PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA REALIA PADA PEMBELAJARAN TEMATIKSISWA KELAS I C SD XAVERIUS METRO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA REALIA PADA
PEMBELAJARAN TEMATIKSISWA KELAS I C
SD XAVERIUS METRO TAHUN PELAJARAN
2011/2012

Oleh
F. Sri Wardani

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas dan hasil belajar
siswa hal ini terbukti dari jumlah siswa yang mampu mencapai KKM hanya 11
orang dengan nilai rata-rata 83, sedangkan 15 0rang (55%) belum mampu
mencukupi nilai KKM.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
matematika siswa kelas I C SD Xaverius Metro dengan menggunakan media
realia.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang
dilaksanakan dalam 2 siklus di mana setiap siklus terdiri dari: perencanaan,
pelaksanaan, analisis dan refleksi. Data yang terkumpul dianalisis dengan
menggunakan data kuantitatif dan kualitatif.
Hasil pembelajaran dengan menggunakan media realia pada mata
pembelajaran matematika menunjukkan peningkatan persentase rata-rata aktivitas
belajar siswa pada siklus I dan II berturut-turut sebesar 71,92 % (cukup aktif) dan
83,65 % (aktif), yang berarti terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa pada tiap
siklusnya. Hasil belajar siswa pada siklus I dan II berturut-turut sebesar 85,96 dan
87,50. Sedangkan persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan II
berturut-turut sebesar 88,46% dan 99,15%, yang berarti terjadi peningkatan hasil
belajar tiap siklusnya dengan KKM sebesar 71.
Dengan demikian, pembelajaran dengan menggunakan media realia dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa yang berdampak pada peningkatan hasil
belajar siswa.
Kata kunci : Media Realia, aktivitas siswa, hasil belajar.

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang
adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa. Sesuai dengan
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 tahun
2003 Bab II Pasal 3 dijelaskan, tujuan pendidikan adalah mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional di atas, dibelajarkan berbagai
mata pelajaran di semua jenjang pendidikan dengan mengacu pada kurikulum
sebagai pedomannya. Seperti halnya pada pembelajaran di kelas rendah acuan nya
menggunakan pendekatan tematik. Pada kerangka dasar kurikulum KTSP
disebutkan bahwa proses pembelajaran kelas 1 sampai kelas 3 menggunakan
pendekatan tematik.
Pembelajaran tematik sangat membantu siswa yang tidak berasal dari
pendidikan prasekolah untuk mulai belajar di bangku formal. Pelajaran yang
disajikan tanpa adanya pemilahan mata pelajaran, membuat siswa belajar dengan
berbagai hal dalam satu kali pembelajaran. Hal ini sangat menguntungkan bagi

2

siswa, yaitu belajar tanpa beban, anak belajar sambil bermain (learning by
playing). Bermain adalah kegiatan yang paling disukai oleh anak-anak.
Pembelajaran tematik menekankan pada pemberian pengalaman langsung
(direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada
sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih
abstrak. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa usia SD kelas 1-3 yang masih
sangat bergantung pada respon indra. Artinya apa yang dilihat, didengar, dan
dirasakan sangat melekat dengan apa yang dipahami. Pemahaman anak akan lebih
melekat karena implikasi pembelajaran di kelas yang menggunakan metode dan
bahan belajar yang mendukung respon siswa melalui penerimaan sensorik panca
indranya.
Matematika sebagai suatu mata pelajaran telah dikenalkan pada siswa
mulai dari kelas rendah. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai
objek yang bersifat abstrak (Diyah, 2007: 2).Sifat abstrak menyebabkan banyak
siswa mengalami kesulitan dalam matematika, terlebih lagi pada siswa kelas
rendah. Pada tahap ini siswa memandang ”dunia” secara objektif dan berorientasi
secara konseptual. Pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan
penting bagi terjadinya perubahan perkembangan.
Menurut Piaget dalam (Syah, 2007: 73) anak pada tahap perkembangan
operasional konkret (7-11 tahun) baru mampu berpikir sistematis mengenai
benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Pada tahap ini anak
membangun sendiri skemata dari pengalaman sendiri dengan lingkungannya.
Kegiatan yang dilakukan anak adalah untuk mendapatkan pengalaman langsung
atau memanipulasi objek-objek konkret. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai

3

fasilitator, bukan hanya pemberi informasi. Guru perlu menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi siswanya. Djamarah dan Zain (2006: 77)
mengemukakan bahwa guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban
menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di
kelas.
Keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya dilihat dari hasil, namun juga
proses

pembelajaran

yang

dilakukan.

Pembelajaran

yang

baik

adalah

pembelajaran yang bersifat menyeluruh yang pelaksanaannya mencakup berbagai
aspek, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, sehingga dalam
pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dilihat
dari segi kualitasnya. Oleh sebab itu, pembelajaran yang aktif ditandai adanya
rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa aktif, komprehensif baik
fisik, mental, maupun emosional.
Untuk memenuhi kemampuan tersebut, guru sebaiknya mampu menilai
kinerjanya sebagai guru dalam mengajar di kelas, di mana kinerja tersebut
berkaitan erat dengan kualitas instruksional yang dimiliki guru dalam mengajar.
Kemampuan ini dapat dinilai melalui penelitian yang dilaksanakan dalam lingkup
kelasnya sendiri atau disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan
penelitian tindakan kelas, guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik
pembelajaran yang dilakukannya di kelas. Selain itu, dengan melakukan penelitian
tindakan kelas, guru juga dapat memperbaiki pelaksanaan pembelajaran dari
pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih baik.
Berdasarkan observasi di kelas IC SD Xaverius Metro, menunjukkan
aktivitas dan pemahaman siswa pada pembelajaran matematika sebagai berikut:

4

(1) siswa tidak memberikan respon/tanggapan ketika guru memberi kesempatan
bertanya, mengajukan pendapat/gagasan; (2) siswa masih takut dan kurang
percaya diri untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan guru; (3) pada
saat mengerjakan latihan di papan tulis, hanya beberapa siswa yang berani
mengerjakannya; (4) tidak ada alat peraga/media yang digunakan dalam proses
pembelajaran; (5) pembelajaran tidak mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
(kontekstual).
Selain hal di atas, dapat dijelaskan juga bahwa guru cenderung hanya
menggunakan strategi pembelajaran yang bersifat konvensional yaitu penggunaan
metode ceramah dan tanya jawab, jarang menggunakan media sebagai alat untuk
menyampaikan materi pembelajaran agar mudah dimengerti oleh siswa. Pada hal
media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran dari
system pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya
merupakan bagian yang harus diperhatikan guru dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Kenyataannya penggunaan media sering terabaikan dengan
berbagai alasan. Alasan klasik yang sering muncul antara lain terbatasnya
waktu, dalam pembelajaran guru terbiasa dengan system konvensional, guru
malas menggunakan media karena hanya ingin mencari kepraktisan dalam
mengajarnya. Hal semacam itu sebenarnya tidak akan terjadi jika setiap guru
telah membekali diri dengan kompetensi dalam dirinya.
Dari berbagai hal di atas, berakibat pada kondisi pembelajaran tematik di
kelas I cenderung kurang diminati siswa dan kelas menjadi gaduh. Aktivitas
belajar siswa menjadi rendah dan kurang termotivasi. Hasil belajar siswa juga
menjadi rendah, dari berbagai mata pelajaran yang ditematikkan, matematika

5

selalu memperoleh nilai yang rendah. Nilai tersebut belum mencapai Standar
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 71. Pencapaian
tersebut masih rendah yaitu 16 siswa mendapatkan nilai rata-rata 63 di bawah
KKM, sedangkan hanya 13 siswa yang telah mencapai nilai di atas KKM
dengan perolehan rata-rata 83.
Sehubungan dengan masalah yang telah dipaparkan, seorang guru perlu
menerapkan pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan di atas, salah satu
materi pembelajaran yang mengaitkan secara langsung dengan dunia nyata.
Alternatif sebagai solusi yang dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut
adalah penggunaan media realia dalam pembelajaran yang orientasinya menuju
kepada penalaran siswa yang bersifat realistik sesuai dengan tuntutan kurikulum
yang ditujukan kepada pengembangan pola pikir kritis, logis, praktis, dan jujur
dengan berorientasi pada penalaran matematika dalam menyelesaikan masalah
secara kontekstual.
Berdasarkan uraian di atas untuk mengatasi/meminimalisasi masalah,
penulis akan melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dengan judul ”Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika
dengan Menggunakan Media Realia pada Pembelajaran Tematik Siswa Kelas I C
SD Xaverius Metro tahun pelajaran 2011/2012”.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas perlu diindetifikasi
permasalahan yaitu sebagai berikut :
a. Siswa tidak memberikan respon/tanggapan ketika guru memberi kesempatan
bertanya, mengajukan pendapat/gagasan.

6

b. Siswa masih takut dan kurang percaya diri untuk menjawab berbagai
pertanyaan yang diajukan guru.
c. Pada saat mengerjakan latihan di papan tulis, hanya beberapa siswa yang
berani mengerjakannya.
d. Dalam pembelajaran guru tidak mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
(kontekstual) dan tidak menggunakan media realia sehingga membuat
aktivitas siswa menjadi rendah dan kurang termotivasi.
e. Kurangnya keprofesional anguru dalam menggunakan media pembelajaran
membawa dampak rendahnya hasil belajar matematika, yaitu 16 siswa
mendapatkan nilai rata-rata 63 di bawah KKM, yaitu 71.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti merumuskan masalah
dalam penelitian, yaitu "Apakah penggunaan media realia pada pembelajaran
tematik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika kelas I C SD
Xaverius Metro?"

1.4 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah penelitian yang telah diuraikan di atas, maka tujuan
dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk:
a.

Meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IC SD Xaverius Metro dalam
pembelajaran tematik dengan menggunakan media realia.

b. Meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IC SD Xaverius Metro
dalam pembelajaran matematika menggunakan media realia.

7

1.5 Manfaat Penelitian
Adapun hasil dari penelitian yang dilaksanakan di kelas I C SD Xaverius
Metro memiliki manfaat bagi:
a. Siswa
Mampu meningkatkan kemampuan

siswa dalam mengoperasionalkan

penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran matematika serta
mempermudah siswa mencari alat bantu pembelajaran dengan benda-benda
kongkret di sekitar sekolah.
b. Guru
Memperluas wawasan dan menambah pengetahuan guru serta meningkatkan
profesionalisme dalam bidang pendidikan, khususnya dalam menggunkan alat
peraga. Selain itu, dapat dijadikan sebagai bahan rujukan menambah wawasan
dan pengetahuan tentang Penelitian Tindakan Kelas sehingga menjadi guru
yang lebih profesional.
c. Sekolah
Sebagai masukan bagi sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan
melalui pembelajaran tematik dengan menggunakan media realia.
d. Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman tentang media pembelajaran,
sehingga kelak dapat menjadi guru yang profesional.

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Belajar
2.1.1

Penegertian Belajar
Belajar adalah proses di mana seseorang mengubah pandangan
tentang dirinya dan lingkungannya. Teori Gestalt menyatakan, belajar
adalah rekonstruksi mental atau melihat ulang segala sesuatu dengan
konfigurasi yang berbeda. Seseorang dapat bertahan hidup dan
menyesuaikan dengan lingkungan akibat dari pertumbuhan fisik, mental
dan belajar terhadap interaksi pengaruh lingkungan. Belajar merupakan
perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan
atau pengalaman yang diperoleh.
Dilihat dari segi pendidikan, apabila seseorang telah belajar
sesuatu, maka dia akan berubah kesiapannya dalam menghadapi
lingkungannya. Belajar adalah aktivitas dan merupakan fungsi dari situasi
di sekitar individu yang belajar, serta diarahkan oleh tujuan yang terdiri
atas tingkah laku, yang menimbulkan adanya pengalaman-pengalaman dan
keinginan untuk memahami sesuatu.
Belajar adalah suatu proses psikologis, yaitu perubahan perilaku
peserta didik, baik berupa pengetahuan, sikap, ataupun keterampilan.

9

Belajar pada abad 21, seperti yang dikemukakan Delors (Kurnia, 2007:
1.3) didasarkan pada konsep belajar sepanjang hayat (life long learning)
dan belajar bagaimana belajar (learning how to learn).

Konsep ini

bertumpu pada empat pilar pembelajaran, yaitu: (1) learning to know
(belajar mengetahui) dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup
luas dengan kesempatan untuk bekerja melalui kemampuan belajar
bagaimana caranya belajar sehingga diperoleh keuntungan dari peluangpeluang pendidikan sepanjang hayat yang tersedia; (2) learning to do
(belajar berbuat) bukan hanya untuk memperoleh suatu keterampilan kerja
tetapi juga untuk mendapatkan kompetensi berkenaan dengan bekerja
dalam kelompok dan berbagai kondisi sosial yang informal; (3) learning
to be (belajar untuk menjadi dirinya) dengan lebih menyadari kekuatan
dan

keterbatasan

dirinya,

dan

terus

menerus

mengembangkan

kepribadiannya lebih baik dan mampu bertindak mandiri, dan membuat
pertimbangan berdasarkan tanggung jawab pribadi; (4) learning to live
together (balajar hidup bersama) dengan cara mengembangkan pengertian
dan kemampuan untuk dapat hidup bersama dan bekerjasama dengan
orang lain dalam masyarakat global yang semakin pluralistik/majamuk
secara damai dan harmonis, yang didasari dengan nilai-nilai demokrasi,
perdamaian, hak asasi manusia, dan pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan pengertian tentang belajar yang telah dikemukakan di
atas, penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah segala kegiatan yang
dilakukan siswa untuk memperoleh perubahan kognitif, afektif, dan
psikomotor.

10

2.1.2

Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang
untuk menghasilkan perubahan dalam hal pengetahuan, nilai sikap, dan
keterampilan sehingga menjadi manusia yang mandiri dalam arti mampu
menghadapi berbagai aspek dalam kehidupan untuk sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran, guru perlu memberi stimulus terhadap
aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Sardiman (2010: 100)
mengemukakan bahwa aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik
maupun mental. Dalam kegiatan pembelajaran kedua aktivitas itu harus
selalu berkait. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran merupakan
salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Kunandar
(2010: 277) menyebutkan bahwa aktivitas belajar adalah keterlibatan
siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan
memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.
Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam
proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa,
sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Pidarta
(2007: 197), belajar merupakan proses perubahan perilaku yang relatif
permanen sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakan pada
pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya pada orang lain.

11

Keaktifan siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu
indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa
dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti:
sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang
diberikan guru, menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain
sebagainya.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
aktivitas belajar adalah segala kegiatan untuk memperoleh suatu ilmu
pengetahuan dan keterampilan, serta memperoleh perubahan tingkah laku
yang baru yang melibatkan kerja pikiran dan badan terutama dalam hal
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

2.1.3

Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah berusaha mengetahui sesuatu; berusaha memperoleh
ilmu pengetahuan kepandaian, keterampilan, sehingga hasil belajar dapat
diartikan sebagai sesuatu yang diadakan oleh usaha dalam memperoleh
ilmu pengetahuan (Qodratillah, 2008:

24). Hal ini mengindikasikan

bahwa hasil belajar merupakan akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas
belajar, dan kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan
siswa dalam memperoleh hasil. Untuk mengetahui berhasil tidaknya
seseorang dalam belajar, maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya
untuk mengetahui hasil yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran
berlangsung.
Menurut Sudjana (2004: 22) hasil belajar dibagi menjadi tiga macam,
yaitu: (1) keterampilan dan kebiasaan; (2) pengetahuan dan pengertian;

12

dan (3) sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi
dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Sedangkan menurut
Hamalik (2001: 30) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan
terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut misalnya dari tidak
tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah tingkat pengetahuan yang dicapai siswa terhadap materi yang diterima
ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di
sekolah.

2.2 Media Pembelajaran
2.2.1

Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak
dari kata, yaitu medium yang secara harfiah berarti perantara atau
pengantar (Sadiman, 2006: 6). Banyak batasan yang diberikan orang
tentang

media.

Asosiasi

Teknologi

dan

Komunikasi

Pendidikan

(Association of Education and Comunication Technology/AECT) di
Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang
digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Media atau bahan
sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di
samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Media atau bahan lunak
(software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan
dengan mempergunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras
(hardware) merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang
terkandung pada media tersebut (Sadiman, 2006: 19).

13

Gagne dalam Sadiman (2006: 6) menyatakan bahwa media adalah
berbagai

jenis

komponen

dalam

lingkungan

siswa

yang

dapat

merangsangnya untuk belajar.Sementara itu, Briggs dalam Sadiman (2006:
6) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku,film, video dan
sebagainya.
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang
dimiliki olehsiswa. Pengalaman tiap siswa berbeda-beda, bergantung dari
faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman siswa, seperti
ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media
pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika siswa tidak
mungkin dibawa ke objek langsung yang dipelajari, maka objeknyalah
yang dibawa ke hadapan siswa. Objek dimaksud bisa dalam bentuk nyata,
miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan
secara audio visual dan audial.

2.2.2

Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Sadiman (2006: 16), media pembelajaran mempunyai
beberapa manfaat sebagai berikut:
a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis
(dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra.
c. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi
dapat diatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini, media pendidikan
berguna untuk (1) menimbulkan kegairahan belajar; (2)
memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik
dengan lingkungan dan kenyataan; dan (3) memungkinkan anak
didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
d. Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan
lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum

14

dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka
guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus
diatasi sendiri.
Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan pesan, dapat
merangsang pikiran, perasaanserta membantu siswa di dalam memahami
dan memperoleh informasi sehingga pembelajaran dapat berhasil.

2.2.3

Peranan Media Pembelajaran
Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan
pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam sebuah
kerucut yang emudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar
Dale cone of experience).

Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat
bantu atau media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman
belajar secara mudah.

15

Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu
memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa
dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang
dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media tertentu
dan proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret siswa
mempelajari

bahan

pembelajaran,

contohnya

melalui

pengalaman

langsung, maka semakin banyaklah pengalaman yang diperolehnya.
Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya
hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman
yang akan diperoleh siswa (Sanjaya, 2008:165).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media
pembelajaran berperan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang
pikiran,serta membantu siswa di dalam memahami dan memperoleh
informasi sehingga pembelajaran dapat berhasil.

2.2.4

Jenis-jenis Media Pembelajaran
MenurutHafiz (dalam http://edu-articles.com/berbagai-jenis-mediapembelajaran/html), media pembelajaran terdiri atas:
a. Media Visual
1) Media yang tidak diproyeksikan


Media realia adalah benda nyata.



Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang
merupakan representasi atau pengganti dari benda yang
sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala
tertentu sebagai pengganti realia.

16



Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan
melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah
menarik perhatian..

2) Media proyeksi


Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka
sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru
dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi
siswa).



Film bingkai/slide adalah film transparan yang umumnya
berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci.

b. Media Audio
1) Radio, radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat
digunakan untuk mendengarkan berita dan dapat mengetahui
beberapa kejadian dan peristiwa penting masalah kehidupan.
2) Kaset-audio yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering
digunakan di sekolah.
c. Media Audio-Visual
1) Media video merupakan salah satu jenis media audio visual, selain
film yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran,
biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2) Media komputer media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki
oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan
gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan
hanya searah.

17

2.2.5

Pengertian Media Realia
Materi matematika diawali dari bentuk yang konkret mengarah pada
bentuk yang abstrak, hal ini berdampak pada implementasi pembelajaran
dengan penalaran deduktif. Apabila hal ini diterapkan di SD, maka tahap
perkembangan mental siswa tidak mampu mengikuti secara baik. Oleh
karena itu, diperlukan strategi, metode, dan pendekatan yang lebih konkret
sehingga mampu mengikutinya.
Media yang sesuai dan cocok akan memberikan daya tarik bagi siswa
dalam belajar. Media yang digunakan akan merangsang keingintahuan
siswa dan membuat siswa bersemangat dalam pelajaran yang diberikan.
Guru dan siswa menggunakan media yang sesuai dengan materi. Media
yang digunakanmedia realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak
harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke
objek.
Pitadjeng (2006:1) mengungkapkan bahwa banyak orang yang tidak
menyukai matematika, termasuk anak-anak yang masih duduk di bangku
kelas SD/MI, karena anggapan matematika sulit dipelajari, gurunya tidak
menyenangkan,

membosankan,

menakutkan,

angker,

killer,

dan

sebagainya. Oleh sebab itu diperlukan suatu model pembelajaran yang
akan membuat siswa akrab dan menyenangkan belajar matematika. Orang
yang belajar akan merasa senang jika memahami apa yang dipelajarinya.
Hal ini juga berlaku bagi anak yang belajar matematika, dan media realia
adalah salah satu media yang akan membuat siswa akrab dan menyenangi
matematika.

18

Pembelajaran di atas menekankan akan pentingnya konteks nyata yang
dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa
sendiri. Gravemeijer dalam (Tarigan, 2006: 3), masalah konteks nyata
merupakan bagian inti dan dijadikan starting point dalam pembelajaran
matematika. Konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa dengan
memperhatikan konteks itu berlangsung dalam proses yang oleh
Freudenthal dinamakan reinvensi terbimbing (guided reinvention).
Berdasarkan beberapa pengertian tentang media realia yang telah
dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan bahwa media realia
merupakan suatu media yangmenekankan pada hal-hal yang kontekstual
dan nyata yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga dapat mempermudah siswa memahami materi dan memberikan
pengalaman langsung yang bermakna bagi siswa.

2.2.6

Kelebihan dan Kelemahan Media Realia
Setiap media yang digunakan dalam pembelajaran sudah pasti
mempunyai kelebihan dan kelemahan. Menurut Benny A. (dalam
http://widodo.staff.uns.ac.id/2009/10/20/ringkasan-modul-7-media-tigademensi/html), kelebihan media realia, yaitu dianggap medium yang
paling mudah diakses dan lebih menarik perhatian, mampu merangsang
imajinasi, memberikan pengalaman belajar langsung (dengan menyentuh
dan

mengamati

bagian-bagiannya),

dan

pengalaman

tentang

keindahan.Media realia ini juga dapat memberikan pengalaman nyata
kepada siswa.

19

Sedangkan kelemahan media realia, yaitu ukurannya terlalu besar, maka

untuk dibawa ke ruangan sangat sulit (lokomotif, buaya, gajah), atau
terlalu kecil (kuman), kadang juga bisa membahayakan (ular, buaya), tidak
bisa memberikan hasil belajar yang sama, dan informasi yang akan
disampaikan terkadang tidak sampai kepada audience.

2.3 Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan strategi pembelajaran yang diterapkan
bagi siswa kelas awal sekolah dasar. Sesuai dengan tahapan perkembangan
siswa, karakteristik cara siswa belajar, konsep belajar, dan pembelajaran
bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi siswa kelas awal SD sebaiknya
dilakukan dengan pembelajaran tematik.
Ditinjau

dari

pengertiannya,

pembelajaran

adalah

pengembangan

pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada saat seseorang individu
berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Menurut Yunanto (2004: 4),
pembelajaran merupakan pendekatan belajar yang memberi ruang kepada
siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar.Tema adalah pokok pikiran
atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Depdiknas, 2007:226).
Menurut Kunandar (2007:311), tema merupakan alat atau wadah untuk
mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh. Dalam
pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum
dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa siswa
dan membuat pemmbelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam
pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum,

20

dan aspek pembelajaran. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajatan
terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi yang terdapat di
dalam beberapa mata pelajaran dan diberikan dalam satu kali tatap muka.
Pembelajaran tematik dikemas dalam suatu tema atau biasa disebut dengan
istilah tematik. Pendekatan tematik ini merupakan satu usaha untuk
mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran dan nilai pembelajaran serta
pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dengan kata lain
pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam
mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman
bermakna bagi siswa.. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran
tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah
dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak
proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan
struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi
Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah
bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep
belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).

2.3.1

Karakteristik Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki beberapa ciri khas. Muslich (2008:
166) mengemukakan beberapa karakteristik pembelajaran tematik, yaitu:
a. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar.
b. Kegiatan yang dipilih bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.

21

c. Kegiatan belajar lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga
hasil belajar dapat bertahan lama.
d. Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
e. Menyajikan kegiatan belajar sesuai dengan permasalahan yang
sering ditemui siswa dalam lingkungannya.
f. Mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Penggabungan beberapa kompetensi dasar, indikator serta isi mata
pelajaran dalam pembelajaran tematik akan terjadi penghematan karena
tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Siswa mampu
melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran
lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan merupakan tujuan akhir.
Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian
mengenai proses dan materi pelajaran secara utuh pula.Dengan adanya
pemaduan antarmata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin
baik dan meningkat.
Dalam merancang pembelajaran tematik di sekolah dasar bisa
dilakukan dengan dua cara. Pertama, dimulai dengan menetapkan terlebih
dahulu tema-tema tertentu yang akan diajarkan kemudian dilanjutkan
dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada beberapa
mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tema yang dipilih.
Kedua, dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari beberapa
mata pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjutkan dengan penetapan
tema pemersatu (Rusman, 2010: 260).
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa
dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga
siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan

terlatih untuk

dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.

22

Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah
dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi
Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah
bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik
merupakan pembelajaran yang menghubungkan atau mengaitkan beberapa
mata pelajaran dalam suatu tema tertentu dengan melibatkan pengalaman
belajar bermakna pada siswa kelas awal.

2.3.2

Landasan Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran tematik merupakan implementasi dari
kurikulum yang berlaku. Pada saat mempertimbangkan pelaksanaan
pembelajaran ini didasari pada landasan filosofis, landasan psikologis, dan
landasan

yuridis.

Menurut

Ichsan

(dalam

http://www.sekolah-

dasar.net/2011/3/pembelajaran-tematik-di-sekolah-dasar/html), landasan
filosofis dari implementasi pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh
tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3)
humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan,
suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct
experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,
pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia
mengonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena,

23

pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu
saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterpretasikan sendiri
oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi,
melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa
yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam
perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi
keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Siswa
selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan.
Landasan

psikologis

terutama

perkembangan

peserta

didik

perkembangan

diperlukan

dan

terutama

berkaitan

dengan

psikologi

psikologi

belajar.

Psikologi

menentukan

isi/materi

dalam

pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan
dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan perilaku
siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun
sosial.

2.3.3

Langkah-langkah Pembelajaran Tematik
a. Pemetaan Kompetensi Dasar
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran
secara menyeluruh dan utuh dari semua standar kompetensi dan
kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang dipadukan. Dalam
merancang pembelajaran tematik di sekolah dasar bisa dilakukan
dengan dua cara. Pertama, dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu
tema-tema tertentu yang akan diajarkan kemudian dilanjutkan dengan

24

mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada beberapa
mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tema yang dipilih.
Kedua, dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari
beberapa mata pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjutkan dengan
penetapan tema pemersatu (Rusman, 2010: 260)
Dari kedua cara pemetaan yang dilakukan, terdapat kegiatan yang
harus dilakukan yaitu menentukan tema sebagai alat/wahana pemersatu
dari standar kompetensi dari setiap mata pelajaran yang dipadukan.
b. Menetapkan Jaringan Tema
Setelah melakukan pemetaan dapat membuat jaringan tema yaitu
menghubungkan kompetensi dasar dengan tema pemersatu dan
mengembangkan indikator pencapaiannya untuk setiap kompetensi
dasar yang terpilih.
c. Penyusunan Silabus Pembelajaran Tematik
Silabus dikembangan dari jaringan tema. Silabus dapat dirumuskan
untuk keperluan satu minggu atau dua minggu, bergantung pada
keluasan dan kedalaman kompetensi yang diharapkan. .

2.4 Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis Penelitian Tindakan
Kelas yaitu “Apabila dalam pembelajaran tematik siswa kelas I menggunakan
media realia dengan tepat, maka akan meningkatkan aktivitas belajar dan hasil
belajar matematika siswa kelas I C SD Xaverius Metro tahun pelajaran
2011/2012”.

25

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian
tindakan kelas ini secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui,
yakni (1) perencaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi yang
merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah (Arikunto,
2006: 12).
Pendapat yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Wardhani, dkk.
(2007: 13) bahwa prosedur yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas
berbentuk siklus. Siklus ini tidak berlangsung satu kali tetapi beberapa kali hingga
tercapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran di kelas.

26

Permasalahan

Perencanaan

Pelaksanaan

Siklus I
Refleksi

Permasalahan baru
hasil refleksi

Perencanaan

Pengamatan /
observasi

Pelaksanaan

Siklus II
Refleksi
Apabila
permasalahan belum
terselesaikan

Pengamatan /
observasi

Dilanjutkan ke
siklus
berikutnya

Gambar 1. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas diadopsi dari Arikunto
(2006: 74)

3.2 Setting Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di SD Xaverius Kota Metro Jl.
Tulang Bawang No. 9 Metro Pusat.
3.2.2 Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun
pelajaran 2011/2012 selama kurang lebih empat bulan (Februari-Mei).

27

3.2.3 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I C SD Xaverius
semester genap tahun 2011/2012 yang berjumlah 26 siswa, dengan
rincian 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.

3.3 Sumber Data
Data penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data
kualitatif diperoleh dari observasi aktivitas belajar siswa dan observasi kinerja
guru. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil tes tertulis yang dievaluasi
dengan skor (angka).

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pada tahap, ini penulis mengumpulkan data yang diperoleh berdasarkan
instrumen penelitian, yaitu dengan menggunakan teknik observasi dan juga test
tertulis. Pengumpulan data dilakukan selama proses pembelajaran dengan
menggunakan:
a. Observasi dilakukan oleh observer terhadap aktivitas siswa dan kinerja guru
selama proses pembelajaran berlangssung.
b. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus, guna mengetahui hasil belajar siswa
dalam pembelajaran tematik.

3.5 Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu berupa lembar
observasi, test tertulis, dan kamera.
3.5.1 Lembar observasi, digunakan untuk mengamati kinerja guru dan
aktivitas belajar siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

28

3.5.2 Instrumen berupa test tertulis untuk mengetahui hasil belajar
matematika siswa dalam penjumlahan dan pengurangan.
3.5.3 Kamera, digunakan untuk mendokumentasikan aktivitas belajar siswa
dan juga kinerja guru selama proses pembelajaran, dengan
menggunakan kamera.

3.6 Teknik Analisis dan Pengolahan Data
Data penelitian akan dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang
berkaitan dengan aktivitas siswa dan guru, selanjutnya proses memaknai secara
kontekstual serta mendalami sesuai dengan permasalahan penelitian. Sedangkan
analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa.
3.6.1 Analisis Aktivitas Belajar Siswa
Analisis yang dilakukan terhadap data aktivitas belajar siswa adalah
sebagai berikut:
a. Persentase aktivitas belajar setiap siswa diperoleh dengan rumus :

NP 

R
x 100
SM

Keterangan:
NP = nilai persen yang dicari atau diharapkan
R
= skor mentah yang diperoleh siswa
SM = skor maksimum dari tes yang ditentukan
Diadopsi dari Purwanto (2009: 102)
b. Nilai rata-rata aktivitas siswa diperoleh dengan rumus:

 =

x
n

29

Keterangan:



= nilai rata-rata aktivitas siswa

 x = jumlah nilai
n

= jumlah aspek yang dinilai

Adaptasi dari Aqib (2009: 40)
3.6.2 Analisis Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar siswa diperoleh dari tes formatif setiap siklus
dengan KKM 71. Hasil belajar siswa diklasifikasikan sesuai dengan tabel di
bawah ini:
Tabel 1. Klasifikasi hasil belajar siswa menurut tingkat kecakapan
No
1
2
3
4
5

Rentang nilai
>91
81 – 90
71 – 80
61 – 70
91% dari kriteria
keberhasilan yang digunakan (Aqib, 2009: 41). Sedangkan untuk peningkatan
hasil belajar dapat dilihat dari ketercapaian KKM (nilai ≥ 71) baik secara klasikal
maupun individual serta peningkatan nilai rata-rata siswa di setiap siklusnya.
Peneliti menargetkan dalam penelitian dinyatakan tuntas apabila > 75% dari
jumlah siswa telah lulus KKM.

67

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil tindakan dan pembahasan yang telah diuraikan pada
Bab IV, maka dapat dirumuskan kesimpulan tentang pembelajaran dengan tema
energi dan peristiwa alam dengan menggunakan media realia dan media LKS
sebagai berikut.
1. Pembelajaran menggunakan media realia dapat meningkatkan aktivitas belajar
siswa SD Xaverius Metro. Secara berurutan persentase rata-rata tiap siklusnya
mencapai 71,92 % (cukup aktif) pada siklus I dan pada siklus II 83,65% (aktif)
sehingga terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II.
2. Pembelajaran menggunakan media realia dapat meningkatkan hasil belajar
siswa secara signifikan. Secara berurutan rata-rata hasil belajar siswa tiap
siklusnya mencapai 85,96 pada siklus I, dan siklus II mencapai 87,50 sehingga
terjadi peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklua II.
3. Benda-benda di lingkungan sekolah dapat menjadi alat peraga atau media
yang baik dan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran
serta menumbuhkan minat belajar siswa.
4. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media realia, guru tidak lagi
menjadi satu-satunya sumber informasi, guru berkomunikasi dengan siswa

68

secara terbuka, demokratis, dan obyektif. Guru berperan sebagai fasilitator
belajar siswa, yang dapat menumbuhkan minat, rasa ingin tahu, motivasi
belajar yang tinggi bagi siswa serta pendorong bagi upaya terjalinnya
kerjasama antar siswa.
5. Penggunaan media realia yang dilakukan secara tepat, dapat meningkatkan
aktivitas belajar dan hasil belajar matematika siswa kelas IC SD Xaverius
Metro, maka hipotesis dapat diterima.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas, berikut ini disampaikan
saran-saran dalam menggunakan media realia, yaitu:
1. Siswa
a. Selalu aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga dapat
mempermudah memahami materi pembelajaran dan hasil belajar dapat
meningkat.
b. Siswa harus bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, baik tugas
individu maupun kelompok.
2. Peneliti/Guru
a.

Guru perlu memperhitungkan waktu yang tersedia agar semua rencana
pembelajaran dapat terlaksana secara maksimal.

b.

Guru sebaiknya lebih kreatif dalam memanfaatkan benda-benda di sekitar
sekolah untuk dijadikan media pembelajaran yang bermanfaat.

69

c.

Guru harus memegang prinsip-prinsip pelaksanaan, dan mengoptimalkan
sumber belajar yang tersedia (tidak hanya tergantung kepada sal

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INDUKTIF DENGAN MEDIA GAMBAR PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SDN 08 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 8 69

PENGGUNAAN MEDIA REALIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SDN 2 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

4 29 62

PENGGUNAAN MEDIA REALIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SDN 2 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

3 26 61

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MEDIA REALIA PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV SDN 08 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

25 213 55

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA REALIA PADA PEMBELAJARAN TEMATIKSISWA KELAS I C SD XAVERIUS METRO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 5 54

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE EXAMPLES NON EXAMPLES DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VB SD XAVERIUS METRO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 7 39

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI 8 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 6 47

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA REALIA PADA SISWA KELAS II SD NEGERI I WAY KANDIS BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 4 82

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN METODE LATIHAN DENGAN MEDIA REALIA SISWA KELAS IV SD KARUNIA IMANUEL BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 29 58

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN TEMATIK DENGAN TEMA KELUARGA MELALUAI MEDIA REALIA SISWA KELAS IA SD XAVERIUS 3 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 14 56

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2181 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 560 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 484 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 313 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 433 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 690 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 598 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 386 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 567 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 686 23