SEJARAH KEBERADAAN JALUR KERETA API DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 1922-1976

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh

ANDI PRAMONO

C 0506007

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

commit to user

ii

commit to user

iii

commit to user

iv

Nama : Andi Pramono NIM : C0506007

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Sejarah Keberadaan Jalur Kereta Api di Kabupaten Wonogiri Tahun 1922-1976 adalah betul-betul karya sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, Desember 2011 Yang membuat pernyataan,

Andi Pramono

commit to user

Orang yang tidak pernah berbuat kesalahan adalah orang yang tak pernah

berbuat apa-apa.

(Penulis)

Tidak ada daya dan kekuatan yang berguna kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung.

(Penulis)

Bukan gunungnya yang kita taklukkan, melainkan diri sendiri.

Edmund Hillary (Orang Pertama yang Mendaki Mount Everest)

commit to user

vi

Skripsi ini penulis persembahkan kepada :

Bapak, Ibu dan keluargaku yang selalu mendukung dan mengajariku tentang

banyak hal. Adik dan Kakakku.

Brehita Mustika Wijaya, penyemangatku. Semua teman sekaligus sahabatku yang

memberiku pengaruh setiap aku mengambil keputusan. Almamater.

commit to user

vii

Assalamualaikum Wr. Wb Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan ke-Hadirat Allah SWT, yang telah memberikan berbagai kemudahan dan limpahan karunia-Nya kepada penulis, hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi

dengan judul “Sejarah Keberadaan Jalur Kereta Api di Kabupaten Wonogiri Tahun 1922-1976 ”.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak yang telah mendukung, baik moral, material maupun spiritual, hingga akhirnya penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan baik dan selesai sesuai yang penulis harapkan, yaitu kepada:

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed.Ph.d, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan dalam perizinan kepada penulis untuk penelitian dan penyusunan skripsi ini.

2. Dra. Sawitri Pri Prabawati, M.Pd, selaku Pembimbing Skripsi dan Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyeleseikan penelitian ini, yang memberikan banyak dorongan, masukan, dan kritik yang membangun dalam proses penulisan skripsi ini.

3. Waskito Widi W, S.S, selaku Pembimbing Akademik, yang telah

memberikan bimbingan selama masa perkuliahan.

commit to user

viii

dan wacana pengetahuan.

5. Segenap staf dan karyawan UPT Perpustakaan Pusat UNS, Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Perpustakaan Reksopustoko Mangkunegaran, Perpustakaan Daerah Wonogiri, Dinas Perhubungan KOMINFO Kab.Wonogiri, BAKESBANGPOL dan LINMAS Kab.Wonogiri, Badan Arsip Daerah Semarang.

6. Bapak Tarno, Bapak Kemi, Bapak Sukidi dan Bapak Mesgi serta Mbah Min yang telah sabar dan penuh semangat membagi informasi dan data-data yang diperlukan oleh penulis.

7. Bapak dan Ibuku tercinta yang selalu memberikan kasih sayang dan semangat dengan tulus ikhlas serta doa yang tak pernah putus kepada penulis.

8. Kakakku, Andri Susanti dan adikku Wisnu Wardhani serta keluarga besarku,

terimakasih atas kasih sayang kalian.

9. Brehita Mustika Wijiya, penyemangatku yang tak henti-hentinya memberikan dorongan, semangat, perhatian, pengertian dan ide-ide baru kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai dengan maksimal. Terima kasih pula atas kesabaran mendengar semua keluh kesahku.

10. Teman-teman sejarah angkatan 2006, Dwi “Dweek”, Dani, Gilang P “Simbah”, Helmi, Ari “Cebret”, Beni, Septa, Eko “Kodok”, Edi “Ocol”,

Lissa, Sunu terima kasih atas persahabatan kalian selama ini. Terima kasih pula untuk kakak-kakak Alumni Ilmu Sejarah.

commit to user

ix

penulis banyak dapatkan.

12. Segenap pihak yang telah mendukung dan membantu terlaksananya penulisan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan dan kekeliruan, serta masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis sangat menghargai adanya saran dan kritik yang bersifat membangun guna menyempurnakan penulisan-penulisan serupa di masa yang akan datang.

Akhirnya penulis berharap bahwa hasil skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Amin. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Surakarta, Desember 2011 Penulis

commit to user

xi

A. Gambaran Umum .................................................................. 40

B. Keberadaan Kereta Api Solo-Wonogiri-Baturetno ............... 48

1. Jenis Lokomotif Solo-Wonogiri-Baturetno .................... 53

2. Jalur Rel Solo-Wonogiri-Baturetno ................................ 60

3. Stasiun-Stasiun Kereta Api Jalur Selatan Wonogiri ....... 64

4. Tarif Kereta Api Solo-Wonogiri-Baturetno .................... 72

5. Jalur Kereta Api Lori Untuk Pengangkutan Batu Gamping ..........................................................................

75

C. Perkembangan Kereta Api Pada Masa Pendudukan Jepang Tahun 1942-1945 ..................................................................

79

D. Perkembangan Kereta Api Setelah Perang Kemerdekaan Tahun 1946-1970 ..................................................................

83

E. Perkembangan Kereta Api Sesudah Tahun 1970-1975 .........

89

F. Pembongkaran Jalur Kereta Api Wonogiri-Baturetno Tahun 1976…………………………………………………. 99

BAB IV DAMPAK PEMBONGKARAN JALUR KERETA API

BATURETNO-WONOGIRI OLEH PEMERINTAH ORDE BARU TAHUN 1976-1978

A. Dampak Pembongkaran Jalur Kereta Api Terhadap Perubahan Transportasi di Baturetno……………………….. 105

B. Penyebab Terjadinya Transmigrasi………………………… 110

C. Penyebab Terjadinya Urbanisasi…………………………… 114 BAB V

KESIMPULAN………………………………………………….. 118

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 121 DAFTAR INFORMAN ................................................................................... 125 LAMPIRAN

commit to user

xii

Gambar 1 Kereta api uap C17 jurusan Solo-Wonogiri-Baturetno............... 56 Gambar 2

Lokomotif C20 buatan Pabrik Hartmann Jerman....................... 57 Gambar 3

Lokomotif BB30003 (Punakawan) Wonogiri............................ 59 Gambar 4

Viaduct yang menyilang jalan Wonogiri-Solo.......................... 59 Gambar 5

Lokomotif BB30029 sering disebut kereta api “Fedder”............ 60 Gambar 6 Sketsa rute jaringan kereta api dari Stasiun Purwosari ke Stasiun Baturetno..................................................................... 61 Gambar 7

Jalur rel kereta api Solo-Wonogiri............................................... 63 Gambar 8

Bekas jembatan kereta api jurusan Baturetno-Wonogiri.............. 63 Gambar 9

Tumpukan bantalan rel kereta api................................................. 64

Gambar 10 Jalan rel kereta api di wilayah Wonokarto.................................... 64 Gambar 11,12 Stasiun Wonogiri masa pemerintahan Belanda............................ 65 Gambar 13 Stasiun Purwosari Tahun1927...................................................... 67 Gambar 14 Stasiun Solokotta (Sangkrah)....................................................... 67 Gambar 15 Kantor PPN di Baturetno............................................................. 67 Gambar 16 Kios-Kios Bekas Stasiun Baturetno.............................................. 67 Gambar 17 Halte Tekaran (Selogiri)............................................................... 68 Gambar 18 Stasiun Wonogiri Tahun 2010...................................................... 78 Gambar 19 Pondasi Bekas Halte Goedangdondong....................................... 71 Gambar 20 Pondasi Bekas Jembatan Kereta Api di Goedangdondong......... 71 Gambar 21 Lorong Bekas Penambangan Batu Gamping............................... 76

commit to user

xiii

Gambar 24 Jenis kereta lori untuk pengangkutan tebu................................... 78 Gambar 25

Pengosongan jalur kereta api oleh para tentara agresi militer..... 81 Gambar 26

Depo/bengkel kereta api di Stasiun Wonogiri............................. 91

Gambar 27 Skema aksesbilitas kereta api Wonogiri..................................... 95 Gambar 28 Skema jaringan kereta api Solo-Wonogiri............................. .... 97 Gambar 29 Bendungan Serbaguna Wonogiri diantara dua musim............... 100 Gambar 30 Jembatan Somohulun yang rusak akibat banjir tahun 1966....... 102 Gambar 31 Jalur yang menuju ke Baturetno dan persilangan....................... 103 Gambar 32 Bekas jalan aspal yang menghubungkan Baturetno-Wonogiri.. 104

commit to user

xiv

Tabel 1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Wonogiri……...... 16 Tabel 2

Sensus Penduduk Wilayah Mangkunegaran tahun 1930……….. 20 Tabel 3

Rakyat daerah Mangkune garan tahun 1930………..…………… 21 Table 4

Jumlah migran masuk dalam wilyah Karisidenan Surakarta t ahun 1930……………………………………………………… 24

Tabel 5 Jumlah tenaga kerja pertani an di Praja Mangkunegaran……… 25 Tabel 6

Penghasilan Pasar- Pasar Praja Mangkunegaran……………. ... 30 Tabel 7

Wilayah kerja NISM untuk pembangunan jalan kereta api di Jawa Tengah…………………………………………………… 51

Tabel 8 Daftar rute tujuan pejalanan kereta api NISM ………………… 52 Tabel 9

Rute perjalanan dan datar harga tiket kareta api dari Solo …... 72 Tabel 10

Tarif angkutan trem penumpang NISM ………………………. 73 Tabel 11

Tarif angkutan barang Trem NISM …………………………… 74 Tabel 12

Tarif angkutan kereta api SS ……………………………..….. 74 Tabel 13

Pengambilalihan wilayah kekuasaan kereta api dari Jepang Tahun 1945…………………………………………………. 85

Table 14 Data Pengungsi/Transmigran Proyek Bendungan Serbaguna Wonogiri tahun 1981 ………………………………………. 111

Tabel 15

Jumlah Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 1973- 1976 ………………………….……………………………… 115

commit to user

xv

Afdeeling : Wilayah administrasi Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia yang berada di bawah

Karesidenan Apanage : Tanah lunguh yang diberikan kepada para bangsawan dan pejabat kerajaan sebagai gaji Bedhol deso

: Transmigrasi Bekel : Pemegang kekuasaan atas Desa-desa. Biasanya

mereka adalah pembuka tanah yasan, dan dianggap sebagai cikal bakal juga sebagai penebas pajak atau orang yang mengurus apanage, pemungut pajak, kepala desa, petani penghubung antara pemilik desa/penguasa desa dengan penggarap tanah

Beri-Beri : Penyakit bengkak karena kekurangan vitamin B. Bonggol

: Akar Cultuurstelsel : Sistem tanam paksa

Distrik

: Kawedanan

Enclave : Tanah yang terkurung oleh wilayah lain. Epidemi pest : Wabah penyakit pes

Fedder

: Pengumpan.

Gaplek : Singkong yang dikeringkan secara manual. Gubernemen : Pemerintah Kolonial Belanda.

Jajar : Jabatan paling rendah dalam birokrasi dan pelaksana perintah dari jabatan di atasnya yaitu

Bekel. Kaliwon : Bertugas meneruskan perintah dari Wedana

kepada pejabat dibawahnya. Karesidenan : Daerah yang dipimpin oleh seorang Residen Kolonial Verslag : Laporan Pemerintah Kolonial

commit to user

xvi

Mantri : Juru nama pangkat atau jabatan tertentu untuk melaksanakan suatu tugas atau keahlian khusus. Nasi gogik

: Nasi yang dikeringkan.

Paceklik

: Musim kekeringan.

Onderdistrik : Wilayah administrasi setingkat di bawah distrik. Onderregentschap

: Wilayah administrasi setingkat kabupaten, diatas

distrik Panewu : Kepala rendahan yang membawahi 1000 rumah

tangga Prototype : Sistem keamanan Rikuyu Sakyoku : Badan pertahanan militer Jepang yang menguasai

daerah Jawa Tengah.

R25 : R adalah ukuran lebar rel kereta api. Separo

: Setengah

Spoorweg

: Jalan kereta api

Tiwul : Jenis makanan yang terbuat dari bahan gaplek. Transfer

: Memindahkan

Transit

: Pengangkutan jarang pendek

Vorstenlanden : Daerah kekuasaan dua kerajaan di Jawa Wedana : Kepala distrik Wilhelminastraat : Jalan Wilhemina ( Jl. Slamet Riyadi )

commit to user

xvii

DKA

: Djawatan Kereta Api

DKARI : Djawatan Kereta Api Republik Indonesia KITLV

: Koniklijk Instituut voor Taal-,Land-,en Volkenkunde (Institut Kerajaan bagi Linguistik, Geografi, dan Ethnografi)

K.G.P.A.A : Kangjeng Gusti Pangeran Ario Adipati N.I.S.M

: Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscahppij O.C.T.A

: The Japanese Overseas Technical Cooperation

Agency

PERUMKA

: Perusahaan Umum Kereta Api

PJKA

: Perusahaan Jawatan Kereta Api

PNKA

: Perusahaan Negara Kereta Api

S.S

: Staate Spoorwegen Maatschappij

S.T.M

: Solosche Tramweg Maatschappij

commit to user

xviii

Lampiran 2 Peta jaringan ke reta api di pulau Jawa………………………. 127 Lampiran 3 Jalan trem NISM memperluas ke arah selatan ……………….. 128 Lampiran 4 Tram kuda Boyolali-Solo-Kakap dengan panjang

total 94 Km………………………………………………….. 129 Lampiran 5 Persetujuan dari NIS mengenai gambar tanda-tanda garis rute Solo Kotta- Baturetno………………………………….. 130 Lampiran 6 Surat kepada Direktur Pekerjaan Umum Mangkunegara tentang pembangunan jalan Solokkota- Baturetno.………….. 131 Lampiran 7 Pembuatan jalan kereta api Wonogiri-Baturetno melewati

daerah Wuryantoro………………………………………….. 132

Lampiran 8 Surat penawaran tentang masalah irigasi di Wonogiri……… 133 Lampiran 9 Mengenai pembangunan lebar rel kereta api Solo-Baturetno.. 134 Lampiran 10 Sumbangan untuk biaya pembuatan jalan di Wonogiri……… 135 Lampiran 11 Diberlakukannya tiket gratis untuk rute perjalanan Solo-

Wonogiri- Kakap……………………………………………… 136

Lampiran 12 Rute perjalanan kereta api NISM …………………………….. 138 Lampiran 13 Surat-Surat dari Pemerintah Belanda mengenai pembukaan

jalur kereta api lintas selatan……………………………….. 140 Lampiran 14 Tanah yang dipakai untuk dagang di sepanjang jurusan Baturetno-Wonogiri pada tahun1928……………………… 143 Lampiran 15 Daftar pihak swasta yang memakai tanah-tanah

Mangkunegaran yang diberikan pada SS dan NISM untuk keperluan jalan transportasi Spoor …………………… 144

Lampiran 16 Berkas tentang rute kereta api dari Solo Kotta sampai

kebeberapa tempat lainnya beserta harga karcis tanggal

1 November 1928…………………………………………… 145

commit to user

xix

ABSTRAK

Andi Pramono. C0506007. 2011. Sejarah Perkembangan Jalur Kereta Api di Kabupaten Wonogiri Tahun 1922-1976. Skripsi: Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini berjudul Sejarah Perkembangan Jalur Kereta Api di Kabupaten Wonogiri Tahun 1922-1976 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana proses perkembangan jalur kereta api di Kabupaten Wonogiri tahun 1922-1976. (2) Bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan adanya jalur transportasi kereta api di Kabupaten Wonogiri tahun 1922- 1976. (3) Bagaimana dampak pembongkaran jalur transportasi kereta api terhadap masyarakat Wonogiri pada tahun 1976. Penelitian ini merupakan penelitian historis, sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi heuristik , kritik sumber baik intern maupun ekstern, interprestasi, dan historiografi . Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen yang di dapat dalam koleksi arsip Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran dan studi pustaka yang berupa buku dan beberapa tulisan ilmiah yang tentang perkembangan kereta api di kota Wonogiri. Dari pengumpulan data, kemudian data dianalisa dan diinterpretasikan berdasarkan kronologisnya. Untuk menganalisis data, digunakan pendekatan ilmu sosial yang lain sebagai ilmu bantu ilmu sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonomi, dan sosiologi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jaringan kereta api di Wonogiri merupakan hasil pembangunan perusahaan swasta Belanda yaitu NISM yang dimulai pada tahun 1922, dan merupakan percabangan jalur kereta api dari Kota Solo. Adapun tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan batu gamping sekaligus membuka daerah pedalaman serta satu-satunya alat transportasi bagi masyarakat yang bersifat masal dan cepat.

Selama perkembangan jaringan transportasi kereta api di Kabupaten Wonogiri pada tahun 1976 terjadi pembongkaran jalur Wonogiri-Baturetno, hal ini dikarenakan dengan adannya faktor pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang merupakan salah satu penanggulangan bahaya banjir. Dengan terputusnya jalur Wonogiri-Baturetno membuat masyarakat khususnya masyarakat Baturetno mengalami kesulitan dalam hal penjualan hasil bumi dan pengangkutan batu gamping mulai tersendat, semakin berkembangnya jaman, muncul sarana transportasi darat berupa bus dan truk sebagai salah satu transportasi pengganti.

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil penelitian, bahwa keberadaan jalur kereta api di Kabupaten Wonogiri pada tahun 1922-1976 mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat serta keberadaan kereta api yang beralih fungsi yang dulunya sebagai sarana pengangkutan hasil tambang menjadi sarana kepentingan perang di jaman Jepang dan sebagai media penyiaran berita kemerdekaan.

commit to user

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Transportasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Terdapat hubungan erat antara transportasi dengan jangkauan dan lokasi kegiatan manusia, barang-barang dan jasa. Dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, transportasi memiliki peranan signifikan dalam aspek-aspek sosial, ekonomi, lingkungan, politik dan pertahanan keamanan. Dalam aspek perekonomian, transportasi mempunyai pengaruh yang besar. Bahkan data menunjukan salah satu kendala yang dihadapi dalam kalangan industri adalah

sektor transportasi. 1

Transportasi merupakan sarana penting dalam kehidupan masyarakat untuk jasa pengangkutan barang maupun penumpang, hal tersebut terbukti bahwa sampai pada abad ke-21 seperti sekarang ini transportasi mesin dibutuhkan bagi masyarakat. Kalau saja tidak ada alat transportasi maka seluruh kegiatan dalam kehidupan masyarakat tidak akan berjalan baik dan lancar.

Sebelum awal abad ke-20 transportasi telah digunakan dalam kehidupan masyarakat. Sebelum tahun 1900 alat pengangkutan yang digunakan adalah menggunakan tenaga manusia, hewan dan sumber tenaga dari alam dan pada tahun 1920 sudah semakin maju dengan ditemukan alat transportasi lainnya seperti kendaraan bermotor dan mobil, angkutan kereta api dan jalan raya

1 H.A. Abbas Salim, Manajemen Transportasi, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993, hal. 6.

commit to user

dalam suatu wilayah. 2

Transportasi mempunyai peranan penting dan strategis untuk menetapkan perwujudan wawasan nusantara memperkukuh pertahanan nasional, dan mempererat hubungan antar bangsa dalam usaha mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak baik berjalan sendiri yang dinamakan lokomotif maupun rangkaian dengan kendaraan lainnya yang

dinamakan gerbong atau kereta yang bergerak di atas rel. 3

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi tidak dapat dipisahkan dari moda transportasi lain yang ditata dalam transportasi nasional, mempunyai karakteristik dan pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri, perlu lebih dikembangkan potensinya dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah baik nasional maupun internasional, sebagai penunjang, pendorong, dan

penggerak pembangunan nasional demi peningkatan kesejahteraan rakyat. 4 Pada zaman Hindia Belanda, di Indonesia terdapat dua macam perusahaan kereta api yang beroperasi yaitu:

1. Perusahaan kereta Api Negara (Staats Spoorwegwn disingkat SS)

2. Perusahaan kereta Api swasta yang tergabung dalam wadah yang diberi nama Verenigde Spoorwebedrijf disingkat VS. SS mulai beroperasi tahun 1878 dari Surabaya ke Lamongan dan selanjunya meluas meliputi walayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogjakarta, Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Sumatera

2 H.A. Abbas Salim, Ibid 3 Rustian Kamaludin, Ekonomi Transportasi, Jakarta: Ghalamania, 1987, hal. 67. 4 H.A. Abbas Salim, Op Cit, hal.7

commit to user

(sekarang menjadi pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di Jalan Perintis Kemerdekaan No 1 Bandung). Perusahaan Kereta Api Swasta beroperasi mulai tahun 1867 dari Semarang ke Temanggung oleh NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg ). Selanjutnya wilayah operasi NIS meluas ke wilayah Jawa Tengah,

Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah. 5 Dengan adanya keberhasilan NIS,

selanjutnya bermunculan perusahaan-perusahaan kereta api swasta lainnya yang beroperasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jawa Barat, Madura dan Sumatera Utara. Pada masa pendudukan Jepang, perusahaan kereta api SS dan VS penggelolaanya disatukan dan kereta api di Jawa diberi nama

Rikuyu Sokoku. 6 Berdasarkan Maklumat Kementrian Perhubungan Republik Indonesia Nomor 1/KA tanggal 23 Oktober 1946 perusahaan kereta api SS dan VS dikelola oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Pada masa perjuangan fisik dengan datangnya kembali Belanda bersama sekutu, penguasaan kereta api terbagi menjadi dua. Di daerah yang dikuasai Republik, kereta api dioperasikan DKARI. Sedangkan untuk daerah yang dikuasai Belanda, kereta api dioperasikan oleh SS dan VS. Setelah terjadi pengakuan kedaulatan, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan, Tenaga Dan Pekerjaan Umum Republik Indonesia Tanggal 6 Januari 1950 Nomor 2 tahun 1950 terhitung 1 Januari 1950 DKARI, SS dan VS digabung menjadi satu jawatan dengan nama Djawatan

5 Simeon R. Oerip, Sejarah Kereta Api Negara (SS/DKA) di Indonesia, Jakarta: Departemen Penerangan Republik Indonesia.1953. hal. 21-22.

6 Rustian Kamaludin Op. cit, hal 50

commit to user

mulai 1 Januari 1950 dioper oleh DKA. 7

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1963, Djawatan Kereta Api Indonesia (DKA) diubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api Indonesia (PNKA). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1971, Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) diubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Berdasarkan Peraturan Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1990, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA), berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1998 Perusahaan Umum Kereta

Api (PRUMKA) diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero). 8 Bertambahnya penduduk dan berkembangnya industri beserta perkembangan kota-kota bersama dengan urbanisasi dan mobilitas penduduk yang berpergian terus menerus meningkat. Meningkatnya mobilitas penduduk yang cepat, disertai dengan terjadinya kongesti pada angkutan jalan raya serta adanya kecenderungan pertumbuhan kawasan industri yang makin terbesar di Pulau Jawa.

Tuntutan masyarakat akan kualitas pelayanan di bidang transportasi darat yang benar-benar baik semakin meningkat. Makin meningkatnya penduduk Kota Wonogiri banyak masyarakat yang merantau banyak yang membutuhkan sarana

transportasi cepat, tarif memadai dan menghemat waktu. 9 Pembangunan jalur

kereta api di kabupaten Wonogiri menunjang lalu lintas dan ekonomi masyarakat

7 Siregar, Muchtarudin, Ekonomi Dan Management Pengangkutan, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universits Indonesia, 1990. hal 65-66

8 Simeon R. Oerip, Op. cit.,hal.95-100.

9 H.A. Abbas Salim, Op.Cit.,hal. 15-17

commit to user

umum yang bersifat massal dan efisien di Kabupaten Wonogiri. Transportasi kereta api juga membawa dampak mobilitas horizontal dan interaksi dalam masyarakat sehingga tidak menutup kemungkinan akulturasi baik sosial maupun budaya masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dan mobilitas pribumi menjadi semakin lancar dengan adanya transportasi kereta api yang menopang keramaian transportasi dan kehidupan masyarakat Wonogiri.

Pengaruh tentang perkembangan jalur kereta api terhadap pembangunan kota khususnya di Kabupaten Wonogiri sangat menarik untuk diketahui, tidak hanya sebagai sarana transportasi semata tetapi sebagai alat transportasi massal pertama yang ada di Kabupaten Wonogiri. Pada tahun 1922-1976 keberadaan transportasi kereta api sekaligus membawa dampak modernisasi yang sangat tinggi bagi masyarakat Wonogiri, sehingga pembangunan perkotaan dan pelaksanaan pembangunan sistem tata kota juga menarik untuk diketahui.

Semakin meluasnya jaringan transportasi kereta api dan mobilitas penduduk luar daerah yang menggunakan jasa transportasi kereta api menuju ke pusat kota. Untuk menunjang kepentinganya didirikanlah fasilitas-faasilitas pelayanan sosial seperti pasar-pasar, sanitasi, kantor polisi, kantor pos, sarana hiburan, penginapan, rumah sakit, listrik, dan lainnya yang berada di pusat kota.

Kabupaten Wonogiri merupakan jalan kereta api di Jawa Tengah yang dibangun oleh NISM yang mana NISM merupakan salah satu perusahaan kereta api swasta Belanda yang tergabung dalam Verenigde Spoorwegbedrif ( VS) sebagaimana telah penulis jelaskan diatas. Pembangunan jalur kereta api di Jawa Tengah khusus untuk lintas Solo-Wonogiri-Baturetno peresmian dilakukan pada

commit to user

Baturetno, salah satu kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Jalur kereta api Wonogiri-Baturetno ditutup untuk selama-lamanya karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri yang menelan jalur kereta api tersebut. Sehingga jalur yang tersisa adalah jalur rel antara stasiun Purwosari hingga stasiun Wonogiri sepanjang kurang lebih 37 kilometer. Jalur kereta api di Kecamatan Baturetno termasuk daerah operasional VI Yogjakarta yang berada dikilometer

51+590. 10 Transportasi kereta api juga membawa perkembangan dan pembangunan perkotaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Wonogiri, dengan demikian pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai wawasan tentang arti pentingnya transportasi kereta api dalam perkembangan transportasi kereta api dan perkotaan. Masuknya transportasi kereta api perubahan pandangan masyarakat berlalu lintas mulai beralih dari transportasi air ke transportasi darat. Dikarenakan sungai Bengawan Solo mengalami pendangkalan maka pengangkutan barang hasil perkebunan hanya bisa diangkut pada masa musim hujan saja, oleh karena itu alternatif transportasi yang digunakan adalah melalui jalur darat.

Perluasan jaringan kereta api dan pembangunan jalan darat sebagai alat pendistribusian dan semakin berkembangnya budaya perkotaan di Solo mendorong migrasi penduduk serta membawa budaya asing yang kurang sehat masuk hingga praktek-praktek kriminalitas yang semakin tinggi. Budaya budaya tersebut adalah candu, rokok dan minum-minuman keras. Kebutuhan akan buruh-

10 Peta kerja dan wilayah seksi property VI Yogjakarta

commit to user

yang ada pada sentra industri maupun perkebunan, mengakibatkan adanya pengajian upah dengan uang, sehingga perkotaan menjadi daya tarik sendiri dalam mengadu nasib di kota. Pertumbuhan urbanisasi maupun mobilitas penduduk yang berpindah pindah menjadi masalah di perkotaan, dikarenakan mendorong aktifitas kriminal maupun praktek-praktek prostitusi semakin berkembang dan meningkat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah di uraikan di atas, maka pokok-pokok perumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang melatarbelakangi pembuatan jalur kereta api di Wonogiri pada tahun 1922?

2. Bagaimana dinamika perkembangan jalur kereta api di Wonogiri pada periode tahun 1922-1976?

3. Apa alasan pemerintah Orde Baru melakukan pembongkaran jalur kereta api Baturetno-Wonogiri pada tahun 1976?

commit to user

Tujuan dari diadakannya penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui latarbelakang pembuatan jalur kereta api di Wonogiri pada tahun 1922?

2. Untuk mengetahui dinamika perkembangan jalur kereta api di Wonogiri pada periode tahun 1922-1976?

3. Untuk mengetahui alasan pemerintah orde baru melakukan pembongkaran jalur kereta api Baturetno-Wonogiri pada tahun 1976?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah penelitian ini bisa menjadi acuan dan literatur untuk lebih mengetahui perkembangan transportasi kereta api di Wonogiri tahun 1922-1976. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baru yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan baik secara historis maupun kebudayaan. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberi pengetahuan tentang sejarah perkembangan kereta api di Kabupaten Wonogiri dan dapat memberikan manfaat bagi kepentingan pendidikan dan penelitian lebih lanjut.

commit to user

Dalam penelitian ini penulis menggunakan literature dan referensi untuk menunjang pokok permasalahan yang akan dikaji. Selain menggunakan sumber primer penulis juga menggunakan sumber sekunder sebagai studi pustaka sesuai dengan tema yang akan diangkat. Penelitian ini menggunakan beberapa buku sebagai bahan acuan pokok untuk menelusuri dan mengungkap pokok permasalahan ini, yaitu:

Buku karangan Wasino (2008), Kapitalisme Bumi Putera: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran. Buku ini menjelakaskan awal masuk kereta api di Kota Solo dan jalur traansportasi kereta api, juga menjelaskan jalur-jalur yang digunakan untuk pengumpulan hasil alam yang akan diangkut dengan kereta api. Dalam buku ini juga menjelaskan bagaimana dampak adanya transportasi kereta api, sejalan dengan munculnya budaya perkotaan dikalangan masyarakat Kota Solo.

Buku karangan Sartono Kartodirjo (1992), Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900, dalam buku ini menjelaskan simbol moderen yang lain bagi masyarakat Jawa adalah transportasi moderen kereta api, yang mulai beroperasi sejak tahun 1863. Percepatan arus perdagangan hasil industri perkebunan untuk kepentingan ekspor semenjak tanam paksa, membutuhan suatu sarana transportasi yang lebih memadai, oleh sarana transportasi darat lewat jalan raya pos (Grote- Postweg ) yang dibangun pada masa Gubernur Jendral Daendeles sudah tidak memadai lagi. Untuk mengatasi masalah itu, pada tahun 1863 pemerintah Hindia Belanda memberi konsesi kepada Poolman, seorang pengusaha swasta besar,

commit to user

dan Yogyakarta (Vorstenlanden). Buku Th. M. Metz, (1987) Mangkunegaran Analisis Sebuah Kerajaan Jawa. Terjemahan Moh. Husodo, menjelaskan proses pengangkutan hasil bumi dari daerah Mangkunegaran yang berada di daerah pelosok selatan mulai Baturetno sampai Wonogiri kemudian dikirim ke kota daerah Vorstenlanden, hasil yang diangkut berupa palawija dan padi dan hasil bumi lainnya diangkut dengan transportasi hewan kemudian diteruskan dengan transportasi kereta api dan peningkatan penduduk semakin meningkat dimana kereta api mempengaruhi tingginya angka urbanisasi yang ada di Kota Solo.

Buku karangan Imam Subarkah (1992). Sekilas 125 tahun Kereta Api: 1867-1992 . buku ini membahas perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Dalam buku ini juga dijelaskan berbagai perkembangan perkeretaapian mulai dari pertama muncul di Jawa hingga berkembang di luar Jawa, berserta aspek perubahan berdasarkan peraturan peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam masalah perkeretaapian di Indonesia. Dalam buku ini dibahas perkembangan perekeretaapian mulai dari pemerintahan kolonial, Jepang hingga Republik Indonesia.

Buku karangan Suhartono (1991), Apanage dan Bekel, Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920 ). Buku ini membahas tentang Transportasi dan Mobilitas, yang disebabkan karena adanya kereta api di daerah Vorstenlanden yang banyak mempengaruhi berbagai segi kehidupan masyarakat Jawa baik ekonomi, sosial maupun pembangunan infrastruktur kota Solo. Pembangunan

commit to user

atau mobilitas yang disebabkan karena adanya kereta api. Skripsi dari Auditya Martin Nur Rochman. C0504012, yang berjudul Transportasi Kereta Api Dalam Pembangunan Kota Solo Tahun 1900-1940 , (2010). Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pembangunan perluasan jaringan kereta api kolonial di Jawa berlangsung dari abad 19-20 yang bertujuan untuk memoderenisasi sistem transportasi dan pengangkutan secara masal sekaligus cepat, serta bertujuan untuk membuka daerah pedalaman. Transportasi kereta api juga membuka daerah pedalaman Vorstenlanden untuk pengangkutan hasil alam sampai ke pedalaman menuju ke pelabuhan, oleh karena itu pembangunan jaringan kereta api pertama dilakukan dari Semarang- Vorstenlanden yang dilakukan oleh perusahaan swasta NISM. Di dalam kota Solo eksploitasi jaringan kereta api berupa kereta trem yang dikuasai NISM yang bertujuan mengangkut hasil alam dan sekaligus membuka daerah Solo sampai ke pedalaman.

Buku karangan Djoko Suryo (1989), Sejarah Sosial Pedesaan Karesidenan Semarang 1830-1900. Buku tersebut membahas tentang aspek sosial dan ekonomi saat Cultuurstelsel dan membahas pembangunan perkeretaapian dari Semarang menuju daerah Vorstenlanden dan membahas dampak dan peranan kereta api baik sosial maupun ekonomi bagi masyarakat Jawa. Buku ini memberikan gambaran perubahaan sosial yang diakibatkan dari berbagai faktor yang terjadi pada abad 18 sampai abad 20an.

commit to user

Buku ini menjelaskan berbagai masalah budaya dan sosial, dalam buku tersebut memperlihatkan bahwa kereta api sebagai simbol kehidupan moderen yang telah diterima oleh kalangan elit bangsawan keraton di Jawa. Ketika diselenggarakan upacara pembukaan di Stasiun pertama di Solo yang diberi nama Stasiun Balapan pada tahun 1866. Susuhunan Paku Buawana X (Raja terbesar di Keraton Solo) melangsungkan pernikahan agung dengan menaiki transportasi kereta api dengan berangkat dari Stasiun Balapan untuk menuju ke Yogyakarta maka ini memperlihatkan bahwa unsur-unsur moderenitas mulai diserap para kalangan elit bangsawan feodal tradisional atas kebudayan barat tersebut dalam rangka penyamaan status sosial.

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah. Metode sejarah merupakan cara yang digunakan untuk mengadakan penelitian terhadap data dan fakta yang objektif agar sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga dapat terbukti secara ilmiah. Metode sejarah mempunyai empat tahapan proses penelitian, yang pertama adalah heuristik yang menjadi langkah awal dalam penelitian sejarah. Langkah heuristik yang diambil peneliti adalah mencari dan menemukan sumber-sumber atau data-data.

Proses heuristik, pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen seperti arsip tentang rute kereta api dari Solo Kota, Pasar Pon sampai kebeberapa tempat dan berserta harga atau tarif karcis tanggal 1 November 1928. Koleksi Arsip Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran. Kode Arsip P.2446. Surat laporan

commit to user

pihak NISM dan SS menjadi terpakai oleh pihak lain. Kode Arsip P.2261. Berkas tentang NIS dan SS. Koleksi Arsip Rekso Pustoko Mangkunegaran. Kode Arsip 01.252. Arsip daftar pihak swasta yang memakai tanah-tanah Mangkunegara yang di berikan pada SS (Stats Spoorwagen) dan NISM (Nederland Indrsche Spoorweg Maatschappij ) untuk keperluan jalan transportasi Spoor. Dalam hal Surat menyurat tentang tanah yang dipakai untuk jalan kereta api dan foto-foto tentang kereta api seperti rel kereta api, stasiun-stasiun, kereta api serta lori yang ditarik dengan hewan, dokumen lain adalah peta-peta tentang jalur kereta api tahun 1930.

Tahap kedua adalah kritik sumber, dalam langkah ini peneliti menyeleksi tentang kredibilitas data dan keaslian sumber. Dalam hal ini peneliti menyeleksi data-data yang berhubungan dengan keberadaan awal mula jalur kereta api di daerah Wonogiri dan data tentang kondisi Kabupaten Wonogiri bersamaan dengan adanya jalur kereta api yang mulai masuk daerah Kabupaten Wonogiri.

Tahapan Ketiga, adalah interpretasi. Tahapan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu analisis dan sintesa. Analisis adalah menguraikan data dengan memperhatikan aspek kausalitas. Sedangkan sintesa adalah penyatuan keduanya.

Tahap keempat adalah historiografi. Historiografi merupakan penulisan sejarah dengan merangkaikan fakta-fakta yang telah peneliti cari dan menjadi kisah sejarah. Historiografi ini klimaks dari sebuah metode sejarah. Di sinilah pemahaman dan interprestasi atau fakta-fakta sejarah mengenai perkembangan jalur kereta api di Wonogiri tersebut ditulis dalam bentuk kisah sejarah yang menarik dan masuk akal. Dalam hal ini historiografi adalah penulisan yang berupa skripsi.

commit to user

Untuk memberikan gambaran terperinci, skripsi ini disusun bab demi bab. Penyusunan ini dilandasi keinginan agar skripsi ini dapat menyajikan gambaran yang menunjukkan suatu kontinuitas perkembangan kejadian yang beruntun.

Bab I berupa pendahuluan ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab II membahas tentang gambaran umum tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat Wonogiri tahun 1923-1976 yang terdiri dari kondisi geografis, kondisi demografis dan sistem pemerintahan, sistem pendidikan, dan sistem transportasi.

Bab III membahas tentang dinamika perkembangan jalur transportasi kereta api di Kabupaten Wonogiri, yang berisi mengenai keberadaan kereta api Solo-Baturetno, jenis lokomotif, jalur rek kerta api Solo-Wonogiri dan stasiun- stasiun maupun harga tiket kereta api pada masa kolonial Belanda , kependudukan Jepang dan masa sesudah kemerdekaan yang berada di Kabupaten Wonogiri.

Bab IV membahas tentang alasan pemerintah orde baru melakukan pembongkaran jalur kereta api di Kabupaten Wonogiri, yaitu mengenai factor pembangunan waduk gajah mungkur, serta dampak pembongkaran jalur kereta api Baturetno-Wonogiri pada tahun 1976.

Bab V merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan.

commit to user

15

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT WONOGIRI TAHUN 1922-1976

A. Kondisi Geografis Wonogiri

Pada masa kekuasaan K.G.P.A.A Mangkunegara VII terjadi perubahan status daerah Wonogiri yang dahulu hanya berstatus Kawedanan menjadi Kabupaten. Pada tahun 1847 Kadipaten Mangkunegaran dibagi tiga daerah Onderregwtschppen , (Kadipaten Anom) yaitu Karanganyar meliputi Sukawati, Matesih, dan Haribaya, Wonogiri meliputi Nglaroh (daerah yang terletak antara Wonogiri dan Manyaran sekarang) , Hanggabayan (daerah sebelah timur laut kota Wonogiri sekarang sampai perbatasan Jatipurna dan Jumapolo di daerah Karanganyar), dan Keduwang (daerah yang terletak di sebelah Timur Bengawan Solo bagian hulu), serta Malang Jiwan meliputi Pajang. Tahun 1875 Onderregwtschppen Malangjiwan diganti Baturetno, daerahnya Wiroko (meliputi daerah Tirtomoyo sekarang), Sembuyan (daerah di sekitar Baturetno dan

Wuryantoro sekarang). 1 Terjadi pada tahun 1891 masa Mangkunegara V,

onderregenschap Baturetno dihapus dan wilayahnya digabungkan dengan

onderregenschap Wonogiri. Pada tahun 1903 dibawah pemerintahan Mangkunegara VI terjadi perubahan wilayah yang keempat, yaitu bentuk

Onderregenschap Kota Mangkunegaran. Dengan demikian daerah Praja Mangkunegaran terbagi menjadi tiga wilyah administrasi yaitu: Kota

1 Daryadi, “Pembangunan Perkampungan Di Kota Mangkunegaran Pada Masa Mangkunegoro VIII.” Surakarta: 2009, Skripsi Universitas Sebelas Maret, halaman 25.

commit to user

1929 terjadi perubahan wilayah administrasi lagi yang dilakukan dalam rangka penghematan. Hal itu dilakukan oleh Mangkunegara VII dikarenakan pada saat itu dampak-dampak krisis ekonomi yang terjadi di seluruh penjuru dunia sudah mulai dirasakan oleh Praja Mangkunegaran. Oleh karena itu Mangkunegara VII menghapus Kabupaten Kota Mangkunegaran, dan wilayahnya dimasukkan ke wilayah Kabupaten Karanganyar. Hal itu tidak berlagsung lama dengan penghidupan kembali yaitu bekas Kabupaten Karanganyar menjadi daerah

Kabupaten Mangkunegaran. 3

Tabel 1. Pembagian Administrasi Kabupaten Wonogiri pada tahun 1923.

Kabupaten

Kawedanan

Kecamatan Wonogiri

Wonogiri

Wonogiri, Ngadirojo, Selogiri, Nguntoronadi

Wuryantoro

Wuryantoro, Manyaran, Eromoko, Pracimantoro, Ngawen

Baturetno

Baturetno, Giriwoyo, Giritontro, Baturawno, Tirtomoyo

Jatisrono

Jatisrono, Girimarto, Jatipurno, Jatiroto, Sidoharjo

Purwantoro

Purwantoro,Bulukerto,Slogohimo, Kismantoro

Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,2006. Sejarah Terjadinya Pemerintahan Di

Wonogiri , Hal. 31-32.

Dengan demikian pada tahun 1930 wilayah administrasi Praja Mangkunegaran menjadi dua wilayah yaitu; Kabupaten Kota Mangkunegaran (meliputi Kawedanan Kota Mangkunegaran, Kawedanan Karanganyar,

2 Daerah Onderregentschap disebut daerah Kabupaten. Rijksblad Mangkunegaran Tahun 1917 No. 331

3 Sutrisno Adiwardoyo, 1974. Skripsi: Pertumbuhan Kadipaten Mangkunegaran Sampai Masuknya Ke Provinsi Jawa Tengah. Surakarta: IKIP Surakarta. hal 31

commit to user

(meliputi Kawedanan Wonogiri, Kawedanan Jatisrono, Kawedanan Wuryantoro, Kawedanan Baturetno).

Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang pembentukannya ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah. Luar wilayah Kabupaten Wonogiri secara administratif dibagi menjadi 24 kecamatan; Pracimantoro, Giritontro, Giriwoyo, Batuwarno, Tirtomoyo, Nguntoronadi, Baturetno, Eromoko, Wuryantoro, Manyaran, Selogiri, Wonogiri, Ngadirojo, Sidoharjo, Jatisrono, Kismantoro, Purwantoro, Bulukerto, Slogohimo, Jatiroto, Jatipuro, Girimarto, Karang Tengah, menjadi kecamatan mulai tahun 1992, dan Paranggupito menjadi kecamatan mulai tahun 1993. Batuwarno memiliki luas

wilayah yang terbesar yaitu, 13.624Ha. 4

Kabupaten Wonogiri, dengan luas wilayah adalah 210.000 Ha, secara geografis terletak pada garis lintang 7° 32' sampai 8° 15' dan garis bujur 110° 41' sampai 111° 18' dengan batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ponorogo Sebelah Selatan : Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dan Samudra Hindia. Sebelah Barat : Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten.

4 Badan Statistik Kabupaten Wonogiri, Tahun 1980

commit to user

penghujan dan kemarau dengan temperatur rata-rata 24° C hingga 32° C. Dengan topografi daerah yang tidak rata, perbedaan antara satu kawasan dengan kawasan lain membuat kondisi sumber daya alam juga saling berbeda. Di Wonogiri hampir sebagian besar tanahnya tidak terlalu subur untuk pertanian, berbatuan dan kering membuat penduduknya lebih banyak merantau.

Kondisi topografi yang sebagian besar tanahnya berbukit berupa pegunungan kapur, tidak rata dengan kemiringan rata-rata 300, ketinggian tanah cukup bervariasi antar wilayah kecamatan yaitu mulai dari 106 meter sampai dengan lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Bagi penduduk yang tinggal pedesaan pada umumnya mempunyai sifat goton-royong yang kuat, kerukunan antar warga terjaga baik dan hidup sederhana dengan mengandalkan alam. Hal itu mereka wujudkan dengan upacara dan tradisi syukuran dan sesembahan hasil panen. Pertanian dan perkebunan di Kabupaten Wonogiri selama ini mengandalkan pada keadaan iklim dan cuaca. Cara ini diperlukan untuk menentukan masa tanan. Selain itu, sistem irigasi dari waduk di Wonogiri digunakan dengan tujuan untuk menunjang mengairi pertanian, menampung debit air hujan, dan mengatasi banjir di Bengawan Sala. Tanahnya terbentuk dari sendimen alluvial aliran sungai Bengawan Solo. Batuan dan bahan mineral yang berguna bagi kesuburan tanah. Campuran antara tanah dan lumpur akan menjadi tanah sekunder untuk pertanian. Pegunungan kapur Selatan meliputi hampir seluruh Wonogiri dan kecamatan Jumapolo, Karanganyar Selatan seluas 2/3 keseluruhan wilayah Mangkunegaran. Rangkaian pegunungan wilayah Selatan

commit to user

Selatan (Pegunungan Sewu) yang sebagian besar berada di Yogyakarta bagian Selatan dan Pacitan. 5

B. Kondisi Demografi Wonogiri

Pada masa Hindia Belanda, penetapan suatu wilayah menjadi Staadsgemeente harus memenuhi 3 pertimbangan yaitu personen (penduduk), omstandigheden (keadaan setempat) dan geld (keuangan). Faktor personen (penduduk) yang dimaksud ini adalah penduduk kulit putih, bukan semata-mata orang Belanda, melainkan juga orang Eropa-non Belanda dan bangsa lain (termasuk etnis Cina) yang disejajarkan dengan orang Belanda, paling tidak harus

mencapai jumlah 10 % dari jumlah penduduk tersebut . 6 Tetapi masyarakat di daerah Wonogiri 100% adalah asli dari suku Jawa dan beragama islam. 7 Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu gejala sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat kolonial. Pertambahan penduduk menjadi kasus yang sulit dipecahkan. Menurut sensus penduduk tahun 1930 pertambahan penduduk pulau jawa sebesar 40 juta jiwa lebih. Di pulau Jawa sendiri kepadatan penduduknya

cukup banyak berada di Kota Mangkunegaran. 8 Selama kurun waktu 1920-1930

5 http://sejarah.fib.ugm.ac.id/artdetail, (Diakses Tanggal 21 April 2011 23:27:36) 6 Endang Sri Wahyuni, Skripsi. Salatiga Masa Perang Kemerdekaan 1945 – 1949 (Kajian Sejarah Militer),Surakarta :Jurusan Ilmu Sejarah FSSR, UNS,1993; hal 31

7 Th. M. Metz, 1939. Mangkunagaran Analisis Sebuah Kerajaan Jawa. Mangkunegaran Surakarta: Rekso Pustaka, Halaman.17

8 Marwati Djoened Poesponegoro. Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka, hal. 97.

commit to user

laju pertubuhan penduduk semakin terlihat besar, yakni 10,2% menurut laporan dari pihak pemerintah pamong praja kerajaan pada tahun 1925 terlihat adanya lonjakan pertumbuhan penduduk yang berpengaruh terhadap tingkat kepadatan penduduk di wilayah Surakarta. Ketika kondisi perekonomian memburuk tahun 1930an masih terlihat pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Perubahan jumlah penduduk sebagai hasil perngurangan maupun pertambahan penduduk dapat pula disebut sebagai pertumbuhan positif maupun negatif.

Tabel 2. Sensus Penduduk Wilayah Mangkunegaran(Kota Mangkunegaran, Wonogiri, Ngawen) tahun 1930.

No Golongan/ Etnik ( Laki-laki dan Perempuan) Jumlah penduduk

Golongan Bumi Putera Golongan Eropa Golongan Asia

902.780 jiwa 1.270 jiwa 4.268 jiwa

Jumlah

98.318 jiwa

Sumber: T.H. Metz, 1939. Mangkoe-Nagaran: Analyse Van Een Javaanasch Vorstendom. 1987. Mangkunegaran: Reksa Poestaka, Halaman.15

Pertumbuhan penduduk juga aterjadi didaerah Mangkunegaran salah satu daerah swapraja yang wilayahnya tergolong cukup luas diantara daerah swapraja lainnya. Berdasarkan sensus tahun 1930 (tabel 2), menjelaskan jumlah penduduk mangkunegaran secara keseluruhan adalah 908.318 jiwa. Jumlah penduduk tersebut tersebar di seluruh wilayah Praja Mangkunegaran.

9 Dilihat dari segi lingkungan dalam periode ini 1920-an perhitungan penduduk lebih tergantung pada pemimpin sehingga pemimpin lebih memiliki tujuan atas angka dari jumlah

penduduk itu. Hueder. Overzich van Economishien Toestand der Inkemmsche Bevolking van Java

en Madura ( s‟ Gravenhage : Martinus Nijhoff. 1912)

commit to user

Jenis.

Laki/Perempuan

Kota

M.N

Wonogiri Ngawen Jumlah Bumi

5.387 455.652 Orang Eropa

20 - 611 Orang

Jumlah Laki

5.338 458.270 Total General

Sumber: T.H. Metz, 1939. Mangkoe-Nagaran: Analyse Van Een Javaanasch Vorstendom. 1987.

Mangkunegaran: Reksa Poestaka, Halaman.15

Mesti pada dasarnya setiap pertumbuhan hanya berpangkal pada tiga unsur, kelahiran, kematian dan migrasi. 10 Masalah kelahiran (natalitas) sangat erat