Pembahasan Hasil Penelitian HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
52 kebugaran paru jantung harus menerapkan prinsip FIT. Frekuensi siswa
melakukan aktivitas jalan dan bersepeda ke sekolah adalah 6 kali seminggu. Intensitas siswa yang naik sepeda lebih berat dan denyut nadinya lebih cepat
jika dibandingkan siswa yang jalan kaki, karena pada saat bersepeda ada gerakan-gerakan atau rangsangan terhadap jantung untuk bekerja keras seperti
pada saat melewati jalan yang menanjak dan ditambah dengan beban dari mengayuh sepeda itu sendiri. Sedangkan jalan kaki tidak memberikan beban
yang berlebih terhadap kerja jantung. Jalan kaki membebani jantung secara konstan dan wajar. Menurut Dede Kusmana 2002: 12, olahraga dinamis
dapat meningkatkan aliran darah sehingga sangat baik untuk meningkatkan sistem jantung dan paru. Jalan kaki dan naik sepeda termasuk olahraga
dinamis. Beban kerja otot yang diberikan oleh siswa yang naik sepeda lebih besar jika dibandingkan dengan siswa yang jalan kaki dan naik kendaraan
bermotor karena terkadang harus melewati jalan yang menanjak sehingga otot mereka jauh lebih terlatih dan kuat. Otot-otot yang bekerja pada saat
mengayuh sepeda juga lebih banyak jika dibandingkan dengan jalan kaki. Semakin tinggi jumlah otot yang dipakai, maka semakin tinggi pula intensitas
kerja otot. Semakin banyak otot yang dipakai untuk bekerja, maka semakin banyak pula jumlah oksigen yang harus dikonsumsi. Semakin banyak oksigen
yang diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam bekerja, sehingga zat-zat sisa yang menyebabkan kelelahan jumlahnya akan
semakin sedikit.
53 Untuk siswa yang berangkat ke sekolah dengan naik kendaraan
bermotor mempunyai nilai mean terendah, hal ini menunjukkan bahwa siswa yang naik kendaraan bermotor mempunyai tingkat daya tahan kardiorespirasi
yang rendah atau kurang sekali. Walaupun jarak rumah siswa yang naik kendaraan bermotor ke sekolah lebih jauh daripada siswa yang jalan kaki atau
naik sepeda, hal tersebut tidak berpengaruh karena siswa cenderung pasif atau kurang gerak pada saat berangkat sekolah dan otot-otot tubuh menjadi tidak
terlatih pada saat naik kendaraan bermotor. Walaupun hipotesis dalam penelitian ini telah terbukti bahwa ada
perbedaan nilai prediksi VO2 maks yang signifikan antara siswa yang berangkat ke sekolah jalan kaki, naik sepeda dan naik kendaraan bermotor
pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngemplak tahun ajaran 20142015, tetapi tidak sepenuhnya bahwa aktivitas siswa pada saat berangkat ke sekolah
mempengaruhi nilai prediksi VO2 maks siswa. Ada siswa yang naik kendaraan bermotor memiliki nilai VO2 maks yang sama dengan siswa yang
naik sepeda, hal ini dikarenakan siswa tersebut memiliki aktivitas fisik yang cukup baik yang dilakukan pada saat di luar sekolah, sehingga siswa tersebut
dapat meningkatkan daya tahan kardiorespirasinya. Siswa yang memiliki cukup waktu untuk melakukan aktivitas fisik cenderung mempunyai level
VO2 maks yang lebih baik, yang berarti tingkat daya tahan kardiorespirasi siswa tersebut juga baik. Aktivitas fisik seperti jalan kaki dan bersepeda dapat
melatih otot-otot tubuh bagian bawah, meningkatkan ketahanan jantung dan paru-paru dan memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi
54 lancar dan oksigen yang diangkut oleh darah ke sel-sel otot menjadi lebih
maksimal. Hal ini menyebabkan level VO2 maks menjadi lebih baik dan membuat tubuh tidak mudah lelah saat melakukan aktivitas fisik yang cukup
lama.
55