PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD NEGERI 4 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A
MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V
SD NEGERI 4 METRO SELATAN
TAHUN PELAJARAN
2012/2013

Oleh
ELYZABET TRI SULISTYOWATI

Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya aktivitas dan hasil belajar PKn
siswa kelas V SD Negeri 4 Metro Selatan tahun pelajaran 2012/2013. Rendahnya
aktivitas siswa disebabkan sistem pembelajaran yang digunakan guru berupa one
trafict way serta penggunaan model pembelajaran yang belum bervariasi.
Sedangkan rendahnya hasil belajar siswa disebabkan siswa cenderung diam jika
diberikan kesempatan untuk bertanya, sehingga guru tidak tahu sejauh mana
tingkat pemahaman siswa. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4 Metro
Selatan tahun pelajaran 2012/2013 yaitu dengan menerapkan model cooperative
learning tipe make a match.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah classroom action
research atau penelitian tindakan kelas (PTK). Alur PTK terdiri 4 tahapan yaitu
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data
dilakukan dengan cara observasi dan tes hasil belajar. Data yang diperoleh
dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model cooperative
learning tipe make a match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn.
Dari hasil penelitian diperoleh data rata-rata aktivitas siswa pada siklus I
(57,77%), siklus II (69,46%), dan siklus III (77,92%). Rata-rata aktivitas siswa
pada siklus I ke siklus II meningkat sebesar 11,69%, dan pada siklus II ke siklus
III meningkat sebesar 8,46%. Adapun hasil belajar diperoleh data nilai rata-rata
kelas pada siklus I (68,46), siklus II (73,08), dan siklus III (81,15). Peningkatan
nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 4,62, dan pada siklus II ke
siklus III meningkat sebesar 8,07. Selain itu dari segi ketuntasan belajar pada
siklus I (53,85%), siklus II (65,38%), dan siklus III (80,77%).
Kata kunci: Model cooperative learning tipe make a match, PKn, aktivitas belajar
siswa, hasil belajar siswa.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhannya termasuk
mengenyam pendidikan. Pendidikan bagi umat manusia merupakan kebutuhan
mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Melalui pendidikan manusia dapat
berkreativitas, sejahtera, bahagia serta terbebas dari ketertinggalan. Hal tersebut
sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 pasal 28C ayat 1 yang menyatakan
bahwa “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.
Pendidikan merupakan salah satu wadah untuk menggali potensi yang
dimiliki oleh sumber daya manusia baik pengetahuan, moral, maupun
keterampilan. Hal tersebut sejalan dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003
tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara”,
Untuk

mengembangkan

potensi

diri

agar

memiliki

kepribadian,

kecerdasan, serta akhlak mulia ditanamkanlah nilai moral serta norma sejak usia
dini. Penanaman nilai, moral dan norma diberikan pada mata pelajaran PKn,
untuk itulah mata pelajaran PKn menjadi salah satu mata pelajaran yang penting.
Mata pelajaran PKn diberikan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Semakin tinggi jenjang sekolah maka akan semakin luas pula wawasan yang
diajarkan. Menurut Azis (2010) PKn dapat diartikan sebagai wahana untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada
budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk
perilaku kehidupan sehari-hari peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun tujuan utama PKn adalah
untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang
cinta tanah air dan bersendikan tanah kebudayaan bangsa, wawasan nusantara,
serta ketahanan nasional (Sumarsono, 2006: 4). Pada jenjang sekolah dasar mata
pelajaran PKn yang diberikan berupa konsep nilai, moral, dan norma yang
sederhana yaitu untuk membentuk warga yang mempunyai nilai, moral, dan
norma yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Ruminiati (2007:1.1)
bahwa PKn SD merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk
warga negara yang baik. Mata pelajaran PKn SD dipergunakan untuk
menanamkan pendidikan nilai, moral, dan norma. Hal ini dipertegas oleh
Ruminiati pada halaman 1.26 bahwa nilai moral dan norma ditanamkan pada

siswa sejak usia dini untuk membentuk warga negara yang baik yaitu warga
negara yang tahu, mau, dan sadar akan hak dan kewajibannya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V SD
Negeri 4 Metro Selatan pada bulan November 2012, diperoleh data bahwa
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran PKn masih rendah.
Rendahnya aktivitas belajar siswa dilihat ketika mengikuti pembelajaran masih
banyak siswa yang ribut atau tidak memperhatikan guru, ketika diberikan
kesempatan oleh guru untuk bertanya siswa cenderung diam.

Hal tersebut

berdampak pada hasil belajar siswa, karena guru tidak tahu apakah siswa sudah
paham atau belum terhadap materi yang diberikan. Berdasarkan dokumentasi
diketahui bahwa hasil belajar PKn siswa kelas V rata-rata memperoleh nilai 60.
Sedangkan nilai KKM mata pelajaran yang telah ditetapkan adalah 70.
Berdasarkan data yang diperoleh melalui nilai mid semester, dari 26 siswa baru 10
siswa (38,46%) yang mencapai KKM tersebut. Rendahnya aktivitas dan hasil
belajar siswa disebabkan oleh sistem pembelajaran yang digunakan guru
menggunakan pembelajaran dengan sistem one trafick way yaitu dimana
pembelajaran yang digunakan guru bersifat satu arah sehingga pembelajaran
berpusat pada guru, selain itu dalam mengajar guru belum menggunakan model
pembelajaraan yang bervariasi antara lain model cooperative learning tipe make a
match.
Melihat permasalahan di atas, maka diperlukannya suatu perubahan dalam
proses pembelajaran agar proses pembelajaran siswa dapat meningkat. Dalam
perbaikan proses pembelajaran ini peranan guru sangat penting, yaitu salah
satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Menurut Isjoni

(2011: 49) agar guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam
meningkatkan hasil pembelajaran harus menggunakan model pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan siswa. Selain menggunakan model pembelajaran yang tepat,
gurupun

hendaknya

menciptakan

suasana

yang

menyenangkan

dalam

pembelajaran sehingga pembelajaran berjalan kondusif. Sebagaimana yang
dikemukakan Rakhmat (2006: 213) bahwa guru harus dapat mengadakan
perubahan, dari kelas yang membosankan menjadi kelas yang menyenangkan.
Salah satu model pembelajaran yang efektif serta menyenangkan adalah model
cooperative learning tipe make a match.
Menurut Tin (2012) model cooperative learning tipe make a match
merupakan model pembelajaran dimana siswa secara aktif membentuk kelompok
dengan mencari pasangan yang cocok. Model cooperative learning tipe make a
match melatih pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari, karena ada
unsur permainan sehingga siswa tidak merasa bosan dalam pembelajaran, selain
itu melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar karena adanya
pembatasan waktu dalam penerapan model cooperative learning tipe make a
match.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perbaikan pembelajaran
yang dilakukan melalui penelitian tindakan kelas ini dengan menerapkan model
cooperative learning tipe make a match pada mata pelajaran PKn Siswa Kelas V
SD Negeri 4 Metro Selatan tahun pelajaran 2012/2013.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan
permasalahan sebagai berikut:
a.

Rendahnya aktivitas belajar siswa, hal tersebut terbukti ketika diberikan
kesempatan oleh guru untuk bertanya siswa cenderung diam. Siswa
banyak yang ribut atau tidak memperhatikan guru ketika mengikuti
pembelajaran.

b.

Rendahnya hasil belajar siswa, hal tersebut dilihat dari banyaknya siswa
yang belum mencapai standar KKM yang ditentukan. Rata-rata siswa
memperoleh nilai 60, dari 26 siswa yang memenuhi standar KKM baru
10 siswa (38,46% ).

c.

Guru menggunakan pembelajaran dengan sistem one trafick way.

d.

Guru belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi salah
satunya antara lain model cooperative learning tipe make a match.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
a.

Bagaimanakah penerapan model cooperative learning tipe make a match
dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4
Metro Selatan tahun pelajaran 2012/2013?

b.

Apakah penerapan model cooperative learning tipe make a match dapat
meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4 Metro
Selatan tahun pelajaran 2012/2013?

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a.

Meningkatkan aktivitas belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4 Metro
Selatan melalui penerapan model cooperative learning tipe make a match
tahun pelajaran 2012/2013.

b.

Meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4 Metro
Selatan

melalui penerapan model cooperative learning tipe make a

match tahun pelajaran 2012/2013.

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait
dalam penelitian diantaranya bagi siswa, guru, sekolah, maupun peneliti.
a.

Bagi siswa
Melalui penerapan model cooperative learning tipe make a match

diharapkan dapat:
1.

Meningkatkan aktivitas belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4
Metro Selatan tahun pelajaran 2012/2013.

2.

Meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 4 Metro
Selatan tahun pelajaran 2012/2013.

b.

Bagi guru
Model cooperative learning tipe make a match ini dapat dijadikan

salah satu alternatif mengajar oleh guru dalam proses pembelajaran dalam
rangka memperbaiki pembelajaran serta menjadi inovasi bagi guru dalam
mengembangkan model pembelajaran lain untuk profesionalisme dirinya.

c.

Bagi sekolah
Penelitian ini dapat memberikan sumbang pemikiran yang berguna

bagi peningkatan belajar siswa dalam rangka

meningkatkan mutu

pembelajaran di sekolah.
d.

Bagi peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan dalam meningkatkan

kompetensi

paedagogik

pada

diri

peneliti,

sekaligus

memberikan

pengalaman tentang penelitian tindakan kelas sehingga dapat menjadi guru
yang profesional.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Belajar
Setiap individu selalu melakukan kegiatan belajar dari mulai buaian ibu
sampai sepanjang hayat. Belajar pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan oleh individu secara sadar sehingga menghasilkan perubahan. Teori
mengenai belajar terdiri dari tiga teori yaitu teori konstruktivisme, teori
behaviorisme, dan teori kognitif. Menurut Rusman (2012: 201) teori belajar yang
melandasi cooperative learning adalah teori konstruktivisme. Menurut pandangan
konstruktivistik (dalam Budiningsih, 2005: 58) belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia
harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi
makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Belajar akan bermakna apabila individu memperoleh pengetahuan dari
pengalamannya, bukan hanya diperoleh dari proses pemberitahuan saja. Hal ini
sejalan dengan teori konstruktivisme bahwa belajar menekankan pada poses
daripada hasil. Didalam proses belajar, si belajar akan mendapatkan pengalaman
yang bermakna sehingga terbentuklah pengetahuan baru. Menurut Bruner (dalam
Trianto, 2010: 20) belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun
(mengkonstruk)

pengetahuan

baru

berdasarkan

pada

pengalaman

atau

pengetahuan yang sudah dimilikinya. Seiring dengan pendapat Piaget (dalam
Sanjaya, 2008: 122) dinyatakan bahwa individu sejak kecil telah memiliki
kemampuan untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri berdasarkan
pengalaman individu terhadap skema yang sudah ada.
Belajar pada umumnya bersifat relatif permanen dan merupakan proses
kegiatan secara berkelanjutan dalam rangka perubahan perilaku peserta didik
secara konstruktif. Sejalan dengan pendapat Trianto (2010: 9) menyatakan belajar
merupakan suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang
sebagai hasil dari proses belajar. Dalam proses belajar, siswa tidak hanya sekedar
menghafal, melainkan mengalami sendiri sehinggga pengetahuan dapat terbentuk
dan tertanam dalam benak siswa dan pada akhirnya terbentuk pola-pola bermakna
dari pengetahuan yang telah didapatnya. Menurut Witherington (dalam Hanafiah,
2010: 7) belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan
sebagai pola-pola respon baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan, dan kecakapan. Belajar mencakup semua aspek kehidupan yang
penuh makna, dalam rangka membangun manusia seutuhnya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus berdasarkan
pengalaman yang tertanam pada diri individu dalam rangka perubahan perilaku
yang lebih baik lagi dalam berbagai ranah baik itu berupa pengetahuan, sikap,
maupun keterampilan akibat adanya interaksi dari lingkungan si belajar. Dengan
melakukan atau mengalami sendiri, apa yang dilakukannya akan selalu terekam
sehingga dapat membangun sebuah pengetahuan secara permanen. Didalam
belajar terdapat aktivitas serta hasil belajar.

2.1 1 Aktivitas Belajar
Setiap orang selalu melakukan aktivitas, ketika seseorang belajarpun pasti
melakukan sebuah aktivitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam
Depdikbud, 2005: 23) aktivitas diartikan sebagai suatu kegiatan. Menurut
Rohani (2004: 6) belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas,
baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah peserta didik giat-aktif
dengan anggota badan membuat sesuatu, bermain atau bekerja, dan lain-lain.
Aktivitas psikis adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau
banyak berfungsi dalam rangka pangajaran.
Menurut Hamalik (2008: 170) siswa adalah suatu organisme yang hidup
beranekaragam. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat
dan bekerja sendiri. Prinsip aktif inilah yang mengendalikan tingkah laku siswa.
Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Kunandar (2010: 277) bahwa aktivitas
siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan
aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses
belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Aspek
aktivitas yang diteliti dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1: Aspek Aktivitas Siswa
Aspek Aktivitas Siswa yang Diamati
Perhatian
siswa pada
proses
pembelajaran

Partisipasi
siswa dalam
mencari
pasangan

Ketepatan
siswa dalam
mencari
pasangan

Kerjasama Kedisiplinan
dalam
siswa terhadap
kelompok waktu

Modifikasi dari Kunandar (2010:234)
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas
belajar merupakan suatu kegiatan fisik maupun psikis yang dilakukan siswa

dalam proses belajar guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar
sehingga siswa mendapatkan suatu pengalaman dari yang telah dilakukan
tersebut, serta terciptanya pengetahuan pada diri siswa.

2.1 2 Hasil Belajar
Tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran adalah
hasil belajar. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana siswa
dapat memahami serta mengerti materi pembelajaran. Penilaian hasil belajar
merupakan bagian dari proses pembelajaran dimana guru dapat mengevaluasi
sejauh mana keberhasilan siswa.
Menurut Hamalik (2008: 30) bukti bahwa seseorang telah melakukan
belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku. Hasil belajar akan tampak
pada setiap perubahan pada aspek-aspek yang meliputi pengetahuan,
pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan
sosial, jasmani, budi pekerti, dan sikap. Jika seseorang telah melakukan
perbuatan belajar maka akan terjadinya perubahan dalam salah satu atau
beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Menurut Sudjana (dalam Kunandar, 2010: 276) hasil belajar adalah suatu
akibat dari proses dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu tes yang tersusun
secara terencana, bentuk tes tertulis, tes lisan, maupun tes perbuaatan. Lain
halnya dengan pendapat Sumiati (2009: 200) keberhasilan proses pembelajaran
dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai siswa yang diperoleh melalui
kegiatan evaluasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan perubahan tingkat perkembangan mental serta tingkat
kemampuan yang dimiliki setelah melakukan kegiatan belajar yang diwujudkan
dalam bentuk nilai setelah mengikuti tes. Dengan tes yang diberikan, guru dapat

mengetahui sampai sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang
telah dipelajarinya.

2.2 Model Pembelajaran
2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran
Pembelajaran akan efektif jika menggunakan sebuah inovasi-inovasi
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, sehingga pembelajaran
menjadi bermakna. Salah satu inovasi dalam pembelajaran ialah dengan
menerapkan model yang tepat dalam pembelajaran tersebut. Menurut
Komalasari (2010: 57) model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas.
Menurut Iru (2012: 6) model pembelajaran adalah acuan pembelajaran
yang dilaksanakan berdasarkan pola-pola pembelajaran tertentu secara
sistematis. Seiring dengan pendapat Joyce & Weil (dalam Rusman, 2012: 133)
menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola
yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan
pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran merupakan suatu pola yang direncanakan secara sistematis oleh
guru dari awal sampai akhir pembelajaran agar siswa dapat berpikir kritis dalam
menyerap materi yang diajarkan sehingga siswa mendapat pengetahuan yang
bermakna dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

2.2.2 Jenis-jenis Model Pembelajaran
Model pembelajaran memiliki banyak jenis. Menurut Taniredja (2012: 587) model pembelajaran terdiri dari lima jenis yaitu; model pembelajaran
berbasis portofolio, model pembelajaran simulasi, model pembelajaran
kontekstual, model cooperative learning, dan model pembelajaran VCT.
Berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran di atas, peneliti menggunakan
model cooperative learning. Karena model cooperative learning terkait dengan
peran PKn sebagai wahana penanaman nilai karakter, misalnya nilai kerjasama,
tanggung jawab, dan demokratis. Sebagaiamana pendapat Dewey dan Thelan
(dalam Martati, 2010: 16) yang menyatakan bahwa penggunaan kerja kelompok
kooperatif bukan hanya sekedar meningkatkan pembelajaran akademis,
melainkan perilaku dan proses kooperatif dianggap mendasar bagi semua upaya
manusia untuk membangun nilai karakter.

2.3 Model Cooperative Learning
2.3.1 Pengertian Cooperative Learning
Cooperative learning terdiri dari dua kata yaitu “cooperative” yang berarti
kerja sama dan “learning” yang berarti pembelajaran. Menurut Isjoni (2011: 9)
cooperative learning sebagai kegiatan pembelajaran kelompok yang terarah,
terpadu, efektif-efisien, ke arah mencari atau mengkaji sesuatu melalui proses
kerja sama dan saling membantu sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang
produktif.
Menurut Arihi (2012: 47) cooperative learning merupakan model
pembelajaran dalam kelompok kecil yang dalam menyelesaikan tugas
kelompoknya setiap anggota harus saling kerja sama dan saling membantu,

sehingga setiap siswa selain memiliki tanggung jawab individu, tanggung jawab
berpasangan, juga tanggung jawab dalam kelompok. Keberhasilan dalam belajar
bukan hanya semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh,
peran teman sebayapun memiliki andil dalam memperoleh pengetahuan.
Perolehan belajar akan semakin baik apabila secara bersama-sama dalam
kelompok belajar kecil yang terstruktur dengan baik.
Menurut Rusman (2010: 208) siswa yang bekerja dalam situasi
cooperative learning dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama
dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya
untuk mencapai satu penghargaan yang sama. Hal ini sejalan dengan pendapat
Solihatin (2007: 6) bahwa suasana belajar dan rasa kebersamaan yang tumbuh
dan berkembang diantara sesama anggota kelompok memungkinkan siswa untuk
mengerti dan memahami materi pelajaran dengan lebih baik.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
cooperative learning merupakan suatu pembelajaran dimana setiap individu
saling memiliki ketergantungan dalam proses mendapatkan pengetahuan yang
utuh sehingga dibutuhkan sebuah kerjasama untuk mencapai apa yang
diinginkan dalam belajar. Dengan bekerja sama diharapkan menumbuhkan sikap
serta perilaku sosial siswa untuk saling tolong-menolong dan menerima satu
sama lain dalam rangka membentuk watak manusia yang baik sebagai makhluk
sosial.

2.3.2 Karakteristik Cooperative Learning
Setiap model pembelajaran mempunyai ciri khas (karakteristik) yang
membedakan model yang satu dengan model yang lainnya, termasuk model

cooperative learning. Menurut Sanjaya (2008: 242) karakteristik cooperative
learning meliputi:
a. Pembelajaran secara tim
Pada dasarnya cooperative learning adalah pembelajaran secara tim.
Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu tim harus
mampu

membuat

setiap

siswa

belajar

untuk

mencapai

tujuan

pembelajaran.
b. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Manajemen cooperative learning mempunyai empat fungsi pokok
yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan
fungsi kontrol sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
c. Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan cooperative learning ditentukan oleh keberhasilan
secara kelompok. Oleh karena itu prinsip bekerja sama ditekankan dalam
cooperative learning. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur
tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan
perlunya saling membantu.
d. Keterampilan bekerja sama
Siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi serta
berkomunikasi dengan anggota lain, sehingga dapat meminimalisir
hambatan dalam menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan
memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.

2.3.3 Prinsip-prinsip Cooperative Learning
Prinsip merupakan petunjuk yang bisa dijadikan pedoman dalam
menjalankan suatu kegiatan, begitu pula dengan model cooperative learning.
Model cooperative learning mempunyai prinsip yang dapat dijadikan petunjuk
dalam penerapannya. Menurut Rusman (2012: 212) prinsip dasar model
cooperative learning terdapat lima unsur, yaitu; (a) prinsip ketergantungan
positif (positive interdependence), (b) tanggung jawab perseorangan (individual
accountability), (c) interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), (d)
partisipasi dan komunikasi (participation communication), dan (e) evaluasi
proses kelompok.

2.3.4 Tujuan Cooperative Learning
Segala sesuatu yang akan digunakan pasti memiliki tujuan yang ingin
dicapai, termasuk model cooperative learning. Menurut Ibrahim (dalam Isjoni,
2011: 27) model cooperative learning pada dasarnya dikembangkan untuk
mencapai tiga tujuan pembelajaran penting sebagai berikut:
a.

Hasil belajar akademik
Dengan sistem penghargaan dalam cooperative learning dapat

meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan yang
berhubungan dengan hasil belajar.
b.

Penerimaan terhadap perbedaan individu
Dengan cooperative learning membuat siswa dari berbagai latar

belakang dan kondisi memiliki saling ketergantungan untuk bekerja sama
sehingga saling menghargai satu sama lain.

c.

Pengembangan keterampilan sosial
Dengan

cooperative

learning

mengajarkan

kepada

siswa

keterampilan bekerja sama dan kolaborasi dengan antar siswa.

2.3.5 Jenis-jenis Cooperative Learning
Model cooperative learning memiliki banyak jenis. Jenis-jenis Model
cooperative learning diantaranya; a) Jigsaw, b) Think Pair Share c) Numbered
Heads Together, d) Group Investigation, e) Two Stay Two Stray, f) Make A
Match, dan lain-lain (Suprijono, 2010: 89).
Berdasarkan

jenis-jenis

cooperative

learning

di

atas,

peneliti

menggunakan cooperative learning tipe make a match untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar PKn. Dengan menggunakan model cooperative
learning tipe make a match ini siswa dituntut untuk mengingat konsep yang
telah dipelajari dan teliti dalam mencocokkan antara soal dan jawaban, sehingga
siswa mampu menguasai materi yang dipelajarinya.

2.4 Cooperative Learning Tipe Make A Match
2.4.1 Pengertian Cooperative Learning Tipe Make A Match
Cooperative learning tipe make a match dikembangkan oleh Lorna Curran
pada tahun 1994. Cooperative learning tipe make a match terdiri dari dua kata
yaitu “make” yang berarti membuat dan “match” yang berarti mencocokkan
atau sesuai. Menurut Huda (2012: 135) make a match merupakan teknik mencari
pasangan sambil mempelajari konsep atau topik tertentu dalam suasana yang
menyenangkan.

Menurut Widodo (2009) cooperative learning tipe make a match
merupakan model pembelajaran “Mencari Pasangan”. Setiap siswa mendapat
sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang
sesuai dengan kartu yang ia pegang. Menurut Suprijono (2010: 94) make a
match identik dengan kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu yang
berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
cooperative learning tipe make a match adalah suatu pembelajaran dimana
untuk mendapatkan suatu konsep diperlukan kerja sama antar teman, dalam hal
ini siswa mencocokkan kartu-kartu yang dipegang siswa satu dengan kartu yang
dipegang oleh siswa lainnya secara tepat. Ciri utama dari cooperative learning
tipe make a match adalah kartu (soal ataupun jawaban).

2.4.2 Tujuan Cooperative Learning Tipe Make A Match
Menurut Amin (2011) tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran
dalam penerapan model cooperative learning tipe make a match ada tiga yaitu:
(1) pendalaman materi, (2) menggali materi, dan (3) untuk selingan.
1.

Pendalaman materi
Tujuan pendalaman materi merupakan tujuan

untuk melatih

penguasaan materi dengan cara memasangkan antara pertanyaan dan
jawaban. Pada prinsipnya untuk tujuan pendalaman materi siswa harus
mempunyai pengetahuan tentang matari yang akan dilatihkan terlebih
dahulu. Guru menjelaskan materi serta memberi tugas pada siswa untuk
membaca materi terlebih dahulu sebelum diterapkan teknik make a match.

2.

Menggali materi
Tujuan menggali materi merupakan tujuan dimana siswa sendiri

yang akan membekali dirinya untuk mendapatkan pengetahuan. Guru
hanya sebagai fasilitator yaitu dengan cara guru menulis pokok-pokok
materi pada potongan kertas kemudian membagikan potongan kertas itu
pada siswa secara acak. Siswa diminta untuk mencocokkan/memasangkan
potongan kertas tersebut menjadi satu materi utuh.
3.

Selingan
Tujuan selingan merupakan suatu tujuan yang digunakan agar siswa

tidak merasa bosan dalam pembelajaran. Teknik yang dipakai sama
dengan teknik mencari pasangan untuk mendalami materi.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujan cooperative
learning tipe make a match yakni untuk menjadikan siswa mampu memahami
materi pembelajaran yang berkaitan dengan konsep, baik itu pendalaman materi,
menggali materi, maupun selingan agar pembelajaran tidak membosankan.

2.4.3 Kelebihan dan Kelemahan Cooperative Learning Tipe Make A Match
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masingmasing, begitu pula dengan model cooperative learning tipe make a match.
Menurut Lie (2008: 46) kelebihan dan kekurangan cooperative learning tipe
make a match yaitu:
Kelebihan cooperative learning tipe make a match:
1. Dapat meningkatkan partisipasi siswa,
2. Cocok untuk tugas sederhana,
3. Lebih banyak kesempatan untuk konstribusi masing-masing anggota
kelompok,
4. Interaksi lebih mudah,
5. Lebih mudah dan cepat membentuk kelompok,

6.

Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.

Kekurangan cooperative learning tipe make a match:
1. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor,
2. Lebih sedikit ide yang muncul,
3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah.
2.4.4 Langkah-langkah Cooperative Learning Tipe Make A Match
Setiap

model

pembelajaran

mempunyai

langkah-langkah

dalam

penerapannya. Langkah-langkah inilah yang nantinya dijadikan pedoman dalam
mengajar. Menurut Huda (2012: 135) langkah-langkah cooperative learning tipe
make a match adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik yang
mungkin cocok untuk sesi review.
Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok
dengan kartunya.
Siswa bisa juga bergabung dengan 2 atau 3 siswa lain yang memegang
kartu yang berhubungan.

Lain halnya menurut Taniredja, dkk (2012: 106) langkah-langkah
cooperative learning tipe make a match adalah sebagai berikut:
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau
topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal
dan bagian lainnya kartu jawaban.
Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok
dengan kartunya (soal jawaban).
Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu
diberi poin.
Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelumnya.
Kesimpulan/penutup.

Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, peneliti menggunakan langkahlangkah cooperative learning tipe make a match menurut Taniredja, karena
mengacu pada Depdiknas mengenai model-model pembelajaran yang efektif.

Dengan menggunakan sistem rolling, siswa akan mendapat kesempatan
memperoleh kartu yang berbeda sehingga pendalaman materi siswa menjadi
komprehensif.

2.5 Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
2.5.1 Pengertian PKn
PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang penting pada semua
jenjang pendidikan. Kewarganegaraan artinya keanggotaan yang menunjukkan
hubungan antara negara dengan warga negara (Winarno, 2006: 49). Berdasarkan
yang tercantum dalam Tim Penyusun (2006: 6) PKn merupakan usaha untuk
membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan
dengan hubungan antara warga negara serta pendidikan pendahuluan bela negara
agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh Bangsa dan NKRI.
Menurut Tarigan (2006: 7) PKn merupakan wahana untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada
budaya bangsa Indonesia, yang di wujudkan dalam bentuk perilaku seharihari, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan
Yang Maha Esa, yang membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan
dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan warga negara dengan
negara, serta pendidikan pendahuluan bela negara.
Landasan PKn adalah Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilainilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, tanggap pada tuntutan perubahan
zaman, serta Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Azis, 2010).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa PKn
merupakan pendidikan berkenaan dengan hubungan antara warga negara dalam
rangka mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar

pada budaya bangsa Indonesia, yang di wujudkan dalam bentuk perilaku seharihari.

2.5.2 PKn SD
PKn atau pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu mata
pelajaran yang dipelajari dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
PKn SD berbeda dengan PKn pada jenjang SMP, SMA, maupun perguruan
tinggi. PKn SD yang tercantum pada Permendiknas No. 22 tahun 2006 adalah
mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang
memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi
warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan
oleh Pancasila dan UUD RI 1945. Sedangkan menurut Soemantri (dalam
Supandi, 2010) mengemukakan PKn SD merupakan usaha untuk membekali
peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenaan dengan
hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela
negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan
negara. Dengan adanya PKn diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik
menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Winataputra (2009: 1.10) materi PKn SD selayaknya memuat
komponen-komponen pengetahuan, keterampilan, dan disposisi kepribadian
warga negara yang fungsional bukan hanya dalam tatanan kehidupan berbangsa
dan bernegara melainkan juga dalam masyarakat yang demokratis. Cakupan
mata pelajaran PKn yang tercantum dalam Pemendiknas No. 22 dimaksudkan
untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan

kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta
peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa PKn SD
merupakan pendidikan warga negara yang berfungsi sebagai pembentukan
warga negara yang baik agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai
warga negara Indonesia serta mampu menjadi masyarakat yang cerdas, terampil,
berkarakter dan dapat membela negara dalam rangka mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mata pelajaran PKn perlu ditanamkan
sejak siswa mulai masuk sekolah dasar, hal ini bertujuan agar siswa benar-benar
mampu menjadi warga negara yang baik serta mampu menjadi masyarakat yang
cerdas, terampil, dan berkarakter.

2.5.3 Tujuan PKn SD
Sebagai mata pelajaran yang penting pada semua jenjang pendidikan, mata
pelajaran PKn memiliki tujuan yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran.
Tujuan PKn secara umum adalah supaya siswa memiliki wawasan kesadaran
bernegara untuk bela negara dan memiliki pola pikir, pola sikap, dan perilaku
sebagai pola tindak yang cinta tanah air berdasarkan pancasila (Tim Penyusun,
2006: 3). Mata pelajaran PKn disetiap jenjang pendidikan memiliki tujuan yang
berbeda, termasuk di sekolah dasar. Menurut Winataputra (2009: 1.21) tujuan
PKn SD adalah membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan
berpartisipasi dalam kehidupan politik serta taat kepada nilai-nilai dan prinsipprinsip dasar demokrasi konstitusional Indonesia.
Tujuan mata pelajaran PKn SD yang tercantum dalam Permendiknas No
22 Tahun 2006 agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.
2.

3.

4.

Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan
Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak
secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, serta anti-korupsi
Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lainnya
Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari mata
pelajaran PKn SD yakni untuk menjadikan warga negara yang baik yakni
memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai pancasila dalam berperilaku,
serta mampu menjadi bangsa yang cerdas, bertanggung jawab, dan dapat
mengikuti kemajuan perkembangan teknologi. Apabila siswa dapat menghayati
dan meyakini nilai-nilai pancasila sejak dini, maka siswa dapat berperilaku
sesuai dengan aturan/norma dalam masyarakat sehingga menghasilkan individu
yang mempunyai moral baik.

2.5.4 Materi PKn SD
Tingkatan kelas di sekolah dasar berdasarkan kemampuannya terbagi
menjadi dua kelas, yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah
digolongkan berdasarkan kemampuan yang masih bersifat holistik yaitu terdiri
dari kelas I-III, sedangkan kelas tinggi berdasarkan daya serap dengan konsepkonsep yang abstrak yaitu terdiri dari kelas IV-VI (Sa’ud, 2006: 8).
Materi PKn pada jenjang sekolah dasar disesuaikan dengan tingkatan
kemampuan siswa, untuk kelas rendah materi PKn disisipkan dalam setiap
pengajaran karena kemampuan kelas rendah yang masih bersifat holistik
sehingga pembelajaran yang digunakan berdasarkan dengan pendekatan tematik

yang dikembangkan secara menyeluruh untuk semua mata pelajaran. Sedangkan
pada kelas tinggi materi yang diajarkan sudah tersendiri menjadi mata pelajaran
PKn. Materi PKn SD yang tercantum pada Permendiknas No. 22 tahun 2006
terangkum menjadi delapan ruang lingkup yaitu: a) Persatuan dan Kesatuan
bangsa, b) Norma, hukum dan peraturan, c) Hak asasi manusia, d) Kebutuhan
warga negara, e) Konstitusi Negara, f) Kekuasan dan Politik, g) Pancasila, dan
h) Globalisasi.
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa materi PKn SD
disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa berdasarkan kelas yang
terangkum dalam delapan lingkup.

2.6 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka di atas, dirumuskan hipotesis penelitian
tindakan kelas sebagai berikut: “Apabila dalam pembelajaran PKn menggunakan
model cooperative learning tipe make a match dengan memperhatikan langkahlangkah yang tepat, maka akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
kelas V SD Negeri 4 Metro Selatan tahun pelajaran 2012/2013”.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode classroom action research dimana
penelitian tersebut dilakukan di dalam kelas. Classroom action research atau PTK
merupakan proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam

kelas melalui

refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah dengan cara melakukan
berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap
pengaruh dari perlakuan tersebut (Sanjaya, 2010: 26). Adapun tujuan dari
penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai upaya untuk memperbaiki
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar
secara terus-menerus.
Prosedur penelitian yang digunakan berbentuk siklus, alur siklus dalam
penelitian tindakan kelas terdiri dari empat tahapan. Menurut Hopkins (dalam
Sanjaya, 2010: 48) empat tahapan alur siklus diawali dengan perencanaan
tindakan (planning), melaksanakan tindakan (action), observasi (observation), dan
melakukan refleksi (reflecting). Adapun alur siklus dalam penelitian ini dapat
dilihat pada halaman berikutnya.

Perencanaan Tindakan

Refleksi

Siklus I

Tindakan

Observasi
Perencanaan

Refleksi

Siklus II

Tindakan

Observasi

Dst.

Gambar 1. Alur siklus penelitian tindakan kelas
(Modifikasi dari Sanjaya, 2010: 56).

1.2 Setting Penelitian
a.

Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara kolaboratif partisipatif

antara peneliti dengan guru kelas V SD Negeri 4 Metro Selatan. Dalam
penelitian tindakan kelas ini, yang dijadikan sebagai subjek penelitian adalah
guru dan siswa kelas V SD Negeri 4 Metro Selatan

tahun pelajaran

2012/2013. Terdiri dari 1 guru kelas, dan siswa secara keseluruhnya adalah
26 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.
b.

Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 6 bulan pada

semester genap tahun pelajaran 2012/2013, dimulai dari bulan Januari sampai
Juni 2013.

c. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 4 Metro Selatan, Jalan R.
Suprapto No. 103 Desa Margorejo, Kecamatan Metro Selatan Kota Metro.

1.3 Alat Pengumpul Data
Penelitian ini menggunakan beberapa alat pengumpulan data, hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan data yang komprehensif dan valid, yang dapat
mendukung keberhasilan dalam penelitian ini. Alat yang digunakan antara lain:
a. Lembar panduan observasi
Lembar observasi merupakan instrumen untuk mengumpulkan data
dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dalam
proses pembelajaran dan mencatatnya. Kegiatan yang diamati berupa
aktivitas siswa maupun kinerja guru.
b. Soal tes
Soal tes merupakan alat untuk mengumpulkan data dengan cara melihat
nilai dari tes formatif yang dikerjakan oleh siswa. Dengan hasil tes tersebut,
dapat diketahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti
pembelajaran. Soal tes terlampir pada rencana pelaksanaan pembelajaran
disetiap siklusnya.

1.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik non tes
dan tes untuk mendapatkan data yang lengkap dan akurat.

a.

Teknik non tes
Teknik non tes merupakan prosedur atau cara pengumpulan data

dengan cara mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru selama pembelajaran
guna memperoleh data aktivitas siswa dan kinerja guru dengan menggunakan
lembar observasi yang telah dibuat.
b.

Teknik tes
Teknik tes merupakan prosedur atau cara pengumpulan data tentang

hasil belajar siswa. Teknik tes ini melalui tes formatif berupa soal essay,
dimana soal tersebut dikerjakan oleh siswa untuk mengumpulkan data hasil
belajar siswa berdasarkan nilai yang diperoleh siswa setelah mengerjakan tes.

1.5 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti akan mengunakan teknik
analisis data secara kualitatif dan kuantitatif.
a.

Data kualitatif
Data

kualitatif

merupakan

suatu

proses

mengolah

dan

menginterpretasikan data untuk menentukan berbagai peningkatan proses
pembelajaran khususnya berbagai tindakan yang dilakukan oleh siswa dan
guru. Analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif yaitu dimana
mendeskrisikan data dalam bentuk narasi.
1.

Data aktivitas belajar siswa
Data ini diperoleh melalui pengamatan aktivitas siswa ketika proses

pembelajaran berlangsung menggunakan lembar observasi. Hasil data
observasi aktivitas yang telah diperoleh pada lembar observasi aktivitas
siswa dianalisis menggunakan rumus sebagai beikut:

NA =

x 100%

Keterangan:
NA = nilai aktivitas yang dicari atau diharapkan
JS = jumlah skor yang diperoleh siswa
SM = skor maksimum
100% = bilangan tetap
Diadopsi dari Aqip (2009: 41).
Persentase rata-rata aktivitas siswa dihitung menggunakan rumus:
∑ Xi
X =
N
Keterangan:
X = Rata-rata Hitung Nilai
∑Xi = Jumlah Nilai Aktivitas
N = Banyaknya Aspek
Diadopsi dari Muncarno (2012: 11).
Hasil observasi aktivitas siswa kemudian dikategorikan sesuai
dengan kualifikasi sebagai berikut:
Tabel: 3.1 Kriteria Kategori Aktivitas Siswa
Tingkat Keaktifan (%) Kategori
> 80 %
Sangat aktif
61-80 %
Aktif
41-60 %
Cukup aktif
21-40 %
Kurang aktif
< 20 %
Pasif
Modifikasi dari Arikunto (2007: 44).

2.

Data kinerja guru
Data kinerja guru diperoleh dari pengamatan observer selama

proses pembelajaran berlangsung. Hasil dari pengamatan dianalisis
menggunakan rumus sebagai berikut:
N=

x 100

Keterangan :
N

= nilai yang dicari/diharapkan

R

= skor yang diperoleh

SM

= skor maksimum ideal yang diamati

100 = bilangan tetap
Diadopsi dari Purwanto (2008: 112).
Setelah diperoleh nilai kinerja guru, kemudian dikategorikan sesuai
dengan kualifikasi sebagai berikut:
Tabel: 3.2 Kriteria Kategori Kinerja Guru
Rentang Nilai
Kategori
> 80
Sangat baik
61 - 80
Baik
41 - 60
Cukup baik
21 - 40
Kurang baik
≤ 20
Rendah
Modifikasi dari Poerwanti (2008: 7.8).
b.

Data kuantitatif
Data kuantitatif merupakan suatu proses mengolah data untuk

menentukan berbagai peningkatan hasil belajar siswa sebagai pengaruh dari
setiap tindakan yang dilakukan guru.
1.

Hasil belajar siswa secara individual menggunakan rumus:
S=

x 100

Keterangan rumus pada halaman sebelumnya:
S = nilai yang diharapkan
R = jumlah skor/item yang dijawab benar
N = skor maksimum dari tes
100 = bilangan tetap (konstanta)
Diadopsi dari Purwanto (2008: 112).
2.

Nilai rata-rata hasil belajar siswa menggunakan rumus:
∑ Xi
X

=
N

Keterangan:
X = Rata-rata Hitung Nilai
Xi = Nilai Siswa
N = Banyaknya Siswa
Diadopsi dari Muncarno (2012: 11).
3.

Persentase ketuntasan belajar secara klasikal
P





Diadopsi dari Khotimah (dalam Aqib, 2009: 41)

1.6 Indikator Keberhasilan
Penelitian ini dikatakan berhasil apabila adanya peningkatan aktivitas dan
hasil belajar sebagai berikut:
a.

Adanya peningkatan persentase aktivitas siswa secara klasikal setiap
siklusnya.

b.

Nilai rata-rata kelas mencapai ≥ 75.

c.

Ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal mencapai ≥ 75%.

1.7 Urutan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari daur siklus yang masing-masing
siklus memiliki empat tahapan kegiatan yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari tiga siklus, dimana pada setiap
siklusnya terdiri dari dua pertemuan. Urutan penelitian tindakan kelas yang
dilaksanakan di Kelas V SD Negeri 4 Metro Selatan adalah sebagai berikut:
Siklus I
1.

Perencanaan
a.

Menganalisis materi yang sudah diajarkan guru kelas guna
penyesuaian penyusunan perangkat pembelajaran.

b. Menganalisis Standar Kompetensi (SK)/ Kompetensi Dasar (KD)
dan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran dengan
menggunakan model cooperative learning tipe make a match.
c.

Menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama
proses pembelajaran di kelas.

d.

Menyiapkan

kartu

soal

serta

jawaban

dalam

pembelajaran

menggunakan model cooperative learning tipe make a match.
e.

Menyiapkan soal tes (tes formatif).

f.

Menyiapkan lembar panduan observasi untuk mengamati aktivitas
siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung.

2.

Tindakan
Pada siklus I materi pembelajaran ”Memahami Organisasi”, dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

Pertemuan pertama:
Kegiatan Pendahuluan
a.

Mempersiapkan alat dan media, mengucapkan salam, mengabsensi
siswa.

b.

Melakukan apersepsi yaitu guru menyakan kepada siswa “Apakah kalian
tahu sapu?, “Bagaimana jika kalian menyapu hanya dengan satu lidi?,
“Bandingkan jika kalian menyapu dengan seikat lidi yang disatukan?”.

Kegiatan Inti
Eksplorasi
a.

Guru memberikan penjelasan mengenai pengertian organisasi.

b.

Siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru secara
seksama.

c.

Siswa diberikan kesempatan mencari tahu tujuan organisasi, serta
menyebutkan tujuan organisasi.

d.

Siswa mengidentifikasi ciri organisasi yang baik berdasarkan gambar
yang disediakan guru.

Elaborasi
a.

Guru memberitahukan kepada siswa akan melakukan permainan
menggunakan model cooperative learning tipe make a match, serta
menyiapkan kartu-kartu soal serta jawaban yang berisikan konsep
“Pengertian dan Tujuan Organisasi” untuk dibagikan kepada siswa.
Kemudian membagikan kartu-kartu yang telah disiapkan kepada setiap
siswa, setelah itu siswa diberikan arahan tentang aturan permainan teknik
make a match.

b.

Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan soal ataupun jawaban
dari kartu yang telah dipegang, setelah selesai memikirkan jawaban guru
memberikan aba-aba dimulainya teknik make a match.

c.

Siswa mulai mencari pasangan yang cocok dengan jawaban beserta soal,
kemudian melakukan diskusi dengan kelompok mengenai soal dan
jawaban yang dibawa. Kelompok yang sudah menemukan pasangannya
menunjukkan soal dan jawaban pada guru.

d.

Siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu mendapatkan
poin, sedangkan siswa yang tidak dapat mencocokkan atau menemukan
kartu dengan temannya sampai batas waktu yang ditentukan akan
diberikan hukuman sesuai kesepakatan antara guru dengan siswa.

e.

Setelah selesai satu babak, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat
kartu yang berbeda dari sebelumnya. Siswa bersama dengan guru
membahas kartu-kartu yang telah dicocokkan, setelah selesai membahas
kartu-kartu perwakilan kelompok yang mendapat poin tertinggi maju
untuk menerima penghargaan dari guru.

Konfirmasi
Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang
belum dipahami mengenai materi “Pengertian dan Tujuan Organisasi”.
Kegiatan Penutup
Siswa dengan bimbingan dari guru bersama–sama membuat kesimpulan
materi, dilanjutkan dengan pemberian tindak lanjut untuk membuat struktur
organisasi kelas V.

Pertemuan kedua:
Kegiatan Pendahuluan
a.

Mempersiapkan alat dan media, mengucapkan salam, mengabsensi
siswa.

b.

Melakukan apersepsi yaitu dengan mengkaitkan materi yang telah
dibahas sebelumnya.

Kegiatan Inti
Eksplorasi
a.

Melalui tanya jawab siswa mengidentifikasi unsur-unsur dalam
organisasi.

b.

Guru memberikan penjelasan mengenai tugas-tugas dalam organisasi.

c.

Siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru dengan
seksama.

Elaborasi
a.

Guru memberitahukan kepada siswa akan melakukan permainan
menggunakan model cooperative learning tipe make a match, serta
menyiapkan kartu-kartu soal serta jawaban yang berisikan topik
mengenai

“Unsur-unsur

dalam

Organisasi

serta

Tugas

dalam

Organisasi”. Setelah selesai menyiapkan kartu-kartu, kartu-kartu tersebut
dibagikan kepada setiap siswa. Kemudian guru memberikan petunjuk
aturan permainan teknik make a match.
b.

Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan soal ataupun jawaban
dari kartu yang telah dipegang. Setelah siswa selesai memikirkan
jawaban, siswa diberikan aba-aba dimulainya teknik make a match.

c.

Siswa mulai mencari pasangan yang cocok dengan jawaban beserta soal,
dan melakukan diskusi dengan kelompok mengenai soal

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK MAKE A MATCH SISWA KELAS V A SD NEGERI 2 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 14 115

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD NEGERI 1 SENDANG AGUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 19 50

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH DENGAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS IVA SD NEGERI 3 KARANG ENDAH LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 10 53

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU KELAS I A SD NEGERI I METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

2 9 71

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VB SD NEGERI 1 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 8 40

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD NEGERI 4 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 5 54

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION DENGAN MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN PKn KELAS V B SD NEGERI 7 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 5 112

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VA SD NEGERI 4 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 7 101

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V A SD ISLAM TERPADU AL MUHSIN METRO SELATAN

0 5 87

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IVB SD NEGERI 2 BUMIHARJO

2 9 80

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

84 2133 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 551 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 478 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 309 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 423 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 673 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 580 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 379 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 560 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 677 23