PENERAPAN PIDANA MATI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA (Studi Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK)

PENERAPAN PIDANA MATI TERHADAP PELAKU TINDAK
PIDANA NARKOTIKA
(Studi Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK)
(Skripsi)

Oleh
RIDO THAMRIN PURBA
0812011269

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DEATH PENALTY APPLICATION BUSINESS CRIME AGAINST
NARCOTICS
(Study of PT Tanjung Karang Decision No. 138 / PID / 2012 / PT.TK)

ABSTRACT
Under Law No. 35 of 2009 on Narcotics, narcotics criminal death penalty can be
imposed. The death penalty has been considered in accordance with the crimes
committed by criminal narcotics. As an example of the application of the death
penalty against criminals, as was done by the Council of State Court Judges Kalianda
and High Court Tanjung Karang to convict Away aka Ping Leong Kim (39 years)
Malaysian citizens. In respect of the above description, researchers interested in
conducting research with the problem: What is the basic consideration of the judge in
applying the death penalty against narcotics criminals and Is the judge in applying the
factors supporting the death penalty against narcotics criminals. This study uses a
normative approach and empirical juridical approach. The results showed that the
research and discussion: Basic considerations judges in imposing capital punishment
to the perpetrators of the crime of narcotics as the Cape Coral High Court Decision
No. 138/PID/2012/PT. TK, the rule of law is violated, the facts of the trial, and the
number of narcotic evidence types or classes of drugs, the perpetrator motives,
attitudes and behavior of players during the trial, the impact of the actions of these
actors and civic actors who are foreign citizens (WNA). Factors supporting the judge
in applying the death penalty against narcotics is criminal law factors, namely the
laws and regulations in Indonesia as stipulated in Law No. 35 of 2009 on Narcotics
arranging the death penalty for the crime of narcotics; community factors, the
majority of Indonesian people reject illicit trafficking and abuse of narcotic drugs and
narcotics wanted criminals severely punished; and the number of narcotic evidence.
Keywords: death penalty, criminal offenses and narcotics

Rido Thamrin Purba

ABSTRAK

PENERAPAN PIDANA MATI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA
NARKOTIKA
(Studi Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK)
Oleh
Rido Thamrin Purba

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pelaku
tindak pidana narkotika dapat dijatuhkan pidana mati. Pidana mati sudah dianggap
sesuai dengan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana narkotika,
terutama yang skalanya sudah besar. Sebagai contoh penerapan pidana mati
terhadap pelaku tindak pidana sebagaimana yang dilakukan oleh Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Kalianda dan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang terhadap
terpidana Leong Kim Ping alias Away (39 tahun) warga negara Malaysia.
Berdasarkan hal ini, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan
permasalahan sebagai berikut: 1) Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim
dalam menerapkan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika? 2)
Apakah faktor pendukung hakim dalam menerapkan pidana mati terhadap pelaku
tindak pidana narkotika?
Penulisan skripsi ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dan
yuridis empiris. Sumber berasal dari studi kepustakaan dan hasil wawancara
dengan jaksa pada Kejaksaan Tinggi Lampung, Hakim pada Pengadilan Tinggi
Tanjungkarang dan dosen Fakultas Hukum Unila. Data kemudian diolah melalui
proses klasifikasi data, editing, interpretasi, dan sistematisasi. Data yang telah
diolah kemudian akan dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan: 1) Dasar pertimbangan hakim
dalam menjatuhkan pidana mati kepada pelaku tindak pidana narkotika
sebagaimana dalam Putusan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang No.
138/PID/2012/PT. TK, yaitu aturan hukum yang dilanggar, fakta-fakta
persidangan, jumlah barang bukti narkotika dan jenis atau golongan narkotika,
motif pelaku, sikap dan prilaku pelaku selama persidangan, dampak dari
perbuatan pelaku tersebut dan kewarganegaraan pelaku yang merupakan warga
negara asing (WNA). 2) Faktor pendukung hakim dalam menerapkan pidana mati
terhadap pelaku tindak pidana narkotika adalah faktor undang-undang, yaitu
ketentuan perundang-undangan di Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-

Rido Thamrin Purba

Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur pidana mati bagi
pelaku tindak pidana narkotika; faktor masyarakat, yaitu mayoritas masyarakat
Indonesia menolak peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dan
menginginkan pelaku tindak pidana narkotika dihukum berat; dan jumlah barang
bukti narkotika.
Kata kunci: pidana mati, tindak pidana dan narkotika

PENERAPAN PIDANA MATI TERHADAP PELAKU TINDAK
PIDANA NARKOTIKA
(Studi Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK)

Oleh:
RIDO THAMRIN PURBA
0812011269

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 28 November 1989,
yang merupakan putra kedua dari dua bersaudara pasangan
Bapak M. Purba dan Ibu R. Nainggolan. Penulis menyelesaikan
studi pendidikan Sekolah Dasar di SD Yos Sudarso lulus pada
tahun 2002. Penulis melanjutkan studi di SMPN 1 Terbanggi
Besar lulus pada tahun 2005, kemudian melanjutkan studi di SMAN 1 Terbanggi
Besar lulus pada tahun 2008.

Penulis pada tahun 2008 diterima dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN. Penulis pada tahun 2013 mengikuti
kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rejomulyo, Kecamatan Abung Timur,
Kabupaten Lampung Utara.

PERSEMBAHAN

Dengan Segenap rasa syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas semua nikmat, hikmat dan
anugrah-NYA
Sebagai wujud ungkapan rasa cinta, kasih, dan kasih sayang serta bakti yang tulus
kupersembahkan karya kecil ini teruntuk;

Kedua orang tuaku tercinta yang terus berjuang tanpa lelah, menyayangi dengan tulus ikhlas
tanpa mengharap balasan dan senantiasa berdoa untuk kebahagiaan dan masa depan anaknya.

Keluarga ku tercinta Abang Yoseph, Kak Yoseph, serta keponakan ku Yoseph Curtis Kalpika
Purba yang senantiasa memberikan dukungan, doa dan semangat.

Almamater tercinta

MOTTO

“Hidup ini Seperti jalan yang berliku tidak lurus dan mulus , banyak
penghalang yang menghadang. Jangan buat jalan liku itu sebagai penghadang
kita mencapai kesuksesan, Tetap semangat”
(Rido Thamrin Purba)
“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau lain waktu.
Diri kitalah yang ditunggu-tunggu, diri kitalah perubahan yang kita tunggu”
(Barack Hussein Obama)
“Ketika pintu tertutup pintu lain akan terbuka,namun terkadang kita terlalu
lama melihat dan menyesali pintu tertutup itu, sehingga kita tidak melihat pintu
lain yang telah terbuka”
(Dr.Hamzah,.S.H.M.H.)

SANWACANA

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang senantiasa
melimpahkan berkat dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini. dengan judul ”Penerapan Pidana Mati Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Narkotika (Studi Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK)” adalah
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Lampung.

Penulis dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung;
2. Ibu Diah Gustiniati, S.H., M.H. selaku Ketua Jurusan Bagian Hukum Pidana dan
Pembimbing I yang telah memberikan saran dan masukan yang bermanfaat di
dalam perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Lampung;
3. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H. selaku Pembimbing II yang telah sabar memberi
saran dan masukan yang bermanfaat guna perbaikan skripsi ini dan penyelesaian
studi;
4. Bapak Dr. Maroni, S.H., M.H. selaku Pembahas I yang telah membantu
memberikan saran dan masukan sehingga penulisan skripsi ini lebih baik dan
bermanfaat;
5. Bapak A. Irzal Fardiansyah, S.H., M.H. selaku Pembahas II yang yang telah
memberi masukan guna perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini;

6. Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan wawasan
dan

cakrawala

pengetahuan

ilmu

hukum

yang

sangat

berguna

bagi

pengembangan wawasan penulis;
7. Bapak Prof.Dr.I Gede Arya Bagus Wiranata,S.H.,M.H. selaku Pembimbing
Akademik yang telah memberikan nasehat dan bantuannya selama proses
perkuliahan;
8. Bapak dan Ibu seluruh Dosen, Staf dan Karyawan Fakultas Hukum Universitas
Lampung, terimakasih atas ilmu yang telah diberikan selama proses perkuliahan;
9. Teristimewa Kedua orang tuaku yang luar biasa kucintai dan kusayangi Bapak
ku M.Purba dan Ibu ku R.Nainggolan mendukung, mendoakan, memberi
motivasi dan ssemangat, serta selalu memberikan kasih saying dan ketenangan
bagi penulis, sampai menjadi seorang Sarjana Hukum, kupersembahkan karya
kecil ini sebagai tanda baktiku Semoga Tuhan memberikan karunia-Nya kepada
kalian hingga akhir kelak;
10. Keluarga yang ku sayangi dan kubanggakan, abangku Amani Yosef, Kaka ipar
ku Kak yosef, Serta Ponakanku Yosef, lae ku Rido Liferson Simamora, Kak
Roma br.siregar, lae Natal Nainggolan, Lae Jos Five Nainggolan, Kak tina, uda
Vani dan masih banyak lagi yang tidak bisa di sebutkan oleh penulis terimakasih
banyak atas semangat, perhatian, doa dan dukungan yang diberikan. Tuhan
Memberkati.

11. Hasian ku yang kusayangi Yohana Mitra Sari br. Sidabalok, terima kasih buat
doa, dukungan dan kasih sayang yang udah hasian berikan, I love you ‘ny.

12. Teman-teman seperjuangan di fakultas hukum, Doni saputra (saridon), M.Rizky
Widiarto, Nopi Irawan, Yogi Aprianto, Sulish, Tomy prayoga, Zaenal Rachmat,
Doni Pedrosa, Wahbi Rachmat, Riky Anggara, Riky Kobum, Chandra Surya T,
Wahyu Santoso, Windy Agung Pranata, Novrendi, Rio, Denny Uyeah, Richad
Carry Sagala, Pantun Halomoan Sitompul, Frenco Wiliander Sitanggang, selama
masa kuliah yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak
membantu baik dalam suka maupun duka.
13. Saudara Gerobak Pasir, Adatua Simbolon, Bobby Debataraja, Ivo Simanjuntak,
Marcel Cio, Josua Tampubolon, Olfredo Sitorus, Richad Simanungkalit, Ricko
Sihaloho, Rizal Sinurat, Sanggam Simanullang, Saut Lumban Gaol, William
Sihombing, Yuri Simatuppang, Rizal Sitorus, Wetson Rumahorbo dan banyak
lagi tidak bisa di sebutkan satu persatu, terimakasih atas kebersamaan kalian
selama di Fakultas Hukum Unila, Mungkin di lain hari kita berjumpa kembali.
Amin.
14. Sahabat-sahabat forum Mahasiswa Hukum Kristen 2008-seterusnya, Himpunan
Mahasiswa Lampung Tengah, Himpunan Mahasiswa Islam yang tidak biasa saya
sebutkan terimakasih atas doa dan kebersamaanya
15. Sahabat Kosan imut, Bung Andi , Febri, Jimmy, Amri, Gandi, Chun, Didi,
Anggi, Fiki (cah gemblong), terimakasih atas persahabatan dan kebersamaan
kalian.
16. Rekan-rekan KKN, Anwar, Suryadi, Billy, Chatrina, Navin, Wildan, rangga,
Rudi, Mbek, mbak Mey, Bagus, Chintia, terimakasih atas kebersamaannya di
Des.Rejomulyo Lampura.

17. Rekan-rekan Takasan sejawat, Christ Bornok P Sidabutar, Ari mugabe Sidabutar,
Galiong Angkat jemuran, Fransisco Gultom, Pak Diego sinaga, David sijabat,
Mantolet Purba, Hotman Pasaribu, Taun, Okek, Irvan, Andi ladur, King Sirait,
Goris Sirait, Patkay, Raup, terimakasih atas Perdebatan dan ketidak
warasannya.Tuhan memberkati.
18. Seluruh pihak yang meemberikan bantuan semangat dan dorongan dalam
penyusunan skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis berdoa semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari
Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat
bagi kita semua di bidang hukum demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa
Indonesia.Amiin.

Bandar Lampung, 23 Oktober 2014
Penulis

Rido Thamrin Purba

DAFTAR ISI

Halaman
I. PENDAHULUAN ..................................................................................

1

A. Latar Belakang ...................................................................................

1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian ...................................

5

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .......................................................

6

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual.....................................................

7

E. Sistematika Penulisan .........................................................................

14

II. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................

16

A. Konsep Pemidanaan Dalam Hukum Pidana ......................................

16

B. Tindak Pidana Narkotika....................................................................

19

C. Kewenangan Hakim Dalam Menentukan dan Menjatuhkan
Putusan Pidana ...................................................................................

21

D. Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Pidana ....

22

E. Ketentuan Pidana Mati Dalam Hukum Pidana...................................

27

III. METODE PENELITIAN ..................................................................

31

A. Pendekatan Masalah...........................................................................

31

B. Sumber dan Jenis Data .......................................................................

31

C. Penentuan Nara Sumber .....................................................................

33

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data....................................

33

E. Analisis Data.......................................................................................

34

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................

35

A. Karakteristik Responden ....................................................................

35

B. Gambaran Umum Putusan Pengadilan Tinggi
Tanjungkarang Nomor:138/Pid./2012/PT.TK ...................................

37

C. Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menerapkan Pidana Mati
Terhadap Pelaku Tindak Pidana Narkotika Narkotika ......................

44

D. Faktor Pendukung Dalam Menerapkan Pidana Mati Terhadap
Pelaku Tindak Pidana Narkotika Narkotika.......................................

66

V. PENUTUP .............................................................................................

70

A. Simpulan ............................................................................................

70

B. Saran ...................................................................................................

71

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan jumlah populasi penduduk Indonesia yang sangat besar, melebihi
angka 220 juta penduduk ini tentu membuat Indonesia menjadi sasaran peredaran
gelap narkotika. Indonesia yang pada awalnya hanya sebagai tempat persinggahan
lalu lintas perdagangan narkotika, dikarenakan lokasinya yang strategis, namun
lambat laun para pengedar gelap narkotika ini mulai menjadikan Indonesia
sebagai pasar yang sangat potensial bagi para pelaku untuk mengedarkan
narkotika. Indonesia saat ini mulai bertransformasi, tidak hanya sebagai tempat
peredaran narkotika namun juga sudah menjadi tempat menghasilkan narkotika,
terbukti dengan ditemukannya beberapa laboratorium narkotika di wilayah
Indonesia. Persoalan ini tentu menjadi masalah yang sangat serius, yang pada
akhirnya dapat menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban nasional.

Peredaran narkotika di Indonesia terindikasi dikendalikan jaringan internasional.
Sebab hampir 70 persen narkotika yang beredar di dalam negeri merupakan
kiriman dari luar negeri. Selain itu, kurangnya penegakan hukum menjadikan
produsen narkotika luar negeri tertarik masuk ke Indonesia.1 Penyalahgunaan
narkotika ini dapat menyebabkan ketergantungan, mengganggu sistem syaraf
1

http://www.pkni.org/peredaran-narkotika-di-indonesia-dikendalikan-jaringan-internasional/,
diakses tanggal 14 Oktober 2013

2

pusat dan dapat menyebabkan gangguan fisik, jiwa, sosial dan keamanan.
Kerugian yang ditimbulkan juga sangatlah besar. Kerugian terhadap pribadi
sendiri dapat terlihat dari perubahan perilakunya, yang awalnya normal menjadi
lebih pemurung, pemarah, tidak peduli dengan sekitar hingga akhirnya akan
menyakiti diri pemakai atau pengguna narkotika akibat gejala ketergantungan.

Selain itu juga kecenderungan akan mengidap penyakit menular berbahaya akibat
mengkonsumsi narkotika ini juga menjadi semakin besar. Bagi keluarga selain
berdampak pada kerugian ekonomi, korban penyalahgunana narkotika ini secara
tidak langsung telah mencoreng nama baik keluarga di mata masyarakat,
kehidupan sosialnyapun akan ikut terganggu, korban penyalahgunana narkotika
ini akan cenderung untuk melanggar nora yang berlaku di masyarakat sehingga
memungkinkan dirinya untuk melakukan tindakan melawan hukum hanya untuk
memenuhi hasratnya untuk kembali mengonsumsi narkotika seperti mencuri,
merampok bahkan hingga membunuh sekalipun. Kerugian yang akan diterima
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah semakin rusaknya genersi muda
penerus bangsa yang akan mebuat bangsa ini mengalami kemunduran yang bisa
mengancam kestabilan nasional.

Tindak pidana narkotika merupakan tindak pidana khusus. Sebagaimana tindak
pidana khusus, hakim diperbolehkan untuk menghukum dua pidana pokok
sekaligus, pada umumnya hukuman badan dan pidana denda. Hukuman badan
berupa pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara. Tujuannya agar
pemidanaan itu memberatkan pelakunya supaya kejahatan dapat ditanggulangi di

3

masyarakat, karena tindak pidana narkotika sangat membahayakan kepentingan
bangsa dan negara.2

Hukum Nasional Indonesia telah mengatur segala yang berhubungan dengan
narkotika dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika telah mengatur tentang
ketentuan pidana bagi siapa saja yang dapat dikenakan pidana beserta denda yang
harus ditanggung oleh penyalahguna narkotika atau dapat disebut sebagai pelaku
perbuatan pidana narkotika. Masyarakat umum banyak yang mengira bahwa
hukuman yang dijatuhkan pada pelaku perbuatan pidana narkotika itu sama,
padahal dalam undang-undang narkotika sendiri tidak membedakan pelaku
perbuatan pidana narkotika beserta sanksi yang berbeda pula.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pelaku
tindak pidana narkotika dapat dijatuhkan pidana mati. Pidana mati sudah dianggap
sesuai dengan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana narkotika,
terutama yang skalanya sudah besar. Pidana mati merupakan suatu upaya yang
radikal untuk meniadakan orang-orang yang tak dapat diperbaiki lagi, dan dengan
adanya pidana mati ini maka hilanglah pula kewajiban untuk memelihara mereka
dalam penjara-penjara yang demikian besarnya.3

Penerapan pidana mati oleh hakim terhadap pelaku tindak pidana narkotika
merupakan hal yang tepat. Sebagai contoh penerapan pidana mati terhadap pelaku
tindak pidana sebagaimana yang dilakukan oleh Majelis Hakim Pengadilan

2

Gatot Supramono. Hukum Narkotika Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2004), Hlm. 93
Andi Hamzah, dkk, Pidana Mati di Indonesia di Masa Lalu, Kini dan di Masa Depan. (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1984), Hlm. 27

3

4

Negeri Kalianda dan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang terhadap terpidana
Leong Kim Ping alias Away (39 tahun) warga negara Malaysia. Leong Kim Ping
alias Away, warga negara Malaysia, yang merupakan terdakwa kasus kepemilikan
45 kilogram sabu-sabu dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN)
Kalianda. Terdakwa Leong Kim Ping alias Away didakwa telah melakukan
permufakatan jahat secara tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk
dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar,
menyerahkan atau menerima Narkotika Golongan I bukan tanaman yang beratnya
melebihi 5 (lima) gram. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam
pidana dalam Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Atas putusan pidana mati yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Kalianda
tersebut, Terdakwa Leong Kim Ping mengajukan permohonan banding di
Pengadilan Tinggi Tanjungkarang. Upaya banding yang diajukan ditolak oleh
Pengadilan Tinggi (PT) Tanjung Karang berdasarkan surat putusan banding dari
PT Tanjung Karang No. 138/Pid/2012/PT.TK tanggal 3 September 2012,
menguatkan putusan PN Kalianda No: 94/Pid.B/2012/PN.KLD tanggal 17 Juli
2012.4

Selanjutnya, terdakwa juga mengajukan upaya kasasi, namun, upaya kasasi
terdakwa juga ditolak oleh MA. Leong Kim Ping terbukti melanggar Pasal 114
ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang
4

http://lampost.co/berita/ma-kuatkan-pn-kalianda-vonis-mati-warga-malaysia-, diakses tanggal 01
Oktober 2013

5

Narkotika dan Pasal 112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35
Tahun 2009 tentang Narkotika. Tertangkapnya Leong Kim Ping merupakan hasil
pengembangan pihak kepolisian yang sebelumnya menangkap Andy Yams (vonis
seumur hidup) di areal Seaport Interdiction Pelabuhan Bakauheni.5

Saat itu bus SAN BM-7086-LU dilakukan penggeledahan oleh anggota
Satnarkotika dan ditemukan kardus bekas rokok. Setelah dibuka, kardus tersebut
berisi paket sabu-sabu seberat 45 kilogram. Hasil pengembangan, Leong Kim
Ping yang saat itu mengendarai Toyota Avanza hitam G-6412-HP ditangkap di
Jakarta. Dari mobil pelaku, polisi menemukan 1.700 butir pil ekstasi warna hijau.
Kemudian dari tempat menginap yang bersangkutan di Apartemen Central Park,
polisi juga menemukan 210 buti pil ekstasi, satu paket kecil sabu-sabu berikut
peralatan yang digunakan untuk menyabu.6

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul, “Penerapan Pidana Mati Terhadap Pelaku Tindak Pidana Narkotika (Studi
Putusan PT Tanjung Karang No. 138/PID/2012/PT. TK).”

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Permasalahan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah:

5

http://lampost.co/berita/ma-kuatkan-pn-kalianda-vonis-mati-warga-malaysia-, diakses tanggal 01
Oktober 2013
6
Ibid.

6

a. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menerapkan
pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika?
b. Apakah faktor pendukung dalam menerapkan pidana mati terhadap pelaku
tindak pidana narkotika?

2. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian bidang Hukum Pidana pada
umumnya dan khususnya mengenai penerapan pidana mati terhadap pelaku tindak
pidana narkotika. Penelitian dilakukan pada Pengadilan Tinggi Tanjung Karang
pada tahun 2014.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah:
a. Mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menerapkan pidana mati
terhadap pelaku tindak pidana narkotika.
b. Mengetahui faktor pendukung dalam menerapkan pidana mati terhadap
pelaku tindak pidana narkotika.

2. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, kegunaan penelitian ini, yaitu:
a. Kegunaan teoritis, yaitu berguna sebagai sumbangan pemikiran dalam
upaya pengembangan wawasan pemahaman di bidang ilmu Hukum

7

Pidana, khususnya mengenai penerapan pidana mati terhadap pelaku
tindak pidana narkotika.
b. Kegunaan praktis, yaitu memberikan masukan kepada aparat penegak
hukum khususnya hakim dalam dalam menerapkan pidana mati terhadap
pelaku tindak pidana narkotika.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis adalah konsep yang merupakan abstraksi dari hasil pemikiran
atau kerangka acuan yang ada pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan
identifikasi terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti.7

Suatu perbuatan tidak dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila belum ada
ketentuan undang-undang terlebih dahulu. Prinsip ini dalam hukum pidana
dikenal sebagai asas legalitas yang menjadi asas utama hukum pidana. Asas
legalitas ini berasal dari bahasa Latin yaitu: “nullum delictum, nulla poena sine
praevia lege poenali”, yang secara harfiah artinya adalah: “Tiada suatu perbuatan
dapat dipidana, kecuali telah ditentukan terlebih dahulu dalam undang-undang”.
Asas legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, yaitu “tiada suatu perbuatan
dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan
yang pernah ada, sebelum perbuatan dilakukan”.

Pengertian pidana telah dijelaskan oleh beberapa ahli hukum pidana. Menurut
Roeslan Saleh8, pidana adalah reaksi atas delik dan ini berupa suatu nestapa yang
7

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), Hlm. 125

8

dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik itu. Pada hakekatnya
hukum pidana dilihat dari 2 (dua) segi, yaitu:9
1. Segi prevensi, yaitu bahwa hukum pidana adalah hukum sanksi suatu
upaya untuk dapat mempertahankan kelestarian hidup bersama dengan
melakukan pencegahan kejahatan.
2. Segi pembalasan, yaitu bahwa hukum pidana sekaligus merupakan pula
penentuan hukum, merupakan koreksi diri dan reaksi atas sesuatu yang
bersifat tidak hukum.

Tujuan pidana tersebut di atas adalah pemberian perlindungan terhadap
masyarakat dan pembalasan atas perbuatan hukum. Pidana tersebut juga
diharapkan sebagai sesuatu yang akan membawa kerukunan dan pidana adalah
suatu proses pendidikan untuk menjadikan orang dapat diterima kembali dalam
masyarakat. Setiap tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya
harus mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya
sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Hal ini juga berlaku untuk
pelaku tindak pidana narkotika yang tergolong dalam kejahatan luar biasa
(extraordinary crime).

Tingkat penyalahgunaan narkotika yang tiap tahun cenderung meningkat dan
membahayakan stabilitas nasional, sehingga untuk mengatasinya membutuhkan
upaya penanggulangan yang lebih tepat dan tegas oleh aparat penegak hukum.
Tindak pidana narkotika sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur ketentuan-ketentuan jenis-jenis pidana,
batas maksimun dan minimum lamanya pemidanaan. Salah satunya pidana yang
dapat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana narkotika adalah pidana mati.

8

Roeslan Saleh. Stelsel Pidana Indonesia, (Jakarta: Aksara Baru, 1978), Hlm. 8
Barda Nawawi Arif, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bhakti,
Bandung, 2002), Hlm. 22

9

9

Penerapan atau penjatuhan putusan pidana mati terhadap pelakunya tidak terlepas
dari pertimbangan hakim yang memeriksa dan memutus perkara penyalahgunaan
narkotika tersebut.

Hakim berdasarkan undang-undang memiliki kebebasan untuk menjatuhkan
pidana terhadap seseorang. Kebebasan hakim itu bukan berarti dalam menetukan
batas maksimum dan minimum tersebut bebas mutlak melainkan juga harus
melihat pada hasil pemeriksaan di sidang pengadilan dan tindak pidana apa yang
dilakukan seseorang serta keadaan-keadaan atau faktor-faktor apa saja yang
meliputi perbuatannya tersebut.

Hakim mempunyai peran yang penting dalam penjatuhan pidana, meskipun hakim
memeriksa perkara pidana di persidangan dengan berpedoman pada hasil
pemeriksaan yang dilakukan pihak kepolisian dan dakwaan yang diajukan oleh
Jaksa Penuntut Umum. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa hakim bebas dalam menjatuhkan
putusan, namun Pasal 50 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman menentukan hakim dalam memberikan putusan harus
memuat alasan-alasan dan dasar-dasar putusan itu, juga harus memuat pula pasalpasal tertentu dari peraturan-peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tak
tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

Hakim sebelum menjatuhkan putusan, terlebih dahulu harus mempertimbangkan
mengenai salah tidaknya seseorang atau benar atau tidaknya suatu peristiwa dan

10

kemudian memberikan atau menentukan hukumannya. Menurut Sudarto 10, hakim
memberikan keputusannya mengenai hal-hal berikut:
a. Keputusan mengenai peristiwa, ialah apakah terdakwa telah melakukan
perbuatan yang dituduhkan kepadanya;
b. Keputusan mengenai hukumannya, ialah apakah perbuatan yang dilakukan
terdakwa itu merupakan suatu tindak pidana dan apakah terdakwa bersalah
dan dapat dipidana;
c. Keputusan mengenai pidananya, apabila terdakwa memang dapat
dipidana.

Hakim berdasarkan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman dalam proses peradilan pidana berperan sebagai pihak yang
memberikan pemidanaan dengan tidak mengabaikan hukum atau norma serta
peraturan yang hidup dalam masyarakat, sebagaimana diatur dalam Pasal 5
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang
menyatakan bahwa Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dan berkembangan
dalam masyarakat.

Penjatuhan pidana merupakan kekuasaan dari hakim, akan tetapi hakim dalam
menjatuhkan pidana wajib berpegangan pada alat bukti yang mendukung
pembuktian dan keyakinannya. Pasal 183 KUHAP menentukan bahwa hakim
tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.

10

Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat Kajian Terhadap Pembaharuan
Hukum Pidana. (Bandung: Sinar Baru, 1986), Hlm. 84

11

Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana
harus berdasarkan aturan atau ketentuan yang diatur dalam KUHAP. Pasal 183
KUHAP tersebut menentukan harus memenuhi dua persyaratan yaitu dua alat
bukti sah yang ditentukan secara limitatif di dalam undang-undang dan apakah
atas dasar dua alat bukti tersebut timbul keyakinan hakim akan kesalahan
terdakwa. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 menegaskan tugas hakim
adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, sehingga
putusannya mencerminkan rasa keadilan rakyat Indonesia. Pasal 24 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman
merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 menjamin kebebasan hakim dalam
menjatuhkan putusan, hakim selain mempunyai kebebasan dalam menentukan
jenis pidana (strafsoort), ukuran pidana atau berat ringannya pidana (strafmaat)
dan cara pelaksanaan pidana (straf modus). Hakim juga memiliki kebebasan untuk
menemukan hukum (rechatsvinding) terhadap peristiwa yang tidak diatur dalam
undang-undang.

Tugas hakim adalah menjatuhkan putusan yang mempunyai akibat hukum bagi
pihak lain. Hakim tidak dapat menolak menjatuhkan putusan apabila perkaranya
sudah mulai diperiksa. Bahkan perkara yang telah diajukan kepadanya tetapi
belum mulai diperiksa tidak mungkin hakim menolaknya.11 Putusan yang
dijatuhkan oleh hakim harus sesusai dengan tujuan dari hukum. Secara teoritis,
11

Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo. Bab-Bab tentang Penemuan Hukum, (Bandung: Citra
Aditya Bakti, 1993), Hlm. 40

12

terdapat tiga tujuan hukum, yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Keadilan
dapat dikatakan sebagai tujuan utama yang bersifat universal.

Pandangan utilities melihat pidana dari segi manfaat atau kegunaannya. Menurut
pandangan ini pemidanaan harus mempunyai sifat prevensi, baik prevensi umum
maupun prevensi khusus. Pandangan utilities menyatakan bahwa pidana yang
dijatuhkan dimaksudkan untuk memperbaiki sikap dan perilaku pelaku tindak
pidana agar tidak mengulang perbuatannya (prevensi khusus), di samping
dimaksud juga untuk mencegah orang lain dari kemungkinan melakukan
perbuatan yang serupa (prevensi umum). Atas dasar ini, hakim dalam menerapkan
pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika harus mempertimbangkan
dahulu kesalahan yang dilakukan oleh pelaku.

Penerapan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika dapat didukung
oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga
dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Menurut
Soerjono Soekanto12 faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktor hukumnya sendiri.
2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
menerapkan hukum.
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegak hukum.
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau
diterapkan.
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Faktor-faktor penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto tersebut di atas
merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan dan dapat mempengaruhi
12

Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta, Raja
Grafindo Persada: 2007), Hlm. 5

13

penerapan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana khususnya tindak pidana
narkotika.

2. Konseptual
Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsepkonsep khusus yang merupakan arti-arti yang berkaitan dengan istilah yang ingin
diteliti atau diketahui.13 Adapun batasan pengertian dan istilah yang ingin
dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah:
a. Analisis berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pencarian
jalan keluar (pemecahan masalah) yang berangkat dari dugaan akan
kebenarannya. Analisis juga dapat diartikan sebagai penguraian suatu pokok
atas berbagai bagiannya atau penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan
antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat serta pemahaman
makna keseluruhan.
b. Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan
hukuman pidana.14
c. Pidana mati adalah jenis pidana pokok terberat yang diatur dalam Pasal 10
KUHP yang pelaksanaannya berupa perampasan kehidupan seseorang sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.15
d. Narkotika berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sitensis maupun semi sitensis maupun semi sintesis yang

13

Soerjono Soekanto. Op. cit. 1986. Hlm. 124
Wirjono Prodjodikoro, Tindak-tindak Pidana Tertentu Di Indonesia. (Bandung: Refika Aditama,
2010), Hlm. 55
15
http://areiinlander.blogspot.com/2010/11/hukum-pidana-mati-dalam-perspektif-ham.html?m=1,
diakses tanggal 10 Desember 2014
14

14

dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.

E. Sistematika Penulisan

Peneliti dalam melakukan penulisan skripsi ini, menggunakan sistematika sebagai
berikut:
I. PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang permasalahan, ruang lingkup
dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka teoritis
dan konseptual serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan tentang landasan teori yang nantinya akan sangat
membantu dalam analisis hasil-hasil penelitian yang mencakup: .

III.METODE PENELITIAN
Bab ini diuraikan metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini,
yaitu tentang langkah-langkah atau cara yang dipakai dalam penelitian
yang memuat tentang pendekatan masalah, sumber dan jenis data,
penentuan nara sumber, prosedur pengumpulan dan pengolahan data, serta
analisis data.

15

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan analisis data dan pembahasan atas hasil pengolahan
data. Pembahasan tersebut mengenai dasar pertimbangan hakim dalam
menerapkan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika dan
faktor pendukung hakim dalam menerapkan pidana mati terhadap pelaku
tindak pidana narkotika.
V. PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan dan saran
yang dianggap perlu sebagai masukan bagi pihak-pihak yang terkait.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pemidanaan Dalam Hukum Pidana

Sistem pemidanaan (the sentencing system) adalah aturan perundang-undangan
yang berhubungan dengan sanksi dan pemidanaan.1 Menurut Barda Nawawi
Arief, apabila pengertian pemidanaan diartikan secara luas sebagai suatu proses
pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim, maka dapatlah dikatakan bahwa
sistem pemidanaan mencakup keseluruhan ketentuan perundang-undangan yang
mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalkan secara
konkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum pidana). Ini berarti semua
aturan perundang-undangan mengenai Hukum Pidana Substantif, Hukum Pidana
Formal dan Hukum Pelaksanaan Pidana dapat dilihat sebagai satu kesatuan sistem
pemidanaan.2

Selanjutnya dikemukakan Barda Nawawi Arief, bertolak dari pengertian di atas,
maka apabila aturan aturan perundang-undangan (the statutory rules) dibatasi
pada hukum pidana substantif yang terdapat dalam KUHP, dapatlah dikatakan
bahwa keseluruhan ketentuan dalam KUHP, baik berupa aturan umum maupun
aturan khusus tentang perumusan tindak pidana, pada hakekatnya merupakan satu
kesatuan sistem pemidanaan.3

1
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: CitraAditya Bhakti,
2002), Hlm. 123
2
Barda Nawawi Arief, Op. cit. Hlm 129
3
Barda Nawawi Arief, Op. cit. Hlm 130

17

Keseluruhan peraturan perundang-undangan (statutory rules) di bidang hukum
pidana substantif tersebut terdiri dari aturan umum (general rules) dan aturan
khusus (special rules). Aturan umum terdapat di dalam KUHP (Buku I), dan
aturan khusus terdapat dalam KUHP Buku II dan Buku III, maupun dalam
Undang-Undang Khusus di luar KUHP. Aturan khusus tersebut pada umumnya
memuat perumusan tindak pidana tertentu, namun dapat pula memuat aturan
khusus yang menyimpang dari aturan umum.4

Pada dasarnya masalah penjatuhan pidana atau pemidanaan dibagi atas dua teori.
Teori ini biasa disebut teori pemidanaan. Dua teori yang biasa dipakai sebagai
bahan rujukan mengenai tujuan pemidanaan, adalah:
1. Teori Retribution atau teori pambalasan; dan
2. Teori Utilitarian atau teori tujuan.5

Teori retribution atau teori pembalasan ini menyatakan bahwa pemidanaan
memiliki beberapa tujuan. Tujuan dari pemidanaan tersebut, yaitu:
1. Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan;
2. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak mengandung
sarana-sarana untuk tujuan lain misalnya untuk kesejahteraan masyarakat;
3. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana;
4. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar;
5. Pidana melihat ke belakang, merupakan pencelaan yang murni dan
tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik, atau memasyarakatkan
kembali si pelanggar.6
Berbeda dengan teori retribution atau teori pembalasan, teori utilitarian
menyatakan bahwa pemidanan memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Pencegahan (prevention);

4

Ibid, Hlm. 136
Muladi dan Barda Nawawi Arief. Bunga Rampai Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1998),
Hlm. 17
6
Ibid. Muladi dan Barda Nawawi Arief. Hlm. 19
5

18

2. Pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sebagai sarana untuk
mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan manusia;
3. Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada
pelaku saja (misalnya karena sengaja atau culpa) yang memenuhi syarat
untuk adanya pidana;
4. Pidana harus ditetapkan berdasar tujuannya sebagai alat untuk pencegahan
kejahatan;
5. Pidana melihat ke muka (bersifat prospektif) pidana dapat mengandung
unsur pencelaan tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan
tidak dapat diterima apabila tidak membantu pencegahan kejahatan untuk
kepentingan kesejahteraan masyarakat.7

Kedua teori di atas, baik teori retribution maupun teori utilitarian pada dasarnya
adalah sama-sama memberikan sanksi pidana/hukuman terhadap penjahat atau
pelanggar hukum, hanya saja sifat yang dimiliki antara kedua teori itu yang
membedakannya. Tujuan pemidanaan atau penghukuman di sini dimaksudkan
bukan hanya sekedar pemberian penderitaan dan efek jera kepada pelaku tindak
pidana, agar menjadi takut atau merasa menderita akibat suatu pembalasan
dendam terhadap konsekuensi perbuatannya, melainkan penderitaan yang
diberikan itu harus dilihat secara luas, artinya penderitaan itu merupakan obat
penyembuh bagi pelaku kejahatan agar dapat merenungkan segala kesalahannya
dan segera bertobat dengan sepenuh keyakinan untuk tidak mengulangi
perbuatannya lagi di masa yang akan datang.

B. Tindak Pidana Narkotika

7

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Op. cit. Hlm. 20-21

19

Pengertian narkotika dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika adalah tanaman papaver, opium mentah, opium masak, seperti candu,
jicing, jicingko, opium obat, morfina, tanaman koka, daun koka, kokain mentah,
kokaina, ekgonina, tanaman ganja, damar ganja, garam-garam atau turunannya
dari morfin dan kokain. Bahan lain, baik alamiah, atau sitensis maupun semi
sitensis yang belum disebutkan yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau
kokaina yang ditetapkan menteri kesehatan sebagai narkotika, apabila
penyalahgunaannya dapat menimbulkan akibat ketergantungan yang merugikan,
dan campuran-campuran atau sediaan-sediaan yang mengandung garam-garam
atau turunan-turunan dari morfina dan kokaina, atau bahan-bahan lain yang
alamiah atau olahan yang ditetapkan mentri kesehatan sebagai narkotika.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sitensis maupun semi sitensis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan

rasa

nyeri

dan

dapat

menimbulkan

ketergantungan.

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya
yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya
akan dapat melemahkan ketahanan nasional.

Narkotika dibedakan menjadi beberapa golongan berdasarkan tingkatannya.
Pembedaan ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika. Untuk masing-masing golongan memiliki karekteristik yang berbeda.
Tiga golongan narkotika berdasarkan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu:

20

a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
b. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/
atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
c. Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan.

Narkotika Golongan I merupakan narkotika yang paling berbahaya dan paling
banyak disalahgunakan. Narkotika Golongan I ini contohnya adalah heroin,
kokian dan shabu-shabu. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya
untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Sal;ah satunya
dengan membentuk dan mengesahkan undang-undang yang mengatur narkotika.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United Nation
Convention Against Illicit Traffic in Naarcotic Drug and Pshychotriphic
Suybstances 1988 atau pengesahan atas Konvensi PBB tentang Pemberantasan
Peredaran Gelap narkotika dan Psikotrapika tahun 1988, yang merupakan salah
satu langkah awal dari pemerintah dalam memberantas penyalahgunaan narkotika
di Indonesia.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 ini merupakan awal terbentuknya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Dalam perkembangannya,
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika tidak berhasil
memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia.
Ketentuan pidana dari undang-undang ini dinilai masih lemah. Atas dasar ini
kemudian pemerintah mencabut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang

21

Narkotika dan menggantikannya dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika merupakan suatu
upaya politik hukum pidana pemerintah Indonesia terhadap penanggulangan
tindak pidana narkotika yang semakin membahayakan stabilitas nasional dan
merupakan sumber perusak generasi muda. Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika diharapkan dapat menanggulangi peredaran gelap dan
penyalahgunaan narkotika di masyarakat, serta menjadi acuan dan pedoman
kepada penegak hukum, khususnya hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana
terhadap pelaku tindak pidana narkotika.

C. Kewenangan Hakim Dalam Menentukan dan Menjatuhkan Putusan
Pidana

Hakim yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengadili suatu perkara, yaitu
serangkaian tindakan untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana
berdasarkan asas bebas, adil dan tidak memihak pihak-pihak tertentu di sidang
pengadilan menurut cara yang telah diatur dalam undang-undang. Hakim sebelum
menjatuhkan putusan, terlebih dahulu harus mempertimbangkan mengenai salah
tidaknya seseorang atau benar atau tidaknya suatu peristiwa dan kemudian
memberikan

atau

menentukan

hukumannya.

Menurut

Sudarto8

hakim

memberikan keputusannya mengenai hal-hal sebagai berikut:
a. Keputusan mengenai peristiwa, ialah apakah terdakwa telah melakukan
perbuatan yang dituduhkan kepadanya;

8

Sudarto, Op. cit. Hlm. 84

22

b. Keputusan mengenai hukumannya, ialah apakah perbuatan yang dilakukan
terdakwa itu merupakan suatu tindak pidana dan apakah terdakwa bersalah
dan dapat dipidana;
c. Keputusan mengenai pidananya, apabila terdakwa memang dapat
dipidana.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman, hakim dalam proses peradilan pidana berperan sebagai pihak yang
memberikan pemidanaan dengan tidak mengabaikan hukum atau norma serta
peraturan yang hidup dalam masyarakat, sebagaimana diatur dalam Pasal 5
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang
menyatakan bahwa Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dan berkembangan
dalam masyarakat. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman menjamin kebebasan hakim dalam menjatuhkan putusan, hakim
selain mempunyai kebebasan dalam menentukan jenis pidana, ukuran pidana atau
berat ringannya pidana dan cara pelaksanaan pidana. Hakim juga memiliki
kebebasan untuk menemukan hukum (rechatsvinding) terhadap peristiwa yang
tidak diatur dalam undang-undang.

D. Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Pidana

Hakim dalam memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara, pertama kali
harus menggunakan hukum tertulis sebagai dasar putusannya, jika dalam hukum
tertulis tidak cukup, tidak tepat dengan permasalahan dalam suatu perkara, maka
barulah hakim mencari dan menemukan sendiri hukumnya dari sumber-sumber

23

hukum yang lain seperti yurisprudensi, dokrin, traktat, kebiasaan atau hukum
tidak tertulis.

Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman menentukan bahwa pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa,
mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada
atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”.
Ketentuan pasal ini memberi makna bahwa hakim sebagai organ utama
Pengadilan dan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman wajib hukumnya bagi
hakim untuk menemukan hukumnya dalam suatu perkara meskipun ketentuan
hukumnya tidak ada atau kurang jelas. Hakim dalam mengadili suatu perkara
yang diajukan kepadanya harus mengetahui dengan jelas tentang fakta dan
peristiwa yang ada dalam perkara tersebut. Majelis Hakim oleh karena itu,
sebelum menjatuhkan putusannya terlebih dahulu harus menemukan fakta dan
peristiwa yang terungkap dari terdakwa dan korban, serta alat-alat bukti yang
diajukan oleh para pihak dalam persidangan.

Terhadap hal yang terakhir ini, Majelis Hakim harus mengonstruksikan dan
mengkualifikasikan

peristiwa

dan

fakta

tersebut,

sehingga

ditemukan

peristiwa/fakta yang konkret. Setelah Majelis Hakim menemukan peristiwa dan
fakta secara obyektif, maka Majelis Hakim berusaha menemukan hukumnya
secara tepat dan akurat terhadap peristiwa yang terjadi itu. Jika dasar-dasar hukum
yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang berperkara kurang lengkap, maka
majelis hakim karena jabatannya dapat menambah/melengkapi dasar-dasar hukum
itu sepanjang tidak merugikan pihak-pihak yang berperkara.

24

Hakim menemukan hukum melalui sumber-sumber sebagaimana tersebut di atas,
jika tidak diketemukan dalam sumber-sumber tersebut maka ia harus mencarinya
dengan mernpergunakan metode interpretasi dan konstruksi. Metode interpretasi
adalah penafsiran terhadap teks undang-undang, masih tetap berpegang pada
bunyi teks itu, sedangkan metode konstruksi hakim mempergunakan penalaran
logisnya untuk mengembangkan lebih lanjut suatu teks undang-undang, dimana
hakim tidak lagi terikat dan berpegang pada teks itu, tetapi dengan syarat hakim
tidak mengabaikan hukum sebagai suatu sistem.

Putusan hakim dapat dikatakan baik, dan sempurna hendaknya putusan tersebut
dapat diuji dengan empat kriteria dasar pertanyaan yang berupa9:
1. Benarkah putusanku ini?
2. Jujurkah aku dalam mengambil keputusan?
3. Adilkah bagi pihak-pihak yang bersangkutan?
4. Bermanfaatkah putusanku ini?

Prakteknya walaupun telah bertitik tolak dari sikap-sikap seseorang hakim yang
baik, kerangka landasan berfikir/bertindak dan melalui empat buah titik
pertanyaan tersebut di atas maka hakim ternyata seorang manusia biasa yang tidak
luput dari kelalaian, kekeliruan/kehilafan (rechterlijk dwaling), rasa rutinitas,
kekurangan hati-hatian, dan kesalahan. Pada praktek peradilan, ada saja aspekaspek tertentu yang luput dan kerap kurang diperhatikan hakim dalam membuat
keputusan.

9

Lilik Mulyadi. Bunga Rampai Hukum Pidana: Perspektif, Teoritis, dan Praktik. (Bandung:
Alumni, 2008)

25

Pelaks

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1617 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 487 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 429 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 276 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23