Relationship Pattern Between Organization and Social Performance with Fishing Port Performance, Case Study in PPP Dadap Indramayu District

POLA HUBUNGAN ANTARA KINERJA ORGANISASI DAN
SOSIAL DENGAN KINERJA PELABUHAN PERIKANAN
STUDI KASUS DI PPP DADAP KABUPATEN INDRAMAYU

FATHUROHIM

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pola Hubungan Antara
Kinerja Organisasi dan Sosial dengan Kinerja Pelabuhan Perikanan, Studi Kasus
Di PPP Dadap Kabupaten Indramayu” adalah karya saya sendiri dengan arahan
dosen pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir
skripsi ini.

Bogor,

September 2012

Fathurohim

ABSTRAK
FATHUROHIM, C44080032, Pola Hubungan Antara Kinerja Organisasi dan
Sosial dengan Kinerja Pelabuhan Perikanan, Studi Kasus Di PPP Dadap
Kabupaten Indramayu. Dibimbing oleh THOMAS NUGROHO dan IIN
SOLIHIN.
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Dadap merupakan salah satu pangkalan yang
produktif di Kabupaten Indramayu sampai tahun 2007 sehingga menaikan
statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). Akan tetapi, setelah
dinaikan statusnya PPP Dadap mulai mengalami penurunan kinerja. Penelitian
dilakukan untuk mengetahui aktivitas operasional PPP Dadap, faktor-faktor
berpengaruh terhadap penurunan aktivitas operasional PPP Dadap, dan pola
hubungan antara kinerja organisasi dan sosial dengan kinerja pelabuhan PPP
Dadap. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif untuk mengetahui
aktivitas operasional PPP Dadap dan faktor-faktor berpengaruh terhadap
penurunan aktivitas operasional PPP Dadap serta analisis statistik parametrik
untuk mengetahui pola hubungan antara kinerja organisasi dan sosial dengan
kinerja PPP Dadap. Hasil analisis diperoleh bahwa aktivitas pendaratan ikan di
PPP Dadap dari tahun 2001 sampai tahun 2011 cenderung mengalami penurunan,
mempunyai kisaran pertumbuhan -89,98 % - 254,64 % dan aktivitas pelayanan
kebutuhan melaut PPP Dadap tahun 2003 – 2011 cenderung meningkat dan
mempunyai kisaran pertumbuhan -18,38% - 90,86%. Tempat Pelelangan Ikan
(TPI) di PPP Dadap mulai tahun 2008 tidak terjadi aktivitas pelelangan, tetapi
hasil tangkapan tersebut mengalami pendataan di TPI PPP Dadap oleh petugas
TPI. Faktor-faktor berpengaruh terhadap penurunan aktivitas operasional PPP
Dadap berupa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal: fasilitas
pelabuhan, bakul ikan, jumlah armada penangkapan, dan sedimentasi. Faktor
eksternal: dukungan aparatur desa, serta sumberdaya ikan (SDI) dan daerah
penangkapan Ikan (DPI). Pola hubungan kinerja PPP Dadap untuk pemilik kapal
diperoleh persamaan Y = 11,0 + 0,048 X 1 + 0,263 X 2 , sedangkan untuk anak
buah kapal (ABK) diperoleh persamaan Y = 18,7 + 0,0906 X 1 – 0,005 X 2 .
Kata kunci: aktivitas operasional, PPP Dadap, analisis regresi linier berganda

ABSTRACT
FATHUROHIM, C44080032. Relationship Pattern Between Organization and
Social Performance with Fishing Port Performance, Case Study in PPP Dadap
Indramayu District. Superviced by THOMAS NUGROHO dan IIN SOLIHIN.
Fish Landing Base (PPI) Dadap is one of productive fishing port in Indramayu
district until 2007, it caused the status raise into Fishery Harbour Beach (PPP).
However, after the status raised, performance of PPP Dadap started to decline.
Research conducted to determine operational activity in PPP Dadap, influence
factors decline operational activity in PPP Dadap, and relationship pattern
between the organization performance and social performance in PPP Dadap. The
descriptive analysis is used to knows operational activity and influence factors
decline operational activity in PPP Dadap and statistical parametrik analyses to
know relationship pattern between social and the organization performance with
PPP Dadap performance. The result of analysis obtained that fish landing activity
in PPP Dadap from 2001 to 2011 tended to decline have range growth -89,98 % to
254,64 % and service fishing activity needs from 2003 - 2011 tending to rise and
have range growth -18,38 % to 90,86 %. Fish Auction Place (TPI) in PPP Dadap
started in 2008 did not occur activity auction but the catch has had a survey in
PPP Dadap by TPI officers. Factors influential to decrease operational activity in
PPP Dadap form of factor internal and external factors. The internal factors: port
facilities, middleman, the fleet catching, and sedimentation. The external factors:
apparatus village support, fish resources (SDI) and the region of catching fish
(DPI). Relationship pattern performance in PPP Dadap for the ship owner
obtained an equation Y = 11,0 + 0,048 X 1 + 0,263 X 2 , while the crew members
obtained an equation Y = 18,7 + 0,0906 X 1 – 0,005 X 2 .
Key words: operational activity, PPP Dadap, multiple linier regression analysis.

© Hak Cipta IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar
IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.

POLA HUBUNGAN ANTARA KINERJA ORGANISASI DAN
SOSIAL DENGAN KINERJA PELABUHAN PERIKANAN
STUDI KASUS DI PPP DADAP KABUPATEN INDRAMAYU

FATHUROHIM

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana perikanan pada
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Penelitian

: Pola Hubungan Antara Kinerja Organisasi dan Sosial
dengan Kinerja Pelabuhan Perikanan, Studi Kasus Di
PPP Dadap Kabupaten Indramayu.

Nama Mahasiswa

: Fathurohim

NRP

: C44080032

Program Studi

: Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Disetujui
Komisi Pembimbing

Ketua,

Anggota,

Thomas Nugroho, S.Pi, M.Si
NIP. 19700414 200604 1 020

Dr. Iin Solihin, S.Pi, M.Si
NIP. 19701210 199702 1 001

Diketahui:
Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc
NIP. 19621223 198703 1 001

Tanggal ujian: 10 Agustus 2012

Tanggal lulus :

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pembuatan skripsi ini
ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi
Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor. Judul penelitian ini adalah “Pola Hubungan Antara Kinerja Organisasi dan
Sosial dengan Kinerja Pelabuhan Perikanan, Studi Kasus Di PPP Dadap
Kabupaten Indramayu”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Thomas Nugroho, S.Pi, M.Si. dan Dr. Iin Solihin, S.Pi, M.Si. selaku komisi
pembimbing, atas arahan dan bimbingan yang telah diberikan dalam
penyusunan skripsi ini;
2. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si sebagai Komisi Pendidikan dan Akhmad
Solihin, S.Pi, MH sebagai penguji tamu pada sidang ujian skripsi;
3. Bapak Oni (Divisi Kelautan), Ibu Erna (Divisi Kelautan), Bapak Edi (KCD
Kecamatan Juntinyuat dan Sliyeg), dan H. Jaeni (Manajer PPP Dadap) yang
telah memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini;
4. Ayahanda (Kaerudin), Ibunda (Naipah), Kakak tersayang (Fadhliatun), Adik
tercinta (Fania), dan Erny Hernawati yang selalu memberikan semangat,
dukungan, serta doanya kepada penulis;
5. Teman-teman seperjuangan (PSP 45) dan semua civitas PSP yang telah
memberikan kebersamaan yang tidak terlupakan; dan
6. Semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak
kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun bagi penulis dan pihak-pihak yang memerlukannya.

Bogor, September 2012

Fathurohim

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Indramayu pada tanggal 28 Juni
1989. Penulis adalah anak ke dua dari tiga bersaudara dari
pasangan Kaerudin dan Naipah.
Tahun 2008 penulis lulus dari SMAN 1 Sindang
Kabupaten Indramayu dan diterima di Institut Pertanian
Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI)
yang terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada
Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam kegiatan organisasi. Penulis
pernah menjabat sebagai anggota Departemen Pendidikan dan Pengembangan
Suberdaya Manusia (PPSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan pada tahun 2009–2010, anggota Departemen
Pengembangan Suberdaya Manusia (PSDM) Ikatan Keluarga dan Mahasiswa
Indramayu (IKADA) pada tahun 2009–2010, serta anggota Departemen Bina
Jaringan (Binjar) Ikatan Keluarga dan Mahasiswa Indramayu (IKADA) pada
tahun 2010–2011.
Pada tahun 2012, penulis melakukan penelitian dengan judul ”Pola
Hubungan Antara Kinerja Organisasi dan Sosial dengan Kinerja Pelabuhan
Perikanan, Studi Kasus Di PPP Dadap Kabupaten Indramayu” sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Program Studi Teknologi
dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiii
1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2

Tujuan Penelitian ................................................................................... 2

1.3

Manfaat Penelitian ................................................................................. 2

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Pelabuhan Perikanan ............................................................... 3

2.2

Klasifikasi Pelabuhan Perikanan .......................................................... 4

2.3

Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan................................................. 5

2.4

Fasilitas Pelabuhan Perikanan ............................................................... 8

2.5

Aktivitas Operasional Pelabuhan .......................................................... 11

2.6

Aspek Sosial Ekonomi dalam Pemanfaatan Pelabuhan
Perikanan ............................................................................................... 12

2.7

Kinerja .................................................................................................. 15
2.7.1 Kinerja sosial ........................................................................... 15
2.7.2 Kinerja organisasi .................................................................... 17
2.7.3 Kinerja pelabuhan .................................................................... 19

3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................... 21

3.2

Bahan dan Alat ...................................................................................... 21

3.3

Metode Penelitian .................................................................................. 21

3.4

Metode Pengumpulan Data ................................................................... 21

3.5

Analisis Data ......................................................................................... 23
3.5.1 Aktivitas operasional PPP Dadap ............................................. 23
3.5.2 Faktor berpengaruh terhadap penurunan aktivitas
operasional PPP Dadap ........................................................... 24
3.5.3 Pola hubungan Antara kinerja organisasi dan sosial dengan
kinerja PPP Dadap ................................................................... 25

ix

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1

Keadaan Geografis, Topografi, dan Iklim ............................................. 29

4.2

Keadaan Umum Perikanan .................................................................... 30
4.2.1 Kondisi umum Pantai Indramayu ............................................ 30
4.2.2 Unit penangkapan ikan Kabupaten Indramayu ........................ 31

4.3

Keadaan Umum PPP Dadap ................................................................. 34
4.3.1
4.3.2
4.3.3

Letak geografis, topografi, dan iklim ....................................... 34
Unit penangkapan ikan PPP Dadap ......................................... 35
Fasilitas pelabuhan perikanan .................................................. 38

5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Aktivitas Operasional PPP Dadap ........................................................ 42
5.1.1 Pendaratan ikan ........................................................................
5.1.2 Kunjungan kapal ......................................................................
5.1.3 Aktivitas pelelangan ikan .........................................................
5.1.4 Aktivitas pelayanan kebutuhan melaut ....................................

5.2

42
43
44
45

Faktor Berpengaruh Terhadap Penurunan Aktivitas Operasional
PPP Dadap ............................................................................................ 47
5.2.1 Faktor internal .......................................................................... 48
5.2.2 Faktor eksternal ........................................................................ 52

5.3

Pola Hubungan Antara Kinerja Organisasi dan Sosial dengan
Kinerja PPP Dadap ............................................................................... 55
5.3.1 Pemilik kapal ........................................................................... 56
5.3.2 Anak Buah Kapal (ABK) ......................................................... 58

6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

Kesimpulan ........................................................................................... 62

6.2

Saran ..................................................................................................... 63

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 64
LAMPIRAN ...................................................................................................... 67

x

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian .......................................... 22

2

Rincian indikator pada setiap variabel ........................................................ 26

3

Contoh tabulasi data .................................................................................... 27

4

Pangkalan pendaratan ikan di Kabupaten Indramayu ................................. 31

5

Data nelayan di Kabupaten Indramayu tahun 2011 ..................................... 32

6

Data kapal di Kabupaten Indramayu tahun 2011 ........................................ 33

7

Jumlah dan jenis alat tangkap di Kabupaten Indramayu tahun
2011 ............................................................................................................. 34

8

Jumlah nelayan Desa Dadap tahun 2007-2011 ............................................ 35

9

Jumlah kapal perikanan di Desa Dadap tahun 2007-2011 ........................... 37

10 Jumlah alat tangkap di Desa Dadap tahun 2007-2011 ................................. 38
11 Jumlah produksi yang didaratkan di PPP Dadap sebelas tahun
terakhir ......................................................................................................... 42
12 Jumlah penjualan BBM (solar) di PPP Dadap tahun 2007-2011 ................ 47
13 Harga ikan di Kabupaten Indramayu tahun 2011 ....................................... 49
14 Hasil wawancara pemilik kapal payang ...................................................... 54
15 Hasil analisis ANOVA kinerja organisasi dan kinerja sosial terhadap
kinerja pelabuhan untuk pemilik kapal ....................................................... 56
16 Hasil uji-t pengaruh kinerja sosial dan kinerja organisasi terhadap
kinerja pelabuhan untuk pemilik kapal ....................................................... 57
17 Hasil analisis ANOVA kinerja organisasi dan kinerja sosial terhadap
kinerja pelabuhan untuk ABK ..................................................................... 59
18 Hasil uji-t pengaruh kinerja sosial dan kinerja organisasi terhadap
kinerja pelabuhan untuk ABK ..................................................................... 59

xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Pola kelembagaan dalam pelabuhan perikanan ........................................... 13

2

Kapal yang berlabuh di PPP Dadap ............................................................ 44

3

Proses penimbangan ikan di bakul ikan ...................................................... 45

4

Alat yang digunakan untuk menyalurkan air bersih ................................... 46

5

Jumlah tangkapan 5 (lima) trip terakhir responden .................................... 54

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Lokasi penelitian .......................................................................................... 68

2

Fasilitas PPP Dadap .................................................................................... 69

3

Hasil perhitungan validitas .......................................................................... 71

4

Tahapan dalam mengolah data .................................................................... 79

xiii

1

1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pelabuhan perikanan mempunyai peran penting sebagai prasarana

pendukung perkembangan perikanan di suatu daerah.

Keberadaan pelabuhan

perikanan di suatu daerah diharapkan dapat mendukung aktivitas perikanan dan
juga dapat meningkatkan perekonomian daerah. Pelabuhan perikanan sebagai
pusat aktivitas perikanan tangkap mulai dari perijinan berlayar, tambat labuh
kapal perikanan, pelayanan kebutuhan melaut, pendaratan hasil tangkapan,
pelelangan hasil tangkapan, penanganan mutu hasil tangkapan, pengolahan hasil
tangkapan, sampai distribusi/pemasaran hasil tangkapan.
Pelabuhan perikanan merupakan suatu organisasi publik yang melayani
masyarakat umum khususnya nelayan.

Pelabuhan perikanan perlu dukungan

kelembagaan yang baik dalam mengelola fasilitas yang tersedia untuk mendukung
usaha perikanan tangkap.

Manajemen organisasi akan menentukan tingkat

pelayanan dan kinerja pelabuhan perikanan. Kepuasan para pengguna pelabuhan
dapat dilihat dari kinerja pelabuhan tersebut. Oleh karena itu, kinerja pelabuhan
sangat menentukan keberhasilan sebuah pelabuhan.
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Dadap semula merupakan Pangkalan
Pendaratan Ikan (PPI) yang dibangun pada tahun 2000 di Desa Dadap Kecamatan
Juntinyuat Kabupaten Indramayu dan posisinya terletak diantara PPI Glayem dan
PPI Tegalagung.

Tahun 2001-2007 PPI Dadap merupakan salah satu yang

produktif di Kabupaten Indramayu dan cukup diakui di Provinsi Jawa Barat,
karena pada tahun tersebut produksinya bisa mencapai 4.737,33 ton. Pada tahun
2008 PPI Dadap berubah status menjadi PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai).
Kemudian mulai tahun 2009 sampai sekarang PPP Dadap mengalami penurunan
aktivitas dan kinerja operasionalnya disebabkan banyaknya permasalahan yang
terjadi di PPP Dadap tersebut, salah satunya adalah perpindahan Daerah
Penangkapan Ikan (DPI) dan tempat pendaratan hasil tangkapan armada purseseine ke Pandeglang-Banten yang berdampak pada penurunan produksi PPP
Dadap. Perubahan status PPI menjadi PPP kinerja pelabuhan tidak meningkat
tetapi justru menurun.

2

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian mengenai “Pola
hubungan antara kinerja organisasi dan sosial dengan kinerja pelabuhan
perikanan, studi kasus di PPP Dadap Kabupaten Indramayu” sangat perlu
dilakukan.

Hal ini beguna untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang

berpengaruh terhadap penurunan aktivitas operasional di PPP Dadap dan
bagaimana pola hubungan kinerja pelabuhan tersebut.

1.2

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:

1)

Mendeskripsikan aktivitas operasional PPP Dadap;

2)

Menentukan faktor yang berpengaruh terhadap penurunan aktivitas
operasional PPP Dadap;

3)

Mencari pola hubungan antara kinerja organisasi dan sosial dengan kinerja
PPP Dadap.

1.3

Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor-

faktor apa saja yang berpengaruh terhadap penurunan aktivitas operasional di PPP
Dadap dan bagaimana pola hubungan kinerja pelabuhan kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten Indramayu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten
Indramayu, pihak pengelola PPP Dadap dan instansi terkait sehingga dapat
digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman dalam upaya perbaikan dan
peningkatan kinerja PPP Dadap untuk ke depannya.

3

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Pelabuhan perikanan
Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di

sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal
perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan
(Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 tentang
Pelabuhan Perikanan bab I Pasal 1). Departemen Pertanian dan Departemen
Perhubungan (1996) dalam Murdiyanto (2004) mendefinisikan pelabuhan
perikanan sebagai tempat pelayanan umum bagi masyarakat nelayan dan usaha
ekonomi perikanan yang dilengkapi dengan fasilitas di darat dan di perairan
sekitarnya untuk digunakan sebagai pangkalan operasional tempat berlabuh,
bertambat, mendaratkan hasil, penanganan, pengolahan, distribusi dan pemasaran
hasil perikanan.
Menurut Anonimous (1983) dalam Lubis (2010), pelabuhan perikanan
adalah suatu wilayah perpaduan antara wilayah daratan dan lautan yang
dipergunakan sebagai pangkalan kegiatan penangkapan ikan dan dilengkapi
dengan berbagai fasilitas sejak ikan didaratkan sampai ikan didistribusikan.
Pelabuhan perikanan adalah pusat pengembangan ekonomi perikanan ditinjau dari
aspek produksi, pengolahan dan pemasaran, baik berskala lokal, nasional maupun
internasional (Direktorat Jenderal Departemen Pertanian R.I., 1981 dalam
Murdiyanto, 2004). Aspek-aspek tersebut secara terperinci yaitu (Lubis, 2010):
1) Aspek produksi: bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat pemusatan
armada penangkapan untuk mendaratkan hasil tangkapannya, menyediakan
tempat berlabuh yang aman, menjamin kelancaran membongkar hasil
tangkapan, dan menyediakan suplai logistik.
2) Aspek pengolahan: bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat untuk
membina peningkatan mutu serta pengendalian mutu ikan dalam menghindari
kerugian dari pasca tangkap.

4

3) Pemasaran: bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat untuk menciptakan
mekanisme pasar yang dapat menguntungkan nelayan melalui aktivitas
pelelangan ikan.

2.2

Klasifikasi Pelabuhan Perikanan
Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.

16/MEN/2006 bab VII Pasal 16, pelabuhan perikanan diklasifikasikan ke dalam 4
(empat) kelas, yaitu:
1) Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS);
2) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN);
3) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP);
4) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
Kriteria teknis untuk 4 (empat) kelas pelabuhan perikanan berdasarkan
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 bab VII
Pasal 17 – Pasal 20, yaitu:
1) Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
(1) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut
teritorial, Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia, dan laut lepas;
(2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 60 GT;
(3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan kedalaman kolam
sekurang-kurangnya minus 3 m;
(4) Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal perikanan atau jumlah
keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT kapal perikanan sekaligus;
(5) Ikan yang didaratkan sebagian untuk tujuan ekspor;
(6) Terdapat industri perikanan.
2) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
(1) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut
teritorial dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia;
(2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 30 GT;

5

(3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, dengan kedalaman kolam
sekurang-kurangnya minus 3 m;
(4) Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal perikanan atau jumlah
keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT kapal perikanan sekaligus;
(5) Terdapat industri perikanan.
3) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)
(1) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan
pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial;
(2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 10 GT;
(3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, dengan kedalaman kolam
sekurang-kurangnya minus 2 m;
(4) Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal perikanan atau jumlah
keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT kapal perikanan sekaligus.
4) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
(1) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan
pedalaman dan perairan kepulauan;
(2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 3 GT;
(3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam
minus 2 m;
(4) Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan atau jumlah
keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan sekaligus.

2.3

Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan dalam menjalankan semua aktivitas dan kegiatannya

bila ditinjau dari fungsinya, pelabuhan perikanan tentunya berbeda dengan jenis
pelabuhan-pelabuhan pada umumnya karena pelabuhan perikanan dikhususkan
untuk bidang perikanan. Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor PER. 16/MEN/2006 bab IV Pasal 4, pelabuhan perikanan mempunyai
fungsi mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya ikan dengan lingkungannya mulai dari praproduksi,

6

produksi, pengolahan, sampai dengan pemasaran.

Berikut fungsi pelabuhan

perikanan tersebut:
1) Pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas perikanan;
2) Pelayanan bongkar muat;
3) Pelaksanaan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan;
4) Pemasaran dan distribusi ikan;
5) Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan;
6) Pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan;
7) Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan;
8) Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan;
9) Pelaksanaan kesyahbandaran;
10) Pelaksanaan fungsi karantina ikan;
11) Publikasi hasil riset kelautan perikanan;
12) Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari;
13) Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan, dan ketertiban (K3),
kebakaran, dan pencemaran).
Menurut Lubis (2010) mengatakan bahwa, secara umum pelabuhan
perikanan mempunyai fungsi yang dapat dikelompokan sebagai berikut:
1) Fungsi maritim
Pelabuhan

perikanan

mempunyai

aktivitas-aktivitas

yang

bersifat

kemaritiman, yaitu merupakan suatu tempat kontak bagi nelayan atau pemilik
kapal, antara laut, dan daratan untuk semua aktivitasnya.
2) Fungsi komersial
Fungsi ini timbul karena pelabuhan perikanan merupakan suatu tempat awal
untuk mempersiapkan pendistribusian produksi perikanan dengan melakukan
transaksi pelelangan ikan.
3) Fungsi jasa
Fungsi ini meliputi seluruh jasa-jasa pelabuhan perikanan mulai dari ikan
didaratkan sampai ikan didistribusikan. Fungsi jasa dapat dikelompokan menjadi:
(1) Jasa-jasa yang melayani pendaratan ikan, antara lain penyediaan alat-alat
pengangkut ikan, keranjang-keranjang atau basket plastik, dan buruh untuk
membongkar ikan;

7

(2) Jasa-jasa yang melayani kapal-kapal penangkap ikan antara lain dalam
penyediaan bahan bakar, air bersih, dan es;
(3) Jasa-jasa yang menangani mutu ikan, antara lain terdapatnya fasilitas cold
storage, cool room, pabrik es, dan penyedia air bersih;
(4) Jasa-jasa yang melayani keamanan pelabuhan, antara lain adanya jasa
pemanduan bagi kapal-kapal yang akan masuk dan keluar pelabuhan;
(5) Jasa-jasa pemeliharaan kapal dan pelabuhan, antara lain adanya fasilitas
docking, slipways, dan bengkel.
Peranan pelabuhan perikanan sangat penting dalam perikanan tangkap
karena pelabuhan perikanan merupakan pusat perekonomian mulai ketika ikan
selesai ditangkap dari fishing ground-nya maupun ketika akan dipasarkan lebih
lanjut. Menurut Lubis (2010) secara rinci pelabuhan perikanan berperan terhadap:
1) Hasil tangkapan yang didaratkan:
(1) Mampu mempertahankan mutu ikan dan dapat memberikan nilai tambah;
(2) Mampu melakukan pembongkaran secara cepat dan menseleksi ikan
secara cermat;
(3) Mampu memasarkan ikan yang menguntungkan baik bagi nelayan maupun
pedagang melalui aktivitas pelelangan ikan;
(4) Mampu melakukan pendataan produksi hasil tangkapan yang didaratkan
secara akurat melalui sistem pendataan yang benar;
2) Para pengguna di pelabuhan perikanan:
(1) Sebagai pusat dan tukar menukar informasi antar pelaku di pelabuhan;
(2) Mampu meningkatkan pendapatan para pelaku di pelabuhan dengan
pelaksanaan pelelangan ikan;
(3) Mampu menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi para pelaku untuk
beraktivitas di pelabuhan;
3) Perkembangan wilayah, baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya:
(1) Mampu meningkatkan perekonomian kota/kabupaten sehingga menambah
pendapatan asli daerah;
(2) Terdapatnya beragam sosial budaya akibat keheterogenan penduduk
karena urbanisasi;

8

(3) Mampu menyerap tenaga kerja berkaitan dengan aktivitas kepelabuhanan
perikanan dan aktivitas terkait di sekitarnya.

2.4

Fasilitas Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan harus dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan

baik seperti apa yang sudah disebutkan di atas, agar dapat memenuhi fungsi dan
perannya tersebut pelabuhan harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Menurut
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 bab VIII
Pasal 22, fasilitas yang terdapat pada pelabuhan perikanan meliputi: fasilitas
pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas penunjang.
1) Fasilitas pokok, sekurang-kurangnya meliputi:
(1) Pelindung seperti breakwater, revetment, dan groin dalam hal teknis
diperlukan;
(2) Tambat seperti dermaga dan jetty;
(3) Perairan seperti kolam dan alur pelayaran;
(4) Penghubung seperti jalan, drainase, gorong-gorong, dan jembatan;
(5) Lahan pelabuhan perikanan.
2) Fasilitas fungsional, sekurang-kurangnya meliputi:
(1) Pemasaran hasil perikanan seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI);
(2) Navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telefon, internet, rambu-rambu,
lampu suar, dan menara pengawas;
(3) Suplai air bersih, es, dan listrik;
(4) Pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan seperti dock/slipway, bengkel,
dan tempat perbaikan jaring;
(5) Penanganan dan pengolahan hasil perikanan seperti transit sheed dan
Laboratorium pembinaan mutu;
(6) Perkantoran seperti kantor administrasi pelabuhan;
(7) Transportasi seperti alat-alat angkut ikan dan es; dan
(8) Pengolahan limbah.
3) Fasilitas penunjang, sekurang-kurangnya meliputi:
(1) Pembinaan nelayan seperti balai pertemuan nelayan;

9

(2) Pengelola pelabuhan seperti mess operator, pos jaga, dan pos pelayanan
terpadu;
(3) Sosial/umum seperti tempat peribadatan dan MCK;
(4) Kios IPTEK;
(5) Penyelenggaraan fungsi pemerintahan seperti keselamatan pelayaran,
kebersihan, keamanan, dan ketertiban (K3), bea dan cukai, pengawas
perikanan, kesehatan masyarakat, dan karantina ikan.
Menurut Lubis (2010) mengatakan bahwa, secara umum pelabuhan
perikanan mempunyai fasilitas sebagai berikut:
1.

Fasilitas pokok
Fasilitas pokok adalah fasilitas dasar atau pokok yang diperlukan dalam

kegiatan di suatu pelabuhan. Fasilitas pokok di pelabuhan perikanan antara lain
(Lubis, 2010):
1) Dermaga
Dermaga adalah suatu bangunan kelautan yang berfungsi sebagai tempat
labuh dan tambatnya kapal, bongkar muat hasil tangkapan dan mengisi bahan
perbekalan untuk keperluan penangkapan ikan di laut.
2) Kolam pelabuhan
Kolam pelabuhan adalah daerah perairan pelabuhan untuk masuknya kapal
yang akan bersandar di dermaga.
3) Alat bantu navigasi
Alat bantu navigasi adalah alat yang berfungsi:
(1) Memberikan

peringatan

atau

tanda-tanda

terhadap

bahaya

yang

tersembunyi misalnya batu karang di suatu perairan;
(2) Memberikan petunjuk/bimbingan agar kapal dapat berlayar dengan aman
di sepanjang pantai, sungai, dan perairan lainnya;
(3) Memberikan petunjuk dan bimbingan pada waktu kapal akan keluar masuk
pelabuhan atau ketika kapal akan merapat dan membuang jangkar.
4) Breakwater atau pemecah gelombang
Breakwater suatu struktur bangunan kelautan yang berfungsi khusus untuk
melindungi pantai atau daerah sekitar pantai terhadap pengaruh gelombang laut.

10

2.

Fasilitas fungsional
Fasilitas fungsional dikatakan juga suprastruktur adalah fasilitas yang

berfungsi untuk meninggikan nilai guna dari fasilitas pokok sehingga dapat
menunjang aktivitas di pelabuhan.

Fasilitas-fasilitas ini tidak harus ada di

pelabuhan perikanan namun fasilitas ini disediakan sesuai dengan kebutuhan
operasional pelabuhan perikanan tersebut. Fasilitas fungsional dikelompokkan
menjadi (Lubis, 2010):
1) Penanganan hasil tangkapan dan pemasaran, yaitu:
(1) Tempat Pelelangan Ikan (TPI), berfungsi untuk melelang ikan, dimana
terjadi pertemuan antara penjual (nelayan atau pemilik kapal) dengan
pembeli (pedagang atau agen perusahaan perikanan);
(2) Fasilitas pemeliharaan dan pengolahan hasil tangkapan ikan, seperti
gedung pengolahan, tempat penjemuran ikan, dan lain-lain;
(3) Pabrik dan gudang es, dipergunakan untuk mempertahankan mutu ikan
pada saat operasi penangkapan dan pengangkutan ke pasar atau pabrik;
(4) Gudang es, diperlukan apabila produksi kemungkinan tidak terserap pasar
secara keseluruhan, pabrik es jauh dari dermaga perbekalan (out fitting)
atau kemungkinan mendatangkan es dari luar;
(5) Refrigerasi/fasilitas pendinginan, seperti cool room, cold storage;
(6) Gedung-gedung pemasaran, dimana tempat ini biasanya dilengkapi dengan
fasilitas-fasilitas seperti alat sortir, timbangan, pengepakan, dan lain-lain.
2) Fasilitas pemeliharaan dan perbaikan armada dan alat penangkap ikan, yaitu:
(1) Lapangan perbaikan alat penangkapan ikan;
(2) Ruangan mesin;
(3) Tempat penjemuran alat penangkap ikan;
(4) Bengkel: fasilitas untuk memperbaiki mesin kapal;
(5) Slipway: tempat untuk memperbaiki bagian lunas kapal;
(6) Gudang jaring: tempat untuk penyimpanan jaring;
(7) Vessel lift: fasilitas untuk mengangkat kapal dari kolam pelabuhan ke
lapangan perbaikan kapal.
3) Fasilitas perbekalan: tangki dan instalasi air minum, tangki bahan bakar.
4) Fasilitas komunikasi: stasiun jaringan telepon, radio SSB.

11

3.

Fasilitas penunjang
Fasilitas

penunjang

adalah

fasilitas

yang

secara

tidak

langsung

meningkatkan peranan pelabuhan atau para pelaku mendapatkan kenyamanan
melakukan aktivitas di pelabuhan. Fasilitas ini berupa (Lubis, 2010):
1) Fasilitas kesejahteraan antara lain MCK, poliklinik, mess, kantin, dan
musholla;
2) Fasilitas administrasi meliputi kantor pengelola pelabuhan, ruang operator,
kantor syahbandar, kantor beacukai, dan lainnya.

2.5

Aktivitas Operasional Pelabuhan
Operasionalisasi pelabuhan perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan

adalah tindakan atau gerakan sebagai pelaksanaan rencana yang telah
dikembangkan untuk memanfaatkan fasilitas pada PP/PPI agar berdaya guna dan
bernilai guna (efektif dan efisien) secara optimal bagi fasilitas itu sendiri atau
fasilitas lainya yang terkait. Kegiatan operasional PP/PPI yang dilakukan tersebut
hendaknya berorientasi pada kepentingan masyarakat pengguna jasa PP/PPI. Ini
berarti operasionalisasi PP/PPI mengacu pada pelayanan prima (Murdiyanto,
2004).
Aktivitas di Pelabuhan perikanan sangat banyak, untuk memudahkanya
maka keseluruhan aktivitas yang ada harus dikelompokan. Menurut Pane (2002)
dalam Hadiyanto (2004), aktivitas di pelabuhan perikanan dibagi menjadi 7
(tujuh) kelompok, yaitu:
1) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan pendaratan dan pemasaran
hasil

tangkapan:

pendaratan

hasil

tangkapan

(pembongkaran

dan

pengangkutan hasil tangkapan ke TPI), pelelangan ikan hasil tangkapan,
pendistribusian hasil tangkapan, dan penanganan hasil tangkapan;
2) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan hasil tangkapan:
pembekuan, pengolahan, dan distribusi hasil tangkapan;
3) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan unit penangkapan: tambat
labuh, perbaikan, pembuatan kapal, pembuatan alat, dan perbaikan alat;
4) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan penyediaan kebutuhan:
penyediaan air, penyediaan es, penyediaan BBM, penyediaan garam,

12

penyediaan kebutuhan konsumsi, penyediaan sparepart kapal, penyediaan
mesin, dan penyediaan bahan alat tangkap;
5) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan kelembagaan pelaku aktif:
koperasi, asosiasi pelaku aktif, himpunan pelaku aktif, dan paguyuban pelaku
aktif;
6) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan kelembagaan penunjang:
syahbandar, perbankan, dan keamanan;
7) Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan pengelolaan pelabuhan
perikanan: pengelolaan fasilitas komersial, pengelolaan fasilitas nonkomersial, dan pengelolaan TPI.

2.6

Aspek Sosial Ekonomi dalam Pemanfaatan Pelabuhan Perikanan
Berdasarkan fungsi dan peranan serta fasilitas-fasilitas yang dimilikinya,

bisa dikatakan pelabuhan perikanan merupakan salah satu organisasi publik
sehingga di dalam pelabuhan perikanan pasti terdapat aspek sosial ekonomi yang
terjadi dan mempengaruhi kegiatan di dalamnya. Menurut Nugroho (2011), aspek
sosial dalam pemanfaatan pelabuhan perikanan di dalamnya mencakup:
1) Demografi (kependudukan)
Keberadaan pelabuhan perikanan menjadi daya tarik ekonomi sehingga
banyak orang mendekatinya sehingga menyebabkan terjadinya mobilitas
penduduk (nelayan, pedagang, dan pengolah).
2) Mata pencaharian
Keberadaan pelabuhan perikanan dapat menjadi tempat bekerja masyarakat
terutama penduduk lokal dan sekitarnya dengan berbagai jenis pekerjaan misalnya
nelayan, bakul ikan, dan pedagang warung.
(1) Pola kerja
Sistem kerja pelaku ekonomi/stakeholder yang terlibat dalam aktivitas di
pelabuhan perikanan meliputi waktu kerja, pembagian kerja, kerjasama,
penghasilan, keterampilan, modal, dan teknologi.
(2) Produksi
Output usaha yang dihasilkan dalam satuan waktu tertentu. Termasuk
siklus kegiatan produksi harian.

13

3) Menciptakan lapangan kerja
Keberadaan pelabuhan perikanan dapat membuka lapangan kerja berupa
kesempatan usaha dan kerja masyarakat terutama penduduk lokal dan sekitarnya
serta pendatang sehingga dapat mengatasi pengangguran.
(1) Kesempatan bisnis
Meliputi jenis dan tipe bisnis yang dikelola masyarakat, jumlah usaha,
kompetisi usaha antar penduduk lokal dan pendatang, serta perijinan
usaha.
(2) Kesempatan pekerjaan
Kesempatan kerja berada disektor formal maupun informal yaitu meliputi
jumlah orang yang bekerja atau menggantungkan hidupnya di pelabuhan
perikanan. Jumlah dan jenis pekerjaan baik formal maupun informal yang
ada di pelabuhan perikanan.
4) Kelembagaan
Kelembagaan merupakan pola hubungan antar individu atau kelompok
masyarakat baik hubungan formal maupun non formal. Dalam pemanfaatan
pelabuhan perikanan yang termasuk hubungan formal seperti koperasi perikanan
(KUD Mina), kelompok usaha bersama, dan HNSI. Sedangkan yang termasuk
hubungan non formal adalah hubungan antara nelayan dan pemilik modal.
Pola Hubungan Antar Individu
atau Kelompok Masyarakat

Hubungan Formal

1. Koperasi Perikanan
(KUD Mina)
2. Kelompok Usaha Bersama
3. dll

Hubungan Non Formal

Hubungan nelayan dengan
pemilik modal

Gambar 1 Pola kelembagaan dalam pelabuhan perikanan
Aspek ekonomi dalam pemanfaatan pelabuhan perikanan di dalamnya
meliputi (Nugroho, 2011):

14

1) Penyerapan tenaga kerja
Keberadaan pelabuhan perikanan dapat menciptakan kesempatan kerja yang
bersifat formal maupun informal sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal di
institusi pemerintah, industri pengolahan, perdagangan/pemasaran, dan buruh.
2) Tumbuhnya industri pengolahan
Keberadaan pelabuhan perikanan dapat mendorong tumbuhnya industri
pengolahan ikan. Faktor pendorong tumbuhnya industri pengolahan ikan antara
lain:
(1) Bahan baku
Ketersediaan bahan baku dengan kontinuitas yang terjamin khususnya ikan
sangat menentukan tumbuhnya industri pengolahan produk perikanan.
(2) Peluang pasar
Peluang pasar ditandai oleh tingginya animo/permintaan masyarakat
terhadap produk olahan produk perikanan.
(3) Dukungan pemerintah
Meliputi bantuan pelatihan keterampilan teknis, pembiayaan, kemudahan
perijinan, dan insentif pajak.
3) Pusat pemasaran
Keberadaan pelabuhan perikanan menjadi pusat pemasaran dan distribusi
hasil tangkapan nelayan dengan adanya:
(1) Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Tempat pelelangan ikan (TPI) menjadi tempat pertemuan antara nelayan
dengan calon pembeli. Melalui mekanisme pelelangan, pemasaran hasil
tangkapan nelayan serta harga ikan lebih terjamin.
(2) Pasar ikan
Di sekitar PP dapat berkembang menjadi pasar ikan.

Pasar ikan

merupakan tempat pertemuan antara nelayan, pedagang, dan calon
konsumen/pembeli.
4) Pertumbuhan ekonomi regional/lokal
Keberadaan pelabuhan perikanan akan mendorong pertumbuhan ekonomi
regional/lokal. Indikator pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari perkembangan

15

usaha jasa dan non jasa kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) serta mobilitas penduduk.
(1) Usaha jasa dan non jasa
Meliputi jenis dan jumlah usaha, bentuk interaksi usaha dengan
masyarakat serta keterlibatan penduduk lokal.
(2) Kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Dengan adanya pelabuhan perikanan akan meningkatkan kontribusi sektor
perikanan terhadap PDRB.
(3) Mobilitas penduduk
Meliputi frekuensi keluar masuk pendatang, jumlah pendatang, jenis usaha
yang dikembangkan oleh pendatang serta interaksi pendatang dengan
penduduk lokal.
5) Peluang investasi
Keberadaan pelabuhan perikanan akan membuka peluang investasi di sektor
perikanan yakni dibidang penangkapan, perdagangan ikan, dan industri
pengolahan. Investasi di sektor perikanan akan menciptakan multiplier effect
berupa:
(1) Membuka lapangan kerja;
(2) Memacu pertumbuhan ekonomi.

2.7

Kinerja
Kinerja

merupakan

suatu

konstruk

(construct)

yang

bersifat

multidimensional yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya
(Mahmudi, 2010).

Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

pelaksanaan tugas dalam upaya mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi
(Bastian (2001) dalam Herinugrah (2010). Menurut Mudzakir (2009), kinerja
adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan
tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu.
2.7.1 Kinerja sosial
Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi
pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu (Mudzakir,
2009). Sedangkan sosial adalah hal-hal yang berhubungan dengan manusia dalam

16

masyarakat, seperti kehidupan nelayan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat
dikatakan bahwa, kinerja sosial adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh
dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan manusia dalam masyarakat yang
berhubungan dengan kehidupan nelayan selama kurun waktu tertentu. Pencapaian
kinerja yang tinggi merupakan suatu prestasi, oleh karenanya setiap organisasi
dituntut untuk dapat selalu meningkatkan kinerjanya. Semakin tinggi kinerja
organisasi, maka semakin tinggi pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan kinerja
perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam
periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.
Konsep kinerja menurut Rummler dan Brache dalam Mudzakir (2009) dapat
diterapkan pada 3 (tiga) tingkatan dalam organisasi, yaitu: tingkatan organisasi
(organization level), tingkat proses (process level), dan tingkat tugas atau
pelaksanaan tugas (job performer level). Tingkat organisasi menekankan pada
hubungan organisasi dan fungsi-fungsi utamanya yang tergambar dalam kerangka
dasar struktur organisasi serta mekanisme kerja yang ada, tingkat proses
menekankan pada proses kegiatan antara fungsi, dan tingkat tugas atau
pelaksanaan tugas menekankan pada individu-individu yang melaksanakan proses
pekerjaan.
Menurut Mahmudi (2010), secara umum kinerja sosial akan dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain:
1) Faktor personal/individual, meliputi: pengetahuan, keterampilan (skill),
kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh
setiap individu;
2) Faktor kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan,
semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan;
3) Faktor tim, meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh
rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim,
kekompakan, dan keeratan anggota tim;
4) Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang
diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur dalam organisasi;
5) Faktor

kontekstual

(situasional),

lingkungan ekternal dan internal.

meliputi:

tekanan

serta

perubahan

17

2.7.2 Kinerja organisasi
Kinerja organisasi merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat
dicapai dan mencerminkan keberhasilan suatu organisasi, serta merupakan hasil
yang dicapai dari perilaku anggota organisasi.

Kinerja organisasi bisa juga

dikatakan sebagai sebuah hasil (output) dari suatu proses tertentu yang dilakukan
oleh seluruh komponen organisasi terhadap sumber-sumber tertentu yang
digunakan (input) (Herinugrah, 2010).
Hasil kerja yang dicapai oleh suatu instansi dalam menjalankan tugasnya
dalam kurun waktu tertentu, baik yang terkait dengan input, output, outcome,
benefit, maupun impact dengan tanggung jawab dapat mempermudah arah
penataan organisasi. Adanya hasil kerja yang dicapai oleh instansi dengan penuh
tanggung jawab akan tercapai peningkatan kinerja yang efektif dan efisien.
Berikut adalah indikator kinerja organisasi menurut (Sobandi (2006) dalam
Herinugrah (2010)):
1) Keluaran (Output)
Keluaran (output) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari
suatu kegiatan yang berupa fisik ataupun non fisik. Suatu kegiatan yang berupa
fisik maupun non fisik yang diharapkan dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat. Kelompok keluaran (output) meliputi dua hal. Pertama, kualitas
pelayanan yang diberikan, indikator ini mengukur kuantitas fisik pelayanan.
Kedua, kuantitas pelayanan yang diberikan yang memenuhi persyaratan kualitas
tertentu. Indikator ini mengukur kuantitas fisik pelayanan yang memenuhi uji
kualitas.
2) Hasil
Hasil adalah mengukur pencapaian atau hasil yang terjadi karena pemberian
layanan. Segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada
jangka menengah (efek langsung). Kelompok hasil, mengukur pencapaian atau
hasil yang terjadi karena pemberian layanan, kelompok ini mencakup ukuran
persepsi publik tentang hasil. Ukuran itu mencakup akibat tidak langsung yang
signifikan, dimaksud atau tidak dimaksud, positif atau negatif, yang terjadi akibat
pemberian pelayanan yang diberikan.

18

3) Kaitan usaha dengan pencapaian
Kaitan usaha dengan pencapaian adalah ukuran efisiensi yang mengkaitkan
usaha dengan keluaran pelayanan. Indikator yang mengaitkan usaha dengan
pencapaian, meliputi dua hal. Pertama, ukuran efisiensi yang mengaitkan usaha
dengan keluaran pelayanan, indikator ini mengukur sumber daya yang digunakan
atau biaya per unit keluaran, dan memberi informasi tentang keluaran ditingkat
tertentu dari penggunaan sumber daya di lingkungan organisasi. Kedua, ukuran
biaya hasil yang menghubungkan usaha dan hasil pelayanan, ukuran ini
melaporkan biaya per unit hasil, dan mengaitkan biaya dengan hasil sehingga
managemen publik dan masyarakat bisa mengukur nilai pelayanan yang telah
diberikan.
4) Informasi penjelas
Informasi penjelas adalah suatu informasi yang harus disertakan dalam
pelaporan kinerja yang mencakup informasi kuantitatif dan naratif. Membantu
pengguna untuk memahami ukuran kinerja yang dilaporkan, menilai kinerja suatu
organisasi, dan mengevaluasi signifikansi faktor yang akan mempengaruhi kinerja
yang dilaporkan.

Ada dua jenis informasi penjelas yaitu pertama, faktor

substansial yang ada diluar kontrol seperti karakteristik lingkungan dan
demografi. Kedua, faktor yang dapat dikontrol seperti pengadaan staf.
Kinerja organisasi tidak lepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi (Ruky, 2001
dalam Herinugrah (2010)):
1) Teknologi yang meliputi peralatan kerja dan metode kerja yang digunakan
untuk menghasilkan produk atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi.
Semakin berkualitas teknologi yang digunakan, maka akan semakin tinggi
tingkat kinerja organisasi tersebut;
2) Kualitas input atau material yang digunakan oleh organisasi;
3) Kualitas lingkungan fisik yang meliputi keselamatan kerja, penataan ruangan,
dan kebersihan;
4) Budaya organisasi sebagai pola tingkah laku dan pola kerja yang ada dalam
organisasi yang bersangkutan;

19

5) Kepemimpinan sebagai upaya untuk mengendalikan anggota organisasi agar
bekerja sesuai dengan standar dan tujuan organisasi;
6) Pengelolaan sumber daya manusia yang meliputi aspek kompensasi, imbalan,
promosi dan lainnya.
2.7.3 Kinerja pelabuhan
Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi
pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu (Mudzakir,
2009). Berdasarkan pengertian tersebut dapat dika

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Relationship Pattern Between Organization and Social Performance with Fishing Port Performance, Case Study in PPP Dadap Indramayu District