Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Bidan terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat

(1)

PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS ( UPTD ) PUSKESMAS DI KABUPATEN

ACEH BARAT

TESIS

Oleh

MUHAMAD IDRUS 117032229/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

THE INFLUENCE OF MOTIVATION AND MIDWIFE’S COMPETENCY ON THE QUALITY OF HEALTH SERVICE FOR PREGNANT MOTHERS

AT TECHNICAL IMPLEMENTATION UNIT SERVICE OF PUSKESMAS IN ACEH BARAT DISTRICT

THESIS

BY

MUHAMAD IDRUS 117032229/IKM

MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS ( UPTD ) PUSKESMAS DI KABUPATEN

ACEH BARAT

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan ( M. Kes ) dalam Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Reproduksi Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

MUHAMAD IDRUS 113072229/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHTAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(4)

Judul Tesis : PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA UNIT

PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD)

PUSKESMAS DI KABUPATEN ACEH BARAT Nama Mahasiswa : Muhamad Idrus

Nomor Induk Mahasiswa : 117032229

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Reproduksi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Namora Lumongga Lubis, M.Sc, Ph.D) (Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M. Kes

Ketua Anggota )

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)


(5)

Telah diuji

PadaTanggal : 12 Juni 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Namora Lumongga Lubis, M.Sc, Ph.D Anggota : 1. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes

2. Asfriyati, S.K.M, M.Kes


(6)

PERNYATAAN

PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS ( UPTD ) PUSKESMAS DI KABUPATEN

ACEH BARAT

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak pernah terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, Juli 2013

MUHAMAD IDRUS 117032229/IKM


(7)

ABSTRAK

Mutu pelayanan mendapat tuntutan dari masyarakat untuk terus meningkat, seorang petugas kesehatan selain memiliki kemampuan teknis medis, juga dituntut kualitasnya.Di Kabupaten Aceh Barat bidan sudah mempunyai standar pelayan kebidanan, namun pelaksanaannya masih belum sesuai.Tahun 2012 cakupan K-1 86,0%, K-4 79,65%. Persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan 60%, TT-1 sebesar 67,36% dan untuk imunisasi TT-2 sebesar 60,42%, Fe-1 sebesar 84,97% dan Fe-3 sebesar 74,81%. Pelaksanaan ANC rata-rata hanya mencapai 70%.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh motivasi dan kompetensi bidan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat.Jenis penelitian survei

explanatory. Populasi dalam penelitian iniseluruh bidan yang bertugas di Kabupaten Aceh Barat yang berjumah 364 orang, dan sampel berjumlah 82 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner, dianalisis dengan uji regresi logistik ganda pada α=0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwakualitas pelayanan kesehatan ibu hamil umumnya masih kurang yaitu 67,1%. Secarastatistik, variabel motivasi intrinsik, Motivasi ekstrinsik, dan keterampilan berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil.Motivasi ekstrinsik dan keterampilan memberikan pengaruh paling besar terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil

Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat untuk membantu menyusun SOP ANC bidan, meningkatkan motivasi dan kompetensi bidan melalui pelatihan,meninjau insentif bidan dan memberikan rewardsupaya pelayanan yang diberikan bidan semakin berkualitas.


(8)

ABSTRACT

The quality of service is increasing as civil cervant, as a medical personal we are required not only have technical ability but quality of services is very important. In Aceh Barat District, every midwife has her own midwifery service standard but it is implementation is not yet as expected. In 2012, the coverage of Visit-1 was 86,0% and visit-4 was 79,65%; delivery conducted by health personel was 60%; immunization TT-1 was 67,36% and for the immunization TT-2 was 60,42%, Fe-1 was 84,97% and Fe-3 was 74,81%. The average implementation of ANC only reached 70%.

The purpose of this explanatory study was to analyze the influence of motivation and midwife’s competency on the quality of health service for pregnant mothers at the Technical Implementation Unit Service of Puskesmas (Community Health Service) in Aceh Barat District. The population of this this study was all of the 364 midwives serving in Aceh Barat District and 82 of them ware selected to be the samples for this study. The data for this study ware obtained through queationnaire distribution. The data obtained ware analyzed through multiple logistic regression

tests at α = 0,05.

The result of this study showed that quality of health service for pregnant moters was 67.1% still less than expected. Statistically, the variables of intrinsic motivation, extrinsic motivation, and skill had significant influence on the quality of health service for pregnant mothers. Extrinsic motivation and skill had the biggest influence on the quality of health service for pregnant mothers.

We are suggested to the Health District Aceh Barat to support the midwife to develop SOP ANC, to improve the midwifes motivation and competency through training, review the intensive of midwifes and give the rewards to increase the service quality.


(9)

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur penulis dipanjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul"Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Bidan terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat ".

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis, dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K). Selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, yaitu

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.


(10)

4. Namora Lumongga Lubis, M.Sc, Ph.D selaku ketua komisi pembimbing dan Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes selaku anggota komisi pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.

5. Asfriyati, S.K.M, M.Kesdan dr. Rumondang, M.Kes selaku penguji tesis yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.

6. Seluruh Dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Bupati Aceh Barat yang telah memberi bantuan baik secara administrasi dan dana kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pada program studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan

8. dr.H. Zafril Luthfy RA, M.Kes selaku kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat dan jajaran yang telah merekomendasikan izin kuliah dan membantu memberikan izin penelitian .

9. Seluruh kepala UPTD Puskesmas dalam kabupaten Aceh Barat yang telah membantu penulis dalam penelitian tesis ini


(11)

10.Teristimewa kepada isteri tercinta Fadhlinawati, S.K.M dan buah hati tersayang Urwatul Wusqa, Suci Maqfirah, Khairi Rajabi dan Sanak keluarga semuanya yang senantiasa berdo’a dan sabar serta memberi motivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan

11.Rekan-rekan mahasiswa (i) S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan masukan dan saran-saran dalam penyusunan tesis ini hingga selesai

Penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, Mei 2013 Penulis

Muhamad Idrus 117032229/IKM


(12)

RIWAYAT HIDUP

Muhamad Idrus, lahir pada tanggal 06 September 1972 di Paya Dua, anak keenamdari pasanganAbdullah N (Alm) dan Ibunda Salmiah yang saat ini bertempat tinggal di Paya Dua Kecamatan Woyla Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh.

Pendidikan formal penulis dimulai tahun 1979pada Sekolah Dasar di SDNegeri Lueng Tanoh Tho tamat tahun 1985, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Woyla tamat tahun 1988, Sekolah Perawat Kesehatan ( SPK ) Dekes RI Meulaboh tamat tahun 1991,

Diangkat menjadi CPNS tahun 1993, mulai bekerja sebagai staf UPTD Puskesmas Woyla, melanjutkan Akademi Keperawatan Banda Aceh tugas belajar tamat tahun 1999, selanjutnya dipercayakan menjabat sebagai kepala UPTD Puskesmas Woyla Timur dari tahun 2007 sampai 2009 mendapatkan izin belajardari pemkab Aceh Barat kuliah pada S1Fakultas Kesehatan Masyarakat Sties YPNAD Meulabohsambil bekerja selesai tahun 2010lalu mutasi menjadi kepala UPTD Puskesmas Kuala Bhee, mulai 20 Mei 2009 sampai 8 Februari 2013 sekarang bertugas sebagai staff Dinkes Aceh Barat bagian Promosi Kesehatan Masyarakat.

Penulis mendapat tugas belajar dari pemkab Aceh Barat tahun 2011 untuk melanjutkan program studi S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dengan Minat Studi Kesehatan Reproduksi hingga selesai 12 Juni 2013 dinyatakan lulus.


(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 9

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Hipotesis ... 9

1.5. Manfaat Penelitian ... 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (Antenatal Care)... 11

2.1.1. Pengertian ... 11

2.1.2. Tujuan Antenatal Care (ANC) ... 12

2.1.3. Jadwal Pemeriksaan Kehamilan ... 13

2.1.4. Pemeriksaan Kehamilan ... 14

2.1.5. Standar Pelayanan Antenatal Care... 14

2.2. Kualitas Pelayanan Kesehatan... 15

2.2.1. Pengertian ... 15

2.2.2. Perspektif Mutu Layanan Kesehatan... 16

2.2.3. Mengukur Mutu Layanan Kesehatan ... 18

2.3. Kualitas Pelayanan Antenatal ... ... 19

2.4. Motivasi ... 28

2.4.1 Pengertian Motivasi ... 28

2.4.2 Teori Motivasi ... 30

2.5. Kompetensi Bidan ... 40

2.5.1 Pengetahuan ... 41

2.5.2 Ketrampilan ... 46

2.5.3 Sikap ... 51

2.6. Landasan Teori ... 53


(14)

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 56

3.1. Jenis Penelitian ... 56

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 56

3.3. Populasi dan Sampel ... 56

3.3.1 Populasi ... 56

3.3.2 Sanpel ... 57

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 58

3.4.1 Data Primer ... 58

3.4.2 Data Skunder ... 59

3.4.3 Validitas dan Realibilitas ... 59

3.5. Variabel dan DefinisiOperasional ... 61

3.6. Metode Pengukuran ... 62

3.7. Metode Analisis Data ... 65

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 66

4.1. Deskripsi Hasil Penelitian ... 66

4.2. Anaslisa Univariat ... 67

4.2.1 Karakteristik Responden ... 67

4.2.2 Motivasi ... 69

4.2.3 Kompetensi ... 76

4.2.4 Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 82

4.3. Analisa Bivariat ... 85

4.3.1 Pengaruh Motivasi Terhadap Kualitas Pelayanan Kese – hatan Ibu Hamil ... 85

4.3.2 Pengaruh Kompetensi Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 86

4.4. Analisa Multivariat... 89

BAB 5. PEMBAHASAN ... 91

5.1. Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil di Kabupaten Aceh Barat ... 91

5.1.1 Pengaruh Motivasi Intrinsik dengan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 91

5.1.2 Pengaruh Motivasi Ektrinsik dengan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu hamil ... 98

5.1.3 Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 104

5.1.4 Pengaruh Ketrampilan Terhadap Kaalitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 106 5.1.5 Pengaruh Sikap Terhadap Kualitas Pelayanan Keseha-


(15)

tan Ibu Hamil... 108

5.1.6 Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil oleh Bidan - pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat ... 109

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 111

6.1. Kesimpulan ... 111

6.2. Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 114 LAMPIRAN


(16)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1 Jumlah Sampel yang Diteliti ... 58

3.2 Variabel dan Definisi Operasional ... 61

4.1 Luas Wilayah Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga menurut Keca- matan ... 67

4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Individu ... 68

4.3 Distribusi responden Berdasarkan Motivasi Intrinsik ... 71

4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Motivasi Iktrinsik ... 73

4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi Ektrinsik ... 74

4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Motivasi Ektrinsik ... 76

4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan ... 77

4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Pengetahuan ... 77

4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Keterampilan ... 79

4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Keterampilan ... 79

4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap ... 81

4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Sikap ... 81

4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 83

4.14 Distribusi Responden Berdasarkan Katagori Kualitas Pelayanan kesehatan Ibu Hamil ... 84

4.15 Penagaruh Motivasi Intrinsik Terhadap Kualitas Pelayanan Kese- hatan Ibu Hamil ... 85


(17)

4.16 Penagaruh Motivasi Ektrinsik Terhadap Kualitas Pelayanan Kese-

hatan Ibu Hamil ... 86 4.17 Penagaruh Pengetahuan Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan

Ibu Hamil ... 87 4.18 Penagaruh Ketrampilan Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan

Ibu Hamil ... 87 4.19 Penagaruh Sikap Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 88 4.20 Hasil Analisis Multivariat Menggunakan Uji Regresi Logistik Ganda ... 89


(18)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


(19)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1 Kuesioner Penelitian ... 119

2 Uji Validitas dan Reabilitas... 126

3 Master Tabel ... 132

4 Analisa Univariat ... 144

5 Analisa Bivariat ... 146


(20)

ABSTRAK

Mutu pelayanan mendapat tuntutan dari masyarakat untuk terus meningkat, seorang petugas kesehatan selain memiliki kemampuan teknis medis, juga dituntut kualitasnya.Di Kabupaten Aceh Barat bidan sudah mempunyai standar pelayan kebidanan, namun pelaksanaannya masih belum sesuai.Tahun 2012 cakupan K-1 86,0%, K-4 79,65%. Persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan 60%, TT-1 sebesar 67,36% dan untuk imunisasi TT-2 sebesar 60,42%, Fe-1 sebesar 84,97% dan Fe-3 sebesar 74,81%. Pelaksanaan ANC rata-rata hanya mencapai 70%.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh motivasi dan kompetensi bidan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat.Jenis penelitian survei

explanatory. Populasi dalam penelitian iniseluruh bidan yang bertugas di Kabupaten Aceh Barat yang berjumah 364 orang, dan sampel berjumlah 82 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner, dianalisis dengan uji regresi logistik ganda pada α=0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwakualitas pelayanan kesehatan ibu hamil umumnya masih kurang yaitu 67,1%. Secarastatistik, variabel motivasi intrinsik, Motivasi ekstrinsik, dan keterampilan berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil.Motivasi ekstrinsik dan keterampilan memberikan pengaruh paling besar terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil

Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat untuk membantu menyusun SOP ANC bidan, meningkatkan motivasi dan kompetensi bidan melalui pelatihan,meninjau insentif bidan dan memberikan rewardsupaya pelayanan yang diberikan bidan semakin berkualitas.


(21)

ABSTRACT

The quality of service is increasing as civil cervant, as a medical personal we are required not only have technical ability but quality of services is very important. In Aceh Barat District, every midwife has her own midwifery service standard but it is implementation is not yet as expected. In 2012, the coverage of Visit-1 was 86,0% and visit-4 was 79,65%; delivery conducted by health personel was 60%; immunization TT-1 was 67,36% and for the immunization TT-2 was 60,42%, Fe-1 was 84,97% and Fe-3 was 74,81%. The average implementation of ANC only reached 70%.

The purpose of this explanatory study was to analyze the influence of motivation and midwife’s competency on the quality of health service for pregnant mothers at the Technical Implementation Unit Service of Puskesmas (Community Health Service) in Aceh Barat District. The population of this this study was all of the 364 midwives serving in Aceh Barat District and 82 of them ware selected to be the samples for this study. The data for this study ware obtained through queationnaire distribution. The data obtained ware analyzed through multiple logistic regression

tests at α = 0,05.

The result of this study showed that quality of health service for pregnant moters was 67.1% still less than expected. Statistically, the variables of intrinsic motivation, extrinsic motivation, and skill had significant influence on the quality of health service for pregnant mothers. Extrinsic motivation and skill had the biggest influence on the quality of health service for pregnant mothers.

We are suggested to the Health District Aceh Barat to support the midwife to develop SOP ANC, to improve the midwifes motivation and competency through training, review the intensive of midwifes and give the rewards to increase the service quality.


(22)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan antenatal care merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil sesuai pedoman, hal ini sangat penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan berjalan normal. Tujuan dari pelayanan kesehatan semasa hamil ialah menyiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental, serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga mental (Prawirohardjo, 2005). Sementara itu tujuan pelayanan pada ibu hamil menurut Depkes RI (2004) adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.

Kegiatan pelayanan antenatal care meliputi pengukuran berat badan dan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus uteri, imunisasi Tetanus Toxoid (TT) serta pemberian tablet besi pada ibu hamil selama kehamilannya. Titik berat kegiatannya adalah promotif dan preventif dan hasilnya terlihat dari cakupan K-1 dan K-4 (Sulistiawati, 2012).

Cakupan K-1 untuk mengukur akses pelayanan ibu hamil, menggambarkan besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan untuk


(23)

mendapatkan pelayanan antenatal care. Indikator ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal care dan kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat. Sedangkan cakupan K-4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan antenatal care sesuai standar, minimal empat kali kunjungan selama masa kehamilanya (sekali di trimester pertama, sekali di trimester kedua dan dua kali di trimester ke tiga). Indikator ini berfungsi untuk menggambarkan tingkat perlindungan dan kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil (Sulistiawati, 2012).

Dengan adanya kunjungan yang teratur dan pengawasan yang rutin dari bidan atau dokter, maka selama masa kunjungan tersebut, diharapkan komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan dapat dikenali secara lebih dini dan dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Hal ini dapat mengurangi risiko kesakitan dan kematian bagi ibu hamil sehingga dengan sendirinya dapat mengurangi Angka Kematian Ibu sesuai dengan tujuan pencapaian MDG’s (Kemenkes RI, 2011).

Tingginya Angka Kematian Ibu atau AKI di Indonesia merupakan permasalahan penting yang perlu mendapat penanganan serius. AKI merupakan tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu dan merupakan barometer pelayanan kesehatan di suatu negara, bila angkanya masih tinggi, berarti pelayanan kesehatan di negara itu dikategorikan belum baik (Adriansz, 2007). Maka salah satu upaya yang perlu mendapatkan perhatian dalam menurunkan AKI adalah melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil dan bersalin.


(24)

Hasil evaluasi Renstra Kementerian Kesehatan 2005-2010. Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Prevalensi gizi kurang pada balita menurun dari 25,8% pada akhir tahun 2003 menjadi sebesar 18,4% pada tahun 2007 (Riskesdas, 2007). Angka kematian bayi (AKB) menurun dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Sejalan dengan menurunnya angka kematian bayi, umur harapan hidup (UHH) juga meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,5 tahun pada tahun 2007 (Widyastuti, 2009).

Seiring dengan hal tersebut, upaya menurunkan angka kematian ibu harus terus ditingkatkan. Berdasarkan kesepakatan global pencapaian MDG’s (Millenium Development Goals) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi menurun dari 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2011).

Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki angka kematian ibu yang masih tinggi yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi 36 per 1000 kelahiran hidup. Untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi tersebut telah banyak upaya yang dilakukan berupa pemerataan penempatan petugas kesehatan ke seluruh desa, membentuk desa siaga, meningkatkan peran serta masyarakat dalam program Keluarga Berencana (KB), dan


(25)

pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (Dinkes Aceh, 2011).

Namun demikian walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan, cakupan pelayanan kesehatan khususnya pada ibu hamil, bersalin dan nifas masih jauh dari rata-rata nasional. Berdasarkan data/informasi kesehatan Provinsi Aceh, cakupan kunjungan ibu hamil (k-4) mencapai 85,60% (Indonesia: 88,27%), cakupan pemberian tablet Fe untuk ibu hamil 74,4% (Indonesia : 83,25%), cakupan persalinan di tolong tenaga kesehatan 76,3% (Indonesia : 86,38%), cakupan kunjungan neonatus 71,84% (Indonesia : 84,18%) (Kemenkes RI, 2012).

Demikian pula halnya dengan Kabupaten Aceh Barat yang merupakan salah satu dari 23 kabupaten/kota yang ada di wilayah Propinsi Aceh. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Barat tahun 2012, Jumlah Puskesmas yang ada di Kabupaten Aceh Barat berjumlah 13 unit. Terdiri dari Puskesmas rawat inap 7 unit dan Puskesmas non rawat inap 6 unit. Puskesmas pembantu (Pustu) 48 unit, Puskesmas Keliling (Pusling) 26 unit, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan Poliklinik Desa (Polindes) 41 unit.

Sementara itu jumlah tenaga bidan yang terdaftar di Puskesmas seluruh Aceh Barat adalah sebanyak 364 orang dengan rincian ; (1) Puskesmas Johan Pahlawan sebanyak 30 orang, (2) Puskesmas Suak Ribee 32 orang, (3) Puskesmas Mereubo 48 orang, (4) Puskesmas Kaway XVI 42 orang, (5) Puskesmas Meutulang 18 orang, (6) Puskesmas Pante Cermin 32 orang, (7) Puskesmas Sungai Mas 18 orang, (8) Puskesmas Sama Tiga 35 orang, ( 9 ) Puskesmas Kuta Padang Layung 16 orang, (10)


(26)

Puskesmas Woyla 29 orang, (11) Puskesmas Woyla Timur 20 orang, (12) Puskesmas Woyla Barat 21 orang dan (13) Puskesmas Arongan lambalek 23 orang, ( Dinkes Aceh Barat, 2012)

Dari data Profil kesehatan kabupaten Aceh Barat didapatkan cakupan Indikator pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dua tahun terakhir yaitu cakupan K1 85,40% dan tahun 2012 sebesar 86,0%, hal ini mengambarkan bahwa akses ibu hamil sudah baik, artinya sudah banyak ibu hamil yang terjangkau oleh pelyanan kesehatan walaupun belum mencapai target yaitu 95%. Untuk cakupan K4 tahun 2011 74,30%, dan tahun 2012 sebesar 79,65%. sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 60%. Hal ini menggambarkan bahwa sudah ada kenaikan persentase K4 namun belum juga mencapai target 90%.

Sementara itu cakupan imunisasi TT1 pada tahun 2012 sebesar 67,36% dan untuk imunisasi TT2 sebesar 60,42%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan TT1 dan TT2 pada ibu hamil untuk tingkat Kabupaten belum memenuhi target yang diinginkan yaitu 90%, tetapi masih dibawah target.

Untuk pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil untuk tingkat Kabupaten sudah memenuhi target yang diinginkan yaitu untuk Fe1 sebesar 84,97% dan Fe3 sebesar 74,81%.

Dimasa sekarang tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan meningkat, sehingga sebagai pelayan masyarakat dalam bidang kesehatan dituntut bukan saja kemampuan teknis medis petugas tetapi juga kualitasnya. Peningkatan mutu pelayanan dititikberatkan kepada pelayanan kesehatan dasar dengan upaya terpadu


(27)

melalui Puskesmas, Puskesmas pembantu, dan bidan desa. Untuk menilai mutu pelayanan diperlukan standar dan indikator, ada empat jenis standar yaitu (1) Standar masukan (input) yang antara laian terdiri dari standar SDM, peralatan dan sarana, (2) Standar proses / standar tindakan dimana ditetapkan tata cara/prosedur pelayanan baik medis maupun non medis, (3) Standar keluaran ( output / performance ) atau lazim disebut standar penampilan berdasarkan serangkaian indikator baik dari segi pemberi pelayanan maupun pemakai, dan (4) Standar lingkungan / standar organisasi dan manajemen dimana ditetapkan garis-garis besar kebijakan, pola organisasi dan manajemen yang harus dipatuhi oleh pemberi pelayanan.

Di Kabupaten Aceh Barat masing-masing bidan sudah mempunyai standar pelayan kebidanan, namun pelaksanaannya masih belum sesuai. Hasil Pengamatan terhadap 10 orang Bidan di Puskesmas Woyla Kabupaten Aceh Barat dalam melakukan pelayanan antenatal yang meliputi persiapan penolong, anamnesa dan pengkajian data, pemeriksaan umum dan pemeriksaan kehamilan, menetapkan diagnosa, perencanaan pelaksanaan, informasi dan konseling, dan dokumentasi rata -rata hanya 70%. Gambaran kualitas pelayanan ANC di Puskesmas Kabupaten Aceh Barat masih belum sesuai standar. Kemampuan bidan masih kurang dari 75%.

Adanya program pemerintah menempatkan bidan di desa sebagai tenaga kesehatan dalam rangka penurunan angka kematian ibu sangat berperan. Karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dimana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas, oleh karena itu pemerintah berupaya agar semua penolong persalinan dilatih


(28)

agar kompeten untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal maka semua upaya tersebut dapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir (Depkes, 2008).

Hasil Penelitian dari Abbas dan Kristiani (2006) juga menyebutkan Masalah kesehatan kaum ibu khususnya ibu hamil (Bumil) terutama daerah pedesaan masih cukup besar. Hal ini memerlukan adanya tenaga kesehatan yang dapat berperan dalam mengatasi masalah tersebut, seperti penempatan bidan yang kompeten didesa. Untuk meningkatkan upaya penurunan AKI dan AKB dibutuhkan sumber daya manusia yang dapat meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan sesuai dengan wilayah kerjanya.

Profesi bidan bukanlah profesi yang mengemban tugas ringan, profesionalisme, kerja keras dan kesungguhan hati serta keikhlasan akan memberikan kekuatan dan modal utama bagi pengabdian profesi bidan terutama didaerah – daerah yang masih tergolong terpencil. Pemahaman yang utuh mengenai konsep kebidanan pun sangat penting dimiliki oleh para bidan karena tuntutan masyarakat dan tantangan terhadap pelayanan kebidanan semakin meningkat pula. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi bidan untuk terus meningkatkan motivasi dan kompetensi kebidanannya.

Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Menurut Notoatmodjo (2007), motivasi adalah


(29)

pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang, agar mereka mau berbuat, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upaya untuk mencapai kepuasan. Dalam hal pelayanan kesehatan pada ibu hamil seorang bidan harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul semangat dalam bekerja.

Sementera itu dalam melaksanakan tugas pelayanan kebidanan, yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, seorang bidan juga harus memiliki kompetensi. Kompetensi yang dimiliki seorang bidan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan juga dalam pelayanan kehamilan dan persalinan.

Menurut penelitian Boyatzis (1982) dalam Hutapea P dan Thoha N (2008), kompetensi didefenisikan sebagai “kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerja dalam suatu organisasi sehingga mampu mencapai hasil yang diharapkan”. Demikian juga terhadap seorang bidan harus memiliki kompetensi yang tinggi agar mampu melaksanakan pelayanan kebidanan yang berkualitas (Soepardan, 2002)

Menurut penelitian Lumbantobing (2004), bahwa kemampuan dan ketrampilan bidan mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan yang diberikan. Secara simultan dibuktikan bahwa kemampuan dan ketrampilan bidan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja bidan di desa dibanding supervisi, imbalan dan motivasi. Namun secara keseluruhan semua variabel mempengaruhi kinerja bidan.


(30)

Kompetensi yang dimiliki seorang bidan harus meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam melaksanakan pelayanan kebidanan secara aman dan bertangungjawab dalam berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Kompetensi bidan tidak terlepas dari wewenang bidan yang telah diatur dalam peraturan Kepmenkes RI No. 938/ Menkes/ SK/ VIII/ 2007, tentang Standar Asuhan Kebidanan yang merupakan landasan hukum dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan uraian pada latar belakang, dirumuskan permasalahan ”apakah motivasi dan kompetensi bidan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat”

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh motivasi dan kompetensi bidan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat.

1.4 Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh motivasi dan kompetensi bidan terhadap kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat.


(31)

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ke berbagai pihak antara lain :

1. Manfaat praktis sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan kerja tenaga bidan supaya lebih terfokus pada tanggung jawab serta peran dan fungsi bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil.

2. Bagi kalangan akademik, penelitian ini tentunya bermanfaat sebagai kontribusi untuk memperkaya khasanah keilmuan pada umumnya dan kesehatan reproduksi pada khususnya.

3. Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian diharapkan dapat menambah sumber kepustakaan dan menjadi data dasar bagi penelitian sejenis pada masa-masa yang akan datang.


(32)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (Antenatal Care) 2.1.1 Pengertian

Pelayanan kesehatan pada ibu hamil juga disebut Antenatal Care (ANC)yaitu pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional untuk ibu hamil selama masa kehamilannya yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang di tetapkan. Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).

Menurut Prawiroharjo (2005), pemeriksaan kehamilan merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.

Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan Antenatal Care (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intra uterine serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin, 2005).


(33)

Menurut Henderson (2006), kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan.

2.1.2 Tujuan Antenatal Care (ANC) 1. Tujuan Umum

Menurut Saifuddin (2005) tujuan umum dari pelayanan kesehatan ibu hamil (Antenatal Care) adalah :

a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan bayi.

c. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.

d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif.

f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.


(34)

Menurut Depkes RI (2004) tujuan Antenatal Care (ANC) adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.

2. Tujuan Khusus

a. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini mungkin.

b. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.

c. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.

Menurut Wiknjosastro (2005) tujuan Antenatal Care (ANC) adalah menyiapkan wanita hamil sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka pada

post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental. 2.1.3 Jadwal Pemeriksaan Kehamilan

Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : sampai dengan kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan (Saifuddin, 2005).


(35)

2.1.4 Pemeriksaan Kehamilan

Dalam masa kehamilan ibu harus memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan paling sedikit 4 kali :

1. Trismester I : 1 kali 2. Trismester II : 1 kali 3. Trismester III : 2 kali

2.1.5 Standar Pelayanan Antenatal

Dalam penerapan praktis pelayanan antenatal menurut Badan Litbang Depkes RI, standar minimal palayanan antenatal adalah “14 T” yaitu :

1. Tanyakan dan sapa ibu dengan ramah.

2. Tinggi badan diukur dan berat badan ditimbang.

3. Temukan kelainan/periksa daerah muka dan leher (gondok, vena jugularis externa), jari dan tungkai (edema), lingkaran lengan atas, panggul (perkusi ginjal) dan reflek lutut.

4. Tekanan darah diukur

5. Tekan/palpasi payudara (benjolan), perawatan payudara, senam payudara, tekan titik (accu pressure) peningkatan ASI.

6. Tinggi fundus uteri diukur

7. Tentukan posisi janin (Leopold I-IV) dan detak jantung janin. 8. Tentukan keadaan (palpasi) liver dan limpa.

9. Tentukan kadar Hb dan periksa laboratorium (protein dan glukosa urine), sediaan vagina dan VDRL (PMS) sesuai indikasi.


(36)

10.Terapi dan pencegahan anemia (tablet Fe) dan penyakit lainnya sesuai indikasi (gondok, malaria dan lain-lain).

11.Tetanus toxoid imunisasi

12.Tindakan kesegaran jasmani dan senam hamil

13.Tingkatkan pengetahuan ibu hamil (penyuluhan) : makanan bergizi ibu hamil, tanda bahaya kehamilan, petunjuk agar tidak terjadi bahaya pada waktu kehamilan dan persalinan.

14.Temu wicara (konseling)

2.2. Kualitas Pelayanan Kesehatan 2.2.1. Pengertian

Kualitas pelayanan kesehatan atau lebih sering disebut sebagai mutu pelayanan kesehatan secara umum diartikan sebagai derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang sesuai standar profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit atau puskesmas secara wajar, efisien, dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah, serta masyarakat konsumen (Suparyanto, 2011).

Artinya layanan kesehatan yang berkualitas adalah suatu layanan kesehatan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi layanan kesehatan, dan sekaligus diinginkan baik oleh pasien/konsumen ataupun masyarakat serta terjangkau oleh daya beli masyarakat (Pohan, 2007).


(37)

2.2.2. Perspektif Mutu Layanan Kesehatan 1. Perspektif Pasien/Masyarakat

Pasien/masyarakat melihat layanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan dan santun, tepat waktu, tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit.

Pandangan pasien ini sangat penting karena pasien yang merasa puas akan mematuhi pengobatan dan mau datang berobat kembali. Dimensi layanan kesehatan yang berhubungan dengan kepuasan pasien dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat. Pasien/masyarakat sering menganggap bahwa dimensi efektivitas, akses, hubungan antara manusia, kesinambungan dan kenyamanan sebagai suatu dimensi mutu layanan yang sangat penting (Pohan, 2007). 1. Perspektif Pemberi Layanan Kesehatan

Pemberi layanan kesehatan (provider) mengaitkan layanan kesehatan yang bermutu dengan ketersediaan peralatan, prosedur kerja atau protocol, kebebasan profesi dalam setiap melakukan layanan kesehatan sesuai dengan teknologi kesehatan mutakhir, dan bagaimana keluaran (outcome) atau hasil layanan kesehatan itu.

Komitmen dan motivasi pemberi layanan kesehatan bergantung pada kemampuannya dalam melaksanakan tugas dengan cara yang optimal. Sebagai profesi layanan kesehatan, perhatiannya terfokus pada dimensi kompetensi teknis, evektifitas dan keamanan (Pohan, 2007).


(38)

2. Perspektif Penyandang Dana

Penyandang dana atau asuransi kesehatan menganggap bahwa layanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu layanan kesehatan yang efisien dan efektif. Pasien diharapkan dapat disembuhkan dalam waktu sesingkat mungkin sehingga biaya layanan kesehatan dapat menjadi efisien. Kemudian upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit akan digalakkan agar penggunaan layanan kesehatan penyembuhan semakin berkurang (Pohan, 2007).

3. Perspektif Pemilik Sarana Layanan Kesehatan

Pemilik sarana layanan kesehatan berpandangan bahwa layanan kesehatan yang bermutu merupakan layanan kesehatan yang menghasilkan pendapatan yang mampu menutupi biaya operasional dan pemeliharaan, tetapi dengan tarif layanan kesehatan yang masih terjangkau oleh pasien/masyarakat, yaitu pada tingkat biaya ketika belum terdapat keluhan pasien dan masyarakat (Pohan, 2007).

4. Perspektif Administrasi Layanan Kesehatan

Administrasi layanan kesehatan walau tidak langsung memberikan layanan kesehatan, ikut bertanggungjawab dalam masalah mutu layanan kesehatan. Kebutuhan akan supervise, manajemen keuangan dan logistik akan memberikan suatu tantangan dan kadang-kadang administrator layanan kesehatan kurang memperhatikan prioritas sehingga timbul persoalan dalam layanan kesehatan. Pemusatan perhatian terhadap beberapa dimensi mutu layanan kesehatan tertentu akan membantu administrator layanan kesehatan dalam menyusun prioritas dan


(39)

dalam menyediakan apa yang menjadi kebutuhan dan harapan pasien serta pemberi layanan kesehatan (Pohan, 2007).

2.2.3. Mengukur Mutu Layanan Kesehatan

Banyak kerangka pikir yang dapat digunakan untuk mengukur mutu. Pada awal upaya pengukuran mutu layanan kesehatan, Donabedian, 1988 (dalam Pohan, 2007), mengusulkan tiga kategori penggolongan layanan kesehatan yaitu struktur, proses dan keluaran.

1. Standar Struktur

Standar struktur adalah standar yang menjelaskan peraturan system, kadang-kadang disebut juga sebagai masukan atau struktur. Termasuk kedalamnya adalah hubungan organisasi, misi orgaisasi, kewenangan, komite-komite, personel, peralatan, gedung, rekam medik, keuangan, perbekalan, obat, dan fasilitas. Standar struktur merupakan rules of the game.

2. Standar Proses

Standar proses adalah sesuatu yang menyangkut semua aspek pelaksanaan kegiatan layanan kesehatan, melakukan prosedur dan kebijakan. Standar proses akan menjelaskan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya dan bagaimana system bekerja. Dengan itu, standar proses adalah playing the game.

3. Standar Keluaran

Standar keluaran merupakan hasil akhir atau akibat dari layanan kesehatan. Standar keluaran akan menunjukkan apakah layanan kesehatan berhasil atau


(40)

gagal. Keluaran (outcome) adalah apa yang diharapkan akan terjadi sebagai hasil dari layanan kesehatan yang diselenggarakan dan terhadap apa keberhasilan tersebut akan diukur.

Selain itu, hal berikut juga diperlukan dalam penilaian tingkatan mutu :

a. Informasi tertentu dari kriteria struktur, proses ataupun keluaran akan menunjukkan aspek tertentu dari mutu layanan kesehatan.

b. Informasi dari kriteria struktur, proses dan keluaran akan membantu mengidentifikasi lokasi masalah dan penyebab masalah mutu layanan kesehatan yang selanjutnya akan memberi petunjuk terhadap tindakan yang tepat dengan cara mengubah kategori kriteria struktur dan proses layanan kesehatan.

2.3 Kualitas Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium atas indikasi tertentu serta indikasi dasar dan khusus (Pohan, 2007). Selain itu aspek yang lain yaitu penyuluhan, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), motivasi ibu hamil dan rujukan. Tujuan asuhan antenatal adalah memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin selama


(41)

kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal serta optimalisasi kembalinya kesehatan reproduksi ibu secara wajar. Keuntungan layanan antenatal sangat besar karena dapat mengetahui resiko dan komplikasi sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit. Layanan antenatal dilakukan sehingga dapat dilakukan pengawasan yang lebih intensif, pengobatan agar resiko dapat dikendalikan, serta melakukan rujukan untuk mendapat tindakan yang adekuat (Manuaba, 2005).

Pelayanan yang dilakukan secara rutin juga merupakan upaya untuk melakukan deteksi dini kehamilan beresiko sehingga dapat dengan segera dilakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi dan merencanakan serta memperbaiki kehamilan tersebut. Kelengkapan antenatal terdiri dari jumlah kunjungan antenatal dan kualitas pelayanan antenatal (Istiarti, 2000).

Pelayanan antenatal mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan janin atau lama waktu mengandung, baik dengan diagnosis maupun dengan perawatan berkala terhadap adanya komplikasi kehamilan. Pertama kali ibu hamil melakukan pelayanan antenatal merupakan saat yang sangat penting, karena berbagai faktor resiko bisa diketahui seawal mungkin dan dapat segera dikurangi atau dihilangkan (Prawirodiharjo, 2002).


(42)

Kualitas pelayanan Antenatal erat hubungannya dengan penerapan. Standar pelayanan kebidanan, yang mana standar pelayanan berguna dan penerapan norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat, karena penilaian terhadap proses dan hasil penilaian dapat dilakukan dengan dasar yang jelas. Mengukur tingkat kebutuhan terhadap standar yang baik input, proses pelayanan dan hasil pelayanan khususnya tingkat pengetahuan pasien terhadap pelayanan antenatal yang dikenal standar mutu yaitu (Depkes RI, 2003) :

1. Standar Pelayanan Antenatal

Terdapat enam standar dalam standar pelayanan antenatal seperti berikut ini : a. Standar : Identifikasi Ibu Hamil

Standar ini bertujuan mengenali dan memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.

Pernyataan standar : Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

b. Standar : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal

Pemeriksaan dan pemantauan antenatal bertujuan memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan diteliti dalam komplikasi.

Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliput i anamnesa dan pemantauan ibu dan dan janin dengan seksama untuk menilai


(43)

apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risti/kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/ Infeksi HIV ; memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat padu setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. c. Standar : Palpasi Abdominal

Standar palpasi abdominal bertujuan memperkirakan usia, kehamilan, pemantauan pertumbuhan jenis, penentuan letak, posisi dan bagian bawah janin. Bidan melakukan pemeriksaan abdomen dengan seksama & melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.

Secara tradisional perkiraan tinggi fundus dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkannya dengan beberapa patokan antara lain simfisis pubis, umbilikus atau prosesus sifoideus. Cara tersebut dilakukan dengan tanpa memperhitungkan ukuran tubuh ibu. Sebaik-baiknya pemeriksaan (perkiraan) tersebut, hasilnya masih kasar dan dilaporkan hasilnya bervariasi.

Dalam upaya standardisasi perkiraan tinggi fundus, para peneliti saat ini menyarankan penggunaan pita ukur untuk mengukur tinggi fundus dari tepi atas simfisis pubis karena memberikan hasil yang lebih akurat dan dapat diandalkan.


(44)

Pengukuran tinggi fundus uteri tersebut bila dilakukan pada setiap kunjungan oleh petugas yang sama, terbukti memiliki nilai prediktif yang baik, terutama untuk mengidentifikasi adanya gangguan pertumbuhan intrauterin yang berat dan kehamilan kembar. Walaupun pengukuran tinggi fundus uteri dengan pita ukur masih bervariasi antar operator, namun variasi ini lebih kecil dibandingkan dengan metoda tradisional lainnya. Oleh karena itu penelitian mendukung penggunaan pita ukur untuk memperkirakan tinggi fundus sebagai bagian dari pemeriksaan rutin pada setiap kunjungan.

d. Standar : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan

Standar ini bertujuan menemukan anemia pada kehamilan secara dini dan melakukan tindakan lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung. Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia. Namun ada kecendurungan bahwa kegiatan ini tidak dilaksanakan secara optimal selama masa kehamilan. Perubahan normal ini di kenal sebagai Hemodilusi (Mahomed & hytten 1989) dan biasanya mencapai titik terendah pada kehamilan minggu ke-30. Oleh karena itu pemeriksaan Hb dianjurkan untuk dilakukan pada awal kehamilan dan diulang kembali pada minggu ke- 30 untuk mendapat gambaran akurat tentang status Hb.


(45)

e. Standar :Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan

Standar ini bertujuan mengenali dan menemukan secara dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan diperlukan. Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

f. Standar : Persiapan Persalinan

Standar Persiapan Persalinan dengan tujuan untuk memastikan bahwa persalinan direncanakan dalam lingkungan yang aman dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami/keluarganya pada trisemester III memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suatu suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan mengusahakan untuk melakukan kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini.

2. Kebijakan Program Pelayanan Antenatal

Pelayanan Antenatal merupakan cara untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi komplikasi. Pelayanan Antenatal penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan berjalan normal dan tetap demikian seterusnya. Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Sekarang ini sudah umum diterima bahwa setiap kehamilan membawa resiko bagi ibu. Kebijakan program dalam pelayanan antenatal yaitu kunjungan


(46)

antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga. 3. Pelaksanaan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil (Mandriwati, 2008).

a. Mengumpulkan Data Dasar / Pengkajian Data

Mengumpulkan data subyektif dan data obyektif, berupa data fokus yang dibutuhkan untuk menilai keadaan ibu sesuai dengan kondisinya, menggunakan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

1) Data Subyektif terdiri dari : a) Biodata ibu dan suami

b) Alasan ibu memeriksakan diri c) Riwayat kehamilan sekarang d) Riwayat kebidanan yang lalu e) Riwayat menstruasi

f) Riwayat KB g) Riwayat kesehatan

h) Riwayat bio-psikososial-spiritual

i) Pengetahuan tentang tanda bahaya persalinan

Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data subyektif adalah dengan melakukan anamnesis.

2) Data objektif terdiri dari :

a) Hasil pemeriksaan umum (tinggi badan, berat badan,lingkar lengan, suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan).


(47)

b) Hasil pemeriksaan kepala dan leher c) Hasil pemeriksaan tangan dan kaki d) Hasil pemeriksaan payudara e) Hasil pemeriksaan abdomen

f) Hasil pemeriksaan denyut jantung janin g) Hasil pemeriksaan darah dan urine

Sumber data baik data subyektif maupun data obyektif yang paling akurat adalah ibu hamil yang diberi asuhan, namun apabila kondisi tidak memungkinkan dan masih diperlukan data bisa dikaji dari status ibu yang menggambarkan pendokumentasian asuhan sebelum ditangani dan bisa juga keluarga atau suami yang mendampingi ibu saat diberi asuhan.

b. Menginterpretasikan /menganalisa data /merumuskan diagnosa

Pada langkah ini data subyektif dan obyektif yang dikaji dianalisis menggunakan teori fisiologis dan teori patologis sesuai dengan perkembangan kehamilan berdasarkan umur kehamilan ibu pada saat diberi asuhan, termasuk teori tentang kebutuhan fisik dan psikologis ibu hamil. Hasil analisis dan interpretasi data menghasilkan rumusan diagnosis kehamilan.

Rumusan diagnosis kebidanan pada ibu hamil disertai dengan alasan yang mencerminkan pikiran rasional yang mendukung munculnya diagnosis selanjutnya.


(48)

c. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Dalam menyusun rencana asuhan yang menyeluruh mengacu pada diagnosis mengacu pada diagnosis, masalah asuhan serta kebutuhan yang telah sesuai dengan kondisi klien saat diberi asuhan.

d. Melaksanakan asuhan sesuai perencanaan secara efisien dan aman

Pelaksanaan rencana asuhan bisa dilaksanakan bidan langsung, bisa juga dengan memberdayakan ibu.

e. Melaksanakan evaluasi terhadap rencana asuhan yang telah dilaksanakan. Evaluasi ditujukan terhadap efektivitas intervensi tentang kemungkinan pemecahan masalah, mengacu pada perbaikan kondisi/kesehatan ibu dan janin. Evaluasi mencangkup jangka pendek, yaitu sesaat setelah intervensi dilaksanakan, dan jangka panjang, yaitu menunggu proses sampai kunjungan berikutnya /kunjungan ulang.

f. Pendokumentasian dengan SOAP

Pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan teknik pencatatan Subjectif Objective Assessment Planing (SOAP) meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1) Mencatat data subyektif dan objektif

2) Mencatat data hasil pengkajian, diagnosis, masalah klien/ibu hamil yang diberi asuhan berdasarkan masalahnya.

3) Mencatat perencanaan asuhan yang meliputi perencanaan tindakan asuhan, pelaksanaan tindakan asuhan.


(49)

Adapun tujuannya adalah :

1) Sebagai bahan komunikasi antar petugas/bidan 2) Sebagai bahan evaluasi

3) Sebagai bahan tindak lanjut 4) Sebagai bahan laporan

5) Sebagai bahan pertanggungjawaban dan tanggung gugat 6) Meningkatkan kerja sama antar tim

7) Sebagai bahan acuan dalam pengumpulan data

2.4 Motivasi

2.4.1 Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan kepada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan (Hasibuan, 2005). Sperling dalam Mangkunegara (2002), mengemukakan bahwa motivasi sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas, mulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri dan terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi.


(50)

Gibson (1996), menyatakan bahwa motivasi sebagai suatu dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Oleh karena itu, motivasi dapat berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan yang berlangsung secara wajar. Menurut Nawawi (2003), kata motivasi (motivation) kata dasarnya adalah motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar. Sedangkan menurut Sedarmayanti (2001), motivasi dapat diartikan sebagai daya pendorong (driving force) yang menyebabkan orang berbuat sesuatu atau diperbuat karena takut akan sesuatu. Misalnya ingin naik pangkat atau naik gaji, maka perbuatannya akan menunjang pencapaian keinginan tersebut.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak ada jika tidak dirasakan adanya kebutuhan dan kepuasan serta keseimbangan. Rangsangan terhadap hal dimaksud akan menumbuhkan tingkat motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh akan merupakan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan. Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dari dalam diri petugas yang perlu dipenuhi agar petugas tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan petugas agar mampu mencapai tujuan dari motifnya.


(51)

2.4.2 Teori Motivasi

Teori motivasi merupakan teori-teori yang membicarakan bagaimana motivasi manusia di dalam melaksanakan pekerjaan dan mencapi tujuan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor pembentuk terciptanya motivasi. Menurut Gibson (1996), secara umum mengacu pada 2 (dua) kategori :

1. Teori kepuasan (Content Theory), yang memusatkan perhatian kepada faktor dalam diri orang yang menguatkan (energize), mengarahkan (direct), mendukung (sustain) dan menghentikan (stop) perilaku petugas.

2. Teori proses (Process Theory) menguraikan dan menganalisa bagaimana perilaku itu dikuatkan, diarahkan, didukung dan dihentikan.

Lebih lanjut Gibson (1996), mengelompokkan teori motivasi sebagai berikut : 1. Teori kepuasan terdiri dari :

a. Teori Hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow b.Teori Dua Faktor dari Frederick Herzberg

c. Teori ERG (Existence, Relatednes, Growth) dari Alderfer d.Teori prestasi dari McClelland

2. Teori Proses terdiri dari : a. Teori harapan

b.Teori pembentukan perilaku c. Teori keadilan

Lebih jelas berikut ini dipaparkan teori tentang motivasi yang dikemukakan di atas sebagai berikut :


(52)

a. Teori Hirarki Kebutuhan dari Abraham Maslow

Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas manusia bekerja adalah disebabkan adanya kebutuhan yang relatif tidak terpenuhi yang disebabkan adanya faktor keterbatasan manusia itu sendiri, untuk memenuhi kebutuhannya itu manusia bekerja sama dengan orang lain dengan memasuki suatu organisasi. Hal ini yang menjadi dasar bagi Maslow dengan mengemukakan teori hirarki kebutuhan sebagai salah satu sebab timbulnya motivasi pegawai. Maslow mengemukan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang ada di dalam hidupnya, diantaranya :a). Kebutuhan fisiologi yaitu, pakaian, perumahan, makanan, seks (disebut kebutuhan paling dasar) b). Kebutuhan keamanan, keselamatan, perlindungan, jaminan pensiun, asuransi kecelakaan, dan asuransi kesehatan. c). Kebutuhan sosial, kasih sayang, rasa memiliki, diterima dengan baik, persahabatan. d). Kebutuhan penghargaan, status, titel, simbol-simbol, promosi. e). Kebutuhan aktualisasi diri, menggunakan kemampuan, skill, dan potensi.

Pada dasarnya manusia tidak pernah puas pada tingkat kebutuhan manapun, tetapi untuk memunculkan kebutuhan yang lebih tinggi perlu memenuhi tingkat kebutuhan yang lebih rendah terlebih dahulu. Dalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhannya tersebut seseorang akan berperilaku yang dipengaruhi atau ditentukan oleh pemenuhan kebutuhannya (Mangkunegara, 2002).

b. Teori Dua Faktor dari Herzberg.

Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Herzberg yang merupakan pengembangan dari teori hirarki kebutuhan menurut Maslow. Teori Herzberg


(53)

memberikan dua kontribusi penting bagi pimpinan organisasi dalam memotivasi karyawan. Pertama, teori ini lebih eksplisit dari teori hirarki kebutuhan Maslow, khususnya mengenai hubungan antara kebutuhan dalam performa pekerjaan. Kedua, kerangka ini membangkitkan model aplikasi, pemerkayaan pekerjaan (Leidecker dan Hall dalam Timpe, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian terhadap akuntan dan ahli teknik Amerika Serikat dari berbagai Industri, Herzberg mengembangkan teori motivasi dua faktor. Menurut teori ini ada dua faktor yang memengaruhi kondisi pekerjaan seseorang, yaitu faktor pemuas (motivation factor) yang disebut juga dengan satisfier atau instrinsic motivation dan faktor kesehatan (hygienes) yang juga disebut disatisfier atau

ekstrinsic motivation. Teori Herzberg ini melihat ada dua faktor yang mendorong karyawan termotivasi yaitu faktor intrinsik, merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing orang, dan faktor ekstrinsik, yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang, terutama dari organisasi tempatnya bekerja (Sutrisno, 2012).

Jadi petugas yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi pekerjaan yang memungkinkannya menggunakan kreaktivitas dan inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat. Kepuasan disini terutama tidak dikaitkan dengan perolehan hal-hal yang bersifat materi. Sebaliknya, mereka yang lebih terdorong oleh faktor-faktor ekstrinsik cenderung melihat kepada apa yang diberikan oleh organisasi kepada mereka dan kinerjanya diarahkan kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya dari organisasi (Siagian, 2003).


(54)

Menurut Herzberg faktor ekstrinsik tidak akan mendorong minat para pegawai untuk berforma baik, akan tetapi jika faktor-faktor ini dianggap tidak memuaskan dalam berbagai hal seperti gaji tidak memadai, kondisi kerja tidak menyenangkan, faktor-faktor itu dapat menjadi sumber ketidakpuasan potensial. Sedangkan faktor intrinsik merupakan faktor yang mendorong semangat guna mencapai kinerja yang lebih tinggi. Jadi pemuasan terhadap kebutuhan tingkat tinggi (faktor motivasi) lebih memungkinkan seseorang untuk berforma tinggi dari pada pemuasan kebutuhan lebih rendah (Leidecker dan Hall dalam Timpe, 2002).

Dari teori Herzberg tersebut, uang/gaji tidak dimasukkan sebagai faktor motivasi dan ini mendapat kritikan dari para ahli. Pekerjaan kerah biru (buruh kasar) sering kali dilakukan oleh mereka bukan karena faktor intrinsik yang mereka peroleh dari pekerjaan itu, tetapi karena pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Penelitian oleh Schwab, De Vitt dan Cuming tahun 1971 telah membuktikan bahwa faktor ekstrinsik pun dapat berpengaruh dalam memotivasi performa tinggi, (Grensing dalam Timpe, 2002). Motivasi dua faktor yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Hasibuan (2005), terdiri dari faktor intrinsik dan ekstrinsik, yang disebut faktor intrinsik meliputi :

1) Tanggung Jawab (Responsibility)

Setiap orang ingin diikutsertakan dan ngin diakui sebagai orang yang berpotensi, dan pengakuan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar.


(55)

2) Prestasi yang Diraih (Achievement)

Setiap orang menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan. Pencapaian prestasi dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya.

3) Pengakuan Orang Lain (Recognition)

Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh, bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari kompensasi.

4) Pekerjaan itu Sendiri (The Work it Self)

Pekerjaan itu sendiri merupakan faktor motivasi bagi pegawai untuk berforma tinggi. Pekerjaan atau tugas yang memberikan perasaan telah mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan tantangan bagi pegawai, merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya sangat menentukan bagi motivasi untuk berforma tinggi.

5) Kemungkinan Pengembangan (The Possibility of Growth)

Karyawan hendaknya diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya misalnya melalui pelatihan-pelatihan, kursus dan juga melanjutkan jenjang pendidikannya. Hal ini memberikan kesempatan kepada karyawan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan rencana karirnya yang akan mendorongnya lebih giat dalam bekerja.

6) Kemajuan (Advancement)

Peluang untuk maju merupakan pengembangan potensi diri seorang pagawai dalam melakukan pekerjaan, karena setiap pegawai menginginkan adanya


(56)

promosi kejenjang yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalaman dalam bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuat bagi pegawai untuk bekerja lebih baik.

Sedangkan yang berhubungan dengan faktor ketidakpuasan dalam bekerja menurut Herzberg dalam Luthans (2003), dihubungkan oleh faktor ekstrinsik antara lain :

1). Gaji

Tidak ada satu organisasipun yang dapat memberikan kekuatan baru kepada tenaga kerjanya atau meningkatkan produktivitas, jika tidak memiliki sistem kompensasi yang realistis dan gaji bila digunakan dengan benar akan memotivasi pegawai.

2). Keamanan dan keselamatan kerja

Kebutuhan akan keamanan dapat diperoleh melalui kelangsungan kerja. 3). Kondisi kerja

Dengan kondisi kerja yang nyaman, aman dan tenang serta didukung oleh peralatan yang memadai, karyawan akan merasa betah dan produktif dalam bekerja sehari-hari.

4). Hubungan kerja

Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh suasana atau hubungan kerja yang harmonis antara sesama pegawai maupun atasan dan bawahan.


(57)

5). Prosedur perusahaan

Keadilan dan kebijakasanaan dalam mengahadapi pekerja, serta pemberian evaluasi dan informasi secara tepat kepada pekerja juga merupakan pengaruh terhadap motivasi pekerja.

6). Status

Merupakan posisi atau peringkat yang ditentukan secara sosial yang diberikan kepada kelompok atau anggota kelompok dari orang lain Status pekerja memengaruhi motivasinya dalam bekerja. Status pekerja yang diperoleh dari pekerjaannya antara lain ditunjukkan oleh klasifikasi jabatan, hak-hak istimewa yang diberikan serta peralatan dan lokasi kerja yang dapat menunjukkan statusnya.

c. Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari Alderfer

Menurut teori ERG dari Clayton Alderfer ini ada 3 (tiga) kebutuhan pokok manusia yaitu: a). Existence (eksistensi); Kebutuhan akan pemberian persyaratan keberadaan materil dasar (kebutuhan psikologis dan keamanan). b). Relatednes

(keterhubungan) ; Hasrat yang dimiliki untuk memelihara hubungan antar pribadi (kebutuhan sosial dan penghargaan). c). Growth (pertumbuhan) ; Hasrat kebutuhan intrinsik untuk perkembangan pribadi (kebutuhan aktualisasi diri).

d. Teori Kebutuhan dari McClelland

Teori kebutuhan dikemukakan oleh David McClelland. Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan. Hal-hal yang memotivasi seseorang menurut Mc.Clelland dalam Hasibuan (2005), adalah :


(58)

a). Kebutuhan akan Prestasi (Need for Achievement)

Kebutuhan akan prestasi merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya guna mencapai prestasi kerja yang maksimal. Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi kerja yang tinggi akan memperoleh pendapatan yang besar yang akhirnya bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

b). Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power )

Kebutuhan akan Kekuasaan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang. Merangsang dan memotivasi gairah kerja seseorang serta mengerahkan semua kemampuannya demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Seseorang dengan kebutuhan akan kekuasaan tinggi akan bersemangat bekerja apabila bisa mengendalikan orang yang ada disekitarnya.

c). Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Affiliation)

Kebutuhan akan afiliasi menjadi daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang. Karena kebutuhan akan afiliasi akan merangsang gairah bekerja seseorang yang menginginkan kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain, perasaan dihormati, perasaan maju dan tidak gagal, dan perasaan ikut serta.

e. Teori Harapan (Expectancy Theory)

Pencetus pertama dari teori dari harapan ini adalah Victor H. Vroom dan merupakan teori motivasi kerja yang relatif baru. Teori ini berpendapat bahwa


(59)

orang-orang atau petugas akan termotivasi untuk bekerja atau melakukan hal-hal tertentu jika mereka yakin bahwa dari prestasinya itu mereka akan mendapatkan imbalan besar. Seseorang mungkin melihat jika bekerja dengan giat kemungkinan adanya suatu imbalan, misalnya kenaikan gaji, kenaikan pangkat dan inilah yang menjadi perangsang seseorang dalam bekerja giat.

f. Teori Pembentukan Perilaku (Operant Conditioning)

Teori ini berasumsi bahwa prilaku pegawai dapat dibentuk dan diarahkan kearah aktivitas pencapaian tujuan. Teori pembentukan perilaku sering disebut dengan istilah-istilah lain seperti : behavioral modification, positive reinforcement

dan skinerian conditioning.

Pendekatan pembentukan perilaku ini didasarkan atas pengaruh hukum (law of effect), yaitu perilaku yang diikuti konsekuensi pemuasan sering diulang sedangkan perilaku konsekuensi hukuman tidak diulang. Perilaku pegawai dimasa yang akan datang dapat diperkirakan dan dipelajari, berdasarkan pengalaman dimasa lalu.

Menurut teori pembentukan perilaku, perilaku pegawai dipengaruhi kejadian-kejadian atau situasi masa lalu. Apabila konsekuensi perilaku tersebut positif, maka pegawai akan memberikan tanggapan yang sama terhadap situasi lama, tetapi apabila konsekuensi itu tidak menyenangkan, maka pegawai cendrung mengubah perilakunya untuk menghindar dari konsekuensi tersebut.

g. Teori Keadilan (Equity Theory)

Menurut Davis (2004), keadilan adalah suatu keadaan yang muncul dalam pikiran seseorang jika orang tersebut merasa bahwa rasio antara usaha dan imbalan


(60)

adalah seimbang. Teori motivasi keadilan ini didasarkan pada asumsi bahwa pegawai akan termotivasi untuk meningkatkan produktivitas kerjanya apabila pegawai tersebut diperlakukan secara adil dalam pekerjaannya.

Ketidakadilan akan ditanggapi dengan bermacam-macam perilaku yang menyimpang dari aktivitas pencapaian tujuan seperti menurunkan prestasi, mogok, malas dan sebagainya. Inti dari teori ini adalah pegawai membandingkan usaha mereka terhadap imbalan yang diterima pegawai lainnya dalam situasi kerja yang relatif sama. Selain itu juga membandingkan imbalan dengan pengorbanan yang diberikan. Apabila mereka telah mendapatkan keadilan dalam bekerja, maka mereka termotivasi untuk meningkatkan produktivitas kerjanya.

Berdasarkan pembahasan tentang berbagai teori motivasi dan kebutuhan-kebutuhan yang mendorong manusia melakukan tingkah laku dan pekerjaan, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak atau tenaga pendorong baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri yang menimbulkan adanya keinginan untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan.

Untuk memahami motivasi dalam penelitian ini digunakan teori motivasi dua arah yang dikemukakan Herzberg. Adapun pertimbangan peneliti karena teori yang dikembangkan Herzberg berlaku mikro yaitu untuk karyawan atau pegawai pemerintahan yang hubungannya antara kebutuhan dengan performa pekerjaan.


(61)

2.5. Kompetensi Bidan

Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut (Wibowo, 2007). Menurut Boyatzis (Hutapea P dan Thoha N, 2008), kompetensi didefenisikan sebagai “kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerja dalam suatu organisasi sehingga orang tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan”.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor: 101 Tahun 2000 dalam Sutrisno (2012), tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjelaskan konsep kompetensi, adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS, berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas.

Kompetensi Bidan adalah kemampuan bidan untuk mengerjakan suatu tugas dan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja (Kemdikbud, 2011). Sementara itu menurut PP IBI (2007) Kompetensi bidan adalah keahlian yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam melaksanakan praktek kebidanan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, secara aman dan bertanggung jawab sesuai standar sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat.


(62)

Kompetensi tersebut dikelompokkan dalam dua kategori yaitu kompetensi inti atau dasar merupakan kompetansi minimal yang mutlak dimiliki oleh bidan dan kompetensi tambahan atau lanjutan merupakan pengembangan dari pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mendukung tugas bidan dalam memenuhi tuntutan atau kebutuhan masyarakat yang sangat dinamis serta pengembangan iptek (PP IBI, 2007)

Dengan melihat batasan tersebut, maka kompetensi bidan adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang bidan berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas bidan secara profesional. 2.5.1 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan informasi yang dimiliki oleh seseorang. Pengetahuan adalah komponen utama kompetensi yang mudah diperoleh dan mudah diidentifikasikan (Hutapea P dan Thoha N, 2008). Notoatmodjo (2007) berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu.

Sulistiyani dan Rosidah (2003) mengemukakan konsep pengetahuan lebih berorientasi pada intelejensi, daya pikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya wawasan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun non formal yang memberikan kontribusi pada seseorang di dalam pemecahan masalah, daya cipta, termasuk dalam melakukan atau menyelesaikan pekerjaan. Dengan pengetahuan yang luas dan pendidikan tinggi, seorang pegawai diharapkan mampu melakukan pekerjaan dengan baik dan produktif.


(63)

Menurut Roger (1974) dalam Notoatmodjo (2007) Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour) yang memiliki 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu (know), mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) tehadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2. Memahami (comprehension), suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau mengerti harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (application), kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situai yang lain. Misalnya : dapat menggunakan prinsip – prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (analysis), kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemapuan analisis ini dapat dilihat dari


(64)

penggunaan kata – kata kerja; dapat menggambarkan (membuat sebagian), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis), kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau umusan – rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation), kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang ada, misalnya dapat membandingkan anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.

Merujuk pada beberapa teori dan pendapat yang mendefenisikan tentang pengetahuan yang dijabarkan di atas maka Pengetahuan Bidan adalah kemampuan bidan terhadap semua tingkatan pengetahuan, mulai dari tahu, memahami hingga dalam dapat mengevaluasi materi – materi yang telah ditetapkan sebagai pengetahuan pengelolaan persalinan ibu, dengan standar yang telah ditentukan. Dengan pengetahuan yang luas tentang ilmu kebidanannya diharapkan seorang bidan mampu melaksanankan pekerjaannya dengan baik dan produktif.

Bidan memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk dapat memberikan pelayanan antenatal yang berkualitas tinggi guna memaksimalkan kesehatan selama


(1)

Total Count 27 55 82

Expected Count 27.0 55.0 82.0

% within Motivasi Ekstrinsik 32.9% 67.1% 100.0%

% of Total 32.9% 67.1% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 7.901a 1 .005

Continuity Correctionb 6.611 1 .010

Likelihood Ratio 8.431 1 .004

Fisher's Exact Test .008 .004

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.87. b. Computed only for a 2x2 table

Pengetahuan * Kualitas Pelayanan ANC Crosstabulation

Kualitas Pelayanan ANC

Total Baik Kurang

Pengetahuan baik Count 21 37 58

Expected Count 19.1 38.9 58.0

% within Pengetahuan 36.2% 63.8% 100.0%

% of Total 25.6% 45.1% 70.7%

Kurang Count 6 18 24

Expected Count 7.9 16.1 24.0

% within Pengetahuan 25.0% 75.0% 100.0%

% of Total 7.3% 22.0% 29.3%

Total Count 27 55 82

Expected Count 27.0 55.0 82.0

% within Pengetahuan 32.9% 67.1% 100.0%


(2)

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square .965a

1 .326

Continuity Correctionb .525 1 .469

Likelihood Ratio .995 1 .319

Fisher's Exact Test .440 .237

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.90. b. Computed only for a 2x2 table

Keterampilan * Kualitas Pelayanan ANC Crosstabulation

Kualitas Pelayanan ANC

Total Baik Kurang

Keterampilan baik Count 21 27 48

Expected Count 15.8 32.2 48.0

% within Keterampilan 43.8% 56.2% 100.0%

% of Total 25.6% 32.9% 58.5%

kurang Count 6 28 34

Expected Count 11.2 22.8 34.0

% within Keterampilan 17.6% 82.4% 100.0%

% of Total 7.3% 34.1% 41.5%

Total Count 27 55 82

Expected Count 27.0 55.0 82.0

% within Keterampilan 32.9% 67.1% 100.0%

% of Total 32.9% 67.1% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 6.140a 1 .013

Continuity Correctionb 5.015 1 .025

Likelihood Ratio 6.442 1 .011

Fisher's Exact Test .017 .011

N of Valid Casesb 82


(3)

Keterampilan * Kualitas Pelayanan ANC Crosstabulation

Kualitas Pelayanan ANC

Total Baik Kurang

Keterampilan baik Count 21 27 48

Expected Count 15.8 32.2 48.0

% within Keterampilan 43.8% 56.2% 100.0%

% of Total 25.6% 32.9% 58.5%

kurang Count 6 28 34

Expected Count 11.2 22.8 34.0

% within Keterampilan 17.6% 82.4% 100.0%

% of Total 7.3% 34.1% 41.5%

Total Count 27 55 82

Expected Count 27.0 55.0 82.0

% within Keterampilan 32.9% 67.1% 100.0%

% of Total 32.9% 67.1% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig sided)

Pearson Chi-Square 6.140a 1 .013

Continuity Correctionb 5.015 1 .025

Likelihood Ratio 6.442 1 .011

Fisher's Exact Test

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is b. Computed only for a 2x2 table

Sikap * Kualitas Pelayanan ANC Crosstabulation

Kualitas Pelayanan ANC

Total Baik Kurang

Sikap positif Count 22 35 57

Expected Count 18.8 38.2 57.0

% within Sikap 38.6% 61.4% 100.0%

% of Total 26.8% 42.7% 69.5%

Negatif Count 5 20 25

Expected Count 8.2 16.8 25.0

% within Sikap 20.0% 80.0% 100.0%

% of Total 6.1% 24.4% 30.5%


(4)

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 2.721a 1 .099

Continuity Correctionb 1.944 1 .163

Likelihood Ratio 2.872 1 .090

Fisher's Exact Test .128 .079

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.23. b. Computed only for a 2x2 table

Sikap * Kualitas Pelayanan ANC Crosstabulation

Kualitas Pelayanan ANC

Total

Baik Kurang

Sikap positif Count 22 35 57

Expected Count 18.8 38.2 57.0

% within Sikap 38.6% 61.4% 100.0%

% of Total 26.8% 42.7% 69.5%

Negatif Count 5 20 25

Expected Count 8.2 16.8 25.0

% within Sikap 20.0% 80.0% 100.0%

% of Total 6.1% 24.4% 30.5%

Total Count 27 55 82

Expected Count 27.0 55.0 82.0

% within Sikap 32.9% 67.1% 100.0%

% of Total 32.9% 67.1% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 2.721a 1 .099

Continuity Correctionb 1.944 1 .163

Likelihood Ratio 2.872 1 .090

Fisher's Exact Test .128 .079

N of Valid Casesb 82

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.23. b. Computed only for a 2x2 table


(5)

Lampiran 6. Analisia Multivariat

Logistic Regression

Classification Tablea

Observed

Predicted Kualitas Pelayanan ANC

Percentage Correct Baik Kurang

Step 1 Kualitas Pelayanan ANC Baik 13 14 48.1

Kurang 9 46 83.6

Overall Percentage 72.0

a. The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper Step 1a Int(1) -1.019 .607 2.813 1 .094 .361 .110 1.188

Eks(1) -1.517 .598 6.423 1 .011 .219 .068 .709

Keterampilan(1) -1.359 .575 5.582 1 .018 .257 .083 .793

Constant 3.308 .809 16.704 1 .000 27.326

a. Variable(s) entered on step 1: Int, Eks, Keterampilan.

Classification Tablea

Observed

Predicted Kualitas Pelayanan ANC

Percentage Correct Baik Kurang

Step 1 Kualitas Pelayanan ANC Baik 16 11 59.3

Kurang 13 42 76.4

Overall Percentage 70.7

a. The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper

Step 1a Eks(1) -1.620 .588 7.598 1 .006 .198 .063 .626


(6)

Dokumen yang terkait

Pengaruh Motivasi Kinerja dan Kemampuan Pegawai Terhadap Kualitas Pelayanan Publik pada Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara Medan Selatan

1 36 109

Pengaruh Good Governance Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pada Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Metrologi Medan

6 43 77

Hubungan Perilaku Ibu Hamil Dan Motivasi Petugas Kesehatan Dengan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi Tablet Zat Besi Di Puskesmas Mamas Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2009

0 33 73

KUALITAS PELAYANAN PASIEN PKMS (PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT SURAKARTA) DI UPTD (UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH) PUSKESMAS GAJAHAN KOTA SURAKARTA.

0 0 14

MENGUKUR KINERJA PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MENGGUNAKAN INSTRUMEN KUALITAS BERORIENTASI PELANGGAN DI KABUPATEN ACEH TENGGARA

0 0 8

PENGARUH DISIPLIN KERJA PEGAWAI TERHADAP PELAYANAN DI UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) PASAR BAYONGBONG KABUPATEN GARUT

0 0 8

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Bidan terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat

0 1 10

PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS ( UPTD ) PUSKESMAS DI KABUPATEN ACEH BARAT TESIS

0 1 19

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI BIDAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL PADA UNIT PELAKSANA TEHNIK DINAS (UPTD) PUSKESMAS DI KABUPATEN ACEH BARAT

0 0 34

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (Antenatal Care) 2.1.1 Pengertian - Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Bidan terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kabupaten Aceh Barat

0 12 45