Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu

KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA
PADA TEGAKAN KARET DAN TEGAKAN SAWIT
DI EKOSISTEM LAHAN GAMBUT
Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah
Kabupaten Labuhan Batu

SKRIPSI

Oleh:
ANDRIANUS SIMON SIBARANI
071202025

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA
PADA TEGAKAN KARET DAN TEGAKAN SAWIT
DI EKOSISTEM LAHAN GAMBUT
Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah
Kabupaten Labuhan Batu

SKRIPSI
Oleh :
ANDRIANUS SIMON SIBARANI
071202025/BUDIDAYA HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana Kehutanan di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian

: Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan
Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa
Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan
Batu

Nama Mahasiswa

: Andrianus Simon Sibarani

NIM

: 071202025

Program Studi

: Budidaya Hutan

Disetujui oleh :
Komisi Pembimbing

Dr. Deni Elfiati, SP, MP
Ketua

Dr. Delvian, SP, MP
Anggota

Mengetahui,

Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D
Ketua Program Studi Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Diversity of Arbuscula Mycorrhiza Fungi in
Rubber Stands and Oil Palm Stands in Peatland Ecosystems in Desa Telaga Suka,
Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, supervisied by DENI
ELFIATI and DELVIAN.
Peatland rehabilitation can applied with mycorrhyza, if data and isolate of
mycorrhyza in that peatland have been knowed. For that a study have been
conducted to determine the diversity and density of spores of Arbuscula
Mycorrhiza Fungi (AMF) in rubber stands and oil palm stands in peatland
ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan
Batu. Observations and analysis performed in Laboratorium Biologi Tanah,
Fakultas Pertanian while trapping of AMF conducted in Rumah Kaca, Fakultas
Pertanian. The observations parameters used were spore density, degree of root
colonization, and the identification of spores type.
Results showed that the average density of AMF spore isolation results
from the field, in rubber stands 25/10 gr of soils, and in oil palm stands 37/10 gr
of soils. The average density of AMF spores trapping method results in rubber
stands 161/10 gr of soils and in oil palm stands 242/10 gr of soils. FMA type
contained in the study site is the type of Glomus spp. and Acaulospora spp.. The
average colonization of roots in both stands is low.
Key words: AMF, Peatland, Spore,Oil Palm, Rubber

i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula
pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga
Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, dibimbing oleh DENI
ELFIATI dan DELVIAN.
Rehabilitasi lahan gambut dapat diterapkan dengan aplikasi mikoriza,
apabila telah didapat data isolat mikoriza pada lahan tersebut. Untuk itu suatu
penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan
spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tegakan karet dan tegakan sawit di
ekosistem lahan gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten
Labuhan Batu. Pengamatan dan analisis dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah
Fakultas Pertanian, sedangkan pemerangkapan dilakukan di Rumah Kaca Fakultas
Pertanian. Parameter pengamatan yang digunakan adalah kepadatan spora, derajat
kolonisasi akar, dan identifikasi tipe spora.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan spora FMA hasil
isolasi dari lapangan pada tegakan karet 25/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit
sebesar 37/10 gr tanah. Hasil pemerangkapan mengalami peningkatan hingga
600%, dimana pada tegakan karet 161/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar
242/10 gr tanah. Tipe FMA yang didapat adalah tipe Glomus spp. dan tipe
Acaulospora spp.. Rata-rata kolonisasi akar tergolong rendah.
Kata kunci : FMA, Gambut, Spora. Sawit, Karet

ii
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Balam pada tanggal 19 Juni1989, dari pasangan
Bistok Sibarani dan Tiaman Sitorus. Penulis merupakan anak kedua dari lima
bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri
175806 Sibarani Nasampulu, Laguboti pada tahun 2001 dan melanjutkan
pendidikan di SMP Negri 1 Laguboti hingga lulus pada tahun 2004. Kemudian
melanjutkan pendidikan di SMK Negri 1 Balige dan lulus pada tahun 2007.
Tahun 2007, penulis diterima di Fakultas Pertanian , Universitas Sumatera
Utara, melalui jalur ujian tertulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Penulis
memilih minat Budidaya Hutan, Program Studi Kehutanan.
Dalam menyelesaikan kegiatan akademik, pada tahun 2009 mengikuti
kegiatan Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di hutan dataran
rendah Aras Napal dan hutan mangrove Pulau Sembilan, Kabupaten Langkat.
Tahun ajaran 2008/2009 penulis menjadi asisten mata kuliah Silvikultur . Tahun
Ajaran 2010/2011 penulis menjadi asisten lapangan Praktik Pengenalan
Ekosistem Hutan (PEH) di hutan dataran tinggi Gunung Sinabung dan Deleng
Lancuk, Kabupaten Karo dan asisten mata kuliah Hidrologi Hutan. Penulis
melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. Austral Byna-DPH, Camp
Sikuy KM.27-Muara Teweh dari tanggal 20 Januari sampai dengan 20 Februari
2011.

iii
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
dan

kasih-Nya kepada penulis, seingga dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan
Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai
Tengah, Kabupaten Labuhan Batu”.
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih
sebesar-besarnya kepada orang tua penulis yang telah memberikan dukungan
kasih sayang, membesarkan, memelihara, dan mendidik penulis selama ini.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Deni Elfiati, SP., MP.
selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Delvian, SP, MP. selaku anggota komisi
pembimbing yang telah membimbing penuh dan mengarahkan penulis dalam
pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini. Kepada Gaja Sibarani
beserta keluarga, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungannya terhadap
studi penulis.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf pengajar dan
pegawai di Program Studi Kehutanan. Kepada Musa Hutapea, Ronald P.
Marpaung, Fehni Al asy’ari Harahap, dan Juneith O.S. Nadeak yang telah
membantu dalam pelaksanaan penelitian, serta semua rekan mahasiswa yang tak
dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.

iv
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT .................................................................................................
ABSTRAK ...................................................................................................
RIWAYAT HIDUP ......................................................................................
KATA PENGANTAR ..................................................................................
DAFTAR TABEL ........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................
PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................
Tujuan Penelitian .........................................................................................
Kegunaan Penelitian ....................................................................................
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Lahan Gambut ..........................................................................
Tanah Gambut dan Permasalahannya .....................................................
Mikoriza ................................................................................................
Klasifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula....................................................
Struktur Umum Fungi Mikoriza Arbuskula ............................................
Distribusi dan Ekologi Fungi Mikoriza Arbuskula..................................
Hasil Penelitian Keanekaragaman FMA pada Lahan Gambut.................
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat .......................................................................................
Bahan dan Alat ............................................................................................
Metode Penelitian .........................................................................................
1. Pembuatan Petak ...................................................................................
2. Pengambilan Contoh Tanah ...................................................................
3. Pengambilan Sampel Akar.....................................................................
4. Ekstraksi dan Identifikasi Spora Fungi Mikoriza Arbuskula...................
5. Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel.......................................
6. Pemerangkapan (Trapping Culture).......................................................
7. Pengamatan ...........................................................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Fisik dan Kimia Tanah..............................................................
Kepadatan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) ..............................
Persentase Kolonisasi Akar ....................................................................
Tipe dan Karakteristik Spora FMA Hasil Pengamatan............................
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan............................................................................................
Saran......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

i
ii
iii
v
vi
vii
viii
1
3
3
4
5
6
7
9
11
11
14
14
15
15
15
15
16
17
18
18
19
20
24
27
28
28

v
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.
1.
2.
3.
4.

Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber.
Hasil analisis tanah lokasi penelitian....................................................
Tipe spora FMA dan karakteristik........................................................
Tipe-tipe spora dengan tegakan yang ada……………………………

Hal.
1
19
28
39

vi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Hal.

1.

Phylogeny perkembangan dan taksonomi ordo Glomales……………

8

2

Ilustrasi petak contoh pengambilan sampel tanah…………………….

15

3.

Jumlah spora FMA hasil pengamatan lapangan………………………

21

4.

Perbandingan jumlah spora FMA hasil isolasi dari lapangan dan hasil
pemerangkapan ……………………………………………………….

23

5.

Persentase kolonisasi akar oleh FMA…………………………………

24

6.

Akar anakan sampel pada tegakan karet yang terinfeksi oleh hifa
FMA…………………………………………………………………...

26

7.

Akar anakan pada tegakan sawityang terinfeksi oleh hifa
FMA…………………………………………………………………...

26

8.

Akar anakan sampel yang tidak terinfeksi oleh hifa FMA……………

27

vii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

1.
2.
3.

Kriteria Persentase Kolonisasi Akar menurut Setiadi et al.(1992)
Hasil Analisis Tanah Lokasi Penelitian
Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Staf Pusat Penelitian TanahBogor (1983) dan BPP-Medan (1982).

viii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Diversity of Arbuscula Mycorrhiza Fungi in
Rubber Stands and Oil Palm Stands in Peatland Ecosystems in Desa Telaga Suka,
Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, supervisied by DENI
ELFIATI and DELVIAN.
Peatland rehabilitation can applied with mycorrhyza, if data and isolate of
mycorrhyza in that peatland have been knowed. For that a study have been
conducted to determine the diversity and density of spores of Arbuscula
Mycorrhiza Fungi (AMF) in rubber stands and oil palm stands in peatland
ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan
Batu. Observations and analysis performed in Laboratorium Biologi Tanah,
Fakultas Pertanian while trapping of AMF conducted in Rumah Kaca, Fakultas
Pertanian. The observations parameters used were spore density, degree of root
colonization, and the identification of spores type.
Results showed that the average density of AMF spore isolation results
from the field, in rubber stands 25/10 gr of soils, and in oil palm stands 37/10 gr
of soils. The average density of AMF spores trapping method results in rubber
stands 161/10 gr of soils and in oil palm stands 242/10 gr of soils. FMA type
contained in the study site is the type of Glomus spp. and Acaulospora spp.. The
average colonization of roots in both stands is low.
Key words: AMF, Peatland, Spore,Oil Palm, Rubber

i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula
pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga
Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, dibimbing oleh DENI
ELFIATI dan DELVIAN.
Rehabilitasi lahan gambut dapat diterapkan dengan aplikasi mikoriza,
apabila telah didapat data isolat mikoriza pada lahan tersebut. Untuk itu suatu
penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan
spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tegakan karet dan tegakan sawit di
ekosistem lahan gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten
Labuhan Batu. Pengamatan dan analisis dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah
Fakultas Pertanian, sedangkan pemerangkapan dilakukan di Rumah Kaca Fakultas
Pertanian. Parameter pengamatan yang digunakan adalah kepadatan spora, derajat
kolonisasi akar, dan identifikasi tipe spora.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan spora FMA hasil
isolasi dari lapangan pada tegakan karet 25/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit
sebesar 37/10 gr tanah. Hasil pemerangkapan mengalami peningkatan hingga
600%, dimana pada tegakan karet 161/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar
242/10 gr tanah. Tipe FMA yang didapat adalah tipe Glomus spp. dan tipe
Acaulospora spp.. Rata-rata kolonisasi akar tergolong rendah.
Kata kunci : FMA, Gambut, Spora. Sawit, Karet

ii
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia memiliki lahan gambut tropika terluas di dunia. Noor dan Heyde
(2007), menyatakan luas lahan gambut Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas
tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika (40 juta hektar)
atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan
gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar
30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%) seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber.
Penulis/Sumber
Driessen (1978)
Puslittanak (1981)
Euroconsult (1984)
Soekardi dan Hidayat (1988)
Deptrans (1988)
Subagyo et al. (1990)
Deptrans (1990)
Nugroho et al. (1992)
Radjagukguk (1993)
Dwiyono dan Rachman (1996)

Penyebaran Gambut (Juta ha.)
Sumatra Kalimantan Papua Lainnya
9,7
6,3
0,1
8,9
6,5
10,9
0,2
6,84
4,93
5,46
4,5
9,3
4,6
< 0,1
8,2
6,8
4,6
0,4
6,4
5,4
3,1
6,9
6,4
4,2
0,3
4,8
6,1
2,5
0,1
8,25
6,79
4,62
0,4
7,16
4,34
8,40
0,1

Total
16,1
26,5
17,2
18,4
20,1
14,9
17,8
13,5*
20,1
20,0

*Tidak termasuk gambut yang berasosiasi dengan lahan salin dan lahan lebak (2,46 juta ha).
Sumber: Noor dan Heyde (2007).

Hutan rawa gambut tropis sedang mengalami tekanan berat dari kegiatan
pengembangan pertanian/silvikultur dan penebangan. Kecenderungan penutupan
lahan di Asia Tenggara dikembangkan dari perubahan antara tahun 1985 dan
tahun 2000. Selama periode ini, lahan gambut mengalami laju deforestasi rata-rata
sebesar 1,3% per tahun, nilai tertinggi ditemukan di Kalimantan Timur
(2,8%/tahun), terendah di Papua (0,5%/tahun) (Hooijer et al., 2006).

1
Universitas Sumatera Utara

2

Pada saat ini introduksi mikoriza merupakan teknologi yang tidak bisa
ditawar lagi untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan
terdegradasi di Indonesia (Santoso et al., 2007). Kendala utama yang dihadapi
dalam kegiatan rehabilitasi lahan gambut adalah sifat unik gambut dapat dilihat
dari sifat kimia dan fisiknya. Lahan gambut memiliki sifat yang spesifik antara
satu dengan yang lainnya. Menurut Najiyati et al. (2005), sifat kimia gambut yang
lebih merujuk pada kondisi kesuburannya yang bervariasi, tetapi secara umum
memiliki kesuburan rendah. Hal ini ditandai dengan tanah yang masam (pH
rendah), ketersediaan sejumlah unsur hara makro (K, Ca, Mg, P) dan mikro (Cu,
Zn, Mn, dan Bo) rendah, mengandung asam-asam organik beracun, serta memiliki
Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah.
Sifat fisik gambut yang perlu dipahami antara lain menyangkut kematangan,
warna, berat jenis, porositas, kering tak balik, subsidensi, dan mudah terbakar.
Fungi mikoriza arbuskula (FMA) mempunyai pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan proses fisiologi pada tanaman. Rosliani et al. (2006),
menyatakan pengaruh menguntungkan dari fungi mikoriza arbuskula terhadap
pertumbuhan tanaman sering dihubungkan dengan peningkatan serapan hara yang
tidak tersedia terutama fosfor (P).
Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik, tapi juga
pada lahan tergenang. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau
lingkungan

yang

tercemar

limbah

berbahaya,

fungi

mikoriza

masih

memperlihatkan eksistensinya. Salah satu bentuk lingkungan yang mencerminkan
keadaan demikian dapat ditemui pada tipe tanah Histosol atau yang lebih umum
disebut tanah gambut (Hanafiah, 2004).

Universitas Sumatera Utara

3

Rehabilitasi lahan gambut dengan aplikasi mikoriza dapat diterapkan,
apabila telah didapat isolat mikoriza yang dapat bersimbiosis baik dengan
tanaman yang akan dikembangkan. Penelitian terdahulu telah mengeksplorasi
keanekaragamanan mikoriza pada beberapa lahan gambut. Namun setiap lahan
gambut memiliki sifat yang spesifik dan ditumbuhi dengan jenis tanaman yang
berbeda, sehingga menyebabkan FMA lokal yang didapat berbeda juga. Dengan
demikian

dibutuhkan

penelitian

keanekaragaman

mikoriza,

guna

dapat

direkomendasikan dan diaplikasi untuk rehabilitasi lahan tersebut.
Tujuan
Untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan spora FMA pada
tegakan karet dan tegakan sawit di ekosistem lahan gambut Desa Telaga Suka,
Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu.
Kegunaan Penelitian
Memberikan informasi mengenai keanekaragaman FMA pada lahan
gambut di Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu
dan sebagai rekomendasi untuk pemanfaatan tipe FMA yang ditemukan untuk
rehabilitasi lahan gambut tersebut.

Universitas Sumatera Utara

4

TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Lahan Gambut
Lahan gambut merupakan lahan yang

berasal dari bentukan gambut

beserta vegetasi yang terdapat diatasnya, terbentuk di daerah yang topografinya
rendah dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah.
Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% karbon)
dan kedalaman gambut minimum 50 cm (Rina et al., 2008).
Secara umum definisi tanah gambut adalah tanah yang jenuh air dan
tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisa- sisa tanaman dan jaringan tanaman
yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru
(taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan)
(Noor dan Heyde, 2007).
Menurut Agus dan Subiksa (2008), berdasarkan tingkat kematangannya
gambut dibedakan menjadi:


Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan

asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas
kandungan seratnya < 15%.


Gambut hemik (setengah matang) adalah gambut setengah lapuk, sebagian

bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan
seratnya 15 – 75%.


Gambut fibrik (mentah) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya

masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih
tersisa.

4
Universitas Sumatera Utara

5

Tanah Gambut dan Permasalahannya
Kesuburan tanah gambut dipengaruhi oleh kedalaman dan lapisan mineral
di bawah gambut. Makin tebal gambut makin miskin lapisan atasnya. Gambut
yang terbentuk di atas endapan pasir kuarsa lebih miskin dari gambut yang
terbentuk di atas endapan liat. Menurut Noor (2001), secara kimiawi sifat tanah
gambut yang utama adalah kemasaman tanah, ketersediaan hara tanah, kapasitas
tukar kation, kejenuhan basa, kadar asam organik tanah, kadar pirit atau sulfur.
Sifat-sifat kimia tanah ini sangat penting dalam penentuan jenis dan cara-cara
pengelolaan hara dan pupuk dalam budidaya tanaman pertanian.
Lahan gambut mempunyai potensi yang cukup baik untuk pengembangan
tanaman kehutanan maupun perkebunan. Namun dalam pengembangannya
terdapat beberapa kendala seperti ketebalan dan kematangan gambut, bobot isi
(BD) sangat rendah, kemasaman tanah, miskin unsur hara makro (K, Ca, Mg, P)
dan mikro (Cu, Zn, Mn, dan Bo) serta keracunan asam-asam organik dan/atau pirit
yang

teroksidasi.

Kelebihan

air

yang

umum

terjadi

(seperti

adanya

banjir/genangan dalam jangka waktu yang lama pada musim hujan) harus
dikendalikan

menurut

kebutuhan

tanaman.

Masalah-masalah

tersebut,

menyebabkan keberhasilan tumbuh tanaman menjadi sangat rendah atau bahkan
mengalami kegagalan (Wibisono et al., 2005).
Selain itu, tanah gambut juga memiliki nilai Kapasitas Tukar Kation
(KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah sehingga menyebabkan
pH tanah rendah dan sejumlah pupuk yang diberikan ke dalam tanah relatif sulit
terserap oleh akar tanaman. Pada umumnya lahan gambut tropis memiliki pH
antara 3 - 4,5 dimana gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0–5,1)

Universitas Sumatera Utara

6

dari pada gambut dalam (pH 3,1–3,9). Kandungan Al pada tanah gambut
umumnya rendah sampai sedang dan semakin berkurang seiring dengan
menurunnya pH tanah. Sebaliknya, kandungan besi (Fe) cukup tinggi. Kandungan
N total termasuk tinggi, namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman, oleh karena
rasio C/N yang tinggi (Wibisono et al., 2005).
Mikoriza
Suatu bentuk hubungan yang saling menguntungkan antara akar tanaman
dan fungi disebut mikoriza. Dalam Bahasa Yunani kata mikoriza berarti fungi
akar, yang dikemukakan oleh Frank pada tahun 1885 untuk menggambarkan
asosiasi simbiotik antara akar tanaman dan fungi (Manoharacary et al., 2009).
Mikoriza adalah suatu struktur sistem perakaran yang terbentuk sebagai
manifestasi adanya simbiosis mutualisme antara cendawan (Myces) dan perakaran
(Rhizo) tumbuhan tingkat tinggi (Setiadi, 2001).
Sedikitnya tujuh jenis asosiasi mikoriza yang berbeda telah

dikenali,

menyertakan kelompok fungi yang berbeda dan tanaman inang dan bentuk pola
asosiasi yang berbeda. Adapun asosiasi tersebut sebagai berikut:
1. Vesikula Arbuskula Mikoriza (VAM), di mana fungi Zygomysetes ini
memproduksi arbuskula, hifa, dan vesikula di dalam sel korteks akar.
2. Ektomicoriza (ECM), dimana fungi basidiomycetes dan fungi lainnya
membentuk suatu mantel yang menyelubungi sekeliling akar dan jaringan
hartig diantara sel akar.
3. Mikoriza Anggrek, dimana fungi memproduksi kumparan hifa di dalam akar
atau batang tanaman anggrek-anggrekan.

Universitas Sumatera Utara

7

4. Ericoid Mikoriza, merupakan kumparan hifa diluar sel yang membatasi akar
rambut tanaman, pada tanaman ordo Ericales, dan
5. Ektendo, Arbutoid, dan Monotropoid, dimana asosiasinya mirip asosiasi
ektomikoriza,

namun

memiliki

perbedaan

pada

fitur

anatominya

(Brundett et al., 1996).
Menurut Turk et al. (2006), pembagian mikoriza yang dibedakan
berdasarkan morfologi dan fisiologinya yakni endomikoriza dan ektomikoriza.
Ektomikoriza ditandai dengan suatu sarung pelindung yang melingkupi akar,
seringkali menembus hingga sel epidermis dan sel awal korteks dan hifa fungi
biasanya menginfeksi akar tanaman hutan pada wilayah sub-tropis. Sedangkan
endomikoriza seperti Vesikula Arbuskula Mikoriza (VAM), fungi tidak
membentuk

selubung. Fungi ini menginfeksi

sistem perakaran tanaman

budidaya, secara umum dan biasanya menginfeksi beberapa lapisan terluar
korteks akar. Hifa fungi VAM menembus sel individu dan membentuk arbuskula
di dalam sel dan vesikula di luar sel inang.
Klasifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula
Pengenalan dan pengelompokan dalam spora mikoriza vesikular arbuskula
saat ini dilakukan lebih didasarkan kepada struktur subselular dengan verifikasi
teknologi molekular, mikoriza vesikular arbuskula dikelompokkan ke dalam ordo
Glomales, sub ordo Glomineae dan Gigasporineae. Glomineae terdiri dari empat
famili (Glomaceae, Acaulosporaceae, Aracheosporaceae dan Paraglomaceae).
Sementara Gigasporineae terdiri dari lima famili yaitu Ehtrophospora,
Aracheospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellspora. Salah satu karakteristik
yang mudah diterapkan adalah karakteristik morfologi yaitu dengan penyebaran

Universitas Sumatera Utara

8

dan reproduksi spora, reaksi melzer, keberadaan struktur subselular diantaranya
spore wall dan germinal wall, asesoris, serta struktur mikoriza yang terbentuk
dalam akar (Fakuara, 1988).
Fungi mikoriza arbuskula adalah salah satu tipe fungi mikoriza dan
termasuk ke dalam golongan endomikoriza. Fungi mikoriza arbuskula termasuk
ke dalam kelas Zygomycetes, dengan ordo Glomales yang mempunyai 2 subordo, yaitu Gigasporineae dan Glomineae.

Gigasporineae dengan famili

Gigasporaceae mempunyai 2 genus, yaitu Gigaspora dan Scutellospora.
Glomaceae mempunyai 4 famili, yaitu famili Glomaceae dengan genus Glomus
dan Sclerocystis,

famili Acaulosporaceae dengan genus Acaulospora dan

Entrophospora, Paraglomaceae dengan genus Paraglomus, dan Archaeosporaceae
dengan genus Archaeospora (Delvian, 2005). Klasifikasi dan perkembangan fungi
mikoriza arbuskula ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.

Phylogeny perkembangan dan taksonomi ordo Glomales

sumber : http://invam.caf.wvu.edu/Myc-_info/Taxonomy/classification.htm

Universitas Sumatera Utara

9

Menurut Brundett et al. (1996), bagian-bagian penting spora yang
digunakan dalam mengidentifikasi fungi Glomalen (VAM) adalah perkembangan
spora, susunan spora, bentuk spora, ukuran spora, warna spora, ornamen spora,
lapisan dinding spora dan reaksi pewarnaan, isi spora, germinasi spora hifa tanah,
dan struktur asosiasi spora dengan hifa tanah.
Struktur Umum Fungi Mikoriza Arbuskula
Struktur FMA meliputi hifa eksternal, hifa internal, spora, arbuskula atau
vesikula. Infeksi fungi hanya pada korteks primer sehingga tidak menyebabkan
kerusakan pada jaringan akar. Proses infeksi dimulai dengan pembentukan
apresorium pada permukaan akar oleh hifa eksternal, dan selanjutnya hifa akan
menembus sel-sel korteks akar melalui rambut akar atau sel epidermis. Hifa dari
FMA tidak bersekat, hifa ini terdapat diantara sel-sel korteks akar dan becabangcabang di dalamnya, tetapi tidak sampai masuk ke jaringan stele. Di dalam sel-sel
yang terinfeksi terbentuk gelung hifa atau cabang-cabang hifa kompleks yang
dinamakan arbuskula (Moose, 1981).
Mikoriza vesikula arbuskula membentuk struktur karakteristik khusus
yang disebut arbuskel dan vesikel. Arbuskel membantu dalam mentrasfer hara
(terutama fosfat) dari tanah ke sistem perakaran (Rao, 2004). Arbuskula
merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang
berulang-ulang

sehingga

menyerupai

pohon

dari

dalam

sel

inang

(Pattimahu, 2004).
Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkakan
hifa internal secara terminal dan interkalar, kebanyakan berbentuk bulat telur, dan
berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan

Universitas Sumatera Utara

10

makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk
mempertahankan kehidupan cendawan. Tipe FMA vesikel memiliki fungsi yang
paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan
karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman,
sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman
(Pattimahu, 2004).
Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Spora ini dapat dibentuk secara
tunggal, berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis
cendawannya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam
berat di dalam tanah dan juga kandungan Al, kandungan Mn juga mempengaruhi
pertumbuhan miselium. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Namun untuk perkembangan FMA memerlukan tanaman inang.
Spora dapat disimpan dalam waktu lama sebelum digunakan lagi (Mosse, 1981).
Infeksi FMA ditandai dengan produksi dan pembengkakan dinding interior
intraseluler vesikel yang diyakini berfungsi sebagai organ penyimpan cadangan
makanan dan formasi intraseluler tersebut membentuk formasi berupa arbuskula.
Arbuskula dipertimbangkan menjadi struktur primer termasuk secara langsung
dalam transfer unsur hara antara fungi simbion dengan tanaman inang. Walaupun
secara umum hal tersebut berlaku pada FMA endofit, namun Gigaspora spp.
hanya ditemukan arbuskula (Brown dan King, 1991).
Mosse (1981), mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar
muda adalah arbuskul. Bertambahnya umur menyebabkan arbuskul berubah
menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada arbuskul lama
kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh FMA

Universitas Sumatera Utara

11

dapat dilihat berbagi arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan
letaknya. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut.
Distribusi dan Ekologi Fungi Mikoriza Arbuskula
Mikoriza terdistribusi dalam jangkauan ekosistem yang sangat luas,
namun memiliki pola penyebaran yang berbeda antar tipe mikoriza berdasarkan
bioma, tipe tanah, dan keterbatasan sumber daya (Read 1983 dalam Bardgett
2008). Fungi mikoriza arbuskula mulai ditemukan pada profil tanah sekitar
kedalaman 20 cm. Tetapi walaupun demikian juga, masih terdapat pada
kedalaman 70-100 cm. FMA tersebar secara aktif (tumbuh dengan mycelium
dalam tanah) dan tersebar secara pasif dimana FMA tersebar dengan angin, air
atau mikroorganisme dalam tanah (Coyne, 1999).
Menurut Octavitani (2010), banyak faktor biotik dan abiotik yaang
menentukan perkembangan FMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu, tanah,
kadar air tanah, pH, bahan organik tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan hara,
serta logam berat dan fungisida.
Hasil Penelitian Keanekaragaman FMA pada Lahan Gambut
Keanekaragaman FMA telah diteliti di beberapa lahan gambut di
Indonesia. Keanekaragaman FMA di Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang
Hasundutan tipe spora yang ditemukan adalah jenis Glomus spp. dengan jumlah
15 jenis dan jenis Acaulospora spp. sebanyak 4 jenis (Lumban Gaol, 2007). Pada
lahan gambut di Kalimantan Barat dengan ekosistem alami dan ekosistem yang
terganggu atau diolah, spesies yang ditemukan adalah Glomus, Acaulospora,
Scutellospora, Enthrospora. Glomus diketahui lebih mendominasi pada kedua

Universitas Sumatera Utara

12

lokasi penelitian sedangkan Acaulospora lebih produktif pada lokasi yang
terganggu (Ekamawanti, 1997).
Sementara itu Ervayenri et al. (1997), melaporkan dalam penelitiannya
bahwa kelimpahan spora tertinggi diperoleh pada tanah dengan vegetasi pertanian
dan vegetasi produksi kehutanan dibandingkan dengan lahan yang ditumbuhi
vegetasi alami (hutan alam). Keadaan ini diduga disebabkan karena adanya
gangguan struktur tanah terhadap pola olah tanah yang dilakukan, sedangkan pada
hutan alam gambut, sama sekali tidak ada dilakukan pola olah tanah yang dapat
menyebabkan kerusakan pada struktur tanah.
Hasbi (2005), melaporkan pada gambut fisiografi datar dengan ketinggian
permukaan tanah berkisar 1 – 1,5 meter di atas permukaan laut, pada tingkat
kematangan sapric, memiliki pH berkisar 2,85 keberadaan fosfor sebesar 27,19
ppm. Hasil identifikasi spora menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok
cendawan yang secara morfologis diklasifikasikan ke dalam genus Glomus dan
Acaulospora. Dari kedua genus tersebut umumnya genus Glomus yang paling
dominan dijumpai yang berasosiasi dengan tanaman berturut-turut dari yang
tertinggi yaitu nenas, sawi, pepaya, kangkung dan terong.
Variasi jumlah spora yang diamati di lahan gambut Pontianak, dengan
tanaman budidaya yang dijadikan sebagai tanaman sampel, diduga akibat kondisi
tanaman dan lingkungan tumbuh serta dapat pula disebabkan oleh faktor
kemampuan infeksi dari CMA menyangkut populasi spora yang berkembang.
Perbedaan lokasi dan ke dalaman rizosfir juga menyebabkan perbedaan genus
yang ditemui. Genus Glomus dijumpai hampir pada semua lokasi dan tanaman
sampel yaitu nenas, sawi, pepaya, kangkung dan terong kecuali bayam. Genus

Universitas Sumatera Utara

13

Acaulospora hanya ditemukan pada tanaman sawi, pepaya dan kangkung. Hal ini
menunjukkan bahwa genus Glomus mempunyai kemampuan adaptasi dengan
jenis tanaman budidaya yang lebih luas jika dibandingkan dengan genus
Acaulospora (Hasbi, 2005).

Universitas Sumatera Utara

4

TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Lahan Gambut
Lahan gambut merupakan lahan yang

berasal dari bentukan gambut

beserta vegetasi yang terdapat diatasnya, terbentuk di daerah yang topografinya
rendah dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah.
Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% karbon)
dan kedalaman gambut minimum 50 cm (Rina et al., 2008).
Secara umum definisi tanah gambut adalah tanah yang jenuh air dan
tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisa- sisa tanaman dan jaringan tanaman
yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru
(taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan)
(Noor dan Heyde, 2007).
Menurut Agus dan Subiksa (2008), berdasarkan tingkat kematangannya
gambut dibedakan menjadi:


Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan

asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas
kandungan seratnya < 15%.


Gambut hemik (setengah matang) adalah gambut setengah lapuk, sebagian

bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan
seratnya 15 – 75%.


Gambut fibrik (mentah) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya

masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih
tersisa.

4
Universitas Sumatera Utara

5

Tanah Gambut dan Permasalahannya
Kesuburan tanah gambut dipengaruhi oleh kedalaman dan lapisan mineral
di bawah gambut. Makin tebal gambut makin miskin lapisan atasnya. Gambut
yang terbentuk di atas endapan pasir kuarsa lebih miskin dari gambut yang
terbentuk di atas endapan liat. Menurut Noor (2001), secara kimiawi sifat tanah
gambut yang utama adalah kemasaman tanah, ketersediaan hara tanah, kapasitas
tukar kation, kejenuhan basa, kadar asam organik tanah, kadar pirit atau sulfur.
Sifat-sifat kimia tanah ini sangat penting dalam penentuan jenis dan cara-cara
pengelolaan hara dan pupuk dalam budidaya tanaman pertanian.
Lahan gambut mempunyai potensi yang cukup baik untuk pengembangan
tanaman kehutanan maupun perkebunan. Namun dalam pengembangannya
terdapat beberapa kendala seperti ketebalan dan kematangan gambut, bobot isi
(BD) sangat rendah, kemasaman tanah, miskin unsur hara makro (K, Ca, Mg, P)
dan mikro (Cu, Zn, Mn, dan Bo) serta keracunan asam-asam organik dan/atau pirit
yang

teroksidasi.

Kelebihan

air

yang

umum

terjadi

(seperti

adanya

banjir/genangan dalam jangka waktu yang lama pada musim hujan) harus
dikendalikan

menurut

kebutuhan

tanaman.

Masalah-masalah

tersebut,

menyebabkan keberhasilan tumbuh tanaman menjadi sangat rendah atau bahkan
mengalami kegagalan (Wibisono et al., 2005).
Selain itu, tanah gambut juga memiliki nilai Kapasitas Tukar Kation
(KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah sehingga menyebabkan
pH tanah rendah dan sejumlah pupuk yang diberikan ke dalam tanah relatif sulit
terserap oleh akar tanaman. Pada umumnya lahan gambut tropis memiliki pH
antara 3 - 4,5 dimana gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0–5,1)

Universitas Sumatera Utara

6

dari pada gambut dalam (pH 3,1–3,9). Kandungan Al pada tanah gambut
umumnya rendah sampai sedang dan semakin berkurang seiring dengan
menurunnya pH tanah. Sebaliknya, kandungan besi (Fe) cukup tinggi. Kandungan
N total termasuk tinggi, namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman, oleh karena
rasio C/N yang tinggi (Wibisono et al., 2005).
Mikoriza
Suatu bentuk hubungan yang saling menguntungkan antara akar tanaman
dan fungi disebut mikoriza. Dalam Bahasa Yunani kata mikoriza berarti fungi
akar, yang dikemukakan oleh Frank pada tahun 1885 untuk menggambarkan
asosiasi simbiotik antara akar tanaman dan fungi (Manoharacary et al., 2009).
Mikoriza adalah suatu struktur sistem perakaran yang terbentuk sebagai
manifestasi adanya simbiosis mutualisme antara cendawan (Myces) dan perakaran
(Rhizo) tumbuhan tingkat tinggi (Setiadi, 2001).
Sedikitnya tujuh jenis asosiasi mikoriza yang berbeda telah

dikenali,

menyertakan kelompok fungi yang berbeda dan tanaman inang dan bentuk pola
asosiasi yang berbeda. Adapun asosiasi tersebut sebagai berikut:
1. Vesikula Arbuskula Mikoriza (VAM), di mana fungi Zygomysetes ini
memproduksi arbuskula, hifa, dan vesikula di dalam sel korteks akar.
2. Ektomicoriza (ECM), dimana fungi basidiomycetes dan fungi lainnya
membentuk suatu mantel yang menyelubungi sekeliling akar dan jaringan
hartig diantara sel akar.
3. Mikoriza Anggrek, dimana fungi memproduksi kumparan hifa di dalam akar
atau batang tanaman anggrek-anggrekan.

Universitas Sumatera Utara

7

4. Ericoid Mikoriza, merupakan kumparan hifa diluar sel yang membatasi akar
rambut tanaman, pada tanaman ordo Ericales, dan
5. Ektendo, Arbutoid, dan Monotropoid, dimana asosiasinya mirip asosiasi
ektomikoriza,

namun

memiliki

perbedaan

pada

fitur

anatominya

(Brundett et al., 1996).
Menurut Turk et al. (2006), pembagian mikoriza yang dibedakan
berdasarkan morfologi dan fisiologinya yakni endomikoriza dan ektomikoriza.
Ektomikoriza ditandai dengan suatu sarung pelindung yang melingkupi akar,
seringkali menembus hingga sel epidermis dan sel awal korteks dan hifa fungi
biasanya menginfeksi akar tanaman hutan pada wilayah sub-tropis. Sedangkan
endomikoriza seperti Vesikula Arbuskula Mikoriza (VAM), fungi tidak
membentuk

selubung. Fungi ini menginfeksi

sistem perakaran tanaman

budidaya, secara umum dan biasanya menginfeksi beberapa lapisan terluar
korteks akar. Hifa fungi VAM menembus sel individu dan membentuk arbuskula
di dalam sel dan vesikula di luar sel inang.
Klasifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula
Pengenalan dan pengelompokan dalam spora mikoriza vesikular arbuskula
saat ini dilakukan lebih didasarkan kepada struktur subselular dengan verifikasi
teknologi molekular, mikoriza vesikular arbuskula dikelompokkan ke dalam ordo
Glomales, sub ordo Glomineae dan Gigasporineae. Glomineae terdiri dari empat
famili (Glomaceae, Acaulosporaceae, Aracheosporaceae dan Paraglomaceae).
Sementara Gigasporineae terdiri dari lima famili yaitu Ehtrophospora,
Aracheospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellspora. Salah satu karakteristik
yang mudah diterapkan adalah karakteristik morfologi yaitu dengan penyebaran

Universitas Sumatera Utara

8

dan reproduksi spora, reaksi melzer, keberadaan struktur subselular diantaranya
spore wall dan germinal wall, asesoris, serta struktur mikoriza yang terbentuk
dalam akar (Fakuara, 1988).
Fungi mikoriza arbuskula adalah salah satu tipe fungi mikoriza dan
termasuk ke dalam golongan endomikoriza. Fungi mikoriza arbuskula termasuk
ke dalam kelas Zygomycetes, dengan ordo Glomales yang mempunyai 2 subordo, yaitu Gigasporineae dan Glomineae.

Gigasporineae dengan famili

Gigasporaceae mempunyai 2 genus, yaitu Gigaspora dan Scutellospora.
Glomaceae mempunyai 4 famili, yaitu famili Glomaceae dengan genus Glomus
dan Sclerocystis,

famili Acaulosporaceae dengan genus Acaulospora dan

Entrophospora, Paraglomaceae dengan genus Paraglomus, dan Archaeosporaceae
dengan genus Archaeospora (Delvian, 2005). Klasifikasi dan perkembangan fungi
mikoriza arbuskula ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.

Phylogeny perkembangan dan taksonomi ordo Glomales

sumber : http://invam.caf.wvu.edu/Myc-_info/Taxonomy/classification.htm

Universitas Sumatera Utara

9

Menurut Brundett et al. (1996), bagian-bagian penting spora yang
digunakan dalam mengidentifikasi fungi Glomalen (VAM) adalah perkembangan
spora, susunan spora, bentuk spora, ukuran spora, warna spora, ornamen spora,
lapisan dinding spora dan reaksi pewarnaan, isi spora, germinasi spora hifa tanah,
dan struktur asosiasi spora dengan hifa tanah.
Struktur Umum Fungi Mikoriza Arbuskula
Struktur FMA meliputi hifa eksternal, hifa internal, spora, arbuskula atau
vesikula. Infeksi fungi hanya pada korteks primer sehingga tidak menyebabkan
kerusakan pada jaringan akar. Proses infeksi dimulai dengan pembentukan
apresorium pada permukaan akar oleh hifa eksternal, dan selanjutnya hifa akan
menembus sel-sel korteks akar melalui rambut akar atau sel epidermis. Hifa dari
FMA tidak bersekat, hifa ini terdapat diantara sel-sel korteks akar dan becabangcabang di dalamnya, tetapi tidak sampai masuk ke jaringan stele. Di dalam sel-sel
yang terinfeksi terbentuk gelung hifa atau cabang-cabang hifa kompleks yang
dinamakan arbuskula (Moose, 1981).
Mikoriza vesikula arbuskula membentuk struktur karakteristik khusus
yang disebut arbuskel dan vesikel. Arbuskel membantu dalam mentrasfer hara
(terutama fosfat) dari tanah ke sistem perakaran (Rao, 2004). Arbuskula
merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang
berulang-ulang

sehingga

menyerupai

pohon

dari

dalam

sel

inang

(Pattimahu, 2004).
Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkakan
hifa internal secara terminal dan interkalar, kebanyakan berbentuk bulat telur, dan
berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan

Universitas Sumatera Utara

10

makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk
mempertahankan kehidupan cendawan. Tipe FMA vesikel memiliki fungsi yang
paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan
karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman,
sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman
(Pattimahu, 2004).
Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Spora ini dapat dibentuk secara
tunggal, berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis
cendawannya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam
berat di dalam tanah dan juga kandungan Al, kandungan Mn juga mempengaruhi
pertumbuhan miselium. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Namun untuk perkembangan FMA memerlukan tanaman inang.
Spora dapat disimpan dalam waktu lama sebelum digunakan lagi (Mosse, 1981).
Infeksi FMA ditandai dengan produksi dan pembengkakan dinding interior
intraseluler vesikel yang diyakini berfungsi sebagai organ penyimpan cadangan
makanan dan formasi intraseluler tersebut membentuk formasi berupa arbuskula.
Arbuskula dipertimbangkan menjadi struktur primer termasuk secara langsung
dalam transfer unsur hara antara fungi simbion dengan tanaman inang. Walaupun
secara umum hal tersebut berlaku pada FMA endofit, namun Gigaspora spp.
hanya ditemukan arbuskula (Brown dan King, 1991).
Mosse (1981), mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar
muda adalah arbuskul. Bertambahnya umur menyebabkan arbuskul berubah
menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada arbuskul lama
kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh FMA

Universitas Sumatera Utara

11

dapat dilihat berbagi arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan
letaknya. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut.
Distribusi dan Ekologi Fungi Mikoriza Arbuskula
Mikoriza terdistribusi dalam jangkauan ekosistem yang sangat luas,
namun memiliki pola penyebaran yang berbeda antar tipe mikoriza berdasarkan
bioma, tipe tanah, dan keterbatasan sumber daya (Read 1983 dalam Bardgett
2008). Fungi mikoriza arbuskula mulai ditemukan pada profil tanah sekitar
kedalaman 20 cm. Tetapi walaupun demikian juga, masih terdapat pada
kedalaman 70-100 cm. FMA tersebar secara aktif (tumbuh dengan mycelium
dalam tanah) dan tersebar secara pasif dimana FMA tersebar dengan angin, air
atau mikroorganisme dalam tanah (Coyne, 1999).
Menurut Octavitani (2010), banyak faktor biotik dan abiotik yaang
menentukan perkembangan FMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu, tanah,
kadar air tanah, pH, bahan organik tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan hara,
serta logam berat dan fungisida.
Hasil Penelitian Keanekaragaman FMA pada Lahan Gambut
Keanekaragaman FMA telah diteliti di beberapa lahan gambut di
Indonesia. Keanekaragaman FMA di Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang
Hasundutan tipe spora yang ditemukan adalah jenis Glomus spp. dengan jumlah
15 jenis dan jenis Acaulospora spp. sebanyak 4 jenis (Lumban Gaol, 2007). Pada
lahan gambut di Kalimantan Barat dengan ekosistem alami dan ekosistem yang
terganggu atau diolah, spesies yang ditemukan adalah Glomus, Acaulospora,
Scutellospora, Enthrospora. Glomus diketahui lebih mendominasi pada kedua

Universitas Sumatera Utara

12

lokasi penelitian sedangkan Acaulospora lebih produktif pada lokasi yang
terganggu (Ekamawanti, 1997).
Sementara itu Ervayenri et al. (1997), melaporkan dalam penelitiannya
bahwa kelimpahan spora tertinggi diperoleh pada tanah dengan vegetasi pertanian
dan vegetasi produksi kehutanan dibandingkan dengan lahan yang ditumbuhi
vegetasi alami (hutan alam). Keadaan ini diduga disebabkan karena adanya
gangguan struktur tanah terhadap pola olah tanah yang dilakukan, sedangkan pada
hutan alam gambut, sama sekali tidak ada dilakukan pola olah tanah yang dapat
menyebabkan kerusakan pada struktur tanah.
Hasbi (2005), melaporkan pada gambut fisiografi datar dengan ketinggian
permukaan tanah berkisar 1 – 1,5 meter di atas permukaan laut, pada tingkat
kematangan sapric, memiliki pH berkisar 2,85 keberadaan fosfor sebesar 27,19
ppm. Hasil identifikasi spora menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok
cendawan yang secara morfologis diklasifikasikan ke dalam genus Glomus dan
Acaulospora. Dari kedua genus tersebut umumnya genus Glomus yang paling
dominan dijumpai yang berasosiasi dengan tanaman berturut-turut dari yang
tertinggi yaitu nenas, sawi, pepaya, kangkung dan terong.
Variasi jumlah spora yang diamati di lahan gambut Pontianak, dengan
tanaman budidaya yang dijadikan sebagai tanaman sampel, diduga akibat kondisi
tanaman dan lingkungan tumbuh serta dapat pula disebabkan oleh faktor
kemampuan infeksi dari CMA menyangkut populasi spora yang berkembang.
Perbedaan lokasi dan ke dalaman rizosfir juga menyebabkan perbedaan genus
yang ditemui. Genus Glomus dijumpai hampir pada semua lokasi dan tanaman
sampel yaitu nenas, sawi, pepaya, kangkung dan terong kecuali bayam. Genus

Universitas Sumatera Utara

13

Acaulospora hanya ditemukan pada tanaman sawi, pepaya dan kangkung. Hal ini
menunjukkan bahwa genus Glomus mempunyai kemampuan adaptasi dengan
jenis tanaman budidaya yang lebih luas jika dibandingkan dengan genus
Acaulospora (Hasbi, 2005).

Universitas Sumatera Utara

14

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2011.
Pengambilan tanah dan akar tanaman dilakukan di lahan gambut Desa Telaga
Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu. Ekstrasi spora,
identifikasi dan penghitungan persentase kolonisasi FMA pada akar tanaman
dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah, Program Studi Agroekoteknologi,
Fakultas Pertanian. Kegiatan pemerangkapan dilaksanakan pada rumah kaca, dan
dokumentasi sampel dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Hutan, Program
Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah contoh tanah dan akar
anakan pada tegakan karet dan tegakan sawit di lahan gambut. Kudzu (Pueraria
javanica) sebagai inang pada perlakuan pemeragkapan. Untuk ekstraksi dan
identifikasi spora mikoriza digunakan bahan berupa larutan glukosa 60%, larutan
Melzer’s sebagai bahan pewarna spora dan larutan polyvinyl lacto glycerol
(PVLG) sebagai bahan pengawet spora. Larutan trypan blue untuk bahan proses
pewarnaan akar (staining). Larutan KOH 10% untuk mengeluarkan cairan
sitoplasma dalam akar, sehingga akar pucat dan sebagai pengawet. Larutan HCl
2% untuk mempermudah masuknya trypan blue pada saat pewarnaan.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini untuk pengambilan contoh tanah
dan akar tanaman adalah kompas, tali plastik, cangkul, kantong plastik, dan spidol
serta kertas label. Alat untuk pengamatan di laboratorium adalah saringan 710
µm, 425 µm, dan 53 µm, tabung sentrifuse, cawan petri, pinset spora, mikroskop
binokuler, mikroskop cahaya, kaca preparat, dan kaca penutup. Alat yang
digunakan untuk pemerangkapan di rumah kaca berupa pot (aqua cup), dan
sprayer.

14

Universitas Sumatera Utara

15

Metode Penelitian
1. Pembuatan Petak
Petak penelitian dibuat sesuai metode ICRAF (Ervayenri et al., 1999).
Adapun ukuran petak pengamatan yang digunakan adalah 20 m × 20 m.
Penetapan petak pengamatan dilakukan secara acak dengan jumlah petak yang
dibuat sebanyak lima petak.

20 m

20 m
Gambar 2. Ilustrasi petak contoh pengambilan sampel tanah
Keterangan

:
: tempat

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23