Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan Selat Sunda

1.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Banten merupakan salah satu daerah perikanan potensial yang ada di

Indonesia karena dikelilingi oleh tiga wilayah perairan yaitu Samudera Hindia, Laut
Jawa dan Selat Sunda. Luas wilayah perairan Selat Sunda mencapai 5618 km2
dengan panjang garis pantai pada bagian provinsi Banten 253 km (Boer dan Aziz
2007). Terdapat beberapa PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai) di provinsi Banten,
salah satunya adalah PPP Labuan, yang memiliki tiga TPI (Tempat Pelelangan
Ikan) yaitu TPI lama, TPI baru, serta TPI pasar. Ikan yang didaratkan di PPP Labuan
berasal dari Perairan Selat Sunda. Nelayan Labuan melakukan kegiatan
penangkapan ikan pelagis di sekitar Pulau Panaitan, Pulau Rakata dan Pulau Rakata
Kecil.
Menurut Rahardjo et al. (1999), PPP Labuan dijadikan sentra pengembangan
perikanan laut di wilayah perairan Selat Sunda. Kegiatan perikanan di Labuan mulai
mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah kapal
penangkapan yang melakukan kegiatan bongkar muat. Pada tahun 2010 jumlah trip
kapal pukat cincin yang menangkap ikan tembang sebanyak 217 trip dan meningkat
pada tahun 2011 menjadi 295 trip (Buku Besar Data Harian TPI Baru Labuan 2010).
Besarnya potensi yang ada, memungkinkan PPP Labuan dapat dijadikan sentra
pengembangan komoditas unggulan (Rahardjo et al. 1999).
Beberapa jenis ikan yang didaratkan di PPP Labuan meliputi ikan kurisi, ikan
tembang, ikan tongkol, ikan kembung banjar, ikan selar, ikan layur dan beberapa
jenis ikan lain. Ikan tembang (Sardinella fimbriata) merupakan salah satu jenis ikan
pelagis dominan yang tertangkap di Perairan Selat Sunda dan didaratkan di PPP
Labuan. Hal ini dapat dibuktikan statistik perikanan PPP Labuan yang menunjukkan
bahwa ikan tembang merupakan hasil tangkapan terbanyak ketiga (Buku Besar Data
Harian TPI Baru Labuan 2010). Nelayan ikan tembang di PPP Labuan melakukan
kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap pukat cincin dengan kapal motor.
Penangkapan ikan tembang dilakukan sepanjang tahun, dengan puncak musim
penangkapan pada bulan Oktober (Rahmi 2012).

2

Pemanfaatan sumberdaya perikanan harus dilakukan secara rasional agar
sumberdaya ikan tembang di Perairan Selat Sunda tetap lestari. Sesuai UndangUndang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009 bahwa pengelolaan perikanan dilakukan
untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan serta terjaminnya
kelestarian sumberdaya ikan. Dominan tertangkapnya sumberdaya ikan tembang di
Perairan Selat Sunda mengindikasikan bahwa kegiatan penangkapan sumberdaya
ikan tersebut telah terjadi secara terus menerus. Hal ini dikhawatirkan dapat
mengurangi besarnya stok dan kelestarian ikan tembang di alam, khususnya wilayah
Perairan Selat Sunda. Jika pengelolaan terhadap sumberdaya ikan dilakukan secara
tepat, maka akan dapat memasok protein (hewani) secara stabil. Pada saat yang
sama, akan memberikan kontribusi sosial dan ekonomi yang besar seperti
pengembangan sektor perikanan, penciptaan lapangan kerja dan sebagainya. Dalam
hal ini terdapat makna pentingnya pengelolaan sumberdaya perikanan (JICA 2009).
Dalam rangka pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan
diperlukan informasi yang bersifat biologis dan matematis. Menurut Widodo dan
Suadi (2006), langkah-langkah yang berkaitan dengan pengelolaan perikanan
mencakup kegiatan pengumpulan data dasar mengenai biologi, ekonomi dan sosial
perikanan. Kemudian data yang diperoleh diolah ke dalam bentuk informasi yang
berguna untuk membuat keputusan pengelolaan. Oleh karena itu, perlu kajian
mengenai pola pertumbuhan ikan tembang di perairan Selat Sunda untuk dapat
mengetahui pertumbuhan sumberdaya ikan tersebut agar dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana pengelolaan perikanan (RPP)
wilayah Perairan Selat Sunda, sehingga pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut
dapat berkelanjutan.

1.2

Perumusan Masalah
Ikan tembang yang tertangkap di perairan Selat Sunda sebagian besar

didaratkan di PPP Labuan. Berikut adalah data hasil tangkapan ikan tembang tahun
2007 hingga 2011 (Tabel 1).

3

Tabel 1. Hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan tembang di Perairan Selat
Sunda yang didaratkan di PPP Labuan tahun 2007 2011
Tahun

Hasil Tangkapan (kg)

Upaya (trip)

CPUE

2007

2440

19

128,42

2008

-*

-*

-*

2009

391649

2472

158,43

2010

16429

217

75,71

2011

27964

295

94,79

Keterangan : * data tidak ada, akibat terjadi kebakaran di TPI
Sumber : TPI baru Labuan, Banten

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan tembang di
Perairan Selat Sunda berfluktuasi. Pada tahun 2007, hasil tangkapan ikan tembang
sangat sedikit, hal ini disebabkan karena kegiatan penangkapan hanya terjadi pada
bulan Januari dan Februari saja. Kemudian hasil tangkapan meningkat pada tahun
2009, turun pada tahun 2010 dan meningkat kembali pada tahun 2011. Berdasarkan
data tersebut tidak menutup kemungkinan jika jumlah sumberdaya ikan tembang di
perairan tersebut akan semakin menurun.
Keberadaan ikan tembang di alam harus tetap dijaga kelestariannya agar tidak
tejadi kepunahan demi keberlanjutan dalam pemanfaatannya. Penelitian kajian stok
mengenai ikan tembang yang tertagkap di Perairan Selat Sunda dan didaratkan di
PPP Labuan, Banten ini dilakukan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan
tembang yang ada di wilayah penangkapan perairan Selat Sunda, karena kajian stok
mengenai ikan tembang pada wilayah penangkapan Perairan Selat Sunda sudah
pernah dikaji beberapa tahun yang lalu, sehingga perlu kajian terbaru untuk dapat
dijadikan pembanding dengan penelitian sebelumnya untuk dapat dijadikan sebagai
bahan masukan dalam pembuatan Rencana Pengeloaan Perikanan.

1.3

Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji aspek pertumbuhan ikan tembang

di perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan Banten yang meliputi
hubungan panjang dan bobot ikan serta parameter pertumbuhan.

4

1.4

Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa informasi yang terkait

dengan kajian stok ikan tembang untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam
pengelolaan ikan tembang di Labuan, Banten yang berkelanjutan dan lestari.

2.

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Tembang Sardinella fimbriata (Cuvier dan Valenciennes 1847)
Ikan tembang merupakan ikan permukaan, hidup di perairan pantai dan

bergerombol pada area yang luas sehingga sering tertangkap bersama ikan lemuru
sampai pada kedalaman sekitar 200 meter (Syakila 2009). Klasifikasi ikan tembang
(Gambar 1) menurut Saanin (1984) berdasarkan tingkat sistematikanya adalah
sebagai berikut:
Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Clupeiformes

Famili

: Cluipeidae

Subfamili

: Incertae sedis

Genus

: Sardinella

Spesies

: Sardinella fimbriata (Cuvier dan Valenciennes 1847)

Nama umum : Fringescale sardinella (fishbase.org)
Nama lokal

: Tembang (Jakarta), Mangida (Bali), Sintring (Madura), Jurung
(Pekanbaru) (Syakila 2009)

Gambar 1. Ikan tembang (Sardinella fimbriata)
Ikan tembang memiliki bentuk badan pipih dan memanjang. Lengkung kepala
bagian atas sampai di atas mata hampir lurus, dari bagian belakang mata hingga
bagian depan dasar sirip punggung berbentuk agak cembung. Tinggi badan lebih
besar daripada panjang kepala. Kepala dan badan bagian atas abu-abu kehijauan,
sedangkan bagian bawah putih keperakan (Peristiwady 2006).

6

Ikan tembang memiliki rangka yang terdiri dari tulang benar dan bertutup
insang. Kepala simetris, badan tidak seperti ular. Tidak seluruh sisik terbungkus
dalam kelopak tebal. Bagian ekor tidak bercincin-cincin. Hidung tidak memanjang
ke depan dan tidak membentuk rostrum. Pipi atau kepala tidak berkelopak keras dan
tidak berduri. Sirip punggung terdiri dari jari-jari lemah yang berbuku-buku atau
berbelah. Badannya bersisik, tidak bersungut dan tidak berjari-jari keras pada
punggung. Tidak bersirip punggung tambahan seperti kulit, tidak berbercak-bercak
yang bercahaya, bertulang dahi belakang, sirip dada senantiasa sempurna. Perut
sangat pipih dan bersisik tebal yang bersiku. Sirip perut sempurna, rahang sama
panjang, daun insang satu sama lain tidak melekat. Bentuk mulut terminal (posisi
mulut terletak di bagian depan ujung hidung), tajam serta bergerigi. Gigi lengkap
pada langit-langit, sambungan tulang rahang dan lidah (Saanin 1984).
Bentuk badan fusiform, pipih dengan sisik duri di bagian bawah badan, awal
sirip punggung sebelum pertengahan badan dengan jumlah jari-jari lemah sebanyak
17-20, dasar sirip dubur pendek dan jauh di belakang dasar sirip dorsal serta berjarijari lemah berjumlah 16-19, tapis insang halus berjumlah 60-80 pada busur insang
pertama bagian bawah. Ikan tembang merupakan ikan pemakan plankton. Beberapa
dari jenis Sardinella ada yang hampir menyerupai satu sama lainnya, namun ada
yang mempunyai beberapa perbedaan morfologis, yang menandakan bahwa ikan itu
berbeda spesiesnya (Dwiponggo 1982). Perbedaan morfologis ini dapat berupa
perbedaan warna tubuh seperti yang terlihat pada Sardinella fimbriata, Valenciennes
dengan warna hijau kebiruan pada bagian badan atas, sedangkan warna biru gelap di
bagian yang sama pada Sardinella lemuru, Bleeker (Syakila 2009).

2.2

Sebaran Frekuensi Panjang
Umur ikan dapat diketahui dengan mengkaji bagian tubuh ikan yaitu sisik dan

otolith pada bagian kepala ikan memiliki lingkaran-lingkaran tahunan yang
digunakan sebagai metode untuk menghitung komposisi umur ikan pada perairan
beriklim subtropis. Lingkaran yang terbentuk pada sisik dan otolith pada ikan
disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan perairan pada musim yang berbeda.
Dalam mengkaji umur ikan dengan metode frekuensi panjang, sifat-sifat reproduksi

7

dan pertumbuhan ikan perlu dipelajari. Untuk dapat mengetahui umur ikan yang
berdasarkan frekuensi panjang digunakan asumsi bahwa ikan yang berada dalam
satu kelompok umur, mempunyai tendensi membentuk suatu distribusi normal
panjang disekitar panjang rata-ratanya. Tujuan analisis data berdasarkan sidik
frekuensi panjang digunakan untuk menentukan umur terhadap kelompok-kelompok
panjang tertentu. Analisis tersebut bermanfaat dalam pemisahan suatu distribusi
frekuensi panjang yang kompleks ke dalam sejumlah kelompok ukuran (Sparre dan
Venema 1999). Di Laguna Ologe, Lagos, Nigeria panjang rata-rata ikan tembang
yang tertangkap dengan spesies S. maderensis adalah 129,7 mm (Johnson dan
Ndimele 2010).

2.3

Hubungan Panjang dan Bobot
Analisis hubungan panjang bobot dimanfaatkan untuk mengetahui aspek

pertumbuhan, misalnya melihat berat ikan melalui panjangnya dan menjelaskan sifat
pertumbuhannya. Hubungan panjang bobot hampir mengikuti hukum kubik yaitu
bahwa bobot ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya (Effendie 1997). Hubungan
antara dua variabel tersebut dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi.
Hasil analisis hubungan panjang dengan bobot akan menghasilkan suatu
persamaan, yang dapat digunakan untuk menduga bobot ikan melalui data panjang
yang didapatkan, serta nilai konstata b, yaitu pangkat dari suatu persamaan yang
dihasilkan dari analisis regresi, yang menunjukkan pola pertumbuhan ikan. Pola
pertumbuhan ikan tembang yang tertangkap di Teluk Banten memiliki persamaan
hubungan panjang bobot, W = 0,00025 L2,282 (Cresidanto 2010), dengan nilai b
berkisar antara 1,71-2,42. Hal ini menunjukkan bahwa pola petumbuhan dari ikan
tersebut bersifat allometrik negatif, yaitu pertambahan panjang ikan tembang lebih
dominan dibandingkan dengan pertambahan bobotnya (Cressidanto 2010). Di
Perairan Ujung Pangkah, Jawa timur oleh Rosita (2007), diperoleh persamaan
hubungan panjang bobot W = 0,00004 L2,664 untuk ikan tembang jantan dan untuk
ikan tembang betina W = 0,0007 L2,091. Penelitian lain juga dilakukan di Teluk
Palabuhanratu yang memperoleh W = 0,000009 L2,990 (Syakila 2009) dan Sungai

8

Nkoro, Nigeria yang memperoleh W = 0,0478 L3,580 pada spesies S. maderensis
dengan koefisien determinasi sebesar 94,7% (Abowei 2009).

2.4

Pertumbuhan
Dalam biologi perikanan, pertumbuhan merupakan salah satu aspek paling

intensif yang dipelajari. Pertumbuhan merupakan indikator yang baik untuk
mengetahui kondisi individual maupun populasi. Pertumbuhan adalah pertambahan
ukuran panjang atau berat dalam periode waktu (Moyle dan Cech 1988). Sedangkan
pada populasi pertumbuhan merupakan peningkatan biomassa suatu populasi yang
dihasilkan oleh akumulasi bahan-bahan dari lingkungannya. Menurut Lagler et al.
(2002) in Zakaria (2003) pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor dalam antara
lain, keturunan, ketahanan tubuh terhadap penyakit dan kemampuan memanfaatkan
pakan dan faktor luar antara lain, ketersediaan pakan bagi ikan dan kondisi
lingkungan perairan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan
pakan yang dikonsumsi yaitu suhu, oksigen terlarut dan salinitas (Peter 2002 in
Zakaria 2003).
Parameter pertumbuhan dapat diduga dengan menggunakan metode Ford
Walford yang membutuhkan data panjang rata-rata dari beberapa kelompok ukuran
yang sama (Sparre dan Venema 1999). Parameter-parameter yang dikaji dalam
menduga pertumbuhan adalah panjang asimptotik (L ) merupakan panjang
maksimum ikan secara teoritis, koefisien pertumbuhan (K) dan t0 yang merupakan
umur teoritis pada saat panjang sama dengan nol (Sparre dan Venema 1999).
Berdasakan hasil penelitian Cressidanto (2010), ikan tembang yang tertangkap
di Teluk Banten memiliki panjang total maksimum 171 mm dengan panjang
asimptotik (L ) 180,22 mm, koefisien pertumbuhan (K) 0,59 bulan-1 dan umur ikan
pada saat panjang ikan 0 mm sebesar -0,32 bulan. Di Teluk Palabuhanratu diperoleh
nilai koefisien pertumbuhan ikan tembang sebesar 1,07 bulan-1 dengan L 170,02
mm. Sedangkan di Perairan Laut Flores memperoleh nilai K sebesar 0,29 bulan-1
dengan L 380,4 mm. Begitupun juga yang dikemukakan oleh Aripin dan Showers
(2000), ikan tembang yang tertangkap di perairan Tawi-Tawi Filipina, mempunyai
koefisien pertumbuhan 0,75 bulan-1 dengan nilai L 225 mm.

3.

3.1

METODE PENELITIAN

Waktu dan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama delapan bulan, yang berlangsung dari bulan

Maret hingga Oktober 2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer, yaitu berupa data panjang total dan bobot basah ikan tembang yang
tertangkap di Selat Sunda dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin.
Pengambilan data primer dilakukan di PPP Labuan, Banten (Gambar 2).

Gambar 2. Peta daerah penelitian
Sumber: Dinas Hidro-Oseanografi 2010

3.2 Informasi Alat Tangkap
Alat tangkap yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan tembang di
perairan Selat Sunda adalah pukat cincin, pancing obor dan jaring insang. Pukat
cincin merupakan alat tangkap utama yang digunakan dalam menangkap ikan
tembang, dengan ukuran mata jaring 2 inch pada bagian badan jaring dan 1¾ inch

10

pada bagian kantong, dengan panjang 200 m dan lebar 70 m. Satu trip penangkapan
hanya berlangsung selama satu hari dengan penangkapan efektif sekitar 10 hingga
12 jam. Sedangkan untuk alat tangkap pancing obor dan jaring insang, ikan tembang
bukan merupakan tujuan utama penangkapan.

3.3 Pengumpulan Data Primer
Data primer diperoleh dari pengambilan contoh yang dilakukan secara acak
terhadap ikan tembang yang tertangkap di perairan Selat Sunda dan didaratkan di
PPP Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pengambilan ikan contoh dilakukan
selama delapan bulan dengan interval waktu pengambilan satu bulan sekali. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran panjang dan bobot ikan
untuk menduga pertumbuhan populasi dan pola pertumbuhan individu ikan tembang
di Selat Sunda.
Pengambilan ikan contoh dilakukan dengan metode Penarikan Contoh Acak
Berlapis (PCAB). Pada masing-masing gundukan ikan tembang, ikan contoh dipilih
secara acak sebanyak lebih kurang 100 ekor. Jumlah ikan contoh yang diambil
proporsional terhadap masing-masing kelas ukuran panjang (Gambar 3).
Panjang ikan tembang yang diukur adalah panjang total. Panjang total adalah
panjang ikan yang diukur dari ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir
bagian ekornya. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan penggaris
(Lampiran 1) panjang 30 cm dengan skala terkecil 1 mm. Sedangkan bobot ikan
tembang yang ditimbang adalah bobot basah total. Berat basah total adalah berat
total jaringan tubuh ikan dan air yang terdapat di dalamnya. Bobot basah total ikan
tembang ditimbang menggunakan timbangan digital (Lampiran 1) dengan skala
terkecil 0,0001 gram. Pengukuran bobot basah total merupakan pengukuran bobot
yang mudah dilakukan di lapangan.
Pengumpulan data dan informasi lain yang terkait dalam kegiatan penelitian
ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara dengan nelayan ikan tembang di
PPP Labuan, Banten. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara berupa data
unit penangkapan (pemilik kapal, nelayan dan jumlah anak buah kapal), daerah
penangkapan, serta kegiatan operasi. Pemilihan responden dilakukan dengan metode

11

pengambilan contoh responden sesuai dengan tujuan, dengan jumlah responden
sebanyak tiga puluh orang.
PPP Labuan, Banten

Nelayan 2

Nelayan 1

Gundukan ikan 2

Gundukan ikan 2

Gundukan ikan 2

Gundukan ikan 2

PCAB
(proporsional terhadap
panjang ikan)
± 100 ekor ikan contoh

Contoh yang akan dianalisis

Gambar 3. Kerangka pengambilan contoh di lokasi penelitian

3.4

Analisis Data

3.4.1 Sebaran kelompok umur
Pendugaan kelompok umur dilakukan dengan menganalisis frekuensi panjang
ikan menggunakan program Microsoft Excel 2007 (Lampiran 2 dan 3), kemudian
dibuat kurva sebaran normalnya. Menurut Boer (1996), jika fi adalah frekuensi ikan
dalam kelas panjang ke-i (i = 1, 2,
umur ke-j,

j

, N), µj adalah rata-rata panjang kelompok

adalah simpangan baku panjang kelompok umur ke-j dan pi adalah

proporsi ikan dalam kelompok umur ke-j (j = 1, 2,
digunakan untuk menduga
(maximum likelihood function):

, G), maka fungsi objektif yang

̂ , , ̂ adalah fungsi kemungkinan maksimum

12

=

=

yang merupakan fungsi kepekatan sebaran normal dengan



nilai tengah µj dan simpangan baku

j,

xi adalah titik tengah kelas panjang ke-i.

Parameter pertumbuhan ditentukan dengan cara mencari turunan pertama L masingmasing terhadap µj, j, pj sehingga diperoleh dugaan ̂ ,

̂.

3.4.2 Hubungan panjang dan bobot
Model hubungan panjang bobot mengikuti pola hukum kubik dari dua
parameter yang dianalisis. Asumsi hukum kubik ini adalah bahwa idealnya seluruh
ikan dimana setiap pertambahan panjang akan menyebabkan pertambahan berat.
Namun pada kenyataannya tidak demikian, karena panjang dan bobot ikan berbeda
pada setiap spesies ikan, sehingga untuk menganalisis hubungan panjang bobot
masing-masing spesies ikan digunakan hubungan sebagai berikut (Effendie, 1979):
=

W adalah bobot (gram), L adalah panjang (mm), a adalah intersep (perpotongan
hubungan kurva panjang-bobot dengan sumbu y), b adalah penduga pola
pertumbuhan panjang-bobot.
Nilai

dan

diduga dari bentuk linier persamaan di atas, yaitu:
log

= log +

log

Koefisien a dan b didapatkan dari hasil analisis regresi dengan ln W sebagai variabel
y dan Ln L sebagai variabel x sehingga didapatkan persamaan regresi :
y = a + bx.

Pengaruh nilai b terhadap fungsi bobot, dapat diketahui berdasarkan nilai koefisien
determinasi (R2) dari hasil analisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel.

13

3.4.3 Pertumbuhan
3.4.3.1 Sebaran frekuensi panjang
Penentuan sebaran frekuensi panjang menggunakan data panjang total ikan
tembang (S. fimbriata) yang tertangkap di Selat Sunda.
Langkah-langkah dalam menganalisis sebaran frekuensi panjang:
Langkah 1

: Menentukan jumlah kelas panjang yang dibutuhkan,

Langkah 2

: Menentukan interval (lebar selang kelas),

Langkah 3

: Menentukan frekuensi dari masing-masing kelas panjang dengan
menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007 pada menu
Data Analysis kemudian pilih menu Histogram.

3.4.3.2 Plot Ford Walford
Pertumbuhan dapat diestimasi menggunakan model pertumbuhan Von
Bertalanffy (Sparre dan Venema 1999):
=

(

1−

)

Pendugaan nilai koefisien pertumbuhan (K) dan L

dilakukan dengan

menggunakan metode Ford Walford yang diturunkan dari model Von Bertalanffy.
Untuk t sama dengan t+1, persamaannya menjadi :


=

.

(

)

. [1 −

]

Lt adalah panjang ikan pada saat umur t (satuan waktu), L

adalah panjang

maksimum secara teoritis (panjang asimptotik), K adalah koefisien pertumbuhan
(per satuan waktu) dan t0 adalah umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan
nol. Kemudian kedua rumus di atas disubstitusikan dan diperoleh persamaan :


= [



][1 −

]

atau :
=

[1 −

]+

Berdasarkan persamaan di atas dapat diduga dengan persamaan regresi linier
=

+

, jika Lt sebagai absis (x) diplotkan terhadap Lt+1 sebagai ordinat (y).

14

(

)

=

+

Dengan demikian akan terbentuk kemiringan (slope) sama dengan e-K dan titik
e-K]. Dengan demikian, nilai K dan L

potong dengan absis sama dengan L [1
diperoleh dengan cara:

= − ln ( )

dan
=

1−

Nilai t0 (umur teoritis ikan pada saat panjang sama dengan nol) dapat diduga
melalui persamaan Pauly (1983) dalam Sparre dan Venema (1999):
log(−

) = − 0,3922 − 0,2752(

) − 1,038(log )

Keterangan:
Lt
= Panjang ikan pada saat umur t (mm)
L
= Panjang asimptotik ikan (mm)
K
= Koefisien pertumbuhan (bulan-1)
t
= Umur ikan (bulan)
t0
= Umur ikan pada saat panjang ikan nol (bulan)

3.4.4 Pendugaan umur ikan dengan modus panjang tertentu
Dalam menduga umur ikan untuk masing-masing panjang yang didapatkan
dari hasil penelitian (Lo) dapat menggunakan rumus pertumbuhan Von Bertalanffy
yang disubstitusikan menjadi sebagai berikut:
+ ( . )

1−
=



Pada prinsipnya untuk menduga umur ikan (t) yang paling tepat untuk
dipolotkan ke dalam kurva pertumbuhan Von Bertalanffy, dapat dilakukan dengan
mencari nilai jumlah kuadrat deviasi panjang terkecil. Deviasi panjang adalah selisih
antar panjang ikan hasil pengamatan (Lo) dan panjang ikan harapan berdasarkan
model von Bertalanffy (Le), dapat dirumuskan sebagai berikut:

15

= (



)

Selanjutnya gunakan umur dugaan tersebut (sumbu x) untuk menentukan letak titiktitik modus panjang (sumbu y) hasil pengamatan pada gambar kurva pertumbuhan.

Keterangan:
t
= Umur ikan (bulan)
Lo
= Observed length, panjang hasil pengamatan/modus panjang (mm)
Le
= Expected length, panjang harapan dihitung berdasarkan kurva pertumbuhan
Von Bertalanffy (mm)
d
= Deviasi, penyimpangan nilai pengamatan dari nilai harapan

4.

4.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

4.1.1 Kondisi perikanan tembang di PPP Labuan
PPP Labuan berlokasi di Desa Teluk, Kecamatan Labuan dengan luas wilayah
15,66 km2. Kecamatan Labuan, sebagai salah satu kecamatan pantai di Kabupaten
Pandeglang berpenduduk sebanyak 50.814 orang dengan jumlah penduduk yang
memiliki mata pencaharian nelayan sebanyak 2.290 orang atau sebesar 42,8% dari
seluruh jumlah nelayan di kabupaten ini.
PPP Labuan memiliki tiga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yaitu TPI Lama, TPI
baru dan TPI pasar. Pada TPI Lama kapal yang beroperasi berukuran > 10 GT, pada
TPI baru 5-10 GT dan pada TPI pasar 3-5 GT. Jenis kapal yang digunakan nelayan
dalam melakukan kegiatan penangkapan adalah kapal motor. Alat tangkap yang
digunakan terdiri dari pukat cincin, cantrang, rampus dan jaring insang.
Ikan-ikan

yang didaratkan di PPP Labuan, sebagian besar berasal dari

perairan Selat Sunda. Ikan pelagis yang didaratkan di PPP Labuan terdiri dari ikan
tongkol, ikan kembung banyar, ikan tembang, ikan tenggiri dan ikan selar (Gambar
4). Berikut diagram persentasi ikan pelagis yang didaratkan di PPP Labuan.

Tembang
19%

Banyar
26%

Tenggiri
2%
Tongkol
52%

Selar
1%

Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan ikan pelagis di PPP Labuan
Sumber : Dinas PPP Labuan 2011

17

Berdasarkan Gambar 4, ikan tembang berada pada urutan ketiga sebagai hasil
tangkapan ikan pelagis yang didaratan di PPP Labuan. Daerah penangkapan nelayan
di Kecamatan Labuan berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
(WPP RI) 512 yaitu meliputi wilayah perairan Samudera Hinda bagian selatan, Selat
Sunda dan Laut Jawa. Namun nelayan hanya melakukan penangkapan di wilayah
perairan Selat Sunda terutama disekitar Pulau Sebuku, Pulau Sebesi, Pulau Rakata
Kecil, Pulau Krakatau dan Pulau Panaitan.
Pemasaran ikan tembang hanya untuk pasar lokal saja. Bentuk produk yang
dijual berupa ikan segar dan ikan asin. Hal ini bertujuan agar ikan tetap awet dan
aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Harga jual ikan tembang bervariasi
tergantung pada ketersediaannya di pasar, harga ikan tembang segar berkisar antara
Rp 3000-Rp 5000.

4.1.2 Hubungan panjang bobot
Analisis hubungan panjang bobot (Gambar 5) menggunakan data panjang total
dan bobot basah ikan contoh untuk melihat pola pertumbuhan individu ikan tembang
di perairan Selat Sunda, dengan jumlah contoh sebanyak 614 ekor ikan tembang.
Berikut ini adalah hubungan panjang bobot ikan tembang untuk keseluruhan
pengambilan contoh di PPP Labuan, Banten.

90.00
80.00
W = 0,00001L2,927
R² = 0,802
n = 614

Bobot (gram)

70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0

50

100

150

200

Panjang total (mm)

Gambar 5. Hubungan panjang dan bobot ikan tembang di perairan Selat Sunda

18

Hasil analisis hubungan panjang bobot, mendapatkan nilai b sebesar 2,927.
Dengan demikian, diperoleh persamaan hubungan panjang dan bobot ikan tembang
sebagai berikut:

dengan koefisien determinasi sebesar 80,2 % dan pada selang kepercayaan 95%
(Lampiran 6) nilai b ikan tembang di Perairan Selat Sunda berkisar antara 2,5723,282.

4.1.3 Pemisahan kelompok umur
Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan tembang menggunakan
metode NORMSEP disajikan pada Gambar 6 dan 7.

April
n = 54

Juni
n = 51

Juli
n = 61

Agustus
n = 41

September
n = 34

Oktober
n = 37

Panjang total (mm)

Gambar 6. Kelompok umur ikan tembang jantan di Perairan Selat Sunda

19

April
n = 45

Juni
n = 49

Juli
n = 38

Agustus
n = 54

September
n = 65

Oktober
n = 63

Panjang total (mm)

Gambar 7. Kelompok umur ikan tembang betina di Perairan Selat Sunda

20

Berdasarkan Gambar 6 dan 7 di atas dapat dilihat bahwa pergeseran modus
kelompok umur yang sama pada ikan jantan dan betina terjadi pada bulan Juli
hingga Oktober.

4.1.4 Parameter pertumbuhan
Berdasarkan hasil pemisahan kelompok umur, didapatkan data modus panjang
ikan (Lampiran 7 dan 8) yang selanjutnya akan dianalisis untuk menduga parameter
pertumbuhan ikan tembang. Hasil analisis parameter pertumbuhan ikan tembang
yaitu koefisien pertumbuhan (K), panjang asimptotik (L ) dan umur teoritis ikan
pada saat panjang ikan 0 (t0) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Parameter pertumbuhan ikan tembang di Perairan Selat Sunda
Parameter
L (mm)
K (bulan-1)
t0 (bulan)
t* (bulan)

Jantan
181,94
0,33
-0,31
20,12

Betina
190,45
0,26
-0,38
24,65

Keterangan : *umur dugaan saat Lt = L
Berdasarkan Tabel 2 diperoleh persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy ikan
tembang jantan dan betina di Perairan Selat Sunda berturut-turut adalah sebagai
berikut:
= 181,94 1 −

[

,

(

,

)]

= 190,45 1 −

[

,

(

,

)]

dan

Dari persamaan pertumbuhan di atas maka dapat diketahui panjang ikan
tembang dari berbagai umur relatif, sehingga dapat dihitung pertambahan panjang
ikan tembang untuk setiap bulannya hingga mencapai panjang asimptotiknya
(Gambar 8 dan 9). Kurva dugaan parameter pertumbuhan ikan tembang yang
diperoleh dengan memplotkan umur (bulan) dan panjang total ikan (mm) hingga
ikan berumur 20 bulan.

21

L

200

Panjang total (mm)

160

e [-0,33(t + 0,31)])

Lt = 181,94 (1

120

80

40

0
-2

0

2

4

6

8

10

12

14

16

18

20

Waktu (bulan)

Gambar 8. Kurva pertumbuhan ikan tembang jantan di Perairan Selat Sunda
L

200

Panjang total (mm)

160

Lt = 190,45 (1

e [-0,26(t + 0,38)])

120

80

40

0
-2

0

2

4

6

8

10

12

14

16

18

20

Waktu (bulan)

Gambar 9. Kurva pertumbuhan ikan tembang betina di Perairan Selat Sunda

Berdasarkan dari kurva pertumbuhan di atas, dapat diketahui panjang rata-rata
ikan yang dihasilkan selama penelitian dan digunakan dalam menganalisis
pendugaaan parameter pertumbuhan, serta umur dugaannya sebagai berikut.

22

Tabel 3. Panjang rata-rata ikan serta umur dugaan
Jantan
̂(bulan)
Lt (mm)
3,3
128,16
4,3
144,56
5,3
150,19
6,3
162,78

4.2

Betina
̂(bulan)
Lt (mm)
3,8
128,14
4,8
143,84
5,8
150,22
6,8
162,67

Pembahasan
Hubungan panjang bobot ikan sangat penting artinya dalam ilmu dinamika

populasi, antara lain untuk memberikan pernyataan secara matematis hubungan
antara panjang dan bobot ikan, menduga variasi bobot dugaan untuk panjang
tertentu. Berdasarkan grafik hubungan panjang bobot (Gambar 5) diperoleh
persamaan W = 0,00001 L2,927 dengan koefisien determinasi sebesar 80,2%.
Penelitian sebelumnya mengenai hubungan panjang bobot ikan tembang juga
pernah dilakukan di Perairan Ujung Pangkah, Jawa timur oleh Rosita (2007), yang
menghasilkan persamaan hubungan panjang bobot W = 0,00004 L2,664 untuk ikan
tembang jantan dan W = 0,0007 L2,091 untuk ikan tembang betina. Penelitian lain
juga dilakukan di Teluk Banten, diperoleh persamaan W = 0,00025 L2,282
(Cresidanto 2010) dan di Teluk Palabuhanratu diperoleh

W = 0,000009 L2,990

(Syakila 2010). Semua nilai b yang diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya di
beberapa perairan di Indonesia tidak berbeda nyata dengan hasil yang diperoleh pada
penelitian ini, yaitu berkisar antara 2,572-3,282. Akan tetapi untuk ikan-ikan yang
tergolong genus Sardinella nilai b dapat berbeda untuk spesies yang berbeda.
Abowei (2009) melaporkan bahwa persamaan hubungan panjang bobot S.
maderensis di Sungai Nkoro, Nigeria adalah W = 0,0478 L3,580 dengan koefisien
determinasi sebesar 94,7.
Pola pertumbuhan setiap spesies ikan berbeda-beda, begitupun juga dengan
spesies ikan yang sama namun hidup di wilayah perairan yang berbeda. Perbedaan
tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor dalam berupa genetik ikan tersebut dan
faktor luar berupa kondisi perairan (suhu dan salinitas), waktu penangkapan, kapal
penangkapan, ketersediaan makanan di perairan tersebut (Osman 2004 in Lelono
2007). Menurut Bachrin (2008), ikan tembang dapat hidup pada kisaran suhu 28oC31oC, dengan suhu optimum 29oC, karena ikan pelagis kecil cenderung memilih

23

kondisi yang berhubungan erat dengan kondisi lingkungan (Laevastu dan Hayes
1981). Menurut Amri (2008), Perairan Selat Sunda memiliki kisaran suhu antara
27oC-30,5oC dan tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Syamsudin et al. (2003) yang berkisar antara 28oC-29,5oC. Menurut
Gunarso (1985), suhu tidak terlalu memberikan gambaran bagaimana pengaruhnya
terhadap perikanan, sebab perairan Indonesia yang merupakan perairan tropis,
memiliki variasi suhu tahunan yang kecil bila dibandingkan dengan perairan lain,
seperti misalnya perairan subtropis. Selain suhu, salinitas juga mempengaruhi pola
pertumbuhan ikan, karena metabolisme dalam tubuh mempengaruhi pertumbuhan
ikan. Di Perairan Selat Sunda kisaran salinitasnya antara 31

-33,7

(Amri 2008).

Sementara salinitas optimum untuk ikan tembang adalah 34

(Bachrin 2008).

Berdasarkan Gambar 6 dan 7 didapatkan satu kelompok ukuran ikan tembang
jantan pada bulan April hingga Oktober. Sedangkan untuk ikan tembang betina
didapatkan dua kelompok umur pada bulan pengamatan April dan Agustus dan
untuk bulan lainnya hanya ditemukan satu kelompok umur. Hasil analisis pemisahan
kelompok ukuran (Lampiran 4 dan 5) terlihat nilai indeks separasi pada bulan April
dan Agustus yang lebih dari dua (I > 2), hal ini menunjukkan bahwa pemisahan
kelompok ukuran ikan tembang dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Dalam
pemisahan kelompok ukuran ikan dengan metode Battacharya sangat penting untuk
memperhatikan nilai indeks separasi yang diperoleh. Indeks separasi merupakan
kuantitas yang relevan terhadap kemungkinan bagi suatu pemisahan dari dua
komponen yang berdekatan, bila indeks separasi kurang dari dua maka tidak
mungkin dilakukan pemisahan kelompok ukuran tersebut (Hasseblad 1996, McNew
dan Summerfelt 1978 serta Clark 1981 in Sparre dan Venema 1999).
Parameter pertumbuhan model Von Bertalanffy (K dan L ) diduga dengan
menggunakan metode Ford Walford. Metode ini merupakan metode paling
sederhana dalam menduga parameter pertumbuhan dengan interval waktu
pengambilan contoh yang sama (King 1995) dan memerlukan data panjang rata-rata
ikan dari setiap kelompok ukuran panjang yang sama (Sparre dan Venema 1999).
Kelompok ukuran ikan tembang ini dipisahkan dengan menggunakan metode
Battacharya. Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan tembang yaitu panjang

24

rata-rata, jumlah populasi dan indeks separasi masing-masing kelompok ukuran
disajikan pada Lampiran 4 dan 5.
Kelompok ikan yang modus panjangnya bergeser dari 128,16 mm (jantan) dan
128,14 (betina) pada bulan Juli menjadi 162,78 mm (jantan) dan 162,67 mm (betina)
pada bulan Oktober, pada penelitian ini sangat mungkin berasal dari satu kohort.
Pada bulan Juli ikan-ikan tersebut diduga berumur 3,3 bulan (jantan) dan 3,8 bulan
(betina) (Tabel 3) atau berkisar antara 3 dan 4 bulan. Berdasarkan hasil penelitian ini
dapat diduga setidaknya pada 3 atau 4 bulan sebelumnya yaitu pada bulan April atau
Mei telah terjadi musim pemijahan.
Panjang total maksimum ikan tembang yang tertangkap di Perairan Selat
Sunda dan didaratkan di PPP Labuan adalah 185 mm yang diduga dicapai pada
umur 13 bulan dan merupakan ikan tembang betina. Panjang ini lebih kecil
dibanding panjang asimptotik ikan tembang yang didapatkan yaitu 190,45 mm
dengan koefisien pertumbuhan 0,26 bulan-1. Panjang ikan pertama kali matang
gonad sebesar 180 mm (Shelvinawati 2012), yang diduga dicapai pada umur 11
bulan. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar ikan yang
tertangkap belum matang gonad. Hasil analisis beberapa penelitian sebelumnya
mengenai parameter ikan tembang disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Parameter pertumbuhan ikan tembang dari beberapa hasil penelitian
Sumber
Syakila (2009)
Cresidanto (2010)
Penelitian ini (2012)

Lokasi
Teluk Palabuhanratu
Teluk Banten
Selat Sunda

Koefisien
pertumbuhan
(bulan-1)
1,07
0,59
0,26

Panjang asimptotik (mm)
170,02
180,22
190,45

Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan di beberapa perairan yang
berbeda. Diperoleh nilai koefisien pertumbuhan ikan tembang di Teluk
Palabuhanratu sebesar 1,07 bulan-1 dengan L 170,02 mm, sedangkan di Perairan
Teluk Banten diperoleh nilai K 0,59 bulan-1 dengan L 180,22 mm. Berdasarkan
selang kepercayaan 95% (Lampiran 6), L ikan tembang yang tertangkap di Perairan
Selat Sunda tidak berbeda nyata dengan kedua penelitian sebelumnya pada dua
wilayah yang berbeda. Penelitian lain mengenai parameter pertumbuhan ikan

25

tembang di Perairan Laut Flores memperoleh nilai K sebesar 0,29 bulan-1 dengan L
380,4 mm. Begitupun juga yang dikemukakan oleh Aripin dan Showers (2000), ikan
tembang yang tertangkap di Perairan Tawi-Tawi Filipina, mempunyai koefisien
pertumbuhan 0,75 bulan-1 dengan nilai L 225 mm. Sesuai dengan pernyataan Sparre
dan Venema (1999) yaitu ikan-ikan yang berumur panjang mempunyai nilai K
cukup kecil sehingga membutuhkan waktu relatif lama untuk mencapai panjang
maksimumnya. Semakin cepat laju pertumbuhannya, maka akan semakin cepat pula
ikan tersebut mencapai panjang asimptotiknya (L ).
Pada kurva pertumbuhan (Gambar 8 dan 9) dapat dilihat bahwa terdapat empat
titik panjang rata-rata ikan yang dihasilkan selama penelitian, panjang rata-rata
inilah yang digunakan dalam menduga parameter pertumbuhan ikan tembang di
Perairan Selat Sunda. Terdapat juga umur dugaan pada keempat titik tersebut
(Lampiran 9 dan 10). Berdasarkan umur dugaan tersebut dapat dinyatakan bahwa
ikan-ikan yang tertangkap di Selat Sunda dan didaratkan di PPP Labuan, Banten
merupakan ikan-ikan yang berumur tua. Pada kurva juga terlihat perbedaan laju
pertumbuhan ikan tembang selama rentang hidupnya. Pertumbuhan panjang ikan
tembang yang cepat terjadi pada umur muda dan semakin lambat seiring dengan
bertambahnya umur sampai mencapai panjang asimptotik, dimana ikan tidak akan
bertambah panjang lagi. Pertumbuhan cepat bagi ikan yang berumur muda terjadi
karena energi yang didapatkan dari makanan sebagian besar digunakan untuk
pertumbuhan. Pada ikan tua energi yang didapatkan dari makanan tidak lagi
digunakan untuk pertumbuhannya, tetapi hanya digunakan untuk mempertahankan
dirinya dan mengganti sel-sel yang rusak (Jalil et al. 2001).
Terjadinya perbedaan kecepatan pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh
ketersediaan makanan di lingkungan hidup ikan, karena kecepatan pertumbuhan
tersebut akan berlainan pada tahun yang berlainan juga, terutama pada ikan yang
masih muda ketika kecepatan tersebut relatif lebih cepat dibandingkan dengan ikan
yang sudah besar. Hal ini besar kemungkinan disebabkan keadaan lingkungan yang
berpengaruh terhadap pertumbuhan (Dwiponggo 1982 in Harahap dan Djamali
2005). Cepatnya pertumbuhan dan pendeknya umur ikan mengindikasikan laju
kematian yang cukup tinggi. Hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan (Suman et al. 2006).

26

JICA (2009) menyatakan bahwa pengelolaan sumberdaya perikanan bukan
hanya dengan tidak melakukan kegiatan penangkapan untuk tetap dapat menjaga
kelestarian sumberdaya perikanan, namun dalam kondisi yang berkesinambungan
tetap dapat dilakukan kegiatan penangkapan ikan yang sesuai dengan nilai
tangkapan maksimal tanpa mengganggu kelestarian sumberdaya (MSY). Sehingga
kegiatan penangkapan dan pengelolaan untuk mempertahankan stok sumberdaya
perikanan di laut dapat berlangsung secara berkesinambungan. Beberapa upaya yang
dapat dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan tembang di
Peraiaran Selat Sunda adalah dengan melakukan pengontrolan terhadap ukuran ikan
yang tertangkap, yaitu dengan memodifikasi alat tangkap yang lebih selektif. Ikanikan yang boleh ditangkap adalah ikan-ikan yang sudah mencapai ukuran matang
gonad (Lm) atau minimal sudah pernah satu kali melakukan siklus pemijahan. Pada
penelitian kali ini panjang ikan pertama kali matang gonad adalah 180 mm
(Shelvinawati 2012). Selain itu, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
mengurangi upaya penangkapan pada bulan-bulan tertentu, yaitu ada bulan Juni-Juli,
karena diduga pada bulan-bulan tersebut terjadi puncak musim pemijahan ikan
tembang di Perairan Selat Sunda (Shelvinawati 2012).

5.

5.1

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Hubungan panjang bobot ikan tembang di Selat Sunda memiliki persamaan
W = 0,00001 L2,927. Pada selang kepercayaan 95% nilai b ini berkisar antara
2,572-3,282. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan hasil penelitian di
beberapa perairan lain di Indonesia.
2. Berdasarkan kurva pertumbuhan model Von Bertalanffy, dapat diketahui
bahwa panjang asimptotik (L ) ikan tembang jantan sebesar 181,94 mm dan
190,45 mm untuk ikan betina.
3. Setidaknya pada bulan April atau Mei telah terjadi musim pemijahan ikan
tembang di sekitar Perairan Selat Sunda.

5.2

Saran
Penelitian pertumbuhan ini hendaknya mengambil ikan contoh yang berumur

muda hingga yang berumur tua, sehingga nilai K yang diperoleh akan lebih akurat.
Selain itu, ikan contoh yang diambil sebaiknya mewakili setiap musim sehingga
informasi yang diperoleh lebih menyeluruh. Untuk mengkonfirmasi dugaan musim
pemijahan pada bulan April atau Mei, perlu dilakukan penelitian tingkat kematangan
gonad ikan tembang secara peiodik terutama antara bulan Januari sampai dengan
Juni.

KAJIAN ASPEK PERTUMBUHAN IKAN TEMBANG
(Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847)
DI PERAIRAN SELAT SUNDA

ELFRIDA MEGAWATI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan
Valenciennes 1847) Di Perairan Selat Sunda

adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Elfrida Megawati
C24080072

RINGKASAN

Elfrida Megawati. C24080072. Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang
(Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan Selat Sunda.
Dibawah bimbingan Mennofatria Boer dan Kiagus Abdul Aziz.
Banten merupakan salah satu daerah perikanan potensial yang ada di
Indonesia karena dikelilingi oleh tiga wilayah perairan yaitu Samudera Hindia, Laut
Jawa dan Selat Sunda. Luas wilayah Perairan Selat Sunda mencapai 5618 km2
dengan panjang garis pantai pada bagian Provinsi Banten 253 km. Salah satu PPP
yang terdapat di Banten adalah PPP Labuan, Banten. Ikan tembang merupakan salah
satu ikan pelagis yang tertangkap di Selat Sunda dan didaratkan di PPP Labuan dan
merupakan salah satu ikan pelagis yang dominan tertangkap, sehingga diduga hal
tersebut menyebabkan aktivitas penangkapan kian meningkat. Sehingga diperlukan
upaya untuk tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan tembang. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji aspek pertumbuhan ikan tembang meliputi pola
pertumbuhan dan parameter pertumbuhan.
Penelitian ini dilakukan selama delapan bulan, yang berlangsung dari bulan
Maret hingga Oktober 2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer, yaitu berupa data panjang total dan bobot basah ikan tembang yang
tertangkap di Selat Sunda dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin yang
berukuran mata jaring 2 inch pada bagian badan jaring dan 1¾ inch pada bagian
kantong, dengan panjang 200 m dan lebar 70 m. Pengambilan data primer dilakukan
di PPP Labuan, Banten. Analisis data yang dilakukan adalah sebaran frekuensi
panjang, hubungan panjang bobot, sebaran dan pendugaan parameter pertumbuhan
(K, L , t0).
Ikan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies Sardinella
fimbriata dan berjumlah 614 ekor ikan contoh. Sebaran frekuensi panjang ikan
tembang jantan berkisar antara selang kelas panjang 100-189 mm. Berdasarkan hasil
,
analisis hubungan panjang bobot, diperoleh persamaan
= 1 × 10
, dengan
koefisien determinasi sebesar 80,2%. Melalui analisis pendugaan parameter
pertumbuhan, didapatkan nilai K (koefisien pertumbuhan), L (panjang asimptotik)
dan t0 pada ikan jantan dan betina berturut-turut adalah sebagai berikut, K sebesar
0,33 dan 0,26 bulan-1, L sebesar 181,94 dan 190,45 mm, dengan t0 -0,31 dan -0,38
bulan. Berdasarkan selang kelas nilai b, tidak terdapat perbedaan nyata dengan nilai
b pada beberapa penelitian sebelumnya di Perairan Indonesia, begitupun juga
dengan nilai L . Sebagian besar ikan yang tertangkap di Perairan Selat Sunda dan
didaratkan di PPP Labuan, Banten belum matang gonad.

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul

: Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang (Sardinella
fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan Selat
Sunda

Nama

: Elfrida Megawati

NIM

: C24080072

Program studi

: Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui :

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA
NIP. 19570928 198103 1 006

Ir. Kiagus Abdul Aziz, MSc.
NIP. 130349 009

Mengetahui :
Ketua Departemen Manajamen Sumberdaya Periran

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, MSc.
NIP. 19660728 199103 1 002

Tanggal Lulus: 31 Mei 2012

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas begitu
besar kasih karunia dan berkat-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat
terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Perikanan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Skripsi yang berjudul Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang
(Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan Selat Sunda
dibuat untuk mengetahui pola pertumbuhan dan parameter pertumbuhan ikan
tembang yang tertangkap di Selat Sunda, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan strategi pengelolaan perikanan tembang di Selat
Sunda demi pemanfaatan yang berkelanjutan.
Demikianlah skripsi ini disusun, semoga bermanfaat agar dapat memenuhi
syarat dalam mendapatkan gelar Sarjana Perikanan. Saran dan kritik atas skripsi ini
sangat diharapkan demi kebaikan dan kesempurnaan skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku pembimbing skripsi pertama
serta Bapak Ir. Kiagus Abdul Aziz, MSc. selaku pembimbing skripsi kedua atas
bimbingan dan dukungannya kepada penulis.
2. Ibu Dr. Ir. Etty Riani, MS. selaku pembimbing akademik sekaligus dosen
penguji tamu penulis atas segala dukungan dan bimbingannya dalam
menjalankan kegiatan akademik selama di Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
3. Kedua orang tua saya Mama Dorista dan Bapak Fortes John atas segala
dukungan moril dan materil kepada penulis selama kegiatan perkuliahan hingga
penulisan skripsi, serta kepada abang Junjungan dan adik Li Sahn Yang.
4. Dimas Pradika atas dukungan morilnya selama kegiatan perkuliahan di MSP
hingga penulisan skripsi.
5. Teman-teman terdekat saya selama di TPB dan MSP, Nadia Indah PS, Ade Irma
Listiani, Rina Shelvinawati, Nissa Izzani, Fawzan Bhakti Soffa, Rio Putra
Ramadhan, Rendra Danang Saputra dan Nugraha Bagoes Soegesty atas segala
dukungan serta kebersamaan mengahadapi suka dan duka selama di MSP.
6. Teman-teman penelitian MSPi, Rani Y, Fauzia, Rikza, Hilda, Fadilatul, serta
rekan-rekan MSP 45 lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas
dukungan, bantuan dan kebersamaannya selama kegiatan penelitian dan
perkuliahan.
7. Adik-adik kelas angkatan 46 dan 47 yang mendukung penulis dalam
penyelesaiaan penulisan skripsi.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 7 Maret 1990 dan
merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan suami
istri Fortes John Dulles Siboro dan Dorista Gultom. Pendidikan
formal yang telah ditempuh penulis yaitu SDN Pekayon 05 Pagi,
Jakarta Timur (1996-2002). Penulis kemudian melanjutkan
pendidikan formal di SMPN 91, Jakarta Timur (2002-2005) dan
SMAN 99 Cibubur, Jakarta Timur (2005-2008). Pada tahun 2008, penulis
melanjutkan pendidikannya di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur
SNMPTN.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Divisi
Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himasper)
(2009-2010) dan anggota Divisi Advokasi dan Pendidikan Himasper (2010-2011),
serta menjadi panitia di acara seminar nasional Seminar Series Membangun Negara
Maritim . Selain itu, penulis berkesempatan menjadi asisten mata kuliah Dinamika
Populasi (2011-2012), Biologi Perikanan (2011-2012), serta Pengkajian Stok Ikan
(2011-2012).
Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis
melaksanakan penelitian yang berjudul

Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan

Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan
Selat Sunda .

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................

x

DAFTAR GAMBAR....................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................

xii

1.

PENDAHULUAN .................................................................................
1.1 Latar Belakang.................................................................................
1.2 Perumusan Masalah .........................................................................
1.3 Tujuan ..............................................................................................
1.4 Manfaat ............................................................................................

1
1
2
3
4

2.

TINJAUAN PUSTAKA........................................................................
2.1 Ikan Tembang Sardinella fimbriata (Cuvier dan Valenciennes
1847) ................................................................................................
2.2 Sebaran Frekuensi Panjang..............................................................
2.3 Hubungan Panjang dan Bobot .........................................................
2.4 Pertumbuhan ....................................................................................

5

3.

METODE PENELITIAN.....................................................................
3.1 Waktu dan Daerah Penelitian ..........................................................
3.2 Informasi Alat Tangkap ...................................................................
3.3 Pengumpulan Data Primer ...............................................................
3.4 Analisis Data....................................................................................
3.4.1 Sebaran kelompok umur ......................................................
3.4.2 Hubungan panjang dan bobot ..............................................
3.4.3 Pertumbuhan ........................................................................
3.4.3.1 Sebaran frekuensi panjang .....................................
3.4.3.2 Plot Ford Walford ..................................................
3.4.4 Pendugaan umur ikan dengan modus panjang tertentu........

9
9
9
10
11
11
12
13
13
13
14

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................
4.1 Hasil .................................................................................................
4.1.1 Kondisi perikanan tembang di PPP Labuan.........................
4.1.2 Hubungan panjang bobot .....................................................
4.1.3 Pemisahan kelompok umur..................................................
4.2 Pembahasan ..............................................................

Dokumen yang terkait

Kajian Aspek Pertumbuhan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata Cuvier dan Valenciennes 1847) Di Perairan Selat Sunda