Atas uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “ Peran Organisasi Islam dalam Mengentaskan Kemiskinan di Kota Medan ”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini, yaitu:
• Bagaimana cara Organisasi Islam Muhammadiyah dan Al Washliyah dalam mengurangi tingkat kemiskinan di kota Medan?
• Bagaimana pengaruh Organisasi Islam Muhammadiyah dan Al Washliyah terhadap masyarakat dalam mengurangi tingkat
kemiskinan?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
• Untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan Organisasi Islam Muhammadiyah dan Al Washliyah dalam upaya mengurangi
tingkat kemiskinan di Kota Medan. • Untuk mengetahui peran yang telah dilakukan Organisasi Islam
di Masyarakat 1.3.2 Manfaat Penelitian
• Bagi Lembaga atau Organisasi Islam, sebagai bahan Informasi tambahan atau masukan dalam membuat keputusan untuk
program-program bagi masyarakat dan dapat digunakan untuk
mengambil langkah-langkah strategis dalam mengoptimalisasi peran organisasi tersebut.
• Bagi masyarakat, penelitian ini dapat memberi penjelasan terhadap masyarakat mengenai peran-peran yg telah dilakukan
oleh Organisasi Islam tersebut. • Bagi penulis untuk menambah wawasan tentang manfaat dari
program-program yang telah dijalankan oleh organisasi Islam tersebut serta dampak yang diterima dari program yg
dijalankan tersebut.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Islam
Islam merupakan sistem kehidupan yang bersifat komprehensif, yang mengatur semua aspek, baik dalam sosial, ekonomi dan politik maupun
kehidupan yang bersifat spiritual. Seperti firman Allah dalam QS. Al- Maa’idah ayat 3 sebagai berikut:
“ Pada hari ini telah Ku- sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku- ridhai Islam itu menjadi
agama bagimu.” Dari firman Allah diatas dapat dilihat bahwa Islam adalah agama yang
sempurna dan mempunyai sistem tersendiri dalam menghadapi permasalahan kehidupan, baik bersifat materiil maupun non materiil. Oleh sebab itu
ekonomi yang merupakan salah satu aspek kehidupan, juga sudah diatur oleh Islam. Tentu saja Allah Swt telah menetapkan batasan-batasan tertentu
terhadap perilaku manusia sehingga menguntungkan satu individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya. Mustafa Edwin, 2010: 2.
Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasaan tertinggi hanya milik Tuhan semata dan sebagai khalifah- Nya di muka bumi, manusia diberi
kebebasan untuk mencari nafkah sesuai dengan hukum yang berlaku serta dengan cara yang adil. Allah SWT telah menetapkan melalui sunnah- Nya
bahwa jenis pekerjaan atau usaha apapun yang dijalankan berdasarkan prinsip
Al- Qur’an tidak akan pernah menjadikan seseorang kaya raya dalam jangka waktu yang singkat namun kesuksesan seseorang dalam berusaha akan
terwujud jika dilalui dengan kerja keras, ketekunana dan kesabaran disertai dengan doa yang tidak ada hentinya. Oleh sebab itu, setiap aktivitas ekonomi
yang dapat mendatangkan keuntungan dengan jalan yang tidak diridhoi oleh Allah maka selayaknya orang tersebut dihukum.
Sementara itu, manusia merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan dalam bentuk yang paling baik, sesuai dengan hakikat wujud manusia dalam
kehidupan didunia, yakni melaksanakan tugas kekhalifahan. Manusia diberi amanah untuk memberdayakan seisi alam raya dengan sebaik-baiknya demi
kesejahteraan seluruh makhluk. Adiwarman, 2004: 3. Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah menurunkan Al- Qur’an sebagai
hidayah yang meliputi berbagai persoalan akidah, syariah, dan akhlak demi kebahagiaan hidup seluruh umat manusia di dunia dan di akhirat. Seperti
halnya Al- Qur’an, Muhammad SAW juga menempatkan ajaran berpikir dan mempergunakan akal sebagai ajaran yang jelas dan tegas, sehingga
disebutkan dalam hadisnya bahwa Rasulullah SAW menyerahkan berbagai urusan duniawi yang bersifat detail dan teknis kepada akal manusia. Seperti
di dalam firman Allah Swt : “ Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat- ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang- orang yang mempunyai pikiran.” QS Shad 38:29Ibid: 6
Sejalan dengan ajaran Islam tentang pemberdayaan akal pikiran dengan tetap berpegang teguh pada Al- Qur’an dan hadist nabi, konsep dan teori ekonomi
dalam Islam pada hakikatnya merupakan respon para cendekiawan Muslim terhadap berbagai tantangan ekonomi pada waktu- waktu tertentu. Berbagai
praktik dan kebijakan ekonomi yang berlangsung pada masa Rasulullah Saw dan khulafa al- Rasyidun merupakan contoh empiris yang dijadikan pijakan
bagi para cendekiawan muslim dalam melahirkan teori- teori ekonominya. Ibid: 10
Berkenaan dengan hal tersebut, menurut Siddiqi Adiwarman, 2004: 10 pemikiran ekonomi Islam dapat diuraikan dalam tiga fase, yaitu:
1. Fase Pertama Fase pertama merupakan fase abad awal sampai dengan abad ke- 5
Hijriyah atau abad ke- 11 Masehi yang dikenal sebagai fase dasar- dasar ekonomi Islam yang dirintis oleh para fuqaha, diikuti oleh sufi
dan kemudian oleh filsuf. Tujuan mereka tidak terbatas pada penggambaran dan penjelasan fenomena ini, namun demikian dengan
mengacu pada Al- Qur’an dan hadist nabi, mereka mengeksplorasi konsep maslahah utility dan mafsadah disutility yang terkait dengan
aktivitas ekonomi. Pemaparan ekonomi para fuqaha tersebut mayoritas bersifat normatif dengan wawasan positif ketika berbicara tentang
perilaku yang adil, kebijakan yang baik, dan batasan- batasan yang diperbolehkan dalam kaitannya dengan permasalahan dunia.
Sedangkan kontribusi utama tasawuf terhadap pemikiran ekonomi adalah dalam mendorong kemitraan yang saling menguntungkan, tidak
rakus dalam memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah Swt, dan secara tetap menolak penempatan tuntutan kekayaan dunia yang terlalu
tinggi. Sementara itu, filsuf muslim dengan tetap berasaskan syariah dalam keseluruhan pemikirannya mengikuti para pendahulunya dari
yunani, terutama Aristoteles 367-322 SM yang fokus pembahasannya tertuju pada sa’adah kebahagiaan dalam arti luas.
Tokoh- tokoh pemikir ekonomi Islam pada fase pertama ini antara lain diwakili oleh Zaid bin Ali w. 80 H 738 M, Abu Hanifah w. 150 H
767 M, Abu Yusuf w. 182 H 789 M, Al- Syaibani w. 189 H 804 M, Abu Ubaid bin Sallam w. 224 H 383 H, Harits bin Asad Al-
Muhasibi w. 243 H 858 M, Junaid Al- Baghdadi w. 297 910 M, Ibnu Miskawaih w. 421 H1030 M, dan Al- Mawardi w. 450 H
1058 M. 2. Fase Kedua
Fase kedua yang dimulai pada abad ke- 11 sampai dengan abad ke- 15 Masehi dikenal sebagai fase yang cemerlang karena meninggalkan
warisan intelektual yang sangat kaya. Para cendekiawan muslim dimasa ini mampu menyusun suatu konsep tentang bagaimana umat
melaksanakan kegiatan ekonomi yang seharusnya berlandaskan Al- Qur’an dan hadist nabi. Pada saat yang bersamaan di sisi lain, mereka
menghadapi realitas politik yang ditandai oleh:
• Pertama, disintegrasi pusat kekuasaan Bani Abbasiyah dan terbaginya kerajaan dalam beberapa kekuatan regional yang
mayoritas didasarkan pada kekuatan ketimbang kehendak rakyat. • Kedua, merebaknya korupsi di kalangan para penguasa diiringi
dengan dekadensi moral di kalangan masyarakat yang
mengakibatkan terjadinya ketimpangan yang semakin melebar antara si kaya dengan si miskin. Pada masa ini, wilayah kekuasaan
islam yang terbentang dari Maroko dan Spanyol di Barat hingga India di Timur telah melahirkan berbagai pusat kegiatan
intelektual. Tokoh-tokoh pemikir ekonomi islam pada fase ini antara lain diwakili
oleh Al- Ghazali w. 505 H 1111 M, Ibnu Taimiyah w. 728 H 1328 M, Al- Syatibi w. 790 H 1388 M, Ibnu Khaldun w. 808 H 1404
M, dan Al- Maqrizi w. 845 H 1441 M. 3. Fase Ketiga
Fase ketiga yang dimulai pada tahun 1446 hingga 1932 Masehi merupakan fase tertutupnya pintu ijtihad yang mengakibatkan fase ini
dikenal dengan fase stagnasi. Pada fase ini, para fuqaha hanya menulis catatan- catatan para pendahulunya dan mengeluarkan fatwa yang
sesuai dengan aturan standar bagi masing- masing mazhab. Namun demikian, terdapat sebuah gerakan pembaharuan selama dua abad
terakhir yang menyeru untuk kembali kepada Al- Qur’an dan hasdist nabi sebagai sumber pedoman hidup.
Tokoh- tokoh pemikir ekonomi Islam pada fase ini antara lain diwakili oleh Shah Wali Allah w. 1176 H 1762 M, Jamaluddin Al- Afghani
w. 1315 H 1897 M, Muhammad Abduh w. 1320 H 1905 M, dan Muhammad Iqbal w. 1357 H 1938 M.
Sedangkan pada era tahun 1930-an merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia Islam. Kemerdekaan negara- negara muslim dari
Kolonialisme Barat turut mendorong semangat para sarjana muslim dalam mengembangkan pemikirannya. Azwar Karim, 2004: 10.
Seperti yang di kutip dari laman religion population menerangkan bahwa populasi umat muslim didunia mengalami peningkatan angka kelahiran yang
cukup tinggi. Islam merupakan agama dengan pertumbuhan yang paling cepat sehingga agama ini menjadi agama dengan pengikut terbanyak didunia.
Populasi muslim pada tahun 2012 adalah 2,08 milyar yang mana sebagian lagi adalah populasi agama keristen sekitar 2,01 milyar.
www.religionpopulation.com.Jumlah penduduk dunia 2013 adalah 7.021.836.029. Sebaran menurut agama adalah: Islam 22.43, Kristen
Katolik 16.83, Kristen Protestan 6.08, Orthodok 4.03, Anglikan 1.26, Hindu 13.78, Buddhist 7.13, Sikh 0.36, Jewish 0.21, Baha’i 0.11,
Lainnya 11.17, Non Agama 9.42, dan Atheists 2.04. www.30- days.net
. Sehingga semakin meningkatnya pertumbuhan ataupun populasi yang terjadi timbullah wadah- wadah atau sarana secara intensif dan
terorganisir yang mempunyai tujuan untuk menyebarkan ajaran Islam.
Wadah- wadah tersebut berkembang menjadi sebuah organisasi yang menjunjung kesejahteraan umat Islam dalam hal ekonomi dan sosial.
2.2 Organisasi