ANALISIS PERHITUNGAN TARIF RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN DI KOTA PADANG.

ANALISIS PERHITUNGAN TARIF RETRIBUSI PELAYANAN
PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN DI KOTA PADANG

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada
Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas

OLEH

RIAN AZIZI
0910532090

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013

No Alumni
Universitas

RIAN AZIZI

No Alumni
Fakultas

BIODATA
a). Tempat/Tgl Lahir : Sungai Paku/ 04 November 1990 b). Nama Orang
Tua : Drs. Basri Basir c). Fakultas : Ekonomi d). Jurusan : Akuntansi
e). No.Bp : 0910532090 f). Tanggal Lulus : 04 November 2013
g).
Predikat lulus : Sangat Memuaskan h). IPK : 3,05 i). Lama Studi : 4
Tahun 2 Bulan j). Alamat Orang Tua: Jalan Padang – Lubuk Basung Km
72 Sungai Paku, Kec. Sungai Limau, Kab. Padang Pariaman

CALCULATION ANALYSIS OF RATE OF WASTE
SERVICES/CLEANLINESS RETRIBUTION IN PADANG
Pembimbing : Drs. Suhanda, M. Si, Ak
ABSTRACT
Economics progress in Padang lead to increase consumption , so many
activities that result in the amount of waste increases . The amount of waste
increases as a consequence of the progress of a region and changes in the
pattern of human life , as well as waste recycling rate is slower than the total
amount of waste would be problematic if not handled right . In the waste
management needed funds for the cost of managing waste services . Shortage of
funds led to the lack of optimization of existing assets , it appears efforts to
expand revenues , one of which comes from the withdrawal of Retribution of
Waste Services/Cleanliness , however, to consider the ability of people who
receive care in paying the levy of waste and cleanliness .
This study aims to explore the retribution’s rate of waste
services/cleanliness which can cover the total cost of operation and
maintenance of waste services and to find out how much the potential of Waste
Services / Cleanliness Retribution , so that the waste can be managed properly
and not waste buildup . Analyses were performed by Full Cost Recovery
approach using Event Break Point . The research concludes that the
retribution’s rates of commercial objects , non-commercial objects , and
specific objects for residential increases compare d to the rates in effect at this
time .

Keywords : Retribution of Waste Services / Cleanliness , Operations and
Maintenance Cost , Break Even Point Analysis

ii

ABSTRAK
Kemajuan demi kemajuan yang dialami Kota Padang mengakibatkan
peningkatan konsumsi masyarakat, sehingga banyak aktivitas-aktivitas yang
meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan. Jumlah sampah yang meningkat
sebagai konsekuensi kemajuan suatu daerah dan perubahan pola hidup manusia,
serta laju daur ulang sampah yang lebih lambat dari pada jumlah total sampah
akan menjadi masalah tersendiri jika penanganannya tidak tepat. Dalam
penanganan sampah diperlukan dana untuk biaya pengelolaan pelayanan
persampahan. Keterbatasan dana menyebabkan kurangnya optimalisasi aset
yang ada, maka muncul usaha untuk memperbesar pendapatan yang salah
satunya
berasal
dari
hasil
penarikan
Retribusi
Pelayanan
Persampahan/Kebersihan, namun perlu diperhatikan kemampuan masyarakat
yang mendapat pelayanan persampahan dalam membayar retribusi kebersihan.
Penelitian ini bertujuan untuk menggali besarnya tarif Retribusi
Pelayanan Persampahan/Kebersihan yang relevan dan dapat menutupi total
biaya operasional dan pemeliharaan pelayanan persampahan serta mengetahui
berapa besar potensi dari Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan ini,
sehingga sampah bisa dikelola dengan baik dan tidak terjadi penumpukan
sampah. Analisis dilakukan melalui pendekatan Full Cost Recovery dengan
menggunakan metode Break Event Point. Hasil penelitian menyimpulkan
bahwa tarif retribusi untuk objek retribusi komersil, objek retribusi non
komersil,
dan
objek
retribusi
khusus
perumahan
mengalami
peningkatan/kenaikan dibandingkan dengan tarif yang berlaku saat ini.
Kata Kunci : Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, Biaya
Operasional dan Pemeliharaan, Analisis Break Event
Point
Skripsi telah dipertahankan di depan sidang penguji dan dinyatakan lulus pada tanggal 10 Oktober
2013, dengan penguji :
1.

2.

Tanda
Tangan

Nama
Terang

Drs. Suhanda, M. Si, Ak

Dra. Nini Syofrieni M. Si, Ak

Mengetahui :
Ketua Jurusan Akuntansi:

Dr. Efa Yonnedi, S.E, MPPM, Ak
NIP. 197205021996021001

Tandatangan

iii

Alumnus telah mendaftar ke fakultas dan telah mendapat Nomor Alumnus :
Petugas Fakultas / Universitas
No Alumni Fakultas

Nama:

Tanda tangan:

No Alumni Universitas

Nama:

Tanda tangan:

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pada era otonomi daerah ini pemerintah daerah berusaha untuk mengatur

roda

kepemerintahannya

sendiri

yang

ditujukan

untuk

meningkatkan

kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah
juga dituntut untuk mencari sumber dana secara mandiri dengan cara menggali
potensi daerah yang dimiliki. Besarnya potensi yang dimiliki merupakan salah
satu sumber pendapatan asli daerah yang dapat digunakan untuk membiayai
kebutuhan rutin dan biaya pembangunan daerah, walaupun ada dana transfer dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
Pemerintah melakukan reformasi di bidang Pemerintah Daerah dan
Pengelolaan Keuangan pada tahun 1999. Pelaksanaan reformasi tersebut diperkuat
dengan ditetapkannya UU No. 22 Tahun 1999 (digantikan oleh UU No. 32 Tahun
2004) dan UU No. 25 Tahun 1999 (digantikan oleh UU No. 33 Tahun 2004).
Dalam UU No. 32 Tahun 2004 dijelaskan mengenai pembagian dan pembentukan
daerah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersifat otonom dan
menerapkan asas desentralisasi. Otonomi daerah merupakan suatu bentuk
perwujudan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat
kepada Pemerintah Daerah dimana Pemerintah Daerah mempunyai wewenang
untuk mengatur daerahnya sendiri baik dari sektor keuangan maupun dari sektor
nonkeuangan.

1

Dalam Khusaini (2006), asas desentralisasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan menurut UU No. 22 tahun 1999 mencakup paling tidak 4 hal yaitu:
1. Memberikan

kesempatan

menyelenggarakan

dan

otonomi

keleluasaan

daerah.

kepada

Keleluasaan

daerah

otonomi

untuk
artinya

mencakup kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraan
pemerintahan

termasuk

penyusunan

perencanaan,

pelaksanaan,

pengawasan, pengendalian, dan evaluasi.
2. Otonomi

yang

nyata,

artinya

daerah

punya

keleluasaan

untuk

menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara
nyata ada, dibutuhkan, tumbuh, hidup, dan berkembang di daerah.
3. Otonomi yang bertanggung jawab, berarti sebagai konsekuensi logis dari
pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam pemberian
pelayanan kepada publik dan peningkatan kesejahteraan bagi rakyat di
daerahnya.
4. Otonomi untuk daerah provinsi diberikan secara terbatas yaitu (a)
kewenangan lintas kabupaten/kota; (b)

kewenangan yang

belum

dilaksanakan oleh kabupaten/kota; (c) kewenangan lainnya menurut PP
No. 25 Tahun 2000.
Dalam

mengelola keuangannya,

Pemerintah Daerah harus

dapat

menerapkan asas kemandirian daerah dengan mengoptimalkan penerimaan dari
sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan Asli Daerah merupakan
sumber penerimaan Pemerintah Daerah yang berasal dari daerah itu sendiri
berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak

2

daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan
lain-lain pendapatan asli daerah yang sah (Kawedar, 2008).
Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan dua sumber PAD yang
terbesar. Setiap daerah mempunyai dasar pengenaan pajak yang berbeda-beda
tergantung dari kebijakan Pemerintah Daerah setempat. Untuk daerah dengan
kondisi perekonomian yang memadai, akan dapat diperoleh pajak yang cukup
besar. Tetapi untuk daerah tertinggal, Pemerintah Daerah hanya dapat memungut
pajak dalam jumlah yang terbatas. Demikian halnya dengan retribusi daerah yang
berbeda-beda untuk tiap daerah. Kemampuan daerah untuk menyediakan
pendanaan yang berasal dari daerah sangat tergantung pada kemampuan
merealisasikan potensi ekonomi tersebut menjadi bentuk-bentuk kegiatan ekonomi
yang mampu menciptakan perguliran dana untuk pembangunan daerah yang
berkelanjutan (Darwanto dan Yulia Yustikasari, 2007).
Tabel 1.1
Pendapatan Asli Daerah Kota Padang
2010

2011

2012

Pajak Daerah

77.783.503.917

96.840.000.000

110.578.525.000

Retribusi daerah

26.394.267.977

38.889.135.140

35.585.967.711

4.700.000.000

5.250.780.000

9.671.438.000

15.374.361.537

12.143.258.683

47.129.309.372

Pengelolaan

kekayaan

daerah yang dipisahkan
Lain-lain PAD yang sah

Sumber: Ditjen Keuangan Daerah

3

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa Pendapatan Asli Daerah Kota
Padang dari pajak daerah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun
2010, penerimaan dari pajak daerah mencapai Rp 77.783.503.917,00 dan pada
tahun 2012 telah mencapai Rp 110.578.525.00,00 atau meningkat sekitar 42%.
Sedikit berbeda dengan pajak, retribusi daerah justru mengalami penurunan pada
tahun 2012. Jika pada tahun 2011 penerimaan retribusi daerah mencapai Rp
38.889.135.140,00 maka pada tahun 2012 turun menjadi Rp 35.585.967.711,00.
Penurunan penerimaan retribusi daerah ini tentu juga mempangaruhi PAD Kota
Padang. Penerimaan retribusi daerah harus ditingkatkan demi membangun
perekonomian yang kuat. Upaya peningkatan penerimaan daerah dengan cara
mengoptimalkan retribusi daerah merupakan suatu hal yang diperbolehkan. Hal ini
sesuai dengan UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
dimana Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan merupakan retribusi daerah
yang masuk ke dalam golongan retribusi jasa umum yang besarnya tarif serta
pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
Kota Padang merupakan salah satu kota yang juga mengenakan retribusi
atas pelayanan persampahan/kebersihan. Penerimaan dari retribusi ini cukup besar
dari tahun ke tahun. Kota Padang yang dalam beberapa tahun ini terus melakukan
pembenahan dan peningkatan dalam upaya untuk mencapai perekonomian yang
tangguh, banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan dibidang investasi modal,
seperti memberikan kemudahan dalam hal perizinan investasi, dengan tujuan
untuk membangun sarana dan prasarana dalam menunjang perekonomian
masyarakat tersebut.

4

Tabel 1.2
Penerimaan Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan Kota Padang

Tahun

Target

Realisasi

2009

2.851.295.248

2.782.789.048

2010

2.696.065.500

2.795.816.500

2011

3.540.886.000

2.982.554.000

2012

3.302.368.000

3.069.115.250

Sumber:Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Padang
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa penerimaan dari retribusi ini
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, penerimaan retribusi
mencapai Rp 3.069.115.250,00. Tetapi kalau kita bandingkan dengan target yang
ditetapkan, hanya pada tahun 2010 realisasi melebihi target, yakni sebesar
103,70%. Sisanya, target penerimaan tidak mampu dicapai, bahkan pada tahun
2011 hanya terealisasi sebesar 84,23%. Perkembangan ekonomi yang terus
meningkat menyebabkan peningkatan jumlah timbulan sampah yang tidak diiringi
dengan peningkatan sumber daya.
Kemajuan demi kemajuan yang dialami Kota Padang juga mengakibatkan
peningkatan konsumsi masyarakat, sehingga banyak aktivitas-aktivitas yang
meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan. Jumlah sampah yang meningkat
sebagai konsekuensi kemajuan suatu daerah dan perubahan pola hidup manusia,
serta laju daur ulang sampah yang lebih lambat dari pada jumlah total sampah

5

akan menjadi masalah tersendiri jika penanganannya tidak tepat. Dalam
penanganan sampah diperlukan dana untuk biaya pengelolaan pelayanan
persampahan. Keterbatasan dana menyebabkan kurangnya optimalisasi aset yang
ada, maka muncul usaha untuk memperbesar pendapatan yang salah satunya
berasal dari hasil penarikan retribusi kebersihan, namun perlu diperhatikan
kemampuan masyarakat yang mendapat pelayanan persampahan dalam membayar
retribusi kebersihan.
Peningkatan jumlah sampah dari tahun ke tahun ini juga harus ditunjang
dengan penyelenggaraan pengelolaan sampah yang efektif pula. Menurut
keterangan pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang, rata-rata
timbulan sampah Kota Padang adalah 800 ton/hari. Jumlah itulah yang harus
diangkut oleh petugas kebeesihan setiap hari ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Air Dingin. Namun pada kenyataannya, masih banyak sampah yang menumpuk
dan tidak dikelola dengan baik. Hal itu juga diakui pihak DKP yang mengatakan
bahwa petugas kebersihan hanya mampu mengangkut 600-650 ton sampah per
hari. Sisa sampah yang belum terkelola itu biasanya tersebar di jalan, lahan
kosong dan bantaran sungai serta ada yang dibakar sendiri oleh warga. Akibatnya,
terjadi pencemaran air, tanah dan udara. Untuk mengatasi masalah ini, pihakpihak terkait perlu meningkatkan kualitas pelayanannya. Salah satu permasalahan
utama yang dihadapi adalah tidak memadainya tenaga dan fasilitas Pemko untuk
mengangkut seluruh sampah ke TPA, seperti yang diungkapkan oleh Ketua
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapeldada) Padang (Harian
Padang Ekspress, 23 Agustus 2013) . Hal ini sudah disadari oleh Pemerintah Kota

6

Padang, yang memang sudah berencana melakukan penambahan armada truk
untuk memenuhi kebutuhan penanganan angkutan sampah.
Peningkatan kualitas pelayanan secara langsung mengakibatkan konsumsi
biaya juga meningkat dan menjadi faktor yang perlu diperhatikan jumlahnya.
Dampaknya, perlu penyesuaian tarif retribusi yang mampu meningkatkan
penerimaan untuk menutupi biaya tersebut. Tetapi walaupun demikian,
peningkatan tarif bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan penerimaan
retribusi dalam upaya menutupi biaya penyelenggaraan. Pertumbuhan ekonomi
Kota Padang yang meningkat berpotensi memunculkan objek retribusi potensial,
seperti banyaknya bermunculan hotel dan perumahan beberapa tahun terakhir.
Perkembangan perekonomian ini menjadi salah satu alasan untuk meninjau
kembali tarif yang sedang berlaku saat ini, dimana tarif retribusi ini memang harus
ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali. Saat ini, Peraturan Daerah
tentang retribusi pelayanan persampahan/kebersihan yang masih berlaku adalah
Perda No. 11 Tahun 2011, yang ditetapkan tanggal 22 Agustus 2011 lalu, yang
artinya sudah berjalan lebih dari dua tahun dan belum ditinjau ulang. Penelitian
ini

bertujuan

untuk

menggali

besarnya

tarif

Retribusi

Pelayanan

Persampahan/Kebersihan yang relevan dan dapat menutupi total biaya operasional
dan pemeliharaan pelayanan persampahan serta mengetahui berapa besar potensi
dari Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan ini, sehingga sampah bisa
dikelola dengan baik dan tidak terjadi penumpukan sampah.

7

1.2.

Rumusan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah:
1.2.1. Bagaimana penentuan dan perhitungan tarif Retribusi Pelayanan
Persampahan/Kebersihan di Kota Padang yang dapat menutupi biaya
penyediaan jasa?
1.2.2. Berapakah potensi retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan Di Kota
Padang jika dibandingkan dengan target penerimaan yang telah
ditetapkan?
1.3.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1.3.1. Mengetahui mekanisme penentuan dan perhitungan tarif Retribusi
Pelayanan Persampahan/Kebersihan di Kota Padang yang dapat menutupi
biaya penyediaan jasa.
1.3.2. Mengetahui potensi Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan di Kota
Padang jika dibandingkan dengan target penerimaan yang telah ditetapkan.
1.4.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dalam melakukan penelitian ini adalah:

1.4.1. Menambah wawasan keilmuan mahasiswa tentang retribusi daerah
khususnya dibidang pelayanan persampahan/kebersihan.
1.4.2. Bagi Pemerintahan Kota Padang, penelitian ini bisa dijadikan sumber
acuan dan evaluasi dalam penentuan kebijakan tarif Retribusi Pelayanan
Persampahan/Kebersihan serta penggalian potensi yang maksimal untuk

8

periode selanjutnya, sehingga realisasi penerimaan dari retribusi bisa
dimaksimalkan.
1.4.3. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.5.

Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terdiri dari sub-sub bab yang merupakan satu kesatuan

sebagai kerangka pemahaman masalah, dengan urutan sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Bab ini membahas apa saja yang menjadi latar belakang penulis untuk
mengadakan penelitian ini, serta membahas rumusan penelitian, tujuan penelitian,
manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori
Pada bab ini akan dibahas landasan teoritis penulis dalam mengemukakan
permasalahan yang ada, diantaranya membahas pengertian pendapatan asli daerah,
pengertian

retribusi

daerah,

pengertian

retribusi

pelayanan

persampahan/kebersihan, pengelolaan sampah, dan cara perhitungan tarif retribusi
dengan pendekatan Full Cost Recovery.
BAB III Metodologi Penelitian
Mengemukakan tentang sifat penelitian, jenis dan sumber data, teknik
pengumpulan data, dan analisis data.
BAB IV Analisa dan Pembahasan
Bab ini berisi gambaran umum objek penelitian, yakni Dinas Kebersihan
dan Pertamanan Kota Padang, dan analisis perhitungan tarif retribusi pelayanan
persampahan/kebersihan yang sesuai dengan keadaan saat ini dan dapat menutupi

9

biaya penyediaan jasa.
BAB V Penutup
Bab ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran untuk pihak
terkait serta untuk penelitian selanjutnya.

10

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3875 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23