Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.)

UJI DAYA TUMBUH BIBIT TEBU YANG TERSERANG
HAMA PENGGEREK BATANG BERGARIS
(Chilo sacchariphagus Bojer.)

SKRIPSI

OLEH :
IIN SUWITA
070302020
HPT

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UJI DAYA TUMBUH BIBIT TEBU YANG TERSERANG
HAMA PENGGEREK BATANG BERGARIS
(Chilo sacchariphagus Bojer.)

SKRIPSI

OLEH :
IIN SUWITA
070302020
HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di
Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.

Disetujui Oleh :
Komisi Pembimbing

( Ir. Yuswani P. Ningsih, MS. )
Ketua

( Ir. Fatimah zahara )
Anggota

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Iin Suwita, "Test of Sugarcane Seedlings Growing Power of sugarcane
internode borer (Chilo sacchariphagus Bojer.)" Under supervised by
Yuswani P. Ningsih and Fatimah Zahara. Sugarcane is the main ingredient of
sugar manufacture in Indonesia. One of the main pests of sugar cane crops include
sugar cane striped stem borer (C. sacchariphagus). Planting sugar cane that has
been infected with pests resulted in impaired growth of sugarcane pests in plants
and carried away. The aim of the research was to get ability to optimal grow
seedlings sugarcane (Saccharum officinarum L.) result at various intensity of
attacks sugarcane internode borer (C. sacchariphagus). The research has been
conducted in land Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang
in December 2010-March 2011. The method of this research used is a randomized
block design factorial which consisted of 2 factors: The first are the intensity of
attacks (healthy sugar cane, cane attacked by 20%, 40%, 60%, 80%, 100%) and
the second are thickness of soil cover (3 and 5 cm) with 12 combinations
treatments and three replications.
The results showed that treatment intensity (%), soil cover thickness and
intensity of interaction with a thickness of soil cover significantly increased the
percentage of germination (%). Treatment intensity and thickness of soil cover
was significantly different whereas the intensity of interaction with the thickness
of soil cover was not significantly different to the number of tillers per hill.
Treatment intensity and thickness of soil cover was significantly different
whereas the intensity of interaction with the thickness of soil cover was not
significantly different to the plant height. Treatment intensity significantly
different attacks while the thickness of soil cover and intensity of interaction
with the thickness of soil cover was not significantly different to the intensity of
shoots attacked .The highest percentage of germination of sugarcane found on
I0K1 treatment (healthy cane with 3 cm thickness of soil cover) of 100% and
lowest in treatment I5K2 (cane attacked by 100% with 5 cm thickness of soil
cover) of 11.11%. The number of tillers per hill highest sugarcane found on
healthy sugarcane plants (I0) is 9.14 and the lowest number of tillers per hill in
planting sugar cane with the intensity of attacks by 100% (I5) is 6.72. Higher
plants have the highest sugar cane on healthy sugarcane plants (I0) is 68.85 and
the lowest plant height at planting sugar cane with the intensity of attacks by
100% (I5) is 11.95. The intensity of shoots attacked (%) at the highest sugarcane
found on sugar cane plants with the intensity of attacks by 80% (I4) which is
20.37% and the intensity of shoots attacked (%) lowest in healthy sugarcane
cultivation (I0) is 0.00%.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Iin Suwita, “Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama
Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) ” di bawah bimbingan
Yuswani P. Ningsih dan Fatimah Zahara. Tebu merupakan bahan baku utama
pembuatan gula di Indonesia. Salah satu hama utama tanaman tebu antara lain
adalah penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus). Penanaman tebu yang
telah terinfeksi hama mengakibatkan tanaman tebu terganggu pertumbuhannya
dan terbawa hama pada tanamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
daya tumbuh bibit tebu (Saccharum officinarum L.) yang optimal pada berbagai
intensitas serangan hama penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus).
Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Riset dan Pengembangan Tanaman
Tebu, Sei Semayang pada bulan Desember 2010-Maret 2011. Metode yang
digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor
yaitu intensitas serangan (tebu sehat, tebu terserang 20%, 40%, 60%, 80%, 100%)
dan ketebalan penutup tanah (3 dan 5 cm) dengan 12 kombinasi perlakuan dan
tiga ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan intensitas serangan (%),
ketebalan penutup tanah dan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan
penutup tanah berbeda nyata terhadap persentase perkecambahan (%). Perlakuan
intensitas serangan dan ketebalan penutup tanah berbeda nyata sedangkan
interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata
terhadap jumlah anakan per rumpun. Perlakuan intensitas serangan dan ketebalan
penutup tanah berbeda nyata sedangkan interaksi intensitas serangan dengan
ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan
intensitas serangan berbeda nyata sedangkan ketebalan penutup tanah dan
interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata
terhadap intensitas tunas terserang. Persentase perkecambahan tanaman tebu
tertinggi terdapat pada perlakuan I0K1 (tebu sehat dengan ketebalan penutup
tanah 3 cm) sebesar 100% dan terendah pada perlakuan I5K2 (tebu terserang 100%
dengan ketebalan penutup tanah 5 cm) sebesar 11.11%. Jumlah anakan per
rumpun tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu sehat (I0) yaitu 9,14
dan jumlah anakan per rumpun terendah pada penanaman tebu dengan intensitas
serangan 100% (I5) yaitu 6,72. Tinggi tanaman tebu tertinggi terdapat pada
tanaman tebu sehat (I0) yaitu 68,85 dan tinggi tanaman terendah pada penanaman
tebu dengan intensitas serangan 100% (I5) yaitu 11,95. Intensitas tunas terserang
(%) pada tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu dengan intensitas
serangan 80% (I4) yaitu 20,37% dan intensitas tunas terserang (%) terendah pada
penanaman tebu sehat (I0) yaitu 0,00%.

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Iin Suwita lahir pada tanggal 30 Mei 1990 di Simalungun dari Ibunda
Hasnita Br. Saragih dan Ayahanda Supardi. Penulis merupakan anak pertama dari
dua bersaudara.
Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
-

Lulus dari Sekolah Dasar Negeri 068074 Medan pada tahun 2001.

-

Lulus dari SLTP Dwiwarna Medan pada tahun 2004.

-

Lulus dari SMA Negeri 7 Medan pada tahun 2007.

-

Pada tahun 2007 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara Medan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur
SPMB.
Penulis pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan yaitu :

-

Anggota Komus (Komunikasi Muslim) HPT tahun 2007-2011.

-

Anggota IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) Tahun
2007-2011.

-

Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman tahun 2010-2011

-

Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Hutan tahun 2010-2011.

-

Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV, Kebun
Tonduhan, Kabupaten Simalungun pada tahun 2011.

-

Melaksanakan penelitian skripsi di Balai Riset dan Pengembangan
Tanaman Tebu, Sei Semayang pada bulan Desember 2010-Maret 2011.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dimana
atas berkat dan Rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat
waktu. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang
Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) ”
yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen
Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
Komisi Pembimbing, Ir. Yuswani P. Ningsih, MS selaku ketua dan
Ir. Fatimah Zahara selaku anggota yang telah memberikan arahan dan masukan
kepada penulis sehingga memberikan banyak pengetahuan dan membantu dalam
penyelesain skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pegawai
dan karyawan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang
bagian proteksi tanaman yang telah banyak membantu dan membimbing penulis
selama penelitian. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca yang bersifat membangun dalam penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga tulisan ini
bermanfaat bagi kita semua.
Medan,

Maret 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT ................................................................................................ i
ABSTRAK................................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
DAFTAR ISI ............................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................................... 1
Tujuan Penelitian ................................................................................... 4
Hipotesa Penelitian ................................................................................ 4
Kegunaan Penelitian............................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Hama PBB (Chilo sacchariphagus Bojer.) ................................. 5
Telur ........................................................................................... 5
Larva .......................................................................................... 6
Pupa ........................................................................................... 6
Imago ......................................................................................... 7
Gejala Serangan ..................................................................................... 7
Pengendalian .......................................................................................... 8
Botani Tanaman .................................................................................... 9
Syarat Tumbuh ....................................................................................... 11
Iklim .......................................................................................... 11
Tanah ........................................................................................ 12
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................. 14
Bahan dan Alat ....................................................................................... 14
Metode Penelitian .................................................................................. 14
Pelaksanaan Penelitian ........................................................................... 17
Pengolahan Lahan ....................................................................... 17
Pemotongan Batang Tebu ............................................................ 17

Universitas Sumatera Utara

Penanaman Bibit.......................................................................... 17
Pemupukan .................................................................................. 18
Pemeliharaan Tanaman ................................................................ 18
Peubah Amatan ..................................................................................... 19
Persentase Perkecambahan ........................................................... 19
Jumlah anakan/rumpun ................................................................. 19
Tinggi Tanaman ........................................................................... 19
Intensitas Tunas Terserang ........................................................... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Perkecambahan ........................................................... 20
Jumlah anakan/rumpun ................................................................. 24
Tinggi Tanaman ........................................................................... 27
Intensitas Tunas Terserang ........................................................... 30
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ........................................................................................... 34
Saran ..................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Keterangan

Hlm

1. Gambar Telur C. sacchariphagus Bojer. ..................................... 5
2. Gambar Larva C. sacchariphagus .............................................. 6
3. Gambar Pupa C. sacchariphagus ............................................... 6
4. Gambar Imago C. sacchariphagus .............................................. 7
5. Gambar Gejala Serangan C. sacchariphagus ............................... 8
6. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan
penggerek (C. sacchariphagus) terhadap
persentase perkecambahan tanaman tebu ................................... 22
7. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap
persentase perkecambahan tanaman tebu ................................... 23
8. Gambar Histogram pengaruh faktor interaksi intensitas serangan
Dengan faktor ketebalan tanah terhadap persentase
perkecambahan tanaman tebu ..................................................... 24
9. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan
penggerek (C. sacchariphagus) terhadap
jumlah anakan per rumpun tanaman tebu ................................... 26
10. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap
Jumlah anakan per rumpun tanaman tebu .................................... 27
11. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan
penggerek (C. sacchariphagus) terhadap
tinggi tanaman tebu.................................................................... 29
12. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap
tinggi tanaman tebu..................................................................... 30
13. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek
(C. sacchariphagus) terhadap intensitas tunas terserang pada
tanaman tebu.............................................................................. 31

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Keterangan

Hlm

1. Tabel 1 Beda Uji Rataan persentase perkecambahan (%) tebu dengan
intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris
(C. sacchariphagus) dengan ketebalan
penutup tanah pada pengamatan I-IV...........................................................20
2. Tabel 2 Beda Uji Rataan jumlah anakan per rumpun tanaman tebu dengan
intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris
(C. sacchariphagus) dengan ketebalan
penutup tanah pada pengamatan I-III............................................................25
3. Tabel 3 Beda Uji Rataan tinggi tanaman tebu dengan
intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris
(C. sacchariphagus) dengan ketebalan
penutup tanah pada pengamatan I-III............................................................28
4. Tabel 4. Beda Uji Rataan intensitas tunas terserang (%)
dengan intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris
(C. sacchariphagus) pada pengamatan I-III ............................................... .....30

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Keterangan

Hlm

1. Bagan Penelitian............................................................................... 37
2. Bagan Tanaman Sampel ................................................................... 38
3. Lampiran Data Persentase Perkecambahan I ..................................... 39
4. Lampiran Data Persentase Perkecambahan II.................................... 42
5. Lampiran Data Persentase Perkecambahan III .................................. 45
6. Lampiran Data Persentase Perkecambahan IV .................................. 48
7. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun I .................................. 51
8. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun II ................................. 53
9. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun III................................ 55
10. Lampiran Data Tinggi Tanaman I ..................................................... 57
11. Lampiran Data Tinggi Tanaman II.................................................... 59
12. Lampiran Data Tinggi Tanaman III .................................................. 61
13. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang I ..................................... 63
14. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang II.................................... 65
15. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang III .................................. 67
16. Foto Penelitian ................................................................................. 69

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Iin Suwita, "Test of Sugarcane Seedlings Growing Power of sugarcane
internode borer (Chilo sacchariphagus Bojer.)" Under supervised by
Yuswani P. Ningsih and Fatimah Zahara. Sugarcane is the main ingredient of
sugar manufacture in Indonesia. One of the main pests of sugar cane crops include
sugar cane striped stem borer (C. sacchariphagus). Planting sugar cane that has
been infected with pests resulted in impaired growth of sugarcane pests in plants
and carried away. The aim of the research was to get ability to optimal grow
seedlings sugarcane (Saccharum officinarum L.) result at various intensity of
attacks sugarcane internode borer (C. sacchariphagus). The research has been
conducted in land Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang
in December 2010-March 2011. The method of this research used is a randomized
block design factorial which consisted of 2 factors: The first are the intensity of
attacks (healthy sugar cane, cane attacked by 20%, 40%, 60%, 80%, 100%) and
the second are thickness of soil cover (3 and 5 cm) with 12 combinations
treatments and three replications.
The results showed that treatment intensity (%), soil cover thickness and
intensity of interaction with a thickness of soil cover significantly increased the
percentage of germination (%). Treatment intensity and thickness of soil cover
was significantly different whereas the intensity of interaction with the thickness
of soil cover was not significantly different to the number of tillers per hill.
Treatment intensity and thickness of soil cover was significantly different
whereas the intensity of interaction with the thickness of soil cover was not
significantly different to the plant height. Treatment intensity significantly
different attacks while the thickness of soil cover and intensity of interaction
with the thickness of soil cover was not significantly different to the intensity of
shoots attacked .The highest percentage of germination of sugarcane found on
I0K1 treatment (healthy cane with 3 cm thickness of soil cover) of 100% and
lowest in treatment I5K2 (cane attacked by 100% with 5 cm thickness of soil
cover) of 11.11%. The number of tillers per hill highest sugarcane found on
healthy sugarcane plants (I0) is 9.14 and the lowest number of tillers per hill in
planting sugar cane with the intensity of attacks by 100% (I5) is 6.72. Higher
plants have the highest sugar cane on healthy sugarcane plants (I0) is 68.85 and
the lowest plant height at planting sugar cane with the intensity of attacks by
100% (I5) is 11.95. The intensity of shoots attacked (%) at the highest sugarcane
found on sugar cane plants with the intensity of attacks by 80% (I4) which is
20.37% and the intensity of shoots attacked (%) lowest in healthy sugarcane
cultivation (I0) is 0.00%.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Iin Suwita, “Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama
Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) ” di bawah bimbingan
Yuswani P. Ningsih dan Fatimah Zahara. Tebu merupakan bahan baku utama
pembuatan gula di Indonesia. Salah satu hama utama tanaman tebu antara lain
adalah penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus). Penanaman tebu yang
telah terinfeksi hama mengakibatkan tanaman tebu terganggu pertumbuhannya
dan terbawa hama pada tanamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
daya tumbuh bibit tebu (Saccharum officinarum L.) yang optimal pada berbagai
intensitas serangan hama penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus).
Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Riset dan Pengembangan Tanaman
Tebu, Sei Semayang pada bulan Desember 2010-Maret 2011. Metode yang
digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor
yaitu intensitas serangan (tebu sehat, tebu terserang 20%, 40%, 60%, 80%, 100%)
dan ketebalan penutup tanah (3 dan 5 cm) dengan 12 kombinasi perlakuan dan
tiga ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan intensitas serangan (%),
ketebalan penutup tanah dan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan
penutup tanah berbeda nyata terhadap persentase perkecambahan (%). Perlakuan
intensitas serangan dan ketebalan penutup tanah berbeda nyata sedangkan
interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata
terhadap jumlah anakan per rumpun. Perlakuan intensitas serangan dan ketebalan
penutup tanah berbeda nyata sedangkan interaksi intensitas serangan dengan
ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan
intensitas serangan berbeda nyata sedangkan ketebalan penutup tanah dan
interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata
terhadap intensitas tunas terserang. Persentase perkecambahan tanaman tebu
tertinggi terdapat pada perlakuan I0K1 (tebu sehat dengan ketebalan penutup
tanah 3 cm) sebesar 100% dan terendah pada perlakuan I5K2 (tebu terserang 100%
dengan ketebalan penutup tanah 5 cm) sebesar 11.11%. Jumlah anakan per
rumpun tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu sehat (I0) yaitu 9,14
dan jumlah anakan per rumpun terendah pada penanaman tebu dengan intensitas
serangan 100% (I5) yaitu 6,72. Tinggi tanaman tebu tertinggi terdapat pada
tanaman tebu sehat (I0) yaitu 68,85 dan tinggi tanaman terendah pada penanaman
tebu dengan intensitas serangan 100% (I5) yaitu 11,95. Intensitas tunas terserang
(%) pada tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu dengan intensitas
serangan 80% (I4) yaitu 20,37% dan intensitas tunas terserang (%) terendah pada
penanaman tebu sehat (I0) yaitu 0,00%.

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tebu merupakan bahan baku utama pembuatan gula di Indonesia. Luas
areal pertanaman tebu di Indonesia saat ini sesungguhnya hanya berkisar antara
340 – 350 ribu ha/tahun. Sekitar 70% dari areal pertanaman itu merupakan tebu
rakyat, sementara 63% diantaranya berada di Pulau Jawa. Produksi gula di
Indonesia selama kurun waktu 1994-1996 menurun dengan laju rata-rata 3,37%
per tahun, produksi gula selama periode 1994-2004 terlihat mengalami penurunan
dengan laju rata-rata 0,63% per tahun, sedangkan konsumsi gula pada periode
yang sama tampak meningkat dengan laju rata-rata 1,39% per tahun
(Indraningsih dan Malian, 2004).
Salah satu penghambat potensi produktivitas tebu adalah adanya serangan
hama.

Hama

penting

tebu

di

Indonesia

adalah

penggerek

pucuk

(Tryporiza nivella) dan penggerek batang berkilat (Chilo auricilius), penggerek
batang

bergaris

(Chilo

sacchariphagus),

penggerek

batang

raksasa

(Phragmatocea castanae), kutu bulu putih (Ceratovaguna lanigera) dan kutu
perisai (Aulacaspis spp.), tikus (Rattus srgentiventer dan R. exulans), lundi
(Lepidiota

stigma),

rayap

(Macrotermes

gilvus),

serta

belalang

(Valanga nigricornis) (Juliadi, 2009).
Hama utama tanaman tebu antara lain adalah penggerek batang tebu
bergaris (C. sacchariphagus Bojer.) dan penggerek batang tebu berkilat
(C. auricilius Dugd.).

Serangan penggerek batang tebu tersebut mampu

Universitas Sumatera Utara

menurunkan kualitas maupun kuantitas nira yang dihasilkan, yang diikuti pula
dengan penurunan produksi gula (Dewi, dkk, 2009).
Kerugian yang disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman tebu
diperkirakan mencapai 37% dari total produksi, dan 13% di antaranya karena
serangan hama. Di Amerika Serikat, kerugian akibat serangan hama jika
diuangkan mencapai US$7,70 miliar per tahun atau Rp61,60 triliun per tahun
(Bent and Yu, 1999).
Jenis hama dominan saat ini di Jawa adalah penggerek batang dan
penggerek pucuk. Intensitas serangan penggerek pucuk berkisar antara 6% - 49%
dan penggerek batang berkisar antara 9 % - 18 %. Jenis penggerek batang bergaris
lebih dominan dibanding penggerek batang berkilat. Sedang distribusi serangan
relatif merata (Boedijono, 1970).
Perkembangan tingkat serangan penggerek sangat dipengaruhi oleh
kondisi cuaca khususnya angka curah hujan. Makin tinggi jumlah hari dan curah
hujan maka akan makin tinggi pula intensitas serangan. Tingkat serangan
penggerek akan makin meningkat seiring dengan pertambahan umur tebu. Tingkat
serangan makin meningkat dan makin menyebar dengan makin luasnya areal
tertanam oleh tebu (realisasi rencana tanam tebu) (Pramono, dkk, 2006).
Menurut cara penyerangannya penggerek batang dapat dibedakan menjadi
2 yaitu : penggerek ruas dan penggerek tunas. Penggerek ruas yaitu :
C. auricilus Pudg (penggerek berkilat), C. sacchariphagus Bojer (penggerek
bergaris), dan Phragmatocea castanae Hubner (penggerek raksasa) menyebabkan
kerusakan
Eucosma

ruas-ruas
schista

pada

ceana

Sn

tebu.

Sedangkan

(penggerek

penggerek

abu-abu),

Chilo

tunas

yaitu

infuscatellus

Universitas Sumatera Utara

(penggerek kuning) dan Sesamia inferens Wlk (penggerek jambon) menyebabkan
kematian pada tunas tebu-tebu muda (Deptan, 1944).
Penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) adalah salah satu
hama yang sangat berbahaya pada tanaman tebu. Serangga hama ini menyerang
tanaman tebu sejak dari awal tanam hingga saat panen. Serangan dimulai oleh
larva muda yang sangat aktif menggerek daun muda, kemudian turun menuju
ruas-ruas batang di bawahnya sampai mencapai titik tumbuh (Purnomo, 2006).
Spesies C. sacchariphagus adalah hama serius tebu di Kepulauan
Samudera Hindia. C. sacchariphagus mungkin telah banyak masuk ke pulaupulau baik dari Sri Lanka atau Jawa sejalan dengan pengenalan tebu sekitar tahun
1850. Ada laporan yang dikonfirmasi baru-baru ini bahwa C. sacchariphagus
menyerang tebu di Mozambik (Williams, 1983).
Pemerintahan Bhadra di daerah Karnataka (India) mencakup sekitar
18.000 hektar tebu. Hasil tebu rata-rata di daerah ini adalah sekitar 90 ton per ha.
C. sacchariphagus yang merupakan hama utama dalam beberapa tahun terakhir.
Hama yang menyebabkan kerugian besar secara ekonomis pada tanaman di
daerah tersebut. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini berkisar antara
10 - 35 % (Yalawar, dkk, 2007).
Kerugian gula akibat serangan C. sacchariphagus hasil pengamatan di
Jawa Barat pada tingkat serangan ruas sebesar 20 %, penurunan hasil gula dapat
mencapai 10 %. Tingkat serangan penggerek batang di kebun beberapa pabrik
gula di Jawa Barat cukup rendah, dan hanya beberapa kebun tingkat serangannya
mencapai 30-45 %. Selanjutnya tingkat serangan hama penggerek batang pada

Universitas Sumatera Utara

pertanaman tebu di lampung cenderung meningkat dari 5 % pada tahun 1998
menjadi 12 % pada tahun 2002 (Wirioatmodjo, 1970; Sunaryo 2003).
Beberapa tahun terakhir tingkat serangan C. sacchariphagus di kebun tebu
Sumatera Utara cukup tinggi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang uji daya tumbuh bibit yang terserang C. sacchariphagus dengan
berbagai intensitas serangan.

Tujuan Penelitian

Untuk mendapatkan daya tumbuh bibit tebu (Saccharum officinarum L.)
yang optimal pada berbagai intensitas serangan hama penggerek batang bergaris
(C. sacchariphagus).

Hipotesa Penelitian
Diduga intensitas serangan C. sacchariphagus yang paling kecil optimal
terhadap daya tumbuh bibit tebu .

Kegunaan Penelitian
-

Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di
Departemen Hama dan Penyakit

Tumbuhan, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan.
-

Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Hama
Menurut Nesbitt, dkk (1980), adapun klasifikasi dari penggerek batang
tebu bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Class

: Insecta

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Pyralidae

Genus

: Chilo

Spesies

: C. sacchariphagus Bojer.

Telur

Bentuk telur oval, datar dan mengkilap. Telur berwarna putih dan akan
berubah menjadi hitam sebelum menetas. Telur memiliki panjang 0,75 - 1,25 mm
dengan rata-rata 0,95 mm. Masa inkubasi berkisar antara 4 - 6 hari dengan ratarata sebesar 5,13 ± 0,78. Telur yang baru diletakkan berbaris di atas permukaan
daun, (9-12 butir/cm) (David, 1986).

Gambar 1. Telur C. sacchariphagus Bojer.
(Sumber : Foto Langsung)

Universitas Sumatera Utara

Larva
Larva yang baru menetas panjangnya + 2,5 mm, dan berwarna kelabu.
Semakin tua umur larva, warna badan berubah menjadi kuning coklat dan
kemudian kuning putih, disamping itu warna garis-garis hitam membujur pada
permukaan abdomen sebelah atas juga semakin jelas (Pratama, 2009).
Periode larva berlangsung selama 35-54 hari. Larva berganti kulit
sebanyak 5 kali dan memiliki 6 instar. Larva berwarna kekuningan dengan
bergaris hitam. Panjang larva di setiap instar (I sampai VI) kira-kira 7,81, 13,1,
18,28, 23,28, 28,29 dan 32,86 (David, 1986).

Gambar 2. Larva C. sacchariphagus Bojer.
(Sumber : Foto Langsung)

Pupa
Kepompong penggerek batang agak keras dan berwarna coklat kehitaman.
Kepompong betina biasanya mempunyai badan lebih besar daripada yang jantan.
masa pupa berkisar antara 8-10 hari dengan rata-rata 8,28 hari (David, 1986).

Gambar 3. Pupa C. sacchariphagus Bojer.
(Sumber : Foto Langsung )

Universitas Sumatera Utara

Imago
Ngengat bergerak lamban lamban. Ngengat betina lebih besar daripada
ngengat jantan. Imago mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan.Abdomen
imago betina biasanya juga lebih besar daripada yang jantan Betina dewasa dan
jantan memiliki masa 4 - 9 hari dengan rata-rata 6,37 dan 7,22 hari. Jumlah
maksimum telur yang diletakkan oleh betina adalah 400. Siklus hidup total dari
ngengat sekitar 43-64 hari dengan rata-rata 53,5 hari (David, 1986).

Gambar 4. Imago C. sacchariphagus Bojer.
.(Sumber : Foto Langsung)

Gejala Serangan
Larva muda yang baru menetas hidup dan menggerek jaringan dalam
pupus daun yang masih menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya
membuka maka akan terlihat luka-luka berupa lobang grekan yang tidak teratur
pada permukaan daun. Setelah beberapa hari hidup dalam pupus daun, larva
kemudian akan keluar dan menuju ke bawah serta menggerek pelepah daun
hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya larva hidup dalam
ruas-ruas batang tebu. Di sebelah luar ruas-ruas muda yang digerek akan didapati
tepung gerek. Daun tanaman yang terserang terdapat bercak-bercak putih bekas
gerekan yang tidak teratur. Bercak putih ini menembus kulit luar daun. Gejala

Universitas Sumatera Utara

serangan pada batang tebu ditandai adanya lobang gerek pada permukaan batang.
Apabila ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat loronglorong gerek yang memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik
tumbuh mati, daun muda layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat
lebih dari satu ulat penggerek (Pratama, dkk, 2009).

a

b

c

d

Gambar 5. Gejala Serangan C. sacchariphagus pada titik tumbuh (a),daun (b) &
batang (c & d)
(Sumber : Foto Langsung)

Universitas Sumatera Utara

Pengendalian
Umumnya

pengendalian

penggerek

batang

bergaris

(C. sacchariphagus) yang digunakan adalah:
1.

Secara kultur teknis yaitu sanitasi lahan, penanaman dengan sistem
hamparan.

2.

Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya.

3.

Secara mekanis yaitu pengutipan ulat – ulat di lapangan.

4.

Secara biologis yaitu dengan memanfaatkan musuh alami berupa
pelepasan

parasit

telur

Trichogramma

spp.,

dan

parasit

larva

Diatraeophaga striatalis Tns.
5.

Secara kimiawi yaitu dengan pemakaian insektisida yaitu Agrothion 50 EC
(3 l/ha), Azodrin 15 WSC ( 5 l/ha) (Pratama, 2009).

Botani Tanaman
Menurut Chairunnisa (2005), adapun klasifikasi dari tanaman tebu
(Saccharum officinarum L.) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Class

: Monocotyledonae

Ordo

: Poales

Family

: Poaceae

Genus

: Saccharum

Spesies

: S. officinarum L.

Universitas Sumatera Utara

Akar tanaman tebu berakar serabut dan menjalar hingga ke permukaan
tanah. Akar tebu dapat memanjang hingga 1,6 m, yang terdiri dari cabang atau
anak akar yang banyak. Batang tebu berbuku-buku, pada setiap buku terdapat
mata tunas. Buku-buku merupakan pangkal dari daun. Batang berserat dan manis
yang berasal dari kandungan kimia. Daun tebu memiliki bulu-bulu halus pada
permukaannya yang gatal bila disentuh, tipe daun tebu ini

tipe lanset dimana

tulang daun sejajar dan bentuk daun memanjang (Mangoendihardjo, 1999).
Penggunaan varietas tebu bersifat sangat dinamis. Setiap periode waktu,
varietas yang telah lama digunakan secara terus menerus tidak selalu
menguntungkan, sebagai akibat akan terjadinya penurunan kualitas genetik,
kepekaan terhadap hama dan penyakit yang dapat meyebabkan merosotnya
perolehan hasil gula.

Oleh karena itu, untuk menghindari kondisi demikian

diupayakan selalu terjadi regenerasi varietas di lapangan untuk mempersiapkan
perolehan varietas pengganti. Varietas tebu sebaiknya tidak ditaman lebih dari 8
tahun (Soedhono, 2009).
Fase pertumbuhan tanaman dalam proses perkecambahan sangat
tergantung kepada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit. Bibit
dengan kualitas yang jelek, misalnya diperoleh dari umur bibit yang sudah tua
yang kondisi distribusi air dan hara dalam jaringan lembaga tunas sudah
berkurang akan menyulitkan terjadinya inisiasi tumbuh tunas. Selain itu misalnya
kondisi bibit yang terinfeksi hama penyakit akan menyebabkan hambatan dalam
proses inisiasi pertunasan dan fase pertumbuhan tanaman lainnya. Kemudian
jumlah bibit yang ditanam sangat mempengaruhi jumlah tunas dan populasi
pertumbuhan tanaman.

Meskipun pada awal perkecambahan, jumlah tunas

Universitas Sumatera Utara

berkorelasi dengan jumlah mata yang berinisiasi menjadi tunas, namun
sesungguhnya pola pertumbuhan populasi tebu akan mengalami keseimbangan
mencapai populasi optimal disebabkan antara masing-masing tunas akan terjadi
persaingan terhadap faktor lingkungan tumbuh.

Artinya pola pertumbuhan

populasi tanaman pada periode pertunasan maksimal, akan diikuti penurunan
populasi tanaman sampai mencapai pertumbuhan populasi batang optimal
(Soedhono, 2009).
Kebutuhan terhadap bibit tidak saja hanya didasarkan jumlah yang
memadai sesuai kebutuhan luasan tanam tebu giling, tetapi juga bibit yang
tersedia harus terjamin kualitasnya. Bibit yang bermutu baik ukurannya adalah
bibit yang menghasilkan perkecambahan mendekati pertumbuhan seluruh mata
tunas dan tidak terinfeksi hama penyakit yang dikenal sebagai organisme
pengganggu bawaan. Untuk menghindari terikutkannya penyakit pada bibit tebu,
maka sebelum ditanam sering dilakukan perlakuan perawatan air panas
(Hot Water Treatment, HWT). Dengan jumlah populasi mata tunas berkecambah
yang tinggi akan menentukan perolehan tunas yang menghasilkan batang untuk
dipanen. Sedangkan tidak terikutkannya organisme pengganggu sudah barang
tentu akan menghasilkan kondisi tebu tanpa hambatan secara inhern sehingga
pertumbuhan tebu berjalan normal (Anonimos, 2008).

Syarat Tumbuh
Iklim
Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur 8 bulan dan
kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen. Tanaman tumbuh baik pada

Universitas Sumatera Utara

daerah beriklim panas dan lembab. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan
tanaman ini > 70%. Suhu udara berkisar antara 28-34 o C (Anonimos, 2007).
Budidaya tebu harus mengupayakan kebutuhan tebu terhadap variabel
iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air
maupun mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan
pertumbuhan tebu dengan kebutuhan SDA iklim, seperti mengatur masa tanam
yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal
dan ditebang pada periode musim kemarau. Berdasarkan kebutuhan air pada
setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan ideal untuk pertanaman tebu
adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan pada 2
bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut
tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2
dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut
ada beberapa lahan dengan tipe iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan
masukan-masukan teknologi adalah B2, C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat
dikembangkan untuk pertumbuhan tebu dengan tanah cukup ringan dan
berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1 (Anonimus, 2009).

Tanah

Tanah yang subur dengan kondisi ketersediaan air, oksigen dan makanan
yang memadai, maka tanaman tebu yang tumbuh di atasnya akan menunjukkan
penampilan pertumbuhan dan hasil produksi tebu yang baik. Sebaliknya, pada
kondisi tanah yang kurang subur sebagai akibat terdapatnya faktor pembatas yang
dapat disebabkan oleh keterbatasan sifat fisik dan atau sifat kimia, akan

Universitas Sumatera Utara

menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil gula yang diperoleh
tidak akan maksimal. Pada kondisi kesuburan tanah tidak menguntungkan, maka
untuk memaksimalkan hasil pertumbuhan tanaman sering dilakukan manipulasi
oleh manusia melalui budidaya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui
manipulasi fisik untuk mencapai kondisi status fisik tanah yang menguntungkan
bagi pertumbuhan perakaran dan manipulasi kimia untuk meningkatkan
ketersediaan hara yang biasanya dilakukan melalui penambahan hara dari luar
tanah melalui pemupukan (Soedhono, 2009).
Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut
aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang menonjol
adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia
tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah..
Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0
– 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. Kesuburan tanah
(status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian
lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm,
K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al > 4 bulan, masa tanam yang optimal
pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober
sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal
musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, ngompol dapat diolah
sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering ≤ 2 bulan) masa tanam tebu
terbaik pada awal musim kemarau (Anonimus, 2009).

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman
Tebu, Sei Semayang dengan ketinggian tempat ± 50-60 meter di atas Permukaan
laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 – Maret 2011.

Bahan dan Alat
Adapun bahan - bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain
sebagai berikut : bibit tebu sehat, bibit tebu yang terserang C. sacchariphagus,
tanah, air, cat, pupuk urea dan pupuk SP-36.
Adapun alat – alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain sebagai
berikut : cangkul, gembor, plank, pacak, tali plastik, kuas, meteran, handcounter,
ember, pisau, parang, kamera, alat tulis.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial,
terdiri dari 2 faktor :
Faktor I : Intensitas Serangan Terhadap Bibit, terdiri dari 6 perlakuan
I0

= Tebu sehat (Kontrol)

I1

= Tebu terserang 20%

I2

= Tebu terserang 40%

I3

= Tebu terserang 60%

Universitas Sumatera Utara

I4

= Tebu terserang 80%

I5

= Tebu terserang 100%

Faktor II : Ketebalan Penutup Tanah, terdiri dari 2 perlakuan
K1

= 3 cm

K2

= 5 cm

Adapun kombinasi perlakuan sebagai berikut :
I 0 K1

I 1 K1

I 2 K1

I 3 K1

I 0K 2 I1K 2 I 2 K 2 I 3 K 2

I 4 K1

I 5 K1

I4 K2 I5K2

Varietas Tebu

: Kidang Kencana (KK)

Jumlah Kombinasi Perlakuan

: 12

Jumlah Ulangan

:3

Jarak antar Juring

: 120 cm

Jumlah Plot Lahan

: 36 plot

Luas Tiap Plot Lahan

: 1,2 x 1,5 m

Luas Lahan Seluruhnya

: 6,3 x 18,3 = 115,29 m 2

Jarak Antar Perlakuan

: 30 cm

Jarak Antar Ulangan

: 60 cm

Lebar Parit Keliling

: 30 cm

Jumlah Juring Tiap Plot

: 2 juring

Jumlah Bagal Sampel per Plot

: 2 bagal

Jumlah Bagal Seluruhya

: 216 bagal

Jumlah Bagal Sampel yang diambil seluruhnya

: 72 bagal

Universitas Sumatera Utara

Jumlah ulangan diperoleh dengan rumus :
t 1 (t 2 -1) (r-1) ≥ 15
6 (2-1) (r-1) ≥ 15
6 (r-1) ≥ 15
6 r - 6 ≥ 15
6 r ≥ 21
r ≥ 3,5

dibulatkan r = 3

Metode Linear adalah sebagai berikut :
Y ijk = µ + ρ i + α j + β k + αβ jk + ε ijk
i = 1,2,3,...r
j = 1,2,3,...a
k = 1,2,3....b
Keterangan :
Y ij

= Respon atau nilai pengamatan dari pengaruh ulangan pada taraf ke-i,
perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k

µ

= Nilai tengah umum

ρi

= Efek blok ke-i

αj

= Pengaruh perlakuan dari faktor A pada taraf ke-j

βk

= Pengaruh perlakuan dari faktor B pada taraf ke-k

αβ jk

= Efek Interaksi dari perlakuan pada taraf ke-j dengan perlakuan pada taraf
ke-k

ε ijk

= Efek error dari ulangan pada taraf ke-i, perlakuan pada taraf ke-j dan
perlakuan ke-k

Universitas Sumatera Utara

Pelaksaan Penelitian
Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa- sisa gulma. Pengolahan dilakukan sebanyak 3
kali, yaitu dilakukan terlebih dahulu pencangkulan tanah sedalam 30 cm.
Kemudian meratakan tanah yang telah dicangkul sehingga bongkahan tanah
menjadi halus, setelah itu tanah digemburkan kembali dengan dan membuat
juringan-juringan yang dibentuk menjadi petak- petak percobaan dengan ukuran
yang telah ditentukan yaitu 1,2 m x 1,5 m.

Pemotongan Batang Tebu
Dicari batang tebu yang sehat dan yang sudah terserang hama
C. sacchariphagus dilihat dari gejala dan intensitas serangannya, yaitu dengan
intensitas 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%, dimana penentuan intensitas serangan
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
% Ruas Serangan (Serangan di Batang) = Jumlah ruas yang terserang
Jumlah total ruas yg diamati

X 100 %

Dan batang yang terserang dengan kategori intensitas serangan diatas yang
diambil, kemudian batang dipotong sebanyak 3 bagal/juring yang memiliki 3 mata
tunas/bagal.

Penanaman Bibit
Penanaman bibit tebu dilakukan dengan jarak antar juring 120 cm. Pada
setiap plot ditanam sekitar 2 juring dengan jumlah 6 bagal dan memiliki jumlah 18
mata tunas. Sebelum tanam, tanah disiram agar bibit bisa melekat ke tanah

Universitas Sumatera Utara

Pemupukan
Pemupukan untuk memacu pertumbuhan generatif dilakukan dengan
pemberiaan pupuk Urea dan SP36.

Memperhatikan setiap hara memiliki

spesifikasi dalam menunjang pertumbuhan tebu, maka seharusnya dilakukan
penyesuaian aplikasi pemupukan dengan kebutuhannya. Pada fase pertumbuhan
tebu yang cepat, yaitu pada masa pertunasan (1-3 bulan) (Soedhono, 2009)
Pemupukan dilakukan dua kali yaitu (1) saat tanam atau sampai 7 hari
setelah tanam dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP, (2) pada 30 hari setelah
pemupukan pertama ( I ) dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg urea per
hektar. Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7-10 cm
dari bibit dan ditimbun tanah. Setelah pemupukan semua petak segera disiram
supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. Pemupukan dan
penyiraman harus selesai dalam satu hari (Anonimos, 2007).

Pemeliharaan Tanaman
Tindakan pemeliharaan tanaman relatif sama dengan perawatan tanaman
baru, antara lain yaitu pengendalian gulma, turun tanah, kelentek dan pemberiaan
air. Khusus untuk perawatan gulma perlu diintensifkan, karena jumlah tunas
keprasan sangat berkurang akibat persaingan gulma yang tumbuh di barisan
tebunya. Penyiangan gulma dikerjakan secara manual tiga kali yakni pada umur
1,2 dan 3 bulan setelah tebu ditanam. Pemberian tanah untuk tebu lahan kering
hanya dilakukan dua kali yaitu sebelum pemupukan kedua pada umur 1-1,5 bulan
dan pada umur 2,5-3 bulan, atau dapat dilakukan sekali pada umur 2-3 bulan
apabila drainase tanahnya jelek. Tanaman tebu akan berkurang pertumbuhannya

Universitas Sumatera Utara

akibat kekeringan atau akibat kelebihan air (air menggenang). Keprasan biasanya
mampu menderita akibat cekaman air. Tetapi penggenangan air dalam jangka
waktu lama akan berakibat mematikan perakaran tebu. Besarnya gangguan oleh
genangan air terhadap pertumbuhan tebu, tergantung pada saat dan lama kondisi
anaerob berlangsung (Anonimos, 2007).

Peubah Amatan
a. Persentase Perkecambahan (%)
Menghitung persentase perkecambahan bibit tebu. Pengamatan pertama
dilakukan pada 7 hst selama 4 kali pengamatan dengan mengamati seluruh mata
tunas yang tumbuh, dimana menggunakan rumus sebagai berikut :
% Perkecambahan mata tunas = Jumlah mata tunas tumbuh
Jumlah total mata tunas yg diamati

X 100 %

b. Jumlah Anakan per Rumpun
Diamati jumlah rumpun yang keluar. Pengamatan pertama dilakukan pada 30
hst selama 3 kali pengamatan.
c. Tinggi Tanaman
Diamati tinggi tanaman dari mulai dari pengamatan pertama dilakukan pada 30
hst selama 3 kali pengamatan.
d. Intensitas Tunas Terserang (%)
Diamati tunas tanaman yang terserang, pengamatan dilakukan 30 hst selama 3
kali pengamatan menggunakan rumus sbb :
% Tunas terserang (Serangan di daun) = Jumlah tunas terserang
Jumlah total tunas yg diamati

X 100 %

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Persentase Perkecambahan
Dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh intensitas
serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) dan ketebalan
penutup tanah terhadap persentase perkecambahan pada pengamatan I – IV
menunjukkan pengaruh berbeda nyata. Hasil beda uji rataan pengaruh intensitas
serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) dengan ketebalan
penutup tanah terhadap persentase perkecambahan tanaman tebu dapat dilihat
pada tabel 1 (Lampiran 3-6)
Tabel 1. Beda Uji Rataan persentase perkecambahan (%) tebu terhadap interaksi
intensitas serangan (%) penggerek batang tebu bergaris
(C. sacchariphagus) dengan ketebalan penutup tanah pada pengamatan
I-IV

Pengamatan

I

II

I/K

K1

K2

Rataan

I0
I1
I2
I3
I4
I5
Rataan

55.55a
48.14a
37.03b
29.63c
29.63c
11.11d
35.18a

44.44b
37.03b
11.11d
7.41d
3.70d
0.00e
17.28b

50.00a
42.59a
24.07b
18.52b
16.67b
5.56c
26.23

I/K

K1

K2

Rataan

I0
I1
I2
I3
I4
I5
Rataan

66.66a
59.25a
48.14c
40.74d
40.74d
22.22e
46.29a

55.55b
48.14c
22.22e
18.52e
14.81f
0.00g
26.54b

61.11a
53.70b
35.18c
29.63c
27.78d
11.11e
36.42

Universitas Sumatera Utara

III

IV

I/K

K1

K2

Rataan

I0
I1
I2
I3
I4
I5
Rataan

88.88a
74.07b
62.96c
51.85d
51.85d
33.33e
60.49a

66.66c
55.55d
33.33e
29.63e
22.22f
0.00g
34.56b

77.77a
64.81b
48.14c
40.74d
37.03d
16.67e
47.53

I/K

K1

K2

Rataan

I0
I1
I2
I3
I4
I5
Rataan

100.00a
92.59b
81.47c
70.36d
70.36d
55.55e
78.39a

85.18b
74.07d
55.55e
51.85e
22.22f
11.11g
50.00b

92.59a
83.33b
68.51c
61.11c
46.29d
33.33e
64.19

Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Duncan

Tabel 1 dan histogram pengaruh intensitas serangan penggerek
(C.

sacchariphagus)

terhadap

persentase

perkecambahan

tanaman

tebu

menunjukkan persentase perkecambahan (%) pada pengamatan IV dengan
perlakuan menggunakan tanaman tebu sehat (I0) berbeda nyata terhadap perlakuan
lainnya dimana persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada tanaman tebu
sehat (I0) yaitu 92.59% dan persentase perkecambahan terendah pada penanaman
tebu dengan intensitas serangan 100% (I5) yaitu 33.33%. Tebu yang terserang
100% (I5) masih dapat tetapi pertumbuhannya itu lebih lama dari yang lain karena
tebu tersebut secara fisiknya sudah rusak akibat terserang C. Sacchariphagus
sehingga proses pertumbuhannya terhambat. Hal ini menunjukkan bahwa
penanaman tebu yang terserang penggerek batang bergaris (C. Sacchariphagus)
dengan intensitas yang makin tinggi maka persentase perkecambahan cenderung
akan semakin kecil karena digunakannya bibit yang tidak sehat atau bibit yang

Universitas Sumatera Utara

telah terinfeksi hama. Hal ini sesuai dengan Suhartawan (1995) yang menyatakan
bahwa perkecambahan sangat ditentukan oleh kesehatan bibit.

Persentase

perkecambahan akan tinggi apabila bibit yang digunakan berasal dari bibit dan
kondisi lingkungan yang baik dan tidak terinfeksi hama dan penyakit.
100.00
90.00
80.00
70.00

I0

60.00

I1
I2

50.00

I3

40.00

I4

30.00

I5

20.00
10.00
0.00
I

II

III

IV

Persentase Perkecambahan

Gambar 6. Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek
(C. sacchariphagus) terhadap persentase perkecambahan tanaman tebu

Tabel 1 dan histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap
persentas

Dokumen yang terkait

Dokumen baru