BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Mengingat 1. Defenisi Ingatan - Efektifitas Pelatihan Mind Mapping Terhadap Kemampuan Mengingat Materi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Mengingat

  1. Defenisi Ingatan

  Menurut Matlin (2005), ingatan adalah proses untuk mempertahankan informasi dalam kurun waktu tertentu. Menurut Oxford University Press (2014), ingatan adalah kemampuan pikiran dalam menyimpan dan memanggil informasi. Nairne (2006) mengartikan ingatan adalah kapasitas untuk mempertahankan dan mengembalikan informasi. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ingatan adalah kemampuan kita untuk menyimpan, dan mempertahankan informasi untuk kemudian dipanggil dan dikembalikan dalam waktu yang kita inginkan.

  2. Model Pengelolahan Informasi

  Atkinson & Shifrin dalam Matlin (2005) mengemukakan bahwa ingatan sebagai bentuk rangkaian dimana informasi dikirim dari satu area penyimpanan ke area penyimpanan lain. Informasi yang akan diterima di ingatan sensori menuju ingatan jangka pendek dan kemudian berakhir di ingatan jangka panjang.

  a. Ingatan sensori

  Ingatan sensori akan merekam informasi yang diterima oleh indera manusia. Proses masuknya informasi menuju otak terjadi dengan cepat. Manusia tidak akan sadar dengan semua yang informasi yang masuk melalui indera manusia. Indera penghilatan akan direkam pada iconic memory dan indera pendengaran akan direkam pada echoic memory. Namun, informasi hanyak bisa disimpan selama ±2 detik dan jika melebihi , informasi akan dilupakan.

  b. Ingatan Jangka Pendek

  Ingatan Jangka Pendek merupakan komponen dasar kedua yang dikemukakan oleh atkinson dan shriffrin. Informasi dari ingatan sensori akan menuju Ingatan Jangka Pendek. Dalam ingatan jangka pendek , ingatan juga termaasuk mudah hilang.

  Namun tidak seperti sensory ingatan, ingatan jangka pendek dapat menyimpan informasi selama ±30 detik. Manusia juga hanya dapat menahan informasi yang terbatas. Manusia hanya akan mengingat tujuh item (±2) yang berarti diantara 5 item sampai 9 item.

  c. Ingatan Jangka Panjang

  Ingatan jangka panjang merupakan sebuah ingatan dengan kapasitas yang besar dan menyimpan semua ingatan tentang pengalaman dan inforamsi yang diperoleh selama kurun waktu kehidupan manusia. Informasi dari Ingatan jangka pendek akan dilanjutkan menuju Ingatan jangka panjang. Infromasi yang penting akan ditempatkan dalam ingatan jangka panjang.

3. Jenis-jenis Ingatan jangka panjang

  Banyak konsep mengenai jenis-jenis ingatan. Terdapat ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. Dalam ingatan jangka panjang terdapat ingatan eksplisit dan ingatan implisit. Ingatan eksplisit termasuk didalamnya ingatan episodic dan ingatan semantic. Dalam ingatan implisit terdapat ingatan prosedural, priming, dan classical conditioning.

a. Ingatan Eksplisit dan Ingatan Implisit

  Menurut Hall (1998) bahwa terdapat perbedaan tipe ingatan jangka panjang. Perbedaan antara ingatan eksplisit dan ingatan implisit. Kedua perbedaan ini terdapat pada bagaimana individu menyatakan (declare) ingatan tersebut. Ingatan eksplisit (sering disebut juga ingatan deklaratif) dimana kita secara sadar mengingat informasi seperti fakta atau peristiwa yang dapat secara verbal dikomunikasikan. Namun ketika informasi tersebut tidak secara sadar diingat dengan tujuan tertentu akan disimpan pada ingatan implisit. Ingatan ini sering disebut ingatan non-deklaratif karena tidak mampu membawa informasi pada keadaan sadar.

b. Ingatan Episodik, Ingatan Semantik dan Ingatan Prosedural

  Ingatan episodik dan ingatan semantik merupakan subtipe dari ingatan eksplisit. Nairne (2005) menjelaskan bahwa ingatan episodik merupakan ingatan untuk peristiwa tertentu yang terjadi kepada kita secara pribadi. Sedangkan Ingatan semantik merupakan pengetahuan mengenai dunia. Ingatan semantik berisi makna dari kata-kata dan kalimat. Berbeda dengan ingatan prosedural yang merupakan pengetahuan mengenai cara kita mengerjakan sesuatu. Jadi karena tidak perlu secara sadar mengingat informasi tersebut, ingatan prosedural dimasukan dalam ingatan implisit.

4. Proses Penyimpanan Ingatan

  Informasi yang masuk ke dalam pikiran tidak langsung direkam begitu saja. Informasi membutuhkan proses untuk disimpan dan kemudian dipanggil kembali. Terdapat tiga proses penyimpanan ingatan. Dimulai dari atensi untuk memilih informasi yang kelak akan diolah. Informasi akan melalui tahap encoding dimana terjadi proses yang menentukan dan mengatur bagaimana ingatan dibentuk. Kemudian akan berlanjut ke

  storage ( penyimpanan) dimana informasi akan disimpan dan dijaga

  selama waktu tertentu. Informasi yang kemudian akan dipanggil kembali akan melalui proses retrieval. (Nairne, 2006 ; Lahey, 2007)

5. Tingkat Pemrosesan Informasi

  Craik dan Lochart dalam Matlin (2005) mengemukakan sebuah alternatif lain dari stage memory model Atkinson dan Shiffrin yaitu level

  of processing. Craik dan Lockhart mengemukakan bahwa proses

  masuknya informasi bergerak dari shallow (dangkal) menuju deep (dalam). Lama informasi bertahan bergantung pada bagaimana informasi tersebut melalui proses encoding. Informasi akan lebih cepat terlupakan jika diproses pada tingkat yang dangkal, tapi akan lebih lama diingat jika diproses pada tingkat yang lebih dalam.

  a. Tingkat Pemrosesan Informasi Dangkal

  Dalam pemrosesan informasi tingkat dangkal, informasi yang diterima didasarkan pada kualitas tampilan fisik sesuatu hal. Infromasi hanya disimpan pada ingatan jangka pendek.

  b. Tingkat pemrosesan Informasi Mendalam

  Dalam Pemrosesan informasi tingkat yang lebih dalam, informasi yang diterima didasarkan pada pemahaman terhadap arti dari sebuah kata dan makna dari kata yang diucapkan. Informasi pada tingkat ini akan disimpan pada ingatan jangka panjang. Tingkat pemprosesan informasi mendalam juga membantu proses recall. Adapun faktor yang menyebabkanya :

  1. Distinctiveness

  Stimulus yang berbeda akan membantu untuk mengingat suatu informasi sehingga ketika informasi di panggil kembali , secara otomatis otak akan mencari sesuatu yang berbeda.

  2. Elaboration

  Proses encoding dengan mengartikan sebuah kata dan menghubungkannya dengan kata-kata dengan arti yang sama.

  Elaboration juga berarti mengasosiasikan ingatan yang baru dengan ingatan yang sudah ada.

6. Faktor yang mempengaruhi Ingatan

  Menurut matlin (2005) bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi ingatan : a.

  Mood dan emosi Ada tiga hal dimana mood dan emosi dapat mempengaruhi ingatan, antara lain :

  1. Manusia akan mengingat stimulus yang menyenangkan lebi akurat dari stimulus lain.

  2. Proses recall akan lebih akurat jika mood seseorang cocok dengan mood alamiah sesuatu hal.

  3. Proses recall akan lebih mudah jika mood selama proses encoding cocok dengan mood selama retrieval. b.

  Atensi Atensi merupakan sebuah konsentrasi dari aktifitas mental.

  Ketika indera menerima stimulus, tidak semua akan dipertahankan. Stimulus yang dipilih akan diproses lebih detil. Stimulus yang tidak mendapat perhatian akan dibuang dan tidak akan di proses.

  c.

  Kesamaan Semantik Arti dari kata-kata akan mempengaruhi jumlah kata yang akan tersimpan pada short term memory. Selain itu ada juga

  

proactive interference bahwa orang akan kesulitan belajar hal yang

  baru karena hal yang lama akan mengganggu hal yang baru dipelajari.

  d.

  Prinsip pengkodean spesifik Bahwa recall akan lebih baik jika konten dalam retrieval sama dengan konten encoding.

  e.

  Umur Umur dapat mempengaruhi ingatan seseorang. Anak-anak tidak dapat mengingat peristiwa sebelum umur 2 atau 3 tahun.

  Orang yang lebi tua akan lebih baik dalam mengingat ketika mereka memiliki kemampuan verbal yang tinggi dan berpendidikan tinggi. Orang yang lebih tua juga akan lebih akurat dalam mengingat dibanding orang yang lebih muda. f.

   Metamemory

  Metamemory akan membantu seseorang untuk

  menggunakan strategi yang efektif untuk dipakai karena tidak semua strategi mengingat itu sama.

  B.

   Mind Mapping 1.

   Pengertian Mind Mapping Mind Map adalah “alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap

pemikiran liner.” Michael Michalko, Crakcing creativity. Mind Mapping

  atau pemetaan pikiran merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan “memetakan” pikiran-pikitan kita. (Buzan, 2006).

2. Kegunaan Mind Map

  Menurut LearningGuide , The University of Adelaide (2009) bahwa kegunaan dari Mind Mapping : a.

  Memberikan pandangan secara luas mengenai topik dan membuat kita untuk menghadirkannya kedalam bentuk yang lebih singkat.

  b.

  Mendorong kita untuk melihat gambaran yang lebih besar dan alur yang lebih kreatif c.

  Mempermudah kita untuk merencanakan atau membuat pilihan dari sumber materi yang kita harapkan untuk suatu tugas dan dimana kita kan meletakannya.

  d.

  Membuat kita mendapatkan sebuah format yang lebih menarik dan menyenangkan bagi mata dan otak, pemikiran dan ingatan.

  Menurut Buzan (2006) Mind Mapping dapat membantu kita dalam banyak hal, antara lain: a.

  Merencanakan b. Berkomunikasi c. Menjadi lebih efektif d. Menghemat waktu e.

  Menyelesaian masalah f. Memusatkan perahtian g.

  Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran h. Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran i. Mengingat dengan lebih baik j. Belajar lebih cepat dan efisien 3.

   Keunggulan Mind Mapping

  Menurut Buzan (2006) keunggulan Mind Mapping yaitu : a.

  Memberi pandangan menyeluruh pokok masalah atau area yang luas.

  b.

  Mengumpulkan sejumlah besar data di suatu tempat.

  c.

  Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan-jalan pemecahan kreatif baru.

  d.

  Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dan diingat. Menurut Micahael Michalko dalam buzan (2006), dengan menggunakan Mind Map maka : a.

  Mengakitfkan seluruh sel otak b.

  Membereskan akal dari kekusutan mental c. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahsan d.

  Membantu menunjukkan hubngan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah e.

  Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian f. Memungkinkan kita mengelompokkan konsep, membantu kita membandingkannya. g.

  Mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada bahasan yang membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang

  Banyak orang yang sering mengucapkan bahwa Mind Map tidak cocok dengan mereka. Menurut Raphaela (2013) bahwa adapun alasan orang utk tidak meggunakan Mind Map : a.

  Saya tidak dapat menggambar Mungkin orang punya banyak talenta, katakan bahwa seseorang tidak dapat menggambar. Jika seseorang dapat menggunakan pen dan menggunakannya untk menulis, berarti seseorang tersebut dapat menggunakannya untuk menggambar.

  Mungkin gambar yang terlihat tidak sebaik individu yang memilik talenta menggambar. Tujuan membuat bentuk grapik pada Mind Map bukan utk membuat suatu karya seni melainkan untuk membuat peta dengan gambar dan simbol yang mudah dipahami sehingga membuat peta tersebut lebih muda untuk diingat kembali oleh otak.

  b.

  Mind Map hanyalah untuk anak-anak/ Mind Maps tidak dapat digunakan secara profesional.

  Bahwa tidak ada batasan umur dalam penggunaan Mind

  Map . Mungkin kelihatan seperti pekerjaan anak-anak prasekolah. Namun kenyataanya, banyak pekerja yang menggunakannya dalam presentasi bisnis.

  c.

  Mind Map hanya dapat dibentuk dengan informasi yang terbatas Mungkin Mind Map akan dibatasi oleh ukuran kertas. Dengan sistem yang benar, Mind Map dengan kertas juga dapat dibentuk dengan informasi yang besar dan lebih jelas daripada catatan linear.

  d.

  Mind Mapping akan memakan waktu yang lebih lama dari catatan linear Mungkin karena ada bentuk gambar dalam Mind Map sehingga banyak orang yang berpiki bahwa Mind Map \ akan menghabiskan banyak waktu daripada catatan linear. Hal tersebut akan terjadi jika seseorang menghabiskan waktu hanya untuk mengubah Mind Map menjadi karya seni. Pada umumnya, Mind Map akan membantu untuk menghemat waktu. Dengan Mind Map akan dipaksa untuk memutuskan informasi mana yang penting dan tidak penting.

  e.

  Saya adalah pemikir linear Bahkan jika seseorang telah nyaman dengan pemikiran linearnya. Apakah tidak lebih baik jika menambah teknik yang dapat meningkatkan kreatifitas, memori dan kemampuan menyelesaikan masalah? Mengapa harus membatasi diri, bukankah dengan menggunakan banyak tekni akan memberikan keuntungan yang lebih banyak? Pemikiran linear, radian, visual , lateral atau pararel. Kenapa tidak mengkombinasikannya untuk mencapai potensi otak yang lebi baik?

C. Pengaruh Mind Mapping terhadap kemampuan mengingat mahasiswa

  Mahasiswa diharapkan untuk dapat menyerap begitu banyak materi pelajaran. Mahasiswa dituntut sebagai individu yang aktif. Hasil dari kemampuan individu dapat dilihat dari nilai ujian tes dan ujian akhir semester. Tidak semua mahasiswa mendapatkan nilai yang baik saat ujian.

  Mahasiswa diharapkan untuk dapat mengoptimalkan kedua belahan otak. Kebiasaan mahasiswa yang hanya menggunakan otak kiri seperti menghafal, mencatat yang kurang tersistem, membaca dengan sistem kebut semalam hanya membuat rugi mahasiswa. Informasi yang masuk ke dalam otak tanpa proses yang tersistematis akan mudah untuk dilupakan. Selain itu informasi tersebut kelak akan digunakan ketika mahasiswa akan dihadapkan pada tes/ujian yang membutuhkan proses retrieval (pengambilan kembali informasi yang telah disimpan).

  Namun kenyataannya, karena informasi yang masuk ke dalam otak begitu banyak, mahasiswa sering lupa terhadap materi yang telah mereka terima baik dari dosen ataupun dengan membacanya sendiri. Foster (2010) menyatakan bahwa lupa dapat diartikan sebagai proses hilangnya informasi yang telah disimpan sebelumnya. Menurut Decay theory, proses lupa terjadi karena sebuah informasi yang tidak digunakan dalam ingatan akan sulit untuk dipanggil kembali. Selain itu, menurut Interference theory bahwa informasi yang disimpan di Ingatan jangka panjang akan sulit dipanggil kembali karena terganggu oleh informasi-informasi lain. Dengan kata lain, adanya gangguan dalam proses masuknya informasi dapat membuat terjadinya lupa. proses masuknya informasi yang tidak sistematis. Maka dari itu perlu suatu metode belajar yang sistematis yaitu dengan metode pecatatan Mind Mapping.

  Mind Map akan membantu memetakakan pikiran dalam otak

  sehingga memudahkan untuk melakukan penggulangan karena struktur yang mirip dengan pola pikir kita. Dengan menggunakan bentuk Mind

  Map , materi dapat lebih cepat dipahami daripada dengan metode mencatat

  biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian oleh Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Sudianto (2013) yang menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode Mind Map siswa lebih termotivasi, lebih kreatif dan kemampuan mengingat mereka meningkat sehingga memudahkan dalam menangkap dan memahami pelajaran.

  Oleh karena itu, dengan menggunakan metode Mind Mapping maka mahasiswa akan me-resume atau mencatat ulang materi kuliah dengan lebih efektif dengan mengoptimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan. Sehingga mahasiswa dapat memberi perhatian yang terpusat pada bahasan yang membantu mengalihkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

D. Hipotesis

  Ada perbedaan kemampuan mengingat mahasiswa yang menerima

  pelatihan mind mapping dengan kemampuan mengingat mahasiswa yang tidak menerima pelatihan mind mappin\g dimana kemampuan mengingat mahasiswa yang menerima pelatihan mind mapping akan lebih baik.”

Dokumen yang terkait

Efektifitas Pelatihan Mind Mapping Terhadap Kemampuan Mengingat Materi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013

0 78 163

Tingkat Stres pada Mahasiswa Tahun Pertama Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013

16 100 77

Analisis Kemampuan Menyimak Mahasiswa Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

1 62 140

Pengaruh Aroma Terhadap Kemampuan Mengingat Jangka Pendek Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

3 105 101

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah Singkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara - Mekanisme Pelayanan Di Bagian Akademik Terhadap Kepuasan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

0 0 11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 - Gambaran Kecanduan Online Game pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010, 2011, dan 2012

0 1 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rokok 2.1.1. Defenisi Rokok - Pengaruh Kebiasaan Merokok Terhadap Peak Expiratory Flow Rate pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010

0 0 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Internet 2.1.1 Defenisi Internet - Perancangan Website Departemen Kependudukan Dan Biostatistika, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

0 0 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Kepribadian Big Five 1. Sejarah - Differential Item Functioning (DIF) Etnis pada Big Five Inventory (BFI) versi Adaptasi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

0 0 27

Efektifitas Pelatihan Mind Mapping Terhadap Kemampuan Mengingat Materi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013

0 1 89