Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang Hydnophora rigida (Dana 1846), Acropora nobilis (Dana 1846), dan Acropora microphthalma (Verrill 1859) yang Ditransplantasikan di Perairan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kepulauan Seribu merupakan salah satu ekosistem laut di perairan utara
Jakarta yang didominasi oleh ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan daratan
pulau-pulau karang yang menjadi habitat penting berbagai jenis biota perairan laut
(Anonymous 1991; 1994; 1997; dan 2002 in Sachoemar 2008). Kepulauan Seribu
memiliki beragam jenis biota, diantaranya 8 jenis lamun, 64 marga karang keras,
242 jenis ikan terumbu, dan 141 spesies makrobentos (Estradivari et al. 2007).
Sebagian besar masyarakat Kepulauan Seribu dan nelayan masyarakat utara
Jakarta bergantung hidupnya pada sumberdaya terumbu karang di Kepulauan Seribu
(Napitupulu et al. 2006). Namun, tekanan lingkungan baik yang bersifat alami
maupun antropogenik semakin banyak terjadi dan menyebabkan degradasi terhadap
keberadaan ekosistem terumbu karang di Kepulauan ini, diantaranya pencemaran
minyak yang terjadi pada tahun 2003-2004 dimana sebanyak 78 pulau di Taman
Nasional Kepulauan Seribu terkena dampaknya (Taman Nasional Kepulauan Seribu
2004), polusi, perikanan berlebih dan merusak, serta perubahan fungsi habitat (Yusri
& Estradivari 2007; Suharsono 2005; dan Ongkosongo 1986 in Setyawan et al.
2011, LAPI-ITB 2001). Kepulauan Seribu juga sangat rentan terhadap ancaman
pencemaran dari daratan, mengingat secara

osenografis lokasinya berhubungan

langsung dengan Teluk Jakarta tempat bermuaranya 13 sungai yang melintasi Kota
Jakarta yang padat pemukiman dan industri (Anna

1999 in Sachoemar 2008).

Peningkatan suhu permukaan laut atau El-Nino juga mengancam terumbu karang
Kepulauan Seribu (Suharsono 1998). Pada tahun 1997-1998, sekitar 90-95%
terumbu karang Kepulauan Seribu hingga kedalaman 25 meter mengalami kematian
akibat El-Nino, meskipun sekitar 20-30% tutupan karang hidup mengalami
pemulihan dua tahun kemudian (Burke et al 2002). Penelitian yang dilakukan oleh
yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) menemukan tutupan karang keras
Kepulauan Seribu pada tahun 2009 hanya sebesar 34,3%.
Besarnya kerusakan terumbu karang yang terjadi membutuhkan penanganan
yang tepat agar ekosistem terumbu karang tersebut bisa pulih dengan cepat. Salah
satu teknik untuk memperbaiki kerusakan terumbu karang adalah dengan

menggunakan teknik transplantasi karang. Transplantasi karang adalah suatu teknik
penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode fragmentasi,
dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu (Harriot dan Fisk
1988).
Beberapa karang yang telah diteliti diantaranya jenis karang bercabang
Acropora di Pulau Lancang dan di sebelah utara Pulau Pari oleh Boli (1994) dengan
tingkat pertumbuhan rata-rata 1 cm/bulan. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat
Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB dengan Asosiasi Karang Keras dan Ikan
hias Indonesia (AKKII) mendapatkan karang jenis Trachyphyllia geofforoyi dan
Wellsophyllia radiate yang mempunyai life form masif pada kedalaman 12 meter
mempunyai pertumbuhan tinggi sebesar 0,73 mm/bulan dan 0,56 mm/bulan dan
pertumbuhan lebar 0,93 mm/bulan dan 1,22 mm/bulan atau kurang dari 1 cm/bulan
sedangkan karang bercabang Acropora formosa pada kedalaman 10 meter
mempunyai tingkat pertumbuhan tinggi dan lebar sebesar 0,76 cm/bulan dan 1,15
cm/bulan dan pada kedalaman 3 meter mempunyai tingkat pertumbuhan lebih besar
yaitu 1,14 cm/bulan dan 1,88 cm/bulan (Sadarun 1999). Menurut Supriharyono
(2007) spesies dengan life form branching umumnya mempunyai tingkat
pertumbuhan sangat cepat yaitu bisa >2 cm/bulan sedangkan coral massive
tumbuhnya sangat lambat yaitu hanya 2
cm/bulan sedangkan coral masif tumbuhnya sangat lambat yaitu hanya

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang Hydnophora rigida (Dana 1846), Acropora nobilis (Dana 1846), dan Acropora microphthalma (Verrill 1859) yang Ditransplantasikan di Perairan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu.