Pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur

(1)

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA

BERBASIS PENDIDIKAN EMANSIPATORIS

UNTUK MENANAMKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN

PADA SISWA KELAS IIIB DI SDN PERUMNAS

CONDONGCATUR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Dedy Anggit Harjanto NIM : 131134216

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017


(2)

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA

BERBASIS PENDIDIKAN EMANSIPATORIS

UNTUK MENANAMKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN

PADA SISWA KELAS IIIB DI SDN PERUMNAS

CONDONGCATUR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Dedy Anggit Harjanto NIM : 131134216

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017


(3)

(4)

(5)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

1. Kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan kasih sayang dalam berbagai cara, perhatian yang tak pernah henti, dan didikannya sehingga penulis mampu menyandang gelar sarjana pendidikan.

2. Kakak dan adikku yang selalu memberi dukungan dan mendoakan penulis. 3. Teman-teman satu payung penelitian yang selalu membantuku dalam menyusun

karya ini.

4. Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.


(6)

(7)

(8)

(9)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS PENDIDIKAN EMANSIPATORIS

UNTUK MENANAMKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN PADA SISWA KELAS IIIB DI SDN PERUMNAS CONDONGCATUR

Dedy Anggit Harjanto Universitas Sanata Dharma

2017

Pengajaran lingkungan sehat pada usia dini sangatlah penting, guna menanamkan sikap peduli lingkungan pada anak. Permasalahannya pengajaran lingkungan sehat di kelas IIIB SDN Perumnas Condongcatur masih sangat minim dilakukan, bahkan jika adapun hanya sebatas pelajaran biasa. Pendidikan emansipatoris adalah salah satu solusi untuk pengajaran lingkungan sehat pada anak karena pendidikan ini dapat memberdayakan siswa dan mampu memenuhi kebutuhan perkembangan siswa. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk mengembangka bahan pembelajaran yang berbasis pendidikan emansipatoris, yaitu modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.

Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (reseach and development). Penelitian ini menggunakan 5 langkah pengembangan bahan menurut Tomlinson yang diadaptasi dan telah dimodifikasi, yaitu meliputi: (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) validasi, (4) revisi, (5) implementasi, dan (6) evaluasi.

Pada modul yang dikembangkan oleh peneliti merupakan salah satu bahan ajar yang dikemas secara utuh dan didalamnya memuat tujuan pembelajaran, materi belajar, dan evaluasi. Modul ini disusun dan disesuaikan dengan sembilan prinsip pengembangan bahan menurut tomlinson, yaitu (1) Materials should achieve impact, (2) Materials should help learners to develop confidence, (3) What is being taught should be perceived by learners as relevant and useful, (4) Materials should require and facilitate learner self-investment,

(5) Materials should take into account that learners differ in learning styles, (6) Materials should take into account that learners differ in affective attitudes, (7) Materials should maximize learning potential by encouraging intellectual, aesthetic and emotional involvement which stimulates both right and left brain activities, (8) Materials should not rely too much on controlled practice, dan (9) Materials should provide opportunities for outcome feedback.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk berupa modul berdasarkan hasil validasi dari siswa diperoleh skor 4,3. Skor tersebut dikategorikan “sangat baik”, sehingga modul ini layak untuk digunakan. Serta dampak penggunaan produk berupa modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris ini dapat membuat siswa menjadi berani bertukar pendapat dengan guru maupun teman sekelas (mempertanyakan sistem), membuat siswa tertarik dan memacu rasa ingin tahu siswa dalam kegiatan pembelajaran (kesadaran kritis), membuat siswa belajar secara mandiri dan terlibat aktif dalam pembelajaran , dan dapat menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur (humanisasi).


(10)

ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF EMANCIPATORY EDUCATION-BASED NATURAL SCIENCES LEARNING MODULE TO CULTIVATE

ENVIRONMENTAL CONCERN

IN STUDENTS OF CLASS IIIB IN SDN PERUMNAS CONDONGCATUR

Dedy Anggit Harjanto Sanata Dharma University

2017

It’s important to teach healthy environment to young children to cultivate environmental care in them. The problem was healthy environment lesson in class IIIB of SDN Perumnas Condongcatur was lacking, only existing as normal lesson. Emancipatory education is one of the solutions to teach healthy environment to children because it empower students and can meet student’s developmental needs. Therefore, the researcher was motivated to develop emancipatory education-based lesson material, which was emancipatory education-based natural sciences learning module to developt environmental concern in students of class IIIB in SDN Perumnas Condongcatur.

The research type was research and development. This study used adapted and modified five material development steps of Tomlinson, i.e.: (1) requirement analysis, (2) product design, (3) validation, (4) revision, (5) implementation, and (6) evaluation.

The module developed by the researcher was one of the learning materials packaged comprehensively, containing learning purpose, learning material, and evaluation. This module was formulated and adjusted with nine principles of material development by Tomlinson, i.e. (1) Materials should achieve impact, (2) Materials should help learners to develop confidence, (3) What is being taught should be perceived by learners as relevant and useful, (4) Materials should require and facilitate learner self-investment, (5) Materials should take into account that learners differ in learning styles, (6) Materials should take into account that learners differ in affective attitudes, (7) Materials should maximize learning potential by encouraging intellectual, aesthetic and emotional involvement which stimulates both right and left brain activities, (8) Materials should not rely too much on controlled practice, and (9) Materials should provide opportunities for outcome feedback.

The research result showed that the quality of the module product based on the students’ validation was a score of 4,3. The score was categorized as “very good”, so the module could be applied. The impact of using the emancipatory education-based natural sciences learning module was encouraging the students to discuss with teacher and classmates (asking about system), making the students interested and encouraging student’s curiosity in learning activity (critical awareness), making students study independently and be actively involved in lesson, and cultivating environmental concern in the students of class IIIB in SDN Perumnas Condongcatur (humanization).


(11)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan dan karunianya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS

PENDIDIKAN EMANSIPATORIS UNTUK MENANAMKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN PADA SISWA KELAS IIIB DI SDN PERUMNAS CONDONGCATUR

,

skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik tak lepas dari dukungan berbagai pihak melalui berbagai cara. Atas peran tersebut, perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Kaprodi PGSD

3. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd.selaku Wakaprodi PGSD. 4. Eny Winarti, M.Hum., Ph.D. selaku dosen pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan dan arahan selama proses penyusunan skripsi ini. 5. Wahyu Wido Sari, S.Si., M.Biotech. selaku dosen pembimbingan II yang

telah membimbing dan mendampingi peneliti dalam penyusunan skripsi ini. 6. Mukija, S.Pd.SD. selaku kepala SDN Perumnas Condongcatur yang telah

memberikan ijin penelitian di SD tersebut.

7. Ferry Setiawan, S.Pd. selaku guru kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur yang membantu serta membimbing peneliti selama proses penelitian berlangsung.

8. Para dosen selaku ahli yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian ini.

9. Siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur yang telah bekerja sama dengan baik selama proses penelitian.


(12)

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Spesifikasi Produk ... 6

1.6 Definisi Operasional ... 8

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka ... . 9

2.1.1 Sekolah Dasar Negeri Perumnas Condongcatur ... 9

2.1.1.1 Latar Belakang Sekolah Dasar Negeri Perumnas Condongcatur ... 9


(14)

2.1.1.2 Karakteristik Siswa Kelas IIIB ... 10

2.1.2 Pendidikan Emansipatoris ... 11

2.1.2.1 Humanisasi ... 11

2.1.2.2 Kesadaran Kritis ... 11

2.1.2.3 Mempertanyakan Sistem ... 12

2.1.4 Modul ... 13

2.1.4.1 Pengertian Modul ... 13

2.1.4.2 Karakteristik Modul ... 13

2.1.4.3 Prinsip Modul ... 17

2.1.6 Pembelajaran IPA ... 19

2.1.7 IPA ... 20

2.1.7.1 Hakikat IPA ... 20

2.1.7.2 Materi IPA tentang Lingkungan Sehat dan Lingkungan Tidak Sehat ... 21

2.1.8 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ... 22

2.1.9 Sikap Peduli Lingkungan ... 23

2.1.10 Indikator Sikap Peduli Lingkungan ... 24

2.1.11 Wawancara Penggiat PSL ... 25

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan ... 28

2.2.1 Penelitian yang Relevan tentang Modul ... 28

2.2.2 Penelitian yang Relevan tentang Sikap Peduli Lingkungan ... 29

2.3 Kerangka Berpikir ... 31

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 32

3.2 Setting Penelitian ... 32

3.2.1 Tempat Penelitian ... 32

3.2.2 Subjek Penelitian ... 33

3.2.3 Objek Penelitian ... 33

3.2.4 Waktu Penelitian ... 33

3.3 Prosedur Pengembangan ... 34


(15)

3.5 Instrumen Penelitian ... 37

3.5.1 Instrumen Analisis Kebutuhan ... 37

3.5.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli ... 38

3.5.3 Instrumen Implementasi ... 39

3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.7 Teknik Analisis Data ... 40

3.7.1 Kuesioner Validasi Ahli Modul ... 40

3.7.2 Observasi ... 41

3.7.3 Kuesioner (Angket) Validasi Siswa ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Kebutuhan ... 43

4.1.1 Hasil Observasi Dokumen Kurikulum dan Pembahasan ... 43

4.1.2 Hasil Wawancara Siswa Kelas IIIB dan Pembahasan ... 45

4.2 Desain Modul Pembelajaran IPA Berbasis Pendidikan Emansipatoris ... 46

4.3 Data Hasil Validasi Modul dan Revisi Produk ... 52

4.4 Revisi Modul ... 54

4.5 Implementasi ... 55

4.6 Evaluasi ... 55

4.6.1 Data Hasil Observasi ... 55

4.6.2 Pembagian Kuesioner ... 56

4.7 Pembahasan ... 57

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 64

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 65

5.3 Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67


(16)

DAFTAR BAGAN


(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Pedoman Wawancara Siswa ... 34

Tabel 3.2 Pedoman Observasi ... 34

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Validasi Modul ... 35

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Modul ... 36

Tabel 3.5 Klasifikasi Skor ... 37

Tabel 3.6 Klasifikasi Skor ... 38

Tabel 4.3 Skor Penilaian Instrumen Modul oleh Dosen Ahli ... 39

Tabel 4.4 Komentar Terhadap modul oleh Ahli ... 53

Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Siswa ... 54

Tabel 4.5 Hasil Penilaian Siswa terhadap Kualitas Modul ... 56


(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Sampul Modul ... 46

Gambar 4.2 Petunjuk Penggunaan Modul ... 47

Gambar 4.3 Materi ... 48

Gambar 4.4 Eksperimen ... 48

Gambar 4.5 Aksi Lingkungan Sehat ... 48

Gambar 4.6 Panduan berksperimen ... 49

Gambar 4.7 Kegiatan bereksperimen ... 49

Gambar 4.8 Evaluasi ... 49

Gambar 4.8 Konten Modul ... 50

Gambar 4.9 Kegiatan Pengamatan ... 51


(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian ... 73

Lampiran 2. Surat Keterangan Penelitian ... 74

Lampiran 3. Silabus ... 75

Lampiran 4. RPP ... 78

Lampiran 5. Validasi Produk dari Ahli IPA... 104

Lampiran 6. Validasi Produk dari Ahli Bahasa ... 110

Lampiran 7. Lembar Instrumen Validasi Siswa ... 113

Lampiran 8. Presensi Kehadiran Siswa saat Uji Coba Produk ... 117

Lampiran 9. Lembar Dokumentasi Uji Coba Produk ... 118


(20)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk, dan (6) definisi operasional.

1.1 Latar Belakang

Lingkungan adalah tempat dimana unsur biotik dan unsur abiotik berada (Devi dan Anggraeni, 2008: 74-75). Unsur biotik merupakan makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Unsur abiotik merupakan benda tak hidup seperti air, udara, dan tanah. Kedua unsur tersebut saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitan keduanya menimbulkan hubungan timbal balik yang menciptakan sebuah ekosistem, dimana masing-masing unsur berperan penting dalam menjaga keseimbangannya. Contohnya ekosistem di danau, ikan memerlukan air dan gas oksigen untuk bernapas. Oksigen dapat diperoleh dari tumbuhan. Tumbuhan memerlukan air dan sinar matahari untuk hidup (Devi dan Anggraeni, 2008). Sehingga keseimbangan ekosistem dipengaruhi masing-masing unsur tersebut.

Setiap unsur yang ada di lingkungan memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Apabila salah satu unsur tersebut hilang atau salah satunya meningkat pesat, maka keseimbangan ekosistem akan hilang, dan berlanjut pada kerusakan lingkungan. Di sisi lain, makhluk hidup seperti manusia kurang menguntungkan


(21)

2

bagi unsur lainnya, mereka tidak dapat menciptakan makanan tanpa adanya unsur yang lain. Manusia hanya memanfaatkan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan sebagai pemenuh kebutuhan dan populasinya sangat banyak, sehingga mereka dapat mengurangi jumlah populasi makhluk yang lain.

Saat ini kerusakan lingkungan banyak terjadi di berbagai daerah. Sebagian besar kerusakan lingkungan itu disebabkan oleh ulah manusia. Mereka sangat rakus dan sering memanfaatkan komponen lain di alam secara berlebihan. Teknologi canggih dan pebangunan yang dilakukan manusia juga ikut andil dalam perusakan lingkungan. Menurut Sudjoko, dkk (2013:6.22), kerusakan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak faktor, secara umum kerusakan lingkungan disebabkan oleh, (1)Jumlah penduduk, (2)Konsumsi perkapita, (3)Dampak kerusakan per unit penggunaan sumber daya alam, yang berwujud sebagai jenis bahan sumber daya yang digunakan (dipilih) oleh manusia. Sedangkan menurut hasil wawancara dengan Pak Gatot selaku aktivis di PSL, kerusakan lingkungan sendiri terjadi karena campur tangan manusia. Hal itu karena pemikiran seseorang sejak kecil. Pola pikir yang terbentuk sejak kecil seperti membuang sampah sembarangan lama kelamaan akan tumbuh membesar, dan dari situlah manusia mulai merusak lingkungan. Selain itu kerusakan lingkungan juga dapat terjadi karena banyaknya kebutuhan pada manusia yang diperlukan maka akan semakin banyak pula hasil alam yang diambil sehingga lingkungan menjadi tidak seimbang dan rusak. Beberapa contoh kejadian yang masih hangat atau masih segar dalam ingatan kita adalah kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera Selatan dan Kalimantan yang membuat ekologi bahkan nyawa manusia menjadi terancaman.


(22)

3

Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menanamkan sikap peduli lingkungan pada anak sejak dini. Sikap peduli lingkungan dapat diartikan sebagai upaya-upaya untuk melestarikan, mencegah dan memperbaiki lingkungan alam (Handayani, 2013). Sikap ini dapat diajarkan melalui pendidikan.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya menanamkan sikap peduli lingkungan sejak dini, dan cara penanamannya hendaknya sesuai dengan pemahaman siswa dan latar belakang siswa. Namun kondisi tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada di SD N Perumnas Condongcatur. Hal itu dapat dilihat pada pengajaran sikap peduli lingkungan yang diajarkan melalui materi IPA secara umum. Selain itu poster-poster mengenai cinta lingkungan juga tidak tersedia, sehingga pegajaran sikap peduli lingkungan masih minim dilakukan. Untuk kelas IIIB khususnya, kebanyakan mereka adalah siswa masih kurang dalam hal kebersihan terutama kebersihan di kelas. Kadang-kadang setiap pagi, orang tua siswa yang mengantar ikut membantu membersihkan kelas, kalau tidak guru harus marah-marah agar siswa membersihkan kelas. Di sisi lain, berdasarkan wawancara yang saya lakukan, semua siswa kelas IIIB sudah tahu cara menjaga lingkungan yang benar dan cara merawat tanaman, misalnya seperti menyiram bunga dan membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, praktik kegiatan tersebut masih kurang dilakukan. Hal itu disebabkan karena mereka belum tahu secara nyata pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. Sehingga perlu diajarkan pada siswa pentingnya lingkungan yang sehat bagi kesehatan.


(23)

4

Mengajarkan pentingnya lingkungan sehat pada siswa kelas IIIB ini sangat perlu untuk menumbuhkan sikap peduli lingkungan pada siswa, karena sikap tersebut dapat mencegah terjadinya tindakan perusakan lingkungan. Selain itu, cara yang digunakan dalam mengajarkannya juga bagian terpenting. Untuk itu perlu digunakan sebuah pendidikan yang mampu mempengaruhi cara berpikir siswa sekaligus dapat menarik perhatian siswa dan memenuhi kebutuhan perkembangan siswa.

Pendididikan emansipatoris merupakan pendidikan yang dapat memberdayakan siswa dan mampu memenuhi kebutuhan perkembangan siswa, sehingga pendidikan ini akan menjadikan manusia secara utuh. Utuh yang dimaksudkan adalah memuat 3C berikut: competence, conscience, dan compassion (Suparjo, 2015:18-19). Competence berarti menguasai ilmu pengetahuan/keterampilan sesuai bidangnya, conscience berarti mempunyai hatinurani yang dapat membedakan baik dan tidak baik, dan compassion berarti siswa mempunyai kepekaan untuk berbuat baik bagi orang lain yang membutuhkan, punya kepedulian pada orang lain terutama yang miskin dan kecil.

Pendidikan ini juga dapat diterapkan dalam berbagai kurikulum atau dipadukan dengan berbagai model pembelajara, karena pendidikan emansipatoris ini adalah sebuah gaya belajar. Untuk itu peneliti menyusun sebuah modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur. Materinya dibatasi pada Standar Kompetensi “2. Memahami kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan, dan upaya menjaga kesehatan lingkungan”,


(24)

5

khususnya pada Kompetensi Dasar “2.2 Mendeskripsikan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana proses pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB tahun ajaran 2016/2017?

1.2.2 Bagaimana kualitas modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB tahun ajaran 2016/2017?

1.2.3 Bagaimana dampak penggunaan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris terhadap proses belajar siswa pada implementasi?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengembangkan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB tahun ajaran 2016/2017.

1.3.2 Mengembangkan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris yang berkualitas sebagai alat belajar pentingnya lingkungan sehat di kelas IIIB tahun ajaran 2016/2017.

1.3.3 Mengetahui dampak modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris terhadap proses pembelajaran siswa pada implementasi.


(25)

6

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi sekolah

Sebagai pengetahuan baru mengenai cara mengajarkan pentingnya lingkungan sehat pada siswa.

1.4.2 Bagi guru

Sebagai pengalaman atas keterlibatannya dalam mengembangkan dan menguji modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris.

1.4.3 Bagi Siswa

Siswa dapat mempelajari pentingnya lingkungan sehat melalui modul ayo cintai lingkungan berbasis pendidikan emansipatoris, dan siswa juga dapat belajar secara mandiri.

1.4.4 Bagi peneliti

Penelitian ini mampu memberikan pengalaman langsung kepada peneliti tentang tahap pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk siswa kelas III SD. Selanjutnya, peneliti juga memperoleh wawasan mengenai pembelajaran berbasis pendidikan emansipatoris.

1.5 Spesifik Produk

Produk yang dikembangkan memiliki spesifikasi sebagai berkut.

1. Produk yang dikembangkan berupa modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris.


(26)

7

2. Modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris diterapkan pada SD yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

3. Unsur-unsur modul disusun lengkap yang terdiri dari: a) Kata pengantar

b) Daftar isi

c) Petunjuk penggunaan modul d) Pendahuluan yang terdiri dari:

1) Latar belakang 2) Standar kompetensi 3) Kompetensi dasar 4) Indikator

5) Tujuan pembelajaran

e) Kegiatan belajar I yang terdiri dari: 1) Tujuan

2) Materi tentang lingkungan sehat dan tidak sehat f) Kegiatan belajar II yang terdiri dari:

1) Tujuan

2) Materi tentang dampak lingkungan tidak sehat bagi kesehatan g) Kegiatan belajar III yang terdiri dari:

1) Tujuan

2) Kegiatan aksi lingkungan sehat h) Uji kompetensi siswa


(27)

8

i) Kunci jawaban j) Daftar pustaka

4. Modul disusun untuk menanamkan pada siswa kelas IIIB pentingnya lingkungan sehat.

1.6 Definisi Operasional

1.6.1 Modul merupakan bahan pembelajaran yang digunakan sebagai panduan belajar di mana di dalamnya memuat materi dan latihan soal.

1.6.2 Pembelajaran merupakan kegiatan membelajarkan siswa dengan mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar.

1.6.3 IPA merupaka ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam.

1.6.4 Pendidikan emansipatoris adalah pendidikan demokratis yang mampu memberdayakan pemahaman siswa dimana di dalam pembelajarannya terdapat unsur humanis, kesadaran kritis, dan mempertanyakan sistem. 1.6.5 Sikap peduli lingkungan merupakan sikap yang diwujudkan dalam

tindakan sehari-hari untuk melestarikan, memperbaiki, dan mencegah kerusakan lingkungan.


(28)

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab dua ini akan diuraikan (1) Kajian Pustaka, (2) Kerangka Berpikir, dan (3) Hipotesis Penelitian.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Sekolah Dasar Negeri Perumnas Condongcatur

2.1.1.1 Latar Belakang Sekolah Dasar Negeri Perumnas Condongcatur

SD Perumnas Condongcatur merupakan SD Negeri yang beralamat di Jalan Flamboyan No. 11 Perumnas Condongcatur. SD dengan luas tanah 4235 m2 ini berdiri pada tahun 1978. SD Negeri ini merupakan gabungan dari tiga SD, yaitu SD N Perumnas I, SD N Perumnas II, dan SD N Perumnas IV. Tiap kelasnya terdiri dari tiga ruang, yaitu A, B, dan C atau biasa disebut paralel. Jumlah siswa seluruhnya sebanyak 449 anak, dan jumlah guru sebanyak 18 orang.

Visi SDN Perumnas CC adalah “Terwujudnya Insan yang Berkualitas, Berbudaya, dan Bertaqwa”. Misinya adalah 1) Melaksanakan bimbingan secara efektif dalam proses pembelajaran agar siswa mampu mengembangkan potensi diri sendiri secara optimal. 2) Menumbuhkembangkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah. 3) Menumbuhkembangkan penghayatan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. 4) Menumbuhkembangkan sikap apresiatif terhadap budaya bangsa. 5) Menumbuhkembangkan penghayatan ajaran agama yang dianut siswa dalam kehidupan sehari-hari.


(29)

10

2.1.1.2 Karakteristik Siswa Kelas IIIB

Siswa kelas IIIB berjumlah 23 siswa dengan 11 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Kebanyakan siswa kelas IIIB ini adalah siswa yang aktif, mereka sangat antusias ketika belajar dengan menggunakan sebuah media, apalagi jika menggunakan reward. Mereka juga suka bekerja secara kelompok, akan tetapi mereka masih kurang dalam hal kebersihan terutama kebersihan di kelas. Kadang-kadang setiap pagi, orang tua siswa yang mengantar ikut membantu membersihkan kelas, kalau tidak guru harus marah-marah agar siswa membersihkan kelas. Di sisi lain, berdasarkan wawancara yang saya lakukan, semua siswa kelas IIIB sudah tahu cara menjaga lingkungan yang benar dan cara merawat tanaman, misalnya seperti menyiram bunga dan membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, praktiknya masih kurang.

Siswa kelas IIIB di SD N Perumnas rata-rata adalah anak orang mampu, yaitu kalangan menengah ke atas, dan mereka kebanyakan bertempat tinggal di perumahan. Jenis perumahan yang mereka tempati berbeda-beda. Ada yang tinggal di perumahan homogen (rata-rata penduduknya adalah orang kaya) dan ada yang tinggal di perumahan heterogen (penduduknya bervariasi, yaitu ada yang kaya dan ada yang pas-pasan). Selain itu, dari 26 siswa kelas IIIB, ada 6 siswa yang tinggal di pedesaan. Akan tetapi desa yang mereka tempati sudah mirip seperti perumahan. Sehingga, siswa di kelas ini rata-rata hanya mau berbaur dengan siswa yang sesuai dengan keadaan ekonominya.


(30)

11

2.1.2 Pendidikan Emansipatoris

Pendidikan emansipatoris merupakan pendidikan yang mampu memberdayakan dan memberi pencerahan pada siswa (Mangunsong, 2005:15). Menurut Giroux (dalam Winarti dan Anggadewi, 2015:53) pendidikan emansipatoris dipandang sebagai pendidikan yang pergerakannya menekankan perwujudan masyarakat yang adil dan demokratis. Tiga kata kunci untuk model pendidikan emansipatoris, yaitu humanisasi, kesadaran kritis, dan mempertanyakan sistem (Winarti dan Anggadewi, 2015).

1.2.1.1 Humanisasi

Humanisasi dalam KBBI diartikan sebagai penumbuhan rasa peri kemanusiaan. Menurut Nouri, Sajjadi, dan Freire (dalam Winarti dan Anggadewi ,2015) humanisasi dipahami sebagai memberdayakan pemahaman kritis antara kedua belah pihak guru dan murid, dan mengembangkan kesadaran kritis (critical awarness) relasi pribadi dengan dunia. Berdasarkan dua pernyataan di atas peneliti berpendapat bahwa humanisasi adalah penumbuhan rasa kemanusiaan melalui pemberdayaan pemahaman kritis antara guru dan siswa.

1.2.1.2 Kesadaran Kritis

Kesadaran kritis memiliki makna belajar menerima keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang bertolak belakang, dan kemudian melawan arus dan penindasan realitas (Winarti dan Anggadewi, 2015). Menurut Browne dan Keeley (2012:16) sebagai seorang pemikir kritis, anda akan mencari kesimpulan yang lebih baik, keyakinan yang lebih baik, dan keputusan yang lebih baik. Oleh karena hal tersebut, seseorang yang mempunyai kesadaran kritis akan memiliki sikap, yaitu


(31)

12

kemandirian dalam membentuk kesimpulan, keingintahuan terhadap apa yang dijumpai, kerendahan hati bahwa pendapat pribadi belum tentu benar, dan menghargai pendapat orang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesadaran kritis adalah pemahaman terhadap berbagai kondisi dan kemudian melawan arus penindasan.

1.2.1.3 Mempertanyakan Sistem

Winarti dan Anggadewi (2015:53-54) menyatakan bahwa untuk menjadi pemikir kritis, perlu ada dialog dalam bentuk mempertanyakan sistem untuk menentukan realitas. Dari pernyataan tersebut, mempertanyakan sistem difungsikan untuk menentukan sebuah realitas.

Salah satu cara yang dilakukan untuk mempertanyakan sistem yaitu dengan berdialog. Dialog dilakukan oleh guru dan siswa terhadap sistem pembelajaran yang dilakukan. Seperti pernyataan Winarty dan Anggadewi bahwa ketika terjadi dialog diantara keduanya, maka pemahaman dan pengalaman akan realitas dari kedua belah pihak pun berkembang.

Sehingga ketika seorang guru mempertanyakan sistem kepada siswa mengenai sistem pembelajaran yang dianut, maka guru akan memperoleh timbal balik dari siswa. Hasil timbal balik tersebut akan digunakan untuk evaluasi sistem pembelajaran selanjutnya, sehingga sistem pembelajarannya akan berkembang dan pengalaman belajar siswa serta pemahamannya pun turut berkembang.

Jadi pendidikan emansipatoris adalah pendidikan demokratis yang mampu memberdayakan pemahaman siswa dimana di dalam pembelajarannya terdapat unsur humanis, kesadaran kritis, dan mempertanyakan sistem.


(32)

13

2.1.4 Modul

2.1.4.1 Pengertian Modul

Pendidikan emansipatoris menuntut siswa agar belajar secara mandiri dan berkembang sesuai kemampuannya. Salah satu bahan pembelajaran yang dapat digunakan sebagai sarana belajar secara mandiri adalah modul. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik (Daryanto, 2013:9). Modul minimal memuat tujuan pembelajaran, materi/substansi belajar, dan evaluasi. Modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri, sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan masing-masing. Penulisan modul bertujuan :

a. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal.

b. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa atau peserta diklat maupun guru/instruktur.

c. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti :

d. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi siswa atau peserta diklat; e. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan

lingkungan dan sumber belajar lainnya, 2.1.4.2 Karakteristik Modul

Modul yang baik menurut Daryanto (2013:9) adalah modul yang mampu meningkatkan motivasi belajar, sehingga pengembangan modul harus


(33)

14

memperhatikan karakteristik yang diperlukan, yaitu: a) Self instructional, b) Self Contained, c) Stand alone (berdiri sendiri), d) Adaptif dan e) User friendly. a. Self Instruction

Merupakan karakteristik penting dalam modul, dengan karakter tersebut memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain.

Untuk memenuhi karakter self instruction, maka modul harus:

1) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas, dan dapat menggambarkan pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

2) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang kecil/spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas;

3) Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran;

4) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik;

5) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik;

6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, 7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran;

8) Terdapat instrumen penilaian, yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri (self assessment);

9) Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik, sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi;


(34)

15

10)Terdapat informasi tentang rujukan/ pengayaan/referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud.

b. Self Contained

Modul dikatakan self contained bila seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena materi belajar dikemas kedalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu standar kompetensi/kompetensi dasar, harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan standar kompetensi/kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik.

c. Berdiri Sendiri (Stand Alone)

Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik modul yang tidak tergantung pada bahan ajar/media lain, atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar/media lain. Dengan menggunakan modul, peserta didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih menggunakan dan bergantung pada bahan ajar lain selain modul yang digunakan, maka bahan ajar tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang berdiri sendiri.

d. Adaptif

Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes digunakan di berbagai perangkat keras (hardware).


(35)

16

Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly atau bersahabat/akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum digunakan, merupakan salah satu bentuk user friendly.

Jadi dalam modul yang dikembangkan dalam penelitian ini mengandung unsur-unsur, yaitu:

a) Self Instruction

Pada modul ini dapat digunakan siswa untuk kegiatan pembelajaran secara mandiri karena modul ini memuat tujuan pembelajaran yang jelas, memuat materi pembelajaran, tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung, terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya, kontekstual, menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, dan terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik.

b) Self Contained

Pada modul pembelajaran IPA ini termuat seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan.

c) Adaptif

Modul pembelajaran IPA ini dapat disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

d) Bersahabat/Akrab (User Friendly)

Pada modul pembelajaran IPA ini disusun menggunakan bahasa yang komunikatif dan sederhana sehingga siswa dapat memahami materi yang ada


(36)

17

pada modul. Selain itu, modul ini juga dilengkapi dengan panduan penggunaan modul serta petunjuk kerja, sehinggan siswa kemungkinan besar tidak mengalami kebingungan saat menggunakannya.

2.1.4.3 Prinsip Modul

Ada enam belas prinsip milik Tomlinson (1998: 7-21) untuk mengembangkan bahan pembelajaran yaitu:

1. Materials should achieve impact

2. Materials should help learners to feel at ease

3. Materials should help learners to develop confidence

4. What is being taught should be perceived by learners as relevant and useful 5. Materials should require and facilitate learner self-investment

6. Learners must be ready to acquire the points being taught 7. Materials should expose the learners to language in authentic

8. The learners attention should be drawn to linguistic features of the input 9. Materials should provide the learners with opportunities to use the target language

to achieve communicative purposes

10. Materials should take into account that the positive effects of instruction are usually delayed

11. Materials should take into account that learners differ in learning styles 12. Materials should take into account that learners differ in affective attitudes 13. Materials should permit a silent period at the beginning of instruction

14. Materials should maximize learning potential by encouraging intellectual, aesthetic and emotional involvement which stimulates both right and left


(37)

18

15. Materials should not rely too much on controlled practice 16. Materials should provide opportunities for outcome feedback

Berdasarkan keenam belas prinsip pengembangan bahan milik Tomlinson, peneliti hanya menggunakan 9 prinsip untuk mengembangkan bahan berupa modul pembelajaran IPA. Berikut ini adalah kesembilan prinsip yang digunakan peneliti untuk mengembangkan modul:

1. Materials should achieve impact

Bahan harus mencapai dampak. Dampak dicapai ketika bahan memiliki efek yang nyata pada peserta didik, yaitu ketika rasa ingin tahu peserta didik, minat, dan perhatian tertarik. Lebih lanjut, dikatakan bahwa bahan dapat mencapai dampak ketika bahan yang dikembangkan itu baru, bervariasi, disajikan menarik, dan konten menarik.

2. Materials should help learners to develop confidence

Bahan harus membantu siswa untuk mengembangkan kepercayaan diri. Banyak peserta didik cepat merasa tenang dan percaya diri jika mereka berpikir bahwa bahan-bahan yang mereka pelajari tidak terlalu sulit tapi hanya satu langkah lebih jauh atau lebih sulit daripada yang mereka kuasai. 3. What is being taught should be perceived by learners as relevant and useful

Bahan yang diajarkan harus dirasa sebagai yang relevan dan berguna bagi siswa.

4. Materials should require and facilitate learner self-investment

Bahan semestinya diperlukan dan memfasilitasi peserta didik dalam belajar. 5. Materials should take into account that learners differ in learning styles


(38)

19

Bahan harus memperhitungkan bahwa peserta didik berbeda dalam gaya belajar. Tidak semua peserta didik memiliki gaya belajar yang sama.

6. Materials should take into account that learners differ in affective attitudes Bahan harus memperhitungkan bahwa peserta didik berbeda dalam sikap afektif. Sikap peserta didik bervariasi. Idealnya siswa akan membutuhkan motivasi yang kuat dan konsisten, agar tumbuh perasaan positif terhadap guru mereka, sesama peserta didik mereka, dan bahan-bahan yang mereka pelajari. Untuk mencapai kenyataan ini, bahan harus menyediakan pilihan dari berbagai jenis kegiatan.

7. Materials should maximize learning potential by encouraging intellectual, aesthetic and emotional involvement which stimulates both right and left brain activities

Bahan harus memaksimalkan potensi belajar dengan melibatkan kecerdasan, estetika (kepekaan terhadap seni dan keindahan) dan emosional yang dapat merangsang kegiatan otak kanan dan kiri.

8. Materials should not rely too much on controlled practice

Bahan sebaiknya tidak bergantung terlalu banyak pada kebiasaan dikendalikan.

9. Materials should provide opportunities for outcome feedback Bahan harus memberikan kesempatan untuk umpan balik hasil. 2.1.6 Pembelajaran

Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan (Trianto, 2010:17). Pembelajaran secara simpel


(39)

20

dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Pembelajaran dalam makna kompleks adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarhkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangkan mencapai tujuan yang diharapkan. Disisi lai Sagala (61: 2009) berpendapat bahwa pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Berdasarkan kedua pendapat ahli tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan membelajarkan siswa dengan mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar.

2.1.7 IPA

2.1.7.1 Hakikat IPA

IPA merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam. Kata-kata Ilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan dari kata-kata Bahasa Inggris Natural Science secara singkat sering disebut Science (Iskandar, 2001:2). Natural artinya alamiah, berhubungan, dengan alam atau bersangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi menurut Iskandar, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science itu secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam ini.

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1), IPA termasuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelompok mata pelajaran ini dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri.


(40)

21

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007, mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang diajarkan di SD. Tujuan mata pelajaran IPA di SD/MI menurut BSNP (2006:162) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya

2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

2.1.7.2Materi IPA tentang Lingkungan Sehat dan Lingkungan Tidak Sehat Penelitian ini ditujukan pada siswa kelas IIIB semester gasal dengan Standar Kompetensi (SK) 2. Memahami kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap


(41)

22

kesehatan, dan upaya menjaga kesehatan lingkungan, dan dengan Kompetensi Dasar (KD) 2.2 Mendeskripsikan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan. Serta dibatasi pada materi lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat. 2.1.8 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum merupakan salah satu elemen penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oliva (dalam Sanjaya, 2010:8) menyatakan bahwa kurikulum pada dasarnya adalah suatu perencanaan atau program pengalaman siswa yang diarahkan sekolah. Dilain pihak dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dari dua pendapat diatas dapat diartikan bahwa kurikulum memiliki peran yang begitu penting dalam sebuah pembelajaran.

Salah satu kurikulum yang dijadikan pedoman dalam kegiatan belajar di SDN Perumnas Condongcatur adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Sanjaya, 2010: 128). Konsep kurikulum operasional menurut Sanjaya yakni, (1) Sebagai kurikulum yang bersifat operasional maka dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketetapan-ketetapan yang telah disusun pemerintah secara nasional, (2) Sebagai kurikulum operasional, para pengembang KTSP, dituntut dan harus memperhatikan ciri khas kedaerahan, sesuai dengan bunyiUndang-Undang No. 20 Tahun 2003 ayat 2, yakni bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan


(42)

23

prinsip diverifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, (3) Sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran, misalnya dalam mengembangkan strategi dan metode pembelajaran, dalam menentukan media pembelajaran, dalam menentukan evaluasi yang dilakukan termasuk dalam menentukan berapa kali pertemuan dan kapan suatu topik materi harus dipelajari siswa agar kompetensi dasar yang telah ditentukan dapat tercapai. Jadi dengan digunakannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini mampu mengembangkan potensi siswa, kecerdasan dan minat sesuai dengan perkembangan dan kemampuan peserta siswa, serta karakteristik daerah dan lingkungan tempat tinggal siswa.

2.1.9 Sikap Peduli Lingkungan

Sikap peduli terdiri dari kata sikap dan peduli. Kata sikap diartikan perbuatan yang berdasarkan pada pendirian atau keyakinan, kata peduli diartikan mengindahkan, memperhatikan atau menghiraukan, dan kata lingkungan diartikan daerah atau kawasan yang termasuk di dalamnya (KBBI, 2009). Berdasarkan tiga arti kata tersebut, sikap peduli dapat diartikan sebagai perbuatan yang berdasarkan pada pendirian atau keyakinan untuk memperhatikan keadaan sekeliling.

Narwanti (dalam Handayani, 2013:26) mengungkapkan bahwa sikap peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Sedangkan menurut Handayani sendiri, sikap peduli lingkungan berarti sikap yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari


(43)

24

untuk melestarikan, memperbaiki dan mencegah kerusakan dan pencemaran lingkungan. Kedua pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap peduli lingkungan merupakan sikap yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari untuk melestarikan, memperbaiki, dan mencegah kerusakan lingkungan.

2.1.10 Indikator Sikap Peduli Lingkungan

Emil Salim (dalam Handayani, 2013:30-31), menyebutkan hal-hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut.

1. Peningkatan kesehatan lingkungan yang menyangkut usaha kebersihan selokan, tempat mandi-cuci-kakus, terpeliharanya sumur air minum.

2. Kebersihan dalam rumah, termasuk jendela yang bisa memasukkan sinar matahari, kebersihan dapur.

3. Usaha hemat energi, seperti:

a. Menghemat pemakaian aliran listrik dengan memadamkan lampu- lampu yang tidak diperlukan pada waktu tidur, serta segera memadamkan lampu pada pagi hari

b. Mengehmat pemakaian air, jangan sampai ada kran ataupun tempat air (bak) yang bocor, ataupun dibiarkan mengalir/menetes terus.

4. Pemanfaatan kebun atau pekarangan dengan tumbuh-tumbuhan yang berguna, penanaman bibit tumbuh-tumbuhan untuk penghijauan, rumah dan halaman diusahakan sebersih dan seindah mungkin sehingga merupakan lingkungan yang sehat dan menyenangkan bagi keluarga


(44)

25

5. Penanggulangan sampah, memanfaatkan kembali sampah organis, dan mendaur ulang (recycling) sampah anorganis (botol, kaleng, plastik, dan lain-lainnya) melalui tukang loak atau yang serupa.

6. Mengembangkan teknik biogas, memanfaatkan sampah hewan, manusia dan kotoran dapur, untuk dibiogaskan sebagai sumber energi untuk dimasak 7. Meningkatkan keterampilan sehingga dapat memanfaatkan bahan tersedia, sisa

bahan, atau bahan bekas, lalu turut mendaur-ulang berbagai bahan berkali-kali, seperti merangkai bunga dari bahan sisa, dan sebagainya.

Berdasarkan tujuh indikator yang dipaparkan diatas, peneliti mengambil satu indikator yaitu peningkatan kesehatan lingkungan yang menyangkut usaha kebersihan selokan, tempat mandi-cuci-kakus, terpeliharanya sumur air minum.

2.1.11 Hasil Wawancara Penggiat PSL

Pak Gatot adalah salah satu penggiat PSL, beliau mulai menekuni kegiatan pelestarian lingkungan sejak tahun 2004. Alasan pak Gatot menekuni kegiatan ini karena dari dulu sejak belum tegabung dalam PSL sudah dekat dengan lingkungan, dan motivasinya adalah menjaga lingkungan seperti menjaga dirinya sendiri. Kegiatan yang dilakukan pak Gatot di PSL ini sangat beragam, mulai dari menanam bibit pohon, ikut menangkarkan burung kakak tua, pasar legawa, kafe, dan yoga ketawa. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan di PSL ini, ada keuntungan tersendiri bagi pak Gatot, yaitu menambah relasi sosial.

Pak Gatot memandang bahwa kondisi lingkungan yang terjadi pada saat ini adalah baik, beliau tidak bisa menyimpulkan lingkungan ini rusak, karena cara


(45)

26

pandang setiap orang terhadap keadaan lingkungan berbeda-beda. Kerusakan lingkungan sendiri terjadi karena campur tangan manusia. Hal itu karena pemikiran seseorang sejak kecil. Pola pikir yang terbentuk sejak kecil seperti membuang sampah sembarangan lama kelamaan akan tumbuh membesar, dan dari situlah manusia mulai merusak lingkungan. Selain itu kerusakan lingkungan juga dapat terjadi karena banyaknya kebutuhan pada manusia, karena semakin banyak kebutuhan manusia yang diperlukan maka akan semakin banyak pula hasil alam yang diambil sehingga lingkungan menjadi tidak seimbang dan rusak. Bentuk keprihatinan pak Gatot untuk mengurangi perusakan lingkungan sendiri adalah dengan mencoba untuk menanam tanaman.

Sebagai makhluk yang hidup di bumi sudah selayaknya manusia menjaga lingkungan, hal ini sesuai dengan perintah Tuhan. Pak Gatot berpendapat bahwa manusia sudah menjaga lingkungan dengan baik, karena jika tidak ada yang menjaga lingkungan maka manusia tidak akan hidup sampai saat ini. Memang di dunia ini tidak sepenuhnya manusia menjaga lingkungan. Sebagian ada yang merusak lingkungan dan sebagian lagi ada yang menjaga lingkungan. Perumpamaan semua manusia yang hidup di bumi merusak lingkungan maka keadaan lingkungan pasti akan berubah.

Berkembangnya teknologi yang saat ini semakin maju dan meningkat pesat memberi juga dampak positif dan dampak negatif bagi lingkungan. Dampak positif teknologi bagi lingkungan misalnya media sosial seperti facebook. Facebook dapat digunakan untuk menginformasikan berita-berita tentang kerusakan lingkungan. Melalui facebook, informasi-informasi seperti kerusakan lingkungan disuatu


(46)

27

tempat akan cepat tersebar luas dan berita tersebut akan mudah direspon oleh banyak pihak. Sementara dampak negatifnya facebook digunakan untuk hal-hal tidak berguna seperti curhat.

Pak Gatot melihat bahwa segala tindakan manusia selalu berhubungan dengan lingkungan, karena manusia merupakan bagian dari lingkungan. Cara menjaga lingkungan agar tetap lestari menurut pak Gatot melalui PSL ini adalah dengan mengajarkan pada orang lain mengenai lingkungan. Misalnya seperti kegiatan yang pernah dilakukan beliau, yaitu menanam pohon, mengadakan pelatihan cara merawat tanaman, menyediakan lahan untuk berkebun, mengadakan pasar legawa yang bertujuan untuk mengundang masyarakat sekitar untuk datang ke PSL, dan melakukan penelitian pada kerusakan lingkungan. Selain itu, cara agar lingkungan tetap terjaga dan tidak dirusak oleh manusia maka pihak negara juga ikut andil dalam menjaga lingkungan, yaitu melalui peraturan perundang-undangan. Sehingga melalui kegiatan tersebut secara sederhana dapat mengajak masyarakat untuk cinta terhadap lingkungan, karena di dalamnya dikenalkan tentang tumbuhan dan bagaimana cara merawatnya. Sehingga diibaratkan jika seseorang semasa kecilnya sudah mengenal lingkungan yang asri dan sejuk, maka ketika dewasa ia merasa bahwa lingkungan tidak seperti yang dulu lagi (asri dan sejuk), maka ia akan mencoba untuk menjaganya agar bisa merasakan seperti yang dulu lagi.


(47)

28

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan

2.2.1 Penelitian yang Relevan tentang Modul

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Theresia Dwi Kurniawati (2016). Tujuan utama penelitian tersebut adalah menghasilkan suatu produk berupa modul praktikum IPA sebagai suplemen kurikulum 2013 untuk mendorong berpikir kritis siswa kelas IV Sekolah Dasar. Jenis penelitian ini adalah research and development (R&D) yang menggunakan prosedur pengembangan Borg & Gall dalam Sanjaya tetapi hanya sampai pada langkah 7. Hasil penelitian berdasarkan validasi produk oleh Guru kelas IV SD Kanisisus Ganjuran, 4 siswa kelas IV SDN 1 Bareng Lor Klaten, 19 siswa kelas IV SD Kanisius Ganjuran dari keseluruhan hasil validasi tersebut, diperoleh rata-rata skor 3,3 dengan kategori layak. Dengan demikian, produk yang dikembangkan dapat dikatakan layak untuk digunakan sebagai bahan ajar untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar pada mata pelajaran IPA.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Rismawati Halawa (2016). Tujuan utama pada penelitian ini adalah mengembangkan produk berupa modul tanaman obat “Daun Ajaib” untuk kelas V sekolah dasar agar mereka dapat mengetahui pentingnya melestarikan tanaman obat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D). Penelitian ini menggunakan enam langkah dari Sugiyono yang meliputi: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Hasil penelitian berdasarkan uji coba modul pada 27 siswa kelas V di SDN No.075046


(48)

29

Lolofitu Kabupaten Nias Barat, kualitas modul yang dikembangkan mendapat skor rata-rata 4,55 yang berarti sangat baik dan sangat layak digunakan.

Berdasarkan kedua penelitian relevan diatas dapat dilihat bahwa modul yang dikembanga berupa modul praktikum IPA dan modul tanaman obat. Maka dari itu, peneliti mengembangkan modul Ayo Cintai Lingkungan berbasis pendidikan emansipatoris untuk siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur. 2.2.2 Penelitian yang Relevan tentang Sikap Peduli Lingkungan

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2013). Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui langkah-langkah implementasi pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam pembelajaran IPA yang dapat meningkatkan sikap peduli lingkungan siswa kelas IV.1 di SD N Keputran “A”. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas IV yang berjumlah 28 siswa. Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus tindakan. Instrumen-instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi sikap peduli lingkungan siswa, lembar observasi aktivitas guru dalam menerapkan pendekatan STM, lembar observasi peran guru dalam menanamkan sikap peduli lingkungan, dan angket sikap peduli lingkungan siswa. Hasil penelitian pada siklus I belum mencapai kriteria keberhasilan, karena berdasarkan lembar observasi siklus I menunjukkan bahwa sikap peduli lingkungan sebesar 75% siswa pada kategori sedang dan hasil angket menunjukkan sebesar 25% siswa berada pada kategori tinggi. Kemudian hasil penelitian pada siklus II sebanyak 27 siswa (96,43%) berada pada kategori tinggi dan sebanyak 1 siswa (3,57%) berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil angket siklus II, sebanyak 27 siswa (96,43%) berada pada kategori tinggi dan


(49)

30

sebanyak 1 orang siswa (3,57%) berada pada kategori sedang. Hasil yang diperoleh pada siklus II telah mencapai kriteria keberhasilan sehingga tindakan dihentikan pada siklus tersebut.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Kresnawati (2013). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) korelasi kualitas pembelajaran Georafi dengan sikap peduli lingkungan, (2) korelasi hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan, (3) korelasi kualitas pembelajaran Geografi dengan hasil belajar, (4) korelasi secara serempak kualitas pembelajaran Georafi dan hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan. Data dikumpulkan melalui angket dan tes dari 72 siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Ponorogo, dianalisis dengan regresi. Hasil penelitian adalah (1) adanya korelasi positif kualitas pembelajaran Geografi terhadap sikap peduli lingkungan, (2) terdapat korelasi positif hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan, (3) tidak ada korelasi yang signifikan kualitas pembelajaran Geografi dengan hasil belajar, (4) terdapat korelasi secara serempak kualitas pembelajaran Geografi dan hasil belajar terhadap sikap peduli lingkungan.

Berdasarkan kedua penelitian relevan di atas dapat dilihat bahwa penanaman sikap peduli lingkungan dilakukan dengan pendekatan STM dan korelasi kualitas pembelajaran, sehingga belum ada penanaman sikap peduli lingkungan dengan modul ayo cintai lingkungan berbasis pendidikan emansipatoris. Maka dari itu, peneliti mengembangkan modul Ayo Cintai Lingkungan berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.


(50)

31

2.3 Kerangka Berpikir

Kerusakan lingkungan kini banyak terjadi di berbagai daerah, terutama diperkotaan. Sebagian besar kerusakan lingkungan itu disebabkan oleh ulah manusia. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya lingkungan sehat.

Salah satu cara untuk mengatasi kerusakan lingkungan adalah dengan menanamkan sikap peduli lingkungan pada anak sejak dini. Sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya menanamkan sikap peduli lingkungan sejak dini yaitu dengan mengajarkan pentingnya lingkungan sehat. Mengajarkan pentingnya lingkungan sehat pada siswa sangat perlu untuk menumbuhkan sikap peduli lingkungan pada siswa, karena sikap tersebut dapat mencegah terjadinya tindakan perusakan lingkungan. Selain itu, cara yang digunakan dalam mengajarkannya juga bagian terpenting. Untuk itu perlu digunakan sebuah pendidikan yang mampu mempengaruhi cara berpikir siswa sekaligus dapat menarik perhatian siswa dan memenuhi kebutuhan perkembangan siswa.

Pendididikan emansipatoris merupakan pendidikan yang dapat memberdayakan siswa dan mampu memenuhi kebutuhan perkembangan siswa, sehingga pendidikan ini akan menjadikan manusia secara utuh. Selain itu, pendidikan ini juga dapat diterapkan dalam berbagai kurikulum atau dipadukan dengan berbagai model pembelajara, karena pendidikan emansipatoris ini adalah sebuah gaya belajar. Untuk itu peneliti menyusun sebuah modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.


(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (3) validasi, (4) instrumen penelitian, (5) teknik pengumpulan data, dan (6) teknik analisis data

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Reseach and Development). Penelitian dan pengembangan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk meneliti, merancang, memproduksi dan menguji validitas produk yang telah dihasilkan (Sugiyono, 2016:30). Produk yang dihasilkan berupa modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris pada materi Lingkungan Sehat dan Lingkungan Tidak Sehat kelas IIIB Sekolah Dasar. Untuk menghasilkan produk yang baik perlu digunakan prosedur yang baik pula, yaitu mulai dari analisis kebutuhan hingga implementasi dan evaluasi, sehingga produk yang dihasilkan dapat berguna sesuai dengan kebutuhan.

3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Perumnas Condongcatur yang beralamat di Jalan Flamboyan No. 11 Perumnas, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. SD Negeri ini didirikan pada tahun 1982. Saat ini SDN Perumnas dipimpin oleh


(52)

33

kepala sekolah yang bernama Mukija, S.Pd.SD, dan jumlah murid keseluruhannya adalah 449 siswa. Alasan peneliti melakukan penelitian di SD N Perumnas 3, karena di sini masih kurang diajarkan mengenai sikap peduli lingkungan. Selain itu, pengajaran mengenai materi IPA masih minim menggunakan cara belajar yang menarik. Sehingga keadaan tersebut sangat cocok untuk kegiatan penelitian. 3.2.2 Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas III SD. Akan tetapi, kelas III SD yang digunakan sebagai penelitian terdapat 3 kelas, yaitu A, B, dan C sehingga peneliti memilih salah satu kelas yaitu III B. Siswa kelas III B total keseluruhan berjumlah 23 siswa dengan 11 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Peneliti memilih kelas III B karena kelas ini kurang suka dengan kegiatan pembelajaran yang hanya menggunakan LKS/buku paket dan tidak menggunakan media pembelajaran. Jadi peneliti merekomendasikan kelas ini sebagai subjek penelitian. 3.2.3 Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.

3.2.4 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September 2016 hingga Januari 2017. Secara keseluruhan, penelitian ini dilakukan melalui 15 tahap, antara lain: (1) observasi dokumen kurikulum, (2) wawancara dengan siswa kelas IIIB, (3) mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (4) membuat woorksheet analisis kebutuhan, (5) studi pustaka bab I sampai bab III, (6) membuat silabus, (7)


(53)

34

membuat RPP, (8) Membuat modul, (9) validasi modul, (10) revisi modul, (11) implementasi modul di SD, (12) mengolah data hasil penelitian, (13) penyusunan bab IV dan bab V, (14) persiapan ujian, (15) ujian skripsi.

3.3 Prosedur Pengembangan

Penelitian ini menghasilkan sebuah produk berupa modul Pembelajaran IPA. Produk dihasilkan dengan mengunakan prosedur pengembangan menurut Tomlinson yang sudah diadaptasi dan dimodifikasi. Langkah prosedurnya dimulai

Bagan 3.1 Prosedur Pengembangan Modul Pembelajaran IPA Berbasis Pendidikan Emansipatoris

Analisis Kebutuhan Dokumen

kurikulum

Latar belakang siswa

Analisis Kebutuhan SK & KD

Revisi

Implementasi Desain

Indikator Menyusun RPP Menyusun Modul

Validasi Modul


(54)

35

dari analisis kebutuhan, desain, revisi, implementasi, dan evaluasi. Berikut ini peneliti akan menjelaskan bagan prosedur pengembangan dari langkah kesatu hingga langkah kelima.

Langkah 1, peneliti melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan sebagai acuan dalam pembuatan modul. Pertama peneliti melakukan pengumpulan data yaitu berupa latar belakang siswa kelas IIIB di SDN Perumnas CC, visi dan misi sekolah, dan kurikulum yang digunakan disekolah, serta gaya belajar yang digunakan. Latar belakang siswa diperoleh melalui observasi dan wawancara tertulis. Visi dan misi sekolah serta kurikulum yang digunakan diperoleh dengan observasi, dan gaya belajar yang digunakan guru diperoleh dengan wawancara.

Setelah melakukan pengumpulan data, peneliti menganalisis data yang diperoleh, kemudian memilih Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Standar Kompetensi yang peneliti pilih yaitu SK. 2. Memahami kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan, dan upaya menjaga kesehatan lingkungan dengan Kompetensi Dasar 2.2 Mendeskripsikan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan.

Langkah 2, peneliti melakukan desain. Proses desain diawali dengan membuat sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan desain dari modul. RPP ini digunakan sebagai dasar pembuatan modul pembelajaran IPA, dan modul ini dikembangkan dengan mangadaptasi sembilan dari enambelas prinsip pengembangan bahan milik tomlinson, yaitu 1) Materials should achieve impact, 2) Materials should help learners to develop confidence, 3) What is being taught


(55)

36

should be perceived by learners as relevant and usefu, 4) Materials should require and facilitate learner self-investment, 5) Materials should take into account that learners differ in learning styles, 6) Materials should take into account that learners differ in affective attitudes, 7) Materials should maximize learning potential by encouraging intellectual, aesthetic and emotional involvement which stimulates both right and left brain activities, 8) Materials should not rely too much on controlled practice, 9) Materials should provide opportunities for outcome feedback. Kemudian modul tersebut divalidasikan kepada dua ahli modul untuk memperoleh kritik dan saran serta penilaian modul yang dikernbangkan oleh peneliti.

Langkah 3,peneliti melakukan revisi. Revisi diakukan pada bagian modul yang dikritik dan diberikan saran oleh dua validator.

Langkah 4, peneliti melakukan implementasi. Setelah modul direvisi, modul diimplementasikan pada seluruh siswa kelas IIIB di SDN Perumnas CC. Modul tersebut digunakan sebagai acuan kegiatan belajar selama 2 kali pertemuan, dan setelahnya pembagian kuesioner.

Langkah 5, peneliti melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan pada kegiatan belajar dan pembagian kuesioner. Hasil evaluasi kegiatan pembelajaran digunakan sebagai acuan untuk merevisi modul, dan hasil kuesioner digunakan sebagai penilaian terhadap kualitas modul.

3.4 Validasi


(56)

37

pembelajaran IPA berbasis emansipatoris dilakukan validasi pada dua ahli, yaitu ahli Bahasa dan ahli IPA. Validator Bahasa memberikan komentar dan saran pada penulisan atau bahasa pada modul, sedangkan validator IPA memberikan komentar dan saran pada materi IPA yang tercantum pada modul. Kemudian komentar dan saran tersebut dijadikan sebagai bahan acuan dalam melakukan revisi modul.

3.5 Instrumen Penelitian

3.6.1 Instrumen Analisis Kebutuhan

Instrumen penelitian yang digunakan untuk melakukan analisis kebutuhan adalah wawancara tertulis dan observasi. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai latar belakang siswa kelas IIIB di SD perumnas CC, sedangkan observasi digunakan untuk mengumpulkan data seperti kurikulum yang digunakan, visi dan misis sekolah, dan gaya belajar yang digunakan dikelas. Berikut ini adalah pedoman yang digunakan untuk wawancara tertulis dan observasi.

Tabel 3.1 Pedoman Wawancara Siswa

No Garis Besar Pertanyaan

1 Pekerjaan orang tua 2 Letak tempat tinggal

3 Kebiasaan membuang sampah 4 Kebiasaan buruk di kelas 5 Cara merawat tanaman

6 Cara menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat

Tabel 3.2 Pedoman Observasi

No Garis Besar Observasi

1 Kurikulum yang digunakan 2 Visi dan misi sekolah


(57)

38

3.5.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli

Instrumen validasi ahli digunakan sebagai alat ukur kualitas modul. Pada penelitian ini akan digunakan angket dengan skala Likert. Skala Likert merupakan skala yang berisi lima tingkat jawaban mengenai kesetujuan responden terhadap statemen atau pernyataan yang dikemukakan mendahului opsi jawaban yang disediakan (Hadi, 1991:19). Menurut Sugiyono (2015: 93), jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Tingkatan gradasi jawanan pada angket ini antara lain adalah (1) sangat kurang, (2) kurang, (3) cukup, (4) baik, (5) sangat baik. Validasi produk menggunakan angket ini dilakukan oleh ahli modul dan ahli pelajaran IPA. Pernyataan dalam angket berjumlah 10 butir dan disusun berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut.

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Validasi Modul

No Aspek Indikator No

Pernyataan

I. Kelayakan isi

Kesesuaian materi dengan SK dan KD 1, 2, 3

Keakuratan materi 4, 5, 6, 7, 8,

9

Pendukung materi pelajaran 10, 11

II. Kelayakan penyajian

Teknik penyajian 12, 13

Pendukung penyajian 14, 15, 16,

17

III. Bahasa

Lugas 18, 19

Komunikatif 20, 21

Dialogis dan interaktif 22, 23

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan


(58)

39

3.5.3 Instrumen Implementasi

Instrumen uji coba lapangan digunakan lembar observasi kegiatan pembelajaran dan kuesioner validasi siswa. Lembar observasi digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian menarik saat kegiatan pembelajaran dilakukan. Sedangkan kuesioner tertutup yang akan diberikan kepada siswa setelah pembelajaran selesai. Jumlah aitem yang akan digunakan dalam kuesioner sebanyak 10 aitem. Pihak yang terlibat langsung dalam pengujian ini adalah seluruh siswa kelas IIIB sebanyak 26 orang.

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Modul

No Pernyataan Skor Komentar

1 2 3 4 5

1 Saya memahami bahasa yang digunakan pada modul ayo cintai lingkungan

2 Saya memahami dengan jelas langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang ada di modul ayo cintai lingkungan. 3 Ukuran dan jenis huruf yang terdapat

pada modul ayo cintai lingkungan dapat saya baca dengan jelas.

4 Gamabar yang terdapat pada modul ayo cintai lingkungan membuat saya tertarik dengan yang diajarkan.

5 Gamabar yang terdapat pada modul ayo cintai lingkungan membuat saya paham dengan yang diajarkan.

6 Isi yang terdapat pada modul ayo cintai lingkungan mudah saya pahami.

7 Modul ayo cintai lingkungan


(59)

40

No Pernyataan Skor Komentar

1 2 3 4 5

8 Dengan modul ayo cintai lingkungan membuat saya lebih aktif dalam belajar. 9 Dengan modul ayo cintai lingkungan membuat saya lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan

10 Dengan modul ayo cintai lingkungan saya lebih mudah memahami materi pelajaran.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa observasi, wanacara, uji coba , dan modul pembagian kuesioner. Observasi dan wawancara dilakukan pada seluruh siswa kelas IIIB dengan tujuan untuk melakukan analisis kebutuhan. Data yang diperoleh kemudian diolah dan hasilnya dijadikan sebagai dasar penyusunan modul. Setelah itu, dilakukan uji coba modul dan pembagian kuesioner pada siswa kelas IIIB, dan hasilnya digunakan peneliti untuk membantu revisi atas produk yang telah dibuat.

3.7 Teknik Analisis Data

3.7.1 Kuesioner Validasi Ahli Modul

Jumlah pernyataan yang digunakan dalam angket validasi ahli modul adalah 25 aitem. Soal yang diberikan berupa tes uraian. Data pengisian angket akan diubah menjadi data interval. Kemudian data interval dianalisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban responden (Widoyoko, 2012:111).


(60)

41

Untuk menentukan rerata skor tersebut termasuk klasifikasi setuju atau tidak setuju terlebih dahulu disusun tabel klasifikasi sikap responden. Adapun aturan untuk menyusun tabel klasifikasi, yaitu dicari skor tertinggi, skor terendah, jumlah kelas, dan jarak dan interval.

Skor tertinggi (ideal) = 5 (sangat baik)

Skor terendah = 1 (sangat kurang baik)

Jumlah kelas = 5 (sangat kurang baik sampai sangat baik) Jumlah interval = (5-1)/5 = 0,8

Berdasarkan data tersebut dapat disusun tabel klasifikasi sikap responden sebagai berikut:

Tabel 3.5 Klasifikasi Skor

Rerata Skor Jawaban Klasifikasi

> 4,2 s/d 5,0 Sangat Layak

> 3,4 s/d 4,2 Layak

> 2,6 s/d 3,4 Cukup Layak

> 1,8 s/d 2,6 Tidak Layak

1,0 s/d 1,8 Sangat Tidak Layak

3.7.2 Observasi

Observasi dilakukan saat implementasi modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris. Hasil observasi dicatat pada lembar observasi. Kemudian data hasil observasi akan dirangkum dalam bentuk deskriptif.

3.7.3 Kuesioner (Angket) Validasi Siswa

Jumlah pernyataan yang akan digunakan dalam kuesioner sebanyak 10. Pihak yang terlibat langsung dalam pengujian ini adalah seluruh siswa kelas IIIB


(61)

42

sebanyak 23 orang. Data pengisian kuesioner akan diubah menjadi data interval. Kemudian data interval dianalisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban responden (Widoyoko, 2012:111).

Untuk menentukan rerata skor tersebut termasuk klasifikasi setuju atau tidak setuju terlebih dahulu disusun tabel klasifikasi sikap responden. Adapun aturan untuk menyusun tabel klasifikasi, yaitu dicari skor tertinggi, skor terendah, jumlah kelas, dan jarak dan interval.

Skor tertinggi (ideal) = 5 (sangat baik)

Skor terendah = 1 (sangat kurang baik)

Jumlah kelas = 5 (sangat kurang baik sampai sangat baik) Jumlah interval = (5-1)/5 = 0,8

Berdasarkan data tersebut dapat disusun tabel klasifikasi sikap responden sebagai berikut:

Tabel 3.6 Klasifikasi Skor

Rerata Skor Jawaban Klasifikasi

> 4,2 s/d 5,0 Sangat Baik

> 3,4 s/d 4,2 Baik

> 2,6 s/d 3,4 Cukup

> 1,8 s/d 2,6 Kurang Baik


(62)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini kan dibahas (1) analisis kebutuhan, (2) pembuatan modul pembelajaran ipa berbasis pendidikan emansipatoris, (3) data hasil validasi modul dan revisi produk, (4) uji coba lapangan, (5) pembahasan.

4.1 Analisis Kebutuhan

Langkah awal peneliti dalam pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan oleh peneliti berdasarkan langkah-langkah pengembangan yang telah dijabarkan pada bab III. Peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan melakukan observasi dokumen kurikulum dan wawancara siswa.

Observasi dokumen kurikulum dilakukan untuk memperoleh data seperti visi dan misi sekolah, kurikulum yang digunakan disekolah, dan gaya belajar yang digunakan. Sedangkan wawancara siswa dilakukan untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa. Dari kedua data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris. 4.1.1 Hasil Observasi Dokumen Kurikulum dan Pembahasan

Observasi kurikulum yang dilakukan memperoleh tiga data yaitu berupa kurikulum yang digunakan, visi dan misi sekolah, dan gaya belajar yang digunakan di SDN Perumnas Condongcatur. Hasil data observasi tersebut akan dipaparkan berikut:


(63)

44

Pertama, kurikulum yang diterapkan di SDN Perumnas Condongcatur ada 2 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013. Untuk kelas I dan IV menggunkan kurikulum 2013, sedangkan kelas II, III, V, dan Vmenggunakan KTSP. Jadi kurikulum yang digunakan dalam penelitian ini adalah KTSP karena kurikulum tersebut diterapkan di kelas IIIB.

Kedua, visi SDN Perumnas Condongcatur ini adalah berkualitas, berbudaya, bertaqwa. Misinya, 1) Melaksanakan bimbingan secara efektif dalam proses pembelajaran agar siswa mampu mengembangkan potensi diri sendiri secara optimal, 2) Menumbuh kembangkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah, 3) Menumbuh kembangkan penghayatan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, 4) Menumbuh kembangkan sikap apresiatif terhadap budaya bangsa, 5) Menumbuh kembangkan penghayatan ajaran agama yang dianut siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, gaya belajar yang digunakan di kelas IIIB SDN Perumnas Condongcatur ini adalah teacher center atau bisa disebut pembelajaran berpusat pada guru.

Berdasarkan pemaparan hasil observasi dokumen kurikulum di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa kurikulum yang diterapkan di kelas IIIB SDN Perumnas Condongcatur adalah KTSP sehingga peneliti mengembangkan modul pembelajaran IPA untuk digunakan pada kurikulum ini. Kemudian gaya belajar yang digunakan dikelas IIIB adalah teacher center, sehingga gaya belajar ini masih kurang efektif untuk mengembangkan pribadi siswa, dan hal ini tidak sesuai dengan


(64)

45

visi nomor 1. Jadi pengembangan modul pembelajaran IPA ini akan dibasiskan dengan pendidikan emansipatoris, sehinga dapat merubah gaya belajarnya menjadi student center dan akan disesuaikan dengan visi nomor 1.

4.1.2 Hasil Wawancara Siswa Kelas IIIB dan Pembahasan

Wawancara yang dilakukan pada siswa kelas III SDN Perumnas Condongcatur adalah wawancara tertulis. Garis besar pertanyaan wawancara yaitu pekerjaan orang tua, letak tempat tinggal, kebiasaan membuang sampah, kebiasaan buruk dikelas, cara merawat tanaman, dan cara menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat. Berikut ini adalah kesimpulan dari hasil wawancara 26 siswa kelas IIIB SDN Perumnas Condongcatur:

Dari 26 siswa kelas IIIB, kebanyakan orangtuanya bekerja dibidang swasta. Tempat tinggal mereka kebanyakan di daerah perumahan. Jenis perumahan yang mereka tempati berbeda-beda. Ada yang tinggal di perumahan homogen (rata-rata penduduknya adalah orang kaya) dan ada yang tinggal di perumahan heterogen (penduduknya bervariasi, yaitu ada yang kaya dan ada yang pas-pasan).

Siswa kelas IIIB adalah siswa yang aktif akan tetapi mereka masih kurang dalam hal kebersihan terutama kebersihan di kelas. Kadang-kadang setiap pagi, orang tua siswa yang mengantar ikut membantu membersihkan kelas, kalau tidak guru harus marah-marah agar siswa membersihkan kelas. Di sisi lain, semua siswa kelas IIIB sudah tahu cara menjaga lingkungan yang benar dan cara merawat tanaman, misalnya seperti menyiram bunga dan membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, praktiknya masih kurang. Hal itu disebabkan karena mereka belum tahu secara nyata pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. Jadi


(65)

46

dari latar belakang tersebut peneliti akan mengembangkan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.

4.2 Desain Modul Pembelajaran IPA Berbasis Pendidikan Emansipatoris Peneliti melakukan beberapa langkah dalam pembuatan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris. Pertama, peneliti melakukan observasi terhadap visi dan misi sekolah, dan kurikulum yang digunakan di SD. Kemudian peneliti melakukan observasi kegiatan belajar pada kelas yang peneliti pilih yaitu kelas IIIB SDN Perumnas Condongcatur, serta melakukan wawancara tertulis pada siswa terkait dengan pekerjaan orangtua siswa, letak tempat tinggal siswa, kebiasaan membuang sampah, kegiatan buruk di kelas, cara merawat tanaman, dan cara mejaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat. Hasil data yang terkumpul kemudian dianalisis, dan hasilnya digunakan untuk pengkajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar Kompetensi yang peneliti pilih yaitu SK. 2. Memahami kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan, dan upaya menjaga kesehatan lingkungan dengan Kompetensi Dasar 2.2 Mendeskripsikan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan. Setelah itu, peneliti menyusun sebuah silabus dengan mempertimbangkan hasil analisi kebutuhan. Silabus tersebut kemudian digunakan sebagai acuan penyusunan RPP. RPP yang dihasilkan menjadi dasar untuk menyusun modul pembelajaran IPA.


(66)

47

Penyusunan modul Ayo Cintai Lingkungan dilakukan dengan menggunakan software microsoft office word 2010. Komponen-komponen modul yang dikembangkan peneliti yaitu 1) sampul modul, 2) kata pengantar, 3) daftar isi, 4) daftar gambar, 5) petunjuk penggunaan modul, 6) pendahuluan, 7) isi, dan 8) daftar pustaka.

1. Sampul Modul

Sampul modul bergambarkan sebatang pohon yang dibuat menggunakan software corel draw X7, dan di depan gambar pohon terdapat tulisan ayo cintai lingkungan. Pada gambar 4.1 berikut ini adalah penampakan sampul modul.

2. Kata Pengantar

Halaman kata pengantar berisikan maksud, tujuan, dan harapan mengenai modul.

3. Daftar Isi dan daftar Gambar

Daftar isi dan daftar gambar pada modul ini dibuat peneliti untuk memudahkan penggunanya dalam mencari halaman modul dan halaman gambar.


(67)

48

4. Petunjuk Penggunaan Modul

Pada halaman ini berisikan petunjuk penggunaan modul bagi siswa dan bagi guru. Fungsi petunjuk penggunaan modul ini adalah sebagai panduan dalam menggunakan modul sehingga penggunanya tidak mengalami kebingungan.

5. Pendahuluan

Pendahuluan berisiskan latar belakang , standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian KD, dan tujuan.

6. Isi Modul

Isi modul ini adalah materi mengenai lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat, dan materi mengenai dampak lingkungan tidak sehat bagi kesehatan. Materi tersebut juga dilengkapi gambar-gambar yang dapat menunjang materi. Selain itu, isi modul juga dilengkapi dengan serangkaian kegiatan yang dapat


(68)

49

memberi pengalaman yang nyata bagi penggunanya, yaitu seperti pengamatan, eksperimen, aksi lingkungan sehat, dan latihan soal.

7. Daftar Pustaka

Daftar pustaka berisi uraian referensi yang digunakan dalam penyusunan modul.

Modul pembelajaran IPA yang dikembangkan oleh peneliti juga disesuaikan dengan sembilan dari enam belas prinsip pengembangan bahan milik tomlinson. Prinsip pertama yakni bahan harus mencapai dampak. Jadi prinsip ini dapat dikatakan tercapai apabila modul pembelajaran IPA yang dikembangkan

Gambar 4.3 Materi


(69)

50

gambar 4.6 dan gambar 4.7 berikut ini adalah bukti bahwa modul pembelajara IPA memiliki dampak bagi siswa.

Prinsip kedua yakni bahan harus membantu peserta didik untuk mengembangkan kepercayaan diri. Pada gambar 4.6 dan gambar 4.7 merupakan salah satu bukti jika modul pembelajaran IPA yang dikembangkan peneliti dapat menumbuhkan kepercayaan diri, karena siswa menjadi berpikir bahwa bahan-bahan yang mereka pelajari tidak terlalu sulit dan mereka bisa mengikuti langkah-langkah kegiatan bereksperimen dengan lancar.

Prinsip ketiga yakni apa yang diajarkan bisa dirasakan oleh peserta didik sebagai yang relevan dan berguna. Gambar 4.8 berikut ini adalah bukti bahwa

Gambar 4.6 Panduan berksperimen Gambar 4.7 Kegiatan bereksperimen


(1)

114 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI


(2)

(3)

116

Lampiran 8


(4)

(5)

118

Dokuentasi Penelitian di SDN Perumnas Condongcatur

Lampiran 9


(6)

CURRICULUM VITAE

Dedy Anggit Harjanto lahir di Pekalongan, 11 Maret 1994. Sebelum menempuh pendidikan dasar, masuk ke Taman Kanak-kanak Indriarini Pokoh selama dua tahun, yaitu tahun 2000-2001. Pendidikan dasar ditempuh di SDN Pokoh I pada tahun 2002-2007. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri 2 Ngemplak terhitung dari tahun 2008 hingga 2010. Setamat pendidikan SMP, melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Ngemplak tahun 2010 dan dinyatakan lulus tahun 2013. Peneliti mulai tercatat sebagai mahasiswa aktif Universitas Sanata Dharma sejak tahun 2013, khususnya pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti beberapa macam kegiatan sebagai pengembangan keterampilan di luar perkuliahan wajib. Tahun 2014, peneliti mengikuti week and moral di Santikara dan mengikuti kuliah umum PGSD acara Indonesia Mengajar. Tahun 2015, peneliti kembali mengikuti

workshop pelatihan Metode Montessori. Pada tahun yang sama, peneliti tergabung dalam kepanitiaan Malam Kreatifitas PGSD 2015 sebagai divisi dekorasi.


Dokumen yang terkait

Pengembangan modul pembelajaran IPA kelas III eksistensial Sekolah Dasar berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan.

0 0 163

Pengembangan modul pembelajaran IPA untuk menumbuhkan sikap peduli lingkungan kelas IV di SD BOPKRI Gondolayu dengan pendekatan PPR.

1 2 148

Pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan pada siswa kelas IIIB di SDN Perumnas Condongcatur.

0 1 140

Pengembangan modul pembelajaran IPA kelas III humanis sekolah dasar berbasis pendidikan emasipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan.

0 2 190

Pengembangan modul pembelajaran dan LKS budidaya tanaman berdasarkan pendekatan Pendidikan Emansipatoris untuk siswa kelas IVA SDN No. 071094 Lologolu Kabupaten Nias Barat.

0 1 108

Peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis Matematika kelas IIIB pada materi operasi hitung campuran melalui model pembelajaran kontekstual SDN Perumnas Condongcatur.

0 4 421

Pengembangan modul pembelajaran IPA kelas III eksistensial Sekolah Dasar berbasis pendidikan emansipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan

3 10 161

Pengembangan modul pembelajaran IPA untuk menumbuhkan sikap peduli lingkungan kelas IV di SD BOPKRI Gondolayu dengan pendekatan PPR

0 0 146

Pengembangan modul pembelajaran IPA kelas III humanis sekolah dasar berbasis pendidikan emasipatoris untuk menanamkan sikap peduli lingkungan

0 1 188

PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK MEMBERDAYAKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN SISWA SMP/MTs KELAS VII - UNS Institutional Repository

0 1 17