KAJIAN KEPADATAN POPULASI Cochlodinium polycrikoides SEBAGAI AKIBAT EUTROFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BUDIDAYA IKAN DI PERAIRAN TELUK HURUN

(1)

ABSTRAK

KAJIAN KEPADATAN POPULASI Cochlodinium polycrikoides SEBAGAI AKIBAT EUTROFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BUDIDAYA

IKAN DI PERAIRAN TELUK HURUN Oleh

SUPRIYA

Pengkayaan unsur hara di perairan menyebabkan eutrofikasi dan memicu terjadinya ledakan populasi fitoplankton atau blooming, yang salah satunya adalah jenis Cochlodinium polycrikoides. Faktor yang menyebabkan terjadinya blooming C. polykrikoides ada empat, yaitu pengkayaan unsur hara, upwelling atau downwelling, perubahan suhu dan curah hujan yang menyebabkan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.

C. polykrikoides mengandung neurotoxin, hemolytic, hemagglutinative dan Paralytic Shelfish Poisoning (PSP)/ saxitoxin, dapat menyebabkan keracunan pada manusia yang mengkonsumsi makanan laut terutama kekerangan. Blooming C. polykrikoides di perairan menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut, kerusakan pada insang sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan berdampak terhadap kematian massal ikan – ikan budidaya.

Berdasarkan fakta tersebut diatas, maka perlu adanya penelitian untuk menganalisis faktor – faktor yang menyebabkan kemunculan fitoplankton yang bersifat harmful seperti Cochlodinium polycrikoides. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyebab munculnya C polycrikoides di Perairan Teluk Hurun dan sekitarnya serta dapat digunakan sebagai early warning system ( sistem peringatan dini ) bagi sistem pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan sehingga para pembudidaya dapat mengambil tindakan/solusi guna mengurangi kerugian akibat kematian ikan-ikan budidaya. Penelitian dilakukan di perairan Teluk Hurun, pada bulan Februari – April 2015, Pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian ( metode survey ) dan pengambilan sampel air laut. Jumlah sampel yang diamati sebanyak 12 kali. Data diamati meliputi : data kepadatan sel C polycrikoides, data konsentrasi N dan P serta data kualitas air.


(2)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi C. polycrikoides tertinggi selama penelitian terjadi di stasiun II yaitu 1.480.264 sel/l, diikuti stasiun I yaitu 72.281 sel/l, stasiun III yaitu 2.963 dan stasiun IV yaitu 1.829 sel/l. Kepadatan tertinggi pada masing – masing stasiun penelitian terjadi pada bulan Maret. Berdasarkan analisis koefisien Pearson

Terdapat hubungan positif yang signifikan – sangat signifikan antara kepadatan C. polycrikoides dengan unsur N dan P ; phosphat berkorelasi positif di semua stasiun penelitian, ammonia pada stasiun I, II dan III ; nitrat pada stasiun I, sedangkan nitrit terdapat hubungan negatif yang signifikan pada stasiun I. Parameter suhu berkorelasi positif pada semua stasiun penelitian sedangkan salinitas pada stasiun IV. Total nitrogen (T-N) disemua stasiun pengamatan berkisar 0,641 – 1,477 dan total fosfor (T-P) 0,621 – 0,814. Rasio N dan P berkisar antara 0,992 – 2,187, ini menunjukkan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan C. polycrikoides. Kelimpahan C. polycrikoides yang terjadi di stasiun III (area budidaya di KJA) selama penelitian tidak menimbulkan dampak kematian ikan budidaya karena kelimpahan tertingginya hanya sebesar 1.829 sel/l.


(3)

ABSTRACT

STUDY ON POPULATION DENSITY Cochlodinium polykrikoides AS A RESULT OF EUTROPHICATION AND IMPACT ON FISH FARMING

IN THE GULF HURUN By

SUPRIYA

Nutrient enrichment in waters cause eutrophication and trigger an explosion in the population of phytoplankton or blooming, one of which is a species Cochlodinium polycrikoides. There are four factors that cause blooming C. polykrikoides, ie nutrient enrichment, upwelling or downwelling, changes in temperature and rainfall that led to the influx of fresh water into the sea in large quantities.

C. polykrikoides contains a neurotoxin, hemolytic, hemagglutinative and shelfish Paralytic Poisoning (PSP) / saxitoxin, can cause poisoning in humans who consume seafood, especially oyster. Blooming C. polykrikoides in waters lead to decreased levels of dissolved oxygen, damage to the gills causing breathing problems and eventually affect the mass death of fish farming.

Based on the above facts, it is necessary to research by analyzing various factors that cause the appearance of phytoplankton that are harmful such as Cochlodinium polycrikoides. The results of this study are expected to obtain information about the cause of the emergence of C polycrikoides in Gulf Hurun and surrounding areas. Can also be used as an early warning system for fish health management systems and the environment so that farmers can take action or solution in order to reduce losses due to mortality of farmed fish.

The study was conducted in the waters of the Gulf Hurun, in February - April 2015, data was collected through direct observation to the study site (survey method) and sampling of seawater observed 12 times. The data includes the observation of C. polycrikoides cell density, the concentration of N and P as well as water quality data.


(4)

The results showed that the population abundance of C. polycrikoides highest in station II is 1,480,264 cells / l, followed by the station I that is 72 281 cells / l, station III is 2963 cells / l, then the station IV is 1,829 cells / l. The highest density at each research station occurred in March. Based on the analysis of Pearson coefficients obtained a significant positive relationship and very significant, between the density of C. polycrikoides with elements of N and P. Phosphoric positively correlated in all research stations, ammonia at station I, II and III, nitrate at station I, while for nitrite there a significant negative correlation at station I. Temperature parameters positively correlated in all research stations while salinity only at station IV. Nitrogen concentration at all stations from 0.024 to 0.21 mg / l and phosphorus concentrations ranged from 0.10 to 0.15 mg / l. The ratio of N and P total in all the research station <12, this indicates that nitrogen is the limiting factor for the growth of phytoplankton

including C. polycrikoides. Abundance C. polycrikoides that occurred on the station III (area of fish farming in floating netcages) during the study did not result in farmed fish mortality due to high abundance of only 1,829 cells / l.


(5)

KAJIAN KEPADATAN POPULASI Cochlodinium polycrikoides SEBAGAI AKIBAT EUTROFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BUDIDAYA

IKAN DI PERAIRAN TELUK HURUN

Tesis

Oleh SUPRIYA

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU LINGKUNGAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016


(6)

KAJIAN KEPADATAN POPULASI Cochlodinium polycrikoides SEBAGAI AKIBAT EUTROFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BUDIDAYA

IKAN DI PERAIRAN TELUK HURUN

Oleh SUPRIYA

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar MAGISTER ILMU LINGKUNGAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU LINGKUNGAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016


(7)

ABSTRAK

KAJIAN KEPADATAN POPULASI Cochlodinium polycrikoides SEBAGAI AKIBAT EUTROFIKASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BUDIDAYA

IKAN DI PERAIRAN TELUK HURUN Oleh

SUPRIYA

Pengkayaan unsur hara di perairan menyebabkan eutrofikasi dan memicu terjadinya ledakan populasi fitoplankton atau blooming, yang salah satunya adalah jenis Cochlodinium polycrikoides. Faktor yang menyebabkan terjadinya blooming C. polykrikoides ada empat, yaitu pengkayaan unsur hara, upwelling atau downwelling, perubahan suhu dan curah hujan yang menyebabkan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.

C. polykrikoides mengandung neurotoxin, hemolytic, hemagglutinative dan Paralytic Shelfish Poisoning (PSP)/ saxitoxin, dapat menyebabkan keracunan pada manusia yang mengkonsumsi makanan laut terutama kekerangan. Blooming C. polykrikoides di perairan menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut, kerusakan pada insang sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan berdampak terhadap kematian massal ikan – ikan budidaya.

Berdasarkan fakta tersebut diatas, maka perlu adanya penelitian untuk menganalisis faktor – faktor yang menyebabkan kemunculan fitoplankton yang bersifat harmful seperti Cochlodinium polycrikoides. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyebab munculnya C polycrikoides di Perairan Teluk Hurun dan sekitarnya serta dapat digunakan sebagai early warning system ( sistem peringatan dini ) bagi sistem pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan sehingga para pembudidaya dapat mengambil tindakan/solusi guna mengurangi kerugian akibat kematian ikan-ikan budidaya. Penelitian dilakukan di perairan Teluk Hurun, pada bulan Februari – April 2015, Pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian ( metode survey ) dan pengambilan sampel air laut. Jumlah sampel yang diamati sebanyak 12 kali. Data diamati meliputi : data kepadatan sel C polycrikoides, data konsentrasi N dan P serta data kualitas air.


(8)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi C. polycrikoides tertinggi selama penelitian terjadi di stasiun II yaitu 1.480.264 sel/l, diikuti stasiun I yaitu 72.281 sel/l, stasiun III yaitu 2.963 dan stasiun IV yaitu 1.829 sel/l. Kepadatan tertinggi pada masing – masing stasiun penelitian terjadi pada bulan Maret. Berdasarkan analisis koefisien Pearson

Terdapat hubungan positif yang signifikan – sangat signifikan antara kepadatan C. polycrikoides dengan unsur N dan P ; phosphat berkorelasi positif di semua stasiun penelitian, ammonia pada stasiun I, II dan III ; nitrat pada stasiun I, sedangkan nitrit terdapat hubungan negatif yang signifikan pada stasiun I. Parameter suhu berkorelasi positif pada semua stasiun penelitian sedangkan salinitas pada stasiun IV. Total nitrogen (T-N) disemua stasiun pengamatan berkisar 0,641 – 1,477 dan total fosfor (T-P) 0,621 – 0,814. Rasio N dan P berkisar antara 0,992 – 2,187, ini menunjukkan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan C. polycrikoides. Kelimpahan C. polycrikoides yang terjadi di stasiun III (area budidaya di KJA) selama penelitian tidak menimbulkan dampak kematian ikan budidaya karena kelimpahan tertingginya hanya sebesar 1.829 sel/l.


(9)

ABSTRACT

STUDY ON POPULATION DENSITY Cochlodinium polykrikoides AS A RESULT OF EUTROPHICATION AND IMPACT ON FISH FARMING

IN THE GULF HURUN By

SUPRIYA

Nutrient enrichment in waters cause eutrophication and trigger an explosion in the population of phytoplankton or blooming, one of which is a species Cochlodinium polycrikoides. There are four factors that cause blooming C. polykrikoides, ie nutrient enrichment, upwelling or downwelling, changes in temperature and rainfall that led to the influx of fresh water into the sea in large quantities.

C. polykrikoides contains a neurotoxin, hemolytic, hemagglutinative and shelfish Paralytic Poisoning (PSP) / saxitoxin, can cause poisoning in humans who consume seafood, especially oyster. Blooming C. polykrikoides in waters lead to decreased levels of dissolved oxygen, damage to the gills causing breathing problems and eventually affect the mass death of fish farming.

Based on the above facts, it is necessary to research by analyzing various factors that cause the appearance of phytoplankton that are harmful such as Cochlodinium polycrikoides. The results of this study are expected to obtain information about the cause of the emergence of C polycrikoides in Gulf Hurun and surrounding areas. Can also be used as an early warning system for fish health management systems and the environment so that farmers can take action or solution in order to reduce losses due to mortality of farmed fish.

The study was conducted in the waters of the Gulf Hurun, in February - April 2015, data was collected through direct observation to the study site (survey method) and sampling of seawater observed 12 times. The data includes the observation of C. polycrikoides cell density, the concentration of N and P as well as water quality data.


(10)

The results showed that the population abundance of C. polycrikoides highest in station II is 1,480,264 cells / l, followed by the station I that is 72 281 cells / l, station III is 2963 cells / l, then the station IV is 1,829 cells / l. The highest density at each research station occurred in March. Based on the analysis of Pearson coefficients obtained a significant positive relationship and very significant, between the density of C. polycrikoides with elements of N and P. Phosphoric positively correlated in all research stations, ammonia at station I, II and III, nitrate at station I, while for nitrite there a significant negative correlation at station I. Temperature parameters positively correlated in all research stations while salinity only at station IV. Nitrogen concentration at all stations from 0.024 to 0.21 mg / l and phosphorus concentrations ranged from 0.10 to 0.15 mg / l. The ratio of N and P total in all the research station <12, this indicates that nitrogen is the limiting factor for the growth of phytoplankton

including C. polycrikoides. Abundance C. polycrikoides that occurred on the station III (area of fish farming in floating netcages) during the study did not result in farmed fish mortality due to high abundance of only 1,829 cells / l.


(11)

(12)

(13)

(14)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT,

Tesis ini kupersembahkan dan untuk memenuhi harapan

orang

orang yang selalu dekat dihatiku, yang selalu

menyayangi dan mendoakanku;

Kepada Bapak dan Ibu Tersayang,

Istri dan Anak

Anakku Tercinta


(15)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Kulon Progo pada tanggal 8 Desemberr 1970. Merupakan putra keenam dari enam bersaudara. Bapak bernama Samiyo Hadi Widjojo dan Ibu bernama Saminah.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SDN 02 Nanggulan, pada tahun 1983. Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP) di SMPN Jatisarono Nanggulan pada tahun 1986. Sekolah Menengah Tingkat Atas di SMAN Kali Bawang Kulon Progo, Yogyakarta pada tahun 1989 dan Diploma III pada Akademi Usaha Perikanan (AUP) Pasar Minggu, Jakarta Selatan tahun 1992. Diploma 4 di Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta (STP) pada tahun 1995.

Sejak Tahun 1 Maret 1993 sampai sekarang penulis bekerja di Divisi Perbenihan pada Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

September 2012, penulis menempuh pendidikan S2 Program Magister Ilmu Lingkungan, Fakultas Pascasarjana (MULTIDISIPLIN) Universitas Lampung.


(16)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya tesis ini dapat diselesaikan.

Tesis dengan judul “ Kajian Kepadatan Cohlodinium polycrikoides Sebagai Akibat Eutrofikasi dan dampaknya Terhadap Budidaya Ikan di Teluk Hurun ” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Bapak Prof. Dr. Sudjarwo, M.S., selaku Direktur Pascasarjana Universitas Lampung;

3. Bapak Drs. Tugiyono, M.Si., Ph.D., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah begitu banyak memberikan bimbingan, pengarahan, masukan, kritik dan saran dalam proses penyelesaian Tesis ini;

4. Bapak Dr. Suci Antoro, M.Sc., selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, saran dan koreksi, juga senantiasa membimbing untuk hasil akhir yang baik;


(17)

5. Bapak Dr. Ir. Henrie Buchari, M.Si., yang berkenan menjadi dosen penguji. Terima kasih untuk masukan dan saran – saran pada seminar proposal, seminar hasil, dan Ujian Tesis dan selaku Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan;

6. Bapak Dr. Ir. Samsul Bakri, M.Si., selaku Pembimbing Akademik dan selaku Ketua Jurusan Magister Ilmu Lingkungan atas segala bantuan dan bimbingannya;

7. Bapak Prof. Dr. Sudjarwo, M.S., selaku Direktur Pascasarjana atas bantuan dan bimbingannya;

8. Orang Tua (Bapak dan Ibu) tercinta, istri dan anak – anakku tersayang, kakak

– kakakku, yang telah memberikan doa dan semangat; 9. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Magister Ilmu Lingkungan;

10.Bapak Dr. Slamet Soebijakto, M.Si., Ir. Badrudin, M.Si., Ir. Tatie Sri Paryanti, M.M. dan Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc. atas dukungan kepada penulis untuk melaksanakan ijin Belajar;

11.Bapak Silfester Basi Dhoe, S.P., selaku Koordinator Pembenihan dan Ibu Muawanah selaku Kepala Lab. Kualitas Air BBPBL Lampung, yang telah membantu dan memberikan fasilitas selama persiapan, pelaksanaan, dan purna penelitian;

12.Rekan – rekan kerja di Divisi Pembenihan dan Tim Produksi Kakap Merah ; Ruswanto, Pujianto dan yokis;


(18)

13.Rekan – rekan kerja di BBPBL Lampung ; tim kualitas air atas bantuan dan rekan – rekan yang tidak mungkin disebutkan satu persatu;

14.Teman – teman MIL 2012 ; Pak Salman, pak Dedi, Erwin, Almo, Junaedi, mba Alya dan mba ina, Terimaksih atas kebersamaan dan kebaikan selama dalam perkuliahan.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari sempurna, akan tetapi sedikit harapan semoga Tesis ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, Juni 2016 Penulis


(19)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Batasan penelitian……… ... 4

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian...4

1.4. Kerangka Pemikiran ...5

1.5. Hipotesis ...6

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Harmful Alga Bloom ... 7

2.2. Faktor Penyebab Blooming Fitoplankton Berbahaya ... 9

2.3. Cochlodinium polycrikoides ... 10

2.4. Senyawa N dan P ... 11

2.5. Status Trofik Perairan Laut ... 13

2.5.1. Oligotrofik ... 13

2.5.2. Mesotrofik ... 14

2.5.3. Eutrofik ... 14

2.6. Dampak Blooming Cochlodinium polycrikoides Terhadap Kegiatan Budidaya Perikanan Laut …...……….. ... 15


(20)

III. METODE PENELITIAN ... 18

3.1. Waktu dan Tempat ... 18

3.2. Bahan dan Alat ... 18

3.3. Metode penelitian ... 19

3.3.1. Deskripsi lokasi dan Penentuan Lokasi Penelitian ... .... 19

3.3.2. Teknik Pengumpulan data ... ... 22

3.4. Analisa Data ...26

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

4.1. Aktivitas Budidaya Perikanan di Lokasi Penelitian ... 27

4.2. Kelimpahan Fitoplankton Cohlodinium polycrikoides ... 28

4.3. Parameter Fisika dan Kimia Perairan... . 31

4.3.1. Parameter Fisika Perairan ... ... 31

4.3.2. Parameter Kimia Perairan ... ... 40

4.4. Hubungan Parameter Fisika Dengan Kelimpahan C. polycrikoides... 46

4.5. Hubungan Parameter Kimia Dengan Kelimpahan C. polycrikoides .... 49

4.6. Unsur N dan P ...56

4.7. Dampak Blooming C. polycrikoides Terhadap Perikanan Budidaya di KJA ... 57

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 63

5.1. Kesimpulan ... 63

5.2. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(21)

v

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kriteria Status Trofik Perairan Laut ...14

2. Metode Analisis dan Peralatan Pengukuran Parameter Lingkungan...17

3. Data Kegiatan Budidaya di teluk Hurun...37

4. Data Kisaran Parameter Kualitas Air di 4 Stasiun Penelitian...30

5. Kisaran kandungan unsur hara pada masing – masing stasiun selama penelitian ... ...39

6. Hasil Uji Pearson Parameter Kualitas Air Terhadap Kelimpahan C. polycrikoides di Semua Stasiun Penelitian... 46

7. Hasil Uji Pearson Kandungan Unsur hara Terhadap Kelimpahan C. polycrikoides di Semua Stasiun Penelitian...48

8. Data Hasil Pengukuran N dan P di Semua Stasiun ...55

9. Hubungan Kelimpahan C. polycricoides Terhadap Kematian Ikan di Karamba Jaring Apung (KJA ) Teluk Hurun...57


(22)

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Alur pikir penelitian... 6 2. Gambar sel C. polycrikoides. ... 9 3. Gambar dua rantai berbeda sel C. polycrikoides ... 9 4. Foto lokasi pengamatan/pengambilan sampel plankton dan air laut ... 20 5. Grafik kepadatan C. polycrikoides pada stasiun I, II, III dan IV ... 28 6. Grafik suhu air pada ke 4 stasiun penelitian ... 31 7. Nilai salinitas pada empat stasiun ... 32 8. Grafik kandungan oksigen terlarut di empat stasiun ... 34 9. Nilai pH pada semua stasiun ... 36 10. Diagram batang kedalaman perairan dari ke empat stasiun ... 37 11. Data kecerahan pada semua stasiun ... 38 12. Diagram batang kandungan unsur hara di semua stasiun pengamatan ... 40 13. Diagram batang nilai nitrit – nitrogen pada ke empat stasiun ... 41 14. Diagram batang nilai nitrat – nitrogen pada semua stasiun ... 42 15. Kandungan ammonia – nitrogen di semua stasiun pengamatan ... 43 16. Grafik kandungan phosphat di semua stasiun pengamatan ... 44 17. Suhu di empat stasiun terhadap peningkatan C. Polycrikoides ... 47 18. Nitrit di stasiun I terhadap peningkatan kelimpahan C. polycrikoides ... 51 19. Nitrat di stasiun I terhadap peningkatan kelimpahan C. Polycrikoides ... 52


(23)

iii

20. Amonia di stasiun I,II dan III terhadap kelimpahan C. Polycrikoides . ... 53 21. Phosphat di semua stasiun terhadap peningkatan C. Polycrikoides ... 54


(24)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Kelimpahan rata – rata Cochlodinium polycrikoides pada masing

– masing stasiun berdasarkan waktu penelitian ... 70 2. Data Kualitas Air (Parameter Fisika) di Tiap Stasiun Penelitian ... 71 3. Data Kualitas Air Parameter Kimia (Kandungan Unsur Hara) Setiap

Stasiun Penelitian ... 73 4. Data Kelimpahan plankton HAB’s dan Kualitas Air di Teluk Hurun

Tahun 2012 -2014 ... 75 5. Foto – foto Lokasi Penelitian ... 78 6. Foto Penelitian ... 81 7. Foto Peralatan yang digunakan mengukur kualitas air secara in–situ

Dan Foto Alat Pengukur Kualitas Air di Laboratorium ... 84 8. Foto Kematian Ikan Budidaya Akibat Blooming C. polykricoides ... 87 9. Hasil Uji Pearson Kualitas air di semua Stasiun Penelitian ... 90 10 . Hasil Uji Pearson Unsur Hara di semua Stasiun ... 94


(25)

1 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Harmful algal Blooms (HABs) adalah kejadian ketika populasi suatu jenis fitoplankton mengalami peningkatan tidak terkendali hingga menyebabkan masalah dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan (Mitra dan Flynn, 2006). Ledakan populasi fitoplankton merupakan peristiwa alami, namun pada fenomena HABs plankton yang blooming adalah jenis yang berbahaya dan merugikan karena dalam kondisi berlimpah plankton tersebut menghasilkan senyawa racun seperti PSP (Paralytic Shelfish Poisoning), ASP (Amnestic Shelfish Poisoning), DSP (Diarhea Shelfish Poisoning), NSP (Neurotic Shelfish Poisoning). Selain itu pada saat kondisi blooming perairan menjadi rentan terhadap penurunan kadar oksigen terlarut serta sel-sel plankton tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada insang ikan-ikan budidaya, sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan berdampak terhadap kematian secara massal.

Menurut Praseno dan Sugestiningsih (2000) blooming fitoplankton dapat terjadi akibat faktor alam dan faktor manusia (anthropogenic effect). Faktor alam seperti ; sirkulasi nutrien di perairan, upwelling dan downwelling, masuknya nutrien yang terbawa aliran sungai, peningkatan suhu (saat perubahan musim), dan curah hujan


(26)

2 (Sellner et al, 2003). Sedangkan faktor yang disebabkan manusia adalah buangan limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, kegiatan budidaya perikanan dan pertambakan serta lokasi wisata yang menyebabkan pengkayaan unsure hara N dan P di perairan. Peningkatan hara tersebut juga berdampak terhadap peningkatan sedimentasi di Teluk Hurun serta penurunan nilai kecerahan.

Menurut Praseno dan Sugestiningsih (2000) blooming fitoplankton dapat terjadi akibat faktor alam dan faktor manusia (anthropogenic effect). Faktor alam seperti ; sirkulasi nutrien di perairan, upwelling dan downwelling, masuknya nutrien yang terbawa aliran sungai, peningkatan suhu (saat perubahan musim), dan curah hujan (Sellner et al, 2003). Sedangkan faktor yang disebabkan manusia adalah buangan limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, kegiatan budidaya perikanan dan pertambakan serta lokasi wisata yang menyebabkan pengkayaan unsure hara N dan P di perairan. Peningkatan hara tersebut juga berdampak terhadap peningkatan sedimentasi di Teluk Hurun serta penurunan nilai kecerahan.

Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa peningkatan kadar nutrient seperti nitrat, urea, fosfat, silica, senyawa karbon terlarut, senyawa nitrogen terlarut berkaitan dengan peningkatan populasi spesies – spesies fitoplankton HABs (Glibert et al, 2001). Menurut Gobler et al ( 2012) blooming C. polykrikoides didefinisikan bila telah mencapai kepadatan sel > 330 sel/ml.

Menurut Rahman (2011) untuk mengetahui nutrien yang menjadi faktor pembatas digunakan dua pendekatanya itu: melalui nilai konsentrasi N dan P atau melalui perbandingan keduanya. Nitrogen dan fosfor bila dilihat dari konsentrasi masing-masing dapat menjadi faktor pembatas jika fosfor kurang dari 0,005 mg/l dan


(27)

nitrogen kurang dari 0,02 mg/l. Sulastri (2011) menyatakan bahwa pada umumnya bila nilai rasio total N dan total P < 12 mengindikasikan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton sedangkan rasio total N dan total P > 12 mengindikasikan bahwa fosfor merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton. Dengan demikian konsentrasi N dan P di suatu perairan akan berpengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton di perairan.

Fenomena terjadinya Red Tide atau Harmful Alga Blooms (HABs) yang disebabkan oleh fitoplankton C. polycrikoides terjadi di Teluk Lampung, khususnya Teluk Hurun. Adapun pola sebaran blooming C. polycrikoides sangat dipengaruhi oleh sirkulasi arus dan arah angin (Muawanah, dkk., 2013), hal ini diperkuat dengan pernyataan Anonim (2015) bahwa angin permukaan, arus dan gelombang laut bisa mempengaruhi sebaran fitoplankton. Blooming C. polycrikoides teridentifikasi pertama kali pada periode Oktober 2012 dan menyebabkan kematian massal berbagai jenis ikan budidaya seperti Bawal Bintang, Cobia, Napoleon, Kerapu Bebek dan Kerapu Macan. Kejadian tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar. Terlebih kerugian secara material dan immaterial (ikan tidak memijah dan menurunnya nafsu makan), karena kehilangan 75% induk-induk kerapu kualitas unggul sehingga siklus pemijahan terputus untuk beberapa waktu dan suplai benih ke masyarakat pembudidaya juga menurun tajam. Memasuki Januari – April 2013 dan Juni - Juli 2013 serta akhir bulan Maret 2014 sampai minggu ketiga bulan April 2014 C. polycrikoides kembali blooming di Teluk Lampung dan juga menyebabkan kematian massal ikan-ikan Cobia dan Bawal Bintang di Keramba Jaring Apung (KJA) BBPBL.


(28)

4 Berdasarkan fakta tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis faktor – faktor tersebut dengan kemunculan fitoplankton yang bersifat harmfull seperti C. polycrikoides. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyebab munculnya fitoplankton C. polycrikoides di perairan

Teluk Hurun dan sekitarnya serta dapat digunakan sebagai early warning system ( sistem peringatan dini ) bagi sistem pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan sehingga para pembudidaya dapat mengambil tindakan/solusi guna mengurangi kerugian akibat kematian ikan-ikan yang dibudidayakannya.

1.2. Batasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan parameter kimia dan fisika terhadap kepadatan populasi C. polycrikoides di perairan Teluk Hurun. Penelitian dibatasi pada kelimpahan sel C. polycrikoides dan parameter kimia dan fisika di perairan Teluk Hurun.

Parameter yang diamati meliputi ; kelimpahan/densitas C. polycrikoides dan parameter fisika - kimia kualitas air. Parameter fisika kualitas air meliputi ; suhu, kedalaman dan kecerahan. Parameter kimia kualitas air meliputi ; konsentrasi DIN (Dissolved Inorganic Nitrogen), Ortho-fosfat, Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO), salinitas dan derajat keasaman( pH ).

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui kelimpahan sel C. polycrikoides di perairan Teluk Hurun.

2. Menganalisis hubungan parameter-parameter fisika dan kimia terhadap potensi kelimpahan C. polycrikoides.


(29)

5 3. Menganalisis hubungan konsentrasi unsur N dan P di perairan Teluk Hurun

untuk menduga pengaruhnya terhadap potensi kelimpahan C polycrikoides. 4. Mengetahui Dampak akibat blooming C polycrikoides terhadap kegiatan

budidaya ikan

Manfaat penelitian ini adalah :

Diperoleh informasi mengenai hubungan parameter-parameter fisika dan kimia terhadap potensi kemunculan blooming C. polycrikoides di perairan Teluk Hurun sehingga dapat digunakan sebagai Early Warning System.

1.4. Kerangka Pemikiran

C. polycrikoides merupakan salah satu jenis fitoplankton laut beracun (toxigenic phytoplankton) yang bila jumlahnya berlebih di sebuah perairan berpotensi membunuh berbagai jenis biota laut secara massal. Blooming C. polycrikoides menyebabkan penurunan jumlah oksigen terlarut yang ada diperairan dan sel - sel C. polycrikoides menutupi insang ikan yang mengakibatkan ikan sulit bernapas dan menyebabkan kematian massal.

Media tumbuh C. polycrikoides adalah makro nutrient yang berupa N dan P yang terkandung dalam suatu perairan. Blooming C. polycrikoides berdampak sangat merugikan sehingga perlu diketahui faktor-faktor penyebab peningkatan kepadatan C. polycrikoides yaitu konsentrasi N dan P serta kualitas air. Penelitian ini untuk mengidentifikasi indikasi munculnya C. polycrikoides di perairan Teluk Hurun.


(30)

6 Kerangka Pikir

Peningkatan Kepadatan (Blooming) Chlocodinium polycrikoides D A M P A K Penggunaan Lahan ;

Pengkayaan unsur hara N dan P

KUALITAS AIR ; fisika, kimia Faktor lingkungan ; arus, curah hujan Kematian massal ikan budidaya -Bersifat toxic - Penurunan kadar oksigen terlarut air -

-Sel – sel C. polycrikoides menutupi insang ikan ; ikan sulit bernafas

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

1.5. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah :

a. Diduga dengan adanya peningkatan konsentrasi N dan P akan meningkatkan kepadatan populasi C. polycrikoides.

H0 : Tidak ada hubungan antara peningkatan konsentrasi N dan P dengan peningkatan kepadatan populasi C. polycrikoides

Ha : Ada hubungan antara peningkatan konsentrasi N dan P dengan peningkatan kepadatan populasi C. Polycrikoides

b. Diduga beberapa parameter fisika akan meningkatkan kepadatan populasi C. polycrikoides.

H0 : Tidak ada hubungan antara parameter fisika dengan peningkatan kepadatan populasi C. polycrikoides

Ha : Ada hubungan antara parameter fisika dengan peningkatan kepadatan populasi C. polycrikoides


(31)

7 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Harmful algal Blooms

Red tide adalah suatu keadaan di mana air, terutama air laut mengalami perubahan warna menjadi merah, merah kecoklatan, merah oranye, ungu, kuning, hijau dan putih akibat dari ledakan populasi (blooming) fitoplankton (Sellner at al, 2003). Istilah red tide atau pasang merah saat ini lebih populer dikenal dengan istilah Harmfull Alga Blooms (HAB’s), karena tidak semua alga yang blooming, menghasilkan toksin dan menyebabkan kematian biota air menimbulkan perubahan warna air secara mencolok menjadi merah (Mujib dkk, 2012). Menurut Eaton (1995) dan Nasir dkk (2012), saat ini jumlah fitopalnkton yang dapat menyebabkan HAB’s ada sekitar 50 jenis diantaranya adalah Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, Gymnodiniumbreve, Cochlodinium sp., Alexandrium catenella dan Noctiluca Scintillans, dan hampir semuanya dari kelompok dinoflagelata (Pyrrophyta) yang dapat menyebabkan kematian massal biota laut, perubahan struktur komunitas ekosistem perairan, bahkan keracunan/kematian pada manusia (Eaton, 1995 ).

Menurut Maso et al (2006) dampak pemanasan global dan anomali cuaca diduga

menjadi salah satu pemicu mayor terjadinya peningkatan HAB’s. Curah hujan


(32)

8 memicu eutrofikasi. Perubahan cuaca lokal secara spesifik menimbulkan perubahan arah angin yang berdampak terhadap pola arus permukaan perairan,

sehingga mempengaruhi pola sebaran HAB’s. Intensitas cahaya yang memadai

serta suhu perairan yang hangat bisa memicu plankton di perairan berkembang pesat sehingga seringkali terjadi kompetisi antar spesies dan terjadi dominasi jenis tertentu.

Peristiwa kematian massal ikan beserta kasus keracunan dan kematian manusia akibat HAB’s di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Flores pada tahun 1983. Selain itu juga pernah terjadi di Ujung Pandang pada bulan Agustus 1987 dan di Kalimantan Timur pada bulan Januari 1988. Di Jakarta pertama kali dilaporkan terjadi peristiwa HAB’s pada tanggal 31 Juli 1986. Kejadian ini tampak pada beberapa ikan yang mati mengapung di atas air laut yang pada mulanya masyarakat beranggapan hal ini disebabkan oleh pembuangan bahan kimia dan limbah ke laut. Kemungkinan perairan di Teluk Jakarta sudah mengalami eutrofikasi yang menjadi faktot utama terjadinya HAB’s (Sutomo, 1993).

Jumlah fitoplankton berlebih di sebuah perairan berpotensi membunuh berbagai jenis biota laut secara massal karena keberadaan fitoplankton mengurangi jumlah oksigen terlarut. Kemungkinan lain adalah insang- insang ikan penuh dengan fitoplankton sehingga lendir pembersihnya menggumpal karena fitoplanktonnya berlebih dan ikan pun sulit bernapas (Glibert et al, 2001 ).


(33)

9 2.2. Faktor Penyebab Blooming Fitoplankton Berbahaya

Faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya blooming ada empat faktor, yaitu pengkayaan unsur hara di laut atau eutrofikasi, perubahan hidro-meteorologi dalam skala besar, adanya gejala upwelling yaitu pengangkatan massa air yang kaya akan unsur hara ke permukaan, dan akibat hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar. Keempat faktor tersebut merupakan faktor penyebab terjadinya HAB’s spesies fitoplankton Gymnodiniales berwarna merah. Spesies ini akan hilang dengan sendirinya, bila ekosistem dalam air kembali seimbang, yaitu kembali pada kondisi normalnya. HAB’s biasanya terjadi pada perairan pantai dan muara.

Blooming fitoplankton dapat terjadi akibat faktor alam seperti ; sirkulasi nutrien di perairan, upwelling dan downwelling, masuknya nutrien yang terbawa aliran sungai, peningkatan suhu (saat perubahan musim), dan curah hujan (Sellner et al, 2003). Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa peningkatan kadar nutrient seperti nitrat, urea, fosfat, silica, senyawa karbon terlarut, senyawa nitrogen terlarut berkaitan dengan peningkatan populasi spesies – spesies fitoplankton HAB’s (Glibert et al, 2001). Blooming C. polykrikoides terjadi karena laju pemanfaatan phospor dan nutrien N. Menurut Gobler et al (2012) blooming C. polykrikoides didefinisikan bila telah mencapai kepadatan sel >330 sel/ml.

Peranan manusia (anthropogenic effect) dianggap sebagai salah satu faktor kunci yang menyebabkan munculnya fenomena HAB’s (Prayitno, 2001). Ledakan populasi plankton ini diduga disebabkan karena pengkayaan unsur hara diperairan sehingga menyebabkan eutrofikasi dan memicu terjadi blooming C. polycrikoides.


(34)

10 2.3. C. polycrikoides

Klasifikasi Cochlodinium sp. menurut Steidinger dan Tangen (1997) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Protoctista Phylum : Dinoflagellata Subphylum : Pyrrhophyta

Class : Dinophyceae Order : Gymnodiniales Family : Gymnodiniaceae Genus : Cochlodinium

Species : Cochlodinium polycrikoides, Margalef 1961

Sumber ; Kim (2010)

Gambar 2. C. polykrikoides C 2 – 4 sel

Sumber ; Garate et al (2002)

Gambar 3. Cochlodinium sp. yang ditemukan di Teluk Mexico pada musim dingin


(35)

11 Deskripsi ; lapisan sel dengan cingulum berputar, merupakan sel tunggal atau berbentuk cincin dengan atau tanpa kloroplas. Umumnya dapat menjadi kista. Sel berukuran lebar 20 – 40 µm dengan panjang 60 – 80 µm. Daerah penyebaran kosmopolitan dan perairan hangat dan air beriklim sedang dan tenang.

Glibert (2001) melaporkan bahwa pada bulan Agustus dan September 2007, di Chesapeake Bay Amerika dan anak-anak sungainya mengalami blooming C. polykrikoides dengan kepadatan> 104 sel per milliliter yang berlangsung hingga menembus ke Samudra Atlantik. Terjadinya blooming bertepatan dengan periode curah hujan yang intens dan limpasan stormwater setelah periode kekeringan musim panas berlarut-larut. Bukti genetik menunjukkan spesies ini berbeda dari banyak strain Asia, tetapi mirip dengan strain Amerika Utara lainnya.

Populasi didominasi oleh C. polykrikoides mengambil berbagai senyawa nitrogen untuk mendukung pertumbuhan dan mampu memobilisasi tambahan sumber nutrisi organik melalui hidrolisis peptida. Bioassay menetapkan bahwa C. polykrikoides berpengaruh pada ikan dan kerang, menyebabkan 100% kematian ikan (Cyprinodon variegates) dalam waktu kurang dari 24 jam dan kematian 20% tiram (~ 21 mm, Crassostrea virginica) dalam waktu 72 jam (Mulholland et al., 2009).

2.4. Senyawa N dan P

Menurut Boyd (1988) Nitrogen di perairan terdiri dari dua golongan yang berbeda bentuknya yaitu nitrogen organik dan nitrogen anorganik, sedangkan menurut Nasir (2012) nitrogen organik di perairan adalah nitrogen yang terikat dengan senyawa organik dalam bentuk protein, asam amino, dan urea. Sedangkan nitrogen anorganik adalah nitrogen yang tidak dapat dimanfaatkan secara


(36)

12 langsung oleh tumbuhan akuatik dan harus mengalami fiksasi terlebih dahulu menjadi amonia (NH3), amonium ( NH4+), nitrit (NO2) dan nitrat (NO3).

Nitrogen ammonia, yaitu nitrogen berupa garam-garam ammonia, ammonium serta ammonia bebas ((NH4)2CO3). Nitrogen nitrit, tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Alaert dan Santika (1987) menyatakan bahwa, nitrogen nitrit merupakan bentuk nitrogen yang tidak stabil dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara ammonia dan nitrat. Nitrogen nitrat dapat dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan

(Effendi, 2003).

Nitrat adalah bentuk senyawa stabil yang merupakan zat hara penting bagi organisme autotrof dan diketahui sebagai faktor pembatas pertumbuhan (Eaton et al.,1995). Nitrat pada konsentrasi yang tinggi dapat mengakibatkan blooming alga dan proses eutrofikasi (Rahman, 2011).

Fosfor sangat penting untuk kehidupan organisme perairan karena berfungsi dalam penyimpanan dan transfer energi dalam sel dan berfungsi dalam sistem genetik (Cole, 1983). Fosfor di perairan dalam bentuk senyawa fosfat, yang terdiri atas fosfat terlarut dan fosfat partikulat. Fosfat terlarut terbagi atas fosfat organik dan fosfat anorganik yang terdiri dari ortofosfat dan polifosfat (Anderson et al, 2002). Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh fitoplankton, sedangkan polifosfat sebelum dimanfaatkan sebagai sumber fosfor harus terlebih dahulu dihidrolis membentuk ortofosfat. Ortofosfat adalah senyawa-senyawa seperti monofosfat (HPO42-) dan dihidrogen fosfat

(H2PO4-), sedangkan polifosfat merupakan senyawa-senyawa polimer seperti


(37)

13 dan Santika, 1987). Kadar fosfor di perairan alami biasanya relatif kecil dengan kadar yang lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen (Effendi, 2003). Perbandingan nitrogen dan fosfor (N/P) dalam perairan dapat digunakan sebagai suatu cara untuk menilai jenis atau macam populasi fitoplankton yang mungkin ada atau dominan di suatu perairan (Haarcorryti, 2008). Menurut Rahman (2011) untuk mengetahui nutrien yang menjadi faktor pembatas digunakan dua pendekatan yaitu: melalui nilai konsentrasi masing-masing nutrien (dalam hal ini N dan P) atau melalui perbandingan keduanya. Nitrogen dan fosfor bila dilihat dari konsentrasi masing-masing dapat menjadi faktor pembatas jika fosfor kurang dari 0,005 mg/l dan nitrogen kurang dari 0,02 mg/l. Nitrogen dan fosfor apabila berada dalam konsentrasi yang melebihi nilai batas tersebut maka faktor pembatas ditentukan dengan perbandingan keduanya. Sulastri (2011) menyatakan bahwa pada umumnya bila nilai rasio total N dan total P < 12 mengindikasikan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton sedangkan rasio total N dan total P > 12 mengindikasikan bahwa fosfor merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton. Dengan demikian konsentrasi N dan P di suatu perairan akan berpengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton di perairan.

2.5 Status Trofik Perairan

Nastiti (2013) menerangkan bahwa tingkat kesuburan suatu perairan terdiri dari: oligotrofik, mesotrofik dan eutrofik

2.5.1. Oligotrofik

Oligotropik merupakan perairan yang dalam dan kekurangan makanan atau nutrient, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciri-ciri perairan


(38)

14 oligotropik ini adalah : Airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dari atas sampai dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun. Odum, (1993). Perairan oligotrofi lama kelamaan akan meningkat aktifitas biologisnya dan menjadi mesotrofik.

2.5.2. Mesotrofik

Merupakan perairan yang airnya lebih keruh, produksi bahan organik bertambah, kesuburan danau lebih tinggi namun belum mencapai kesuburan optimal. Jika kesuburan perairan telah mencapai titik optimal, perairan tersebut disebut perairan eutrofik.

2.5.3. Eutrofik

Eutropik merupakan perairan yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan atau nutrien, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-ciri perairan eutropik ini adalah : Airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, Oksigen di daerah profundal, yaitu daerah dalam (afotik atau tidak tertembus cahaya matahari).

Menurut Odum (1993) perairan oligotrofik dapat berkembang menjadi eutropik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya perairan dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di perairan tersebut. Selain air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan, eutrofikasi juga merangsang


(39)

15 pertumbuhan tanaman air lainnya. Eurofikasi disebabkan peningkatan unsur hara terutama parameter Nitrat dan Fosfat pada perairan danau eutofikasi diklasifikasikan menjadi empat katagori status trofik yang tertera pada tabel 1. Tabel 1. Kriteria Status Trofik Perairan Laut

Status trofik

Kadar Rata-rata

Total-N (µg/l)

Kadar rata-rata Total-P (µg/l) Kadar rata-rata Khlorofil-a (µg/l) Kecerahan rata-rata (m)

Oligatrof ≤650 <10 <2,0 ≥10

Mesatrof ≤750 <30 <5,0 ≥4

Eutrof ≤1900 <100 <15 ≥2,5

Hipereutrof >1900 ≥100 ≥200 <2,5

Sumber: Cole, 1983

Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesuburan perairan. Perairan oligotrofik memiliki kadar nitrat antara 0-1 mg/l, perairan mesotrofik memiliki kadar nitrat antara 1-5 mg/l dan perairan eutrofik memiliki kadar nitrat anatara 5 – 50 mg/l (Effendi, 2003). Sedangkan dari rasio N/P di perairan oligotrofik 0-2, mesotrofik 2-4 dan di eutrofik 4-6 (Nastiti dkk, 2013).

2.6. Dampak Blooming C. polycrikoides Terhadap Ikan Budidaya

Di Perairan seluruh dunia terdapat lebih kurang 5000 spesies fitoplankton laut, dari jumlah tersebut sekitar 2% diketahui berbahaya atau beracun (Steidinger and Tangen, 1997). Di Indonesia ada 31 jenis fitoplankton yang diidentifikasi sebagai HAB’s dan 7 diantaranya dapat menyebabkan Red Tide (Praseno dan Sugestiningsih, 2000). Namun tidak menutup kemungkinan jumlahnya bertambah dari waktu ke waktu, migrasi strain baru plankton dapat terjadi melalui ballast kapal/shipping. Sebagai wilayah yang open akses dengan Samudra Hindia dan memiliki pelabuhan cargo internasional.

Akumulasi bahan-bahan organik/zat hara di suatu Perairan sering menyebabkan terjadinya eutrofikasi dan memicu terjadinya Blooming alga (Masó and Garcés,


(40)

16 2006). Blooming alga yang menyebabkan perubahan warna air laut menjadi coklat kemerahan diakibatkan oleh jenis dinoflagellata Cochlodinium, yang jika didiamkan beberapa saat ± 5 menit akan membentuk gumpalan gel coklat dan sangat licin. Sel-sel Cochlodinium terhubung dalam rantai (2 – 8 sel atau lebih), ujung-ujung sel mengerucut dan bulat di puncak. C. Polykrikoides mengandung klorofil a, c dan fucoxanthin (memberi warna kemerahan) serta lapisan selulosa. Lapisan selulose memberikan sifat licin dan menyebabkan kerusakan atau gangguan jaringan epitel insang pada ikan sehingga mati lemas (Kim et al., 2002). C. polykrikoides mengandung neurotoksin, hemolytic, hemagglutinative dan PSP/saxitoxin, dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau keracunan melalui konsumsi makanan laut terutama kekerangan yang terkontaminasi oleh alga tersebut (Yu et al, 1998). Beberapa kali kejadian HAB’s di Teluk Lampung telah menyebabkan kematian massal ikan-ikan budidaya di KJA (Karamba Jaring Apung), sehingga para pembudidaya mengalami kerugian (Muawanah dkk, 2013). Menurut Muawanah dkk (2015) Spesies C. polycrikoides merupakan termasuk jenis alga berbahaya (HAB’s), pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian ikan karena banyak mengkonsumsi oksigen dalam air laut (tanaman umumnya menghasilkan oksigen berlebih di siang hari, tapi seperti binatang, mereka juga selalu mengkonsumsi oksigen). Menurut Gobler at al (2008) dari hasil penelitian terbaru disiimpulkan bahwa C. polykrikoides menghasilkan toksisitas kimia. Glibert (2001) menyatakan bahwa Kerang mengalami kematian 100% selama 3 hari dan dari hasil studi oleh Kim et.al (2009 ) senyawa yang terkandung pada C. polycrikoides yang menjadi penyebab kematian dan menyebabkan neurotoksik, efek hemolitik, dan hemaglutinative. Konsentrasi C.


(41)

17 polycrikoides yang berlimpah juga dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan perkembangan dari beberapa spesies zooplankton dan larva kekerangan seperti tiram.


(42)

18 III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu danTempat

Lokasi penelitian dilakukan di Perairan Teluk Hurun di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, Desa Hanura Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari sampai dengan April 2015.

3.2.Bahan dan Alat

Pada pengukuran parameter lingkungan metoda analisis yang digunakan berdasarkan APHA (2005), serta peralatan yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2.Metode analisa dan peralatan pengukuran parameter lingkungan

No. Parameter Alat/Metode pengukuran Metode Uj SNI Metode (air laut)

FISIKA

1. Suhu (oC) Digital Thermometer In situ

2. Kecerahan Sechi disk In situ

3. Kedalaman Hondex PS-7 Portable Depth

Sounder

In situ

4. Kec. Arus Current meter In situ

KIMIA

1. pH pH meter In situ

2. Salinitas Hand Refraktometer In situ

3. O2 terlarut (mg/l) DO meter In situ

4. PO4-P (mg/l) Spectrometry Laboratorium SNI 06-6989.31-2005

5. NO2-N (mg/l) Spectrometry Laboratorium SNI 19-6964.1–2003

6. NO3-N (mg/l) Spectrometry Laboratorium SNI 19-6964.7-2003

7. NH3-N (mg/l) Spectrometry Laboratorium SNI 19.6964.3-2003

BIOLOGI

1. Pengambilan sampel Plankton net/ penyaring aktif Lapangan

2. Identifikasi dan

penghitungan

Mikroskop dan Sedgwick

rafter counting cell


(43)

19 Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ; sampel air dari perairanTeluk Hurun, sampel fitoplankton, lugol, aquabidest, alkohol 70 %, bahan – bahan kimia/reagensia untuk pengujian parameter kimia kualitas air.

3.3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian survey post facto. Pengamatan obyek penelitian meliputi komponen spasial (keruangan) dan temporal (waktu).

3.3.1. Deskripsi Lokasi dan Penentuan Stasiun Penelitian 3.3.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan didalam dan diluar perairan Teluk Hurun yang terbagi menjadi 4 stasiun pengamatan. Penentuan lokasi pengamatan berdasarkan pada stasiun 1. Merupakan tempat dimana HAB’s jenis C. polycrikoides selalu ada. Sedangkan stasiun II merupakan tempat keluar masuknya air ke Teluk Hurun atau lintasan flushing C. polycrikoides dan daerah pengambilan air (inlet) untuk pembenihan ikan (BBPBL Lampung). Stasiun III merupakan kawasan budidaya ikan di KJA dan stasiun IV merupakan kawasan diluar Teluk Hurun (perairan bebas). Teluk Hurun termasuk wilayah desa Hanura dan Hurun , Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.

Perairan Teluk Hurun merupakan bagian kecil dari Teluk Lampung yang terletak dibagian Timur dan utara desa Hurun dan Hanura. Secara administrasi Teluk Hurun masuk dalam wilayah Desa Hanura (Kurniastuty et al. 1999). Teluk Hurun terletak pada posisi 105 °44’15’’ - 105°45’15’’ Bujur Timur dan 5°16’ 00’’ - 5°17’ 15’’ Lintang Selatan. Luas perairan Teluk Hurun lebih kurang 1,5 km2,


(44)

20 dengan panjang perairan 1,5 km dan lebar 1 km, terdapat beberapa aktifitas budidaya perikanan berupa tambak udang intensif, Hatchery ikan laut BBPBL Lampung, Budidaya ikan dalam KJA milik swasta dan BBPBL Lampung serta terdapat pembenihan dan pembesaran tiram mutiara. Dasar perairan Teluk Hurun di bagian Barat Daya dan bagian selatan umumnya landai dengan kedalaman kurang dari 5 m. Dasar perairan dibagian Tenggara (dibagian mulut teluk ) lebih dalam yaitu antara 10 -15 m serta di dalam teluk terdapat muara sungai Cilimus. Di Teluk Hurun juga terdapat ekosistem pantai utama yaitu ekosistem, mangrove, terumbu karang, padang lamun (sea grass) dan muara sungai, selain juga merupakan pembuangan kegiatan tambak, pembuangan kegiatan pembenihan/pembesaran ikan laut BBPBL dan swasta, pembuangan aktivitas rumah tangga dan pariwisata.

3.3.1.2. Penentuan Stasiun Penelitian

Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling dimana pengambilan tersebut berdasarkan alasan dan kriteria yang jelas. Lokasi pengambilan contoh ditentukan berdasarkan perbedaan kegiatan budidaya yang terdapat pada masing – masing lokasi, yang diduga memberikan perbedaan konsentrasi nutrient N dan P stasiun pada lokasi penelitian. Perbedaan konsentrasi tersebut akan menentukan status trofik, yang diduga menjadi penyebab kelimpahan C. polycrikoides. karena lokasi penelitian telah terindikasi munculnya C. polycrikoides penyebab Harmful Algal Blooms (Muawanah dkk, 2013).

Empat stasiun ditentukan berdasarkan keterwakilan lokasi terhadap keberadaan C. polycrikoides di Perairan Teluk Hurun


(45)

21 Empat lokasi yang di tetapkan untuk pengambilan sampel antara lain :

A. Stasiun I terletak di daerah ujung pantai mewakili muara sungai dan out let tambak

b. Stasiun II terletak di daerah tengah teluk yang merupakan lintasan flushing blooming C. polycrikoides

c. Stasiun III terletak di area budidaya/KJA.

d. Stasiun IV di daerah perairan di luar Teluk Hurun (Perairan bebas)

(Sumber : Google Earth versi 6 ,http:/dl.google.com, diunduk 15 Januari 2015)


(46)

22 3.3.2. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah pengamatan langsung ke lokasi penelitian ( metode survey ). Data yang dikumpulkan berupa data primer yang diperoleh langsung dilapangan yang meliputi : data kepadatan sel C. polycrikoides dan data kualitas air. Sampel Pengukuran parameter kimia seperti nitrat dan phosphat di analisa di laboratorium BBPBL Lampung. Selain itu juga menggunakan data sekunder kualitas perairan (kualitas air) dari laboratorium kualitas air BBPBL Lampung.

3.3.2.1. Pengumpulan Data Primer a. Pengambilan sampel C. polycrikoides

Pengambilan sampel C. polycrikoides dilakukan secara aktif dengan menggunakan alat kantong plankton mesh 20 µm, dengan penarikan secara vertical dari permukaan sampai kedalaman 4 meter pada jam 08.00 – 10.00 WIB. Frekuensi pengambilan sampel dilakukan tiap 1 minggu sekali secara berurutan selama 3 bulan (dua belas kali sampling) pada stasiun I, II, III dan IV.

Pengambilan sampel dengan pada kedalaman air menggunakan botol kemmerer dan untuk penyaringan sampel plankton menggunakan planktonnet 20 µm. Sampel kemudian disimpan dalam botol dan diawetkan dengan lugol 3 %. Sampel plankton yang sudah diawetkan kemudian dihitung kelimpahannya dengan menggunakan mikroskop binokuler (pembesaran 10 x 10) pada paparan sedgwick mengacu pada standar metode APHA 2005. Penghitungan sampel dilakukan di laboratorium pakan alami BBPBL dengan menggunakan alat Sedgwick Rafter Counting Cell (SRCC).


(47)

23 b. Penghitungan Kepadatansel C. polycrikoides

Penghitungan C. polycrikoides per liter dilakukan secara sampling lapang pandang pada Sedgwick rafter counting cell dengan menggunakan formulasi APHA (2005) sebagai berikut :

Keterangan :

N = Jumlah plankton per liter p = Jumlah lapang pandang yang diamati T = Luas gelas penutup (mm2) V = Volume sampel plankton tersaring (ml) L = Luas lapang pandang (mm2) v = Vol. plankton dibawah gelas penutup (ml) P = jumlah plankton yang tercacah w = Vol. sampel plankton yang disaring (liter)

c. Pengambilan Dan Pengukuran Parameter Kualitas Air

Sebagai data pendukung maka dilakukan pengukuran beberapa parameter fisika – kimia secara insitu sebagai berikut ;

1. Suhu

Pengukuran suhu perairan dilakukan dengan menggunakan alat DO meter, dimana pada probenya juga terdapar sensor suhu.

2. Kecerahan

Pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan alat secchidish, dengan cara dimasukkan kedalam air. Berdasarkan APHA (2005) ; ukuran kecerahan merupakan jarak antara permukaan air kepiringan saat pertama kali piringan tidak terlihat. Piringan dimasukkan ke dalam air kemudian diangkat sampai terlihat kembali, di rata – rata yang dinyatakan dalam sentimeter (cm).


(48)

24 3. Salinitas

Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan alat Hand Refractometer. Refraktometer dikalibrasi dengan akuades sampai skala 0 ppt. Pengukuran salinitas dilakukan dengan cara meneteskan sampel air media pemeliharaan pada prisma refraktometer dengan menggunakan pipet tetes. Nilai yang tertera pada skala refraktometer menyatakan salinitas air laut (Guide Manual)

4. Oksigen Terlarut

Pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan menggunakan DO meter, yaitu dengan cara memasukkan probe DO meter ke dalam kolom air, kemudian ditunggu beberapa saat sampai angka digital yang muncul stabil (Guide Manual) .

5. Derajat Keasaman (pH)

Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Mula – mula ujung elektroda dibilas dengan akuades, kemudian dimasukkan dalam larutan penyangga (buffer 7 dan 9) untuk kalibrasi. Kontrol pada pH meter diatur sampai terbaca pH larutan penyangga. Ujung elektroda dibilas kembali dengan akuades, lalu dimasukkan ke dalam air sampel sampai beberapa saat sampai skala menunjukkan angka yang konstan. Nilai yang terbaca menunjukkan nilai pH (Guide Manual)

6. DIN (Amoniak, Nitrat, Nitrit) dan Ortho-Phospat

Pengukuran parameter kimia air meliputi kadar amoniak (SNI 19.6964.3-2003), Nitrit (SNI 19-6964.1–2003), Nitrat dan ortho-fosfat dilakukan menggunakan spektrofotometer. Sampel air yang akan diukur di laboratorium dibawa dengan menggunakan cool box yang ditambahkan ice jelly atau ditambahkan asam sulfat


(49)

25 sampai mencapai pH 2. Pengukuran dilakukan di Laboratorium Kualitas Air Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung.

6.1. Penentuan Kadar Nitrat (NO3-N)

Penentuan kadar nitrat dilakukan dengan metode spektrophotometer (SNI 19-6964.7-2003) pada kisaran kadar 0,1 mg/l - 2,0 mg/l dengan menggunakan metode brusin dengan alat spektrofotomete r pada panjang gelombang 410 nm,

6. 2. Penentuan Kadar Phosphat

Penentuan kadar phosfat dilakukan dengan metode spektrofotometer secara asam askorbat (SNI 06-6989.31-2005). Pada kisaran kadar 0,0 mg P/L sampai dengan 1,0 mg P/L. Prinsip dari metode ini didasarkan pada pembentukan senyawa kompleks fosfomolibdat yang berwarna biru. Kompleks tersebut selanjutnya direduksi dengan asam askorbat membentuk warna biru kompleks Molybdenum. Intensitas warna yang dihasilkan sebanding dengan konsentrasi fosfor. Warna biru yang timbul diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 700 nm -880 nm.

3.3.2.2. Pengumpulan Data Sekunder

Sebagai pendukung data primer diperlukan data sekunder berupa data series kualitas air selama 2 tahun dari tahun 2013 sampai 2014 dan data dan data iklim selama penelitian. Data series kualitas air diperoleh dari laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan BBPBL Lampung.


(50)

26 3.4. Analisis Data

- Hubungan antara parameter kualitas air dan kandungan unsur hara Dengan kepadatan C. polycrikoides dianalisis dengan Coef. Pearson corelation.

- Data kualitas air yang diperoleh dibandingkan dengan data standar baku mutu kualitas air untuk biota laut (KepMen LH No. 51 Tahun 2004) dengan analisis secara deskriptif.


(51)

63 V. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan :

1. Kelimpahan C polycrikoides tertinggi selama penelitian terjadi di stasiun II yaitu 1.480.264 sel/l, diikuti stasiun I yaitu 72.281 sel/l, stasiun III yaitu 2.963 dan stasiun IV yaitu 1.829 sel/l. Kepadatan tertinggi pada masing – masing stasiun penelitian terjadi pada bulan Maret.

2. Terdapat hubungan positif yang signifikan – sangat signifikan antara kepadatan C. polycrikoides dengan unsur N dan P ; phosphat berkorelasi positif di semua stasiun penelitian, ammonia pada stasiun I, II dan III ; nitrat pada stasiun I, sedangkan nitrit terdapat hubungan negatif yang signifikan pada stasiun I. Parameter suhu berkorelasi positif pada semua stasiun penelitian sedangkan salinitas pada stasiun IV .

3. Total nitrogen (T-N) disemua stasiun pengamatan berkisar 0,641 – 1,477 dan total fosfor (T-P) 0,621 – 0,814. Rasio N dan P berkisar antara 0,992 – 2,187, ini menunjukkan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan C. polycrikoides.

4. Kelimpahan C. polycrikoides yang terjadi di stasiun III (area budidaya di KJA) selama penelitian tidak menimbulkan dampak kematian ikan budidaya karena kelimpahan tertingginya hanya sebesar 1.829 sel/l


(52)

64

1. Perlu penelitian lebih lanjut yang menekankan pada penyebaran siste C. polycrikoides karena faktor arah angin dan arus karena faktor karakteristik biologi C. polycrikoides bisa membentuk fase dorman (siste/dinosiste) yang apabila pecah menimbulkan dampak berbahaya dan sulit diprediksi kemunculannya.

2. Perlu pemantauan atau monitoring yang rutin dan berkelanjutan terutama di stasiun I dimana C. polycrikoides sering ditemukan meskipun dalam jumlah sedikit.

3. Perlu dilakukan treatment air buang/limbah pada kegiatan perumahan, pertanian dan perikanan.


(53)

DAFTAR PUSTAKA

Aldrian, E. 2010. Pengenalan Dampak Perubahan iklim. Diklat Teknis Pengolahan dan Analisa Kualitas Udara. BMKG. Cisarua.

Alonso-Rodríguez, R., F. Páez-Osuna & R. Cortés-Altamirano. 2000. Trophic Conditions and Stoichiometric Nutrient Balance in Subtropical Waters Influenced by Municipal Sewage Effluents in Mazatlán Bay (SE Gulf of California). Mar. Poll. Bull. 40: 331-339.

Anderson, D.M., Glibert, P.M., Burkhoder, J.M. 2002. Harmful algal Bloom and Eutrofication : Nutrient Sources, Composition and Concequences, Estuaries 25 : 562 – 584.

Anonim. 2015. Gelombang. Angin Permukaaan dan Gelombang Laut. Buletin Iklim Maritim. Vol. 2 – Oktober 2015. Bab III. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Jakarta

APHA (American Public Heatlth Administrations). 2005. Standard Methods for The Examination Of water And Wastewater. 21th Edition. American Public Health Association/American Water Work Association/water Environmen Federation Washington. DC. USA: 1100 pp.

BBPBL. 2012. Laporan Perkembangan Kejadian red Tide di Teluk Lampung Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

BBPBL. 2013. Laporan Tahunan BBPBL Lampung tahun 2012. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

BBPBL. 2014. Laporan Tahunan BBPBL Lampung Tahun 2013. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Boyd, C. E. 1988. Water Quality InWarmwater Fish Pond. 4th Printing.Auburn University Agricultural Experiment Station, Alabama, USA.359 p.


(54)

Bustillos-Guzmán, J., H. Claustre & J.C. Marty. 1995. Specific phytoplankton signatures and their relationship to hydrographic conditions in the coastal northwestern Mediterranean Sea. Mar. Ecol. Prog. Ser. 124: 247-258. Candiasa, I Made. 2003. Statistik Bivariet Disertai Aplikasi Dengan SPSS.

Singaraja. Unit Penerbitan IKIP Negeri Singaraja.

Candiasa, I Made. 2004. Analisis Statistik Disertai Aplikasi Dengan SPSS. Singaraja. Unit Penerbitan IKIP Negeri Singaraja.

Cho, E.S., G.Y. Kim, B.D. Choi, L.L. Rhodes, T.J. Kim, G.H. Kim & J.D. Lee.

2001. A comparative study of the harmful dinoflagellates Cochlodinium

polykrikoides and Gyrodinium impudicum using transmission electron

microscopy, fatty acid composition, carotenoid content, DNA

quantification and gene sequences. Bot. Mar. 44: 57-66.

Cole, G.A, 1983. Textbook of Limnology. McGraw-Hill Book Company. New York USA.

Eaton K.A.C. E Catreanich, K.M. Makin and S. Krakowka, 1995 Viluance Of Coccroid and Bacillary Forms of Helicobacter nylori in grotobiotic Pigletsininfeet

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.

Fukuyo, Y. 2010. Effect of Harmful Algal Blooms - the Development of Aquaculture. Asian Natural Environmental Science Center the University of Tokkyo. Seminar Nasional Dampak Pencemaran Lingkungan Laut Terhadap Produktifitas Sumberdaya Kelautan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Gárate, Lizárraga, I., J .J. Bustillos - Guzmán, L.M. Morquecho & F. Hernández-

Sandoval. 2002. Blooms of Cochlodinium polykrikoides Gymnodiniaceae

in the Gulf of California, Mexico. Recibido 31-X-2002. Departamento de Plancton y Ecología Marina (CICIMAR-IPN).

Gárate, Lizárraga, I., J.J. Bustillos - Guzmán, L.M. Morquecho & C. H. Lechuga- Deveze. 2000. First outbreak of Cochlodinium polykrikoides in the Gulf of California. Harmful Algae News 21: 7.

Glibert, P. M., R. Magnien, M. W. Lomas, J. Alexander, C. Fan, E. Haramoto, M. Trice, and T. M. Kana. 2001. Harmful Algal Blooms In The Chesapeake and Coastal Bays Of Maryland. USA.


(55)

Gobler CJ, A Burson, F Koch, Y Tang, MR Mulholland. 2012. The Role of Nitrogenous Nutrients in the Occurrence of Harmful Algal Blooms Caused by Cochlodinium polykrikoidesin New York Estuaries (USA). Journal Harmful Algae 17: 64–74.

Haarcorryati, A 2008, Hubungan Rasio N/P Dengan Kecenderungan Dominasi Komunikasi Mikroalga Pada Waduk - Waduk di DPS Citarum, Bulletin Keairan Vol. 1 No.1.

Jeong, H. J., Yoo, Y. D., Kim, J. S., Kim, T.H., Kim, J. H., Kang, N.S., Yih, W. 2004. Mixothropy in the phototrophic harmful alga Cochlodinium polykrikoides (Diniphycean) : Prey spesies, the effects of prey concentration and grazing impact. J Euk Microbiol 51, 563 - 569

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). 2004. Baku Mutu Air Laut Untuk Budidaya. Kep.Men. Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004.

Kim, H.G. 1998. Cochlodinium polykrikoides blooms in Korean coastal waters

and their mitigation, pp. 227- 228. In B. Reguera, J. Blanco, T. Fernández & Wyatt (eds.). Harmful Algae, Xunta de Galicia and Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO.

Kim, C.S., S.G. Lee, C.Y. Lee & H.G. Kim. 1999. Reactive oxygen species as causative agents in the ichthyotoxicity of the red tide dinoflagellate Cochlodinium polykrikoides. J. Plank. Res. 1: 2105-2115.

Kim, D., T. Oda, T. Muramatsu, D. Kim, Y. Matsuyama & T. Honjoc. 2002.

Possible factors responsible for the toxicity of Cochlodinium

polykrikoides, a red tide phytoplankton.Comp. Bioch. Physiol. Part C. 132: 415-423.

Koukaras, K. and Nikolaidis, G. 2004. Dinophysis Blooms in Greek Coastal Waters (Thermaikos Gulf, NW Aegean Sea). Journal of Plankton Research Vol.26 (4): 445 – 457.

Livingston RJ. 2001. Eutrophication Processes in Coastal System : Origin and Succession of Plankton Blooms and Effect on Secondary Production in Gulf Coast Estuaries. Florida: CRC Press. 327 hal.

Lizzaraga, G., D.J. Lopez Cortes, J.J. Bustillos Guzman and F. Hernandez Sandoval. 2004. Blooms of Cochlodinium polykrikoides (Gymnodiniaceae) in Gulf of california, Mexico. Rev. Biol. Trop.52 (suppl 1.) : 51-58

Masó, M. and Garcés, E. 2006. Harmful Microalgae Blooms (HAB); The Problematic and Conditions that Induce Them. Marine Pollution Bulletin 53 (2006): 620 – 630.


(56)

Mitra, A. and K. J. Flynn. 2006. Promotion Of Harmful Algal Blooms By Zooplankton Predatory Activity. Biol. Let 2 : 194-197.

Muawanah, H. Tri, W. Widiatmoko dan V. Dharmawati. 2011. Inventarisasi Kejadian Hab’s (Harmful Algal Blooms) Di PerairanTeluk Lampung. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, W. Widiatmoko dan T. Haryono. 2012. red tide di Teluk Lampung. Laporan Monitoring Kualitas Air. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, Kurniastuty, T. Haryono dan W. Widiatmoko. 2013. Dominasi plankton kategori HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Hurun. Buletin Budidaya Laut No. 34. ISSN : 0853-4411. Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung. Lampung.

Muawanah. 2013. Kondisi Terkini ; Dominasi HAB’s di Teluk Hurun. Laporan Monitoring Kualitas air. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, T Haryono, W Widiatmoko dan R Purnomowati. 2015. Fenomena Out Break HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Lampung. Buletin Budidaya Laut No. 39. ISSN : 0853-4411. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung.

Mujib, A.S., Ario D dan Yusli W. 2012. Spasial distribution of Planctonic dinoflagellate in Makassar Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol. 3 No 1. ISSN : 2088 – 3137. Unifersitas Padjajaran. Bandung.

Mulholland, Margaret R. & Ryan E. Morse & George E. & Christopher J. Gobler. 2009. Estuaries And Coasts. Understanding Causes And Impacts Of The Dinoflagellate, Cochlodinium polykrikoides, Blooms In The Chesapeake Bay. DOI 10.1007/S12237-009-9169-5

Nasir A, Muhammad L dan Nurfadillah. 2012. Ratio of Nutrient and Diatom – Dinoflagellate community In Spermonde Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol 3 No. 1. ISSN : 2088 – 3137. Universitas Padjajaran. Bandung.

Nastiti, S N.dan M.R.A Putri. 2013. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Teluk Jakarta. Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia. Volume 39, Nomor 2, hal. 139 - 151. Agustus 2013. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi Pusat Penelitian Limnologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta – Bogor.


(57)

Odum, Eugene P. 1993. Dasar - dasar Ekologi.Gadjah Mada University. Press: Yogyakarta

Park, J.G., M.K. Jeong, J.A. Lee, K.J. Cho & O.S. Kwon. 2001. Diurnal vertical

migration of a harmful dinoflagellate, Cochlodinium polykrikoides

(Dinophyceae) during a red tide in coastal waters of Namhae Island, Korea. Phycologia 40: 292-297.

Praseno, D. P. dan Sugestiningsih, 2000. Red tide di perairan Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI. Jakarta.

Prayitno, H B. 2011. Kondisi trofik perairan Teluk Jakarta dan potensi Terjadinya ledakan populasi alga berbahaya (HABs). Jurnal Vol. 37, No. 2, hal. 247 - 262. 2011. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi dan Limnologi - LIPI. Jakarta.

Purnomo R., Muawanah dan Tri H. 2013. Monitoring kesehatan ikan dan lingkungan kawasan minapolitan di Perairan Teluk Lampung. Laporan Tahunan Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut. Lampung.

Rahman, A. 2011. .Peranan zooplankton dalam mengontrol fenomena Harmful Algal Blooms (HAB). Oseana.Majalah Ilmiah Semi Populer.Vol. XXXVI Nomor 3. ISSN 0216-1877. LIPI- Penelitian Oseanografi. Jakarta.

Sellner, K. G., G. J. Doucette, and G. J. Kirkpatrick. 2003. Harmful Algal Blooms : Causes, Impacts, And Detection. J. Ind. Microbiol. Biotechnol.30 : 383-406

Silva, E.S. 1967. Cochlodinium heterolabatum nov. sp.: Structure and some physiological aspects. J. Protozool. 14: 745-754.

Steel, R.G.D dan J.H. Torie. 1995 Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan Biometrik, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Steidinger K. A. and K. Tangen. 1997. Dinoflagellates : Identifying Marine

Phytoplankton. pp. 387-584. Academic Press. San Diego, California, USA. Strickland, J.D. & R. Parsons. 1972. A practical handbook of seawater analysis.

Fish. Res. Bd. Can. Bull. 167: 207-211.

Sulastri. 2011. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton paska kematian ikan secara masal di danau Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia. Vol. 37, No. 3, hal. 479 - 493. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi dan Limnologi - LIPI. Jakarta.

Sutomo.1993. Kejadian Red Tide dan Kematian Massal Udang Jebbung (Peaneusmurguensis) dan Udang Windu (Peaneusmonodon) dalam


(1)

DAFTAR PUSTAKA

Aldrian, E. 2010. Pengenalan Dampak Perubahan iklim. Diklat Teknis Pengolahan dan Analisa Kualitas Udara. BMKG. Cisarua.

Alonso-Rodríguez, R., F. Páez-Osuna & R. Cortés-Altamirano. 2000. Trophic Conditions and Stoichiometric Nutrient Balance in Subtropical Waters Influenced by Municipal Sewage Effluents in Mazatlán Bay (SE Gulf of California). Mar. Poll. Bull. 40: 331-339.

Anderson, D.M., Glibert, P.M., Burkhoder, J.M. 2002. Harmful algal Bloom and Eutrofication : Nutrient Sources, Composition and Concequences, Estuaries 25 : 562 – 584.

Anonim. 2015. Gelombang. Angin Permukaaan dan Gelombang Laut. Buletin Iklim Maritim. Vol. 2 – Oktober 2015. Bab III. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Jakarta

APHA (American Public Heatlth Administrations). 2005. Standard Methods for The Examination Of water And Wastewater. 21th Edition. American Public Health Association/American Water Work Association/water Environmen Federation Washington. DC. USA: 1100 pp.

BBPBL. 2012. Laporan Perkembangan Kejadian red Tide di Teluk Lampung Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

BBPBL. 2013. Laporan Tahunan BBPBL Lampung tahun 2012. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

BBPBL. 2014. Laporan Tahunan BBPBL Lampung Tahun 2013. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Boyd, C. E. 1988. Water Quality InWarmwater Fish Pond. 4th Printing.Auburn University Agricultural Experiment Station, Alabama, USA.359 p.


(2)

Bustillos-Guzmán, J., H. Claustre & J.C. Marty. 1995. Specific phytoplankton signatures and their relationship to hydrographic conditions in the coastal northwestern Mediterranean Sea. Mar. Ecol. Prog. Ser. 124: 247-258. Candiasa, I Made. 2003. Statistik Bivariet Disertai Aplikasi Dengan SPSS.

Singaraja. Unit Penerbitan IKIP Negeri Singaraja.

Candiasa, I Made. 2004. Analisis Statistik Disertai Aplikasi Dengan SPSS. Singaraja. Unit Penerbitan IKIP Negeri Singaraja.

Cho, E.S., G.Y. Kim, B.D. Choi, L.L. Rhodes, T.J. Kim, G.H. Kim & J.D. Lee. 2001. A comparative study of the harmful dinoflagellates Cochlodinium polykrikoides and Gyrodinium impudicum using transmission electron microscopy, fatty acid composition, carotenoid content, DNA quantification and gene sequences. Bot. Mar. 44: 57-66.

Cole, G.A, 1983. Textbook of Limnology. McGraw-Hill Book Company. New York USA.

Eaton K.A.C. E Catreanich, K.M. Makin and S. Krakowka, 1995 Viluance Of Coccroid and Bacillary Forms of Helicobacter nylori in grotobiotic Pigletsininfeet

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.

Fukuyo, Y. 2010. Effect of Harmful Algal Blooms - the Development of Aquaculture. Asian Natural Environmental Science Center the University of Tokkyo. Seminar Nasional Dampak Pencemaran Lingkungan Laut Terhadap Produktifitas Sumberdaya Kelautan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Gárate, Lizárraga, I., J .J. Bustillos - Guzmán, L.M. Morquecho & F. Hernández- Sandoval. 2002. Blooms of Cochlodinium polykrikoides Gymnodiniaceae in the Gulf of California, Mexico. Recibido 31-X-2002. Departamento de Plancton y Ecología Marina (CICIMAR-IPN).

Gárate, Lizárraga, I., J.J. Bustillos - Guzmán, L.M. Morquecho & C. H. Lechuga- Deveze. 2000. First outbreak of Cochlodinium polykrikoides in the Gulf of California. Harmful Algae News 21: 7.

Glibert, P. M., R. Magnien, M. W. Lomas, J. Alexander, C. Fan, E. Haramoto, M. Trice, and T. M. Kana. 2001. Harmful Algal Blooms In The Chesapeake and Coastal Bays Of Maryland. USA.


(3)

Gobler CJ, A Burson, F Koch, Y Tang, MR Mulholland. 2012. The Role of Nitrogenous Nutrients in the Occurrence of Harmful Algal Blooms Caused by Cochlodinium polykrikoidesin New York Estuaries (USA). Journal Harmful Algae 17: 64–74.

Haarcorryati, A 2008, Hubungan Rasio N/P Dengan Kecenderungan Dominasi Komunikasi Mikroalga Pada Waduk - Waduk di DPS Citarum, Bulletin Keairan Vol. 1 No.1.

Jeong, H. J., Yoo, Y. D., Kim, J. S., Kim, T.H., Kim, J. H., Kang, N.S., Yih, W. 2004. Mixothropy in the phototrophic harmful alga Cochlodinium polykrikoides (Diniphycean) : Prey spesies, the effects of prey concentration and grazing impact. J Euk Microbiol 51, 563 - 569

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). 2004. Baku Mutu Air Laut Untuk Budidaya. Kep.Men. Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004.

Kim, H.G. 1998. Cochlodinium polykrikoides blooms in Korean coastal waters and their mitigation, pp. 227- 228. In B. Reguera, J. Blanco, T. Fernández & Wyatt (eds.). Harmful Algae, Xunta de Galicia and Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO.

Kim, C.S., S.G. Lee, C.Y. Lee & H.G. Kim. 1999. Reactive oxygen species as causative agents in the ichthyotoxicity of the red tide dinoflagellate Cochlodinium polykrikoides. J. Plank. Res. 1: 2105-2115.

Kim, D., T. Oda, T. Muramatsu, D. Kim, Y. Matsuyama & T. Honjoc. 2002. Possible factors responsible for the toxicity of Cochlodinium polykrikoides, a red tide phytoplankton.Comp. Bioch. Physiol. Part C. 132: 415-423.

Koukaras, K. and Nikolaidis, G. 2004. Dinophysis Blooms in Greek Coastal Waters (Thermaikos Gulf, NW Aegean Sea). Journal of Plankton Research Vol.26 (4): 445 – 457.

Livingston RJ. 2001. Eutrophication Processes in Coastal System : Origin and Succession of Plankton Blooms and Effect on Secondary Production in Gulf Coast Estuaries. Florida: CRC Press. 327 hal.

Lizzaraga, G., D.J. Lopez Cortes, J.J. Bustillos Guzman and F. Hernandez Sandoval. 2004. Blooms of Cochlodinium polykrikoides (Gymnodiniaceae) in Gulf of california, Mexico. Rev. Biol. Trop.52 (suppl 1.) : 51-58

Masó, M. and Garcés, E. 2006. Harmful Microalgae Blooms (HAB); The Problematic and Conditions that Induce Them. Marine Pollution Bulletin 53 (2006): 620 – 630.


(4)

Mitra, A. and K. J. Flynn. 2006. Promotion Of Harmful Algal Blooms By Zooplankton Predatory Activity. Biol. Let 2 : 194-197.

Muawanah, H. Tri, W. Widiatmoko dan V. Dharmawati. 2011. Inventarisasi Kejadian Hab’s (Harmful Algal Blooms) Di PerairanTeluk Lampung. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, W. Widiatmoko dan T. Haryono. 2012. red tide di Teluk Lampung. Laporan Monitoring Kualitas Air. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, Kurniastuty, T. Haryono dan W. Widiatmoko. 2013. Dominasi plankton kategori HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Hurun. Buletin Budidaya Laut No. 34. ISSN : 0853-4411. Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung. Lampung.

Muawanah. 2013. Kondisi Terkini ; Dominasi HAB’s di Teluk Hurun. Laporan Monitoring Kualitas air. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung

Muawanah, T Haryono, W Widiatmoko dan R Purnomowati. 2015. Fenomena Out Break HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Lampung. Buletin Budidaya Laut No. 39. ISSN : 0853-4411. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Lampung.

Mujib, A.S., Ario D dan Yusli W. 2012. Spasial distribution of Planctonic dinoflagellate in Makassar Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol. 3 No 1. ISSN : 2088 – 3137. Unifersitas Padjajaran. Bandung.

Mulholland, Margaret R. & Ryan E. Morse & George E. & Christopher J. Gobler. 2009. Estuaries And Coasts. Understanding Causes And Impacts Of The Dinoflagellate, Cochlodinium polykrikoides, Blooms In The Chesapeake Bay. DOI 10.1007/S12237-009-9169-5

Nasir A, Muhammad L dan Nurfadillah. 2012. Ratio of Nutrient and Diatom – Dinoflagellate community In Spermonde Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol 3 No. 1. ISSN : 2088 – 3137. Universitas Padjajaran. Bandung.

Nastiti, S N.dan M.R.A Putri. 2013. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Teluk Jakarta. Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia. Volume 39, Nomor 2, hal. 139 - 151. Agustus 2013. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi Pusat Penelitian Limnologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta – Bogor.


(5)

Odum, Eugene P. 1993. Dasar - dasar Ekologi.Gadjah Mada University. Press: Yogyakarta

Park, J.G., M.K. Jeong, J.A. Lee, K.J. Cho & O.S. Kwon. 2001. Diurnal vertical migration of a harmful dinoflagellate, Cochlodinium polykrikoides (Dinophyceae) during a red tide in coastal waters of Namhae Island, Korea. Phycologia 40: 292-297.

Praseno, D. P. dan Sugestiningsih, 2000. Red tide di perairan Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI. Jakarta.

Prayitno, H B. 2011. Kondisi trofik perairan Teluk Jakarta dan potensi Terjadinya ledakan populasi alga berbahaya (HABs). Jurnal Vol. 37, No. 2, hal. 247 - 262. 2011. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi dan Limnologi - LIPI. Jakarta.

Purnomo R., Muawanah dan Tri H. 2013. Monitoring kesehatan ikan dan lingkungan kawasan minapolitan di Perairan Teluk Lampung. Laporan Tahunan Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut. Lampung.

Rahman, A. 2011. .Peranan zooplankton dalam mengontrol fenomena Harmful Algal Blooms (HAB). Oseana.Majalah Ilmiah Semi Populer.Vol. XXXVI Nomor 3. ISSN 0216-1877. LIPI- Penelitian Oseanografi. Jakarta.

Sellner, K. G., G. J. Doucette, and G. J. Kirkpatrick. 2003. Harmful Algal Blooms : Causes, Impacts, And Detection. J. Ind. Microbiol. Biotechnol.30 : 383-406

Silva, E.S. 1967. Cochlodinium heterolabatum nov. sp.: Structure and some physiological aspects. J. Protozool. 14: 745-754.

Steel, R.G.D dan J.H. Torie. 1995 Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan Biometrik, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Steidinger K. A. and K. Tangen. 1997. Dinoflagellates : Identifying Marine

Phytoplankton. pp. 387-584. Academic Press. San Diego, California, USA. Strickland, J.D. & R. Parsons. 1972. A practical handbook of seawater analysis.

Fish. Res. Bd. Can. Bull. 167: 207-211.

Sulastri. 2011. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton paska kematian ikan secara masal di danau Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia. Vol. 37, No. 3, hal. 479 - 493. ISSN 0125-9830. Pusat Penelitian Oseanolografi dan Limnologi - LIPI. Jakarta.

Sutomo.1993. Kejadian Red Tide dan Kematian Massal Udang Jebbung (Peaneusmurguensis) dan Udang Windu (Peaneusmonodon) dalam


(6)

Budidaya Jaring Apung di Muara Keramat Kebo, Teluk Naga, Tanggerang. Puslit Oseanografi LIPI. Jakarta.

WHO (World Health Organization) & European Commission. 2002. Eutrophication and Health. Edited by K Pond. Luxembourg : Office for Official Publication of The European Communities. 28 pp.

Whyte, I., N. Haigh, N.G. Ginther & L.J. Keddy. 2001. First record of blooms of Cochlodinium sp. (Gymnodiniales, Dinophyceae) causing mortality of net-penreared salmon on the west coast of Canada. Phycologia 40 : 298-304. Wiadnyana, N.N., T. Sidabutar, K. Matsuoka, T. Ochi, M. Kodama, Y. Fukuyo.

1996. Note on the Occurence of Pyrodinium bahamense in Eastern Indonesian Waters. Proceedings of the Seventh International Conference on Toxic Phytoplankton, Sendai, Japan.

Yu, R.C., C. Hummert, B. Luckas, P.Y. Qian & M.J. Zhou. 1998. Modified HPLC method for analysis of PST toxins in algae and shellfish from China. Chromatography 48: 671-676.

Yuki, K. & S. Yoshimatsu. 1989. Two fish-killing species of Cochlodinium from Harima Nada, Seto Inland Sea, Japan, pp. 11-16. In Okaichi, Anderson & Nemoto (eds.). Red Tides : Biology Environmental Science and Toxicology. Elsevier, New York.