Pemisahan Dan Penentuan Kadar Nikotin Dari Tembakau Puntung Rokok Di Kodya Medan

PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR NIKOTIN DARI TEMBAKAU
PUNTUNG ROKOK DI KODYA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

MARCEL R PASARIBU
060802017

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN

Judul

Kategori
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Program Studi
Departemen
Fakultas

: PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR
NIKOTIN DARI TEMBAKAU PUNTUNG ROKOK
DI KODYA MEDAN
: SKRIPSI
: MARCEL RAYMOND PASARIBU
: 060802017
: SARJANA ( S1 ) KIMIA
: KIMIA
: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA

Disetujui,
Medan, Juli 2011

Komisi Pembimbing :
Dosen Pembimbing II

Dosen Pembimbing I

Dr. Tini Sembiring, MS
NIP. 194805131971072001

Prof.Dr.Pina Barus, MS
NIP. 194606041980031001

Diketahui / Disetujui oleh
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,

Dr. Rumondang Bulan Nst, MS
NIP. 195408301985032001

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PEMISAHAN DAN PENENTUAN KADAR NIKOTIN DARI TEMBAKAU
PUNTUNG ROKOK DI KODYA MEDAN

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan ,

Juli 2011

MARCEL R PASARIBU
060802017

Universitas Sumatera Utara

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan
anugrah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi
ini.
Selanjutnya penulis menyampaikan penghargaan dan cinta kasih yang tulus
kepada seluruh keluarga yang senantiasa memberikan dorongan dan semangat,
terutama kepada orangtua yang sangat saya sayangi B.Pasaribu dan H.Br Simanjuntak
yang dengan doa serta kerja kerasnya mengorbankan banyak hal untuk mendidik saya
dengan penuh cinta kasih. Terimakasih juga saya ucapkan kepada abangku tercinta
Ramly Pasaribu Amd dan Gabriel Bernal Pasaribu ST serta kakak tersayang Juliana
Ratnawati br Pasaribu, Ida Martina Br Pasaribu dan Martina Br Siregar yang banyak
mendukung penulis baik secara moril maupun materil dalam menyelesaikan
perkuliahan.
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof.Dr.Pina Barus, MS selaku pembimbing I dan Ibu Dr. Tini
Sembiring MS selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan
pengarahan dan bimbingan dalam melakukana penelitian dengan sabar hingga
terselesainya skripsi ini.
2. Ibu Dr. Rumondang Bulan Nst, M.S dan Drs. Albert Pasaribu, M.Sc selaku
Ketua dan Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU.
3. Dr. Mimpin Ginting, M.S selaku dosen Wali saya yang telah memberikan
pengarahan dalam menyelesaikan studi selama perkuliahan dan penelitian
berlangsung.
4. Seluruh dosen Departemen Kimia FMIPA USU yang telah memberikan
waktunya untuk memberi bimbingan selama penulis mengikuti kuliah di
Departemen Kimia F-MIPA USU
5. Seluruh teman stambuk 2006 tanpa terkecuali serta sahabat – sahabatku (Robi,
Cevia, Jude, Aspri, Felbo, Agus ciling, Mery, Natalia) abang senior (B’Ronal,
B’Amos colabren, B’Frans, B’Lintong, B’Bintang) yang banyak memberikan
motivasi serta semangat dalam perkuliahan dan penelitian berlangsung.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan penulis baik dalam literatur maupun pengetahuan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juli 2011

MARCEL R PASARIBU
060802017

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pemisahan dan penentuan kadar nikotin dari
tembakau puntung rokok di Kodya Medan. Tembakau mengandung nikotin yang
dapat digunakan sebagai bahan baku insektisida.Dari 10 gram tembakau puntung
rokok yang telah dilakukan dengan metode pemisahan secara ekstraksi menggunakan
pelarut kloroform setelah penambahan HCl dan NaOH , kadar nikotin diuji dengan
menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 260 nm diperoleh
0,49% pada tembakau puntung rokor filter dan 0,96% pada tembakau puntung rokok
non-filter.

Universitas Sumatera Utara

DETERMINE THE CONTENT OF TOBACCO CIGARETTE STUBS THATS
ARE A LOT OF QUANTITY IN THE CITY OF MEDAN

ABSTRACT
A study to determine the content of tobacco cigarette stubs thats are a lot of quantity
in the city of Madya Medan has been done.
Tobacco contain nicotine as a
insectisida material. From 10 grams of tobacco cigarette stubs that have been done
with the separation method of extraction with chloroform after addition of HCl and
NaOH ,the percentage of nicotine measured by using UV spectrophotometer at a
wavelength of 260 nm obtained 0.49% filter tobacco cigarette stubs and 0,96% nonfilter tobacco cigarette stubs.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Persetujuan
Pernyataan
Penghargaan
Abstrak
Abstract
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Lampiran

Halaman
ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
x

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Pembatasan Masalah
1.4Tujuan Penelitian
1.5 Manfaat Penelitian
1.6 Lokasi Penelitian
1.7 Metode Penelitian

1
1
3
3
3
3
4
4

Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Tembakau
2.1.1 Morfologi tanaman tembakau
2.1.2 Sistematika tanaman tembakau
2.2 Senyawa Alkaloida
2.2.1 Klasifikasi senyawa alkaloida
2.2.2 Sifat-sifat senyawa alkaloida
2.2.3 Senyawa-senyawa alkaloida dalam tembakau
2.3 Ekstraksi pelarut
2.3.1 Interaksi dalam distribusi cair-cair
2.4 Senyawa nikotin
2.5 Penentuan nikotin secara spektrofotometri
2.5.1 Spektrofotometer
2.5.2 Hukum Bouger dan Lambert
2.5.3 Hukum Beer
2.5.4 Hukum Lambert-Beer
2.6 Pestisida
2.6.1 Senyawa nikotin sebagai insektisida
2.6.2 Pengaruh nikotin terhadap lingkungan

5
5
5
6
6
7
9
9
11
12
13
13
14
14
15
16
17
18
18

Bab 3 Metodologi Penelitian
3.1 Alat-alat
3.2 Bahan-bahan
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Pembuatan Reagen
3.3.2 Penentuan massa rata-rata tembakau puntung rokok
3.3.3 penentuan panjang gelombang maksimum senyawa nikotin
3.3.3 Penentuan kurva kalibrasi konsentrasi vs absorbansi

20
20
21
21
21
22
22
22

Universitas Sumatera Utara

3.3.4 Pemisahan nikotin dari tembakau puntung rokok
3.4 Bagan penelitian
3.4.1 Penentuan massa rata-rata tembakau puntung rokok
3.4.2 Penentuan kurva kalibrasi
3.4.3 Pemisahan nikotin dari tembakau puntung rokok

22
24
24
25
26

Bab 4 Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian
4.2 Pengolahan data
4.2.1 Penurunan persamaan garis regresi
4.2.2 Perhitungan koefisien korelasi
4.2.3 Perhitungan standar deviasi
4.2.4 Penentuan batas deteksi
4.2.5 Penentuan kadar nikotin dalam sampel
4.3 Pembahasan

27
27
29
29
30
31
31
32
34

Bab 5 Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Daftar Pustaka
Lampiran

36
36
36
37
39

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Data penimbangan massa tembakau puntung rokok Filter
27
Tabel 4.2 Data penimbangan massa tembakau puntung rokok Nonfilter
28
Tabel 4.3 Tabel penurunan persamaan garis regresi
29
Tabel 4.4 Tabel penentuan standar deviasi
31

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Data penentuan panjang gelombang maksimum senyawa
Nikotin
Lampiran 2. Data pengukuran absorbansi nikotin standart pada
berbagai konsentrasi
Lampiran 3. Data pengukuran absorbansi nikotin dari ekstrak
Puntung rokok
Lampitan 4. Gambar kurva penentuan panjang gelombang maksimum
Senyawa nikotin
Lampiran 5. Gambar kurva kalibrasi Konsentrasi vs Absorbansi

40
41
42
43
44

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pemisahan dan penentuan kadar nikotin dari
tembakau puntung rokok di Kodya Medan. Tembakau mengandung nikotin yang
dapat digunakan sebagai bahan baku insektisida.Dari 10 gram tembakau puntung
rokok yang telah dilakukan dengan metode pemisahan secara ekstraksi menggunakan
pelarut kloroform setelah penambahan HCl dan NaOH , kadar nikotin diuji dengan
menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 260 nm diperoleh
0,49% pada tembakau puntung rokor filter dan 0,96% pada tembakau puntung rokok
non-filter.

Universitas Sumatera Utara

DETERMINE THE CONTENT OF TOBACCO CIGARETTE STUBS THATS
ARE A LOT OF QUANTITY IN THE CITY OF MEDAN

ABSTRACT
A study to determine the content of tobacco cigarette stubs thats are a lot of quantity
in the city of Madya Medan has been done.
Tobacco contain nicotine as a
insectisida material. From 10 grams of tobacco cigarette stubs that have been done
with the separation method of extraction with chloroform after addition of HCl and
NaOH ,the percentage of nicotine measured by using UV spectrophotometer at a
wavelength of 260 nm obtained 0.49% filter tobacco cigarette stubs and 0,96% nonfilter tobacco cigarette stubs.

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Tembakau berasal dari Amerika Selatan dan Hindia Barat,walaupun tembakau digunakan
pertama kali di Amerika Utara, Tembakau masuk ke Eropa melalui Spanyol.Tanaman
tembakau di Indonesia diperkirakan dibawa oleh bangsa Portugis dan Spanyol pada abad ke
-16. Dikatakan Rhumpius, tanaman tembakau pernah dijumpai di Indonesia di beberapa
daerah yang belum pernah dijelajahi oleh bangsa Portugis atau Spanyol, tanaman tembakau
baru ditanam di pulau jawa sekitar tahun1609 dan kemudian menyebar ke pulau-pulau lain
di Indonesia. Tembakau merupakan suatu jenis tanaman yang berperan penting sebagai
tanaman komersil dan memiliki arti sosial bagi masyarakat. Kegunaan dari tembakau adalah
sebagai bahan dasar untuk

pembuatan rokok dan ramuan untuk makan sirih

(http://rokokaanjuniawan.blogspot.com/).
Rokok adalah hasil produksi yang berbentuk silinder dikonsumsi masyarakat untuk
dihirup asapnya. Rokok merupakan hasil olahan tembakau yang terbungkus.Rokok dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan atas :
1.

Rokok elekrik yaitu rokok yang dikonsumsi masyarakat tanpa tembakau tetapi
mengunakan arus listrik untuk menghasilkan asap rokok.

2.


Rokok Nonelektrik yaitu rokok yang dikonsumsi masyarakat dengan cara membakar
tembakau pada rokok untuk menghasilkan asap. Rokok Nonelektrik ini dibagi menjadi:
Rokok berdasarkan bahan pembungkus
1. Klobot yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung
2. Kawung yang bahan pembungkusnya berupa daun aren
3. Sigaret yang bahan pembungkusnya berupa kertas



4. Cerutu yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau
Rokok berdasarkan bahan baku atau isi
1. Rokok putih yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau
2. Rokok kretek yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh
3. Rokok klembak yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau,cengkeh, dan
kemenyan

Universitas Sumatera Utara



Rokok berdasarkan proses pembuatannya
1. Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan cara
digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana
2. Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan
mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat



rokok.Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan.
Rokok berdasarkan penggunaan filter
1. Rokok Filter (RF) : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus
2. Rokok Non Filter (RNF) : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

Senyawa alkaloida utama dari daun tembakau adalah nikotin yang terikat dengan asam
malat dan asam sitrat.Senyawa-senyawa lain yang terkandung dalam tembakau adalah
Amin,Pirol,Piridin,serta alkaloida Nornikotin dan anabasin.sifat lain yang dimiliki oleh
nikotin dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan insektisida.Kebutuhan
insektisida dalam bidang pertanian mendorong untuk mencari bahan dasar pembuatan
insektisida termasuk senyawa nikotin.
Kandungan nikotin dalam tembakau dapat mencapai 0,3% sampai dengan 5% bobot
kering yang berasal dari biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun.Pada penelitian
sebelumnya dilakukan ekstraksi nikotin pada limbah tangkai daun tembakau dengan
mendapatkan hasil maksimum nikotin yang diperoleh sebesar 5%. Nikotin dapat menjadi
racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku insektisida, contoh serangga
yang dapat diatasi menggunakan insektisida nikotin adalah Afid. Nikotin murni dianggap
beracun bagi mamalia dengan dosis letal 50mg/Kg (http://indowebster.web.id/).
Pertambahan penduduk di Indonesia khususnya daerah kota madya Medan terus
meningkat diikuti juga oleh meningkatnya jumlah perokok sebagai konsumen produksi
rokok.Jumlah penduduk Medan yang terhitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun
2006 berkisar 2.036.185 jiwa. Diperkirakan jumlah perokok mencapai 705.345 jiwa.
Apabila setiap perokok menghabiskan 6 batang rokok setiap harinya dengan rata-rata berat
tembakau puntung rokok yang dihasilkan per batangnya sekitar 0,45 gram maka dalam satu
harinya dapat diperoleh tembakau puntung rokok sebanyak 1.142.658 gram atau 1,14 ton
per harinya dan dalam sebulan dapat mencapai 34,28 ton. Menurut literatur kandungan
nikotin dalam tembakau berkisar antara 2 % sampai 8% sesuai dengan spesies tembakau.

Universitas Sumatera Utara

Dimana nikotin dalam pemanfaatannya sebagai

insektisida untuk tikus hanya

menggunakan 30 mg/kg dalam bentuk garam atau basa. Oleh karena itu peneliti tertarik
untuk mengetahui kadar nikotin yg sebenarnya dalam tembakau puntung rokok yang sangat
berpotensial sebagai sumber nikotin untuk bahan insektisida.
1.2

Permasalahan
-

Berapa kadar nikotin yang terdapat pada tembakau puntung rokok .

-

Berapa banyak jumlah tembakau yang terdapat dalam puntung rokok.

1.3

Pembatasan masalah
-

Sampel tembakau puntung rokok diperoleh dari sekitar kota Madya Medan tanpa
membedakan merek dari jenis puntung rokok.

-

1.4

Sampel dibatasi jenis puntung rokok Filter dan Non Filter.

Tujuan penelitian
-

Mengetahui kadar nikotin dari tembakau puntung rokok

-

Mengetahui massa rata-rata dari tembakau puntung rokok

1.5

Manfaat Penelitian
-

Memanfaatkan tembakau puntung rokok sebagai sumber nikotin untuk bahan baku
insektisida

1.6

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Hidup (Puslit-SDAL) Universitas Sumatera Utara.

1.7

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan memisahkan tembakau

dari bungkusan dan filter puntung rokok kemudian dengan penimbangan untuk mengetahui
berat rata-rata tembakau sisa puntung rokok. Mengisolasi dan menentukan kadar nikotin
dari tembakau puntung rokok dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut
kloroform setelah di tambahkan HCl 0,1 N dan NaOH 10 %

selanjutnya kloroform

Universitas Sumatera Utara

diuapkan dengan menggunakan rotarievaporator sampai ekstrak bebas pelarut dan diuji
kadar nikotin dengan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 260 nm.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tembakau
Tembakau adalah termasuk genus Nicotiana yang mengandung lebih dari 60 spesies dan
merupakan famili Solanaceae ( golongan terung-terungan ). Nicotiana adalah suatu spesies
yang berkembang sangat luas seperti Nicotiana Tabacum dan Nicotiana Rustica.
Nicotiana Tabacum memiliki warna daun yang berubah dari hijau, kuning
kecoklatan dimana bunganya memiliki tangkai yang pendek dan kuat. Bunganya
mempunyai 5 (lima) benang sari, 1 (satu) putik dan berkembang biak sendiri.
Nicotiana Rustica merupakan tanaman tahunan yang memiliki tangkai yang lebih
kecil, ukurannya tinggi, batangnya banyak dan daunnya lebar, sangat tebal dan berat. Daun
dari tanaman tembakau memiliki nilai ekonomi yang sangat, dimana daun hasil panen
digunakan untuk bahan pengisi dan sebagai sumber insektisida (nikotin)

( Akehurst B.C,

1968).
Tanaman tembakau dalam perkembangannya memperlihatkan banyak perbedaan
morfologi yang nyata, terutama mengenai perkembangan batang dan daun.
2.1.1Morfologi Tanaman Tembakau
Daun :Daun tembakau bentuknya bulat panjang, ujungnya meruncing, tepi pinggirannya
licin dan bertulang sirip. Proses penuaan (pemasakan) daun biasanya dimulai dari
bagian ujungnya baru kemudian disusul bagian bawahnya. Hal ini diperhatikan oleh
perubahan warna daun dari hijau – kuning– coklat.
Batang :Umumnya memiliki batang yang tegak dengan tinggi sekitar 2,5 meter.Batangnya
berwarna hijau dan hampir seluruhnya ditumbuhi bulu-bulu halus bewarna putih.
Bunga :Termasuk bunga majemuk yang berbentuk malar, masing-masing seperti terompet
dan mempunyai bagian-bagian seperti terompet dan mempunyai bagian-bagian
berikut kelopak bunga, mahkota bunga, bakal buah dan kepala putik.

Universitas Sumatera Utara

:Biji tembakau sangat kecil sehingga dalam 1 cm3 dengan berat kurang lebih 0,5

Biji

gram berisi sekitar 6000 butir biji.
2.1.2 Sistematika Tanaman Tembakau
Sistematika tanaman tembakau (Nicotiana tabacum linn) sebagai berikut :
-

Devisio

: Spermatophyta

-

Sub Devisio

: Angiospermae

-

Kelas

: Dicotyledoneae

-

Sub Kelas

: Sympetalae

-

Ordo

: Pelemeniales

-

Famili

: Solonaceae

-

Genus

: Nicotiana

-

Species

: Nicotiana tabacum linn (Anonim, 1993).

2.2. Senyawa Alkaloida
Senyawa alkaloida adalah senyawa alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan mengandung
paling sedikit sebuah atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan sebagian besar atom
nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklis nya.
Senyawa alkaloid yang terdapat pada tumbuhan sekitar 5500 jenis telah diketahui.
Tidak ada satupun istilah alkaloid yang memuaskan,

tetapi pada umumnya alkaloid

mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya
dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid sering kali beracun bagi
manusia dan banyak yang mempunyai aktivitas fisiologi yang menonjol, jadi digunakan
secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tak bewarna, sering kali bersifat
optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya
nikotina) pada suhu kamar.
Uji sederhana, tetapi yang sama sekali tidak sempurna , untuk alkaloid dalam daun
atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah .misalnya, alkaloid kuinina adalah zat yang
dikenal paling pahit dan pada konsentrasi molar 1X10-3 memberikan rasa pahit yang berarti
(Harbone.J.B, 1973).

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Klasifikasi Senyawa Alkaloida
Klasifikasi senyawa alkaloida didasarkan pada sifat dari gugus yang mengandung atom N
pada cincin tertutup yang didapat pada struktur dasar molekulnya, maka alkaloida
digolongkan atas 7 kelas menurut Robinson yaitu :

1. golongan fenil etil amin

C

C

N

2. golongan Piridin

N

3. golongan Pirolidin

N

4. golongan Pirolidin-piperidin (Nikotin)

Universitas Sumatera Utara

N

N

NH

5. golongan Quinolin

N

6. golongan Isoquinolin

N

7. golongan Phenantrene
NH

(Karrer.P, 1950)

Universitas Sumatera Utara

2.2.2 Sifat-sifat dari Senyawa Alkaloida
1. Bersifat basa karena mengandung atom nitrogen di dalam inti heterosiklik
2. Dapat bereaksi dengan asam-asam anorganik encer menghasilkan garam-garam
yang larut dalam air tetapi tidak larut dalam pelarut organik
3. Sebagai basa bebas dapat larut dalam pelarut organik, sedang dalam bentuk
garam dapat larut dalam air
4. Umumnya memberikan efek fisiologis pada hewan dan manusia, sehingga sering
digunakan sebagai obat-obat tradisionil
5. Secara umum senyawa alkaloida bersifat optis aktif sehingga dapat dipakai
untuk memisahkan senyawa-senyawa yang rasemis
6. Umumnya mengandung atom nitrogen yang berkedudukan tertier pada sistem
cincinnya

2.2.3 Senyawa-senyawa Alkaloida dalam Tembakau
Golongan alkaloida ini mempunyai cincin piridin dalam struktur dasarnya sehingga
termasuk golongan pirolidin-piridin. Alkaloida-alkaloida dalam daun tembakau adalah;

a.Nikotin

N
N

CH3
Rumus molekul : C10H14N2
Berat molekul

: 162,23

b. Nornikotin

Universitas Sumatera Utara

N
H

N

Rumus molekul : C9H12N2
Berat molekul

: 148,23

c.Anabasin

N
N

H

Rumus molekul : C10H13N2
Berat molekul

: 161,23

(Fergusson.N.M, 1956)

2.3 Ekstraksi Pelarut
Ekstraksi dengan air atau dalam suasana asam, alkohol atau air-alkohol untuk pembuatan
ekstrak cair, biasanya dilakukan untuk memisahkan senyawa-senyawa alkaloida ekstrak
dari bahan yang diekstraksi,akan tetapi banyak juga senyawa-senyawa yang bukan alkaloid
ikut terekstraksi. Hal ini disebabkan oleh pelepasan sejumlah besar dari pigmen, bahanbahan yang dapat tersabunkan dan bahan-bahan resin yang sulit untuk tersaring setelah
teremulsi. Walaupun ekstraksi dengan air cukup sesuai bila diikuti dengan metode
pemurnian secara kromatografi, ekstraksi dengan pelarut organik lebih disukai apabila
pemurnian dilakukan dengan ekstraksi klasik cair-cair.
Pemilihan pelarut atau campuran pelarut pada ekstraksi alkaloida tergantung pada
pertimbangan berikut:
1. Sifat fisik dan kimia dari alkaloida yang diekstraksi. Hal ini terpenting untuk
ekstraksi yang efisien adalah koefisien partisi alkaloida diantara pelarut yang
dipilih dan campuran air yang bersifat basa pada alkaloida tereksraksi.

Universitas Sumatera Utara

2. Adanya sifat dasar dari bahan yang terektraksi. Sangat diperlukan bahwa bahanbahan yang ikut terekstraksi ke dalam pelarut organik jumlahnya kecil.
3. Keselektifan pelarut.pelarut yang dipilih disesuaikan dengan sifat-sifat senyawa
yang akan diekstraksi sehingga mengekstraksi satu atau lebih campuran
alkaloida.
4. Metode ekstraksi. Tergantung pada metode yang digunakan maka diperlukan
pelarut yang lebih ringan atau lebih berat atau pelarut yang memiliki titik didih
rendah.
Penggunaan kloroform sebagai pelarut organik lebih luas digunakan karena
memiliki titik didih rendah dan berat jenis yang lebih besar dari air. Akan tetapi kerugian
dengan menggunakan pelarut ini adalah sangat mudah menguap sehingga diperlukan lebih
banyak jumlahnya, sedangkan pelarut eter memiliki ketercampuran dengan air relatif tinggi
(Higuchi&Hansen, 1961).
Ekstraksi pelarut merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi dalam dua
pelarut yang tidak saling bercampur
KD =

C1
C2

KD adalah koefisien distribusi atau koefisien partisi yang merupakan tetapan keseimbangan
yang merupakan kelarutan relatif dari suatu senyawa terlarut dalam dua pelarut yang tidak
bercampur.C1 dan C2 adalah kadar senyawa terlarut didalam pelarut 1 dan pelarut 2. Sering
sekali sebagi pelarut pertama adalah air sedangkan pelarut kedua adalah pelarut organik
yang tidak bercampur dengan air. Dengan demikian ion anorganik atau senyawa organik
polar sebahagian besar akan terdapat dalam fasa air, sedangkan senyawa organik nonpolar
sebahagian besar terdapat dalam fasa organik.

2.3.1 Interaksi dalam Distribusi Cair-Cair
Distribusi suatu senyawa diantara dua fasa cair yang tidak bercampur tergantung pada
interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fasa, yaitu struktur
molekul. Angka banding distribusi adalah ukuran kuantitatif relatif dan interaksi-interaksi
ini.
Interaski molekul di bedakan dengan asal dan kekuatan interaksi bolak-balik dari
karakter fisik utama merupakan cara pendekatan dari kenaikan kekuatan :
1. Interaksi dispersi

Universitas Sumatera Utara

2. Interaksi orientasi dwikutub dan induksi
3. Ikatan Hidrogen atau interaksi pemberi-penerima elektron
4. Ikatan ionik dan dwikutub atau ion lain.
Biasanya tidak mungkin membuat penafsiran kuantitatif pengaruh dari semua faktor
pada distribusi suatu senyawa terlarut dalam sistim cair-cair. Penafsiran penting sering
dibuat dengan dasar pembahasan kualitatif yang mempertimbangkan karakter lipofil
senyawa terlarut dan daya interaksi spesifik (Sudjudi, 1989).

2.4 Senyawa Nikotin
Pada tahun 1828 Pooselt dan Reimann berhasil mengisolasi nikotin dari daun tembakau.
Nikotin atau β-pyridyl-α-methyl pyrolidin adalah salah satu dari kelompok besar senyawasenyawa bersifat basa yang disebut alkaloida dan terdapat dalam tumbuhan Nicotiana
Tabacum Linn. Selain nikotin dalam daun tembakau, juga terdapat alkaloida dalam jumlah
yang lebih kecil yaitu N-metilanabasin, N-metilpirolidin, nornikotin, anabasin dan beberapa
jenis alkaloida-alkaloida lain.
+

-H+
N :

+ HCl

ClN

N

CH3
nikotin yang terikat
dengan asam malat
dan asam sitrat

H

N

CH3

NaOH
N
N

nikotin

+

NaCl

+

H2O

CH3

Nikotin merupakan alkaloid utama dalam daun tembakau yang aktif sebagai
insektisida dan terdapat dengan kadar 2 – 8 % bergantung paada spesiesnya. Nornikotin
dan anabasin merupakan alkaloid yang sangat mirip dengan nikotin, yang ditemukan juga
dalam daun tembakau dan ikut serta menjadikan tingginya aktivitas insektisida
(Matsumura.F, 1989).

2.5 Penentuan Nikotin secara Spektrofotometri

Universitas Sumatera Utara

Metode yang paling sederhana dalam penentuan kadar nikotin dalam tembakau dengan cara
Spektrofotometri UV pada panjang gelombang 260 nm, dimana ekstrak nikotin diperoleh
dengan merendam daun tembakau dalam air, dengan penambahan HCl 0,1 N stuktur nikotin
akan terprotonasi pada cincin pirolidinnya. Dalam keadaan terprotonasi, nikotin dapat
dihidrolisa dengan basa.
Kadar nikotin yang diperoleh diuji kestabilannya dengan penambahan HCl 0,1 N
untuk melihat pengaruh pH, dengan penyimpanan dalam beberapa hari.perubahan kadar
terjadi diukur dengan cara Spektrofotometri UV pada panjang gelombang 260 nm
(Simatupang.L, 1997).

2.5.1 Spektrofotometer
Spektrofotometer merupakan salah satu metode yang sangat penting dalam analisis kimia
kuantitatif. Banyak kelebihan yang dimilikinya antara lain:
1. Dapat digunakan secara luas dalam berbagai pengukuran kuantitatif untuk
senyawa-senyawa organik
2. Kepekaannya tinggi karena dapat mengukur dalam satuan ppm
3. Sangat selektif, bila suatu komponen X akan diperiksa dalam suatu campuran
dengan mengetahui panjang gelombang maksimum hanya komponen X yang
mengabsorbsi cahaya tersebut
4. Lebih teliti karena hanya mempunyai persen kesalahan 1-3 % bahkan
mempunyai persen kesalahan 0,1%
5. Mudah dan cepat, hal ini terutama sangat bermanfaat untuk pengukuran cuplikan
dalam jumlah besar (Day&Underwood, 1983).
Apa bila sinar polikromatis (sinar yang terdiri dari beberapa panjang gelombang)
dilewatkan melalui suatu larutan, maka sinar dengan panjang gelombang yang lain
dilewatkan dari larutan (Ewing.G.W, 1985).
Intensitas warna adalah salah satu faktor utama dalam penentuan konsentrasi suatu
analit secara spektrofotometri. Pada analisa spektrokimia, spektrum radiasi elektromagnetik
digunakan untuk menganalisa spesies kimia dan menelaah interaksinya dengan radiasi
elektromagnetik. Radiasi dapat berinteraksi dengan spesies kimia, dan kita akan
memperoleh informasi tentang spesies molekul zat tersebut, sehingga mengakibatkan
beberapa panjang gelombang dari energi dapat diabsorbsi sedangkan panjang gelombang
yang lain tidak ada (Srobel.H.A, 1973).

Universitas Sumatera Utara

2.5.2 Hukum Bouger dan Lambert
Lambert (1760) mengemukakan hubungan antara intensitas warna dari larutan apabila
dilalui seberkas sinar. Hukum yang sama telah dikemukakan oleh Bouger (1929). Menurut
Lambert dan Bouger, kekuatan transmisi suatu larutan berkurang secara geometrik
(eksponensial) dengan pertambahan konsentrasi larutan tersebut. Secara matematis hal ini
dapat dinyatakan sebagai berikut:
T = a-b
Dimana;

T = transmitansi
a = konstanta karakteristik dari larutan dan panjang gelombang
b = jarak yang ditempuh sinar di dalam larutan

persamaan ini dapat ditunjukkan secara logaritma :
P

- log T = - log

Po

=a.b
2.5.3 Hukum Beer
Beer mengemukakan hukum hubungan antara besarnya transmitansi dan konsentrasi pada
tahun 1852. Hukum ini menyatakan bahwa intensitas dari transmitansi sinar oleh larutan
menurun secara geometrik (eksponensial).
Hal ini dapat dituliskan sebagai :
T = a-c
Dimana

T = transmitansi
a = konstanta karakteristik dari larutan dan panjang gelombang
c = konsentrasi

persamaan ini dapat dinyatakan dalam bentuk logaritma sebagai berikut :
- log T = - log

P
Po

=a.c
2.5.5 Hukum Lambert-Beer
Kombinasi Hukum Bouger – Lambert dan Beer dapat digabungkan sehingga
diperoleh :
It = Io. 10-€.b.c
Atau :

Universitas Sumatera Utara

Io
Log =

=

฀฀฀€.b.c

It

Sehingga :

A=

Atau dalam keadaan lain dapat dituliskan :
A = a.b.c
Dimana :
A = Absorbansi
€ = koefisien ekstingsi
a = absorbsivitas
b = tebal larutan yang dilalui sinar
c = konsentrasi (mg/L) atau mol/L
Tebal larutan yang dilalui oleh sinar (b) dan konsentrasi (c) adalah faktor yang
sangat menentukan bagi harga absorbansi sehingga harus ditunjukkan secara jelas. Apabila
konsentrasi dalam prosedur analisa dinyatakan dalam mol/L (molar), maka absorbansi dapat
dinyatakan dengan koefisien ekstingsi molar (€). Akan tetapi bila konsentrasi dinyatakan
dalam mg/L maka absorbansi dinyatakan dengan absorbsivitas (a) (Kenner&Busch,1979).

2.6 Pestisida
Pestisida digunakan petani untuk memberantas hama-hama pengganggu dan mencegah
timbulnya tumbuhan baru yang dapat mengganggu tanaman.
Sebutan pestisida seakan-akan hanyalah racun untuk membunuh hama dan penyakit
tanaman, padahal pengertian pestisida semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan
virus yang digunakan untuk :
a. Memberantas dan mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagianbagian tanaman atau hasil pertanian.
b. Memberantas tanaman pengganggu
c. Mematikan atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman
d. Memantikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan
e. Memberantas atau mencegah hama-hama air
Walaupun demikian, pestisida ini memiliki suatu dampak ekologis yang harus
diperhitungkan dalam strategi pengelolaan hama.

Universitas Sumatera Utara

Dampak lingkungan penggunaan pestisida berkaitan dengan sifat dasar terhadap
efektivitasnya sebagai pestisida yaitu :
1. Pestisida cukup beracun untuk mempengaruhi seluruh kelompok taksonomi biota,
termasuk makhluk bukan sasaran, sampai batas tertentu bergantung pada faktor
fisiologis dan ekologis
2. Banyak pestisida perlu tahan terhadap degradasi lingkungan sehingga dapat tahan
dalam daerah yang diberi perlakuan dan keefektifannya dapat diperkuan. Sifat ini
dapat memberikan pengaruh jangka panjang dalam ekosistem alamiah.
Menurut fungsinya, pestisida dapat dibagi atas beberapa bagian yaitu : insektisida,
herbisida, fungisida, dll. Insektisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan bisa mematikan serangga dan nikotin termasuk salah satu jenis
insektisida alami (Connel&Miller,1995).

2.6.1 Senyawa Nikotin sebagai Insektisida
Senyawa nikotin digunakan sebagai insektisida karena memiliki daya racun yang cukup
tinggi. Daya racun yang cukup tinggi itu di sebabkan karena nikotin mempunyai 2 atom N
pada struktur cincin heterosikliknya menyebabkan senyawa nikotin dalam reaksinya bersifat
basa dan oleh sebab itu dengan asam membentuk garam nikotin bersifat non volatile (
stabil).
Hubungan struktur dan aktivitasnya juga mempengaruhi daya racun dari senyawa
nikotin, dalam hal ini isomer optik dari strukturnya menunjukkan perbedaan aktivitas.
Aktivitas dari senyawa-senyawa tersebut akan hilang dan berkurang bila nitrogen
dihilangkan maupun mengalami perubahan posisi. Jadi pengaruh dari nitrogen sangat
menentukan aktivitas senyawa nikotin tersebut.
Dalam keadaan murni senyawa nikotin mempunyai daya racun yang tinggi jika
dibandingkan dengan daya racun insektisida nikotin hidroklorida atau nikotin sulfat.
Nikotin sebagai bahan dasar insektisida digunakan dalam bentuk campuran yaitu sebagai
larutan dalam air yang mengandung 40% nikotin dan sebagai garam sulfat sehingga dikenal
dengan Black Leaf 40.
Sebagai insektisida kontak nikotin masuk ke dalam tubuh serangga melalui spirakel
dalam sistem trakea. Uap dari nikotin menembus dinding tubuh serangga dan dilarutkan
dengan cepat serta menembus jaringan vital dan menyebabkan paralisis terhadap sistem
saraf serangga. Walaupun tekanan uap dari nikotin rendah pada temperatur kamar, semua

Universitas Sumatera Utara

nikotin itu dapat aktif bahkan dalam konsentrasi uap yang rendah dapat bersifat insektisida
(Siswandono&Soekardjo,1995).

2.6.2 Pengaruh Nikotin terhadap Lingkungan
Spesies dan makhluk hidup dalam lingkungan alamiah berbeda sekali dalam kepekaan
terhadap pestisida apapun. Perbedaan dalam tanggapan ini berarti bahwa suatu pestisida
dapat menghilangkan individu yang rentan dari suatu populasi atau suatu spesies yang
rentan dari suatu komunitas makhluk hidup.
Nikotin merupakan racun yang bekerja cepat, terutama pada ganglia otonom. Disini
nikotin melakukan efeknya mula-mula sebagai stimulan kemudian sebagai depresan, yang
mengakibatkan kelumpuhan dan kegagalan fungsi organ penting. Nikotin sangat toksis
terhadap mamalia setelah terhirup atau terkena pada kulit karena zat ini mudah terserap dari
kulit. Untuk manusia, dosis letal median ( MLD) kira-kira 60 mg dan sebanyak 40 mg
menyebabkan gejala-gejala berat. LD –

50

oral untuk tikus sebesar 30 mg/kg untuk bentuk

garam atau bentuk basa (Willian O.F, 1995).

Universitas Sumatera Utara

BAB 3
BAHAN DAN METODOLOGI

3.1 Alat – alat
-

Labu takar

Pyrex

-

Gelas beaker

Pyrex

-

corong pisah

Pyrex

-

Kertas saring

-

Corong

Pyrex

-

Gelas Erlenmeyer

Pyrex

-

Magnetic Stirer

-

Hot plate stirer

-

Indikator universal

-

Neraca analitis

Mettler PM 400

-

Rotarievaporator

Heidolph VV2000

-

Spektrofotometer UV-Vis 1240

Shimadzu

-

pipet volume

Fisher brand

-

karet penghisap

-

Statif dan klem

-

pipet tetes

-

gelas ukur

PMC

Pyrex

3.2 Bahan – bahan
-

Kloroform

p.a(E.Merck)

-

HCl

p.a(E.Merck)

-

NaOH

p.a(E.Merck)

-

Nikotin

p.a(E.Merck)

-

Tembakau puntung rokok

-

Akuades

3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Pembuatan reagen
a. Larutan NaOH 10%

Universitas Sumatera Utara

Ditimbang 10 gram kristal NaOH, kemudian dilarutkan dengan akuades dalam labu takar
100 ml hingga garis tanda .
b. Larutan HCl 0,1 N
Sebanyak 4,166 ml HCl pekat diencerkan dengan akuades dalam labu takar 500 ml hingga
garis tanda.
c. Larutan induk Nikotin 1000 ppm
Ditimbang sebanyak 1 gram kristal nikotin standar, kemudian diencerkan dengan akuades
dalam labu takar 1 liter hingga volumenya tepat pada garis tanda.
d. Larutan seri standar Nikotin 100 ppm
Sebanyak 10 ml larutan induk 1000 ppm diencerkan dengan akuades dalam labu takar 100
ml hingga garis tanda.
e. Larutan standar Nikotin untuk 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm
Sebanyak 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml larutan seri standar 100 ppm, kemudian di encerkan
dengan akuades dalam labu takar 100 ml hingga volumenya tepat garis tanda.

3.3.2 Penentuan massa rata-rata tembakau puntung rokok
Sebanyak 10 puntung rokok dipisahkan tembakaunya dari bungkusan kertas dan filter,
kemudian ditimbang berat tembakau yang diperoleh dari sisa puntung rokok tersebut.

3.3.3 Penentuan panjang gelombang maksimum senyawa Nikotin




Besar absorbansi ekstrak nikotin diukur dengan menggunakan spektrofotometer
UV-vis 1240 pada pangjang gelombang 250,251,252,253,...dan 265 nm.
Sebagai uji blanko digunakan dengan akuades bebas nikotin.

3.3.4 Penentuan kurva kalibrasi Konsentrasi vs Absorbansi


larutan standar untuk 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm besar absorbansinya dari
masing-masing larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Vis 1240 pada panjang





gelombang 260 nm.
Sebagai uji blanko dilakukan dengan akuades bebas nikotin
Dilakukan pengukuran sebanyak 3 kali

3.3.5 Pemisahan Nikotin dari tembakau puntung rokok


Dipisahkan tembakau puntung rokok dari bungkusan kertas dan filter

Universitas Sumatera Utara



Ditimbang 10 gram bubuk tembakau puntung rokok dimasukkan ke dalam gelas



beaker 500 ml



Direndam selama 12 jam sambil diaduk dengan menggunakan magnetik stirer.



Ditambahkan akuades sebanyak 100 ml



Disaring kemudian filtratnya ditambahkan HCl 0,1 N sampai pH 6-7



homogen,filtrat dimasukkan ke dalam corong pisah.



masing selama 15 menit

Ditambahkan 10 ml NaOH 10% kemudian diaduk perlahan-lahan hingga

Diekstraksi dengan menggunakan pelarut kloroform sebanyak 5 x 15 ml masing-

Didiamkan hingga terbentuk dua lapisan, diambil lapisan bawah (fasa kloroform),
kemudian diuapkan dengan rotarievaporator hingga seluruh pelarut



habis.



diencerkan

kloroform

Residu dilarutkan dengan aquadest dalam labu takar 500 ml dan kemudian

Ekstrak nikotin bebas pelarut ditentukan kadarnya dengan menggunakan
Spekrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 260 nm

Universitas Sumatera Utara

3.4 Bagan penelitian
3.4.1 Penentuan massa rata-rata tembakau puntung rokok

10 puntung rokok

dipisahkan tembakau dari bungkusan
dan filter
dimasukkan kedalam cawan penimbang
ditimbang beratnya

tembakau sisa puntung rokok

Universitas Sumatera Utara

3.4.2 Penentuan kurva kalibrasi Konsentrasi vs Absorbansi

1 gr nikotin

dimasukkan ke dalam labu takar 1000 ml
diencerkan dengan aquades hingga volumenya tepat pada garis
tanda

larutan induk 1000 ppm

sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml

diencerkan dengan aquadest hingga volumenya tepat pada garis
tanda

larutan standart 100 ppm

sebanyak 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml masing-masing dimasukkan
kedalam labu takar 100 ml
diencerkan dengan aquades hingga volumenya tepat pada garis
tanda
diukur besar absorbansi masing-masing larutan standart dengan
panjang gelombang 260 nm
larutan standar 1ppm, 2ppm,
3ppm, 4ppm, 5ppm

Universitas Sumatera Utara

3.4.3 Pemisahan Nikotin dari tembakau puntung rokok (menurut L Simatupang)

10 gram
tembakau puntung rokok

dimasukkan ke dalam gelas beaker
ditambahkan 100 ml akuades
direndam selama 12 jam sambil diaduk
disaring

residu tembakau sisa puntung
rokok

filtrat tembakau

ditambahkan HCl 0,1 N
hingga pH 6-7
ditambahkan 10 ml NaOH 10%
diaduk hingga homogen
diekstraksi dengan kloroform
dipisahkan

lapisan kloroform

lapisan air
diuapkan kloroform
dengan rotarievaporator

residu

destilat
dilarutkan dengan aquadest dalam labu takar
500 ml dan diencerkan
diukur absorbansinya
pada panjang gelombang 260 nm

ekstrak nikotin
bebas pelarut

Universitas Sumatera Utara

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil penelitian
1. Data pengukuran absorbansi nikotin standart pada berbagai konsentrasi
dicantumkan dalam Lampiran II
2. Data pengukuran absorbansi nikotin dari ekstrak

puntung rokok

dicantumkan dalam Lampiran III
3. Gambar

kurva penentuan panjang

gelombang

senyawa

nikotin

dicantumkan dalam Lampiran IV
4. Gambar Kurva kalibrasidicantumkan dalam lampiran V
Tabel 4.1 Data hasil penimbangan massa tembakau puntung rokok Filter
No
1.

Massa tembakau puntung rokok (gram)
0,2807

2.

0,3293

3.

0,3683

4.

0,1987

5.

0,2086

6.

0,3968

7.

0,2212

8.

0,1896

9.

0,2206

10.

0,1978


Χ=

2,6116
∑Χ
n

Χ=

2,6116
= 0,2611gr / puntungrokok
10

Sehingga massa tembakau rata-rata puntung rokok nonfilter 0,2611gr/puntung rokok

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.2 Data hasil penimbangan massa tembakau puntung rokok Nonfilter

No

Massa tembakau puntung rokok (gram)

1.

0,4260

2.

0,7625

3.

0,7290

4.

0,5181

5.

0,7950

6.

0,6669

7.

0,6348

8.

0,7102

9.

0,5663

10.

0,7370



6,5458

Χ=

∑Χ
n

Χ=

6,5458
= 0,6546 gr / puntungrokok
10

Sehingga massa tembakau rata-rata puntung rokok nonfilter 0,6546gr/puntung rokok
4.2 Pengolahan data
4.2.1 Penurunan persamaan garis regresi
Tabel 4.3 Tabel penurunan persamaan garis regresi
No

Xi

Yi

Xi-X

Yi-Y

(Xi-X)2

(Yi-Y)2

(Xi-X)(Yi-Y)

1

1

0,0242

-2

-0,0423

4

0,018

0,0845

2

2

0,0459

-1

-0,0205

1

0,0004

0,0206

Universitas Sumatera Utara

3

3

0,0626

0

-0,0038

0

0,0000

0

4

4

0,0888

1

0,0223

1

0,0005

0,0223

5

5

0,1108

2

0,0443

4

0,0020

0,0887



15

0,3323

0

0

10

0,0047

0,2161

Keterangan : Xi : Konsentrasi
Yi : Absorbansi
Dimana X rata – rata :

Χ=

Harga Y rata – rata

Y=

:

∑ Χ 15
=
=3
n
5

∑ Υ 0,3323
=
= 0,0665
5
n

Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan garis :
Y = aX + b
Dengan a = slope
b = intersep

∑ {( Xi − X )(Yi − Y )}
∑ ( Xi − X )

Selanjutnya harga slope dapat ditentukan dengan menggunakan metode Least Square
sebagai berikut :

a=
a=

2

0,2161
10
a = 0,0216
Sehingga diperoleh harga slope (a) = 0,0216
Harga intersep (b) diperoleh melalui substitusi harga (a) ke persamaan berikut :
Y = aX + b
b = Y − aX
b = 0,0665 − (0,0216 x 3)
b = 0,0665 - 0,0648
b = 0,0017

Sehingga diperoleh harga intersep (b) = 0,0017
Maka persamaan garis regresi yang diperoleh adalah :
Y = 0,0216 X + 0,0017

Universitas Sumatera Utara

4.2.2. Perhitungan Koefisien Korelasi

∑ {( Xi − X ) (Yi − Y )}
{∑ ( Xi − X ) }{∑ (Yi − Y )

Koefisien korelasi (r) dapat ditentukan sebagai berikut
r =
=
=
=

2

2

}

0,2161
(10)(0,0047)
0,2161
0,0470

0,2161
0,2168
= 0,9968
Sehingga diperoleh harga koefisien korelasi (r) : 0,9968
Setelah diperoleh persamaan garis regresi dan koefisien korelasi (r) pada
pengukuran larutan standar maka absorbansi dari larutan standar diplotkan terhadap
konsentrasi larutan standar.

4.2.3. Perhitungan Standar Deviasi
Dengan mensubtitusikan nilai konsentrasi larutan standar (Xi) ke persamaan garis regresi
^

maka diperoleh nilai Y yang baru ( Y ), seperti yang tercantum pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4 Tabel penentuan standar deviasi
No

Xi

Yi

Ŷ

(Xi)2

│Yi – Ŷ│

(Yi – Ŷ)2

1

1

0,0242

0,0233

1

0,0009

0,81 x 10-6

2

2

0,0459

0,0449

4

0,0010

1 x 10-6

3

3

0,0626

0,0665

9

0,0019

3,61 x 10-6

4

4

0,0888

0,0881

16

0,0007

0,49 x 10-6

5

5

0,1108

0,1097

25

0,0011

1,21 x 10-6



15

0,3323

0,3325

55

0,0056

7,12 x 10-6

Dari tabel di atas maka dapat ditentukan standar deviasi untuk intersep ( Sb ) yaitu :

 ∑ (Yi − Y )2 
Sb = 

 n − 2 

1/ 2

Universitas Sumatera Utara

 7,12 x10 −6 
Sb = 

 5−2 

1/ 2

Sb = 0,00154

4.2.4 Penentuan Batas Deteksi
Batas deteksi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
Y = 3 Sb + Yb
Dimana :
Y = Signal pada batas deteksi
Yb = Intersept dari kurva kalibrasi (= b )
Yb = 0,0017
Sb = Standar deviasi untuk Slope
Untuk nilai Yb dengan cara mensubtitusikan pada persamaan Y = 3 Sb + Yb, sehingga
diperoleh nilai batas deteksi :
Y = 3 Sb + Yb
Y = 3 (0,00154 ) + 0,0017
Y = 0,00632
Batas deteksinya dapat dihitung dengan mengsubtitusikan harga Y terhadap persamaan
garis regresi Y = 0,0216 X + 0,0017, maka didiperoh nilai X yaitu ;
 0,00632 − 0,0017 
X= 

0,0216



X = 0,2139 mg/L
Jadi batas deteksi untuk penentuan konsentrasi nikotin dalam penelitian ini adalah 0,2139
mg/L
4.2.5 Penentuan kadar nikotin dalam sampel
Kadar nikotin dapat ditentukan dalam sampel dengan menggunakan metode kurva
kalibrasi dengan mensubstitusi nilai Y (absorbansi) yang diperoleh dari pengukuran tabel
terhadap persamaan garis regresi dan kurva kalibrasi
Dari data hasil pengukuran nilai absorbansi akan diperoleh data sebagai berikut Tembakau
puntung rokok filter : Y1 =0,0226

Y2 = 0,0228 Y3 = 0,0228

Tembakau puntung rokok Nonfilter : Y1 = 0,0432 Y2 = 0,0433 Y3 = 0,0430
Dengan mensubsitusikan Y terhadap persamaan garis regresi dari
Y = 0,0216X + 0,0017 maka diperoleh :
1. Untuk Pengukuran nikotin tembakau puntung rokok filter

X2 =

0,0228 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

Sumatera Utara
XUniversitas
2 = 0,4884 mg/L

X1 =

0,0226 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

X 1 = 0,4838 mg/L

X 3=

0,0228 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

X 3 = 0,4884 mg/L
X 1 + X 2 + X 3 0,04838 + 0,4884 + 0,4884
Χ=
=
= 0,4869 mg/L
3
n
Faktor pengenceran

= 100 kali , maka konsentrasi nikotin total
= 100 x 0,4869 mg/L
= 48,69 mg/L

Persentasi nikotin dalam 10 gram tembakau puntung rokok filter
48,69mg
x100%
X3 =
10000mg
X 3 = 0,49%
2. Untuk Pengukuran nikotin tembakau puntung rokok Nonfilter :
X1 =

0,0432 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

0,0433 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

X 2 = 0,9629 mg/L

X 1 = 0,9606 mg/L
Χ=

X2 =

X3 =

0,0430 − 0,0017 500
x
0,0216
1000

X 3 = 0,9560 mg/L

X 1 + X 2 + X 3 0,9606 + 0,9629 + 0,9560
=
= 0,9599 mg/L
n
3

Faktor pengenceran

= 100 kali , maka konsentrasi nikotin total
= 100 x 0,9599 mg/L
= 95,99 mg/L

Persentasi nikotin dalam 10 gram tembakau puntung rokok nonfilter
=
4.3 Pembahasan

95,99mg
x100%
10000mg

= 0,96%

Nikotin dapat berfungsi sebagai insektisida karena memiliki atom N yang berada dalam inti
heterosiklik sehingga dapat memberikan efek fisiologis.Nikotin dalam tembakau terikat
dengan senyawa asam malat dan asam sitrat dengan perendaman dengan air untuk

Universitas Sumatera Utara

melarutkan senyawa nikotin dalam tembakau dan penambahan HCl 0,1 N sampai pH 6-7
agar terprotonasi sempurna dan terbentuk garam nikotin adapun reaksi yang terjadi adalah:

+

-H+
N :
N

+

HCl

Cl-

pH 6-7

N

CH3
N

nikotin yang terikat
dalam asam malat
dan asam sitrat

H

CH3

Kemudian ditambahkan NaOH 10% untuk menghidrolisa senyawa tersebut membentuk
basa bebas dengan reaksi sebagai berikut:

+

ClNaOH

N
H
N

N
CH3
N

+ NaCl

nikotin

CH3

+ H2O

Nikotin bebas diekstraksi dengan menggunakan pelarut kloroform yang selanjutnya
dirotarievaporasi untuk mendapatkan ekstrak nikotin murni. Ekstrak nikotin yang diperoleh
kemudian dilarutkan dengan akuades dalam labu takar 500 ml sampai garis tanda. Kadar
nikotin ditentukan setelah pengenceran 100 dengan menggunakan spektrofotometer UV
pada panjang gelombang 260 nm.
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode least square untuk
menurunkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi.Dari persamaan garis regresi Y =
0,0216X + 0,0017 dapat diperoleh konsentrasi nikotin dari tembakau puntung rokok dengan
mensubsitusikan nilai absorbansi sebagai Y sehingga diperoleh X yang merupakan

Universitas Sumatera Utara

konsentrasinya. Sehingga diperoleh kadar nikotin dari tembakau puntung rokok filter 0,49%
dan kadar nikotin dari tembakau puntung rokok nonfilter 0,96% .

Universitas Sumatera Utara

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Dari Hasil penelitian yang telah dilakukan didapat kadar nikotin dalam
tembakau puntung rokok filter adalah 0,49 % dan kadar nikotin dalam tembakau
puntung rokok nonfilter adalah 0,96 %
2. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapat massa rata-rata tembakau
puntung rokok filter adalah 0,2611gr/puntung rokok dan massa rata-rata
tembakau puntung rokok nonfilter adalah 0,6546gr/puntung rokok

5.2 Saran
Mengingat banyaknya jumlah perokok di Indonesia khususnya kota Medan menjadi sumber
puntung rokok sebagai bahan baku insektisida, disarankan untuk melakukan penelitian
dengan skala besar sehingga puntung rokok dapat menjadi bahan komersial.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1993. Pembudidayaan,Pengolahan dan Pemasaran Tembakau. Cetakan pertama.
Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Akehurst,B.C. 1968. Tobacco. London: Longman, Green & Co. Ltd.
Connel,D.W.and Miller,J.G.1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaraan. (terjemahan).
Cetakan pertama. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Day,R.A.and Underwood,A.L. 1983. Analisa Kimia Kuantitatif. (terjemahan). Edisi
keempat. Jakarta: Erlangga.
Ewing,G.W. 1985. Instrumental Methods of Chemical Analysis. Fifth edition. New York:
Mc Graw hill Co.
Fergusson,N.M. 1956. A Textbook of Pharmacognosy. New York: The mac Millan
Publishing Co.
Harbone,J.B. 1987. Metode Fitokimia. (terjemahan). Terbitan kedua. Bandung: ITB press.
Higuchi,T and Hansen,E. 1961. Farmaceutical Analysis. New York: John Wiley and Sons.
http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=486128&page=1
http://www.rokokaanjuniawan.blogspot.com/2008/04/jenis-jenisrokok.html.
Karrer,P. 1950. Organic chemistry. Fourth edition. New York: Elsevier Publishing Co.
Kenner,C.T and Busch,K.W. 1979. Quantitative Analysis. New York: Mac Millan
Publishing Co.
Matsumura,F. 1989. Toxicology of Insecticides. Second edition. New york and London:
Plenum Press.
Simatupang,L. 1997. Pengaruh pH dan Lama Penyimpanan Perendaman Terhadap
Pemisahan Nikotin dari Daun Tembakau. Medan: USU.
Siswandono,M.S and Soekardjo,B.S.U. 1995. Kimia Medisinal.
Cetakan pertama.
Surabaya: Airlangga Universitas Press.
Srobel,H.A. 1973. Chemical Instumentation. Second edition. England: Addison and Wesley
Publishing Co.
Sudjudi. 1989. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Fakultas Universitas Gajah Mada.
Willian,O.F. 1995. Prinsip-prinsip Kimia Medisinal. (terjemahan). Cetakan pertama.
Yogyakarta: Gajah MadaUniversitas Press.

Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1. Data penentuan panjang gelombang maksimum senyawa Nikotin

No

Panjang gelombang (nm)

Absorbansi (A)

1.

250

0,2541

2.

251

0,2740

3.

252

0,3080

4.

253

0,3316

5.

254

0,3487

6.

255

0,3726

7.

256

0,3936

8.

257

0,4116

9.

258

0,4248

10.

259

0,4391

11.

260*

0,4534

12.

261

0,4509

13.

262

0,4526

14.

263

0,4522

15.

264

0,4436

16.

265

0,4306

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 2. Data pengukuran absorbansi nikotin standart pada berbagai
konsentrasi

Konsentrasi

Absorbansi
A1

Absorbansi

A2

A3

Rata-rata

1 ppm

0,0244

0,0241

0,0241

0,0242

2 ppm

0,0461

0,0460

0,0457

0,0459

3 ppm

0,0625

0,0626

0,0627

0,0626

4 ppm

0,0886

0,0889

0,0889

0,0888

5 ppm

0,1105

0,1109

0,1110

0,1108

Lampiran 3. Data pengukuran absorbansi nikotin dari ekstrak puntung rokok

Sample

Absorbansi
A1

Tembakau puntung

A2

A3

0,0226

0,0228

0,0228

0,0432

0,0433

0,0430

Rokok filter
Tembakau puntung
Rokok nonfilter

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 4 . Gambar kurva penentuan panjang gelombang senyawa nikotin

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 5 . Gambar Kurva kalibrasi Konsentrasi vs Absorbansi

Universitas Sumatera Utara

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pemisahan Dan Penentuan Kadar Nikotin Dari Tembakau Puntung Rokok Di Kodya Medan