Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.

PEMETAAN DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN
LAHAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI
SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh
MAYA SARI HASIBUAN
071201044

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN
DEPARTEMEN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

 
Universitas Sumatera Utara

PEMETAAN DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN
LAHAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI
SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh
MAYA SARI HASIBUAN
071201044/MANAJEMEN HUTAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana di Departemen Kehutanan
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN
DEPARTEMEN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

 
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi

: Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di
Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara

Nama

: Maya Sari Hasibuan

NIM

: 071201044

Program Studi

: Manajemen Hutan

Disetujui Oleh
Komisi Pembimbing

Ketua

Anggota

Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D
NIP. 19710416 200112 2 001

Riswan, S.Hut
NIP. 152315039

Mengetahui
Ketua Departemen Kehutanan

Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D
NIP. 19710416 200112 2 001

 
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

MAYA SARI HASIBUAN. Mapping of Danger Area to Forest and Land Fires on
Toba Samosir District, North Sumatera Province. Guided by SITI LATIFAH,
S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut.
Forest fires often occurs on most recently in Indonesia, especially in
Sumatera and Kalimantan. Forest fires in the area of Lake Toba (Toba Samosir)
is one of the main factors that cause the degradation of land in the region. Almost
every year of forest fire occurred in this region with an average of about 113 Ha.
Information of danger area to forest fires is very important information and is
required by fire managers in forest and land fires control activity. This research
aims to analyze the forest and land fires factors in the district Toba Samosir, to
map danger area to forest fires and land in the district Toba Samosir, and
measuring the area of forest and land fires in the district Toba Samosir. The
research was conducted in the district Toba Samosir on May 2011 to July 2011.
This research uses Geographic Information System (GIS) to map danger area to
forest and land fires in the district and to know the extent Toba Samosir.
Throught this research it is known that the Toba Samosir is dominated by
class of danger to forest and land fires “middle” with and area 131.303, 18 Ha.
Forest and land fires factors that could potentially cause forest and land fires are
land cover, climate and elevation. Danger area to forest and land fires that most
potential to occur in district with large Borbor 20. 637,29 Ha. While danger area
to forest and land fires that occurred in the smallest district with an area of 22,24
Ha Lumbanjulu.

Keyword : Danger area, Forest and Land Fire, GIS, Map

 
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
MAYA SARI HASIBUAN. Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan
Lahan di Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh
SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut.
Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di
wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan di wilayah Danau Toba
(Kabupaten Toba Samosir) merupakan salah satu faktor utama yang menjadi
penyebab dalam degradasi lahan di wilayah tersebut. Hampir setiap tahun,
kebakaran hutan terjadi di wilayah ini dengan rata-rata luasan sekitar 113 Ha.
Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang sangat
penting dan diperlukan oleh fire manager dalam kegiatan pengendalian kebakaran
hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor
penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, memetakan
daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, menghitung
luas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir.
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Toba Samosir pada bulan Mei 2011
sampai Juli 2011. Penelitian ini menggunakan GIS untuk memetakan daerah
rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir serta mengetahui
luasnya.
Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Toba Samosir
didominasi oleh kelas rawan kebakaran hutan dan lahan “sedang” dengan luas
131.303,28 Ha. Faktor kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi menyebabkan
kebakaran hutan dan lahan yaitu tutupan lahan, iklim dan elevasi. Daerah rawan
kebakaran hutan dan lahan yang paling berpotensi terjadi di Kecamatan Borbor
dengan luas 20.637,28 Ha, sedangkan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan
yang paling kecil terjadi di Kecamatan Lumbanjulu dengan luas 22,24 Ha

 
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Maya Sari Hasibuan, dilahirkan di Medan pada
tanggal 04 Desember 1989 dari Ayahanda Minsyachri Hasibuan dan Ibunda
Almh. Asnawati. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal pertama Penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak
(TK) Aisyiah Medan tahun 1995, kemudian melanjutkan pendidikan di SDN.
064955 Medan sampai tahun 2001. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan
pendidikan di SLTP Negeri 15 Medan sampai tahun 2004. Pada tahun 2004,
penulis melanjutkan pendidikan di SMA Swasta ERIA sampai tahun 2007.
Selanjutnya pada bulan Agustus tahun 2007, penulis diterima sebagai mahasiswi
Departemen Kehutanan Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten Praktikum
Inventarisasi Hutan tahun 2010 dan asisten Pemanenan Hasil Hutan tahun 2011.
Selain itu penulis juga merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Sylva (HIMAS)
dan anggota Keputrian Badan Kemakmuran Mushalla (BKM) Baitul Asyjar.
Penulis telah mengikuti Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H)
di Desa Aras Napal Kiri Kabupaten Langkat dan Desa Pulau Sembilan Kabupaten
Langkat pada tahun 2009. Pada tahun 2011, penulis melaksanakan Praktek Kerja
Lapang (PKL) di KPH Cianjur, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten
pada tanggal 3 Januari 2011 sampai 3 Pebruari 2011. Sebagai syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Departemen Kehutanan, Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, penulis menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten
Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara” dibawah bimbingan ibu Siti Latifah,
S.Hut, M.Si, Ph.D dan bapak Riswan, S.Hut.

 
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan draft proposal penelitian ini.
Adapun skripsi ini berjudul Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran
Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh untuk gelar
sarjana.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis dibimbing oleh Siti Latifah, S.Hut,
M.Si, Ph.D sebagai ketua komisi pembimbing dan Riswan, S.Hut sebagai anggota
komisi pembimbing.
Skripsi penelitian ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu
diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi
ini.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih.

Medan, September 2011

Penulis

 
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT .................................................................................................. i
ABSTRAK ................................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR................................................................................ iv
DAFTAR ISI............................................................................................... v
DAFTAR TABEL ....................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
PENDAHULUAN
Latar Belakang .................................................................................. 1
Tujuan penelitian .............................................................................. 4
Manfaat penelitian ............................................................................ 4
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Kebakaran Hutan dan Lahan ............................................... 6
Proses Kebakaran .............................................................................. 6
Faktor-faktor Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan ...................... 7
Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan .............................................. 14
Titik Panas (Hotspot) ........................................................................ 16
Aplikasi SIG pada Kebakaran Hutan dan Lahan .............................. 18
Monitoring Kebakaran Hutan ........................................................... 23
Teknik Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan ............................ 25
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Lokasi dan Keadaan Geografis ................................................... 27
Iklim ............................................................................................ 28
Kependudukan ............................................................................ 28
Struktur Ekonomi ........................................................................ 28
METODOLOGI
Waktu dan Tempat........................................................................... 30
Bahan dan Alat................................................................................. 30
Prosedur Penelitian
Pengumpulan Data ................................................................ 31
Pengolahan Data ................................................................... 31
Penentuan Skoring ................................................................ 32
Analisis Tumpang Susun ...................................................... 35
Evaluasi/verifikasi................................................................. 37

 
Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor-faktor Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan
di Kabupaten Toba Samosir
Tutupan Lahan (Vegetasi) .................................................... 38
Topografi .............................................................................. 41
Iklim ..................................................................................... 44
Jarak dari Pemukiman .......................................................... 52
Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan
di Kabupaten Toba Samosir ............................................................. 55
Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Masing-Masing
Faktor Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir
Tutupan Lahan ...................................................................... 59
Topografi............................................................................... 61
Iklim ...................................................................................... 63
Jarak Pemukiman .................................................................. 67
Evaluasi/verifikasi................................................................. 69
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ....................................................................................... 70
Saran ................................................................................................. 70
DAFTAR PUSTAKA
GLOSARIUM
LAMPIRAN

 
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
1. Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera dan
Kalimantan Tahun 2006 ................................................................................ 6
2. Tipe Vegetasi atau Penutupan Lahan dan Pembobotannya .......................... 32
3. Klasifikasi Ketinggian Tempat dan Pembobotannya .................................... 33
4. Klasifikasi Curah Hujan Bulanan dan Pembobotannya ................................ 33
5. Klasifikasi Suhu Udara Bulanan dan Pembobotannya ................................. 34
6. Klasifikasi Kecepatan Angin Bulanan dan Pembobotannya ........................ 34
7. Klasifikasi Jarak dari Pemukiman dan Pembobotannya ............................... 35
8. Klasifikasi Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan ...................... 36
9. Tutupan Lahan di Kabupaten Toba Samosir ................................................. 40
10. Ketinggian Tempat (Elevasi) di Kabupaten Toba Samosir .......................... 43
11. Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba
Samosir ........................................................................................................ 44
12. Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba
Samosir ........................................................................................................ 47
13. Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba
Samosir ........................................................................................................ 51
14. Jarak Lokasi Pemukiman Terhadap Tutupan Lahan ..................................... 52
15. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Kelas Rawan
Menurut Luasan ........................................................................................... 55
16. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Jenis Tutupan
Lahan Menurut Luasan ................................................................................. 59
17. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Ketinggian
Tempat Menurut Luasan ............................................................................... 61
18. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata Curah
Hujan Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan ............................................... 63

 
Universitas Sumatera Utara

19. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata Suhu
Udara Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan ............................................... 64
20. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata
Kecepatan Angin Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan ............................. 66
21. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Jarak Lokasi
Pemukiman Menurut Luasan ........................................................................ 68

 
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Pemikiran...................................................................................... 5
2. Prinsip Segitiga Api ...................................................................................... 7
3. Peta Tutupan Lahan Kabupaten Toba Samosir ............................................. 39
4. Lokasi Bekas Kebakaran di Lereng Curam di Kecamatan Balige ................ 41
5. Peta Ketinggian Tempat (Elevasi) Kabupaten Toba Samosir ....................... 42
6. Peta Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Kabupaten Toba Samosir ................. 45
7. Peta Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Kabupaten Toba Samosir ................... 48
8. Peta Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Kabupaten Toba Samosir .......... 50
9. Peta Lokasi Pemukiman Kabupaten Toba Samosir ...................................... 54
10. Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir ....... 56

 
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

MAYA SARI HASIBUAN. Mapping of Danger Area to Forest and Land Fires on
Toba Samosir District, North Sumatera Province. Guided by SITI LATIFAH,
S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut.
Forest fires often occurs on most recently in Indonesia, especially in
Sumatera and Kalimantan. Forest fires in the area of Lake Toba (Toba Samosir)
is one of the main factors that cause the degradation of land in the region. Almost
every year of forest fire occurred in this region with an average of about 113 Ha.
Information of danger area to forest fires is very important information and is
required by fire managers in forest and land fires control activity. This research
aims to analyze the forest and land fires factors in the district Toba Samosir, to
map danger area to forest fires and land in the district Toba Samosir, and
measuring the area of forest and land fires in the district Toba Samosir. The
research was conducted in the district Toba Samosir on May 2011 to July 2011.
This research uses Geographic Information System (GIS) to map danger area to
forest and land fires in the district and to know the extent Toba Samosir.
Throught this research it is known that the Toba Samosir is dominated by
class of danger to forest and land fires “middle” with and area 131.303, 18 Ha.
Forest and land fires factors that could potentially cause forest and land fires are
land cover, climate and elevation. Danger area to forest and land fires that most
potential to occur in district with large Borbor 20. 637,29 Ha. While danger area
to forest and land fires that occurred in the smallest district with an area of 22,24
Ha Lumbanjulu.

Keyword : Danger area, Forest and Land Fire, GIS, Map

 
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
MAYA SARI HASIBUAN. Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan
Lahan di Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh
SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut.
Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di
wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan di wilayah Danau Toba
(Kabupaten Toba Samosir) merupakan salah satu faktor utama yang menjadi
penyebab dalam degradasi lahan di wilayah tersebut. Hampir setiap tahun,
kebakaran hutan terjadi di wilayah ini dengan rata-rata luasan sekitar 113 Ha.
Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang sangat
penting dan diperlukan oleh fire manager dalam kegiatan pengendalian kebakaran
hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor
penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, memetakan
daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, menghitung
luas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir.
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Toba Samosir pada bulan Mei 2011
sampai Juli 2011. Penelitian ini menggunakan GIS untuk memetakan daerah
rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir serta mengetahui
luasnya.
Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Toba Samosir
didominasi oleh kelas rawan kebakaran hutan dan lahan “sedang” dengan luas
131.303,28 Ha. Faktor kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi menyebabkan
kebakaran hutan dan lahan yaitu tutupan lahan, iklim dan elevasi. Daerah rawan
kebakaran hutan dan lahan yang paling berpotensi terjadi di Kecamatan Borbor
dengan luas 20.637,28 Ha, sedangkan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan
yang paling kecil terjadi di Kecamatan Lumbanjulu dengan luas 22,24 Ha

 
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di
wilayah Sumatera dan Kalimantan. Puncak jumlah hotspot dan kebakaran hutan
dan lahan pada periode 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2006. Jumlah hotspot
pada tahun tersebut sebesar 146.264 titik dengan luas kebakaran hutan 32.198,58
Ha dan lahan seluas 23.735,67 Ha. Mengingat pentingnya sumberdaya hutan
dalam menambah devisa negara, agar tidak terjadi penurunan, maka upaya
perlindungan hutan dari gangguan luar terutama dari kebakaran hutan perlu
diusahakan

semaksimal

mungkin

(Direktorat

Pengendalian

Kebakaran Hutan, 2010).
Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
(Bakornas PB), selama tahun 2006 kebakaran hutan dan lahan mencapai luas
65.167,1 Ha, yang tersebar di Provinsi Jambi (3.797 Ha), Sumatera Selatan
(58.805 Ha), Lampung (700 Ha), dan Kalimantan Tengah (1.865,10 Ha).
Beberapa Taman Nasional (TN) yang terbakar dalam tahun 2006 meliputi Taman
Nasional Tesso Nilo (2.500 Ha, Riau), Taman Nasional Berbak (Jambi), Taman
Nasional Way Kambas (Lampung), Taman Nasional Ciremai (1.328 Ha, Jawa
Barat), Taman Nasional Sebangau (Kalimantan Tengah), dan TN Tanjung Puting
(Kalimantan Tengah) (Fire Bulletin, 2007).
Kebakaran dalam hutan dapat terjadi bila tersedia tiga komponen yaitu
bahan bakar yang potensial, oksigen atau udara dan penyalaan api dan lima faktor
utama yang menjadi penyebab kebakaran hutan yaitu penutupan lahan, curah
hujan, rataan suhu udara, kecepatan angin dan topografi (ketinggian
 
Universitas Sumatera Utara

tempat/elevasi). Seluruh komponen penyusun hutan pada dasarnya dapat
merupakan bahan bakar untuk kebakaran hutan. Pohon – pohon penyusun hutan
merupakan bagian terbesar dari komponen hutan yang dapat berperan sebagai
bahan bakar mempunyai potensi dan kemudahan yang sangat bervariasi.
Perbedaan kemudahan terbakar tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jenis
atau komposisi jenis tanaman. Jenis pohon – pohon berdaun lebar lebih sulit
terbakar dibanding pohon – pohon berdaun jarum yang banyak mengandung resin
(Sumardi dan Widyastuti, 2004).
Kebakaran hutan dan lahan bisa terjadi baik disengaja maupun tanpa
disengaja. Dengan kata lain, terjadinya kebakaran hutan dan lahan diakibatkan
oleh faktor kesengajaan manusia oleh beberapa kegiatan, seperti kegiatan ladang,
perkebunan (PIR), HTI, penyiapan lahan untuk ternak dan sebagainya. Faktor
kebakaran hutan dan lahan karena kesengajaan ini merupakan faktor utama dan
90% kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini banyak disebabkan karena
faktor ini. Kebakaran hutan juga bisa disebabkan oleh faktor tidak disengaja, yang
disebabkan

oleh

faktor

alami

ataupun

karena

kelalaian

manusia

(Purbowaseso, 2004).
Kebakaran hutan di wilayah Danau Toba (Kabupaten Toba Samosir)
merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penyebab dalam degradasi lahan
di wilayah tersebut. Apabila terjadi kebakaran, maka serangkaian dampak akan
mengganggu fungsi ekosistem di wilayah Danau Toba, baik secara ekologis,
ekonomis, maupun sosial. Hampir setiap tahun, kebakaran hutan terjadi di
wilayah ini dengan rata-rata luasan sekitar 113 Ha (Syaufina dan Sukmana, 2008).

 
Universitas Sumatera Utara

Untuk menganalisa suatu peristiwa kebakaran, diperlukan data kondisi
klimatologi, penutupan lahan/hutan yang mengindikasikan bahan bakar, dan
topografi, yang ketiganya biasa disebut “fire environment triangle”. Secara
fisik, DTA Danau Toba memiliki iklim tipe B berdasarkan Schmidt Fergusson,
yaitu kondisi iklim yang selalu basah tanpa musim kering yang jelas.
Berdasarkan pada analisa data klimatologi selama 11 tahun (1985-1995), curah
hujan per tahun untuk area DTA Danau Toba adalah 1.525,22 mm dengan jumlah
hari hujan rata-rata sebesar 206,95 hari/tahun, rata-rata suhu 18,27ºC -21ºC, dan
rata-rata kelembaban sebesar 85,60% (Syaufina dan Sukmana, 2008).
Pencegahan kebakaran hutan adalah semua usaha, tindakan atau kegiatan
yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan – kemungkinan
terjadinya kebakaran hutan. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam
pencegahan

kebakaran

hutan

yaitu

pembuatan

peta

rawan

kebakaran

(Purbowaseso, 2004).
Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang
sangat penting dan diperlukan oleh fire manager dalam kegiatan pengendalian
kebakaran hutan dan lahan. Menurut literatur Solichin, dkk (2007) penyajian
secara spasial akan lebih membantu memberikan gambaran yang jelas dan akurat
mengenai lokasi, jarak serta aksesibilitas antara lokasi daerah rawan kebakaran
dengan sumberdaya pemadaman yang ada di lapangan. Oleh karena itu,
pembuatan peta daerah rawan kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan
karena berperan penting dalam membantu fire manager dalam mengambil
keputusan tersebut dan digunakan sebagai informasi peringatan dini untuk
mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.

 
Universitas Sumatera Utara

Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Menganalisa faktor-faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten
Toba Samosir.
2. Memetakan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba
Samosir.
3. Menghitung luas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba
Samosir.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah
1. Menganalisa data dan informasi yang digunakan sebagai sistem peringatan
dini terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan.
2. Sebagai bahan rujukan untuk pengambilan keputusan dalam upaya
pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan bagi pihak
terkait, khususnya di Kabupaten Toba Samosir.
3. Manfaat ilmiah yaitu pendekatan alternatif dalam menduga daerah rawan
kebakaran.

 
Universitas Sumatera Utara

Kebakaran hutan
dan lahan
Penurunan fungsi
hutan dan lahan
Perubahan kondisi
biofisik

Tutupan
lahan

Ketinggian
tempat

Curah
hujan

Suhu
udara

Kecepatan
angin

Jarak
dari
pemukiman

Pemetaan Daerah Rawan
Kebakaran Hutan dan Lahan

Peta Daerah Rawan Kebakaran
Hutan dan Lahan

Rekomendasi untuk pihak
pengelola
hutan
sebagai
informasi peringatan dini.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran

 
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Kebakaran Hutan dan Lahan
Kebakaran hutan dibedakan pengertiannya dengan kebakaran lahan,
dimana perbedaannya terletak pada lokasi kejadiannya. Kebakaran hutan yaitu
kebakaran yang terjadi di dalam kawasan hutan, sedangkan kebakaran lahan
adalah kebakaran yang terjadi diluar kawasan hutan (Pubowaseso, 2004).
Dibawah ini dapat dilihat data kebakaran hutan dan lahan tahun 2006 yang
terjadi di Provinsi Sumatera dan Kalimantan.
Tabel 1. Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera dan Kalimantan

No
1
2
3
4
5
6

Provinsi
Kalimantan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Sumatera
Riau
Jambi
Sumatera Selatan

Luas Hutan
( Km2 )

Hutan Rawa Gambut
Persentase Terhadap
Luas ( Km2 )
Luas Hutan

116.144
17.959
87.006

28.489
1.452
18.782

24.5
8.1
21.6

59.365
27.658
35.621

35.128
5.851
6.721

59.2
21.2
18.9

Sumber : http://www.setneg.go.id

Proses Kebakaran
Proses pembakaran/kebakaran adalah proses kimia-fisika yang merupakan
kebalikan dari reaksi fotosintesa yaitu :
C6H12O6 + O2 + Sumber Panas

CO2 + H2O+ Panas

Pada proses fotosintesa, energi terpusat secara perlahan-lahan, sedangkan
pada proses pembakaran energi yang berupa panas dilepaskan dengan cepat.
Selain panas, proses pembakaran juga menghasilkan beberapa jenis gas dan
partikel-partikel. Dapat dilihat bahwa terjadinya proses pembakaran/kebakaran

 
Universitas Sumatera Utara

apabila adda tiga unsu
ur yang berrsatu yaitu bahan bakar (fuel), ooksigen (oxy
ygen)
dan panass (heat). Billa salah sattu dari ketig
ganya tidak
k ada maka kebakaran tidak
akan terjaadi. Prinsip ini dikenaal dengan isstilah prinsip segitiga api (Gamb
bar 2)
yang meruupakan kunci utama daalam mempeelajari kebaakaran hutann dan lahan
n yang
termasuk dalam upay
ya pengendaalian kebakaaran. Bahan
n bakar dan oksigen terrsedia
di hutan dalam
d
jumlaah yang berllimpah, sedaangkan sum
mber panas ppenyalaan sangat
s
tergantungg kepada ko
ondisi alam
mi suatu daerrah dan keg
giatan manuusia (Sormin
n dan
Hartono, 1986).
1

Gambbar 2. Prinsip
p Segitiga Ap
pi

karan Hutan dan Lah
Faktor-faaktor Penyeebab Kebak
han
Faaktor utamaa perilaku aapi yang mempengaru
m
uhi kebakarran hutan adalah
a
karakteristtik bahan bakar
b
(kadar
ar air, jumllah, ukuran dan susunaan bahan baakar),
kondisi cuuaca (suhu, curah hujann, kelembab
ban dan ang
gin) serta toppografi lapaangan
(Purbowasseso, 2004).
Faaktor cuacaa merupakkan faktor penting kedua
k
yangg menyebaabkan
kebakarann hutan dan lahan, meliiputi : angin
n, suhu, currah hujan, kkeadaan air tanah
dan kelem
mbaban relaatif. Waktu juga memp
pengaruhi terjadinya
t
kkebakaran hutan,
h

 
Universitas Sumatera Utara

karena waktu sangat terkait dengan kondisi cuaca yang menyertainya. Waktu
dipisahkan atas waktu siang dan malam hari. Terdapat hubungan antara waktu
dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan. Masing-masing faktor tersebut sangat
mempengaruhi perilaku api kebakaran hutan dan lahan (Pubowaseso, 2004).
Karakteristik Bahan Bakar
1. Kadar Air Bahan Bakar
Kadar air bahan bakar berpengaruh sangat nyata dalam menentukan
perilaku api pada kebakaran hutan. Kadar air menentukan kemudahan bahan
bakar untuk menyala, kecepatan proses pembakaran, kecepatan penjalaran api dan
kemudahan usaha pemadaman kebakaran. Api sulit untuk memulai menyala pada
kadar air bahan bakar di atas 12% untuk jenis rumput-rumputan dan di atas 20%
untuk bahan bakar hutan. Agar bahan bakar terbakar, suhu bahan bakar harus naik
sampai mencapai titik bakar. Pada kertas kering, terbakar pada suhu 130oC,
serasah

hutan

pada

suhu

300oC

dan

batang

pohon

sekitar

600oC

(Sagala, 1988 dalam Darwo, 2009). Apabila sudah menyala, api dapat bergerak
dengan cepat jika ada angin bertiup (Artur, 1986 dalam Darwo, 2009). Batas
aman kadar air bahan bakar adalah 30%. Untuk memahami sifat kemudahan
terbakar suatu bahan bakar diperlukan pengetahuan mengenai kadar air seperti
curah hujan, kelembaban relatif, dan suhu. Bila kelembaban tinggi, maka
dibutuhkan energi yang besar untuk terjadinya pembakaran. Bila kelembaban
rendah, maka bahan bakar cepat terbakar (Suratmo, 1985 dalam Darwo, 2009).
2. Ukuran Bahan Bakar
Ukuran bahan bakar dibagi menjadi 3 bagian yaitu bahan bakar halus,
bahan bakar sedang dan bahan bakar kasar. Bahan bakar halus mudah dipengaruhi

 
Universitas Sumatera Utara

lingkungan sekitar, mudah mengering tetapi mudah pula menyerap air. Karena
sifatnya yang cepat mengering, maka apabila terbakar akan cepat meluas namun
cepat pula padam. Bahan bakar halus ini terdiri dari daun, serasah, rumput dan
cabang kecil. Bahan bakar sedang meliputi tumbuhan bawah, savana dan padang
alang-alang. Pada bahan bakar kasar, kadar air yang terkandung lebih stabil, tidak
cepat mengering sehingga sulit terbakar. Namun apabila terbakar, maka akan
memberikan penyalaan yang lebih lama. Bahan bakar kasar meliputi pohon, log
kayu dan pohon-pohon mati yang masih berdiri (snog) (Darwo, 2009).
3. Susunan Bahan Bakar
Susunan bahan bakar tersebut dibagi menjadi 2 yaitu susunan vertikal dan
susunan horizontal. Susunan secara vertikal merupakan bahan bakar yang
bertingkat dan berkesinambungan ke arah atas. Hal ini memungkinkan api
mencapai tajuk dalam waktu yang singkat. Susunan secara horizontal merupakan
bahan bakar yang menyebar dan berkesinambungan secara mendatar di lantai
hutan dan akan mempengaruhi penjalaran kebakaran (Darwo, 2009).
Jenis Bahan Bakar
Jenis bahan bakar dapat digolongkan menjadi:


Jenis pohon
Kepekaan

masing-masing

pohon

terhadap

api

sangat

bervariasi.

Komposisi tegakan sangat mempengaruhi kepekaannya. Umumnya hutan murni
dengan jenis daun lebar kurang peka terhadap kebakaran, sedangkan hutan murni
dengan jenis konifer yang mengandung banyak resin sangat peka terhadap
kebakaran. Laju penjalaran api pada tanaman Pinus merkusii

sebesar 32,82

m/jam lebih cepat dibandingkan dengan tanaman Acacia mangium sebesar 18,13

 
Universitas Sumatera Utara

m/jam, hal ini karena pada P. merkusii terdapat zat ekstraktif berupa resin
(Saharjo, 2003 dalam Darwo, 2009).


Semak dan anakan
Jika dalam keadaan tumbuhan sehat, maka sukar terbakar namun apabila

dalam keadaan mati sangat mudah untuk terbakar. Serasah dan lapisan humus
yang belum hancur merupakan lapisan bahan organik yang sudah mati terdiri dari
daun-daun, cabang-cabang pohon yang mati. Serasah mudah dikeringkan oleh
udara sehingga mudah terbakar. Cabang-cabang pohon yang mati dan pohon yang
masih berdiri di hutan merupakan bahan bakar yang mudah menyala dan bila
terbakar api dapat berkobar tinggi. Sisa penebangan misalnya penebangan dalam
penjarangan yang banyak meninggalkan sisa-sisa kayu, cabang dan daun-daun
(Saharjo, 2003).
Kondisi Bahan Bakar
Kondisi bahan bakar mempengaruhi mudah-tidaknya bahan bakar
terbakar. Salah satu kondisi bahan bakar yang penting adalah kadar air bahan
bakar dan jumlah bahan bakar di hutan. Meskipun bahan bakar tertumpuk banyak,
apabila kadar airnya tinggi maka api tidak mudah menyala. Kelembaban kurang
dari 30% mendukung terjadinya kebakaran. Kandungan kadar air bahan bakar
dari tanaman A. mangium 28,60%, sedangkan tanaman P. merkusii 30,96%
(Saharjo, 2003 dalam Darwo, 2009).
Kerapatan Bahan Bakar
Kerapatan bahan bakar berhubungan dengan tajuk antar partikel-partikel
dalam bahan bakar. Kerapatan berpengaruh kepada persediaan udara dan
pemindahan panas. Tumpukan log kayu akan terbakar dengan baik dalam waktu

 
Universitas Sumatera Utara

yang lama jika kerapatan partikelnya tinggi dan akan berhenti terbakar jika
kerapatan partikelnya rendah (Darwo, 2009).
Kondisi Cuaca
1. Suhu
Suhu udara merupakan faktor yang selalu berubah dan mempengaruhi
suhu bahan bakar serta kemudahannya untuk terbakar (Chandler et. al. 1983).
Temperatur udara bergantung pada intensitas panas atau penyinaran matahari.
Daerah-daerah dengan temperatur tinggi akan menyebabkan percepatan
pengeringan bahan bakar dan memudahkan terjadinya kebakaran. Suhu udara
merupakan faktor cuaca penting yang menyebabkan kebakaran. Suhu udara secara
konstan merupakan faktor yang berpengaruh pada suhu bahan bakar dan
kemudahan bahan bakar untuk terbakar (Dirjen PHPA, 1994).
Suhu mempengaruhi besarnya curah hujan, laju evaporasi dan transpirasi.
Suhu juga dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat memprakirakan dan
menjelaskan kejadian dan penyebaran air di muka bumi. Dengan demikian adalah
penting untuk mengetahui bagaimana menentukan besarnya suhu udara
(Purbowaseso, 2004).
Suhu udara tergantung dari intensitas panas / penyinaran matahari. Areal
dengan intensitas penyinaran matahari yang tinggi akan menyebabkan bahan
bakar cepat mengering, sehingga memudahkan terjadinya kebakaran. Suhu yang
tinggi akan mengindikasikan bahwa daerah tersebut cuacanya kering sehingga
rawan kebakaran (Purbowaseso, 2004).

 
Universitas Sumatera Utara

2. Kelembaban Udara dan Curah Hujan
Kelembaban udara dan curah hujan berhubungan erat dengan musim
kebakaran karena berkaitannya dengan kemudahan terbakar dari bahan bakar dan
berhubungannya dengan faktor cuaca lainnya. Pada bahan bakar mati seperti
serasah, kadar airnya sangat ditentukan oleh kondisi kelembaban udara
disekitarnya. Bahan bakar akan menyerap air dari udara yang lembab dan
melepaskan uap air ke udara yang kering. Selama musim kemarau, kelembaban
udara yang rendah juga mempengaruhi kadar air bahan bakar hidup. Uap air yang
akhirnya turun sebagai hujan akan meningkatkan kadar air dari bahan bakar mati
(Darwo, 2009).
3. Iklim Mikro dalam Hutan
Hamzah dan Wibowo (1985) dalam Darwo (2009) menyatakan bahwa
walaupun Indonesia dalam kawasan tropis dengan curah hujan tinggi, namun
hutan-hutannya tidak luput dari ancaman kebakaran. Salah satu penyebab
utamanya adalah adanya musim hujan dan musim kemarau. Pada musim kemarau,
curah hujan dalam sebulan sering kurang dari 60 mm terlebih lagi pada daerah
bertipe iklim C dan D, maka bahaya kebakaran hutan akan makin besar. Karena
adanya siklus tahunan dalam curah hujan dan pertumbuhan vegetasi maka setiap
daerah memiliki musim kebakaran yang tegas. Lamanya musim kebakaran ini
berbeda-beda, ada yang setahun dua kali dan adakalanya sepanjang tahun.
4. Angin
Angin adalah gerakan massa udara, yaitu gerakan atmosfer atau udara
nisbi terhadap permukaan bumi. Parameter tentang angin yang biasanya di kaji
adalah kecepatan angin. Kecepatan angin penting karena dapat menentukan

 
Universitas Sumatera Utara

besarnya kehilangan air melalui proses evapotranspirasi dan mempengaruhi
kejadian-kejadian hujan.
Angin menentukan arah menjalarnya api, menurut Suratmo (1985) dalam
Darwo (2009) angin juga mempengaruhi kecepatan dan percepatan terjadinya
kebakaran hutan. Angin menentukan arah dari menjalarnya api dan berkorelasi
positif dengan menjalarnya api, selain itu api juga dapat mengurangi kadar air
bahan bakar. Clar dan Chatten (1954) dalam Darwo (2009) menyatakan bahwa
dengan adanya angin maka persediaan oksigen tercukupi dan memberikan
tekanan untuk memindahkan panas dan api serta mengeringkan bahan bakar
melalui penguapan.
Akibat dari semua mekanisme ini, akan membuat kebakaran kecil menjadi
kebakaran besar, menyebabkan api bergerak tidak terduga serta membahayakan
dan menyulitkan usaha pemadaman.
5. Topografi
Kemiringan lereng dan ketinggian lokasi di atas permukaan laut
menentukan cepat lambatnya api bereaksi, yaitu berpengaruh pada penjalaran dan
kecepatan pembakaran. Pada lereng yang curam, api membakar dan
menghabiskan dengan cepat tumbuhan yang dilaluinya dan api akan menjalar
lebih cepat kearah menaiki lereng. Sebaliknya api yang menjalar ke bawah lereng
akan padam jika melalui daerah lembab yang memiliki kadar air tinggi
(Clar dan Chatten, 1994).
Sagala (1988) dalam Darwo (2009) menyatakan bahwa api akan menjalar
lebih cepat apabila menaiki lereng dan akan lebih lambat jika menuruni lereng.
Hal ini dikarenakan bahan bakar bagian atas lebih cepat panas.

 
Universitas Sumatera Utara

6. Jarak dari Pemukiman
Jarak dari jaringan jalan, pemukiman penduduk memiliki kategori sangat
penting sehingga peubah jalan dan pemukiman penduduk digunakan sebagai
peubah penyebab kebakaran untuk menentukan pengaruh aktivitas manusia.
Semakin jauh lokasi hutan terhadap pemukiman penduduk, jalan, dan sungai
maka hutan semakin terhindar dari kebakaran (Arianti, 2006).
Aktivitas masyarakat sekitar hutan demi memperoleh penghidupan
cenderung meningkat pada musim kemarau. Hal ini dikarenakan lahan bercocok
tanam di wilayah sekitar hutan menjadi tidak produktif karena kekeringan.
Pembuatan arang kayu di hutan misalnya dapat mengakibatkan bahaya kebakaran
(Qodariah dan Wijanarko, 2008).
Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan
Departemen Kehutanan (2007) menyatakan beberapa dampak kebakaran
hutan dan lahan diantaranya :
a. Dampak Terhadap Bio-fisik
Dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan sangat banyak. Kerusakan
dapat berkisar dari gangguan luka-luka bakar pada pangkal batang pohon/tanaman
sampai dengan hancurnya pepohonan/tanaman secara keseluruhan berikut
vegetasi lainnya. Dengan hancurnya vegetasi, yang paling dikhawatirkan adalah
hilangnya plasma nutfah (sumber daya genetik pembawa sifat keturunan) seiring
dengan hancurnya vegetasi tersebut. Selain itu, kebakaran dapat melemahkan
daya tahan tegakan terhadap serangan hama dan penyakit. Batang pohon yang
menderita luka bakar meskipun tidak mati, seringkali pada akhirnya terkena
serangan penyakit/pembusukan. Kebakaran hutan juga dapat mengurangi

 
Universitas Sumatera Utara

kepadatan tegakan dan merusak hijauan yang bermanfaat bagi hewan serta
menggangu habitat satwa liar. Rusaknya suatu generasi tegakan hutan oleh
kebakaran, berarti hilangnya pengorbanan dan waktu yang diperlukan untuk
mencapai taraf pembentukan tegakan tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan dapat merusak sifat fisik tanah akibat
hilangnya humus dan bahan-bahan organik tanah, dan pada gilirannya tanah
menjadi terbuka terhadap pengaruh panas matahari dan aliran air permukaan.
Tanah menjadi mudah tererosi, perkolasi dan tingkat air tanah menurun.
Kebakaran yang berulang-ulang dikawasan yang sama dapat menghabiskan
lapisan serasah dan mematikan mikroorganisme/jasad renik yang sangat berguna
bagi kesuburan tanah.
Dampak lainnya dari kebakaran hutan adalah rusaknya permukaan tanah
dan meningkatnya erosi. Kawasan yang terbakar di lereng-lereng di daerah hulu
DAS cenderung menurukan kapasitas penyimpanan air di daerah-daerah
dibawahnya. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa penurunan mutu
kawasan karena kebakaran yang berulang-ulang menyebabkan erosi tanah dan
banjir, yang menimbulkan dampak lanjutan berupa pendangkalan terhadap saluran
air, sungai, danau dan bendungan.
b. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi
Perubahan bio-fisik terhadap sumber daya dan lingkungan akibat
kebakaran hutan dan lahan, mengakibatkan penurunan daya dukung dan
produktivitas hutan dan lahan. Pada keadaan serupa ini akan menurunkan
pendapatan

masyarakat

dan

negara

dari

sektor

kehutanan,

pertanian,

 
Universitas Sumatera Utara

perindustrian, perdagangan, jasa wisata dan lainnya yang terkait dengan
pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungannya.
c. Dampak Terhadap Lingkungan
Selain dapat menimbulkan kerugian material, kebakaran hutan dan lahan
juga menimbulkan akumulasi asap yang besar. Kebakaran hutan dan lahan pada
tahun 1994 dan tahun 1997 telah menarik perhatian dunia, karena adanya suatu
kondisi cuaca tertentu yaitu asap dari kebakaran hutan dan lahan yang
terperangkap di bawah suatu lapisan udara dingin atmosfir di atas wilayah
Indonesia dan negara tetangga, menyebabkan penurunan visibilitas (daya tembus
pandang) sehingga mengganggu kelancaran transportasi darat, laut dan udara.
Titik Panas (Hotspot)
Titik panas (hotspot) merupakan suatu istilah yang digunakan untuk
mengindikasikan lokasi terjadinya vegetation fire pada suatu daerah tertentu yang
dinyatakan dalam titik koordinat. Pada kenyataannya, tidak semua hotspot
mengindikasikan terjadinya kebakaran. Untuk itulah diperkenalkan istilah firespot
yang secara khusus digunakan untuk mengindikasikan titik terjadinya kebakaran.
Namun istilah hotspot lebih umum digunakan. Istilah ini muncul bersamaan
dengan mulai beroperasinya satelit meteorologi NOAA yang menghasilkan citra
untuk mengindikasikan terjadinya vegetation fire (FFPMP2, 2007).
Sebuah hotspot adalah sebuah pixel kebakaran yang mewakili areal 1,1
km2, ini menunjukkan bahwa ada satu kebakaran atau beberapa kebakaran dalam
areal itu, namun itu tidak menjelaskan jumlah, ukuran, dan intensitas kebakaran
dan areal yang terbakar (FFPMP2, 2007).

 
Universitas Sumatera Utara

Titik panas (hotspot) adalah penamaan yang diberikan terhadap produk
pencitraan satelit NOAA. Satelit ini mengelilingi bumi setiap 100 menit di ruang
angkasa sejauh 850 km. Data dari NOAA dapat diterima hampir setiap hari. Pusat
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdakarhutla), disetiap propinsi
mempunyai akses langsung terhadap stasiun satelit yang berada di Jakarta
tersebut. Sedangkan untuk kebutuhan umum, data baru akan diterima dua hari
setelah kebakaran terjadi. NOAA dilengkapi dengan sensor AVHHR (Advanced
Very High Resolution Radiometer). AVHHR akan mendeteksi suhu permukaan
tanah menggunakan sinar infra merah pendek utama. Titik panas (hotspot) adalah
terminologi dari satu pixel yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan
daerah/lokasi sekitar yang tertangkap oleh sensor satelit data digital. Ukuran satu
pixel ini setara dengan 1,2 km dikalikan dengan 1,1 km dan titik panas di
permukaan bumi yang dapat ditangkap oleh sinar infra merah adalah 315○K
(42○C) pada siang hari dan 310○K (37○C) pada malam hari. Dalam keadaan
berawan, deteksi titik panas ini tidak dapat dilakukan. Derajat panas senilai 42○C
pada siang hari di satu kawasan mustahil ditemukan pada daerah yang tidak
memiliki titik api. Refleksi panas pada sebuah atap seng pada pabrik yang luas
hanya mampu memproduksi panas tidak lebih dari 257○C. Dengan menggunakan
angka ini, total luas hutan dan lahan di Indonesia yang terbakar dalam enam tahun
terakhir mencapai 27,612 juta Ha. Rata-rata setiap tahunnya, hutan dan lahan
seluas 5 juta Ha (WALHI, 2007).
Dalam periode Juli-November 2006, jumlah titik panas yang tercatat
(menurut data Satelit NOAA 12) sebanyak 145.147. Jumlah titik panas ini
mencapai puncaknya pada bulan Agustus, sebanyak 48.943, kemudian September

 
Universitas Sumatera Utara

(47.810) dan Oktober (35.829). Berdasarkan penyebarannya, titik panas ini
sebagian besar berada di Kalimantan dan Sumatera. Dalam periode tersebut, titik
panas terbanyak terdapat di Kalimantan Tengah (46.285), yang diikuti oleh
Kalimantan Barat (28.061), Sumatera Selatan (21.030) dan Riau (10.784)
(Fire Bulletin, 2007).
Dengan mengambil sampel Kalimantan Barat dan Riau, analisis titik panas
menunjukkan sebaran titik panas sebagai berikut : konsesi perkebunan sawit
(23,37%), Hutan Tanaman Industri (16,16%), Hak Pengusahaan Hutan (1,88%),
dan areal penggunaan lain/APL (58,59%). APL ini dapat berupa lahan
masyarakat, lahan terlantar, kawasan hutan lindung, dan kawasan hutan
konservasi (Fire Bulletin, 2007).
Aplikasi SIG pada Kebakaran Hutan dan Lahan
1. Teknologi Pengindraan Jauh
Penggunaan teknologi remote sensing dalam pengendalian kebakaran
hutan dan lahan telah memberikan kemudahan dalam memantau kebakaran secara
cepat, tepat dan akurat serta dapat memperkirakan kejadian kebakaran dan
pengaruhnya pada waktu mendatang. Remote sensing merupakan teknologi yang
memberikan informasi mengenai permukaan bumi dan keadaan atmosfer dengan
menggunakan sensor sebagai alat penerima gelombang radiasi elektromagnetik
yang membawa informasi tentang objek yang sedang ditangkap (ASMC, 2002).
Titik panas (hotspots) adalah terminologi dari satu pixel yang memiliki
suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah/lokasi sekitar yang tertangkap
oleh sensor satelit data digital. Indikasi kebakaran hutan dan lahan dapat diketahui
melalui titik panas yang terdeteksi disuatu lokasi tertentu pada saat tertentu

 
Universitas Sumatera Utara

dengan memanfaatkan satelit NOAA yang memiliki teknologi AVHRR
(LAPAN, 2004).
Penelitian untuk melihat keakuratan data hotspot dengan kejadian
kebakaran dilakukan oleh Thoha (2006) menyatakan bahwa akurasi berdasarkan
jumlah desa yang terpantau hotspot dengan sumber data dari ASMC memiliki
persentase tertinggi yaitu sebesar 60%. Sedangkan untuk JICA dan LAPAN
masing-masing adalah 47% dan 40%. Untuk akurasi berdasarkan jarak terdekat,
sumber data dari JICA memiliki akurasi tertinggi yaitu 17,5 km dibandingkan
ASMC sebesar 4,46 km dan LAPAN sebesar 3,70 km.
Terdapat beberapa kelemahan pada satelit NOAA yang berfungsi sebagai
pemantau titik panas yaitu sensornya tidak dapat menembus awan, asap dan
aerosol sehingga memungkinkan jumlah hotspot yang terdeteksi pada saat
kebakaran jauh lebih rendah daripada seharusnya. Sifat sensor yang sensitif
terhadap suhu permukaan bumi ditambah dengan resolusinya yang rendah
menyebabkan kemungkinan terjadinya salah perkiraan hotspot, misalnya
cerobong api dari tambang minyak dan gas sering kali terdeteksi sebagai suatu
hotspot. Oleh karena itu, diperlukan analisa lebih lanjut dengan melakukan
overlay (penggabungan) antara data hotspot dengan peta penutupan lahan atau
peta penggunaan lahan dengan menggunakan sistem informasi geografis serta
dengan melakukan cek lapangan (ground surveying) (Adinugroho, et al, 2005).
Dengan NOAA-AVHRR tidaklah mungkin untuk mengukur secara tepat
luas daerah yang terbakar ataupun memberikan data yang tepat mengenai
kerusakan vegetasi. Koordinat hotspot mewakili titik tengah dari pixel kebakaran
yang terdeteksi dan bukan koordinat letak kebakaran dipermukaan bumi yang

 
Universitas Sumatera Utara

sesungguhnya. Kebakaran atau beberapa kebakaran dapat terletak dalam radius
500 meter dari koordinat titik tengah tersebut. Lebih jauh lagi, sangatlah sulit
untuk menjamin registrasi yang baik dari citra NOAA-AVHRR secara berturutturut. Kekeliruan registrasi tergantung pada keakuratan operator ketika
menumpangsusunkan garis pantai dalam proses georeferensi (Hoffman, 2000).
2. Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu kumpulan terorganisasi
yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan personil
yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi,
menganalisis dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi
geografis. Lebih lanjut Arronof (1989) juga mengatakan SIG sebagai sebuah
sistem komputerisasi yang memfasilitasi fase entri data, analisis data dan
presentasi data yang terutama berkenaan dengan data yang memiliki georeferensi.
Sejarah penggunaan komputer untuk pemetaan dan analisis spasial
menunjukkan adanya perkembangan bersifat paralel dalam pengambilan data
secara otomatis, analisis data dan referensi pada bagian bidang terkait seperti
pemetaan kadastral dan topografi, kartografi tematik, teknik sipil, geografi, studi
matematika dan variasi spasial, ilmu tanah, survey dan fotogrametri, perencanaan
pedesaan dan perkotaan, utility network, dan pengindraan jauh serta analisis citra
(Burrough, 1986).
Kolden dan Weisberg (2007) dalam penelitian mengenai perbandingan
akurasi pemetaan kebakaran secara manual dengan pemetaan menggunakan SIG
dan Remote Sensing terhadap 53 kejadian kebakaran menunjukkan bahwa terdapat
kesalahan (error) secara signifikan terhadap pemetaan garis batas kebakaran

 
Universitas Sumatera Utara

dengan pengukuran lapangan dan metoda dengan helikopter. Penggunaan
teknologi SIG mempermudah deliniasi dan pemetaan daerah kebakaran secara
lebih tepat.
Penggunaan SIG dalam model kerawanan hutan telah mempertimbangkan
sejumlah faktor penyebab kebakaran, tergantung pada karakteristik dari kejadian
kebakaran pada tempat yang berbeda. Variabel spasial yang digunakan untuk
membangun kerawanan kebakaran hutan, yaitu topografi (elevasi, slope, dan
aspek), vegetasi (tipe bahan bakar, kadar kelembaban), pola cuaca (suhu,
kelembaban relatif, angin dan presipitasi), aksesibilitas terhadap jalan, tipe
kepemilikan lahan, jarak dari kota, tanah dan bahan bawah tanah, sejarah
kebakaran dan ketersediaan air (Chuvieco dan Salas, 1996).
Peta Rawan Kebakaran merupakan model spasial yang digunakan untuk
mempresentasikan kondisi di lapangan terkait dengan resiko terjadinya kebakaran
hutan dan lahan. Model ini dibuat dengan menggunakan aplikasi GIS untuk
memudahkan proses overlay antar faktor-faktor penyebab kebakaran. Oleh karena
itu, memahami faktor-faktor penyebab dan perilaku kebakaran merupakan hal
yang sangat utama di dalam melakukan permodelan ini (Solichin, dkk, 2007).
Model peta rawan kebakaran ini tidak secara khusus memperhatikan
potensi penyulutan, melainkan lebih secara luas memprediksi kemungkinan
kebakaran akan terjadi serta kemungkinan intensitas serta dampak yang
ditimbulkan. Potensi penyulutan juga dikemba