PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS DI KELAS IV SD NEGERI 5 TALANG TELUK BETUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh

ABSTRAK
PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM
MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS DI KELAS IV SD
NEGERI 5 TALANG TELUK BETUNG SELATAN
TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Oleh
SURYANI

Tujuan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada kelas IV SD
Negeri 5 Talang Teluk Betung Selatan ini adalah untuk mendeskripsikan:
1.Peningkatan hasil belajar IPA melalui metode pemberian tugas. 2.Meningkatkan
penguasaan materi IPA. 3. Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran
IPA. pengamatan di kelas IV SD Negeri 5 Talang Teluk Betung Selatan bahwa
kemampuan 40 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan
dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kurang memuaskan. Hal ini dapat
dilihat ketika guru menugaskan siswa untuk mengerjakan soal, 18 orang siswa
hasilnya sangat rendah penyebabnya adalah beberapa siswa tidak mengerjakan
tugas atau banyak yang mencontoh hasil pekerjaan orang lain, bahwa metode
penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan
dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu :
perencanaan (planning), implementasi (tindakan), observasi (pengamatan) dan
refleksi. Data yang telah diperoleh pada setiap tahapan tindakan penelitian
dianalisis dengan menggunakan data kuantitatif dan data kualitatif.Berdasarkan
temuan dan hasil analisis pembelajaran di SD Negeri 5 Talang Teluk Betung,
dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran metode pemberian tugas cukup
efektif untuk pembelajaran IPA. Secara kualitatif siswa lebih termotivasi dan lebih
kreatif dalam melakukan pembelajaran IPA, diantaranya. 1. Aktivitas belajar
siswa meningkat dari Siklus I ke Siklus II. 2. Hasil belajar siswa meningkat dari
Siklus I ke Siklus II rata-rata 55,5 menjadi 75,5.

Kata kunci : Hasil Belajar, Metode Pemberian Tugas, Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber
Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep
kependidikan yang berkaitan antara satu dengan lainnya, yaitu belajar (learning)
dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik
dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.

Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik
dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai
pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah
seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan
belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.

Strategi/pendekatan
pendidik,

karena

mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh
keberhasilan

proses

pembelajaran

bergantung

pada

cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka
siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga
diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya,

sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya. Pendekatan pembelajaran banyak
ragamnya, sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka
ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode
saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan
kondisi serta situasi yang ada. Selain itu pemilihan pendekatan pembelajaran
seharusnya disesuaikan dengan beberapa aspek, di antaranya adalah situasi dan
kondisi siswa. Dengan demikian materi yang disampaikan diharapkan dapat
diterima oleh siswa secara tepat dan cepat.

Berdasarkan hasil pengamatan di kelas IV SD Negeri 5 Talang Teluk Betung
Selatan bahwa kemampuan 40 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 23
siswa perempuan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kurang
memuaskan. Hal ini dapat dilihat ketika guru menugaskan siswa untuk
mengerjakan soal, 18 orang siswa hasilnya sangat rendah penyebabnya adalah
beberapa siswa tidak mengerjakan tugas atau banyak yang mencontoh hasil
pekerjaan orang lain.
Pembelajaran

IPA

di

segala

jenjang

dimaksudkan

untuk

membangun

pengetahuan, keterampilan, dan sikap terkait dengan IPA. Pendidikan IPA dapat
berlangsung dalam proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan
dalam sikap mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Kondisi ini terjadi
jika siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak
mereka untuk berpikir, bekerja, dan merasakan upaya yang harus dilakukan guru
untuk mengaktifkan siswa belajar IPA adalah : (1) mengkondisikan situasi belajar
menjadi kegiatan siswa mengupayakan pemecahan masalah atau mencari jawaban

atas pertanyaan-pertanyaan, baik masalah atau pertanyaan yang diajukan guru
maupun siswa, (2) mendorong ketertarikan siswa untuk mendapatkan informasi
atau menguasai keterampilan melalui pemecahan masalah atau mencari jawaban
atas pertanyaan, (3) mendesak siswa secara halus untuk bergerak mengkaji atau
menilai suatu jawaban pertanyataan atau suatu pemecahan masalah.
Pada kesempatan ini peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas
yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah tidak efektifnya pembelajaran yang
dilakukan guru dalam mengajarkan materi.
Tidak efektifnya pembelajaran yang dilakukan guru tersebut diduga akibat guru
tidak memotivasi anak dan tidak menggunakan alat peraga atau metode yang tidak
tepat dalam proses belajar mengajar.
Peningkatan hasil belajar pada materi melalui metode pemberian tugas diharapkan
dapat mengubah guru dalam melakukan pembelajaran dari guru sebagai pusat
belajar agar beralih ke siswa.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1.

Penguasaan siswa terhadap materi rendah, siswa tidak mengerjakan tugas
dengan baik sehimgga hasil belajar rendah.

2.

Siswa tidak mengerjakan tugas dengan baik.

3.

Hasil belajar rendah.

4.

Pemberian tugas masih belum optimal.

1.3 Rumusan Masalah
Bagaimanakah peningkatan aktivitas dan prestasi belajar IPA melalui metode
pemberian tugas siswa kelas IV SD Negeri 5 Talang Teluk Betung Selatan?

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan daripada penelitian yang dilakukan pada kelas IV SD Negeri 5 Talang
Teluk Betung Selatan ini adalah untuk mendeskripsikan:
1.

Peningkatan hasil belajar IPA melalui metode pemberian tugas.

2.

Meningkatkan penguasaan materi IPA

3.

Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajran IPA

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan adalah :
1.

Siswa dapat meningkatkan penguasaan materi melalui metode pemberian
tugas.

2.

Bagi guru memperoleh tindakan alternatif dalam pendekatan pembelajaran.

3.

Bagi sekolah memberikan sumbangan yang positif terhadap kualitas dan
kemajuan pendidikan serta peningkatan professional guru.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Agar tidak terjadi salah penafsiran maka perlu dikemukakan pembatasan ruang
lingkup penelitian sebagai berikut:

1. Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan siswa yang relevan pada saat
pembelajaran berlangsung yang meliputi memperhatikan penjelasan guru,
berdiskusi,

bertanya

antara

siswa

dalam

kelompok,

membaca

atau

mengerjakan LKS, dan aktif dalam kerja kelompok serta mempresentasikan
hasil kerja kelompok.
2. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan
kegiatan belajar yang ditunjukkan oleh nilai yang diperoleh siswa dalam tes
setiap akhir siklus setelah mengikuti kegiatan belajar dengan menggunakan
metode kerja kelompok. Hasil belajar yang dikaji dalam penelitian ini adalah
aspek kognitif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Belajar
Pengertian belajar dalam kehidupan sehari-hari seringkali diartikan yang kurang
tepat, biasanya orang awam mengartikan belajar identik dengan membaca, belajar
identik dengan mengerjakan soal-soal. Pengertian belajar seperti tersebut masih
sempit. Menghafal tidak dinamakan belajar.
Loster D. Crow and Crow menyatakan bahwa belajar adalah perbuatan untuk
memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap (Kasijan, 1984:16).
Sumadi Suryabrata (1987:249) menyatakan bahwa kegiatan belajar mencakup tiga
hal yaitu: a) membawa perubahan, b) terjadi karena didapatkan kecakapan baru,
dan c) terjadi karena ada upaya. Belajar pada dasarnya adalah berusaha
mendapatkan

sesuatu

kepandaian

(Poerwadarminta,1988:108).

Sedangkan

menurut istilah populer bahwa pengertian belajar adalah proses perubahan
perilaku yang relatif menetap sebagai bentuk pengalaman-pengalaman atau
praktik (David R, 1996:2). Belajar diartikan sebagai suatu aktivitas mental/psikis
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikapsikap. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas (WS Winkel,1998:36).
Dengan demikian belajar adalah perubahan-perubahan yang relatif konstan dan
berbekas menyangkut pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap.

7

2.2 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai-nilai tes
atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Depdiknas, 2007: 787). Pendapat lain
mengatakan prestasi belajar adalah suatu hasil usaha yang telah dicapai oleh siswa
yang mengadakan suatu kegiatan di sekolah yang dapat menghasilkan perubahan
pengetahuan, sikap dan tingkah laku.

Hasil perubahan tersebut

dengan nilai atau skor (Winkel, 2005: 532).

diwujudkan

Sejalan dengan itu pengertian

prestasi belajar adalah setiap macam kegiatan belajar yang menghasilkan suatu
perubahan yang khas yaitu hasil belajar (Syah, 2004: 141).
Dari pengertian tentang prestasi belajar tersebut maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa prestasi belajar adalah hasil dari kegiatan belajar yang dicapai, yang
meliputi perubahan tingkah laku, perubahan sikap, perubahan kualitas,
penguasaannya dapat diukur dan dievaluasi langsung dengan tes. Prestasi belajar
dapat juga digunakan untuk mengetahui kualitas materi pelajaran dan tingkat
pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.

Langkah-langkah metode pemberian tugas menurut Djamarah (2010 : 86) terbagi
dalam tiga fase sebagai berikut :
1.

Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan hal-hal
berikut :
1) Tujuan yang akan dicapai.

8
2) Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang
ditugaskan tersebut.
3) Sesuai dengan kemampuan siswa.
4) Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
5) Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

2.

Fase pelaksanaan tugas adalah sebagai berikut :
1) Siswa diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru.
2) Siswa diberikan dorongan sehingga anak-anak mau bekerja.
3) Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain
4) Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik
dan sistematik.

3.

Fase mempertanggunjawabkan tugas
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini adalah :
1) Laporan siswa baik lisan maupun tulisan dari apa yang telah
dikerjakannya.
2) Ada tanya jawab atau diskusi kelas.
3) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun tes atau cara
lainnya.

2.3 Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Sains atau Ilmu Pengetahuan berasal dari bahasa Inggris “Science”. Ilmu
pengetahuan dalam arti luas terdiri atas ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan

9
alam/ natural science (Depdiknas, 2004). Nash dalam Depdiknas (2004),
mengatakan bahwa “science is a way of looking at the world” sains dipandang
sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati sesuatu, dalam hal ini
adalah dunia.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional pasal 37 ayat 1 yaitu bahan kajian ilmu pengetahuan alam,
antara lain, fisika, biologi dan kimia dimaksudkan untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap
lingkungan dan sekitarnya.
Menurut Carin & Sund dalam Djuanda.dkk (2006) sains adalah suatu sistem untuk
memahami alam semesta melalui observasi dan eksperimen yang terkontrol.
1. Sains sebagai Ilmu: secara umum sekurang-kurangnya mencakup 3 aspek
yaitu aspek aktivitas, metode dan pengetahuan.
2. Sains sebagai produk: sebagai suatu produk sains merupakan kumpulan
pengetahuan yang tersusun dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, hukum
dan teori.
3. Sains sebagai proses: Sebagai suatu proses, sains merupakan cara kerja,
cara berpikir dan cara memecahkan suatu masalah; sehingga meliputi
kegiatan bagaimana mengumpulkan data, menghubungkan fakta satu
dengan yang lain, menginterpretasi data dan menarik kesimpulan.

2.4 Metode Pemberian Tugas

10
Oemar Hamalik (2010 : 27) menjelaskan istilah metode berasal dari Bahasa
Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh sehubungan
dengan upaya cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan upaya ilmiah,
maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang
menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk
mencapai tujuan.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan
makna sehingga sering kali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilahistilah tersebut adlaah (1) pendekatan pembelajaran; (2) strategi pembelajaran; (3)
metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; (6) model
pembelajaran.
Metode adalah “ a way in achieving something “ Wina Sanjaya (2010 : 147), jadi
metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata
dan praktis

untuk

mencapai

tujuan pembelajaran. Selanjutnya

metode

pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
Dari kedua pendapat di atas, penulis memilih pendapat Wina Sanjaya (2010 : 147)
sebagai acuan dalam penelitian ini. Menurut Wina Sanjaya bahwa metode adalah
cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2.5 Pengertian Metode Pemberian Tugas
Menurut Syaiful Sagala (2009 : 201) metode pemberian tugas dan resitasi adalah
cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar

11
murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya.
Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula
mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk
aktif belajar baik secara individual ataukelompok. Metode resitasi mempunyai
tiga fase, yaitu : (a) guru memberi tugas, (b) siswa melaksanakan tugas, (c) siswa
mempertanggungjawabkan pada guru apa yang telah dipelajari.

2.6 Kebaikan Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas mempunyai bebrapa kebaikan dan kelemahan Syaiful
Sagala (2009 : 219) menjelaskan bahwa kebaikan metode pemberian tugas antara
lain :
1.

Pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar, hasil percobaan atau
hasil penyelidikan yang banyak berhubungan dengan minat atau bakat yang
berguna untuk hidup mereka akan lebih meresap, atahan lama dan lebih
otentik.

2.

Mereka berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil
inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri Sendiri.

3.

Tugas dapat lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih
memperdalam, memperkaya atau memperluas wawasan tentang apa yang
dipelajari.

4.

Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah Sendiri
informasi dan komunikasi.

12
5.

Dapat membuat siswa bergairah dalam belajar dilakukan dengan berbagai
variasi sehingga tidak membosankan.

Sedangkan Udin Syarifudin (2005 : 44-45) mengatakan bahwa kebaikan-kebaikan
metode pemberian tugas itu adalah :
1.

Disamping menonjolkan keaktifan siswa, juga akan memupuk rasa tanggung
jawab dan disiplin kerja.

2.

Sesuatu yang dikerjakan Sendiri dan diperoleh Sendiri akan sungguh-sungguh
merupakan pengetahuan yang mantap yang tidak lupa bagi yang
mengerjakannya.

3.

Siswa dididik untuk bertanggung jawab dalam hal-hal tugas perorangan.

4.

Praktis dipergunakan di semua tingkat sekolah dari taman kanak-kanak
sampai perguruan tinggi, dengan syarat tugas harus sesuai dengan tingkat
kemampuan dan kematangan siswa atau mahasiswa.

5.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, praktis untuk pelajaran membaca,
menyimpulkan (membaca belajar), mengarang, dan pengetahuan bahasa.

2.7 Kelemahan Metode Pemberian Tugas
Menurut Syaiful Sagala (2009 : 219) beberapa kelemahan dari metode pemberian
tugas ini dalam pembelajaran adalah :
1.

Seringkali siswa melakukan penipuan diri dimana mereka hanya meniru hasil
pekerjaan orang lain, tanpa mengalami peristiwa belajar.

2.

Adakalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.

13
3.

Apabila tugas terlalu diberikan atau hanya sekedar melepaskan tanggung
jawab bagi guru, apa lagi bila itu sukar dilaksanakan ketegangan mental
mereka dapat terpengaruh; dan

4.

Karena kalau tugas diberikan secara umum mungkin seseorang anak didik
akan mengalami kesulitan karena sukar selalu menyelesaikan tugas dengan
adanya perbedaan individu.

2.8 Kerangka Pikir
Dengan menerapkan metode pemberian tugas maka seorang siswa akan selalu
terlibat langsung dalam pembelajaran, sehingga dengan keterlibatan ini materi
yang dibahas selalu teringat dalam pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai
sswa akan mudah diterimanya, hal ini sesuai dengan prinsip learning by doing
yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai siswa dengan siswa
tersebut ikut aktif dalam pembelajaran.

2.9 Hipotesis
Dari uraian tinjauan pustaka yang telah dipaparkan. Maka dapat disusun hipotesis
sebagai berikut :
“Jika hasil pembelajaran IPA dengan metode pemberian tugas, maka aktivitas dan
prestasi belajar di kelas IV SD Negeri 5 Talang Teluk Betung Selatan Tahun
Pelajaran 2012/2013 akan meningkat”.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 5 Talang Teluk
Betung Selatan mata pelajaran IPA semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013,
dengan jumlah siswa 40.

3.2 Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan menggunakan data kuantitatif diperoleh dari hasil
belajar berupa rata-rata nilai dari tes, lembar kerja, kerjasama, presentasi siswa
dan latihan yang dikerjakan siswa. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa setelah diberikan
pembelajaran dengan menggunakan metode pemberian tugas.

3.3 Instrumen Penilaian
Instrumen penelitian berupa soal pilihan ganda sebanyak 25 soal. Tiap soal
terdapat 4 jawaban (a, b, c, dan d). Instrumen lain berupa lembar kegiatan siswa
dan guru selama pembelajaran.

15

3.4 Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh pada setiap tahapan tindakan penelitian dianalisis
dengan menggunakan data kuantitatif dan data kualitatif.
Analisis data dilakukan oleh peneliti sejak awal pada setiap aspek penelitian.
Begitu juga pada saat pencatatan lapangan dilakukan mengenai proses
pembelajaran dikelas, peneliti langsung menganalisis segala yang dilihat dan
diamati, baik mengenai situasi dan suasana kelas, serta hubungan antara siswa
yang satu dengan siswa lainnya, pertanyaan siswa, jawaban siswa, serta antusias
dan minat siswa terhadap pelajaran.

3.5 Pendekatan Penelitian
1.

Prosedur Penelitian

Menurut pendapat Igak Wardhani dan Kuswaya Wihardit (2008:1.7) pengertian
tindakan kelas yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “Action Research
Classroom” yang dilakukan dikelas.
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam
kelas sendiri, melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya
sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
Ciri-ciri penelitian tindakan kelas :
1.

Merupakan tindakan nyata, hasil pemikiran yang dirancang guru untuk
meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar (KBM).

2.

Merupakan tindakan yang diberikan guru kepada siswa.

16

3.

Tindakan harus tampak nyata berbeda dari biasanya, harus tidak seperti
biasanya.

4.

Terjadi dalam siklus sebagai eksperimen berkesinambungan minimum dua
siklus.

5.

Harus ada pedoman yang jelas secara tertulis, diberikan kepada siswa agar
dapat mengikuti tahap demi tahap.

6.

Terlihat adanya unjuk kerja siswa.

Dalam penelitian ini melaksanakan prosedur penelitian terdiri dari 2 siklus. Setiap
siklus dilaksanakan sebanyak 1 – 2 kali pertemuan. Siklus penelitian tindakan
kelas menggunakan prosedur Kemmis dan MC. Taggart (Anonim, 2010) yang
terdiri dari beberapa tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3)
observasi, (4) evaluasi, (5) refleksi.

17

Permasalahan

Siklus I

Permasalahan
baru hasil
refleksi

Siklus II

Apabila
permasalahan
belum
terselesaikan

Perencanaan
Tindakan I

Pelaksanaan
Tindakan I

Refleksi I

Pengamatan/
Pengumpulan data
I

Perencanaan
tindakan II

Pelaksanaan
tindakan II

Refleksi II

Pengamatan/
pengumpulan
data II

Dilanjutkan ke
siklus
berikutnya

Bagan 1. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diadopsi dari
Suhardjono, (2006: 74)
Prosedur penelitian tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1.

Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan yaitu :

18

a.

Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
berkaitan dengan materi Membagi siswa menjadi 6 kelompok, siswa
dikelompokkan secara heterogen.

b.

Menyusun lembar kerja, dan menyiapkan alat peraga.

c.

Menyusun lembar observasi aktivitas siswa untuk melihat aktivitas siswa
selama proses pembelajaran.

d.

Menyusun lembar observasi kinerja guru untuk melihat tindakan guru
peneliti pada saat proses pembelajaran berlangsung.

2.

Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan ini terdiri dari tiga siklus sebagai berikut :
Siklus 1
1.

Siklus 1 terdiri dari 2 kali pertemuan. Pada pertemuan 1 materi yang
diberikan. Pada awal pembelajaran guru menyampaikan indikator
pembelajaran, memberikan apersepsi, dan motivasi. Kemudian siswa
dibagi 6 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 6 sampai dengan 7 orang,
diberikan tugas dan diskusi. Selama melakukan diskusi dan tanya jawab,
guru memberikan bimbingan secara menyeluruh. Selanjutnya siswa
mengerjakan tugas secara mandiri. Pada akhir pembelajaran guru
memberikan penguatan terhadap siswa.

2.

Pada pertemuan ke II, siswa tetap pada pasangan masing-masing. Setelah
diberi tugas, setiap kelompok melakukan diskusi dan selanjutnya siswa
membuat kesimpulan dengan dibimbing oleh guru dan mengerjakan soalsoal baru untuk pemantapan konsep. Diakhir pembelajaran guru
memberikan penguatan terhadap siswa.

19

Siklus 2
1.

Siswa tetap pada pasangannya masing-masing.

2.

Siklus 2 terdiri dari 1 kali pertemuan. Guru membuka pelajaran dengan
menyampaikan indicator tujuan pembelajaran, apersepsi dan memberikan
motivasi. Kemudian setiap kelompok diberi tugas dan melakukan
diskusi. Selama diskusi dan tanya jawab, guru memberikan bimbingan
secara menyeluruh. Selanjutnya siswa mengerjakan tugas secara mandiri.
Diakhir pembelajaran guru memberikan penguatan terhadap siswa.

1.

Observasi
Selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan proses observasi
kinerja guru oleh guru mitra dan observasi aktivitas untuk siswa yang
diamati oleh dua orang observer.

2.

Evaluasi
Pada setiap akhir siklus dilaksanakan evaluasi tertulis berupa kesimpulan
yang dihasilkan dalam pembelajaran.

3.

Refleksi
Setelah pembelajaran selesai pada setiap siklus dilakukan refleksi untuk
mengetahui kekurangan-kekurangan dalam tahap pelaksanaan setiap
siklus sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan untuk siklus
berikutnya.

20

3.6 Indikator Keberhasilan
Deskripsi Awal Proses Pembelajaran
Dengan semakin dilengkapinya sarana dan prasarana SDN 5 Talang Teluk Betung
Selatan, secara umum kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Akan tetapi,
apabila diteliti, dicermati, dan dianalisis secara teliti, pembelajaran IPA masih
sangat perlu ditingkatkan.
Melihat keadaan yang demikian, maka mendorong penulis untuk melakukan suatu
inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dalam
proses pembelajaran.
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas secara umum menitik
beratkan pada aspek produk yang berkualitas

Aspek ini meliputi peningkatan kemampuan siswa dalam belajar IPA khususnya
pada materi makhluk hidup dan lingkungannya. Data yang diambil berupa latihan,
tugas-tugas yang diberikan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Apabila jumlah siswa mendapat nilai di atas KKM mencapai 90%, maka proses
pembelajaran IPA dianggap berhasil. Tetapi jika jumlah siswa yang mendapat
nilai di atas KKM kurang dari 90%, maka proses pembelajaran dianggap gagal
dan harus dilakukan perbaikan untuk siklus kedua dan seterusnya.
Aspek penting yang menjadi pokok pengamatan peneliti dan observer adalah
proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas siswa dan guru selama
pembelajaran di kelas. Proses yang di amati adalah tahapan pembelajaran dari
awal sampai akhir.

21

3.7 Instrument Penilaian
a. Validitas Adalah : Suatu Ukuran Yang Menunjukkan Tingkat Kevalidatisan
Dan Kesahihan Instrument, Untuk Menentukan Validitas Butir Soal Dapat Di
Gunakan Berapa Tahapan Dan Rumus Sbb:

Rpbis =

Mp-Mt
Sdt

P
Q

Analisa Validitas Dari Hasil Uji Coba 10 Butir Soal Terhadap 40 Orang Peserta
Tabel 3.1 Tabel Penilaian Validitas Dengan 10 Butir Soal Dan 40 Orang Peserta

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

NAMA SISWA
ALYA
ANDINI
CAHYA
CITRA
DEDE
DEDI
DARMA
ELLI
ENDANG
FITRIYANI
FATRA
GUNAWAN
GILANG
GUNANJAR
HESTI
HANA
HELEN
HADI
HERI
IJAL
IWAN
INDRI

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1

2
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1

3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0

BUTIR SOAL
4
5
6
7
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1

8
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1

9
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0

10
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1

Xt

XT2

9
8
7
9
8
9
6
8
8
9
9
7
9
8
8
8
7
8
7
9
8
7

81
64
49
81
64
81
36
64
64
81
81
49
81
64
64
64
49
64
49
81
64
49

22

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

ISMA
JONI
JULI
JAYA
KASMAN
KARNO
KOMALA
KIKI
LENI
LENA
M.FAUZI
M.ALAMSYAH
NAILA
NADIRA
SIFA
SUSI
SILVI
SALMAN

1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
1
0
1

1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1

1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1

1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1

1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0

0
0
1
0
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
1

1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0

1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
0
0
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1

9
7
7
7
9
6
8
8
9
7
7
7
7
7
7
6
7
8

81
49
49
49
81
36
64
64
81
49
49
49
49
49
49
36
49
64

Xt

XT2

9
8
7
9
8
9
6
8
8
9
9
7
9
8

81
64
49
81
64
81
36
64
64
81
81
49
81
64

Selanjutnya
Tabel 3.2 Tabel Penilaian Validitas Dengan 10 Butir Soal dan 40 Orang Peserta
Penyelesaian

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

NAMA SISWA
ALYA
ANDINI
CAHYA
CITRA
DEDE
DEDI
DARMA
ELLI
ENDANG
FITRIYANI
FATRA
GUNAWAN
GILANG
GUNANJAR

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1

2
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1

3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1

BUTIR SOAL
4
5
6
7
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1

8
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1

9
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
0
0
1

10
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0

23

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

64
HESTI
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
8
64
HANA
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
8
49
HELEN
1
0
1
1
1
1
1
0
1
0
7
64
HADI
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
8
49
HERI
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
7
81
IJAL
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
9
64
IWAN
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
8
49
INDRI
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
7
81
ISMA
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
9
49
JONI
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
7
49
JULI
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
7
49
JAYA
0
1
1
1
1
0
0
1
1
1
7
81
KASMAN
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
9
36
KARNO
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
6
64
KOMALA
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
8
64
KIKI
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
8
81
LENI
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
9
49
LENA
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
7
49
M.FAUZI
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
7
49
M.ALAMSYAH 0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
7
49
NAILA
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
7
49
NADIRA
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
7
49
SIFA
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
7
36
SUSI
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
6
49
SILVI
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
7
64
SALMAN
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
8
N
29 31 35 29 29 36 29 32 27 32 309 2421
0.7 0.8 0.9 0.7 0.7 0.9 0.7 0.8 0.7 0.8
P
0.3 0.2 0.1 0.3 0.3 0.1 0.3 0.2 0.3 0.2
Q
∑pq
0.2 0.2 0.1 0.2 0.2 0.1 0.2 0.2 0.2 0.2 1.710625

Analisa Validitas Dari Soal Di Atas Adalah :
Nilai ∑Xt = 309 Nilai ∑Xt2= 2421
Nilai P Adalah Jumlah Yang Menjawab Benar Pada Butir 1 Yang
Menjawab Benar 29 Orang Berarti P = 29/40= 0,725
Nilai Q Adalah 1-P ( Pada Butir 1 Nilai Q Adalah 1- 0,725= 0,275

24

Demikian Untuk Butir Soal Seterusnya
Menghitung Rata-Rata Skor Total :
Mt = ∑Xt / N = 309 / 40 = 7,725
Menghitung Mp Setiap Butir Soal ( Rata-Rata Hitung Dari Skor Total
Yang Di Jawab Dengan Benar )
Penyelesaian Perhitungan Mp :
Pada Butir 1 Jumlah Yang Menjawab Benar Ada 29 Orang
(1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,13,14,15,17,18,19,20,21,22,23,25,26,27,28,29,30,
31,32,33,35,36,37,38,39,40) Skor Dari Tiap Siswa Adalah :
(9+8+7+9+8+9+6+8+8+9+9+7+7+9+8+8+8+7+8+7+9+8+7+9+7+7+7+9
+6+8+8+9+7+7+7+7+7+7=8) Total Nya Adalah: 309 Maka Mp Dapat Di
Cari Dengan Menggunakan Rumus :Mp = 309/29 = 10,7.
Menghitung Standar Deviasi Total :
Sdt

=

∑Xt2 –(∑Xt)2
N
N

=

2421 – (309)2
40
40

=

60,5 - 1.49

=

59.01

=

48,23

Maka Dapat Di Ketahui Validitas Dari Butir 1 Adalah :
Rpbis =

Mp-Mt
Sdt

P
Q

25

=

10,7 - 7,725
48,23

=

=

0,725
0,275

(0.06) ( 2,63)

(0,16)

=

0.4 --------------- valid

Makin Tinggi Koefisien Korelasi Yang Dimiliki Semakin Valid Butir
Instrumen Tersebut, Secara Umum Jika Koefisien Korelasi Sudah Lebih
Besar Dari 0,3 Maka Butir Instrument Tersebut Sudah Dikatakan Valid
Weiresma And Jurs , 199

b. Realibilitas
Realibilitas Adalah : Tingkat Keajegan Suatu Test, Sejauh Mana Test
Dapat Di Percaya , Analisis Reabilitasi Butir Soal Dengan Metode KuderRichardson (Kr20)

Rkr20 =K ( 1- ∑Pq)
K-1 S2
Kr20

= Koefisien Korelasi Dengan Kr 20

K

= Jumlah Butir Soal

P

= Proporsi Jawaban Benar

Q

= Proporsi Jawaban Salah ( 1-P)

Untuk Menghitung Harga P Dan Q Sama Dengan Yang Di Uraikan Pada
Pembahasan Validitas Butir Instrument, Sedangkan Mencari Variasi Atau Variant
Adalah :

26

S2

= ∑X2/ N – X2

Analisis Realibilitas Untuk Butir Soal No 1 Adalah Sebagai Berikut :
Tabel 3.3 Tabel Penilaian Reabilitas Dengan 10 Butir Soal dan 40 Orang Peserta
Penyelesaian

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
1

2
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1

3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1

NOMOR BUTIRAN SOAL
4
5
6
7
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1

8
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1

9
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0

10
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Xt

Xt2

27

32
33
34
35
36
37
38
39
40
P
Q
J

0
0
0
1
0
0
1
0
1

1
0
0
1
0
1
1
1
1

1
1
0
1
1
1
1
1
1

0
1
1
1
1
1
0
1
1

0
1
1
1
0
0
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
0

1
0
1
0
1
1
0
1
1

1
1
1
0
1
1
0
1
0

1
1
1
0
1
1
0
0
1

1
1
1
1
1
0
1
0
1

Selanjutnya
Tabel 3.4 Tabel Penilaian Reabilitas Dengan 10 Butir Soal dan 40 Orang Peserta
Penyelesaian

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0

2
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1

3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1

NOMOR BUTIRAN SOAL
4
5
6
7
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1

8
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1

9
0
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1

10
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1

Xt
9
8
7
9
8
9
6
8
8
9
9
7
9
8
8
8
7
8
7
9

Xt2
81
64
49
81
64
81
36
64
64
81
81
49
81
64
64
64
49
64
49
81

28

21
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
22
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
23
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
24
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
25
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
26
0
1
1
1
1
0
0
1
1
1
27
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
28
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
29
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
30
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
31
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
32
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
33
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
34
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
35
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
36
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
37
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
38
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
39
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
40
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
j
29
31
35
29
29
36
29
32
27
32
P
0.73 0.78 0.88 0.73 0.73 0.90 0.73 0.80 0.68 0.80
Q
0.28 0.23 0.13 0.28 0.28 0.10 0.28 0.20 0.33 0.20
∑p.q 0.20 0.17 0.11 0.20 0.20 0.09 0.20 0.16 0.22 0.16
Hitung Skor Rata-Rata Total Dengan Rumus :
X = ∑Xt / N = 309 / 40 = 7,725
Menghitung Variasi Total :
S2

= ∑Xt2/ N – X2
= 2421 / 40 – 7,72
= 60.525 – 59.29
= 0.84

8
7
9
7
7
7
9
6
8
8
9
7
7
7
7
7
7
6
7
8
309

64
49
81
49
49
49
81
36
64
64
81
49
49
49
49
49
49
36
49
64
2421

1.40

29

Menghitung Realibilitas Dengan Rumus Rkr20 Untuk Butir 1 Sebagai Berikut ;
Rkr20 = K
K-1
=

10
10-1

= 1,11

( 1- ∑Pq)
S2
(1- 1.4028)
0.84
( 1- 1.67)

= 1,11 ( 0,67)
= 0.67
= 0,7------------Reliabel
Pada nilai diatas 0.3 lebih dari 0,6 dan kurang dari 1 maka dapat dikatakan
koefisien tersebut reliable
Kesimpulan :
Koefisien Korelasi Berada Antara 0-1, Suatu Instrument Dikatakan Reliable Jika
Koefisien Korelasinya ≥ 0,6, Makin Tinggi Koefisien Korelasinya Makin Rliabel
Instrument Tersebut.

c. Analisis butir soal
Data Hasil Uji Coba 10 Butir Soal terhadap 40 orang peserta
Tabel 3.5 Tabel Penilaian Analisis Butir Soal Dengan 10 Butir Soal dan 40 Orang
Peserta Penyelesaian

NO
1
2
3
4
5
6

NAMA SISWA
ALYA
ANDINI
CAHYA
CITRA
DEDE
DEDI

1
1
1
1
1
1
1

2
1
1
0
1
1
1

3
1
1
1
1
1
1

BUTIR SOAL
4 5 6 7
1 1 1 1
0 1 1 1
1 0 1 0
1 0 1 1
1 0 1 1
0 1 1 1

8
1
0
1
1
1
1

9
0
1
1
1
1
1

10
1
1
1
1
0
1

SKOR
9
8
7
9
8
9

30

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

DARMA
1 1 1 0 0 1 1 1 0 0
ELLI
1 0 1 0 1 1 1 1 1 1
ENDANG
1 1 1 1 1 1 0 1 0 1
FITRIYANI
0 1 1 1 1 1 1 1 1 1
FATRA
1 1 0 1 1 1 1 1 1 1
GUNAWAN
1 1 1 1 1 1 1 0 0 0
GILANG
1 1 1 1 1 1 1 1 0 1
GUNANJAR
1 1 1 0 1 1 1 1 1 0
HESTI
1 1 0 1 1 0 1 1 1 1
HANA
1 1 1 1 1 1 0 1 1 0
HELEN
1 0 1 1 1 1 1 0 1 0
HADI
1 0 1 1 1 1 1 1 0 1
HERI
1 1 1 1 0 1 0 1 0 1
IJAL
0 1 1 1 1 1 1 1 1 1
IWAN
1 0 1 1 0 1 1 1 1 1
INDRI
1 1 0 0 1 1 1 1 0 1
ISMA
1 1 1 1 1 1 0 1 1 1
JONI
0 1 1 1 1 1 0 0 1 1
JULI
1 0 1 0 0 1 1 1 1 1
JAYA
0 1 1 1 1 0 0 1 1 1
KASMAN
1 1 1 1 1 1 0 1 1 1
KARNO
1 1 1 0 0 1 1 0 0 1
KOMALA
0 1 1 1 1 0 1 1 1 1
KIKI
1 1 0 0 1 1 1 1 1 1
LENI
1 1 1 1 1 1 1 1 0 1
LENA
0 1 1 0 0 1 1 1 1 1
M.FAUZI
0 0 1 1 1 1 0 1 1 1
M.ALAMSYAH 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1
NAILA
1 1 1 1 1 1 0 0 0 1
NADIRA
0 0 1 1 0 1 1 1 1 1
SIFA
0 1 1 1 0 1 1 1 1 0
SUSI
1 1 1 0 1 1 0 0 0 1
SILVI
0 1 1 1 1 1 1 1 0 0
SALMAN
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1
JUMLAH
29 31 35 29 29 36 29 32 27 32

Hasil perhitungan dan sebaran tingkat kesukaran butir soal berdasarkan data

6
8
8
9
9
7
9
8
8
8
7
8
7
9
8
7
9
7
7
7
9
6
8
8
9
7
7
7
7
7
7
6
7
8

31

Tabel 3.6 Tabel Hasil Perhitungan dan sebaran tingkat kesukaran butir soal
berdasarkan data
No soal

N

Sm

∑x

p

Kriteria

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

40
40
40
40
40
40
40
40
40
40

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

29
31
35
29
29
36
29
32
27
32

0.725
0.775
0.875
0.725
0.725
0.9
0.725
0.8
0.675
0.8

mudah
mudah
mudah
mudah
mudah
mudah
mudah
mudah
sedang
mudah

Cara perhitungan :
Untuk butir soal 1
P = ∑X / Smn maka P = 29 / 1 x 40 = 0,725
Untuk butir soal 2
P = ∑X / Smn maka P = 31 / 1 x 40 = 0,775
Untuk butir soal 3
P = ∑X / Smn maka P = 35 / 1 x 40 = 0,875

Dan seterusnya sampai dengan butir soal no 10.

1. Daya pembeda soal pilihan ganda
Untuk menentukan daya pembeda soal bentuk pilihan ganda maka akan kita
perhatikan kembali table hasil pelaksanaan uji coba 10 butir test pilihan ganda
pada 45 orang siswa dengan langkah sebagai berikut :

32

Mengurutkan jumlah perolehan skor peserta test dari yang tertinggi sampai
yang terendah, hasil dari langkah tersebut dapat di lihat di table berikut :
Tabel 3.7 Tabel Uji Pilihan Ganda

NO
7
11
2
18
25
26
27
41
3
4
5
8
10
16
17
30
32
36
38
45
1
6
9
12
13
14
15
19
20
21
22
23
28

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

NOMOR BUTIR INSTRUMEN
2 3 4 5 6 7 8 9
1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 0 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 0 1
1 0 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 0 1 1
1 1 1 0 0 1 1 1
1 1 1 1 1 1 0 0
0 0 1 1 1 1 1 1
1 0 0 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 0
1 1 0 0 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 0 0
1 1 1 0 0 1 1 1
1 1 1 1 1 0 0 1
1 1 0 0 1 1 1 1
1 1 0 0 1 1 1 1
0 1 1 1 1 1 1 1
1 0 1 1 0 0 1 1
1 1 1 0 0 1 0 1
1 1 1 1 0 0 0 1
1 1 1 1 1 0 0 0
1 0 1 0 0 1 1 1
0 1 1 1 1 0 0 1
1 0 1 1 0 0 1 1
1 1 0 0 0 1 1 1
0 1 1 1 1 1 0 0
1 0 0 0 1 1 1 1
1 1 1 1 0 0 1 1
1 0 0 0 1 1 1 1
0 1 1 1 0 0 1 1

10
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1

SKOR
10
10
9
9
9
9
9
9
8
8
8
8
8
8
8
8
8
8
8
8
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7

33

29 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1
7
31 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1
7
33 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1
7
35 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0
7
7
37 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1
39 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1
7
40 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1
7
42 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0
7
43 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1
7
44 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1
7
24 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1
6
34 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1
5
Pada table di atas kita kelompokkan peserta test menjadi dua kelompok,
teratas yaitu : 33% dari 40 peserta maka jumlahnya menjadi 13 orang, begitu
juga kelompok bawah ada 13 orang hasil dari 33%x40 orang.
Langkah selanjutnya adalah menghitung proporsi jawaban benar untuk butir
soal pada kelompok atas dan kelompok bawah untuk keperluan perhitungan
kita buat kedua kelompok tersebut seperti pada table.
Tabel 3.8 Tabel Proposi Jawab Benar
NO
7
11
2
18
25
26
27
41
3
4
5
8
10

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1

NOMOR BUTIR INSTRUMEN
3
4
5
6
7
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

9
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0

10
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0

SKOR
10
10
9
9
9
9
9
9
8
8
8
8
8

34
12
10
12
12
12
11
11
11
10
∑X 13
N
40
40
40 40
40
40
40
40
40
40
Sm
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
p 0.33 0.30 0.25 0.30 0.30 0.30 0.28 0.28 0.28 0.25

Untuk menghitung proporsi menjawab benar pada baris p, perhitungan
menggunakan rumus “tingkat kesukaran” butir soal.
Tabel 3.9 Tabel Proposi Jawab Benar Tingkat Bawah
NOMOR BUTIR INSTRUMEN
3
4
5
6
7
8
0
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
0
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
0
0
0
1

9
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1

10
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1

19

20

21

40
1

40
1

40
1

NO
1
2
28
1
1
29
1
0
31
1
1
33
1
1
35
1
1
37
1
0
39
1
1
40
1
1
42
1
1
43
1
1
44
0
0
24
0
0
34
0
0
11
10
11
11
12 14
14
∑X
40
40
40
40
40 40
40
N
1
1
1
1
1
1
1
Sm
p 0.275 0.25 0.275 0.275 0.3 0.35 0.35

0.475

SKOR
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
6
5

0.5 0.525

Langkah selanjutnya membandingkan proporsi menjawab benar, butir soal
untuk kedua kelompok untuk memudahkan perhitungan daya pembeda butir
soal, maka disajikan dalam bentuk table.

35

Tabel 3.10 Tabel Kategori Benar
NOMOR
BUTIR

PROPORSI MENJAWAB
BENAR
KELOMPOK
KELOMPOK
ATAS
BAWAH

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

0.325
0.3
0.25
0.3
0.3
0.3
0.275
0.275
0.275
0.25

0.275
0.25
0.275
0.275
0.3
0.35
0.35
0.475
0.5
0.525

DAYA PEMBEDA
(D)
0.05
0.05
-0.025
0.025
0
-0.05
-0.075
-0.2
-0.225
-0.275

Kriteria Daya Pembeda (Crocker & Algina dalam Drs. Harun Rasyid):
0,40 – 0.10

=

Baik

0,30 – 0,39

=

Dapat diterima (tidak perlu direvisi)

0,20 – 0,29

=

Perlu direvisi

-1,0 – 0,19

=

Tidak Berfungsi

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa daya pembeda dari beberapa soal
tersebut diatas sebanarnya termasuk dalam soal yang memiliki daya pembeda
yang baik, yaitu butir tersebut dapat membedakan peserta bekemampuan
tinggi dengan peserta berkemampuan rendah.

3.8 Menguji Coba Instrumen Test
Untuk mendapatkan validitas yang baik, maka instrumen test diujicobakan
dikelas

36

3.9 Menganalisis Hasil Uji Coba Test
Dari hasil uji coba instrumen test, maka skor yang diperoleh akan dianalisis
untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam memahami materi

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan hasil analisis pembelajaran dalam penelitian di SD
Negeri 5 Talang Teluk Betung, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran
metode pemberian tugas cukup efektif untuk pembelajaran IPA. Secara kualitatif
siswa lebih termotivasi dan lebih kreatif dalam melakukan pembelajaran
Matematika, diantaranya.
1.

Aktivitas belajar siswa meningkat dari Siklus I ke Siklus II.

2.

Hasil belajar siswa meningkat dari Siklus I ke Siklus II rata-rata 55,5 menjadi
75,5.

B.
1.

Saran
Untuk Guru
a.

Hendaknya menciptakan kelas yang demokratis dan menyesuaikan
perencanaan materi pembelajaran dengan memperhatikan kebutuhan
lingkungan siswa, strategi, metode, dan evaluasi dalam proses
pembelajaran.

b.

Pembelajaran dengan metode pemberian tugas, guru dan siswa harus
membiasakan

diri

mengerjakan tugas.

berusaha

meningkatkan

kemampuan

dalam

65
c.

Guru hendaknya dapat melakukan penelitian tindakan kelas agar
memahami kelemahan tugasnya sehingga mampu memuktahirkan
metode, strategi dan media dalam pembelajaran.

2.

Untuk Sekolah
a.

Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab proses pendidikan sekolah,
harus mampu menyediakan fasilitas belajar yang memadai.

b.

Pihak sekolah memberikan dorongan dan dukungan untuk meningkatkan
professional guru.

c.

Perlu dukungan pada guru dalam menyajikan pembelajaran metode
pemberian tugas untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam proses
pembelajaran.

3.

Untuk Peneliti
a.

Peniliti hendaknya bekerja seoptimal mungkin dalam mempersiapkan
langkah-langkah tindakan agar pelaksanaan penelitian tindakan kelas
dapat berjalan dengan baik dan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.20
Tahun 2007. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Djamariah. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Igak Wardhani dan Kusuma Wihardit. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Syah, Muhibin. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja
Rosada: Bandung.
Oemar Hamalik. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Syaiful Bahri Djamariah dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta PT. Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu
memecahkan Problematika dan Mengajar. Bandung : Alfabeta.
Syarifudin, Udin. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta :
Kencana
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana Media.
Winkel. 2005. Psikologi Pengajaran. Media Abadi. Yogyakarta.

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 5 TALANG TELUK BETUNG SELATAN BANDAR LAMPUNG

1 16 17

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR PKn MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 SUKARAJA KECAMATAN TELUK BETUNG SELATAN BANDAR LAMPUNG

0 10 16

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI METODE DEMONTRASI MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DI KELAS V SD NEGERI 2 BULUKARTO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2011/ 2012

2 18 61

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM PADA POKOK BAHASAN PERUBAHAN WUJUD ZAT MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 2 MARGODADI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 11 55

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS IV SDN 3 TALANG TELUK BETUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 7 47

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN REALISTIK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SUMUR PUTRI TELUK BETUNG UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 16 40

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SUKABUMI BANDAR LAMPUNG

0 6 35

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS DI KELAS IV SD NEGERI 5 TALANG TELUK BETUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh

0 7 40

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE INQUIRY PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS IV SD NEGERI 3 MARGADADI TAHUN 2012/2013

3 25 35

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE SCRAMBLE SISWA KELAS IV B SD NEGERI 5 METRO PUSAT

0 10 68

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3872 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1029 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 621 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1319 23