Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium

1

1. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Salah satu indikator biologi untuk kesehatan ekosistem perairan adalah

larva chironomida (Carew et al. 2003). Chironomida atau yang biasa disebut
„non-biting midges‟ adalah lalat kecil mirip nyamuk yang mempunyai panjang
yang bervariasi yakni 2-18 mm bergantung pada spesies. Kumpulan chironomida
ini dapat dilihat pada subuh atau petang hari di kawasan dekat pinggiran danau
dan hampir di semua tempat yang berdekatan dengan perairan terbuka baik yang
stagnan maupun mengalir.

Perbedaan chironomida dengan nyamuk adalah

chironomida tidak menggigit dan tidak menjadi pembawa penyakit (Bay 2003).
Larva chironomida digunakan sebagai indikator lingkungan dan perubahan
iklim karena sangat cepat merespon perubahan kondisi perairan (Walkel 2001 in
Heinrich et al. 2006). Selain itu larva chironomida memiliki manfaat yang sangat
besar pada jaring-jaring makanan di lingkungan akuatik, yakni sebagai pakan
alami ikan dan membantu membongkar sedimen-sedimen organik (Bay 2003).
Sementara itu, di Indonesia belum banyak penelitian yang dilakukan untuk
mengembangkan potensi biota akuatik yang satu ini padahal insekta ini memiliki
distribusi yang sangat luas di lingkungan air tawar. Chironomida dapat tumbuh
dan berkembang pada perairan yang telah terkontaminasi misalnya kolam
stabilisasi limbah di mana larva chironomida menjadi makroinvertebrata yang
mendominasi (Winner et al. 1980 in Halpern et al. 2002).
Chironomida telah digunakan untuk menjelaskan perubahan suhu,
ketersediaan oksigen, nutrien, kedalaman, klorofil a, dan banjir baik yang terjadi
pada masa sekarang maupun masa lampau (Velle & Larocque 2007). Selain itu,
berdasarkan penelitian Lobinske et al. (2002) yang berlokasi di dua danau di
Central Florida diketahui bahwa larva chironomida merupakan salah satu
makanan alami dari ikan bluegill (Lepomis macrochirus). Pentingnya peranan
larva chironomida secara ekologis maupun ekonomis menuntut penggalian
informasi lebih lanjut mengenai siklus hidup biota akuatik ini.

Akan tetapi,

penelitian mengenai chironomida seringkali mengalami kesulitan dalam
mengkuantifikasi biota ini di alam. Kebiasaan chironomida dewasa meletakkan

2

telur di permukaan air yang nantinya akan tenggelam ke dasar maupun tersangkut
di bagian tumbuhan yang bersifat subemerged menjadi penyebab sulitnya
kuantifikasi chironomida. Oleh karena itu, digunakan metode pengamatan skala
laboratorium untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Pengetahuan ini dapat digunakan sebagai dasar kegiatan perbanyakan
larva chironomida yang diharapkan dapat menguntungkan secara ekologis
maupun ekonomis, yakni sebagai indikator lingkungan dan budidaya pakan alami.
Kebutuhan informasi mengenai pola pertumbuhan dan perkembangan biota ini
sebagai dasar dari penelitian-penelitian lain untuk mengembangkan potensi
chironomida baik dengan tujuan ekologis maupun ekonomis melatarbelakangi
penelitian yang dilakukan.
1.2.

Perumusan Masalah
Chironomida merupakan salah satu jenis serangga yang larvanya memiliki

peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis.

Namun sayangnya

penelitian mengenai biota ini masih sangat minim. Permasalahan keterbatasan
informasi menjadi alasan mengapa potensi serangga ini belum dimanfaatkan
secara optimal. Chironomida merupakan salah satu contoh biota yang melakukan
metamorfosis. Siklus hidupnya dibagi menjadi empat fase, yakni telur, larva,
pupa, dan dewasa. Hal yang menarik adalah bahwa chironomida mengalami fase
larva dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan ketiga fase hidup
lainnya. Penelitian mengenai perkembangan dan pertumbuhan larva chironomida
ini diharapkan dapat melihat potensi yang ada pada chironomida dan
kemungkinan pemanfaatan chironomida dari segi ekologi maupun ekonomi.

3
Kualitas air

Larva Chironomus sp.

Bahan organik

-

Perkembangan
ukuran larva
Chironomus sp.

+
Pola pertumbuhan dan perkembangan
Chironomus sp. pada lingkungan buatan
Gambar 1. Skema perumusan masalah mengenai pola pertumbuhan dan
perkembangan larva Chironomus sp. skala laboratorium
1.3.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perkembangan dan

pertumbuhan larva chironomida khususnya genus Chironomus sp. yang
ditumbuhkan di laboratorium pada level bahan organik yang berbeda.
1.4.

Manfaat
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

dinamika populasi larva Chironomus sp. yang mencakup pola perkembangan dan
pertumbuhan pada lingkungan buatan.

Selanjutnya hasil penelitian dapat

dijadikan rujukan dan masukan bagi penelitian lain mengenai larva chironomida
terkait dengan potensi pengembangan budidaya larva ini sebagai pakan alami ikan
maupun pemanfaatan chironomida sebagai bioindikator dan aspek paleolimnologi.

4

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Chironomida
Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di

lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang
dapat ditemukan sebagai benthos adalah Ordo Diptera dari Famili Chironomidae.
Kebanyakan spesies anggota chironomida ini memiliki kebiasaan hidup meliang
pada sedimen yang lunak pada fase larva. Larva akan berkembang menjadi pupa
setelah ± 1 bulan untuk daerah tropis.
menjadi chironomida dewasa.

Pupa selanjutnya akan berkembang

Setelah melakukan pemijahan, chironomida

dewasa akan meletakkan telurnya di permukaan air dalam bentuk gelatin yang
kompleks. Telur-telur ini selanjutnya akan tenggelam dan menetap pada sedimen
maupun tanaman air dan benda-benda lain yang tenggelam.
Chironomida adalah serangga kecil yang mirip nyamuk, memiliki variasi
panjang tubuh mulai dari 2 hingga 18 milimeter bergantung pada masing-masing
spesies. Warnanya pun juga bervariasi sesuai spesies, berkisar dari yang benarbenar terang, hijau pucat hingga hampir mendekati hitam pekat. Ratusan spesies
chironomida tersebar luas di dunia, dan spesies-spesies yang berbeda
mendominasi populasi-populasi tertentu di tempat-tempat yang berdekatan dengan
danau, kolam, atau aliran sungai. Tidak seperti larva nyamuk, yang sebagian
besar hidupnya berada di permukaan air dengan tujuan untuk bernafas, larva
chironomida hidup di dasar atau pada tanaman dan benda-benda tenggelam
lainnya.
Chironomida, seperti layaknya anggota diptera memiliki empat fase hidup,
yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa.

Siklus hidup dari telur hingga dewasa

berkisar dalam rentang waktu satu minggu hingga lebih dari satu tahun
bergantung pada spesiesnya (Bay 2003). Larva adalah fase hidup yang paling
lama, diperkirakan mencapai satu bulan untuk daerah tropis dan dapat mencapai
satu tahun untuk daerah bermusim empat. Larva chironomida ini memiliki tipe
dan cara makan yang bervariasi, ada yang bersifat detritivor yakni memakan
organisme yang sudah mati, grazer yaitu memakan algae dan fitoplankton, dan
ada pula yang bersifat predator atau memangsa avertebrata lain yang lebih kecil.

5

2.2.

Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup
Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang

mempengaruhi pemanfaatan suatu perairan (Boyd 1998). Karakteristik dari suatu
perairan akan mempengaruhi ketahanan hidup, reproduksi, pertumbuhan,
termasuk manajemen pengelolaan perikanan. Oleh karena itu, aspek kualitas air
menjadi fokus perhatian sebelum dilakukan pemanfaatan dari perairan itu sendiri.
Parameter fisika yang diamati pada penelitian ini adalah suhu sedangkan
parameter kimia yang diamati adalah pH, oksigen terlarut, dan COD.
2.2.1. Suhu
Suhu adalah suatu ukuran dari energi kinetik rata-rata dari molekulmolekul, dengan suhu yang lebih tinggi aksi molekul meningkatkan tekanan dan
menyebabkan mengembangnya material (Odum 1992). Suhu menjadi parameter
penting dalam perairan dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung
terhadap kehidupan di perairan. Suhu disebutkan memberikan pengaruh bagi
proses kimia maupun biologi di perairan. Secara umum, tingkat reaksi kimia dan
biologi meningkat menjadi dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 100C.
Hal ini menunjukkan bahwa organisme akuatik menggunakan oksigen terlarut dua
kali lebih banyak untuk suhu 30 ºC dibandingkan suhu 20 ºC, dan reaksi kimia
menunjukkan kemajuan dua kali lebih cepat pada suhu 30 ºC dibandingkan suhu
20 ºC (Boyd 1998).
Thompson (1942) dan Johnson et al. (1942) in Odum (1992) menunjukkan
banyak proses dengan kurva respons terhadap suhu yang menyerupai bentuk
punuk (hump-shaped).

Berdasarkan hal tersebut, proses-proses mencapai

maksimum pada suhu menengah. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya
peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba, dengan kata lain banyak
proses yang berjalan maksimum saat suhu optimum.
Kondisi suhu tidak dapat terlepas dari kehidupan chironomida. Beberapa
faktor sangat krusial mempengaruhi keberadaan spesies maupun komposisi
komunitas. Salah satu faktor kunci yang sangat berpengaruh adalah suhu. Pada
beberapa kasus suhu air adalah faktor yang memiliki proporsi persentase besar
dalam mempengaruhi variasi dari komposisi komunitas, walaupun faktor-faktor
yang lain juga sama pentingnya (Rossaro 1991). Suhu diketahui berkorelasi

6

dengan oksigen terlarut yang merupakan faktor pembatas bagi kehidupan
chironomida.

2.2.2. Oksigen terlarut
Oksigen adalah salah satu elemen yang dapat ditemukan dalam banyak
bentuk di lingkungan alami termasuk badan air. Bentuk pradominan di atmosfer
adalah gas oksigen, yakni lebih kurang 21% dari keseluruhan gas-gas di atmosfer.
Oksigen juga ditemukan berikatan dengan elemen-elemen lainnya.

Oksigen

sebagai komponen mayor bahan organik dan secara biologi relevan dengan
komponen-komponen anorganik (Kodds 2002).
Jumlah oksigen yang terlarut di perairan adalah fungsi dari banyak faktor,
termasuk tingkat aktivitas metabolisme. Fotosintesis adalah salah satu sumber
terbesar penghasil oksigen. Cahaya, suhu, dan nutrien adalah pengontrol proses
fotosintesis. Sementara itu, aktivitas respirasi adalah salah satu pemakai terbesar
dari oksigen di perairan. Volume dari oksigen terlarut di suatu perairan pada
waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: suhu badan air, tekanan
parsial gas di atmosfer yang berhubungan langsung dengan air, serta konsentrasi
dari salinitas (garam-garaman), khusus untuk air laut.
Oksigen terlarut adalah faktor pembatas yang sangat penting di habitat
danau. Nilai dari oksigen terlarut ini berkaitan langsung dengan suhu karena
tingkat atau persentase saturasi dari oksigen dipengaruhi oleh suhu perairan.
Ketersediaan oksigen adalah salah satu variabel yang memiliki pengaruh langsung
bagi distribusi larva chironomida (Jo ´nasson, 1972, 1984; Heinis & Davids, 1993;
Hamburger 1998 in Brodersen et al. 2008). Hal ini membuktikan bahwa oksigen
sangat berpengaruh dan menjadi salah satu faktor pembatas bagi kehidupan
chironomida.
2.2.3. Chemical Oxygen Demand (COD)
COD menggambarkan besarnya bahan organik yang dioksidasi dengan
agen pengoksidasi kuat seperti K2Cr2O7 (Nemerow 1991).

Perbedaan utama

antara COD dengan BOD adalah COD menggambarkan tidak hanya bahan
organik yang bisa terdekomposisi secara biologi (biodegradable) seperti halnya
pada BOD namun juga bahan-bahan yang tidak bisa terdekomposisi secara biologi

7

melainkan secara kimia. Oleh karena itu, nilai COD besarnya sama atau lebih
besar dari nilai BOD. Pengukuran COD untuk memperkirakan nilai oksigen
ekuivalen dari bahan organik pada air yang dirasa tercemar yang dapat dioksidasi
secara kimiawi dengan menggunakan dikromat dalam larutan asam (Metcalf &
Eddy 2004).
COD diukur dengan mengkonversi semua bahan organik pada air contoh
menjadi karbondioksida dan air melalui proses oksidasi dengan melibatkan
potassium dikromat dan asam sulfat (Boyd 1998). Sumber dari bahan organik ini
biasanya berasal dari alam maupun aktivitas rumah tangga dan industri. Perairan
yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan
pertanian.
2.2.4. pH
Konsentrasi ion hidrogen adalah salah satu parameter kualitas air yang
sangat penting baik untuk perairan alami maupun air limbah. Definisi yang
biasanya digunakan untuk menyatakan konsentrasi hidrogen adalah pH, yang
didefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen. Kisaran
konsentrasi pH bagi keberadaan hampir semua kehidupan biologi biasanya sangat
sempit dan kritis (6-9) (Metcalf & Eddy 2004).
Alat yang umumnya digunakan dalam pengukuran pH adalah pH-meter.
Selain itu, juga ada berbagai variasi dari kertas pH dan larutan indikator yang
mengalami perubahan warna untuk mengukur nilai pH suatu perairan.
Pengukuran pH dilakukan dengan membandingkan warna dari kertas atau larutan
dengan seri warna standar yang telah ditetapkan.
2.2.5. Bahan organik
Seperti yang telah diketahui bahwa chironomida pada fase larva adalah
pemakan bahan organik. Komponen organik itu sendiri secara normal tersusun
dari ikatan-ikatan karbon, hidrogen, oksigen, dan terkadang bersama-sama dengan
nitrogen (Metcalf & Eddy 2004). Secara umum analisis yang digunakan untuk
memperkirakan jumlah bahan organik di suatu perairan adalah BOD dan COD.
Bahan organik ini biasanya berbentuk terlarut maupun partikulat yang dapat
dijumpai baik di perairan laut maupun tawar. Bahan organik di perairan biasanya

8

berasal dari tanaman maupun hewan yang sudah mati. Sumber bahan organik bisa
berasal dari perairan itu sendiri (autochtonous) maupun dari ekosistem lain
(allochtonous).

Kebanyakan makroinvertebrata memanfaatkan bahan organik

sebagai sumber makanan. Beberapa bersifat grazer, collector, maupun scavenger.
Oleh karena itu, ketersediaan bahan organik di perairan sangat berpengaruh bagi
pertumbuhan organisme akuatik yang memanfaatkannya.
Bahan-bahan organik ini selanjutnya akan didekomposisi oleh bakteri
dekomposer.

Hasil dekomposisi ini adalah unsur-unsur hara yang bisa

dimanfaatkan oleh organisme autotrof seperti tanaman air maupun fitoplankton.
Oleh karena itu, bahan organik sering diasosiasikan dengan kesuburan perairan
dan produktivitas primer. Oksigen yang merupakan salah satu faktor pembatas di
perairan apabila tidak mencukupi jumlahnya akan mempengaruhi kehidupan biota
akuatik.

9

3. METODE PENELITIAN
3.1.

Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2011, berlokasi di

Laboratorium Biologi Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan,
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dan lingkungan yang terkontrol.
Wadah plastik berukuran 34x26x7 cm3 digunakan sebagai tempat hidup larva
chironomida yang menjadi objek penelitian. Pertimbangan penggunaan wadah
plastik ini adalah untuk mempermudah pemeliharaan, kuantifikasi, maupun
pengamatan larva chironomida itu sendiri. Massa telur chironomida diperoleh
dari Danau Lido (Lampiran 1) yang terletak di Desa Watesjaya, Kecamatan
Cigombong, 25 km dari arah Kota Bogor ke arah Sukabumi.
3.2.

Tahapan Penelitian

3.2.1. Persiapan
Tahap persiapan dilakukan dengan menyiapkan peralatan yang akan
digunakan untuk mengambil larva chironomida dari Danau Lido. Pada tahap ini
dibutuhkan wadah berupa botol sampel sebagai tempat untuk menampung massa
telur chironomida. Jumlah botol yang dibutuhkan adalah sembilan buah sesuai
dengan wadah pemeliharaan di laboratorium. Selanjutnya dilakukan pengambilan
massa telur yang berlokasi di Danau Lido. Pengambilan telur dilakukan pada pagi
hari. Massa telur yang diambil diusahakan dalam kuantitas yang sama untuk
masing-masing botol sampel agar jumlah larva yang nantinya dipelihara untuk
masing-masing wadah pemeliharaan jumlahnya seragam. Pengambilan massa
telur dilakukan di sekitar Karamba Jaring Apung dengan menggunakan bantuan
kuas (Lampiran 2).

Selain massa telur, dilakukan pula pengambilan air dari

Danau Lido tersebut sebagai media pemeliharaan larva chironomida di
laboratorium.

10

3.2.2. Pelaksanaan
Larva chironomida yang ditumbuhkan di laboratorium diambil dalam
bentuk massa telur yang berasal dari Danau Lido. Massa telur ditetaskan pada
cawan petri yang berbeda untuk masing-masing wadah. Pengamatan selama lebih
kurang 24 jam pertama sejak telur diambil dari alam dilakukan setiap 4 jam
dengan kamera yang dihubungkan dengan mikroskop.

Setelah telur menetas

menjadi larva, larva kemudian dipindahkan ke wadah plastik pemeliharaan
berukuran 34x26x7 cm3 yang diisi air Danau Lido setinggi 4 cm.

Wadah

pemeliharan (Lampiran 3) ini dilengkapi dengan penutup yang dibuat dari kain
kassa nyamuk (Gambar 2). Hal ini dilakukan untuk menghindari insekta lain
yang berpotensi menjadi predator bagi larva chironomida.
Media kultur massa telur yang dipelihara di dalam wadah pemeliharaan
adalah air yang diberi tambahan bahan organik berupa kotoran kuda.
Pertimbangan penambahan bahan organik didasarkan pada teknik kultur
chironomida oleh Mc Larney et al. (2003).

Teknik kultur dilakukan dengan

menumbuhkan chironomida pada kolam berukuran 2 m x 1 m x 0.5 m. Bahan
organik yang digunakan adalah kotoran kuda dengan konsentrasi 1,0 mg/l.
Penelitian dilakukan dengan menerapkan dua perlakuan. Wadah pertama adalah
kontrol berupa media air dari Danau Lido tanpa penambahan bahan organik,
perlakuan kedua ditambahkan bahan organik dengan konsentrasi 0,5 mg/l, dan
perlakuan ketiga dengan konsentrasi 1 mg/l.

Penelitian pendahuluan yang

dilakukan dengan mencobakan bahan organik konsentrasi 1 mg/l dan 2 mg/l
menyebabkan massa telur chironomida membusuk. Oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan konsentrasi bahan organik 0,5 mg/l dan 1,0 mg/l. Bahan organik
yang digunakan dibungkus dengan kain kassa dan diletakkan di masing-masing
sudut wadah pemeliharaan (Gambar 3). Kotoran kuda yang sudah dikeringkan
diayak hingga diperoleh bagian yang halus (Lampiran 3). Bagian inilah yang
digunakan sebagai sumber bahan organik dalam wadah pemeliharaan.
Masing-masing variasi perlakuan dicobakan dalam 3 ulangan sehingga
wadah pemeliharaan yang digunakan terdiri dari 9 wadah. Ketika massa telur
yang dipelihara menetas menjadi larva chironomida, larva dipindahkan ke wadah
plastik. Pengamatan terhadap pertumbuhan larva chironomida dilakukan setiap

11

hari. Pengukuran kualitas air berupa suhu, DO, dan COD dilakukan setiap tiga
hari sekali, sedangkan pengukuran pH dilakukan setiap satu minggu sekali. Suhu
dan DO diukur dengan menggunakan DO meter sedangkan pH diukur dengan pH
meter. Parameter in situ langsung dilakukan di ruang pemeliharaan sementara
untuk parameter ex situ yakni COD dilakukan di Laboratorium Fisika Kimia
Perairan bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Lampiran 4).

A2

A1

A3

X

B1

C1

B2

C2

B3

C3

Keterangan:
X: Penutup dari kassa nyamuk
A1,A2,A3: Kontrol (tanpa penambahan bahan organik)
B1,B2,B3: Penambahan bahan organik konsentrasi 0,5 mg/l
C1,C2,C3: Penambahan bahan organik konsentrasi 1 mg/l

Gambar 2. Wadah pemeliharaan larva chironomida skala laboratorium
Bahan Organik

Wadah Pemeliharaan

Gambar 3. Tampak atas posisi peletakkan kantung bahan organik
pada wadah pemeliharaan

12

3.2.3. Pengambilan contoh
Metode pengambilan contoh yang digunakan dalam pengambilan massa
telur dari Danau Lido untuk kemudian dipelihara di laboratorium adalah metode
purposive sampling yaitu metode pengambilan contoh dengan didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang sudah ada. Pengambilan larva dilakukan pada
lokasi Karamba Jaring Apung (KJA), dengan pertimbangan bahwa chironomida
dewasa diketahui lebih menyukai KJA sebagai tempat meletakkan massa telurnya.
Pengambilan dilakukan dengan menggunakan bantuan kuas dan disimpan dalam
botol sampel dengan jumlah sama dengan jumlah wadah pemeliharaan dan
kuantitas telur untuk masing-masing wadah diseragamkan secara visual. Massa
telur selanjutnya dimasukkan ke dalam botol kaca berukuran sedang. Botol kaca
tersebut sebelumnya telah diisi dengan air yang berasal dari Danau Lido.
Kemudian massa telur dibawa ke Laboratorium Biologi Mikro I dan ditetaskan di
cawan petri.

Pengamatan dilakukan setiap 4 jam sekali dengan mikroskop

majemuk yang dihubungkan dengan kamera dan program video Quickcam.
Setelah seluruh telur menetas, larva dipindahkan ke wadah plastik yang diletakkan
di ruangan tertutup dengan kisaran suhu 26,1-27,4 0C. Wadah plastik diletakkan
pada bagian ruangan yang tidak terkena sinar matahari secara langsung untuk
menekan pertumbuhan alga yang diperkirakan dapat mengganggu pertumbuhan
larva chironomida.
Pengambilan contoh yang dilakukan di laboratorium, yaitu pengambilan
contoh larva yang dilakukan secara acak (randomize sampling) setiap hari selama
21 hari. Sampel larva diambil dengan menggunakan pipet drop. Larva yang
diambil setiap pengambilan contoh berjumlah 10 ekor dari masing-masing wadah
pemeliharaan. Jumlah pengambilan disesuaikan dengan perkiraan jumlah telur
yang ditetaskan. Sampel selanjutnya dimasukkan ke dalam botol film dan diberi
alkohol sebagai usaha preservasi atau pengawetan. Tahapan berikutnya, sampel
dianalisis di laboratorium. Kualitas air di wadah pemeliharaan dipantau untuk
memastikan kehomogenan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan. Parameter
yang diukur meliputi suhu, pH, dan COD dapat dilihat pada Tabel 1. Pengambilan
sampel air dilakukan pada semua wadah pemeliharaan yang selanjutnya dianalisis
di laboratorium.

13

Tabel 1. Metode dan alat yang digunakan pada pengukuran parameter fisikakimia perairan.
Parameter

Unit

Alat

Metode

Pustaka Acuan

FISIKA

1. Suhu

o

C

DO meter

mg/l
mg/l

pH meter
DO meter
-

-

APHA 1995

KIMIA

1. pH
2. DO
3. COD

Heat Dillution Method

APHA 1995
APHA 1995
Boyd 1998

3.2.4. Analisis laboratorium
Analisis sampel larva chironomida dilakukan di Laboratorium Biologi
Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Sampel larva chironomida yang
telah diambil dari wadah pemeliharaan dan diawetkan dengan alkohol 70%
dipindahkan ke dalam botol kaca yang telah diberi KOH 10%. Pemberian KOH
dilakukan untuk membersihkan jaringan-jaringan internal chironomida untuk
mempermudah proses identifikasi. Perendaman dengan KOH disesuaikan dengan
ukuran chironomida. Setelah dirasa cukup bersih, chironomida disusun di atas
kaca preparat dengan bantuan mikroskop bedah lalu diangin-anginkan hingga
kering.

Selanjutnya diberi Entellan® dan ditutup dengan menggunakan kaca

penutup. Preparat inilah yang akan diidentifikasi dan dihitung ukuran tubuh yang
terdiri dari panjang total, lebar badan, panjang kepala, dan lebar kepala. Proses
identifikasi sekaligus pengukuran dilakukan dengan bantuan mikroskop majemuk
yang terhubung dengan kamera optilab dan dilengkapi program Image Raster
(Lampiran 7).
Pengukuran panjang total dilakukan dengan menarik garis lurus mulai dari
ujung kepala hingga ujung bagian ekor larva chironomida. Pengukuran lebar
badan dilakukan pada segmen kelima tubuh dihitung dari segmen sesudah kepala.
Sedangkan pengukuran panjang kapsul kepala dilakukan dengan menarik garis
lurus mulai dari ujung terdepan hingga sebelum segmen pertama. Lebar kepala
diukur dengan menarik garis tegak lurus panjang kepala.

14

3.3.

Pengolahan Data

3.3.1. Penentuan kohort melalui analisis distribusi frekuensi panjang larva
chironomida
Data yang diperoleh selama pengamatan berlangsung akan diolah untuk
menghasilkan penjelasan secara deskriptif. Ciri-ciri penting sejumlah besar data
dengan segera dapat diketahui melalui pengelompokan data tersebut ke dalam
beberapa kelas dan kemudian dihitung banyaknya pengamatan yang masuk ke
dalam tiap kelas. Susunan dari data ini biasanya disajikan dalam bentuk tabel
yang disebut sebaran frekuensi (Walpole 1992). Data yang disajikan dibuat dalam
bentuk kelompok untuk memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai
populasi yang sedang diamati.
Penentuan selang kelas berdasarkan Walpole (1992) adalah dengan
menentukan banyaknya kelas yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut, dengan n sebagai jumlah data panjang:

Kemudian ditentukan wilayah dengan mengurangi nilai maksimum dengan
minimum data keseluruhan.

Selanjutnya adalah penentuan lebar kelas sesuai

dengan rumus:

Langkah selanjutnya adalah mendaftar selang kelas atas dan selang kelas
bawah dengan data terkecil sebagai permulaan selang kelas bawah. Sedangkan
batas kelas diperoleh dengan menambah atau mengurangi selang kelas dengan ½
kali nilai satuan terkecil. Nilai tengah didapat dengan merata-ratakan batas kelas
atas dan batas kelas bawah. Selanjutnya nilai frekuensi ditentukan pada masingmasing kelas dan yang terakhir adalah pengecekan jumlah kolom frekuensi
memiliki jumlah yang sama terhadap banyaknya total pengamatan.
Penentuan kohort larva chironomida dilakukan dengan menggunakan data
yang sudah terdistribusi pada selang kelas tertentu. Kohort merupakan gambaran
mengenai organisme yang memiliki umur yang sama dan berada pada kondisi
lingkungan perairan yang sama (Battacharya 1967 in Spare & Venema 1999).
Penentuan nilai kohort pada larva chironomida dapat menjelaskan mengenai
kelompok ukuran larva chironomida pada setiap waktu pengamatan. Penentuan

15

kohort dan sebaran distribusinya per minggu dilakukan dengan metode
NORMSEP (Normal Separation) dan bantuan program FISAT II.
3.3.2. Rancangan acak lengkap
Rancangan acak lengkap adalah salah satu rancangan percobaan yang
paling sederhana. Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah perlakuan
bahan organik yang berbeda mempengaruhi perubahan ukuran larva chironomida.
Rancangan ini digunakan apabila bahan maupun kondisi percobaan bersifat
homogen.

Rancangan ini digunakan karena relatif lebih mudah dan analisis

statistiknya sederhana.

Penelitian kali ini menggunakan perlakuan yang

dibedakan berdasarkan konsentrasi bahan organik yang digunakan. Hipotesis
yang digunakan yaitu sebagai berikut:
H0

: semua αi = 0 (atau tidak ada pengaruh perlakuan bahan organik terhadap
pertumbuhan larva chironomida)

H1

: minimal ada satu αi ≠ 0 (atau minimal ada satu perlakuan bahan organik
yang mempengaruhi pertumbuhan larva chironomida)

Jika Ftabel>Fhitung maka keputusan yang diperoleh adalah terima H0 sedangkan jika
Ftabel Selanjutnya, kesimpulan yang diperoleh jika keputusannya terima H0 adalah tidak
ada satu pun perlakuan yang memberikan perbedaan yang nyata terhadap
pertumbuhan larva chironomida. Sementara itu jika keputusan yang didapat tolak
H0 atau terima H1, maka kesimpulan yang bisa diambil adalah minimal ada satu
perlakuan yang mempengaruhi pertumbuhan larva chironomida. Parameter yang
digunakan dalam rancangan acak lengkap adalah panjang total, lebar badan,
panjang kepala, dan lebar kepala.
3.3.3. Analisis kelompok
Analisis kelompok adalah teknik multivariat yang bertujuan untuk
mengelompokkan objek-objek berdasarkan karakteristik yang dimilikinya.
Analisis kelompok digunakan untuk mengklasifikasi objek sehingga setiap objek
yang paling dekat kesamaannya dengan objek lain berada dalam kelompok yang
sama. Larva chironomida diketahui mengalami empat tahap yang disebut instar.
Analisis kelompok digunakan untuk mengelompokkan larva chironomida

16

berdasarkan instarnya. Pengelompokan ini dilakukan dengan bantuan program
MINITAB 14 dan panduan penentuan centroid atau pusat data berdasarkan
Dettinger-Klemm (2003) dan Zilli et al. (2008).

17

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil

4.1.1. Deskripsi lokasi pengambilan massa telur
Lokasi pengambilan massa telur yang digunakan untuk penelitian utama
adalah kawasan Karamba Jaring Apung Danau Lido.

Lokasi ini dipilih

berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan dan survei yang dilakukan bahwa
chironomida dewasa sering meletakkan telurnya pada jaring karamba yang
terdapat di Danau Lido. Lokasi pengambilan terletak dekat dengan jalan raya dan
restoran terapung serta rumah makan di pinggir danau.

Lokasi ini memiliki

kedalaman sekitar 9,5 m dan tidak ditemukan adanya tumbuhan air. Massa telur
diambil dari jaring karamba maupun benda-benda terapung di sekitar KJA. Massa
telur berbentuk seperti gumpalan bening gelatin yang bila diperhatikan dengan
seksama terdiri dari butir-butir telur berwarna kecoklatan (Gambar 4). Satu massa
telur umumnya terdiri dari 200 butir telur chironomida.

Gambar 4. Massa telur chironomida genus Chironomus sp.
Sumber: Dokumentasi pribadi
4.1.2. Larva chironomida
Chironomida memiliki hubungan yang relatif dekat dengan nyamuk
(Culicidae) dan agas penggigit (Ceratopogonidae). Oleh karena itu, Chironomida
adalah kelompok diptera dengan subordo Nematocera. Biasanya disebut nonbiting midges (agas yang tidak menggigit) atau blind mosquitoes (nyamuk buta)
ketika dewasa dan bloodworms (cacing darah) ketika masih dalam fase larva.
Chironomidae biasanya menjadi kelompok makroinvertebrata paling melimpah,

18

baik dalam jumlah spesies maupun jumlah individu yang dapat ditemukan pada
hampir seluruh habitat air tawar (Eppler 2001).
Chironomida yang menjadi objek penelitian ini adalah pada fase larva
chironomida Subfamili Chironominae yang memiliki ciri berupa antena yang
terdiri dari 4-8 segmen merupakan subfamili yang ditemukan paling melimpah
baik di air tawar, payau, maupun laut. Sebagian besar larva membangun silken
tubes, sejenis tabung sebagai tempat tinggal di dalam maupun di atas substrat.
Beberapa bersifat grazer dan beberapa yang lain bersifat predator. Beberapa taksa
larva subfamili ini memiliki hemoglobin yang memberi warna merah pada
tubuhnya. Hal ini memungkinkan larva chironomida subfamili ini untuk bertahan
hidup pada kondisi oksigen yang rendah (Eppler 2001). Sedangkan fokus dari
penelitian ini adalah larva chironomida dari subfamili Chironominae dan genus
Chironomus sp. (Gambar 5). Adapun klasifikasi genus Chironomus sp. menurut
Eppler (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Diptera

Famili

: Chironomidae

Subfamili

: Chironominae

Genus

: Chironomus sp.

A

B

Gambar 5. Bagian kepala dari larva chironomida genus Chironomus sp. yang
memperlihatkan bagian mentum
Sumber: A. Dokumentasi pribadi, B. Zilli et al. (2008)

19

Gambar 6. Larva chironomida genus Chironomus sp.
Sumber: Dokumentasi pribadi
Gambar 5 dan 6 merupakan larva chironomida dari genus Chironomus sp.
Genus ini dapat dibedakan dengan bentuk mentum yang terdiri dari 3 atau 4 gigi
tengah yang terpisah dari bagian lateral mentum oleh garis mulai dari gigi paling
belakang hingga sudut anterimedial dari lempeng ventromental.
4.1.3. Perkembangan larva Chironomus sp.
Larva chironomida termasuk Chironomus sp. memiliki empat fase
metamorphosis, yaitu dewasa dalam bentuk serangga atau insekta, telur, larva,
dan pupa. Siklus hidup dari telur hingga dewasa berkisar dalam rentang waktu
satu minggu hingga lebih dari satu tahun bergantung pada spesiesnya (Bay 2003).
Pada penelitian ini, diperoleh hasil bahwa telur memerlukan waktu lebih kurang
17 jam dari waktu pengambilan hingga menetas pada kondisi lingkungan yang
homogen. Fase hidup selanjutnya adalah larva. Larva Chironomus sp. pada
wadah tanpa bahan organik hanya dapat bertahan hidup selama lebih kurang satu
minggu dengan sifat hidup planktonik. Hal yang berbeda ditunjukkan pada wadah
dengan penambahan bahan organik sebanyak 0,5 mg/liter dan 1,0 mg/l, yaitu larva
Chironomus sp. dapat berkembang hingga mencapai fase pupa (Gambar 7) dan
dewasa. Larva pada wadah dengan tambahan bahan organik ini memerlukan
waktu lebih kurang tiga minggu untuk menjadi pupa. Selanjutnya pupa akan
hidup selama 24-48 jam sebelum akhirnya menjadi Chironomus sp. dewasa.

20

A

B

Gambar 7. Pupa Chironomus sp. (A. Pupa dengan isi, B. Pupa kosong/exoviae)
Sumber: Dokumentasi pribadi
4.1.4. Keadaan fisika kimia air wadah pemeliharaan
Pengukuran parameter fisika maupun kimia air dilakukan untuk melihat
pengaruh perlakuan penambahan bahan organik terhadap kecenderungan keadaan
fisika kimia air pada wadah pemeliharaan. Nilai parameter fisika kimia yang telah
diukur disajikan pada Lampiran 8.

100

tanpa penambahan bahan organik
bahan organik 0.5 mg/l
bahan organik 1.0 mg/l

Nilai COD (mg/l)

80

60

40

20

0
2

4

6

8

10

12

14

16

18

20

Hari ke-

Gambar 8. Nilai COD pada tiga perlakuan berbeda
COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan gambaran besarnya bahan
organik di suatu perairan yang dapat didekomposisi secara biologi maupun kimia.
Pengukuran COD dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan pengaruh
penambahan bahan organik terhadap kandungan bahan organik di masing-masing

21

wadah pemeliharaan.

Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa terdapat

perbedaan besarnya nilai COD. Ketiga perlakuan memiliki kecenderungan variasi
perubahan yang sama untuk nilai COD, yakni mengalami kenaikan sampai hari
tertentu dan mengalami penurunan hingga pengamatan terakhir.
Nilai COD paling tinggi adalah pada wadah dengan konsentrasi bahan
organik sebesar 1,0 mg/l dengan nilai 86,67 mg/l pada pengamatan hari ke-12.
Sedangkan nilai COD tertinggi pada perlakuan bahan organik 0,5 mg/l adalah
59,33 mg/l pada hari ke-15 dan untuk dan perlakuan tanpa penambahan bahan
organik adalah 20,67 mg/l untuk pengamatan hari ke-6. Kisaran nilai COD untuk
perlakuan tanpa bahan organik adalah 16,67-20,67 mg/l. Perlakuan dengan bahan
organik 0,5 mg/l memiliki kisaran 14,33-59,33 mg/l. Sedangkan pada wadah
perlakuan dengan penambahan bahan organik 1,0 mg/l, nilai COD berkisar antara
15,67-86,67 mg/l. Perbedaan nilai COD ini disebabkan oleh perbedaan jumlah
bahan organik yang ditambahkan pada masing-masing wadah perlakuan.
Salah satu parameter fisika yang diukur adalah suhu, yakni salah satu
parameter yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan biota air. Metabolisme
biota akan meningkat jika terjadi kenaikan suhu hingga batas tertentu dan
sebaliknya, akan terjadi penurunan tingkat metabolisme bila terjadi penurunan
suhu. Pengukuran parameter suhu dilakukan setiap tiga hari. Suhu yang tercatat
berkisar antara 26,1-27,4 ºC. Kecenderungan variasi suhu untuk masing-masing
perlakuan sama, seperti yang terlihat pada Gambar 9. Masing-masing wadah
pemeliharaan tidak memperlihatkan kenaikan maupun penurunan suhu yang
signifikan. Suhu paling tinggi terjadi pada pengamatan hari ke-9 dan paling
rendah terjadi pada pengamatan hari ke-6.
Gambar 10 menggambarkan keadaan pH pada masing-masing wadah
pemeliharaan. Pengukuran pH dilakukan setiap minggu dan ditampilkan dalam
bentuk grafik dalam bentuk rata-rata untuk masing-masing perlakuan. Nilai pH
tertinggi tercatat pada pengamatan minggu pertama pada wadah pemeliharaan
tanpa penambahan bahan organik dan terendah pada wadah dengan bahan organik
0,5 mg/l untuk pengamatan minggu terakhir.

Kisaran nilai pH berada pada

rentang 6,9-7,7. Variasi nilai pH kecil dan masih memenuhi syarat hidup untuk
biota perairan yakni 6-9.

22

28,0

tanpa penambahan bahan organik
bahan organik 0.5 mg/l
bahan organik 1.0 mg/l

27,5

0
nilai suhu ( C)

27,0

26,5

26,0

25,5

25,0
2

4

6

8

10

12

14

16

hari ke-

Gambar 9. Nilai suhu pada tiga perlakuan berbeda

8,0

nilai pH

7,5

7,0

6,5

6,0
0,5

1,0

1,5

2,0

2,5

3,0

3,5

minggu ke-

Gambar 10. Nilai pH pada tiga perlakuan berbeda

Parameter selanjutnya adalah oksigen terlarut (Dissolved Oxygen).
Hampir sama seperti suhu, nilai DO juga sangat mempengaruhi aktivitas
metabolisme biota air termasuk larva chironomida.

DO digunakan sebagai

23

masukan untuk respirasi bagi mahluk hidup heterotrof.

Nilai DO sangat

dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti aktivitas fotosintesis organisme
autotrof, difusi udara, maupun mixing.

Pada penelitian kali ini tidak ada

penambahan kadar oksigen yang dilakukan secara sengaja. Fotosintesis yang
berlebihan pun secara tidak langsung dihindari dengan cara penempatan wadah di
ruang tertutup. Cara ini dilakukan untuk menghindari tumbuhnya perifiton yang
diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan larva chironomida itu sendiri.
Gambar 11 menunjukkan variasi nilai DO yang cenderung mengalami
penurunan. Variabilitas nilai DO untuk setiap perlakuan hampir sama. Perlakuan
tanpa penambahan bahan organik menunjukkan kisaran nilai DO yang lebih tinggi
dari dua perlakuan yang lain. Nilai DO berkisar antara 3,8-7,8 mg/l. Perlakuan
dengan penambahan bahan organik 0,5 mg/l berkisar antara 4,7-6,7 mg/l.
Sedangkan untuk perlakuan dengan bahan organik 1,0 mg/l yakni kandungan
bahan organik paling tinggi, nilai DO berkisar antara 3,8-5,3 mg/l.

tanpa penambahan bahan organik
bahan organik 0.5 mg/l
bahan organik 1.0 mg/l

nilai oksigen terlarut (mg/l)

8

6

4

2

0
2

4

6

8

10

12

14

16

hari ke-

Gambar 11. Nilai oksigen terlarut pada tiga perlakuan berbeda

24

4.1.5. Pengelompokan larva chironomida berdasarkan instar
Fase hidup chironomida saat larva adalah tahapan hidup paling lama dari
keempat siklus hidup chironomida. Perkembangan larva chironomida di daerah
tropis umumnya membutuhkan waktu ± 1 bulan. Selama fase ini, chironomida
mengalami empat instar.

Waktu capaian masing-masing instar dari larva

chironomida berbeda-beda bergantung pada spesiesnya. Penentuan capaian instar
dari larva chironomida pada penelitian ini dilakukan dengan mengukur panjang
dan lebar kapsul kepala. Kapsul kepala dari larva chironomida terbuat dari zat
kitin. Penentuan instar didasarkan pada pergantian kulit (molting) pada kapsul
kepala yang menandai terjadinya pergantian instar. Tabel 2 merupakan dasar
pengelompokan instar berdasarkan penelitian Dettinger-Klemm (2003).
Tabel 2. Karakteristik ukuran larva Chironomus sp. berdasarkan instar
Instar

Head L (µm)

Head W (µm)

Body L (mm)

Body W (µm)

I

105-108; 123 ± 10,9

101-184; 112 ± 11,2

0,7-2,0

40-201

II

182-224; 199 ± 10,7

159-208; 190 ± 9,9

1,7-3,8

102-347

III

270-405; 355 ± 29,7

245-356; 311 ± 22,3

3,0-7,5

161-564

IV

494-649; 585 ± 40,3

409-592; 510 ± 37,1

4,7-12,8

353-1128

Tabel 2 dijadikan pedoman dalam menentukan centroid atau pemusatan
data panjang dan lebar kapsul kepala dari larva chironomida. Selanjutnya data
diolah dengan menggunakan perangkat

lunak MINITAB 14.

Larva

dikelompokkan menjadi 4 instar. Masing-masing instar memiliki kisaran panjang
dan lebar kapsul kepala yang berbeda. Berikut ditampilkan grafik pengelompokan
larva berdasarkan instar dengan pedoman ukuran dari Dettinger-Klemm (2003).
Gambar 12 menunjukkan bahwa berdasarkan penelitian, pada wadah
dengan perlakuan tanpa penambahan bahan organik hanya terdapat satu kelompok
larva chironomida, yakni instar satu. Kisaran panjang kapsul kepala untuk instar
satu adalah antara 15-121 µm dan lebar kapsul kepala berkisar antara 12,5-91,4
µm. Keterbatasan bahan organik adalah faktor yang mempengaruhi terhambatnya
pertumbuhan larva Chironomus sp. pada perlakuan tanpa penambahan bahan
organik.
pembuatan

Kurangnya bahan organik sebagai sumber makanan dan bahan
tubes

pertumbuhan larva.

bagi

larva

chironomida

menyebabkan

terganggunya

25

600

instar I

400

200

0

0

200

400

600

Gambar 12. Pengelompokan instar I larva Chironomus sp. berdasarkan panjang
total dan lebar kapsul kepala pada wadah tanpa penambahan bahan organik
Gambar 13 (bagian atas) menunjukkan grafik pengelompokan instar pada
wadah perlakuan dengan penambahan bahan organik dengan kadar 0,5 mg/l.
Bahan organik menjadi sumber makanan dan bahan pembuatan tubes bagi larva
Chironomus sp. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa terjadi pertumbuhan larva
yang ditandai oleh perkembangan instar mulai dari instar I hingga instar IV pada
Gambar 13. Instar I memiliki kisaran panjang kapsul kepala antara 38-183 µm
dan lebar kapsul kepala antara 24-126 µm.

Larva Chironomus sp. instar II

memiliki kisaran panjang dan lebar kapsul kepala antara 187-270 µm dan 185-232
µm. Instar III dengan kisaran panjang kapsul kepala antara 287-475 µm dan lebar
kapsul kepala 253-356 µm. Sedangkan untuk lava Chironomus sp. instar IV
memiliki kisaran panjang dan lebar kapsul kepala antara 476-515 µm dan 358-428
µm.

26

600
500
400
300
200
100
0

0

100

200

300

400

500

600

600

500

400

300

200

100

0
0

100

200

300

400

500

600

Gambar 13. Tahap perkembangan larva Chironomus sp. berdasarkan panjang
total dan lebar kapsul kepala perlakuan dengan penambahan bahan
organik 0,5 mg/ l (atas) dan 1,0 mg/l (bawah)
Gambar

13

(bagian

bawah)

menunjukkan

informasi

mengenai

perkembangan larva Chironomus sp. yang terbagi menjadi empat instar. Masingmasing instar memiliki kisaran yang berbeda baik dari segi panjang maupun lebar
kapsul kepala. Penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi perlakuan dengan
penambahan bahan organik 1,0 mg/l, larva Chironomus sp. dapat tumbuh dengan

27

baik dan mencapai empat instar hingga dewasa. Berdasarkan Gambar 13 dapat
diketahui bahwa kisaran panjang kapsul kepala untuk instar I berkisar antara 44,5160 µm dan lebar kapsul kepala 40,9-137 µm. Kisaran panjang dan lebar kapsul
kepala untuk instar II berkisar antara 193-228 µm dan 166-208 µm.

Larva

Chironomus sp. instar III memiliki panjang kapsul kepala sebesar 229-405 µm
dan lebar kapsul kepala antara 209-353 µm. Instar terakhir (instar IV) panjang
dan lebar kapsul kepala berkisar antara 408-572 µm dan 360-404 µm.
Berdasarkan perbandingan kedua grafik tersebut, dapat dilihat bahwa penambahan
bahan organik yang lebih banyak akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan
yang lebih besar. Titik-titik pada grafik menunjukkan bahwa pada penambahan
bahan organik 1,0 mg/l mengakibatkan pertumbuhan lebih besar pada instar IV.
Berdasarkan pengelompokan instar, dapat diketahui waktu capaian
masing-masing instar dengan membandingkan kisaran panjang total larva
Chironomus sp. dengan waktu. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Zilli et al.
(2008) yang menyatakan bahwa kurva pertumbuhan populasi erat kaitannya
dengan pertumbuhan panjang total berdasarkan waktu. Tabel 3 menggambarkan
hasil penelitian Zilli et al. (2008) mengenai waktu capaian instar pada spesies C.
calligraphus.
Tabel 3. Karakteristik ukuran larva dan waktu capaian instar C. calligraphus
Instar
I
II
III
IV

Lebar Kapsul
Kepala (µm)
115,2±6,9
182,2±10,8
295,3±19,1
472,8±30,9

Tingkat
Pertumbuhan
1,58
1,62
1,6
1,6

Panjang Total
(µm)
1109±193,4
2449,1±701,4
5121,1±750,7
8943,6±1672,7

Jangka
Waktu (hari)
5±1,2
3±0,7
6±2,6
10±1,7

Penentuan waktu capaian instar dilakukan dengan membandingkan data
panjang total berdasarkan penelitian Zilli et al. (2008) dengan panjang total
berdasarkan penelitian. Panjang total untuk masing-masing perlakuan dirataratakan setiap harinya dan dilakukan penentuan waktu capaian berdasarkan
pengelompokan panjang total pada Tabel 3. Sehingga diperoleh waktu capaian
instar yang ditampilkan pada Tabel 4 berikut.

28

Tabel 4. Karakteristik ukuran larva dan waktu capaian instar berdasarkan
penelitian
Waktu Capaian Instar (± hari)
Instar

Bahan Organik Bahan Organik
Bahan Organik
0 mg/l
0,5 mg/l
1,0 mg/l
I
7*
4
4
II
2
2
III
13
10
IV
2**
5**
*waktu capaian instar I tidak bisa ditentukan karena terjadi kematian seluruh individu
pada hari ke-7
**waktu capaian ketika sudah ada chironomida yang mencapai fase pupa

Berdasarkan hasil penelitian dapat dibandingkan jangka waktu yang
dibutuhkan larva pada masing-masing perlakuan untuk melewati masing-masing
instar. Larva pada perlakuan tanpa penambahan bahan organik hanya bertahan
hingga pengamatan hari ke-7 karena tidak tersedianya bahan organik sebagai
sumber makanan. Fase hidup larva chironomida pada perlakuan ini hanya fase
planktonik dan instar I. Perlakuan dengan penambahan bahan organik 0,5 mg/l
dan 1,0 mg/l memiliki pola yang sama untuk jangka waktu instar I dan II. Akan
tetapi terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada instar III dan IV.
Penambahan bahan organik yang lebih tinggi menyebabkan larva Chironomus sp.
lebih cepat mencapai instar IV, namun jangka waktu untuk instar IV menjadi lebih
lama. Hal ini membuktikan, bahan organik memberikan pengaruh bagi waktu
capaian instar pada Chironomus sp.
Berdasarkan tingkatan instar yang telah diperoleh dari nilai rata-rata
panjang total, larva chironomida dikelompokkan berdasarkan keempat tingkatan
instar tersebut. Gambar 14 dan 15 menunjukkan perbandingan panjang dan lebar
kapsul kepala (kiri) dan lebar badan (kanan) larva chironomida untuk masingmasing instar pada perlakuan penambahan bahan organik. Berdasarkan gambar
tersebut dapat terlihat bahwa terjadi perubahan ukuran kapsul kepala dan lebar
badan. Perlakuan dengan penambahan bahan organik lebih tinggi menyebabkan
perubahan ukuran lebih cepat karena ketersediaan makanan yang lebih tinggi.
Namun, pada perlakuan ini memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai
instar IV.

29

60 µm

Gambar 14. Perbandingan kapsul kepala dan lebar badan setiap instar pada
perlakuan penambahan bahan organik 0,5 mg/l

30

60 µm

Gambar 15. Perbandingan kapsul kepala dan lebar badan setiap instar pada
perlakuan penambahan bahan organik 1,0 mg/l

31

4.1.6. Penentuan kohort berdasarkan analisis distribusi
panjang larva chironomida dengan metode NORMSEP

frekuensi

Larva chironomida yang diamati memperlihatkan perubahan ukuran baik
panjang total, lebar badan, panjang kepala, maupun lebar kepala.

Hal ini

membuktikan bahwa larva chironomida mengalami pertumbuhan.

Analisis

pertumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode NORMSEP
(Normal Separation).

Larva chironomida diklasifikasikan menjadi beberapa

selang kelas panjang dan diolah dalam bentuk grafik distribusi panjang dengan
perangkat lunak FISAT II.
Berdasarkan

data

panjang

total

larva

chironomida

yang

telah

dikelompokkan berdasarkan selang kelas tertentu, perlakuan tanpa penambahan
bahan organik tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sehingga tidak
dapat dideskripsikan dengan menggunakan metode ini. Gambar 15 menunjukkan
perbandingan grafik distribusi panjang untuk perlakuan dengan penambahan
bahan organik sebanyak 0,5 mg/l dan 1,0 mg/l. Setiap grafik menunjukkan hanya
ada satu sebaran normal untuk masing-masing perlakuan. Hal ini menjelaskan
bahwa hanya ada satu kohort (kelompok umur) pada kedua perlakuan ini.
Pergeseran garis merah ke arah kanan menggambarkan terjadinya
perubahan nilai modus setiap minggunya.

Berdasarkan metode ini dapat

dijelaskan bahwa pertumbuhan panjang larva chironomida cukup signifikan
dilihat dari pergerakan ke kanan dari nilai modus yang terjadi (Lampiran 5).
Pergesaran nilai modus ke arah kanan lebih signifikan terjadi pada
perlakuan dengan penambahan bahan 1,0 mg/l.

Nilai modus pada minggu

pertama adalah 2490 µm, minggu kedua 5730 µm dan minggu ketiga 6140 µm.
Sedangkan untuk penambahan bahan organik 0,5 mg/l, nilai modus yang
ditemukan lebih kecil dari perlakuan penambahan bahan organik 1,0 mg/l, yaitu
berturut-turut dari minggu pertama hingga minggu ketiga adalah 2214, 4966 dan
5605 µm. Hal ini menjelaskan bahwa perubahan ukuran panjang total dari larva
Chironomus sp. lebih cepat terjadi pada perlakuan dengan penambahan bahan
organik yang lebih tinggi. Pertumbuhan panjang ini dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan dan ketersediaan makanan. Apabila kedua hal ini telah tercukupi dan
tersedia dalam kondisi optimum, pertumbuhan larva juga akan optimum.

32

Gambar 16. Distribusi panjang total Chironomus sp.
(kiri: bahan organik 0,5 mg/l, kanan: bahan organik 1,0 mg/l)
Berdasarkan pergeseran nilai modus, diperoleh hubungan regresi linier
sederhana antara waktu dengan modus panjang total larva Chironomus sp.
Perlakuan dengan penambahan bahan organik 1,0 mg/l menyebabkan kenaikan
nilai modus sebesar 1136 µm setiap satu minggu. Perlakuan dengan penambahan
bahan organik yang lebih sedikit, yaitu 0,5 mg/l menunjukkan kenaikan nilai
modus yang lebih kecil, yakni 870,6 µm. Gambar 17 memperlihatkan grafik
hubungan antara waktu dengan penambahan nilai modus.

penambahan bahan organik 0.5 mg/l
penambahan bahan organik 1.0 mg/l
penambahan bahan organik 0.5 mg/l
penambahan bahan organik 1.0 mg/l

6140

nilai modus

5730
2490
5605
4966
2214

0,5

1,0

1,5

2,0

2,5

3,0

3,5

minggu ke-

Gambar 17. Hubungan waktu dengan modus panjang total Chironomus sp.

33

Selain

menggunakan

hubungan

regresi

linier

sederhana

untuk

menunjukkan perbedaan pengaruh penambahan bahan organik, dilakukan uji
rancangan acak lengkap untuk melihat pengaruh bahan organik terhadap nilai
modus yang dicapai dari grafik distribusi frekuensi panjang. Berdasarkan tabel
pengujian rancangan acak lengkap, diperoleh hasil Fhitung>Ftabel. Keputusan yang
diperoleh adalah tolak H0 yang artinya perlakuan mempengaruhi nilai modus yang
diperoleh berdasarkan waktu. Hal ini menggambarkan bahwa penambahan bahan
organik memberikan pengaruh bagi pertumbuhan panjang total larva chironomida.

4.1.7. Pengaruh perbedaan perlakuan bahan organik terhadap berbagai
parameter pertumbuhan
Pertumbuhan adalah salah satu ciri mahluk hidup yang membedakannya
dari mahluk tak hidup.

Secara teoritis pertumbuhan dapat diartikan sebagai

perubahan dimensi (panjang, berat, ukuran, volume, dan jumlah) per satuan waktu
baik individu, stok maupun komunitas. Pertumbuhan banyak dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal.
kelamin,

umur,

ketahanan

Faktor internal meliputi faktor keturunan, jenis
terhadap

penyakit,

dan

kemampuan

dalam

memanfaatkan makanan. Sedangkan faktor eksternal meliputi jumlah makanan
yang tersedia di perairan, ukuran makanan, kandungan gizi makanan, dan faktor
lingkungan.
Pertumbuhan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif.
Pertumbuhan positif ditandai oleh selisih yang nilainya positif, sedangkan
pertumbuhan negatif ditandai oleh selisih yang nilainya negatif atau dengan kata
lain

mengalami

penurunan.

Berdasarkan

faktor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan, penelitian ini mengambil aspek bahan organik yang dalam
kehidupan larva chironomida berperan sebagai sumber makanan dan bahan
pembuatan tubes.

Tiga perlakuan bahan organik diamati pengaruhnya bagi

pertumbuhan larva Chironomus sp. Berdasarkan data yang diambil setiap hari
selama tiga minggu pada fase larva, diperoleh empat parameter pertumbuhan
yakn

Dokumen yang terkait

Dokumen baru