Pengolahan dan Analisis Data Pembahasan

Skala Ukur : Nominal Hasil Ukur : Hasil dikelompokan berdasarkan pasien derita hipertensi atau tidak. 6 Merokok : Pasien yang derita SKA dan ada kebiasaan merokok atau tidak seperti yang tertulis di dalam rekam medis. Cara Ukur : Observasi Alat Ukur : Rekam medis Hasil Ukur : Merokok atau tidak Skala Ukur : Ordinal 7 Diabetes melitus : penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi kerana kelainan insulin, kerja insulin atau keduanya dengan KGD puasa 126mgdl, KGD 2jam PP 180mgdl, KGD sewaktu 140mgdl Cara Ukur : Observasi Alat Ukur : Rekam medis Hasil Ukur : Pasien mempunyai diabetes mellitus atau tidak Skala Ukur : Nominal

4.6 Pengolahan dan Analisis Data

Data yang dikumpulkan akan diperiksa dan diolah dengan bantuan program komputer dan dimasukkan ke dalam data. Universitas Sumatera Utara BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Proses pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 6 November sampai 14 November 2016 di RSUP Haji Adam Malik, Medan dengan total sampel sebanyak 202 orang.

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Instalasi Rekam Medis, RSUP Haji Adam Malik, Medan. Pada mula didirikan, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik merupakan Rumah Sakit Umum Kelas A di Medan yang berdasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 335MenkesSKVII1990.Rumah sakit ini sebagian besar adalah rumah sakit pendidikan yang cukup besar dan luas dengan hubungan khusus ke Fakultas kedokteran, rumah sakit ini yang digolongkan kepada RSUP H. Adam Malik. RSUP H. Adam Malik ini beralamat di Jalan Bunga Lau no.17, Medan, terletak di kelurahan Kemenangan, kecamatan Medan Tuntungan. Letak RSUP H. Adam Malik ini agak berada di daerah pedalaman yaitu berjarak +- 1km dari Jalan Jamin Ginting yang merupakan jalan raya menuju ke arah Brastagi.

5.1.2 Karakteristik Sampel Penelitian

Sampel untuk penelitian ini adalah data rekam medis pasien yang menderita sindroma koroner akut yang dirawat di RSUP Haji Adam Malik, Medan dalam masa waktu 1 Januari 2015 - 31 Desember 2016 yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sampel penelitian diambil sebanyak 202 sampel. Universitas Sumatera Utara 5.1.3 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut Tipe SKA Frekuensi n Persentase STEMI 106 52,5 NSTEMI APTS 27 69 13,4 34,1 Total 202 100,0 Tabel 5.1 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan tipe sindroma koroner akut pasien. Berdasarkan data pada Tabel 5.1 frekuensi tertinggi adalah tipe STEMI yaitu 106 52,5,0 orang, terendah adalah tipe NSTEMI yaitu 27 13,4 orang dan diikuti dengan tipe APTS yaitu seramai 69 34,1 orang. Universitas Sumatera Utara 5.1.4 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut Dengan Jenis Kelamin Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut dengan Jenis Kelamin Tipe SKA Jenis Kelamin Total Laki-laki Wanita n n n STEMI 73 50,0 33 58,9 106 52,5 NSTEMI 19 13,0 8 14,3 27 13,4 APTS 54 37,0 15 26,8 69 34,1 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Tabel 5.2 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan tipe sindroma koroner akut dengan jenis kelamin pasien. Berdasarkan data pada Tabel 5.2 frekuensi tertinggi adalah tipe STEMI pada laki-laki yaitu 73 50,0 orang dan 33 58,9 pasien wanita. Diikuti dengan tipe APTS yaitu seramai 54 37,0 pasien laki-laki dan 15 26,8 pasien wanita. Seramai 19 13,0 pasien laki-laki dan 8 14,3 pasien wanita yang didiagnosa dengan tipe NSTEMI. Universitas Sumatera Utara 5.1.5 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut Dengan Usia Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Tipe Sindroma Koroner Akut dengan Usia Tipe SKA Usia Total 40 40-59 60 n n n n STEMI 2 66,7 52 46,0 52 60,5 106 52,5 NSTEMI 1 33,3 14 12,4 12 14,0 50 13,4 APTS 47 41,6 22 25,5 46 34,1 Total 3 100,0 113 100,0 86 100,0 202 100,0 Tabel 5.3 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan tipe sindroma koroner akut dengan usia pasien. Berdasarkan data pada tabel 5.3 frekuensi terbanyak dari kelompok usia 40-59 yaitu 52 46,0 pasien dan kelompok usia 60 seramai 52 60,5 pasien yang didiagnosa dengan STEMI. 47 41,6 pasien dari tipe APTS dari kelompok usia 40-59, diikuti kelompok usia 60 yang didiagnosa dengan tipe APTS seramai 22 25,5 pasien. 14 12,4 pasien didiagnosa dengan tipe NSTEMI dari kelompok usia 40-59 dan seramai 12 14,0 pasien dari kelompok usia 60. Terakhir adalah 2 66,7 pasien dari kelompok usia 40 yang didiagnosa dengan tipe STEMI dan 1 33,3 pasien dari kelompok usia 40 yang didiagnosa dengan tipe NSTEMI. Universitas Sumatera Utara 5.1.6 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi n Persentase Laki-laki 146 72,3 Wanita 56 27,7 Total 202 100,0 Table 5.4 yang menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan jenis kelamin pasien. Berdasarkan data tabel 5.4 jumlah pasien laki-laki lebih banyak jika dibandingkan dengan pasien perempuan. Di mana jumlah pasien laki-laki seramai 146 orang 72,3 dan jumlah pasien wanita seramai 56 orang 27,7. 5.1.7 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kelompok Usia Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kelompok Usia Usia Laki-laki Wanita Total n n n 40 3 2,0 3 1,5 40-59 87 59,6 26 46,4 113 56,0 60 56 38,4 30 53,6 86 42,5 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Universitas Sumatera Utara Tabel 5.5 yang menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma korone akut berdasarkan kelompok usia pasien. Jumlah pasien yang paling sedikit dijumpai dalam kelompok usia 40 tahun yaitu 3 orang 1,5, jumlah paling banyak pasien dijumpai dalam kelompok usia 60 tahun yaitu 93 orang 46,0 dan kelompok usia 50-59 tahun yaitu 73 orang 36,1 dan diikuti dengan pasien dari kelompok usia 40-49 yaitu 33 orang 16,3 . 5.1.8 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Indeks Massa Tubuh IMT Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan IMT IMT Frekuensi Persentase Kurus 30 14,9 Normal 89 44,0 Overweight 45 22,3 Obese 38 18,8 Total 202 100,0 Tabel 5.6 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan indeks massa tubuh IMT pasien. Jumlah pasien paling banyak dijumpai dalam kelompok normal seramai 89 44,0 orang. Diikuti oleh kelompok overweight berjumlah 45 22,3 orang dan obese seramai 38 18,8 orang. Jumlah pasien yang paling sedikit dari kelompok kurus yaitu 30 14,9 orang. Universitas Sumatera Utara 5.1.9 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia. Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia Dislipidemia Frekuensi n Persentase Ya 124 61,4 Tidak 78 38,6 Total 202 100,0 Tabel 5.7 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan dislipidemia. Berdasarkan data pada Tabel 5.7 124 pasien 61,4 mempunyai dislipidemia dan 78 pasien 38,6 tidak mempunyai dislipidemia. 5.1.10 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia Dengan Jenis Kelamin Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia Dengan Jenis Kelamin Dislipidemia Jenis Kelamin Total Laki-laki Wanita n n n Ya 109 74,7 15 26,8 124 61,4 Tidak 37 25,3 41 73,2 78 38,6 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Universitas Sumatera Utara Tabel 5.8 menunjukkan distribusi frekuensi dislipidemia berdasarkan jenis kelamin. Seramai 109 74,7 pasien laki-laki dan 15 26,8 pasien wanita yang mempunyai dislipidemia. Seramai 37 25,3 pasien laki-laki dan 41 73,2 pasien wanita yang tidak mempunyai dislipidemia. 5.1.11 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia Dengan Usia Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Dislipidemia Dengan Usia Dislipidemia Usia Total 40 40-59 60 n n n n Ya 3 2,4 66 53,2 55 44,4 124 61,4 Tidak 47 60,3 31 39,7 78 38,6 Total 3 1,5 113 55,9 86 42,6 202 100,0 Tabel 5.9 menunjukkan tabel distribusi frekuensi dislipidemia berdasarkan usia pasien sindroma koroner akut. Berdasarkan data kelompok usia 40-59 tahun mempunyai pasien yang paling tinggi mempunyai dislipidemia yaitu 113 55,9 pasien diikuti oleh kelompok usia 60 tahun yaitu 86 42,6 pasien dan paling rendah adalah dari kelompok usia 40 tahun yaitu 3 1,5 pasien yang mempunyai dislipidemia. Universitas Sumatera Utara 5.1.12 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Profil Lipid Tabel 6.0 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Profil Lipid Profil Lipid Frekuensi n Persentase Trigliserida Normal Abnormal 82 120 40,6 59,4 Total 202 100,0 Kadar HDL Normal Abnormal 98 104 48,5 51,5 Total 202 100,0 Kadar LDL Normal Abnormal 91 111 45,0 55,0 Total 202 100,0 Kolesterol Total Normal Abnormal 91 111 45,0 55,0 Total 202 100,0 Tabel 6.0 menunjukkan distribusi frekuensi profil lipid. Profil lipid terdiri dari trigliserida, HDL, LDL dan kolesterol total. Seramai 120 59,4 pasien yang mempunyai kadar trigliserida yang abnormal dan diikuti oleh 82 40,6 pasien yang kadar trigliserida normal. Menurut data dari tabel 6.0 , pasien yang mempunyi kadar HDL berjumlah normal 98 48,5 orang dan pasien yang mempunyai kadar HDL yang abnormal Universitas Sumatera Utara berjumlah 104 51,5 orang. Bagi kadar LDL pulak seramai 111 55,0 pasien yang mempunyai kadar LDL yang abnormal dan 91 45,0 pasien yang mempunyai kadar LDL yang normal. 111 55,0 pasien yang mempunyai kadar kolesterol total yang abnormal dan 91 45,0 pasien yang mempunyai kadar kolesterol yang normal. 5.1.13 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus Tabel 6.1 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus Diabetes Melitus Frekuensi n Persentase Ya 136 67,3 Tidak 66 32,7 Total 202 100,0 Tabel 6.1 menunjukkan data frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan diabetes melitus. Dari tabel 6.1, seramai 136 67,3 orang pasien yang didiagnosa dengan diabetes melitus dan 66 32,7 orang pasien tidak menghidap diabetes melitus. Universitas Sumatera Utara 5.1.14 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus Dengan Jenis Kelamin Tabel 6.2 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus dengan Jenis Kelamin Diabetes melitus Jenis Kelamin Total Laki-laki Wanita n n n Ya 99 678 37 66,1 136 67,3 Tidak 47 32,2 19 33,9 66 32,7 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Tabel 6.2 menunjukkan data distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan diabetes melitus dan jenis kelamin. Dari tabel dapat diinterpretasikan bahwa 99 67,8 orang pasien laki-laki dan 37 66,1 orang pasien wanita yang menderita diabetes melitus. 47 32,2 pasien laki-laki dan 19 33,9 pasien wanita yang tidak mempunyi diabetes melitus. 5.1.15 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus Dengan Usia Tabel 6.3 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Diabetes Melitus dengan Usia Diabetes Melitus Usia Total 40 40-59 60 n n n Ya 2 66,7 72 63,7 62 72,1 136 67,3 Tidak 1 33,3 41 36,3 24 27,9 66 32,7 Total 3 100,0 113 100,0 86 100,0 202 100,0 Universitas Sumatera Utara Tabel 6.3 menunjukkan distribusi sampel sindroma koroner akut berdasarkan diabetes melitus dan usia. Dari data di tabel 6.3 menunujukkan kelompok usia 40-59 tahun paling ramai mempunyai diabetes melitus yaitu 72 63,7 orang, diikuti dari kelompok usia 60 tahun berjumlah 62 72,1 orang dan paling sedikit dari kelompok usia 40 tahun yaitu 2 66,7 orang pasien yang didiagnosa dengan diabetes melitus. Sebanyak 41 36,3 orang dari kelompok usia 40-59 tahun tidak mempunyai diabetes melitus, diikuti kelompok usia 60 tahun seramai 24 27,9 orang dan terakhir kelompok usia 40 tahun yaitu 1 33,3 orang yang tidak mempunyai diabetes melitus. 5.1.16 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi Tabel 6.4 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi Hipertensi Frekuensi n Persentase Ya 159 78,7 Tidak 43 21,3 Total 202 100,0 Tabel 6.4 menunjukkan distribusi frekuensi sampel yang didiagnosa dengan sindroma koroner akut berdasarkan hipertensi. Berdasarkan data pada Tabel 6.4, 159 78,7 pasien mempunyai hipertensi dan 43 21,3 pasien yang tidak mempunyai hipertensi. Universitas Sumatera Utara 5.1.17 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi Dengan Jenis Kelamin Tabel 6.5 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi dengan Jenis Kelamin Hipertensi Jenis Kelamin Total Laki-laki Wanita n n n Ya 120 82,2 39 69,6 159 78,7 Tidak 26 17,8 17 30,4 43 21,3 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Tabel 6.5 menunjukkan distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan hipertensi dengan jenis kelamin. Data menunjukkan ramai pasien laki-laki yang mempunyai hipertensi yaitu 120 82,2 orang, diikuti dengan 39 69,6 pasien wanita. Seramai 17 30,4 pasien wanita yang tidak mempunyai hipertensi diikuti dengan pasien laki-laki yaitu 26 17,8 orang yang tidak mempunyai hipertensi. 5.1.18 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi Dengan Usia Tabel 6.6 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Hipertensi dengan Usia Hipertensi Usia 40 40-59 60 Total n n n n Ya 3 100,0 113 100,0 43 50,0 159 78,7 Tidak 100,0 0 43 50,0 43 21,3 Total 3 100,0 113 100,0 86 100,0 202 100,0 Universitas Sumatera Utara Tabel 6.6 menunjukkan data distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan hipertensi dengan usia. 113 100,0 pasien yang mempunyai hipertensi dari kelompok usia 40-59 tahun, diikuti dengan kelompok usia 60 tahun yaitu 43 50,0 orang dan 3 100,0 orang dari kelompok usia 40 tahun. Bagi kelompok pasien yang tidak mempunyai hipertensi pulak paling ramai dari kelompok usia 60 tahun yaitu 43 50,0 orang dan tiada pasien dari kelompok usia 49-50 tahun dan 40 tahun. 5.1.19 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok Tabel 6.7 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok Merokok Frekuensi n Persentase Ya 109 54 Tidak 93 46 Total 202 100,0 Tabel 6.7 menunjukkan distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan kebiasaan merokok. Dari tabel dapat disimpulkan 109 54 pasien yang mempunyai kebiasaan merokok dan 93 46 pasien yang tidak mempunyai kebiasaan merokok. Universitas Sumatera Utara 5.1.20 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok Dengan Jenis Kelamin Tabel 6.8 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok dengan Jenis Kelamin Merokok Jenis Kelamin Total Laki-laki Wanita n n n Ya 108 74 1 1,8 109 54 Tidak 38 26 55 98,2 93 46 Total 146 100,0 56 100,0 202 100,0 Tabel 6.8 menunjukkan distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan kebiasaan merokok dengan jenis kelamin. Mengikut data sebanyak 108 74 pasien laki-laki yang mempunyai kebiasaan merokok diikuti oleh 1 1,8 pasien wanita. Sebanyak 55 98,2 pasien wanita yang tidak mempunyai kebiasaan merokok dan diikuti dengan 38 26 pasien laki-laki. 5.1.21 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok Dan Usia Tabel 6.9 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Kebiasaan Merokok Dan Kelompok Usia Merokok Usia Total 40 40-59 60 n n n n Ya 3 100,0 68 60,2 38 44,2 109 54 Tidak 45 39,8 48 55,8 93 46 Total 3 100,0 113 100,0 86 100,0 202 100,0 Universitas Sumatera Utara Tabel 6.9 menunjukkan distribusi frekuensi sampel sindroma koroner akut berdasarkan kebiasaan merokok dengan kelompok usia. Kelompok usia yang paling ramai mempunyai kebiasaan merokok yalah dari kelompok usia 40-59 tahun berjumlah 68 60,2, diikuti oleh kelompok usia 60 tahun berjumlah 38 44,2 orang dan 3 100,0 orang dari kelompok usia 40 tahun. Seramai 48 55,8 orang pasien dari kelompok usia 60 tahun tidak mempunyai kebiasaan merokok, diikuti oleh 45 39,8 orang dari kelompok usia 40-59 tahun. Universitas Sumatera Utara

5.1.22 Distribusi Frekuensi Sampel Yang Didiagnosa Dengan SKA Berdasarkan Semua Faktor Resiko

Tabel 7.0 Distribusi Frekuensi Sampel Sindroma Koroner Akut Berdasarkan Semua Faktor Resiko Faktor Resiko STEMI NSTEMI APTS L W L W L W Usia 40 40-59 60 2 36 35 16 17 1 10 8 4 4 41 13 6 9 Total 73 33 19 8 54 15 IMT Kurus Normal Overweight Obese 5 32 15 21 8 13 8 4 4 8 2 5 3 5 5 24 18 7 5 7 2 1 Total 73 33 19 8 54 15 Dislipidemia Ya Tidak 59 14 9 24 11 8 3 5 39 15 3 12 Total 73 33 19 8 54 15 DM Ya Tidak 47 26 21 12 12 7 5 3 41 13 10 5 Total 73 33 19 8 54 15 Hipertensi Ya Tidak 56 17 23 10 14 5 4 4 50 4 12 3 Total 73 33 19 8 54 15 Merokok Ya Tidak 52 21 33 8 11 1 7 48 6 15 Total 73 33 19 8 54 15 Universitas Sumatera Utara

5.2 Pembahasan

Dari hasil penelitian ini didapatkan gambaran pasien sindroma koroner akut SKA yang dirawat di RSUP Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2015 paling banyak dalam kelompok tipe STEMI yaitu 106 52,5 pasien, diikuti dengan tipe APTS 69 34,1 pasien, dan tipe NSTEMI seramai 27 13,4 pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ranjith et al., 2011, kejadian SKA tipe STEMI terbanyak yaitu 75. 47 Penelitian oleh Zahara et al.,2013 juga menunjukkan hasil yang sama bahwa gambaran kejadian SKA terbanyak adalah kejadian tipe STEMI. 48 Berdasarkan hasil penelitian, pasien sindroma koroner akut di RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015 lebih banyak adalah laki-laki yaitu 146 72,3 pasien dibanding dengan pasien wanita 56 27,7 pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ariandiny et al., 2014 dimana pasien laki-laki berjumlah 65 74 orang dan pasien wanita berjumlah 23 26 pasien. 49 Hal ini disebabkan karena resiko aterosklerosis lebih besar pada laki-laki daripada wanita. Menurut Zahara et al.,2013 hal ini terjadi karena sebelum menopause, pembuluh darah wanita dilindungi estrogen. 48 Dari hasil penelitian, usia pasien sindroma koroner akut di RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015 yang terendah dari kelompok umur 40 tahun yaitu 3 1,5 pasien, terbanyak dari kelompok usia 40-59 yaitu 113 55,9 pasien, diikuti oleh kelompok usia 60 tahun yaitu 86 42,6 pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Zahara et al.,2013 bahwa kejadian sindrom koroner akut terendah pada kelompok usia 40 tahun yaitu 2 2,04 pasien, kelompok usia 40-60 tahun paling tinggi yaitu 57 58,16 pasien, dan 60 tahun berjumlah 39 39,94 pasien. Insiden sindroma koroner akut meningkat pada umur 45 tahun pada laki-laki dan umur 55 tahun pada perempuan. 48 Berdasarkan hasil penelitian, pasien sindroma koroner akut di RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015 berdasarkan IMT Indeks Massa Tubuh paling ramai pasien yang didiagnosa dalam kelompok IMT normal yaitu 89 44,0 pasien diikuti Universitas Sumatera Utara dengan pasien dalam kelompok overweight seramai 45 22,3 pasien, kelompok obese seramai 38 18,8 pasien dan kelompok kurus 30 14,9 pasien. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di poliklinik jantung RSUD DR Moewardi Surakarta menunjukkan bahwa IMT pasien penyakit jantung koroner terbanyak pada IMT normal yaitu 12 40 pasien. 49 Hal ini tidak kesesuaian dengan teori yang ada, yaitu kejadian penyakit jantung koroner meningkat dengan meningkatnya IMT. 50 Berdasarkan hasil penelitian ini, pasien sindroma koroner akut di RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015 yang mempunyai dislipidemia berjumlah 124 61,4 pasien dan 78 38,6 pasien tidak mempunyai dislipidemia. Hasil ini sesuai dengan penelitian Zahara et al. 2013 bahawa 54 55,1 pasien mempunyai dislipidemia dan 44 pasien tidak mempunyai dislipidemia 44,9. Dislipidemia yang terjadi akibat peningkatan kolesterol yang menempel didalam pembuluh darah, sehingga terjadi pengendapan kolesterol dalam pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerotik 48 . Berdasarkan hasil penelitian ini, pasien sindroma koroner akut di RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015 seramai 159 78,7 pasien mempunyai hipertensi dan 43 21,3 pasien tidak mempunyai hipertensi. Hasil ini sesuai dengan penilitian yang dilakukan oleh Ariandiny et al.,2014 dimana 88 60,6 pasien mempunyai hipertensi dan 57 39,4 pasien tidak mempunyai hipertensi. 51 Hasil ini mendukung teori bahwa hipertensi merupakan salah satu penyebab tejadinya sindroma koroner akut. Hipertensi tinggi menetap akan menimbulkan trauma terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis koroner lebih sering . 51 Berdasarkan hasil penelitian ini, faktor resiko pasien sindroma koroner akut RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015, seramai 136 67,3 pasien mempunyai diabetes mellitus dan 66 32,7 pasien tidak mempunyai diabetes mellitus. Hal ini sesuai dengan penelitian Torry et al.,2013 dimana 18 72 pasien mempunyai diabetes mellitus dan 7 28 pasien tidak mempunyai diabetes mellitus. Diabetes mellitus dihubungkan dengan stress hiperglikemia. 52 Penelitian lain yang sejalan Universitas Sumatera Utara menunjukkan prevalensi yang tinggi terhadap toleransi glukosa atau DM pada penderita penyakit jantung koroner di RSUP Dr. Kariadi dan RS Telogorejo Semarang yaitu sebanyak 70 53 . Hal ini telah diidentifikasi dalam studi sebelumnya di mana ukuran infark dikaitkan sesuai dari tingkat creatine kinase MB, kortisol, pelepasan katekolamin dan peningkatan linear terkait glukosa darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat memicu trombosis, penurunan fibrinolisis, dan peningkatan respon inflamasi sehingga memprcepat terjadinya atherosklerosis. 54 Berdasarkan hasil penelitian ini, faktor resiko pasien sindroma koroner akut RSUP Haji Adam Malik, Medan 2015, seramai 109 54,0 pasien mempunyai kebiasaan merokok dan 93 46,0 pasien yang tidak mempunyai kebiasaan merokok. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Savia et al.,2012 dimana sebanyak 35 63,6 pasien mempunyai kebiasaan merokok dan 20 36,4 pasien tidak mempunyai kebiasaan merokok. 55 Hal ini sama dengan teori-teori yang menyatakan bahawa merokok merupakan salah satu terjadinya sindroma koroner akut. Merokok dapat mendorong perkembangan aterosklerosis, karena produksi radikal bebas dari rokok menyebabkan cedera pada endotel Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan