Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat Kota Binjai

SKRIPSI PENGARUH BMT PRADESA MITRA MANDIRI TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT
KOTA BINJAI OLEH
RIDHA WAHYUNI 110501033
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015
1

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

Nama NIM Program Studi Konsentrasi Judul

PERSETUJUAN PENCETAKAN

: Ridha Wahyuni

: 110501033

: Ekonomi Pembangunan

: Perbankan Syariah

: Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri

Terhadap

Peningkatan

Ekonomi

Masyarakat Kota Binjai

Tanggal: ...............................

Ketua Program Studi

Tanggal: ...............................

Irsyad Lubis, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D NIP. 19710503 200312 1 003
Ketua Departemen
Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec NIP. 19730408 199802 1 001

2

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

Nama NIM Program Studi Konsentrasi Judul

PERSETUJUAN

: Ridha Wahyuni

: 110501033

: Ekonomi Pembangunan

: Perbankan Syariah

: Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri

Terhadap

Peningkatan

Ekonomi

Masyarakat Kota Binjai

Tanggal: ...............................

Pembimbing,

Penguji I,

Ilyda Sudardjat, S.Si M Si NIP. 19730325 200801 2 007
Penguji II,

Irsyad Lubis, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D NIP. 19710503 200312 1 003

Kasyful Mahali, SE, M Si NIP. 19671111 200212 1 001

3

Lembar Pernyataan Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang “Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri Terhadap Peningkatan Ekonomi di Kota Binjai” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Oktober 2015 Penulis,
Ridha Wahyuni NIM. 110501033
4

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Kota Binjai. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat pendapatan dan bagaimana manfaat pembiayaan yang diperoleh oleh masyarakat setelah menggunakan dana pembiayaan yang diberikan BMT Pradesa. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling dengan jumlah populasi sebanyak 27.960 dan sampel yang diambil sebanyak 100 orang yang menggunakan dana pembiayaan di BMT Pradesa Mitra Mandiri dengan menggunakan rumus Slovin. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan paired sample t test. Berdasarkan dari hasil analisis data menyatakan bahwa Ho ditolak sedangkan Ha diterima. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara tingkat pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah menggunakan pembiayaan BMT di Kota Binjai, artinya hasil penelitian ini signifikan.
Kata kunci: Baitul Mal wa Tamwil, pendapatan, pembiayaan dan paired sample t test.
i

ABSTRACT This research head for analyze how the influence of BMT Pradesa Mitra Mandiri towards improving the local economy in Binjai City. This research was done to see the extent to which the level of income and how the benefits derived by the public financing after using the funds financing provided by BMT Pradesa. Technique which used in this research is simple random sampling with the quantity of populations is 27.960 and taken sampel many as 100 people who use the funds in the financing of BMT Pradesa Mitra Mandiri Slovin formula. The analytical method used in this research is descriptive cuantitative and paired sample t test. Based to from result analyse data indicate that Ho is reject and Ha received . The conclusion of this research is that there are different between level earnings of society before and after using finance of BMT by Binjai City, meaning that the results of this study significant. Keywords: Baitul Mal wa Tamwil, income, finance and paired sample t test
ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri Terhadap Peningkatan Ekonomi Kota Binjai”. Skripsi ini disusun dengan maksud unruk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, dan dukungan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Kedua orang tua tercinta, Bapak Rahmat Suheri dan Ibu Lisnawati serta adik-
adik saya Rani Fadhillah, Ramadhan Alfitrah dan Ridwan Al-Afkar yang telah memberikan banyak do’a dan dukungannya baik secara materi dan moril kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac.Ak, CA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan dan Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Irsyad, SE, M.Soc.Sc, Ph.D selaku Ketua Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan dan Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si selaku Sekretaris Program
iii

Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. 5. Ibu Ilyda Sudardjat, S.Si M Siselaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, memberi bimbingan dan masukan dari awal pengerjaan sampai dengan selesai. 6. Bapak Irsyad, SE, M.Soc.Sc, Ph.D dan Bapak Kasyful Mahali, SE, M Siselaku Dosen Penguji yang telah banyak memberi koreksi, arahan, dan masukannya dengan sabar untuk penyempurnaan skripsi ini. 7. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Ekonomi dan Bisnis teruntuk Departemen Ekonomi Pembangunan atas bimbingan, bantuan, dan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama masa perkuliahan. 8. Seluruh karyawan dan staf-staf yang berada di BMT Pradesa Mitra Mandiri atas bantuan serta kerja sama dalam membantu penulis untuk melengkapi skripsi ini. 9. Kepadda seluruh keluarga besar penulis atas do’a dan dukungannya, dan 10. Kepada teman-teman di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta semua pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang terlibat dalam penyelesaian skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan karunia-Nya atas jasa-jasa yang telah diberikan kepada penulis.
iv

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh darikesempurnaan.Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pembaca.
Medan, Oktober 2015 Penulis Ridha Wahyuni
v

DAFTAR ISI

ABSTRAK .......................................................................................................... ..i

ABSTRACT ......................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR .........................................................................................iii

DAFTAR ISI ........................................................................................................vi

DAFTAR TABEL ..................................................................................... ........ viii

DAFTAR GAMBAR............................................................................................ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. .......... x

BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1 1.2. Perumusan Masalah .................................................................... 3 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 4
1.3.1. Tujuan Penelitian ............................................................ 4 1.3.2. Manfaat Penelitian .......................................................... 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Defenisi BMT (Baitul Maal wa Tamwil).................................... 5 2.2. Aspek Legalitas .......................................................................... 6 2.3. Akad dan Produk Dana BMT ..................................................... 7
2.3.1. Produk Penghimpun Dana Lembaga Keuangan Islam .... 7 2.3.2. Produk Penyaluran Dana ................................................. 9 2.4. Ruang Gerak dan Model Organisasi BMT ................................ 10 2.5. Prinsip Operasional BMT ......................................................... 10 2.6. Peningkatan Ekonomi Masyarakat ............................................ 12 2.7 Bentuk dan Jenis Usaha Kecil.................................................... 14 2.8. Pendapatan, keuntungan dan Kredit .......................................... 17 2.8.1. Pendapatan ..................................................................... 17 2.8.2. Keuntungan .................................................................... 22 2.8.3. Kredit ............................................................................. 23 2.9. Penelitian Terdahulu .................................................................. 24 2.10. Kerangka Konseptual ................................................................. 26

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ........................................................................... 27 3.2. Tempat dan Lokasi Penelitian .................................................... 27 3.3. Defenisi Operasional .................................................................. 27 3.4. Skala Pengukuran........................................................................ 28 3.5. Populasi dan Sampel .................................................................. 28

vi

3.5.1. Populasi ........................................................................... 28 3.5.2. Sampel ............................................................................. 29 3.6. Jenis dan Metode Pengumpulan Data ........................................ 30 3.6.1. Jenis Data ......................................................................... 30 3.6.2. Metode Pengumpulan Data ............................................. 30 3.7. Teknis Analisis Data .................................................................. 31 3.7.1. Alat Analisis Data ........................................................... 31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum BMT di Kota Binjai ...................................... 33 4.2. Gambaran Umum BMT Pradesa Mitra Mandiri ............... ......... 35 4.3. Karakteristik Responden ................................................... ......... 41 4.4. Distribusi Jawaban Responden ................................................... 46
4.4.1. Persepsi Responden Atas Dampak Sebelum Penggunaan Dana BMT Pradesa Mitra Mandiri ... ......... 46
4.4.2. Persepsi Responden Atas Dampak Setelah Penggunaan Dana BMT Pradesa Mitra Mandiri ... ......... 47
4.5. Analisis dan Pembahasan............................................................ 48 4.5.1. Persepsi Masyarakat Terhadap penggunaan Dana BMT Pradesa Mitra Mandiri dalam Pemodalan Usaha ............................................................................... 48 4.5.2. Manfaat Bagi Masyarakat terhadap penggunaan dana BMT Pradesa Mitra Mandiri .................................. 49 4.5.3. Dampak Penggunaan Dana BMT Pradesa Mitra Mandiri Terhadap Pendapatan Masyarakat .................... 50
4.6. Paired Simple t Test ................................................................... 50

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ................................................................................ 53 5.2. Saran............................................................................................ 54

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 55

LAMPIRAN......................................................................................................... 57

vii

DAFTAR TABEL

No. Tabel

Judul

Halaman

2.1. 2.2.
3.1 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. 4.6.
4.7.
4.8.
4.9.
4.10.

Perbedaan Sistem Bunga dan Bagi Hasil .................... Perbedaan Operasional antara BMT dan Koperasi Konvensional .............................................................. Instrumen Skala Likert................................................ Jumlah Nasabah Pembiayaan...................................... Jumlah Realisasi Pembiayaan ..................................... Jumlah Keseluruhan Nasabah Simpanan ................... Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ............... Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan .... Karakteristik Responden Berdasarkan Penggunaan Dana ............................................................................ Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Penggunaan ................................................................. Jawaban Responden Atas Dampak Sebelum Penggunaan Dan BMT Pradesa .................................. Jawaban Responden Atas Dampak Sesudah Penggunaan Dan BMT Pradesa .................................. Analisis Uji Beda Rata-Rata Berpasangan Tingkat Pendapatan Masyarakat...............................................

12
24 28 33 34 34 42 42
43
44
45
45
49

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar

Judul

Halaman

2.1. Kerangka Konseptual ............................................. 26

4.1.

Logo BMT Pradesa Mitra Mandiri .........................

36

4.2.

Struktur Organisasi BMT Pradesa Mirta Mandiri ..

40

4.3. Skema Prosedur Pembiayaan ................................. 41

4.4. Karakteristik Berdasarkan Usia ............................

42

4.5.

Karakteristik Berdasarkan Pendidikan ...................

44

4.6.

Karakteristik Berdasarkan Penggunaan Dana ........

45

4.7. Karakteristik Berdasarkan Jumlah Penggunaan

Dana ........................................................................

46

ix

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran

Judul

Halaman

1.

Kuesioner Penelitian ............................................

55

2.

Sampel ..................................................................

58

3. Pendapatan Masyarakat Sebelum dan Sesudah

Pembiayaan ..........................................................

61

4.

Hasil Uji Deskriptif ..............................................

64

5.

Hasil Simple Paired t Test ....................................

68

x

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Kota Binjai. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat pendapatan dan bagaimana manfaat pembiayaan yang diperoleh oleh masyarakat setelah menggunakan dana pembiayaan yang diberikan BMT Pradesa. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling dengan jumlah populasi sebanyak 27.960 dan sampel yang diambil sebanyak 100 orang yang menggunakan dana pembiayaan di BMT Pradesa Mitra Mandiri dengan menggunakan rumus Slovin. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan paired sample t test. Berdasarkan dari hasil analisis data menyatakan bahwa Ho ditolak sedangkan Ha diterima. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara tingkat pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah menggunakan pembiayaan BMT di Kota Binjai, artinya hasil penelitian ini signifikan.
Kata kunci: Baitul Mal wa Tamwil, pendapatan, pembiayaan dan paired sample t test.
i

ABSTRACT This research head for analyze how the influence of BMT Pradesa Mitra Mandiri towards improving the local economy in Binjai City. This research was done to see the extent to which the level of income and how the benefits derived by the public financing after using the funds financing provided by BMT Pradesa. Technique which used in this research is simple random sampling with the quantity of populations is 27.960 and taken sampel many as 100 people who use the funds in the financing of BMT Pradesa Mitra Mandiri Slovin formula. The analytical method used in this research is descriptive cuantitative and paired sample t test. Based to from result analyse data indicate that Ho is reject and Ha received . The conclusion of this research is that there are different between level earnings of society before and after using finance of BMT by Binjai City, meaning that the results of this study significant. Keywords: Baitul Mal wa Tamwil, income, finance and paired sample t test
ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Keinginan manusia dalam hal kesejahteraan ekonomi adalah sebagaimana
diakui dalam islam yaitu memberikan hak-hak yang pasti kepada manusia dan menyediakannya sebagai tata-tertib sosial yang menjamin kesejahteraan sosial bersama dan menghapus kemiskinan. Kondisi perekonomian yang terpuruk akhirakhir ini sudah mengarah pada kondisi yang semakin tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi yang digunakan pada masa lalu justru menciptakan kesenjangan sosial yang cukup mencolok antara golongan kaya dan miskin, menurut M. Nejatullah (dalam eka :2010).
Pengembangan usaha kecil dan menengah merupakan bagian dari upaya memperkokoh struktur penggerak perekonomian nasional yang selama ini lebih menekankan pertumbuhan daripada pemerataan telah melahirkan struktur masyarakat minoritas kelas atas yang menguasai sebagian besar aset negara, sementara masyarakat mayoritas kelas menengah kebawah hanya mendapat sebagian kecil (Eka 2010:8).
Baitul Maal Wa Tamwil hadir memberikan solusi bagi kesenjangan diatas, yaitu dengan memberi bantuan dalam bentuk permodalan dengan sistem bagi hasil guna menambah modal dan demi peningkatan usaha yang sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat tersebut.
Pada tahun 1992 lahirlah sebuah lembaga keuangan kecil yang beroperasi dengan menggunakan gabungan konsep Baitul Maal dan Baitul Tamwil, yang
1

bergerak pada sektor usaha mikro. Lembaga tersebut “memberanikan diri” dengan memberi nama Baitul Mal wa Tamwil yang disingkat BMT. Dengan semakin banyaknya orang-orang yang memiliki perhatian kepada lembaga kecil ini, tetapi juga dibutuhkan adanya perantara untuk terjalin komunikassi dan jaringan antar BMT ataupun penghubung BMT kepada lembaga ekonomi milik pemerintah maupun swasta. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan BMT dimasa depan, maka berdiri pula lembaga Pembina BMT yang berupa Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM), ada juga yang bernama Pusat Pengkajian dan Pengembangan Usaha kecil (P3UK) atau Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) (Jamal 2009:7).
Baitul Mal wa Tamwil merupakan lembaga ekonomi atau lembaga keuangan syariah nonperbankan yang sifatnya informal. Disebut bersifat informal karena lembaga keuangan ini didirikan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) merupakan hasil prakarsa dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil dan Menengah (PINBUK) yang merupakan badan pekerja yang dibentuk oleh Yayasan Inkubasi Usaha Kecil dan Menengah (YINBUK), (Andri 2010:451).
BMT pada masa Nabi Muhammad SAW, Khulafa Ar-Rasyidin dan Umar bin Khattab merupakan khalifah yang mendirikan bayt al-mal dan saat itupernah berkembang dari mengadopsi dari institusi bayt al-mal. Untuk pertama kalinya di Ibu Kota negara dan membangun cabang-cabangnya di kota provinsi (Ibid 2010).
Setalah berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) timbul peluang untuk mendirikan bank-bank yang berprinsip syariah. Operasional BMI kurang
2

menjangkau usaha masyarakat kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan Bank dan lembaga keuangan mikro, seperti BPR syariah dan BMT.
BMT Center adalah Perhimpunan BMT di Indonesia yang didirikan tanggal 14 Juni 2005 pada tahun tersebut BMT diperkirakan melayani lebih dari 3 juta nasabah yang bergerak dibidang usaha mikro dengan jumlah 142 BMT. Pada tahun 2010 terdapat sekitar 4000 BMT yang beroperasi di indonesia sebanyak 206 bergabung dalam asosiasi BMT center diseluruh indonesia.
Munculnya Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang memfokuskan kegiatan usahanya kepada pengusaha mikro, kecil dan menengah termasuk sektor pertanian diduga dapat memberikan dampak yang positif bagi para pengusaha, misalnya dengan peningkatan kesejahteraan keluarga pengusaha tersebut yang diakibatkan dari terpenuhinya modal usaha, sehingga usaha dapat berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan. Sistem bagi hasil yang ditawarkannya mengakibatkan para pengusaha kecil menjadi leluasa bergerak karena tidak terbebani akan adanya bunga yang terus bertambah. BMT dipandang sebagai salah satu alternatif sehubungan dengan usaha untuk memperjuangkan nasib pengusaha kecil.
Dari uraian diatas yang sudah di jelaskan, maka penulis akan mengkaji “Pengaruh BMT Pradesa Mitra Mandiri Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat Kota Binjai”. 1.2 Perumuan Masalah
Berdasarkan uraian dan paparan dalam latar belakang diatas maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:
3

1) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap penggunaan dana BMT Pradesa Mitra Mandiri.
2) Bagaimana dampak pengoperasian BMT Pradesa Mitra Mandiri terhadap pendapatan masyarakat
3) Bagaimana manfaat bagi masyarakat terhadap penggunaa dana BMT Pradesa Mitra Mandiri.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian 1) Untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap penggunaan dana BMT Pradesa Mitra Mandiri. 2) Untuk mengetahui seberapa besar dampak pengoperasian BMT Pradesa Mitra Mandiri terhadap pendapatan masyarakat. 3) Untuk mengetahui manfaat bagi masyarakat terhadap penggunaa dana BMT Pradesa Mitra Mandiri. 1.3.2 Manfaat Penelitian 1) Secara akademis, peneliti dapat menerapkan ilmu pengetahuana yang diperoleh selama perkulihan dan penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan referensi bagi mahasiswa Ekonomi Pembangunan. 2) Dari hasil penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam melakukan penelitian khususnya mengenai apakah ada peningkatan ekonomi setelah menggunakan BMT tersebut.
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi BMT (Baitul Mal wa Tamwil) BMT adalah kependekan dari kata Balai Usaha Mandiri Terpadu atau Baitul
Mal wa Tamwil, yaitu lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Baitul Mal wa Tamwil memiliki dua kata yaitu Baitul Mal (rumah harta), menerima titipan dana zakat, infaq, sedekah dan mengoptimalkan distribusuinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Sedangkan Baitul Tamwil (rumah pengembangan harta), melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi. Sebagai lembaga keuangan BMT bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkan dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang diberikan pinjaman oleh BMT. (Andri 2010:451).
Lembaga ini didirikan dengan maksud untuk memfasilitasi masyarakat bawah yang tidak terjangkau oleh pelayanan Bank Islam atau BPR Islam. Prinsip operasinya didasarkan pada prinsip bagi hasil, jual beli (ijarah), dan titipan (wadi’ah) (N.Huda dan M.Heykal, 2010:393).
Dalam segi operasi, BMT tidak lebih dari sebuah koperasi. Karena ia dimiliki oleh masyarakat yang menjadi anggotanya, menghimpun simpanan anggota dan menyalurkannya kembali kepada anggota melalui produk
5

pembiayaan/kredit. Oleh karena itu, legalitas BMT pada saat ini yang paling cocok adalah berbadan hukum koperasi. Baitul Maal-nya sebuah BMT, berupaya menghimpun dana dari anggota masyarakat yang berupa zakat, infak, dan shodaqoh dan disalurkan kembali kepada pihak yang berhak menerimanya ataupun dipinjamkan kepada anggota yang benar-benar membutuhkan melalui produk pembiayaan qordhul hasan (pinjaman dengan bunga nol persen). Sementara Baitut Tamwil, berupaya menghimpun dana masyarakat yang berupa simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela dan simpanan berjangka serta penyertaan pihak lain, yang sifatnya merupakan kewajiban BMT untuk mengembalikannya. Dana yang terhimpun diputar secara produktif bisnis kepada para anggotanya dengan pola syariah.(Aulia:2009) 2.2 Aspek Legalitas BMT
Ketentuan pembentukan BMT berbadan hukum koperasi diperkuat oleh PP No.9/1995, dimana dalam penjelasan pasal 2 ayat 1 membolehkan penerapan sistem bagi hasil pada koperasi, sebagai berikut:
1) Jumlah pendiri minimal 20 orang 2) Jumlah pengurus minimal 20 orang 3) Jumlah pengelola minimal 3-5 orang, dimana mereka telah mengikuti
pelatihan BMT dan manejer dengan pendidikan formal terakhir minimal D3. 4) Anggota terdiri dari anggota pendiri dan anggota biasa. Anggota pendiri meliputi tokoh masyarakat yang bersedia menjadi sponsor dalam
6

menyediakan modal awal. Anggota biasa adalah para penyimpan (penabung) dan debitur. 5) Simpanan-simpanan yang ada meliputi: simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan simpanan pendiri. Simpanan pokok adalah simpanan tertentu yang harus disimpan oleh anggota pada saat pendaftaran diri atau saat transaksi untuk pertama kalinya. Simpanan wajib adalah simpanan dalam jumlah tertentu yang diberikan anggota secara rutin. Simpanan pendiri adalah modal awal yang berasal dari para pendiri dalam jumlah tertentu berdasarkan hasil kesepakatan bersama, dimana simpanan ini tidak dapat diambil dan tidak memperoleh imbalan jasa bagi hasil tabungan. 6) Tumbuh dan berkembang di tempat-tempat yang belum atau tidak terjangkau oleh lembaga-lembaga keuangan yang ada, dengan bentuk awal berupa KSM (kelompok swadaya masyarakat). 7) Pengurus BMT sekaligus berfungsi sebagai Badan Pemeriksa dan mensupervisi manajemen (pelaksanaan) BMT.(Aulia:2009) 2.3 Akad dan Produk Dana BMT Menurut himpunan Fatwa DSN-MUI (2003) dalam menjalankan usaha, beberapa akad yang ada pad BMT mirip dengan akad yang ada pada bank pembiayaan rakyat Islam. Adapun akad-akad tersebut adalah: pada sistem operasional BMT, pemilik dana menanamkan uangnya di BMT tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil.
7

2.3.1 Produk penghimpunan dana lembaga keuangan islam 1) Giro Wadiah, adalah produksimpanan yang bisa dittarik kapan saja.
Dana nasabah dititipkan di BMT dan boleh dikelola. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan giro oleh BMT. Besarnya bonus tidak ditetapkan dimuka, tetapi benar-benar merupakan kebijaksanaan BMT. (Fatwa DSN-MUI No. 01/DSN-MUI/IV/2000). 2) Tabungan Mudharabah, dana yang disimpan nasabah akan dikelola BMT, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan nasabah. Nasabah bertindak sebagai sahibul mal dan lenbaga keuangan Islam bertindak sebagai mudharib. (Fatwa DSN-MUI No. 02/DSN-MUI/IV/2000). 3) Deposito Mudharabah, BMT bebas melakukan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan Islam dan mengembangkannya. BMT bebas mengelola dana (mudharabah mutaqah). BMT berfungsi sebagai mudharib sedangkan nasabah sebagai sahibul maal. Ada juga dana nasabah yang dititipkan untuk usaha tertentu. Nasabah memberi batasan pengguna dana untuk jenis dan tempat tertentu, jenis ini disebut mudharabah muqayyadah. 2.3.2 Produk Penyaluran Dana
Produk penyaluran dana dalam hal ini merupakan bentuk pola pembiayaan yang merupakan kegiatan BMT dengan harapan dapat
8

memberikan penghasilan. Pola pembiayaan tersebut menurut (Jamal 2009:37) adalah : 1) Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan modal kerja yang diberikan oleh BMT kepada anggota, dimana pengelolaan usaha sepenuhnya diserahkan kepada anggota sebagai nasabah debitur. Dalam hal ini anggota (nasabah) menyediakan usaha dan sistem pengelolaannya (manajemennya). 2) Pembiayaan Musyarakah Pembiayaan berupa sebagian modal yang diberikan kepada anggota dari modal keseluruhan. Pihak BMT dapat dilibatkan dalam proses pengelolaannya. Pembagian keuntungan yang proporsional dilakukan sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak. 3) Pembiayaan Murabahah Pembiayaan yang diberikan kepada anggota untuk pembelian barangbarang yang akan dijadikan modal kerja. Pembiayaan ini diberikan untuk jangka pendek yaitu tidak lebih dari 6 sampai 9 bulan atau lebih dari itu. Keuntungan bagi BMT diperoleh dari harga yang dinaikkan. 4) Pembiayaan al-Qardhul Hasan Merupakan pinjaman lunak yang diberikan kepada anggota yang benarbenar kekurangan modal/kepada mereka yang membutuhkan untuk keperluan yang sifatnya darurat. Nasabah (anggota) cukup mengembalikan pinjamannya sesuai dengan nilai yang diberikan oleh BMT.
9

2.4 Ruang Gerak dan Model Organisasi Baitul Maal wa Tamwil Ruang gerak BMT menyangkut persoalan bida’ah yang digarap oleh BMT
dan juga batasan-batasan beberapa limitasi sebagai irama dan integrasi operasionalnya (Al-Anshori,1993:73).
Jika dilihat dari substansi institusi BMT, tentunya yang jelas terlihat bahwa BMT bergerak dalam bidang Baitul Maal dan Baitul Tamwil. Namun, dalam perkembangannya dilapangan, BMT juga membutuhkan sektor riil dalam rangka memback-up dan sebagai buffer bagi biaya operasional BMT secara menyeluruh dengan pola subsidi silang, mengingat bahwa usaha riil yang berhasil keuntungannya jauh lebih besar. (Yunus, 2009:112).
Sedangkan yang dimaksud dengan model organisasi BMT ini adalah meliputi karakteristik dan struktur organisasi yang tidak terlepas dari visi, misi dan tujuan serta tata nilai yang akan dicapai oleh BMT secara menyeluruh. (Triyuwono, 1998:19) 2.5 Prinsip Operasional BMT
Menurut Hamidi (dalam Aulia, 2009), prinsip operasional BMT tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip yang digunakan oleh bank-bank Islam yaitu prinsip simpan (tabungan), bagi hasil, jual beli, sewa, jasa. Ada tiga prinsip yang dilaksanakan oleh BMT, yaitu:
1) Sistem Bagi Hasil, dimana sistem ini meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara pemodal (penyedia dana) dengan pengelola dana. Pembagian hasil ini dilakukan antara BMT dengan pengelola dana dan
10

antara BMT dengan penyedia dana (penabung). Bentuk yang berdasarkan prinsip ini adalah mudharabah dan musyarakah. 2) Sistem jual beli dengan Mark Up (keuntungan), dimana sistem ini merupakan tata cara jual beli yang dalam pelaksanaannya BMT mengangkat nasabah sebagai agen yang diberikan kuasa untuk melakukan pembelian barang atas nama BMT, kemudian BMT bertindak sebagai penjual yang menjual barang tersebut kepada nasabah dengan sejumlah harga beli ditambah keuntungan bagi BMT (mark up/margin). Keuntungan yang diperoleh BMT akan dibagikan juga kepada penyedia/penyimpan dana. Bentuk produk ini yaitu murabahah dan Ba’i Bit’tsaman Ajil. 3) Sistem Non Profit, atau disebut juga dengan pembiayaan kebajikan atau lebih bersifat sosial. Sumber dana untuk pembiayaan ini tidak memerlukan biaya, tidak seperti bentuk-bentuk pembiayaan tersebut diatas. Bentuk pembiayaan ini disebut Qordhul Hasan.
11

Tabel 2.1 Perbedaan Sistem Bunga dan Sistem Bagi Hasil

SISTEM BUNGA
Penentuan besarnya hasil (bunga) dibuat sebelumnya (pada waktu aqad) tanpa pedoman untung rugi.
Besarnya persentase (bunga/nilai rupiah) ditentukan sebelumnya, berdasarkan jumlah uang yang dipinjamkan.
Jika terjadi kerugian ditanggung si peminjam saja berdasarkan pembayaran bunga tetap seperti yang telah dijanjikan. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun keuntungan meningkat. Besarnya bunga yang harus dibayar si peminjam pasti diterima bank. Umumnya agama mengancamnya (terutama Islam). Berlawanan dengan Al-qur’an surah Luqman ayat 34.

SISTEM BAGI HASIL
Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu aqad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi (besarnya jumlah diketahui sesudah berusaha, sudah ada untungnya). Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan keuntungan yang paralel dengan menyepakati proporsi pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak dan belum ditentukan besarnya.
Jika terjadi kerugian ditanggung kedua telah belah pihak yaitu si pemilik modal dan si peminjam.
Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. Keberhasilan usaha menjadi perhatian bersama yaitu si pemilik modal dengan si peminjam. Tidak ada yang meragukan sistem bagi hasil. Melaksanakan Al-Qur’an surah Luqman ayat 34.

2.6 Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Sebelum membahas mengenai peningkatan ekonomi masyarakat secara

luas, Terlebih dahulu penulis akan membahas pengertian pengembangan ekonomi

masyarakat baik dari etimologi maupun dari segi terminologinya. Peningkatan

ekonomi masyarakat sebuah istilah yang mengandung tiga suku kata yang

masing-masing memiliki arti sendiri (Alvi:2008). Pertama, peningkatan dalam

12

Kamus Besar Bahasa Indonesia proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan).
Kedua, ekonomi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yakni Oikonomia. Oikonomia sendiri berasal dari dua suku kata yakni oikos dan nomos. Oikos berarti rumah tangga dan nomos berarti aturan. Dengan demikian secara sederhana, ekonomi dapat diartikan sebagai kegiatan yang mengurus rumah tangga yang dalam bahasa inggris disebut dengan istilah economics (Alvi:2008).
Sedangkan secara terminologi/istilah, ekonomi adalah pengetahuan tentang peristiwa dan persoalan yang berkaitan dengan upaya manusia baik individual atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas yang dihadapkan pada sumber-sumber terbatas. Sedangkan menurut para ahli ekonomi seperti Marshall sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Karim dalam bukunya, berpendapat bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha individu maupun kelompok dalam ikatan pekerjaan sehari-hari yang berhubungan dengan bagaimana pula mempergunakan pendapatan tersebut (Alvin:2008).
Ketiga, masyarakat secara etimologi diartikan sebagai sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terkait oleh sesuatu kebutuhan yang mereka anggap sama. Sedangkan secara teminologi/istilah masyarakat diartikan sebagai berikut:
1) R. Lipton; Setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka dapat mengorganisasikan dirinya, berfikir tentang dirinya dalam suatu kesatuan sosial dalam batas-batas tertentu.
13

2) Selo Soemarjan; orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan budaya.
3) Parsuli Suparlan; Suatu kehidupan sosial manusia yang menepati suatu wilayah tertentu.
Jika dilihat dari beberapa definisi tersebut maka, sukar untuk memberikan batasan tentang masyarakat. Sukarnya batasan masyarakat itu dikarenakan konsep masyarakat meliputi berbagai faktor. Tetapi secara garis besar masyarakat dapat dibagi kepada dua pengertian, yakni pengertian masyarakat secara luas dan pengertian masyarakat secara sempit (Alvin:2008).
Menurut Elly Iriawan (dalam Alvin, 2008), istilah masyarakat dalam konteks pengembangan masyarakat adalah sekelompok orang-orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah geografis tertentu dimana satu sama lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya.
Pembahasan mengenai usaha kecil tidak lepas dari pemahaman tentang lingkungan dan sistem perusahaan berskala kecil serta pengusahannya yang termasuk kedalam kelola BMT. Berbagai kegiatan dilakukan usaha kecil dan hambatan-hambatan yang dijumpai dalam dunia usaha tercakup dalam suatu istilah yang disebut kewirausahaan. Peran seorang wirausahawan sangat mendominasi perilaku bisnis dan sangat menentukan arah masa depan bagi suatu usaha kecil. 2.7 Bentuk dan Jenis Usaha Kecil.
Berbagai bentuk usaha kecil yang terdapat di Indonesia dapat digolongkan menurut bentuk-bentuk, jenis serta kegiatan yang dilakukannya. Penggolongan
14

menurut jenis berdasarkan pada pola kepemimpinan dan pertanggungjawabannya. Penggolongan menurut jenis berdasarkan pada jenis produk atau jasa yang dihasilkan serta aktifitas yang dilakukan. Disamping penggolongan berdasarkan kategori diatas pada hakikatnya usaha kecil yang ada secara umum dikelompokkan kedalam tiga golongan khusus yang meliputi :
1) Industri Kecil Misalnya : Industri kerajinan rakyat, industri pembuatan batu bata, konveksi, salon dan rias pengantindan berbagai indutri lainnya.
2) Perusahaan Berskala kecil Misalnya : Restoran, toko kerajinan, koperasidan lainnuya.
3) Sektor informal Misalnya : Agen barang bekas,kios kaki lima dan lainnya. Berdasarkan bentuk usahannya, maka perusahaan dapat digolongkan dalam dua bentuk : a) Usaha Perseorangan Usaha perseorangan bertanggung jawab kepada pihak ketiga atau pihak lain (dalam hal ini konsumen) dengan dukungan harta kekayaan perusahaan yang merupakan milik pribadi dari pengusaha yang merupakan milik pribadi dari pengusaha yang bersangkutan. Jumlahnya di Indonesia cukup besar dan skala usahanya relatif kecil. Padaumumnya lebih mudah untuk didirikan, karena tidak memerlukan persyaratan yang rumit dan bertahap serta bentukbentuk usaha lainnya.
15

b) Usaha Persekutuan Usaha persekutuan berusaha mencapai tujuan-tujuan perusahaan dalam memperoleh laba. Merupakan bentuk kerjasama dari beberapa orangf yang bertanggung jawab secara pribadi terhadap kewajibankewajiban usaha persekutuannya. Bentuk pertanggung jawaban dan pola kepemimpinannya berbeda-beda menurut bentuk persekutuan yang dibentuk. Jenis usaha kecil dikategorikan berdasarkan jenis produk atau jasa yang dihasilkan atau aktifitas yang dilakukan suatu usaha kecil, serta mengacu pada kriteria usaha kecil.
4) Keunggulan Usaha Kecil Pada kenyataannya usaha kecil mampu tetap bertahan dan mengantisipasi kelesuan perekonomian yang diakibatkan inflasi maupun sektor berbagai faktor penyebab lainnya. Tanpa subsidi dan proteksi, industri kecil di Indonesia mampu menambah nilai devisa bagi negara. Sedangkan sektor informal mampu berperan sebagai penyangga dalam perekonomian masyarakat bawah.
5) Tujuan Pengembangan Usaha Kecil Usaha kecil merupakan salah satu bentuk kewirausahaan yang perlu dikembangkan. Adapun tujuan pengembangan usaha kecil adalah : a) Pertumbuhan dan peningkatan kemampuan usaha kecil agar menjadi usaha yang tangguh, yang sukar dikalahkan, kuat, teguh pendirian, tabah dan tahan menderita.
16

b) Pertumbuhan dan peningkatan kemampuan usaha kecil agar menjadi usaha yangmandiri. Kemandirian dalam menjalankan usahanya dapat dicapai apabila pengusaha tersebut mampu menentukan tiap jalan usahanyasecara berkesinambungan.
2.8 Pendapatan, Keuntungan dan Kredit 2.8.1 Pendapatan Salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai kondisi perekonomian suatu negara adalah pendapatan nasional. Tujuan dari perhitungan pendapatan nasional ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat ekonomi yang telah dicapai dan nilai output yang diproduksi, komposisi pembelanjaan agregat, sumbangan dari berbagai sektor perekonomian, serta tingkat kemakmuran yang dicapai (Sukirno, 2008). Pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan, semakin besar pendapatan yang diperoleh maka semakin besar kemampuan perusahaan untuk membiayai segala pengeluaran dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan. Pendapatan disposabel (Yd) adalah pendapatan nasional yang secara nyata dapat dibelanjakan oleh masyarakat, tidak termasuk didalamnya pendapatan pemerintah seperti pajak, cukai dan sektor pemerintah.Variabel yang mempengaruhi besar kecilnya pendapatan disposabel: 1) Pajak (T) merupakan variabel yang memperkecil pendapatan disposabel.
17

2) Pembayaran Alihan/Transfer Payment (R) Pembayaran alihan merupakan pembayaran-pembayaran khusus pemerintah kepada masyarakat yang sifatnya merupakan pembayaran ekstra atau tunjangan, misalnya tunjangan pensiun, tunjangan hari raya, gaji ke-13, dll. Berdasarkan ada tidaknya pajak (T) dan pembayaran alihan (R) di
dalam perekonomian suatu negara, besarnya pendapatan disposabel agregat dapat ditulis dalam kalimat matematis sebagai berikut: • Kondisi tidak terdapat pajak dan pembayaran alihan
Yd = Y • Kondisi terdapat Pajak (T)
Yd = Y – T • Kondisi hanya ada pembayaran alihan (Transfer)
Yd = Y + R • Kondisi terdapat pajak dan pembayaran alihan (Transfer)
Yd = Y – T + R Pendapatan disposabel merupakan variabel bebas dalam persamaan
fungsi konsumsi dan tabungan bukanlah pendapatan nasional. Persamaan Fungsi Pendapatan adalah:
Yd = C + S Dimana :
C = Konsumsi Agregat S = Tabungan Agregat Yd = Pendapatan disposabel
18

Berdasarkan keterangan diatas, maka komposisi Produk Domestik Bruto suatu negara terdiri dari Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, a. Fungsi Konsumsi
Teori Konsumsi Keynes baru muncul pada saat masa Great Depression tahun 1929-1930. Seperti yang telah dijelaskan diatas, teori ini menentang teori lama, yaitu teori ekonomi klasik. Teori ekonomi klasik menganut paham yang dicetuskan oleh J.B. Say, “Supply creates its own demand”, Penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Keynes menolak pendapat yang membuat pemerintah yang sebenarnya bisa membenahi dan menghentikan depresi, tidak berbuat apa-apa karena teori ini.
Teori Konsumsi Keynes menyatakan bahwa “Pengeluaran seseorang untuk konsumsi dan tabungan dipengaruhi oleh pendapatannya. Semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol”.
Teori Konsumsi Keynes terkenal dengan teori konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Absolut (Absolute Income Hypothesis) yang pada intinya menjelaskan bahwa konsumsi seseorang dan atau masyarakat secara absolut ditentukan oleh tingkat pendapatan, kalau ada faktor lain yang juga menentukan, maka menurut Keynes semuanya tidak terlalu berpengaruh.
19

Teori Konsumsi Keynes didasarkan pada 3 pendapat, yaitu: 1) Konsumsi meningkat apabila pendapatan meningkat, akan tetapi
besarnya peningkatan konsumsi tidak akan sebesar peningkatan pendapatan, oleh karenanya adanya batasan dari Keynes sendiri yaitu bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal = MPC (Marginal Propensity to Consume) adalah antara nol dan satu, dan pula besarnya perubahan konsumsi selalu diatas 50% dari besarnya perubahan pendapatan (0,5

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3879 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 776 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1089 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1321 23