modul 4 praktek pelayanan peminatan peserta didik

(1)

MODUL

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI

GURU BK/KONSELOR SMP/MTs

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN

PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN JASMANI DAN BIMBINGAN KONSELING

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013

PRAKTIK PELAYANAN

PEMINATAN PESERTA DIDIK


(2)

i

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Wb.

Tindak lanjut ditetapkannya kurikulum 2013 adalah Implementasi di sekolah yang akan dimulai bulan Juli 2013. Guru sebagai ujung tombak suksesnya implementasi kurikulum perlu diberikan pembekalan yang cukup dalam bentuk pelatihan. Pelatihan dalam rangka implementasi kurikulum akan diikuti oleh guru kelas I, kelas IV, kelas VII, kelas X dan guru bimbingan dan konseling atau konselor.

Guna membekali guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam memahami dan melaksanakan kurikulum 2013, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling (PPPPTK Penjas dan BK) di bawah koordinasi Badan PSDMPK dan PMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengembangkan materi pelatihan dalam bentuk modul yang akan digunakan oleh para peserta dalam mengikuti program pelatihan dimaksud. Modul pelatihan yang disusun berjumlah 5 (lima) modul, masing-masing 1 (satu) modul untuk setiap mata pelatihan, yang terdiri atas:

1. Modul 1: Kurikulum 2013 dan Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling

2. Modul 2: Implementasi Program Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013

3. Modul 3: Pengukuran Peminatan Peserta Didik 4. Modul 4: Praktik Peminatan Peserta Didik

5. Modul 5: Evaluasi, Pelaporan dan Tindak Lanjut Pelayanan Peminatan Peserta Didik

Sebagaimana peruntukkannya, materi pelatihan yang didesain dalam bentuk modul tersebut, dimaksudkan agar dapat dipelajari secara mandiri oleh para peserta pelatihan. Beberapa karakteristik yang khas dari materi pelatihan berbentuk modul tersebut, yaitu: (1) lengkap (self-contained), artinya, seluruh materi yang diperlukan peserta pelatihan untuk mencapai kompetensi dasar tersedia secara memadai; (2) dapat menjelaskan dirinya sendiri (

self-explanatory), maksudnya, penjelasan dalam paket bahan pelatihan

memungkinkan peserta untuk dapat mempelajari dan menguasai kompetensi secara mandiri; serta (3) mampu membelajarkan peserta pelatihan (

self-instructional material), yakni sajian dalam paket bahan pembelajaran ditata

sedemikian rupa sehingga dapat memicu peserta pelatihan untuk secara aktif melakukan interaksi belajar, bahkan menilai sendiri kemampuan belajar yang dicapainya.


(3)

ii

Diharapkan dengan tersusunnya materi pelatihan ini dapat dijadikan referensi bagi peserta yang mengikuti program pelatihan implementasi kurikulum 2013 untuk guru bimbingan dan konseling atau konselor.

Akhirnya pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya kepada tim penyusun, baik para penulis, pengetik, tim editor, maupun tim penilai yang telah mencurahkan pemikiran, meluangkan waktu untuk bekerja keras secara kolaboratif dalam mewujudkan materi pelatihan ini.

Semoga apa yang telah kita hasilkan memiliki makna strategis dan mampu memberikan kontribusi dalam rangka implementasi kurikulum 2013 di sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Wassalamuailaikum Wr. Wb.

Bogor, 1 Agustus 2013

Kepala PPPPTK Penjas dan BK,

Drs. Mansur Fauzi, M.Si. NIP. 1958120319790310011


(4)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……….. i

DAFTAR ISI………. iii

DAFTAR LAMPIRAN………. v

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN………. 1

A. Latar Belakang ………... 1

B. Deskripsi Singkat ………... 2

C. Tujuan Pembelajaran ……… 2

D. Indikator Keberhasilan ……….. 3

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ……….. 3

F. Petunjuk Penggunaan Modul ………... 3

BAB II LAYANAN PEMINATAN DENGAN BIMBINGAN KLASIKAL……... 5

A. Kompetensi dan Tujuan ……….……...…………. 5

B. Uraian Materi ………...………..………... 6

1. Hakekat Bimbingan Klasikal ………... 6

2. Tujuan dan manfaat Bimbingan Klasikal ……….... 7

3. Proses Menyusun Materi Bimbingan Klasikal ……… 9

4. Strategi Bimbingan Klasikal ……….. 10

5. Langkah-langkah Bimbingan Klasikal ………. 12

6. Peran Guru BK/Konselor dalam Bimbingan Klasikal ………… 14

7. Tugas Menyusun Rencana, Melaksanakan Praktik Bimbingan Klasikal, dan Menilai serta Tindak Lanjut Peminatan Peserta Didik ………. 16 BAB III LAYANAN PEMINATANDENGAN BIMBINGAN KELOMPOK……... 17

A. Kompetensi dan Tujuan……... 17

B. Uraian Materi……….. 18

1. Hakekat Bimbingan Kelompok ………..………. 19

2. Tujuan Bimbingan Kelompok ………..……… 20

3. Topik-Topik dan Pihak yang Mendukung Bimbingan Kelompok 23 4. Tahapan Bimbingan Kelompok ………..……….. 27

5. Tugas Menyusun Rencana, Melaksanakan Praktik Bimbingan Kelompok dan Menilai Serta Tindak Lanjut Peminatan Peserta Didik... 35

BAB IV LAYANAN PEMINATAN DENGAN KONSELING INDIVIDUAL….… 37 A. Kompetensi dan tujuan ………. 37


(5)

iv

B. Uraian Materi ………. 38

1. Tujuan dan manfaat Konseling Individual dalam Layanan Peminatan …... 39

2. Proses Menemukan Masalah yang Membutuhkan Layanan Konseling Individual ………..………. 41

3. Strategi Konseling Indivudual dalam Layanan Peminatan …… 42

4. Langkah-langkah Konseling Individual dalam Layanan Peminatan... 43

5. Peran Siswa dan Guru BK Dalam Layanan Konseling Individual ………... 56

6. Menyusun Rencana, Melaksanakan Praktik, Menilai Proses dan Hasil KonseliMng Individual ……… 58

BAB V REKOMENDASI PEMINATAN PESERTA DIDIK ... 59

A. Kompetensi dan tujuan ………. 59

B. Uraian Materi ... 59

1. Pengertian Rekomendasi Peminatan ... 59

2. Tujuan rekomendasi Peminatan ... 60

3. Mekanisme pembuatan rekomendasi peminatan ... 63

4. Membuat rekomendasi peminatan peserta didik ……… 61

C. Latihan ………. 63

D. Rangkuman ………. 63

E. Evaluasi ……… 64

BAB VI PENUTUP………...………..…….. 65

DAFTAR PUSTAKA……….. 66


(6)

v

DAFTAR LAMPIRAN

No Nama Lampiran Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal 68 2. Format Satuan Layanan Bimbingan Kelompok 69

3. Format Peer Assesment 72

4. Format Refleksi Diri 73

5. Jurnal Format Refleksi Diri 74


(7)

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1 : Peta Informasi ... 44


(8)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan kurikulum di sekolah berdampak pada aktivitas pendidik, termasuk guru bimbingan dan konseling atau konselor. Ada penekanan yang perlu mendapatkan perhatian secara proporsional yakni program peminatan peserta didik.

Di muka telah dibahas tentang bimbingan dan konseling dalam konteks kurikulum 2013 dan peran pengukuran dalam peminatan peserta didik. Dalam pembahasan tentang bimbingan dan konseling telah dikemukakan berbagai aspek penting yang harus dilaksanakan konselor di sekolah. Dalam materi pengukuran juga dikemukakan peran-peran konselor di dalamnya dalam mengkonstruksi instrumen tes dan non tes, membaca hasilnya dan menginterpretasikannya terkait peminatan siswa.

Pada bab ini dibahas mengenai bagaimana praktik bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, dan konseling individual dalam program peminatan peserta didik. Dalam bimbingan klasikal, tekanan diberikan pada bagaimana mengajak peserta didik belajar melalui pengalamannya sendiri sehingga dalam pengambilan keputusan peminatan mereka menyadari bahwa itu adalah keputusannya sendiri, bukan keputusan pihak lain yang dipaksakan. Oleh karena itu diterapkan model experiential learning dalam bimbingan klasikal ini. Sedangkan dalam bimbingan kelompok lebih diakomodasi peran kolaborasi diantara anggota kelompok untuk saling mengekalkan keputusannya dalam peminatan di sekolah. Bagian konseling individual merupakan wadah bagi peserta didik yang masih mengalami berbagai persoalan peminatan dimana mereka tidak mampu menyelesaikannya sendiri.

Akhir dari semua jenis pelayanan ini adalah agar semua peserta didik mampu memilih dan mengambil keputusan secara bijak dalam program peminatan mereka. Tentu semua itu akan dapat berjalan dengan baik jika semua guru bimbingan dan konseling secara serius mampu melaksanakan.


(9)

2

B. Deskripsi Singkat

Modul mata diklat Praktik Layanan Peminatan Peserta Didik membahas mengenai wawasan dan praktik layanan Bimbingan dan konseling menggunakan strategi layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual tentang permasalahan yang berkaitan dengan peminatan peserta didik. Disamping itu, dalam modul ini juga membahas praktik membuat rekomendasi peminatan peserta didik

Sajian dalam modul, baik bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual meliputi :

1. Hakekat

2. Tujuan dan Manfaat 3. Proses Menemukan Topik 4. Strategi

5. Langkah-langkah 6. Peran Guru BK

7. Tugas Menyusun Rencana, Melaksanakan Praktik, dan Menilai serta Tindak Lanjut Peminatan Peserta

Peserta diklat diharapkan menyusun rencana pelaksanaan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual untuk dipraktikan. Di samping mempraktikan RPL yang telah disusun, peserta diklat memperoleh feed back

dan atau memberikan feed back tentang praktik pelayanan peminatan tersebut. C. Tujuan Pembelajaran

Setelah diklat dilaksanakan Guru BK atau Konselor:

1. Terampil mempraktikan pelayanan peminatan melalui bimbingan klasikal 2. Terampil mempraktikan pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok 3. Terampil mempraktikan pelayanan peminatan melalui konseling individual 4. Terampil membuat rekomendasi peminatan peserta didik SMP/MTs


(10)

3

D. Indikator Keberhasilan

Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor:

1. Terampil menyusun rencana pelayanan peminatan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual

2. Terampil melaksanakan pelayanan peminatan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual

3. Terampil melakukan penilaian proses dan hasil melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok dan konseling individual

4. Terampil membuat rekomendasi peminatan peserta didik SMP/MTs E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

1. Praktik pelayanan peminatan melalui bimbingan klasikal 2. Praktik pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok 3. Praktik pelayanan peminatan melalui konseling individual 4. Praktek rekomendasi peminatan peserta didik

F. Petunjuk Penggunaan Modul

Modultentang praktik pelayanan peminatan ini dikembangkan untuk membantu peserta dalam program pelatihan ini untuk terampil melaksanakan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling individual dan membuat rekomendasi peminatan peserta didik. Peserta diberi petunjuk untuk melaksanakan pelayanan peminatan mulai dari membaca modul sampai dengan praktik tersupervisi untuk menyiapkan diri untuk melaksanakan layanan peminatan. Dalam pelatihan ini, peserta akan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1. Peserta membaca keseluruhan isi modul

2. Peserta memperhatikan tayangan video tentang praktik layanan;

3. Atas dasar bacaan dalam modul dan tayangan video, peserta merefleksi diri akan kesediaan diri untuk melaksanakan layanan dan penguasaan atas materi yang sedang dipelajari;


(11)

4

4. Peserta menyusun rencana bimbingan yang sedang dipelajari;

5. Peserta mempraktikkan rencana pelayanan yang telah disusun dalam kelompok-kelompok diamati oleh sejawat;

6. Peserta mempraktikkan membuat rekomendasi peminatan peserta didik 7. Peserta secara bersama-sama dengan instruktur melakukan evaluasi dan

merencanakan tindak lanjut.

Waktu yang digunakan dalam pelatihan ini sangat terbatas, oleh karena itu peserta harus pandai dan bijak dalam menggunakan waktu yang terbatas tersebut.

Setiap peserta diharapkan mampu mengenali domain tujuan instruksional dan memahami benar bahwa pelatihan ini berangkat dari motivasi yang kuat untuk memberikan pelayanan peminatan secara prima. Ini sebagai tujuan afektif pelatihan. Atas dasar motivasi yang kuat, peserta diharapkan mampu secara tuntas memahami isi kajian dan pada gilirannya sanggup untuk mempraktikkannya untuk kemaslahatan peserta didik, sekolah, dan orang tua. Sebagai format latihan, silakan dipelajari pada lampiran modul ini.


(12)

5

BAB II

LAYANAN PEMINATAN DENGAN BIMBINGAN KLASIKAL

A. Kompetensi dan Tujuan

Kompetensi Peserta Pelatihan

Peserta terampil mempraktikan pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal.

Indikator Ketercapaian Kompetensi

1. Menyusun rencana pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal. 2. Melaksanakan pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal. 3. Melakukan penilaian pelaksanaan pelayanan peminatan melalui format

layanan klasikal. Kegiatan Pelatihan

1. Praktik menyusun rencana pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal.

2. Praktik pelaksanaan pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal. 3. Praktik penilaian pelaksanaan pelayanan peminatan melalui layanan

klasikal.

Tujuan Pelatihan Bimbingan Klasikal Sikap

Kreatif dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal.

Pengetahuan

Prosedur pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal. Keterampilan

Merencanakan, melaksanakan, dan menilai pelayanan peminatan melalui format layanan klasikal.


(13)

6

B. Uraian Materi

Bimbingan klasikal digunakan sebagai strategi pemberian informasi tentang jenis, persyaratan, kriteria, kuota di satuan sekolah. Bisa juga sebagai strategi menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh banyak peserta didik. Layanan peminatan peserta didik merupakan program bimbingan dan konseling yang berada dalam lingkup bidang bimbingan belajar dan bimbingan karir. Layanan peminatan peserta didik meliputi layanan pemilihan dan penempatan, layanan pendampingan, pengembangan dan penyaluran, serta evaluasi dan tindak lanjut. Bimbingan klasikal merupakan salah satu strategi bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan dalam layanan peminatan peserta didik.

1. Hakekat Bimbingan Klasikal

Penjelasan Pasal 54 (6) PP Nomor 74 Tahun 2008 bahwa yang dimaksud dengan mengampu layanan bimbingan dan konseling adalah pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Bimbingan klasikal merupakan suatu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik oleh Guru bimbingan dan konseling (Guru BK) atau Konselor kepada sejumlah peserta didik dalam satuan kelas yang dilaksanakan di kelas.

Layanan bimbingan klasikal merupakan layanan yang berfungsi pencegahan, pemahaman, pemeliharaan dan pengembangan sebagai upaya yang secara spesifik diarahkan pada proses yang proaktif. Berdasarkan Model ASCA (Asosiasinya konselor sekolah di Amerika), bimbingan klasikal merupakan bentuk kegiatan yang termasuk ke dalam komponen layanan dasar (guidance

curriculum). Komponen layanan dasar bersifat developmental, sistematik,

terstruktur, dan disusun untuk meningkatkan kompetensi belajar, pribadi, sosial dan karir. Layanan dasar (guidance curriculum) merupakan layanan yang terstruktur untuk semua peserta didik (guidance for all), tanpa mengenal perbedaan gender, ras, atau agama mulai taman kanak-kanak sampai tingkat


(14)

7

kelas tiga SLTA (K-12) disajikan melalui kegiatan kelas untuk memenuhi kebutuhan perkembangan dalam bidang belajar, pribadi, sosial dan karir peserta didik. Kegiatan layanan dasar (guidance curriculum) bertujuan untuk memberi bantuan kepada seluruh peserta didik atau konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur agar konseli memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu memenuhi kebutuhan dan menangani masalahnya, dan mampu mengembangkan diri secara tumbuh dan produktif. Bimbingan klasikal memiliki nilai efisiensi dalam kaitan antara jumlah peserta didik atau konseli yang dilayani dengan Guru BK atau Konselor serta layanannya yang bersifat pencegahan, pemeliharaan, dan pengembangan. 2. Tujuan dan Manfaat Bimbingan Klasikal

Bimbingan klasikal sebagai salah satu strategi dalam pelayanan bimbingan dan konseling memiliki tujuan untuk meluncurkan (delivery system) aktivitas-aktivitas pelayanan yang mengembangkan potensi siswa atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral spiritual), sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam konteks peminatan, secara spesifik pelayanan bimbingan dan konseling mempunyai tujuan agar peserta didik dapat: 1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang; 2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; 3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan,


(15)

8

lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; 4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Materi bimbingan klasikal yang dikembangkan dalam bidang belajar peserta didik bertujuan sebagai berikut: 1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, 2) perkembangan karir serta kehidupan peserta didik di masa yang akan datang, 3) mengembangkan potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik secara optimal, 4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan 5) menyelesaikan permasalahan dalam belajar untuk mencapai kesuksesan dalam mencapai tujuan belajar.

Materi bimbingan klasikal yang dikembangkan dalam bidang pribadi dan sosial bertujuan membantu pencapaian kemandirian individu yang meliputi antara lain: self-esteem, motivasi berprestasi, keterampilan pengambilan keputusan, keterampilan pemecahan masalah, perilaku bertanggung jawab, keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, kesadaran akan keragaman budaya, pemahaman fungsi agama bagi kehidupan, kasus-kasus kriminalitas, bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan dampak pergaulan bebas.

Materi bimbingan klasikal yang dikembangkan dalam bidang karir meliputi pemantapan pilihan program studi, keterampilan kerja profesional, kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, perkembangan dunia kerja, iklim kehidupan dunia kerja, cara melamar pekerjaan. “Bimbingan klasikal membantu tercapainya kemandirian peserta didik, perkembangan yang optimal aspek-aspek perkembangan dan tercapainya kesuksesan belajar, kematangan atau kedewasaan diri, penyesuaian diri, dan sukses karir dimasa depannya”.

Bimbingan klasikal disajikan oleh Guru BK atau Konselor dengan menggunakan berbagai teknik bimbingan kelompok sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan mempertimbangkan situasi dinamika kelompok untuk menciptakan “manfaat, antara lain sebagai wadah atau media”:


(16)

9

a. Terjalinnya hubungan emosional antara Guru BK atau Konselor dengan peserta didik/konseli yang bersifat mendidik dan membimbing,

b. Terjadinya komunikasi langsung antara Guru BK atau Konselor dengan peserta didik/konseli yang memberikan kesempatan bagi peserta didik/ konseli dapat menyampaikan permasalahan kelas/ pribadi atau curhat di kelas,

c. Terjadinya tatap muka, dialog dan observasi Guru BK atau Konselor terhadap kondisi peserta didik dalam suasana belajar di kelas,

d. Pemahaman terhadap pikiran, perasaan, kehendak dan perilaku peserta didik/konseli sebagai upaya pencegahan, penyembuhan, perbaikan, pemeliharan, dan pengembangan.

3. Proses Menyusun Materi Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal bukanlah kegiatan mengajar atau menyampaikan materi pelajaran sebagaimana matapelajaran yang dirancang dalam kurikulum pendidikan di sekolah, melainkan merancang suatu aktivitas yang memanfaatkan dinamika kelompok yang dapat menumbuhkan kompetensi kemandirian untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang belajar, pribadi, sosial dan karir. Ruang lingkup materi untuk mengembangakan kompetensi dalam bidang belajar, pribadi, sosial dan karir dapat diturunkan berdasarkan standar kompetensi kemandirian peserta didik (SKKPD), asumsi teori tugas perkembangan (kondisi ideal berdasarkan tugas perkembangan) dan kebutuhan individu yang diyakini mempunyai arti penting bagi perkembangan peserta didik, hasil amatan langsung Guru BK atau konselor, serta materi yang didasarkan pada kebijakan sekolah/ pemerintah yang harus diberikan kepada peserta didik/konseli. Selain itu, materi layanan bimbingan klasikal dapat disesuaikan tujuan pendidikan nasional, falsafah negara dan agama.

Materi yang diberikan diharapkan dapat mengubah dan meningkatkan pola pikir, wawasan, sikap, dan keterampilan serta perilaku yang baru untuk meningkatkan dan mencapai kesuksesan dalam hidup dimasa yang akan datang.


(17)

10

4. Strategi bimbingan klasikal

Bimbingan klasikal diberikan di kelas dengan materi yang dipersiapkan melalui rancangan pelaksanaan layanan BK (RPL) dan memperhatikan aktivitas agar terjadi interaksi yang membimbing antara Guru BK atau Konselor dengan peserta didik/konseli dan proses belajar antar konseli. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam bimbingan klasikal adalah experiential learning. Pendekatan ini pada intinya adalah belajar berdasarkan pengalaman atau tindakan, bukan berpikir tentangkonsep-konsep abstrak. Pengalaman dihadirkan melalui pertemuan langsung dengan fenomena yang sedang dipelajari dan atau menggunakan peristiwa metaphora melalui simulasi dan permainan. Strategi ini memanfaatkan pengalaman aktual dengan kejadian-kejadian hidup nyata untuk memvalidasi teori atau konsep. Ide tidak bisa dipisahkan dari pengalaman, mereka harus terhubung kehidupan peserta didik agar belajar yang sesungguhnya dapat terjadi. Oleh karena itu dalam menyampaikan peta kebutuhan peserta didik sebagai hasil dari asesmen harus melibatkan peran langsung peserta didik. Data tidak disampaikan secara otoriter namun peserta didik dilibatkan dalam penyadaran akan data dirinya.

Lewis dan Williams(1994) menunjukkan bahwa sejak abad keduapuluh telah terjadi perpindahan dari pendidikan abstrak formal ke arah yang lebih berbasis pada pengalaman. Pendahulu yang paling terkenal dari konsep ini adalah John Dewey (1938). Dia menekankan bahwa harus ada hubungan antara pengalaman dan pendidikan. Dewey menekankan bahwa pengetahuan akan berkembang kalau ada kontak dengan peristiwa-peristiwa kehidupan nyata dan pengetahuan merupakan interpretasi dari peristiwa tersebut. Sebuah pengalaman belajar tidak hanya terjadi begitu saja, tapi merupakan kegiatan yang direncanakan dengan penuh makna dan dengan pengalaman belajar yang dialami oleh peserta didik.

Strategi Bimbingan Klasikal dengan Belajar berbasis Pengalaman

Ketika experiential learning digunakan dalam bimbingan klasikal, ada empat fase belajar yang harus dilalui yaitu perancangan, pelaksanaan, penilaian, dan balikan.


(18)

11

Perancangan. Fase perancangan ini melibatkan upaya di awal oleh Guru BK atau Konselor untuk mengatur panggung pengalaman. Dalam kaitan peminatan ini, panggungnya terkait dengan data diri dan lingkungan peminatannya dengan pengambilan keputusan dalam peminatan. Termasuk dalamt tahap ini adalah spesifikasi tujuan bimbingan, produksi atau pemilihan kegiatan bagi peserta, identifikasi faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik, dan penciptaan skema untuk implementasi. Dengan demikian, fase ini sangat penting sebagai bagian "terapan" dari experiential learning, basis teoritis diletakkan sehingga peserta dapat melihat pengalaman dalam konteks yang diinginkan oleh dirinya, orangtua, dan sekolah.

Pelaksanaan. Fase ini melibatkan kegiatan memelihara dan mengendalikan rancangan. Tahap perancangan termasuk pembuatan jadwal untuk pengalaman, tetapi bisa jadi ada perubahan perilaku dari jadwal asli karena terkait dengan kegiatan untuk mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Implikasi penting dari tahap ini adalah bahwa pengalaman merupakan perilaku yang terstruktur dan dapat dimonitor.

Penilaian. Evaluasi dilakukanoleh Guru BK atau konselor, namun demikian, penekanannya pada penyediaan kesempatan bagi peserta didik untuk mengevaluasi pengalamannya sendiri. Peserta harus mampu mengartikulasikan dan menunjukkan pengalaman belajar spesifikyang diperoleh dari perancangan dan pelaksanaandari pengalaman.

Balikan. Umpan balik harus menjadi proses terus-menerus dari pengenalan pra-pengalaman sampai dengan pengalaman akhir. Termasuk adalah pemantauan proses oleh Guru dalam rangka mendorong terkembangkannya aspek-aspek positif dan menghilangkan fitur-fitur yang negatif. Salah satu hal yang harus mendapatkan perhatian bagi guru BK adalah apakah peserta didik ada kemungkinan menjadi gagal? Guru BK harus menyadari kemungkinan adanya kegagalan tersebut dan mencari solusinya. Dalam proses belajar melalui pengalaman ini karena melibatkan peserta didik dari sekolah kita, jika terjadi kegagalan akan dapat mempengaruhi reputasi sekolah secara negatif.


(19)

12

5. Langkah-Langkah Bimbingan Klasikal

Pemberian layanan bimbingan klasikal dilakukan oleh Guru BK atau Konselor meliputi materi bimbingan belajar, karir, pribadi dan sosial. Isi materi sajian berupa informasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik atau konseli dan pencapaian tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Di samping itu perlu diperhatikan tentang falsafah negara yaitu Pancasila yang di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur dalam sila-sila Pancasila serta agama.

Kondisi mendesak dan atau situasional, Guru BK atau konselor dapat memberikan bimbingan klasikal sesuai dengan tuntutan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dalam proses perencanaan dan pelaksanaan bimbingan klasikal dapat dilakukan dalam lima langkah, yaitu menentukan tujuan, melakukan pra-assesment, membuat program yang objective dan konkret, membuat desain aktivitas instruksional, dan melakukan evaluasi (Fall, 1994; Patrick Akos; Caroline R Cockman; Cindy A Strickland, 2007). Layanan bimbingan klasikal dapat dilakukan oleh Guru BK atau konselor yang mampu dan bertanggung jawab untuk memimpin, membangun, mengorganisir pemberian bimbingan di kelas. Dalam kaitan ini, Guru BK atau konselor harus mampu memahami situasi dan topik serta sesuai dengan perkembangan peserta didik. Kedua, Guru BK atau konselor sekolah hendaknya melakukan kolaborasi dengan guru ketika membangun, mengorganisir, dan menunjukkan layanan bimbingan klasikal. Ketiga, Guru BK atau konselor sekolah dapat bersama dengan guru untuk merancang dan membuat materi layanan bimbingan klasikal dalam kurikulum regular yang dilakukan di sekolah.

Layanan Bimbingan Klasikal terbagi dalam tiga bagian yaitu permulaan, pertengahan, dan akhir, atau pendahuluan, inti dan pentutup. Pada tahap permulaan peserta didik melakukan review terhadap tujuannya, mencatat perkembangan dirinya, memonitor perkembangan dan dikaitkan dengan


(20)

13

kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pada tahap pertengahan peserta didik belajar keterampilan dan strategi baru yang bermanfaat dalam kehidupannya. Pada tahap akhir layanan bimbingan klasikal konselor harus mampu mengajak peserta didik untuk melakukan refleksi berbagi pengetahuan dalam membuat desain atas tujuan yang diinginkan. Pelaksanaan bimbingan klasikal berpusat pada peserta didik dan tidak boleh ditinggalkan adalah evaluasi dan kekonsistenan Guru BK atau konselor dalam mengatur waktu dan jadwal dalam keseluruhan kegiatan.

Beberapa langkah pemberian bimbingan klasikal yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

a. Melakukan pemahaman peserta didik dan menemukan kecenderungan kebutuhan layanan.

b. Memilih metode dan teknik yang sesuai untuk pemberian bimbingan klasikal berdasarkan materi layanan. Strategi yang dipilih sebaiknya layanan berpusat pada peserta didik aktif belajar menemukan pengalaman belajar. c. Menyusun atau mempersiapkan materi bimbingan klasikal sesuai hasil

pemahaman kebutuhan peserta didik. Materi layanan bimbingan klasikal hendaknya memperhatikan tujuan bimbingan dan konseling dan tujuan pendidikan nasional.

d. Memilih sistematika penyusunan materi yang mencerminkan adanya kesiapan bimbingan klasikal dan persiapan diketahui oleh Koordinator Bimbingan dan Konseling dan atau Kepala Sekolah.

e. Mempersiapkan alat bantu untuk melaksanakan pemberian bimbingan klasikal sesuai dengan kebutuhan layanan.

f. Melakukan evaluasi pemberian layanan bimbingan klasikal perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses, tepat tidaknya layanan yang diberikan dan perkembangan sikap dan perilaku atau tingkat ketercapaian tugas-tugas perkembangan.

g. Tindak lanjut dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu bimbingan klasikal. Kegiatan tindak lanjut senantiasa mendasarkan pada hasil evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan.


(21)

14

6. Peran Guru atau Konselor Dalam Bimbingan Klasikal

Guru BK atau konselor bertanggung jawab penuh dalam (membangun atau melaksanakan), memanage (mengatur atau mengelola) dan memimpin proses layanan yang diberikan kepada seluruh peserta didik. Di samping itu, dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran ketika membangun atau melaksanakan, mengatur atau mengelola dan memimpin kegiatan. Pendekatan kolaboratif dipandang lebih efektif, sebab guru mata pelajaran diasumsikan telah memiliki kedekatan dan keterampilan dalam mengelola kelas. Untuk dapat memainkan peran secara optimal, maka Guru BK atau konselor hendaknya memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpuji, ketrampilan teknik layanan yang memadai, dan performance yang menarik.

Berpengetahuan luas dimaksudkan untuk memberikan kepuasan peserta didik dalam memberikan informasi atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh peserta didik, namun di samping itu hendaknya dimiliki penguasaan dan pemahaman secara mendalam tentang apa yang akan diberikan kepada peserta didik secara tatap muka di kelas. Ciri kualitas pribadi konselor yang efektif adalah perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kesejahteraan orang lain, kemampuan dan kehendak untuk berada dalam kegembiraan dan kesejahteraan konseli, pengenalan dan penerimaan terhadap kekuatan dan vitalitas seseorang, menemukan gaya konselingnya sendiri, kesediaan untuk mengambil resiko, menghormati dan menghargai diri, perasaan untuk dibutuhkan orang lain, bertindak sebagai model konseli, beresiko terhadap kesalahan yang diperbuat dan mengakui kesalahannya, berorientasi pada pertumbuhan, dan memiliki rasa humor. Kualitas konselor meliputi : pengetahuan tentang diri sendiri, kecakapan, kejujuran, kekuatan, kehangatan, pendengar yang aktif, kesabaran, kepekaan, kebebasan dan kesadaran holistik.

Di samping itu, kepribadian konselor yang diharapkan adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (beragama), sehat jasmani dan rohani, sebagai teladan dalam kehidupan, dipercaya, berpengetahuan luas, peka, bijaksana, teliti, dapat memahami konseli, dapat memahami perbedaan individu, mengutamakan konseli, cerdas, jujur, ramah, mudah bergaul, bersedia mengakui kesalahannya, terbuka untuk perubahan positif dan maju, bertanggung jawab, sungguh-sungguh, sabar dan ikhlas. Selain itu, guru


(22)

15

bimbingan dan konseling atau konselor mampu menyusun persiapan, mampu menciptakan suasana yang menyenangkan, aman, dan nyaman dalam kelas sehingga semua peserta didik, mampu memberikan arah yang jelas dan tujuan serta manfaat belajar bagi peserta didik atau konseli dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), mampu menjadi fasilitator dalam kelancaran proses belajar, mampu memberikan informasi yang mutakhir sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan IPTEK, mampu memilih dan menerapan metode dan teknik yang tepat dan menyenangkan bagi peserta didik, memberikan umpan balik secara tepat, menunjukan penampilan diri yang rapi, bersih, suci, sederhana, mampu melakukan evaluasi dan memberikan tindak lanjut.

Bimbingan klasikal tidak hanya terbatas pada penyampaian satu atau dua permasalahan, akan tetapi juga mencakup berbagai permasalahan yang ada atau muncul di sekolah. Untuk dapat melaksanakan bimbingan klasikal yang baik, Guru BK atau Konselor hendaknya menerapkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang dapat membangun terjadi interaksi psychopedagodik. Hal ini dimaksudkan dapat terbangunnya komunikasi yang harmonis dan mempunyai arti penting bagi tercapainya perkembangan peserta didik yang optimal. Pelaksanaan bimbingan klasikal dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan juga kebutuhan pencapaian tujuan pendidikan nasional serta antisipasi perkembangan IPTEK.

Dalam interaksi dengan peserta didik, Guru BK atau konselor hendaknya menerapkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang meliputi: 1) menghargai peserta didik, 2) menciptakan suasana hangat, 3) bersikap empatik kepada peserta didik, 4) bersikap terbuka terhadap peserta didik, 5) mengakui bahwa peserta didik berpotensi, 6) mengakui bahwa peserta didik itu unik dan dinamis, 7) tidak membanding-bandingkan peserta didik, 8) tidak mudah mengkualifikasi peserta didik. Materi bimbingan klasikal tentang motivasi belajar yang disusun atas dasar hasil pemahaman terhadap diri peserta didik, memperhatikan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang disajikan dengan memperhatikan metode penyampaian informasi dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, diharapkan memiliki pengaruhi positif terhadap perkembangan/ perubahan motivasi belajar peserta didik.


(23)

16

7. Menyusun rencana, melaksanakan, mengevaluasi, dan tindak lanjut program peminatan peserta didik

Layanan program peminatan peserta didik yang berupa pemberian informasi yang berkaitan pemilihan dan penetapan peminatan dan pendampingan serta pengembangan dapat digunakan strategi bimbingan klasikal dengan tahapan yang harus dilakukan meliputi menyusun rencana, melaksanakan dan mengevaluasi serta tidak lanjut.

a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Bimbingan Klasikal

Rancangan disusun menggunakan format yang mudah dilaksanakan, materi dipilih berdasarkan (hasil pengamatan Guru BK, analisis kebutuhan peserta didik menggunakan instrument tertentu, asumsi teori yang diyakini mempunyai pengaruh terhadap perkembangan peserta didik, kebijakan sekolah/pemerintah yang harus diberikan kepada peserta didik), metode layanan berpusat pada peserta didik aktif menemukan pengalaman belajar, dan evaluasi proses dan hasil. Sistematika format Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal (RPLBK) sebagaimana terlampir.

b. Melaksanakan Bimbingan Klasikal

Berdasarkan persiapan yang disusun, dan selama proses melaksanakan bimbingan klasikal Guru BK atau konselor memiliki penguasaan yang mendalam materi yang akan disampaikan, mempunyai percaya diri, berbusana yang sopan/penampilan menarik, dan menerapkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling dalam melaksanakan interaksi dengan peserta didik.

c. Mengevaluasi dan Tindak Lanjut

Keberhasilan layanan bimbingan klasikal dapat diketahui melalui penguasaan materi yang telah diberikan kepada peserta didik, terjadi proses perubahan sikap dan pengetahuan pada diri peserta didik. Untuk itu, perlu diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang diberikan dan harapan yang perlu dilakukan oleh peserta didik.


(24)

17

BAB III

LAYANAN PEMINATAN DENGAN BIMBINGAN KELOMPOK

A. Kompetensi dan Tujuan Kompetensi Peserta Latihan

Peserta terampil mempraktikan pelayanan peminatan melalui format bimbingan kelompok.

Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah latihan ini, peserta:

1. Menyusun rencana pelayanan peminatan bimbingan kelompok, 2. Melaksanakan pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok,

3. Melakukan penilaian pelaksanaan pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok.

Kegiatan Pelatihan

1. Praktik menyusun rencana pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok

2. Praktik pelaksanaan pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok 3. Praktik penilaian pelaksanaan pelayanan peminatan melalui bimbingan

kelompok

Tujuan Pelatihan Bimbingan Kelompok

Perubahan yang diharapkan dari pelatihan ini adalah:

1. Sikap: Peserta bersikap kreatif dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok.

2. Pengetahuan: Peserta memahami prosedur pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok.

3. Keterampilan: Peserta mampu merencanakan, melaksanakan, dan pelayanan peminatan melalui bimbingan kelompok.


(25)

18

B. Uraian Materi

Peserta didik sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan peserta didik tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.

Perkembangan peserta didik tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life

style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau

di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku peserta didik, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti: maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup peserta didik (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).


(26)

19

Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi peserta didik dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan peserta didik beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. 1. Hakekat Bimbingan Kelompok

Bimbingan dan Konseling merupakan strategi untuk memfasilitasi perkembangan positif siswa-siswa di sekolah dalam semua aspek. Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki pengaruh sinergik dalam mengembangkan pertumbuhan sosial dan emosional positif siswa seraya meningkatkan hasil perkembangan akademik dan karier mereka. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan melalui pelayanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling individual, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi dan advokasi.

Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama (Mungin Eddy Wibowo, 2005:17).


(27)

20

Bimbingan kelompok melibatkan beberapa orang yang bertemu dalam kelompok dimana setiap orang mendiskusikan masalahnya terhadap semua anggota kelompok lainnya. Ini merupakan cara yang efektif dalam merespon berbagai kebutuhan siswa di samping yang dilakukan dalam seting kelas. Maksud program ini untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya dan untuk menerapkan program-program pencegahan maupun pengentasan dari masalah yang dihadapi.

Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus anggota dan memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk mengembangkan dan mengeksplorasi tujuan-tujuan serta meningkatkan perubahan-perubahan positif dalam suasana yang saling berbagi dan saling mendengarkan. Diakui bahwa bimbingan kelompok merupakan cara yang efektif dan efisien untuk mendukung dan membantu siswa dalam mencegah timbulnya masalah dan memecahkan masalah-masalah di bidang perkembangan pendidikan, karier, dan pribadi-sosial.

2. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Bimbingan kelompok bertujuan untuk memberi informasi dan data untuk mempermudah pembuatan keputusan dan tingkah laku. Gazda menyatakan bahwa bimbingan kelompok diorganisasi untuk mencegah perkembangan masalah, yang isi utamanya meliputi informasi pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam pelajaran. Informasi yang diberikan dalam bimbingan kelompok terutama dimaksudkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai orang lain, sedangkan perubahan sikap merupakan tujuan yang tidak langsung (Mungin Eddy Wibowo, 2005:17).

Tujuan pelayanan bimbingan secara umum ialah agar peserta didik dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.


(28)

21

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, peserta didik harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Secara khusus dalam bimbingan kelompok, bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek perkembangan pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karier.

a. Tujuan yang terkait dengan aspek perkembangan pribadi-sosial peserta didik yang terkait dengan peminatan

1) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.

2) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 3) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.

4) Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

5) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.

6) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.

7) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. b. Tujuan perkembangan akademik (belajar) yang terkait peminatan

1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.


(29)

22

2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.

3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.

5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.

6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

c. Tujuan Perkembangan karier yang terkait peminatan

1) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.

2) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karier yang menunjang kematangan kompetensi karier.

3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.

4) Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi citra-cita kariernya masa depan.

5) Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karier, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.

6) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.


(30)

23

7) Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier. Apabila seorang peserta didik bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karier keguruan tersebut.

8) Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karier amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

9) Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karier. 3. Topik-Topik dan Pihak Yang Mendukung Bimbingan Kelompok

Topik atau masalah-masalah yang dibahas dalam bimbingan kelompok bersifat “umum”, yaitu topik atau masalah itu dengan anggota kelompok tidak terdapat hubungan khusus tertentu; topik atau masalah di luar masing-masing anggota kelompok. Pembahasan topik-topik atau masalah-masalah umum secara luas dan mendalam bermanfaat bagi anggota kelompok untuk pemahaman, pengembangan pribadi, pencegahan terhadap permasalahan yang berkaitan dengan topik atau masalah yang dibahas. Topik atau masalah yang dibahas dalam kelompok dapat berasal dari pemimpin kelompok (topik tugas), dan topik atau masalah dapat berasal dari anggota kelompok (topik bebas).

Ada banyak pandangan mengenai apa saja topik-topik yang perlu dikaji dalam bimbingan kelompok. Pandangan pertama mengatakan bahwa topik-topik tersebut antara lain menjawab pertanyaan-pertanyaan: Siapakah saya? Bagaimana saya dapat berubah jika perubahan itu diperlukan? Siapa yang dapat membantuku dan bagaimana membantunya? Apakah saya perlu belajar? Kemana aku melanjutkan studi dan bekerja.

Pandangan kedua, dalam kaitan bidang bimbingan dan konseling disebutkan bahwa dalam perkembangan pribadi-sosial siswa harus mampu sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat lokal dan global yang beragam; beriteraksi dengan orang lain dengan cara penuh penghargaan adanya perbedaan individu dan kelompok; dan mampu menerapkan


(31)

keterampilan-24

keterampilan pengamanan pribadi. Dalam hal perkembangan akademik, siswa diharapkan mampu menerapkan keterampilan-keterampilan untuk mencapai prestasi tinggi di bidang pendidikan, menerapkan keterampilan-keterampilan transisional dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya; mengembangkan serta memonitor perencanaan pendidikan pribadinya. Dalam hal perkembangan karier, siswa diharapkan mampu menerapkan keterampilan eksplorasi dan perencanaan karier dalam mencapai tujuan karier hidupnya; mengetahui dimana dan bagaimana untuk memperoleh informasi dunia kerja dan pendidikan lanjutan; dan menerapkan keterampilan kesiapan kerja dan keterampilan untuk sukses di dalam pekerjaannya.

Ketiga, dilihat dari satuan pendidikan, topik-topik dapat dipilah menjadi topik untuk peserta didik di SD, SMP, SMA/SMK. Topik-topik di SD, antara lain memahami diri dan orang lain, menghargai perbedaan individu dan kelompok, keterampilan keamanan pribadi, keberhasilan akademik, kesadaran dan eksplorasi karier, mediasi konflik.Topik-topik di SMP, antara lain keberhasilan akademik, keterampilan sosial, mediasi konflik, menghargai perbedaan, keterampilan keamanan pribadi, eksplorasi dan perencanaan karier, perencanaan pendidikan.Topik-topik di SMA/SMK, antara lain keberhasilan akademik, rencana pendidikan lanjut, pilihan-pilihan pasca sekolah, keterampilan sosial, menghargai perbedaan.

Pelayanan bimbingan kelompok bertujuan untuk membantu semua peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu peserta didik agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu peserta didik agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.


(32)

25

Peranan anggota kelompok dalam bimbingan kelompok, yaitu aktif membahas permasalahan atau topik umum tertentu yang hasil pembahasannya itu berguna bagi para anggota kelompok : (a) berpartisipasi aktif dalam dinamika interaksi sosial, (b) menyumbang bagi pembahasan masalah, dan (c) menyerap berbagai informasi untuk diri sendiri. Suasana interaksi multiarah,mendalam dengan melibatkan aspek kognitif. Sifat pembicaraan umum, tidak rahasia, dan kegiatan berkembang sesuai dengan tingkat perubahan dan pendalaman masalahatau topik (Mungin Eddy Wibowo, 2005:18).

Fokus pengembangan

Untuk mencapai tujuan dalam bimbingan kelompok sesuai topik yang dibahas, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karier. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu peserta didik dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Materi pelayanan dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi yang telah ditentukan, antara lain mencakup pengembangan:(1) self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karier (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

Kebutuhan yang semakin meningkat dari anak-anak dan harapan masyarakat saat ini berada di pundak sistem pendidikan kita. Pendidik dan orang tua ditantang untuk mendidik semua siswa pada tingkat prestasi yang lebih tinggi untuk memenuhi tuntutan pasar yang berdaya saing internasional, berbasis teknologi. Namun demikian banyak faktor sosial dan lainnya yang menyebabkan beberapa anak-anak kita datang ke sekolah dilengkapi dengan kondisi kurang sehat secara emosional, fisik, dan/atau sosial untuk belajar. Sekolah harus menanggapi dengan menyediakan dukungan bagi semua siswa untuk belajar


(33)

26

efektif. Sebagai pendidik kita harus terus mencari “keadilan” bagi siswa melalui program pendidikan yang berkualitas dalam segala aspek. Panduan bimbingan kelompok ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan program bimbingan dan konseling berbasis standar yang cocok di Indonesia yang berkualitas yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk menerima bimbingan dan konseling. Program bimbingan dan konseling berbasis standar ini memainkan peran penting dalam membantu guru dan staf sekolah lain dalam mengintegrasikan tujuan bimbingan dengan tujuan pembelajaran lainnya.

Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berkualitas tinggi memanfaatkan berbagai kalangan yang terlibat dalam program ini. Mereka yang terlibat dalam program bimbingan dan konseling adalah orangtua, siswa, guru, kepala sekolah dan staf lainnya.

1. Orang tua harus memiliki pemahaman yang lengkap mengenai program bimbingan dan konseling berbasis standar yang ada di sekolah anak mereka. Mereka dapat mengakses layanan bimbingan dan konseling dalam rangka untuk peningkatan keterlibatan mereka dalam pendidikan anak-anak, perencanaan pendidikan dan karier mereka.

2. Siswa diharapkan mengalami peningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan, penetapan tujuan, perencanaan, pemecahan masalah, berkomunikasi interpersonal secara efektif, dan memiliki efektivitas lintas-budaya. Semua siswa akan memiliki akses/kesempatan ke konselor untuk memperoleh bantuan akan masalah pribadi-sosial, serta perencanaan akademik dan karier mereka.

3. Guru berkolaborasi dengan konselor untuk meningkatkan perkembangan kognitif dan afektif siswa dan diharapkan memiliki pemahaman yang lebih lengkap tentang program bimbingan dan konseling.

4. Kepala Sekolah dan Staf lainnya memiliki pemahaman yang lebih lengkap dari program bimbingan dan konseling, sebagai dasar untuk menentukan staf dan alokasi pendanaan, serta sarana untuk mengevaluasi program dan menyebar-luaskan program untuk masyarakat.


(34)

27

5. Komite Sekolah/Dewan Pendidikan memiliki pemahaman yang lebih lengkap tentang program bimbingan dan konseling berbasis standar sehingga mendapatkan argumentasi yang lebih pasti memasukkan komponen bimbingan dan konseling dalam sistem sekolah.

Konselor memiliki tanggung jawab yang jelas, menghapus fungsi non-bimbingan, dan lebih berkonsentrasi untuk memberikan bimbingan dan konseling melalui program yang seimbang untuk semua siswa. Program bimbingan dan konseling sangat penting untuk pencapaian keunggulan dalam pendidikan untuk semua siswa. Program Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari keseluruhan program pendidikan masing-masing sekolah. Dalam rangka menjaga hari-hari akademik efektif, perencanaan tim diperlukan ketika memberikan bimbingan dan konseling. Fokus kerja konselor yang utama adalah untuk memfasitasi pembelajaran dengan menghilangkan hambatan belajar siswa. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah bersertifikat dengan dukungan para guru kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, siswa, dan orang tua secara kolaboratif.

4. Tahapan Layanan Bimbingan Kelompok

Proses bimbingan kelompok merujuk pada tahapan-tahapan perkembangan yang dialami oleh kelompok selama menjalani bimbingan kelompok. Tahapan yang dimaksudkan bukan dalam arti sesi pertemuan, sebab sesi pertemuan bimbingan kelompok bisa sangat bervariasi. Corey (1985:13) mendefinisikan proses kelompok sebagai tahap-tahap perkembangan suatu kelompok dan karakteristik setiap tahap.

a. Tahap Permulaan (Beginning Stage)

Untuk Tahap permulaan sebagai tahap persiapan diselenggarakan dalam rangka pembentukan kelompok sampai pengumpulan peserta yang siap melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok. Guru BK atau konselor melakukan upaya untuk menumbuhkan minat bagi terbentuknya kelompok yang meliputi:


(35)

28

1) Menjelaskan adanya bimbingan kelompok bagi para siswa.

2) Menjelaskan pengertian, tujuan dan kegunaan bimbingan kelompok.

3) Mengajak siswa untuk memasuki dan mengikuti kegiatan, serta kemungkinan adanya kesempatan dan kemudahan bagi penyelenggaraan bimbingan kelompok.

4) Menerangkan tanggung jawab guru BK atau konselor, tanggung jawab anggota kelompok, serta mendorong anggota kelompok untuk menerima tanggung jawab bagi partisipasinya di dalam kelompok.

5) Mengemukakan keuntungan yang akan diperoleh calon apabila ia bergabung di dalam kelompok dan memupuk harapan ahwa kelompok dapat menolong calon anggota kelompok.

6) Menjelaskan jumlah anggota yang diperkirakan akan bergabung dalam kelompok.

7) Menjelaskan tentang seleksi anggota kelompok apakah berdasarkan umur, jenis kelamin, atau kedekatan.

8) Menampilkan tingkah laku dan komunikasi yang mengandung unsur-unsur penghormatan kepada orang lain (dalam hal ini anggota kelompok), ketulusan hati, kehangatan dan empati. Penampilan seperti ini akan merupakan contoh yang besar kemungkinan diikuti oleh para anggota dalam menjalani kegiatan kelompoknya.

Tahap ini merupakan tahap pengenalan, pembinaan hubungan baik, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota kelompok saling memperkenalkan diri, membina hubungan baik, dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang ingin dicapai oleh masing-masing, sebagian maupun seluruh anggota. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Guru BK atau konselor sebagai berikut:

1. Membina hubungan baik

Kontak pertama anatar Guru BK atau konselor dan anggota kelompok sering mempunyai pengaruh yang menentukan bagi kelangsungan pertemuan selanjutnya. Jika Guru BK atau konselor benar-benar menginginkan agar pada akhirnya perubahan yang diharapkan dapat


(36)

29

terjadi pada setiap diri anggota kelompok, maka hubungan akrab dan saling mempercayai harus ditempuh dan dibina. Pertama kali yang harus dilakukan oleh Guru BK atau konselor adalah membina hubungan baik antara pemimpin dengan anggota kelompok, dan antar anggota kelompok. Setiap anggota kelompok mengharapkan adanya sikap empati, penghargaan, kepekaan, baik dari Guru BK atau konselor maupun dari anggota kelompok yang lain. Hubungan baik antara Guru BK atau konselor dan anggota, antara anggota yang satu dengan yang lain merupakan inti dari pada proses bimbingan kelompok, karena itu Guru BK atau konselor harus mampu untuk menciptakan hubungan baik dalam bimbingan kelompok.

2. Pelibatan

Guru BK atau konselor menjelaskan pengertian dan tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan kelompok dan menjelaskan cara-cara yang akan dilalui dalam mencapai tujuan itu. Guru BK atau konselor menampilkan tingkah laku dan komunikasi yang mengandung unsur-unsur penghormatan kepada anggota kelompok, ketulusan hati, kehangatan, dan empati. Guru BK atau konselor merangsang dan memantapkan keterlibatan anggota kelompok dalam suasana kelompok yang diinginkan, dan juga membangkitkan minat-minat dan dan kebutuhan serta rasa berkepentingan para anggota mengikuti kegiatan kelompok yang sedang mulai digerakkan. Menumbuhkan sikap kebersamaan, perasaan sekelompok, suasana bebas, terbuka, saling percaya, saling menerima,saling membantu di antara para anggota.

3. Agenda

Setelah anggota saling mengenal dan telah melibatkan diri atau memasukan diri ke dalam kehidupan kelompok, Guru BK atau konselor membuka kesempatan bagi mereka untuk menentukan agenda. Agenda adalah tujuan yang akan dicapai di dalam kelompok. Agenda dapat dibagi menjadi agenda jangka panjang dan jangka pendek. Agenda jangka panjang yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh anggota kelompok setelah kelompok selesai. Agenda jangka pendek yaitu agenda untuk hari itu atau pertemuan itu.


(37)

30

4. Norma Kelompok

Apabila masing-masing anggota telah mempunyai agenda, perlu dikemukakan tentang norma kelompok. Diharapkan semua anggota akan hadir setiap pertemuan dan jika tidak hadir harus memberi tahu. Ini sangat penting, sebab ketidakhadiran salah satu anggota akan menimbulkan pertanyaan bagi Guru BK atau konselor maupun anggota lain. Hal lain yang perlu dibina adalah suasana positif dalam kelompok, dan perlu dikemukakan aturan main dalam kegiatan dan juga dalam memberikan umpan balik.

5. Penggalian Ide dan Perasaan

Sebelum melanjut pada tahap berikutnya perlu digali ide-ide maupun perasaan-perasaan yang muncul. Usul-usul perlu ditampung sebelum melanjut pada langkah berikutnya. Pertemuan ini dapat dipakai sebagai prediksi tentang komitmen anggota terhadap kelompok dan peroleh yang mungkin dapat dicapai.

b. Tahap Transisi (Transition Stage)

Tahap transisi merupakan masa setelah proses pembentukan dan sebelum masa bekerja (kegiatan) yang yang ditandai dengan ekspresi sejumlah emosi dan interaksi anggota kelompok. Dalam bimbingan kelompok masa ini tidak begitu sulit dibanding dalam kegiatan konseling kelompok, karenamasalah atau topik yang dibahas dalam bimbingan kelompok tidak bersifat rahasia, sehingga resiko psikologis sangat sedikit.

c. Tahap Kegiatan (Working Stage)

Tahap kegiatan sering disebut juga tahap bekerja (Gladding,1995), tahap penampilan (Tuckman & Jensen, 1977), tahap tindakan (George & Dustin, 1988), dan tahap pertengahan yang merupakan inti kegiatan bimbingan kelompok, sehingga memerlukan alokasi waktu yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan bimbingan kelompok.

Tahap ini merupakan tahap kehidupan yang sebenarnya dari bimbingan kelompok, yaitu para anggota memusatkan perhatian terhadap tujuan yang akan dicapai, mempelajari materi-materi baru, dan mendiskusikan masalah atau topik. Selama dalam tahap kegiatan, Guru BK atau konselor dan anggota kelompok merasa lebih bebas dan nyaman dalam membahas masalah dan


(38)

31

topik, karena sudah terjadi saling mempercayai satu sama lain. Hubungan antar anggota sudah mulai ada kemajuan, sudah terjalin rasa saling percaya antara sesama anggota kelompok, rasa empati, saling mengikat dan berkembang lebih dekat secara emosional, dan kelompok tersebut menjadi kompak (kohesif). Kedekatan emosional akan terjadi jika anggota kelompok dapat mengenali satu sama lain dan telah berhasil dalam pekerjaannya melalui perjuangan mereka bersama-sama. Kelompok yang kohesif menunjukkan adanya penerimaan yang mendalam, keakraban dan pengertian, antara sesama anggota kelompok. Pada kelompok kohesis yang paling penting adalah adanya saling ketergantungan dari setiap anggota kepada anggota lain. Begitu juga tingkat kepercayaan individu terhadap kelompok akan meningkat sehingga sering terjadi katarsis yang memudahkan Guru BK atau konselor memahami anggota kelompok. Penekanan pada tahap ini adalah produktivitas, baik hasilnya dapat dilihat langsung maupun tidak langsung. Anggta kelompok menfokuskan pada meningkatkan diri mereka sendiri untuk memperoleh pemahaman terhadap permasalahan atau topik yang dibahas dalam rangka untuk pengembangan diri dan pencegahan terhadap permasalahan. Pada tahap ini kelompok benar-benar sedang mengarahkan kepada pencapaian tujuan. Kelompok berusaha menghasilkan sesuatu yang berguna bagi para anggota kelompok. Guru BK atau konselor tetap tut wuri handayani, terus menerus memperhatikan dan mendengarkan secara aktif, khususnya memperhatikan masalah-masalah khusus yang mungkin timbul dan kalau dibiarkan akan merusak suasana kelompok yang baik. Guru BK atau konselor harus dapat melihat dengan baik dan dapat menentukan dengan tepat arah yang dituju dari setiap pembicaraan. Guru BK atau konselor harus dapat melihat siapa-siapa di antara anggota kelompok yang pasif, aktif, dan mampu mengambil keputusan dan langkah lebih lanjut.

d. Tahap Pengakhiran (Termination Stage)

Kegiatan suatu kelompok tidak mungkin berlangsung terus menerus tanpa berhenti. Setelah kegiatan kelompok memuncak pada tahap kegiatan, kegiatan kelompok ini kemudian menurun, dan selanjutnya kelompok akan mengakhiri kegiatan pada saat yang dianggap tepat. Menurut Corey (1990), tahap penghentian atau pengakhiran sama pentingnya seperti tahap permulaan pada


(39)

32

sebuah kelompok. Selama pembentukan awal pada sebuah kelompok, anggota datang untuk saling mengenali satu sama lain dengan baik. Selama masa penghentian, para anggota kelompok memahami diri mereka sendiri pada tingkat yang lebih mendalam. Jika dapat dipahami dan diatasi dengan baik, pengehentian dapat menjadi sebuah dukungan penting dalam menawarkan perubahan dalam diri individu. Penghentian memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk memperjelas arti dari pengalaman mereka, untuk mengkonsolidasikan hasil yang mereka buat, dan untuk membuat keputusan mengenai tingkah laku mereka yang ingin dilakukan di luar kelompok dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pengakhiran kegiatan bimbingan kelompok tepat dilakukan pada saat-saat tujuan-tujuan individual anggota kelompok dan tujuan kelompok telah dicapai. Menurut Pitrofesa et.al (1980), selain karena anggota kelompok telah mencapai tujuan mereka secara berhasil, dapat juga bimbingan kelompok dihentikan karena mereka telah merencanakan untuk mengakhiri setelah jangka waktu tertentu atau sejumlah sesi dan/atau karena mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti dalam bimbingan kelompok.

Peranan Guru BK atau konselor dalam tahap pengakhiran ialah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh anggota kelompok dan oleh kelompok, khususnya terhadap keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh masing-masing anggota kelompok.

Pengakhiran bimbingan kelompok hendaknya membuat kesan yang positif bagi anggota kelompok, jadi jangan sampai anggota kelompok mempunyai ganjalan-ganjalan. Untuk itu perlu diberikan kesempatan bagi masing-masing anggota kelompok untuk mengemukakan ganjalan-ganjalan yang sesungguhnya mereka rasakan selama kelompok berlangsung. Dengan demikian para anggota kelompok akan meninggalkan kelompok dengan perasaan lega dan puas. Dengan kata lain, bahwa pada akhir kegiatan kelompok hendaknya para anggota merasa telah memetik suatu hasil yang cukup berharga dari kegiatan bimbingan kelompok yang mereka ikuti.


(40)

33

Penghentian terjadi pada dua tingkatan dalam kelompok, yaitu pada akhir masing-masing sesi, dan pada akhir dari keseluruhan sesi kelompok. Dalam mempertimbangkan penghentian, Guru BK atau konselor membuat rencana terlebih dahulu. Proses penghentian meliputi langkah-langkah : (1) orientasi, (2) ringkasan, (3) pembahasan tujuan, dan tindak lanjut ( Epstein & Bishop,1981 dalam Gladding, 1995:147). Orientasi, yaitu pada saat bersamaan selama proses berlangsung, anggota kelompok diingatkan kapan sebuah sesi atau kelompok akan berakhir. Peringkasan, bahan dan proses yang telah terjadi dalam kelompok dibahas ulang. Secara ideal, Guru BK atau konselor maupun anggota kelompok harus berpartisipasi dalam langkah ini, selama membahas tujuan, fokus dari inti kelompok pada anggota, apa yang akan dilakukan setelah sesi atau kelompok berakhir. Dalam langkah terakhir, tindak lanjut, anggota kelompok menginformasikan satu sama lain kemajuan apa yang telah mereka buat dalam melaksanakan tujuan mereka. Melalui mengingatkan pada diri sendiri pada langkah ini dan prosedurnya, guru BK atau konselor membuat diri mereka, anggota kelompok dan kelompok sebagai sebuah akhir yang berhasil secara keseluruhan. Dalam mengakhiri atau menghentikan kegiatan kelompok, guru BK atau konselor memberikan dorongan tiap anggota mengevaluasi perubahan dan peningkatan perilaku yang dialami selama kelompok berlangsung.Anggota perlu didorong untuk mengubah, menerapkan hal-hal yang positif yang telah diperoleh dalam kegiatan bimbingan kelompok, sehingga akan terjadi pengembangan diri secara baik dan terhindar dari permasalahan yang tidak diinginkan.

Evaluasi dan Tindak Lanjut. Di dalam pelaksanaan bimbingan kelompok guru BK atau konselor mempunyai tanggung jawab untuk mengevaluasi kesuksesan perilaku kerja dan mengadakan tindak lanjut. Tahap ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah bimbingan kelompok yang dilaksanakan mencapai hasil, dan tindakan apa yang harus dilakukan oleh Guru Bk atau konselor.

Evaluasi yang dilakukan oleh Guru BK atau konselor meliputi evaluasi proses dan evaluasi hasil bimbingan kelompok. Evaluasi proses bimbingan kelompok meliputi mengidentifikasikan variabel proses yang memberi kontribusi atau mendorong pencapaian tujuan. Evaluasi proses dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan layanan bimbingan kelompok dilihat dari prosesnya. Apabila bisa ditunjukkan bahwa kelompok telah menentukan tujuan dan maksudnya, maka adalah mungkin untuk menentukan syarat atau kondisi apa


(41)

34

yang mempermudah atau menghambat gerakan kelompok dalam mencapai tujuan. Penentuan efektivitas bimbingan kelompok harus memperhitungkan sampai dimana tujuan dinyatakan dengan jelas, sampai tingkat mana bimbingan kelompok mempengaruhi anggota dan sampai tingkat mana ada peselisihan antara anggota yang berkenaan dnegan masalah tujuan.

Aspek yang dinilai dalam evaluasi proses yaitu antara lain: (1) kesesuaian antara program dengan pelaksanaan, (2) keterlaksanaan program, (3) hambatan yang dijumpai, (4) faktor penunjang, (5) keterlibatan anggota kelompok dalam kegiatan (Mungin Eddy Wibowo, 2005:326).

Evaluasi hasil bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan bimbingan kelompok dilihat dari hasilnya. Aspek yang dinilai dalam evaluasi hasil bimbingan kelompok yaitu perolehan anggota kelompok dalam hal (1) pemahaman baru, (2) perasaan, (3) rencana kegiatan yang akan dilakukan pasca layanan, (4) dampak layanan terhadap perubahan perilaku ditinjau dari pencapaian tujuan layanan, tugas perkembangan, dan hasil belajar, (5) aspek-aspek tertentu pada diri anggota kelompok dapat berkembang secara baik (Mungin Eddy Wibowo, 2005:326).

Evaluasi unjuk kerja anggota kelompok dapat dilakukan sebelum bimbingan, selama bimbingan atau selama pelaksanaan strategi konseling, segera setelah konseling, dan beberapa waktu setelah konseling pada tahap tindak lanjut (Cormier & Cormier, 1985). Evaluasi sebelum penanganan dimaksudkan untuk mengetahui tingkah laku tujuan. Periode sebelum penanganan adalah pegangan yang digunakan untuk melihat adanya p[erubahan dalam tingkah laku tujuan setiap anggota kelompok selama dan setelah perlakuan. Evaluasi selama penanganan dilakukan dengan mengumpulkan data secara terus menerus unjuk kerja anggota kelompok. Pengumpulan data selama penanganan merupakan balikan bagi Guru BK atau konselor dan anggota kelompok tentang manfaat dari strategi penanganan yang dipilih dan unjuk kerja tingkah laku tujuan yang dicapai anggota kelompok.

Evaluasi segera setelah penanganan untuk melihat seberapa jauh bimbingan kelompok telah membantu anggota kelompok mencapai hasil-hasil yang diinginkan. Secara spesifik, data yang dikumpulkan selama penilaian setelah penanganan digunakan untuk membandingkan unjuk kerja dan tingkah laku


(42)

35

tujuan anggota kelompok setelah penanganan dengan data yang telah dikumpulkan selama periode sebelum penanganan dan selama penanganan.penilaian setelah penanganan bisa dilakukan pada kesimpulan dari suatu strategi bimbingan atau pada saat bimbingan diakhir atau kedua-duanya. Evaluasi pasca bimbingan kelompok yaitu evaluasi yang dilakukan untuk memantau kinerja anggota kelompok setelah bimbingan kelompok berakhir dan tujuannya tercapai. Langkah pemantauan perilaku anggota kelompok pasca bimbingan kelompok bermaksud melihat apakah anggota kelompok menjalankan keputusan atau menindaklanjuti perilaku hasil yang diperoleh melalui kegiatan bimbingan kelompok. Ada beberapa alasan untuk melakukan evaluasi tindak lanjut, yaitu: (1) tindak lanjut dapat menunjukkan keberlanjutan minat konselor terhadap kesejahteraan siswa; (2) tindak lanjut menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk membandingkan unjuk kerja siswa terhadap tingkah laku tujuan sebelum dan sesudah bimbingan kelompok; (3) tindak lanjut dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan seberapa jauh siswa mampu mewujudkan tingkah laku tujuan di dalam lingkungannya tanpa tergantung pada bantuan bimbingan kelompok.

Berdasarkan evaluasi proses dan evaluasi hasil bimbingan kelompok dapat digunakan untuk: (1) memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya, (2) memperkirakan keberhasilan upaya bimbingan kelompok, (3) memperkirakan perolehan siswa melalui bimbingan kelompok dalam berkelanjutan perkembangannya, (4) penyusunan laporan kepada pihak-pihak yang memerlukan, dan (5) memperkuat akuntabilitas layanan bimbingan kelompok.

5. Tugas Menyusun Rencana, Melaksanakan Praktik Bimbingan

Kelompok, Dan Menilai Serta Tindak Lanjut Peminatan Peserta Didik

Menyusun Rencana Bimbingan Kelompok

Pilih diantara topik tersebut di atas, susunlah rencana bimbingan kelompok dalam format satuan layanan bimbingan kelompok (lampiran 2). Diskusikan dengan kolega untuk memperoleh validitas ekologi dari rencana bimbingan kelompok yang saudara susun. Jika ada materi dan media dari kegiatan bimbingan kelompok yang Saudara susun, lampirkan secara lengkap. Demikianpun jangan lupa melampirkan format evaluasinya.


(1)

70

5. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

___________________________________________

KETERANGAN ISIAN FORMAT SLBK

Mata Layanan

: Layanan Dasar/Kurikulum Bimbingan

Bidang Bimbingan

: Sosial/Pribadi/Karir/Akademik

Jenis Bimbingan

: Bimbingan/Konseling Kelompok

Kelas : Ditetapkan sendiri oleh konselor dan disesuaikan dengan materi yang

akan dibahas

Tujuan :

Dirumuskan sendiri oleh konselor atau dikutip dari rumusankompetensi

lainnya.

Indikator: Dijabarkan sendiri berdasarkan pada standar kompetensi yangingin

dicapai.

Materi : Dijabarkan sendiri oleh konselor, diperoleh dari berbagai sumberyang

relevan.

Metode dan Teknik

: Ditetapkan sendiri oleh konselor dan disesuaikan dengan

materiyang akan dibahas.

Alat/Bahan : Media penyampaian materi bimbingan, lampiran materi, dsb.

1. TAHAP AWAL

a.

Pernyataan tujuan : penyampaian tujuan konseling, kompetensi yang ingin

dicapai, materi dan skenario kegiatan.

b.

Pembentukan kelompok : proses pembentukan kelompok

c.

Konsolidasi : tahap dimana konselor memberi kesempatan pada anggota

kelompok

untuk melakukan

konsolidasi

atas

tugas-tugas

dalam

melaksanakan konseling

2. TAHAP PERALIHAN / TRANSISI

a.

Storming : tahap dimana konselor melakukan penanganan konflik-konflik

internal yang disebabkan oleh keengganan konseli dalam melaksanakan

aktivitas kelompok

b.

Norming : tahap dimana konselor melakukan konsolidasi dan

re-strukturisasi kelompok dengan melakukan pembagian tugas dan kontrak

3. TAHAP KEGIATAN / KERJA

a.

Eksperientasi : tahap dimana konselor melaksanakan konseling

berdasarkan skenario yang telah dibuat sesuai dengan metode dan teknik

yang dipergunakan. Tema utama dari tahapan ini adalah ’DO’

(melaksanakan). Tahap ini disebut juga tahapan operasionalisasi teknik.

b.

Refleksi : tahap dimana konselor melaksanakan refleksi tahap satu dengan

cara mengidentifikasi pola-pola respon konseli dalam menerima stimulasi

(What Happen?) dari konselor. Tema umum pada tahap ini adalah ’LOOK’

(melihat).


(2)

71

makna bagi penyelesaian masalahnya atau pemahaman atas topik yang

dibahas

(So What?). Tema umum dari tahap ini adalah ’THINK’.

2) Merasa: tahap dimana konselor menampilkan sikap empatinya terhadap

sisa yang bermasalah.

3) Bertindak: tahap dimana konselor menunjukkan perilaku membantu.

Yakni menampilkan teknik-teknik konseling secara tepat. Tema umum

tahap ini ‘DO’.

4) Bertanggung

Jawab:

tahap

dimana

konselor

memberikan

tanggungjawab pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah

kepada siswa-siswa

c.

Generalisasi: tahap dimana konselor melaksanakan refleksi tahap akhir

dengan cara mengajak siswa membuat rencana perbaikan atas

kelemahan-kelemahannya (Now What?). Rencana perbaikan ini diwujudkan pada

proses konseling berikutnya. Tema umum dari tahap ini adalah ’PLAN’.

4. TAHAP PENGAKHIRAN / TERMINASI

a.

Refleksi umum: tahap dimana konselor mengajak konseli untuk melakukan

review atas proses konseling yang telah dilakukan.

b.

Tindak lanjut: tahap dimana konselor memberi penguatan pada konseli

untuk merealisasikan rencana-rencana perbaikannya.

5. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT

a.

Evaluasi Proses :

memberikan evaluasi terhada prose pelaksanaaan

layanan bimbingan kelompok

b.

Evaluasi Hasil

: Memberikan evaluasi seger, jangka pendek dan jangka

panjang


(3)

72

Lampiran 3

FORMAT PEER ASSESMENT

Mata Layanan

: Layanan Dasar/Kurikulum Bimbingan

Bidang Bimbingan : Sosial/Pribadi/Karir/Akademik

Jenis Bimbingan

: Bimbingan/Konseling Kelompok

Kelas

:

Tujuan

:

Indikator

:

Materi

:

Metode dan Teknik :

Alat/Bahan :

Waktu

:

No Aspek yang dinilai SLBK PENYAJIAN JUMLAH

1 2 3 4 1 2 3 4

1 Awal

a. Pernyataan tujuan b. Pembentukan kelompok c. Konsolidasi

2 Transisi

a. Storming b. Norming 3 Kerja

b. Eksperientasi c. Refleksi

1) Berpikir 2) Merasa 3) Bertindak

4) Bertanggung jawab 4 Terminasi

a. Refleksi umum b. Tindak lanjut

JUMLAH TOTAL : __________

Skor : __________

Penyaji: _______________________ Penilai : _______________________


(4)

73

JURNAL:

FORMAT REFLEKSI DIRI

Bimbingan Kelompok : Konselor :

Tanggal : Tempat : Waktu :

Vignet Concrete Experience:

Rekaman Praktik Bimbingan Kelompok

Reflective Observation:

Makna yang diberikan

Abstract Conceptualization:

Mengapa berhasil/tidak berhasil; bagaimana

cara memperbaikinya

(personal theory/hypothesis)

Active Experimentation:

Terapan terhadap kelompok yang

sama, atau kelompok lain yang mirip/sama

topik/kasusnya, sehingga menghasilkan

Vignet baru, Refleksi baru, Hipotesis baru

No.

Konselor Siswa-Siswa

Ujaran Bahasa

Tubuh Ujaran

Bahasa Tubuh

Konselor : ………

Atas dasar isian format refleksi diri di atas dan masukan peer assessment sebelumnya, maka hipotesis tindak bimbingan kelompok ke depan yang harus saya perbaiki adalah: ... ... ...


(5)

74

Lampiran 5

JURNAL

FORMAT REFLEKSI DIRI

Konseli : ... Konselor: ... Tanggal : ... Tempat : ... Waktu : ...

Vignet Concrete Experience:

Rekaman Verbatim Konseling

Reflective Observation:

Makna yang diberikan

Abstract Conceptualization:

Mengapa berhasil/tidak berhasil; bagaimana

cara memperbaikinya

(personal theory/hypothesis)

Active Experimentation:

Terapan terhadap konseli yang

sama, atau konseli lain yang

mirip/sama topik/kasusnya,

sehingga menghasilkan

Vignet baru, Refleksi baru, Hipotesis baru

No.

Konselor Konseli

Ujaran Bahasa

Tubuh Ujaran

Bahasa Tubuh

Konselor : ………

Atas dasar isian format refleksi diri di atas dan masukan hasil pengamatan kolega, maka hipotesis tindak konseling individual ke depan yang harus saya perbaiki adalah:

... ... ...


(6)

75

JURNAL

PENGAMATAN SEJAWAT

Pengamat : ... Konselor : ... Tanggal : ... Tempat : ... Waktu : ...

Vignet Concrete Experience:

Rekaman Verbatim Konseling

Reflective Observation:

Makna yang diberikan

Abstract Conceptualization:

Mengapa berhasil/tidak berhasil; bagaimana

cara memperbaikinya

(personal theory/hypothesis)

Active Experimentation:

Terapan terhadap konseli yang

sama, atau konseli lain yang

mirip/sama topik/kasusnya,

sehingga menghasilkan

Vignet baru, Refleksi baru, Hipotesis baru

No.

Konselor Konseli

Ujaran Bahasa

Tubuh Ujaran

Bahasa Tubuh

Pengamat : ………

Atas dasar hasil pengamatan, berikan masukan kepada kolega Saudara yang baru saja melaksanakan praktik konseling. Hal apakah yang harus diperbaiki dalam mempraktikkan konseliong tersebut:

... ... ...