Pola komunikasi antar umat beragama (studi komunikasi antarbudaya tionghoa dengan muslim pribumi di rw 04 kelurahan mekarsari tangerang)

POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim
Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi
Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam
(S.Kom. I)

Oleh :
SITI ASIYAH
108051000157

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H / 2013

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudulPOLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi AntarbudayaTionghoadenganMuslim Pribumi di Rw
04 Kelurahan Mekarsari Tangerang),telahdiujikan dalamsidangMunaqasyah
FakultasIlmu Dakwah dan Ilmu KomunikasiUniversitasIslam Negeri (uIN)
Syarif HidayatullahJakarta,29 Januari2013. Skripsi ini telah diterima sebagai
salahsatu syaratuntuk memperolehgelar SarjanaKomunikasiIslam (S.Kom.I)
padaJurusanKomunikasidanPenyiaranIslam.
Jakarta,0 1 Februari20I 3
SidangMunaqasyah

Ketua MerangkapAnggota

,/iv
Ve"*
,-1

/

Sekeretari
s MerangkapAnggota

,')

Drs. Jumroni.M.Si
NIP: 196351il9920031006

N I P :1 9 7 1 0 8 1
Anggota,

19601202199503
I 00I

NIP: 197506062007101001

Pembimbing

Dr. ArmawbtiArbi. M. Si
NIP: 1965020719910322002

POLA KOMUNIKASI

ANTAR UMAT BERAGAMA

(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar SarjanaKomunikasi Islam
(S.Kom.I)

Oleh:
Siti Asiyah
108051000157

DosentpS*'

Dr. Arrnarvhti Arbi. M. Si,

NIP : 1965020719910322002

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434H / 2013

r
SURAT PERNYATAAN
Denganini sayamenyatakan
bahwa:
Skripi ini adalah mumi hasil karya pribadi berdasarkan penelitian yang
dilakukan semua kutipan yang ada dalam skripsi ini disertai dengan
mencantumkan sumbernya.
Skripsi ini mengacu pada pedoman penulisan karya ilmiah yang ditentukan
oleh Univeitas Islm Negeri Hidayatulah Jakarta.
Jika terbukti melakukan plagiat atau kecurangan lainnya, maka penulis
bersedia diberi sanksi sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
universitas.
Demikian surat pernyataanini dibuat dengansebenar-benarnya.

Jakarta,29 Jarruari2013

NIM : 108051000 157

ABSTRAK
Siti Asiyah
Pola Komunikasi Antar Umat Beragama (Studi Komunikasi Antarbudaya
Tionghoa dengan Muslim Pribumi)
Warga Tionghoa
yang tinggal di kelurahan Mekarsari Tangerang
merupakan etnis yang sudah sejak lama hidup berdampingan dengan warga pribumi,
meski dahulu mereka mengalami pendiskriminasian dari kelompok-kelompok
tertentu, akan tetapi mereka masih tetap bertahan hingga saat ini meski hidupnya
selalu berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain dan mereka kini sudah
berakulturasi dengan warga setempat sehingga tercipta hubungan yang harmonis,
namun hal ini tidak terlepas dari hambatan-hambatan yang mengganggu jalannya
proses komunikasi.
Tujuan penelitian ini dilakukan karena untuk mengetahui proses komunikasi
dalam akulturasi, asimilasi dan enkulturasi budaya yang terjadi pada warga Tionghoa
dan Pribumi melalui beberapa variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi,
asimilasi dan enkulturasi.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis melakukan penelitian di
Kelurahan Mekarsari Tangerang tepatnya di RW 04 Desa Sewan Lebak Wangi.
Adapun pertanyaan yang dirumuskan adalah : Bagaimana pola komunikasi dalam
proses akulturasi, yang terjadi antara Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang? Bagaimana pola komunikasi dalam proses asimilasi
yang terjadi antara Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari
Tangerang? Bagaimana pola komunikasi dalam proses enkulturasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan pendekatan kualitatif peneliti melakukan pengumpulan data melalui
wawancara , Focus Group Discussion ke beberapa narasumber yang dianggap tepat
dalam memberikan informasi dan juga dokumentasi, beberapa data yang bersifat
teoritis berupa buku-buku, data-data dari dokumen yang berupa data-data formal,
internet dan sebagainya yang bersangkutan dengan judul, peneliti juga melakukan
observasi dengan mendatangi langsung lingkungan RW 04 Desa Sewan Lebak Wangi
sebagai studi penelitian.
Adapun pola komunikasi yang berlangsung antara etnis Tionghua dengan
muslim pribumi yaitu: pola komunikasi antarpribadi yang yang terjadi dalam sebuah
keluarga dalam hubungannya dengan masyarkat sekitar khususnya ketika mereka
saling bertemu, atau sedang dalam proses jual beli, adapun pola komunikasi
kelompok terjadi ketika kedua pihak tersebut berkumpul dalam musyawarah
pembangunan dan sebagainya. Pada hambatan komuniaksi salah satunya karena
adanya stereotyping yang berkembang dimasyarakat, merasa budayanya paling benar
dan lain sebagainya. Serta untuk faktor pendukungnya ialah mengenali diri sendiri,
menggunakan kode yang sama, jangan terburu-buru, meningkatkan keterampilan
komunikasi dan mengebangkan empati.
i

KATA PENGANTAR
Asslamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, yang telah memerintahkan
umat-Nya dengan nuun wal qolam, Sang Pencipta yang telah memberi
kemampuan umat-Nya untuk selalu berfikir, bergerak dan mengahsilkan karya
yang bermanfaat.
Shalawat dan salam terlimpah curahkan kepada Baginda Nabi
Muhammad SAW yang selalu memberikan petunjuk dan pencerahan bagi
kehidupan, yang telah membawa umatnya minadzulumati ilannur, dan
kesejahteraan semoga selalu tercurahkan kepada keluarga besar beliau, sahabatsahabat-Nya, tabi’in-tabi’utabiin, dan kita sebagai umatnya semoga mendapatkan
syafaatnya kelak. Amin.
Sungguh tak ada dzat yang Maha Dahsyat selain Illahi Rabbi, karena
dengan izin-Nya lah skripsi ini dapat diselesaikan, meski harus diiringi dengan
keringat dan airmata, tapi kekuatan dapat terkumpulkan, dan menjadi karya yang
diharapkan bermanfaat bagi sesama. Hambatan dan rintangan yang ada selama
proses penyusunan skripsi ini juga merupakan sebuah anugrah yang luar biasa
dari-Nya, karena tanpa hambatan dan rintangan mustahil skripsi ini dapat menjadi
skripsi yang layak untuk dipublikasikan.
Tak ada alasan terbesar peneliti menyelesaikan karya ilmiah ini, kecuali
untuk Mengungkapkan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga peneliti
tercinta terutama kepada kedua orang tua ayahanda Nanang dan ibunda Maesaroh
ii

yang telah memberikan dukungannya baik moril maupun materil sehingga peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih emak dan abah atas segala peluh
dan air mata dalam setiap doa yang kalian panjatkan.
Dengan penuh kerendahan hati dan kesadaran diri, peneliti sadar bahwa
skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, sudah sepatutnya
peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan dukungan demi terselesaikan penelitian skripsi ini. Maka peneliti
berterima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Pembantu Dekan Bid. Akademik Drs. Wahidin Saputra, MA,
Pembantu Dekan Bid. Adm. Umum Drs. Mahmud Jalal, M.A, Pembantu
Dekan Bid. Kemahasiswaan Drs. Studi Rizal LK, M.A.
3. Drs. Jumroni, M.Si dan Umi Musyarofah, M.A selaku Ketua Jurusan dan
Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang banyak membantu
penulis.
4. Drs. Cecep Castrawijaya, M.A, Selaku Pembimbing Akademik yang telah
bersedia meluangkan waktunya kepada penulis untuk berdiskusi dan
memberikan saran mengenai judul skripsi.

iii

5. Dr. Armawati Arbi. M.Si, dosen pembimbing yang selalu sabar
membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini,
semoga ilmunya bermanfaat.
6. Para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
mewariskan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan. Semoga ilmu
yang diberikan bermanfaat bagi penulis dan masyarakat serta menjadi amal
sholeh yang akan terus mengalir bagi para dosen.
7. Bapak Cwe Fak Liem dan Ibu Tan Lie Yen (een) yang banyak membantu
penulis dalam mencari informasi ditempat penelitian.
8. Para pegawai perpustakaan baik fakultas maupun Perpustakaan Utama yang
bersedia melayani penulis meminjam buku dengan penuh senyuman dan
keramahan.
9. Kakak-kakakku dan adikku, kak Uchi, kak Sukma, Kak Asep,Teh
Oyenk,Teh Memey ,Teh Engkoy, dan De Nur terima kasih atas segala
dukungan yang luar biasa

yang kalian berikan kepada penulis, tetap

semangat untuk membangun keluarga yang berpendidikan.
10. Keponakanku yang cantik-cantik dan tampan ka Nayya, de Halwa dan aa
Fatih yang selalu memberikan keceriaan dan semangat kepada penulis jika
sedang bosan dan hampir putus asa untuk mengerjakan skripsi ini.

iv

11. Sevi Maulana yang selalu memberikan dukungan kepada penulis, terima
kasih untuk buku-buku yang kau belikan dan laptop yang bersedia engkau
pinjamkan selama penulis belum punya sehingga penulis tetap semangat
dalam menyusun skripsi ini.
12. Kak Ali Akbar yang selalu memberikan pesan positif setiap harinya kepada
penulis.
13. Teman-teman KPI E Multitalenta dan Angakatan 2008 yang telah menjadi
teman seperjuangan selama masa perkuliahan, Anna, Billy, Deniza, Nia,
Nadia, Farhah dan Rini ,Tetap semangat dan salam sukses.
14. Kawan-kawan KKN TIME kelompok 22 2011, Mario Haliandar ketua yang
OK, Riris Agustya, Retno Suci Ningsih, Muhammad Ikhwan, Uwaisul
Firdaus, Laily Qudsiyah, Hendrik Permana, Ilham Muttaqin, Agus, Syifa
Fauziah, Mama Shika, dan Hananah, Rini, Farhah, Nia, dan Anna. Sukses
untuk kita semua.
15. Sahabat-sahabatku satu kostan Assalam Dede, Fartiah, Ama, Indah dan
Nana yang selalu menyemangati peneliti dan selalu bisa membuat penulis
tersenyum dan tertawa meski dalam keadaan stress tingkat tinggi.
16. Last but not Least

semua pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Jakarta, 29 Januari 2013
Siti Asiyah
v

DAFTAR ISI
ABSTRAK .................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ...................................................................................................... viii

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ............................................ 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................... 6
D. Tinjauan Pustaka ............................................................................ 7
E. Kerangka Konsep ........................................................................... 10
F. Metodologi Penelitian .................................................................... 11
G. SistematikaPenulisan ..................................................................... 16

BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Dakwah Kultural ............................................................................ 18
B. Komunikasi Antarbudaya Sebagai Fenomena Sosial .................... 21
1. Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya ............................ 24
2. Unsur-unsur Budaya/Pola Budaya ........................................... 26
3. Akulturai, Asimilasi, dan Enkulturasi ...................................... 30
4. Derajat Perbedaan dan Derajat Kesamaan ............................... 35
5. Problem Potensial/Hambatan Komunikasi Antarbudaya......... 38
6. Faktor Pendukung Solusi dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
.................................................................................................. 42
C. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa di Inonesia .................................. 44
D. Pola Komunikasi ............................................................................ 47

vi

BAB III

PROFIL

MASYARAKAT

KELURAHAN

MEKARSARI

TANGERANG
A. Gambaran Umum Kelurahan Mekarsari Tangerang................................ 59
1. Kependudukan ............................................................................... 59
2. Agama dan Kepercayaan ............................................................... 53
3. Mata Pencaharian ........................................................................... 54
4. Pendidikan...................................................................................... 56
B. Sejarah Singkat Etnis Tionghua di Tangerang ....................................... 57
1. Etnis Tionghoa di Tangerang ............................................................ 57
2. Klenteng/ Vihara Tjong Tek Bio ....................................................... 59

BAB IV

POLA KOMUNIKASI ETNIS TIONGHOA DENGAN MUSLIM
PRIBUMI DI RW 04 KELURAHAN MEKARSARI TANGERANG

A. Pola Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Akulturasi, Asimilasi dan
Enkulturasi ..................................................................................... 62
1. Pola Komunikasi dalam Proses Akulturasi .............................. 62
2. Pola Komunikasi dalam Proses Asimilasi ............................... 73
3. Pola Komunikasi dalam Proses Enkulturasi ............................ 74
B. Hambatan Komunikasi dalam Pola Komunikasi Antarbudaya ..... 75
C. Faktor Pendukung dalam Pola Komunikasi Antarbudaya ............. 79

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 88
B. Saran-saran ..................................................................................... 90

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 92
LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL
Tabel 1

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin………………………….......50

Table 2

Jumlah Penduduk Menurut Usia Kelompok Pendidikan……...……......51

Table 3

Jumlah Penduduk Menurut Usia Kelompok Kerja………………...…...52

Tabel 4

Penganut Agama/ Kepercayaan Masyarakat Kelurahan Mekarsari.........53

Tabel 5

Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Mekarsari……………….......55

Tabel 6

Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan Mekarsari……………........57

Tabel 7

Dielek atau pengucapan bahasa sehari-hari…………………..……........68

Tabel 8

Rangkuman dari Hasil Proses Akulturasi, Asimilasi, dan Enkulturasi....85

viii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah prilaku. Sehubungan
dengan kenyataan bahwa komunikasi adalah suatu yang tidak bisa dipisahkan dari
aktivitas seorang manusia. Dalam komunikasi dikenal dengan pola-pola tertentu
sebagai manifestasi prilaku manusia dalam berkomunikasi. Ditinjau dari pola
yang dilakukan ada beberapa jenis yang dikomunikasikan. Beberapa sarjana
Amerika membagi pola komunikasi menjadi lima, yakni komunikasi antarpribadi,
komunikasi kelompok kecil, komunikasi massa dan komunikasi publik. Istilah
pola komunikasi biasa disebut sebagai model, yaitu sistem yang terdiri dari atas
berbagai komponen yang berhubungan satu sama lainnya untuk mendapatkan
tujuan secara bersama, Joseph A. Devito membagi pola komunikasi menjadi
empat yakni komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi
publik, dan komunikasi massa.1
Budaya bangsa Indonesia merupakan Negara yang mempunyai
keragaman budaya, hal tersebut tercermin dalam semboyan Negara yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Karenanya
Indonesia adalah Negara kompleks karena memiliki perbedaan budaya dan di
Indonesia golongan etnis meliputi etnis asli dan etnis keturunan. Etnis turunan
tidak hanya dikenakan kepada orang peranakan melainkan juga orang asing yang
1

Nurudin. Sistem Komunikasi Indonesia, ( Jakarta, PT Grafindo Persada : 2007) Hal.

26-28.

1

2

sepenuhnya asing tanpa nenek moyang pribumi.2 Adapun golongan etnis
keturunan ialah etnis yang sudah mengalami percampuran dengan nenek moyang
pribumi yaitu dengan melakukan pernikahan dengan nenek moyang pribumi.
Adapun etnis keturunan di Indonesia di antaranya keurunan Cina, Arab, India,
Pakistan dan sebagainya.
Manusia merupakan makhluk sosial akan selalu berinteraksi dengan
lingkungannya, karena bagaimanapun manusia saling membutuhkan satu sama
lain guna memenuhi kebutuhan hidup. Karenanya manusia

tidak luput dari

aktivitas komunikasi baik antarpribadi maupun kelompok dengan berbagai latar
perbedaan budaya.
Hubungan individu atau kelompok dari lingkungan kebudayaan yang
berbeda akan mempengaruhi pola komunikasi, karena perbedaan budaya memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda.3 Sehingga kerap kali menemui hambatan-hambatan seperti bahasa,
norma dan adat suatu kelompok masyarakat tertentu yang menjadikanya pedoman
oleh mereka dalam bersikap dan berinteraksi, karenanya akan banyak perbedaan
yang muncul, dan perbedaan tersebut jika tidak dipahami dengan baik akan
menjadi kendala dalam proses komunikasi, dan juga dapat menimbulkan konflik
yang mengarah pada perpecahan dan berpengaruh pada keutuhan Negara. Hal
tersebut tentunya sangat tidak sesuai dengan landasan ideal Panca Sila yaitu sila

2

Bambang Prabowo, dkk. Stereotip Etnik, Asimilasi Integrasi Sosial, (Jakarta: PT
Pustaka Grafika, 1988),h. 172
3
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya,2005). H. vii

3

ke-3”Persatuan Indonesia”.4 Hal tersebut tentunya disebabkan oleh banyak faktor,
tetapi salah satu faktornya adalah adanya perbedaan-perbedaan budaya. Dengan
demikian, komunikasi dalam sebuah hubungan yang multi etnis perlu dilakukan,
sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Dalam
masyarakat akan terwujud sebuah kesadaran sebagai satu komunitas yang berada
dalam satu wilayah Negara Indonesia, serta dapat saling menerima dan
menghormati perbedaan-perbedaan tersebut.
Melihat peran komunikasi yang begitu penting dalam menciptakan
hubungan harmonis yang multi etnis dan penuh perbedaan budaya, maka penulis
tertarik untuk lebih jauh mengkajinya dalam ruang lingkup komunikasi
antarbudaya. Untuk itu penulis akan meneliti sebuah pola komunikasi yang terjadi
pada golongan etnis Tionghua dengan etnis asli Indonesia atau masyarakat
pribumi.
Adapun penelitian ini dilakukan pada etnis Tionghua di Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang, kelurahan ini letaknya tidak jauh dari
Bandara Soekarno-Hatta. Etnis Tionghua di Indonesia termasuk golongan yang
minoritas, dimana mereka pada dasarnya memiliki pola kebudayaan yang berakar
dari negeri Cina yang berbeda dengan pola kebudayaan masyarakat muslim
pribumi, namun hampir semua etnis Tionghua di Indonesia saat ini sudah
dilahirkan dan hidup berdampingan sejak lama di Indonesia sehingga secara
langsung terjalin hubungan komunikasi antara Tionghoa dengan masyarakat
pribumi.
4

2003), h.i

Departemen Agama, Konflik Etno Religius Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Litbang,

4

Begitupun dengan keturunan Tionghua yang berada di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang yang biasa disebut dengan Cina
Benteng ini terlihat adanya hubungan komunikasi dengan masyarakat pribumi
didaerah tersebut, keadaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya perkawinan, kepercayaan dan perdagangan yang dilakukan oleh
kedua belah pihak tersebut yakni Tionghua dan Pribumi.
Hubungan komunikasi yang akan timbul antara Tionghua yang
mempunyai pola kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Pribumi ialah
hubungan komunikasi antarbudaya yaitu sebuah hubungan komunikasi yang
dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya di Tangerang, dimana orang yang terlibat
dalam komunikasi memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Karenanya budaya mempunyai timbal balik dengan komunikasi, seperti
dua sisi dari satu mata uang, yang mana budaya menjadi bagian dari prilaku
komunikasi dan pada gilirannya komunikasipun turut menentukan, memelihara,
mengembangkan, atau mewariskannya.5
Adanya hubungan komunikasi yang terjalin antara Tionghoa dengan
masyarakat pribumi mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui gambaran
secara jelas mengenai pola komunikasi, penggunaan bahasa, prasangka dan
stereotip yang tumbuh dalam hubungan yang terjadi serta melihat berbagai bentuk
kegiatan yang menunjang terbentuknya hubungan tersebut. Untuk itu penulis akan
menyusun penelitian ini dalam bentuk skripsi dengan judul

5

Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, h. vi

5

“POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw
04 Kelurahan Mekarsari Tangerang)”
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dalam penelitian ini penulis mengidentifikasi masalah yaitu ingin
menggambarkan secara jelas mengenai pola komunikasi yang terjadi antara etnis
Tionghoa dengan masyarakat muslim pribumi yang terjadi di lingkungan Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang atau biasa disebut dengan Cina Benteng, serta
menghubungkannya

dalam

berbagai

konteks

kegiatan

seperti

ekonomi,

perkawinan, dan keagamaan, penggunaan bahasa, prasangka dan stereotip.
2. Pembatasan Masalah
Melihat luasnya pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan
yang akan penulis teliti, agar lebih terfokus dan efektif dalam penelitian ini
penulis membatasi beberapa masalah terkait dengan penelitian. Pertama terkait
dengan masalah tempat penelitian penulis membatasi wilayah atau tempat yang
menjadi objek penelitian yakni hanya terfokus pada lingkungan Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang. Data yang penulis temukan memiliki
jumlah penduduk etnis Tionghua yang paling banyak bermukim yaitu sekitar 350
kepala keluarga. Selain itu penulis juga membatasi siapa orang yang tepat untuk
menjadi informan dalam penelitian ini yaitu kepala keluarga dari pasangan suami
istri Tionghoa dan muslim Pribumi. Akan tetapi jika tidak ada maka bisa juga
dilakukan kepada keluarga yang lain seperti ibu dan anak.

6

Kedua terkait dengan masalah bentuk pola komunikasi yang akan
penulis teliti terbatas hanya dalam bentuk komunikasi antarpribadi dan kelompok
secara langsung tanpa media massa sebagai sarana komunikasi.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
Bagaimana pola komunikasi antarbudaya yang terjadi antara Tionghoa dengan
Muslim Pribumi di RW 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
Berdasarkan masalah diatas maka yang menjadi pertanyaan turunan adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana pola komunikasi dalam proses akulturasi, yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
2. Bagaimana pola komunikasi dalam proses asimilasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
3. Bagaimana pola komunikasi dalam proses enkulturasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pola komunikasi dalam proses akulturasi yang terjadi
antara masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang.

7

b. Untuk mengetahui

pola komunikasi dalam proses asimilasi antara

masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang.
c. Untuk mengetahui pola komunikasi dalam proses enkulturasi antara
masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 kelurahan
Mekarsari tangerang.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu dakwah dan ilmu
komunikasi melalui konsep komunikasi antarbudaya dan metode penelitian
kualitatif.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada masyarakat
dan akademisi ilmuan komunikasi dan penyiaran islam untuk dapat mencegah
konflik, akibat kesalahpahaman cara pandang dalam memahami dan menafsirkan
sebuah pesan yang digunakan oleh komunikator yang berbeda budaya.
D. Tinjauan Pustaka
1. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, peneliti juga mengadakan tinjauan pustaka. Dengan
mengadakan tinjauan perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Peneliti melakukan
tinjauan pustaka ini guna memastikan apakah ada judul atau tema yang sama
dengan penelitian ini.

8

Berdasarkan hasil penelusuran peneliti, peneliti menemukan beberapa
skripsi yaitu:
a.

Ahmad Syukri menulis Komunikasi antarbudaya : Studi pada pola
komunikasi masyarakat suku Betawi dengan Madura dikelurahn Condet
Batu Ampar.
Menemukan bahwa pola komunikasi yang terjadi antara kedua budaya
tersebut lebih banyak menggunakan pola komunikasi antar pribadi dan
kelompok, dalam kegiatan komunikasi sehari, sedangkan komunikasi
kelompok digunakan jika ada acra-acara tertentu saja.
Adapun perbedaan skripsi yang di tulis oleh Ahmad dan peneliti ialah
tentu saja terletak pada objek penelitiannya yaitu objek penelitian yang
peneliti tulis tentu saja etnis Tionghua dan masyaraat muslim pribumi
di kelurahan Mekarsari Tangerang. Sedangkan persamaannya ialah
terletak pada subjek serta metedologi penelitiannya yaitu subyeknya
ialah

pola

komunikasi

antarbudaya

sedangkan

metodologinya

menggunakan pendekatan kualitatif.6
b.

Ali Abdul Rodzik menulis Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghua
:Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong di
Perkampungan

Budaya

Betawi,

Kelurahan

Srengseng

Sawah.

Menemukan bahwa adanya akulturasi budaya betawi dengan tionghua
dalam kesenian gamang kromong yang sudah tercipta sejak
6

Ahmad Syukri, Komunikasi Antarbudaya : Studi pada Pola Komunikasi Masyarakat
Suku Betawi dengan Madura diKelurahan Condet Batu Ampar, KPI, UIN Jakarta, 2006.

9

dahulu,hingga saat ini dan menjadi budanyanya etnik betawi. Dalam
proses akulturasi tersebut komunikasi pribadi terjadi pada saat orangorang tionghua mengadu nasib ke batavia dalam kurun waktu yang
lama, mereka mempelajari pola-pola relasi, aturan,aturan dan sistemsistem komunikasi orang-orang betawi. hal ini membuktikan bahwa
dua kebudayaan yang hidup berdampingan dalam satu wilayah tidak
selamanya menimbulkan konflik yang berkepenjangan bahkan dua
kebudayaan yang berbeda dapat disatupadukan menjadi kebudayaan
yang baru.
Perbedaan antara skripsi yang di tulis oleh Abdul Rodzik dengan skripsi
yang peneliti tulis ialah sangat jelas yaitu terletak pada subjek serta
objek penelitiannya, sedangkan persamaannya ialah terletak pada
metodologi penelitiannya yaitu sama-sama menggunakan pendekatan
kualitatif.7
c.

Pipit Pitriani menulis Akulturasi Budaya antara Tradisi Sunda Wiwitan
dengan Islam dalam Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang,
Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, menemukan bahwa
ada tiga bentuk wajah

tradisi sesajen di desa Narimbang, pertama

adanya bentuk peneguhan tradisi kedua adanya bentuk akulturasi dan
ketiga adanya bentuk islamisasi,

7

Ali Abdul Rodzik, Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghua : Studi Komunikasi
Antar budaya pada Kesenian Gambang Kromong diPerkmpungn Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah KPI UIN Jakarta,2008.

10

Dari hasil pengamatan pada skripsi yang ditulis oleh Pipit Pitriani ini
tidak jauh bebeda dengan penelitian yang sebelumnya yaitu
perbedaannya ialah terletak pada subjek dan objek penelitiannya
sedangkan persamaannya adalah terletak peda metodologi
penelitiannya.8
E. Kerangka Konsep
Bagan-1
Pola Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghua dengan
Muslim Pribumi diKelurahan Mekarsari Tangerang
TIGA DIMENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

TINGKAT KOMUNIKATOR
1. Komunikasi Interpersonal
2. Komunikasi Antarpribadi
3. Komunikasi Komunitas
4. Komunikasi Organisasi
5. Komunikasi Massa
6. Komunikasi Politik
7. Komunikasi Internasional
8. Komuniakasi Antarbudaya

Akulturasi,
Asimilasi,
dan Enkulturasi
F. Metodologi
Penelitian

8

KONTEKS
1. Pendidikan
2. Keagamaan
3. Ekonomi
4. Bahasa
5. Kesenian
6. Budaya
7. Politik

SALURAN
1. Media
2. Nonmedia

Problem potensial KAB + Solusi KAB
(Penghambat)
(Pendukung)

Pipit Pitriani, Akulturasi Budaya antara Tradisi Sunda Wiwitan dengan Islam dalam
Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, KPI,
UIN Jakarta, 2010.

11

F. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang digunakan untuk
mendekati masalah dan mencari jawaban. Dengan ungkapan lain metodologi
adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi
dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk
melakukan penelitian, sementara perspektif itu sendiri adalah suatu kerangka
penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan
menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain.9
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan format penelitian deskriptif
analisis, dimana data-data yang telah diperoleh dideskripsikan terlebih dahulu dan
kemudian dianalisis. Hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini
tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi. Metode deskriptif ialah menitik beratkan pada observasi dan suasana
alamiah (naturalistis setting). Dengan suasana alamiah dimaksudkan bahwa
peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha untuk memanipulasi variabel.10
2. Subjek Penelitian
Dalam riset ilmu sosial, hal yang penting adalah menentukan sesuatu
yang berkaitan dengan apa atau siapa yang ditelaah.11 Dalam penelitian ini yang
menjadi subjek penelitian ini ialah warga Thionghoa dan masyarakat muslim

9

Deddy Mulyana. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi
dan Ilmu Sosial Lainnya,(Bandung; Remaja Rosdakarya. 2006) cet, ke-5, hlm.145.
10
Jalaluddin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi di lengkapi Contoh Statistik,
(Bandung, Remaja Rosda karya 2000), h.24-25.
11
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rajawali Pers, 2001)
hl.66.

12

pribumi yang tinggal di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari Kota
Tangerang di Lingkungan RW 04. Adapun warganya ialah keluarga generasi tua
ialah keluarga bapak Cuan Young (90/1947) dan keluarga bapak Suhadi
(85/1949), generasi sedang ialah keluarga ibu Tan Lie Yen (46/1990), dan
generasi muda atau generasi zaman modern yaitu keluarga ibu Vanline vanianto
(20/2010).
3. Objek Penelitian
Adapun yang menjadi objek penelitian ialah pola komunikasi yang
terjadi pada etnis tionghoa dan masyarakat muslim pribumi dalam kajian
komunikasi antarbudaya yang berdasarkan pada konteks-konteks tertentu.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, penulis terlebih dahulu mengadakan
pratinjau sebelum penelitian. Peninjauan sebelum penelitian dilakukan pada
Januari-Februari 2012, sepanjang itu penulis melihat dan mengenali lingkungan
serta mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat. Adapun proses penelitianya
dilakukan pada 25 Maret – 30 Juni 2012 dan penelitian lanjutan dilakukan pada
06 November - 06 Desember 2012 dan 28 Desember 2012 – 10 Januari 2013.
Adapun tempat yang dijadikan objek dalam penelitian ini ialah di
Kelurahan Mekarsari Kabupaten Tangerang tepatnya dilingkungan Rw 04.
a.

Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi atau pengamatan langsung merupakan metode pertama

yang digunakan dalam penelitian, dan merupakan alat pengumpulan data yang

13

dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung gejala yang
diselidiki.12
Obserrvasi ini dilakukan dengan mendatangi daerah tersebut untuk
menentukan lokasi yang tepat untuk dijadikan tempat peneliatian, kemudian
penulis melihat, mendengar dan merasakan gejala-gejala komunikasi yang terjadi
dilingkungan Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang.
2.

Wawancara Mendalam
Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan melakukan proses tanya

jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, yang dilakukan dua orang
atau lebih dengan bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasiinformasi. Adapun wawancara mendalam dilakukan dengan beberapa warga
Kelurahan Mekarsari tepatnya dilingkungan RW 04.
3.

Dokumentasi
Berkaitan dengan data dokumentasi yang akan penulis gunakan dalam

penelitian ini adalah berupa buku gambaran demografi dan monografi serta
catatan kependudukan masyarakat Kelurahan Mekarsari khususnya lingkungan
Rw 04.
4.

Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah sebuah teknik pengumpulan

data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan
menemukan makna sebuah tema pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini
digunakan untuk mengungkap pemaknaan suatu kelompok berdasarkan hasil
12

Antonius Birowo, Metode Penelitian Komunikasi (Teori Aplikasi), (Yogyakarta:
Gintanyali, 2004),h,70.

14

diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan
untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus
masalah yang sedang diteliti.13 Irwanto menyebutkan bahwa FGD mempunyai
tiga ciri utama yaitu diskusi, kelompok dan terfokus.

14

peserta FGD biasanya

terdiri dari 6-12 orang peserta.
Focus Group Discussion ini digunakan oleh peneliti untuk
memperkuat data yang telah ditemukan sebelumnya baik melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi. Dalam menentukan informan penulis menggunakan
metode key person15 yaitu orang yang dianggap lebih mengetahui tentang objek
penelitian yang akan diteliti, dalam hal ini yang dijadikan key person oleh peneliti
ialah bapak RW 04 Kelurahan Mekasari Tangerang.
Focus group discussion

dilaksanankan di vihara Tjong Tek Bio

setelah acara pembentukan panitia pada peryaan imlek yang jatuh pada bulan
Februari mendatang, FGD ini berlangsung tertutup dengan diikuti oleh delapan
orang peserta dengan empat orang warga keturunan tionghua yang beragama
budha dan empat orang lagi warga pribumi, yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan
4 orang perempuan. FGD ini berlangsung dari pukul 14.00-16.00 dengan posisi
duduk melingkar dengan menggunakan kursi yang telah disediakan tuan rumah.
FGD ini dipandu oleh penulis sebagai modertor dan dibantu oleh seorang notulis.

13

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif,( Jakarta : Kencana, 2010). h, 223-224.
Irwanto, Focused Group Discussion: Sebuah Pengantar Praktis (Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 1.
15
Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta :Kencana, 2010), H. 77.
14

15

b.

Prosedur Pengumpulan Data
Bagan-2
Lingkaran Prosedur
Pengumpulan Data (a data collection circle) 16

Sumber: Arikunto (Prosedur Penelitian: Suatu Pendetan Praktek, 2002, h. 133)

Model lingkaran pengumpulan data dari Creswell tersebut diatas
mengandung pemahaman bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan tidak bisa
terpisah melakukan satu sama lain saling terhubung dan menjadi kesatuan utuh
prosedur. Titik permulaan prosedur dalam pandangan Creswell adalah penentuan
tempat atau individu.
Penulisan skripsi ini berdasarkan pedoman Ceqda yang diterbitkan
oleh Universitas Islam Negeri Hidayatulah Jakarta.

16

Suharsimi Arinto, Prosedur Penelitan: Suatu Pendektan Praktek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2002), cet-5,h. 133).

16

c. Analisis Data
Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur uraian data.
Mengorganisasikannya kedalam pola, kategori, dan satu uraian dasar.17
Data yang terkumpul dalam wawancara mendalam dan dokumendokumen diklasifikasikan kedalam kategori-kategori tertentu.18
Dalam analisis data yang telah terkumpul kemudian dianalisis, peneliti
melakukan dengan analisis deskriptif interpretatif, yaitu dengan menganalisis
setiap data atau fakta yang ditemukan lebih dekat, mendalam, mengakar, dan
menyeluruh.
G. Sistematika Penulisan
Agar penelitian ini lebih sistematis sehingga tampak adanya gambaran
yang terarah, logis dan saling berhubungan antara satu bab dengan bab
berikutnya, maka penelitian ini disusun kedalam lima bagian yaitu:
Bab I merupakan bab pendahuluan yang membahas latar belakang
masalah, pembatasan dan Perumusan Masalah, Tinjauan dan Manfaat Penelitian,
Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.
Dilanjutkan dengan bab II berisikan tentang pola komunikasi
antarbudaya, komunikasi antarbudaya menjelaskan pengertian kebudayaan, dan
komunikasi antarbudaya.
Bab III bab ini berisi tentang gambaran umum masyarakat kelurahan
mekarsari kecamatan Neglasari kota Tangerang, yaitu membahas gambaran

17

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya,

18

Rachmat Kriyatono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2007),

1993),h 103.
h. 193.

17

masyarakat yang dilihat dari beberapa keadaan yaitu: demografi penduduk dan
monografi yang meliputi letak daerah, kegiatan ekonomi, pendidikan, mata
pencaharian dan keagamaan.
Bab IV bab ini akan memaparkan hasil penelitian variable, yaitu pola
komunikasi antarpribadi dan antarkelompok etnis Tionghua dengan masyarakat
muslim pribumi. Bab V bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Dakwah Kultural
Dakwah kultural adalah aktifitas dakwah yang menekankan pendekatan
Islam kultural. Islam kultural satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali
kaitan doktrin yang formal antara islam politik atau islam dan negara.1
Islam kultural demikian pula dakwah kultural memiliki peran sangat
penting bagi kontinuitas misi islam dimuka bumi, suatu peran yang tidak di warisi
Islam Politik atau islam struktural yang hanya mengajar kekuasaan yang instan,
karena selamanya islam kultural harus tetap eksis hingga akhir zaman.2
Menurut Kuntowijoyo, setidaknya ada lima program kultural, yaitu
menggembalikan dan mengembangkan, pertama, tradisi rasional, kedua, tradisi
egalitarian, ketiga, tradisi berbudaya, keempat, tradisi ilmiah,dan kelima, tradisi
kosmopolitan.3
Dakwah memasukkan aktivitas penyiaran (tabligh), pendidikan dan
pengembangan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai islam, baik untuk mad’u
muslim maupun nonmuslim. Untuk muslim dakwah berfungsi sebagai proses
peningkatan kualitas penerapan ajaran agama islam sedang untuk nonmuslim
fungsi dakwah minimal adalah memperkenalkan dan mengajak mereka agar

1

Drs. Samsul Munir Amin, M.A. Ilmu Dakwah ,(Amzah, Jakarta, 2009), h. 161.
Ibid.h. 162.
3
Ibid. h.163.
2

18

19

memeluk ajaran islam secara sukarela. Penerimaan sukarela bagi mad’u
nonmuslim ini menjadi tekanan serius, seperti ditunjukkan

oleh Rasulallah

sendiri ketika membiarkan orang-orang kristen yang tidak menerima dakwah
untuk tetap memeluk agamanya.4
Dalam pengertian pengembangan masyarakat muslim, dakwah antara
lain berbentuk peningkatan kesejahteraan sosial. Bagi umat islam, ide
pengembangan masyarakat sebagai bagian dari cakupan dakwah adalah bukan ide
yang dimasukkan begitu saja dalam dakwah. Ia adalah pemunculan kembali apa
yang sebenarnya ditunjukkan oleh istilah dakwah yang pernah tertutup oleh
dominasi aktivisme dakwah struktural.
Dakwah kultural memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi keatas dan
fungsi kebawah. Fungsi dakwah kultural kelapisan atas antara lain adalah
tindakan dakwah mengartikulasikan aspirasi rakyat (umat islam) terhadap
kekuasaan. Fungsi ini dijalankan karena rakyat tidak mampu mengekspresikan
aspirasi mereka sendiri dan karena ketidakmampuan parlemen untuk sepenuhnya
mengaartikulasikan aspirasi rakyat. Akan tetapi dakwah kultural jenis ini tetap
menekankan posisinya diluar kekuasaan yaitu tidak bermaksud mendirikan agama
Islam dan tidak menekankan pada islamisasi negara dan birokrasi pemerintah.
Selain itu fungsi - fungsi dakwah kultural ke lapisan atas ini adalah mempelajari
berbagai kecenderungan masyarakat yang sedang berubah kearah modernindustrial sebagai langkah strategis dalam mengantisipasi perubahan sosial yang
ada.
4

Ibid,h. 164.

20

Fungsi dakwah kultural lapisan kebawah berarti penyelenggaraan
dakwah dalam bentuk penerjemahan ide-ide intelektual tingkat atas bagi umat
islam serta rakyat pada umumnya untuk membawakan transformasi sosial, dengan
mentransformasikan ide-ide tersebut kedalam konsep operasional yang dapat
dikerjakan oleh umat. Hal yang utama dalam fungsi ini adalah penerjemahan
sumber-sumber agama (al-qur’an dan sunnah) sebagai way of life. Hal tersebut
bukan hanya memformulasikan dalam istilah teologi islam, tetapi dalam konsepkonsep sosial yang lebih operasional juga. Fungsi dakwah kultural ini bernialai
praktis dan mengambil bentuk utama dakwah bil hal, yaitu dakwah yang terutama
ditekankan kepada perubahan dan perbaikan kehidupan masyarakat yang miskin.
Dengan perbaikan tersebut, diharapkan prilaku yang cenderung kearah kekufuran
dapat dicegah.5
Di Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki berbagai macam
etnis, ras dan agama, untuk itu Indonesia memiliki semboyan kebanggaan yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda- beda tetapi tetap satu. Seperti yang
telah ada dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi:

5

Ibid, h. 165-166.

21

Artinya :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. AlMaidah : 13).6
Berdasarkan ayat Al-Qur’an diatas bahwa agama islam sendiri
mengakui adanya perbedaan tersebut, namun meski berbeda ras, etnik, budaya dan
keyakinan haruslah saling tolong menolong dan menjunjung nilai toleransi yang
tinggi.
B. Komunikasi Antarbudaya Sebagai Fenomena Sosial
Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah, yaitu bentuk
jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.7
Menurut Yanto Subianto: kebudayaan adalah hasil karya, rasa dan cipta
manusia dalam masyarakat, karya adalah hasil usaha manusia dalam bentuk yang
terwujud dan kongkret dengan cara penggunaan budaya seperti halnya teknologi
yang termasuk kebudayaan kebendaan “Material Culture”. Rasa meliputi jiwa
manusia mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-niai kemasyarakatan dalam
arti yang luas, didalamnya terdapat agama, idiologi, kesenian, dan lain-lain.
Adapun unsur-unsur tersebut merupakan ekspresi dari jiwa manusia yang hidup
sebagai anggota masyarakat, dan pembagian unsur rasa itu termasuk kedalam
kebudayaan “Immaterial Culture”. Terakhir adalah unsur cipta merupakan

6
7

Al-Qur’anul Karim Surat Al-Hujarat ayat 13.
Koetjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 181.

22

berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan salah satunya mengahsilkan
filsafat serta ilmu pengetahuan baik yang bersifat murni maupun terapan yang
nantinya diterapkan daam kehidupan bermasyarakat.8
Sedangkan definisi komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan
pesan yang dilakukan seorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang
keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek
tertentu.9
Adapun unsur-unsur dari komunikasi antar budaya ialah terdiri dari
sumber , pesan, media, penerima, efek, dan feedback. Hal tersebut sejalan dengan
definisi komunikasi yang dirumuskan oleh Harold D.Lasswell yaitu Who Says
What In Which Channel To Whom With What Effect yang artinya siapa
mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan apa pengaruhnya. Demikian
pula dengan unsur komunikasi yang diformulasi oleh David K. Berlo dikenal
dengan SMCR, yakni Source, Message, Channel, dan Receiver.10
Dalam proses komunikasi tidak lepas dari hambatan-hambatan yang
dapat menghalangi terjadinya komunikasi secara efektif. Dalam buku Pengantar
Ilmu Komunikasi yang ditulis oleh Cangara, disebutkan tujuh macam hambatan
komunikasi. Yaitu: Gangguan teknis, gangguan semantik, gangguan psikologis,
rintangan fisik, status, kerangka berfikir dan budaya.

8

Yanto Subianto S, Soal-jawab sosiologi, (Bandung: Armico,1980),h.41.

9

Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001),

10

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2007),h.

h. 9.
23.

23

Pertama, gangguan teknis adalah gangguan yang terjadi pada saluran
atau media komunikasi.
Kedua, gangguan semantik merupakan gangguan yang disebabkan oleh
penggunaan bahasa yang kurang tepat, perbedaan bahasa dan latar belakang
budaya atau kalimat yang tidak sistematis sehingga dapat membingungkan lawan
bicara dan sebagainya.
Ketiga, gangguan psikologis ialah gangguan yang terjadi karena masalah
dalam diri individu.
Keempat, rintangan fisik bisa berupa perbedaan letak geografis antara
komunikan dengan komunikator, ditambah lagi dengan sulitnya mendapatkan
akses media komunikasi. Selain perbedaan letak geografis, rintangan fisik juga
bisa diartikan adanya ketidaknormalan pada panca indera komunikan, seperti
kurangnya daya pendengaran atau penglihatan.
Kelima, rintangan status adalah rintangan yang terbentuk karena adanya
perbedaan status antara komunikator dengan komunikan.
Keenam, rintangan kerangka berfikir ini terjadi karena adanya perbedaan
cara pandang diantara pelaku komunikasi. Perbedaan cara pandang atau persepsi
terhadap sesuatu hal tak jarang mengambat proses komunikasi dan menimbulkan
konflik.
Ketujuh, rintangan budaya adalah rintangan berupa perbedaan sistem
nilai, adat dan kebiasaan komunikator dengan komunikan.11

11

Ibid, h. 153-155

24

1.Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya
Dalam

mencari

kejelasan

dan

mengintegrasi

berbagai

konsep

kebudayaan dalam komunikasi antarbudaya, terdapat tiga dimensi yang perlu
diperhatikan, yaitu:
a. Tingkat Masyarakat kelompok budaya dari para partisipan, dalam
komunikasi antarbudaya merujuk pada bermacam tingkatan lingkup dan
kompleksitas organisasi sosial.
b. Konteks Sosial dimana terjadinya proses komunikasi antarbudaya,
dalam komunikasi antarbudaya merujuk pada konteks sosial komunikasi
antarbudaya yang meliputi organisasi, pendidikan, akulturasi imigran,
difusi inovasi, dan lain sebagainya.
c.

Saluran

komunikasi,

Saluran

tersebut

dibagi

atas

saluran

antarpribadi/perorangan dan media massa. Bersama dengan dua dimensi
sebelumnya, dimensi ketiga ini mempengaruhi proses dari hasil
keseluruhan proses komunikasi antarbudaya. Ketiga dimensi ini dapat
digunakan secara terpisah maupun bersamaan.

25

Adapun model komunikasi antarbudaya adalah sebagai berikut:
Peraga 1
MODEL KOMUNIKASI ANTARBUDAYA12
Strategi komunikasi
yang akomodatif

Efektif

C
Kebudayaan

Kepribadian

Kebudayaan

A

percakapan

B

menerima
Persepsi terhadap
relasi antarpribadi

Adaftif

Kepribadian
Persepsi terhadap
relasi antarpribadi

Perbedaan
- Ketidakpastian
- Kecemasan

Gambar diatas menunjukkan A dan B merupakan dua orang yang
berbeda latar belakang kebudayaan karena itu memiliki pula perbedaan
kepribadian dan persepsi mereka terhadap antarpribadi. Ketika A dengan B
beercakap-cakap itulah yang disebut komunikasi antarbudaya karena dua pihak
“menerima” perbedaan diantara mereka sehingga bermanfaat untuk menurunkan
tingkat ketidakpastian dan kecemasan dapat menjadi motivasi bagi stategi
komunikasi yang bersifat akomodatif. Strategi tersebut juga dihasilkan oleh
karena terbentuknya sebuah kebudayaan baru (C) yang secara psikologis
menyenangkan kedua orang itu. Hasilnya adalah komunikasi yang besifat adaftif

12

Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya . h. 32.

26

yakni A dan B saling menyesuaikan diri dan akibatnya menghasilkan komunikasi
antarpribadi-antarbudaya yang efektif.
2. Unsur-unsur Budaya/Pola Budaya
Dalam Iiya Sunarwinadi,Komunikasi Antarbudaya, Samovar et.al.
(1981 :38-48) membagi berbagai aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian
besar unsur-unsur sosial budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi
penciptaan makna untuk persepsi, yang selanjutnya menentukan tingkah laku
komunikasi. Dalam komunkasi antarbudaya unsur-unsur yang sangat menentukan
ini bekerja dan berfungsi secara terpadu bersama-sama seperti komponenkomponen dari suatu sistem stereo, karena masing-masing saling berkaitan dan
membutuhkan yang lainnya. Unsur-unsur sosial budaya tersebut adalah:
a. Sistem keyakinan, Nilai dan Sikap
1. Keyakinan
Keyakinan secara umum diartikan sebagai perkiraan secara subyektf
bahwa sesuatu obyek atau pariwisata ada hubungannya dengan obyek atau
pariwisata lain, atau dengan nilai, konsep, atribut tertentu, singkatnya suatu obyek
atau pariwisata diyakini memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, keyakinan
ini mempunyai derajat kedalaman atau intensitas tertentu.
Ada tiga macam keyakinan yaitu:
a). Keyakinan berdasarkan pengalaman yaitu keyakinan dapat
terbentuk melalui pengalaman langsung. Melalui indera peraba kita
belajar untuk mengetahui dan kemudian meyakini bahwa obyek atau
peristiwa tertentu memiliki karakteristik tertentu. Misalnya dengan

27

menyentuh kompor yang panas, seseorang belajar untuk meyakini
bahwa benda tersebut mempunyai kemampuan membakar jari-jari
tangan.
b). Keyakinan berdasarkan informasi dibentuk melalui sumber-sumber
luar seperti orang-orang lain, buku, majalah, televisi, film. Sumersumber

ini

biasanya

dipilih

berdasarkan

keyakinan

akan

kebenarannya. Keyakinan semacam ini sangat dipengaruhi oleh
berbagai ragam faktor kebudayaan. Misalnya, jika kita percaya bahwa
surat kabar kompas merupakan sumber pemberitaan yang bersifat
netral, maka kita yakin dan percaya akan kebenaran isi beritanya.
Latar

belakang

dan

pengalaman

kebudayaan

penting

dalam

pembentukan keyakinan berdasarkan informasi ini. Dalam komunikasi
antarbudaya, tidak dapat dikatakan keyakinan mana yang salah atau
benar.
c). Keyakinan yang dibentuk berdasarkan pengambilan kesimpulan
melibatkan penggunaan sistem logika intern. Pembentuk

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3877 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23