PENAMBAHAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI SUPLEMEN PADA PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)

ABSTRACT

THE ADDITION OF BIOFLOC MEAL AS FEED SUPPLEMENTS OF
SANGKURIANG CATFISH (Clarias gariepinus)
By

Cindy Ria Nuari

Catfish needs feed that contain 30-40% protein to support growth. From total feed
which is given, 25% of the feed that can be converted into fish biomass, the rest
becomes waste (ammonia and feces). The aquaculture’s waste can be converted as
biofloc by heterotrophic bacteria. Biofloc contains proteins of bacteria and
polyhydroxybutyrate which are used as the energy source and can enhance the
growth of fish. All the time, application of biofloc is being used for water quality
improvement. The biofloc which is used as biofloc meal for feed supplement had
been rarely applied. This research aimed to know the addition supplemental
biofloc meal to the growth of sangkuriang catfish. The research design used
completely randomized design with four treatments and three replicates. The
treatments are gives feed with the differently of addition biofloc meal (0%, 5%,
10%, dan 15%). Feed tested on juvenile sangkuriang catfish with size of 5-6 cm
and weighs of 2-2.5 gram and were reared in container of 0,5x0,5x0,5 m for 35
days. The results showed that the use of biofloc meal significantly affected the
growth of sangkuriang catfish. The more addition of biofloc meal, the higher
catfish growth.

Keywords: sangkuriang catfish, biofloc meal, supplement, growth, polyhidroxybutyrate

ABSTRAK

PENAMBAHAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI SUPLEMEN PADA
PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)
Oleh

Cindy Ria Nuari

Ikan lele membutuhkan pakan dengan kandungan protein sebesar 35-40% untuk
menunjang pertumbuhan. Dari total pakan yang diberikan, 25 % pakan dapat
dikonversi menjadi biomassa ikan, sisanya menjadi limbah (ammonia dan feses).
Limbah hasil budidaya dapat diubah menjadi bioflok oleh bakteri heterotrof.
Bioflok mengandung protein dalam biomassa bakteri dan polyhydroxybutyrate
yang bermanfaat sebagai sumber energi dan dapat meningkatkan pertumbuhan
ikan. Aplikasi bioflok selama ini digunakan untuk perbaikan kualitas air. Bioflok
yang dimanfaatkan menjadi tepung sebagai suplemen pakan belum banyak
diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan tepung
bioflok sebagai suplemen terhadap pertumbuhan lele sangkuriang. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat
perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan berupa pemberian pakan dengan
penambahan tepung bioflok yang berbeda (0%, 5%, 10%, dan 15%). Pakan
diujikan pada benih ikan lele sangkuriang ukuran 5-6 cm dengan bobot 2-2,5
gram yang dipelihara di kolam terpal berukuran 0,5x0,5x0,5 m selama 35 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung bioflok berpengaruh
terhadap pertumbuhan. Semakin banyak penambahan tepung bioflok maka
pertumbuhan ikan lele semakin meningkat.

Kata kunci: lele sangkuriang, tepung bioflok , suplemen, pertumbuhan, polyhidroxybutyrate

PENAMBAHAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI SUPLEMEN PADA
PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)

Oleh

CINDY RIA NUARI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PERIKANAN
Pada
Jurusan Studi Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

PERIIYATAA.hI
Dengan ini saya menyatakan bahwa:

t. Karya tulis say4 Skripsi/Laporan Akhir ini,

adalah asli dan belum pernatr

diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (Sarjana/Ahli Madya), baik

di Universitas Lampung maupun di perguruan tinggt lainnya

2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa
bantuan pihak laino kecuali aratran Tim Pembimbing.

3. Dalam karya

tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis

atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas
dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan naskah dengan
disebutkan narna pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pemyataan

ini

saya buat dengan sesungguhnya dan apabila

di kemudian

hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pemyataan ini,
maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar

yang telah diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya yang
sesuai dengan nonna yang berlaku di Perguruan Tinggi ini.

Bandar Lampung, Juni 2015
-YanglVlemb-uatPernyataan,

Cindy Ria Nuari
NPM. 11141I1016

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 22
Januari 1994 sebagai anak ketiga dari empat bersaudara
pasangan Bapak Ferry Tazar dan Esy Farida.
Penulis memulai pendidikan formal dari Taman Kanak- kanak (TK) Sari Teladan
yang diselesaikan pada tahun 1999, dilanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN)
01 Beringin Raya diselesaikan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama
Negeri (SMPN) 14 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2008, dan Sekolah
Menengah Atas Negeri (SMAN) 16 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun
2011. Penulis melanjutkan pendidikan kejenjang S1 di Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2011 dan menyelesaikan
studinya pada tahun 2015.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa
Budidaya Perairan UNILA (HIDRILA) sebagai anggota bidang Pengembangan
Masyarakat pada tahun 2012/2013 dan sebagai anggota bidang Pengkaderan pada
tahun 2013/2014. Penulis telah melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di
Desa Pasir Sakti, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur selama 40
hari yaitu dari bulan Januari – Maret 2014.

Penulis mengikuti Praktek Umum di Instalasi Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar
Cijeruk, Bogor, Jawa Barat dengan judul “Pembenihan Ikan Nilem (Osteochilus
hasselti) di Instalasi Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Bogor, Jawa
Barat” pada bulan Juli-Agustus 2014.

Penulis pernah menjadi asisten praktikum pada mata kuliah Mikrobiologi Akuatik
tahun ajaran 2013/2014 dan tahun ajaran 2014/2015, Biologi Perikanan tahun
ajaran 2013/2014, Penyakit dan Parasit Organisme Akuatik tahun ajaran
2013/2014 dan tahun ajaran 2014/2015, Limnologi tahun ajaran 2013/2014,
Oceanografi pada tahun ajaran 2014/2015, Manajemen Kesehatan Ikan pada tahun
ajaran 2014/2015 dan asisten praktikum Bioteknologi Akuakultur pada tahun
ajaran 2014/2015. Penulis melakukan penelitian akhir pada bulan Februari-April
2015 di Laboratorium Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung dengan judul “Penambahan Tepung Bioflok Sebagai
Suplemen pada Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)”.

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kupersembahkan karya terbaik dalam hidupku
kepada kedua orangtuaku (Papa dan Mama)
yang selalu mendoakan, mendidik dan memberi
semangat yang tiada henti
Abang dan Adikku, serta keluarga besar
tercinta yang senantiasa memberikan tawa,
semangat dan dukungan di setiap hari
Seseorang yang terkasih dan Sahabat yang
selalu menemani dan memberikan semangat
selama ini
Almamater tercinta “Universitas Lampung”

“Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulangulang doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu. Dialah
yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya
padamu, bukan menurut pilihan seleramu. Kelak pada
waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu
yang engkau kehendaki“ (Ibnu Atha’ilah)
“He who never made a mistake, never made a discovery.
Mistakes are the portals of discovery” (Samuel Smiles)
“It would be possible to describe everything
scientifically, but it would make no sense; it would be
without meaning, as if you described a Beethoven
symphony as a variation of wave pressure” (Albert
Einstein)
“Setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk
sukses. Perbedaannya adalah seberapa besar motivasi
mampu mengalahkan setiap kesulitan. Syukurilah
kesulitan. karena terkadang kesulitan mengantar kita
pada hasil yang lebih baik dari apa yang kita
bayangkan. Ingatlah, ketika kamu memutuskan berhenti
untuk mencoba menghadapi kesulitan, saat itu juga
kamu memutuskan untuk gagal” (Cindy Ria Nuari)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunianya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penambahan
Tepung Bioflok Sebagai Suplemen pada Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias
gariepinus)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Perikanan di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.

Kedua orang tuaku tercinta Papa Ferry Tazar dan Mama Esy Farida yang
selalu memberikan kasih sayang, cinta, perhatian, pengorbanan dan
dukungan serta do’a yang dipanjatkan tidak terhenti demi kelancaran,
keselamatan dan kesuksesan penyusun.

2.

Abang, adik serta keluarga besar yang selalu memberikan nasehat,
dukungan serta do’a yang menjadi penyemangat penyusun.

3.

Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku Dekan Fakultas
Pertanian Universitas Lampung.

4.

Ibu Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

5.

Bapak Dr. Supono, S.Pi., M.Si.,

selaku pembimbing I, yang telah

memberikan bimbingan serta saran dalam penyelesaian skripsi.

6.

Bapak Wardiyanto, S.Pi., M.P., selaku Dosen Pembimbing Akademik serta
sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta saran dalam
penulisan dan penyelesaian skripsi.

7.

Rahmadi Hamijaya yang selalu memberikan nasehat, perhatian, semangat
dan mendoakan keberhasilan penyusun.

8.

Teman-teman seperjuangan saat penelitian Melinda Oktafiani, Ahadiftita
Hafsha K., Rizky Alfiani dan Swarna Sri Novianti atas kesolidan dan
kekompakannya dari awal kegagalan hingga akhir keberhasilan dalam
penelitian.

9.

Sahabat-sahabatku Indah Wahyuningtyas, Benedikta Erlinda Y., Elsa Puspita,
Utami Wijaya, yang saling memberi semangat, selalu ada dikala suka-duka
dan bersama-sama berjuang selama kuliah.

10. Teman-teman seperjuangan angkatan 2011 Nurhasanah, Martini, Tiwi,
Anggun, Bestania, Ristin, Tina, Glycine, Restu, Septi, Putri Endang, Putri
Priyan, Sulvina, Arum, Melisha, Yola, beserta teman-teman yang belum
disebutkan satu persatu terimakasih atas kebersamaan, bantuan, dukungan
dan persaudaraan kita selama ini.
11. Mba Ncim, Mba safrina, Mba Mauli, Mba Euis terimakasih kritik, saran,
semangat dan selalu menjadi pendengar setia dari penyusun.
12. Adik-Adikku 2012 Atik, Ayu Novi, Desy, Sohib, Sundari, Weni, Thomas,
Edo, Khanif terimakasih atas bantuan serta semangat yang diberikan kepada
penyusun.

13. Seluruh kakak tingkat dan adik tingkat serta semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu terimakasih telah membantu dalam penyelesaian
skripsi ini.
Penyusun menyadari dalam pembuatan dan penyusunan skripsi ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan untuk kesempurnaan skripsi ini.
Bandar Lampung,
Penyusun

Cindy Ria Nuari

Juni 2015

i

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ....................................................................................................... i
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... v
I.

PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penelitian .................................................................................... 2
1.3 Manfaat ................................................................................................... 2
1.4 Kerangka Pikir ........................................................................................ 3
1.5 Hipotesis ................................................................................................. 5

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 6
2.1 Aspek Biologi Ikan Lele Sangkuriang ..................................................... 6
2.1.1 Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang ................................................ 6
2.1.2 Morfologi Ikan Lele Sangkuriang ................................................. 6
2.1.3 Habitat Ikan Lele ........................................................................... 8
2.1.4 Pakan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele ........................................ 8
2.1.5 Pertumbuhan Ikan Lele ................................................................. 9
2.2 Bioflok .................................................................................................... 9
2.2.1 Prinsip Dasar Bioflok .................................................................... 9
2.2.2 Rasio C:N ...................................................................................... 10
2.3 Faktor – Faktor Pembentuk Bioflok ........................................................ 11
2.3.1 Bakteri Pembentuk Bioflok ........................................................... 11

ii

2.3.2 Sumber Karbon ............................................................................. 12
2.3.3 Sumber Nitrogen ........................................................................... 13
2.3.4 Ketersediaan Aerasi ...................................................................... 15
2.4 Manajemen Kualitas Air ......................................................................... 15
III. METODE PENELITIAN ........................................................................... 16
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................. 16
3.2 Alat dan Bahan Penelitian ....................................................................... 16
3.3 Rancangan Penelitian .............................................................................. 16
3.4 Prosedur Penelitian ................................................................................. 18
3.4.1 Pembuatan Pakan Bioflok ............................................................. 18
3.4.2 Pelaksanan Percobaan ................................................................... 19
3.4.3 Pengambilan Data ......................................................................... 21
3.4.4 Analisis Data ................................................................................. 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 24
4.1 Pertumbuhan ........................................................................................... 24
4.2 Feed Convension Ratio ........................................................................... 32
4.3 Protein Efficiency Ratio .......................................................................... 33
4.4 Kelangsungan Hidup ................................................................................ 35
4.5 Kualitas Air ............................................................................................. 36
V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 39
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 39
5.2 Saran ....................................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Diagram Kerangka Pikir Penelitian .............................................................. 5
2. Ikan Lele Sangkuriang ................................................................................... 7
3. Tata Letak Kolam Pemeliharaan .................................................................... 18
4. Pertumbuhan Mutlak Benih Ikan Lele Sangkuriang ...................................... 24
5. Laju Pertumbuhan Harian Ikan Lele Sangkuriang ......................................... 25
6. Pertumbuhan Berat Ikan Lele Sangkuriang ................................................... 29
7. Feed Convension Ratio ................................................................................. 32
8. Protein Efficiency Ratio ................................................................................. 33
9. Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Sangkuriang ...................................... 35

iv

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Kandungan nutrisi tepung bioflok .............................................................. 25

2.

Kualitas Air ................................................................................................. 37

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Data Sampling Pertumbuhan Berat ............................................................... 45
2. Data Pertumbuhan Mutlak ............................................................................ 45
3. Perhitungan Statistik Pertumbuhan Mutlak .................................................. 46
4. Data Laju Pertumbuhan Harian ..................................................................... 48
5. Perhitungan Statistik Laju Pertumbuhan Harian ........................................... 49
6. Data Feed Conversion Ratio ......................................................................... 51
7. Perhitungan Statistik Feed Conversion Ratio ............................................... 51
8. Data Protein Effeciency Ratio ....................................................................... 53
9. Perhitungan Statistik Protein Effeciency Ratio ............................................. 54
10. Data Kelangsungan Hidup ............................................................................ 56
11. Perhitungan Statistik Kelangsungan Hidup .................................................. 56
12. Data Kualitas Air........................................................................................... 58
13. Perhitungan Ratio C/N .................................................................................. 59
14. Dokumentasi Penelitian ................................................................................ 60

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Ikan lele sangkuriang merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah umum
dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Karakteristik dari ikan lele yang
memiliki pertumbuhan cepat dan ketahanan tubuh pada lingkungan yang buruk
menjadi alasan dipilihnya ikan lele sebagai komoditas unggulan yang umum
dibudidayakan. Ikan lele termasuk jenis ikan omnivora yang memiliki nafsu
makan yang tinggi, sehingga pemberian pakan menjadi faktor penentu
keberhasilan dalam pembudidayaan ikan ini.
Benih ikan lele membutuhkan pakan dengan kandungan protein sebesar 35-40%
untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Dari total pakan yang diberikan, 25%
pakan dapat terkonversi sebagai biomassa ikan sedangkan sisanya diekskresikan
sebagai limbah berupa ammonia dan feses (Avnimelech dan Ritvo, 2003). Untuk
dapat mengatasi permasalahan tersebut, teknologi bioflok dapat dimanfaatkan
untuk mengubah limbah budidaya menjadi bioflok.
Bioflok adalah kumpulan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri
pembentuk flok, bakteri filamen, fungi, partikel tersuspensi, berbagai koloid dan

2

polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati dengan ukuran bervariasi
dengan kisaran 100 - 1000 μm (Azim et al., 2007; de Schryver et al., 2008).
Bioflok mengandung protein bakteri dan polyhydroxybutyrate yang dapat
meningkatkan

partumbuhan

ikan.

Kandungan

protein

bakteri

dan

polyhydroxybutyrate dalam bioflok mempunyai potensi untuk dijadikan suplemen
pakan bagi ikan.
Aplikasi bioflok selama ini difokuskan untuk perbaikan kualitas air dan digunakan
sebagai pakan alami bagi ikan. Penggunaan tepung bioflok sebagai suplemen
pakan untuk penunjang pertumbuhan ikan belum banyak diaplikasikan. Oleh
karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penambahan tepung bioflok
sebagai suplemen pakan terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias
gariepinus).

1.2

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penambahan tepung bioflok
sebagai suplemen pakan terhadap pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang.

1.3

Manfaat

Manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi baru
tentang pemanfaatan tepung bioflok sebagai suplemen pakan benih ikan lele dan
pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang.

3

1.4

Kerangka Pikir

Teknologi bioflok merupakan teknologi yang memanfaatkan hasil dari
metabolisme ikan yang mengandung nitrogen untuk dapat diubah menjadi protein
yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ikan, sehingga ikan mendapat protein
tambahan selain dari pakan buatan yang diberikan. Menurut De Schryver et al.
(2008) teknologi bioflok adalah teknologi budidaya yang didasarkan pada prinsip
asimilasi nitrogen organik (nitrit, nitrat, dan ammonia). Oleh sekelompok mikroba
(bakteri heterotrof) dalam media budidaya sehingga dapat menjadi sumber
makanan.
Bioflok tersusun atas campuran berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri
pembentuk flok, bakteri filamen, fungi , partikel tersuspensi, berbagai koloid dan
polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati dengan ukuran bervariasi
dengan kisaran 100 - 1000 μm (Azim et al., 2007; de Schryver et al., 2008).
Berbagai jenis organisme lain juga banyak ditemukan dalam bioflok scperti
protozoa, rotifer dan oligochaeta (Azim et al., 2007; Ekasari, 2008).
Prinsip dasar bioflok yaitu mengubah senyawa organik dan anorganik yang
mengandung senyawa karbon (C), hydrogen (H), nitrogen (N) dengan sedikit
posfor (P) menjadi masa sludge berupa bioflok dengan penggunaan bakteri
pembentuk flok yang mensintesis biofolimer polihidroksi alkonoat sebagai ikatan
bioflok. Bakteri pembentuk bioflok dipilih dari genera bakteri yang non patogen
yang memiliki kemampuan mensintesis PHA. Salah satu genera bakteri yang
mampu membentuk flok yaitu Bacillus sp. Menurut Stolp (1988) Bacillus sp. dan
Pseudomonas sp. merupakan genera bakteri yang dapat menggunakan komponen

4

karbon dan juga memiliki kemampuan untuk mengoksidasi substrat yang
mengandung rantai C.
Moriarty (1996) menyatakan bahwa bakteri Bacillus sp. dapat menghasilkan
enzim dengan kisaran yang luas dan mampu merombak protein. Bacillus sp.
merupakan salah satu bakteri yang dapat menghasilkan polyhydroxybutyrate
(PHB). Polyhydroxybutyrate merupakan polimer yang paling dominan dalam
budidaya perairan. Berbagai manfaat yang dihasilkan dari polyhydroxybutyrate
antara lain sebagai cadangan energi bagi ikan, dapat terurai dalam pencernaan,
meningkatkan asam lemak, serta mampu meningkatkan pertumbuhan ikan (de
Schryver, 2010).
Bioflok mengandung sumber nutrisi yang baik untuk pertumbuhan ikan budidaya
dan teknologi bioflok ini dapat meningkatkan produksi nila sebesar 44-46%
dibandingkan tanpa menggunakan teknologi bioflok (Azim dan Little, 2008).
Menurut Crab et al. (2009) budidaya dengan sistem bioflok dapat meningkatkan
kelangsungan hidup pada ikan nila menjadi 80% dan mampu mengontrol patogen
Vibrio harveyii dan Artemia franciscana.
Salah satu jenis ikan yang dapat memanfaatkan bioflok sebagai pakan adalah ikan
lele sangkuriang. Ikan lele memiliki usus yang pendek sehingga ikan lele mudah
lapar dan memiliki nafsu makan yang tinggi. Penggunaan bioflok pada
pemeliharaan benih ikan lele dapat mengefisiensikan pakan dan mengoptimalkan
pertumbuhan benih ikan lele.
Kandungan nutrisi dalam bioflok berupa protein bakteri dan polyhydroxybutyrate
mempunyai potensi untuk dijadikan pakan suplemen bagi ikan. Bioflok yang

5

berbentuk gumpalan dapat dijadikan tepung sehingga dapat dijadikan sebagai
suplemen pakan ikan. Kerangka pikir penelitian terdapat pada Gambar 1.
Nitrogen Anorganik
(NH3, NH4, NO2, NO3)

Karbon Organik

+ Bakteri Heterotrof
(Bacillus sp.)
Bioflok
Dikeringkan
Tepung Bioflok
Formulasi pakan
Pakan (Pellet)

Pemeliharaan Ikan Lele

Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang
Gambar 1. Diagram kerangka pikir penelitian

1.5

Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
H0: Diduga tidak ada pengaruh penambahan tepung bioflok sebagai suplemen
pakan terhadap pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang.
H1: Diduga ada pengaruh penambahan tepung bioflok sebagai suplemen pakan
terhadap pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aspek Biologi Ikan Lele Sangkuriang
2.1.1 Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang
Klasifikasi ikan lele sangkuriang menurut Kordi (2010) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Kelas

: Pisces

Sub kelas

: Teleostei

Ordo

: Ostariophysi

Sub ordo

: Siluroidea

Famili

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias gariepinus

2.1.2 Morfologi Ikan Lele Sangkuriang
Ikan lele sangkuriang (Gambar 2) memiliki ciri-ciri yang identik seperti ikan lele
dumbo sehingga sulit untuk membedakannya. Hal tersebut dikarenakan lele
sangkuriang merupakan hasil persilangan dari induk lele dumbo betina generasi
ke 2 atau F2 dan induk jantan F6. Ikan lele sangkuriang dikenal sebagai ikan
berkumis atau catfish. Tubuh ikan lele sangkuriang ini berlendir dan tidak

7

memiliki sisik. Terdapat empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulutnya.
Keempat sungut terdiri dari dua pasang sungut rahang atas dan dua pasang sungut
pada rahang bawah. Fungsi sungut bawah sebagai alat peraba ketika berenang dan
sebagai sensor ketika mencari makan. Sirip lele sangkuriang terdiri atas lima
bagian yaitu sirip dada, sirip perut, sirip dubur, sirip ekor, dan sirip punggung.
Sirip dada lele sangkuriang dilengkapi dengan patil (sirip yang keras) yang
memiliki fungsi sebagai alat pertahanan diri (Nasrudin, 2010).
Alat pernafasan ikan lele sangkuriang sama dengan ikan lele pada umumnya
berupa insang yang berukuran kecil sehingga mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan oksigen. Saat ikan lele mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan oksigen, ikan lele akan mengambil oksigen dengan muncul
ke permukaan. Alat pernafasan tambahan terletak di rongga insang bagian atas
yang biasa disebut arborescent organ (Lukito, 2002).

Gambar 2. Ikan Lele Sangkuriang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

8

2.1.3 Habitat Ikan Lele
Ikan lele dapat hidup di semua perairan tawar seperti sungai yang airnya tidak
terlalu deras atau di perairan yang tenang seperti danau, waduk, telaga, rawa serta
genangan-genangan kecil seperti kolam. Ikan ini tidak membutuhkan perairan
yang mengalir untuk mendukung pertumbuhannya. Hal ini dimungkinkan oleh
adanya kemampuan ikan tersebut untuk mengambil oksigen langsung dari udara
melalui arborescent organ yang dimilikinya, sehingga pada perairan yang tidak
mengalir, perairan yang kotor dan berlumpur dengan kandungan oksigen rendah,
ikan lele masih dapat hidup (Soetomo, 1989; Suyanto, 1992).

2.1.4 Pakan dan Kebiasaan Makan Ikan Lele
Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif mencari makan pada malam hari. Pada
siang hari ikan ini memilih berdiam diri dan berlindung di tempat gelap. Ikan lele
ini memiliki kebiasaan membuat atau menempati lubang-lubang di tepi sungai
atau kolam sebagai sarangnya dan mengaduk-ngaduk lumpur di dasar air untuk
mencari makanan (Angka et al., 1990). Ikan lele termasuk ikan omnivora, juga
cenderung bersifat karnivora. Di alam bebas, makanan alami ikan lele terdiri
fitoplankton dari jenis alga dan zooplankton yang berupa jasad-jasad renik seperti
kutu air, cacing rambut, rotifera, jentik-jentik nyamuk, ikan kecil serta sisa bahan
organik yang masih segar (Simanjuntak, 1989; Najiyati, 1992). Ikan lele juga
senang makanan yang membusuk sehingga termasuk golongan pemakan bangkai
dan bersifat kanibal saat jumlah makanan kurang tersedia (Simanjuntak, 1989).

9

2.1.5 Pertumbuhan Ikan Lele
Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran meliputi panjang maupun berat.
Pertumbuhan suatu organisme terjadi akibat dari peningkatan ukuran sel serta
peningkatan jumlah sel-selnya (Fujaya.2004). Menurut Hepher dan Pruginin
(1981), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang
meliputi sifat genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang
berhubungan dengan pakan dan lingkungan. Faktor-faktor eksternal tersebut
diantaranya adalah komposisi kimia air dan tanah dasar, suhu air, bahan buangan
metabolit (produksi eksternal), ketersediaan oksigen dan ketersediaan pakan.
Protein, karbohidrat dan lemak diperlukan oleh tubuh ikan sebagai materi dan
energi dalam pertumbuhan dan diperoleh dari pakan yang dikonsumsi.

2.2 Bioflok
2.2.1 Prinsip Dasar Bioflok
Bioflok merupakan sekumpulan berbagai jenis mikroorganisme (bakteri
pembentuk flok, bakteri filamen, fungi), partikel-partikel tersuspensi, berbagai
koloid dan polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati (de Schryver et al.,
2008). Menurut Avnimelech (2009), dalam sistem bioflok bakteri berperan sangat
dominan sebagai organisme heterotrof yang menghasilkan polyhydroxy alkanoat
sebagai pembentuk ikatan bioflok. Pembentukan bioflok oleh bakteri terutama
bakteri heterotrof secara umum bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan
nutrien, menghindari stress lingkungan dan predasi (Bossier dan Verstraete, 1996;
de Schryver et al., 2008).

10

Menurut McIntosh (2000) dan Supono (2014), prinsip dasar bioflok yaitu
mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa karbon
(C), hydrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N) dan sedikit fosfor (P) menjadi masa
sludge berupa bioflok dengan memanfaatkan bakteri pembentuk flok yang
mensintesis biopolimer sebagai bioflok. Teknologi bioflok dalam budidaya
perairan yaitu memanfaatkan nitrogen anorganik dalam kolam budidaya menjadi
nitrogen organik yang tidak bersifat toksik. Sistem bioflok dalam budidaya
perairan menekankan pada pertumbuhan bakteri pada kolam untuk menggantikan
komunitas autotrofik yang di dominasi oleh fitoplankton.
Bioflok mengandung protein bakteri dan polyhydroxybutyrate yang dapat
meningkatkan partumbuhan ikan. Pada umumnya, bakteri memiliki ukuran kurang
dari 5 mikron. Ukuran bakteri yang sangat kecil ini tidak dapat dimanfaatkan oleh
ikan. Namun bakteri dalam bentuk bioflok dapat dimanfaatkan ikan sebagai pakan
karena ukurannya mampu mencapai 0,5 mm hingga 2 mm (Manser, 2006;
Avnimelech, 2006).

2.2.2 Rasio C:N
Bakteri heterotrof dapat tumbuh dengan baik apabila persyaratan lingkungan
hidup harus terpenuhi berupa perbandingan antara unsur karbon (C) dengan
nitrogen (N) atau dikenal dengan istilah C:N rasio. Rasio C:N yang ideal untuk
pertumbuhan bioflok adalah 15:1 sampai dengan 20:1, artinya ada 15 molekul
karbon untuk setiap 1 molekul nitrogen (Maulina, 2009). Menurut Avnimelech
(2009) dan Supono (2014) bahwa bioflok akan terbentuk jika rasio C:N dalam
kolam lebih dari 15.

11

Pakan buatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya umumnya mengandung
protein yang cukup tinggi dengan kisaran 18 - 50% (Craig dan Helfrich, 2002)
dengan rasio C:N kurang dari 10 (Azim et al., 2007). Hal ini tentunya berdampak
pada keseimbangan rasio C:N dalam media budidaya, sehingga untuk penerapan
teknologi bioflok, rasio C:N perlu ditingkatkan lagi.
Avnimelech (2007) dan Samocha et al. (2007) menyatakan bahwa peningkatan
rasio C:N dalam air untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri heterotrof dapat
dilakukan dengan mengurangi kandungan protein dan meningkatkan kandungan
karbohidrat dalam pakan atau dengan penambahan sumber karbohidrat secara
langsung ke dalam air. Sumber karbohidrat dapat berupa gula sederhana seperti
gula pasir, molase, atau bahan-bahan pati seperti tepung tapioka, tepung jagung,
tepung terigu dan sorgum (Avnimelech, 1999; Hari et al., 2004; Van Wyk dan
Avnimelech, 2007). Jika unsur C dan N tidak seimbang maka bakteri heterotrof
tidak mampu mengubah unsur organik dalam air menjadi protein sebaliknya
menghasilkan senyawa ammonia yang bersifat toksik (Maulina, 2009).

2.3 Faktor – Faktor Pembentuk Bioflok
2.3.1 Bakteri Pembentuk Bioflok
Dalam sistem bioflok, bakteri berperan dominan sebagai organisme heterotrof
yang menghasilkan polyhydroxy alkanoat yang berguna dalam pembentuk ikatan
bioflok (Avnimelech, 2009). Menurut Hargreves (2013) dan Supono (2014)
pertumbuhan bakteri heterotrof dipengaruhi oleh adanya kandungan karbon
organik yang terlarut dalam air. Unsur karbon organic akan mengikat nitrogen
anorganik yang dapat digunakan untuk pertumbuhan sel bakteri heterotrof. Mara

12

(2004) dan Ebeling et al. (2006) menyatakan bahwa immobilisasi ammonia oleh
bakteri heterotrof 40 kali lebih cepat daripada dengan bakteri nitrifikasi. Pada
proses heterotrofik bakteri heterotrof mengubah ammonia langsung menjadi
biomassa bakteri (Brune et al., 2003).
Bakteri yang mampu membentuk bioflok antara lain Zooglea ramigera,
Escherichia intermedia, Paracolobacterium aerogenoids, Bacillus subtilis,
Bacillus cereus, Flavobacterium, Pseudomonas alcaligenes, Sphaerotillus natans,
Tetrad dan Tricoda (Ayuroshita, 2009; Maharani, 2012). Ciri khas bakteri
pembentuk bioflok yaitu kemampuannya untuk mensintesa senyawa Polihidroksi
alkanoat (PHA), terutama yang spesifik seperti poli β‐hidroksi butirat. Senyawa
ini diperlukan sebagai bahan polimer untuk pembentukan ikatan polimer antara
substansi substansi pembentuk bioflok (Aiyushirota, 2009; Maharani, 2012).
Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. merupakan genera bakteri yang dapat
memanfaatkan komponen karbon dan juga memiliki kemampuan untuk
mengoksidasi substrat yang mengandung rantai C (Stolp , 1988; Maharani, 2012).
Menurut Moriarty (1996), bakteri Bacillus sp. dapat menghasilkan enzim dengan
kisaran yang luas dan paling efektif untuk merombak protein.

2.3.2 Sumber Karbon
Purnomo (2012) dan Septiani (2014) menyatakan bahwa ada beberapa sumber
karbohidrat yang dapat digunakan sebagai sumber karbon (C) untuk pembentukan
bioflok seperti tepung tapioka, tepung singkong, gula pasir, molase.

13

Molase adalah hasil samping yang berasal dari pembuatan gula tebu (Saccharum
officinarum L). United Molases mendefinisikan molase sebagai “end product”
pembuatan gula yang tidak mengandung lagi gula yang dapat dikristalkan dengan
cara konvensional. Molase sendiri berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap
pemisahan kristal gula. Molase tidak dapat lagi dibentuk menjadi sukrosa namun
masih mengandung gula dengan kadar tinggi, asam amino dan mineral.
Kandungan gula dalam cairan molase sebesar 75% dan bahan kering sebesar 62%
(Dellweg, 1983).

2.3.3 Sumber Nitrogen
Nitrogen di perairan biasanya ditemukan dalam bentuk ammonia (NH3),
ammonium (NH4+), nitrit (NO2-) dan nitrat (NO3-) serta beberapa senyawa
nitrogen organik lainnya. Senyawa-senyawa nitrogen ini sangat dipengaruhi oleh
kandungan oksigen dalam air, pada saat kandungan oksigen rendah nitrogen
berubah menjadi ammonia (NH3) dan saat kandungan oksigen tinggi nitrogen
berubah menjadi nitrat (NO3) (Welch, 1980).
Secara garis besar konversi N oleh organisme akuatik yang terdapat dalam air dan
sedimen dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu konversi secara fotoautotrofik
oleh alga dan tanaman air, secara kemoautotrofik melalui oksidasi oleh bakteri
nitrifikasi dan secara immobilisasi melalui heterotrofik oleh bakteri heterotrof
(Ebeling et al., 2006). Secara teoritis, Mara (2004) dan Ebeling et al. (2006)
menyatakan bahwa konversi nitrogen melalui proses immobilisasi bakteri

14

heterotrof berlangsung 40 kali lebih cepat daripada melalui proses fotoautotrofik
alga/tanaman air dan kemoautotrofik oleh bakteri nitrifikasi.
Nitrogen dalam sistem akuakultur terutama berasal dari pakan buatan yang
biasanya mengandung protein dengan kisaran 13 - 60% (2 - 10% N) tergantung
pada kebutuhan dan stadia organisme yang dikultur (Gross dan Boyd 2000;
Stickney, 2005). Protein dalam pakan akan dicerna namun hanya 20 - 30% dari
total nitrogen dalam pakan dimanfaatkan menjadi biomassa ikan, sisa nitrogen
pada pakan berupa sisa metabolisme berupa urine dan feses serta pakan yang tidak
termakan (Brune et al., 2003).
Katabolisme protein dalam tubuh organisme akuatik menghasilkan ammonia
sebagai hasil akhir dan diekskresikan dalam bentuk ammonia (NH3) tidak
terionisasi melalui insang (Ebeling et al., 2006; Hargreaves, 1998). Pada saat yang
sama, bakteri memineralisasi nitrogen organik dalam pakan yang tidak termakan
dan feses menjadi ammonia (Gross and Boyd, 2000). Sebagai akibat dari
berlangsungnya kedua proses ini, aplikasi pakan berprotein tinggi dalam sistem
budidaya akan menghasilkan akumulasi ammonia baik sebagai hasil ekskresi dari
organisme yang dikultur maupun hasil mineralisasi bakteri.
Keberadaan ammonia tidak terionisasi (NH3) di dalam media budidaya sangat
dihindari karena bersifat toksik bagi organisme akuatik bahkan pada konsentrasi
yang rendah. Stickney (2005) menyatakan bahwa konsentrasi ammonia dalam
media budidaya harus lebih rendah dari 0,8 mg/L untuk menghindari munculnya
efek toksik ammonia pada organisme akuatik.

15

2.3.4 Ketersediaan Aerasi
Ekasari (2009) menyatakan bahwa kepadatan bakteri yang tinggi dalam air akan
menyebabkan kebutuhan oksigen yang lebih tinggi sehingga aerasi untuk
penyediaan oksigen dalam penerapan teknologi bioflok merupakan hal yang
sangat diperlukan. Selain berperan dalam penyediaan oksigen, aerasi juga
berfungsi untuk mengaduk air agar bioflok yang tersuspensi dalam kolom air
tidak mengendap. Pengendapan bioflok di dasar wadah harus dihindari selain
untuk mencegah terjadinya kondisi anaerobik di dasar wadah akibat akumulasi
bioflok, juga untuk memastikan bahwa bioflok tetap dapat dikonsumsi oleh
organisme budidaya.

2.4 Manajemen Kualitas Air
Ada beberapa parameter kualitas air yang harus diperhatikan serta dijaga agar
pertumbuhan dan perkembangan benih ikan berjalan dengan optimal. Azim dan
Little (2008) mengemukakan bahwa kualitas air di wadah pemeliharaan dengan
perlakuan teknologi bioflok pada pemeliharaan ikan nila cenderung tidak stabil.
Tingginya aktivitas respirasi mikroba dalam sistem bioflok juga menyebabkan
terjadinya fluktuasi pada pH dan alkalinitas. Meningkatnya kekeruhan akibat
tingginya padatan tersuspensi juga mempengaruhi kemampuan melihat pada ikan,
sehingga berpengaruh pada jumlah pakan yang dimakan. Laju akumulasi bahan
organik, laju peningkatan biomassa bakteri, serta laju konsumsi bioflok oleh
organisme budidaya merupakan faktor yang harus diketahui untuk mengontrol
konsentrasi flok yang optimal agar sejalan dengan manajemen kualitas air yang
baik (Azim et al., 2008).

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-April 2015,
bertempat di Laboratorium Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut: kolam terpal ukuran 0,5x0,5x0,5
m sebanyak 12 unit, kolam beton ukuran 2x1 m sebanyak 2 unit, blower,
termometer, DO meter, pH meter, timbangan digital, scoop net, alat tulis, ember
plastik, penggaris, kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih
ikan lele berukuran 5-6 cm dengan bobot 2-2.5 gram/ekor sebanyak 120 ekor, air
tawar, molase dan biakan bakteri Bacillus sp.

3.3 Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL), yang terdiri atas satu kontrol dan tiga perlakuan yang masing-masing tiga
kali ulangan.

17

Perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Perlakuan A (kontrol) = Pemberian pakan 100 % pelet komersial selama
pemeliharaan ikan lele sangkuriang.
2. Perlakuan B = Pemberian pakan yang terdiri dari penambahan 5 % tepung
bioflok dengan 95% pelet komersial selama pemeliharaan ikan lele
sangkuriang.
3. Perlakuan C = Pemberian pakan yang terdiri dari penambahan 10 %
tepung bioflok dengan 90 % pelet komersial selama pemeliharaan ikan lele
sangkuriang.
4. Perlakuan D = Pemberian pakan yang terdiri dari penambahan 15 %
tepung bioflok dengan 85% pelet komersial selama pemeliharaan ikan lele
sangkuriang.

Model linear yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan uji
Annova yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = µ + τi + ∑ij
Keterangan :
i

: Perlakuan A, B, C, D

j

: Ulangan 1, 2, dan 3

Yij : Nilai pengamatan dari penambahan tepung bioflok dengan dosis yang
berbeda ke-i terhadap pertumbuhan ikan lele pada ulangan ke-j
µ

: Nilai tengah umum

τi : Pengaruh penambahan tepung bioflok dengan dosis yang berbeda ke-i

18

terhadap pertumbuhan ikan lele
∑ij : Pengaruh galat percobaan pada penambahan tepung bioflok dengan dosis
yang berbeda ke-i terhadap pertumbuhan ikan lele pada ulangan ke-j

Adapun tata letak kolam yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut :

A1

B3

C3

B1

B2

D1

D2

A3

A2

C1

D3

C2

Gambar 3. Tata Letak Kolam Ikan Lele Sangkuriang

3.4 Prosedur Penelitian
3.4.1 Pembuatan Pakan Bioflok
Proses pembuatan pakan bioflok sebagai berikut:
1. Wadah kolam semen ukuran 2x1 m diisi air sebanyak 500 liter.
2. Sebanyak 250 gram pakan (protein 28%) ditambah dengan 236 gram molase
dimasukkan ke dalam kolam dan diaerasi menggunakan blower.
3. Pada tahap pembuatan bioflok rasio C:N yang digunakan 20:1.

19

4. Biakan bakteri Bacillus sp. sebanyak 50 ml kepadatan 106 CFU/ml dimasukkan
ke dalam kolam.
5. Proses pembentukan bioflok berlangsung selama 15 hari.
6. Setelah bioflok terbentuk, bioflok diendapkan 1-2 jam kemudian bioflok
dipanen menggunakan scoop net.
7. Bioflok dikering anginkan selama kurang lebih 24 jam. Bioflok yang telah
kering dihaluskan menjadi tepung dan dicampurkan dengan pelet komersial
sesuai dengan perlakuan yang digunakan.

3.4.2 Pelaksanan Percobaan
a. Persiapan Wadah dan Ikan Uji
Proses persiapan wadah dan ikan uji sebagai berikut:
1. Wadah pemeliharaan yang digunakan berupa kolam terpal berukuran
0,5x0,5x0,5 m sebanyak 12 unit.
2. Kolam pemeliharaan ikan uji terlebih dahulu diberi label.
3. Masing-masing kolam diisi air sebanyak 30 liter dan diendapkan selama 24
jam.
4. Benih ikan lele yang digunakan berukuran 5-6 cm/ekor dengan bobot 2-2.5
gram/ekor.
5. Benih ikan lele yang digunakan harus sehat, tidak terdapat luka atau cacat pada
tubuhnya serta dapat berenang aktif. Benih ikan lele yang digunakan dibeli dari
lokasi yang sama.
6. Sebelum dimasukan ke dalam kolam pemeliharaan, benih ikan lele terlebih
dahulu ditimbang untuk mengetahui berat awal (Wo) kemudian diaklimatisasi

20

dengan cara membiarkan benih ikan lele selama beberapa menit sehingga benih
ikan lele masuk ke dalam kolam pemeliharaan dengan sendirinya.

b. Pemeliharaan Ikan Uji
Prosedur pemeliharaan ikan uji yaitu sebagai berikut:
1. Pemeliharaan ikan uji dilakukan selama 35 hari.
2. Benih ikan lele berukuran 5-6 cm dengan kepadatan 1 ekor/3 liter dimasukkan
ke dalam masing-masing kolam pemeliharaan.
3. Benih ikan lele diberi pakan 5 % dari biomassa dengan frekuensi pemberian
pakan sebanyak 3 kali pada pukul 08.00 WIB, 17.00 WIB dan 20.00 WIB.

c. Sampling Pertumbuhan
Proses sampling pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang sebagai berikut:
1. Sampling pertumbuhan benih ikan lele dilakukan setiap 7 hari sekali.
2. Lima ekor sampel ikan diambil pada masing-masing unit percobaan.
3. Sampling dilakukan dengan menggunakan wadah plastik, timbangan digital,
dan scoop net.
4. Metode sampling yaitu terlebih dahulu berat wadah plastic dikalibrasi
kemudian ikan yang telah diambil menggunakan scoop net ditimbang.

d. Pengukuran kualitas air
Variabel kualitas air yang diukur selama penelitian meliputi suhu, pH dan DO
yang dilakukan setiap 7 hari sekali dan uji ammonia pada awal, tengah dan
akhir pemeliharaan ikan lele sangkuriang.

21

3.4.3 Pengambilan Data
a. Pertumbuhan Berat Mutlak
Pertumbuhan berat mutlak ditetapkan berdasarkan pertambahan biomassa mutlak
ikan uji pada setiap unit percobaan. Pertumbuhan berat mutlak dihitung dengan
menggunakan rumus (Effendi, 1997):
Wm = Wt - Wo

Keterangan:
W : pertumbuhan berat mutlak
Wt : bobot rata-rata ikan uji pada akhir pemeliharaan
Wo : bobot rata-rata ikan uji pada awal pemeliharaan

b. Laju Pertumbuhan Harian (LPH)
Laju pertumbuhan harian dihitung dengan menggunakan rumus (Purnomo, 2012).
GR = Wt –Wo
t

Keterangan :
GR : Laju pertumbuhan harian (g/hari)
Wt

: Bobot rata-rata ikan pada hari ke-t (g)

Wo : Bobot rata-rata ikan pada hari ke-0 (g)
t

: Waktu pemeliharaan (hari)

22

c. Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup adalah tingkat perbandingan jumlah ikan yang hidup dari
awal hingga akhir penelitian. Kelangsungan hidup dapat dihitung dengan rumus
(Effendi, 1997) :
SR = Nt x 100 %
No
Keterangan :
SR : Kelangsungan hidup (%)
Nt : Jumlah ikan akhir (ekor)
No : Jumlah ikan awal (ekor)

d. Feed Convension Ratio (FCR)
Feed conversion ratio merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang
diberikan dengan daging ikan yang dihasilkan. Feed conversion ratio dapat
dihitung dengan menggunakan rumus (Effendi, 1997) :
FCR =

F

(Wt - Wo)
Keterangan :
FCR : Feed Conversion Ratio
F

: Jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (kg)

Wt

: Biomassa akhir (kg)

Wo : Biomassa awal (kg)

23

e. Protein Efficiency Ratio (PER)
Protein efficiency ratio (PER) dapat dihitung menggunakan rumus (Bhilave et al,
2012) :
PER =

Penambahan Bobot (g)
Kandungan Protein dalam Pakan (g)

3.4.4 Analisis Data
Pengaruh perlakuan terhadap variabel pengamatan dianalisis dengan mengunakan
analisis ragam (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95%. Apabila hasil uji antar
perlakuan berbeda nyata maka akan dilakukan uji lanjut beda nyata terkecil
(BNT).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Penambahan tepung bioflok sebagai suplemen pakan memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang. Pakan dengan penambahan
15% tepung bioflok dan 85% pelet komersial merupakan perlakuan terbaik selama
pemeliharaan ikan lele sangkuriang.

5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pemberian dosis tepung bioflok yang
lebih tinggi pada benih ikan lele sangkuriang.

DAFTAR PUSTAKA

Angka SL, I. Mokoginta, and H. Hamid. 1990. Anatomi dan Histologi beberapa
Ikan Air Tawar yang Dibudidayakan di Indonesia. Depdikbud, Dikti.
IPB. Bogor. 212 hlm.
Avnimelech, Y. 1999. Carbon/Nitrogen Ratio As A Control Element In
Aquaculture Systems. Aquaculture, 176: 227-235.
Avnimelech, Y and G. Rivo. 2003. Shrimp and fish pond soils: processes and
management. Aquaculture. 220:549-567.
Avnimelech,Y. 2007. Feeding with microbial flocs by tilapia in minimal
discharge bio-flocs technology ponds. Aquaculture. 264: 140-147.
Avnimelech, Y. 2009. Biofloc Technology. A Pratical Guide Book. World
Aquacultur Society. Technion Israel Institute of Technology.
Azim, M.E., D. Little. and B. North. 2007. Growth and Welfare of Nile Tilapia
(Oreochromis niloticus) Cultured Indoor Tank using Biofloc Technology
(BFT). Presentation in Aquacultured 2007, 26 February-3 March 2007.
Sna Antonio, Texas, USA.
Bhilave, M.P., Bhosale, S.V., dan Nadaf, S.D. 2012. Protein eficiemcy ratio
(PER) of Stenopharengedon idella fed on soyabean formulated feed.
Biological forum-an international journal, 4 (1): 79-81.
Brune D.E, G Schwartz, AG Eversole, JA Collier, and TE Schwedler. 2003.
Intensification Of Pond Aquaculture And High Rate Photosynthetic
System. Aquaculture Engineering. 28: 65-86.
Crab, R. M. Kochva, W. Verstraete, and Y. Avnimelech. 2009. Biofloc
technology application in over-wintering of tilapia. Aquaculture
Engineering, 40: 105-112.
Craig, S. and L.A. Helfrich. 2002. Understanding fish nutrition, feeds, and
feeding. Virginia Cooperative Extension, Virginia Polytechnic Institute
and State University, Publication number. 420-256.

De Schryver P., R. Crab. T Detroit. N Boon., and W Verstrate. 2008. The Basic of
Bioflock Technology: The Added Value For Aquaculture. Aquaculture.
227:125-137.
De Schryver, P.D. 2010. Poly-β-hydroxybutyrate as a microbial agent in
aquaculture. Disertasi Ghent University. Faculty of Bioscience
Engineering, 237 hal.
Dellweg. 1983. “Biotechnology”. Vol 3 Chemie. Weinheim.
Ebeling, J.M., M.B. Timmons, and J.J Bisogni, 2006. Engineering Analysis of
The Stoichiometry of Photoautotrophic, Autotrophic and Heterotrophic
Removal of Ammonia-Nitrogen in Aquaculture Sistems. Aquaculture,
257, 346-358.
Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan pustaka nusantara. Bogor.163
hal.
Ekasari J. 2008. Bio-Flocs Technology: The Effect Of Different Carbon Source,
Salinity And The Addition Of Probiotics On The Primary Nutritional
Value Of The Bio-Flocs. Tesis. Gent: Faculty Of Bioscience
Engineering. Ghent University. [FAO] Food and Agricultural
Organization. 2007. The State of World Fisheries.
Ekasari J. 2009. Bioflocs Technology: Theory and Application in Intensive
Aquaculture System. Jurnal Akuakultur Indonesia, 8(2): 117-126.
Ekavianti, R. 2004. Laju Pertumbuhan Benih Ikan Botia (Botia macracanthus
Bleeker) yang Dipelihara Dalam Sistem Resirkulasi Dengan Frekuensi
Pemberian Pakan yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Teknologi dan
Manajemen Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institusi
Pertanian Bogor. Bogor.
Fenemma, O.R., 1976. Principle of Food Science Part I, Food Chemistry. Marcel
Dekker Inc, New York.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka
Cipta. Jakarta. 179 hlm.
Gross A, and C.E Boyd. 2000. Nitrogen Transformations And Balance In Chanel
Catfish Ponds. Aquaculture Engineering, 24: 1-14.Hargreaves, J.A.,
1998. Nitrogen Biogeochemistry of Aquaculture Ponds. Aquaculture,
166, 181-212.
Hargreaves, J.A. 2013. Biofloc Production System for Aquaculture. Southern
Regional Aquaculture Center Publication. 4503: 12.

Hari, B., K Madhusoodana, J.T., Varghese, J.W Schrama, and M.C.J Verdegem.
2004. Effects of carbohydrate addition on production in extensive
shrimp culture sistems. Aquaculture, 241: 179-194.
Harper, L. J., B. Deaton, and J. A. Driskel. 1988. Food Nutrition And Agriculture
(diterjemahkan oleh Suhardjo). Jakarta. Universitas Indonesia.
Hepher, B., dan Y. Pruginin. 1984. Commercial Fish Farming with Special
Reference to Fish Culture in Israel. John Willey and Sons, New Yor

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23