ANALISIS PELATIHAN TERHADAP KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA: Studi Pada Guru Matematika Smp Di Kota Makassar.

(1)

Dewi Sartika Salam, 2012

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah ... 1

1.2.Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 8

1.3.Tujuan Penelitian ... 9

1.4.Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS 2.1.Sumber Daya Manusia ... 12

2.1.1. Konsep Sumber Daya Manusia... 12

2.1.2. Manajemen Sumber Daya Manusia ... 13

2.1.3. Kompetensi Sumber Daya Manusia ... 17

2.1.4. Pengembangan Sumber Daya Manusia ... 20

2.2.Profesionalisme Guru ... 21

2.2.1. Konsep Profesionalisme Guru ... 21

2.2.2. Pengembangan Keprofesian Guru melalui Pelatihan... 23

2.3.Kompetensi Guru ... 45

2.3.1. Konsep Kompetensi Guru ... 45

2.3.2. Kompetensi Inti Guru ... 49

2.4.Teori Belajar ... 70

2.5.Prestasi Belajar Siswa ... 72

2.5.1. Konsep Prestasi Belajar Siswa ... 72

2.5.2. Penilaian Hasil Belajar Siswa ... 75

2.6.Hubungan antara Pelatihan dan Kompetensi Guru ... 76

2.7.Hubungan antara Kompetensi Guru dan Prestasi Belajar Siswa ... 78

2.8.Kerangka Pemikiran ... 79


(2)

Dewi Sartika Salam, 2012

Analisis Pelatihan Terhadap Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Serta BAB III METODE PENELITIAN

3.1.Populasi dan Sampel Penelitian... 85

3.1.1. Populasi ... 85

3.1.2. Sampel ... 86

3.2.Desain Penelitian ... 89

3.3.Definisi Operasional ... 90

3.3.1. Variabel Penelitian ... 90

3.3.2. Operasionalisasi Variabel ... 92

3.4.Instrumen Penelitian ... 98

3.4.1. Jenis Instrumen yang Digunakan ... 98

3.4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 99

3.5.Teknik Pengumpulan Data ... 103

3.6.Teknik Analisis Data ... 104

3.6.1. Analisis Deskriptif ... 104

3.6.2. Transformasi Data Ordinal menjadi Interval ... 105

3.6.3. Analisis Korelasi ... 106

3.6.4. Analisis Jalur ... 107

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Penelitian ... 113

4.1.1. Deskripsi Karakteristik Responden ... 113

4.1.2. Deskripsi Variabel Penelitian ... 119

4.1.3. Korelasi Karakteristik Responden dan Variabel-Variabel Penelitian ... 127

4.1.4. Analisis Jalur ... 129

4.2.Pembahasan ... 140

4.2.1. Gambaran Pelatihan-Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru Matematika... 140

4.2.2. Gambaran Kompetensi Pedagogik Guru Matematika ... 143

4.2.3. Gambaran Kompetensi Profesional Guru Matematika ... 152

4.2.4. Gambaran Prestasi Belajar Siswa Bidang Matematika ... 156

4.2.5. Pengaruh Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru Matematika terhadap Kompetensi Pedagogik Guru ... 157

4.2.6. Pengaruh Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru Matematika terhadap Kompetensi Profesional Guru ... 158

4.2.7. Hubungan antara Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru terhadap Kompetensi Pedagogik dan Profesional Guru serta Dampaknya terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Matematika ... 159


(3)

Dewi Sartika Salam, 2012

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.Kesimpulan ... 163

5.2.Rekomendasi ... 165

DAFTAR PUSTAKA ... 167


(4)

Dewi Sartika Salam, 2012

Analisis Pelatihan Terhadap Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Serta DAFTAR TABEL

Keterangan Nomor

Keterangan Tabel Halaman

Tabel 1.1. Rerata Nilai Sekolah Tingkat SMP Tahun 2011 2 Tabel 1.2. Jumlah Guru SMP Menurut Ijazah Tertinggi Tahun

2009/2010

4 Tabel 2.1. Tujuan Individu dan Kelompok Pelatihan

Profesional

29

Tabel 2.2. Tujuan Pelatihan dan Metode Pelatihan 31

Tabel 2.3. Evaluasi Menyeluruh Program Pengembangan Profesional

42 Tabel 3.1. Jumlah Guru Matematika SMP Negeri per

kecamatan di Kota Makassar

85

Tabel 3.2. Sampel Penelitian 88

Tabel 3.3. Operasionalisasi Variabel 93

Tabel 3.4. Nilai Validitas Instrumen Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru

101 Tabel 3.5. Nilai Reliabilitas Instrumen Pelatihan

Pengembangan Profesionalisme Guru

103

Tabel 3.6. Kriteria Pencapaian Variabel 105

Tabel 3.7. Interpretasi Nilai R 106

Tabel 4.1. Deskripsi Efektivitas Dimensi Variabel Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru

121 Tabel 4.2. Deskripsi Dimensi Variabel Kompetensi Pedagogik

Guru

123 Tabel 4.3. Deskripsi Dimensi Variabel Kompetensi Profesional

Guru

126 Tabel 4.4. Korelasi antara Karakteristik Responden dengan

Variabel Kompetensi Pedagogik dan Profesional Guru


(5)

Dewi Sartika Salam, 2012

Tabel 4.5. Nilai Signifikansi Uji Normalitas 129

Tabel 4.6. Nilai Signifikansi Uji Linearitas 130

Tabel 4.7. Nilai VIF Uji Multikolinearitas 130

Tabel 4.8. Nilai Signifikansi Pengaruh Variabel Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru (X) terhadap Kompetensi Pedagogik Guru (Y1)

133

Lanjutan Daftar Tabel

Tabel 4.9. Nilai Signifikansi Pengaruh Variabel Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru (X) terhadap Kompetensi Profesional Guru (Y2)

135

Tabel 4.10. Nilai Signifikansi Pengaruh Kompetensi Pedagogik (Y1) dan Kompetensi Profesional (Y2) secara

Simultan terhadap Prestasi Belajar Siswa (Z)

137

Tabel 4.11. Nilai Signifikansi dan Standardized Coefficient Pengaruh Kompetensi Pedagogik (Y1) dan

Kompetensi Profesional (Y2) secara Parsial terhadap

Prestasi Belajar Siswa (Z)

138


(6)

Dewi Sartika Salam, 2012

Analisis Pelatihan Terhadap Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru Serta DAFTAR GAMBAR

Keterangan Nomor

Keterangan Gambar Halaman

Gambar 2.1. Sasaran Pengembangan Sumber Daya Manusia 16

Gambar 2.2. Central and Surface Competencies 19

Gambar 2.3. Paradigma Kerangka Pemikiran 83

Gambar 3.1. Paradigma Penelitian 92

Gambar 3.2. Diagram Jalur yang Diteliti 110

Gambar 4.1. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Jenis Kelamin 113

Gambar 4.2. Histogram Jumlah Guru Berasarkan Usia 114

Gambar 4.3. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Pendidikan Terakhir

115 Gambar 4.4. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Pangkat/

Golongan

116 Gambar 4.5. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Masa Kerja 117 Gambar 4.6. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Status Sertifikasi 118 Gambar 4.7. Histogram Jumlah Guru Berdasarkan Frekuensi

Mengikuti Pelatihan

119

Gambar 4.8. Histogram Skor Efektivitas Pelatihan 121

Gambar 4.9. Histogram Sebaran Nilai Kompetensi Pedagogik Guru 123 Gambar 4.10. Histogram Sebaran Nilai Kompetensi Profesional Guru 125 Gambar 4.11. Histogram Sebaran Rata-Rata Nilai Matematika Siswa 127

Gambar 4.12. Scatterplot Uji Heterokedastisitas 131

Gambar 4.13. Diagram Jalur Sub-Struktural 1 132

Gambar 4.14. Diagram Jalur Sub-Struktural 1 beserta Koefisien Jalur 133

Gambar 4.15. Diagram Jalur Sub-Struktural 2 134

Gambar 4.16. Diagram Jalur Sub-Struktural 2 beserta Koefisien Jalur 135

Gambar 4.17. Diagram Jalur Sub-Struktural 3 136


(7)

Dewi Sartika Salam, 2012

Gambar 4.19. Diagram Jalur Lengkap Variabel Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru (X) terhadap Kompetensi Pedagogik Guru (Y1) dan

Kompetensi Profesional Guru (Y2) serta Dampaknya

terhadap Prestasi Belajar Siswa (Z)

140

DAFTAR LAMPIRAN

Keterangan Nomor

Keterangan Tabel Halaman

Lampiran 1 Surat Ijin dan Rekomendasi Penelitian 171

Lampiran 2 Kuesioner dan Soal tes Penelitian 173

Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 187 Lampiran 4 Transformasi Data dengan Method of Successive

Interval

195 Lampiran 5 Output SPSS 17 Analisis Deskriptif Variabel 198 Lampiran 6 Output SPSS 17 Korelasi Karakteristik Responden

dan Variabel-Variabel Penelitian

205

Lampiran 7 Output SPSS 17 Uji Asumsi Parametrik 208


(8)

Dewi Sartika Salam, 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu mendapatkan perhatian khusus di Indonesia. Rendahnya kemampuan siswa di bidang matematika terlihat pada catatan International Association for the

Evaluation of Educational Achievement (IEA) tahun 2007 dalam program Trends in International Mathematics and Science Study yang melakukan penilaian

komparatif internasional bagi siswa grade 4 (setingkat Sekolah Dasar) dan 8 (setingkat Sekolah Menengah Pertama) di seluruh dunia dalam bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Lembaga ini mencatat bahwa kemampuan Matematika siswa grade 8 Indonesia hanya berada pada peringkat 36 dari 48 negara peserta, dengan rerata skor 397 dari rerata skor internasional 500.

Prestasi rendah di bidang Matematika juga tercatat pada hasil survei tahun 2009 yang dilakukan OECD (Organisation for Economic Co-operation and

Development) pada program PISA (Programme for International Student Assessment), suatu program internasional yang dilakukan setiap tiga tahun dan

bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan seluruh dunia dengan menguji pengetahuan dan keterampilan siswa-siswi berusia 15 tahun untuk negara-negara yang berpartisipasi pada PISA. Survei ini menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-57 dari 65 negara yang disurvei. Indonesia memperoleh


(9)

pencapaian rerata Matematika sebesar 371 yang tentu saja masih sangat jauh dari rerata OECD sebesar 496.

Kenyataan rendahnya kemampuan Matematika seperti yang disebutkan di atas, terjadi merata di seluruh Indonesia, tidak terkecuali di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat pada nilai sekolah mata pelajaran matematika sebagai kontribusi 40% dari nilai akhir kelulusan Matematika ujian nasional tahun 2011 yang ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Rerata Nilai Sekolah Tingkat SMP Tahun 2011 Rerata

Nilai Sekolah

Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

Matematika IPA

Nasional 8,03 7,83 7,79 7,87

Sulawesi Selatan 8,09 7,88 7,81 7,93

Kota Makassar 8,02 7,86 7,68 7,88

Sumber: Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

Rerata nilai sekolah untuk mata pelajaran matematika sebagai kelompok mata pelajaran teknologi yang diujikan pada ujian nasional memiliki tingkat pencapaian paling rendah di tingkat Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, maupun tingkat nasional jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang diujikan pada ujian nasional tingkat SMP (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA).

Pencapaian hasil belajar siswa di bidang Matematika tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor sebagaimana Slameto (2010:54) menggolongkan faktor tersebut sebagai faktor internal dan eksternal, dimana faktor internal terdiri atas faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lebih jauh Slameto (2010: 64) menguraikan faktor sekolah yang mempengaruhi hasil belajar siswa mencakup


(10)

Dewi Sartika Salam, 2012

metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung sekolah, metode belajar, dan tugas rumah.

Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, guru merupakan faktor yang memiliki kontribusi penting bagi peningkatan hasil belajar siswa. Hattie (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Teachers Make a

Difference menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi enam faktor

penting yaitu siswa itu sendiri, rekan-rekan atau teman mereka, apa yang mereka dapat di rumah, apa yang terjadi di sekolah mereka, kepala sekolah, dan guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari keenam faktor, guru merupakan faktor terbesar kedua yang mempengaruhi prestasi belajar siswa setelah faktor internal siswa itu sendiri.

Studi serupa dilakukan Nordenbo et. al (2008) dengan merangkum 70 penelitian sejak tahun 1998 sampai 2007 mengenai faktor-faktor kompetensi guru yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini didasari pada sebagian besar penelitian yang telah dilakukan mengenai pembelajaran di sekolah yang menyimpulkan bahwa guru adalah faktor tunggal yang memiliki pengaruh besar pada apa yang dipelajari siswa. Faktor-faktor kompetensi guru yang dikemukakan sebagai faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu kompetensi guru untuk masuk ke dalam hubungan sosial sehubungan dengan individual murid dan seluruh kelas (semua murid), kompetensi guru untuk mengarahkan pekerjaan mengajar kelas dimana guru sebagai pemimpin terlihat sepanjang perjalanan pengajaran yang secara bertahap menyerahkan tanggung jawab kepada siswa dan


(11)

kelas untuk mengembangkan peraturan dan mendorong siswa untuk membangun dan mempertahankan peraturan tersebut, serta kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar secara umum dan pengajaran secara individu.

Realitas menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia dinilai masih memprihatinkan. Hal ini terlihat pada data kualifikasi guru berikut ini.

Tabel 1.2. Jumlah Guru SMP Menurut Ijazah Tertinggi Tahun 2009/2010

Pendidikan Jumlah

Guru

Ijazah Tertinggi (dalam %)

<S1 S1 ≥S2

Indonesia 608.164 24,31 74,27 1,42

Sulawesi Selatan 26.078 19,41 79,95 0,64

Sumber: Pusat Statistik Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2012)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 telah menetapkan bahwa standar kualifikasi minimal guru profesional adalah Sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) namun pada Tabel 1.2 di atas terlihat bahwa masih terdapat 24,31% guru pada tingkat nasional dan 19,41% guru pada tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang masih memiliki kualifikasi di bawah standar.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2012, diketahui pula bahwa dari jumlah 685 guru Matematika yang ada di Kota Makassar, baru sekitar 330 guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik. Hal ini menunjukkan bahwa hanya setengah dari jumlah guru Matematika keseluruhan yang ada di Makassar yang telah mendapatkan pengakuan profesionalitas sebagai guru dan dianggap layak untuk mengajar.


(12)

Dewi Sartika Salam, 2012

Peran guru dalam konteks pendidikan merupakan peran yang sangat penting dan strategis. Guru berada pada barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan, yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Peserta didik yang berkualitas secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, moral maupun spiritual akan diproduksi di tangan guru. Oleh karena itu, sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi sangat diperlukan dalam menjalankan tugas profesionalnya (Kunandar, 2009).

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk dapat menghasilkan sosok guru yang berkualitas, salah satunya adalah melalui continuing profesional

development (CPD) yaitu pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan.

CPD merupakan usaha yang dilakukan guru untuk mempertahankan, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan spesialisasi subjek guru dan pengajarannya sehingga memiliki dampak yang positif bagi praktek dan pengalaman siswa (IFL dalam Scales et al.,2011:3).

Scales et al. (2011:53-54) menyatakan bahwa penggerak CPD memperhitungkan tiga elemen penting yaitu spesialisasi subjek, belajar mengajar, dan prioritas (kebijakan organisasi). Meskipun Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 menetapkan bahwa guru-guru di Indonesia harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian, Scales et al. (2011:87) hanya menekankan pada pengembangan


(13)

subjek spesifik dan keterampilan mengajar dalam rangka pengembangan diri berkelanjutan sehingga hal awal yang perlu diinformasikan dalam pelaksanaan CPD guru adalah spesialisasi subjek (kompetensi profesionalisme) dan spesialisasi pengajarannya (kompetensi pedagogik). Oleh karena itu, penelitian ini hanya akan membahas mengenai kompetensi profesional dan pedagogik guru saja.

Terdapat sembilan model CPD yang diajukan oleh Kennedy dalam Scales et al. (2011:117), yaitu training model, award-bearing model, deficit model,

cascade model, standard-based model, coaching mentoring model, community of practice model, action research model, dan transformative model. Model CPD

yang dilakukan di Indonesia dilaksanakan Pemerintah Indonesia dalam suatu program terobosan yang diberi nama Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang menfasilitasi guru dalam mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya menetapkan unsur kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru yang terdiri dari tiga macam kegiatan yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru. Kegiatan diklat fungsional merupakan kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk meningkatkan keprofesian guru dalam kurun waktu tertentu. Guru sebagai sales agent merupakan kunci keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Baik buruknya perilaku atau cara mengajar guru akan sangat mempengaruhi citra lembaga pendidikan. Oleh sebab itu sumber daya guru harus


(14)

Dewi Sartika Salam, 2012

dikembangkan baik melalui pendidikan dan pelatihan maupun kegiatan lain agar kemampuan profesionalnya semakin meningkat (Alma, 2009:123).

Penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji variabel pelatihan, kompetensi pedagogik dan profesional guru, serta prestasi belajar siswa antara lain dilakukan Laksana (2009) yang menemukan bahwa pelatihan berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme guru dan penelitian Wulandari (2010) yang menemukan bahwa kompetensi pedagogik dan profesional guru berpengaruh terhadap proses dan hasil pembelajaran Matematika siswa. Penelitian-penelitian terdahulu hanya membahas hubungan antara pelatihan guru terhadap kompetensi guru atau hubungan antara kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa, oleh karena itu penelitian ini membentuk hal baru dengan melakukan penelitian secara komprehensif mengenai pengaruh pelatihan pengembangan profesionalisme guru terhadap kompetensi pedagogik dan profesional guru serta dampaknya terhadap hasil belajar siswa. Keterkaitan antara keempat variabel tersebut tentunya akan memiliki pengaruh dan kontribusi yang berbeda apabila diukur secara komprehensif dibandingkan jika hanya diukur sebatas dua atau tiga variabel saja.

Penelitian ini akan menghasilkan gambaran mengenai tingkat kompetensi pedagogik dan profesional guru matematika SMP di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan ditinjau dari keikutsertaannya pada pelatihan-pelatihan dalam rangka pengembangan profesionalisme guru dan kontribusinya terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan salah satu bagian dari kajian ilmu penjaminan mutu pendidikan sebagai salah satu usaha untuk memperoleh input bagi perencanaan upaya continuing professional development (Pengembangan


(15)

Keprofesian Berkelanjutan) tenaga pendidik yang pada akhirnya akan berujung pada penjaminan terhadap peningkatan kualitas pendidikan peserta didik.

1.2.Identifikasi dan Perumusan Masalah

Peningkatan prestasi belajar siswa merupakan tujuan utama dilaksanakannya proses belajar mengajar. Perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal (Usman, 2009:9). Saud (2009:105) mengemukakan salah satu alternatif Program Pengembangan Profesionalisme Guru menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005 adalah program pelatihan terintegasi berbasis kompetensi yaitu program pelatihan yang menyesuaikan dengan kebutuhan guru dan mengacu pada kompetensi yang akan dicapai dan diperlukan oleh peserta didik.

Berdasarkan latar belakang mengenai pengaruh pelatihan terhadap kompetensi pedagogik dan profesional guru serta dampaknya pada prestasi belajar siswa, penelitian ini akan menelusuri serta mengkaji mengenai:

1. Bagaimanakah gambaran pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme yang telah diperoleh guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar?

2. Bagaimanakah gambaran kompetensi profesional yang dimiliki guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar?


(16)

Dewi Sartika Salam, 2012

3. Bagaimanakah gambaran kompetensi pedagogik yang dimiliki guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar?

4. Bagaimanakah gambaran prestasi belajar bidang Matematika siswa-siswi SMP di Kota Makassar?

5. Apakah pelatihan yang diperoleh berpengaruh terhadap kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru-guru matematika SMP di Kota Makassar? 6. Apakah pelatihan yang diperoleh berpengaruh terhadap kompetensi pedagogik

yang dimiliki guru-guru matematika SMP di Kota Makassar?

7. Bagaimanakah hubungan antara pelatihan terhadap kompetensi profesional dan pedagogik guru berdampak terhadap prestasi belajar matematika siswa-siswi SMP di Kota Makassar?

1.3.Tujuan Penelitian

Secara garis besar tujuan penelitian ini dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut:

1.3.1. Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi profesional dan pedagogik guru-guru Matematika SMP ditinjau dari keikutsertaan guru pada pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan keprofesian guru serta dampaknya terhadap prestasi belajar siswa di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

1.3.2. Tujuan Khusus


(17)

a. Mengetahui gambaran pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme yang telah diperoleh guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar.

b. Mengetahui gambaran tingkat kompetensi pedagogik yang dimiliki guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar.

c. Mengetahui gambaran tingkat kompetensi profesional yang dimiliki guru-guru Matematika SMP di Kota Makassar.

d. Mengetahui gambaran tingkat prestasi belajar bidang Matematika siswa-siswi SMP di Kota Makassar.

e. Mengetahui hubungan pelatihan yang diperoleh guru terhadap kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru-guru matematika SMP di Kota Makassar. f. Mengetahui hubungan pelatihan yang diperoleh guru terhadap kompetensi

pedagogik yang dimiliki guru-guru matematika SMP di Kota Makassar. g. Mengetahui hubungan antara pelatihan terhadap kompetensi profesional dan

pedagogik guru serta dampaknya terhadap prestasi belajar matematika siswa-siswi SMP di Kota Makassar.

1.4.Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat akademis maupun praktis.

1.4.1. Manfaat Akademis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan kajian secara komprehensif mengenai hubungan antara pelatihan


(18)

Dewi Sartika Salam, 2012

pengembangan profesionalisme guru, tingkat kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru, serta prestasi belajar siswa di bidang Matematika.

1.4.2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

a. Kementerian Pendidikan Nasional, sebagai salah satu input dalam hal penentuan kebijakan program peningkatan kualitas pendidikan terutama peningkatan kompetensi guru.

b. Pemerintah Kota Makassar terutama Dinas Pendidikan Kota Makassar sebagai rujukan dalam usaha pembinaan dan pemberian bantuan pelatihan sebagai salah satu usaha Continuing Professional Development (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) guru di Makassar.

c. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan dan lembaga-lembaga diklat daerah sebagai informasi mengenai keefektifan pelaksanaan pelatihan serta tingkat kompetensi profesional dan pedagogik guru yang dapat menjadi dasar ataupun rujukan pengembangan program pelatihan guru selanjutnya.


(19)

(20)

Dewi Sartika Salam, 2012

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Populasi dan Sampel Penelitian 3.1.1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan aspek tertentu dari ciri, fenomena, atau konsep yang menjadi pusat perhatian penelitian, Tiro (2008:3). Definisi populasi juga dikemukakan Sugiyono (2010: 61) sebagai wilayah generalisasi yang ditetapkan peneliti dan terdiri atas objek/subjek dengan kualitas dan karakteristik tertentu untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh guru matematika PNS maupun

non-PNS Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Makassar Provinsi Sulawesi

Selatan. Berdasarkan data tahun 2011 yang diperoleh dari LPMP Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah guru Matematika di Kota Makassar adalah 223 guru yang tersebar pada 39 Sekolah Menengah Pertama Negeri dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.1. Jumlah guru Matematika SMP Negeri per Kecamatan di Kota Makassar

No. Kecamatan Jumlah guru

Matematika

1 Biringkanaya 49

2 Bontoala 5

3 Mamajang 16

4 Manggala 29


(21)

6 Panakkukang 8

Lanjutan Tabel 3.1.

7 Rappocini 15

8 Tallo 18

9 Tamalanrea 11

10 Tamalate 41

11 Ujung Pandang 12

12 Ujung Tanah 6

13 Wajo 7

Total 223

Sumber: Data NUPTK LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011

3.1.2. Sampel

Sampel adalah sejumlah anggota yang dipilih dari populasi yang jumlahnya bervariasi berdasarkan tujuan pengambilannya dan tingkat kehomogenan populasinya. Sampel yang dipilih haruslah mewakili (representatif) terhadap populasi karena merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengkaji sifat-sifat populasi (Tiro, 2008:4).

Unit analisis pada penelitian ini adalah guru Matematika SMP Negeri baik PNS maupun bukan PNS. Ukuran sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus Slovin (Sujarweni dan Endrayanto, 2012:17) sebagai berikut:

= �

1 +� 2 dimana

n = ukuran sampel N= ukuran populasi


(22)

Dewi Sartika Salam, 2012

e = persentase kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir.

Berdasarkan rumus tersebut, dengan menggunakan persen kelonggaran ketidaktelitian sebesar 10%, maka diperoleh perhitungan jumlah sampel sebagai berikut:

= 223

1 + 223 (0,1)2

= 223

3,23= 69,04

Ukuran sampel sebesar 69 guru kemudian dibulatkan menjadi 70 guru untuk kepentingan penelitian. Setiap guru memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden penelitian sehingga digunakan probability sampling dengan teknik sampling sistematis (systematic random sampling) sebagai berikut:

1. Seluruh elemen populasi diberi nomor urut, dalam hal ini jumlah populasi adalah 223 sehingga elemen populasi diberi nomor urut 1 sampai 223. Pengambilan elemen pertama (x1) sebagai anggota sampel dipilih secara acak.

Elemen pertama yang terpilih pada pengambilan sampel secara acak adalah elemen dengan nomor urut 8 yang dipilih dengan cara mengundi potongan kertas bertuliskan nomor 1 sampai dengan 9.

2. Pengambilan elemen sampel selanjutnya mengikuti aturan sistematik

= 1+ = � =223

70 = 3,18 ≈3 Keterangan:


(23)

k = interval

N = jumlah populasi n = jumlah sampel

Nomor urut elemen sampel pertama yang terpilih adalah nomor 8, sehingga nomor urut elemen sampel kedua adalah nomor urut 11 yang diperoleh dari perhitungan berikut:

x2 = x1 + k = 8 + 3 = 11.

3. Nomor urut elemen sampel selanjutnya diperoleh dengan mengulangi langkah nomor 2 di atas sampai diperoleh 70 nomor urut elemen sampel.

Proporsi sampel pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 3.2. berikut: Tabel 3.2. Sampel Penelitian

No. Kecamatan Jumlah guru

Matematika

1 Biringkanaya 15

2 Bontoala 2

3 Mamajang 5

4 Manggala 9

5 Mariso 2

6 Panakkukang 2

7 Rappocini 5

8 Tallo 6

9 Tamalanrea 3

10 Tamalate 13

11 Ujung Pandang 4

12 Ujung Tanah 2


(24)

Dewi Sartika Salam, 2012

Total 70

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2012

3.2.Desain Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Creswell (2010:27) menerangkan dalam bukunya bahwa penggunaan pendekatan kuantitatif dalam prakteknya antara lain untuk menguji atau memverifikasi teori atau penjelasan, mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti, menghubungkan variabel-variabel dalam rumusan masalah dan hipotesis penelitian, menggunakan standar-standar validitas dan reliabilitas, mengobservasi dan mengukur informasi secara numerik, menerapkan pendekatan-pendekatan yang bebas bias, dan menerapkan prosedur-prosedur statistik.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan korelasional. Metode penelitian deskriptif merupakan metode yang berfungsi untuk memberikan gambaran terhadap objek yang diteliti melalui sampel atau populasi tanpa melakukan analisis dan menarik kesimpulan yang berlaku secara general (Sugiyono, 2010:29). Suryabrata (2010:76) menjelaskan bahwa tujuan dari metode penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis, akurat, dan faktual mengenai fakta-fakta yang terdapat pada suatu populasi atau sampel.


(25)

Deskripsi pada penelitian ini dilakukan dengan meringkas data yang diperoleh menggunakan histogram untuk memberikan gambaran-gambaran rinci mengenai karakteristik-karakteristik responden pada saat penelitian dilakukan. Deskripsi dilakukan dengan menghitung frekuensi berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. Deskripsi juga dilakukan pada variabel-variabel penelitian yaitu variabel pengembangan profesionalisme guru, kompetensi pedagogik guru, kompetensi profesional guru, dan prestasi belajar siswa.

Metode penelitian korelasional juga digunakan pada penelitian ini yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antarvariabel serta seberapa erat hubungan tersebut (Arikunto, 2010:313). Lebih jauh Suryabrata (2010:82) menerangkan bahwa tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi suatu variabel berpengaruh pada satu atau lebih variabel lain.

Hubungan korelasional kausalitas dilakukan dengan menggunakan teknik statistik analisis jalur untuk mengetahui pengaruh-pengaruh variabel eksogen (variabel bebas) terhadap variabel endogen (variabel terikat) baik secara langsung maupun tidak langsung. Teknik analisis jalur diterapkan untuk mengetahui pengaruh pelatihan pengembangan profesionalisme guru terhadap kompetensi pedagogik dan profesional guru serta hubungan kedua kompetensi tersebut terhadap prestasi belajar siswa. Teknik ini juga memberikan informasi mengenai pengaruh pelatihan pengembangan profesionalisme guru secara tidak langsung terhadap prestasi belajar siswa.


(26)

Dewi Sartika Salam, 2012 3.3.Definisi Operasional 3.3.1. Variabel Penelitian

Sugiyono (2010:3) mendefinisikan variabel penelitian sebagai atribut, sifat, atau nilai dari suatu objek, kegiatan, atapun orang yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Creswell (2010:76) menerangkan bahwa variabel merujuk pada karakteristik atau atribut individu atau organisasi yang biasanya bervariasi dalam beberapa kategori atau dalam kontinuum skor yang dapat diobservasi dan diukur. Penelitian ini terdiri atas empat variabel sebagai berikut:

1. Pelatihan pengembangan profesionalisme merupakan serangkaian kegiatan sistematis yang terencana dan terarah pada suatu tujuan yang dilaksanakan di luar sistem sekolah dengan waktu yang relatif singkat dan diselenggarakan terkait dengan kebutuhan dunia kerja guru (Kamil, 2010:10).

2. Kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005).

3. Kompetensi profesional guru adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005).


(27)

4. Prestasi belajar siswa adalah proses yang dialami siswa yang menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis, sintesis, dan evaluasi, Bloom dalam Slavin (Akbar dan Hawadi, 2006:68).

Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dijelaskan dengan dua model hubungan sebagai berikut:

1. Variabel pelatihan pengembangan profesionalisme guru (X) merupakan variabel bebas dari variabel terikat kompetensi pedagogik (Y1) dan

kompetensi profesional (Y2).

2. Variabel kompetensi pedagogik (Y1) dan kompetensi profesional (Y2)

merupakan variabel bebas dari variabel terikat prestasi belajar siswa (Z).

Gambar 3.1. Paradigma penelitian

Keterangan:

X = Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru Y1 = Kompetensi pedagogik guru

Y2 = Kompetensi profesional guru

Z = Prestasi belajar siswa 3.3.2. Operasionalisasi Variabel

Y1

Y2

Z X


(28)

Dewi Sartika Salam, 2012

Penyusunan kuesioner/ angket penelitian dan soal tes menggunakan matriks pengembangan instrumen atau yang biasa disebut sebagai kisi-kisi instrumen untuk mempermudah penyusunan instrumen. Kisi-kisi instrumen dikembangkan berdasarkan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, yang kemudian diekstrak menjadi variabel-variabel, sub-sub variabel, dimensi-dimensi, dan indikator-indikator. Adapun kisi-kisi instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 3.3. berikut:

Tabel 3.3

Operasionalisasi Variabel Variabel/

Sub Variabel

Dimensi Indikator Skala Nomor

butir Pelatihan 1. Reaction (reaksi

peserta pelatihan terhadap pelaksanaan program pelatihan) 1.1.Ketepatan jadwal pelatihan. 1.2.Ketepatan lokasi pelatihan. 1.3.Kenyamanan ruangan dan ketersediaan fasilitas dan media pembelajaran. 1.4.Pengetahuan dan

kemampuan penyaji/instruktur membuat konsep yang jelas dan

menumbuhkan kegairahan belajar. 1.5.Kecocokan materi

dengan sekolah, kelas atau guru.

1.6.Kemungkinan penerapan strategi yang disajikan dalam pelatihan.

1.7.Kebutuhan untuk umpan balik dan tindak lanjut Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal 1 2 3 4, 5 6, 7 8 9


(29)

Variabel/ Sub Variabel

Dimensi Indikator Skala Nomor

butir

2. Learning

(pengetahuan yang diperoleh pada pelatihan)

2.1.Perbedaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan guru sebelum dan setelah pelatihan.

2.2.Perbedaan hasil pre test dan post test guru. 2.3.Keinginan untuk mempelajari materi lebih lanjut. Ordinal Ordinal Ordinal 10, 11 12 13

Lanjutan Tabel 3.3.

3. Behaviour (pengaplikaisan yang diperoleh pada pelatihan) 3.1.Frekuensi penggunaan strategi/metode yang diperoleh dari pelatihan.

3.2.Penilaian guru tentang kesulitan penggunaan strategi baru.

(termasuk waktu, pemahaman, dan penerimaan murid). 3.3.Penilaian guru tentang

kemungkinan mereka akan menggunakan strategi baru. Ordinal Ordinal Ordinal 14, 15 16 17

4. Result (Dampak

pengaplikasian pengetahuan)

4.1.Hasil

perolehan/prestasi belajar siswa di kelas. 4.2.Peningkatan perhatian

dan partisipasi siswa di kelas.

4.3.Peningkatan produktivitas guru 4.4.Peningkatan kualitas

sekolah. Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal 18 19 20 21 Kompetensi Pedagogik Guru 1. Menguasai karakteristik peserta didik 1.1.Memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan


(30)

Dewi Sartika Salam, 2012

dengan aspek intelektual. 1.2.Mengidentifikasi

potensi peserta didik.

Rasio 2

2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran

2.1.Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran 2.2.Menerapkan strategi mendidik secara kreatif Rasio Rasio 3, 4 5

Lanjutan Tabel 3.3.

3. Mengembangkan kurikulum. 3.1.Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. 3.2.Memahami komponen tujuan pembelajaran 3.3.Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran 3.4.Memahami cara pengembangan instrumen penilaian. Rasio Rasio Rasio Rasio 6, 7 8, 9 10 11 4. Menyelenggarak an pembelajaran yang mendidik 4.1.Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran. 4.2.Menyusun pendekatan pembelajaran yang baik 4.3.Mengetahui jenis-jenis sumber belajar

Rasio Rasio Rasio 12 13, 14 15 5. Memanfaatkan teknologi informasi dan 5.1.Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi


(31)

komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. dalam pembelajaran. 6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik. 6.1.Memahami berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik memaksimalkan potensinya. 6.2.Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mengaktualisasikan kreativitas peserta didik.

Rasio 20

Lanjutan Tabel 3.3.

7. Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

7.1.Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

Rasio 21

8. Menyelenggarak an penilaian hasil belajar.

8.1.Memahami prinsip-prinsip penilaian. 8.2.Menentukan metode

dan aspek-aspek hasil belajar yang penting untuk dinilai.

8.3.Menentukan prosedur penilaian dan

evaluasi proses dan hasil belajar. 8.4.Memahami pengembangan instrumen penilaian hasil belajar. Rasio Rasio Rasio Rasio 22 23 24 25 9. Memanfaatkan hasil penilaian untuk kepentingan pembelajaran 9.1.Menggunakan informasi hasil penilaian untuk merancang program remedial. 9.2.Mengkomunikasikan hasil penilaian Rasio Rasio 26 27


(32)

Dewi Sartika Salam, 2012 kepada pemangku kepentingan. 9.3.Memanfaatkan informasi hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan komponen pembelajaran.

Rasio 28

10.Melakukan tindakan reflektif 10.1. Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. 10.2. Memahami tujuan

penelitian tindakan kelas. Rasio Rasio 29 30

Lanjutan Tabel 3.3.

Kompetensi Profesional Guru

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu 1.1.Menggunakan bilangan dan hubungan di antara bilangan. 1.2.Menggunakan pengukuran. 1.3.Menggunakan logika matematika. 1.4.Menggunakan konsep-konsep geometri. 1.5.Menggunakan

konsep-konsep statistika dan peluang. 1.6.Menggunakan pola dan fungsi. 1.7.Menggunakan konsep-konsep aljabar. 1.8.Menggunakan

konsep-konsep kalkulus dan geometri analitik. 1.9.Menggunakan konsep matematika diskrit. 1.10. Menggunakan trigonometri. Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio 1 2, 3 4 5, 6 7, 8 9, 10 11 12 13, 14 15


(33)

1.11. Menggunakan vektor dan matriks. 1.12. Menjelaskan sejarah

dan filsafat matematika. Rasio Rasio 16 17 2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar 2.1.Memahami standar kompetensi 2.2.Memahami kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu. Rasio Rasio 18 19 3. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan. 3.1.Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri. 3.2.Memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan. Rasio Rasio 20 21

Lanjutan Tabel 3.3.

3.3.Melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan. 3.4.Mengikuti kemajuan zaman. Rasio Rasio 22 23 4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri 4.1.Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi. 4.2.Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri. Rasio Rasio 24 25 Prestasi Belajar Siswa

1. Nilai siswa 1.1.Nilai rata-rata kelas siswa yang terakhir. 1.2.Nilai Matematika

tertinggi.

1.3.Nilai Matematika terendah. Rasio Rasio Rasio 1 2 3


(34)

Dewi Sartika Salam, 2012 3.4.Instrumen Penelitian

3.4.1. Jenis Instrumen yang Digunakan

Instrumen penelitian digunakan sebagai alat ukur untuk mengumpulkan data dengan teliti. Menurut Creswell (2010:221), instrumen terbagi atas tiga yaitu instrumen yang dirancang sendiri oleh peneliti khusus untuk penelitiannya, instrumen yang dimodifikasi, dan instrumen utuh yang pernah dirancang orang lain.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua jenis instrumen untuk mengukur empat variabel yaitu pelatihan pengembangan profesionalisme, kompetensi profesional guru, kompetensi pedagogik guru, dan prestasi belajar siswa. Variabel pelatihan pengembangan profesionalisme guru dan prestasi belajar siswa diukur menggunakan instrumen non tes yaitu angket yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Angket tersebut terdiri atas pertanyaan-pertanyaaan tertutup dengan 3 tingkat jawaban alternatif serta beberapa pertanyaan terbuka untuk mengidentifikasi nilai Matematika siswa. Variabel kompetensi profesional dan pedagogik guru diukur menggunakan instrumen tes pilihan ganda yang terdiri atas 30 soal untuk kompetensi pedagogik dan 25 soal untuk kompetensi profesional. Instrumen tes yang digunakan merupakan instrumen baku yang diperoleh dari LPMP Sulawesi Selatan.

3.4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Instrumen yang valid berarti instrumen yang digunakan untuk memperoleh data benar-benar valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak


(35)

diukur sedangkan instrumen yang reliabel berarti instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel (Sugiyono, 2010: 348). 3.4.2.1.Uji Validitas Angket

Creswell (2010:222) menyatakan bahwa ada tiga bentuk validitas yang harus dideteksi pada suatu instrumen, yaitu content validity, predictive validity, dan construct validity. Content validity menjawab pertanyaan apakah item-item yang dianalisis benar-benar sesuai konten yang terdapat dalam item-item tersebut,

predictive validity menjawab pertanyaan apakah skor-skor yang diperoleh sudah

memprediksi kriteria-kriteria yang diukur, sedangkan construct validity menjawab pertanyaaan apakah item-item yang dianalisis sudah sesuai dengan konstruksi-konstruksi atau konsep-konsep hipotesis.

Pengujian validitas pada penelitian ini dilakukan dengan mengujicobakan instrumen kepada 30 orang guru Matematika yang ada di SMP Negeri Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Uji validitas dilakukan menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) versi 17.0 for windows dengan teknik Korelasi Pearson Product Moment yang mengkorelasikan skor-skor pada tiap item pertanyaan dengan skor total item pertanyaan sebagaimana rumus berikut:

ri =

2− 2 2− 2 � , 2010: 356


(36)

Dewi Sartika Salam, 2012 r : nilai korelasi

x : skor per item pertanyaan y : skor total

n : jumlah responden

Hasil perhitungan ini kemudian dibandingkan dengan nilai korelasi r tabel pada taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (dk) = n-2. Nilai rhitung > rtabel

menunjukkan bahwa item pertanyaan instrumen penelitian valid, sebaliknya jika nilai rhitung < rtabel maka item pertanyaan dinyatakan tidak valid. Nilai rtabel untuk

jumlah responden 30 pada taraf signifikan 5% adalah 0,361.

Tabel 3.4. Nilai Validitas Instrumen Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru

No. Item Pertanyaan Korelasi Standar Valid Keterangan

1 A1 0,509 0,361 Valid

2 A2 0,160 0,361 Tidak valid

3 A3 0,536 0,361 Valid

4 A4 0,553 0,361 Valid

5 A5 0,510 0,361 Valid

6 A6 0,667 0,361 Valid

7 A7 0,527 0,361 Valid

8 A8 0,585 0,361 Valid


(37)

10 A10 0,629 0,361 Valid

11 B11 0,394 0,361 Valid

12 B12 0,598 0,361 Valid

13 B13 0,765 0,361 Valid

14 B14 0,479 0,361 Valid

15 C15 0,613 0,361 Valid

16 C16 0,476 0,361 Valid

17 C17 0,432 0,361 Valid

18 C18 0,759 0,361 Valid

19 D19 0,395 0,361 Valid

20 D20 0,400 0,361 Valid

Lanjutan Tabel 3.4.

21 D21 0,453 0,361 Valid

22 D22 0,613 0,361 Valid

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2012

Hasil perhitungan pada tabel 3.4. di atas menunjukkan bahwa terdapat satu item pertanyaan yang tidak valid yaitu item pertanyaan nomor 2. Item pertanyaan nomor 2 kemudian dikeluarkan sehingga diperoleh suatu instrumen dengan item-item pertanyaan yang valid. Instrumen tes untuk variabel kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru tidak dilakukan uji validitas karena merupakan instrumen baku yang diperoleh dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.


(38)

Dewi Sartika Salam, 2012

3.4.2.2.Uji Reliabilitas Angket

Pengujian reliabilitas dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Pengujian secara eksternal dapat dilakukan dengan tes-retest (stability),

equivalent, dan gabungan keduanya. Pengujian reliabilitas secara internal

dilakukan dengan menguji dan menganalisis konsistensi item-item pertanyaan atau pertanyaan pada instrumen dengan teknik tertentu. Teknik yang digunakan antara lain dengan menggunakan Rumus Spearman Brown, Kuder Richardson 20, ataupun Alfa Cronbach (Sugiyono, 2010: 354-365).

Pengujian reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung koefisien reliabilitas Alfa Cronbach dengan rumus:

α =

−1 1− �2

�2

dimana

α : Koefisien Alfa Cronbach k : jumlah item pertanyaan

�2 : jumlah varians setiap item pertanyaan �2 : varians total

Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS 17, diperoleh koefisien Alfa Cronbach sebagai berikut:

Tabel 3.5. Nilai Reliabilitas Instrumen Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru


(39)

Cronbach’s Alpha N of Items

Pelatihan 0.888 21

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2012

Menurut Sarjono dan Julianita (2011:45), suatu kuesioner dikatakan reliabel apabila memiliki nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,60. Tabel 3.5. menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,888 sehingga dapat dikatakan bahwa instrumen yang digunakan sudah reliabel.

3.5.Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen tes dan non-tes kepada guru Matematika SMP Negeri di Kota Makassar. Variabel pelatihan dan prestasi belajar siswa diukur dengan menggunakan angket untuk memperoleh informasi mengenai penilaian guru terhadap pelatihan yang pernah diikutinya dua tahun terakhir serta hasil prestasi belajar siswa pada salah satu kelas yang diajar oleh guru tersebut. Variabel kompetensi pedagogik dan profesional guru diukur dengan menggunakan instrumen tes pilihan ganda.

3.6.Teknik Analisis Data 3.6.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai karakteristik unit analisis/responden/sampel yang akan diteliti. Data karakteristik responden terdiri atas jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir,


(40)

Dewi Sartika Salam, 2012

kepemilikan akta mengajar, pangkat/golongan, status sertifikasi, masa kerja, dan jumlah pelatihan yang pernah diikuti. Deskripsi variabel penelitian dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian secara umum. Sugiyono (2010:29) menerangkan bahwa cara-cara penyajian data pada statistik deskriptif dapat dilakukan dengan tabel biasa maupun distribusi frekuensi, grafik garis maupun batang, diagram lingkaran, ataupun pictogram, sedangkan penjelasan kelompok dapat dilakukan melalui modus, median, mean, dan variasi kelompok melalui rentang dan simpangan baku.

Analisis deskriptif pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan diagram batang (histogram) dan metode perhitungan rata-rata dengan kriteria penilaian pencapaian sebagai berikut:

Tabel 3.6. Kriteria Pencapaian Variabel

Interval Kategori

0 – 25 % Sangat rendah/ tidak efektif

26 – 50 % Rendah/ kurang efektif

51 – 75 % Tinggi/ efektif

76 – 100 % Sangat tinggi/ sangat efektif


(41)

Menurut Ridwan dan Kuncoro (Sarjono dan Julianita, 2011:12), syarat melakukan analisis data dengan metode parametrik adalah data setidaknya berskala interval. Data hasil penelitian adalah data ordinal, oleh karena itu perlu dilakukan transformasi data ordinal menjadi interval untuk memenuhi salah satu syarat analisis parametrik. Teknik transformasi yang biasa digunakan yaitu MSI (Method of Successive Interval), dengan langkah-langkah sebagaimana diterangkan Ridwan dan Kuncoro (Sarjono dan Julianita, 2011:12) sebagai berikut:

1. Perhatikan setiap butir jawaban responden dari angket yang disebar. 2. Tentukan jumlah responden yang mendapat skor 1, 2, dan 3 sebagai

frekuensi.

3. Tentukan proporsi dengan cara membagi setiap frekuensi dengan banyaknya responden.

4. Tentukan nilai proporsi kumulatif dengan menjumlahkan nilai proporsi secara berurutan per kolom skor.

5. Hitung nilai Z untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh dengan menggunakan tabel distribusi normal.

6. Tentukan nilai tinggi densitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh dengan menggunakan tabel tinggi densitas.

7. Tentukan nilai skala dengan rumus sebaai berikut:

��= � � � − (� � � )

� � − ( � � )


(42)

Dewi Sartika Salam, 2012

= ��+ 1 + ��

3.6.3. Analisis Korelasi

Analisis korelasi bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Penelitian ini menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variabel-variabel penelitian yaitu kompetensi pedagogik dan profesional guru terhadap karakteristik guru (jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pangkat/golongan, status sertifikasi, masa kerja guru, dan frekuensi guru mengikuti pelatihan). Interpretasi nilai koefisien korelasi Pearson Product

Moment ditentukan Riduwan (Sarjono dan Julianita, 2011:90) sebagai berikut:

Tabel 3.7. Interpretasi Nilai R

Interval koefisien Tingkat Hubungan

0,80 – 1,000 Sangat kuat

0,60 – 0,799 Kuat

0,40 – 0,599 Cukup kuat

0,20 – 0,399 Rendah

0,00 – 0,199 Sangat rendah

Sumber: Riduwan (Sarjono dan Julianita, 2011:90) 3.6.4. Analisis Jalur (Path Analysis)

Analisis jalur merupakan model analisis yang digunakan dalam suatu model kausalitas yang diformulasi oleh peneliti berdasarkan pengetahuan dan pertimbangan teoritis. Analisis jalur merupakan salah satu tipe analisis multivariat untuk mempelajari efek-efek langsung dan tidak langsung dari sejumlah variabel


(43)

yang dihipotesiskan sebagai variabel sebab terhadap variabel lainnya yang merupakan variabel akibat (Silalahi, 2010:433).

Sarjono dan Julianita (2011:117) mengemukakan bahwa asumsi penggunaan analisis jalur sama dengan asumsi pada regresi linear, serta beberapa asumsi sebagai berikut:

1. Hubungan antara variabel adalah linear dan aditif (bersifat penjumlahan) serta bersifat kausalitas.

2. Semua variabel error atau residu tidak berkorelasi satu sama lain.

3. Pola hubungan antarvariabel bersifat rekursif, hanya ada kausal satu arah dalam sistem.

4. Tingkat pengukuran variabel (variabel endogen) sekurang-kurangnya adalah interval.

5. Variabel yang diobservasi dapat diukur tanpa ada kekeliruan. 6. Model disajikan secara benar.

3.6.4.1.Uji Asumsi

Metode statistik yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu analisis jalur (path analysis) yang harus memenuhi beberapa uji asumsi yaitu uji normalitas, heterokedastisitas, multikorelasi, dan linearitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu data dengan membandingkan antara data yang kita miliki dengan data berdistribusi normal yang memiliki rata-rata dan standar deviasi yang sama dengan data yang kita miliki. Salah satu syarat penggunaan uji parametrik adalah data yang dimiliki


(44)

Dewi Sartika Salam, 2012

harus berdistribusi normal, oleh karena itu uji normalitas merupakan hal penting yang harus dilakukan sebelum melakukan uji statistik parametrik (Sarjono dan Julianita, 2011:53).

Widarjono (2010:111) mengemukakan beberapa metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi masalah normalitas, antara lain dengan uji Kolmorogov-Smirnov dan Uji Jarque-Beta. Pengujian normalitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji Kolmorogov-Smirnov. Uji ini merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari distribusi normal atau tidak dengan melihat nilai signifikansi pada tabel Kolmorogov-Smirnov.

2. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antarvariabel yang akan dianalisis mengikuti garis lurus atau tidak. Peningkatan atau penurunan kuantitas salah satu variabel seharusnya diikuti secara linear oleh peningkatan atau penurunan kuantitas variabel lainnya. Uji linearitas perlu dilakukan jika akan melakukan analisis data dengan regresi linear karena analisis tersebut mengasumsikan hubungan antarvariabel bersifat linear (Sarjono dan Julianita, 2011: 74-80).

3. Uji Multikolinearitas

Multikorelasi atau gejala multikolinearitas adalah korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah pada hubungan antarvariabel bebas. Uji multikorelasi perlu dilakukan apabila jumlah variabel bebas lebih dari satu. Wijaya dalam


(45)

Sarjono dan Julianita (2011:70) mengemukakan beberapa cara untuk mendeteksi multikolinearitas yaitu:

a. Nilai R2 yang dihasilkan pada estimasi model regresi empiris sangatlah tinggi tetapi secara individual variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat.

b. Melakukan analisis korelasi diantara variabel-variabel bebas. Multikolinearitas terjadi apabila terjadi korelasi yang cukup tinggi antara variabel bebas.

c. Melakukan analisis terhadap nilai VIF (variance-inflating factor). Nilai VIF yang lebih besar dari 10 mengindikasikan tingkat kolinearitas tidak dapat ditoleransi.

d. Melakukan analisis terhadap nilai Eigenvalue. Multikolinearitas terdeteksi apabila nilai Eigenvalue satu atau lebih variabel bebas mendekati nol.

Pendeteksian multikolinearitas pada data penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis terhadap nilai VIF.

4. Uji Heterokedastisitas

Wijaya dalam Sarjono dan Julianita (2011:66) menjelaskan bahwa heterokedastisitas menunjukkan varians variabel untuk semua pengamatan (observasi) tidak sama, sebaliknya homokedastisitas menunjukkan varians dari residual pengamatan satu dan pengamatan lainnya adalah tetap. Model regresi dikatakan baik apabila tidak terjadi heterokedastisitas. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi heterokedastisitas yaitu dengan melihat scatterplot


(46)

Dewi Sartika Salam, 2012

ataupun melalui uji gletjer, uji Park, dan Uji White. Pendeteksian heterokedastisitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan scatterplot. 3.6.4.2.Diagram Jalur (Path Diagram)

Langkah awal yang perlu dilakukan sebelum menggunakan analisis jalur adalah menyusun model hubungan antarvariabel dalam suatu diagram yang disebut diagram jalur. Diagram jalur disusun berdasarkan kerangka berpikir yang dikembangkan dari teori yang digunakan pada penelitian. Diagram jalur yang digunakan pada penelitian ini melibatkan 4 variabel dengan model hubungan sebagai berikut:

Gambar 3.2. Diagram Jalur yang diteliti

Berdasarkan gambar 3.2. di atas, terdapat empat persamaan struktural yang akan diuji yaitu:

1 = ρY1X + ρY1ε1 2 = ρY2X + ρY2ε2 Y1

Y2

Z X

ε3

ε1

ε2 ρY1X

ρY2X

ρZY1


(47)

=ρZY1 +ρZY2+ρZε4 3.6.4.3.Koefisien Jalur

Sugiyono (2010:302-303) menerangkan bahwa koefisien jalur adalah koefisien regresi standar (standar z) yang menunjukkan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebagaimana telah tersusun pada diagram jalur. Koefisien parsial dua atau lebih variabel pada diagram jalur dapat dihitung dengan menggunakan data yang telah distandarkan ataupun dengan matriks korelasi. Hubungan jalur antarvariabel dalam diagram jalur merupaan hubungan korelasi sehingga perhitungan angka koefisien jalur menggunakan standar skor z. Setiap variabel eksogen tidak dipengaruhi variabel-variabel lain dalam diagram sehingga yang ada hanya variabel residualnya yang diberi notasi ε. Perhitungan koefisien jalur variabel endogen (terikat) memperhatikan variabel eksogen yang mempengaruhi langsung serta variabel residualnya (ε).

Koefisien jalur yang merupakan koefisien korelasi rij untuk n buah

pengamatan dapat dihitung dengan rumus:

= 1

rij : koefisien korelasi

n : jumlah pengamatan zi : variabel endogen

zj : variabel eksogen

Contoh perhitungan koefisien jalur untuk persamaan sub struktural 1 dengan persamaan 1 = ρY1X + ρY1ε1


(48)

Dewi Sartika Salam, 2012

1 =

1

1 1 =ρY1X + ρY1ε1

1 =

1

X(ρY1X + ρY1ε1)

1 = ρY1

1

x2+1 Xε1

Karena 1 x2= 1 dan Xε1 = 0(syarat residual tidak berkorelasi), maka

ρY1= 1

Untuk selanjutnya perhitungan koefisien jalur pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 17 for Windows.

3.6.4.4.Uji Signifikansi Koefisien Analisis Jalur

Widarjono (2010:272) mengemukakan bahwa koefisien analisis jalur dihitung dari analisis regresi, oleh karena itu tingkat signifikansinya dapat dihitung dengan menggunakan uji statistik t seperti pada analisis regresi. Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t kritisnya atau nilai p-value lebih kecil dari tingkat signifikansi α maka variabel eksogen (variabel bebas) signifikan mempengaruhi variabel endogen (variabel terikat). Sebaliknya jika t hitung lebih kecil dari nilai t kritisnya atau nilai p-value lebih besar dari tingkat signifikansi α maka variabel eksogen (variabel bebas) tidak mempengaruhi variabel endogen (variabel terikat) secara signifikan.


(49)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, kesimpulan penelitian mengenai pelatihan pengembangan profesionalisme guru, kompetensi pedagogik guru, kompetensi profesional guru, serta prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme yang diikuti guru dinilai efektif ditinjau dari dimensi reaction (kepuasan pelanggan terhadap program pelatihan), learning (pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada saat mengikuti pelatihan), behaviour application (pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan pada tempat tugas guru), dan

result (dampak pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan terhadap

kualitas kelas dan sekolah). Pencapaian paling rendah yaitu pada dimensi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada pelatihan namun secara keseluruhan dimensi ini sudah dalam kategori baik.

2. Rata-rata nilai kompetensi pedagogik yang diperoleh guru masih rendah terutama pada dimensi menguasai teori-teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran, mengembangkan kurikulum, menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, dan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik. Sebanyak 68,57% guru yang masih memiliki kompetensi pedagogik yang


(50)

Dewi Sartika Salam, 2012

masih rendah dan 31,43% guru yang sudah memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi.

3. Rata-rata nilai kompetensi profesional yang diperoleh guru sudah tinggi meskipun terdapat satu dimensi yang pencapaiannya masih rendah yaitu dimensi mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan. Sebanyak 4,29% guru yang masih memiliki kompetensi profesional yang masih rendah dan 95,71% guru yang sudah memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi. 4. Prestasi belajar siswa bidang Matematika pada SMP Negeri di Kota Makassar

sudah berada dalam kategori tinggi. Meskipun nilai ujian sekolah mata pelajaran Matematika merupakan nilai paling rendah pada hasil ujian sekolah namun secara umum pencapaian nilai Matematika seluruh siswa pada nilai raport sudah tinggi.

5. Pelatihan pengembangan profesionalisme berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi pedagogik guru Matematika. Pelatihan pengembangan profesionalisme memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru dibandingkan kompetensi profesional guru Matematika.

6. Pelatihan pengembangan profesionalisme berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi profesional guru Matematika. Pelatihan pengembangan profesionalisme memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap peningkatan kompetensi profesional guru dibandingkan kompetensi pedagogik guru Matematika.


(51)

7. Pelatihan mempengaruhi prestasi belajar siswa secara tidak langsung dan berpengaruh secara langsung pada kompetensi pedagogik dan profesional guru. Semakin efektif pelatihan pengembangan profesionalisme yang diberikan kepada guru maka semakin tinggi pula tingkat kompetensi pedagogik dan profesional guru. Kompetensi pedagogik dan profesional guru tersebut kemudian berdampak dan berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa di bidang Matematika. Semakin tinggi nilai kompetensi pedagogik dan profesional yang dimiliki guru Matematika pada SMP Negeri di Kota Makassar maka semakin tinggi pula nilai Matematika yang diperoleh peserta didik. Pengaruh kompetensi pedagogik lebih besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa di bidang Matematika dibandingkan dengan pengaruh kompetensi profesional guru yang menunjukkan bahwa kemampuan mengajar guru lebih penting dan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dibandingkan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran.

5.2.Rekomendasi

Berdasarkan pengolahan data dan kesimpulan yang diperoleh, penulis merekomendasikan hal-hal berikut:

1. Perlu adanya pelatihan-pelatihan non-konvensional bagi guru dengan lebih memperhatikan kebutuhan kompetensi pedagogik guru mengenai kemampuan guru menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran, mengembangkan kurikulum, dan


(52)

Dewi Sartika Salam, 2012

kemampuan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik. Pelatihan tersebut juga harus memperhatikan kebutuhan kompetensi profesional guru terutama mengenai kemampuan guru dalam mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan.

2. Guru-guru dapat meningkatkan kemampuan pedagogiknya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dalam forum ilmiah seperti Kelompok Kerja Guru ataupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran, mencari informasi di dunia maya (internet), aktif melakukan inovasi, membentuk peer group dengan sesama guru Matematika pada sekolah tempat guru mengajar, serta berani menerapkan metodologi pembelajaran baru yang diperoleh dari pelatihan ataupun forum ilmiah.

3. Perlu adanya usaha sekolah untuk mengadakan pelatihan pengembangan profesionalisme guru Matematika secara pribadi yang dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, penerapan reward and punishment (penghargaan dan sanksi) bagi guru-guru perlu dilakukan. Penghargaan sebaiknya diberikan kepada guru-guru yang memiliki insiatif dan inovasi untuk mengembangkan kompetensinya, begitupun sebaliknya sanksi harus diberikan kepada guru-guru yang tidak mengikuti program pengembangan profesionalisme.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai variabel-variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa selain kompetensi pedagogik dan profesional guru.


(1)

=ρZY1 +ρZY2+ρZε4

3.6.4.3.Koefisien Jalur

Sugiyono (2010:302-303) menerangkan bahwa koefisien jalur adalah koefisien regresi standar (standar z) yang menunjukkan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebagaimana telah tersusun pada diagram jalur. Koefisien parsial dua atau lebih variabel pada diagram jalur dapat dihitung dengan menggunakan data yang telah distandarkan ataupun dengan matriks korelasi. Hubungan jalur antarvariabel dalam diagram jalur merupaan hubungan korelasi sehingga perhitungan angka koefisien jalur menggunakan standar skor z. Setiap variabel eksogen tidak dipengaruhi variabel-variabel lain dalam diagram sehingga yang ada hanya variabel residualnya yang diberi notasi ε. Perhitungan koefisien jalur variabel endogen (terikat) memperhatikan variabel eksogen yang

mempengaruhi langsung serta variabel residualnya (ε).

Koefisien jalur yang merupakan koefisien korelasi rij untuk n buah

pengamatan dapat dihitung dengan rumus:

= 1

rij : koefisien korelasi

n : jumlah pengamatan zi : variabel endogen

zj : variabel eksogen

Contoh perhitungan koefisien jalur untuk persamaan sub struktural 1 dengan persamaan 1 = ρY1X + ρY1ε1


(2)

1 =

1

1 1 =ρY1X + ρY1ε1

1 =

1

X(ρY1X + ρY1ε1)

1 = ρY1

1

x2+1 Xε1

Karena 1 x2= 1 dan Xε1 = 0(syarat residual tidak berkorelasi), maka

ρY1= 1

Untuk selanjutnya perhitungan koefisien jalur pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 17 for Windows.

3.6.4.4.Uji Signifikansi Koefisien Analisis Jalur

Widarjono (2010:272) mengemukakan bahwa koefisien analisis jalur dihitung dari analisis regresi, oleh karena itu tingkat signifikansinya dapat dihitung dengan menggunakan uji statistik t seperti pada analisis regresi. Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t kritisnya atau nilai p-value lebih kecil dari tingkat

signifikansi α maka variabel eksogen (variabel bebas) signifikan mempengaruhi

variabel endogen (variabel terikat). Sebaliknya jika t hitung lebih kecil dari nilai t kritisnya atau nilai p-value lebih besar dari tingkat signifikansi α maka variabel eksogen (variabel bebas) tidak mempengaruhi variabel endogen (variabel terikat) secara signifikan.


(3)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, kesimpulan penelitian mengenai pelatihan pengembangan profesionalisme guru, kompetensi pedagogik guru, kompetensi profesional guru, serta prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme yang diikuti guru dinilai efektif ditinjau dari dimensi reaction (kepuasan pelanggan terhadap program pelatihan), learning (pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada saat mengikuti pelatihan), behaviour application (pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan pada tempat tugas guru), dan

result (dampak pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan terhadap

kualitas kelas dan sekolah). Pencapaian paling rendah yaitu pada dimensi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada pelatihan namun secara keseluruhan dimensi ini sudah dalam kategori baik.

2. Rata-rata nilai kompetensi pedagogik yang diperoleh guru masih rendah terutama pada dimensi menguasai teori-teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran, mengembangkan kurikulum, menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, dan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik. Sebanyak 68,57% guru yang masih memiliki kompetensi pedagogik yang


(4)

masih rendah dan 31,43% guru yang sudah memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi.

3. Rata-rata nilai kompetensi profesional yang diperoleh guru sudah tinggi meskipun terdapat satu dimensi yang pencapaiannya masih rendah yaitu dimensi mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan. Sebanyak 4,29% guru yang masih memiliki kompetensi profesional yang masih rendah dan 95,71% guru yang sudah memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi. 4. Prestasi belajar siswa bidang Matematika pada SMP Negeri di Kota Makassar

sudah berada dalam kategori tinggi. Meskipun nilai ujian sekolah mata pelajaran Matematika merupakan nilai paling rendah pada hasil ujian sekolah namun secara umum pencapaian nilai Matematika seluruh siswa pada nilai raport sudah tinggi.

5. Pelatihan pengembangan profesionalisme berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi pedagogik guru Matematika. Pelatihan pengembangan profesionalisme memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru dibandingkan kompetensi profesional guru Matematika.

6. Pelatihan pengembangan profesionalisme berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi profesional guru Matematika. Pelatihan pengembangan profesionalisme memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap peningkatan kompetensi profesional guru dibandingkan kompetensi pedagogik guru Matematika.


(5)

7. Pelatihan mempengaruhi prestasi belajar siswa secara tidak langsung dan berpengaruh secara langsung pada kompetensi pedagogik dan profesional guru. Semakin efektif pelatihan pengembangan profesionalisme yang diberikan kepada guru maka semakin tinggi pula tingkat kompetensi pedagogik dan profesional guru. Kompetensi pedagogik dan profesional guru tersebut kemudian berdampak dan berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa di bidang Matematika. Semakin tinggi nilai kompetensi pedagogik dan profesional yang dimiliki guru Matematika pada SMP Negeri di Kota Makassar maka semakin tinggi pula nilai Matematika yang diperoleh peserta didik. Pengaruh kompetensi pedagogik lebih besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa di bidang Matematika dibandingkan dengan pengaruh kompetensi profesional guru yang menunjukkan bahwa kemampuan mengajar guru lebih penting dan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dibandingkan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran.

5.2.Rekomendasi

Berdasarkan pengolahan data dan kesimpulan yang diperoleh, penulis merekomendasikan hal-hal berikut:

1. Perlu adanya pelatihan-pelatihan non-konvensional bagi guru dengan lebih memperhatikan kebutuhan kompetensi pedagogik guru mengenai kemampuan guru menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, menguasai teori


(6)

kemampuan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik. Pelatihan tersebut juga harus memperhatikan kebutuhan kompetensi profesional guru terutama mengenai kemampuan guru dalam mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan.

2. Guru-guru dapat meningkatkan kemampuan pedagogiknya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dalam forum ilmiah seperti Kelompok Kerja Guru ataupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran, mencari informasi di dunia maya (internet), aktif melakukan inovasi, membentuk peer group dengan sesama guru Matematika pada sekolah tempat guru mengajar, serta berani menerapkan metodologi pembelajaran baru yang diperoleh dari pelatihan ataupun forum ilmiah.

3. Perlu adanya usaha sekolah untuk mengadakan pelatihan pengembangan profesionalisme guru Matematika secara pribadi yang dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, penerapan reward and punishment (penghargaan dan sanksi) bagi guru-guru perlu dilakukan. Penghargaan sebaiknya diberikan kepada guru-guru yang memiliki insiatif dan inovasi untuk mengembangkan kompetensinya, begitupun sebaliknya sanksi harus diberikan kepada guru-guru yang tidak mengikuti program pengembangan profesionalisme.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai variabel-variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa selain kompetensi pedagogik dan profesional guru.