Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemotongan Dengan Metode Pahl dan Beitz di CV. MabarKaryaUtama.

(1)

USULAN PERBAIKAN FASILITAS KERJA PADA STASIUN PEMOTONGAN DENGAN METODE PAHL DAN BEITZ DI CV. MABAR

KARYA UTAMA

TUGAS SARJANA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana

oleh

REVIYANTI DALIMUNTHE NIM. 080403210

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I

F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015


(2)

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Allah Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan TugasSarjanainidenganbaik.

Tugas sarjanamerupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik di Departemen Teknik Industri, khususnya program studi reguler strata satu, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul untuk tugas sarjana ini adalah “Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemotongan Dengan Metode Pahl dan Beitz di CV. MabarKaryaUtama”.

Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, maka penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan tugas sarjana ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan masukan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan tugas sarjana ini. Semoga tugas sarjana ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, perpustakaan Universitas Sumatera Utara, dan pembaca lainnya.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar tugas sarjana ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Medan, September 2014


(4)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SERTIFIKAT EVALUASI DRAFT TUGAS SARJANA ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

ABSTRAK ... xviii

I PENDAHULUAN ... ... I-1

1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Rumusan Masalah ... I-4 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... I-4 1.3.1. Tujuan Penelitian ... I-4 1.3.2. Manfaat Penelitian... I-4


(5)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-5 1.5. Sistematika Penulisan Tugas Sarjana ... I-6

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1 2.1. Sejarah Umum Perusahaan ... II-1

2.2. Ruang Lingkup Usaha ... II-2

2.3. Struktur Organisasi ... II-4

2.4. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-5

2.5. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-6

2.5.1. Jumlah Tenaga Kerja ... II-6

2.5.2. Jam Kerja ... II-6

III LANDASAN TEORI ... III-1

3.1. Ergonomi ... III-1 3.2. Antropometri ... III-2 3.2.1. Defenisi Anttropometri ... III-2


(6)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

3.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran

Antropometri ... III-2 3.2.3. Aspek Antropometri dalam Perancangan

Meja dan Kursi ... III-4 3.2.4. Aplikasi Antropometri dalam Perancangan

Fasilitas Kerja ... III-7 3.2.5. Aplikasi Distribusi Normal dalam Penetapan

Data Antropometri ... III-12 3.2.6. Pengujian Keseragaman Data ... III-13 3.2.7. Uji Kecukupan Data ... III-15 3.2.8. Uji Kenormalan Data ... III-16 3.3. Keluhan Musculoskeletal ... III-16 3.4. Postur Kerja ... III-20 3.5. Standard Nordic Quetionaire (SNQ) ... III-21 3.6. Rapid Entire Body Assessment (REBA) ... III-23 3.7. Desain dan Redesain Peralatan Kerja ... III-29 3.7.1. Desain ... III-29 3.7.2. Redesain ... III-31 3.8. Model Perancangan Menurut Pahl dan Beitz ... III-33


(7)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

3.9. Konsep Desain ... III-36

IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV1

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1 4.2. Objek Penelitian ... IV-1 4.3. Jenis Penelitian ... IV-1 4.4. Populasi dan Sample Penelitiaan ... IV-1

BAB HALAMAN

4.5. Kerangka Berfikir ... IV-2 4.6. Instrumen Penelitian ... IV-2 4.7. Sumber Data ... IV-2 4.8. Metode Penelitian ... IV-3 4.8.1. Metode Pengumpulan ... IV-3 4.8.2. Metode Pengolahan Data ... IV-4 4.8.3. Metode Analisis Pemecahan Masalah ... IV-4 4.9. Kesimpulandan Saran ... IV-5


(8)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

5.1. Pengumpulan Data ... V-1 5.1.1. Proses danSituasiKerja ... V-1 5.1.2. Data HasilStandard Nordic Questionaire ... V-3 5.1.3. Data PosturKerja Operator ... V-5 5.1.4. Data Antropometri Operator ... V-7 5.2. Pengolahan Data

5.2.1. Data HasilStandard Nordic Questionaire ... V-9 5.2.2. Pengolahan Data PosturKerja... V-10 5.3. Perhitungan Data Antropometri ... V-14 5.3.1. Perhitungan Rata-rata dan Standard Deviasi ... V-14 5.3.2. UjiKeseragaman Data ... V-15 5.3.3. UjiKecukupan Data ... V-23 5.3.4. UjiKenormalan Data ... V-25 5.3.5. PerhitunganPersentil ... V-25 5.4. DesainMejadanKursi Operator Berdasarkan

Langkah-langkahPerancanganMenurutPahldanBeitz ... V-26

VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... VI-1


(9)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

6.2. Analisis PosturTubuh Operator ... VI-1 6.3. AnalisisErgonomiDesainMejadanKursi ... VI-3 6.4. Analisis Kondisi Kerja Aktual dan Usulan ... VI-4 6.5. Analisis Perbandingan Elemen Gerakan Aktual dengan

Usulan ... VI-6

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1

7.1. Kesimpulan ... VII-1

7.2. Saran ... VII-2

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(10)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

1.1. Operator PadaSaatMelakukanPemotongan ... I-2 2.1. Struktur Organisasi CV. Mabar Karya Utama ... II-4 3.1. DimensiDasarPerancanganKursi ... III-4 3.2. DimensiDasarPerancanganMeja ... III-6 3.3. Antropometri Tubuh Manusiayang Diukur Dimensinya ... III-10 3.4. Distribusi Normal dengan Data Antropometri Persenti95 ... III-12 3.5. Standard Nordic Questionaire (SNQ) ... III-22 3.6. Postur Batang Tubuh REBA ... III-23 3.7. Postur Leher REBA ... III-24 3.8. Postur Kaki REBA ... III-24 3.9. Postur Lengan Atas REBA ... III-25 3.10. Postur Lengan Bawah REBA ... III-25 3.11. Postur Pergelangan Tangan REBA ... III-26 3.12. REBA Assessments Worksheet ... III-29 3.13. Diagram Alir Proses PerancanganPahldanBeitz ... III-35 3.14. KonsepFolding ... III-36 3.15. KonsepStacking... III-37 3.16. KonsepPortable ... III-37 3.17. KonsepKnock Down... III-38


(11)

DAFTAR GAMBAR (Lanjutan)

GAMBAR HALAMAN

3.18. Konsep Adjustable ... III-38 3.19. KonsepCombination ... III-39 3.20. KonsepMenyusun ... III-40 3.21. KonsepOnePiece ... III-40 3.22. KonsepTwoPiece... III-41 3.23. Konsep Y ... III-41 3.24. KonsepWedding Stool ... III-42 4.1. Flowchart Metodologi Penelitian ... IV-6 5.1. Mengukur Benda Kerja ... V-1 5.2. Mengunci Benda Kerja ... V-2 5.3. Menyalakan Mesin ... V-2 5.4. Memotong Benda Kerja ... V-2 5.5. Mematikan Mesin ... V-3 5.6. Postur Kerja Mengukur ... V-6 5.7. Postur Kerja Mengunci ... V-6 5.8. Postur Kerja MenyalakanMesin ... V-6 5.9. Postur Kerja Memotong ... V-7 5.10. Postur Kerja MematikanMesin ... V-7 5.11. Histogram Keluhan Operator ... V-10


(12)

DAFTAR GAMBAR (Lanjutan)

GAMBAR HALAMAN

5.12. Penilaian REBA KiriElemenGerakanMengukur

Benda Kerja ... V-11 5.13. Penilaian REBA KananElemenGerakanMengukur

Benda Kerja ... V-12 5.14. FungsiUtamaMeja ... V-30 5.15. FungsiUtamaKursi ... V-30 5.16. Konsep Awal Perancangan Meja TwoPiece dan Kursi

Adjustable ... V-36 5.17. Konsep Akhir Perancangan Meja TwoPiece dan Kursi

Adjustable ... V-37 5.18. Hasil Desain Meja Operator ... V-39 5.19. Kursi Operator ... V-40 5.20. Troli Tampak Depan ... V-41 6.1. Hasil Desain Meja dan Kursi Kerja ... VI-3 6.2. Hasil Desain Meja dan Kursi Kerja Tampak Atas ... VI-3 6.3. Hasil Desain Meja dan Kursi Kerja Tampak Belakang ... VI-4 6.4. Kondisi Kerja di Stasiun Pemotongan ... VI-5 6.5. Elemen Kerja Aktual... VI-7 6.6. Elemen Kerja Usulan ... VI-7


(13)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

2.1. TenagaKerja CV. MabarKaryaUtama ... II-6 2.2. Jam KerjaKaryawan ... II-7 3.1. Jenis Persentil dan Perhitungan dalam Distribusi Normal ... III-13 3.2. SkorBatangTubuh REBA ... III-23 3.3. SkorLeher REBA ... III-24 3.4. Skor Kaki REBA ... III-24 3.5. Tabel A (Penilaian Tubuh Bagian A) REBA ... III-25 3.6. SkorLenganAtas REBA ... III-25 3.7. SkorLenganBawah REBA ... III-26 3.8. SkorPergelanganTangan REBA ... III-26 3.9. Tabel B (Penilaian Tubuh Bagian B) REBA ... III-26 3.10. SkorBeban REBA ... III-27 3.11. Skor CouplingREBA ... III-27 3.12. Skor C REBA ... III-27 3.13. SkorAktivitas REBA ... III-28 3.14. Nilai Level Tindakan REBA ... III-28 5.1. Hasil Rekapitulasi Standard Nordic Questionnaire Operator ... V-4 5.2. Data HasilPengukuranAntropometri ... V-8 5.3. Nilai Level Tindakan REBAKiri ... V-12


(14)

5.4. Nilai Level Tindakan REBAKanan ... V-13 5.5. HasilPenilaianPosturKerja Operator ... V-14 5.6. PerhitunganUjiKeseragaman Data ... V-17 5.7. Data Out Of Control ... V-18 5.8. PerhitunganUjiKeseragaman Data Revisi I ... V-19 5.9. Data Out of ControlRevisi I ... V-21 5.10. PerhitunganUjiKeseragaman Data Revisi II ... V-21 5.11. Data Out Of Control ... V-24 5.12. UjiKecukupan Data ... V-27 5.13. UjiKenormalan Data Dimensi ... V-25 5.14. PerhitunganPersentil ... V-26 5.15. SpesifikasiMeja dan Kursi Operator Pemotongan ... V-27 5.16. Prinsip Pemecahan Masalah ... V-31 5.17. Tahap Pengembangan Konsep ... V-32 5.18. Formulir Pengisian ... V-35 6.1. Keterangan Gambar Kondisi Kerja di Stasiun Pemotongan ... VI-6


(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Stasiun kerja merupakan salah satu komponen yang harus diperhatikan berkenaan dalam upaya peningkatan produktivitas kerja. Kondisi kerja yang tidak memperhatikan kenyamanan, kepuasan, keselamatan dan kesehatan kerja akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja manusia. Perancangan atau redesain stasiun kerja itu sendiri harus memperhatikan peranan dan fungsi pokok dari komponen-komponen sistem kerja yang terlibat yaitu manusia, mesin/peralatan dan lingkungan fisik kerja (Sritomo Wignjosoebroto,dkk. 2001)

CV. Mabar Karya Utama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi logam yang menggunakan bahan dasar besi yang menawarkan suatu jasa penyediaan barang dan pembuatan komponen mesin-mesin serta menerima pesanan konsumen.Kegiatan produksi pada usaha ini meliputi proses pemotongan, pembubutan, penggerindaan, dan pengelasan. Penelitian awal diketahui operator pada stasiun pemotongan lebih sering melakukan aktivitas dan memiliki frekuensi kegiatan yang lebih lama. Elemen kerja operator dimulai dari pengambilan, penyusunan, pengukuran, pemotongan, dan peletakan benda kerja. Panjang maksimum benda kerja 6 m, lebar maksimum benda kerja 10 cm, dan diameter maksimum 10 cm, jenis besi yang di potong besi siku, besi pipa, besi persegi, besi pelintir dan lain sebagainya, ukuran benda kerja yang dipotong sesuai dengan produk yang akan dihasilkan.


(16)

Kondisi nyata pada stasiun pemotongan adalah tidak adanya fasilitas kerja yang mendukung operator dalam melakukan aktivitas kerja dimana mesin gerinda berada di lantai sehingga operator bekerjadalam keadaan jongkok dimana lutut dan mata kaki tertekuk, bahu naik dan badan membungkuk sehingga postur kerja yang dialami operator tidak ergonomis.

Gambar 1.1. Operator Pada Saat Melakukan Pemotongan

Wawancara dengan operator diketahui bahwa adanya keluhan rasa sakit pada otot kaki atau kram dan sakit pada punggung. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keluhan nyeri yang dialami operator melalui SNQ dan penilaian postur kerja untuk mengetahui resiko kerja operator di bagian pemotongan.

Penelitian oleh Agung Kristanto pada tahun 2011 (Rembang), yaitu industri kerupuk di Barokah Jaya, penelitian dilakukan pada stasiun proses produksi dimana pemotongan kerupuk yang dilakukan operator dengan posisi duduk di kursi kecil (dingklik) dan krupuk yang akan dipotong diletakkan di lantai. Berdasarkan observasi awal, operator mengalami rasa nyeri pada beberapa bagian tubuh tertentu mengakibatkan target produksi menjadi tidak optimal. Melihat kondisi kerja tersebut perlu dilakukan perancangan kursi dan meja kerja pada


(17)

stasiun pemotongan.Untuk merancang fasilitas kerja digunakan data antropometri tubuh operator di CV. Mabar karya Utama dan keluhan-keluhan selama bekerja dan waktu proses pemotongan benda kerja. Hasil penelitian ini adalah rancangan meja dan kursi kerja pada stasiun pemotongan.

Penelitian selanjutnya dilakukan Johanna Renny Octavia Hariandja dkk, (Bandung, 2013) mengenai pemakaian laptop di kalangan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) yang bertujuan untuk mengevaluasi serta merancang fasilitas pendukung berupa kursi dan meja untuk menggunakan laptop di UNPAR ditinjau dari aspek ergonomis. Evaluasi fasilitas yang tersedia saat ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map dan kuesioner mengenai kebutuhan fitur yang melibatkan 20 responden mahasiswa. Hasil dari kuesioner tersebut menunjukkan bahwa fasilitas saat ini mengakibatkan tingkat cidera otot yang cukup tinggi. Selanjutnya dihasilkan beberapa alternatif konsep kursi dan meja laptop yang kemudian ditentukan konsepnya.

Dari gambaran di atas, maka perlu dilakukan perbaikan fasilitas kerja pada stasiun pemotongan agar lebih ergonomis sesuai dengan antropometri operator. Diharapkan dengan adanya perancangan fasilitas kerja maka postur kerja operator selama bekerja dapat diperbaiki sehingga dapat mengurangi keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh operator.


(18)

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang terjadi di CV. Mabar Karya Utama adalah tidak adanya fasilitas kerja sehingga postur kerja tidak ergonomis dan menimbulkan keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh.

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendapatkan rancangan perbaikan fasilitas kerja yang egonomis di stasiun pemotongan untuk mengurangi keluhan nyeripada operator.

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi keluhan rasa sakit pada bagian tubuh operator pada stasiun pemotongan dengan kuisioner SNQ.

2. Menganalisis pengaruh postur kerja terhadap level resiko operator pada stasiunpemotongan dengan menggunakan metode REBA.

3. Melakukan perancangan fasilitas kerja dengan menggunakan metode Pahl

dan Beitz.

1.3.2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan pengalaman dalam menerapkan teori-teori ergonomi, khususnya dalam penilaian postur kerja, perancangan fasilitas kerja berdasarkan dimensi dan prinsip anthropometri yang telah


(19)

didapat di perguruan tinggi kedalam lingkungan industri secara nyata dalam menyelesaikan suatu permasalahan-permasalahan praktis..

2. Hasil dari penelitian dapat digunakan sebagai masukan untuk merancang alat bantu yang ergonomis dan mengetahui postur kerja yang ergonomis untuk mengurangi keluhan rasa sakit yang dialami oleh operator.

3. Menjalin hubungan baik antara Departemen Teknik Industri dan perusahaan yang terlibat. Selain itu untuk memperkaya hasil karya mahasiswa sehingga dapat menjadi referensi penelitian selanjutnya.

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi

Batasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Usulan rancangan hanya dilakukan untuk fasilitas kerja pada stasiun pemotongan tanpa dipengaruhi oleh komponen stasiun kerja lainnya.

2. Penelitian hanya dilakukan pada operator pada stasiun pemotongan.

3. Sampel data dimensi antropometri, yaitu operator pemotongan dan data mahasiswa Teknik Industri dari Laboratorium AP&K dapat mewakili populasi operator sebagai acuan dalam perancangan.

4. Pemecahan masalah dibatasi hanya sampai pada pemberian usulan rancang fasilitas kerja meja dan kursi tidak sampai pada pembuatan produk secara nyata.

5. Penelitian tidak melakukan perhitungan estimasi biaya perancangan fasilitas kerja dan biaya yang dapat timbul dari tidak adanya fasilitas kerja.


(20)

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Proses kegiatan dilakukan pada proses produksi di CV. Mabar Karya Utama berjalan dengan normal.


(21)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Umum Perusahaan

Faktor utama kelancaran suatu operasional pabrik satu diantaranya adalah

performance mesin, alat dankomponen pabrik yang primadesign mesin tersebut, meliputi pemilihan material, teknik pembuatan, tingkat kepresisian, dan finishing

yang proporsional.

Harga yang mahal tidak menjamin performance suatu mesin atau komponen beroperasi dengan baik tanpa didukung oleh peng-operasionalan yang benar.Sehubungan dengan hal tersebut CV. Mabar Karya Utama, menawarkan suatu jasa penyediaan barang dan pembuatan komponen-komponen pabrik, juga menerima kebutuhan sehari-hari masyarakat sesuai keinginan.Dengan mengoptimalkan workshop yang ada dan didukung dengan beberapa mitra kerja serta man power yang kompeten dibidangnya, CV. Karya Mabar Utama optimis dapat memenuhi kebutuhan para client dengan optimal.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1980, yang didirikan oleh beberapa orang pemegang saham. Awalnya perusahaan ini dikenal dengan nama bengkel cakrawala kemudian berkembang terus menerus hingga pesat.. Pada tahun 1995, perbengkelan ini berubah nama menjadi CV. Mabar Karya Utama, yaitu sebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang pembuatan peralatan dan mesin-mesin. CV. Mabar Karya Utama terus berkembang dari segi kualitas produk dan semakin


(22)

dipercaya oleh konsumen hingga wilayah pemasaran sudah mencapai tingkat nasional dan menjalin kerja sama dengan konsumen.

2.2. Ruang Lingkup Usaha

Produk utama yang dihasilkan oleh CV. Mabar Karya Utama adalah suku cadang mesin pabrik dan menerima pesanan konsumen dari beberapa wilayah di kota Medan dan Deli Serdang hingga ke luar kota seperti Riau. Sistem produksi yang dianut oleh perusahaan ini adalah menghasilkan barang berdasarkan pesanan (make to order), oleh sebab itu barang yang hasilkan tidak tetap jenisnya.

Beberapa produk casting dengan pola yang dihasilkan oleh workshop CV. Mabar Karya Utama, antara lain:

1. Fruit Cage (Lori Buah)

Lori buah adalah komponen kelapa sawit (PKS) yang berfungsi sebagai wadah tandan buah segar (TBS) yang nantinya akan dimasukkan kedalam Sterillizer untuk dilakukan proses perebusan (masak).

2. Pulley

Pulley adalah suatu alat mekanis yang digunakan sebagai sabuk untuk menjalankan sesuatu kekuatan alur yang berfungsi menghantarkan suatu daya. Cara kerja Pulley sering digunakan untuk mengubah arah dari gaya yang diberikan, Mengirimkan gerak rotasi, Memberikan keuntungan mekanis apabila digunakan pada kendaraan. Fungsi dari Pulley sebenarnya hanya sebagai penghubung mekanis ke AC, Alternator, Power Steering, dan lain sebagainya.


(23)

3. Housing Impeller

Impeler merupakan cakram bulat dari logam dengan lintasan untuk aliran fluida yang sudah terpasang.Impeler biasanya terbuat dari perunggu, polikarbonat, besi tuang atau stainlesssteel, namun bahan-bahan lain juga digunakan.Sebagaimana kinerja pompa tergantung pada jenis impeller nya, maka penting untuk memilih rancangan yang cocok dan mendapatkan impeler dalam kondisi yang baik.Jumlah impeler menentukan jumlah tahapan pompa. Pompa satu tahap memiliki satu impeler dan sangat cocok untuk layanan head (tekanan) rendah. Pompa dua tahap memiliki dua impeler yang terpasang secara seri untuk layanan head sedang.Pompa multi-tahap memiliki tiga impeler atau lebih terpasang seri untuk layanan head yang tinggi.

4. Roda Lori

Roda lori Besi berfungsi ban atau roda dari lori / troly dan lain sebagainya. Ukuran dari produk ini tergantung pemesanan.

5. Screw Conveyor

Screw conveyor adalah satu diantara alat transportasi / material handling. Ukuran conveyor ini bermacam-macam sesuai dengan fungsinya, mulai ukuran diameter 250 mm sampai dengan diameter 800 mm, material yang digunakan pada umumnya adalah material MS Plate, pipa steam dan assensteel.

6. Spur Gear Wheel

Gear ini di pasangkan padashaft pres, sehingga putaran dari long shaft

berpindah ke short shaft. Kedua shaft bergerak berlawanan, sehingga screw pres


(24)

brondolan buah sawit. Material yang digunakan umumnya adalah carbon steel

atau machinery steel.

Sedangkan beberapa produk lainnya yang di minati konsumen dengan pola yang dihasilkan oleh workshop CV. Mabar Karya Utama, antara lain: tangga, kaki meja, rak buku, tenda, kursi dan lain sebagainya.

2.3. Struktur Organisasi

CV. Mabar Karya Utama dalam manajemennya menggunakan struktur organisasi garis (lini).Bila ditinjau dari struktur organisasinya wewenang dan tanggung jjawab berjalan garis lurus mulai dari pimpinan puncak sampai pada tingkat yang berada dibawahnya.Gambar struktur organisasi CV. Mabar Karya Utama dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Manajer Produksi

Sekretaris

Administrasi Produksi

Direktur

operator


(25)

2.4.Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

Suatu organisasi memerlukan personil-personil yang menduduki jabatan tertentu dalam menjalankan organisasi tersebut, dimana masing-masing karyawan diberi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan jabatannya. Tugas dan tanggung jawab pada perusahaan ini adalah sebagai berikut :

1. Direktur

Bertugas memberikan kebijakan didalam perusahaan, termasuk menandatangani surat-surat ekstern dan intern, pesanan-pesanan pembelian dan faktur-faktur penjualan.

2. Manajer Produksi

Bertugas dalam pengawasan proses produksi. 3. Administrasi

Bertugas dalam membuat laporan harian dan membuat catatan administrasi. Administrasi juga berwenang dalam melaksanakan administrasi kepegawaian seperti izin cuti, perlengkapan kerja, dan surat kepegawaian.

4. Sekretaris

Berwenang dalam membuat anggaran perusahaan yang berhubungan dengan transaksi pembelian dan segala sesuatu yang dibutuhkan pabrik dan mengeluarkan yang perusahaan dengan ijin direktur.

5. Produksi

Bertugas melaksanakan inventari fisik dan mengevaluasi pelaksanaan, serta memberikan laporan tentang keadaan produksi diperusahaan.


(26)

6. Operator

Bertugas dalam pembuatan produk-produk yang akan dihasilkan sesuai dengan pesanan.


(27)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Ergonomi1

Sejumlah faktor yang memainkan peranan penting dalam ergonomi adalah postur tubuh dan pergerakan (duduk, berdiri, mengangkat, menarik, mendorong), faktor lingkungan kerja (kebisingan, getaran, iluminasi, iklim kerja, dan substansi kimia), informasi dan operasi, demikian juga jenis pekerjaan.

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang artinya kerja dan nomos yang artinya hukum alam. Menurut Sutalaksana (1979), ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif,aman, sehat, nyaman dan efisien.

Pendekatan ergonomi menghasilkan adaptasi stasiun kerja atau lingkungan kerja terhadap manusia.Setiap hari, banyak pekerjaan yang berbahaya pada kesehatan. Di negara-negara barat, musculoskeletal disorders dan kondisi psikologis yang tidak baik merupakan faktor yang menyebabkan ketidakhadiran. Salah satu penyebab kondisi ini adalah desain peralatan kurang ergonomis, sistem teknis dan tugas.Dalam hal ini, ergonomis dapat membantu mengurangi masalah yang ada dengan memperbaiki kondisi kerja.

1


(28)

3.2. Antropometri2

a. Umur. Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar,seiring dengan bertambahnya waktu, yaitu sejak awal kelahirannya sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian yang dilakukan olehA.F.Roche dan G.H.Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan wanita 17,3 tahun, meskipun ada sekitar 10 % yang masih terus bertambahtinggi sampai usia23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita). 3.2.1. Definisi Antropometri

Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran.Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri menurut Sevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

3.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri

Manusia pada umumnya berbeda-beda bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya.Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah:


(29)

Setelah itu, tidak akan terjadi pertumbuhan bahkan akan cenderung berubah menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.

b. Jenis kelamin (sex). Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita,terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya.

c. Suku/bangsa (ethnic). Setiap suku,bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainya.

d. Posisi tubuh (posture). Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh sebab itu, posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran. Dalam kaitan dengan posisi tubuh dikenal dua cara pengukuran yaitu pengukuran dimensi struktur tubuh dan pengukuran dimensi fungsional tubuh.

e. Cacat tubuh, dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat (kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-lain).

f. Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orang akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.

g. Kehamilan (pregnancy), dimana kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh (khusus perempuan). Hal tersebut


(30)

jelas memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti ini.

3.2.3. Aspek Antropometri Dalam Perancangan Meja dan Kursi

Aspek antropometri dalam perancangan kursi dapat dilihat dari dimensi kursi pada Gambar 3.1.

Tinggi Kursi

Lebar Kursi Panjang

Kursi Lebar Sandaran

Punggung

Tinggi Sandaran Pungung

Sumber : Ilustrasi Gambar dari Handbook Ergonomics and Design A Referensi Guide (Openshaw et al. 2006)

Gambar 3.1. Dimensi Dasar Perancangan Kursi Adapun cara pengukuran dari tiap dimensi kursi yaitu:

1. Tinggi kursi

Jika tinggi kursi melebihi tinggi popliteal pengguna, tekanan akan dirasakan di bawah paha. Sebaliknya, jika tinggi kursi terlalu rendah dengan tinggi tinggi popliteal maka:


(31)

a. Kaki pengguna akan terjulur ke lantai

b. Pengguna akan mengalami masalah yang lebih besar ketika berdiri dan duduk, karena jarak pusat gravitasi harus bergerak

c. Pengguna memerlukan ruang kaki yang lebih besar.

Secara umum, tinggi kursi yang optimal harus sesuai dengan tinggi popliteal ditambah dengan kelonggaran sepatu. Adapun kelonggaran untuk sepatu yang digunakan dalam tempat yang formal ditambahkan:

a. 25 mm untuk semua dimensi untuk laki-laki b. 45 mm untuk semua dimensi untuk perempuan.

Dalam hal ini tinggi kursi tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. 2. Kedalaman kursi (panjang kursi)

Jika kedalaman kursi atau panjang kursi melebihi panjang popliteal, pengguna tidak akan bisa menggunakan sandaran kursi secara efektif tanpa menerima tekanan pada punggung dan lutut.

3. Lebar kursi

Lebar kursi harus sesuai dengan lebar pinggul dan harus memadai dan nyaman digunakan jika kursi menggunakan sandaran lengan.

4. Tinggi sandaran punggung

Tinggi sandaran punggung lebih efektif digunakan untuk mendukung berat punggung. Tinggi sandaran punggung ini harus sesuai dengan tinggi bahu. 5. Lebar sandaran punggung


(32)

Sedangkan aspek antropometri dalam perancangan meja dapat dilihat dari dimensi meja pada Gambar 3.2.

Tinggi Meja

Tinggi Meja dari Bawah Meja

Panjang Meja

Lebar Meja

Sumber : Ilustrasi Gambar dari Handbook Ergonomics and Design A Referensi Guide (Openshaw et al. 2006)

Gambar 3.2. Dimensi Dasar Perancangan Meja

Adapun cara pengukuran dari tiap dimensi meja yaitu: 1. Tinggi meja

Tinggi meja ditentukan oleh tinggi popliteal ditambahkan tinggi siku dalam posisi duduk dan ditambahkan dengan kelonggaran sepatu.

2. Tinggi meja dari bawah meja

Tinggi meja dari bawah meja ditentukan oleh tinggi popliteal ditambahkan tebal paha dan ditambahkan dengan kelonggaran sepatu (Pheasant, 2003).


(33)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di CV. Mabar Karya Utama yang bergerak dibidang workshop di jalan Mangaan 8, Lingk.17, No.5 Mabar.Penelitian dan pelaksanaan tugas sarjana ini dimulai pada bulan November 2013.

4.2. Objek Penelitian

Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah operator pada stasiun pemotongan di CV. Mabar Karya Utama.

4.3. Jenis Penelitian3

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif (deskriptif research) yaitu penelitian yang berusaha untuk memaparkan pemecahan masalah terhadap suatu masalah yang ada sekarang secara sistematis dan faktual berdasarkan data. Jadi penelitian ini meliputi proses pengumpulan, penyajian dan pengolahan data, serta analisis dan interpretasi data.

4.4. Populasi dan Sampel Penelitian .

Penelitian ini tidak menggunakan teknik penarikan sampel, hal ini dikarenakan jumlah populasi operator yang melakukan aktivitas pada bagian produksi yang menjadi

3


(34)

objek penelitian hanya berjumlah satu orang pekerja saja maka keseluruhan populasi tersebut dijadikan objek penelitian.

4.5.Kerangka Berpikir

Keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh operator dipengaruhi oleh postur kerja yang tidak ergonomis karena tidak adanya fasilitas kerja.

4.6. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan antara lain :

1. Standard Nordic Quetionaire yaitu digunakan untuk mengetahui tingkat resiko kerja pada operator.

2. Kamera Casio 14 Megapixel digunakan untuk mengambil foto tentang postur tubuh 3. Human body martin digunakan untuk mengukur dimensi tubuh operator.

4. Goniometer untuk mengukur sudut tubuh operator

4.7.Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan, wawancara dan pengukuran langsung terhadap subjek penelitian di lapangan antara lain:


(35)

a. Data hasil kuisioner SNQ diperoleh dengan melakukan penyebaran kuisioner untuk hasil resiko kerja operator.

b. Data gambar pergerakan tubuh operator saat bekerja atau postur tubuh operator diperoleh dengan melakukan pengamatan dan dengan melakukan pengukuran terhadap sudut tubuh operator.

c. Data dimensi tubuh operator. d. Data postur kerja aktual operator.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari tempat objek penelitian dan bukan pengukuran langsung terhadap objek penelitian di lapangan, data sekunder yang diperoleh sebagai berikut:

a. Gambaran umum perusahaan

Data gambaran umum tentang perusahaan ini meliputi data tentang sejarah perusaahan, jumlah karyawan, fasilitas perusahaan, struktur organisasi perusahaan dan visi misi perusahaan serta data operator yang dianggap perlu seperti data umur operator dan tahun masuk operator.

4.8. Metode Penelitian

4.8.1. Metode Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat dikumpulkan dengan cara sebagai berikut :

1. Kuisioner SNQ digunakan untuk mengetahui keluhan pada pekerja. 2. Observasi (pengamatan)


(36)

Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap postur tubuh operator yang sedang bekerja.

3. Data dimensi antropometri tubuh operator

4.8.2. Metode Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data diolah dengan menggunakan non-statistik yaitu

1. Bagian tubuh operator yang mengalami keluhan pada otot rangkadari hasil SNQ. 2. Postur kerja operator dengan menggunakan metode REBA

3. Perancangan fasilitas kerja usulan sesuai dengan data antropometri.

4. Analisis secara ergonomi meja usulan dengan menggunakan metode Pahl dan Beitz.

4.8.3. Metode Analisis Pemecahan Masalah

Hasil pengolahan data tersebut dianalisis yang digunakan sebagai dasar perancangan fasilitas kerja operator pada stasiunpemotongan.Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian postur kerja dihubungkan dengan keluhan operator.Setelah itu dilakukan perancangan fasilitas kerjayang disesuaikan dengan dimensi operator dengan harapan dapat mereduksi keluhan pada otot kaki dan punggung.

4.9. Kesimpulan dan Saran

Pada bagian akhir dilakukan penarikan kesimpulan sebagai rangkuman hasil peneliti dan pemberian saran bila diperlukan.


(37)

Metodologi penelitian ini disajikan dalam flowchart seperti ditunjukkan pada Gambar 4.1.


(38)

Mulai

Studi Pendahuluan:

Melalui pengamatan pendahuluan di CV. Mabar Karya Utama

Studi Literatur:

Melalui jurnal-jurnal, laporan, dan sumber referensi lain terkait masalah

penelitian

Identifikasi Masalah:

Fasilitas kerja yang tidak tersedia sehingga mengakibatkan keluhan gangguan otot kaki dan

punggung pada operator

Tujuan Penelitian:

Merancang perbaikan fasilitas kerja operator di stasiun pemotongan

Pengolahan Data:

1. Standard Nordic Questionaire (SNQ) untuk menentukan bagian tubuh yang mengalami resiko kerja

2. Penilain postur kerja dengan metode REBA.

3. Perancangan fasilitas kerja usulan sesuai dengan data antropometri.

4. Analisis secara ergonomi meja usulan dengan menggunakan metode Pahl dan Beitz.

Data Primer: - Data resiko kerja (SNQ)

- Data Postur Kerja - Data Dimensi antropometri

operator

Data Sekunder: - Gambaran umum perusahaan

- Nama mesin dan peralatan - Data organisasi

perusahaan

Analisis Pemecahan Masalah:

Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian postur kerja dihubungkan dengan keluhan operator. Setelah itu dilakukan perancangan fasilitas kerjayang disesuaikan dengan dimensi operator dengan harapan

dapat mereduksi keluhan pada pada beberapa bagian tubuh.

Kesimpulan dan Saran

Selesai


(39)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui pengamatan terhadap postur kerja operator, pengukuran data antropometri, wawancara dengan pemilik usaha dan karyawan-karyawan, serta pengisian SNQ.

5.1.1. Proses dan Situasi Kerja

Data yang diambil yaitu berupa gambar ketika memotong untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya pada proses pemotongan.


(40)

Gambar 5.2. Mengunci Benda Kerja

Gambar 5.3. Menyalakan Mesin


(41)

Gambar 5.5. Mematikan Mesin

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data hasil Standard Nordic Qustionaire, data dimensi tubuh operator dan data postur tubuh operator dengan metode REBA.

5.1.2. Data Hasil Standard Nordic Qustionaire

Penilaian dengan Standard Nordic Questionnaire digunakan untuk mengetahui level keluhan musculoskeletal yang dialami operator serta dinilai dengan pemberian bobot nilai, yaitu:

a. Untuk tidak ada keluhan diberikan bobot nilai 0 b. Untuk keluhan agak sakit diberikan bobot nilai 1 c. Untuk keluhan sakit diberikan bobot nilai 2

d. Untuk keluhan sangat sakit diberikan bobot nilai 3.

Adapun penjelasan kategori keluhan yang dirasakan operator saat belajar adalah sebagai berikut:


(42)

1. Tidak sakit (dengan skor 0), hal ini apabila operator tidak merasakan keluhan yang berarti terhadap bagian tubuh.

2. Rasa agak sakit (dengan skor 1), hal ini apabila operator hanya merasakan rasa nyeri sesekali saja ataupun kesemutan.

3. Rasa sakit (dengan skor 2), hal ini apabila operator sering merasakan rasa nyeri terhadap bagian tubuh mereka ataupun pegal.

4. Rasa sangat sakit (dengan skor 3), hal ini apabila operator mengalami rasa pegal dan nyeri yang lama (masih dirasakan walaupun pekerjaan sudah selesai atau sudah sampai dirumah).

Adapun persentase jenis keluhan dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Hasil Rekapitulasi Standard Nordic Questionnaire Operator

No Jenis Keluhan Bobot

0 Sakit kaku di leher bagian atas 3 1 Sakit kaku di leher bagian bawah 2

2 Sakit di bahu kiri 2

3 Sakit di bahu kanan 2

4 Sakit lengan atas kiri 1

5 Sakit di punggung 3

6 Sakit lengan atas kanan 2

7 Sakit di pinggang 3

8 Sakit pada bokong 2

9 Sakit pada pantat 2

10 Sakit pada siku kiri 1

11 Sakit pada siku kanan 1

12 Sakit pada lengan bawah kiri 2 13 Sakit pada lengan bawah kanan 2 14 Sakit pada pergelangan tangan kiri 1 15 Sakit pada pergelangan tangan kanan 1 16 Sakit pada tangan kiri 1 17 Sakit pada tangan kanan 1


(43)

Tabel 5.1. HasilRekapitulasiStandard Nordic Questionnaire Operator (Lanjutan)

No Jenis Keluhan Bobot

19 Sakit pada paha kanan 3

20 Sakit pada lutut kiri 3

21 Sakit pada lutut kanan 3

22 Sakit pada betis kiri 3

23 Sakit pada betis kanan 3 24 Sakit pada pergelangan kaki kiri 3 25 Sakit pada pergelangan kaki kanan 3

26 Sakit pada kaki kiri 3

27 Sakit pada kaki kanan 3

Sumber: Hasil Pengolahan Data

5.1.3. Data Postur Kerja Operator

Postur kerja operator dalam hal ini merupakan sikap ataupun posisi tubuh operator saat bekerja tanpa menggunakan meja dan kursi sebagai fasilitas tambahan. Faktor kenyamanan pada saat pemotongan yaitu adanya fasilitas kerja seperti meja dan kursi. Sedangkan faktor kenyamanan pada saat duduk yaitu jika paha pengguna terbentuk horizontal serta betis pengguna terbentuk vertikal dengan kaki dan kaki harus menyentuh lantai. Oleh karena itu dilakukan pengamatan terhadap operator yang sering merasakan keluhan sakit dan keluhan sangat sakit. Berdasarkan hasil rekapitulasi Standard Nordict Questionaire pada operator pemotongan benar mengalami rasa sakit.


(44)

BAB VI

ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1 AnalisisStandard Nordic Questionnaire

Dari hasil Standard Nordic Questionnaire dapat diketahui bahwa terdapat beberapa keluhan dengan skor tertinggi.Hal ini dikarenakan operator melakukan tugas memotong benda kerja.Keluhan sangat sakit sering dialami operator pada leher bagian atas, pada punggung, pada pinggang dan pada bokong dikarenakan operator bekerja dalam keadaan membungkuk karena tidak adanya fasilitas kerja.Sedangkan sakit di bahu kanan, sakit pada siku kanan, pergelangan tangan kanan dikarenakan posisi tangan yang naik turun untuk menggerakkan mesin. Sangat sakit pada paha kiri, paha kanan, lutut kiri, lutut kanan, betis kiri, betis kanan, pergelangan kaki kiri, pergelangan kaki kanan, kaki kiri dan kaki kanan dikarenakan tidak ada fasilitas kursi sehingga bekerja dalam keadaan jongkok dan dengan kaki tertekuk,kemudian sakit pada pantat dikarenakan bertumpu pada betis kanan dan kiri. Dari hasil diatas maka dilakukan perbaikan dengan mendesain meja dan kursi kerja untuk mengurangi keluhan kerja operator.

6.2. AnalisisPostur Tubuh Operator

Posisi kerja yang tidak sesuai mengakibatkan postur tubuh yang salah. Analisis postur tubuh dilakukan untuk mengetahui kategori level resiko dan tindakan yang harus dilakukan. Dalam hal ini, postur tubuh operator dianalisa dengan metode penilaian postur tubuh REBA. Penilaian postur tubuhREBA


(45)

dilakukan terhadap satu orang operator dan diperoleh hasil dengan level resiko 9 sehingga diperlukan tindakan sekarang juga. Level resiko kerja operator tertinggi padaelemenkerjamematikanmesindanmengukurbendakerja dikarenakan postur tubuh operator membungkuk membentuk sudut lebih besar 450 dengan bahu naik dan posisi kaki operator yang berlipat.Adapun tindakan yang diambil yaitu dengan melakukan desaian meja dan kursi kerja operator sehingga meminimalisasi ketidaksesuaian dimensi tubuh operator saat bekerja.

6.3. Analisis Ergonomi Desain Meja dan Kursi Kerja

Pada perancangan fasilitas kerja aktual dan usulan ada beberapa perbedaan, yaitu pada fasilitas kerja aktual tidak ada fasilitaskerja yang digunakan untuk memotong benda kerjayang ukurannya tidak sesuai dengan dimensi tubuh operator dengan ukuran panjang maksimal 6 m, lebar maksimmal 10cm dan diameter maksimal 10 cm yang terletak di lantai sehingga posisi tubuh operator membungkuk.

Fasilitas kerja usulan yang digunakan sudah sesuai dengan dimensi tubuh pekerja. Fasilitas kerja yang dirancang yaitu meja kerja yang digunakan untuk memudahkan dalam proses pemotongan benda kerja. Pada meja kerja terdapat 2

pieces yang dapat diatur ukurannya sehingga memudahkan pekerja dalam proses pengukuran dan pemotongan. Kursi kerja sebagai tempat dudukpekerja sehingga postur kerja dalam pemotongan menjadi lebih ergonomis. Perancangan kursi kerja dapat mengurangi sakit pada pinggang dan pinggul karena operator tidak bekerja dalam keadaan membungkuk.


(46)

Alat bantu trolidigunakan untuk penampungan besi yang jatuh dari meja kerja yang memudahkan operator dalam proses pemotongan sehingga operatortidak perlu lagi menyusun benda kerja yang jatuh di lantai dan mengangkat manual ke stasiun berikutnya atau ke tempat penyimpanan bahan bakun karena troli yang dirancang dapat menjepit benda kerja yang dipotong.


(47)

Gambar 6.2.Hasil Desain Meja dan Kursi Kerja TampakAtas

Gambar 6.3.Hasil Desain Meja dan Kursi Kerja Tampak Belakang Dari Gambar 6.3. diatas dapat diketahui bahwa tinggi kursi dan meja sesuai dengan dimensi operator agar posisi kerja lebih baik.


(48)

6.4. Analisis Kondisi Kerja Aktual dan Usulan

Kondisi kerja aktual dilihat pada Gambar 6.1. (a), dimana kondisi kerja aktual memperlihatkan bahwa operator bekerja tidak ergonomis, karena tidak adanya fasilitas kerja. Pada gambar terdapat tumpukan besi berada di sisi kanan sehingga operator menjangkau terlalu jauh, di depanoperator terdapat alat pemotong sehingga operator bergerak mengambil besi dengan posisi berdiri dan meletakkan besi pada mesin potong. Besi yang terpotong diletakkan disebelah kanan operator dengan kondisi tidak rapi dikarenakan tidak ada fasilitas kerja. Setelah besi banyak terpotong maka operator mengangkat ke stasiun berikutnya atau ke tempat penyimpanan bahan baku dengan manual menggunakan tangan.

Aktual (a) Usulan (b) Gambar 6.4. Kondisi Kerja di Stasiun Pemotongan

Kondisi kerja usulan dilihat pada Gambar 6.4. (b), dimana fasilitaskerja usulan yang dirancang yaitu meja, kursi, dan alat bantu troli yang diletakkan di depan operator untuk memudahkan dalam proses pemotongan. Berdasarkan fasilitas kerja yang diusulkan, terjadi beberapa perubahan terhadap metode kerja. Perubahan metode kerja yang terjadi di proses pemotongan adalah telah dirancang


(49)

meja kerja yang membuat operator tidak membungkuk saat bekerja, yang dilengkapi sudut kemiringan 20º. Alat bantu trolisebagai tempat penampungan besi dan sebagai alat untuk memindahkan besi ke stasiun berikutnya atau ke tempat penyimpanan bahan baku. Selain itu, perubahan metode kerja yang terjadi adalahsikap kerja yang awalnya jongkok menjadi duduk. Operator tersebut duduk pada kursi yang dirancang sesuai dengan antropometri sehingga operatorbekerja nyaman dan ergonomis.

Keterangan simbol pada gambardiatas dapat dilihat pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Keterangan Gambar KondisiKerja di Stasiun Pemotongan

Gambar Keterangan

MejaPemotongan dan troli

operator

Besi

Tempat penyimpanan bahan baku

Besi dan Alat Potong


(50)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan landasan teori, hasilpenelitian, analisis pemecahan masalah, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penilaian postur kerja dari Solid Word diperoleh skor 2-4 dimana kategori pekerja dalam keadaan aman.

2. Operator merasakan adanya keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh dengan kategori agak sakit 25,0%, sakit 28,6% dan sangat sakit 46,43% pada saat bekerja tanpa menggunakan fasilitas.

3. Hasil penilaian postur kerja menunjukkan bahwa kegiatan pemotongan memiliki risiko level 4-9 dengan kategori perlu tindakan perbaikan secepatnya.

4. Desain meja dan kursi operator secara ergonomis dilakukan berdasarkan metode perancangan menurut Pahl dan Beitz. Dengan menggunakan meja dan kursi hasil desain pada saat bekerja posisi tubuh operator tidak membungkuk, bahu tidak naik serta kaki menyentuh lantai.

7.2 Saran

Adapun saran yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dari usulan fasilitas kerja yang dihasilkan pada penelitian ini diharapkan


(51)

2. Penelitian ini hanya berfokus pada aspek desain meja dan kursi secara ergonomis, maka disarankan bagi para peneliti lainnya untuk meneliti lebih mendalam ditinjau dari aspek lainnya, seperti: aspek ekonomi dan aspek lingkungan kerja.


(52)

DAFTAR PUSTAKA

Arimbawa, I Made Gede. 2010. Redesain Peralatan Kerja Secara Ergonomis. Meningkatkan Kinerja Pembuat Minyak Kelapa Tradisional di Kecamatan Dawan Klungkung. Udayana University Press: Bali.

____________________ . 2011. Aspek Metodologi Dalam Penelitian Ergonomi.

Program Studi Kriya Seni. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar.

Chiu, Chung Chia et al. 2012. A Study of Desk and Chair Design for Elementary School Children. Taiwan.

Dieter, George E. dan Linda C. Schmidt. 2009. Engineering Design. Fourth Edition: Singapore.

Engstrom, Anna And Ellen Osterdahl. 2011. Cleaning Africa Through Product Design: A Field Study Regarding Plastic Recycling and Sustainable Product Development in Zanzibar.Chalmers University of Technology. Department of Product and Production Development: Sweden.

Hartono, Markus. 2012. Panduan Survei Data Antropometri. Jurusan Teknik Industri. Universitas Surabaya.

K, Sutapa et al. 2012. Adjusting Working Position by the Usage of Working Tables and Chairs among Students of SMP Seni Ukir Tangeb Bali.Mechanical Engineering Department, Bali State Polytechnic.

Kristanto, Agung dan Dianasa Adhi Saputra. 2011. Perancangan Meja dan Kursi yang Ergonomis Pada Stasiun Kerja Pemotongan Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta.

Lukman, Muhammad. 2007. Penerapan Prototype Meja Bangku Ergonomis Untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua di Malang. Jurusan Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah: Malang.

Martadi. 2006. Konsep Desain Bangku Dan Kursi Sekolah Dasar di Surabaya. Jurusan Seni Rupa. Universitas Negeri Surabaya.

Nurmianto, Eko. 1998. ErgonomiKonsepDasardanAplikasinya. Edisi Kedua. GunaWidya: Surabaya.


(53)

Openshaw, Scott et al. 2006. Ergonomics and Design A Referensi Guide. Allsteel: USA

Pheasant, Stephen. 2003. Bodyspace Antropometry, Ergonomics and the Design of Work. Second Edition. Taylor & Francis e-Library.

Renny, Johannda dan Dinda Utami Ishlah. 2013. Perancangan Kursi dan Meja Laptop yang Ergonomis di

Universitas Katolik Parahyangan. Jurusan Teknik Industri. Universitas Katolik Parahyangan: Bandung

Santoso, Gempur . 2004. Ergonomi Manusia, Peralatan dan Lingkungan. PrestasiPustaka: Jakarta.

Simoneau, Serge et al. 1996. Work-Related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) A Better Understanding For More Effective Prevention.IRSST.

Suma’mur. 1987. Hiperkes Keselamatan Kerja dan Ergonomi. Jakarta: Dharma Bakti, Muara Agung.

Sutalaksana, Iftikar Z. 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Jurusan Teknik Industri. ITB.

Tarwaka, dkk.2004.ErgonomiuntukKeselamatanKerja dan

Produkstivitas.PenerbitUNIBA Press: Surakarta.

Wignjosoebroto, Sritomo. 2008. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Guna Widya: Surabaya. Wiley, John dan Sons, Ltd. 2000. Engineering Design Methods Strategi for


(1)

6.4. Analisis Kondisi Kerja Aktual dan Usulan

Kondisi kerja aktual dilihat pada Gambar 6.1. (a), dimana kondisi kerja aktual memperlihatkan bahwa operator bekerja tidak ergonomis, karena tidak adanya fasilitas kerja. Pada gambar terdapat tumpukan besi berada di sisi kanan sehingga operator menjangkau terlalu jauh, di depanoperator terdapat alat pemotong sehingga operator bergerak mengambil besi dengan posisi berdiri dan meletakkan besi pada mesin potong. Besi yang terpotong diletakkan disebelah kanan operator dengan kondisi tidak rapi dikarenakan tidak ada fasilitas kerja. Setelah besi banyak terpotong maka operator mengangkat ke stasiun berikutnya atau ke tempat penyimpanan bahan baku dengan manual menggunakan tangan.

Aktual (a) Usulan (b) Gambar 6.4. Kondisi Kerja di Stasiun Pemotongan

Kondisi kerja usulan dilihat pada Gambar 6.4. (b), dimana fasilitaskerja usulan yang dirancang yaitu meja, kursi, dan alat bantu troli yang diletakkan di depan operator untuk memudahkan dalam proses pemotongan. Berdasarkan fasilitas kerja yang diusulkan, terjadi beberapa perubahan terhadap metode kerja.


(2)

meja kerja yang membuat operator tidak membungkuk saat bekerja, yang dilengkapi sudut kemiringan 20º. Alat bantu trolisebagai tempat penampungan besi dan sebagai alat untuk memindahkan besi ke stasiun berikutnya atau ke tempat penyimpanan bahan baku. Selain itu, perubahan metode kerja yang terjadi adalahsikap kerja yang awalnya jongkok menjadi duduk. Operator tersebut duduk pada kursi yang dirancang sesuai dengan antropometri sehingga operatorbekerja nyaman dan ergonomis.

Keterangan simbol pada gambardiatas dapat dilihat pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Keterangan Gambar KondisiKerja di Stasiun Pemotongan

Gambar Keterangan

MejaPemotongan dan troli

operator

Besi

Tempat penyimpanan bahan baku Besi dan Alat Potong


(3)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan landasan teori, hasilpenelitian, analisis pemecahan masalah, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penilaian postur kerja dari Solid Word diperoleh skor 2-4 dimana kategori pekerja dalam keadaan aman.

2. Operator merasakan adanya keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh dengan kategori agak sakit 25,0%, sakit 28,6% dan sangat sakit 46,43% pada saat bekerja tanpa menggunakan fasilitas.

3. Hasil penilaian postur kerja menunjukkan bahwa kegiatan pemotongan memiliki risiko level 4-9 dengan kategori perlu tindakan perbaikan secepatnya.

4. Desain meja dan kursi operator secara ergonomis dilakukan berdasarkan metode perancangan menurut Pahl dan Beitz. Dengan menggunakan meja dan kursi hasil desain pada saat bekerja posisi tubuh operator tidak membungkuk, bahu tidak naik serta kaki menyentuh lantai.

7.2 Saran

Adapun saran yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dari usulan fasilitas kerja yang dihasilkan pada penelitian ini diharapkan


(4)

2. Penelitian ini hanya berfokus pada aspek desain meja dan kursi secara ergonomis, maka disarankan bagi para peneliti lainnya untuk meneliti lebih mendalam ditinjau dari aspek lainnya, seperti: aspek ekonomi dan aspek lingkungan kerja.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Arimbawa, I Made Gede. 2010. Redesain Peralatan Kerja Secara Ergonomis. Meningkatkan Kinerja Pembuat Minyak Kelapa Tradisional di Kecamatan

Dawan Klungkung. Udayana University Press: Bali.

____________________ . 2011. Aspek Metodologi Dalam Penelitian Ergonomi. Program Studi Kriya Seni. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar.

Chiu, Chung Chia et al. 2012. A Study of Desk and Chair Design for Elementary

School Children. Taiwan.

Dieter, George E. dan Linda C. Schmidt. 2009. Engineering Design. Fourth Edition: Singapore.

Engstrom, Anna And Ellen Osterdahl. 2011. Cleaning Africa Through Product Design: A Field Study Regarding Plastic Recycling and Sustainable

Product Development in Zanzibar.Chalmers University of Technology.

Department of Product and Production Development: Sweden. Hartono, Markus. 2012. Panduan Survei Data Antropometri. Jurusan Teknik

Industri. Universitas Surabaya.

K, Sutapa et al. 2012. Adjusting Working Position by the Usage of Working Tables and Chairs among Students of SMP Seni Ukir Tangeb Bali.Mechanical Engineering Department, Bali State Polytechnic.

Kristanto, Agung dan Dianasa Adhi Saputra. 2011. Perancangan Meja dan Kursi yang Ergonomis Pada Stasiun Kerja Pemotongan Sebagai Upaya

Peningkatan Produktivitas. Yogyakarta.

Lukman, Muhammad. 2007. Penerapan Prototype Meja Bangku Ergonomis

Untuk Murid Sekolah Dasar Kelas Satu dan Dua di Malang. Jurusan

Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah: Malang.

Martadi. 2006. Konsep Desain Bangku Dan Kursi Sekolah Dasar di Surabaya. Jurusan Seni Rupa. Universitas Negeri Surabaya.


(6)

Openshaw, Scott et al. 2006. Ergonomics and Design A Referensi Guide. Allsteel: USA

Pheasant, Stephen. 2003. Bodyspace Antropometry, Ergonomics and the Design of Work. Second Edition. Taylor & Francis e-Library.

Renny, Johannda dan Dinda Utami Ishlah. 2013. Perancangan Kursi dan Meja Laptop yang Ergonomis di

Universitas Katolik Parahyangan. Jurusan Teknik Industri. Universitas

Katolik Parahyangan: Bandung

Santoso, Gempur . 2004. Ergonomi Manusia, Peralatan dan Lingkungan. PrestasiPustaka: Jakarta.

Simoneau, Serge et al. 1996. Work-Related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) A Better Understanding For More Effective Prevention.IRSST.

Suma’mur. 1987. Hiperkes Keselamatan Kerja dan Ergonomi. Jakarta: Dharma Bakti, Muara Agung.

Sutalaksana, Iftikar Z. 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Jurusan Teknik Industri. ITB.

Tarwaka, dkk.2004.ErgonomiuntukKeselamatanKerja dan

Produkstivitas.PenerbitUNIBA Press: Surakarta.

Wignjosoebroto, Sritomo. 2008. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu Teknik

Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Guna Widya: Surabaya.

Wiley, John dan Sons, Ltd. 2000. Engineering Design Methods Strategi for


Dokumen yang terkait

Rancangan Fasilitas Kerja Ergonomis Pada Stasiun Pencetakan Dengan Metode Pahl Dan Beitz Berdasarkan Analisa Postur Kerja Metode Mantra

12 125 126

Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemotongan Untuk Mengurangi Keluhan Musculoskletal Di CV. Kompaki Amin Bjaya

9 154 185

Usulan Perbaikan Metode Kerja dan Fasilitas Kerja untuk Meningkatkan Produktivitas Perusahaan di Cv. Amdi Mitra Jaya.

4 68 129

Perancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemanggangan Menggunakan Metode Pahl & Beitz Berdasarkan Analisa Poostur Kerja Metode Mantra Studi Kasus: UKM Cahaya Bakery

16 45 158

Perancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemanggangan Menggunakan Metode Pahl & Beitz Berdasarkan Analisa Poostur Kerja Metode Mantra Studi Kasus: UKM Cahaya Bakery

0 0 20

Perancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemanggangan Menggunakan Metode Pahl & Beitz Berdasarkan Analisa Poostur Kerja Metode Mantra Studi Kasus: UKM Cahaya Bakery

0 1 1

Perancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemanggangan Menggunakan Metode Pahl & Beitz Berdasarkan Analisa Poostur Kerja Metode Mantra Studi Kasus: UKM Cahaya Bakery

0 0 6

Perancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemanggangan Menggunakan Metode Pahl & Beitz Berdasarkan Analisa Poostur Kerja Metode Mantra Studi Kasus: UKM Cahaya Bakery

0 0 8

Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemotongan Dengan Metode Pahl dan Beitz di CV. MabarKaryaUtama.

0 1 14

Usulan Perbaikan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Pemotongan Untuk Mengurangi Keluhan Musculoskletal Di CV. Kompaki Amin Bjaya

0 0 20