feronika, Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 117.
7
Zulfiani, Op. cit., h. 91
8
Wina Sanjaya, Op. cit., h.58

11

Pembelajaran

adalah

proses

interaksi

antara

peserta

didik

lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik.

dengan

9

Jadi pendekatan pembelajaran ialah jalan yang akan ditempuh untuk
mencapai tujuan intruksional dengan melibatkan peserta didik dengan
lingkungannya agar terjadi perubahan perilaku yang lebih baik dan
tercapainya tujuan pembelajaran.

2. Pembelajaran Aktif
a. Pengertian Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif adalah bentuk pembelajaran yang memungkinkan
siswa dapat berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. 10 Pembelajaran
aktif dapat mengakomodasi perbedaan yang ada diantara individu peserta
didik. Ada beberapa definisi tentang pembelajaran aktif, menurut Hisyam
pembelajaran aktif (active learning) adalah pembelajaran yang mengajak
peserta didik untuk belajar secara aktif, dimana peserta didik mendominasi
aktifitas pembelajaran. Pembelajaran ini menuntut mereka secara aktif
menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi belajar,
memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru dipelajari
kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Belajar aktif dapat
menuntut peserta didik agar dapat turut serta dalam semua proses
pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Pembelajaran
ini akan membuat peserta didik merasakan suasana yang lebih menyenangkan
sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.11
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua

9

Kunandar, Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dalam Mempersiapkan Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h.
265.
10
Tejo Nurseto, Pelaksanaan Pembelajaran dengan Pendekatan Aktif Learning dalam
Pembelajaran Ekonomi Pada SMU Negeri di Yogyakarta, Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, Vol.6,
No.2, November 2009, h.169.
11
Hisyam Zaini, dkk. Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani,
2008), h. xiv

12

anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Pembelajaran aktif (active learning)
juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian peserta didik agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran.12
Menurut Simons dalam Suyatno, pembelajaran aktif memiliki dua
dimensi, yaitu pembelajaran mandiri (independent learning) dan bekerja
secara aktif (active working). Independent learning lebih mengutamakan pada
keterlibatan siswa pada pembuatan keputusan tentang proses pembelajaran
yang akan dilakukan. Active working mengutamakan pada situasi dimana
pembelajar atau siswa ditantang untuk menggunakan kemampuan mentalnya
saat melakukan pembelajaran.13
Prinsip-prinsip dalam pembelajaran aktif meliputi banyak hal, diantaranya
yaitu anak didik yang harus lebih aktif dan berperan dalam semua aktifitas
belajar dan guru hanya sebagai fasilitator yang bertugas mengarahi proses
belajar mengajar. Menurut Ahmadi dan Supriyono dalam jurnal penelitian
disebutkan bahwa ada beberapa prinsip belajar yang dapat menumbuhkan cara
belajar aktif pada peserta didik, yaitu stimulasi belajar, perhatian dan motivasi,
respon yang dipelajari, penguatan, dan pemakaian serta pemindahan.14
Pembelajaran aktif (active learning) pertama diperkenalkan oleh seorang
filosofi kenamaan Cina, Confucius dalam buku Silberman menyebutkan
bahwa dalam belajar hal yang biasanya terjadi yaitu yang saya dengar saya
lupa, yang saya lihat saya ingat, dan yang saya kerjakan saya pahami.
Mel Silberman telah memodifikasi pernyataan Confusius tersebut menjadi
apa yang dia sebut paham belajar aktif yaitu: “yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat. Yang saya dengar, lihat dan
pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami. Dari

12

Eveline Siregar, Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2010), h. 106
13
Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo, Masmedia Buana Pustaka,
2009), h. 108
14
Postalina Rosida, Titin Suprihatin, Pengaruh Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan
Prestasi Belajar Fisika pada Siswa Kelas 2 SMU. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Islam
Sultan Agung Semarang, Vol.6, No.2,2011,h.93.

13

yang saya dengar, lihat dan bahas dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan
dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai”.15
Pada proses pembelajaran aktif siswa dianggap belajar aktif apabila telah
melakukan aktivitas dan melakukan tindakan yang aktif seperti membuat
pertanyaan, berdiskusi dan lain sebagainya. Keaktifan siswa tidak hanya
secara fisik tetapi juga mental. Menurut Subroto pada penelitian Sefna
Rismen, keaktifan siswa dapat dilihat dari berbuat sesuatu untuk memahami
materi pelajaran dengan penuh keyakinan, mempelajari, memahami, dan
menukan sendiri

bagaimana

proses pengetahuan;

merasakan sendiri

bagaimana tugas-tugas yang diberikan guru kepadanya; belajar dalam
kelompok; mencoba konsep-konsep tertentu; dan mengkomunikasikan hasil
pemikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau
penampilan.16
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa strategi pembelajaran aktif adalah
strategi yang menuntut keaktifan siswa menggunakan pikirannya baik
menemukan

ide

pokok

dari

materi,

memecahkan

masalah

dan

mengaplikasikannya ke kehiduapn nyata. Pembelajaran aktif (active learning)
pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan
respon anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi
hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka,
dengan demikian pembelajaran aktif (active learning) pada anak didik dapat
membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan
kepada tujuan pembelajaran yang sukses.

b. Karakteristik Pembelajaran Aktif
Belajar aktif merupakan pendekatan belajar yang efektif agar dapat
membentuk siswa sebagai peserta didik yang mempunyai kemampuan untuk
belajar mandiri sepanjang hayatnya dan untuk membina profesionalitas guru.
15

Mel l Silberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif , (Bandung:
Nusamedia, 2011), h.23
16
Sefna Resman, Pembelajaran Aktif Suatu Upaya Pengaktifan Siswa dalam Belajar
Matematika, Jurnal Ta’dib, Vol.12, No. 2, Desember 2009, h. 147.

14

Belajar aktif menyaratkan diberikannya umpan balik secara terus menerus dari
guru kepada siswa dan juga sebaliknya dari siswa kepada guru.17
Karakteristik pembelajaran aktif menurut Bonwell, yaitu adanya
penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh
pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan
kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas, peserta didik tidak
hanya mendengarkan materi pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu
yang berkaitan dengan materi pelajaran, penekanan pada eksplorasi nilai-nilai
dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pelajaran, peserta didik dituntut
untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi, serta adanya
umpan balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.18
Penerapan pembelajaran aktif memfasilitasi peserta didik agar dapat
terlibat secara aktif berinteraksi dengan berbagai komponen pembelajaran,
disamping itu adanya komunikasi dan melakukan refleksi terhadap materi
yang dipelajari. Komponen dari pembelajaran aktif secara umum terdiri dari
pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi.19
Dari karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif
merupakan pembelajaran yang menekankan pada siswa sebagai pusat kegiatan
belajar mengajar dan peserta didik dituntut untuk berperan aktif dalam setiap
kegiatan pembelajaran.

c. Rotating Trio Exchange (RTE)
Salah satu profesionalisme guru adalah komitmennya untuk selalu
memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya dalam suatu proses bertindak
dan berefleksi dalam kegiatan belajar mengajar. Suasana kelas perlu
direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan

17

Eveline Siregar, Op. Cit., h.111
Runtut Prih Utami, Active Learning untuk Mewujudkan Pembelajaran Efektif. Jurnal
Al-Bidayah, Vol 1, No. 2, Desember, 2009, h. 156.
19
Asrizal, Nilai Karakter Mahasiswa dalam Pembelajaran Aktif dengan Tugas Berbasis
Media Video Phy 2049 Mata Kuliah Bahasa Inggris untuk Fisika, Prosiding Semirata FMIPA
Universitas Lampung, 2013, h. 282
18

15

interaksi satu sama lain20. Metode Rotating trio exchange ini merupakan
metode bagi siswa untuk mendiskusikan permasalahan dengan sebagian besar
teman kelas mereka. Pertukaran pendapat ini bisa dengan mudah diarahkan
kepada materi yang akan diajarkan di kelas21
Menurut Arifin penerapan dengan teknik merotasi pertukaran pendapat
kelompok tiga orang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar
karena siswa diajak untuk berfikir secara aktif dalam menyelesaikan soal atau
permasalahan yang diberikan oleh guru.22
Penulis menggunakan model pembelajaran aktif tipe Rotating trio
Exchange karena model pembelajaran aktif tipe rotating trio exchange ini
meiliki kelebihan antara lain: pertama, keuntungan kognitif yang diperoleh
dari pengalaman belajar. Ada dua aspek keuntungan yang dapat diperoleh
yaitu peningkatan kemampuan berpikir dan komunikasi. Kedua, keuntungan
sosial yaitu dengan bekerjasama dan saling membantu anggota lain. Ketiga,
keuntungan personal yaitu siswa mempunyai kesempatan untuk menjadi aktif.
Selain keuntungan tersebut dengan dibentuknya kelompok kecil juga
menghindari adanya dominasi kelompok tertentu sehingga dapat mengaktifkan
siswa yang pasif.

d. Prosedur Model Rotating Trio Exchange
Isjoni mengemukakan langkah-langkah pembelajaran menggunakan
model rotating trio exchange yaitu : kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok
yang terdiri dari 3 orang, kelas ditata sehingga setiap kelompok dapat melihat
kelompok lainnya di kiri dan kanannya, berikan pada setiap trio tersebut
pertanyaan yang sama untuk didiskusikan. Setelah selesai berilah nomor untuk
setiap anggota trio tersebut, contohnya nomor 0, 1, dan 2. Kemudian
perintahkan nomor 1 untuk memutar satu trio searah jarum jam dan nomor 2
20

Anita Lie, Cooperative Learning: Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang
Kelas, (Jakarta: Grasindo, 2002), h. 7.
21
Melvin L. Siberman, Active Learning. (Bandung: Nuansa, 2006), h. 103.
22
Ayu Mertini, Suarjana, Pengaruh Strategi Pembelajaran Rotating Trio Exchange (RTE)
Berbantu Media Question Box terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa kelas V SD. Jurnal
Universitas Pendidikan Ganesha, h.4.

16

sebaliknya, berlawanan arah jarum jam. Sedangkan nomor 0 tetap di tempat.
Ini akan mengakibatkan timbulnya trio baru. Berikan kepada setiap trio baru
pertanyaan-pertanyaan baru untuk didiskusikan, tambahkanlah sedikit tingkat
kesulitan. Rotasikan kembali siswa sesuai dengan pertanyaan yang telah
disiapkan.23
Pembelajaran aktif tipe Rotating trio exchange dikuti dari Mel L.
Sibermean prosedurnya adalah sebagai berikut:
Pertama, Guru membuat berbagai macam jenis pertanyaan yang dapat
membantu peserta didik dalam memulai diskusi mengenai materi pelajaran.
Guru membuat pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban betul dan
salah. Kedua, Peserta didik dibagi menjadi kelompok yang masing-masing
beranggotakan tiga orang. Guru mengatur kelompok-kelompok tiga itu di
ruangan agar masing-masing dari kelompok tiga (trio) itu dapat dengan jelas
melihat sebuah trio disebelah kanannya dan trio lain disebelah kirinya.
Formasi kelompok-kelompok trio itu secara keseluruhan bisa berbentuk
bundar atau persegi. Ketiga, Masing-masing trio diberikan sebuah pertanyaan
pembuka dengan pertanyaan yang sama untuk didiskusikan. Guru memberikan
pertanyaan mudah untuk mengawali diskusi. Keempat, Setelah masa waktu
diskusi selesai, guru meminta trio-trio itu menentukan nomor 0, 1, dan 2 pada
setiap anggotanya. Para peserta didik dengan nomor 1 berpindah ke kelompok
trio merotasi searah jarum jam dan nomor 2 untuk berpindah ke kelompok trio
yang berlawanan dengan arah jarum jam dan guru meminta peserta didik
nomor 0 untuk tetap berada di tempatnya. Kelima, Guru memulai sebuah
pertukaran baru dengan sebuah pertanyaan baru. Pada pertanyaan berikutnya
ada peningkatan kesulitan pada soal yang diberikan. Keenam, Trio dapat
diputar berkali-kali sebanyak pertanyaan yang dimiliki dan waktu diskusi yang
tersedia. Setiap terjadinya rotasi baru, aturan yang digunakan selalu sama.
Dari serangkaian langkah yang dikemukakan di atas, maka pembelajaran
model rotating trio exchange ini secara sistematik adalah sebagai berikut:

23

Isjoni, Cooperative Learning, (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 59

17

Guru membuat berbagai macam pertanyaan dalam sebuah kertas, siswa
dalam kelas dibagi menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 3 orang
siswa, guru memberikan pertanyaan dalam sebuah kertas pada setiap
kelompok trio dengan pertanyaan yang sama, setelah batas waktu yang
diberikan habis, guru akan berkata “rotasi”. Maka siswa berputar sesuai
dengan kartu yang dimilikinya. Siswa yang memiliki nomor 1 berputar searah
jarum jam, dan siswa yang bernomor 2 berputar berlawanan dengan arah
jarum jam, sedangkan untuk siswa bernomor 0 tetap ditempat. Dalam
kelompok trio baru siswa diberi pertanyaan baru dengan tingkat kesulitan
berdasarkan materi yang diberikan. Kegiatan ini terus dilakukan sampai semua
pertanyaan selesai dijawab, setelah itu dilakukan diskusi kelas (persentasi
kelompok) untuk membahas pertanyaan yang telah dikerjakan.
Berikut ini adalah dua contoh pola pasangan kelompok trio pada putaran I
dan II:

Kelompok 1
A1

Kelompok 4

A0

A2

D1

B1

D0

B0

D2

B2
C1

C0

Kelompok 2

C2

Kelompok 3
Gambar 2.1 Pola Pasangan Trio Putaran Pertama

Kelompok 1
D1

Kelompok 4

A0

B2

C1

A1

D0

B0

A2

C2
B1

C0

D2

Kelompok 3
Gambar 2.2 Pola Pasangan Trio Putaran Kedua

Kelompok 2

18

Tahap-tahap yang dijabarkan di atas memperlihatkan bahwa pembelajaran
aktif tipe rotating trio exchange memberi kesempatan kepada siswa untuk
bertukar informasi dengan siswa lain. Siswa diberikan tanggung jawab untuk
menyelesaikan tugas kelompoknya.
Pembelajaran seperti ini memberikan manfaat antara lain dapat
memperbesar motivasi belajar siswa, pemahaman terhadap pembelajaran lebih
mendalam, penerimaan terhadap individu lebih besar. Dengan demikian
pembelajaran aktif efektif digunakan di dalam kelas untuk meningkatkan hasil
belajar siswa.

Tabel 2.1 Tabel Tahapan Pembelajaran dengan Model Rotating Trio Exchange
(RTE)
Tahap
Tahap 1
Menyampaikan tujuan, prosedur
dan memotivasi siswa
Tahap 2
Diskusi dan rotasi

Tahap 3
Penyajian hasil diskusi oleh
kelompok
Tahap 4
Evaluasi

Kegiatan Guru
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar. Kemudian guru menjelaskan
prosedur pada pembelajaran RTE
Guru
membagi
siswa
secara
berkelompok yang terdiri dari 3 siswa
dan memberikan pertanyaan yang akan
didiskusikan. Serta memberikan abaaba apabila kelompok akan dirotasi.
Guru membimbing siswa untuk
persentasi di depan kelas

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.

19

3. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang saat ini banyak
digunakan untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa, dimana guru mendorong siswa untuk melakukan kerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil pada waktu menerima pelajaran atau mengerjakan
soal-soal dan tugas-tugas. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa
siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika
mereka saling berdiskusi dengan temannya.24
Anita Lie menyebut Cooperative Learning dengan istilah pembelajaran
gotong-royong, dimana sistem pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas
terstruktur.25 Djahiri menyebutkan Cooperative learning sebagai pembelajaran
kooperatif yang menuntut diterapkannya pendekatan belajar yang sentries,
humanistic, dan demokratis, yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan
lingkungan belajarnya.26 Menurut Johnson&Johnson, kooperatif adalah cara
belajar yang menggunakan kelompok kecil, sehingga siswa dapat bekerja dan
belajar satu sama lain.27
Pembelajaran kooperatif sangat menitikberatkan kehadiran dan partisipasi
tiap anggotanya sehingga pada setiap anggota harus diberdayakan atau
dimanfaatkan, selain itu setiap siswa harus memiliki rasa tanggung jawab,
pembagian tugas, harus ada interaksi dan komunikasi antar siswa, ada
hubungan yang saling menguntungkan diantaranya anggot akelompok.
Komunikasi dan interaksi memungkinkan terjadinya pertukaran informasi
yang membantu meningkatkan pemikiran serta memberikan gagasan-gagasan
baru dalam diri siswa. Hal ini memang dapat terjadi karena dalam kelompok
kecil yang dibentuk itu terdiri dari siswa-siswa yang latar belakang

24

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Fajar
Interpratama Mandiri, 2009), h.57
25
Anita Lie, Op. Cit. h. 19
26
Isjoni, Op. Cit. h. 19
27
Zulfiani, Tonih Feronika, dan Kinkin Suartini, Op. Cit. h. 130

20

kemampuan akademis serta pengalaman yang heterogen. Dalam hal ini agar
proses pembelajaran kooperatif dapat berlangsung, dari siswa diperlukan
adanya will and skill, yaitu kemauan dan keterampilan untuk kerjasama.28
Dari beberapa pengertian diatas, pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang dilakuk

Dokumen yang terkait

Pengaruh model cooperative learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep sistem peredaran darah : kuasi eksperimen di smp pgri 2 ciputat

0 11 202

Perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif teknik think pair share dan teknik think pair squre

0 4 174

Upaya peningkatan hasil belajar siswa pada konsep persamaan dasar akuntansi dengan menggunakan model pembelajaran rotating trio exchange ( penelitian tindakan kelas di kelas X SMK Arrahman Bintaro)

2 21 243

pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating exchange (RTE) terhadap minat belajar matematika siswa

3 51 76

Perbandingan hasil belajar biologi dengan menggunakan metode pembelajaran cooperative learning tipe group investigation (GI) dan think pair share (TPS)

1 5 152

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchangnge terhadap hasil belajar matematika siswa

0 5 203

Penerapan model pembelajaran cooperative teknik think pair square (Tps) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VIII H di Mts pembangunan uin Jakarta

0 14 161

Peningkatan Hasil Belajar Ips Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Thinks Pair Share Pada Siswa Kelas V Mi Manba’ul Falah Kabupaten Bogor

0 8 129

PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK PAIR Perbedaan Hasil Belajar IPA-Biologi Dengan Menggunakan Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share) Dan Model Pembelajaran Jigsaw Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasu

0 2 14

PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK PAIR Perbedaan Hasil Belajar IPA-Biologi Dengan Menggunakan Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share) Dan Model Pembelajaran Jigsaw Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasu

0 2 14

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 775 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1088 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23