Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan

PENGARUH SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINDAKAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KELURAHAN DURIAN
KECAMATAN MEDAN TIMUR KOTA MEDAN
SKRIPSI Salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana
dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Disusun Oleh :
MUSTAQIM INDRA JAYA 060902022
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJATERAAN SOSIAL
MUSTAQIM INDRA JAYA 060902022
ABSTRAK PENGARUH SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINDAKAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KELURAHAN DURIAN
KECAMATAN MEDAN TIMUR KOTA MEDAN (Skripsi terdiri dari 6 bab, 77 halaman, 44 tabel, 2 bagan, 5 lampiran, serta
22 kepustakaan)
Judul ini saya buat berdasarkan pengamatan saya mengenai persepsi masyarakat mengenai tingkat sosial ekonomi rendah berdampak terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Beratnya beban perekonomian kehidupan berumah tangga membuat resiko kekerasan terhadap anggota keluarga sangat mungkin terjadi, baik berupa kekerasan ekonomi, fisik, psikis maupun seksual. Di tambah budaya patriarki yang masih berkembang di masyarakat.
Sebagai lokasi penelitian adalah Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2147 kepala keluarga. Untuk mendapatkan sampel, saya menggunakan rumus Taro Yamane, sehingga di dapat sampel sebanyak 95 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan memilih 3 lingkungan terlebih dahulu, yaitu lingkungan IV, lingkungan V dan lingkungan XI. Lingkungan tersebut berdasarkan pengamatan saya memiliki tingkat sosial ekonomi masyarakat yang heterogen. Setelah itu dilakukan penarikan sampel secara acak, sehingga setiap keluarga yang bertempat tinggal di 3 lingkungan tersebut memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden. Saya menggunakan angket sebagai alat untuk mendapatkan data yang saya butuhkan. Dalam angket saya membuat 35 pertanyaan, 7 pertanyaan untuk mengetahui identitas responden, 14 untuk melihat sosial ekonomi, dan 14 untuk mengukur tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
Data-data yang di dapat melalui angket saya tabulasikan, kemudian dihitung melalui analisis kuantitatif. Pada analisis kuantitatif diketahui bahwa sosial ekonomi rumah tangga di Kelurahan Durian adalah sedang, yang artinya sebagian besar pengasilan dan pengeluaran adalah seimbang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini terbukti melalui hasi analisa korelasi yang dilakukan dengan analisis product moment, dimana koefisien korelasi (Rxy) = 0,278 dan koefisien korelasi pada tabel taraf signifikan 5% yaitu 0,201. Maka berdasarkan ketentuan Guilford koefisien korelasi (Rxy) sebesar 0,278 mempunyai arti bahwa pengaruh sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga di Kelurahan Durian menunjukka n tingkat hubungan tapi pasti. Karena Rxy hitung > Rxy tabel, maka menunjukkan bahwa hipotesa (Ha) diterima.
Kata Kunci: Sosial Ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini diajukan guna mencapai gelar Sarjana Sosial pada Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas SumateraUtara.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal, baik dalam penyajian maupun penguraiannya. Untuk itu penulis menharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, Msi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Hairani Siregar, S.Sos, M.SP, selaku Ketua Departemen Ilmu
Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Dra. Tuti Atika, M.SP, selaku pembimbing penulis. 4. Bapak Putera Ramadan, S.STP, selaku Lurah Durian beserta staff yang telah memberikan izin kepada penulis untuk dapat melakukan penelitian di daerah tersebut. 5. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Murwinto dan Ibunda Dra. Setiaty yang telah memberikan semangat, perhatian dan dukungan baik moril maupun materil serta yang selalu mendoakan penulis selama ini
Universitas Sumatera Utara

6. Kakak dan adik penulis (Kak Sari, Kak Wita, Fina dan Bowo) yangtelah memberikan semangat, perhatian, bantuan dan dukungan kepada penulis serta mendoakan penulis selama ini.
7. Seluruh kawan-kawan ilmu Kesejahteraan Sosial stambuk 2006 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Selamat berjuang di dunia nyata.
8. Buat kawan-kawan Hmi Komisariat Fisip USU stambuk 2006 yang telah banyak membantu penulis baik tenaga maupun pemikiran dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga tetap setia di garis perjuangan.
9. Buat seluruh keluarga besar Hmi komisariat Fisip USU, baik alumni, senioren pengurus maupun kawan-kawan yang akan meneruskan jalanya roda organisasi Hmi Komisariat Fisip USU.
10. Semua pihak yang telah membantu penulis,yang tidak dapat disebutkan satu persatu Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca. Medan, Maret 2011 Penulis,
Mustaqim Indra Jaya
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAK..............................................................................................i KATA PENGANTAR ...........................................................................ii DAFTAR ISI ........................................................................................iv DAFTAR TABEL................................................................................vii DAFTAR BAGAN.................................................................................x
1.1.Latar Belakang .................................................................1 2.1.Perumusan Masalah ..........................................................8 3.1.Tujuan dan Manfaat Penelitian ..........................................8 4.1.Sistematika Penulisan .......................................................9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................... 10 2.1. Pengertian Sosial Ekonomi............................................. 10 2.2. Konsep Rumah Tangga .................................................. 11
2.2.1. Peran dan Fungsi Rumah Tangga .......................... 12 2.3. Pengertian Keluarga....................................................... 13
2.3.1. Ciri-ciri Keluarga ................................................. 14 2.3.2. Fungsi Keluarga ................................................... 15 2.4. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga .................. 17 2.4.1. Kekerasan dalam Rumah Tangga
sebagai Masalah sosial.......................................... 19 2.4.2. Wujud Perilaku Kekerasan dalam
Rumah Tangga ..................................................... 20 2.4.3. Faktor Penyebab Kekerasan Dalam
Rumah Tangga ..................................................... 21 2.5. Kerangka Pemikiran....................................................... 22 2.6. Hipotesa ........................................................................ 25 2.7. Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional ..................... 25
2.7.1. Defenisi Konsep ................................................... 25 2.7.2. Defenisi Operasional ............................................ 26 BAB III METODE PENELITIAN SOSIAL .................................... 28 3.1. Tipe Penelitian............................................................... 28 3.2. Lokasi Penelitian ........................................................... 28
Universitas Sumatera Utara

3.3. Populasi dan Sampel ...................................................... 28 3.3.1. Populasi ............................................................... 28 3.3.2. Sampel................................................................. 29
3.4. Tehnik Pengumpulan Data ............................................. 30 3.5. Tehnik Analisis Data...................................................... 31 BAB IV DESKRIPSI LOKASI ........................................................ 33 4.1. Letak Kelurahan Durian ................................................. 33 4.2 Keadaan Demografi ....................................................... 34
4.2.1. Komposisi Penduduk Menurut Jenis kelamin........................................................ 35
4.2.2. Komposisi Penduduk Menurut Usia ...................... 36 4.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Agama .................. 38 4.2.4. Komposisi Penduduk Menurut
Tingkat Pendidikan............................................... 39 4.2.5. Komposisi Penduduk Menurut
Angkatan Kerja .................................................... 40 4.2.6. Komposisi Penduduk Menurut
Mata Pencaharian ................................................ 41 4.3. Sarana dan Prasarana ..................................................... 42
4.3.1. Sarana Jalan ......................................................... 42 4.3.2. Sarana Air Bersih ................................................. 43 4.3.3. Sarana Kesehatan ................................................. 43 4.3.4. Sarana Peribadatan ............................................... 44 4.3.5. Sarana Pendidikan ................................................ 45 4.3.6. Prasarana Hiburan dan Rekreasi............................ 46 4.3.7. Sarana Komunikasi............................................... 46 4.4. Struktur Pemerintahan.................................................... 47 BAB V ANALISI DATA................................................................. 48 5.1. Karakteristik Responden ................................................ 48 5.2. Gambaran Variabel Penelitian ........................................ 51 5.2.1. Gambaran Variabel Bebas (X) .............................. 51 5.2.2. Gambaran Variabel Terikat (Y)............................. 62
Universitas Sumatera Utara

5.3. Uji Hipotesis.................................................................. 73 5.4. Koefisien Determinasi.................................................... 74 BAB VI PENUTUP .......................................................................... 76 6.1. Kesimpulan ................................................................... 76 6.2. Saran............................................................................. 77 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 78 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Universitas Sumatera Utara

Tabel – 1 : Luas Kelurahan Durian..................................................... 34 Tabel – 2 : Komposisi Penduduk Menurut Suku Bangsa ........................ 35 Tabel – 3 : Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin ...................... 36 Tabel – 4 : Komposisi Penduduk Menurut Usia ..................................... 37 Tabel – 5 : Komposisi Penduduk Menurut Agama ................................. 38 Tabel – 6 : Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan .............. 39 Tabel – 7 : Komposisi Penduduk Menurut Tenaga Kerja ....................... 40 Tabel – 8 : Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian................. 41 Tabel – 9 : Sarana Jalan ........................................................................ 42 Tabel – 10: Sarana Air Bersih ................................................................ 43 Tabel – 11: Sarana Kesehatan ................................................................ 44 Tabel – 12: Sarana Peribadatan .............................................................. 45 Tabel – 13: Sarana Pendidikan............................................................... 45 Tabel – 14: Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................ 48 Tabel – 15: Distribusi Responden Berdasarkan Usia ............................... 49 Tabel – 16: Distribusi Responden Berdasarkan Suku .............................. 50 Tabel – 17: Distribusi Responden Berdasarkan Agama ........................... 51 Tabel – 18: Distribusi Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Suami .................................................... 52 Tabel – 19: Distribusi Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Istri........................................................ 53 Tabel – 20: Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Suami ............ 53 Tabel – 21: Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Istri ................ 54 Tabel – 22: Distribusi Responden Berdasarkan
Penghasilan Rumah Tangga .................................................. 55 Tabel – 23: Distribusi Responden Berdasarkan
Pengeluaran Rumah Tangga ................................................. 56 Tabel – 24: Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal.............. 56 Tabel – 25: Distribusi Responden Berdasarkan
Penghuni Tempat Tinggal..................................................... 57
Tabel – 26: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Universitas Sumatera Utara

Berkumpul di Rumah ........................................................... 58 Tabel – 27: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Komunikasi Keluarga ........................................................... 59 Tabel – 28: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Komunikasi dengan Tetangga ............................................... 59 Tabel – 29: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Beribadah Bersama............................................................... 60 Tabel – 30: Distribusi Responden Berdasarkan Pemenuhan
Kebutuhan Pakaian............................................................... 61 Tabel – 31: Distribusi Responden Berdasarkan Pemenuhan
Kebutuhan Rekreasi ............................................................. 62 Tabel – 32: Distribusi Responden Berdasarkan Usia Perkawinan ............ 63 Tabel – 33: Distribusi Responden Berdasarkan Pengambil
Keputusan di Rumah Tangga ................................................ 64 Tabel – 34: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Permasalahan di Rumah Tangga ........................................... 65 Tabel – 35: Distribusi Responden berdasarkan Permasalahan Berdampak
Pertengkaran ........................................................................ 66 Tabel – 36: Distribusi Responden Berdasarkan Pertengkaran Berdampak
Kekerasan ............................................................................ 66 Tabel – 37: Distribusi Responden Berdasarkan Pelaku KDRT ................ 67 Tabel – 38: Distribusi Responden Berdasarkan Menerima Pemukulan .... 68 Tabel – 39: Distribusi Responden Berdasarkan Menerima
Ancaman Senjata.................................................................. 68 Tabel – 40: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Pasangan Selingkuh.............................................................. 69 Tabel – 41: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Menerima Penghinaan .......................................................... 70 Tabel – 42: Distribusi Responden Berdasarkan Kebutuhan Pokok Tidak
Terpenuhi............................................................................. 70
Tabel – 43: Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas
Universitas Sumatera Utara

Menerima Perampasan Harta ................................................ 71 Tabel – 44: Distribusi Responden Berdasarkan
Eksploitasi oleh Keluarga .................................................... 72 Tabel – 45: Distribusi Responden Berdasarkan
Pemaksaan Hubungan Seksual .............................................. 72
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR BAGAN Bagan Kerangka Pemikiran................................................................... 24 Bagan Struktur Pemerintahan................................................................. 47
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJATERAAN SOSIAL
MUSTAQIM INDRA JAYA 060902022
ABSTRAK PENGARUH SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINDAKAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI KELURAHAN DURIAN
KECAMATAN MEDAN TIMUR KOTA MEDAN (Skripsi terdiri dari 6 bab, 77 halaman, 44 tabel, 2 bagan, 5 lampiran, serta
22 kepustakaan)
Judul ini saya buat berdasarkan pengamatan saya mengenai persepsi masyarakat mengenai tingkat sosial ekonomi rendah berdampak terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Beratnya beban perekonomian kehidupan berumah tangga membuat resiko kekerasan terhadap anggota keluarga sangat mungkin terjadi, baik berupa kekerasan ekonomi, fisik, psikis maupun seksual. Di tambah budaya patriarki yang masih berkembang di masyarakat.
Sebagai lokasi penelitian adalah Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2147 kepala keluarga. Untuk mendapatkan sampel, saya menggunakan rumus Taro Yamane, sehingga di dapat sampel sebanyak 95 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan memilih 3 lingkungan terlebih dahulu, yaitu lingkungan IV, lingkungan V dan lingkungan XI. Lingkungan tersebut berdasarkan pengamatan saya memiliki tingkat sosial ekonomi masyarakat yang heterogen. Setelah itu dilakukan penarikan sampel secara acak, sehingga setiap keluarga yang bertempat tinggal di 3 lingkungan tersebut memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden. Saya menggunakan angket sebagai alat untuk mendapatkan data yang saya butuhkan. Dalam angket saya membuat 35 pertanyaan, 7 pertanyaan untuk mengetahui identitas responden, 14 untuk melihat sosial ekonomi, dan 14 untuk mengukur tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
Data-data yang di dapat melalui angket saya tabulasikan, kemudian dihitung melalui analisis kuantitatif. Pada analisis kuantitatif diketahui bahwa sosial ekonomi rumah tangga di Kelurahan Durian adalah sedang, yang artinya sebagian besar pengasilan dan pengeluaran adalah seimbang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini terbukti melalui hasi analisa korelasi yang dilakukan dengan analisis product moment, dimana koefisien korelasi (Rxy) = 0,278 dan koefisien korelasi pada tabel taraf signifikan 5% yaitu 0,201. Maka berdasarkan ketentuan Guilford koefisien korelasi (Rxy) sebesar 0,278 mempunyai arti bahwa pengaruh sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga di Kelurahan Durian menunjukka n tingkat hubungan tapi pasti. Karena Rxy hitung > Rxy tabel, maka menunjukkan bahwa hipotesa (Ha) diterima.
Kata Kunci: Sosial Ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Negara mengakui bahwa segala bentuk kekerasan yang terjadi merupakan
pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan juga kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta merupakan bentuk diskriminasi. Hal ini sesuai dengan pasal 28G ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”
Demikian juga kekerasan yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga yang sering disebut dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tindakan tersebut pada umumnya didominasi oleh suami atau laki-laki terhadap anggota keluarga yang lebih lemah sehingga pada akhirnya menimbulkan korban yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari hasil Survei Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2006 oleh BPS dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, khususnya mengenai tindak kekerasan terhadap perempuan menurut pelakunya menunjukkan bahwa pelaku tindakan kekerasan dalam rumah tangga adalah sebanyak 51,1% (pelaku: suami); 11,7% (pelaku: orang tua/mertua, anak/cucu, dan famili); 19,6%(pelaku: tetangga); 2,5%(pelaku: atasan/majikan); 2,9 (pelaku: rekan kerja); 0,2% (pelaku: guru); dan 8,0% (pelaku:
Universitas Sumatera Utara

lainnya). Hal ini tentu saja cukup memprihatinkan (http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pidana/85-penghapusan-kekerasandalam-rumah-tangga-suatu-tantangan-menuju-sistem-hukum-yang-responsifgender.html).
Sedangkan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan data dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Poltabes Medan mulai tahun 2006 hingga April 2008, terdapat sebanyak 781 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta 10 kasus perdagangan wanita (human trafficking). Ke-871 kasus yang ditangani tersebut termasuk kasus asusila seperti pemerkosaan, percabulan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan terhadap anak-anak lainnya. Dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2006 unit PPA Reskrim Poltabes MS menangani 238 kasus, 54 kasus telah dikirim ke Kejaksaan, sedangkan 82 kasus sudah selesai dan selebihnya masih dalam proses penyelidikan. Sementara tahu 2007 terjadi peningkatan kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak di Medan, yang mencapai 165 kasus dimana 238 kasus terjadi di tahun 2006 menjadi 394 kasus di tahun 2007. Dari 394 kasus yang ditangani unit PPA Poltabes MS, 79 kasus telah dikirim ke Kejaksaan, sedangkan 126 kasus telah diselesaikan dan 29 kasus dalam proses penyelidikan (Hariansib:2008).
Berdasarkan hasil pemantauan Perkumpulan Sada Ahmo terhadap media lokal, bahwa di Sumatera Utara yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sepanjang tahun 2009 tercatat ada 81 orang atau 42 persen perempuan mengalami kekerasan seksual, sementara 17 orang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan Data dari Rumah Aman Perempuan Sinceritas,
Universitas Sumatera Utara

berdasarkan kasus yang mereka dampingi menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga mendominasi. Dari 100 kasus yang ditangani selama tahun 2009, sebanyak 61 kasus atau 61 persen kasus yang muncul adalah kekerasan dalam rumah tangga. Sementara kasus pelecehan seksual berjumlah 20 kasus atau 20 persen (Kompas:2010).
Berdasarkan data dari catatan Komnas Perempuan dalam pelaporan kasus kekerasan dalam rumah tangga menggambarkan adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga dari tahun ke tahun, yakni dimulai tahun 2004 (2.425 kasus), tahun 2005 (6.029 kasus), tahun 2006(2.789 kasus), dan tahun 2007(19.253 kasus). Sehingga keseluruhan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga sejak tahun 2004 sampai dengan 2007 adalah sebanyak 30.496 kasus. Diantara korban tersebut, terbanyak adalah isteri, yakni mencapai 85% (25.788 kasus )dari total korban. Anak perempuan merupakan korban ketiga terbanyak (1.693 kasus) setelah pacar (2.548 kasus) dan pembantu rumah tangga menduduki posisi keempat terbanyak (467 kasus)(http://www.djpp.depkumham.go.id/hukumpidana/85-penghapusan-kekerasan-dalam-rumah-tangga-suatu-tantangan-menujusistem-hukum-yang-responsif-gender.html).
Salah satu faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di masyarakat adalah faktor ekonomi. Karena desakan ekonomi, menyebabkan kebutuhan hidup semakin hari semakin besar, maka pelaku yang merupakan kepala rumah tangga menjadi hilang akal. Mereka melampiaskan dengan melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang berada dalam lingkungan rumah tangganya. Ditambah lagi tingkat pendidikan pelaku maupun korban rendah. Mereka tidak mengetahui akibat dan hukuman yang akan mereka
Universitas Sumatera Utara

dapatkan setelah tindak kekerasan dalam rumah tangga tersebut (http://www.silaban.net/2007/03/05/tekan-angka-kdrt/).
Hal ini diperkuat dengan pernyataan salah satu anggota Woman Crisis Center (WCC) Cahaya Melati kota Magelang bahwa sebagian besar korban tindak kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Kota Magelang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sehingga persoalan kekerasan dalam rumah tangga muncul karena mereka tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga (http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id =32951&Itemid=33).
Data lain menunjukkan kekerasan dalam rumah tangga juga terjadi di wilayah pedesaan Indonesia yang seperti kita ketahui bahwa sebagian besar keadaan ekonomi keluarganya berada di bawah garis kemiskinan . Ini dibuktikan dengan data yang diperoleh dari Menteri Pemberdayaan Perempuan yaitu, 11,4 persen dari 217 juta penduduk Indonesia atau sekitar 24 juta perempuan di pedesaan mengaku pernah mengalami kekerasan dan yang terbesar adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (http://corpusalienum.multiply.com/journal/item/7 49).
Selain faktor ekonomi, tindakan kekerasan dalam rumah tangga juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya patriarkhi yang muncul di masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun modern yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia perkawinan (rumah tangga) merupakan sebuah area tertutup atau hanya untuk kalangan sendiri. Artinya, ada keengganan untuk membicarakan persoalan kekerasan dalam rumah tangga kepada orang luar, karena memang ada nilai-nilai yang melembagakan kesakralan keluarga dan perkawinan (Hayati, 2000:40).
Universitas Sumatera Utara

Selain itu, budaya patriarkhi tersebut sering di salah artikan oleh masyarakat. Masyarakat menilai bahwa laki-laki memiliki kekuasaan penuh di dalam keluarga sehingga menimbulkan pembenaran terhadap perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh suami sebagai kondisi yang dapat ditoleransi oleh anggota keluarga lainnya. Sedangkan perempuan akan menjadi terhormat sebagai perempuan sejati apabila bisa menegaskan kelembutan, kemanjaan, kepasrahan, sekaligus sebagai pengakuan atas kekuasaan laki-laki terhadapnya (Daulay, 2007:113).
Penilaian masyarakat tersebut menyebabkan munculnya sikap yang membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, sehingga menimbulkan ketidakadilan gender di masyarakat. Hal ini diperkuat oleh beberapa fakta yang berkembang di masyarakat, pertama bahwa laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. Kedua masyarakat masih membesarkan anak laki-laki dengan mendidiknya agar mereka menjadi manusia kuat dan pemberani. Ketiga, kebudayaan masyarakat Indonesia yang mendorong perempuan atau istri selalu bergantung kepada suami, khususnya secara ekonomi.
Dari ketiga fakta tersebut, mengakibatkan ketergantungan perempuan terhadap laki-laki sangat besar. Ketergantungan tersebut sering dimanfaatkan dan di salah artikan oleh laki-laki untuk melakukan suatu tindakan kekerasan yang menimbulkan dampak traumatik bagi korban yaitu, perempuan dan anak-anak.
Untuk mengantisipasi tindakan kekerasan dalam rumah tangga, pemerintah telah melakukan upaya pencegahan terhadap tindakan tersebut dengan menetapkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Di dalam Undang-
Universitas Sumatera Utara

undang Nomor 23 Tahun 2004 dijelaskan bahwa “Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaraan rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga” (http://frasha41.multiply.com.com/journal/ item/3/UNDANG-UNDANG KDRT).
Akan tetapi, penetapan UU No.23 Tahun 2004 tersebut terkesan tidak memiliki kekuatan di depan hukum. Hal ini dapat dilihat dengan ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan penegakkan hukum terhadap para pelaku tindakan kekerasaan dalam rumah tangga tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku. Pelaku dapat bebas melakukan aktifitasnya sehari-hari tanpa harus khawatir dengan tindakan mereka yang melanggar hukum sehingga hal tersebut tidak menimbulkan rasa bersalah.
Sungguh hal tersebut tidak dapat dibiarkan, mengingat dampak yang akan timbul dari potensi ledakan yang terjadi di rumah tangga tersebut adalah akan semakin banyaknya korban kekerasan dalam rumah tangga yang akan bermunculan. Walaupun pemerintah telah melakuka n pencegahan dengan menetapkan UU No. 23 Tahun 2004, tetapi jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga dari tahun ke tahun terus meningkat.
Melihat data-data di atas, menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa. Karena keluarga yang selama ini dianggap sebagai tempat yang paling aman dan bebas bagi siapa saja terhadap tindak kekerasan ternyata tidak terbukti, ini
Universitas Sumatera Utara

dibuktikan dengan banyaknya penganiayaan fisik dan psikis yang dilakukan oleh suami, istri maupun orang-orang yang masih memiliki pertalian darah.
Setiap insan manusia yang berkeluarga sangat mendambakan kehidupan yang harmonis dengan dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga. Keluarga yang damai, tentram dan bahagia merupakan tujuan setiap insan dalam menjalani kehidupan perkawinannya, namun tidak setiap keluarga dapat menjalani kehidupan rumah tangganya dengan penuh cinta, kasih sayang dalam suasana kedamaian dan kebahagiaan.
Berdasarkan hal di atas, maka kekerasan dalam rumah tangga tidak mungkin terjadi mengingat rumah tangga dibangun oleh sebuah perkawinan yang sah dan sakral dengan tujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang harmonis. Hal tersebut dijelaskan dalam Undang-undang RI No. 1 Tahun 1974 mengenai perkawinan yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang maha Esa” (Bakry, 1978:3).
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana pengaruh sosial ekonomi terhadap kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga. Dengan melihat pengaruh sosial ekonomi tersebut, maka dapat diketahui bagaimana sebenarnya keterbukaan dan pengetahuan masyarakat Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Penelitian ini di rangkum dalam skripsi dengan judul: “Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan
Universitas Sumatera Utara

Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan”.
1.2.Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Sejauhmana Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan?”
1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana sosial ekonomi keluarga mempengaruhi tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
1.3.2. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam rangka
pemecahan masalah tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan dapat digunakan untuk lebih mendalami pengaruh sosial ekonomi terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu penelitian ini diharapkan sebagai penerapan ilmuilmu yang diperoleh peneliti sebagai mahasiswa Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP USU serta untuk menambah wawasan keilmuan dan pengalaman bagi peneliti.
Universitas Sumatera Utara

1.4. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisikan uraian dan teori-teori yang berkaitan dengan masalah dan objek yang akan di teliti, kerangka penelitian, hipotesa, defenisi konsep dan defenisi operasional.
BAB III : METODE PENELITIAN Bab ini berisikan tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data serta teknik analisis data.
BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Bab ini berisikan sejarah singkat dan gambaran umum lokasi penelitian yang berhubungan dengan masalah objek yang akan diteliti.
BAB V : ANALISIS DATA Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian dan analisisnya.
BAB IV : PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan dan saran penulis yang penulis berikan sehubungan dengan penelitian yang telah dilakuka n.
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Sosial Ekonomi Pengertian sosial ekonomi jarang dibahas secara bersamaan. Pengertian
sosial dan pengertian ekonomi sering dibahas secara terpisah. Pengertian sosial dalam ilmu sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat. Sedangkan pada departemen sosial menunjukkan pada kegiatan yang ditunjukkan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dalam bidang kesejahteraan yang ruang lingkup pekerjaan dan kesejahteraan sosial.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sosial berarti segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat (KBBI,1996:958). Sedangkan dalam konsep sosiologi, manusia sering disebut sebagai makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup wajar tanpa adanya bantuan orang laindisekitarnya. Sehingga kata sosial sering diartikan sebagai hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat.
Sementara istilah ekonomi sendiri berasal dari kata Yunani yaitu “oikos” yang berarti keluarga atau rumah tangga dan “nomos” yaitu peraturan, aturan, hukum. Maka secara garis besar ekonomi diartikan sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ekonomi berarti ilmu yang mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti keuangan, perindustrian dan perdagangan)(KBBI,1996:251).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosial ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan
Universitas Sumatera Utara

kebutuhan masyarakat, antara lain sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan penghasilan. Hal ini disesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan.
Untuk melihat kedudukan sosial ekonomi Melly G. Tan mengatakan adalah pekerjaan, penghasilan, dan pendidikan. Berdasarkan ini masyarakat tersebut dapat digolongkan kedalam kedudukan sosial ekonomi rendah, sedang, dan tinggi (Koentjaraningrat, 1981:35).
2.2. Konsep Rumah Tangga Rumah tangga yaitu seluruh urusan keluarga untuk hidup bersama,
dikerjakan bersama di bawah pimpinan seseorang yang ditetapkan, menurut tradisi. Konstruksi sosial yang menggunakan ideologi gender menetapkan bahwa pimpinan di dalam rumah tangga adalah ayah. Namun, pada beberapa daerah pedesaan di Jawa, keputusan-keputusan yang menyangkut hidup anggotanya, ayah selalu mengajak bermusyawarah ibu, serta anak-anak yang dianggap sudah mampu (Murniati, 2004:203).
Agar kehidupan keluarga yang hidup di dalam sebuah rumah tangga berjalan dengan baik, maka perlu dikembangkan pengelolaan yang disebut manajemen rumah tangga. Di dalam manajemen rumah tangga terdapat tiga unsur pokok, yang dalam praksisnya merupakan suatu proses. Tiga unsur pokok tersebut adalah: a) Pertama adalah perencanaan, yaitu menentukan lebih dahulu suatu tindakan
yang akan dikerjakan sesuai dengan tujuan dan sasaran anggotanya.
Universitas Sumatera Utara

b) Kedua adalah pelaksanaan, yaitu suatu pengendalian untuk mengetahui terjadi penyimpangan atau tidak dalam pelaksanaannya.
c) Dan unsur yang terakhir adalah evaluasi dan refleksi yang dilakukan secara periodik sesuai dengan kesepakatan seluruh anggota dalam rumah tangga. Suatu hal yang manusiawi apabila orang tidak menyukai terhadap
kesalahan dan kegagalan yang terjadi berulang-ulang. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi, di mana evaluasi tersebut merupakan penilaian terhadap pekerjaan, perbuatan, pelaksanaan kegiatan yang telah dikerjakan. Evaluasi sebaiknya dilakukan di dalam musyawarah keluarga sebagai anggota rumah tangga. Setelah dilakukan penilaian maka akan diperoleh nilai baik atau buruk.
Hasil dari penilaian tersebut dapat dikatakan sebagai tolak ukur. Tolak ukur tersebut dibedakan atas dua. Pertama, rumah tangga yang berorientasi kepada keselamatan jiwa dan raga para anggotanya, sedangkan tolak ukur kedua adalah rumah tangga yang berorientasi kepada benda yang bersifat duniawi.
2.2.1. Peran dan Fungsi Rumah Tangga Setiap rumah tangga mempunyai peran dan fungsi. Tetapi secara garis
besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Pemenuhan kebutuhan hidup, seperti bekerja untuk memenuhi pangan,
sandang, dan papan. Kegiatan belajar untuk anak, penyediaan dan pemeliharaan pangan, sandang, papan serta kegiatan lain yang menyangkut kebutuhan rumah tangga. 2. Administrasi, yaitu kegiatan yang menyangkut catat-mencatat. Kegiatan ini meliputi penyediaan dan pengaturan catatan keuangan, kartu dan surat-surat
Universitas Sumatera Utara

penting yang dibutuhkan untuk urusan anggota rumah tangga (kartu keluarga, surat nikah, ijazah, dan sebagainya). 3. Berhubungan dengan pihak luar dari rumah tangga, yaitu kegiatan bernegosiasi, kegiatan berhubungan antarkeluarga dan kegiatan sosial lainnya (Murniati, 2004:206).
2.3. Pengertian Keluarga Keluarga dengan sistem konjungal, menekankan pada pentingnya
hubungan perkawinan (antara suami dan istri), ikatan dengan suami atau istri cenderung dianggap lebih penting daripada ikatan dengan orangtua (Sunarto, 2004:63).
Keluarga juga dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok dari orangorang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi, merupakan susunan rumah tangga sendiri, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan perempuan, serta pemelihara kebudayaan bersama (Khairuddin, 1997:7).
Definisi lain mengatakan bahwa, keluarga adalah sekelompok orang yang diikat oleh perkawinan atau darah, biasanya meliputi ayah, ibu dan anak atau anak-anak (Gunarsa, 1993:230).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka terdapat beberapa bentuk atau tipe keluarga, yaitu: 1. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu,
dan Anak-anak.
Universitas Sumatera Utara

2. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga Inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
3. Keluarga brantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari satu wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4. Keluarga Duda / Janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5. Keluarga berkomposisi (Camposite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
6. Keluarga Kabitas (Cahabitasion) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tapi membentuk suatu keluarga. Keluarga Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (extended
family) karena masyarakat Indonesia yang terdiri dari beberapa suku hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
2.3.1. Ciri-ciri Keluarga Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari
suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Adapun ciri-ciri dari sebuah keluarga di dalam masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Unit terkecil dari masyarakat. 2. Terdiri atas 2 orang atau lebih. 3. Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah. 4. Hidup dalam satu rumah tangga.
Universitas Sumatera Utara

5. Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga. 6. Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga. 7. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing. 8. Diciptakan untuk mempertahankan suatu kebudayaan.
2.3.2. Fungsi Keluarga Menurut para ahli fungsi keluarga terbagi, sebagai berikut :
1. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
2. Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
4. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada
Universitas Sumatera Utara

keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini. 6. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga. 7. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masingmasing, dsb. 8. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.
Dari berbagai fungsi di atas terdapat 3 fungsi pokok keluarga terhadap keluarga lainnya, yaitu : 1. Asih adalah memberikan kasih saying, perhatian, rasa aman, kehangatan,pada
anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya. 2. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara sehingga memungkinkan menjadi anak-anak sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. 3. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya
Universitas Sumatera Utara

2.4. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga Kekerasan adalah suatu perlakuan atau situasi yang menyebabkan realitas
aktual seseorang ada di bawah realitas potensialnya. Sedangkan rumah tangga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan keluarga dalam rumah. Sehingga dapat dinyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu perlakuan yang dialami oleh sebuah keluarga sehingga menimbulkan potensi korban tidak berkembang.
Menurut Hasbianto bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu bentuk penganiayaan secara fisik maupun emosional atau psikologis, yang merupakan suatu cara pengontrolan terhadap pasangan dalam kehidupan rumah tangga (Sugihastuti, 2007:173). Dalam pengertian lain kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan, juga merupakan tindakan diskriminasi.
Menurut Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 dijelaskan bahwa “Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaraan rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.”
Kekerasan dalam rumah tangga mengacu pada tindakan yang dilakukan dengan niat untuk menyakiti atau mencederai salah seorang anggota keluarga. Tindakan kekerasan tersebut bukan merupakan tindakan tunggal, akan tetapi
Universitas Sumatera Utara

merupakan tindakan yang terjadi berulang-ulang bahkan dalam jangka waktu yang lama dan terhadap korban yang sama.
Jika melihat komposisi anggota di dalam sebuah rumah tangga yang biasanya terdiri ayah, ibu, dan anak-anak serta beberapa kerabat yang masih memiliki pertalian darah, maka akan terbayang suatu kehidupan yang dipenuhi kehangatan, kasih sayang dan sikap saling menghormati. Sehingga sangat mustahil apabila terjadi suatu tindakan kekerasan yang korbannya merupakan bagian dari anggota keluarga dengan pelakunya juga anggota keluarga itu sendiri.
Fenomena kekerasan dalam rumah tangga dapat dikatakan sebagai fenomena gunung es. Hal ini terjadi disebabkan korbannya sebagian besar adalah para perempuan dan anak-anak mereka. Sehingga apabila korban melaporkan tindakan kekerasan yang mereka alami, maka akan muncul ketakutan tidak akan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari karena pelakunya adalah seorang suami yang merupakan tulang punggung keluarga.
Selain itu, keadaan sosial ekonomi yang rendah juga mempengaruhi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi membuat emosi seseorang mudah terpancing. Apabila hal tersebut tidak dapat diredam, maka suatu tindakan kekerasan atau bahkan penelantaran keluarga oleh seorang suami terhadap kelurganya sangat mungkin terjadi. Kurang tanggapnya keluarga terdekat dan masyarakat sekitar tempat tinggal juga menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga dianggap oleh korban sebagai suatu yang normal akibat tidak adanya respon dari lingkungan sekitarnya.
Universitas Sumatera Utara

2.4.1. Kekerasan dalam Rumah Tangga sebagai Masalah Sosial Kekerasan dalam rumah tangga dapat dikatakan sebagai kekerasan yang
berbasis gender. Tindakan tersebut terjadi disebabkan sebagian besar korban adalah perempuan yang identik dengan sifat pasif, sedangkan laki-laki merupakan pemimpin dalam rumah tangga yang memiliki kekuasaan penuh terhadap anggotanya dapat bertindak sesuai keinginannya .
Oleh karena itu, kekerasan dalam rumah tangga dalam studi masalah sosial juga dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perpektif masalah sosial, perilaku menyimpang tersebut terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku terhadap berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dianggap menjadi sumber masalah sosial karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur baku tersebut berarti telah menyimpang. Oleh karena itu jalur yang harus dilalui tersebut adalah jalur pranata sosial (Soetomo, 2008:94).
Kekerasan dalam rumah tangga sangat sulit terungkap, karena masyarakat menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga merupakan sesuatu yang sangat privasi dan tidak perlu diketahui oleh masyarakat luas. Tetapi kenyataannya bahwa berbagai kekerasan yang terjadi dalam konteks keluarga merupakan masalah sosial yang tidak dapat dibiarkan, seperti: penganiayaan fisik, seksual, dan emosional terhadap anak-anak, agresi sesama saudara kandung, dan kekerasan dalam sebuah hubungan perkawinan.
Universitas Sumatera Utara

Hal tersebut di dalam studi perilaku menyimpang diidentifikasikan sebagai penyimpangan tersembunyi atau penyimpangan terselubung. Penyimpangan tersembunyi atau terselubung tersebut adalah perilaku seseorang dalam melakukan perbuatan tercela akan tetapi tidak ada yang bereaksi atau melihatnya, sehingga oleh masyarakat dianggap seolah-olah tidak ada masalah (Soekanto dalam Soetomo, 2008:95).
2.4.2. Wujud Perilaku Kekerasan dalam Rumah Tangga Berdasarkan uraian diatas, maka tindakan kekerasan dalam rumah tangga
termasuk ke dalam suatu perilaku yang menyimpang. Kekerasan dalam rumah tangga dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Kekerasan secara fisik, yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh
sakit atau luka berat. 2. Kekerasan secara seksual, yaitu setiap perbuatan yang berupa pemaksaan
hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. 3. Kekerasan secara psikologis, yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. 4. Penelantaran rumah tangga, yaitu menelantarkan anggota keluarga tanpa memberikan kewajiban dalam hal perawatan ataupun pemeliharaan dan juga membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah tangga.
Universitas Sumatera Utara

Pada umumnya kekerasan yang diderita oleh korban baik secara fisik maupun seksual bahkan penelantaran ekonomi terhadap dirinya akan berdampak besar kepada kejiwaan atau psikis korban tindak kekerasan tersebut.
2.4.3. Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga Suatu hal pada dasarnya tidak akan terjadi apabila tidak ada faktor-faktor
pendukung yang dapat menyebabkan kekerasan terjadi di dalam sebuah rumah tangga, dalam hal ini kekerasan dalam rumah tangga dapat timbul dengan beberapa faktor pendorongnya, antara lain : 1. Masalah komunikasi dan kepercayaan, hal ini sangat penting dalam suatu
hubungan dan tidak menutup kemungkinan jika komunikasi dan kepercayaan tidak terbangun dengan baik akan menimbulkan suatu konflik. 2. Masalah kedudukan dari suami dan istri dalam suatu rumah tangga dimana hal ini bukan tidak jarang merupakan salah satu faktor penyebab apalagi jika tidak ada kesepahaman antar pasangan. 3. Masalah ekonomi, dimana kecenderungan jika sebuah keluarga sedang terhimpit masalah keuangan akan mungkin menimbulkan tindakan-tindakan yang dapat berbentuk kekerasan dan juga tidak menutup kemungkinan bagi keluarga yang dipandang cukup dari segi ekonomi bisa jadi jadi keegoisan akan muncul. 4. Masalah

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan