Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium

1

1. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Salah satu indikator biologi untuk kesehatan ekosistem perairan adalah

larva chironomida (Carew et al. 2003). Chironomida atau yang biasa disebut
„non-biting midges‟ adalah lalat kecil mirip nyamuk yang mempunyai panjang
yang bervariasi yakni 2-18 mm bergantung pada spesies. Kumpulan chironomida
ini dapat dilihat pada subuh atau petang hari di kawasan dekat pinggiran danau
dan hampir di semua tempat yang berdekatan dengan perairan terbuka baik yang
stagnan maupun mengalir.

Perbedaan chironomida dengan nyamuk adalah

chironomida tidak menggigit dan tidak menjadi pembawa penyakit (Bay 2003).
Larva chironomida digunakan sebagai indikator lingkungan dan perubahan
iklim karena sangat cepat merespon perubahan kondisi perairan (Walkel 2001 in
Heinrich et al. 2006). Selain itu larva chironomida memiliki manfaat yang sangat
besar pada jaring-jaring makanan di lingkungan akuatik, yakni sebagai pakan
alami ikan dan membantu membongkar sedimen-sedimen organik (Bay 2003).
Sementara itu, di Indonesia belum banyak penelitian yang dilakukan untuk
mengembangkan potensi biota akuatik yang satu ini padahal insekta ini memiliki
distribusi yang sangat luas di lingkungan air tawar. Chironomida dapat tumbuh
dan berkembang pada perairan yang telah terkontaminasi misalnya kolam
stabilisasi limbah di mana larva chironomida menjadi makroinvertebrata yang
mendominasi (Winner et al. 1980 in Halpern et al. 2002).
Chironomida telah digunakan untuk menjelaskan perubahan suhu,
ketersediaan oksigen, nutrien, kedalaman, klorofil a, dan banjir baik yang terjadi
pada masa sekarang maupun masa lampau (Velle & Larocque 2007). Selain itu,
berdasarkan penelitian Lobinske et al. (2002) yang berlokasi di dua danau di
Central Florida diketahui bahwa larva chironomida merupakan salah satu
makanan alami dari ikan bluegill (Lepomis macrochirus). Pentingnya peranan
larva chironomida secara ekologis maupun ekonomis menuntut penggalian
informasi lebih lanjut mengenai siklus hidup biota akuatik ini.

Akan tetapi,

penelitian mengenai chironomida seringkali mengalami kesulitan dalam
mengkuantifikasi biota ini di alam. Kebiasaan chironomida dewasa meletakkan

2

telur di permukaan air yang nantinya akan tenggelam ke dasar maupun tersangkut
di bagian tumbuhan yang bersifat subemerged menjadi penyebab sulitnya
kuantifikasi chironomida. Oleh karena itu, digunakan metode pengamatan skala
laboratorium untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Pengetahuan ini dapat digunakan sebagai dasar kegiatan perbanyakan
larva chironomida yang diharapkan dapat menguntungkan secara ekologis
maupun ekonomis, yakni sebagai indikator lingkungan dan budidaya pakan alami.
Kebutuhan informasi mengenai pola pertumbuhan dan perkembangan biota ini
sebagai dasar dari penelitian-penelitian lain untuk mengembangkan potensi
chironomida baik dengan tujuan ekologis maupun ekonomis melatarbelakangi
penelitian yang dilakukan.
1.2.

Perumusan Masalah
Chironomida merupakan salah satu jenis serangga yang larvanya memiliki

peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis.

Namun sayangnya

penelitian mengenai biota ini masih sangat minim. Permasalahan keterbatasan
informasi menjadi alasan mengapa potensi serangga ini belum dimanfaatkan
secara optimal. Chironomida merupakan salah satu contoh biota yang melakukan
metamorfosis. Siklus hidupnya dibagi menjadi empat fase, yakni telur, larva,
pupa, dan dewasa. Hal yang menarik adalah bahwa chironomida mengalami fase
larva dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan ketiga fase hidup
lainnya. Penelitian mengenai perkembangan dan pertumbuhan larva chironomida
ini diharapkan dapat melihat potensi yang ada pada chironomida dan
kemungkinan pemanfaatan chironomida dari segi ekologi maupun ekonomi.

3
Kualitas air

Larva Chironomus sp.

Bahan organik

-

Perkembangan
ukuran larva
Chironomus sp.

+
Pola pertumbuhan dan perkembangan
Chironomus sp. pada lingkungan buatan
Gambar 1. Skema perumusan masalah mengenai pola pertumbuhan dan
perkembangan larva Chironomus sp. skala laboratorium
1.3.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perkembangan dan

pertumbuhan larva chironomida khususnya genus Chironomus sp. yang
ditumbuhkan di laboratorium pada level bahan organik yang berbeda.
1.4.

Manfaat
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

dinamika populasi larva Chironomus sp. yang mencakup pola perkembangan dan
pertumbuhan pada lingkungan buatan.

Selanjutnya hasil penelitian dapat

dijadikan rujukan dan masukan bagi penelitian lain mengenai larva chironomida
terkait dengan potensi pengembangan budidaya larva ini sebagai pakan alami ikan
maupun pemanfaatan chironomida sebagai bioindikator dan aspek paleolimnologi.

4

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Chironomida
Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di

lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang
dapat ditemukan sebagai benthos adalah Ordo Diptera dari Famili Chironomidae.
Kebanyakan spesies anggota chironomida ini memiliki kebiasaan hidup meliang
pada sedimen yang lunak pada fase larva. Larva akan berkembang menjadi pupa
setelah ± 1 bulan untuk daerah tropis.
menjadi chironomida dewasa.

Pupa selanjutnya akan berkembang

Setelah melakukan pemijahan, chironomida

dewasa akan meletakkan telurnya di permukaan air dalam bentuk gelatin yang
kompleks. Telur-telur ini selanjutnya akan tenggelam dan menetap pada sedimen
maupun tanaman air dan benda-benda lain yang tenggelam.
Chironomida adalah serangga kecil yang mirip nyamuk, memiliki variasi
panjang tubuh mulai dari 2 hingga 18 milimeter bergantung pada masing-masing
spesies. Warnanya pun juga bervariasi sesuai spesies, berkisar dari yang benarbenar terang, hijau pucat hingga hampir mendekati hitam pekat. Ratusan spesies
chironomida tersebar luas di dunia, dan spesies-spesies yang berbeda
mendominasi populasi-populasi tertentu di tempat-tempat yang berdekatan dengan
danau, kolam, atau aliran sungai. Tidak seperti larva nyamuk, yang sebagian
besar hidupnya berada di permukaan air dengan tujuan untuk bernafas, larva
chironomida hidup di dasar atau pada tanaman dan benda-benda tenggelam
lainnya.
Chironomida, seperti layaknya anggota diptera memiliki empat fase hidup,
yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa.

Siklus hidup dari telur hingga dewasa

berkisar dalam rentang waktu satu minggu hingga lebih dari satu tahun
bergantung pada spesiesnya (Bay 2003). Larva adalah fase hidup yang paling
lama, diperkirakan mencapai satu bulan untuk daerah tropis dan dapat mencapai
satu tahun untuk daerah bermusim empat. Larva chironomida ini memiliki tipe
dan cara makan yang bervariasi, ada yang bersifat detritivor yakni memakan
organisme yang sudah mati, grazer yaitu memakan algae dan fitoplankton, dan
ada pula yang bersifat predator atau memangsa avertebrata lain yang lebih kecil.

5

2.2.

Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup
Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang

mempengaruhi pemanfaatan suatu perairan (Boyd 1998). Karakteristik dari suatu
perairan akan mempengaruhi ketahanan hidup, reproduksi, pertumbuhan,
termasuk manajemen pengelolaan perikanan. Oleh karena itu, aspek kualitas air
menjadi fokus perhatian sebelum dilakukan pemanfaatan dari perairan itu sendiri.
Parameter fisika yang diamati pada penelitian ini adalah suhu sedangkan
parameter kimia yang diamati adalah pH, oksigen terlarut, dan COD.
2.2.1. Suhu
Suhu adalah suatu ukuran dari energi kinetik rata-rata dari molekulmolekul, dengan suhu yang lebih tinggi aksi molekul meningkatkan tekanan dan
menyebabkan mengembangnya material (Odum 1992). Suhu menjadi parameter
penting dalam perairan dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung
terhadap kehidupan di perairan. Suhu disebutkan memberikan pengaruh bagi
proses kimia maupun biologi di perairan. Secara umum, tingkat reaksi kimia dan
biologi meningkat menjadi dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 100C.
Hal ini menunjukkan bahwa organisme akuatik menggunakan oksigen terlarut dua
kali lebih banyak untuk suhu 30 ºC dibandingkan suhu 20 ºC, dan reaksi kimia
menunjukkan kemajuan dua kali lebih cepat pada suhu 30 ºC dibandingkan suhu
20 ºC (Boyd 1998).
Thompson (1942) dan Johnson et al. (1942) in Odum (1992) menunjukkan
banyak proses dengan kurva respons terhadap suhu yang menyerupai bentuk
punuk (hump-shaped).

Berdasarkan hal tersebut, proses-proses mencapai

maksimum pada suhu menengah. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya
peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba, dengan kata lain banyak
proses yang berjalan maksimum saat suhu optimum.
Kondisi suhu tidak dapat terlepas dari kehidupan chironomida. Beberapa
faktor sangat krusial mempengaruhi keberadaan spesies maupun komposisi
komunitas. Salah satu faktor kunci yang sangat berpengaruh adalah suhu. Pada
beberapa kasus suhu air adalah faktor yang memiliki proporsi persentase besar
dalam mempengaruhi variasi dari komposisi komunitas, walaupun faktor-faktor
yang lain juga sama pentingnya (Rossaro 1991). Suhu diketahui berkorelasi

6

dengan oksigen terlarut yang merupakan faktor pembatas bagi kehidupan
chironomida.

2.2.2. Oksigen terlarut
Oksigen adalah salah satu elemen yang dapat ditemukan dalam banyak
bentuk di lingkungan alami termasuk badan air. Bentuk pradominan di atmosfer
adalah gas oksigen, yakni lebih kurang 21% dari keseluruhan gas-gas di atmosfer.
Oksigen juga ditemukan berikatan dengan elemen-elemen lainnya.

Oksigen

sebagai komponen mayor bahan organik dan secara biologi relevan dengan
komponen-komponen anorganik (Kodds 2002).
Jumlah oksigen yang terlarut di perairan adalah fungsi dari banyak faktor,
termasuk tingkat aktivitas metabolisme. Fotosintesis adalah salah satu sumber
terbesar penghasil oksigen. Cahaya, suhu, dan nutrien adalah pengontrol proses
fotosintesis. Sementara itu, aktivitas respirasi adalah salah satu pemakai terbesar
dari oksigen di perairan. Volume dari oksigen terlarut di suatu perairan pada
waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: suhu badan air, tekanan
parsial gas di atmosfer yang berhubungan langsung dengan air, serta konsentrasi
dari salinitas (garam-garaman), khusus untuk air laut.
Oksigen terlarut adalah faktor pembatas yang sangat penting di habitat
danau. Nilai dari oksigen terlarut ini berkaitan langsung dengan suhu karena
tingkat atau persentase saturasi dari oksigen dipengaruhi oleh suhu perairan.
Ketersediaan oksigen adalah salah satu variabel yang memiliki pengaruh langsung
bagi distribusi larva chironomida (Jo ´nasson, 1972, 1984; Heinis & Davids, 1993;
Hamburger 1998 in Brodersen et al. 2008). Hal ini membuktikan bahwa oksigen
sangat berpengaruh dan menjadi salah satu faktor pembatas bagi kehidupan
chironomida.
2.2.3. Chemical Oxygen Demand (COD)
COD menggambarkan besarnya bahan organik yang dioksidasi dengan
agen pengoksidasi kuat seperti K2Cr2O7 (Nemerow 1991).

Perbedaan utama

antara COD dengan BOD adalah COD menggambarkan tidak hanya bahan
organik yang bisa terdekomposisi secara biologi (biodegradable) seperti halnya
pada BOD namun juga bahan-bahan yang tidak bisa terdekomposisi secara biologi

7

melainkan secara kimia. Oleh karena itu, nilai COD besarnya sama atau lebih
besar dari nilai BOD. Pengukuran COD untuk memperkirakan nilai oksigen
ekuivalen dari bahan organik pada air yang dirasa tercemar yang dapat dioksidasi
secara kimiawi dengan menggunakan dikromat dalam larutan asam (Metcalf &
Eddy 2004).
COD diukur dengan mengkonversi semua bahan organik pada air contoh
menjadi karbondioksida dan air melalui proses oksidasi dengan melibatkan
potassium dikromat dan asam sulfat (Boyd 1998). Sumber dari bahan organik ini
biasanya berasal dari alam maupun aktivitas rumah tangga dan industri. Perairan
yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan
pertanian.
2.2.4. pH
Konsentrasi ion hidrogen adalah salah satu parameter kualitas air yang
sangat penting baik untuk perairan alami maupun air limbah. Definisi yang
biasanya digunakan untuk menyatakan konsentrasi hidrogen adalah pH, yang
didefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen. Kisaran
konsentrasi pH bagi keberadaan hampir semua kehidupan biologi biasanya sangat
sempit dan kritis (6-9) (Metcalf & Eddy 2004).
Alat yang umumnya digunakan dalam pengukuran pH adalah pH-meter.
Selain itu, juga ada berbagai variasi dari kertas pH dan larutan indikator yang
mengalami perubahan warna untuk mengukur nilai pH suatu perairan.
Pengukuran pH dilakukan dengan membandingkan warna dari kertas atau larutan
dengan seri warna standar yang telah ditetapkan.
2.2.5. Bahan organik
Seperti yang telah diketahui bahwa chironomida pada fase larva adalah
pemakan bahan organik. Komponen organik itu sendiri secara normal tersusun
dari ikatan-ikatan karbon, hidrogen, oksigen, dan terkadang bersama-sama dengan
nitrogen (Metcalf & Eddy 2004). Secara umum analisis yang digunakan untuk
memperkirakan jumlah bahan organik di suatu perairan adalah BOD dan COD.
Bahan organik ini biasanya berbentuk terlarut maupun partikulat yang dapat
dijumpai baik di perairan laut maupun tawar. Bahan organik di perairan biasanya

8

berasal dari tanaman maupun hewan yang sudah mati. Sumber bahan organik bisa
berasal dari perairan itu sendiri (autochtonous) maupun dari ekosistem lain
(allochtonous).

Kebanyakan makroinvertebrata memanfaatkan bahan organik

sebagai sumber makanan. Beberapa bersifat grazer, collector, maupun scavenger.
Oleh karena itu, ketersediaan bahan organik di perairan sangat berpengaruh bagi
pertumbuhan organisme akuatik yang memanfaatkannya.
Bahan-bahan organik ini selanjutnya akan didekomposisi oleh bakteri
dekomposer.

Hasil dekomposisi ini adalah unsur-unsur hara yang bisa

dimanfaatkan oleh organisme autotrof seperti tanaman air maupun fitoplankton.
Oleh karena itu, bahan organik sering diasosiasikan dengan kesuburan perairan
dan produktivitas primer. Oksigen yang merupakan salah satu faktor pembatas di
perairan apabila tidak mencukupi jumlahnya akan mempengaruhi kehidupan biota
akuatik.

9

3. METODE PENELITIAN
3.1.

Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2011, berlokasi di

Laboratorium Biologi Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan,
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dan lingkungan yang terkontrol.
Wadah plastik berukuran 34x26x7 cm3 digunakan sebagai tempat hidup larva
chironomida yang menjadi objek penelitian. Pertimbangan penggunaan wadah
plastik ini adalah untuk mempermudah pemeliharaan, kuantifikasi, maupun
pengamatan larva chironomida itu sendiri. Massa telur chironomida diperoleh
dari Danau Lido (Lampiran 1) yang terletak di Desa Watesjaya, Kecamatan
Cigombong, 25 km dari arah Kota Bogor ke arah Sukabumi.
3.2.

Tahapan Penelitian

3.2.1. Persiapan
Tahap persiapan dilakukan dengan menyiapkan peralatan yang akan
digunakan untuk mengambil larva chironomida dari Danau Lido. Pada tahap ini
dibutuhkan wadah berupa botol sampel sebagai tempat untuk menampung massa
telur chironomida. Jumlah botol yang dibutuhkan adalah sembilan buah sesuai
dengan wadah pemeliharaan di laboratorium. Selanjutnya dilakukan pengambilan
massa telur yang berlokasi di Danau Lido. Pengambilan telur dilakukan pada pagi
hari. Massa telur yang diambil diusahakan dalam kuantitas yang sama untuk
masing-masing botol sampel agar jumlah larva yang nantinya dipelihara untuk
masing-masing wadah pemeliharaan jumlahnya seragam. Pengambilan massa
telur dilakukan di sekitar Karamba Jaring Apung dengan menggunakan bantuan
kuas (Lampiran 2).

Selain massa telur, dilakukan pula pengambilan air dari

Danau Lido tersebut sebagai media pemeliharaan larva chironomida di
laboratorium.

10

3.2.2. Pelaksanaan
Larva chironomida yang ditumbuhkan di laboratorium diambil dalam
bentuk massa telur yang berasal dari Danau Lido. Massa telur ditetaskan pada
cawan petri yang berbeda untuk masing-masing wadah. Pengamatan selama lebih
kurang 24 jam pertama sejak telur diambil dari alam dilakukan setiap 4 jam
dengan kamera yang dihubungkan dengan mikroskop.

Setelah telur menetas

menjadi larva, larva kemudian dipindahkan ke wadah plastik pemeliharaan
berukuran 34x26x7 cm3 yang diisi air Danau Lido setinggi 4 cm.

Wadah

pemeliharan (Lampiran 3) ini dilengkapi dengan penutup yang dibuat dari kain
kassa nyamuk (Gambar 2). Hal ini dilakukan untuk menghindari insekta lain
yang berpotensi menjadi predator bagi larva chironomida.
Media kultur massa telur yang dipelihara di dalam wadah pemeliharaan
adalah air yang diberi tambahan bahan organik berupa kotoran kuda.
Pertimbangan penambahan bahan organik didasarkan pada teknik kultur
chironomida oleh Mc Larney et al. (2003).

Teknik kultur dilakukan dengan

menumbuhkan chironomida pada kolam berukuran 2 m x 1 m x 0.5 m. Bahan
organik yang digunakan adalah kotoran kuda dengan konsentrasi 1,0 mg/l.
Penelitian dilakukan dengan menerapkan dua perlakuan. Wadah pertama adalah
kontrol berupa media air dari Danau Lido tanpa penambahan bahan organik,
perlakuan kedua ditambahkan bahan organik dengan konsentrasi 0,5 mg/l, dan
perlakuan ketiga dengan konsentrasi 1 mg/l.

Penelitian pendahuluan yang

dilakukan dengan mencobakan bahan organik konsentrasi 1 mg/l dan 2 mg/l
menyebabkan massa telur chironomida membusuk. Oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan konsentrasi bahan organik 0,5 mg/l dan 1,0 mg/l. Bahan organik
yang digunakan dibungkus dengan kain kassa dan diletakkan di masing-masing
sudut wadah pemeliharaan (Gambar 3). Kotoran kuda yang sudah dikeringkan
diayak hingga diperoleh bagian yang halus (Lampiran 3). Bagian inilah yang
digunakan sebagai sumber bahan organik dalam wadah pemeliharaan.
Masing-masing variasi perlakuan dicobakan dalam 3 ulangan sehingga
wadah pemeliharaan yang digunakan terdiri dari 9 wadah. Ketika massa telur
yang dipelihara menetas menjadi larva chironomida, larva dipindahkan ke wadah
plastik. Pengamatan terhadap pertumbuhan larva chironomida dilakukan setiap

11

hari. Pengukuran kualitas air berupa suhu, DO, dan COD dilakukan setiap tiga
hari sekali, sedangkan pengukuran pH dilakukan setiap satu minggu sekali. Suhu
dan DO diukur dengan menggunakan DO meter sedangkan pH diukur dengan pH
meter. Parameter in situ langsung dilakukan di ruang pemeliharaan sementara
untuk parameter ex situ yakni COD dilakukan di Laboratorium Fisika Kimia
Perairan bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Lampiran 4).

A2

A1

A3

X

B1

C1

B2

C2

B3

C3

Keterangan:
X: Penutup dari kassa nyamuk
A1,A2,A3: Kontrol (tanpa penambahan bahan organik)
B1,B2,B3: Penambahan bahan organik konsentrasi 0,5 mg/l
C1,C2,C3: Penambahan bahan organik konsentrasi 1 mg/l

Gambar 2. Wadah pemeliharaan larva chironomida skala laboratorium
Bahan Organik

Wadah Pemeliharaan

Gambar 3. Tampak atas posisi peletakkan kantung bahan organik
pada wadah pemeliharaan

12

3.2.3. Pengambilan contoh
Metode pengambilan contoh yang digunakan dalam pengambilan massa
telur dari Danau Lido untuk kemudian dipelihara di laboratorium adalah metode
purposive sampling yaitu metode pengambilan contoh dengan didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang sudah ada. Pengambilan larva dilakukan pada
lokasi Karamba Jaring Apung (KJA), dengan pertimbangan bahwa chironomida
dewasa diketahui lebih menyukai KJA sebagai tempat meletakkan massa telurnya.
Pengambilan dilakukan dengan menggunakan bantuan kuas dan disimpan dalam
botol sampel dengan jumlah sama dengan jumlah wadah pemeliharaan dan
kuantitas telur untuk masing-masing wadah diseragamkan secara visual. Massa
telur selanjutnya dimasukkan ke dalam botol kaca berukuran sedang. Botol kaca
tersebut sebelumnya telah diisi dengan air yang berasal dari Danau Lido.
Kemudian massa telur dibawa ke Laboratorium Biologi Mikro I dan ditetaskan di
cawan petri.

Pengamatan dilakukan setiap 4 jam sekali dengan mikroskop

majemuk yang dihubungkan dengan kamera dan program video Quickcam.
Setelah seluruh telur menetas, larva dipindahkan ke wadah plastik yang diletakkan
di ruangan tertutup dengan kisaran suhu 26,1-27,4 0C. Wadah plastik diletakkan
pada bagian ruangan yang tidak terkena sinar matahari secara langsung untuk
menekan pertumbuhan alga yang diperkirakan dapat mengganggu pertumbuhan
larva chironomida.
Pengambilan contoh yang dilakukan di laboratorium, yaitu pengambilan
contoh larva yang dilakukan secara acak (randomize sampling) setiap hari selama
21 hari. Sampel larva diambil dengan menggunakan pipet drop. Larva yang
diambil setiap pengambilan contoh berjumlah 10 ekor dari masing-masing wadah
pemeliharaan. Jumlah pengambilan disesuaikan dengan perkiraan jumlah telur
yang ditetaskan. Sampel selanjutnya dimasukkan ke dalam botol film dan diberi
alkohol sebagai usaha preservasi atau pengawetan. Tahapan berikutnya, sampel
dianalisis di laboratorium. Kualitas air di wadah pemeliharaan dipantau untuk
memastikan kehomogenan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan. Parameter
yang diukur meliputi suhu, pH, dan COD dapat dilihat pada Tabel 1. Pengambilan
sampel air dilakukan pada semua wadah pemeliharaan yang selanjutnya dianalisis
di laboratorium.

13

Tabel 1. Metode dan alat yang digunakan pada pengukuran parameter fisikakimia perairan.
Parameter

Unit

Alat

Metode

Pustaka Acuan

FISIKA

1. Suhu

o

C

DO meter

mg/l
mg/l

pH meter
DO meter
-

-

APHA 1995

KIMIA

1. pH
2. DO
3. COD

Heat Dillution Method

APHA 1995
APHA 1995
Boyd 1998

3.2.4. Analisis laboratorium
Analisis sampel larva chironomida dilakukan di Laboratorium Biologi
Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Sampel larva chironomida yang
telah diambil dari wadah pemeliharaan dan diawetkan dengan alkohol 70%
dipindahkan ke dalam botol kaca yang telah diberi KOH 10%. Pemberian KOH
dilakukan untuk membersihkan jaringan-jaringan internal chironomida untuk
mempermudah proses identifikasi. Perendaman dengan KOH disesuaikan dengan
ukuran chironomida. Setelah dirasa cukup bersih, chironomida disusun di atas
kaca preparat dengan bantuan mikroskop bedah lalu diangin-anginkan hingga
kering.

Selanjutnya diberi Entellan® dan ditutup dengan menggunakan kaca

penutup. Preparat inilah yang akan diidentifikasi dan dihitung ukuran tubuh yang
terdiri dari panjang total, lebar badan, panjang kepala, dan lebar kepala. Proses
identifikasi sekaligus pengukuran dilakukan dengan bantuan mikroskop majemuk
yang terhubung dengan kamera optilab dan dilengkapi program Image Raster
(Lampiran 7).
Pengukuran panjang total dilakukan dengan menarik garis lurus mulai dari
ujung kepala hingga ujung bagian ekor larva chironomida. Pengukuran lebar
badan dilakukan pada segmen kelima tubuh dihitung dari segmen sesudah kepala.
Sedangkan pengukuran panjang kapsul kepala dilakukan dengan menarik garis
lurus mulai dari ujung terdepan hingga sebelum segmen pertama. Lebar kepala
diukur dengan menarik garis tegak lurus panjang kepala.

14

3.3.

Pengolahan Data

3.3.1. Penentuan kohort melalui analisis distribusi frekuensi panjang larva
chironomida
Data yang diperoleh selama pengamatan berlangsung akan diolah untuk
menghasilkan penjelasan secara deskriptif. Ciri-ciri penting sejumlah besar data
dengan segera dapat diketahui melalui pengelompokan data tersebut ke dalam
beberapa kelas dan kemudian dihitung banyaknya pengamatan yang masuk ke
dalam tiap kelas. Susunan dari data ini biasanya disajikan dalam bentuk tabel
yang disebut sebaran frekuensi (Walpole 1992). Data yang disajikan dibuat dalam
bentuk kelompok untuk memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai
populasi yang sedang diamati.
Penentuan selang kelas berdasarkan Walpole (1992) adalah dengan
menentukan banyaknya kelas yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut, dengan n sebagai jumlah data panjang:

Kemudian ditentukan wilayah dengan mengurangi nilai maksimum dengan
minimum data keseluruhan.

Selanjutnya adalah penentuan lebar kelas sesuai

dengan rumus:

Langkah selanjutnya adalah mendaftar selang kelas atas dan selang kelas
bawah dengan data terkecil sebagai permulaan selang kelas bawah. Sedangkan
batas kelas diperoleh dengan menambah atau mengurangi selang kelas dengan ½
kali nilai satuan terkecil. Nilai tengah didapat dengan merata-ratakan batas kelas
atas dan batas kelas bawah. Selanjutnya nilai frekuensi ditentukan pada masingmasing kelas dan yang terakhir adalah pengecekan jumlah kolom frekuensi
memiliki jumlah yang sama terhadap banyaknya total pengamatan.
Penentuan kohort larva chironomida dilakukan dengan menggunakan data
yang sudah terdistribusi pada selang kelas tertentu. Kohort merupakan gambaran
mengenai organisme yang memiliki umur yang sama dan berada pada kondisi
lingkungan perairan yang sama (Battacharya 1967 in Spare & Venema 1999).
Penentuan nilai kohort pada larva chironomida dapat menjelaskan mengenai
kelompok ukuran larva chironomida pada setiap waktu pengamatan. Penentuan

15

kohort dan sebaran distribusinya per minggu dilakukan dengan metode
NORMSEP (Normal Separation) dan bantuan program FISAT II.
3.3.2. Rancangan acak lengkap
Rancangan acak lengkap adalah salah satu rancangan percobaan yang
paling sederhana. Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah perlakuan
bahan organik yang berbeda mempengaruhi perubahan ukuran larva chironomida.
Rancangan ini digunakan apabila bahan maupun kondisi percobaan bersifat
homogen.

Rancangan ini digunakan karena relatif lebih mudah dan analisis

statistiknya sederhana.

Penelitian kali ini menggunakan perlakuan yang

dibedakan berdasarkan konsentrasi bahan organik yang digunakan. Hipotesis
yang digunakan yaitu sebagai berikut:
H0

: semua αi = 0 (atau tidak ada pengaruh perlakuan bahan organik terhadap
pertumbuhan larva chironomida)

H1

: minimal ada satu αi ≠ 0 (atau minimal ada satu perlakuan bahan organik
yang mempengaruhi pertumbuhan larva chironomida)

Jika Ftabel>Fhitung maka keputusan yang diperoleh adalah terima H0 sedangkan jika
FtabelFtabel. Keputusan yang
diperoleh adalah tolak H0 yang artinya perlakuan mempengaruhi nilai modus yang
diperoleh berdasarkan waktu. Hal ini menggambarkan bahwa penambahan bahan
organik memberikan pengaruh bagi pertumbuhan panjang total larva chironomida.

4.1.7. Pengaruh perbedaan perlakuan bahan organik terhadap berbagai
parameter pertumbuhan
Pertumbuhan adalah salah satu ciri mahluk hidup yang membedakannya
dari mahluk tak hidup.

Secara teoritis pertumbuhan dapat diartikan sebagai

perubahan dimensi (panjang, berat, ukuran, volume, dan jumlah) per satuan waktu
baik individu, stok maupun komunitas. Pertumbuhan banyak dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal.
kelamin,

umur,

ketahanan

Faktor internal meliputi faktor keturunan, jenis
terhadap

penyakit,

dan

kemampuan

dalam

memanfaatkan makanan. Sedangkan faktor eksternal meliputi jumlah makanan
yang tersedia di perairan, ukuran makanan, kandungan gizi makanan, dan faktor
lingkungan.
Pertumbuhan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif.
Pertumbuhan positif ditandai oleh selisih yang nilainya positif, sedangkan
pertumbuhan negatif ditandai oleh selisih yang nilainya negatif atau dengan kata
lain

mengalami

penurunan.

Berdasarkan

faktor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan, penelitian ini mengambil aspek bahan organik yang dalam
kehidupan larva chironomida berperan sebagai sumber makanan dan bahan
pembuatan tubes.

Tiga perlakuan bahan organik diamati pengaruhnya bagi

pertumbuhan larva Chironomus sp. Berdasarkan data yang diambil setiap hari
selama tiga minggu pada fase larva, diperoleh empat parameter pertumbuhan
yakn

Dokumen yang terkait

Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium