Perbedaan Rasio D2:D4 antara Laki-laki dan Perempuan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU

PERBEDAAN RASIO D2:D4 ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN USU
Oleh : RATNA MARIANA TAMBA
110100241
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara

PERBEDAAN RASIO D2:D4 ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN USU KARYA TULIS ILMIAH
“Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”
Oleh : RATNA MARIANA TAMBA
110100241
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara

ii
LEMBAR PENGESAHAN Perbedaan Rasio D2:D4 antara Laki-laki dan Perempuan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU Nama : Ratna Mariana Tamba NIM : 110100241

Pembimbing

Penguji I

dr. Surjit Singh, Sp.F NIP 19510302 198903 1 001

dr. Harry A.Asroel, Sp.THT NIP 19700812 199903 1 002
Penguji II

DR.dr. Rodiah Rahmawati Lubis, Sp.M NIP 19760417 200501 2 002
Medan, 12 Januari 2015 Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, SpPD-KGEH) NIP 19540220 198011 1 001

Universitas Sumatera Utara

iii
ABSTRAK Rasio panjang jari kedua dan keempat (D2:D4) lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan dan hal ini merupakan perbedaan bentuk seksual. Rasio jari ini dipengaruhi oleh aktivitas hormon seksual (androgen dan testosteron) selama masa prenatal. Maka, nilai rasio ini diperkirakan dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis kelamin mayat manusia pada kasus-kasus mutilasi. Namun, perkiraan ini hampir belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mencari perbedaan rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan. Pada penelitian ini, rasio D2:D4 dianalisis pada 80 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Panjang jari didapat dari 40 mahasiswa laki-laki dan 40 mahasiswa perempuan dengan rentang usia 20-22 tahun. Pengukuran dilakukan pada kedua tangan, kanan dan kiri menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0.05 mm. Nilai rata-rata pengukuran rasio D2:D4 didapat dengan menggunakan uji t-independen. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bentuk seksual yang besar dan bermakna, sesuai dengan hipotesis, yaitu rata-rata rasio D2:D4 pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki untuk kedua tangan. Laki-laki memiliki rasio ratarata 0.959 dan perempuan 0.99. Perempuan menunjukkan rasio D2:D4 yang lebih tinggi signifikan pada tangan kiri daripada tangan kanan. Ada perbedaan bermakna pada rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, rasio jari (D2:D4) dapat dipertimbangkan untuk mengidentifikasi jenis kelamin mayat pada kasus mutilasi. Kata kunci: D2:D4, identifikasi, jenis kelamin, mutilasi
Universitas Sumatera Utara

iv
ABSTRACT The second to fourth digit ratio (2D:4D) is lower in human males than in females and hence this trait is sexual dimorphic. The value of this digit ratio is thought to be affected by the sexual hormones (androgen and testosterone) activities during prenatal. Thus, researchers assume that this trait can be used to identify human corpse gender in cases of mutilation. However, this assumption has hardly been studied. The objection of this study is to find out the difference of 2D:4D ratio between human males and females. In this study, we analyzed the 2D:4D ratios in 80 students of Medical Faculty, University of Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia. We measured digit lengthsin 40 male and 40 female students ranging from 20-22 years old. This measurement was taken from the digit lengths of both right and left hands using Vernier caliper with resolution of 0.05 mm. Geometric mean of 2D:4D was obtained using t-test independent models. The results of the study showed a huge, significant sexual dimorphic in the expected direction, the mean 2D:4D in females was higher than that in males for each hand. Males had on average, a ratio of 0.959 and females a ratio of 0.99. Females showed significantly higher 2D:4D than males in the left hand rather than in the right hand. There was a significant difference on 2D:4D ratio between human males and females. Therefore, digit ratio (2D:4D) can be considered to identify gender of human corpse in the cases of mutilation. Key words: 2D:4D, identification, gender, mutilation
Universitas Sumatera Utara

v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ilmiah ini merupakan syarat kelulusan pendidikan kedokteran agar dapat menuju jenjang profesi dan meraih gelar Sarjana Kedokteran. Karya tulis ilmiah dengan judul “Perbedaan Rasio D2:D4 antara laki-laki dan Perempuan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU” mengkaji apakah ada perbedaan yang signifikan pada rasio D2:D4 pada tangan kanan dan kiri antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat ditentukan jenis kelamin seseorang dengan melakukan pengukuran panjang jarinya.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam tulisan ini, baik dari segi materi, metode penelitian, serta penulisan. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun agar penulis dapat memperbaiki kesalahan dalam penulisan karya selanjutnya dan agar penelitian yang berkaitan dengan hal ini dapat dilakukan dengan lebih baik.
Terciptanya karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari peran banyak pihak, yaitu kedua orang tua penulis, Drs. D.Tamba dan R. Hutabalian yang senantiasa mendukung dan membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD, KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak dr. Surjit Singh, Sp.F selaku Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah, dr. Harry A. Asroel, Sp.THT selaku dosen penguji I, dan DR.dr. Rodiah Rahmawati Lubis, Sp.M selaku dosen penguji II.
3. Bapak dr. Arwan Jalan selaku dokter anggota Tim Forensik dan Medikolegal FK USU yang membantu penulis dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang berkenaan dengan identifikasi.
4. Seluruh partisipan dalam penelitian ini, yaitu mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang berkebangsaan Indonesia.
Universitas Sumatera Utara

vi 5. Semua pihak baik langsung maupun tidak langsung yang telah
memberikan bantuan dalam penulisan laporan penelitian ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu membalas semua kebaikan yang selama ini diberikan kepada penulis dan melimpahkan rahmat-Nya.
Medan, 5 Desember 2014 Penulis
Ratna Mariana Tamba 110100241
Universitas Sumatera Utara

vii

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. ii ABSTRAK ............................................................................................... iii ABSTRACT ............................................................................................. iv KATA PENGANTAR.............................................................................. v DAFTAR ISI ............................................................................................ vii DAFTAR SINGKATAN.......................................................................... ix DAFTAR TABEL ................................................................................... x DAFTAR GAMBAR................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xii

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ...................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah ................................................................. 3 1.3. Tujuan Penelitian................................................................... 4 1.4. Manfaat Penelitian................................................................. 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 5 2.1. Identifikasi ........................................................................... 5 2.1.1. Metodologi Identifikasi ............................................. 6 2.1.2.Sumber Identifikasi .................................................... 7 2.1.3.Perkiraan Usia............................................................ 8 2.1.4. Perkiraan Tinggi Badan............................................. 9 2.1.5. Penentuan Ras........................................................... 10 2.1.6. Penentuan Jenis Kelamin........................................... 10 2.2. Antropometri ....................................................................... 12 2.3. Anatomi Tangan .................................................................. 13 2.4. Rasio D2:D4........................................................................ 14 2.5. Rasio D2:D4 dan Jenis Kelamin .......................................... 17

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ..... 21

3.1. Kerangka Konsep Penelitian...................................................

21

3.2. Definisi Operasional ............................................................ 21

3.3. Hipotesis ............................................................................. 21

BAB 4 METODE PENELITIAN ........................................................... 22 4.1. Jenis Penelitian .................................................................... 22 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................. 22 4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................... 22 4.4. Teknik Pengumpulan Data................................................... 24 4.5. Pengolahan dan Analisis Data.............................................. 24

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................ 25 5.1. Hasil Penelitian .................................................................... 25 5.2. Pembahasan.......................................................................... 28

Universitas Sumatera Utara

viii BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 31
6.1. Kesimpulan .......................................................................... 31 6.2. Saran .................................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 32 LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN AMD : Antemortem Data AR :Androgen Receptor D2 :Digiti ke-2 D4 :Digiti ke-4 D2:D4 :Digiti ke-2: Digiti ke-4 DNA :Deoxyribonucleic acid DVI :Disaster Victim Identification ER :Estrogen Receptor PMD :Postmortem Data USU :Universitas Sumatera Utara

ix

Universitas Sumatera Utara

x

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Tabel 2.1 Perkiraan usia berdasarkan erupsi gigi........................................ 9

Tabel 2.2 Rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan pada usia bervariasi

pada beberapa penelitian yang berbeda ...................................... 18

Tabel 2.3 Rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan di berbagai negara 20

Tabel 3.1 Variabel, Definisi Operasional, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil

Ukur, dan Skala Pengukuran ...................................................... 21

Tabel 5.1 Panjang jari dan rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan ..... 25

Tabel 5.2 Panjang jari dan rasio D2:D4 antara tangan kanan dan kiri ......... 27

Universitas Sumatera Utara

xi

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

Gambar 2.1 Perbedaan tulang panggul antara perempuan dan laki-laki 11

Gambar 2.2 Perbedaan tulang tengkorak antara laki-laki dan

perempuan ………………………………………………… 11

Gambar 2.3 Perbedaan humerus antara laki-laki dan perempuan ……... 12

Gambar 2.4 Tulang-tulang penyusun tangan…………………………….13

Gambar 2.5 Alat ukur panjang digiti(Vernier caliper/ jangka sorong) 16

Gambar 2.6 Pengukuran D2:D4 melalui fotomikrograf……………… 16

Gambar 2.7 Pengukuran D2:D4 melalui radiograf …………………… 16

Gambar 2.8 Perbedaan bentuk jenis kelamin terlihat pada

pengukuran D2:D4 ............................................................. 18

Gambar 2.9 Klasifikasi jenis tangan berdasarkan radiograf .................... 19

Universitas Sumatera Utara

xii

Nomor 1 2 2 3 4 5 6 7 8 9 10

DAFTAR LAMPIRAN
Judul Riwayat Hidup Peneliti Kuesioner Lembar Penjelasan Penelitian Surat Persetujuan menjadi Responden dalam Penelitian Data Induk Responden Grafik Sebaran Rasio D2:D4 Tabel Frekuensi Usia, Panjang Jari, dan Rasio D2:D4 Tabel Paired Samples Test Tabel Uji Beda Mean Uji T-Independen Surat Izin Penelitian Ethical Clearance

Universitas Sumatera Utara

iii
ABSTRAK
Rasio panjang jari kedua dan keempat (D2:D4) lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan dan hal ini merupakan perbedaan bentuk seksual. Rasio jari ini dipengaruhi oleh aktivitas hormon seksual (androgen dan testosteron) selama masa prenatal. Maka, nilai rasio ini diperkirakan dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis kelamin mayat manusia pada kasus-kasus mutilasi. Namun, perkiraan ini hampir belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mencari perbedaan rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan.
Pada penelitian ini, rasio D2:D4 dianalisis pada 80 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Panjang jari didapat dari 40 mahasiswa laki-laki dan 40 mahasiswa perempuan dengan rentang usia 20-22 tahun. Pengukuran dilakukan pada kedua tangan, kanan dan kiri menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0.05 mm. Nilai rata-rata pengukuran rasio D2:D4 didapat dengan menggunakan uji t-independen.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bentuk seksual yang besar dan bermakna, sesuai dengan hipotesis, yaitu rata-rata rasio D2:D4 pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki untuk kedua tangan. Laki-laki memiliki rasio ratarata 0.959 dan perempuan 0.99. Perempuan menunjukkan rasio D2:D4 yang lebih tinggi signifikan pada tangan kiri daripada tangan kanan.
Ada perbedaan bermakna pada rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, rasio jari (D2:D4) dapat dipertimbangkan untuk mengidentifikasi jenis kelamin mayat pada kasus mutilasi.
Kata kunci: D2:D4, identifikasi, jenis kelamin, mutilasi

iv
ABSTRACT
The second to fourth digit ratio (2D:4D) is lower in human males than in females and hence this trait is sexual dimorphic. The value of this digit ratio is thought to be affected by the sexual hormones (androgen and testosterone) activities during prenatal. Thus, researchers assume that this trait can be used to identify human corpse gender in cases of mutilation. However, this assumption has hardly been studied. The objection of this study is to find out the difference of 2D:4D ratio between human males and females.
In this study, we analyzed the 2D:4D ratios in 80 students of Medical Faculty, University of Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia. We measured digit lengthsin 40 male and 40 female students ranging from 20-22 years old. This measurement was taken from the digit lengths of both right and left hands using Vernier caliper with resolution of 0.05 mm. Geometric mean of 2D:4D was obtained using t-test independent models.
The results of the study showed a huge, significant sexual dimorphic in the expected direction, the mean 2D:4D in females was higher than that in males for each hand. Males had on average, a ratio of 0.959 and females a ratio of 0.99. Females showed significantly higher 2D:4D than males in the left hand rather than in the right hand.
There was a significant difference on 2D:4D ratio between human males and females. Therefore, digit ratio (2D:4D) can be considered to identify gender of human corpse in the cases of mutilation.
Key words: 2D:4D, identification, gender, mutilation

1

1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Forensik merupakan interaksi dari ilmu kedokteran forensik (forensic medicine) dan ilmu hukum (medicolegal), dimana ilmu kedokteran forensik terbagi lagi menjadi patologi autopsi dan aspek klinis (Payne & James, 2006). Ilmu kedokteran forensik telah banyak memberi kontribusi dalam penanganan tindakan kriminal dan pelanggaran hukum baik di luar negeri maupun di Indonesia.
Sejalan dengan meningkatnya kasus-kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini, ilmu kedokteran forensik menjadi suatu ilmu yang sangat penting dan diperlukan dalam mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan yang mungkin ditemukan selama proses penyidikan.
Selain itu, bencana massal seperti bencana alam dan bencana akibat ulah manusia juga tak jarang terjadi di Indonesia. Keadaan ini menimbulkan banyak kematian, dan perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui jati diri para korban. Akan tetapi, terkadang mayat yang ditemukan tidak memiliki tanda pengenal, sudah dalam keadaan busuk dan tidak dapat diidentifikasi lagi.
Pada kasus seperti ini, peran serta dokter diperlukan dalam hal identifikasi mayat. Kesuksesan identifikasi mayat tersebut memerlukan bukti analisis forensik, seperti pemeriksaan antropologi untuk menjelaskan apakah bagian yang tersisa berasal dari manusia atau hewan. Selain itu, dokter juga perlu memberi kejelasan kepada penyidik dalam hal perkiraan usia, penentuan jenis kelamin, perkiraan tinggi badan, penentuan ras, dll (Idries, 2011). Hal-hal tersebut sudah dapat dijawab dengan analisis DNA maupun radiologis (Chisum, 2007). Akan tetapi, fasilitas analisis tersebut belum dapat dijangkau oleh seluruh daerah di Indonesia.
Menurut (Idries, 2011), perkiraan tinggi badan dapat dilakukan dengan mengukur panjang tulang yang telah kering dengan banyak formula yang telah

Universitas Sumatera Utara

2
dirumuskan, sementara penentuan ras mempunyai makna bila susunan dalam masyarakat sudah heterogen, seperti di Amerika Serikat.
Penentuan jenis kelamin sendiri tidak sulit untuk dilakukan bila tulang yang diperiksa berasal dari tubuh korban yang telah dewasa. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa bentuk tulang panggul, dimana tulang panggul perempuan berbentuk oval dan cenderung lebih lebar dibandingkan dengan panggul laki-laki. Penentuan jenis kelamin juga dapat dilakukan dengan melihat tulang tengkorak, dimana tengkorak laki-laki ditandai dengan penonjolan arcus superciliaris yang lebih jelas dan prosesus mastoideus yang lebih besar bila dibandingkan dengan perempuan (Idries, 2011).
Namun demikian, tidak semua mayat yang ditemukan berbentuk tubuh lengkap melainkan dalam keadaan terpotong-potong menjadi beberapa bagian terpisah (mutilasi). Seringkali potongan-potongan tubuh dibuang di tempat yang berlainan. Beberapa kasus mutilasi di Indonesia yang potongan-potongan tubuhnya ditemukan di tempat yang berlainan adalah : mutilasi di daerah Tawangmangu, Jawa Tengah ditemukan mayat tanpa kepala (2011), mutilasi di Lumajang, Jawa Timur ditemukan bungkusan berisi potongan tangan yang diseret-seret oleh anjing (2013), mutilasi di Tol Cikampek ditemukan potonganpotongan tubuh di kilometer yang berjauhan (2013), mutilasi di Tangerang ditemukan potongan tubuh dari lutut sampai pinggang (2014), dan masih banyak lagi kasus yang lain.
Dalam kasus seperti ini, dokter diharapkan dapat membuat identifikasi terhadap potongan-potongan tubuh yang ditemukan, misalnya potongan tangan. Rasio panjang jari (digiti=D) ke-2 dan ke-4 (D2:D4) merupakan salah satu bentuk perbedaan seksual (sexual dimorphic) yang telah diketahui lebih dari 50 tahun silam. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan rasio D2:D4 yang signifikan.
Pada penelitian Robertson et al. (2008) di United Kingdom, didapat rasio D2:D4 0.906 pada laki-laki dan 0.922 pada perempuan. Penelitian di Texas, Amerika Serikat pada tahun 2009 didapat rasio D2:D4 0.96 pada laki-laki dan 0.97 pada perempuan. Di Jerman didapat rasio D2:D4 0.954 pada laki-laki dan
Universitas Sumatera Utara

3
0.97 pada perempuan (Kraemer et al.) dan di Belanda (Galis et al.) 0.916 pada laki-laki dan 0.92 pada perempuan pada tahun 2009. Pada tahun 2011, di Australia didapat rasio D2:D4 0.95 pada laki-laki dan 0.96 pada perempuan (Muller et al.). Di Jepang, 0.95 pada laki-laki dan 0.96 pada perempuan (Hiraishi et al.), di Cina, 0.93 pada laki-laki dan 0.95 pada perempuan pada tahun 2012 (Zhao et al.), sedangkan 0.97 pada laki-laki dan 0.98 pada perempuan di Saudi Arabia pada tahun 2011 (Almasry et al.). Di Indonesia sendiri belum ada didapat nilai rasio D2:D4.
Penelitian Manning et al. (2006), Gillam et al. (2008), Galis et al. (2010), Hiraishi et al. (2012), dan Peeters et al. (2013) menunjukkan perbedaan nilai rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan. Didapati bahwa rasio D2:D4 pada lakilaki lebih rendah nilainya dibandingkan dengan perempuan.
Saat ini, penentuan jenis kelamin lebih sering dilakukan dengan memeriksa tengkorak maupun tulang panggul. Sehingga, akan menjadi sulit jika bagian yang ditemukan adalah potongan tangan. Sepengetahuan peneliti, pemeriksaan jari tangan untuk menentukan jenis kelamin belum pernah dilakukan.
Hal inilah yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul Perbedaan Rasio D2:D4 antara Laki-laki dan Perempuan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU.Diharapkan hasil penelitian dapat menggambarkan nilai rata-rata rasio D2:D4 pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Fakultas Kedokteran USU, sehingga dapat dilihat apakah ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digeneralisasikan pada penduduk Indonesia sehingga pada akhirnya dapat membantu proses identifikasi jenis kelamin mayat apabila hanya ditemukan potongan tangannya saja.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan dilakukan pengukuran panjang jari (digiti=D) ke-2 dan ke-4 untuk mendapatkan rasionya (D2:D4) pada mahasiswa laki-laki dan perempuan. Sehingga rumusan masalah yang dibuat adalah :
Universitas Sumatera Utara

4
1. Adakah perbedaan yang signifikan pada rasio D2:D4 antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di Fakultas Kedokteran USU?
2. Berapakah nilai rata-rata rasio D2:D4 pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Fakultas Kedokteran USU?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan rasio D2:D4 antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. 1.3.2. Tujuan Khusus Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
• Menilai perbedaan yang signifikan pada rasio D2:D4 antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di Fakultas Kedokteran USU.
• Menentukan nilai rata-rata rasio D2:D4 mahasiswa laki-laki di Fakultas Kedokteran USU.
• Menentukan nilai rata-rata rasio D2:D4 mahasiswa perempuan di Fakultas Kedokteran USU.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Data hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu cara identifikasi mayat, yaitu penentuan jenis kelamin mayat. 2. Data hasil penelitian ini dapat menambah rumusan penentuan jenis kelamin mayat, yang sebelumnya ditentukan dengan cara menilai tulang tengkorak dan tulang panggul. 3. Dalam kasus mutilasi dimana hanya terdapat potongan tangan korban saja, data hasil penelitian ini dapat membantu dokter forensik untuk menentukan jenis kelamin mayat. 4. Peneliti dapat memperoleh ilmu pengetahuan baru mengenai data rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan, khususnya di Indonesia. 5. Data hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian dan penulisan yang lebih lanjut tentang perbedaan rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan di Indonesia.
Universitas Sumatera Utara

5

2.1. Identifikasi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Identifikasi merupakan proses pengenalan jati diri yang pertama kali diperkenalkan oleh Alfonsus Bertillon (1853-1914), seorang dokter berkebangsaan Perancis. Teknik identifikasi ini semakin berkembang setelah kepolisian Perancis berhasil menemukan banyak pelaku tindakan kriminal. Saat ini proses identifikasi telah dimanfaatkan untuk kepentingan asuransi, penentuan keturunan, ahli waris, penyebab kecelakaan dan kematian seseorang, menemukan orang hilang, serta menentukan apakah seseorang dapat dinyatakan bebas dari hukuman. Proses ini juga sangat diperlukan dalam identifikasi korban bencana massal (Disaster Victim Identification/DVI), baik yang disebabkan oleh alam (gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir) maupun ulah manusia (kecelakaan darat, udara, laut, kebakaran hutan serta terorisme) (Singh, 2008).
Identifikasi forensik memberi pengaruh besar terhadap proses berjalannya sistem pengadilan. Istilah forensik (for the courts) sendiri berarti “untuk pengadilan” menunjukkan bahwa tujuan utama forensik adalah memberikan bukti-bukti aktual dan temuan yang diperlukan dalam penegakan hukum di pengadilan. Kedokteran forensik bersama kepolisian saat ini menggunakan sistem identifikasi dalam merekonstruksi kejahatan, salah satunya pada kasus penemuan mayat (Murnaghan, 2012).
Pada kasus penemuan mayat, identifikasi forensik pada sisa-sisa tubuh manusia sangatlah penting baik untuk alasan hukum maupun kemanusiaan. Proses identifikasi dilakukan untuk mengetahui apakah sisa-sisa tubuh berasal dari manusia atau bukan, jati diri mayat, penyebab kematian, dan perkiraan waktu kematian berdasarkan data sebelum seseorang meninggal/hilang (antemortem data/AMD) untuk dibandingkan dengan temuan pada mayat (postmortem data/PMD) (ICRC, 2013). Identifikasi akan menjadi lebih sulit jika mayat sudah tidak dapat dikenali lagi, misalnya pada korban bencana alam, kecelakaan yang menewaskan banyak orang serta pada kasus mutilasi, dimana potongan-potongan

Universitas Sumatera Utara

6
yang ditemukan mungkin tidak lengkap. Pada kasus seperti ini, dokter diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada penyidik dalam hal perkiraan saat kematian, usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan ras, serta asal sisa-sisa potongan tubuh (RSBO, 2013).
2.1.1 Metodologi Identifikasi
Dalam proses identifikasi dikenal dua jenis metodologi identifikasi, yaitu metodologi komparatif dan metodologi rekonstruktif.
Metodologi komparatif digunakan apabila terdapat AMD dan PMD untuk disesuaikan. AMD biasanya didapat dari sanak keluarga dan teman-teman dekat. Yang merupakan AMD adalah informasi pribadi secara umum/informasi sosial (nama, usia, alamat tempat tinggal, tempat bekerja, status pernikahan dan sebagainya), gambaran fisik (tinggi dan berat badan, warna mata dan rambut), riwayat kesehatan dan gigi (penyakit, fraktur, gigi yang hilang, dan mahkota gigi), ciri khas (kebiasaan, skar, tanda lahir dan tato), pakaian dan benda-benda lain yang terakhir kali dipakai, serta hal-hal yang diduga berhubungan dengan hilangnya seseorang. Metodologi ini biasa dipakai pada mayat yang masih utuh pada komunitas yang terbatas.
Metodologi rekonstruktif digunakan apabila tidak tersedia AMD dengan menyusun kembali sisa-sisa potongan tubuh manusia yang tidak utuh lagi pada komunitas yang tidak terbatas seperti misalnya pada kasus mutilasi ataupun bencana massal. Yang merupakan PMD adalah informasi umum tentang sisa tubuh (rentang usia, jenis kelamin, tinggi), fakta-fakta medis dan dental (tanda fraktur lama, bekas operasi, kondisi gigi, misalnya tambalan gigi), trauma dan kerusakan post-mortem, informasi mengenai sidik jari, DNA, pakaian dan bendabenda lain yang ditemukan bersama/dekat sisa tubuh, informasi tambahan, seperti: dimana dan bagaimana sisa tubuh ditemukan berdasarkan pengakuan para saksi (ICRC, 2013).
Universitas Sumatera Utara

7
Pada kasus bencana massal, Interpol menentukan identifikasi (DVI) yang dipakai, yaitu (Singh, 2008):
• Identifikasi primer (primary identifier), yaitu gigi geligi (dental record/DR), sidik jari (finger print/FP), dan DNA.
• Identifikasi sekunder (secondary identifier), yaitu visual (photography/PG), properti (property/P), medis (medical/M).
Dalam mengidentifikasi sisa-sisa tubuh manusia, ada tiga tahapan yang perlu dilaksanakan, yaitu penelitian latar belakang, penemuan sisa-sisa tubuh, serta analisis laboratorium dan rekonsilasi. Dalam mencari latar belakang, diperlukan AMD yang bisa didapat dari wawancara anggota keluarga, para saksi, dokter, dokter gigi, ataupun dari laporan/data tertulis seperti rekam medis, surat keterangan kepolisian, sidik jari, dan fotograf (ICRC, 2013).
Identifikasi dimulai dari metode yang sangat sederhana sampai yang rumit. Metode yang sederhana misalnya dengan cara visual (mengamati profil luar tubuh dan wajah), kepemilikan identitas yang masih melekat pada tubuh mayat (misalnya: pakaian, perhiasan, tato, dll) serta dokumentasi seperti foto diri, foto keluarga, SIM, dll. Metode sederhana kemudian dilanjutkan dengan metode ilmiah, yaitu pemeriksaan sidik jari, serologi, odontologi, antropologi, dan biologi yang hasilnya lebih spesifik pada seseorang. Metodologi selanjutnya adalah teknik superimposisi, yaitu pemeriksaan identitas seseorang dengan membandingkan korban semasa hidupnya dengan tengkorak yang ditemukan. Metodologi ini menjadi sulit jika foto korban tidak ada atau jelek kualitasnya, serta apabila tengkorak sudah hancur/tidak berbentuk lagi (Singh, 2008).
2.1.2 Sumber Identifikasi Dalam mengidentifikasi suatu mayat, ada beberapa sumber dan data yang
dapat dipergunakan, yaitu (Idries, 2011; ICRC, 2013): • Visual /penampilan wajah dan tubuh mayat yang ditunjukkan kepada pihak keluarga dapat membantu apabila keadaan mayat tidak rusak berat atau belum mengalami pembusukan.
Universitas Sumatera Utara

8
• Dokumen seperti KTP, SIM, paspor, dan kartu identitas lainnya juga dapat membantu proses identifikasi. Akan tetapi, dalam kasus pembunuhan biasanya pelaku memusnahkan kartu identitas.
• Sidik jari setiap orang memiliki pola/kontur yang berbeda, sehingga dapat menggambarkan diri seseorang. Akan tetapi metode ini dapat digunakan jika belum terjadi pembusukan pada mayat.
• Gigi setiap orang memiliki bentuk yang khas, sehingga dapat dipakai dalam proses identifikasi meskipun mayat sudah mengalami pembusukan.
• X-Ray yang paling baik untuk dibandingkan dengan AMD adalah foto kepala dan pelvis.
• DNA yang didapat dari darah, rambut, cairan semen, gigi, dan jaringan lainnya sangat berbeda pada setiap orang, sehingga dapat dibandingkan dengan AMD atau dibandingkan dengan DNA keluarga.
• Sisa tulang yang diperiksa dapat menentukan usia, tinggi badan, jenis kelamin bahkan ras seseorang dengan banyak formula yang telah ditentukan.
• Pakaian, perhiasaan, tato dan bentuk fisik seseorang juga dapat membantu proses identifikasi apabila mayat tidak dalam keadaan busuk dan hancur.
2.1.3. Perkiraan Usia
Usia saat seseorang meninggal dunia dapat diperkirakan dengan memeriksa temuan klinis, gigi geligi, dan radiologis. Erupsi atau pertumbuhan gigi terjadi sampai usia 20 tahun. Perkiraan usia dengan pertumbuhan gigi mendekati ketepatan sampai dengan 6 bulan. Penyatuan ujung-ujung tulang yang dinilai secara radiologis misalnya penyatuan ujung tulang paha, siku, dan mata kaki dapat dilihat pada usia 20 tahun; sedangkan penyatuan lutut, pergelangan tangan dan bahu akan terjadi sempurna pada usia 23-24 tahun. Penutupan tulangtulang yang membentuk tengkorak menghasilkan perkiraan 10 tahunan. Usia korban akan menjadi lebih akurat apabila ketiganya dikombinasikan (Idries, 2011).
Universitas Sumatera Utara

9

Tabel 2.1 Perkiraan usia berdasarkan erupsi gigi (Idries, 2011).

Rahang Gigi 1 Gigi 2 Gigi 3 Gigi 4 Gigi 5 Gigi 6 Gigi 7

Laki-laki

Atas Bawah

7,47 12,12

8,67 6,21

11,69 10,40 11,18 6,40 11,47 10,82 10,79 7,70

12,68 6,54

Atas 7,20 8,20 Perempuan
Bawah 11,66 5,94

10,98 10,03 10,88 6,22 10,89 10,18 9,86 7,34

12,27 6,26

Keterangan : usia dalam tahun

Data-data lain yang dapat membantu menentukan usia adalah ukuran dan

maturitas tulang, penutupan epifise, akar molar ketiga, vertebra, segmen tulang

sacrum, simfisis pubis, sutura kranialis, perubahan pada ujung tulang rusuk serta

batas peri-auricular.

2.1.4. Perkiraan Tinggi Badan
Perkiraan tinggi badan dapat dilakukan dengan mengukur tulang panjang yang telah kering, seperti femur, tibia, humerus, radius, ulna, calcaneus dan talus. Tulang-tulang ini lalu diukur dengan formula-formula yang telah dirumuskan, seperti Formula Stevenson atau Formula Trotter dan Glesser untuk manusia ras Mongoloid untuk selanjutnya disesuaikan dengan AMD (Idries, 2011).
• Formula Stevenson TB = 61,7207 + 2,4378 x F ± 2,1756 TB = 81,5115 + 2,8131 x H ± 2,8903 TB = 59,2256 + 3,0263 x T ± 1,8916 TB = 80,0276 + 3,7384 x R ± 2,6791

• Formula Trotter dan Glesser TB = 70,73 + 1,22 (F+T) ± 3,24 Keterangan : TB = tinggi badan (cm) F = Femur (tulang paha) H = Humerus (tulang lengan atas) T = Tibia (tulang kering)

Universitas Sumatera Utara

10
R = Radius (tulang hasta) Semakin banyak tulang yang diukur, semakin besar ketepatan tinggi badan
yang didapat.
2.1.5. Penentuan Ras
Penentuan ras akan sangat berguna apabila susunan dalam masyarakat sudah heterogen, artinya baik ras Mongoloid (Cina, Jepang, Indian Amerika), Negroid (orang kulit hitam, Afrika dan Indian Amerika), dan Caucasoid (orang berkulit putih) sudah ada di dalam daerah tersebut ataupun dalam bencana massal, kecelakaan udara dan laut yang penumpangnya mungkin berasal dari banyak negara (DVI).
Perbedaan dari ketiga ras tersebut dapat kita lihat melalui tengkorak, dahi, wajah, orbit, hidung serta ekstremitas. Ras Mongoloid ditandai dengan tengkorak persegi, dahi menonjol, wajah besar dan datar, orbit kecil, dan ekstremitas kecil. Ras Negroid ditandai dengan tengkorak sempit dan memanjang, dahi kecil, orbit persegi, dan ekstremitas besar dan lebar. Ras Caucasoid ditandai dengan tengkorak bulat, dahi cembung menonjol, wajah kecil, dan orbit triangular.
2.1.6. Penentuan Jenis Kelamin
Jenis kelamin mayat dapat dengan mudah ditentukan hanya dengan melihat penampilan fisik saja jika bagian tubuh mayat masih utuh dan belum mengalami pembusukan. Apabila yang tersisa hanya tinggal tulang, kita dapat memperkirakan jenis kelaminnya dengan melihat bentuk tulang-tulang yang tersisa. Menurut SFU (Museum of Archaeology and Ethnology, 2010), tulangtulang yang dapat diidentifikasi adalah tulang panggul, tulang paha (femur), dan kepala (tengkorak).
Tulang pada laki-laki biasanya lebih keras dan lebih lebar. Tulang panggul perempuan berbentuk oval dan cenderung lebih lebar dengan sudut subpubik yang lebar (>900) dari panggul laki-laki. Tulang paha laki-laki juga lebih panjang dan diameter caput humerusnya lebih lebar (>51mm), sedangkan perempuan < 45
Universitas Sumatera Utara

11 mm. Tengkorak laki-laki ditandai dengan penonjolan arcus superciliaris yang lebih jelas dan prosesus mastoideus yang lebih besar bila dibandingkan dengan perempuan (Idries, 2011). Daerah supraorbital (kening) lebih jelas pada laki-laki dan batasnya lebih tajam pada wanita, langit-langit dan gigi lebih lebar, dagu yang lebih jelas dan rahang yang lebih lebar.
Gambar 2.1 Perbedaan tulang panggul antara perempuan dan laki-laki.
Gambar 2.2 Perbedaan tulang tengkorak antara laki-laki dan perempuan.
Universitas Sumatera Utara

Laki-laki

Perempuan

12

Gambar 2.3 Perbedaan humerus antara laki-laki dan perempuan.
2.2. Antropometri Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti orang/manusia dan
metron yang berarti ukuran. Secara umum, antropometri adalah mengukur manusia atau pengukuran terhadap tubuh manusia. Ilmu yang mempelajari tentang manusia disebut antropologi.
Saat ini antropologi sangat berkembang dalam banyak bidang seperti pediatrik, ortopedik, kedokteran gigi, kedokteran olahraga, serta kedokteran forensik. Antropologi forensik berfokus pada morfologi, struktur, dan variabilitas jaringan keras untuk membantu proses identifikasi. Proses identifikasi yang dimaksud adalah pengukuran berat dan tinggi badan, panjang dan lebar kepala, panjang lengan maupun tungkai, panjang telapak kaki, jarak antara kedua ujung jari tengah dari tangan yang direntangkan serta panjang bahu dengan tujuan menentukan jati diri seseorang atau mayat. Data hasil antropometri inilah yang diolah oleh kedokteran forensik untuk membantu penyidik dalam menentukan saat kematian, usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan ras, serta asal sisa-sisa potongan tubuh yang ditemukan (AAAS, 2014).
Bagi antropologis forensik, analisis terhadap tulang manusia telah membuka jalan kebenaran dalam pengadilan. Berdasarkan hasil temuan di TKP dan di laboratorium, dapat diketahui identitas korban, penyebab kematian, bahkan rekonstruksi tindakan kriminal pun dapat dilaksanakan (RSBO, 2013).
Universitas Sumatera Utara

13
2.3. Anatomi Tangan Ada 27 buah tulang yang membentuk tangan dan pergelangan tangan.
Tulang-tulang ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 8 buah karpal yang membentuk pergelangan tangan, 5 buah metakarpal yang membentuk tangan, dan 14 buah falang yang membentuk jari-jari tangan.
Gambar 2.4 Tulang-tulang penyusun tangan. Tulang-tulang yang membentuk pergelangan tangan tersusun dalam 2 baris dengan gerakan yang sangat terbatas di antaranya. Dari radius menuju ulna, baris proximal terdiri dari skapoid, lunatum, trikuetrum, dan fisiformis. Dengan arah yang sama, di bagian distal terdiri dari trapezium, trapezoid, kapitatum, dan hamatum. Skapoid sebagai penghubung antara tiap baris sangat rentan terhadap fraktur. Baris distal tulang karpal membentuk unit yang terikat pada basis metacarpal 2 dan 3 (Wilhelmi, 2012; ASSH, 2009). Tangan terdiri dari 5 buah metakarpal yang ditandai dengan adanya basis, corpus dan caput. Metakarpal jari ke-1 (ibu jari) merupakan metakarpal yang terpendek dan paling bebas bergerak. Tiap metakarpal berartikulasi bagian distalnya pada bagian proximal falang tiap jari. Tiap jari terdiri dari 3 falang (proximal, media, dan distal), kecuali ibu jari yang terdiri dari 2 falang (Wilhelmi, 2012). Falang mengalami osifikasi dari pusat corpus pada masa prenatal. Distal falang mengalami osifikasi pada minggu ke-8 atau ke-9, falang proximal pada
Universitas Sumatera Utara

14
minggu ke-10, dan falang media pada minggu ke-11 atau lebih. Pusat epifise muncul pada falang proximal di awal tahun ke-2 (perempuan), dan lebih lama di tahun yang sama (laki-laki), falang media dan distal pada tahun ke-2 (perempuan), atau tahun ke-3 atau ke-4 (laki-laki) (Standring, 2008).
2.4. Rasio D2:D4
Rasio D2:D4 adalah perbedaan antara panjang jari (digiti=D) ke-2 (jari telunjuk) dengan jari ke-4 (jari manis). Panjang jari pada manusia telah diteliti lebih dari 120 tahun silam. Pada manusia, perbedaan panjang jari ke-2 dibanding panjang jari ke-4 (D2:D4) lebih rendah nilainya pada laki-laki dibandingkan perempuan (Paul et al., 2006; Gillam et al., 2008; Kraemer et al., 2009; Galis et al., 2010; Muler et al., 2011;Zheng and Cohn, 2011; Hiraishi et al., 2011; Zhao et al., 2013 ). Perbedaan ini terlihat baik pada anak-anak maupun dewasa. Perbedaan ciri ini merupakan salah satu perbedaan bentuk seksual (sexual dimorphic) yang dipengaruhi oleh konsentrasi hormon androgen yang diproduksi oleh fetus dan sensitivitas reseptor androgen pada masa embrio.
Rendahnya nilai D2:D4 mencerminkan tingginya paparan hormon testosteron selama masa embrio, sedangkan tinginya nilai D2:D4 mencerminkan rendahnya paparan hormon testosteron selama masa embrio. Modulasi kadar hormon pada masa prenatal mempengaruhi rasio digit sedangkan postnatal tidak (Zheng dan Cohn, 2011; Hiraishi et al., 2012) dan menetap pada masa dewasa (Peeters et al., 2013) . Hal ini menunjukkan bahwa rasio digit sepertinya hanya dipengaruhi pada masa janin dan tidak berubah setelah lahir. Galis et al. (2010) menyatakan bahwa rasio D2:D4 stabil setelah usia 2 tahun. Penelitian Trivers, Manning, dan Jacobson (2006) dalam Galis et al. (2010) pada anak Jamaica didapat rasio D2:D4 anak usia 7-14 tahun meningkat signifikan setelah pengukuran pada 4 tahun kemudian. Gillam et al. (2008) menunjukkan bahwa rasio D2:D4 berubah sejalan dengan usia tetapi nilainya tetap lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan.
Universitas Sumatera Utara

15
Menurut Muller et al. (2011), rasio D2:D4 ini tidak dipengaruhi oleh kadar hormon ibu, karena tidak terdapat korelasi antara kadar hormon androgen ibu dengan kadar hormon androgen pada cairan amnion. Muller juga menyatakan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara kadar hormon androgen dengan rasio D2:D4 pada orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa sepertinya rasio D2:D4 tidak dipengaruhi oleh usia.
Banyak penelitian menunjukkan hubungan rasio digit dengan perbedaan kadar androgen dan estrogen selama pertumbuhan. Muller et al. (2011); Zheng dan Cohn (2011) menyatakan bahwa perkembangan genital dan digit dikontrol oleh gen HoxA dan HoxD yang dipengaruhi oleh hormon androgen. Zheng dan Cohn (2011) memperkirakan bahwa reseptor androgen (AR) aktif di banyak sel pada masa kondensasi kartilago. Percobaan Zheng dan Cohn pada tikus mutan yang AR-nya dihilangkan, terdapat peningkatan rasio D2:D4 dibanding dengan kontrol sedangkan penghapusan pada reseptor estrogen (ER) menurunkan rasio D2:D4. Hal ini menunjukkan bahwa AR dan ER memiliki efek yang berlawanan pada rasio digit, dengan AR penting dalam perkembangan sifat maskulin/laki-laki (rasio D2:D4 rendah) dan ER penting dalam perkembangan sifat feminin/perempuan (rasio D2:D4 tinggi). Aktivitas AR dan ER paling tinggi tampak pada D4 dan tidak ada respon signifikan pada D2. Tingginya efek hormon pada perbedaan pertumbuhan D4 dan tidak adanya efek hormon pada D2 kemudian menjadikan rasio D2:D4 sebagai tanda perbedaan seksual.
Rasio D2:D4 dapat diukur dengan berbagai cara, yaitu: 1. Pengukuran langsung pada D2 dan D4 dimulai dari tengah lipatan
proksimal terhadap palmar sampai ujung digit dengan Vernier caliper (jangka sorong). 2. Pengukuran tidak langsung melalui fotokopi palmar, kemudian D2 dan D4 diukur dari tengah lipatan proksimal terhadap palmar sampai ujung digit dengan Vernier caliper (jangka sorong) atau dengan komputer (Adobe Photoshop). 3. Pengukuran tulang falang D2 dan D4 yang didapat dari radiograf dengan Vernier caliper (jangka sorong).
Universitas Sumatera Utara

16 4. Pengukuran hasil skaning foto palmar yang diletakkan pada
permukaan rata kemudian diukur dengan komputer (Adobe Photoshop).
Gambar 2.5 Alat ukur panjang digiti (Vernier caliper/jangka sorong).
Gambar 2.6 Pengukuran D2:D4 melalui fotomikrograf (Almasry et al., 2011).
Gambar 2.7 Pengukuran D2:D4 melalui radiograf (Xi et al., 2014).
Universitas Sumatera Utara

17
Baik pengukuran langsung maupun tidak langsung menunjukkan perbedaan rasio D2:D4 antara laki-laki dan perempuan, walaupun nilai rasio tersebut memiliki sedikit perbedaan. Robertson et al. (2008) menyatakan bahwa pengukuran D2:D4 menunjukkan hasil yang lebih baik pada pengukuran metakarpal, Allaway et al. (2009) menyatakan bahwa pengukuran berbasis komputer lebih dapat dipercaya dibanding pengukuran fisik, fotokopi dan skan, sedangkan menurut Xi et al. (2014), pengukuran terbaik didapat dengan mengukur falang secara langsung melalui radiograf.
2.5. Rasio D2:D4 dan Jenis Kelamin Sejak tahun 1800-an, penelitian tentang perbedaan bentuk seksual (sexual
dimorphic) telah sangat berkembang hingga saat ini. Perbedaan bentuk seksual ini ternyata juga terlihat pada jari manusia. Perkembangan falang dan organ reproduksi manusia ternyata diatur oleh gen yang sama, yaitu HoxA dan HoxD (Muller et al., 2011; Zheng dan Cohn, 2011). Digit yang paling dipengaruhi oleh hormon androgen adalah D4, sedangkan D2 sepertinya tidak dipengaruhi oleh kadar hormon ini.
Pada manusia, rasio D2:D4 lebih rendah nilainya pada laki-laki (D4), tipe 2 (D2=D4), dan tipe 3 (D2