Itsbat Nikah Dan Kaitannya Dengan Status Anak Yang Lahir Sebelum Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas IA Medan)

ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK
YANG LAHIR SEBELUM PERKAWINAN DISAHKAN
(STUDI PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN)

TESIS

OLEH

SYAFITRI YANTI
087011120/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK
YANG LAHIR SEBELUM PERKAWINAN DISAHKAN
(STUDI PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh
SYAFITRI YANTI
087011120/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

:

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

:
:
:

ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN
STATUS ANAK
YANG
LAHIR
SEBELUM
PERKAWINAN
DISAHKAN
(STUDI
PADA
PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN)
Syafitri Yanti
087011120
Kenotariatan

Menyetujui
Komisi Pembimbing,

Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D

Pembimbing

Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

Pembimbing

Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Dekan,

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 20 Juli 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 20 Juli 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD

Anggota

:

1. Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA
2. Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA
3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
4. Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa perkawinan hanya
dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah. Pasal 7 ayat
(2) KHI menentukan dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat
diajukan irsbat nikahnya ke Pengadilan Agama. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan
yang tidak memiliki bukti pencatatan dapat diajukan itsbat nikah pada pengadilan agama
yang disertai dengan persyaratan tertentu. Penulisan bertujuan untuk menjelaskan tata cara
pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada Pengadilan Agama Klas IA Medan, proses
penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA Medan dan kendala yang dihadapi dan
status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah.
Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif analitis dengan pendekatan
yuridis normatif, yang menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisis tentang pengajuan
itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajuan itsbat nikah dilakukan dengan
alasan perkawinan yang dilakukan sebelum adanya Undang-undang perkawinan, atau dapat
juga dilakukan karena kehilangan akta nikah atau buku nikah, untuk pengurusan perceraian
dan guna mengesahkan status anak untuk memperoleh warisan dan beberapa alasan lainnya.
Tata cara pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan pengajuan
permohonan, pengumuman melalui media masa dan pemeriksaan materi. Proses penetapan
istbat nikah dilakukan setelah hakim pengadilan menerima permohonan dan melakukan
pemeriksaan dan pertimbangan hakim adalah tujuan dari permohonan untuk memperoleh
Akta Nikah dan lengkapnya persyaratan yang disertai dengan keterangan saksi, pernikahan
yang dilakukan dapat dibuktikan dengan adanya wali nikah dan saksi, tidak ada larangan
kawin serta pernikahan memenuhi rukun nikah. Akibat hukum yang timbul adalah
perkawinan yang diajukan pengesahan tersebut menjadi sah dapat dimintakan pencatatan dan
Akta Nikah pada Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA). Demikian pula dengan status
anak dalam perkawinan menjadi jelas sebagai anak yang sah. Pengesahan nikah dapat juga
digabungkan dengan gugatan perceraian atau dapat pula digabungkan dengan gugatan
warisan yang cara penyelesaiannya diputus bersama-sama dalam satu putusan. Majelis hakim
dalam memenuhi suatu permohonan itsbat nikah hendaknya melakukan penelusuran yang
jelas mengenai alat bukti dan saksi yang diajukan pemohon agar terhindar dari kemungkinan
dilakukannya penyelundupan hukum oleh pihak yang tidak bertanggung jawab guna
melegalkan perkawinan poligami yang dilakukan dibawah tangan Kepada pemohon itsbat
nikah agar dapat mengajukan permohonan yang lengkap sesuai dengan persyaratan yang
ditentukan guna menghindari keterlambatan proses penetapan pengesahan. Kepada pihak
kepaniteraan Pengadilan Agama Klas IA Medan agar dalam memberikan penjelasan tentang
pengajuan itsbat nikah memberikan keterangan yang jelas mengenai persyaratan yang harus
dipenuhi oleh pemohon agar mempermudah pemeriksaan dan permohonan tidak ditolak.
Agar setiap perkawinan yang dilakukan dibawah tangan (tidak dicatat) dapat diajukan itsbat
nikah apabila memenuhi rukun dan syarat nikah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan
perlindungan bagi pihak isteri dan anak mengenai statusnya dalam perkawinan.
Kata Kunci : Itsbat Nikah, Perkawinan dan Anak

i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Article 7 (1) of the Islamic Law Compilation clearly states that a marriage can
only be proven through a Marriage Certificate issued by the Marriage Registration
Officer. Article 7 (2) determines thai in case the marriage cannot be proven through a
Marriage Certificate the application of confirmation of their marriage (itsbat nikahnya)
can be submitted to the Religious Court with certain condition.
The purpose of this study was to expalin the procedures of submitting the
application for marriage confirmation and the decision process of marriage confirmation
in the Religious Court Class I A Medan, the constraints faced and status of child(ren)
born before the confirmation of marriage obtained.
this analytical descriptive study with normative juridical approach explains as
wellas analyzes the submission of applicatioin for marriage confirmation in the Religious
Court Class I A Medan.
The result of this study showed that the application for marriage confirmation
can be submitted with the reason that the marriage was conducted before the issuance of
Law on Marriage or the couples lost their marriage certificate or to arrange for a
divorce, to legalize the status of the couples'child(ren), to obtain a heritage, and so forth.
The procedures of submitting the application for marriage confirmation the religious
Court Class I A Medan are through mass media and material examination. The decision
process of marriage confirmation is taken after the judge receives the application,
examines the application. The judge's consideration is that the purpose of this
application is to obtain a Marriage Certificate, all requirements needed are met, and
testimony of witness (es), the marriage done can be proven through the presence of the
bride' guardian and withnesses, there is no restriction of marriage and met all of the
basic marriage requirements. Its legal consequence is that the marriage confirmed is
legal and can be registered in and the Marriage Certificate can be issued bythe Subdistrict Religious Affairs Office. The status of their children is clear and legal. The
marriage legalization can be done together with the claim of divorce or heritage whose
settlement is combined in one decision.
In granting the application for marriage confirmation, the judges should clearly
trace the evidence and witnesses submitted by the applicant to avoid from any attempt to
legalize the underhanded polygamy marriage. The marriage confirmation applicant
should follow the legal procedures and meet the requirements needed so that the decision
process of legalization is not behind the schedule. The management of the Religious
Court Class I A Medan should provide clear information about the requirements needed
to submit the application for marriage confirmation that the application submitted is not
refused. the application for each underhanded (non-registered) marriage confirmation
can be submitted if the legal marriage terms and conditions are met. this is intended to
protect and legalize the status of wife and child (ren).

Keywords: marriage Confirmation, Children

ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan sampaikan kehadirat Allah SWT karena hanya
dengan berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini
dengan judul “Itsbat Nikah dan Kaitannya Dengan Status Anak yang Lahir Sebelum

Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas Ia Medan) . Penulisan tesis
ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan
(M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan
dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih
yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat
terpelajar Bapak Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D., Bapak Prof. Dr. H.
Abdullah Syah, MA dan Bapak Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA selaku Komisi
Pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk
kesempurnaan penulisan tesis ini.
Kemudian juga, semua pihak yang telah berkenan memberi masukan dan
arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil
sampai pada tahap ujian tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna
dan terarah.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan
dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Program Studi Magister
Kenotariatan Universitas Sumatera Utara

iii

Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan
kepada Penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku ketua program studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah
memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan
tesis ini.
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah
memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan
tesis ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang
telah memberikan bimbingan dan arahan serta ilmu yang sangat bermanfaat
selama Penulis mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di bangku
kuliah.
6. Seluruh Staf/Pegawai di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bantuan kepada Penulis selama
menjalani pendidikan.
7. Rekan-rekan Mahasiswa dan Mahasiswi di Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, khususnya angkatan tahun 2008 yang telah
banyak memberikan motivasi kepada Penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
8. Motivator terbesar dalam hidup Penulis yang selalu memberikan cinta,
kasih sayang, dukungan dan doa yang tak putus-putusnya Ayahanda
Dr. H. Mazrisyaf Muaz dan Ibunda Hj. Nunung Suheriyanti serta Saudarasaudaraku Bang Eka dan Fedri yang telah memberikan semangat dan doanya.
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami
tercinta Harisman Iskandar Sinaga yang selama ini telah menjadi inpirasi dan
memberikan semangat sehingga menjadi motivasi warna tersendiri dalam kehidupan

iv

Universitas Sumatera Utara

dan juga dalam penyelesaian tesis pada di Program Studi Magister Kenotariatan
(M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari sepenuhnya tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun
besar harapan penulis kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak, terutama para pemerhati hukum perdata pada umumnya dan ilmu kenotariaan
pada khususnya. Demikian pula atas bantuan dan kebaikan yang telah diberikan
kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu
dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah kepada
kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Medan, Juli 2011
Penulis,

Syafitri Yanti

v

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi
Nama

: Syafitri Yanti

Tempat/Tanggal lahir

: Medan, 18 September 1984

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Karya Wisata Komp. Citra Wisata Blok V No. 9
Medan

II. Keluarga
Nama Ayah

: Dr. H. Mazrisyaf Muaz

Nama Ibu

: Hj. Nunung Suheriyanti

Nama Suami

: Harisman Iskandar Sinaga

Nama Abang

: Nusa Eka Syahputra

Nama Adik

: Syafed Rianda

III. Pendidikan
SD Taman Asuhan P. Siantar

Lulus Tahun 1997

SLTP Taman Asuhan P. Siantar

Lulus Tahun 2000

SMU Al-Azhar Medan

Lulus Tahun 2003

S1 Fakultas Hukum UISU Medan

Lulus Tahun 2007

S2 Program Studi Magister Kenotariatan FH-USU

Lulus Tahun 2011

vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAK

……….................................................................................

Halaman
i

ABSTRACT

.……....................................................................................

ii

KATA PENGANTAR

……......................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP………….…………………………………….............

vi

DAFTAR ISI

vii

………….…………………………………………………

DAFTARTABEL
BAB

BAB

………………………………………………………..

ix

I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang …..................................................................

1

B. Perumusan Masalah ..............................................................

8

C. Tujuan Penelitian ..................................................................

9

D. Manfaat Penelitian ….............................................................

9

E. Keaslian Penelitian ...............................................................

10

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ……………...........................

10

G. Metode Penelitian ..................................................................

22

II. TATA CARA PENGAJUAN ITSBAT NIKAH YANG
DILAKUKAN PADA PENGADILAN AGAMA
KLAS IA MEDAN
A. Perkawinan dan Pengaturannya di Indonesia ………………
B. Pencatatan sebagai Syarat Untuk Melahirkan Akibat
Hukum Perkawinan ……………………………………….
C. Kaitan Perkawinan dan Itsbat Nikah ……………………….
D. Pengajuan Isbat Nikah yang Dilakukan pada Pengadilan
Agama Klas IA Medan ……………………………………

27
41
58
67

BAB III. PROSES PENETAPAN ITSBAT NIKAH PADA
PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN DAN
KENDALA YANG DIHADAPI
A. Prosedur Pengajuan Itsbat Nikah ………………………….

77

B. Pertimbangan Hakim dalam Penetapan Itsbat Nikah ………

86

C. Kendala yang Dihadapi dalam Pengajuan Itsbat Nikah

vii

Universitas Sumatera Utara

Pengadilan Agama Negeri IA Medan ……….……………..

91

BAB IV. STATUS YANG LAHIR SEBELUM DILAKUKANNYA
ISTBAT NIKAH
A. Pengertian Anak dan Keluarga …………………………….

97

B. Hubungan Itsbat Nikah dengan Status Anak dalam
Perkawinan ………………………………………………..

105

C. Status Anak yang Lahir Sebelum dilakukan Itsbat
Nikah …………………………………………………

110

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ……....................................................................

123

B. Saran ……..............................................................................

125

DAFTAR PUSTAKA ……..........................................................................

127

LAMPIRAN

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
TABEL 1.

TABEL 2.

JUMLAH PERMOHONAN YANG MASUK PADA
KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA KLAS IA
MEDAN …………………………………………………..

70

ALASAN PENGAJUAN ITSBAT NIKAH PADA
PENGADILAN AGAMA KLAS IA KOTA MEDAN
TAHUN 2009……………………………………………

71

ix

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa perkawinan hanya
dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah. Pasal 7 ayat
(2) KHI menentukan dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat
diajukan irsbat nikahnya ke Pengadilan Agama. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan
yang tidak memiliki bukti pencatatan dapat diajukan itsbat nikah pada pengadilan agama
yang disertai dengan persyaratan tertentu. Penulisan bertujuan untuk menjelaskan tata cara
pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada Pengadilan Agama Klas IA Medan, proses
penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA Medan dan kendala yang dihadapi dan
status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah.
Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif analitis dengan pendekatan
yuridis normatif, yang menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisis tentang pengajuan
itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajuan itsbat nikah dilakukan dengan
alasan perkawinan yang dilakukan sebelum adanya Undang-undang perkawinan, atau dapat
juga dilakukan karena kehilangan akta nikah atau buku nikah, untuk pengurusan perceraian
dan guna mengesahkan status anak untuk memperoleh warisan dan beberapa alasan lainnya.
Tata cara pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan pengajuan
permohonan, pengumuman melalui media masa dan pemeriksaan materi. Proses penetapan
istbat nikah dilakukan setelah hakim pengadilan menerima permohonan dan melakukan
pemeriksaan dan pertimbangan hakim adalah tujuan dari permohonan untuk memperoleh
Akta Nikah dan lengkapnya persyaratan yang disertai dengan keterangan saksi, pernikahan
yang dilakukan dapat dibuktikan dengan adanya wali nikah dan saksi, tidak ada larangan
kawin serta pernikahan memenuhi rukun nikah. Akibat hukum yang timbul adalah
perkawinan yang diajukan pengesahan tersebut menjadi sah dapat dimintakan pencatatan dan
Akta Nikah pada Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA). Demikian pula dengan status
anak dalam perkawinan menjadi jelas sebagai anak yang sah. Pengesahan nikah dapat juga
digabungkan dengan gugatan perceraian atau dapat pula digabungkan dengan gugatan
warisan yang cara penyelesaiannya diputus bersama-sama dalam satu putusan. Majelis hakim
dalam memenuhi suatu permohonan itsbat nikah hendaknya melakukan penelusuran yang
jelas mengenai alat bukti dan saksi yang diajukan pemohon agar terhindar dari kemungkinan
dilakukannya penyelundupan hukum oleh pihak yang tidak bertanggung jawab guna
melegalkan perkawinan poligami yang dilakukan dibawah tangan Kepada pemohon itsbat
nikah agar dapat mengajukan permohonan yang lengkap sesuai dengan persyaratan yang
ditentukan guna menghindari keterlambatan proses penetapan pengesahan. Kepada pihak
kepaniteraan Pengadilan Agama Klas IA Medan agar dalam memberikan penjelasan tentang
pengajuan itsbat nikah memberikan keterangan yang jelas mengenai persyaratan yang harus
dipenuhi oleh pemohon agar mempermudah pemeriksaan dan permohonan tidak ditolak.
Agar setiap perkawinan yang dilakukan dibawah tangan (tidak dicatat) dapat diajukan itsbat
nikah apabila memenuhi rukun dan syarat nikah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan
perlindungan bagi pihak isteri dan anak mengenai statusnya dalam perkawinan.
Kata Kunci : Itsbat Nikah, Perkawinan dan Anak

i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Article 7 (1) of the Islamic Law Compilation clearly states that a marriage can
only be proven through a Marriage Certificate issued by the Marriage Registration
Officer. Article 7 (2) determines thai in case the marriage cannot be proven through a
Marriage Certificate the application of confirmation of their marriage (itsbat nikahnya)
can be submitted to the Religious Court with certain condition.
The purpose of this study was to expalin the procedures of submitting the
application for marriage confirmation and the decision process of marriage confirmation
in the Religious Court Class I A Medan, the constraints faced and status of child(ren)
born before the confirmation of marriage obtained.
this analytical descriptive study with normative juridical approach explains as
wellas analyzes the submission of applicatioin for marriage confirmation in the Religious
Court Class I A Medan.
The result of this study showed that the application for marriage confirmation
can be submitted with the reason that the marriage was conducted before the issuance of
Law on Marriage or the couples lost their marriage certificate or to arrange for a
divorce, to legalize the status of the couples'child(ren), to obtain a heritage, and so forth.
The procedures of submitting the application for marriage confirmation the religious
Court Class I A Medan are through mass media and material examination. The decision
process of marriage confirmation is taken after the judge receives the application,
examines the application. The judge's consideration is that the purpose of this
application is to obtain a Marriage Certificate, all requirements needed are met, and
testimony of witness (es), the marriage done can be proven through the presence of the
bride' guardian and withnesses, there is no restriction of marriage and met all of the
basic marriage requirements. Its legal consequence is that the marriage confirmed is
legal and can be registered in and the Marriage Certificate can be issued bythe Subdistrict Religious Affairs Office. The status of their children is clear and legal. The
marriage legalization can be done together with the claim of divorce or heritage whose
settlement is combined in one decision.
In granting the application for marriage confirmation, the judges should clearly
trace the evidence and witnesses submitted by the applicant to avoid from any attempt to
legalize the underhanded polygamy marriage. The marriage confirmation applicant
should follow the legal procedures and meet the requirements needed so that the decision
process of legalization is not behind the schedule. The management of the Religious
Court Class I A Medan should provide clear information about the requirements needed
to submit the application for marriage confirmation that the application submitted is not
refused. the application for each underhanded (non-registered) marriage confirmation
can be submitted if the legal marriage terms and conditions are met. this is intended to
protect and legalize the status of wife and child (ren).

Keywords: marriage Confirmation, Children

ii

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

(selanjutnya

disebut UU No. 1 Tahun 1974) menyebutkan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir
batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa”.
Selanjutnya dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga mengatur bahwa
perkawinan dalam ajaran agama Islam mempunyai nilai ibadah, sehingga Pasal 2
Kompilasi Hukum Islam (KHI) menegaskan perkawinan adalah akad yang sangat
kuat (mitsqan ghalidhan) untuk menaati perintah Allah, dan melaksanakannya
merupakan ibadah. Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada yang
mampu untuk segera melaksanakannya. Karena perkawinan dapat mengurangi
kemaksiatan, baik dalam bentuk penglihatan maupun dalam bentuk perzinaan.1
Perkawinan

bukan

untuk

keperluan

sesaat

tetapi

untuk

seumur

hidup karena perkawinan mengandung nilai luhur. Dengan adanya ikatan
lahir batin antara pria dan wanita yang dibangun di atas nilai-nilai sakral karena
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan sila pertama Pancasila.
Maksudnya adalah bahwa perkawinan tidak cukup hanya dengan ikatan lahir saja

1

Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia

1

Universitas Sumatera Utara

2

atau ikatan bathin saja tetapi harus kedua-duanya, terjalinnya ikatan lahir bathin
merupakan fondasi dalam membentuk keluarga bahagia dan kekal.2
Iman Jauhari mengemukakan bahwa :
Suatu perkawinan tidak hanya didasarkan pada
ikatan batin saja, tetapi merupakan perwujudan
antara suami isteri. Ikatan lahir tercermin
sedangkan ikatan batin adanya perasaan saling
belah pihak.3

ikatan lahir saja atau
ikatan lahir dan batin
adanya akad nikah,
mencintai dari kedua

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menganut
asas-asas atau prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum agama dan
kepercayaannya itu.
2. Perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundangan.
3. Perkawinan berasas monogami.
4. Calon suami istri harus sudah masak jiwa raganya untuk melangsungkan
perkawinan.
5. Batas umur perkawinan adalah bagi pria 19 tahun dan bagi wanita 16 tahun.
6. Perceraian dipersulit dan harus dilakukan di muka pengadilan.
7. Hak dan kedudukan suami istri adalah seimbang.4
Perkawinan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan manusia yang
menimbulkan
2

akibat

hukum baik terhadap

hubungan

antara pihak

yang

K Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1996,

hal. 15.
3

Iman Jauhari, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Keluarga Poligami,
Penerbit Pustaka Bangsa, Jakarta, 2003. hal. 3
4
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

3

melangsungkan perkawinan itu sendiri, maupun dengan pihak lain yang mempunyai
kepentingan tertentu. Apabila dari perkawinan tersebut dilahirkan anak-anak, maka
timbul hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya. Didasarkan Pasal 45 UU
No. 1 Tahun 1974 hukum antara orang tua dengan anak menimbulkan kewajiban
orang tua, antara lain tanggung jawab untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya
sampai mereka mandiri.
Hukum perkawinan tidak terlepas dari persyaratan adanya kecakapan para
pihak atau

ketentuan mengenai umur para pihak yang akan melaksanakan

perkawinan. Selain itu, perkawinan juga harus dilakukan pencatatan memenuhi
ketentuan yang berlaku dalam hal ini ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan selanjutnya disebut UU No. 1 Tahun
1974.
Pasal 6 UU No. 1 Tahun 1974 mengenai syarat perkawinan ditentukan bahwa:
(1) Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
(2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur
21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.5
Dalam penjelasan Pasal 6 UU No. 1 Tahun 1974 ditentukan bahwa oleh
karena perkawinan mempunyai maksud agar suami dan isteri dapat membentuk
keluarga yang kekal dan bahagia, dan sesuai pula dengan hak asasi manusia, maka

5

Pasal 6 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

4

sebaiknya dilakukan antara orang yang benar-benar telah cakap dan mampu
bertanggung jawab dan umur 21 tahun sesuai dengan ketentuan dewasa dalam KUH
Perdata.
Selanjutnya dalam Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 ditentukan bahwa :
(1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19
(sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam
belas) tahun.
(2) Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta
dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain, yang ditunjuk oleh kedua
orang tua pihak pria maupun pihak wanita.
(3) Ketetuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua
tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga
dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) Pasal ini dengan tidak
mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).6
Menurut penjelasan Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 pembatasan umur
perkawinan dimaksudkan untuk menjaga

kesehatan suami isteri dan keturunan,

perlu ditetapkan batas-batas umur untuk perkawinan. Di dalam Hukum Islam juga
tidak ditentukan batas usia minimal seseorang dikatakan dewasa. Seperti dikatakan
Ahmad Rofiq bahwa :
Masalah kematangan fisik dan jiwa seseorang dalam konsep Islam tampaknya
lebih ditonjolkan, pada aspek yang pertama yaitu fisik. Hal ini menurutnya
dapat dilihat misalnya dalam pembebanan hukum (taklif) bagi seseorang, yang
dalam term teknis disebut mukallaf (dianggap mampu menanggung beban
hukum). Rasulullah dalam sebuah hadis mengatakan : “Terangkat
pertanggungjawaban seseorang dari tiga hal: orang yang tidur hingga ia
bangun, orang gila hingga ia sembuh, dan anak-anak hingga ia mimpi dan
mengeluarkan air mani (ihtilam)”.7
6
7

Pasal 6 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995,

hal. 78.

Universitas Sumatera Utara

5

Menurut isyarat hadits tersebut kematangan seseorang dilihat pada gejala
kematangan seksualitasnya, yaitu keluar mani bagi laki-laki dan menstruasi atau haid
bagi perempuan. Dari segi umur kematangan ini masing-masing orang berbeda saat
datangnya. Namun hadits ini setidaknya telah memberikan gambaran, bahwa pada
umumnya pada usia 15 tahun.
Sehubungan dengan perihal kedewasaan, baik dalam hubungan perikatan
maupun perkawinan tersebut tidak terlepas dari ketentuan mengenai umur atau
kecakapan para pihak untuk memenuhi ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini para
pihak atau subjek hukum dipersyaratkan untuk memenuhi syarat kedewasaan.
Perkawinan dilakukan setelah adanya kesepakatan antara pihak pria dan pihak
wanita untuk melangsungkan perkawinan. Kemudian keinginan tersebut didaftarkan
dan diumumkan oleh pihak Pegawai Pencatat Nikah dan jika tidak ada keberatan dari
pihak-pihak yang terkait dengan rencana dimaksud, perkawinan dapat dilangsungkan.
Ketentuan dan tata caranya diatur dalam Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 9
Tahun 1975 sebagai berikut :
(1)Perkawinan dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman
kehendak perkawinan oleh Pegawai Pencatat.
(2)Tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya
dan kepercayaannya itu.
(3)Dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing hukum
agamanya dan kepercayaannya itu, perkawinan dilangsungkan di hadapan
Pengawai Pencatat dan dihadiri oleh dua orang tua.8
8

Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Ketentuan Pelaksanaan Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

6

Kalau perkawinan akan dilangsungkan oleh kedua belah pihak, Pegawai
Pencatat menyiapkan Akta Nikah dan salinannya dan telah diisi mengenai
hal-hal yang diperlukannya, seperti diatur dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah
Nomor 9 Tahun 1975. Akta nikah atau akta perkawinan memuat hal-hal sebagai
berikut :
(1) Nama, tanggal, tempat lahir, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat
kediaman suami istri. Apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin,
disebutkan juga nama istri atau suami tedahulu.
(2) Nama, agama/kepercayaan, dan tempat kediaman orang tua mereka.
(3) Izin kawin.
(4) Dispensasi.
(5) Izin Pengadilan.
(6) Persetujuan
(7) Izin pejabat yang ditunjuk oleh Menhankam/Pangab bagi angkatan
bersenjata.
(8) Perjanjian perkawinan apabila ada
(9) Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat kediaman para
saksi dan wali nikah bagi yang beragama Islam.
(10)Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat tinggal kuasa
apabila perkawinan dilakukan melalui seorang kuasa.9
Dengan demikian, Akta Nikah menjadi bukti otentik dari suatu pelaksanaan
perkawinan sehingga dapat menjadi “jaminan hukum” bila terjadi salah seorang
suami atau istri melakukan suatu tindakan yang menyimpang. Suami tidak
memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya, sementara kenyataannya ia mampu
atau suami melanggar ketentuan taklik talak yang telah dibacanya, maka pihak istri

9

Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Ketentuan Pelaksanaan Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

7

yang dirugikan dapat mengadu dan mengajukan gugatan perkaranya ke Pengadilan
Agama.
Selain itu, Akta Nikah juga berfungsi untuk membuktikan keabsahan anak
dari perkawinan itu, sehingga tanpa akta dimaksud, upaya hukum ke pengadilan
tidak dapat dilakukan. Dengan demikian, Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam
menegaskan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang
dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.
Apabila suatu kehidupan suami istri berlangsung tanpa Akta Nikah
karena adanya sesuatu sebab, Kompilasi Hukum Islam (KHI) membuka kesempatan
kepada mereka untuk mengajukan permohonan itsbat nikah (penetapan nikah) kepada
Pengadilan Agama sehingga yang bersangkutan mempunyai kekuatan hukum dalam
ikatan perkawinannya. Pasal 7 ayat (2) KHI mengungkapkan bahwa :
Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat
diajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama.
Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai halhal yang berkenaan dengan :
a.
b.
c.
d.

Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;
Hilangnya Akta Nikah;
Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan;
Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974;
e. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan
perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974.10
10

Pasal 7 ayat (2) Insrtuksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di

Indonesia

Universitas Sumatera Utara

8

Permohonan itsbat nikah di atas, menurut Pasal 7 ayat (4) Kompilasi Hukum
Islam menyatakan bahwa yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah
suami atau istri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan
dengan perkawinan ini. Hasil penelitian pada Pengadilan Agama Klas IA Medan
diketahui bahwa dalam periode tahun 2009 terdapat 36 pengajuan itsbat nikah yang
kesemuanya telah mendapat penetapan oleh

hakim Pengadilan Agama Klas IA

Medan.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut penulis tertarik untuk menelaah
lebih lanjut mengenai pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA
Medan. Penelaahan ini nantinya akan dilakukan melalui suatu penelitian dengan judul
“ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK YANG
LAHIR SEBELUMNYA (Studi Pada Pengadilan Agama Klas IA Medan)”.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang akan diteliti
dan dibahas secara lebih mendalam pada penelitian ini. Adapun pokok permasalahan
tersebut akan dikelompokkan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tata cara pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada Pengadilan
Agama Klas IA Medan ?

Universitas Sumatera Utara

9

2. Bagaimana proses penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA Medan
dan kendala yang dihadapi ?
3. Bagaimanakah status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui tata cara pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada
Pengadilan Agama Klas IA Medan.
2. Untuk mengetahui proses penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA
Medan dan kendala yang dihadapi.
3. Untuk mengetahui status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah.
D. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara
teoritis maupun secara praktis, seperti yang dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran dalam ilmu
pengetahuan hukum pada umumnya, dan hukum perkawinan pada khususnya,
terutama mengenai masalah pengajuan itsbat nikah sebagai salah satu upaya
penetapan pengesahan nikah melalui pengadilan.
2. Secara Praktis

Universitas Sumatera Utara

10

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para praktisi dan
masyarakat, khususnya kepada pasangan kawin yang belum memiliki akta nikah, agar
lebih mengetahui tentang pentingnya akta nikah baik dalam hubungan perkawinan
maupun untuk melakukan perceraian dan prosedur pengajuan itsbat nikah pada
Pengadilan Agama.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang telah penulis
lakukan baik di kepustakaan penulisan karya ilmiah Magister Hukum, maupun di
Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan sejauh yang
diketahui, penelitian tentang “ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN
STATUS ANAK YANG LAHIR SEBELUMNYA (Studi Pada Pengadilan Agama
Klas IA Medan)”, belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini adalah asli.
Artinya secara akademik penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kemurniannya,
karena belum ada yang melakukan penelitian yang sama dengan judul penelitian ini.
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Ilmu hukum dalam perkembangannya tidak terlepas dari ketergantungan pada
berbagai bidang ilmu termasuk ketergantungannya pada metodologi, karena aktivitas
penelitian hukum dan imajinasi sosial, juga sangat ditentukan oleh teori. 11

11

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta 1986, hal. 6.

Universitas Sumatera Utara

11

Menurut Bintoro Tjokroamijoyo dan Mustofa Adidjoyo “teori diartikan
sebagai ungkapan mengenai kausal yang logis diantara perubahan (variabel) dalam
bidang tertentu, sehingga dapat

digunakan sebagai kerangka fikir (Frame of

thingking) dalam memahami serta menangani permasalahan yang timbul didalam
bidang tersebut“.12
Sedangkan Kerangka Teori pada penelitian Hukum Sosiologis atau empiris
yaitu kerangka teoritis yang didasarkan pada kerangka acuan hukum, kalau tidak ada
acuan hukumnya maka penelitian tersebut hanya berguna bagi sosiologi dan kurang
relevan bagi Ilmu Hukum.13 Hukum tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial.14
Oleh karena itu, hukum tidak bersifat statis melainkan hukum bersifat dinamis sesuai
dengan perkembangan Masyarakat. Namun demikian perkembangan masyarakat
tersebut perlu diatur dengan suatu ketentuan hukum guna terciptanya suatu kepastian
hukum yang dapat melindungi hak dan kewajiban subjek hukumnya.
Oleh karena itu dalam penelitian ini kerangka teori yang dijadikan pisau
analisisnya adalah dengan aliran hukum positif yang analitis atau teori hukum positif
dari Jhon Austin yang mengatakan bahwa :
Hukum itu sebagai a command of the lawgiver (perintah dari pembentuk
undang-undang atau penguasa), yaitu suatu perintah mereka yang memegang
kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan, hukum dianggap
sebagai suatu sistem yang logis, tetap, dan bersifat tertutup (closed logical
12

Bintoro Tjokroamidjojo dan Mustofa Adidjoyo, Teori dan Strategi Pembangunan Nasional,
CV. Haji Mas Agung, Jakarta, 1988, hal. 12.
13
Ibid, hal 127
14
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, Angkasa, Bandung, 1984, hal 99.

Universitas Sumatera Utara

12

system). Hukum secara tegas dipisahkan dari moral dan keadilan tidak
didasarkan pada penilaian baik-buruk.15
Menurut Jhon Austin sebagimana dikutip Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi,
apa yang dinamakannya sebagai hukum mengandung di dalamnya suatu perintah,
sanksi kewajiban dan kedaulatan. Ketentuan-ketentuan yang tidak memenuhi unsurunsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai positive law, tetapi hanyalah merupakan
positive morality. Unsur perintah ini berarti bahwa pertama satu pihak menghendaki
agar orang lain melakukan kehendaknya, kedua pihak yang diperintah akan
mengalami penderitaan jika perintah itu tidak dijalankan atau ditaati, ketiga perintah
itu adalah pembedaan kewajiaban terhadap yang diperintah, keempat, hal ketiga
hanya dapat terlaksana jika yang memerintah itu adalah pihak yang berdaulat.16
Hukum mengatur perilaku manusia dalam setiap hubungan hukum yang
dilakukannya. Tata hukum bertitik tolak dari pemahaman tentang tanggung jawab
manusia dan perlindungan hak-hak manusia sebagai subjek hukum. Sejak seorang
anak dilahirkan hidup adalah subjek hukum. Anak dilahirkan karena adanya
perkawinan orang tuanya.
Jadi kerangka teori yang dijadikan sebagai fisio analisis dalam penelitian ini
adalah kerangka menurut Mazhab Positivisme pendapat John Austin yaitu adanya

15

Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, Mandar Maju,
Bandung, 2002, hal. 55.
16
Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya
Bakti, 2001, hal. 59.

Universitas Sumatera Utara

13

pengaruh timbal balik nyata antara hukum dengan masyarakat berupa teori yang
mengacu pada peraturan perundang-undangan dengan mempertimbangkan kebiasaan
dalam masyarakat dan mengamati bagaimana pengaruh peraturan perundangundangan terhadap masyarakat.
Dengan demikian kerangka teori yang dimaksud adalah kerangka pemikiran
atau butir-butir pendapat, teori, thesis dari para penulis ilmu hukum di bidang hukum
perkawinan, yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin
disetujui atau tidak disetujui, yang merupakan masukan eksternal bagi penelitian
ini.17
Perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974 adalah ikatan lahir batin antara
seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Di dalam masyarakat adat, perkawinan adalah suatu rangkaian upacara yang
merubah status laki-laki menjadi suami dan dari seorang perempuan menjadi isteri.
Di kalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya berdasarkan
ikatan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan.
Disamping itu ada kalanya suatu perkawinan merupakan sarana untuk memperbaiki

17

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung 1994, hal. 80.

Universitas Sumatera Utara

14

hubungan kekerabatan yang telah menjauh atau retak, atau merupakan sarana
pendekatan dan perdamaian kerabat.18
Perkawinan menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata)
adalah pertalian yang sah antara seorang pria dan wanita untuk waktu yang lama atau
suatu hubungan hukum anatara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama
dengan kekal yang diakui oleh negara.
Suatu perkawinan dapat dilaksanakan jika memenuhi beberapa persyaratan
yang berupa syarat material dan formal. Syarat materil/subyektif, yaitu syarat-syarat
yang melekat pada pihak-pihak yang melangsungkan perkawinan, yang diatur dalam
Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1974, terdiri dari :
1. Harus didasarkan atas persetujuan kedua belah pihak.
2. Harus mendapat ijin orang tua, apabila calon pengantin belum berumur 21
tahun.
3. Harus sudah mencapai umur 19 (sembilanbelas) tahun bagi pria dan pihak
wanita sudah mencapai umur 16 (enambelas) tahun.
4. Tidak ada larangan perkawinan.
5. Tidak masih terikat dalam suatu perkawinan kecuali bagi mereka yang
agamanya mengijinkan untuk berpoligami.
6. Tidak bercerai untuk kedua kalinya dengan suami atau isteri yang hendak
dikawini.
7. Harus telah lewat waktu tunggu/masa iddah bagi janda.19
Syarat-syarat formal/obyektif adalah syarat tentang tata cara atau prosedur
melangsungkan perkawinan menurut hukum agama dan undang-undang. Tata cara
18

Soebakti Poesponoto, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Pradnya Paramita,
Jakarta, 1983, hal. 187.
19
Pasal 11 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

15

melangsungkan perkawinan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun
1975 tentang Ketentuan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.
Perkawinan dilakukan setelah adanya kesepakatan antara pihak pria dan pihak
wanita untuk melangsungkan perkawinan. Kemudian keinginan tersebut didaftarkan
dan diumumkan oleh pihak Pegawai Pencatat Nikah dan jika tidak ada keberatan dari
pihak-pihak yang terkait dengan rencana dimaksud, perkawinan dapat dilangsungkan.
Ketentuan dan tata caranya diatur dalam Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 9
Tahun 1975 sebagai berikut :
1. Perkawinan dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman
kehendak perkawinan oleh Pegawai Pencatat seperti dimaksud dalam
Pasal 8 Peraturan Pemerintah ini.
2. Tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu.
3. Dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing
hukum agamanya dan kepercayaannya itu, perkawinan dilaksanakan
di hadapan Pengawai Pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi.20
Apabila perkawinan akan dilangsungkan oleh kedua belah pihak, Pegawai
Pencatat menyiapkan Akta Nikah dan salinannya dan telah diisi mengenai hal-hal
yang diperlukannya. Hal ini merupakan implementasi dari ketentuan Pasal 12 UU No.
1 Tahun 1974, yaitu :
1. Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan diwajibkan
memberitahukan kehendaknya itu kepada pegawai pencatat perkawinan.

20

Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Ketentuan Pelaksanaan Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Universitas Sumatera Utara

16

2. Perkawinan dilangsungkan sepuluh hari sejak pengumuman kehendak
perkawinan tersebut.
3. Tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum agama atau
kepercayaannya.
4. Perkawinan dilakukan dihadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh dua
orang saksi.
5. Sesaat
setelah
perkawinan
dilangsungkan
kedua
mempelai
menandatangani akta perkawinan. Akta perkawinan yang telah
ditandatangani oleh kedua mempelai kemudian ditandatangani oleh dua
orang saksi dan pegawai pencatat.21
Lebih lanjut ketentuan ini diatur dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor
9 Tahun 1975. Akta nikah atau akta perkawinan memuat hal-hal sebagai berikut :
(1) Nama, tanggal, tempat lahir, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat
kediaman suami istri. Apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin,
disebutkan juga nama istri atau suami tedahulu.
(2) Nama, agama/kepercayaan, dan tempat kediaman orang tua mereka.
(3) Izin kawin.
(4) Dispensasi.
(5) Izin Pengadilan.
(6) Persetujuan
(7) Izin pejabat yang ditunjuk oleh Menhankam/Pangab bagi angkatan
bersenjata.
(8) Perjanjian perkawinan apabila ada
(9) Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat kediaman para
saksi dan wali nikah bagi yang beragama Islam.
(10) Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat tinggal kuasa
apabila perkawinan dilakukan melalui seorang kuasa.22
Dengan demikian, Akta Nikah menjadi bukti otentik dari suatu pelaksanaan
perkawinan sehingga dapat menjadi “jaminan hukum” bila terjadi salah seorang
suami atau istri melakukan suatu tindakan yang menyimpang. Suami tidak
memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya, sementara kenyataannya ia mampu

21

Pasal 12 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Ketentuan Pelaksanaan Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
22

Universitas Sumatera Utara

17

atau suami melanggar ketentuan taklik talak yang telah dibaca dan disetujuinya pada
saat melangsukan pernikahan, maka pihak istri yang dirugikan dapat mengadu dan
mengajukan gugatan perkaranya ke Pengadilan Agama.
Selanjutnya dapat pula dijelaskan bahwa Undang-undang No.1 Tahun 1974
tentang menganut asas monogami, hanya apabila dikehendaki yang bersangkutan
karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkan seseorang untuk
berpoligami. Perkawinan seseorang suami dengan lebih dari seorang isteri, meskipun
hal itu dikehendaki oleh pihak yang bersangkutan dapat dilakukan apabila dipenuhi
berbagai persyaratan tertentu yang diputuskan pengadilan. Prinsip yang dianut adalah
bahwa untuk dapat melangsungkan perkawinan para pihak harus masak jiwa dan
raganya dan adanya itikad baik, agar tujuan perkawinan dapat tercapai dan
mendapatkan keturunan yang baik.
Perkawinan bukan hanya masalah antara seorang pria dan seorang wanita
yang akan melaksanakan perkawinan melainkan juga menimbulkan akibat hukum,
baik terhadap suami isteri, harta kekayaan, maupun hubungan antara pasangan
tersebut dengan anak yang lahir dari perkawinan.
Anak yang lahir dari suatu perkawinan mempunyai hak dan kewajiban.
Masalah hak dan kedudukan anak benar-benar dilindungi oleh Negara. Pengertian
anak berdasarkan Undang-undang No.23 Tahun 2002 adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Di
dalam suatu perkawinan yang sah sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang
Perkawinan menganut prinsip bahwa anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut

Universitas Sumatera Utara

18

adalah anak kandung yang sah yang diakui oleh Negara dan terdaftar sebagai anak
yang lahir dari perkawinan yang sah dengan bukti akta kelahiran yang dikeluarkan
oleh lembaga catatan sipil.23
Semua anak yang lahir dari perkawinan ayah dan ibunya adalah anak
kandung. Apabila perkawinan ayah dan ibunya sah, maka anaknya adalah anak
kandung yang sah. Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya. Dilihat dari segi perlindungan hukum anak, maka hal ini
sangat merugikan anak yang lahir di luar perkawinan, karena ia tidak berhak dibiayai
hidup dan pendidikan oleh ayahnya, yang turut menyebabkan ia lahir didunia dan
oleh karena itu seharusnya ikut bertanggung jawab atas kehidupan dan kesejahteraan
anak tersebut.24
Untuk dapat membuktikan asal usul seorang anak dapat dilakukan dengan
cara :25
1. Adanya akte kelahiran
2. Surat keterangan kenal lahir
3. Kesaksian dua orang yang sudah dewasa, dilengkapi dengan surat
keterangan dokter, bidan, dukun bayi, dan lain-lainnya.
Menentukan apakah seorang anak lahir sebagai akibat dari suatu perkawinan
atau bukan dilihat dari panjang masa kehamilan ibunya, namun Undang-undang
23
J Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak Dalam Undang-Undang,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal. 5.
24
K. Wantjik Saleh, Op.Cit, hal.44
25
Martiman Prodjohamidjojo, Tanya Jawab Undang-Undang Perkawinan Peraturan
Pelaksanaan, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991, hlm.43

Universitas Sumatera Utara

19

Perkawinan tidak mengatur mengenai hal ini seperti juga dalam Hukum Adat. Pada
asasnya, anak yang dilahirkan lebih dari 179 (seratus tujuhpuluh Sembilan) hari
sesudah perkawinan, tidak dapat diingkari keabsahannya, sebagaimana dijelaskan
dalam Pasal 251 Kitab Undang-undang Hukum Pedata.26
Setiap

anak

mempunyai

hak

untuk

memper

Dokumen yang terkait

Aspek Pembuktian Oleh Para Pihak Dalam Permohonan Itsbat Nikah Di Pengadilan Agama (Studi Pada Pengadilan Agama Kelas I-A Kota Medan)

6 125 217

Akibat Hukum Pembatalan Perkawinan Poligami Tanpa Izin Dan Kaitannya dengan Status Anak Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 (Studi di Pengadilan Agama Klas I-A Medan)

2 35 156

Dampak Penolakan Itsbat Nikah Terhadap Status Perkawinan Dan Anak (Studi Analisis Penetapan Nomor 0244/Pdt.P/2012/Pa.Js)

1 9 98

Respon Masyarakat Tenjolaya Bogor Terhadap Pelayanan Itsbat Nikah Terpadu Pengadilan Agama Cibinong

2 24 88

Dampak Penolakan Itsbat Nikah Terhadap Status Perkawinan Dan Anak (Studi Analisis Penetapan Nomor 0244/Pdt.P/2012/Pa.Js)

1 4 98

Itsbat nikah akibat pernikahan di bawah tangan bagi pasangan menikah di bawah umur (studi analisis penetapan pengadilan agama Cibinong Nomor: 499/Pdt.P/2014/PA.Cbn)

4 22 105

Akibat Pembatalan Perkawinan Karena Adanya Pemalsuan Identitas dan Kaitannya Dengan Kedudukan Anak Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Studi Pada Pengadilan Agama Medan Kelas-IA)

3 26 124

TINJAUAN YURIDIS TENTANG ITSBAT NIKAH (Studi Kasus di Pengadilan Agama Surakarta) Tinjauan Yuridis Tentang Itsbat Nikah (Studi Kasus di Pengadilan Agama Surakarta).

0 1 16

BAB II TINJAUAN UMUM HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA E. Pengertian Perkawinan - Aspek Pembuktian Oleh Para Pihak Dalam Permohonan Itsbat Nikah Di Pengadilan Agama (Studi Pada Pengadilan Agama Kelas I-A Kota Medan)

0 0 49

Aspek Pembuktian Oleh Para Pihak Dalam Permohonan Itsbat Nikah Di Pengadilan Agama (Studi Pada Pengadilan Agama Kelas I-A Kota Medan)

0 0 11